Gus Dur Center for Humanitarian Studies Persembahkan Buku Islam Garis Jenaka pada Acara Tunas Gusdurian 2025

Jakarta | Kehadiran buku Islam Garis Jenaka dalam gelaran Temu Nasional (TUNAS) Jaringan Gusdurian 2025 (31/08/2025) menjadi penanda penting bagi lahirnya kesadaran akademik untuk merawat dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Buku ini merupakan karya kolektif dosen-dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) yang sebelumnya mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang merupakan sekolah pemikiran pertama di Indonesia yang secara khusus diikuti para akademisi.

Kesadaran akademik tersebut lahir sebagai amanah: bahwa UIN Gus Dur sebagai kampus yang mengusung nama besar Gus Dur harus mampu menjaga, merawat, dan menghidupkan pemikiran serta perjuangannya di ranah pendidikan tinggi. Persembahan buku ini menjadi wujud konkret komitmen tersebut.

Proses lahirnya Islam Garis Jenaka tidaklah singkat. Ia berawal dari pendalaman intensif terhadap gagasan dan pemikiran Gus Dur yang didampingi langsung oleh tim dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian: Jay Akhmad, Aulia Abdurrahman Saleh (Leak), Sarjoko, serta Marzuki Wahid sebagai salah satu murid sekaligus senior intelektual Gus Dur. Setelah tahap pendalaman, proses penulisan buku ini didampingi oleh para mentor sekaligus penulis berpengalaman di media online nasional dan internasional, seperti Muhammad Pandu, Supriansyah, Autad Nasir, dan Suhairi.

Sampul buku "Islam Garis Jenaka"

Koordinator Sekolah Pemikiran Gus Dur, Dewi Anggraeni, menegaskan bahwa karya ini hadir bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kesungguhan dan semangat para dosen UIN Gus Dur. “Ada spirit besar dari para dosen untuk mengejawantahkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur di dunia kampus. Semangat itulah yang menjadikan karya ini bukan sekadar buku, tetapi juga bentuk nyata dedikasi akademisi dalam merawat warisan intelektual Gus Dur,” ungkapnya.

Buku ini kemudian mendapat pengantar dari Rektor UIN Gus Dur yang menegaskan bahwa sosok Gus Dur tidak hanya diperbincangkan, tetapi juga dituliskan. “Tulisan-tulisan tentangnya menjadi jembatan untuk menghidupkan dan menginternalisasikan pemikiran serta perjuangannya. Dari goresan tinta lahir gagasan-gagasan yang menembus batas ruang dan waktu, kemudian membentuk kesadaran kolektif yang terus diwariskan lintas generasi,” ungkap Rektor.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Nur Kholis, menambahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang melampaui zamannya. “Gus Dur adalah simbol kemerdekaan sekaligus keterhubungan. Lampauan yang dilakukan Gus Dur memerdekakan dirinya, sekaligus memberinya super connectivity yang mampu menjangkau lintas batas”, jelasnya.

Sebagai penutup, Maghfur menulis epilog yang menggarisbawahi peran humor dalam kepemimpinan Gus Dur. “Di tangan Gus Dur, humor menjadi instrumen kontrol politik, sarana menarik massa, sekaligus jalur diplomasi tingkat tinggi. Humor juga menjadi pintu masuk kajian Islam yang diharapkan dapat melahirkan pemikiran, pemahaman, dan tindakan keagamaan yang ramah, santai, menyegarkan, dan kerap tak terduga.”

Hadirnya buku Islam Garis Jenaka di Tunas Gusdurian 2025 adalah sumbangsih dosen-dosen UIN Gus Dur dalam menghidupkan nilai-nilai Gus Dur di dunia akademik yang menjadi inspirasi bahwa pemikiran Gus Dur tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus dikaji, ditulis, dan diwariskan sebagai nafas dalam pengetahuan lintas generasi.

 

Penulis : Dewi Anggraeni

Editor: Fajri Muarrikh