Hanya Terjadi Sekali dalam Belasan Tahun! Keajaiban Toleransi di Balik Imlek dan Ramadan 2026

Penulis: Dwi Selma Fitriani, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Menjadi Indonesia berarti merayakan keberagaman sebagai napas sehari-hari. Bulan Februari 2026 adalah bulan yang istimewa. Masyarakat dihadapkan pada kondisi dua budaya besar yang saling memberikan ruang untuk bersinar bersama. Pertemuan momen sakral ini membuktikan toleransi dan moderasi beragama yang tinggi, bagaimana kita sebagai satu bangsa, mampu menyatukan doa dan sukacita dalam satu napas persaudaraan yang tulus.

Di bulan ini, langit Nusantara tidak hanya dihiasi oleh merahnya lampion khas Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, tetapi juga oleh lantunan doa syahdu yang menandai dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Pertemuan dua perayaan besar ini menciptakan suasana unik di mana aroma hidangan khas Tionghoa dan kekhusyukan persiapan sahur hadir hampir bersamaan di ruang publik yang sama.

Fenomena langka ini terjadi karena kedua kalender tersebut sama-sama mengacu pada peredaran bulan (lunar). Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 17 Februari, sementara awal Ramadan menyusul hanya berselang satu hingga dua hari setelahnya. Kedekatan waktu ini mengubah wajah kota-kota di Indonesia menjadi palet warna yang memanjakan mata. Dari merah cerah simbol keberuntungan, putih bersih simbol kesucian, hingga hijau teduh yang identik dengan suasana Ramadan.

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Sumud Flotilla: Antara Ketabahan dan Toleransi

Di kota-kota dengan populasi Tionghoa yang besar seperti Singkawang, Medan, dan Semarang, kedewasaan beragama diuji sekaligus dibuktikan. Festival lampion dan pawai barongsai yang biasanya riuh hingga larut malam kini dijalankan dengan manajemen waktu yang lebih disiplin. Ada kesepakatan tak tertulis yang sangat menyentuh dan patut diapresiasi.

Komunitas Tionghoa secara sukarela mengatur volume suara dan durasi perayaan agar memberikan ruang ketenangan bagi umat muslim yang bersiap untuk sahur dan ibadah Subuh. Sebaliknya, semangat berbagi “angpao” saat Imlek pun bersinggungan indah dengan semangat “sedekah” di awal Ramadan. Di sini, tangan-tangan yang memberi tidak lagi melihat latar belakang etnis atau agama, melainkan murni bergerak atas dasar kemanusiaan.

Dinamika menarik juga terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern. Kita bisa melihat pemandangan unik di mana kurma untuk berbuka puasa dijual berdampingan dengan kue keranjang. Para pelaku usaha pun sangat adaptif, dekorasi bertema naga dan barongsai bersanding manis dengan ornamen bulan bintang. Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, ada pelajaran yang jauh lebih mendalam, yaitu tentang bagaimana kita merawat moderasi beragama di tengah keberagaman yang nyata.

Baca juga: Peran Masjid Al-Hikmah sebagai Simbol Toleransi Umat Beragama di Pulau Dewata

Moderasi beragama dalam momen ini bukanlah mencampuradukkan ritual ibadah, melainkan tentang cara kita mengambil jalan tengah yang penuh empati. Saat warga keturunan Tionghoa merayakan sukacita makan malam keluarga (reunion dinner), umat Islam di saat yang hampir bersamaan sedang merapikan saf untuk salat tarawih pertama. Toleransi diuji secara konkret melalui aksi-aksi kecil tetapi bermakna, seperti memastikan kemeriahan kembang api tidak mengganggu kekhusyukan doa, atau saling berbagi makanan yang disesuaikan dengan aturan agama masing-masing sebagai tanda kasih antar tetangga.

Pada akhirnya, pertemuan Imlek dan Ramadan di tahun 2026 memberikan pesan kuat bagi kita semua. Meskipun cara kita berdoa dan merayakan tradisi berbeda, esensi dari kedua momen ini sebenarnya serupa. Keduanya adalah waktu untuk pembersihan diri, refleksi atas kesalahan masa lalu, dan upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kejadian langka ini seolah menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia bahwa perbedaan bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang membuat tali persaudaraan semakin kuat jika dirawat dengan rasa hormat yang tulus.

Persiapan Diri Menuju Ramadan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ

أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pertama marilah kita bersyukur kepada Allah SWT, alhamdulillah masih diberikan Kesehatan, kesempatan sampai pada bulan syakban, dan sebentar lagi bulan romadhon. mudah mudahan kita semua dipertemukan dengan bulan romadhon, amin. Kedua marilah kita persiapkan kedatangan bulan romadhon dengan suka cita, dengan memperbanyak amal ibadah, memperbanyak dzikir, sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bulan syakban Adalah bulan yang sering dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin, karena berada di antara dua bulan yang agung, yaitu Rajab dan Ramadhan. Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bulan Sya’ban. Rosululloh berpuasa dibulan syakban sebagaimana yang dikatakan para sahabat kaana yasuumu syakbana illa qolilaa (beliau berpuasa di bulan syakban kecuali beberapa hari saja yang dia lepas dan beliau Jalani tanpa berpuasa). Hal inilah yang memberanikan diri Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW.  Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu Adalah salah satu sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW, beliau bertanya kepada rosululloh SAW, ya Rasulullah aku melihat engkau berpuasa di bulan syakban jauh lebih banyak dibanding bulan bulan lain, ada apa ya rosululloh. Apa istimewanya, apa rahasianya bulan syakban ini kata Zaid,

Lalu apa kata nabi Muhammad, beliau mengatakan bulan syakban Adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak manusia karena jatuh antara dua bulan mulia yaitu Rojab dan Romadhon, bulan syakban Adalah bulan Ketika amal-amal ibadah kita dalam satu tahun diangkat kehadapan Allah SWT, maka aku ingin Ketika amal-amalku diangkat kehadapan Allah SWT, aku dalam keadaan berpuasa. Oleh karena itu marilah kita teladani Nabi Muhammad SAW di bulan syakban ini dengan memperbanyak puasa sunnah, Puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh (pertengahan bulan hijriyah), ataupun puasa daud sehari puasa sehari berbuka puasa. Marilah kita hidupkan bulan ini dengan dengan memperbanyak mengingat Allah, memperbanyak Istighfar, dan amalan baik lain sehingga Ketika amal diangkat kita sedang berbuat baik.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Lantas bagaimana dengan pandangan Sebagian orang yang melarang puasa setelah pertengahan sakhban. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidhi dan Abu Daud.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 738 dan Abu Daud no. 2337)

Dalam lafazh lain HR Ibnu Majah

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ صَوْمَ حَتَّى يَجِىءَ رَمَضَانُ

Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tidak ada puasa sampai datang Ramadhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1651)

Dalam lafazh yang lain lagi,

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنِ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ

Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tahanlah diri dari berpuasa hingga datang bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)

Hadist ini hanya melarang berpuasa bagi orang orang yang tidak terbiasa berpuasa, sedangkan bagi orang orang yang sudah terbiasa berpuasa maka ini tidak menyalahi sebagaimana nabi Muhammad terbiasa berpuasa setetah pertengahan syakban.

Hal ini diperkuat pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, Mereka mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban adalah bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa ketika itu. Jadi bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa seperti (1) puasa senin-kamis),. (2) puasa Daud (sehari buka sehari puasa), (3) puasa nadzar, (4) puasa qadha mengganti puasa romadhon yang ditinggalkan karena udhur, dan (5) puasa kafarat, boleh berpuasa.

Oleh karena itu, marilah kita hidupkan, manfaatkan bulan Sya’ban ini untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, dan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketakwaan, Seperti yang telah dicontohkan oleh rosululloh Muhammad SAW.

   بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

  عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

*Khattib: Bpk. Muttaqin (Talun, Kab. Pekalongan)

Metode Imam al-Ghazali dalam Memprediksi Malam Lailatul Qadar

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Amarul Hakim

Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Muslim. Salah satu keistimewaan bulan ini adalah, selain menjadi bulan dimana didalamnya terdapat peristiwa diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, di bulan Ramadan pula ada satu malam yang begitu istimewa yang banyak orang berburu keistimewaan malam yang spesial ini. Tidak lain dan tidak bukan, malam Lailatul Qadar adalah malam yang spesial di Bulan Ramadan.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam Surah Al Qadr ayat 1-5:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya: Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Q.S. al-Qadr/97: 1-5)

Begitu banyaknya nikmat dan hidayah yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar, yang bahkan sampai disebutkan malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Meski dalam hal ini terdapat makna tersirat dari “seribu bulan” tersebut, namun pada dasarnya makna tersebut sebagai bentuk begitu besarnya keberkahan dan keistimewaan yang diturunkan oleh Allah swt. di malam tersebut. Oleh karena itu, tentu dengan adanya malam Lailatul Qadar harus menjadi penyemangat umat Islam agar meningkatkan amal ibadah mereka dengan memburu malam Lailatul Qadar. Sebagaimana dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Yang artinya, “Carilah malam Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan (H.R. Bukhari).

Adapula hadits yang Rasulullah saw. bersabda bahwa malam Lailatul Qadar jatuh di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan (H.R. Bukhari).

Baca juga: Analisis Nilai Lailatul Qadar dalam Perspektif Akuntansi Syariah: Konsep Keberkahan dan Laba Spiritual

Dari beberapa hadits tersebut, seorang ulama terkemuka, Imam Al-Ghazali melalui metodenya yang tercantumn dalam I’anatuth Thalibin, juz 2, halaman 257, beliau memberikan kaidah agar dapat mengetahui kapan Lailatul Qadar jatuh berdasarkan hari pertama dari bulan Ramadan.

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Penjelasannya adalah:

  1. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29;
  2. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21;
  3. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-27;
  4. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25;
  5. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.

Berdasarkan perhitungan ini, maka tahun 2025 M / 1446 H, sebagaimana Keputusan sidang Isbat melalui Kementerian Agama dan juga melalui Lembaga Falakiyah PBNU, awal Ramadan 1446 H jatuh di hari Sabtu, 1 Maret 2025. Sehingga dapat diprediksi dengan landasan kaidah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, malam Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 23 Maret 2025 M.

Baca juga: Malam Lailatul Qadar (Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan)

Namun demikian, tetap prediksi ini tidak bisa dijadikan sebuah acuan utama, karena Allah swt. yang berhak menentukan dengan pasti kapan malam Lailatul Qadr itu, dan manusia hanya sebatas memprediksi.

Disisi lain, selagi malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan diisi dengan amal-amal ibadah seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan shalawat, serta melaksanakan salat malam (tahajud), maka Insyaallah dapat memperoleh keistimewaan malam Lailatul Qadar tersebut. Adapun anjuran doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar ini adalah,

اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.

Artinya: Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku. (H.R. Tirmidzi)

Dengan demikian, melalui amal ibadah yang terus ditingkatkan di malam malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, semoga dapat menjadi sebuah keberkahan dan dapat membuat kita menjumpai malam Lailatul Qadar, serta yang terpenting adalah amal ibadah kita semoga dapat diterima oleh Allah swt., dengan terus istiqomah melaksanakan amal ibadah di bulan-bulan selanjutnya hingga bertemu dengan bulan Ramadan kembali di tahun depan.

Wallahu’alam bishawab.

Analisis Nilai Lailatul Qadar dalam Perspektif Akuntansi Syariah: Konsep Keberkahan dan Laba Spiritual

Penulis: Agus Arwani, Editor: Tegar Rifqi

Malam lailatul qadar dianggap sebagai salah satu malam paling suci dalam tradisi Islam, dianggap memiliki nilai berkah yang lebih besar daripada 1000 bulan. Menariknya, konsep keberkahan malam lailatul qadar sendiri dapat diaplikasikan pada berbagai sudut pandang keilmuan. Dari sudut pandang akuntansi syariah, prinsip kebajikan ini dapat dikaitkan dengan imbalan spiritual dan nilai tambahan yang melampaui pertimbangan materi belaka, juga memiliki pengaruh jangka panjang yang mendalam pada keseimbangan keberadaan duniawi dan akhirat. Sebagai entitas ekonomi yang diatur oleh hukum akuntansi syariah, lembaga keuangan Islam harus memahami bahwa gagasan tentang kemakmuran tidak hanya dilihat dari keuntungan belaka, melainkan juga bagaimana mewujudkan kesejahteraan sosial, keadilan ekonomi, dan harmoni spiritual dalam transaksi keuangan.

Dalam kerangka akuntansi syariah, gagasan kemakmuran tidak semata-mata terbatas pada keuntungan finansial saja, tetapi juga terkait dengan dimensi etika dan sosial. Lailatul Qadar, sebagai malam yang penuh dengan berkah, berfungsi sebagai paradigma akuntansi syariah dalam menentukan apakah suatu transaksi menghasilkan keuntungan bagi masyarakat atau hanya sebatas pada peningkatan nilai ekonomi. Dalam akuntansi syariah dijelaskan bahwa harta yang dianggap sah dan digunakan dengan tepat akan menghasilkan kemakmuran abadi.

Baca juga: Malam Lailatul Qadar (Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan)

Konsep kemakmuran dalam akuntansi syariah dapat dikaitkan dengan akuntansi berbasis nilai, di mana nilai tidak secara eksklusif dilambangkan dengan angka numerik tetapi juga mencakup pertimbangan etis dan sosial. Perusahaan yang mematuhi prinsip-prinsip akuntansi syariah harus memastikan bahwa pendapatan mereka berasal dari sumber-sumber halal, bahwa tata kelola mereka selaras dengan prinsip Syariah, dan bahwa distribusi keuntungan mereka menghasilkan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas. Akibatnya, altruisme muncul sebagai kriteria unggulan dalam mengevaluasi kinerja keuangan yang berlandaskan pada hukum akuntansi syariah dimana tidak hanya berorientasi pada keuntungan temporal tetapi juga pada dimensi spiritual dan sosial.

Lailatul Qadar memberikan pelajaran bahwa waktu mewujudkan nilai yang sangat signifikan dalam pengalaman manusia. Dalam ranah akuntansi syariah, nilai temporal ini dapat dikorelasikan dengan konsep nilai waktu uang, yang dari perspektif Islam menempatkan penekanan yang lebih besar pada utilitas manfaat daripada pertumbuhan numerik belaka. Lembaga keuangan syariah harus menyadari bahwa setiap keputusan keuangan yang dibuat akan memiliki pengaruh bagi kesejahteraan umat. Oleh karena itu, praktik-praktik seperti riba, yang memprioritaskan keuntungan tanpa memperhatikan kekayaan, pada dasarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip akuntansi syariah.

Dalam bidang keuangan Islam, Lailatul Qadar merupakan kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk menilai secara kritis sejauh mana transaksi mereka sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah. Akuntansi Syariah berfungsi tidak hanya sebagai mekanisme untuk mendokumentasikan transaksi tetapi juga sebagai kerangka kerja untuk menilai kesejahteraan ekonomi. Akibatnya, laporan keuangan syariah harus secara efektif merangkum nilai-nilai etika, kesetaraan, dan keseimbangan yang harmonis antara kepentingan individu dan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Baca juga: Ramadan Bulan Kebangkitan Ummat

Pentingnya keseimbangan antara keuntungan material dan spiritual dalam akuntansi syariah lebih lanjut diilustrasikan oleh konsep syariah maqashid, yang menggarisbawahi perlindungan agama, kehidupan, kecerdasan, garis keturunan, dan properti. Setiap transaksi yang dilakukan harus menggabungkan lima dimensi ini untuk memenuhi syarat sebagai usaha yang sukses. Jika suatu transaksi memprioritaskan keuntungan finansial dengan mengesampingkan implikasinya terhadap kesejahteraan komunal, ia kehilangan signifikansi spiritualnya.

Dari sudut pandang akuntansi syariah, transparansi dan akuntabilitas sangat penting untuk pencapaian kemakmuran. Keuangan Islam tidak hanya harus fokus pada kepatuhan terhadap kerangka peraturan tetapi juga harus membuat setiap keputusan ekonomi dapat dibertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penyediaan laporan keuangan yang transparan dan selaras dengan prinsip-prinsip Syariah merupakan pendekatan penting untuk mempertahankan kemakmuran dalam upaya komersial.

Lailatul Qadar juga menanamkan pentingnya niat di balik setiap tindakan amal. Dalam bidang akuntansi syariah, niat tulus dalam menjalankan bisnis merupakan faktor penting dalam mewujudkan kemakmuran. Keuntungan yang diperoleh melalui cara-cara yang sah dan disebarluaskan dengan maksud menguntungkan orang lain membawa signifikansi spiritual yang tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang hanya melayani kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Baca juga: Keluarga dengan Nilai Keagamaan Kuat Lebih Harmonis dan Tangguh Hadapi Tekanan Ekonomi

Prinsip-prinsip akuntansi syariah yang didasarkan pada nilai kekayaan semakin menekankan perlunya keadilan dalam distribusi kekayaan. Lailatul Qadar, yang ditandai dengan berlimpahnya berkah, berfungsi sebagai pengingat pedih bagi pengusaha muslim untuk memberikan pertimbangan yang lebih tinggi terhadap dimensi sosial pada setiap transaksi keuangan mereka. Prinsip-prinsip zakat, sedekah, dan infak merupakan komponen integral dari sistem keuangan Islam, yang bertujuan untuk membina kesejahteraan sosial yang komprehensif.

Lailatul Qadar menjelaskan bahwa kemakmuran sejati tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah harta benda yang diperoleh, tetapi secara signifikan dipengaruhi oleh cara pemanfaatan sumber daya ini. Dalam kerangka akuntansi syariah, prinsip ini diterapkan melalui laporan keuangan yang merangkum tidak hanya keuntungan moneter tetapi juga konsekuensi sosial dan spiritual dari setiap transaksi yang dilakukan. Akibatnya, kemakmuran muncul sebagai kriteria penting dalam mengevaluasi kemanjuran usaha Islam.

Akhirnya, keberkahan malam Lailatul Qadar yang dikaji melalui lensa akuntansi syariah memberikan pemahaman penting bahwa baik kemakmuran maupun keuntungan spiritual memegang posisi krusial dalam menentukan keberhasilan perusahaan Islam. Akuntansi Syariah tidak hanya berperan sebagai instrumen belaka untuk pencatatan keuangan, tetapi juga berfungsi sebagai kompas etis dalam pelaksanaan transaksi ekonomi. Dengan memprioritaskan kekayaan sebagai alat ukur fundamental dalam evaluasi kinerja keuangan, lembaga keuangan Islam memiliki potensi untuk membangun keseimbangan yang harmonis antara keberhasilan material dan pemenuhan spiritual.

Pemuda dan Tantangan Moderasi Beragama di Era Globalisasi

Penulis: Inesya Nofita Orisan, Editor: Tegar Rifqi

Era globalisasi merupakan periode zaman interaksi dan integrasi antar negara. Penguatan segala aspek kehidupan seperti budaya dan ekonomi semakin erat dan terkoneksi secara terstruktur melalui globalisasi yang melibatkan perluasan pertukaran informasi, perdagangan, teknologi, dan budaya di seluruh dunia. Pertukaran segala bentuk informasi semakin dimudahkan dengan adanya perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dari jarak jauh seperti saat ini.

Aspek  budaya di era globalisasi menciptakan pertukaran nilai, moral, dan gaya hidup ke berbagai dan antar masyarakat. Media massa dan internet turut serta memainkan peran  dalam menyebarkan informasi melalui proses difusi budaya. Meskipun globalisasi menjadi peran penting dalam perkembangan peradaban dunia, akan tetapi disisi lain juga memunculkan tantangan seperti homogenisasi budaya dan ketidaksetaraan ekonomi.  Selain itu, globalisasi juga berpengaruh terhadap politik internasional melalui penguatan kerjasama  antar negara, serta organisasi internasional dan pembentukan blok ekonomi yang pada akhirnya mengakibatkan interdependensi antar negara dan membawa dampak politik maupun ekonomi dari satu negara ke negara lainnya.

Selain dari sektor ekonomi dan kenegaraan, era saat ini juga berpengaruh terhadap nilai sosial budaya yang ada. Era dimana yang lebih ditekankan adalah nalar yang fragmentaris, sekularistik, hedonistik, transaksional,  dan materialitas yang dapat berpengaruh terhadap anak muda. Sekularisme contohnya, salah satu pengaruh buruk dari konsep pemikiran tersebut adalah memisahkan urusan dunia dan akhirat, dimana itu membuat orang bisa untuk bertindak dengan cara apapun dengan cara yang mereka inginkan tanpa adanya tanggung jawab agama dan moral yang mendalam. Oleh karena itu, pengenalan moderasi di kalangan pemuda itu sangat penting dalam mewujudkan adanya menciptakan lingkungan dan kehidupan yang aman dan  nyaman, moderasi membantu dalam pengendalian beragama supaya tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri melainkan di tengah-tengah. Di mana itu juga akan berpengaruh pada peran generasi muda yang jauh sangat penting dalam memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Terkait perkembangan gerakan moderasi beragama yang mencakup peran pemuda perlu diperhatikan, karena para anak muda itu lah yang akan menjadi masa depan negara. Mau dibawa kearah mana negara berjalan tergantung dengan kualitas anak muda yang dimiliki saat ini. Oleh karena itu,  generasi muda harus lebih produktif dan inovatif dalam supaya sosialisasi guna menumbuhkan jiwa moderasi beragama kepada masyarakat demi terjaganya keharmonisan, kedamaian. Salah satu nya dengan cara yang paling dikuasai oleh anak muda yaitu teknologi internet dan media. Anak muda harus bisa memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan dan menyebarluaskan sikap moderasi beragama dan menciptakan kerukunan antar umat beragama. Keterampilan dan pengetahuan anak muda terhadap teknologi  juga bisa membantu dalam mengolah dan memilih informasi di internet agar mengatasi isu-isu yang ada dan mengatasi tantangan kompleksitas yang dapat memahami dan membantu mempraktikan moderasi beragama.

Radikalisme menjadi ideologi yang tak kalah mengkhawatirkannya dengan sekularisme pada era saat ini dimana target utamanya sama yaitu anak muda yang kurang dalam pendidikan agama. Hal itu terjadi karena minimnya pendidikan agama secara mendasar dari kecil sehingga pada saat mulai terpapar dengan informasi yang ada di internet yang berkaitan dengan radikalisme anak muda cenderung lebih mudah tergoda. Selain dari minimnya pendidikan agama, sifat alami yang dimiliki anak muda seperti rasa penasaran dan pemikiran kurang matang yang sering kali membuat salah dalam pengambilan keputusan  menjadikan anak muda sebagai target utama penyebaran radikalisme. Disinilah seharusnya peran anak muda diperlukan untuk saling mengedukasi antar sebaya agar lebih mudah dipahami. Anak muda sudah semestinya menjadi penyaring paham-paham negatif dan ikut serta terjun ke dalam masyarakat dan ikut menyampaikan akan bahaya paham yang negatif itu. 

Dalam pendekatannya, kita bisa menggunakan salah satu teori sosiologi yaitu teori Interaksi sosial masyarakat dan kelompok. Mengapa menggunakan teori Interaksi sosial,Masyarakat,dan kelompok? Dikarenakan Menurut pengertian interaksi sosial, manusia membentuk ikatan yang erat dengan satu sama lain, dengan kelompok, atau bahkan dengan manusia lain. Hal itu membuat masyarakat lebih bisa bersikap terbuka dalam berinteraksi. Dalam penerapannya, bisa dengan cara mengajak berkomunikasi secara empat mata atau dari hati ke hati dan sedikit dijelaskan tentang moderasi beragama secara pelan dan bertahap serta memberikan contoh implementasi moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari juga memberikan contoh konflik yang terjadi apabila minim atau kurangnya pengetahuan tentang moderasi beragama.

Sejatinya moderasi dalam beragama juga secara tidak langsung sudah dianjurkan pada kita melalui salah satu hadits yang berisi tentang larangan untuk bersikap ekstrem atau berlebih lebihan terhadap agama. 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ ؛ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ 

“Wahai manusia jauhkanlah kalian berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang-orang sebelum kalian telah binasa sebab mereka berlebih-lebihan dalam agama” (HR. Imam Ahmad, hadits shahih).

wallahu’alam bishawab

Refleksi Puasa: Dari Tradisi Nabi Hingga Makna Spiritual di Era Modern

Penulis: Muhammad Ash-Shiddiqy, Editor: Tegar Rifqi

Puasa, salah satu ibadah utama dalam Islam, memiliki sejarah panjang yang bermula dari tradisi Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya. Sebelum puasa Ramadan disyariatkan, Nabi Muhammad SAW telah menjalankan puasa selama 13 tahun di Makkah dan hampir dua tahun pada awal kehidupannya di Madinah. Puasa yang beliau jalankan mengikuti tradisi Nabi Musa AS, yang juga dipraktikkan oleh bangsa Quraish, yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai puasa Asyura. Tradisi ini mengungkap keterkaitan antara praktik puasa dalam Islam dengan tradisi puasa umat Yahudi dan Kristiani, setidaknya menurut versi sejarah Islam.

Kemudian, melalui turunnya ayat 183 surat Al-Baqarah, puasa Ramadan ditetapkan sebagai kewajiban bagi umat Muslim. Ayat tersebut menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Pernyataan ini tidak hanya menegaskan kewajiban berpuasa, tetapi juga mengaitkannya dengan tradisi spiritual umat terdahulu.

Baca juga: Keutamaan Awal Ramadan: Cara Niat Puasa di Malam Pertama Bulan Ramadan

Puasa juga menampakkan sisi kemanusiaannya. Dalam ayat-ayat selanjutnya—khususnya hingga ayat 186 surat Al-Baqarah—Allah SWT memberikan keringanan bagi mereka yang berhalangan menjalankan puasa, seperti orang sakit, musafir, atau wanita hamil dan menyusui, dengan alternatif fidyah berupa memberi makan orang miskin. Hal ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang berpihak pada kemanusiaan, di mana puasa bukan dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan untuk menumbuhkan nilai ketakwaan, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, puasa menjadi sarana untuk merasakan penderitaan mereka yang kurang beruntung dan meningkatkan kepekaan sosial.

Di tengah arus modernitas yang serba cepat, puasa mengajarkan kita untuk melambatkan laju kehidupan. Ambisi untuk selalu melaju tanpa henti seringkali membuat kita lupa berhenti sejenak, merenung, dan menikmati hidup secara lebih bermakna. Puasa berperan sebagai “rem waktu” yang mengajarkan kita menahan diri, menanti waktu berbuka, serta merasakan setiap detik dengan intens, sehingga kita belajar untuk menghargai setiap momen dengan ketenangan dan kesadaran.

Baca juga: Ramadan Bulan Kebangkitan Ummat

Dalam menyambut Ramadan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibadah kita lebih maksimal. Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, sehingga sebaiknya diisi dengan memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Kewajiban seperti puasa dan shalat berjamaah bagi laki-laki harus diprioritaskan, begitu pula shalat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an sebagai ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Donasi buka puasa memang baik, tetapi hendaknya dilakukan dengan sederhana dan tidak berlebihan agar keikhlasan tetap terjaga.

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah waktu istimewa yang sebaiknya dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah, terutama dalam mencari malam Lailatul Qadar. Keluarga juga perlu dilibatkan dalam suasana Ramadan, dengan menanamkan nilai dan keutamaannya kepada istri dan anak-anak agar ibadah bersama menjadi lebih bermakna. Selain itu, menargetkan khatam Al-Qur’an minimal empat kali selama Ramadan bisa menjadi cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berbuka puasa di rumah bersama keluarga lebih utama dan penuh berkah dibandingkan berbuka di luar. Ceramah Tarawih sebaiknya tidak terlalu panjang agar tidak memberatkan jamaah. Para imam shalat hendaknya memimpin dengan keikhlasan, bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan materiil. Ramadan juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah diri dan memperbanyak istighfar serta tobat sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih baik.

Baca juga: Tradisi Menyambut Ramadan: Nyekar, Padusan, dan Nyadran

Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga merupakan sarana untuk mengasah spiritualitas, empati, dan kesadaran akan waktu. Dari tradisi Nabi Muhammad SAW hingga relevansinya di era modern, puasa mengajarkan kita untuk hidup lebih bermakna. Semoga Ramadan tahun ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tradisi Menyambut Ramadan: Nyekar, Padusan, dan Nyadran

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy,M.E; Editor: Azzam Nabil H.

Bulan Ramadan adalah bulan yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, menyambut Ramadan tidak hanya dilakukan dengan persiapan spiritual, tetapi juga melalui berbagai tradisi lokal yang kaya akan makna. Beberapa tradisi yang populer di masyarakat Indonesia antara lain perang petasan, kembang api, bersih-bersih masjid, hingga “Nyekar”. Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang dalam.

Nyekar: Ziarah Kubur Sebelum Ramadan

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Nyekar, yaitu ziarah ke makam leluhur seperti orang tua, nenek, kakek, buyut, atau saudara yang telah meninggal. Dalam tradisi ini, keluarga biasanya membacakan doa, seperti surat Yasin dan tahlil, serta menaburkan bunga di makam. Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa Nyekar dilakukan sebelum Ramadan? Jawabannya sederhana: ini soal “roso” atau perasaan.

Ketika Ramadan tiba, semua amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Bahkan tidurnya orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang kita sayangi tetapi sudah meninggal? Mereka tidak bisa lagi menikmati “diskon pahala” atau “cuci gudang dosa” yang terjadi selama Ramadan. Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa syukur dan kasih sayang, kita mengunjungi makam mereka dan mengirimkan doa. Doa anak sholeh adalah salah satu pahala yang terus mengalir bagi orang yang telah meninggal, selain sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.

Padusan: Membersihkan Diri Sebelum Ramadan

Selain Nyekar, ada juga tradisi “Padusan” yang populer di Jawa. Padusan berasal dari kata “adus” yang berarti mandi. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol pembersihan diri secara fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan. Filosofi Padusan memiliki beberapa makna mendalam:

Makna mendalam dari filosofi tersebut yang pertama adalahPembersihan Diri: Padusan melambangkan pembersihan diri dari dosa dan kesalahan, sehingga kita bisa memulai ibadah dengan hati yang bersih.

Kedua, Pembaharuan Diri: Tradisi ini juga melambangkan pembaharuan diri, yaitu meninggalkan kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baru yang lebih baik. Ketiga, Pengukuhan Iman: Padusan dapat memperkuat iman dan meningkatkan kesadaran spiritual, sehingga kita lebih siap menghadapi tantangan hidup selama Ramadan.

Keempat, Pembersihan Jiwa: Padusan juga diartikan sebagai pembersihan jiwa dari kotoran batin seperti kesombongan, kebencian, dan keinginan yang tidak baik. Dan yang kelima adalah Persiapan untuk Ramadan: Secara khusus, Padusan adalah persiapan untuk menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci.

Nyadran: Akulturasi Budaya Jawa dan Islam

Selain Nyekar dan Padusan, ada juga tradisi Nyadran yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Nyadran biasanya dilakukan pada bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) atau Sya’ban (menurut kalender Hijriyah). Tradisi ini juga dikenal sebagai Ruwahan karena dilakukan pada bulan Ruwah. Beberapa ciri khas Nyadran antara lain:

Ziarah Kubur: Seperti Nyekar, ziarah kubur adalah bagian penting dari Nyadran; Mandi di Sungai (Padusan): Membersihkan diri di sungai sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga; Membersihkan Lingkungan: Kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar; Kenduri: Acara makan bersama sebagai bentuk syukur dan silaturahmi; Kirab dan Ujub: Prosesi budaya yang melibatkan masyarakat setempat.; Doa dan Tasyukuran: Acara doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas datangnya Ramadan.

Makna Nyadran

Nyadran bukan sekadar tradisi, tetapi juga ekspresi rasa gembira, syukur, dan kebahagiaan menyambut Ramadan. Tradisi ini mengandung nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, dan silaturahmi. Melalui Nyadran, masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Tradisi-tradisi seperti Nyekar, Padusan, dan Nyadran adalah warisan budaya yang patut dilestarikan. Meskipun berasal dari budaya lokal, tradisi ini sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mereka mengajarkan pentingnya membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan hati untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Jadi, sudah siap menjadi bagian dari “Golkar” (Golongan Nyekar)? Mari kita jaga tradisi lama yang baik ini, sambil terus memperkaya makna spiritualnya dalam kehidupan kita. Dengan begitu, Ramadan tidak hanya menjadi bulan penuh berkah, tetapi juga bulan yang penuh dengan kebersamaan dan kasih sayang.