Perkuat Ukhuwah Wathaniyah, PC ISNU Pekalongan Gelar Dialog Teologis Lintas Iman di Alam Terbuka

Pewarta : Khairul Anwar, Editor : Amarul Hakim

PEKALONGAN – Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pekalongan terus berikhtiar merawat kerukunan di tengah kemajemukan bangsa. Bekerja sama dengan Kelas Moderasi Beragama Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBI) dan Ilmu Gizi UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur), PC ISNU menyelenggarakan “Sarasehan Moderasi Beragama” di kawasan Wisata Kali Paingan, Linggoasri, Kecamatan Kajen, Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan yang dilaksanakan di alam terbuka ini menghadirkan perjumpaan hangat antara mahasiswa, akademisi NU, dan tokoh lintas agama. Hadir sebagai narasumber Pendeta Evi Julianti Rumagit Zebua (Kristen), Herman Mulyanto (Konghucu), dan Sri Rengganis (Penghayat Kepercayaan), yang dipandu oleh moderator Khairul Anwar, M.E., Ketua PAC ISNU Tirto, Dosen Mata Kuliah Moderasi Beragama Prodi Gizi.

Ketua PC ISNU Kabupaten Pekalongan, Dr. Moh. Nasrudin, M.Pd.I., yang juga Dosen Mata Kuliah Moderasi Beragama dalam sambutannya menegaskan pentingnya memperluas definisi persaudaraan. Ia mengajak 50 mahasiswa yang hadir untuk menjadi agen toleransi yang memandang perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman.

Baca juga : Karangsari Bahas Penataan Pemakaman Lintas Agama dalam Penyuluhan Kerukunan Umat Beragama

“Toleransi harus digalakkan di tengah bangsa yang sangat berkebhinekaan ini. Kita harus saling menjaga, jangankan kepada sesama manusia, terhadap binatang dan tanaman pun jangan sampai merusak dan menyakiti,” tegas Dr. Nasrudin.

Lebih lanjut, ia menguraikan tingkatan persaudaraan (ukhuwah) yang harus dipegang teguh oleh kader NU dan mahasiswa.

“Jika kita tidak bersaudara dalam seiman (Ukhuwah Islamiyah), maka kita adalah saudara senegara (Ukhuwah Wathaniyah). Jika kita bukan saudara senegara, kita adalah saudara sesama manusia (Ukhuwah Basyariyah). Dan jika batas itu pun masih belum cukup, ingatlah bahwa kita adalah saudara sesama ciptaan Tuhan,” terang Dr. Nasrudin yang juga akademisi UIN Gus Dur tersebut.

Dalam forum tersebut, terungkap bahwa setiap keyakinan memiliki ajaran otentik mengenai jalan tengah dan kasih sayang. Pendeta Evi Julianti mengungkapkan bahwa moderasi dalam Kristen menolak ekstremisme dan mengutamakan cinta kasih sesuai ajaran Yesus Kristus.

Baca juga : Gaungkan Semangat Toleransi dan Persatuan, Lakpesdam NU Kota Cirebon Selenggarakan Pagelaran Seni dan Budaya Lintas Agama

“Di Indonesia, moderasi terwujud melalui gotong royong gereja dengan masyarakat lintas agama, membangun harmoni tanpa mengorbankan iman pribadi,” ujarnya.

Senada dengan prinsip Tawassuth (tengah-tengah) dalam NU, Tokoh Konghucu Herman Mulyanto memaparkan konsep Zhongyong atau “Jalan Tengah”.

“Seseorang harus menghindari ekstremisme dan menjaga keseimbangan. Umat Konghucu dipanggil untuk beragama secara bijaksana, membangun etika ritual (Li) dan kemanusiaan (Ren),” jelas Herman.

Sementara itu, Sri Rengganis dari komunitas Penghayat Kepercayaan menekankan harmoni kultural melalui filosofi Memayu Hayuning Bawana. Menurutnya, ritual adat seperti slametan yang melibatkan tetangga lintas keyakinan adalah wujud nyata moderasi yang telah lama mengakar di bumi Nusantara.

Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak duta-duta moderasi beragama yang tidak hanya cakap secara intelektual, namun juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi untuk menjaga keutuhan NKRI.

Maras Tahun: Warisan Budaya Bernuansa Islam yang Terus Dilestarikan Masyarakat Belitung

Pewarta: Ristian Al Qodri, editor: Nafis Mahrusah

Belitung (2/12/2025) — Masyarakat Belitung kembali menggelar tradisi Maras Tahun, sebuah ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta penguatan silaturahmi antarwarga. Tradisi ini menjadi simbol harmonisasi yang erat antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Melayu Belitung yang hingga kini tetap terjaga.

Maras Tahun biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun pada bulan tertentu yang telah disepakati bersama oleh masyarakat adat dan momentum ini menjadi ajang berkumpulnya warga dari berbagai kalangan untuk memanjatkan doa bersama. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan doa selamat, yasinan, dan tahlilan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa-doa tersebut menjadi inti utama dari prosesi Maras Tahun, menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman menjadi pondasi penting dalam setiap tahapan tradisi.

Selain doa bersama, masyarakat juga menyiapkan dulangan, yakni hidangan makanan khas yang terdiri atas ketupat, lepat, serta berbagai lauk tradisional. Hidangan ini kemudian disantap bersama-sama oleh warga. Bagi masyarakat Belitung, dulangan tidak sekadar sajian kuliner, melainkan simbol kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur kepada Allah Swt. atas limpahan rezeki dan keselamatan selama satu tahun terakhir.

Baca juga: Bolehkah Ruang Shalat Menampilkan Simbol Bernuansa Setan? 

Bagi masyarakat setempat, Maras Tahun dimaknai sebagai tradisi untuk memohon kebersihan diri dan keselamatan desa secara spiritual. Tradisi ini mengajarkan pentingnya bersyukur, menjaga keharmonisan hubungan antarwarga, serta tetap memuliakan ajaran Islam melalui praktik budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Dengan demikian, nilai religius dan sosial berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

Di sisi lain, Maras Tahun juga memiliki nilai budaya yang kuat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Belitung mampu menjaga identitas lokalnya di tengah arus modernisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Pemerintah daerah pun terus mendorong pelestarian Maras Tahun sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.

Melalui pelestarian Maras Tahun, masyarakat Belitung tidak hanya mempertahankan sebuah ritual tahunan, tetapi juga merawat nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter kolektif mereka: religius, rukun, dan menjunjung tinggi adat serta ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Jejak Minyak, Data, dan Amanah: Peran Analitik dalam Mengungkap Modus Korupsi Pertamina

Karangsari Bahas Penataan Pemakaman Lintas Agama dalam Penyuluhan Kerukunan Umat Beragama

Pewarta: Nafis Mahrusah, Editor: Amarul Hakim

Pekalogan—Kelurahan Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan kembali membuka ruang dialog publik melalui kegiatan Penyuluhan Kerukunan Umat Beragama pada Selasa, (19/11/2015). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Karangsari ini menghadirkan pemerintah desa, tokoh agama, akademisi UIN Gus Dur, mahasiswa, dan warga dari berbagai unsur untuk membahas isu toleransi serta kebutuhan fasilitas publik yang berkaitan dengan seluruh pemeluk agama di desa tersebut.

Acara turut dihadiri Camat Karanganyar, Budi Rahmulyo, S.E., Kepala Desa Karangsari, Achwan Irfandi, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), H. Sail, serta masyarakat Muslim dan non-Muslim. Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan juga tampak antusias mengikuti jalannya penyuluhan sebagai bagian dari pembelajaran lapangan terkait moderasi beragama.

Isu utama yang dibahas dalam forum ini adalah rencana pembangunan lahan pemakaman untuk warga Muslim dan non-Muslim. Pemerintah desa menilai perlu adanya penyuluhan dan musyawarah agar proses perencanaan, penataan, hingga pengelolaan makam nantinya berjalan sesuai keyakinan masing-masing kelompok, sekaligus menghindari potensi perbedaan persepsi di masyarakat.

Baca juga : Gaungkan Semangat Toleransi dan Persatuan, Lakpesdam NU Kota Cirebon Selenggarakan Pagelaran Seni dan Budaya Lintas Agama

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pekalongan, KH. Mohammad Sholahuddin, memberikan pemaparan tentang pandangan Islam mengenai tata cara pemakaman ketika berada dalam satu kawasan, termasuk garis batas syariat yang harus dijaga. Penjelasan tersebut diperkuat oleh Muhammad Alghiffary, Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Gusdur Pekalongan, yang merujuk pada kitab al-Tadzkirah bi Ahwali al-Mauta wa Umuri al-Akhirah karya Imam al-Qurthubi dan beberapa rujukan bahasa untuk meluruskan istilah keagamaan seperti “kafir” yang kerap disalahartikan dalam percakapan sehari-hari.

Setelah diskusi berlangsung, warga akhirnya menyepakati bahwa pembangunan lahan makam akan menggunakan sistem pemisahan zonasi, yakni area utara untuk warga non-Muslim dan area selatan untuk warga Muslim. Pola ini dinilai sebagai solusi paling bijak agar generasi berikutnya tidak mengalami kebingungan saat berziarah maupun mengurus administrasi pemakaman.

Perwakilan warga non-Muslim, menyampaikan apresiasi atas penyuluhan dan dialog yang diadakan. Ia mengatakan bahwa komunitas non-Muslim sepenuhnya mendukung keputusan hasil musyawarah, selama tetap mengedepankan saling menghormati dan memberikan hak yang sama bagi semua warga.

Baca juga : Kemenag Kabupaten Pekalongan Gelar Dialog Lintas Agama dan Pengembangan Kampung Moderasi Beragama Desa Linggoasri

Kepala Desa Karangsari, Achwan Irfandi, berharap penyuluhan ini menjadi pijakan kuat bagi pelaksanaan program pembangunan makam bersama. Camat Karanganyar dan FKUB Kabupaten Pekalongan memandang langkah Desa Karangsari sebagai contoh nyata bagaimana toleransi dapat tumbuh melalui dialog dan keterbukaan, bukan sekadar semboyan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Karangsari meneguhkan diri sebagai desa yang mampu mengelola keberagaman melalui musyawarah, penghormatan, dan komitmen menjaga kerukunan bersama.

Seminar Nasional Qur’an Hadis Festival 2025 Usung Tema Revitalisasi Kajian Tafsir-Hadis di Era Modern

Pewarta: Azzam Nabil H., Editor: Amarul Hakim

Pekalongan — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Hadis bersama dengan HMPS Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Seminar Nasional Qur’an Hadis Festival 2025 pada Ahad (23/11/2025) di Aula FUAD Lt. 2. Kegiatan bertajuk “Revitalisasi Kajian Tafsir-Hadis di Nusantara sebagai Bekal Modernisasi” ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Dr. Kurdi Fadal, M.H.I., M.S.I. (Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Gus Dur) dan Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. (Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Dalam pemaparannya, Dr. Kurdi menjelaskan bahwa wahyu tidak hanya sebatas teks Al-Qur’an dan hadis, namun juga hidup melalui pengalaman ulama yang mentransformasikan keduanya dalam realitas sosial. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an dan hadis bukan sekadar turots atau warisan teks, melainkan sumber utama yang terus berkembang melalui pemikiran ulama. Konsep Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah* menurutnya tidak boleh dipahami secara statis. “Muhafazhah cenderung jumud bila hanya menjaga yang lama tanpa kreasi. Kita harus kritis, karena semua berubah kecuali perubahan itu sendiri,” ujarnya.

Prof. Abdul Mustaqim menambahkan bahwa teks keagamaan memiliki batas, sementara realitas bersifat tak terbatas. Karena itu, dibutuhkan kemampuan membaca turots secara kritis agar tidak terjebak pada pemikiran yang sudah tidak relevan. Ia mengingatkan bahaya “mengonsumsi pemikiran kadaluarsa” tanpa mempertimbangkan konteks sosial kekinian. “Jangan anti pada ilmu pengetahuan. Islam harus diintegrasikan dengan temuan ilmiah agar tetap relevan,” tegasnya.

Baca juga : Kajian Feminisme dalam Islam dalam Konteks Ruang Bersama Merah Putih

Dalam kajian metodologi, Prof. Abdul Mustaqim menyebut bahwa tafsir perlu menarik nilai universal masa lalu untuk diterapkan di masa kini. Ia menegaskan bahwa tidak semua ayat bersifat kontekstual; wilayah ibadah cenderung tekstual, sementara muamalah dapat dipahami secara kontekstual. Ia juga mengkritisi syarat ijtihad yang terlalu ketat karena dapat menutup pintu pembaruan hukum Islam. Menurutnya, hambatan utama terletak pada rendahnya kesadaran belajar, bukan pada keterbatasan syarat ijtihad itu sendiri.

Keduanya juga menyoroti pentingnya menghormati pendapat ulama terdahulu. Tafsir yang lahir di masa lalu harus dipahami sesuai konteks sosialnya. “Kita tidak layak menghakimi ulama klasik. Tugas kita adalah melakukan kontekstualisasi, bukan mengkafirkan atau membid’ahkan,” jelas Kurdi.

Salah satu peserta, M. Ady Fairuzzabadi, mengaku mendapatkan pemahaman baru terkait pentingnya membaca teks hadis dan tafsir secara relevan. “Setelah mengikuti kegiatan ini, selain menambah ilmu pengetahuan saya tentang tafsir, juga dapat menjadi pegangan hidup saya dalam memahami hadis secara kontekstual,” ungkapnya.

Kegiatan berakhir pada sore hari dan diharapkan mampu memperkuat tradisi intelektual Qur’an-Hadis yang adaptif dengan tantangan zaman.

Menanam Harapan, Menumbuhkan Ekoteologi, LP2M UIN Gus Dur Bersama Desa Linggoasri Tanam 1.000 Bibit Kopi di Tanah Wakaf

Pekalongan, 5 November 2025 – Dalam upaya mewujudkan sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis ekoteologi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan kegiatan penanaman 1.000 bibit kopi di tanah wakaf Desa Linggoasri, Kabupaten Pekalongan, pada Rabu (5/11).

Kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan basmallah, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari para tamu kehormatan. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua LP2M UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Moh. Sugeng Sholehuddin, M.Ag.; Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, Syamsul Bakhri, M.Sos.; Sekretaris Desa, Taswono; Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan, Mustajirin; para kepala dusun, RT, RW, kelompok tani, serta mahasiswa KKN UIN Gus Dur Kelompok 8 Angkatan 63.

Dalam sambutannya, Prof. Sugeng menekankan pentingnya menanamkan nilai ekoteologi dalam setiap aktivitas pengabdian masyarakat.

“Menanam kopi di tanah wakaf ini bukan sekadar penghijauan, tetapi juga wujud ibadah sosial yang berkelanjutan. Melalui ekoteologi, kita diajak untuk memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga amanah Allah S.W.T,” ujarnya.

Baca juga : Penanaman Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Sementara itu, Sekretaris Desa Linggoasri, Taswono, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara LP2M dan masyarakat desa.

“Kami berterima kasih kepada LP2M UIN Gus Dur dan mahasiswa KKN Kelompok 8 yang telah membantu masyarakat kami mengoptimalkan tanah wakaf agar lebih produktif. Semoga kegiatan ini memberi manfaat ekonomi sekaligus menguatkan kesadaran lingkungan,” ungkapnya.

Salah satu mahasiswa KKN, Afif Firdaus, juga mengungkapkan kesannya selama mengikuti kegiatan ini.

“Kami belajar bahwa ekoteologi tidak berhenti pada teori. Saat menanam kopi bersama masyarakat, kami merasakan langsung makna menjaga bumi sebagai bentuk ibadah. Kopi ini akan tumbuh menjadi simbol kerukunan, keberlanjutan dan kebersamaan,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit kopi kepada Sekretaris Desa, do’a penutup oleh Kyai Mustajirin, dan diakhiri dengan kegiatan penanaman bersama 1.000 bibit kopi di tanah wakaf Desa Linggoasri dari jam 09.00-13.00 W.I.B. Setiap tamu undangan turut menanam sekitar 20 bibit pohon kopi sebagai wujud partisipasi aktif dalam gerakan penghijauan.

Baca juga : Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Melalui kegiatan ini, LP2M UIN Gus Dur Pekalongan berkomitmen menjadikan program KKN Tematik Ekoteologi dan Pertanahan sebagai langkah nyata membangun kesadaran ekologis dan spiritual masyarakat. Desa Linggoasri Selain sebagai kampung moderasi beragama jg diharapkan dapat berkembang menjadi “Desa Ekoteologis Berbasis Wakaf”, yang mengintegrasikan nilai keagamaan, ekologi, dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Kuatkan Semangat Moderasi Beragama di Kalangan Dosen dan Tendik, LP2M UIN Gus Dur Adakan Pelatihan

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, pewarta dan editor: Jinan Uqsida

Pekalongan – Dalam rangka menguatkan semangat moderasi beragama di kalangan dosen dan tenaga pendidik, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan menyelenggarakan pelatihan moderasi beragama di Lt. 3 Perpustakaan UIN Gus Dur pada Rabu, (15/10/2025).

Diikuti oleh 26 peserta dari kalangan dosen dan pendidik, pelatihan ini merupakan usaha untuk menghidupkan kembali semangat moderasi beragama yang sempat meredup, sebagaimana yang diungkapkan Sugeng Solehuddin selaku Ketua LP2M UIN Gus Dur.

“Semoga semangat moderasi beragama yang meredup bisa hidup lagi. Karena yang menggelora sekarang adalah kurikulum cinta,” ujarnya.

Rektor UIN Gus Dur, Zaenal Mustakim mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini serta program-program LP2M di tahun 2025 yang menurutnya sangat padat. Ia menginginkan agar semua aspek di UIN Gus Dur tersertifikasi moderasi beragama.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada LP2M yang tahun ini padat sekali. Saya ingin program ini berlangsung, dan semua aspek yang ada di UIN Gus Dur bersertifikat moderasi beragama,” jelas rektor.

Rektor juga menambahkan agar LP2M memberikan pelatihan kepada mahasiswa secara bertahap.

Lebih lanjut, rektor memberikan pesan bahwa bersikap terlalu ekslusif atau terlalu inklusif dalam beragama tidaklah benar. Maka moderasi beragama adalah sikap yang diharapkan selalu melekat dalam diri setiap manusia.

“Saya yakin bapak ibu sekalian sudah sangat moderat. Itulah yg diharapkan. merasa paling benar boleh tapi menganggap yang lain musuh itu nggak boleh, atau terlalu ke kiri, terlalu liberal yang kemudian mengangap semua agama itu sama itu juga nggak boleh,” imbuhnya.

Baca juga: Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta

Setelah dibuka secara resmi oleh Rektor Zaenal, pelatihan ini kemudian diisi oleh tiga pemateri, yaitu Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani, serta Mohammad Yahya dan Luthfi Rahman selaku instruktur nasional training of trainer. Dosen dan tendik mengikuti pelatihan ini dengan antusias.

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag RI, Muhammad Ali Ramdhani berharap, nilai-nilai kerukunan dan menjadi poin penting dari pelatihan ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

“Apa yang sudah ada dipertahankan dengan baik dan disepakati bahwa nilai ini tidak boleh berhenti di UIN ini tetapi harus diketuktularkan di masyarakat, khalayak umum, agar nilai-nilai yang menjadi pilar utama pembangunan nasional yaitu kerukunan yang digagas, diperjuangkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid itu menjadi milik dari seluruh warga bangsa dan menjadi penuntun perilaku,” harapnya.

Wujudkan Sertifikasi Wakaf Berbasis KKN Tematik UIN Gus Dur MoU dengan BPN Jawa Tengah

Pewarta: Noorma

Pekalongan (2/10/2025). – Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur), Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. melakukan penandatangan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jawa Tengah guna mewujudkan Sertifikasi Wakaf Berbasis KKN Tematik. Penandatanganan MoU ini berlangsung di Gedung Perpustakaan Lantai 3 Kampus 2 Kajen Kabupaten Pekalongan pada hari Selasa 2/10/2025 yang dihadiri oleh jajaran BPN Kantor Wilayah Jawa Tengah, BPN Kota Pekalongan dan BPN Kabupaten Pekalongan.

Dalam sambutannya Kepala BPN Kanwil Jawa Tengah Lampri A,Ptnh. SH, MH. mengatakan bahwa Program Sertifikasi Wakaf KKN Tematik ini merupakan Pilot Projek BPN Jawa Tengah dan Kampus UIN Gusdur ini merupakan kampus yang pertama mendapatkan program. Dalam kegiatan kedepan para mahasiswa peserta KKN Sertifikasi Wakaf ini akan di bekali oleh BPN dengan teknis sesuai ketentuan regulasi pemerintah agar tanah wakaf menjadi legal dan berfungsi sesbagaimana harapan wakif. Menurutnya Pilot Projek ini memberi peluang sekitar 600 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan tersebut sehingga pemanfaatannya dapat langsung digunakan untuk musolla, masjid termasuk wakaf produktif.

Pemaparan Materi oleh BPN (Meeting Room Perpus UIN K.H. Abdurrahman Wahid, 2 Oktober 2025)

Dalam sambutannya Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan menyampaikan apresiasi dan berterima kasih kepada ATR/BPN Jawa Tengah yang telah memilih UIN Gusdur sebagai mitra KKN Tematik karena hal ini sesuai dengan misi Menteri Agama yaitu Ekoteologi,  Menurutnya saat ini agama tidak hanya membahas fikih saja termasuk didalamnya adalah membahas lingkungan karena menurutnya korban dari lingkungan ini jumlahnya banyak sekitar dua jutaan orang.  Rektor menceritakan kedepan sertifikasi wakaf ini menjadikan sebagai KKN terdampak yang awal bulan September lalu telah mengadakan ekspose hasil kegiatan KKN. Dari hasil ekspose tersebut ternyata menarik kementerian untuk bersinergi terutama ATR/BPN pusat.

Acara ini dihadiri segenap jajaran structural BPN Kanwil Jawa Tengah para Kasi, Kepala BPN Kota  Pekalongan Bapak Dr. Joko Wiyono, S.P. M.AP. QRMP dan Kepala BPN Kabupaten Pekalongan Bambang Irianto, A.Ptnh., M.M, QRMP. (M.Izza)

Perkuat Pemikiran Gus Dur, Para Dosen UIN Pekalongan Turut Serta dalam Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025

Penulis: Aris Priyanto

Editor: Fajri Muarrikh

Pasca terselenggaranya Sekolah Pemikiran Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, pada tanggal 8-9 Juli 2025. Para dosen kemudian mengikuti acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari yaitu mulai 29-31 Agustus 2025 yang bertempat di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.500-2.000 peserta dari berbagai daerah dan bebagai kalangan mulai dari komunitas GUSDURian, individu, lembaga, jejaring tokoh agama, masyarakat sipil dan para akademisi.

Acara TUNAS GUS DURian tahun ini mengusung tema “Meneladani Gus Dur, Merawat Indonesia”. Kegiatan tersebut terdiri dari 3 agenda besar yaitu Konferensi Pemikiran Gus Dur, Forum Gerakan dan Festival Gerakan. Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG) dibuka langsung oleh Alissa Wahid selaku Direktur Jaringan GUS DURian. Sebelum membuka acara, Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa memulai dulu dengan orasi ilmiah untuk menambah semangat dan antusias peserta. KPG merupakan ruang untuk mendiskusikan dan memperdalam warisan intelektual Gus Dur dalam konteks pemikiran tentang keindonesiaan, keagamaan, sosial dan politik yang dikontekskan pada persoalan demokrasi dan ekologi yang saat ini masih menjadi isu nasional.

 

Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG)

Dewi Anggraeni atau biasa dipanggil Mbak Dewi, selaku koordinator dosen UIN K.H. Abdurahman Wahid Pekalongan dalam mengikuti kegiatan TUNAS GUSDURian mengatakan bahwa konferensi ini dihadiri oleh Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Sebagai salah satu narasumber dari materi Demokrasi dan Supremasi Masyarakat Sipil. Mahfud MD menjelaskan bahwa persoalan besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia bukan hanya soal kualitas demokrasi, melainkan juga rapuhnya kedaulatan hukum. Ia menegaskan, demokrasi tidak boleh berjalan sendiri tanpa hukum, begitu juga sebaliknya. Bahkan menurutnya “Negara yang sehat itu memadukan demokrasi dan nomokrasi. Itulah yang dulu diperjuangkan Gus Dur”, Jelas Mahfud MD.

Forum Gerakan

Menurut Dewi, forum ini menjadi forum yang sangat luar biasa karena yang dibahas termasuk isu-isu nasional yang sedang terjadi di negeri ini yaitu Demokrasi Hukum dan HAM, Toleransi dan Perdamaian, Keadilan Teologi. Toleransi dan perdamaian mengkaji terkait regulasi diskriminatif berbasis agama dan keyakinan, penolakan beribadah dan tempat ibadah dengan kekerasan, ujaran kebencian, dan lembaga pendidikan yang mengajarkan paham monopoli kebenaran dan mengingkari pluralisme.

Festival Gerakan

Festival gerakan memiliki tujuan untuk mempromosikan dan merefleksikan gerakan yang telah dilakukan oleh para GUSDURian yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Indonesia yang tergabung dalam jaringan GUSDURian. Festival ini berupa community space (ruang bazar dan pameran gerakan), learning space (ruang untuk berbagi berbagai pengetahuan, skill para penggerak GUSDURian, lembaga dan jejaring GUSDURian, yang diperuntukkan untuk peserta TUNAS GUSDURian dan khalayak umum.

Penutupan dan Gusdurian Awards

Dalam acara penutupan dibacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Alissa mengatakan bahwa adanya para dosen yang merupakan akademisi mau mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur tentunya mereka mau menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus yang nantinya akan mereka sampaikan kepada para mahasiswa. Alissa juga berharap perguruan tinggi lain juga mau mengikuti jejak UIN Gus Dur dalam menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus.

Gus Dur Center UIN Pekalongan Ikuti Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian 2025 di Jakarta

Sebagai upaya membangun jejaring Gusdurian, Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berpartisipasi dalam acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari, yaitu tanggal 29-31 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Para Dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam jaringan Gusdurian UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan tersebut mulai dari konferensi pemikiran Gus Dur, Forum gerakan dan festival gerakan.

Ade Gunawan, sebagai salah satu dosen penggerak Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengatakan bahwa kegiatan TUNAS Gusdurian merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk membangun jejaring Gusdurian dan sebagai media untuk belajar dalam mengembangkan kualitas dan mutu dari Gusdurian yang ada di UIN Gus Dur.

Kegiatan TUNAS Gusdurian menjadi gerbang awal bagi Gus Dur Center UIN Gus Dur untuk bisa berdiri tegak dan maju sebagaimana Gusdurian yang lain. Apalagi kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari komunitas Gusdurian, akademisi, tokoh lintas agama dan kepercayaan, individu, dan juga masyarakat sipil.

Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa, selaku Direktur Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa TUNAS Gusdurian ini merupakan wadah bagi siapa saja yang mau meneladani Gus Dur dan Pemikirannya. Melalui forum ini, diharapkan semua kalangan mampu menjaga dan meneladani apa yang sudah digagas oleh Gus Dur.

Acara TUNAS Gusdurian dihadiri dan diisi oleh para tokoh penting negeri ini seperti Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Mahfud MD mengatakan bahwa “Gus Dur pernah bilang, kekuasaan itu bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Gus Dur tidak pernah mengorbankan rakyat demi mempertahankan jabatan”.

Ia juga menjelaskan bahwa demokrasi tanpa hukum akan melahirkan anarki karena aturan kehilangan daya ikatnya. Sebaliknya, hukum tanpa demokrasi hanya akan memperkuat kesewenang-wenangan penguasa.

Dalam acara penutupan TUNAS Gusdurian, Alissa membacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ia berharap supaya seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini dapat menjaga apa yang sudah diwariskan oleh Gus Dur dan melanjutkan pemikirannya.

 

Editor: Fajri Muarrikh

 

Gus Dur Center for Humanitarian Studies Persembahkan Buku Islam Garis Jenaka pada Acara Tunas Gusdurian 2025

Jakarta | Kehadiran buku Islam Garis Jenaka dalam gelaran Temu Nasional (TUNAS) Jaringan Gusdurian 2025 (31/08/2025) menjadi penanda penting bagi lahirnya kesadaran akademik untuk merawat dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Buku ini merupakan karya kolektif dosen-dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) yang sebelumnya mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang merupakan sekolah pemikiran pertama di Indonesia yang secara khusus diikuti para akademisi.

Kesadaran akademik tersebut lahir sebagai amanah: bahwa UIN Gus Dur sebagai kampus yang mengusung nama besar Gus Dur harus mampu menjaga, merawat, dan menghidupkan pemikiran serta perjuangannya di ranah pendidikan tinggi. Persembahan buku ini menjadi wujud konkret komitmen tersebut.

Proses lahirnya Islam Garis Jenaka tidaklah singkat. Ia berawal dari pendalaman intensif terhadap gagasan dan pemikiran Gus Dur yang didampingi langsung oleh tim dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian: Jay Akhmad, Aulia Abdurrahman Saleh (Leak), Sarjoko, serta Marzuki Wahid sebagai salah satu murid sekaligus senior intelektual Gus Dur. Setelah tahap pendalaman, proses penulisan buku ini didampingi oleh para mentor sekaligus penulis berpengalaman di media online nasional dan internasional, seperti Muhammad Pandu, Supriansyah, Autad Nasir, dan Suhairi.

Sampul buku "Islam Garis Jenaka"

Koordinator Sekolah Pemikiran Gus Dur, Dewi Anggraeni, menegaskan bahwa karya ini hadir bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kesungguhan dan semangat para dosen UIN Gus Dur. “Ada spirit besar dari para dosen untuk mengejawantahkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur di dunia kampus. Semangat itulah yang menjadikan karya ini bukan sekadar buku, tetapi juga bentuk nyata dedikasi akademisi dalam merawat warisan intelektual Gus Dur,” ungkapnya.

Buku ini kemudian mendapat pengantar dari Rektor UIN Gus Dur yang menegaskan bahwa sosok Gus Dur tidak hanya diperbincangkan, tetapi juga dituliskan. “Tulisan-tulisan tentangnya menjadi jembatan untuk menghidupkan dan menginternalisasikan pemikiran serta perjuangannya. Dari goresan tinta lahir gagasan-gagasan yang menembus batas ruang dan waktu, kemudian membentuk kesadaran kolektif yang terus diwariskan lintas generasi,” ungkap Rektor.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Nur Kholis, menambahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang melampaui zamannya. “Gus Dur adalah simbol kemerdekaan sekaligus keterhubungan. Lampauan yang dilakukan Gus Dur memerdekakan dirinya, sekaligus memberinya super connectivity yang mampu menjangkau lintas batas”, jelasnya.

Sebagai penutup, Maghfur menulis epilog yang menggarisbawahi peran humor dalam kepemimpinan Gus Dur. “Di tangan Gus Dur, humor menjadi instrumen kontrol politik, sarana menarik massa, sekaligus jalur diplomasi tingkat tinggi. Humor juga menjadi pintu masuk kajian Islam yang diharapkan dapat melahirkan pemikiran, pemahaman, dan tindakan keagamaan yang ramah, santai, menyegarkan, dan kerap tak terduga.”

Hadirnya buku Islam Garis Jenaka di Tunas Gusdurian 2025 adalah sumbangsih dosen-dosen UIN Gus Dur dalam menghidupkan nilai-nilai Gus Dur di dunia akademik yang menjadi inspirasi bahwa pemikiran Gus Dur tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus dikaji, ditulis, dan diwariskan sebagai nafas dalam pengetahuan lintas generasi.

 

Penulis : Dewi Anggraeni

Editor: Fajri Muarrikh