Mengapa Moderasi Diperlukan dalam Politik Identitas?

Penulis: Mamluaturrizqi, Editor: Sirli Amry

Dalam akhir akhir ini, politik identitas telah menjadi sorotan utama di banyak negara termasuk Indonesia. Politik identitas merujuk pada gerakan politik yang menekankan kepentingan dan pengalaman kelompok berdasarkan identitas tertentu, seperti ras, etnis, gender, agama, atau orientasi seksual. Dalam konteks global, politik identitas sering kali muncul sebagai respons terhadap marginalisasi dan penindasan yang dialami oleh kelompok-kelompok ini. Namun, meskipun memiliki potensi untuk memberdayakan, politik identitas juga membawa tantangan tersendiri.

Dalam pemilu 2024 yang sudah berlalu, pemilih mungkin lebih cenderung memilih kandidat yang dianggap mewakili identitas mereka. Hal ini terlihat dalam pemilihan gubernur, legislatif, dan bahkan presiden, di mana faktor identitas etnis dan agama sering kali menjadi pertimbangan utama. Kandidat yang cerdas akan memperhitungkan identitas dalam strategi kampanye mereka. Mereka mungkin menciptakan pesan yang menarik dengan kelompok tertentu sambil tetap berusaha menjangkau pemilih yang lebih luas.

Kampanye politik identitas semakin menjadi sorotan dalam konteks pemilu, terutama di negara yang memiliki keragaman etnis, agama, dan budaya. Kampanye sering kali menargetkan kelompok tertentu berdasarkan identitas, seperti etnisitas atau agama. Pesan yang disampaikan disesuaikan sesuai dengan pengalaman dan aspirasi kelompok tersebut.

Baca Juga: Strategi Penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad: Kebijakan, Taktik Militer, dan Dampak Sosial-Politik

Ketika kampanye terlalu berfokus pada perbedaan identitas, dapat memperburuk perpecahan antar kelompok. Hal ini dapat mengakibatkan konflik dan ketegangan sosial. Kampanye yang menciptakan batasan ketat berdasarkan identitas dapat mengarah pada diskriminasi terhadap kelompok lain. Fokus yang berlebihan pada identitas bisa membuat masalah struktural yang lebih besar, seperti ketidakadilan ekonomi atau sosial, terabaikan.

Media sosial menjadi platform utama dalam kampanye politik identitas, memungkinkan pesan untuk menyebar dengan cepat dan luas. Namun, juga ada risiko penyebaran informasi yang salah atau narasi yang memecah belah. Dampak dari media sosial ini sangat cepat tersebarluaskan di masyarakat. Hal ini tentu menjadi permasalahan besar bagi suatu kelompok yang berbeda antara kubu yang ada dipihak tersebut dan yang tidak. Media yang akan membawa citra sesuatu menjadi baik dan menjadi buruk. 

Baca Juga: Pilkada 2024 dan Relevansinya dengan Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf Tentang Negara

Salah satu risiko terbesar dari politik identitas adalah potensi untuk memperdalam perpecahan dalam masyarakat. Ketika fokus beralih ke perbedaan identitas, bisa muncul sikap “kami vs. mereka” yang dapat mengakibatkan konflik. Politik identitas kadang-kadang dapat mengarah pada stereotip negatif atau generalisasi terhadap kelompok tertentu, mengabaikan kompleksitas individu di dalamnya. Terkadang, fokus yang berlebihan pada identitas tertentu dapat mengabaikan masalah struktural yang lebih besar, seperti ketidakadilan ekonomi atau lingkungan, yang mempengaruhi banyak orang, terlepas dari identitas mereka. 

Politik identitas adalah fenomena yang tidak bisa diabaikan. Meskipun dapat memberikan suara kepada yang terpinggirkan dan meningkatkan kesadaran sosial, penting untuk mendekatinya dengan sikap moderat. Mengintegrasikan perspektif identitas ke dalam diskusi yang lebih luas tentang keadilan dan kesetaraan dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan inklusif. Dengan mengedepankan dialog dan kolaborasi antar identitas, kita bisa mengatasi tantangan yang muncul dan memanfaatkan peluang yang ada. 

Baca Juga: Best Practice Moderasi Beragama dari Papua, ke UIN Gus Dur: Bupati Kaimana Papua Barat Freddy Thei, Kristian yang menguliahkan “anaknya” di Kampus Islam

Agama sebagai kedok politik?

Di banyak negara, partai politik sering kali berbasis pada identitas agama, menggunakan simbol dan nilai agama dalam kampanye mereka. Hal ini dapat meningkatkan dukungan di kalangan pemilih yang merasa terhubung dengan nilai-nilai tersebut. Fokus pada identitas agama dapat mengabaikan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang lebih luas yang mempengaruhi semua kelompok, terlepas dari latar belakang agama.

Selama pemilu, kelompok agama sering kali mengorganisir mobilisasi untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Misalnya, organisasi-organisasi keagamaan mengadakan kegiatan penggalangan suara untuk mendukung calon yang dianggap mewakili nilai-nilai agama mereka. Kampanye melalui Lembaga keagamaan seperti penggunaan masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya sebagai pusat kemapanye politik. Di Indonesia, sering kali ceramah atau pengajian yang juga membahas politik, mendorong jamaah untuk memilih calon tertentu, karena memiliki kekuatan jamaah yang besar hal ini sering dilakukan dalam kampanye belakangan ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, politik identitas telah menjadi sorotan utama di banyak negara. Sementara pengakuan terhadap keberagaman identitas dapat membawa perubahan positif, tantangan yang dihadapi juga tidak kalah besar. Di sinilah moderasi berperan penting. Pertama, moderasi membantu mencegah polarisasi yang ekstrem. Ketika masyarakat terjebak dalam perdebatan identitas yang tajam, sering kali muncul sikap “kami vs. mereka” yang dapat memecah belah. Dengan pendekatan moderat, kita bisa menciptakan ruang dialog yang lebih inklusif, memungkinkan berbagai suara didengar tanpa harus mengorbankan nilai-nilai bersama.

Baca Juga: Moderasi Beragama sebagai Upaya Mencegah Ekstremisme dan Radikalisme di Indonesia

Kedua, moderasi memungkinkan kita untuk mengintegrasikan berbagai perspektif. Politik identitas seringkali terfokus pada perbedaan, tetapi dengan moderasi, kita bisa mencari kesamaan dan membangun jembatan antar kelompok. Hal ini penting dalam menciptakan kebijakan yang adil dan berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan satu kelompok, tetapi seluruh masyarakat.

Selanjutnya, moderasi mengurangi potensi kekerasan dan konflik. Dalam situasi di mana identitas menjadi senjata, risiko ketegangan pun meningkat. Pendekatan moderat dapat menurunkan suhu perdebatan dan mengedepankan dialog, sehingga konflik yang bisa saja meletus dapat dihindari. Akhirnya, politik yang moderat meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi. Ketika masyarakat merasa diwakili dengan adil, mereka lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi. Kepercayaan ini penting untuk stabilitas sosial dan politik jangka panjang.

Dalam dunia yang semakin terpecah, moderasi bukanlah solusi yang mudah, tetapi sangat diperlukan. Ini adalah panggilan untuk semua pihak agar lebih mendengarkan, berdialog, dan menemukan titik temu. Dengan cara ini, kita bisa membangun masa depan yang lebih harmonis dan berkelanjutan, di mana semua identitas dihargai tanpa mengorbankan persatuan.

Etika Berbahasa Cerminan Indah Generasi Muda

Penulis : Widhah Salmaniyah, Editor : Amarul Hakim

Bahasa adalah makanan sehari-hari manusa yang tidak akan lepas dari dalam diri  manusia, sopan santun pun adalah wujud nyata yang terbangun dari kebiasaan baik dalam  berinteraksi antar sesama manusia. Ada pepatah mengatakan bahwa “Bahasa menunjukan  bangsa, dan bahasa menunjukan kualitas kita”. Belakangan ini banyak fenomena yang  bermunculan mengenai gaya berbahasa yang digunakan terlebih dari kalangan anak-anak muda  dengan gaya bahasa gaul mereka, yang seharusnya melek bukan hanya dalam kemampuan  komunkasinya tetapi paham juga pada peletakan gaya bahasa yang seperti apa, misal pada saat  berinteraksi kepada orang yang lebih tua maupun yang lebih muda.  

Etika Dalam Berbahasa  

Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain  dapat berupa memberikan sebuah informasi, berpendapat, mengubah sikap ataupun pola pikir dan perilaku, baik secara verbal maupun media online seperti era sekarang. Dalam  berkomunikasi kita sebagai makhluk sosial pastinya tak luput dari norma dan sikap terutama  etika yang baik, yang mencerminkan perilaku terpuji tersebut kepada orang lain

Dengan menggunakan bahasa, manusia dapat mengungkapkan berbagai hal seperti ide,  perasaan, gagasan, bahkan pokok pikiran dari komunikator kepada komunikan baik secara lisan  maupun tulisan. Komunikasi yang baik terhadap sesama juga akan menumbuhkan dampak  positif pada pola pikir dan sikap kita, maka dari itu Attitude ( etika ) dalan Berbahasa sangatlah  penting bagi generasi muda sekarang sampai generasi berikutnya, karena bahasa yang baik juga  mencerminkan budaya dan menjunjung tinggi kualitas negeri kita dari penggunaan bahasa  tersebut. 

Baca juga : Perkuat Identitas Bangsa Melalui Bulan Bahasa

bagaimana bangsa yang dikenal luhur tetapi kualitas sumber daya manusianya rendah  terutama dalam etika dan sopan santun berbahasa. Bagaimana bangsa ini bisa ditiru sedangkan  generasi mudanya kurang akan kesadarannya dalam bahasa, masyarakat Indonesia dikenal  sebagai masyarakat yang sopan, ramah dan beretika tidak hanya dapat dilihat dari perilaku  seseorang, melainkan juga dapat dilihat dari komunikasi verbal (lisan dan tulisan) yang  dilakukan oleh seseorang. 

Mencerminkan Generasi Muda Yang Fasih Berbahasa  

Tidak hanya sekedar mencerminkan bangsanya saja dalam sikap baik berbahasa, tetapi  juga dapat menjadi cerminan sekaligus dapat mempresentasikan bagaimana kualitas generasi  yang nantinya bisa terus seimbang dalam ucapan dan perilaku. Etika santun tersebut juga  terdapat dalam Al-Qur’an, QS 11 [Hud]: 87, yang berbunyi, “Mereka berkata, “Wahai Syu’aib!  … sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai” 

Oleh karena itu pola ucapan yang baik nantinya Akan terus menerus dijunjung tinggi dan  mudah diserap apalagi anak-anak yang dari semasa belianya mudah untuk merekam kejadian kejadian dan perilaku baik dan buruk tentang orang lain di sekitarnya, maka dari itu kita sebagai  generasi muda sebaiknya harus lebih sadar akan pentingnya berbahasa, karena kebiasaan yang  kita tanamkan tidak terasa orang lain pun akan meniru dan mempraktekkannya sesuai dengan  apa yang orang lain lihat terhadap apa yang kita lakukan.  

Baca juga : Melintasi Batas: Nuansa Corak Budaya dalam Tafsir Al-Qur’an yang Menggugah Pemikiran

Peran bahasa dikalangan teman sebaya  

Banyak juga fenomena-fenomena yang berkeliaran baik dilingkungan sekitar maupun di  sosial media, “saya terus terang sangat perhatian dengan tutur kata anak-anak jaman sekarang,  mereka seperti terbiasa degan lisannya lantang mengucap kata yang tidak patut dilontarkan,  meskipun mereka berkomunikasi dengan teman sebayanya”. Terkadang ada juga murid dengan  guru ataupun anak dengan orang tua baik biologis maupun orang lain yang lantang berbahasa yang mungkin menurut saya tidak beretika tetapi menurut orang-orang diluar sana sudah  dianggap hal yang wajar. Harapan saya generasi muda kini dan nanti tetap memprioritaskan  bahasa yang santun dan damai, agar bisa terbentuk kembali nilai moralitas dan harmonis seperti  para leluhur dan orang-orang terdahulu serta dapat memberikan rasa terimakasih atas apa yang  telah diajarkannya bahasa yang sopan dan patut sesuai dengan peletakannya.

KKN Kelompok 40 Desa Kaligawe Gelar Lomba Duta Moderasi Beragama, Tingkatkan Toleransi Antar Agama

Pewarta : Ainnur khafidah, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) Kelompok 40 Angkatan 60 mengadakan kegiatan lomba duta moderasi beragama yang dilaksanakan di Balai Desa Kaligawe pada Minggu (24/11/2024).

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan dan memperdalam nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda di desa tersebut, khususnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat yang beragama.

Lomba ini diikuti oleh remaja desa yang menunjukkan antusiasme tinggi dengan mempersiapkan diri untuk tampil di depan umum. Mereka dengan semangat menyampaikan pidato yang bertemakan “Membangun Generasi Muda Yang Moderat, Toleran, dan Beragama”, sebuah tema yang sangat relevan untuk membangun kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman agama dan budaya. Dalam pidatonya, para peserta mengungkapkan pandangan mereka mengenai pentingnya prinsip moderasi beragama, yang tidak hanya menekankan sikap toleransi, tetapi juga pada saling pengertian, penghargaan terhadap perbedaan, serta menjaga keharmonisan antar umat beragama.

Baca juga : Peran Dosen dalam Transformasi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Desa Kaligawe, yang penduduknya terdiri dari beragam latar belakang agama, baik Islam maupun Kristen, menjadi contoh yang baik bagi pentingnya penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat yang pluralistik seperti ini, penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa perbedaan bukanlah halangan, tetapi justru bisa menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.

Selama lomba berlangsung, peserta memberikan penampilan terbaik mereka dengan menunjukkan keahlian berbicara di depan umum. Mereka juga memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi pemikiran dan gagasan tentang bagaimana membangun kehidupan yang lebih inklusif dan penuh toleransi. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menggali potensi remaja dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan berbicara di depan publik, yang sangat penting bagi pembangunan karakter mereka di masa depan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh masyarakat setempat yang datang untuk menyaksikan acara ini secara langsung. Dalam sambutannya, Koordinator Desa Marwan Murtadho, mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman tentang bagaimana seharusnya umat beragama hidup berdampingan dalam kedamaian. Ia juga menekankan pentingnya menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama, apapun latar belakang agama dan kepercayaan mereka. Ia berharap, kegiatan ini bukan hanya menjadi acara sesaat, tetapi bisa berlanjut di masa depan untuk terus memperkuat semangat moderasi beragama di kalangan remaja desa Kaligawe.

Baca juga : Moderasi Beragama: Kunci Menjaga Kerukunan di Desa Pekiringan Ageng

Dewan juri yang terdiri dari mahasiswa KKN UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan bertugas untuk menilai peserta berdasarkan beberapa aspek, antara lain isi pidato, kemampuan berbicara, serta pemahaman mendalam terhadap konsep moderasi beragama. Penilaian ini tidak hanya bertujuan untuk memilih pemenang, tetapi juga untuk memberikan feedback konstruktif bagi para peserta, agar mereka semakin sadar akan pentingnya peran mereka dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Juri memberikan apresiasi tinggi terhadap kemampuan para peserta dalam menyampaikan pesan-pesan yang positif mengenai kehidupan berdampingan antar umat beragama dengan saling menghargai dan mengedepankan nilai-nilai persaudaraan.

Dengan diselenggarakannya acara lomba duta moderasi beragama ini, diharapkan para remaja desa Kaligawe dapat menjadi duta-duta moderasi beragama yang tidak hanya memahami pentingnya toleransi, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lebih jauh lagi, diharapkan kegiatan semacam ini dapat menjadi model bagi desa-desa lain untuk menyelenggarakan acara serupa dalam rangka memperkuat kohesi sosial dan memperkokoh persatuan di tengah keberagaman yang ada.

Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sukses berkat kerjasama yang baik antara mahasiswa KKN, masyarakat desa Kaligawe, dan pihak-pihak terkait. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang moderat, toleran, dan damai.

Pihak Mitra Teken Kerjasama Sponsporship Program Labelisasi Halal UIN Gusdur Pekalongan

Pewarta: Izza, Editor: Sirli Amry

Sabtu, 16 November 2024 – Pihak Mitra Program Pemberdayaan Masyarakat Sertifikasi Halal di Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan yaitu LAZISNU Kecamatan Buaran telah menandatangani kerja sama Sponsporship. Kegiatan ini di wakili oleh Ketua LAZISNU, Bapak Midkholul Huda, S.E, Sekretaris LAZISNU, Bapak Bahrul Muttaqin dan disaksikan oleh Ketua Lembaga Perekonoman NU Kecamatan, Bapak Fatoni. Dalam sambutannya, Ketua LAZISNU Buaran menyambut baik kegiatan Sertifikasi Halal tersebut karena kegiatan ini sejalan dengan program pentasarufan LAZISNU kepada UMKM agar produk UMKM semakin berkualitas.

Ia menjelaskan sebetulnya masih banyak UMKM di kecamatan Buaran yang membutuhkan Sertifikasi Halal, Seperti desa di Daerah Kertijayan, Wonoyoso, dan Sapugarut yang memiliki cukup banyak UMKM terutama Desa Sapugarut yang dekat dengan pasar. Menurutnya kemitraan ini sebetulnya punya keterkaitan dengan pihak lain di lingkungan Nahdlatul Ulama Kecamatan Buaran yaitu keterkaitan dengan Lembaga Perekonomian  Nahdlatul Ulama termasuk dengan Induk organisasinya yakni Majlis Wakil Cabang (MWC). Agar semakin sinergi maka pihaknya mengumpulkan perwakilan dari Ketua Majlis Cabang dan Ketua Lembaga Perekonomian NU Buaran.

Baca Juga : Membentuk Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas: Tiga Universitas Islam Adakan Seminar dan Tanda Tangani MoU

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa jumlah peserta UMKM yang akan memperoleh sertifikasi Halal yaitu ada 16 UMKM. Seluruh UMKM tersebut saat ini masih dalam assessment oleh Pendamping yaitu Bapak Amru Faisal yang berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN Angkatan 60 Kelompok 42 di Simbangkulon. UMKM yang telah di assessment oleh Tim pada hari tersebut berjumlah 8 UMKM. Kemudian assessment dilanjutkan pada Hari Ahad yang juga sejumlah 8 UMKM. Kordinator Desa KKN  Simbangkulon, Nafid, mengaku siap melaksanakan assessment bersama kawan-kawannya dan akan mendampingi kegiatan hingga selesai Sertifikasi Halal turun.

Melalui musyawarah tersebut, disampaikan bahwa LAZISNU kecamatan Buaran bersedia memberikan kontribusi sponsporship kegiatan Sertifikasi Halal. LAZISNU ingin mengupayakan agar jumlah sponsporhip dapat maksimal sejumlah data UMKM yang telah di assessment. Namun, berhubung adanya berbagai hal serta memang harus berbagi dengan program sosial yang lain, maka LAZISNU akan memberi sponsporship yang proporsional. Hal ini karena ruang lingkup program LAZISNU idak hanya terbuka pada UMKM saja, melainkan program sosial dan lingkungan, ujar Ketua LAZISNU. Insya Allah pertemuan ini telah menjadi kesepahaman bersama bahwa kemitraan LAZISNU dengan program kegiatan KKN di Simbangkulon telah disepakati.

Baca Juga : Dialog Interaktif Membentuk Kesepakatan Toleransi Agama dan Kepercayaan: Menuju Kampung Moderasi Beragama di Desa Kutorojo

Sebagai akhir dalam pertemuan tersebut, masing-masing pihak menandatangani surat kesepahaman bersama dari LAIZSNU yang diwakili oleh Ust Midkholul Huda, S.E (Ketua) dan Bapak Bahrul Muttaqin (Sekretaris). Sementara dari Pihak Majlis Wakil Cabang (MWC) diwakili oleh Ketua Tanfidz, Ustadz Isbiq dan disaksikan oleh Petugas LAZISNU, Ust Sajidin serta Lembaga Perekonomian NU, Bapak  Ust. Fatoni. Sementara dari pihak UIN Gusdur di wakili oleh Muh Izza selaku Pembimbing KKN sekaligus pihak pelaksana kegiatan. Menurut kesepakatan serah terima hasil Sertifikasi Halal untuk UMKM ini akan dilaksanakan di Masjid Annur Desa Kertijayan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Terkait waktu dan pelaksanaannya menunggu informasi dari Pendamping BPJPH setelah sertifikat Sertifikasi Halal UMKM keluar.

Keceriaan Anak-Anak KB Bina Sejahtera dan Mahasiswa Kelompok 32 KKN 60 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam Kegiatan Panen dan Tanam Bayam di Kebun Gizi Desa Rowolaku

Penulis: Tim KKN Kelompok 32, Editor: Kharisma Shafrani

Anak-anak KB Bina Sejahtera terlihat sangat antusias saat berpartisipasi dalam kegiatan panen bayam di Kebun Gizi Desa Rowolaku pada Kamis (07/11/2024). Kegiatan ini, yang juga melibatkan mahasiswa kelompok 32 KKN 60 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, bertujuan untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada anak-anak sejak usia dini.

Dalam suasana ceria, anak-anak diperkenalkan dengan tanaman bayam yang sudah siap dipanen. Mahasiswa kelompok 32 KKN 60 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, memberikan penjelasan tentang bentuk bayam yang memiliki daun hijau lebar dan batang yang tumbuh dari tanah. Anak-anak diajak untuk memetik langsung bayam yang telah matang dan siap dipanen.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak bagaimana cara memanen bayam dengan benar. Mahasiswa kelompok 32 KKN 60 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, mengajarkan mereka cara mencabut bayam dari tanah, membersihkannya, dan mengumpulkannya. Anak-anak juga diberitahu pentingnya merawat tanaman agar tumbuh sehat, serta manfaat bayam bagi tubuh.

Baca Juga :  Pengenalan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Mahasiswa KKN 60 UIN Gusdur Ajak Anak PAUD KB Anggrek Landungsari untuk Belajar  Mengolah Sampah

Bunda Kemi menyampaikan, “Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak belajar bagaimana proses panen dilakukan, serta mengerti bagaimana tanaman tumbuh dengan baik di tanah yang dirawat dengan benar. Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk belajar tentang dunia pertanian dan menjaga lingkungan.”

Kebun Gizi Desa Rowolaku ini dikelola oleh Ibu-Ibu PKK Desa Rowolaku. Kebun Gizi Desa Rowolaku bisa sebagai sarana edukatif menjadi tempat yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Kegiatan panen bayam ini tidak hanya mengajarkan anak-anak tentang pertanian, tetapi juga memperkenalkan mereka pada pentingnya mengonsumsi sayuran sehat seperti bayam.

Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara anak-anak KB Bina Sejahtera, mahasiswa kelompok 32 KKN 60 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, dan masyarakat Desa Rowolaku. Dengan penuh semangat, anak-anak belajar untuk lebih mencintai alam dan menghargai proses pertanian.

Baca Juga :  Pelajari Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur kelompok 22 Kunjungi Paguyuban P4S Eka Muncul Baru

Ada satu hadist yang berhubungan dengan kegiatan ini, yaitu mengenai kebahagiaan dan perhatian kepada anak-anak. Rasulullah ﷺ sangat mencintai anak-anak dan senang melihat mereka bahagia. “Barang siapa yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang tua kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Kegiatan panen dan tanam bersama yang menciptakan keceriaan bagi anak-anak adalah bentuk kasih sayang dan perhatian yang dianjurkan dalam Islam.

Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak dapat lebih mengenal cara memanen bayam, memahami manfaatnya, dan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Pelajari Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur kelompok 22 Kunjungi Paguyuban P4S Eka Muncul Baru

Pewarta : Rifa Aprila Durrotul Aisy, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kelompok 22 mengunjungi Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Eka Muncul Baru di Kelurahan Degayu Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari proses pembuatan biogas dari kotoran sapi sebagai salah satu upaya pemanfaatan limbah peternakan yang ramah lingkungan.

Paguyuban Eka Muncul Baru digerakkan oleh kelompok masyarakat di Kelurahan Degayu yang di pimpinan oleh Bapak Gofar Setoyo. Dengan menggunakan kotoran sapi sebagai bahan utama, biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi salah satunya untuk kebutuhan rumah tangga. Hal tersebut ini dinilai efektif untuk mengurangi polusi serta mengubah limbah ternak menjadi sumber energi yang murah.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN mendapatkan penjelasan langsung dari ketua paguyuban mengenai proses pembuatan biogas, mulai dari pengumpulan kotoran sapi dan proses fermentasi. Selain itu, mahasiswa KKN juga diberikan kesempatan untuk melihat dan praktek secara langsung beberapa tahapan dari proses pembuatan biogas tersebut.

Baca juga : Mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Memberikan Edukasi Stop Bullying Di MII Pringlangu Takhassus

Gofar Setoyo mengungkapkan bahwa biogas memiliki manfaat diantaranya untuk kebutuhan rumah tangga dan pupuk organik, “Biogas dari kotoran sapi ini sangat membantu kami untuk mengurangi penggunaan gas LPG. Selain itu, sisa fermentasi biogas ini bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman,” ungkapnya.

Ketua KKN kelompok 22 menambahkan bahwa kunjungan ini sejalan dengan nilai-nilai islam. dengan konsep biogas ini mencerminkan ajaran Islam tentang menjaga keseimbangan alam, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia (QS. Ali Imran: 191).
“Kotoran sapi yang mungkin dianggap limbah, dengan teknik dan inovasi biogas ini, dapat menjadi manfaat besar bagi masyarakat sekitar,” ujar Gilang Sukma.

Dari kunjungan tersebut mahasiswa KKN mendapatkan banyak wawasan serta ilmu baru mengenai energi ramah lingkungan. Selain itu, mahasiswa KKN juga diajak berkontribusi dalam mensukseskan perlombaan yang akan diikuti oleh Paguyuban Eka Muncul Baru.

Menunda Ikatan: Mengapa Generasi Z Memilih Karir dan Kebebasan di Atas Pernikahan?

Penulis: Nihadhu Adilah; Editor: Azzam Nabil H.

Pernikahan di Indonesia merupakan salah satu peristiwa kependudukan yang tercatat secara resmi dan harus dilakukan berdasarkan agama untuk diakui secara hukum. Meskipun pernikahan dianggap penting bagi stabilitas sosial, tren penurunan angka pernikahan dalam beberapa dekade terakhir telah menjadi perhatian global, termasuk di Amerika Serikat yang mengalami penurunan sebesar 60 persen pada 2023 dibandingkan dengan era 1970-an, menurut laporan CNBC. Fenomena serupa juga terjadi di beberapa negara Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Di Indonesia, penurunan jumlah pernikahan tercatat signifikan dari 2,01 juta pasangan pada 2018 menjadi 1,58 juta pada 2023, dengan penurunan sekitar 128.000 pasangan dibandingkan tahun sebelumnya. Generasi muda yang menunda pernikahan diduga menjadi salah satu faktor penyebab. Deputi BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso, mengusulkan agar data ini ditinjau lebih mendalam untuk pemahaman yang lebih komprehensif.

Globalisasi dan modernisasi yang memengaruhi pola pikir dan gaya hidup masyarakat dunia, termasuk Indonesia, juga berdampak pada cara pandang masyarakat Indonesia. Wanita kini memiliki peluang yang setara untuk bersaing di berbagai bidang. Banyak hal yang ingin dicapai, seperti kesuksesan, karier, pengakuan sosial, dan kenyamanan hidup sendiri, membuat prioritas menikah di usia muda menjadi kurang penting. Pergeseran pola pikir masyarakat, yang lebih fokus pada peningkatan kualitas hidup melalui pendidikan dan ekonomi, turut berkontribusi pada penurunan angka pernikahan, terutama di kalangan perempuan. Selain itu, maraknya perceraian di berbagai kelompok usia menimbulkan kekhawatiran di kalangan anak muda, terutama yang berada di usia menikah, tentang makna pernikahan itu sendiri. Kekhawatiran ini dapat menimbulkan trauma. Selain itu, budaya yang mengaitkan pernikahan dengan pesta besar sudah mengakar, sehingga pernikahan yang hanya dicatat dan disahkan tanpa resepsi sering kali dianggap tidak lazim oleh masyarakat.

Baca juga: Memahami Aturan Pernikahan bagi Gen Z

Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki kehidupan sosial yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam. Dalam hal ini, tafsir Al-Qur’an menjadi referensi penting dalam membentuk nilai-nilai sosial, budaya, dan pandangan hidup masyarakat. Salah satu ayat yang sering dibahas adalah Q.S. An-Nisa:34, yang sering dianggap sebagai dasar normatif untuk sistem patriarki dalam masyarakat Muslim. Ayat tersebut membahas peran laki-laki sebagai “qawwam” (pemimpin atau pelindung) bagi perempuan, yang sering ditafsirkan sebagai pembenaran bagi dominasi laki-laki dalam rumah tangga dan kehidupan sosial. Qawwamah dalam ayat ini tidak hanya merujuk pada kepemimpinan, tetapi mencakup makna yang lebih luas, seperti mengatur, melindungi, mendidik, dan membimbing istri. Ayat ini secara khusus berbicara tentang hubungan dalam keluarga, dan menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “al- rijâl” adalah suami.

Dari perspektif Islam, pernikahan merupakan institusi yang sangat dianjurkan dan dianggap sebagai bagian dari ibadah yang mulia. Islam mengajarkan bahwa pernikahan adalah sarana untuk mencapai kehidupan yang harmonis (sakinah), penuh cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya pernikahan sebagai salah satu cara untuk menjaga kehormatan, memenuhi kebutuhan emosional dan fisik, serta memperkuat masyarakat dengan membentuk keluarga yang stabil. Namun, ketika kita mengaitkan penurunan angka pernikahan dengan ajaran Islam, terlihat adanya tantangan antara idealitas agama dan realitas modern yang dihadapi oleh generasi muda.

Baca juga: Pandangan Islam dan Hukum Indonesia tentang Pernikahan Beda Agama

Salah satu faktor utama yang menyebabkan generasi muda, termasuk Generasi Z, menunda pernikahan adalah perubahan sosial dan kultural. Dalam Islam, laki-laki memiliki peran sebagai qawwam (pemimpin dan pelindung) dalam keluarga, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An- Nisa: 34. Namun, dalam dunia modern, banyak perempuan yang kini mandiri secara finansial dan memiliki posisi yang setara dalam masyarakat, sehingga peran tradisional ini dipertanyakan oleh sebagian orang. Hal ini membuat generasi muda mempertimbangkan ulang struktur peran gender dalam rumah tangga, terutama dalam konteks pernikahan. Kemandirian ekonomi perempuan dan meningkatnya pendidikan membuat banyak wanita merasa tidak perlu terburu-buru menikah untuk bergantung pada pasangan, berbeda dengan pandangan tradisional dalam Islam yang menekankan kerja sama suami-istri dalam membentuk keluarga. Meskipun Islam tidak melarang perempuan untuk berkarier atau mandiri, ajarannya tetap menekankan  pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan individu.

Selain itu, Islam mendorong pernikahan yang sederhana dan tanpa beban finansial yang berlebihan. Namun, budaya masyarakat Indonesia, yang sering mengaitkan pernikahan dengan pesta besar dan resepsi mewah, berlawanan dengan prinsip kesederhanaan yang dianjurkan Islam. Tekanan sosial ini turut menyebabkan penundaan pernikahan karena banyak yang merasa belum mampu secara finansial untuk menyelenggarakan pernikahan yang dianggap sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Islam juga sangat menekankan pentingnya keluarga yang kokoh dan harmonis. Ketakutan terhadap perceraian, yang semakin marak di kalangan generasi muda, menyebabkan trauma dan keraguan terhadap pernikahan. Meskipun Islam memberikan jalan keluar melalui talak (perceraian), ajaran Islam menekankan bahwa perceraian adalah hal yang paling dibenci oleh Allah di antara hal-hal yang halal. Kekhawatiran ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa banyak generasi muda, meskipun memahami pentingnya pernikahan dalam Islam, memilih untuk menunda atau bahkan menghindarinya hingga mereka merasa lebih siap secara emosional dan finansial.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Pola Makan Sehat: KKN 60 UIN Gus Dur kelompok 22 Gelar Sosialisasi Gizi Seimbang pada Anak

Secara keseluruhan, penundaan pernikahan oleh Generasi Z dapat dilihat sebagai benturan antara nilai-nilai modern dan ajaran Islam. Meski demikian, dalam Islam, pernikahan tetap dipandang sebagai bagian dari jalan hidup yang penuh berkah. Tantangan bagi generasi ini adalah bagaimana menyeimbangkan keinginan untuk mencapai kebebasan pribadi dan kesuksesan karier dengan komitmen religius terhadap pernikahan sebagai bentuk ibadah yang diridhai Allah.

Pengenalan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Mahasiswa KKN 60 UIN Gusdur Ajak Anak PAUD KB Anggrek Landungsari untuk Belajar Mengolah Sampah

Pewarta : Shulkha Kamilia, Editor : Kharisma Shafrani

Pekalongan – Sebagai wujud kepedulian terhadap sampah, mahasiswa KKN 60 kelompok 14 UIN Gus Dur Pekalongan mengajak anak PAUD KB Anggrek Landungsari untuk belajar mengenali sampah. Mereka diajarkan bagaimana cara memilah sampah yang baik. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (15/10/24).

Kegiatan dengan tema “Cintai Kebersihan dan Kesehatan Sejak Dini” yang dihadiri kurang lebih 60 anak itu di sambut secara antusias. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak belajar mengelompokan sampah organik dan anorganik serta bagaimana pengolahan sampah menjadi kerajinan yang bermanfaat. Kerajinan yang dibuat yakni kotak pensil dan hiasan dinding dari sedotan bekas dan koran bekas.

Selain mengajarkan tentang sampah, mahasiswa KKN 60 UIN Gus Dur Pekalongan juga mengajak anak – anak untuk melakukan cuci tangan yang baik dan benar sesuai dengan 6 langkah.

Baca juga : Mahasiswa KKN 60 Kelompok 12 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam Kegiatan Sosialisasi Tong Sampah Organik dan An-Organik

Penerapan hidup bersih dan sehat juga tertuang dalam hadis tentang kebersihan yakni النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ yang artinya kebersihan adalah sebagian dari iman.

Adanya kegiatan tersebut juga mendapat sambutan hangat dari guru PAUD KB Anggrek.

“Alhamdulillah untuk kegiatan hari ini saya melihat antusias dari anak-anak ini banyak yang penasaran ya tentunya” ujar Bunda Yanti.

“Dari anak satu dan yang lainnya itu alhamdulillah jadi bisa membedakan mana yang harus masuk ke organik dan mana yang harus masuk anorganik. Hasil tadi, sampahnya sudah terkumpul, akhirnya bisa memunculkan suatu ide dari sampah untuk dibuat kerajinan yang mana kerajinan ini bermanfaat, satu bisa untuk keterampilan kemudian mengajari anak untuk sabar bisa mengantri satu satu untuk cuci tangan kemudian anak anak bisa berkreasi” lanjutnya.

Mahasiswa KKN berharap kegiatan ini dapat memberi manfaat kepada anak-anak agar ke depannya dapat mengenal sampah dan cara cuci tangan yang baik dan benar sesuai dengan 6 langkah.

Tingkatkan Kesadaran Pola Makan Sehat: KKN 60 UIN Gus Dur kelompok 22 Gelar Sosialisasi Gizi Seimbang pada Anak

Pewarta : Rifa Aprila Durrotul Aisy, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pola makan sehat di kalangan anak-anak, mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kelompok 22 mengadakan kegiatan sosialisasi gizi seimbang di MI 02 Kelurahan Degayu. (13/11).

Kegiatan sosialisasi diikuti oleh siswa kelas satu MI 02 Degayu yang berjumlah 30 siswa. Sosialisasi ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik seperti pemaparan materi gizi seimbang, menonton animasi terkait gizi seimbang, mengelompokkan jenis makanan menggunakan alat peraga, serta bernyanyi dan makan buah bersama. Dalam pemaparannya, mahasiswa KKN menjelaskan empat pilar gizi seimbang, yaitu pentingnya konsumsi beragam makanan, pola hidup bersih, aktivitas fisik yang cukup, dan menjaga berat badan secara berkala.

Diadakannya sosialisasi gizi seimbang pada anak ini, untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan mereka. Dengan memahami gizi seimbang, anak-anak dapat belajar memilih makanan yang baik untuk tubuh mereka, seperti makan sayur, buah, protein, dan karbohidrat dalam porsi yang tepat. Hal ini untuk membantu mencegah kekurangan gizi atau obesitas pada anak, sehingga tubuh mereka dapat berkembang dengan optimal.

Baca juga : Angka Harapan Hidup Tertinggi di Dunia Didominasi Negara-Negara Maju: Perspektif Islam dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kesehatan

Gilang Sukma selaku koordinator desa kelompok 22 Kelurahan Degayu mengungkapkan bahwa kegiatan ini sebagai wujud penerapan dari surat Al-A’raf ayat 31 yang mana Allah SWT memerintahkan kita untuk makan dan minum yang cukup dan juga tidak berlebihan. Hal ini juga sebagai langkah awal untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sejak dini mengenai pentingnya gizi seimbang.
“Kami melihat bahwa edukasi gizi seimbang untuk anak-anak sangat penting, khususnya di masa pertumbuhan. Anak-anak perlu dibiasakan sejak dini untuk memilih makanan sehat dan cukup agar pertumbuhannya maksimal,” ujarnya.

Mahasiswa KKN UIN Gus Dur kelompok 22 berharap dengan kegiatan sosialisasi ini, sebagai langkah awal untuk memahami pentingnya gizi seimbang pada tumbuh kembang anak. Anak-anak juga dapat lebih memahami pentingnya makanan sehat dan mulai menerapkan pola makan yang seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa KKN 60 Kelompok 12 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam Kegiatan Sosialisasi Tong Sampah Organik dan An-Organik

Penulis: Syifana Firda Adelia dan Nilna Farida; Editor : Ika Amiliya

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 60 kelompok 12 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) melakukan sosialisasi tong sampah organik dan an-organik. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis (07/11/2024).

Sosialisasi tong sampah ini merupakan rangkaian dari Lomba Kelurahan Pelangi. Target desa yang dipilih sebagai perwakilan Lomba Kelurahan Pelangi ini adalah RT 06 RW 06 Kelurahan Kuripan Yosorejo. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada warga setempat agar membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah organik dan an-organik guna menjaga kebersihan lingkungan.

Dalam Islam juga diajarkan, bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari iman dan pangkal kesehatan. Dalam al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 56 Allah berfirman “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa KKN angkatan 60 kelompok 12 UIN Gus Dur Pekalongan, yang dibuka oleh Asih, Ketua RW 06 sekaligus tuan rumah kegiatan sosialisasi. Asih membuka kegiatan dengan memberikan sambutan dan penjelasan mengenai konsep Lomba Kelurahan Pelangi.

“Kelurahan pelangi adalah perlombaan RT/RW dengan fokus pengelolaan sampah,” ucap bu Asih.

Lebih lanjut, Asih berterima kasih kepada mahasiswa KKN angkatan 60 kelompok 12 yang telah membantu dalam hal sarana dan prasarana untuk menghias tong sampah menjadi lebih kreatid. Ia juga berharap dapat menjalin kerja sama dengan warga RT 06 RW 06 dan seluruh mahasiswa KKN.

Acara selanjutnya diisi pemaparan materi oleh Ahmad Muttawakkil selaku Kordes (Koordinator Desa) dan Nur Fatin Lu’luatus Solikha selaku Bendahara, dengan indikator materi terkait perbedaan sampah organik dan an-organik, manfaat dan tujuan dari pemilahan kedua sampah tersebut, serta konsep pelaksanaan penilaian dari lomba kelurahan pelangi.

Tujuan adanya materi tersebut yaitu untuk memberikan pemahaman kepada seluruh warga RT 06 RW 06 agar bisa membedakan kedua jenis sampah tersebut, serta maksimal dalam melakukan pemilahan sampah guna menyukseskan lomba Kelurahan Pelangi. Di sesi ini beberapa warga antusias bertanya mengenai konsep dari lomba Kelurahan Pelangi.

Kemudian setelah pemaparan materi, Sri Haryati selaku penanggung jawab dari Program Kerja Lomba Kelurahan Pelangi menambahkan pembentukan struktur kepengurusan Bank Sampah. Program Kerja ini dinamai Bank Sampah Mewah (Mepet Sawah) yang diusulkan oleh warga. Kegiatan ini ditutup oleh Sri Haryati dan diakhiri dengan foto bersama