Menghargai dan Memperbarui: Kontribusi Islam dalam Pelestarian Budaya Lokal

Penulis : Chikal Sasmita Sari, Editor : Choerul Bariyah

Islam dan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana islam berkembang karena menghargai budaya lokal, begitu pula budaya lokal tetap eksis karena mengalami perbaruan dengan ajaran islam. Hubungan islam dalam budaya Islam dan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana Islam berkembang karena menghargai budaya lokal, begitu pula budaya lokal tetap eksis karena mengalami perbauran dengan ajaran Islam.

Kegiatan adab istiadat di desa lingo asri memiliki tradisi seperti saling membantu dalam perayaan hari raya nyepi, Melasti, dan bagi umat yang muslim melakukan hari raya 10 muharram, dan ketika ada yang hajatan atau nikahan warga masyarakat lingo asri ikut membantu nya. Apa kaitannya islam dengan budaya? Agama Islam turun bersentuhan dengan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama.

Budaya lokal sendiri memiliki arti  nilai-nilai lokal hasil budidaya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Budaya lokal dapat berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat. Contoh Budaya-budaya yang ada di Indonesia;

  1. Upacara Adat.
  2. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Debus.
  3. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Karapan Sapi.
  4. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Merarik.
  5. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Makepung.
  6. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Melasti

contoh kebudayaan Islam Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu kalian ketahui;

  1. Tradisi Halal Bihalal.
  2. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
  3. Tradisi Grebeg di Jawa.
  4. Tradisi Grebeg Besar di Demak.
  5. Sesaji Rewanda di Semarang.
  6. Njimbungan di Klaten.
  7. Grebeg Syawal Yogyakarta

Harmoni Islam dalam Kehidupan Sebelum Islam masuk di Nusantara, sudah terdapat kepercayaan atau agama masyarakat setempat. Agama yang dianut masyarakat Nusantara sebelum Islam adalah Hindu-Budha. Selain itu ada juga, Animisme dan Dinamisme. Berbaurnya kepercayaan Budha dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, karena watak dan karakter kepercayaan tersebut mempunyai banyak kesamaan. Salah satu contoh sederhana adalah tentang mitos. Adanya kepercayaan tentang roh, baik roh baik maupun roh jahat. Lalu ada kepercayaan pada banyak dewa yang mempunyai kekuasaan dan tugas masing-masing.

Selain itu, juga sudah ada budaya lokal masyarakat yang sudah terkondisikan dengan baik seiring perkembangan zaman. Budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat sudah tertanam dengan kuat dalam kehidupan sehari- hari. Toleransi antar umat beragama dapat kita maknai sebagai salah satu sikap kita untuk saling dapat bersama-sama dalam masyarakat yang menganut agama lain, untuk bisa saling menghargai, menghormati serta memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) tanpa adanya paksaan. Sikap toleransi antar umat beragama bisa kita mulai dari hidup bertetangga baik tetangga yang seiman dengan kita atau pun yang tidak seiman dengan kita. Sikap toleransi tersebut tentunya dengan cara menghargai, menolong, serta menghormati.

Bisa kita lihat contoh sikap toleransi, menghargai, dan menghormati perayaan hari besar keagamaan umat agama lain. Sebagai umat beragama kita harus menghormati perayaan hari besar agama lain secara proporsional dan tetap tidak boleh. Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu diketahui:

  1. Tradisi Halal Bihalal.
  2. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)
  3. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
  4. Tradisi Grebeg di Jawa.
  5. Tradisi Grebeg Besar di Demak.
  6. Sesaji Rewanda di Semarang.
  7. Njimbungan di Klaten.
  8. Grebeg Syawal Yogyakarta

Harmoni Islam dalam Kehidupan  ini dapat di lihat dari Sebelum Islam masuk di Nusantara, sudah terdapat kepercayaan atau agama masyarakat setempat. Agama yang dianut masyarakat Nusantara sebelum Islam adalah Hindu-Budha. Selain itu ada juga, Animisme dan Dinamisme. Berbaurnya kepercayaan Budha dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, karena watak dan karakter kepercayaan tersebut mempunyai banyak kesamaan.

Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Penulis : Ahmad Izzadin, Editor : Windi Tia Utami

Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab. Islam dilahirkan dalam keadaan asing dimana pada saat itu masyarakat arab pada umumnya menganut ajaran paganisme yang menyembah kepada patung-patung (berhala). Pada awal kemunculannya, agama Islam melahirkan sebuah perbedaan pandangan pada masyarakat arab pada masa itu, karena ajaran dari agama Islam yang melarang melakukan penyembahan kepada berhala, melainkan mengajarkan untuk menyembah kepada Allah SWT. Begitupun pada awal kemunculannya di Jawa, masyarakat yang pada mulanya mayoritas beragama hindu-buddha yang melakukan ritual peribadatannya melalui patung-patung, lalu mereka diajarkan untuk menyembah Allah SWT yang secara kasat mata tidak terlihat dan wujud-Nya pun tidak diketahui.

Lambat laun ketika Islam sudah mulai menyebar luas di Jawa, dari situ terlihat sebuah keunikan dari Islam di Jawa. Walaupun sudah banyak penduduk yang menjadi muslim, namun mayoritas mereka masih terpaku pada tradisi-tradisi yang sudah ada turun temurun sejak ketika mereka sebelum menjadi seorang muslim. Biarpun begitu namun yang menjadikan unik adalah mampu berpadunya antara tradisi-tradisi tersebut dengan konsep-konsep ajaran agama Islam itu sendiri. 

Seperti yang diketahui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, ras, suku, bahasa, dan kebudayaan yang beraneka ragam. Di setiap keanekaragaman budaya tersebut terdapat ciri khasnya masing-masing. Banyak sekali aspek-aspek keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia, baik itu dari alat musik, nyanyian, ataupun tarian daerah. Selain itu, juga terdapat berbagai tata cara atau upacara-upacara yang beragam coraknya dari masing-masing daerah. Diantaranya ada Jamasan yaitu mencuci pusaka-pusaka seperti keris yang ada di Keraton Yogyakarta, ada juga Kirab Kebo Bule di Keraton Kasunanan Surakarta yang rutenya dimulai dari Keraton Solo, menuju Jalan Pakubuwono-Bundaran Gladag seterusnya dan berakhir dengan kembali lagi ke keraton. Semua contoh upacara-upacara kebudayaan tadi merupakan bentuk dari peringatan dalam semarak syiar bulan Muharram atau Suro dalam istilah jawanya.

Bulan Suro diambil dari bahasa arab Asyura’ yang berarti sepuluh, yang kemudian lebih familiar dengan sebutan Suro. Masing-masing daerah beragam caranya dalam memperingati datangnya bulan Suro, selain Jamasan dan juga Kirab Kebo Bule, masih banyak yang sering dijumpai di masyarakat. Selain itu juga pada pelaksanaannya juga beragam, ada yang melakukan peringatan pada tanggal 1 Suro yaitu memperingati Tahun Baru Islam, ada juga yang memperingati pada tanggal 10 Suro dalam rangka mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad yaitu Sayyidina Husain. Dalam tata caranya ada yang melakukan dengan syukuran seperti pada umumnya yaitu dengan pembacaan manakib, tahlilan, atau ritual yang lainnya. Selain itu, ada juga yang melaksanakan santunan kepada anak yatim, dan ada juga yang menyemarakkan tahun baru Islam dengan mengadakan pawai obor keliling desa.

Berkaitan dengan pelaksanaan acara beserta dengan dasar dan tujuan diadakan acara pawai oboor dan Muharram tersebut pada daerah Kuripan Kidul dilaksanakan pada malam tanggal 1 Muharram yang didasari dalam rangka untuk memperingati semarak tahun baru Islam. Dan acara tersebut diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Kuripan Kidul juga dibantu partisipasi dari seluruh elemen masyarakat baik dari support dan antusias masyarakat, sumber pendanaan, dan juga partisipasi acara yaitu mengikuti rangkaian pawai. Selain itu, acara tersebut juga didukung dan dibantu oleh pihak pemerintahan seperti Kelurahan Kuripan Kertoharjo dan Kecamatan Pekalongan Selatan. Selain itu juga, untuk mengamankan jalannya acara, dari pihak Kapolsek Pekalongan Selatan dan Koramil Pekalongan Selatan, ikut serta membantu dan mendukung agar acara dapat berjalan lancar.

Semarak peringatan tahun baru Islam dari warga Kuripan Kidul pada setiap tahunnya selalu ditandai dengan peringatan pawai obor yang dimulai setelah dilaksanakan sholat Isya’. Peserta pawai tersebut adalah anggota dari Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Kuripan Kidul yang menjadi pemegang banner acara pawai dan juga bendera yang dibantu oleh beberapa anggota dari Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Kertoharjo. Lalu dilanjut dengan beberapa anggota dari Pimpinan Ranting Fatayat Kuripan Kidul, murid-murid dari TPQ dan Madin Darul Ulum Kuripan Kidul sebagai pemegang obor dan murid-murid dari MIS Kuripan Kidul, SD Negeri 01 Kuripan Kidul, SD Muhammadiyah Kuripan Kidul yang juga menjadi pemegang obor. Tak berhenti sampai disitu, juga terdapat partisipasi dari warga yaitu sebagian besar dari masyarkat Kuripan Kidul dari gang 01 sampai gang 26. Selain itu, rangkaian ini dimeriahkan juga oleh grup Marching Band Nusantara dari Batang.

Untuk acaranya sendiri dimulai dari depan area Masjid Darul Hikmah Kuripan Kidul setelah diberikan sepatah-duapatah kata oleh Ustadz Zen Faza selaku Ketua Tanfidziyah Pimpinan Ranting Kuripan Kidul sekaligus Ketua Ta’mir Masjid Darul Hikmah, beliau memberikan apresiasi pada acara tersebut, menurut beliau; “Acara ini baik karena dapat menjadi ajang berkumpulnya masyarakat Kuripan Kidul dalam kebersamaan dan kerukunan serta dalam rangka ikut memeriahkan peringatan tahun baru Islam. Harapannya semoga acara seperti ini dapat berjalan konsisten dan tetap kondusif serta dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat Kuripan Kidul”. Setelah itu, para peserta memulai rangkaian perjalanan yang diawali dengan berjalan ke utara ke perbatasan antara daerah Kuripan Kidul dengan daerah Kuripan Lor setelah berbalik arah dan berjalan ke selatan ke perbatasan Kuripan Kidul dan Desa Gapuro, lalu berjalan kembali ke area Masjid Darul Hikmah. Ketika seluruh peserta pawai yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat dan banom NU Kuripan Kidul sampai di area finish maka rangkaian acara tersebut ditutup dengan penampilan dari salah satu grup Marching Band yang ikut dalam semarak peringatan Muharram tersebut. Penampilan tersebut dilakukan di halaman Masjid Darul Hikmah, Kuripan Kidul.

Pada daerah Kertoharjo pelaksanaan pawai obor dilaksanakan pada malamm tanggal 10 Muharrom, yaitu untuk memperingati hari duka wafatnya cucu Nabi Muhammad yaitu Sayyidina Husain yang ditandai dengan diadakannya santunan anak yatim di Masjid Al-Mujahidin setelah rangkaian perjalanan pawai obor selesai dilaksanakan. Acara tersebut diprakarsai oleh Pengurus Masjid Al-Mujahidin yang berkolaborasi dengan pengurus banom (Badan Otonom) NU Kertoharjo. Rangkaian acara tersebut juga diawali sesudah waktu Sholat Isya’ dengan berjalannya para peserta pawai obor mengelilingi daerah Kertoharjo yang juga start dari area masjid dan finish di area Masjid Al-Mujahidin pula. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara hiburan untuk para anak yatim yang mendapatkan santunan dan diakhiri dengan pelaksanaan santunan anak yatim di Masjid Al-Mujahidin dan juga do’a penutup.  

Implementasi dari perpaduan antara Islam dan budaya lokal dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, diantaranya di Keraton Yogyakarta dan juga Keraton Kasunanan Surakarta dengan pelaksanaan menurut tradisi dari masing-masing leluhur keraton tersebut. Dimana kesemua pelaksanaan tersebut dilakukan pada bulan Muharram yang merupakan bulan mulia dalam Islam. Selain di lingkup keraton, terdapat pawai obor yang merupakan bentuk tradisi yang sudah sejak lama berjalan di berbagai daerah termasuk juga di Kelurahan Kuripan Kertoharjo yang juga dilaksanakan dalam memperingati datangnya bulan Muharram yang notabene adalah bulan suci dalam kalender Islam. Walaupun terdapat perbedaan waktu pelaksanaan dalam satu kelurahan tersebut, namun tujuannya sama yaitu dalam rangka memperingati semarak bulan Muharram. Di daerah Kuripan Kidul pawai obor dilaksanakan pada malam tanggal 1 Muharram dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Islam, sedangkan di daerah Kertoharjo dilaksanakan pada malam tanggal 10 Muharram dalam rangka memperingati hari duka wafatnya Sayyidina Husain yang ditandai dengan dilaksanakan santuna anak yatim setelah selesai pelaksanaan pawai obor.

Harmoni Agama dan Kebudayaan: Kisah Inspiratif dari Desa Linggo Asri

Penulis : Shilfa Amelia, Editor : Choerul Bariyah

Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai keberagaman, seperti halnya keberagaman agama dan budaya. Ada 6 agama yang ada di indonesia yaitu islam, kristen, katolik, hindu, buddha, dan konghucu. Dalam hal ini dibutuhkannya sikap toleransi antar umat beragama. Sikap toleransi antar agama adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan agama yang ada disekitar, dengan adanya sikap toleransi maka akan meminimalisir terjadinya konflik antar umat beragama dan kehidupan antar umat beragama pun akan terjalin dengan rukun dan damai. Indonesia sangat menjunjung tinggi sikap toleransi dan memberikan kebebasan kepada warganya untuk menjalankan keyakinannya. Selain agama ada juga budaya yang menjadi keanekaragaman bangsa Indonesia. Banyak sekali kebudayaan yang ada diindonesia,setiap daerah pasti mempunyai kebudayaan tersendiri. Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus harus menjaga dan melestarikannya agar kebudayaan yang ada tidak menjadi hilang dan punah.

Desa Linggo Asri Kabupaten Pekalongan menjadi contoh dari toleransi antar umat beragama dan dijuluki sebagai kampung moderasi beragama. Moderasi Beragama adalah sikap tengah, tidak ekstrem,  dan tidak berlebihan dalam menjalankan agamanya. Moderasi juga berarti “sesuatu yang terbaik“, atau sesuatu yang ada ditengah biasanya berada di antara dua hal yang buruk. Orang yang mempraktekkannya disebut moderat. Sebelum Linggoasri dinamakan sebagai kampung Moderasi Beragama, desa Linggoasri ini lebih dulu menerapkan sikap toleransi dengan agama lain Di Desa Linggoasri terdapat 4 agama yaitu Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen. Semua orang disana hidup secara berdampingan dengan umat agama lain tetapi mereka saling menerima perbedaan satu sama lain dan  tidak ada konflik diantaranya. Sri yanti selaku anggota aktif sanggar seni mengatakan bahwa sikap toleransi antar umat beragama sudah ada sejak beliau masih kecil. Anak kecil di Linggoasri pun sudah mempraktekan sikap saling menghormati perbedaan padahal umur mereka masih sangat dini tetapi mereka sudah saling mengingatkan satu sama lain karena mereka sudah biasa hidup dengan segala perbedaan, dan mereka akan  melakukannya sendiri tanpa harus disuruh. Ia juga mengatakan bahwa sanggar seni tidak hanya untuk umat hindu tetapi semua warga seperti muslim pun juga bisa mengikuti pelatihan seni. Sanggar seni ini dijadikan sebagai pelatihan seni seperti tarian-tarian yang biasanya ditampilkan pada upacara keagamaan dan diacara-acara seperti agustusan, pagelaran dan acara desa lainnya, bahkan sudah mengikuti acara perlombaan lingkup agama disemarang.

Warga desa Linggoasri sudah biasa hidup berdampingan dengan segala perbedaan tetapi mereka tetap hidup rukun dan tidak saling menjelekan umat agama lain, mereka saling hidup tolong menolong bahkan jika umat hindu sedang melakukan kebudayaan mereka, maka umat muslim juga membantunya seperti ikut membantu membawa ogoh-ogoh, dan begitu pun sebaliknya jika umat muslim sedang ada acara seperti maulid nabi maka umat hindu juga ikut mebantu menghadiri pengajian dan para pemuda hindu juga membantu mengatur lalu lintas,dan masih banyak lagi. Selain itu mereka saling menghormati dan memberikan kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing, sehingga tidak ada konflik antar agama di Linggoasri.

Dialog Kebudayaan: Hidup Harmonis dengan Budaya Warga Desa Rowolaku

Penulis : Amma Chorida Adila, Editor : Kharisma Shafrani

Keanekaragaman budaya nusantara memberi sebuah identitas kekayaan bangsa Indonesia. Berbicara mengenai budaya, dalam benak masyarakat pasti teringat akan warisan para leluhur. Warisan ini dianggap memiliki nilai kehormatan untuk dijaga serta dilestarikan dari generasi ke generasi berikutnya. Meskipun terkadang dianggap sebagai hal kuno, nilai dan filosofi budaya mampu melindungi masyarakat dari perpecahan sosial. Budaya memiliki peran yang sangat penting di tengah masyarakat heterogen, baik mereka yang pribumi maupun pendatang.

Seorang pakar antropologi, Parsudi Suparlan menuturkan budaya merupakan semua pengetahuan manusia yang dimanfaatkan untuk mengetahui dan memahami pengalaman serta lingkungan yang dialaminya. Pemikiran ini didukung oleh Koentjaraningrat yang mendefinisikan kebudayaan sebagai seluruh gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar. Dialog kebudayaan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya di masyarakat setempat, salah satunya di Desa Rowolaku.

Desa Rowolaku teletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Desa ini mempunyai keunikan budaya yang mengandung akulturasi nilai Islam. Keunikan itulah yang kemudian membuka dialog kebudayaan antara mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disebut UIN Gusdur, dengan beberapa tokoh masyarakat Desa Rowolaku. Dialog yang dilakukan sangatlah sederhana, berupa interaksi yang dilandasi rasa ingin tahu untuk terciptanya aspirasi positif bagi generasi penerus Desa Rowolaku. Secara geografis, kampus UIN Gus Dur masih termasuk lingkungan Desa Rowolaku. Menurut informasi dari ustadz Bukhoiri, salah satu pemuka agama Desa Rowolaku mengatakan bahwa dahulu desa tersebut masih kental dengan kejawen (budaya Jawa), salah satunya budaya tarian sintren. Sewaktu beliau kecil, masyarakat desa ini sering menggelar tarian sintren. Tari sintren yaitu tarian semacam ritual untuk memanggil roh atau dewa. Tarian ini diiringan dengan gamelan, kemudian penarinya dimasukkan ke dalam kurungan dan tiba-tiba menjadi cantik.

Seiring berkembangnya zaman, banyak masyarakat yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren, hal ini menjadikan perubahan di Desa Rowolaku. Tersebar dakwah dan kegiatan majelis baik di masjid maupun mushola. Tarian sintren lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat. Namun sampai saat ini masih ada beberapa warga yang pernah menjadi pemerannya. Tidak menutup kemungkinan warga bisa menikmati pagelaran hiburan Jawa, tarian sintren kemudian teralihkan oleh budaya pewayangan. Biasanya budaya pewayangan dilaksanakan pada bulan legeno atau bulan setelah syawal. Pandangan ustadz Bukhoiri mengenai masyakat Desa Rowolaku, tidak semua orang itu dapat menerima ajaran Islam dengan mudah. Sehingga untuk menyeimbangkan budaya desa, maka terjadi pergantian pagelaran hiburan. Tahun pertama mengadakan pagelaran wayang, tahun kedua mengadakan pengajian umum, begitu seterusnya. Semua acara diagendakan oleh pihak desa dan selalu bertempat di halaman balai desa. Hal ini bertujuan agar seluruh masyarakat dapat merasakan hiburan serta kajian.

Selanjutnya, topik pembahasan dialog kebudayaan mengarah pada budaya Jawa yang masih tetap dipertahankan di Desa Rowolaku. Adapun budaya tersebut yakni tradisi nyadran. Nyadran merupakan tradisi doa bersama di makam leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Pelaksanaan tradisi nyadran yaitu menjelang bulan Ramadhan yang bertempat di pemakaman umum Desa Rowolaku. Nyadran diawali dengan warga membawa jajan kemudian dibagikan dan membawa uang untuk juru kunci makam. Kemudian lambat laun para tokoh agama mengajari warga membaca tahlil dan berdoa, agar memperoleh keberkahan dari Allah. Kurang lebih tiga tahun kebelakang warga sepakat tradisi nyadran selain pembacaan tahlil dikonsep hampir seperti sedekah bumi. Jadi warga secara merata dibagi ada yang membawa jajan, nasi berkat dan tumpeng untuk dibagikan kembali kepada warga, sedangkan warga yang membawa uang di masukan ke dalam kotak amal untuk sedekah perbaikan makam. Dari sini, warga Desa Rowolaku saling bergotong royong mempererat tali persaudaraan.

Saat ini warga Desa Rowolaku sudah menyadari bahwa ajaran Islam itu agama yang Rahmatan lil’alamin. Sehingga banyak budaya bernuansa religi yang diciptakan seperti rutinan rebana, rutinan yasin, tahlil, dan manaqib. Dijelaskan oleh Ismail Dimiyanti, mantan Kepala Desa Rowolaku, bahwa selama bulan Ramadhan ada ngaji posonan atau kajian setelah subuh, dilanjutkan dengan tadarus setiap masjid dan mushola. Tidak ketinggalan juga takbir keliling setiap malam Idul Fitri, semua warga berantusias meramaikan perayaan malam Idul Fitri dengan mengikuti karnaval mengelilingi desa.

Selain bergandengan dengan budaya, warga Desa Rowolaku juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya adalah kegiatan jimpitan. Jimpitan dilakukan dengan warga menaruh uang koin ke dalam kaleng bekas atau gelas plastik yang sudah terpasang di dinding rumah. Setiap sore atau malam hari, uang koin tersebut diambil oleh ketua RT atau perwakilan warga. Hasil dari jimpitan dijadikan sebagai dana sosial desa, seperti digunakan untuk memperbaiki lampu jalan yang rusak atau pemasangan lampu di jalan desa. Selain itu, uang koin juga dimanfaatkan untuk warga yang sedang mengalami kesusahan.

Pada dasarnya budaya- budaya yang dipaparkan di atas merupakan beberapa bagian saja, tentu masih ada budaya lainnya. Keterbatasan waktu menjadi terbatasnya informasi yang diperoleh. Dialog kebudayaan antara mahasiswa KKN UIN Gusdur dengan tokoh masyarakat disimpulkan bahwa warga Desa Rowolaku hidup harmonis dengan budaya mereka, karena indikator keharmonisan menurut tokoh Al-Qaimi meliputi ketenangan, ketentraman, kasih sayang, saling melengkapi, belas-kasih dan pengorbanan, serta bekerja sama. Dalam membina keharmonisan dapat didasari oleh sikap saling menghormati, menerima, menghrgai, mempercayai dan mencintai satu sama lain. Inilah definisi keharmonisan terjalinnya suatu hubungan interaksi dan tindakan yang memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Harmoni Agama: Kisah Sukses Desa Linggo Asri dalam Mempraktikkan Moderasi Beragama

Penulis : Arjuna Ridhoka, Editor : Faiza Nadilah

Desa Linggo Asri di Kabupaten Pekalongan terkenal dengan praktik moderasi beragamanya. Desa ini memiliki keberagaman agama yang tinggi, dimana terdapat tiga agama yang dianut masyarakatnya yaitu: Islam, Hindu, Katolik, dan Budha. Massyarakat Linggo Asri telah berhasil menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan inklusif melalui dialog antaragama, layanan sosial, bantuan kemanusiaan, dan proyek lingkungan. Desa ini juga memiliki “Rumah Ibadah Moderasi”, yang meliputi masjid dan pura, melambangkan penghormatan terhadap keyakinan agama yang berbeda. Para pemuka agama di Linggoasri berperan penting dalam mendorong moderasi beragama dengan aktif menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi. Keberhasilan desa dalam mendorong moderasi beragama menjadikannya teladan bagi masyarakat lain, menekankan pentingnya toleransi dan saling pengertian antarkelompok agama yang berbeda.

Moderasi beragama di Desa Linggo Asri, Kabupaten Pekalongan, Jawa Timur, diadopsi pada tahun 2023. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang terkait dengan naskah moderasi beragama di daerah ini:

Laboratorium moderasi beragama: Desa Linggo Asri menjadi pusat laboratorium moderasi beragama bagi mahasiswa dan dosen UIN Gus Dur. Tujuan utama dari laboratorium ini adalah untuk memperluas pemahaman agama tentang praktik toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesepakatan bersama: Masyarakat Desa Linggo Asri, bersama dengan tim pemberdayaan masyarakat UIN Gus Dur, menghasilkan kesepakatan bersama dalam membentuk Desa Moderasi Beragama.

Indikator moderasi beragama: Empat indikator moderasi beragama yang diperkenalkan di Desa Linggo Asri, yaitu toleransi, anti kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan. 

Kampung Moderasi Beragama: Desa Linggo Asri telah diakui sebagai Kampung Moderasi Beragama oleh Kementerian Agama. Kampung ini menunjukkan adanya semangat kebersamaan, kerjasama, dan harmonisasi kehidupan keaagamaan.

Sosialisasi Moderasi Beragama: Sosialisasi moderasi beragama dan kesepakatan bersama di Desa Linggo Asri dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti Mapping Religious and Culture, Workshop dan Focus Group Discussion, pembuatan Buku Sejarah, Tradisi, dan Budaya Linggoasri, Religious Moderation Camp, dan proyek pembuatan video documenter.

Dalam naskah moderasi beragama di Desa Linggo Asri, masyarakat umum dan pemangku kepentingan agama menghargai keberagaman agama di Indonesia dan berusaha untuk membangun komunikasi dan kerjasama yang baik antara umat beragama.

Tradisi dan Transformasi: Pendidikan Pesantren dalam Era Modern

Penulis : Ahmad Syahrir, Editor : M. Nurul Fajri

Dengan berkembangnya zaman yang sangat maju, maka diperlukan model pendidikan yang mengedepankan kecerdasan spiritual keagamaan, salah satunya adalah pendidikan di pesantren, di mana pendidikan pesantren biasanya menggunakan metode – metode klasik yang masih di pertahankan secara turun temurun.

Dalam Pendidikan pesantren digunakan 3 metode pembelajaran, yaitu Sorogan, Bondongan,dan Musyawarah.

Metode Sorogan adalah metode yang di mana setiap santri menghadap secara bergiliran kepada kiai untuk membaca, menjelaskan atau menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya,kitab- kitab yang digunakan merupakan kitab klasik seperti Alfiyah Ibnu Malik, kitab Fat’ul Mu’in, Tafsir Jalalain dan lainnya.

Sistem Bandongan adalah sistem trasfer keilmuan di mana kiai atau ustādh membacakan kitab, menerjemahkan dan menerangkan sedangkan santri atau murid mendengarkan,menyimak dan mencatat apa yang disampaikan.

Metode Musyawirin disebut juga dengan metode musyawarah kitab; merupakan kegiatan membaca, menelaah dan mendalami secara mendalam isi dari sebuah kitab. Metode ini adalah salah satu tradisi pembelajaran yang ada di pondok pesantren. Dalam pelaksanaannya, musyawirin ini sepenuhnya mengadaptasi dari pelakasanaan yang ada di pondok pesantren. Para santri, khususnya mutakhorrijin (santri yang sudah lulus) pondok pesantren mempunyai tugas khusus yang harus dilaksanakan yaitu mengamalkan ilmunya di tengah masayarakat. Melalui kegiatan musyawirin ini mereka bisa mengamalkan dan memperdalam keilmuan mereka.

Metode – metode yang ada dalam pendidikan pesantren sangat efektif dalam menjalankan sistem pembelajaran, dimana metode-metode tersebut memiliki banyak sekali keunggulan, walaupun perkembangan zaman makin melesat, eksistensi pendidikan pesantren masih banyak, dimana banyak orang tua yang memilih untuk menempatkan putra-putrinya di pesantren ketimbang di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Banyak juga orang tua yang menyekolahkan putra-putrinya dan sekaligus menempatkannya di pesantren, walapun sistem pendidikan nasional berubah-ubah dengan perkembangan zaman, sistem pendidikan pesantren tetap konsisten dengan sistem pendidikan tradisional.

Merangkai Tradisi: Keberagaman dan Kekuatan Identitas dalam Nyadran Gunung Silurah

Penulis : Khoirul Umam, Editor : Windi Tia Utami

Membahas budaya lokal yang ada di indonesia seakan tidak ada habisnya. Keberagaman budaya menjadi unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, namun, ditengah keberagaman yang ada, Indonesia mampu merangkul semuanya, menjadikan keberagaman sebagai faktor pemersatu bukan faktor yang justru dapat memecah belah, sehingga akhirnya keberagaman dianggap sebagai identitas nasional. Keberagaman di Indonesia sendiri terdiri dari banyak hal, baik tarian, rumah adat, lagu daerah, pakaian adat, upacara adat, dan sebagainya.

Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda dengan daerah lain. Contohnya di desa Silurah, ecamatan Wonotunggal, kabupaten Batang terkenal dengan adat Nyadran atau Nyadran Gunung. Upacara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang diberikan oleh Tuhan, dan sebagai bentuk tawakal kepada-Nya dalam menjalani kehidupan ini masih Lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari desa Silurah.

Sejarah Nyadran Gunung Silurah berawal dari kisah 500 tahun lalu dimana terdapat musibah yang melanda desa Silurah, kekacauan terjadi dimana-mana. Sampai akhirnya pemimpin adat mendapat petunjuk dalam mimpi untuk melakukan serangkai ritual agar penyakit dan malapetaka yang melanda segera sirna yakni dengan tradisi Nyadran Gunung Silurah yang digelar mengikuti kalender hijriyah, tepatnya pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal.

“Alhamdulillah pada pagi hari ini menjadi bagian nikmat bagi kami semua, bisa menyelenggarakan kegiatan adat Nyadran atau sedekah bumi, dengan harapan selalu melestarikan budaya dan alam,” ungkap kepala desa Silurah, Suroto saat ditemui usai acara kirab budaya di desa Silurah, Kamis (24/11/2022).

Rangkaian Nyadran Gunung Silurah berisi kegiatan yang juga menyatu dengan alam, mengajarkan kepada manusia untuk tidak lupa menjaga kelestarian alam, dimulai dari kirab hasil bumi, pelepasan burung, penanaman pohon, penyebaran benih ikan, ider-ider desa, potong kambing kendit, slametan dan pentas ronggeng, serta pementasan wayang kulit. Nyadran Silurah terdiri dari rangkaian upacara seperti:

1.Tasyakuran Malam Jumat

Pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal, seluruh warga desa berkumpul dengan menggunakan pakaian adat setempat. Mereka melakukan ider-ider desa atau mengelilingi desa sambil memanjatkan doa. “Untuk hari ini tadi sudah kirab budaya warga berbondong-bondong membawa hasil panen sebagai simbol puji syukur kepada Allah yang akan disajikan besok” jelas Suroto, Jumat (25/11/2022).

  1. Pemotongan Kambing Kendit

Keesokan harinya, tokoh adat Desa Silurah melaksanakan penyembelihan kambing kendit. Kambing  kendit merupakan kambing yang memiliki ciri khas berupa bulu hitam dengan beberapa bagian tubuh yang berwarna putih. Penyembelihan ini biasanya dilakukan di lereng Gunung Rogo Kusumo. Dalam tradisi ini, penyembelihan kambing kendit dilakukan setiap tahun dan setiap tujuh tahun sekali dilakukan pemotongan kebo bule. “Memilih kambing kendit sendiri memang tradisi turun-temurun yang diyakini sebagai alat ritual yang dianggap punya “kekuatan” akan mau menolong dari hal gaib,” terang Suroto.

Tradisi ini diyakini warga setempat dapat menjauhkan mara bahaya dan kejahatan. Keyakinan ini telah menjadi keyakinan mutlak di desa Silurah, bahkan menurut pengakuan Suroto, pernah sekali tidak melaksanakan penyembelihan kambing kendit, lalu terjadi pagebluk atau wabah penyakit di desa Silurah.

  1. Sesaji dan Doa

Daging kambing yang telah dipotong sebelumnya kemudian dijadikan sesaji yang diletakkan di lima titik, termasuk di Watu Larangan (batu larangan). Sedangkan daging yang lain dimasak dan dimakan bersama dengan tujuan mengeratkan silaturahmi dan rasa kekeluargaan antar warga desa. Selama prosesi ini, terdapat ritual khusus berupa pemanjatan doa bersam dan menggunakan sesaji, seperti air enam rupa, panggang emas, degan hijau, kembang tujuh rupa, dan tumpeng serba hitam. “Tujuannya selain sebagai wujud syukur kepada alam, doa bersama juga agar dijauhkan bala, sebelumnya sekitar tahun 90an pernah tidak digelar dan ternyata terjadi musibah pagebluk, ya kita meminta doa yang terbaik serta untuk melestarikan budaya,” ujar Suroto.

  1. Ritual di Gunung

Setelah menyembelih kambing, sesepuh adat naik ke Gunung Rogo Kusumo diiringi dengan gending Jawa untuk mendoakan leluhur dan memohon keselamatan. Ada tempat-tempat tertentu di gunung ini yang disinggahi untuk berdoa.

  1. Kegiatan Kesenian

Selama perayaan Nyadran Gunung Silurah, terdapat beberapa pertunjukan kesenian yang ditampilkan, seperti ronggeng dan wayang kulit. Kegiatan ini bertujuan untuk menghibur dan melestarikan budaya setempat.

Itulah penjelasan mengenai tradisi Nyadran Gunung Silurah yang dilaksanakan oleh warga Desa Silurah. Warga desa percaya apabila upacara adat ini tidak dilakukan maka akan terjadi musibah pada desa mereka.

Melalui tradisi nyadran gunung  kita juga dapat belajar mengenai beberapa nilai kehidupan seperti nilai ketuhanan, sosial, hingga moral. Nilai ketuhanan tertuang pada ungkapan rasa syukut kita kepada Tuhan atas nikmat dan rezeki yang diberikan kepada kita. Nilai sosial yaitu kita dapat belajar untuk merangkai kerukunan dengan masyarakat lewat upacara nyadran gunung ini. Dan nilai moral yaitu dapat kita implementasikan pada sikap kita yang berusaha untuk melestrikan budaya ini agar tetap terjaga. Setiap kegiatan akan selalu ada pesan yang termaktub di dalamnya sehingga upayakan agar kita selalu memberikan yang terbaik pada setiap kegiatan yang kita jalani.

Kerukunan dalam Perbedaan: Kearifan Desa Linggoasri dalam Praktik Moderasi Beragama

Penulis: Maftukhatur Rizqoh, Editor: Lulu Salsabilah

Linggoasri merupakan desa yang terletak di selatan pusat pemerintahan di Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Menurut salah satu sesepuh desa tersebut, nama Linggo Asri berasal dari nama batu lingga yaitu simbol dewa Syiwa, berbentuk bulat panjang yang menggambarkan bahwa Desa Linggoasri telah berumur tua dan penuh dengan peninggalan sejarah. Penduduk Desa Linggoasri terdiri dari beberapa penganut agama, diantaranya yaitu islam dan hindu. Mereka hidup dalam harmoni perbedaan namun sangat jauh dari pertikaian bahkan selalu bahu-mambahu dalam setiap acara peribadatan walau berbeda keyakinan. Desa Linggoasri merupakan salah satu dari beberapa desa yang mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang sebuah kerukunan melainkan sebuah kekuatan. Budaya yang Sebagaimana telah lama diterapkan oleh masyarakat desa Linggoasri merupakan salah satu hal yang saat ini sedang gencar disebarluaskan, yakni moderasi beragama.

Pada hari selasa, 14 November 2023 mahasiswa dan dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid  Pekalongan melakukan mini riset dengan ditemani beberapa masyarakat dan pemuka agama Desa Linggoasri di sebuah tempat bernama CaffeLA. Dalam acara tersebut, pemuka agama hindu, Pak Taswono, menjelaskan bahwa ribuan keanekaragaman dan perbedaan di Indonesia merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan sekaligus juga hal yang rawan menimbulkan konflik jika tidak ada upaya untuk menjaga kerukunan dan persatuan antar umat beragama. Oleh karenanya dibutuhkan keikutsertaan seluruh masyarakat untuk menjaga kedamaian di Indonesia. Salah satu bentuk keikutsertaan masyarakat Desa Linggoasri dalam menjaga kedamaian yaitu mereka mengamalkan ajaran moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Moderasi beragama atau dalam agama islam disebut wasathiyah merupakan sikap, cara pandang, dan praktek beragama dalam kehidupan beragama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum dan berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa. Masyarakat Desa Linggoasri mengaku belum tahu teori tentang moderasi beragama tersebut. Namun, lebih dari sebuah pengetahuan tentang teori, mereka bahkan sudah menerapkan ajaran moderasi beragama sejak dahulu kala. Setiap ada acara keagamaan atau acara hajatan pribadi, setiap masyarakat senantiasa dengan sukarela saling membantu walaupun berbeda agama. Bahkan dikatakan terdapat keluarga yangmana anggotanya menganut agama yang tidak sama.

Pak Taswono menjelaskan dalam agama hindu ada kaidah ‘catur parama arta’ yaitu : 1.Darma, 2.Jenana (pengetahuan) dan Wijenana (kebijaksanaan), 3.Ahimsa Parama Darma(tidak melakukan kekerasan), 4.Bakti Rukyata (ikhlas tulus karena Tuhan). Selanjutnya ada catur paramita  atau digambarkan sebagai tiang suatu rumah, yaitu : 1.Maitri (kasih sayang universal), 2.Karuna (toleransi), 3.Upeksa, 4.Udita (simpatik). Sedangkan atap suatu rumah yaitu : 1.Satwam, 2.Siwam, 3.Suwasti. Sedangkan isi rumah yaitu : 1. Darma (kebijaksanaan), 2. Arta (kebutuhan hidup), 3. Keinginan, 4. Muksam (ketika mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin). Hal tersebut merupakan ajaran dalam agama hindu yang bertujuan untuk megajak kepada persaudaraan dan kebahagiaan lahir batin atau dunia akhirat. Beberapa sikap yang harus diterapkan yaitu terbuka (mau dan berani menerima pendapat orang lain), bersedia menghargai perbedaan dan menerima kekurangan orang lain, rendah hati, dan pemaaf.

Sedang menurut Pak Mustajirin selaku tokoh agama islam, beliau berpesan agar bisa menanamkan sikap wasathiyah atau kemoderatan, ibarat seperti wasit yang harus berimbang, tidak berat kiri maupun kanan, dan tidak juga seperti wasit yang hanya mencari kesalahan. Menurut beliau prinsip moderasi yaitu : 1.I’tidal (tegak lurus), 2.Tawazun (keseimbangan), dan 3.Tasamuh (toleran). Karena persaudaraan meliputi sesama agama, sesama manusia, dan sesama bangsa.

Masyarakat Desa Linggoasri mengajarkan bahwa hidup dalam perbedaan merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri. Mereka telah membuktikan betapa indahnya mengamalkan makna dan nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui saling tolong-menolong, menghormati perbedaan keyakinan, dan menjaga keharmonisan, itulah kunci terbukanya perdamaian antar umat beragama. Semoga tidak hanya masyarakat Desa Linggoasri yang mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama, namun seluruh masyarakat Indonesia bahkan seluruh manusia.

Sanggar Seni Lingga Laras: Teladan Toleransi Agama dan Persaudaraan di Desa Linggoasri

Penulis: Shifa Ismaya, Editor: Faiza Nadilah

Sebagai negara multikultural, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, suku, bahasa, bahkan agama. Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan suatu kekayaan dan keindahan bagi bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Dengan enam agama yang diakui, menambah keanekaeragaman yang dimiliki bangsa Indonesia yang bukan hanya mampu menjadi pengikat ataupun perekat masyarakat, namun dengan adanya keberagaman juga dapat menyebabkan terjadinya benturan antar keragaman bahkan konflik perpecahan yang dapat merugikan banyak pihak. Adanya keragaman di Indonesia mengharuskan kita sebagai anak bangsa menghindari sikap ekstrimisme dan intoleransi, terutama dalam beragama. Oleh karena itu, moderasi beragama perlu diterapkan guna menjaga keharmonisan suatu bangsa.

Moderasi beragama adalah jalan tengah yang berprinsip pada keadilan dan keberimbangan yang menjadikan seseorang tidak ekstrim dalam melaksanakan kehidupan beragama, dimana sebagai warga negara Indonesia kita dituntut untuk bersikap moderat dalam menghadapi keberagaman. Moderat dalam beragama berarti berperilaku, bersikap, dan memiliki cara pandang yang adil dan tidak ekstrim dalam beragama. Contohnya dengan tidak bersikap fanatik yaitu selalu menganggap ajaran agama yang dianut paling benar dan menganggap salah ajaran agama lain. Seseorang dapat dikatakan moderat apabila mampu memenuhi empat  indikator, yaitu: komitmen terhadap kebangsaan, anti kekerasan, akomodatif terhadap budaya lokal, serta toleransi. 

Setiap warga negara memiliki kebebasan dalam menentukan agama yang dianut, sehingga menjadikan Indonesia memiliki keberagaman agama. Toleransi merupakan sikap yang penting dalam kehidupan beragama. Toleransi atau tasamuh merupakan suatu kemampuan dalam menerima suatu perbedaan. Toleransi dalam agama memiliki arti suatu sikap memberikan kebebasan kepada orang lain dalam beribadah sesuai keyakinan yang diyakininya, serta tidak beranggapan bahwa apapun yang melekat pada diri sendiri lebih unggul dan tidak mengarah pada niat yang ditujukan untuk melakukan kekerasan fisik atau psikologis terhadap orang lain yang memiliki perbedaan dengan kita. Setiap agama mengajarkan bukan hanya toleransi melainkan banyak hal seperti saling memahami, saling menyayangi, saling menghargai dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Adanya sikap toleransi dapat menghilangkan kesenjangan dalam kehidupan bermasyarakat, mencegah terjadinya konflik perpecahan, serta persatuan dan kesatuan bangsa dapat terlestarikan. Sehingga dalam hal ini sikap toleransi perlu ditumbuhkan sejak dini.

Contoh nyata dari sikap toleransi agama sejak dini dapat dilihat pada sikap anak-anak Sanggar Seni Lingga Laras yang berada di Desa Linggoasri, kabupaten Pekalongan yang merupakan desa sadar kerukunan dan kampung moderasi beragama karena terdapat berbagai macam agama yang mampu hidup berdampingan. Sanggar Seni Lingga Laras merupakan suatu wadah dalam melestarikan kesenian seperti seni drama, karawitan, dan seni tari. Sanggar ini berdiri sejak tahun 2016 dan masih eksis sampai saat ini. Sanggar Seni Lingga Laras menjadi ruang kesenian sebagai alat pemersatu antar umat beragama yang ada di Desa Linggaasri karena siapapun dapat melakukan seni tanpa memandang kepercayaan yang dianut. Peserta Sanggar Seni Lingga Laras awalnya mayoritas pemeluk agama Hindu namun seiring berjalannya waktu peserta sanggar tersebut terdiri dari berbagai latar belakang agama namun mampu berdampingan dan hidup rukun. Adanya sanggar Seni Lingga laras tentu saja dapat memperkuat persaudaraan dan mampu menciptakan rasa saling memahami antar individu. Menurut penuturan Ibu Sri, selaku anggota aktif dari Sanggar Seni Lingga Laras mengatakan bahwa sikap toleransi agama pada anak-anak sudah muncul dengan sendirinya tanpa perlu arahan dari orang tua ataupun pendidik di Sanggar, contoh kecilnya tidak membeda-bedakan dalam berteman dan mereka saling mengingatkan untuk berdoa sebelum makan sesuai dengan agama masing-masing. Contoh kecil tersebut merupakan dampak dari lingkungan hidup, dimana mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan yang tinggi akan toleransi beragama, sehingga mereka tanpa sadar sudah menerapkan sikap toleransi agama sejak kecil. Pentingnya menerapkan toleransi agama dalam kehidupan bermasyarakat merupakan perwujudan rasa tanggung jawab dan kesadaran kita sebagai warga negara dalam menjaga perdamaian, kerukunan, persatuan dan kesatuan. Seperti halnya semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang menekankan persatuan di tengah perbedaan.

Harmoni Budaya: Adaptasi Masyarakat Non-Hindu dalam Pertunjukan Ogoh-Ogoh

Penulis: Maulana Akhmad Nurfauzi, Editor: Kharisma Shafrani, Amarul Hakim

Seni adalah produk dari tingkah laku manusia yang dilakukan secara sadar, yang didasari oleh pikir serta olah rasa. Seni pertunjukan adalah aspek-aspek yang divisualisasikan dan diperdengarkan mampu mendasari suatu perwujudan yang disebut sebagai seni pertunjukan. Pertunjukan memiliki tiga unsur pokok yaitu pertunjukan adalah peristiwa yang secara ketat atau longgar bersifat terancang, sebagai sebuah interaksi sosial dengan ditandai kehadiran fisik para pelaku dan peristiwa pertunjukan terarah pada ketrampilan dan kemampuan olah diri jasmanai serta rohaniatau kedua-duanya.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian butha kala. Dalam ajaran Hindhu Dharma, butha kala mempresentasikan kekuatan alam semesta (Butha) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Perwujudan patung ogoh ogoh yang dimaksud adalah sosok butha kala yang sering digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya diwujudkan dalam bentuk raksasa. Selain wujud raksasa, ogoh-ogoh biasanya digambarkan dengan makhluk-makhluk atau hewan yakni seperti gajah, naga, kera, babi, dan sebagainya.

Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung yang beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia. Boneka tersebut dahulu terbuat dari kerangka bambu yang dilapisi kertas. Seiring waktu, kebanyakan ogoh-ogoh saat ini dibuat dengan bahan dasar sterofoam karena menghasilkan bentuk tiga dimensi yang lebih halus. Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi. Waktu pembuatan ogoh-ogoh dapat bervariasi bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut. Fungsi utama ogoh-ogoh yakni digunakan sebagai representasi butha kala yang dibuat menjelang hari Nyepi. Setelah ogoh ogoh dibuat, kemudian diarak beramai-ramai keliling desa pada satu hari sebelum hari Nyepi.

Pertunjukan ogoh-ogoh dilaksanakan sesuai kondisi alam dan sumber daya manusia yang ada di Desa Linggoasri. Bentuk boneka ogoh-ogoh yang dibuat di Desa Linggoasri memiliki tinggi sekitar 2,5 m dan lebar sekitar 1,5 m. Ogoh-ogoh pada pertunjukan tahun ini terdiri dari 2 boneka. Boneka yang pertama merupakan perwujudan manusia raksasa yang memiliki dua mata besar, mulut lebar dan bergigi taring, berwarna hijau, berkuku panjang, dan berambut panjang tebal. Manusia yang tergambar pada boneka tersebut merupakan sifat manusia yang serakah, mudah marah, dengki, dan jahat. Pada kaki manusia tersebut ditumpangi kepala hewan kera. Kera dipilih karena kera sendiri dipandang memiliki sifat yang licik. Boneka kedua digambarkan menyerupai tubuh manusia yang berkepala babi. Pemilihan hewan babi sebagai bentuk boneka ogoh-ogoh ini dikarenakan sifat babi yang ganas, serakah dan dianggap tidak baik. Tubuh patung kedua tidak jauh berbeda dengan boneka yang pertama, hanya saja ukuran boneka yang kedua ini lebih sedikit kecil.

Ogoh-ogoh juga dimaknai sebagai simbol wujud keangkaramurkaan. Ogoh-ogoh yang diarak bertujuan sebagai simbol penyerapan segala sifat buruk atau segala sesuatu yang tidak baik masuk ke dalam boneka ogoh-ogoh tersebut, kemudian ogoh-ogoh dimusnahkan dengan harapan bahwa segala sifat buruk yang ada pada diri manusia. Pertunjukan ogoh-ogoh masuk dalam rangkaian tawur kesanga dalam upacara Nyepi yang diawali dengan ngidung yakni menyanyikan lagu-lagu jawa oleh semua umat di dalam pura.

 

Strategi Adaptasi Masyarakat NonHindu Pada Pertunjukn Ogoh-Ogoh

Adaptasi merupakan sebuah sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya. Spradley menyatakan bahwa proses adaptasi dipengaruhi oleh persepsi dan interpretasi seseorang terhadap suatu objek yang selanjutnya menuju pada sistem kategorisasi dalam bentuk respon atas kompleksitas suatu lingkungan. Jadi strategi adaptasi merupakan cara seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan atau keadaannya melalui proses persepsi dan interpretasi yang kemudian akan menghasilkan suatu kategorisasi yakni sikap yang dipilih dalam mengatasi peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Tokoh masyarakat yakni para pemuda Desa Linggo Asri yang terkumpul dalam organisasi karang taruna mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh merupakan warisan budaya yang berwujud kesenian, yang ditampilkan dalam bentuk seni pertunjukan secara turun temurun yang bersifat keagamaan. Pertunjukan ogoh-ogoh dianggap mampu memberikan nilai sikap peduli terhadap budaya yang dimiliki di tanah air khusunya di Desa Linggo Asri. Selain itu, pertunjukan ogoh-ogoh dianggap sebagai pertunjukan yang menghibur dan tidak mengandung unsur sara sehingga bisa dinikmati semua umur. Perbedaan agama menyebabkan perbedaan kepercayaan juga keyakinan, serta berbeda ajaran dalam menyembah Tuhan Sang Pencipta. Meskipun dengan keyakinan yang sama bahwa manusia menyembah Tuhan Yang Esa, namun jelas terdapat perbedaan dalam tata cara beribadah antar umat yang berbeda agama. Hal ini sangat dirasakan oleh tokoh-tokoh agama di Desa Linggo Asri. Pertunjukan ogoh-ogoh merupakah salah satu wujud perayaan pelengkap ibadah bagi umat Hindu, namun tidak bagi umat Islam. Meskipun perbedaan sangat dirasakan, tetapi tokoh agama Desa Linggo Asri menanggapinya secara positif. Tokoh- tokoh agama Islam di Desa Linggo Asri mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh dijadikan sebagai sarana pelengkap ibadah yang umat Hindu jalankan, dan sebagai pemenuhan emosi akan kebutuhan seni setiap individu. Pertunjukan ogoh-ogoh yang dijadikan pelengkap yang memiliki makna simbolis dalam perayaan Nyepi umat Hindu yakni sebagai pengusir roh-roh jahat dan hal-hal buruk yang ada pada diri manusia itu sendiri dan lingkungannya, dianggap oleh para tokoh agama Islam Desa Linggo Asri merupakan suatu hal baik karena membuang segala hal buruk adalah suatu tindakan yang baik, dan pertunjukan tersebut tidak sampai merugikan umat lainnya yang berbeda kepercayaan, justru adanya pertunjukan mampu menyalurkan perasaan seni tiap-tiap masyarakat yang menyaksikan pertunjukan khusunya masyarakat Desa Linggo Asri. Tokoh pemerintahan di Desa Linggo Asri terdiri dari beberapa masyarakat Islam dan masyarakat Hindu. Tokoh pemerintahan nonHindu mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh merupakan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial. Dengan adanya pertunjukan ogoh-ogoh, masyarakat Desa Linggo Asri bisa berkumpul bersama dalam rangka persiapan maupun ketika pertunjukan berlangsung. Hal ini menjadikan seluruh masyarakat Desa Linggo Asri berbaur menjadi satu sebagai wujud kerukunan antar umat yang berbeda agama. Selain merekatkan ikatan kerukunan antar warga, pertunjukan ogoh-ogoh dianggap sebagai kesenian yang menghibur. Setiap warga tanpa ada batasan jenis kelamin, agama ataupun usia bisa menyaksikan pertunjukan.