Suronan: Memelihara Tradisi dan Kebudayaan dalam Kearifan Lokal Jawa

Penulis : Nisfatul Lailiyah, Editor : Windi Tia Utami

Indonesia sebagai surga adat menyimpan banyak adat istiadat yang menarik untuk dibahas, salah satunya adalah Suronan. Suronan menjadi tradisi turun temurun yang sering ditemukan di pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Suronan merupakan tradisi untuk merayakan 10 Muharram menurut penanggalan Jawa. Setiap tahunnya masyarakat Jawa selalu melaksanakan tradisi 1 suro dengan harapan agar tradisi ini tidak punah dan terus bisa dinikmati anak cucu.

Suronan sudah menjadi adat istiadat yang ditidak bisa ditinggalkan. Istilah suro berasal dari kata Asyura yang berarti kesepuluh, maksudnya tanggal 10 bulan Muharram. Masyarakat Pekalongan bagian pesisir memiliki kepercayaan untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan suro. Biasanya masyarakat pesisir akan melakukan mandi taubat dilaut atau dipantai sebagai salah satu bentuk untuk menyucikan diri.

  Selain mandi taubat, masyarakat biasanya membuat selametan atau syukuran berupa bubur abang putih (merah putih) yang kemudian bubur ini dibagikan pada orang sekitar. Adanya tradisi membagikan bubur ini berasal dari kisah para nabi terdahulu yang banyak diselamatkan pada bulan muharram atau suro. Salah satu nabi yang diselamatkan yaitu nabi Nuh as. Setelah diselamatkan pada saat itu, nabi Nuh membuat syukuran berupa makanan yang terbuat dari campuran biji-bijan. Tradisi ini menjadi kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur.

Tradisi lain yang ramai dilakukan saat suronan adalan santunan kepada anak yatim. Sehingga, Suronan juga banyak dikenal dengan sebutan lebaran anak yatim. Semua orang berbondong-bondong melakukan santunan kepada anak yatim baik secara individu maupun berkelompok. Mereka akan menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki untuk diberikan kepada anak yatim.

Selain itu, Ketika Suronan juga terdapat adat atau kebiasaan untuk tidak keluar rumah saat rabu pungkasan. Rabu pungkasan adalah hari rabu terakhir dibulan suro. Saat rabu pungkasan masyarakat tidak dianjurkan untuk keluar rumah dari setelah ashar pada selasa sampai hari rabu setelah ashar. Dalam Islam juga diyakini bahwa saat rabu pungkasan akan diturunkan ribuan balak (musibah), sehingga kita tidak dianjurkan keluar dari rumah jika tidak ada keperluan yang penting sebagai salah satu usaha untuk menolak balak

Banyak sekali warisan tradisi saat suronan yang masih terus diperingati oleh masyarakat daerah jawa khususnya. Dengan segala mitos dan kepercayaan didaerah masing-masing tradisi suronan masih bisa kita temui setiap tahunnya. 

Islam Rahmatan Lil Alamin: Mengembangkan Kesetaraan dan Toleransi dalam Agama

Penulis:Karimul Wafa, Editor: Kharisma Shafrani

لْحَمْدُ للهِ، اَلَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدىْ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ

كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Sidang Jumat yang dirohmati dan dimulyakan allah SWT.

Pertama tama marilah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.

Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin amin ya robbal alamin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selalu dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya Amin yarobbal alamin..

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian dan kasih sayang, menjunjung tinggi sifat tolong-menolong, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derajat), tenggang rasa, kebersamaan, demokratis, keadilan, toleransi, dan seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Sebaliknya tentu Islam melarang segala bentuk kekerasan dan sikap yang berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إيَّاكُمْ وَالْغُلُوّ فى الدِّيْنِ فَاِنَّما أهْلَكَ مَنْ كانَ قَبْلَكُمْ باالْغُلُوِّ فى الدِّيْنِ

“Hindarilah oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw) dalam beragama sebab sungguh ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Di antara bentuk sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan segala bentuknya yang menyelisihi syariat. Padahal sangat banyak dapat kita temukan dalam Al-Qur’an, yang di dalamnya mengajarkan konsep perdamaian. Seperti Firman Allah SWT:

وَما اَرْسَلْنَاكَ إلاّ رَحْمَةً للْعَالَمِيْنَ

‘’Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.’’ (QS Al-Anbiya’: 107)

lslam merupakan agama yang universal, ajarannya mengedepankan kasih sayang, kebaikan kepada seluruh alam semesta. Nabi telah bersabda:

الرَّاحِمونَ يَرْحَمُهُمُ الرحْمَان ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمكُمْ مَنْ فِي السَّماء

“Orang-orang yang berbuat kasih sayang akan disayang oleh ‘Ar-Rahman’ (Yang Maha Penyayang), maka sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi ini niscaya engkau akan disayang oleh yang ada di atas langit.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dengan demikian, konsep islam itu mengandung inti dari moderasi beragama, dengan kata lain agama islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi dan sifat qonaah sehingga islam dapat selalu menerima perbedaan-perbedaan yang ada didalamnya, karna agama islam adalah agama rahmatan lilalamin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Contoh dimana suatu desa yang menerapkan konsep moderasi beragama dipekalongan salah satunya adalah Linggo Asri, desa yang memiliki 4 agama didalamnya, antara lain: Islam, Kristen, Budha, Hindu. warga Linggo Asri juga memaknai moderasi beragama sebagai keyakinan yang menerima perbedaannya masing-masing, karna itu warga linggo asri selalu hidup aman, tentram, rukun, nyaman, dan gotong royong dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas desanya. Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan semoga dapat diambil point-point pentingnya, amin amin ya robbal alaminalamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ، أَشْهدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ، وأَشْهَدُ أَنَّ  سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنَا محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَا اتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ

أَمَّا بَعْدُ: فيَآ أَيُّهاالنّاسُ، اتَّقُوا اللهَ  حق تقاته ولاتموتن اِلا وانتم مسلمون. اَللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرُ

Harmoni Ramadhan dalam Talkshow Lintas Agama Memperkuat Persaudaraan Antar Umat Beragama

Pewarta: Sirli Amry, Editor: Amarul Hakim

Pekalongan, 18 Maret 2024 – Dewan Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Gus Dur Pekalongan adakan Talkshow Lintas Agama untuk perkuat wawasan moderasi beragama serta persaudaraan antar umat beragama. Talkshow yang mengangkat tema “Mainstreaming Moderasi Beragama dalam Dinamika Kebangsaan” bertempat di Gedung FUAD Lt. 2, Minggu (17/03).

Talkshow Lintas Agama ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang keagamaan yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Narasumber tersebut diantaranya, Syamsul Bakhri, S. Pd., M. Sos (Ketua Umum Braindilog Sosilogi Indonesia), Dwi Argo M., M. Si (Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan), Kusnaeni, S. Pd., S. Sos (Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kab. Pekalongan).

Dalam talkshow tersebut, Kusnaeni menuturkan bahwa moderasi adalah sikap tidak ekstrem ke kanan dan tidak pula ekstrem kekiri yang artinya adalah tidak berlebihan dalam beragama karena sikap terlalu ekstrem dapat memicu perpecahan. Menurutnya, moderasi beragama adalah tentang praktek bagaimana cara kita menghargai perbedaan agama seperti yang ada di Linggoasri, dimana di daerah tersebut terdiri dari berbagai agama yang berbeda namun tetap rukun.

Sejalan dengan Kusnaeni, Dwi Argo juga menyatakan bahwasannya sikap moderasi beragama atau moderat ini tidak hanya perlu kita terapkan antar umat beragama tapi juga relasi antar manusia yang sesama agama. Dirinya menekankan pada pentingnya memilki kepekaan serta mampu untuk menempatkan diri untuk tidak ekstrem ke kanan ataupu  ke kiri. Menurutnya, sikap moderat adalah sikap yang paling pas diterapkan dalam konteks kebangsaan.

Dalam dialog yang harmonis ini, Syamsul Bakhri, Ketua Umum Brandilog Sosilogi Indonesia menyampaikan pesan kepada para peserta supaya ikut berperan aktif menjadi pelopor semangat moderasi beragama. Mulai dari diri sendiri terlebih dahulu, tanamkan sikap moderat dalam beragama. Kemudian langkah yang bisa kita lakukan sebagai pemuda di era digital ini adalah dengan menyebarluaskan prinsip moderasi beragama dengan cara One day one konten, membuat konten moderasi beragama yang menarik. Selain itu, kita juga harus memahami apa itu agama dengan berguru kepada seorang ahlinya, ulama, bukan hanya dengan melihat cuplikan di konten media sosial.

Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan juga menyampaikan bahwa peran mahasiswa salah satunya adalah dengan memperdalam literasi baik itu membaca buku maupun literasi digital. Kusnaeni menambahkan peran yang bisa dilakukan seorang mahasiswa untuk menggalakkan sikap moderasi beragama adalah dengan mengasihi sesama terlepas dari segala bentuk perbedaan.

Farah Maulida, selaku ketua pelaksana menyampaikan bahwa saat ini, isu terkait moderasi beragama marak dibicarakan didunia nyata maupun dunia maya. Apalagi di Indonesia yang memang terkenal dengan keberagaman agamanya. Maka, dengan dihadirkannya talkshow lintas agama ini, harapannya peserta bisa memahami sekaligus mempraktekkan prinsip daripada moderasi beragama dalam bingkai kebangsaan. Hal ini dia sampaikan dalam wawancara setelah talkshow berlangsung,

”Moderasi beragama ini marak dibicarakan si Mba, baik itu di medsos ataupun di dunia nyata. Dengan adanya talkshow ini harapannya mahasiswa itu bisa mempraktekkan sikap toleransi dan moderat dalam dinamika kebangsaan. Selain itu, para peserta akan kita minta untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) berupa pembuatan video ataupun essay terkait moderasi beragama.” ujarnya.

Dengan kehadiran ketiga narasumber dengan latar agama yang berbeda, diharapkan mampu mencontohkan betapa indahnya keberagaman dan pentingnya memilki sikap moderat terlebih dalam hal moderasi beragama.

Ramadhan di Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Waktu Refleksi dan Integrasi

Penulis: Agus Arwani, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Ramadhan merupakan bulan suci umat Islam yang membawa suasana spiritual yang mendalam dan berkesan, khususnya dalam lingkungan kampus. Kehadiran kampus dan peranannya dalam bulan Ramadhan dapat dimanfaatkan menjadi ruang bagi pertumbuhan personal dan pemahaman lintas budaya. Sehingga, selain menjadi tempat pembelajaran akademis, kedatangan bulan Ramadhan dalam keseharian civitas akademika kampus turut berperan dalam mempromosikan keberagaman dan kesadaran spiritual. Hal ini nampaknya telah diterapkan di kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menuntut pemahaman tentang bagaimana institusi tersebut menyatukan nilai-nilai Islam (Islamic values) dengan pendidikan modern. Sebagai Universitas Islam Negeri, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tidak hanya menyediakan pendidikan akademik yang berkualitas (quality education), tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan (religious values) dan kebudayaan Islam dalam kegiatan sehari-hari, termasuk selama bulan Ramadhan.

Nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui tiga hal. Pertama, sebagai kampus dengan mahasiswa yang mayoritas Muslim, mereka mendapatkan kesempatan unik untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana pendidikan spiritual dan sosial. Di bulan suci ini, aktivitas akademik dan keagamaan berjalan beriringan, menciptakan keseimbangan antara pencarian ilmu duniawi dan ukhrawi. Beberapa perwujudannya ialah melalui pengajaran dan praktik ibadah seperti sholat tarawih bersama, tadarus Al-Quran, dan pengajian ramadhan guna meningkatkan suasana keberkahan dan kebersamaan di kampus.

Kedua, Ramadhan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berfungsi sebagai platform untuk memperkuat jaringan sosial (social networking) dan dukungan antar mahasiswa. Kegiatan berbuka puasa bersama, baik yang diselenggarakan oleh universitas atau inisiatif mahasiswa, membantu membentuk komunitas yang erat. Melalui kegiatan-kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan dukungan emosional.

Ketiga, selain kegiatan-kegiatan sosial tersebut, di bulan Ramadhan ini pihak kampus membuka kesempatan untuk diadakannya sebuah dialog dan pemahaman lintas budaya. Kegiatan dialog atau diskusi tersebut didasarkan atas adanya keberagaman dalam hal praktik keagamaan, latar belakang etnis, serta perspektif keislaman dari setiap mahasiswa. Hal tersebut tentu dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pemahaman keislaman serta rasa toleransi antar mahasiswa. Melalui kegiatan seperti seminar dan diskusi tentang Islam dan praktik Ramadhan bisa menjadi sumber informasi bagi mahasiswa non-Muslim dan sarana pertukaran budaya bagi semua.

Ramadhan memberi kesempatan bagi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan untuk mengekspresikan komitmennya pada keberlanjutan (development) dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti pengumpulan dan distribusi zakat fitrah dan kegiatan amal lainnya tidak hanya mendukung mereka yang membutuhkan di dalam dan di luar kampus, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial (social values) dan kepedulian dalam diri mahasiswa.

Namun demikian, untuk dapat memanfaatkan kesempatan ini bukanlah suatu hal yang mudah. Ada beberapa tantangan yang muncul, seperti menyesuaikan jadwal kuliah dengan waktu ibadah dan berbuka puasa. Ini membutuhkan fleksibilitas dan pengertian dari pihak universitas serta upaya proaktif untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung bagi mahasiswa yang menjalankan ibadah puasa. Dan kegiatan-kegiatan lainya yang juga harus menyesuaikan jadwal perkuliahan.

Sehingga di bulan Ramadhan ini, kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dapat menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi Islam dapat menyelaraskan nilai keagamaan dengan kebutuhan pendidikan modern. Hal ini menunjukkan bagaimana institusi dapat menggunakan waktu khusus ini untuk mengajarkan nilai-nilai penting seperti solidaritas, empati, dan toleransi, serta mendukung pengembangan pribadi dan spiritual mahasiswa. Sebab, bukan hanya tentang tradisi atau ritual keagamaan saja, tetapi membangun karakter, masyarakat, dan persiapan untuk kehidupan di dunia yang serba cepat dan multikultural juga merupakan suatu hal yang penting untuk di wujudkan. Dengan demikian, bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi sebuah kesempatan yang tak ternilai bagi civitas akademika (dosen dan mahasiswa)  dan pegawai kampus untuk terlibat dalam dialog, memahami perbedaan, dan membangun lingkungan yang inklusif dan harmonis.

Mengatasi Trauma Masa Lalu: Pentingnya Perawatan Mental dan Fisik

Penulis: Mufidatul ‘Ulya, Editor: Muhamad Nurul Fajri

Kesehatan mental dan kesehatan fisik menjadi dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menjaga kedua kondisi ini tetap dalam keadaan optimal, misalnya dengan rutin berolahraga atau mengelola stres dengan baik. Berbagai gangguan kesehatan mental, nyatanya dapat terjadi akibat kondisi stres yang tidak dapat diatasi dengan baik, salah satunya adalah gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merupakan kondisi dimana pengidapnya memiliki pola pikir dan juga perilaku yang tidak sehat serta berbeda dengan kebanyakan orang lain. Gangguan ini termasuk dalam kategori penyakit mental, sehingga menyebabkan pengidapnya akan kesulitan dalam berinteraksi dengan sosial. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kepribadian?

Mulai dari trauma hingga adanya gangguan pada otak. Umumnya, gejala gangguan kepribadian akan sering dialami oleh para remaja hingga orang-orang yang baru saja memasuki usia dewasa. Pengidap gangguan kepribadian biasanya akan mengalami kesulitan untuk membangun hubungan sosial, membuat interaksi dengan banyak orang, sering memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, hingga mengalami gangguan kecemasan.

Lalu, apa yang menyebabkan seseorang alami gangguan kepribadian? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang alami kondisi ini, misalnya adanya riwayat keluarga dengan kondisi gangguan ini, sehingga kamu akan rentan mengalami hal yang serupa. Tidak hanya itu, kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko seseorang alami gangguan kepribadian.

Trauma masa lalu adalah pengalaman emosional, yaitu ketidakmampuan seseorang, untuk melepaskan diri dari memori negatif di masa lalu. Umumnya, trauma masa lalu terjadi karena sejumlah kejadian yang tidak menyenangkan. Contohnya, yaitu masa kecil yang tidak bahagia, kecelakaan, kematian anggota keluarga, hingga mengalami perundungan dari orang lain.

Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental, fisik, dan emosional. Apalagi jika hal-hal tertentu membuat seseorang merasa terpicu akan trauma masa lalunya. Akibatnya, seseorang yang memiliki trauma masa lalu dapat mengalami syok, sedih, panik, sebagai respons dari pikirannya. Kondisi ini memang tidak dapat disepelekan, dan perlu segera mendapatkan penanganan.

Tips yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi trauma masa lalu:
1. Menceritakannya kepada orang terdekat. tips pertama, yaitu menceritakan trauma masa lalu kepada orang terdekat ketika sudah siap.

2. Hadapi perasaanmu, menghindari pemicu atau ingatan tentang peristiwa traumatis di masa lalu dengan tidur sepanjang waktu, mengisolasi diri, memang hal yang wajar. Kendati demikian, hal ini tidak dapat dilakukan secara terus-menerus. Sebab, semakin lama seseorang menghindar, hal ini dapat memperpanjang stres dan membuat seseorang tak kunjung pulih. Karena itu, secara bertahap, hadapilah perasaan yang dimiliki. Selain itu, cobalah untuk kembali ke rutinitas normal secara bertahap, dan meminta dukungan orang terdekat, atau psikolog.

3. Bersabar, tips selanjutnya yang perlu kamu terapkan adalah bersabar. Ingatlah bahwa memiliki reaksi atau respon keras terhadap peristiwa traumatis sangatlah normal. Namun, kamu juga perlu menghadapinya agar hal tersebut tidak membuatmu terpuruk. Lakukan secara perlahan, meskipun memang tidak mudah. Artinya, kamu perlu bersabar dan berdamai dengan diri sendiri, karena seiring waktu keadaanmu akan membaik. Untuk melakukannya, hal pertama adalah mengidentifikasi teman atau anggota keluarga yang dapat kamu percaya, untuk mencari dukungan. Ketika sudah merasa siap untuk menceritakannya, kamu bisa memberitahu pengalaman dan perasaanmu terkait trauma. Selain menceritakan, kamu juga dapat mencari dukungan kepada orang terdekat untuk membantu menyelesaikan kewajiban atau tugas rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stres yang timbul. Trauma juga bisa datang akibat kekerasan dalam rumah tangga dalam usia terlalu dini.

4. Menerapkan perawatan diri, Cara ini membantu mengurangi tingkat stres, sehingga perlu dapat membantu pemulihan dari trauma masa lalu. Nah, perawatan diri dapat diterapkan melalui hal-hal yang terasa baik dan mencintai diri sendiri. Contohnya, yaitu melakukan ‘me time’, mandi lebih lama, hingga melakukan berbagai kegiatan positif yang kamu sukai, seperti membaca buku atau menonton film.

Tradisi Tutupan: Fenomena Sosial dan Keagamaan di Pekalongan Menjelang Ramadhan

Penulis: Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Editor: Nanang

Di Pekalongan, banyak tradisi yang populer menjelang datangnya bulan Ramadhan,  salah satunya adalah Tutupan. Istilah  tutupan sering digunakan oleh masyarakat untuk mengakhiri kegiatan-kegiatan rutin yang terkait dengan tradisi yang berkembang dalam bidang sosial keagamaan. Misalnya dilakukan oleh kelompok tahlilan, majelis taklim, marhabanan, diba’an, duraran, serta berbagai macam arisan yang melibatkan komunitas tertentu.

Sebagai sebuah fenomena yang telah turun temurun, tradisi tutupan biasanya menyangkut kegiatan-kegiatan yang berlaku pada  komunitas yang bersifat seremonial dan komunal.  Rutinitas yang melibatkan berbagai latar belakang anggota masyarakat  tersebut menggunakan acuan tahunan, dan  biasanya dimulai dari bulan Syawal hingga bulan Syakban. Begitu masuk pada bulan Sya’ban, terutama setelah Nisfu Syakban, ajakan para anggota untuk mengadakan tutupan mulai bermunculan. Tradisi tutupan ada yang bersifat spontan dan ada yang bersifat terrencana.

Fenomena tutupan juga dilakukan pada satuan pendidikan non formal keagamaan seperti pendidikan Taman Pendidikan Al-Quran, Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pondok Pesantren Salafiyah dan lainnya. Agak berbeda dengan komunitas umum, bentuk tutupan di lingkungan pendidikan non formal keagamaan  lebih bersifat terencana dengan matang. Meskipun begitu, masih tetap bersifat seremonial seperti wisuda, akhirussanah dan lainnya. Berbagai kegiatan tersebut biasanya dirangkai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa spiritual dan seni.  Nuansa spiritual terlihat dari pembacaan zikir seperti pembacaan rotib, Yasin, Tahlil, Simtuddurar, ziyarah dan lainnya. Nuansa kesenian juga cukup menonjol seperti pagelaran musik rebana, music tradisonal, gambusan, drumb band, karnaval dan lainnya, tergantung kesepakatan yang diambil dengan mempertimbangan kondisi keuangan komunitas satun pendidikan.

Apa saja bentuk tutupan yang bersifat spontan? Biasanya, model ini dilakukan oleh komunitas kecil, atau kelompok tertentu dari berbagai usia dan pertemanan. Bentuknya dapat berupa rekreasi di suatu destiansi wisata dalam kota atau luar kota, kegiatan kumpul bareng  dan sejenisanya. Kebiasaan yang biasa disepakti pada saat tutupan berupa ngobrol, bercengkerama, menikmati makan-makan dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Selain melepas kangen dan mempererat pertemanan, tutupan dalam komunitas ini cenderung untuk semakin memantapkan semangat keakraban bersama relasinya.

Terlepas dengan jenis yang spontan atau terencana, tradisi tutupan bukan berarti menutup semua kegiatan tersebut selamanya, dan tidak akan ada lagi kegiatan tersebut. Tutupan ini bersifat sementara, karena akan fokus menjalani ibadah di bulan ramadlan. Oleh karena itu, tutupan tidak bersifat permanen dan akan dilanjutkan lagi setelah Syawalan selesai, tergantung kesepakatan anggota komunitasnya. Dalam menentukan tutupan, ada proses pengambilan keputusan bersama yang mengikat anggota komunitas secara kekeluargaan.

Berbeda dengan tradisi tutupan yang cenderung ceremonial dan komunal, ada sebagian anggota masyarakat yang memaknai tutupan dengan nuansa religius. Melalui tutupan, masyarakat diharapkan mengakhiri bulan Syakban dengan menutup rapat kebiasaan buruk yang biasa dilakukan. Menjelang bulan Ramadlan, segala bentuk perbuatan negatif ditutup, diganti dengan perbuatan yang bermanfaat. Misalnya menutup dan meninggalkan beragam kemaksiatan maupun kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang lain. Dimensi ini  diartikan sebagai upaya menutup jiwa dan raga dari berbagai godaan setan yang mengarah pada tindakan destruktif, sehingga secara batiniyah sudah siap memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih. Melalui hati yang bersih, masyarakat dapat menyiapkan suasana ibadah Ramadan dengan khusuk.

Dengan demikian, istilah tutupan di Pekalongan merupakan tradisi lokal yang memiliki orientasi beragam, tergantung komunitas yang mengadakannya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak praktek lokal wisdom yang berkembang di Pekalongan dan bisa jadi memiliki arti yang berbeda jika diterapkan di daerah lain.  Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya yang dapat menjadi praktek pendidikan karakter publik, tergantung jenis kegiatan tutupan yang dipilihnya. Sepanjang  pengetahuan saya, fenomena tutupan ini merupakan tradisi yang memiliki dampak positif bagi perkembangan komunitas lokal. Eksistensinya semakin menarik untuk dijadikan bahan kajian pengembangan budaya lokal yang dapat diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. WAllahu a’lam bi sh-shawab.

Antropologi Agama: Dinamika Universalitas Islam dan Budaya Lokal dalam Masyarakat Desa Linggoasri

Penulis: M. Irham Amaluddin, Editor: Lulu Salsabilah, Amarul Hakim

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal. Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian, pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam. Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad secara garis besar berbudaya Arab, sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun. Dalam budaya masyarakat secara turun- temurun dapat dipegang teguh dari generasi ke generasi dan meliputi segala aspek kehidupan yang mengakibatkan seluruh perilaku individu sangat dibatasi oleh budaya itu tersebut.

Adat dipandang sebagai karya leluhur, yang senantiasa dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat sebagai warisan. Sehingga adat istiadat yang berhadapan dengan ajaran agama, akan terjadi saling mempengaruhi satu sama lain. Maka, tidak mengherankan jika keduanya bersentuhan dan saling mencoba mencari pengaruh dan kewenangan. Akibatnya, ada ajaran agama yang dikurangi atau ditambah, selain itu juga dapat dihilangkan sama sekali dari ajaran yang semestinya. Hal ini biasa disebut sebagai  ilmu antropologi dengan istilah akulturasi, secara teoretis akulturasi merupakan proses percampuran dua kebudayaan atau lebih, saling bertemu dan saling mempengaruhi. 

Kebudayaan yang kuat dan menonjol dapat mempengaruhi kebudayaan yang lemah dan belum berkembang, dan akulturasi dapat terjadi apabila terdapat kesetaraan relatif antara kedua kebudayaan tersebut. Namun, akulturasi tidak selalu merupakan dampak dari budaya yang kuat terhadap budaya yang lebih lemah. Hal ini bergantung pada sifat interaksi antara dua budaya, yaitu sejauh mana anggota masyarakat dapat memaksa anggota masyarakat lain untuk berintegrasi secara budaya. Ketika sekelompok orang dari satu budaya dihadapkan pada aspek-aspek budaya asing, mereka secara bertahap menyerap karakteristik tersebut ke dalam budaya mereka sendiri tanpa kehilangan identitas budaya mereka sendiri. Proses ini dikenal dengan istilah akulturasi.

Adat menghormati dan mendukung satu sama lain pada perayaan hari raya seperti hari raya Hindu Nyepi dan Melasti, serta perayaan umat Islam tanggal 10 Muharram merupakan salah satu adat istiadat yang dilaksanakan di Desa Linggoasri. Selain itu, meski berbeda keyakinan agama, masyarakat Desa Linggoasri akan saling mendukung dalam acara pernikahan masyarakat itu sendiri. dan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya lokal adalah nilai-nilai yang dipupuk oleh masyarakat di suatu daerah dan terbentuk  secara alamiah dari waktu ke waktu melalui pembelajaran. Budaya lokal juga dapat berubah seni, adat istiadat, tradisi, dan hukum adat semuanya dapat berkontribusi pada pembentukan budaya suatu masyarakat.

Isra Mi’raj: Bentuk Keistimewaan Turunnya Perintah Shalat

Penulis: Aisyah Nurul Aini ,Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Dewasa ini semakin banyak orang muslim yang mulai meninggalkan kewajiban mereka dalam melakukan ibadah shalat. Padahal ibadah shalat yang diwajibkan sebanyak lima waktu dalam sehari ini merupakan ibadah yang memiliki banyak keistimewaan. Diantara keistimewaan shalat yaitu dapat dilihat dari segi penurunan perintahnya yang berkaitan erat dengan peristiwa Isra Mi’raj. IsraMi’raj merupakan perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil haram sampai ke Masjidil Aqsa, kemudian dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra Mi’raj ini terjadi pada tahun kesedihan atau yang biasa disebut ‘am al-khusni karena pada tahun itu Rasulullah ditinggal wafat oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam dakwah Islam yaitu Khadijah istri Rasulullah dan Abu Thalib paman Rasulullah.

Shalat menjadi ibadah yang diwajibkan baik dalam Al-Qur’an maupun teks-teks keagamaan Islam lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban shalat lima waktu. Namun dalam pelaksanaannya, masih saja banyak umat muslim yang meninggalkan ibadah shalat. Rasa malas dan jenuh menjadi fenomena umum dikalangan kaum muslimin terlebih mereka yang masih menginjak usia remaja. Di antara penyebab malasnya seseorang melaksanakan ibadah shalat yaitu pertama, terjadinya perkembangan teknologi yang kerap membuat lalai akan ibadah. Kedua, kurangnya pemahaman masyarakat terkait keistimewaan ibadah shalat dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai Isra Mi’raj yaitu Q.S. Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Mayoritas Ulama tafsir menyatakan bahwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat istimewa. Hal tersebut ditunjukkan melalui pengunaan lafadz Subhana pada awal ayat yang menerangkan Isra Mi’raj. Lafadz Subhana yang berarti “Maha Suci” ini hanya terdapat pada awal Surah Al-Isra dan tidak terdapat pada 113 surah lainnya. Dengan adanya hal tersebut nyata bahwa Isra Mi’raj ini merupakan peristiwa dahsyat sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap hamba-Nya yang paling istimewa yaitu Rasulullah SAW.

Puncak dari peristiwa IsraMi’raj yaitu diperintahkannya shalat lima waktu. Shalat menjadi ibadah yang istimewa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, karena perintahnya datang bersamaan dengan peristiwa agung yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah kehidupan manusia. Shalat menjadi cara spiritual bagi seorang hamba untuk naik derajat spiritual menuju Sang Maha Spiritual. Shalat juga dapat menjadi benteng yang mencegah perbuatan keji terhadap sesama mahluk hidup yang mana hal tersebut hanya bisa dimiliki oleh manusia yang memiliki derajat spiritual.

Dapat disimpulkan bahwa shalat merupakan ibadah yang jelas disebutkan kewajibannya dalam Al-Qur’an dan teks-teks keagamaan Islam lainnya. Namun sayangnya masih banyak orang-orang yang mengaku muslim namun enggan melaksanakan shalat. Salah satu penyebab keengganan mereka dalam melaksanakan shalat adalah karena kurangnya pemahaman mereka terhadap pemaknaan shalat. Mereka kurang memperhatikan bahwa shalat merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW langsung tanpa adanya perantara. Perintah ibadah shalat diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra Mi’raj. Isra’ Mi’raj menjadi cara Allah untuk menghibur Nabi yang ketika itu baru saja ditinggal wafat oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya, juga sebagai cara Allah menunjukkan keagungan kuasanya. Hal itu sebagai bukti anugerah dan kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW juga sebagai bentuk kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya.

Sosok KH. Taufiqul Hakim dalam Modernisasi Pendidikan Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi dalam Pembangunan Karakter dan Kualitas Manusia

Penulis: Salma Mustafidah, Editor: Muhamad Nurul Fajri, Amarul Hakim

Pendidikan adalah sebuah investasi yang paling strategis untuk kemajuan negara di masa mendatang. Negara-negara maju biasanya mengirimkan kader penerus terbaiknya unuk dapat mempelajari ilmu pengetahuan ataupun teknologi di negara lain yang lebih maju agar ketika mereka kembali dengan segala ilmu yang sudah didapatkan dan dapat membangun negaranya menjadi bangsa yang produktif dan kompetitif. Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi tiga: formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal seringkali disebut sebagai pendidikan yang paling unggul. Padahal sudah terbukti dalam sebuah sejarah bahwa pendidikan informal dan nonformal mampu membangun karakter yang kokoh sebagai tempat bersemayamnya ilmu tunas bangsa yang berkualitas tinggi. Pesantren masuk kedalam kategori pendidikan nonformal yang telah mampu melahirkan banyak tokoh dan ulama bangsa yang mempunyai peran besar dalam merebut kemerdekaan dan mengisi pembangunan dari berbagai aspek kehidupan.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan sosial keagamaan. Dalam sejarah lahirnya pesantren, unsur pertamanya adalah seorang kyai karena kyai inilah tokoh utama dalam berdirinya pesantren. Dalam pesantren juga mampu melahirkan tokoh bangsa yang berkualitas tinggi. Harapan terbesar pesantren adalah santrinya menjadi kyai di tengah masyarakat. Ilmu yang telah diajarkan di pesantren lalu diamalkan atau diajarkan kepada masyarakat dengan keteladanan dan ketekunan sehingga dapat memikat daya tarik masyarakat dan menyuruh anaknya untuk belajar kepedanya. Pengakuan masyarakat terhadap keilmuan dan perjuanagan yang dimiliki seseorang tersebutlah yang akan melahirkan label ‘kyai’, karena kyai tidak berlabel dari pesantren tetapi dari masyarakat.

Keunggulan pendidikan pesantren terdapat pada banyak aspek : Pertama, internalisasi pendidikan karakter. Karakter merupakan pondasi mental seseorang, sehingga pembangunan karakter adalah sebuah prioritas agar bangunan diatasnya tidak goyah serta terombang-ambing oleh cobaan kehidupan. Kedua, membangun mental ‘self study’ (belajar secara otodidak). Di pesantren diajarkan ilmu nahwu sharaf supaya santri mampu dapat mengkaji sendiri kitab-kitab yang besar tanpa dibimbing langsung oleh guru. Ketiga, memberikan wawasan social. Pesantren pasti memiliki visi yang dapat membangun masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan lain sebagainya. Keempat, memperkuat aspek transedensi bahwa segala kegiatan yang dilakukan manusia bertujuan dalam rangka menggapai Ridha Allah SWT. Kelima, memberikan kemampuan berkolaborasi dalam kebaikan. Keenam, melatih ‘riyadhoh’ (tirakat). Ketujuh, membangun alaqah bathiniyah (hubungan antara kyai dan santri selam-lamanya, baik ketika guru masih hidup maupun sudah wafat).

Taufiqul Hakim adalah sosok kyai yang hidup di era keterbukaan, sehingga sangat memungknkan menyerap berbagai perubahan modern yang terjadi. Beliau bukanlah sosok pasif yang hanya menunggu datangnya perubahan, justru beliau adalah sosok yang sangat aktif yang menyerap dan mempelopori segala perubahan agar perubahan tersebut dapat sesuai dengan syari’at Islam. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan gagasan modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan diaplikasikan oleh beliau KH. Taufiqul Hakim sehingga dikenal oleh kalangan publik dan menjadi salah satu solusi stagnasi pendidikan dalam bidang pembangunan karakter, kompetensi keilmuan, dan dedikasi sosial. Pemikiran modernisasi pendidikan pesantren oleh KH. Taufiqul Hakim diantaranya dengan : membangun sistem yang kuat, pendidikan karakter secara berkelanjutan, kekuatan fokus, menggunakan metode syiir, gradualisasi dalam pendidikan, akselerasi kualitas serta kaderisasi.

Taufiqul Hakim tidak hanya sekedar berteori. Justru kekuatan utama beliau adalah turun langsung melakukan modernisasi pendidikan pesantren di pesantren yang beliau rintis. Beliau menawarkan kurikulum unggulan yang telah terbukti dapat mencetak kader-kader muda yang berkualitas. Kurikulum ini telah diuji coba dan didemonstrasikan kepada orang lain sehunga dapat terlihat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya ditingkatkan dan kelemahannya dihilangkan. Proses inilah yang membuat ide-ide orisional KH. Taufiqul Hakim terus berjalan seiring berkembangnya zaman. Salah satu dari bukti praktek modernisasi pendidikan pesantren beliau adalah “Amstilati”. Amtsilati adalah buah pemikiran KH. Taufiqul Hakim yang menjadi branding keilmuannya. Amtsilati adalah gerakan pertama modernisasi pendidikan yang menjadikan kualitas dengan waktu yang  sangat efisien. Dari kitab Alfiyah Ibnu Malik yang berjumlah seribu bait dibuat ringkas hingga delapan puluh tiga bait dan dilengkapi dengan contoh-contoh dari Al-Qur’an. Untuk memahami lebih praktis Amtsilati ini, KH. Taufiqul Hakim membuat dua alat bantu. Pertama, rumus dan kaidah yang diberi nama Qaidati. Kedua, praktek penerapan rumus yang diberi nama Tatimmatun.

Modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan dipraktekkan oleh KH. Taufiqul Hakim mampu menarik perhatian publik. Publik menilai terobosan modernisasi pendidikan pesantren KH. Taufiqul Hakim mampu menggabungkan dimensi salaf dan kholaf sekaligus. Amtsilati dan terobosan KH. Taufiqul Hakim yang lain relevan dengan tuntutan era kekinian yang mengedepankan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas dalam mengambil dan mengambangkan ilmu. Terdapat beberapa indicator, diantaranya : embangun karakter, membangun kompetensi, berbasis kualitas, berbasis kreativitas, dan integrasi ilmu, amal dan dakwah. Karena semakin besar dan banyak orang yang merasakan manfaat ilmu dan perjuangannya, maka semakin besar pula nilainya di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. Semua proses tersebut harus dilandasi dengan nilai keikhlasan karena hanya mengharap Ridha Allah SWT sebagai syarat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.  Wallahu a’lam……

Rekonstruksi Paradigma Isra’ Mi’raj Melalui Pendekatan Harmonisasi Sains dan Agama Bagi Anak Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang sarat akan makna spiritual. Masyarakat muslim pada umumnya mengetahui peristiwa Isra’ Mi’raj ialah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atas perintah Allah swt. Dengan didampingi malaikat Jibril, Rasulullah melakukan perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha, dan menerima perintah shalat.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Seperti diantaranya nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang yang dimiliki Rasulullah dan diberikan kepada umatnya dengan negosiasi Rasulullah kepada Allah swt. terkait perintah shalat. Selain itu, melalui peristiwa ini Allah swt. memberikan anugerah bagi umat-Nya yang dicontohkan kepada diri Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Hingga tahun terjadinya peristiwa tersebut dinamakan sebagai ‘Amul Khusni. Atas kejadian tersebut, Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang berduka. Dengan terjadinya peristiwa isra’ mi’raj yang kemudian menjadi tonggak atas turunnya perintah sholat lima waktu, serta menjadikan sholat sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan umat Islam dan akan menjadi sebuah pertanggung jawaban yang ditanyakan di yaumil kiyamah kelak.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut ternyata bukan hanya sebuah kejadian yang memiliki makna spiritual saja. Namun, Isra’ Mi’raj juga bisa dikaji melalui paradigma sains. Kajian inilah yang kemudian dapat menjadi bahan berpikir kritis anak muda kedepannya mengenai peristiwa-peristiwa bernuansa agamis yang tidak hanya dipandang dari segi agamanya saja, namun juga dapat dipandang melalui kacamata sains atau ilmu pengetahuan umum.

Apabila ditinjau dari Firman Allah swt. Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalam) saja? Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbesit dibenak umat islam yang memiliki pemikiran kritis. Oleh karena itu, pendekatan sains merupakan salah satu langkah dalam menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.

Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga seseorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Darisinilah kemudian paradigma harmonisasi sains dan agama diperlukan dalam memahami sebuah peristiwa yang bersifat spiritual yang kemudian dapat membuka pola pikir baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Pandangan sains memberikan perspektif kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadikan agama dan sains, yang sebelumnya dikatakan saling bertentangan beralih menjadi sebuah sudut pandang yang harmonis dan saling melengkapi. Pendekatan harmonisasi sains dan agama juga membantu umat Islam, khususnya generasi muda, untuk merancang pola pikir kritis dan analitis. Dengan demikian anak muda akan menjadi lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama dan memperlancar pemahaman yang lebih luas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.

Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990

Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48

Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.

Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641

Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35

Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa

Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373

Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143

Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.

Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.

Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.