Tradisi Tutupan: Fenomena Sosial dan Keagamaan di Pekalongan Menjelang Ramadhan

Penulis: Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Editor: Nanang

Di Pekalongan, banyak tradisi yang populer menjelang datangnya bulan Ramadhan,  salah satunya adalah Tutupan. Istilah  tutupan sering digunakan oleh masyarakat untuk mengakhiri kegiatan-kegiatan rutin yang terkait dengan tradisi yang berkembang dalam bidang sosial keagamaan. Misalnya dilakukan oleh kelompok tahlilan, majelis taklim, marhabanan, diba’an, duraran, serta berbagai macam arisan yang melibatkan komunitas tertentu.

Sebagai sebuah fenomena yang telah turun temurun, tradisi tutupan biasanya menyangkut kegiatan-kegiatan yang berlaku pada  komunitas yang bersifat seremonial dan komunal.  Rutinitas yang melibatkan berbagai latar belakang anggota masyarakat  tersebut menggunakan acuan tahunan, dan  biasanya dimulai dari bulan Syawal hingga bulan Syakban. Begitu masuk pada bulan Sya’ban, terutama setelah Nisfu Syakban, ajakan para anggota untuk mengadakan tutupan mulai bermunculan. Tradisi tutupan ada yang bersifat spontan dan ada yang bersifat terrencana.

Fenomena tutupan juga dilakukan pada satuan pendidikan non formal keagamaan seperti pendidikan Taman Pendidikan Al-Quran, Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pondok Pesantren Salafiyah dan lainnya. Agak berbeda dengan komunitas umum, bentuk tutupan di lingkungan pendidikan non formal keagamaan  lebih bersifat terencana dengan matang. Meskipun begitu, masih tetap bersifat seremonial seperti wisuda, akhirussanah dan lainnya. Berbagai kegiatan tersebut biasanya dirangkai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa spiritual dan seni.  Nuansa spiritual terlihat dari pembacaan zikir seperti pembacaan rotib, Yasin, Tahlil, Simtuddurar, ziyarah dan lainnya. Nuansa kesenian juga cukup menonjol seperti pagelaran musik rebana, music tradisonal, gambusan, drumb band, karnaval dan lainnya, tergantung kesepakatan yang diambil dengan mempertimbangan kondisi keuangan komunitas satun pendidikan.

Apa saja bentuk tutupan yang bersifat spontan? Biasanya, model ini dilakukan oleh komunitas kecil, atau kelompok tertentu dari berbagai usia dan pertemanan. Bentuknya dapat berupa rekreasi di suatu destiansi wisata dalam kota atau luar kota, kegiatan kumpul bareng  dan sejenisanya. Kebiasaan yang biasa disepakti pada saat tutupan berupa ngobrol, bercengkerama, menikmati makan-makan dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Selain melepas kangen dan mempererat pertemanan, tutupan dalam komunitas ini cenderung untuk semakin memantapkan semangat keakraban bersama relasinya.

Terlepas dengan jenis yang spontan atau terencana, tradisi tutupan bukan berarti menutup semua kegiatan tersebut selamanya, dan tidak akan ada lagi kegiatan tersebut. Tutupan ini bersifat sementara, karena akan fokus menjalani ibadah di bulan ramadlan. Oleh karena itu, tutupan tidak bersifat permanen dan akan dilanjutkan lagi setelah Syawalan selesai, tergantung kesepakatan anggota komunitasnya. Dalam menentukan tutupan, ada proses pengambilan keputusan bersama yang mengikat anggota komunitas secara kekeluargaan.

Berbeda dengan tradisi tutupan yang cenderung ceremonial dan komunal, ada sebagian anggota masyarakat yang memaknai tutupan dengan nuansa religius. Melalui tutupan, masyarakat diharapkan mengakhiri bulan Syakban dengan menutup rapat kebiasaan buruk yang biasa dilakukan. Menjelang bulan Ramadlan, segala bentuk perbuatan negatif ditutup, diganti dengan perbuatan yang bermanfaat. Misalnya menutup dan meninggalkan beragam kemaksiatan maupun kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang lain. Dimensi ini  diartikan sebagai upaya menutup jiwa dan raga dari berbagai godaan setan yang mengarah pada tindakan destruktif, sehingga secara batiniyah sudah siap memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih. Melalui hati yang bersih, masyarakat dapat menyiapkan suasana ibadah Ramadan dengan khusuk.

Dengan demikian, istilah tutupan di Pekalongan merupakan tradisi lokal yang memiliki orientasi beragam, tergantung komunitas yang mengadakannya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak praktek lokal wisdom yang berkembang di Pekalongan dan bisa jadi memiliki arti yang berbeda jika diterapkan di daerah lain.  Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya yang dapat menjadi praktek pendidikan karakter publik, tergantung jenis kegiatan tutupan yang dipilihnya. Sepanjang  pengetahuan saya, fenomena tutupan ini merupakan tradisi yang memiliki dampak positif bagi perkembangan komunitas lokal. Eksistensinya semakin menarik untuk dijadikan bahan kajian pengembangan budaya lokal yang dapat diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. WAllahu a’lam bi sh-shawab.

Antropologi Agama: Dinamika Universalitas Islam dan Budaya Lokal dalam Masyarakat Desa Linggoasri

Penulis: M. Irham Amaluddin, Editor: Lulu Salsabilah, Amarul Hakim

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal. Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian, pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam. Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad secara garis besar berbudaya Arab, sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun. Dalam budaya masyarakat secara turun- temurun dapat dipegang teguh dari generasi ke generasi dan meliputi segala aspek kehidupan yang mengakibatkan seluruh perilaku individu sangat dibatasi oleh budaya itu tersebut.

Adat dipandang sebagai karya leluhur, yang senantiasa dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat sebagai warisan. Sehingga adat istiadat yang berhadapan dengan ajaran agama, akan terjadi saling mempengaruhi satu sama lain. Maka, tidak mengherankan jika keduanya bersentuhan dan saling mencoba mencari pengaruh dan kewenangan. Akibatnya, ada ajaran agama yang dikurangi atau ditambah, selain itu juga dapat dihilangkan sama sekali dari ajaran yang semestinya. Hal ini biasa disebut sebagai  ilmu antropologi dengan istilah akulturasi, secara teoretis akulturasi merupakan proses percampuran dua kebudayaan atau lebih, saling bertemu dan saling mempengaruhi. 

Kebudayaan yang kuat dan menonjol dapat mempengaruhi kebudayaan yang lemah dan belum berkembang, dan akulturasi dapat terjadi apabila terdapat kesetaraan relatif antara kedua kebudayaan tersebut. Namun, akulturasi tidak selalu merupakan dampak dari budaya yang kuat terhadap budaya yang lebih lemah. Hal ini bergantung pada sifat interaksi antara dua budaya, yaitu sejauh mana anggota masyarakat dapat memaksa anggota masyarakat lain untuk berintegrasi secara budaya. Ketika sekelompok orang dari satu budaya dihadapkan pada aspek-aspek budaya asing, mereka secara bertahap menyerap karakteristik tersebut ke dalam budaya mereka sendiri tanpa kehilangan identitas budaya mereka sendiri. Proses ini dikenal dengan istilah akulturasi.

Adat menghormati dan mendukung satu sama lain pada perayaan hari raya seperti hari raya Hindu Nyepi dan Melasti, serta perayaan umat Islam tanggal 10 Muharram merupakan salah satu adat istiadat yang dilaksanakan di Desa Linggoasri. Selain itu, meski berbeda keyakinan agama, masyarakat Desa Linggoasri akan saling mendukung dalam acara pernikahan masyarakat itu sendiri. dan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya lokal adalah nilai-nilai yang dipupuk oleh masyarakat di suatu daerah dan terbentuk  secara alamiah dari waktu ke waktu melalui pembelajaran. Budaya lokal juga dapat berubah seni, adat istiadat, tradisi, dan hukum adat semuanya dapat berkontribusi pada pembentukan budaya suatu masyarakat.

Islam dan Kehidupan Antar Umat Beragama di Linggoasri: Toleransi, Keterlekatan, dan Dampak Signifikan pada Kebudayaan

Penulis: Dzurrotun Nafisah Anjali, Editor: Faiza Nadilah

Islam datang ke-Nusantara sebagai agama yang universal, sempurna, lentur, elastis dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, sehingga memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Islam terus merambat ke semua penjuru bumi nusantara mengakibatkan bumi nusantara dianggap sebagai suatu negeri yang sangat kaya dengan budaya. Alasannya, secara ilmiah kehidupan agama dan budaya sedang memberi suatu ekspose tentang seluk beluk yang mendasar. Islam dikenal sebagai salah satu agama yang akomodatif terhadap tradisi lokal dan ikhtilāf ulama dalam memahami ajaran agamanya (Mubarok, 2008).

Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. kepada seluruh manusia dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sosial politik. Beliau membebaskan manusia dari kegelapan peradaban menuju cahaya keimanan. Islam merupakan konsep agama yang humanis, yaitu agama yang mementingkan manusia sebagai tujuan sentral dengan mendasarkan pada konsep “humanisme teosentris” dimana poros Islam adalah tauhidullah yang diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme teosentris nantinya akan ditransformasikan sebagai nilai yang dihayati dan dilaksanakan dalam konteks masyarakat budaya, dan dari sistem inilah muncul simbol-simbol yang terbentuk karena proses dialektika antara nilai agama dengan tata nilai budaya (Kuntowijoyo, 2008).

Konsep normatif agama mengenai budaya tidak hanya mencoba memahami, melukiskannya, dan mengakui keunikan-keunikannya tetapi agama mempunyai konsep tentang amr (perintah), dengan tanggung jawab. Sementara ilmu menjadikan budaya sebagai sasaran pemahaman, agama memandang budaya sebagai sasaran pembinaan. Masalah budaya bukanlah bagaimana kita memahami, tetapi bagaimana kita mengubah Di dalam keberagamaan masyarakat Muslim tidak bisa lepas dari tradisi lokal yang hidup dan berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat, dimana mereka hidup, berkomunikasi, dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang ada. Proses penyebaran agama Islam yang ada di Nusantara tidak pernah terlepas dari proses akulturasi budaya, sehingga ajaran agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan para wali dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Karena dalam ajaran agama Islam tidak ada istilah paksaan dalam beragama. Para penyebar agama Islam tidak pernah menyiarkan agama melalu kekerasan dan permusuhan, akan tetapi melalui kedamaian, adaptasi dengan budaya lokal sehingga lambat laun terbentuk kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan bentuk asli dari kebudayaan tersebut.

Penerapan hal tersebut bisa kita lihat di Desa Linggoasri yang masyarakatnya memiliki keragaman beragama, tidak hanya agama Islam saja yang diyakini sebagai kepercayaan masyarakat tetapi mereka juga menganut agama Hindu, Buddha, dan Katolik. Awal mula masuk beberapa agama di Linggoasri juga sama dengan masuknya agama di Nusantara. Terjadi akulturasi antara agama-agama yang ada di Linggoasri dengan kebudayaannya menjadi sebuah praktik keagamaan yang toleran dan memiliki keterlekatan dengan modal sosial, simbolik, kebudayaan, dan material masyarakatnya.

Agama tidak lain menjadi identik dengan tradisi atau sebuah ekspresi budaya yang meyakinkan seseorang terhadap sesuatu yang suci, dan tentang ungkapan keimanan terhadap yang kuasa. Jika hubungan agama dan tradisi ditempatkan sebagai wujud interpretasi sejarah dan kebudayaan, maka semua domain agama adalah kreatifitas manusia yang sifatnya sangat relatif. Artinya bahwa, kebenaran agama yang diyakini setiap orang sebagai yang “benar”, pada dasarnya hal itu sebatas yang bisa ditafsirkan dan diekspresikan oleh manusia yang relatif atas “kebenaran”, bahwa tuhan absolut. Dengan demikian apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan, memperbaharui atau memurnikan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai fenomena manusia atas sejarahnya, tanpa harus dilihat banwa yang satu berhak menegasikan “kebenaran” yang diklaim oleh orang lain, sambil menyatakan bahwa “kebenaran” yang dimilikinya sebagai yang “paling benar” (Abdurrahman, 2003).

Kehidupan masyarakat di Linggoasri jauh dari kata perselisihan antar umat beragama. Mereka hidup dengan rukun dan damai tanpa mengusik kepercayaan masing-masing. Sikap toleransi yang tinggi menjadi kunci utama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang sejahtera, tentram dan religius. Masyarakat disana menjalankan ibadah ajaran agama sesuai dengan kepercayaan yang dianut tanpa mengganggu kegiatan ibadah agama lain.

Pentingnya Hubungan Agama dan Budaya Lokal

Agama selalu dipandang sakral oleh para pemeluknya. Sebagai panutan hidup, setiap pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin untuk menyesuaikan diri sesuai dengan kadar pengetahuannya masing-masing demi mewujudkan ajaran agama tersebut dan tingkah laku sosialnya sehari-hari. Dalam keadaan seperti ini, maka agama kemudian menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku keagamaan, baik dalam format individu maupun kelompok. Oleh sebab itu, maka secara sosiologis dikenal adanya istilah, seperti: orang-orang yang beragama (penganut), umat beragama (komunitas), dan tokoh umat beragama (pemimpin) (Abdurrahman, 1980).

Semua hasil pemikiran manusia adalah budaya; proses berpikir adalah proses kebudayaan. Kalau keberagamaan seseorang merupakan sebuah keyakinan yang banyak diperankan oleh pikiran, maka sulit untuk disangkal ketika seseorang menentukan agama tertentu untuk di anut tidak dapat terlepas dari aspek kebudayaan. Antara agama dan budaya keduanya sama-sama melekat pada diri seorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal pikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan dan bahkan berintraksi dengan kebudayaan.

Kebudayaan sangat berperan penting dalam pembentukan sebuah peraktik keagamaan bagi seseorang atau masyarakat. Tidak hanya melahirkan bermacam- macam agama, kebudayaan inilah yang juga mempunyai andil besar bagi terbentuknya aneka ragam praktik beragama dalam satu payung agama yang sama. Oleh karena itu kita sebagai pemeluk agama harus akomodatif terhadap budaya yang berlaku di masyarakat.

Sedekah Bumi: Budaya Lokal yang Masih Lestari

Oleh: Intan Anggreaeni Safitri

Berbicara mengenai budaya lokal yang ada di Indonesia tidak akan ada habisnya. Jutaan kebudayaan tumbuh berdampingan dengan masyarakat Indonesia, pluralitas ini lah yang  membedakan Indonesia dengan negara lain. Kerukunan antar masyarakatnya juga patut untuk diajungi jempol. Masyarakat Indonesia memliki berbagai macam budaya yang menarik di daerahnya mulai dari tarian, rumah adat, lagu daerah, dan semacamnya.

Salah satu dari sekian banyak tradisi budaya yang masih berjalan dan masih banyak ditemui hingga kini yaitu sedekah bumi. Sedekah bumi merupakan sebuah tradisi dari zaman nenek moyang yang masih terjaga hingga sekarang ini. Rangkaian acara sedekah bumi biasanya setiap tempat memiliki ciri khas tersendiri. Sedekah bumi ini merupakan upacara adat yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmatnya.

Biasanya acara ini dilakukan pada awal bulan Muharam atau Syura dengan membawa gunung gunungan hasil bumi sebagai bentuk kuasa atas Tuhan yang telah memberikan rezekinya melalui tanah atau bumi yang mereka pijak. Tidak hanya itu sedekah bumi sekarang ini juga telah mengalami sedikit perubahan, jika pada zaman dahulu masyarakat hanya membawa gunungan hasil sawah atau kebunnya tanpa adanya iring iringan musik atau hiburan. Berbeda dengan sekarang masyarakat tetap akan membawa gunungan sebagai simboliknya namun terdapat pula penampilan peserta seperti tarian atau musik terntu yang mengiringi jalannya upacara adat ini.

Bukan hanya itu dari segi pakaian pun sudah jauh berbeda masyarakat sekarang jauh lebih kreatif dibandingkan dengan yang dulu, mereka akan mengenakan busana adat, pakaian hasil modifikasi pribadi, hingga pakaian yang terbuat dari daur ulang sampah dimana hal ini tidak bisa kita temukan pada upacara adat sedekah bumi orang zaman dahulu.

Melalui tradisi sedekah bumi kita juga dapat belajar mengenai beberapa nilai kehidupan seperti nilai ketuhanan, sosial, hingga moral. Nilai ketuhanan tertuang pada ungkapan rasa syukut kita kepada Tuhan atas nikmat dan rezeki yang diberikan kepada kita. Nilai sosial yaitu kita dapat belajar untuk merangkai kerukunan dengan masyarakat lewat upacara sedekah bumi ini. Dan nilai moral yaitu dapat kita implementasikan pada sikap kita yang berusaha untuk melestrikan budaya ini agar tetap terjaga. Setiap kegiatan akan selalu ada pesan yang termaktub di dalamnya sehingga upayakan agar kita selalu memberikan yang terbaik pada setiap kegiatan yang kita jalani.

Seni Ukir Jepara dan Nilai Keabsahan Kebesaran Allah SWT

Oleh Shofi Nur Hidayah

Berbicara tentang Kota Jepara, mungkin tidak akan lepas dari seni ukir yang begitu menyatu dengan kota tersebut. Jepara seolah menjadi ibu bagi seni ukir dan juga para pengerajin yang tinggal di sana. Kegiatan mengukir dan memahat untuk dijadikan mebel atau karya seni memang sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Kegiatan ini diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan mayoritas penduduk Kota Jepara berprofesi sebagai pengerajin ukir. Hasil seni ukir yang dihasilkan sudah tersebar keseluruh negeri bahkan hingga ke mancanegara.

Rupanya kebiasaan memgukir dan melukis sudah ada sejak zaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, menurut legenda masyarakat setempat. Dilansir dari laman  Indonesia.go.id Raja Brawijaya pernah memanggil ahli lukis dan ukir bernama Prabangkara untuk melukis sang istri dalam keadaan tanpa busana, tetapi harus mengandalkan imajinasinya tanpa melihat objek yang sebenarnya yakni sang permaisuri Raja. Prabangkara melakukan tugasnya dengan baik, lukisannya benar-benar indah tapi terdapat tahu cecak yang nampak seperti tahi lalat.

Raja Brawijaya pun marah karena letak tahi lalat di lukisan itu sama persis seperti aslinya. Dia kemudian menghukum Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang dan menerbangkannya. Prabangkara laku jatuh di Kota Jepara tepatnya di belakang gunung, yang kini dikenal dengan Desa Mulyoharjo. Prabangkara kemudian mengajarkan masyarakat setempat mengukir dan melukis, sehingga keahlian tersebut masih ada hingga zaman sekarang.

Ukiran Jepara sudah ada sejak zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat sekitar tahun 1549. Ada banyak pihak yang berperan besar dalam perkembangan seni ukir di zaman tersebut. Diantara orang-orang tersebut ada Retno Kencono (anak Ratu Kalinyamat), menteri Kerajaan Sungging Badarduwung dari Campa, dan sekelompok pengukir daerah Belakang Gunung yang bertugas melayani kebutuhan ukir keluarga Kerajaan. Sepeninggal Ratu Kalinyamat, perkembangan seni ukir di Jepara sempat mangkrak dan kembali hidup di zaman RA. Kartini.

Melihat kondisi perekonomian pengerajin yang tidak beranjak dari kemiskinan, membuat Kartini berinisiatif memasarkannya ke luar kota dan hasilnya cukup memuaskan. Akhirnya diketahuilah kualitas karya seni ukir Jepara ini di kanca lokal hingga mancanegara dan memang mampu mengembalikan ekonomi para perajin seni ukir Jepara.  Seni ukir juga tidak hanya cerminan dari budaya lokal saja, seni ukir ini juga bisa berkolaborasi dalam aspek keagamaan.

Dimana mimbar Masjidil Al Aqsa, Palestina juga pernah di ukir replikanya oleh warga Jepara. Yakni Nuruddin Zanki, dia bersama empat orang temannya mengerjakan ukiran tersebut selama lima tahun lamanya. Replika mimbar Masjidil Al Aqsa itu dikerjakan karena sebelumnya mimbar masjid pernah dibakar oleh Israel pada tahun 1969.  Hal ini membuktikan bahwa budaya lokal bisa bersatu padu dengan unsur kesilaman. Kita perlu melestarikan dan menjaga budaya yang ada. Serta memiliki rasa bangga dan mencintai budaya tersebut sebagai bentuk rasa syukur pada Allah SWT karena diberikan keberkahan pengetahuan yang berlimpah khususnya dalam kreativitas melestarikan budaya yang ada. Sebab budaya pun tidak akan pernah ada jika tanpa campur tangan Allah SWT. kekayaan budaya, merupakan bukti kebesaran Allah. Menjaga, melestarikan, serta mengembangkan budaya merupakan bukti syukur sekaligus kekaguman kepada yang maha kaya. Menafikan budaya sendiri, kemudian hanya menerima satu budaya (arab) atas nama agama, justru merendahkan martabat agama itu sendiri, karena menafikan kebesaran dan kekayaan Allah SWT.

Tradisi Manten Kucing Sisi Lain Budaya Lokal

Oleh : Khanifah Auliana

Indonesia saat ini mengalami cuaca yang cenderung cukup panas, tak heran banyak berita-berita bermunculan terkait kabar pemanasan global yang sangat berpengaruh. Selain itu, musim kemarau bulan ini memang memberikan dampak bagi daerah-daerah di Indonesia. Dampak musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat sebagian irigasi dan perairan menjadi kering. Banyak pula daerah-daerah yang mengalami kekeringan karena mata air terutama sumur juga ikut mengering. Hal tersebut membuat masyarakat khawatir akan dampak kedepannya jika kekeringan masih terus berlanjut. Apalagi belum ada tanda-tanda hujan akan datang, setidaknya supaya bisa memulihkan kekeringan. Bahkan kabarnya akibat musim kemarau dan panas yang tinggi ini berakibat pada es kutub yang mulai mencair. Kabar itu tentunya tidak baik sebab jika es kutub mencair maka volume air laut akan semakin bertambah ke daratan.

Untuk menanggulangi hal tersebut, masyarakat sekitar memiliki ide masing-masing agar bisa mendapatkan air yang cukup. Dari mulai menggunakan cara religius hingga tradisi lama yang diprediksi bisa menurunkan hujan. Jika dalam agama Islam, ada cara untuk mendatangkan hujan salah satunya yaitu dengan sholat istisqo’ dengan harapan meminta mata air yang akan turun menjadi hujan. Indonesia yang terkenal dengan keanekaragaman pasti ada tradisi unik lain dalam menangani krisis air atau kekeringan, keunikan meminta hujan ada juga di daerah Tulungagung Jawa timur. Masyarakat Tulungagung punya cara tersendiri untuk meminta hujan dan cara ini terlihat sangat unik yang diberi nama manten kucing. Kata manten memang tak asing bagi kita, manten artinya Pengantin sedangkan kucing adalah salah satu hewan yang biasa dipelihara.

Kalau disambung nama manten kucing berarti pengantin kucing, agaknya nama tersebut terdengar asing di telinga kita. Namun tradisi manten kucing memang benar adanya dan jadi ciri khas ketika musim kemarau tiba. Bahkan tradisi tersebut telah ada puluhan tahun lalu didaerah tersebut. Mulanya dulu saat musim kemarau masyarakat sangat sulit mencari air. Nenek moyang masyarakat menggunakan cara manten kucing supaya hujan dengan cara menikahkan dua kucing laki-laki dan perempuan. Nantinya dia kucing tersebut diarak keliling desa seperti layaknya pernikahan manusia. Konon tak berselang lama setelah tradisi manten kucing dilakukan hujan datang. Selain rangkain itu, ada serangkaian lain yaitu berdoa bersama untuk melestarikan gotong royong masyarakat serta menciptakan kedamaian.

Secara logika, mengaitkan tradisi manten kucing dengan cuaca memang tidak ada hubungan. Tradisi ini menunjukkan kuatnya aspek mistik dan tradisionalitas dalam tradisi Masyarakat kita. Di tengah sesaknya polusi modernitas yang membawa rasionalitas tanpa batas, nilai-nilai kearifan lokal seringkali dibutuhkan untuk menetralisirnya. Manten kucing. Tradisi yang cukup unik. Adakah tradisi serupa di daerah lain?

Aniwayang: Cara Baru Kenalkan Budaya Lokal

Oleh:Intan Anggreaeni S

Sebagai negara yang dianugerai berjuta macam kebudayaan, Indonesia tentunya memiliki tantangan sendiri dalam menjaga keaneragamannya tersebut. Globalisasi dan zaman yang terus berkembang, membuat kita harus semakin sungguh sungguh menjaga warisan budaya agar tetap lestari. Generasi bangsa yang tumbuh beriirngan dengan kecanggihan teknologi juga menjadi tantangan sendiri untuk memperkenalkan kepada mereka mengenai apa itu budaya lokal dan beragam jenis kesenian di dalamnya. Pada umumnya mereka acuh tak acuh terhadap kebudayaan lokal dan enggan untuk masuk dan melestarikannya. Minat yang menurun akibat digerus arus globalisasi membuat pemerintah harus memutar otak agar mereka generasi bangsa dapat memiliki ketertaikan pada budaya lokal yang kita miliki.

Kecanggihan teknologi yang ada saat ini merupakan salah satu gerbang perubahan bagi Indonesia. Melalui teknologi dengan segala macam kecanggihannya kita dipermudah dalam mencari hal apa pun. Namun dibalik kecanggihannya tersebut jika tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya kecanggihan tersebut akan menjadi boomerang bagi penggunanya. Teknologi dapat menjadikan kita malas dan enggan untuk bersosialisasi dengan orang lain karena para penggunanya akan berfikit hal tersebut tidak lagi mereka butuhkan selagi ada smartphone digenggamannya. Dari hal hal kecil seperti itu lah yang membuat kita akan lupa mengenai beberapa hal yang besar lainya seperti budaya lokal yang tadi kita bahas.

Budaya adalah aset bangsa dan sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa melestarikan dan memperkenalkan budaya tersebut kepada generasi selanjutnya. Namun pola kehidupan yang sudah berubah akibat kecanggihan teknologi menjadi tantangan sendiri dalam melestarikannya. Sehingga untuk mensiasati hal tersebut pemerintah ini Indonesia membuat inovasi baru yakni Aniwayang. Aniwayang merupakan gabungan dari animasi dan wayang dimana pagelaran wayang dikemas dengan menarik dengan menampilkan animasi sebagai tokoh utamanya sehingga dengan hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda.

Aniwayng memiliki tiga tokoh utama kakak beradik yaitu Cila, Cili dan Cilo. Animasi wayang ini digagas oleg Daud Budi Surya Nugraha yang bertujuan agar wayang tetap terjaga eksistensinya di era gempuran digitalisasi ini. Kepala Balai Media Kebudayaan (BMK) Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menuturkan bahwa Aniwayang ini merupakan terobosan baru untuk memperkenalkan budaya lokal kepada publik yang dikemas secara digital dan akan tayang di televisi nantinya. Karena menurutnya generasi muda Indonesia membutuhkan alternatif tayangan yang berisi beragam kebudayaan daerah yang ada di Indonesia sekaligus memperkenalkannya kepada mereka.

Pengenalan budaya menggunakan aniwayang diharapkan dapat menuai respon positif dari masyarakat Indonesia, karena berupaya melestarikan budaya lokal yang kita miliki. Memperkenalkan sesuatu melalui wayang juga pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga ketika memperkenalkan agama Islam. Hal ini mencontohkan bagaimana sebuah kebudayaan dapat menjadi media penyebaran nilai-nilai kebaikan. Bangga pada tradisi, merupakan modal penting dalam membangun karakter, sekaligus jatidiri Bangsa.

Memperkuat jati diri Bangsa, Melalui Pagelaran Wayang

Oleh : Khanifah Auliana

Pagelaran wayang tak luput dari budaya tanah air Indonesia ini yang sejak zaman dulu telah diperkenalkan. Selain itu wayang menjadi perantara bagi para Walisongo dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat yang masih kental dengan budaya. Tak ayal jika sampai saat ini wayang menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan. Perkembangan teknologi agaknya akan membuat budaya lokal semakin bergeser, apalagi peran pemuda bangsa untuk menjaga budaya Indonesia agar tidak terkikis.

Pagelaran wayang yang hingga saat ini jarang ada atau bahkan langka menjadi peran kita semua untuk menghidupkan kembali budaya yang hampir hilang. Oleh karena itu, masyarakat serta pemerintah harus bekerjasama dalam melestarikan budaya lewat pagelaran wayang. Kemudahan media sosial saat ini membantu budaya-budaya lokal yang sudah hampir punah untuk kembali berkembang. Sebab media sosial secara tidak langsung akan memperkenalkan budaya lokal terutama wayang kepada para generasi muda.

Dengan hal itu, harapannya generasi muda memiliki minat dalam melestarikan wayang dengan cara mereka sendiri tanpa menghilangkan ciri khasnya. Salah satu cara melestarikan wayang bisa lewat pertunjukan atau pagelaran yang melibatkan banyak orang. Meskipun cara tersebut sudah dari lama dan orang yang akan melihat wayang langsung ketempatnya, nah hal itu bisa di kolaborasi dengan media sosial. Pagelaran bisa ditampilkan lewat media sosial dalam bentuk video sehingga semua orang bisa melihat kapan pun dan dimana pun. Selain itu, pagelaran wayang bisa disandingkan dengan acara-acara besar lainnya yang memungkinkan akan menarik perhatian masyarakat. Bisa pula cerita wayang yang disajikan menggunakan cerita yang lebih menarik atau ada unsur komedi, karena para anak muda jarang minat jika cerita yang monoton atau bahasa yang digunakan jarang mereka mengerti.

Peran pagelaran wayang saat ini jadi yang terpenting dalam mempertahankan budaya negara Indonesia. Jika tidak dilestarikan dengan baik, kedepannya wayang bisa saja hilang atau bahkan di klaim oleh negara lain. Untuk menghidupkan kembali pagelaran wayang bisa dengan dibarengi untuk memperingati hari-hari besar contoh saja saat pagelaran di Kesesi Pekalongan. Pagelaran wayang tersebut secara khusus untuk memperingati HUT TNI ke 78 dan dihadiri langsung oleh Bupati Pekalongan yaitu Fadia Arafiq. Beliau berharap, dengan adanya pagelaran wayang untuk peringatan HUT TNI ke 78, bisa memperkuat kembali budaya lokal yang semakin langka.

Tradisi khitanan Massal Wonobodro: Sinergi Terbaik Antara Nilai Agama dan Budaya Lokal

Oleh Shofi Nur Hidayah

Bulan Rabiiul awal merupakan salah satu bulan istimewa dalam penanggalan hijriah. Karena pada bulan tersebut, terdapat peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang biasa diperingati pada tanggal 12 Rabiiul Awal pada kalender hijriah. Di tahun 2023 ini, peringatan maulid Nabi jatuh pada hari Kamis, 28 September. Memperingati maulid nabi juga berarti mengingat kembali Rasullullah Saw sebagai sosok teladan dalam kebaikan dan kemanusiaan.

Dilansir dari DetikHikmah, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qaumas berujar dalam keterangan pers pada Kamis, (28/9/2023) Maulid menjadi momentum kita bersama memahami perjalanan hidup, sekaligus belajar dari kebaikan dan rasa kemanusiaan Rasulullah. Masyarakat Indonesia sendiri melakukan berbagai kegiatan positif sebagai bentuk merayakan maulid nabi. Mereka berbondong-bondong dalam fastabiqul Khoirot, atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Serangkaian kegiatan bernuansa islami yang diakulturasi dengan budaya setempat juga dilakukan di berbagai daerah.

Contohnya saja tradisi khitanan massal yang terjadi di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang yang dilakukan bertepatan dengan peringatan maulid nabi. Tradisi ini sudah ada sejak bertahun-tahun, dan pada tahun ini tepat 50 tahun perayaan tersebut dilestarikan. Selama 50 tahun tradisi ini dilakukan dengan meriah, serta terdiri dari beberapa kegiatan lain. Seperti, pawai obor, dan arak-arakan yang diikuti oleh masyarakat setempat dengan kreativitas berbeda-beda setiap tahunnya. Dahulu tradisi ini bernama Damar Sewu karena konon, masyarakat setempat menggunakan pelita berupa damar ceplik yang digunakan untuk penerangan. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman, damar ceplik ini berganti menjadi lampu-lampu listrik dan ketika tradisi khitanan massal serta peringatan maulid diganti dengan obor dari bambu.

Masyarakat setempat begitu antusias dalam memperingati maulid mabi mereka akan membacakan sholawat sepanjang jalan yang dilewati ketika pawai atau arak-arakan berlangsung. Khitanan massal juga bentuk kegiatan positif serta implementasi nilai kebaikan dan kemanusiaan yang diterapkan masyarakat. Prinsip hidup rukun dan saling menebarkan kebaikan mereka dapatkan dari kisah-kisah inspiratif Rasulullah SAW semasa hidupnya, dari kisah tersebut banyak nilai-nilai kebaikan yang dapat diambil dan dijadikan sebagai teladan hidup. Budaya lokal yang terbentuk di Desa Wonobodro merupakan perpaduan apik antara nilai kebaikan dan budaya setempat, hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan dan nilai-nilai keagaman mampu bersatu padu menjadi hasil pemikiran atau akal budi manusia secara alami.

Seiring dengan berkembangnya zaman, banyak budaya lokal yang mulai terkikis eksistensinya akibat dari globalisasi. Karena itu melestarikan budaya lokal perlu gencar dilakukan agar integrasi nasional tetap bertahan serta bentuk keutuhan NKRI. Oleh sebab itu seluruh lapisan masyarakat berkewajiban untuk melestarikan budayanya. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk melestarikan budaya lokal, seperti mempelajari budaya setempat, mencari tahu sejarah serta mengenal lebih dalam budaya lokal yang dimiliki, memperkenalkan budaya lokal pada orang lain dan terakhir adalah menggunakan teknologi untuk mengembangkan budaya lokal.

Dengan demikian kita mampu menjadi bangsa yang kuat dengan tidak melupakan budaya daerah dan tidak kehilangan ciri khas negeri kita tercinta. Menerapkan nilai-nilai keagamaan dan mengkombinasikannya dengan budaya yang ada merupakan bentuk nyata bahwa agama bukan pembatas dari adanya tradisi. Hal penting yang perlu kita ingat dan amalkan adalah kebaikan selalu ada dalam setiap lini kehidupan, baik dari segi agama maupun budaya yan apabila digabungkan justru melahirkan sinergi terbaik.