Pewarta: Ristian Al Qodri, editor: Nafis Mahrusah
Belitung (2/12/2025) — Masyarakat Belitung kembali menggelar tradisi Maras Tahun, sebuah ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta penguatan silaturahmi antarwarga. Tradisi ini menjadi simbol harmonisasi yang erat antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Melayu Belitung yang hingga kini tetap terjaga.
Maras Tahun biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun pada bulan tertentu yang telah disepakati bersama oleh masyarakat adat dan momentum ini menjadi ajang berkumpulnya warga dari berbagai kalangan untuk memanjatkan doa bersama. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan doa selamat, yasinan, dan tahlilan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa-doa tersebut menjadi inti utama dari prosesi Maras Tahun, menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman menjadi pondasi penting dalam setiap tahapan tradisi.
Selain doa bersama, masyarakat juga menyiapkan dulangan, yakni hidangan makanan khas yang terdiri atas ketupat, lepat, serta berbagai lauk tradisional. Hidangan ini kemudian disantap bersama-sama oleh warga. Bagi masyarakat Belitung, dulangan tidak sekadar sajian kuliner, melainkan simbol kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur kepada Allah Swt. atas limpahan rezeki dan keselamatan selama satu tahun terakhir.
Baca juga: Bolehkah Ruang Shalat Menampilkan Simbol Bernuansa Setan?
Bagi masyarakat setempat, Maras Tahun dimaknai sebagai tradisi untuk memohon kebersihan diri dan keselamatan desa secara spiritual. Tradisi ini mengajarkan pentingnya bersyukur, menjaga keharmonisan hubungan antarwarga, serta tetap memuliakan ajaran Islam melalui praktik budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Dengan demikian, nilai religius dan sosial berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Di sisi lain, Maras Tahun juga memiliki nilai budaya yang kuat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Belitung mampu menjaga identitas lokalnya di tengah arus modernisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Pemerintah daerah pun terus mendorong pelestarian Maras Tahun sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.
Melalui pelestarian Maras Tahun, masyarakat Belitung tidak hanya mempertahankan sebuah ritual tahunan, tetapi juga merawat nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter kolektif mereka: religius, rukun, dan menjunjung tinggi adat serta ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Jejak Minyak, Data, dan Amanah: Peran Analitik dalam Mengungkap Modus Korupsi Pertamina
