Hadirkan Gus Miftah, Mahasiswa Baru UIN Gus Dur Pekalongan Diajak Memahami Kebhinekaan dan Kemanusiaan

Penulis: Luthfi Maulana, Editor: Muslimah 

Mahasiswa baru UIN K.H. Abdurrahman Wahid  Pekalongan (UIN Gus Dur) menghadiri acara kuliah umum kebangsaan yang dilaksanakan di Gedung Student Center UIN Gus Dur, Jum’at (18/9/2026). Kuliah umum kebangsaan ini mengusung tema Merawat Kebhinekaan, Mengukuhkan Kemanusiaan, untuk Indonesia yang Humanis.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran para petinggi kampus serta menghadirkan narasumber utama K.H. Miftah Maulana Habiburrohman selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Kepresidenan bidang Kerukunan Beragama dan Pembinan Sarana Keagamaan. Menurut Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M. Ag., kehadiran Gus Miftah diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan mengenai aspek kebhinekaan melalui pengalaman-pengalaman yang dimiliki.

“Mahasiswa yang hadir pasti akan sangat beruntung karena akan dapat wawasan yang luas dari Gus Miftah juga mendapatkan perspektif yang berbeda terkait tema yang kita angkat,” ujarnya dalam sambutan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, terdapat tiga kata kunci yang menjadi poin utama dalam kuliah kebangsaan kali ini, yakni merawat kebhinekaan, mengukuhkan kemanusiaan, dan Indonesia humanis. Kebhinekaan yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia sudah seyogyanya dijaga bersama dengan penuh kesadaran. Kebhinekaan tersebut tidak bisa hanya dipandang dalam satu perspektif saja karena keragaman. Lebih dari itu, kebhinekaan tersebut seharusnya menjadi pemersatu bangsa terciptanya Indonesia yang harmonis.

Selanjutnya, kata kunci mengukuhkan kemanusiaan sebagai pengejawantahan dari nilai tauladan Gus Dur. Menurut Rektor UIN Gus Dur, membawa nama besar Gus Dur pada kampus berarti memiliki nilai yang sama dengan Gus Dur sebagai teladan. Aspek tersebut juga diharapkan tidak hanya menjadi retorika, namun menjadi nilai yang tumbuh dalam diri individu.

“Gus Dur adalah pembela kemanusiaan, oleh sebab itu kita harus sama dengan Gus Dur, apa yang diajarkan oleh Gus Dur, nilai-nilai gusdurian, keadilan, membela yang lemah, toleransi, nir kekerasan, saling menghargai dan sebagainya. Harus menjadi teladan bagi kita semua.”

Nilai kemanusiaan tersebut diharapkan mewujudkan kedamaian dalam Indonesia yang humanis. Menurutnya, Indonesia yang humanis ialah Indonesia yang memanusiakan manusia.

“Tidak ada satupun manusia yang hina di dunia ini karena sebetulnya semua makhluk adalah makhluk Allah.” tambahnya dalam sambutan.

Dengan berfokus pada tiga poin tersebut, Gus Miftah dihadirkan untuk memberikan pemahaman mengenai pluralitas kemanusiaan yang terjadi di Indonesia melalui pengalaman-pengalamannya. Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana kondisi nyata aspek kebhinekaan yang terjadi pada situasi sosial kemasyarakatan di Indonesia.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pemupuk nilai-nilai moderasi beragama yang perlu dimiliki oleh para mahasiswa baru sebagai penerus nilai-nilai ajaran Gus Dur. Dengan semangat moderasi beragama yang dimiliki oleh Gus Dur, para mahasiswa diharapkan menerapkan aspek-aspek keadilan, toleransi, dan saling menghargai terhadap sesama sebagai implementasi nyata mereka dalam kehidupan.

Mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Ketika Kemanusiaan Menjadi Mahkota Utama Beragama

Penulis: Salma Failasufa Editor: Dwi Selma Fitriani

Dinding kampus sering kali hanya dipandang sebagai pembatas fisik belaka. Namun, ada pemandangan istimewa di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sebuah mural Gus Dur yang digambarkan dengan senyum khasnya sukses mengajak siapa saja yang melintas untuk sejenak berhenti dan merenung. Karya seni ini bersanding dengan tulisan “Gus Dur for Humanity“. Pesan sederhana ini justru terasa krusial dan makin relevan di tengah dinamika masyarakat kita yang majemuk.

Kehadiran mural tersebut seolah menjadi pengingat bahwa agama bukanlah tembok pemisah antarindividu. Sebaliknya, nilai-nilai spiritualitas semestinya menumbuhkan kepedulian, penghormatan, dan sikap saling menjaga antarsesama. Dalam konteks ini, moderasi beragama menemukan makna esensialnya. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai slogan usang dalam seminar atau ruang kelas, tetapi harus mewujud dalam cara kita berpikir, berdiskusi, dan bersosialisasi dengan orang lain.

Langkah awal penerapan moderasi ini adalah tasamuh (toleransi). Sebagai wadah berkumpulnya kaum intelektual, kampus mempertemukan mahasiswa dengan asal daerah, budaya, pengalaman, dan sudut pandang yang heterogen. Perbedaan pendapat dalam diskusi, organisasi, maupun interaksi sehari-hari adalah keniscayaan. Tantangannya bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya. Kesediaan untuk mendengarkan tanpa meremehkan, berargumen tanpa memaksakan kehendak, serta menerima eksistensi orang lain merupakan wujud nyata toleransi yang bermakna luhur.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Selain itu, laku keberagamaan juga menuntut sikap tawassuth (mengambil jalan tengah atau bersikap proporsional). Identitas keislaman dan keindonesiaan tidak sepantasnya dibenturkan. Keduanya dapat berjalan selaras apabila agama diposisikan sebagai pedoman moral yang mempromosikan kebaikan sosial. Bersikap moderat bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan senantiasa mempertahankan akidah sembari tetap berpikiran terbuka terhadap realitas masyarakat yang plural.

Pesan kemanusiaan dari sosok Bapak Pluralisme tersebut juga menyinggung aspek ‘adl (keadilan). Menghargai manusia berarti mengakui hak dan martabat yang melekat pada setiap individu. Di lingkungan akademik, keadilan ini tecermin dari perlakuan setara tanpa memandang latar belakang, pemberian ruang berekspresi yang sama, serta penghindaran terhadap segala bentuk diskriminasi. Moderasi beragama niscaya kehilangan ruhnya jika toleransi hanya berhenti pada retorika, sementara ketidakadilan masih dibiarkan subur.

Lebih jauh lagi, kemanusiaan akan kerdil tanpa ta’awun (tolong-menolong dan kolaborasi). Beban kehidupan akan terasa berat jika hanya dipikul sendirian. Rasa empati terhadap kawan yang sedang kesulitan, sinergi dalam kegiatan kemahasiswaan, serta inisiatif saling membantu tanpa pandang bulu adalah manifestasi nyata dari semangat ini. Melalui tindakan-tindakan sederhana inilah, solidaritas dan rasa kebersamaan dapat tumbuh kembang.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Pada akhirnya, keberadaan mural Gus Dur seolah menantang para pengamatnya untuk tidak sekadar terkesima oleh keindahan visual sosok yang tergambar. Hal yang jauh lebih penting adalah aktualisasi semangat kemanusiaan tersebut dalam rutinitas harian (qudwah atau keteladanan). Menjalani moderasi beragama menuntut lebih dari sekadar pemahaman teoretis; ia harus termanifestasi dalam tindakan konkret. Adab berkomunikasi, cara menghormati sesama, seni mengelola konflik, dan kerelaan mengulurkan tangan merupakan bentuk keteladanan yang paling relevan saat ini.

Singkatnya, mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukanlah sekadar pajangan yang menghiasi area kampus. Karya tersebut adalah sebuah monumen pengingat agar kita tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaan di tengah situasi yang beragam. Tasamuh, tawassuth, ‘adl, ta’awun, dan qudwah bukanlah sekadar diksi akademis, melainkan prinsip hidup yang wajib diinternalisasi. Pesan “For Humanity” memikul makna fundamental: makin mendalam pemahaman agama seseorang, makin besar pula tanggung jawabnya untuk memuliakan martabat manusia. Pada hakikatnya, kedamaian dalam keberagaman tidak hanya diukur dari seberapa fanatik seseorang memeluk keyakinan, tetapi juga dari seberapa mulia akhlaknya saat bersinggungan dengan orang lain.

Menggagas Nilai Kemanusiaan sebagai Upaya Mencegah Konflik PWI-LS dan FPI di Pemalang

Penulis: Muhammad Jazim Nur, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Beberapa yang lalu, terjadi konflik antara dua organisasi Islam yaitu PWI-LS (Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah) dan FPI (Front Pembela Islam). Konflik ini terjadi pada tanggal 23 Juli 2025 di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Pemalang. Peristiwa ini berlangsung ketika pengajian yang dihadiri oleh Habib Rizieq Shihab sebagai pembicara.

Sekitar pukul sebelas malam, keributan mulai membuncah di area sekitar acara hingga menimbulkan kekerasan fisik. Akibatnya, belasan orang mengalami luka-luka, termasuk pihak kepolisian yang mencoba melerai kegaduhan. Konflik ini terjadi bukan tanpa sebab, tetapi ada beberapa hal yang memicu konflik yaitu ketegangan lama antara dua organisai tersebut.

Adanya penolakan dari pihak PWI-LS terhadap Habib Rizieq, dan timbulnya perbedaan pandangan terkait ideologi dan keagamaan antara dua organisasi tersebut. Faktor lain juga datang dari kesalahpahaman di lapangan dan komunikasi yang kurang terbuka dari pihak panitia. Hal itu membuat beberapa orang tersulut amarah yang kemudian memicu konflik yang lebih besar. Peristiwa tersebut sedikit melenceng dari krakteristik bangsa Indonesia di mana penduduknya bersifat majemuk (plural).

Baca juga: Mayoritarianisme: Akar Konflik Klasik Pendirian Rumah Ibadah di Indonesia

Bangsa yang di dalamnya memiliki bermacam pandangan dan cara beragama yang beragam, bagaimana bisa dengan adanya perbedaan itu justru sering berujung pada kebencian, padahal hal yang paling dasar dalam beragama adalah kasih sayang. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian terhadap sesama manusia. Maka dari itu, refleksi setiap pribadi sangat diperlukan, merenungi bahwa masih adakah rasa kemanusiaan di hati ketika kita terlalu sibuk untuk membela kelompok sendiri.

Nilai kemanusiaan bukan hanya tentang kita menolong orang lain, tetapi nilai kemanusiaan adalah bagaimana pandangan kita terhadap manusia itu sendiri. Jika kita masi memandang orang dari kelompok, pakaian, atau ideologinya, maka kita belum sepenuhnya manusiawi. Satu hal yang dikhawatirkan jika konflik ini semakin panjang tanpa adanya penyelesaian adalah hilangnya kemampuan untuk berempati kepada orang lain.

Sikap terbiasa membela orang dari pihak tertentu inilah yang menumbuhkan berbagai pembenaran agar tidak mendengarkan alasan pihak lain, padahal nilai kemanusiaan sendiri menuntut sesorang untuk memahami, bukan membenci. Banyak orang yang berbicara tentang kemanusiaan tanpa benar-benar mempraktikkannya. Ketika ada perbedaan pandangan maka mudah saja seseorang tersulut amarah, dan saat sebuah kelompok merasa paling benar maka disitulah lunturnya nilai kemanusiaaan.

Baca juga: Literasi Damai Generasi Alpha: Memutus Rantai Kekerasan Sejak Dini

Mencegah sebuah konflik bukan hanya peran dari aparat keamanan tetapi ini merupakan tanggung jawab semua orang sebagai bangsa yang beradab, jangan sampai membela kebenaran yang tidak pasti sehingga berbalik menodai nilai kemanusiaan itu sendiri. Sejatinya kebenaran tidak tumbuh di atas luka orang lain.

Sebagai bangsa yang mempunyai ragam perbedaan, seharusnya kita belajar dari setiap konflik yang terjadi di Indonesia. Konflik di Pemalang merupakan salah satu contoh kecil dari persoalan yang terjadi karena mengedepankan ego dan kurangnya komunikasi kedua belah pihak. Jika tidak mengatasi dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka berbagai konflik serupa akan terulang kembali.

Maka dari itu, perlunya membangun sikap mengalah dan menurunkan ego, sekaligus mengedepankan rasa empati sebagai upaya pencegahan akan adanya konflik yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi penting dalam setiap tindakan agar tidak ada kelompok yang merasa lebih tinggi daripada yang lainnya.

Baca juga: Memetik Pelajaran dari Konflik Pulau Rempang

Kemanusiaan menempatkan setiap orang pada posisi yang sama karena ia berhak didengar pendapatnya dan diperlakukan secara adil. Jika prinsip ini dijalankan, konflik dapat diredam bahkan sebelum membara. Kita juga perlu mengingat bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun, ia hanya akan menimbulkan kebencian baru.

Pentingnya nilai kemanusiaan adalah mengajarkan kita untuk saling memahami. Memahami lawan bukan berarti kalah, melainkan memilih jalan yang lebih bijak. Karena yang kita lawan adalah ego dan prasangka buruk, kita harus menghadapinya dengan cara menurunkan ego dan menyatukan pendapat. Masyarakat Pemalang dan seluruh Indonesia dapat belajar menyalurkan perbedaan pendapat tersebut dengan cara yang lebih beradab.

Menafsirkan Pidato Presiden di PBB pada September 2025 dalam Internalisasi Nilai Moderasi Beragama

Penulis: Muhammad Syauqi, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sukses menyampaikan orasi menggugah bangkitnya gairah kesadaran bangsa-bangsa lain di hadapan Majelis Umum PBB pada hari Selasa, 23 September 2025 di New York, Amerika Serikat, tentang kemanusiaan, kerja sama, dan posisi Indonesia di kancah internasional.

Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya nilai kebersamaan sosial terlepas dari kemajemukan ras, agama, etnis, budaya dan kebangsaan. Sejarah Indonesia ketika melawan kolonialisme, penderitaan akibat penindasan, dan persatuan yang membuat bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya, digunakan untuk menyusun pesan himbauan di dalam sidang ini. Pesan tersebut diharapkan mampu memberikan bukti manakala warisan bangsa periode lalu dapat menjadi landasan budi pekerti untuk memperjuangkan keamanan skala global.

Baca juga: Menjaga Nadi Ibu Pertiwi: Membumikan Praktik Toleransi Demi Keutuhan Bangsa

Beberapa cara untuk memaknai pesan ajakan tersebut yaitu mewujudkan pendekatan negosiasi moral, yakni mengkritisi kefanatikan, kekerasan, dan diskriminasi. Masing-masing warga berwenang untuk eksistensi dalam keadilan, kebebasan, dan kemartabatan karena semua manusia yang Allah Swt. ciptakan sejatinya adalah sama. Hal ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah pilihan, dan tidak ada negara, termasuk Israel, yang berhak mengklaim sebagai bangsa pilihan. Hal ini sejalur dengan gagasan moderasi beragama yang berupaya menjaga keseimbangan dalam mengakui perbedaan tanpa merendahkan atau meremehkan lainnya.

Dalam pernyataan ini, norma moderasi tidak hanya mencakup hubungan keagamaan tetapi juga interaksi manusia secara umum. Berdasarkan kitab Musnad al-Imam Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih al-Handhali (wafat 181 H) cetakan pertama Maktabah al-Ma’arif, Riyadh tahun 1407 H. Halaman 146, dahulu Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ…إِلَّا بِتَقْوَى اللَّهِ

“Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab di atas non-Arab, tidak pula orang non-Arab di atas orang Arab … kecuali dengan sebab ketakwaan kepada Allah”.

Kesulitan Palestina yang sebagian besar masih diabaikan di forum internasional, juga diangkat dalam pidato ini. Posisi moderat tidak memihak secara sembrono, melainkan menekankan solusi bilateral yang menghormati hak-hak warga Israel dan Palestina. Hal ini tercermin dalam seruan Indonesia di PBB untuk kesetaraan dan legitimasi bagi Palestina. Sudut pandang yang konsisten dengan moderasi teologis, menentang radikalisme dan menekankan perdamaian, rekonsiliasi, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia masing-masing wilayah. Akibatnya, diplomasi Indonesia menggambarkan agama sebagai sesuatu yang baik, alih-alih sebagai sumber konflik.

Baca juga: Moderasi Beragama yang Tidak Egois (Sentrisme Alam)

Dari pernyataan di atas, contoh semangat moderasi yang diwujudkan dalam tindakan nyata adalah partisipasi penduduk Indonesia dalam misi menjaga perdamaian PBB, di mana Indonesia bersedia mengirimkan hingga 20.000 pasukan. Melampaui wacana moral, moderasi beragama menuntut tindakan bersama untuk melestarikan kehidupan manusia. Dalam konteks ini, Indonesia menunjukkan bahwa negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini secara aktif mempromosikan stabilitas internasional, alih-alih hanya sekadar omong kosong. Fenomena ini semakin memperkuat reputasi syariat agama Islam sebagai keyakinan spiritual yang welas asih terhadap semua makhluk hidup.

Ajakan tersebut adakalanya membahas topik-topik yang cukup relevan, khususnya interaksi antarumat beragama terkait ketahanan pangan, perubahan iklim, dan energi terbarukan. Dalam situasi ini, moderasi beragama kerap dipahami sebagai wujud kepedulian atas planet ini, yang merupakan rumah kita bersama. Etika moderasi yang menghargai keadilan antargenerasi ditunjukkan dalam dedikasi Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih, reboisasi jutaan hektar lahan, dan membangun swasembada pangan. Dunia seharusnya sehat untuk generasi esok, bukan untuk dirusak oleh keserakahan manusia.

Imbauan presiden secara ekstensif meliputi penolakan tanggapan bahwa “yang kuat berbuat sesuka hatinya, yang lemah bertahan apa adanya”. Konsep keadilan dan moderasi jelas bertentangan dengan pandangan tidak bermoral tersebut. Ketika Prabowo Subianto mengenang era kolonial yang keras dan pernah dialami tanah air Indonesia. Pribumi Indonesia memahami apa artinya diabaikan oleh kesamarataan hidup di bawah apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan tidak mendapatkan kesempatan yang serupa. Seruan ini menunjukkan upaya Indonesia mengarahkan kebijakan internasional menjauh dari perebutan kekuasaan dan menuju arah yang lebih bermoral.

Imbauan supaya mencegah kekerasan dan ketidakpercayaan serta prasangka merupakan amanat yang krusial. Jika menghadapi perbedaan pendapat, moderasi beragama menanamkan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan pengendalian diri. Adanya ajakan setiap individu untuk memilih jalan keadilan, kemanusiaan, dan kedamaian, pidato ini mengekspresikan cita-cita komprehensif. Ajaran religiositas yang sangat menekankan toleransi, kasih sayang, dan rasa hormat terhadap sesama itu sejalan dengan hal tersebut.

Baca juga: Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Pidato yang dibawakan Prabowo Subianto juga merupakan deklarasi politik sekaligus analisis etis yang berkaitan dengan toleransi beragama yang menerima seluruh keyakinan baik Arab, Yahudi, Islam, Kristen, Hindu, ataupun Buddha. Segala kepercayaan layak tumbuh berdampingan selaku satu keluarga insan yang setara.

Pidato tersebut bertujuan untuk menyuarakan agar rakyat sanggup menciptakan kerangka perangai yang kokoh dengan mengaitkan isu-isu inklusif Indonesia di masa lalu, masa kini, dan masa depan, beserta prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Dalam perspektif ini, moderasi beragama merupakan strategi realistis demi merawat kerukunan mondial yang merupakan kata kunci. Dengan demikian, kontingen Indonesia muncul layaknya suatu cermin antarbangsa yang telah menjadikan nilai-nilai moderasi beragama sebagai pedoman diplomasi global yang memelihara kontribusi signifikan bagi peradaban nusa dan bangsa.

Paus Fransiskus, Sang Pejuang Kemanusiaan itu Telah Wafat

Oleh: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam NH

Pekalongan – Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sekaligus Kepala Negara Vatikan wafat pada Senin, 21 April 2025 dalam usia 88 tahun. Ia meninggal dunia di kediamannya, Casa Santa Marta, Vatikan.

Kabar duka diumumkan langsung oleh Kardinal Kevin Farrell selaku camerlengo Vatikan.

“Saudara-saudari terkasih, dengan dukacita yang mendalam saya harus mengumumkan wafatnya Bapa Suci kita, Fransiskus. Pada pukul 7.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Ia mengajarkan kita untuk menghayati nilai-nilai Injil dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal, khususnya demi mereka yang paling miskin dan paling terpinggirkan. Dengan rasa syukur yang tak terhingga atas teladannya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kami serahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih yang tak terbatas dan penuh belas kasihan dari Allah Tritunggal Mahakudus.” ujar Farrel, dilansir dari Vatikan News.

Paus Fransiskus dikenal sebagai orang yang tak pernah lelah dalam membela kemanusiaan. Menurut Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, dalam tulisannya di Harian Kompas (1/092024), Paus Fransiskus sangat gencar menyuarakan berbagai hal yang dia pandang penting untuk membangun peradaban yang lebih baik, dengan keberpihakan yang kuat kepada kelompok lemah dan terpinggirkan.

Pada khotbah Natal (25/12/2024) waktu setempat, Paus Fransiskus pernah menyerukan agar “senjata harus diredam” di seluruh dunia, dan ia pun mendoakan untuk kedamaian yang ada di Timur Tengah, Ukraina, dan Sudan.

Baca juga: Haul Gusdur ke-15, Gusdurian Pekalongan Usung Tema Agama untuk kemanusiaan dan Krisis Iklim

“Saya memikirkan komunitas Kristen di Israel dan Palestina, khususnya di Gaza, di mana situasi kemanusiaannya sangat buruk,” ucap Paus Fransiskus di hadapan ribuan jemaat yang berkumpul di depan Basilika Santo Petrus untuk mendengarkan khotbah “Urbi et Orbi” yang ditujukan untuk Vatikan dan dunia.

“Semoga ada gencatan senjata, semoga para sandera dibebaskan dan bantuan diberikan kepada orang-orang yang kelelahan karena kelaparan dan karena perang,” cetusnya.

Selain itu, sebelum meninggal, ketika kondisinya baru saja membaik, ia pun menyerukan untuk genjatan senjata di Gaza. Pesan itu disampaikan Paus Fransiskus saat muncul di hadapan publik pada perayaan Paskah di balkon utama Basilika Santo Petrus.

Dalam pesan Paskah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa situasi di Gaza “dramatis dan menyedihkan”.

“Saya menyatakan kedekatan saya dengan penderitaan .. seluruh rakyat Israel dan rakyat Palestina,” kata pesan itu.

“Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai: menyerukan gencatan senjata, membebaskan para sandera dan membantu orang-orang yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai,” katanya (20/4/2025).

*dilansir dari berbagai sumber

Haul Gusdur ke-15, Gusdurian Pekalongan Usung Tema Agama untuk kemanusiaan dan Krisis Iklim

Pewarta: Ika Amiliya Nur Hidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan, menggandeng para pegiat lingkungan, Komunitas GUSDURian Pekalongan mengadakan Haul Gus Dur ke-15 dengan tema “Agama untuk Kemanusiaan dan Krisis Iklim” di Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah pada Minggu, (26/01).

Acara ini dihadiri oleh berbagai pegiat lingkungan dari komunitas-komunitas di Pekalongan, termasuk Pimpinan Daerah Angkatan Muda Rifa’iyah Pekalongan, Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Pekalongan, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Pekalongan, Gerakan Peduli Anak Difabel (GPAD) Pekalongan, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Gus Dur Pekalongan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS NU Pekalongan, dan TPQ Assakinah Teman Tuli Kota Pekalongan.

Turut hadir juga tokoh agama Islam Gus Mahmud Mansur, budayawan Kota Pekalongan Ribut Achwandi, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pekalongan Nok Kholifah, perwakilan dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kota Pekalongan Faisal Latif, dan perwakilan dari Kolaborasi Aksi Gerakan Muda (Kobar) Pekalongan Bayu.

Baca juga: Sustainable Living: Tak Hanya Sebatas Tren

Acara dibuka dengan sambutan dari Fajri Muarrikh sebagai penggerak GUSDURian Pekalongan yang menyatakan tema kali ini muncul dari kekhawatiran masyarakat terhadap bencana yang belakangan ini melanda.

“Tema ini diangkat oleh jaringan GUSDURian pusat karena kekhawatiran bersama dan juga pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga alam, mengingat banyaknya bencana alam yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.

Pada acara inti, tiga narasumber membahas berbagai isu terkait krisis iklim. Menurut Kholifah, krisis iklim disebabkan oleh beberapa faktor seperti pemanasan global, penumpukan sampah, emisi gas, dan pengelolaan sumber air tanah yang tidak bijak.

Narasumber Faisal menambahkan bahwa warga Kota Pekalongan perlu waspada setelah banjir bandang dan longsor melanda dataran tinggi Kabupaten Pekalongan, yang disebutnya sebagai Pekalongan lantai 2.

Baca juga: Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Perwakilan peserta, Fajar, turut menghidupkan diskusi dengan berbagi pengalamannya dalam mengelola maggot sebagai solusi cepat mengurai sampah organik dan bernilai jual sebagai pakan ternak.

Fajri berharap diskusi ini dapat meningkatkan kesadaran dan komitmen masyarakat untuk menjaga lingkungan.

“Harapan dari acara haul ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta komitmen bersama dan aksi nyata untuk merawat lingkungan, khususnya di Pekalongan.”