Rekonstruksi Paradigma Isra’ Mi’raj Melalui Pendekatan Harmonisasi Sains dan Agama Bagi Anak Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang sarat akan makna spiritual. Masyarakat muslim pada umumnya mengetahui peristiwa Isra’ Mi’raj ialah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atas perintah Allah swt. Dengan didampingi malaikat Jibril, Rasulullah melakukan perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha, dan menerima perintah shalat.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Seperti diantaranya nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang yang dimiliki Rasulullah dan diberikan kepada umatnya dengan negosiasi Rasulullah kepada Allah swt. terkait perintah shalat. Selain itu, melalui peristiwa ini Allah swt. memberikan anugerah bagi umat-Nya yang dicontohkan kepada diri Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Hingga tahun terjadinya peristiwa tersebut dinamakan sebagai ‘Amul Khusni. Atas kejadian tersebut, Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang berduka. Dengan terjadinya peristiwa isra’ mi’raj yang kemudian menjadi tonggak atas turunnya perintah sholat lima waktu, serta menjadikan sholat sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan umat Islam dan akan menjadi sebuah pertanggung jawaban yang ditanyakan di yaumil kiyamah kelak.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut ternyata bukan hanya sebuah kejadian yang memiliki makna spiritual saja. Namun, Isra’ Mi’raj juga bisa dikaji melalui paradigma sains. Kajian inilah yang kemudian dapat menjadi bahan berpikir kritis anak muda kedepannya mengenai peristiwa-peristiwa bernuansa agamis yang tidak hanya dipandang dari segi agamanya saja, namun juga dapat dipandang melalui kacamata sains atau ilmu pengetahuan umum.

Apabila ditinjau dari Firman Allah swt. Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalam) saja? Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbesit dibenak umat islam yang memiliki pemikiran kritis. Oleh karena itu, pendekatan sains merupakan salah satu langkah dalam menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.

Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga seseorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Darisinilah kemudian paradigma harmonisasi sains dan agama diperlukan dalam memahami sebuah peristiwa yang bersifat spiritual yang kemudian dapat membuka pola pikir baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Pandangan sains memberikan perspektif kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadikan agama dan sains, yang sebelumnya dikatakan saling bertentangan beralih menjadi sebuah sudut pandang yang harmonis dan saling melengkapi. Pendekatan harmonisasi sains dan agama juga membantu umat Islam, khususnya generasi muda, untuk merancang pola pikir kritis dan analitis. Dengan demikian anak muda akan menjadi lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama dan memperlancar pemahaman yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.

Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990

Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48

Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.

Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641

Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35

Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa

Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373

Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143

Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.

Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.

Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Rekonstruksi Pemahaman Isra’ Mi’raj: Perspektif Interdisipliner Al-Qur’an dan Sains Untuk Generasi Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dewasa ini pemahaman mayoritas muslim, khususnya generasi muda mengenai isra’ mi’raj masih sebatas pemahaman dogmatis bersifat transendental yang pengkajiannya hanya melalui pendekatan agama saja. Padahal sudah banyak teori-teori sains yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut sangat saintifik, tidak hanya transendental.

Peristiwa isra’ mi’raj sendiri merupakan suatu peristiwa penting sepanjang sejarah Islam yang sarat akan makna spiritual dan sudah mendarah daging dalam tradisi keagamaan masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Peristiwa isra’ mi’raj bagi masyarakat umumnya identik dengan peristiwa dimana Nabi Muhammmad saw. yang didampingi malaikat Jibril melakukan suatu perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerussalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Nilai-nilai yang diantaranya bisa dijadikan ibrah mulai dari nilai kejujuran yang selalu melekat dalam diri Rasulullah, nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang. Nilai kasih sayang disini bukan hanya bisa dilihat dari sikap Rasulullah yang mau bolak-balik bernegosiasi dengan Allah untuk meminta keringanan bagi umat beliau.

Namun, nilai kasih sayang itu juga bisa dilihat dari bagaimana Allah memberikan anugerah bagi umat-Nya yang Ia contohkan kepada diri Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah (disebut ‘amul khusni). Sehingga Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang dirundung duka lara. Selain itu, peristiwa isra’ mi’raj ini juga menjadi bukti sekaligus penguat betapa penting dan utamanya ibadah salat 5 waktu ini. Bahkan salat diibaratkan sebagai tiangnya agama, dan salat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab di yaumul qiyamah kelak.

Hanya sebatas itulah peristiwa isra’ mi’raj dipahami oleh sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Padahal jika kita resapi dan pahami lebih dalam, kajian ilmiah terkait peristiwa isra’ mi’raj ini tidak melulu berkutat pada pembahasan mengenai salat dan keutamannya saja. Tetapi bisa lebih luas dari pada itu. Terlebih bagi generasi muda yang saat ini hidup dalam realitas modern dan harus menghadapi tantangan dari pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Maka, dalam konteks saat ini dibutuhkan sebuah pendekatan baru yang lebih relevan untuk menyingkap makna lain dibalik peristiwa isra’ mi’raj yang notabene-nya wajib diimani oleh setiap muslim. Pendekatan sains dengan berbagai metode dan teori dipandang dapat mengungkap realitas bagaimana fenomena alam yang pernah ada bisa terjadi, bahkan fenomena alam yang sulit dicerna akal sekalipun. Hal ini menyebabkan banyak fenomena alam yang pernah terjadi dan sebelumnya hanya dianggap sebagai sebuah mitos belakangan ini menemukan titik terang karena ternyata bisa dijelaskan melalui pendekatan sains.

Peristiwa isra’ mi’raj ini termasuk dalam peristiwa yang secara tidak langsung bersinggungan dengan sains. Bagaimana tidak, apabila kita cermati Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalaman) saja? Mungkin di benak sebagian orang yang berpikiran kritis akan muncul pertanyaan seperti yang telah disebutkan diatas. Nah, pertanyaan-pertanyaan tadi di era pesatnya ilmu pengetahuan seperti sekarang ini bisa dicarikan jawabannya melalui pendekatan sains.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Teori-teori fisika mengenai cahaya menyebut tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.
Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga sesorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Dari penjabaran diatas, bisa kita ketahui bersama bahwa peristiwa isra’ mi’raj mengandung unsur-unsur metaforis yang menjadi simbol kasih sayang dan kebesaran Allah Swt. Mengkaji isra’ mi’raj dengan kaca mata lain menghilangkan paradigma dogmatis kita yang secara serta merta menerima segala hal yang berasal dari agama, dan menganggap mengakaji atau mengkritisi hal tersebut sesuatu yang menyalahi dan dilarang.
Padahal kita sebagai generasi muda harus mampu menyelaraskan antara pemahaman agama yang berasal dari al-Qur’an dengan pemahaman umum, sesuai dengan jargon al-Qur’an yang dianggap shalih li kulli zaman wa makan. Dengan begitu, al-Qur’an bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan problem umat masa kini yang lebih kompleks ketimbang problem yang terjadi pada zaman dahulu.

Melakukan upaya rekonstruksi terhadap pemahaman mengenai isra’ mi’raj melalui perspektif sains dinilai penting untuk dilakukan guna membuka paradigma baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Perspektif sains memberikan pandangan kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental.

Selain itu, bukan hanya memperluas pemahaman dan membuka paradigma baru saja, tetapi upaya pengkaitan interdisipliner tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa agama dan sains bukanlah dikotomi yang saling bertentangan, sebab bisa diintegrasikan. Dengan demikian, keraguan yang mungkin muncul pada saat melakukan upaya untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama bisa dihindari dan ditemukan jawabannya.
Pendekatan interdisipliner yang mengkaitkan antara al-Qur’an dan Sains juga membantu umat Islam, terutama bagi generasi mudanya untuk mengembangkan pola pikir kritis dan analitis mereka. Dengan begitu, mereka akan lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama, yang sebelumnya sukar dinalar.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.
Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990
Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48
Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.
Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641
Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index
Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35
Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa
Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373
Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143
Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.
Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.
Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Moderasi Beragama: Harmoni dalam Kehidupan Desa Linggoasri

Penulis: Dhimas Nur Afif Adji, Editor: Ika Amiliya N, Amarul Hakim

Indonesia, dengan kekayaan budaya dan keberagaman etnis serta agama yang dimilikinya, telah menjadi laboratorium unik bagi praktek moderasi beragama. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan rumah bagi berbagai komunitas agama lainnya seperti Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya. Dalam konteks ini, moderasi beragama bukan hanya menjadi konsep teoretis, tetapi juga realitas sosial yang harus dihadapi dan diterapkan. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat terungkap bagaimana moderasi beragama menjadi kunci penting dalam memastikan keberlanjutan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Desa Linggoasri, salah satu desa di Kabupaten Pekalongan menjadi miniatur Indonesia karena keberagamannya, terutama keberagaman dalam hal agama. Hal tersebut tentu sangat menarik perhatian masyarakat untuk mengetahui keberadaannya. Salah satunya oleh sekelompok mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjalankan studi riset di desa tersebut. Harmoni dan keindahan moderasi beragama menjadi ciri khas kehidupan sehari-hari warganya. Para mahasiswa berinteraksi dengan narasumber yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menanamkan prinsip moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat Linggoasri. Salah satunya adalah Taswono, seorang penganut Hindu, dan Mustajirin, seorang pemeluk agama Islam. Keduanya dengan tulus berbagi pandangan mereka tentang bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan dan tetap terjaga di setiap tradisi keagamaan yang ada di Linggoasri.

Dalam tradisi Hindu, seperti dalam banyak tradisi keagamaan lainnya, moderasi atau kedamaian dalam beragama sering kali diterapkan melalui ajaran moral dan etika yang mendalam. Salah satu konsep yang mendasari moderasi beragama dalam konteks Hindu adalah Catur Pramita, yang berarti “empat kemuliaan sempurna” atau “empat kualitas yang luhur”. Catur Pramita ini mencakup:

  1. Maitri: Maitri diterjemahkan sebagai “kasih sayang” atau “cinta kasih”. Ini adalah perasaan kasih sayang tanpa pamrih yang diperluas kepada semua makhluk tanpa terkecuali. Dengan mengembangkan Maitri seseorang berupaya untuk mengembangkan perasaan kebaikan dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
  2. Karuna: Karuna diterjemahkan sebagai “belas kasih” atau “kasih sayang mendalam”. Ini adalah empati yang mendalam terhadap penderitaan makhluk lain dan keinginan kuat untuk mengurangi atau mengakhiri penderitaan tersebut. Karuna mendorong seseorang untuk bertindak dengan kebaikan dan membantu orang lain dalam kesulitan.
  3. Mudita: Mudita diterjemahkan sebagai “kesenangan atas keberuntungan orang lain” atau “kegembiraan bersama”. Ini adalah perasaan sukacita yang timbul ketika seseorang melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau kebaikan orang lain. Mudita mengajarkan seseorang untuk merasa gembira dan bersyukur atas keberhasilan dan kebahagiaan orang lain, tanpa rasa iri atau dengki.
  4. Upeksha: Upeksha diterjemahkan sebagai “ketenangan pikiran” atau “keseimbangan”. Ini adalah sikap pikiran yang stabil dan tenang dalam menghadapi berbagai keadaan, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Upeksha mengajarkan seseorang untuk tetap netral dan tidak terjebak dalam emosi yang berlebihan, sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak.

Selanjutnya, dari perspektif keagamaan Islam, warga Desa Linggoasri berpegang teguh pada empat prinsip utama Alhu sunnah wal Jamaah, yakni:

  1. Tasamuh (Keterbukaan): Tasamuh merujuk pada sikap terbuka dan menerima keberagaman pendapat serta kepercayaan dalam komunitas. Hal ini menegaskan penghormatan terhadap variasi dalam agama, budaya, dan pandangan dunia.
  2. Tawasuth (Ketengah-tengahan): Tawasuth menandakan pentingnya memelihara ketengahan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti agama, pekerjaan, dan interaksi sosial, tanpa terjerumus ke dalam ekstremisme atau perilaku berlebihan.
  3. Taadul (Keadilan): Taadul berbicara tentang prinsip keadilan yang memastikan bahwa setiap individu diberikan hak yang sama dan semua keputusan diambil berdasarkan prinsip keadilan, tanpa adanya diskriminasi atau ketidakadilan.
  4. Tawazun (Keseimbangan): Tawazun mengajak untuk menjaga harmoni dalam setiap aspek kehidupan. Ini mengingatkan kita untuk memiliki pendekatan yang seimbang terhadap tuntutan agama, tugas, dan interaksi sosial, serta menghindari ekstremisme atau perilaku yang berlebihan.

Di tiap sudut Desa Linggoasri, nuansa damai selalu terasa. Melalui nuansa ini, kita diajak untuk menghargai keberagaman dan mempromosikan semangat persatuan. Bersama-sama, Desa Linggo Asri menjadi simbol di mana moderasi keagamaan bukan hanya konsep, tetapi juga menjadi prinsip hidup yang dijalankan dengan kasih sayang.

Nyadran: Tradisi Penghormatan Leluhur dalam Bingkai Nilai-Nilai Islam di Dusun Silawan Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, Editor: Amarul Hakim

Tradisi Nyadran merupakan sebuah ritual atau tradisi yang khas dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama di daerah pedesaan, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Tujuannya tidak hanya sekadar memberikan penghormatan kepada roh leluhur, tetapi juga untuk mempererat hubungan antara generasi yang masih hidup dengan mereka yang telah tiada. Di Kabupaten Pekalongan, tradisi ini turut dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Silawan Desa Kutorojo Kecamatan Kajen.

Pelaksanaan Tradisi Nyadran berlangsung di makam Ki Gede Kertasari, yang merupakan lokasi bersejarah bagi masyarakat Dusun Silawan. Tradisi ini digelar setiap 70 hari sekali, tepatnya pada hari Rabu Kliwon pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Selain itu terkhusus untuk hari Rabu Kliwon dibulan Suro, masyarakat bergotong royong menyembelih kambing untuk dijadikan lauk sarapan. Ki Gede Kertasari sendiri diakui sebagai tokoh yang membuka lahan pertama di Dusun Silawan, sehingga memiliki makna yang mendalam bagi warga setempat.

Partisipasi dalam Tradisi Nyadran cukup meluas. Mulai dari Kepala Dusun, Ketua RT, tokoh adat masyarakat, hingga ustadz dan seluruh masyarakat Dusun Silawan turut serta dalam pelaksanaannya. Setiap orang yang hadir membawa be makanan yang menjadi santapan bagi masyarakat setempat, seperti nasi, megono, lalapan, gorengan, dan berbagai lauk lainnya.

Rangkaian acara Tradisi Nyadran mencakup beberapa tahapan penting. Mulai dari pembakaran dupa atau kemenyan di makam Ki Gede Kertasari, hingga bersih-bersih makam tersebut yang kemudian dilanjutkan ke makam keluarga masyarakat Dusun Silawan yang telah meninggal. Ada juga sambutan dari Kepala Dusun Silawan, yakni Bapak Kisworo, serta pembacaan doa atau tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Wahid, seorang alumni Pondok Pesantren At-Taufiq Wonopringgo.

Tradisi Nyadran tidak hanya merupakan sebuah ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara masyarakat. Selesai dari serangkaian kegiatan, acara biasanya ditutup dengan sarapan bersama sebagai bentuk silaturahmi dan kebersamaan yang lebih lanjut. Dengan demikian, Tradisi Nyadran tidak hanya menjadi warisan budaya yang berharga, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Praktek kehidupan keberagamaan masyarakat Jawa tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang sudah berurat akar di masyarakat. Tradisi ini syarat dengan nilai-nilai spiritual, etika dan kemanusiaan. Sangat disayangkan, jika tradisi ini punah oleh ajaran yang secara sepihak menganggapnya sebagai “aneh, sesat, kafir”, dst. Ber Islam, bukan berarti menanggalkan budaya, sebagai identitas dan ciri khas masyarakat Indonesia. Indahnya keharmonian…

Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Penulis: Aiyida Indana Sohiha, Editor: Faiza Nadilah

Biografi K. H. Abdurrahman Wahid

K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memiliki nama kecil Abdurrahman Ad-dakhil yang berarti “Sang Penakluk”. Dilahirkan pada tanggal 4 Sya’ban atau 7 September 1940, di Denanyar Jombang, Jawa Timur. Gus Dur berasal dari keluarga yang memiliki keterlibatan penting dalam gerakan nasionalis dan pendidikan Islam.

Ayah Gus Dur yaitu Wahid Hasyim, seorang menteri terkenal di pemerintahan Jakarta. Meskipun ayahnya menginginkan Gus Dur bersekolah tinggi, Gus Dur lebih suka sekolah normal dan mulai pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar KRIS di Jakarta. Walaupun mulanya pendidikan yang ditempuh bersifat sekular, Gus Dur kemudian secara sistematis mempelajari bahasa Arab dan Al-Qur’an. Setelah beberapa kali pindah sekolah, Beliau menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Munawir Yogyakarta.

Gus Dur melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan dan pesantren, belajar di bawah bimbingan ulama seperti KH. Ali Mashum dan Kiai Khudori. Setelah menyelesaikan studi formalnya di Yogyakarta, ia pergi ke Kairo (Mesir) dengan beasiswa Departemen Agama. Meskipun awalnya senang, Gus Dur kecewa dengan sistem pendidikan di Al-Azhar dan lebih suka menjelajah dan membaca buku. Pada tahun 1966, ia melanjutkan studinya ke Irak dan kemudian pindah ke Eropa, namun kekecewaan menghampirinya.

Setelah berusaha mencari kesempatan lain Gus Dur mendapatkan peluang untuk belajar di Universitas McGill (Kanada), dan setelah pulang dari luar negeri ia menjadi guru di Jombang. Pada tahun 1971, Beliau bergabung dengan Fakultas Ushuluddin di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Gus Dur menjadi Presiden keempat Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999.

Pemikiran K. H. Abdurrahman Wahid

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang memahami dan menerima pluralitas sosial Indonesia. Meskipun dianggap nyeleneh dan eksentrik, Beliau menunjukkan kebijaksanaan dalam berbagai masalah dan menggabungkan elemen sufistik dalam komunikasinya. Tidak hanya sebagai pribadi spiritual, dia juga mendukung pluralisme sosial dan budaya yang menjadikannya seorang demokrat liberal. Meskipun memiliki latar belakang tradisional Islam, kontribusinya mencerminkan pemahaman mendalam tentang teori sosial modern dan toleransi. walaupun terkadang dianggap aneh, pemikiran dan tindakan Gus Dur memainkan peran signifikan dalam kehidupan publik dan religius Indonesia.

Gus Dur mendasarkan pemikirannya pada komitmen kemanusiaan dalam ajaran Islam, mengedepankan toleransi, dan kepedulian terhadap keharmonisan sosial. Beliau menolak formalitas Islam dalam negara dan mengadvokasi civil society sebagai paradigma baru untuk umat Islam. Pemikirannya juga mencakup neo-tradisional Islam yang menggabungkan modernisme dengan pijakan transendental kepada Tuhan. Gus Dur memandang Islam sebagai agama toleransi dan berusaha menciptakan kehidupan keagamaan yang inklusif. Konsep toleransinya didasarkan pada sikap hati dan perilaku, menghindari eksklusivisme agama. Beliau menekankan pentingnya saling menyantuni dan keadilan tanpa pandang agama.

Inklusivisme, sebagai sikap terbuka dan menghargai perbedaan, merupakan prasyarat utama bagi dialog antar agama dan peradaban. Dalam konteks Islam, inklusifitas teologis bertentangan dengan eksklusif. Mencerminkan paradigma neo-modernisme dan keinginan untuk menghindari monopoli kebenaran oleh suatu agama. Gus Dur menafsirkan kata “Al-Islam” sebagai sikap menyerah kepada Tuhan, mendukung pentingnya inklusivitas dalam membangun keharmonisan sosial.

Dalam menghadapi persoalan terorisme di Indonesia, Gus Dur mengidentifikasi akar permasalahan pada pemikiran radikal dan pendangkalan agama. Beliau menekankan perlunya deradikalisasi pemahaman Islam, menyebarkan pemahaman moderat, dan menghilangkan kesalahpahaman yang menjadi akar terorisme. Toleransi dianggap sebagai kunci untuk mengatasi ekstremisme.

Terkait dengan keputusan MUI tentang pengucapan salam Natal, Gus Dur mengecam keputusan tersebut. Dan menyatakan bahwa hal itu menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kebebasan beragama dan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan. Beliau menekankan pentingnya menghormati setiap keyakinan dan memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memicu intoleransi dan merugikan keutuhan NKRI.

Dengan tingginya toleransi selama hidupnya, Gus Dur diakui sebagai bapak pluralisme Indonesia. Julukan tersebut pantas, mengingat pandangan inklusifnya. Salah satu kata bijaknya yang mencolok adalah, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai, dan ekstremis memutarbalikkannya. Kita butuh Islam ramah, bukan marah”.

Menelisik Moderasi Beragama Dalam Perspektif Islam dan Hindu di Desa Linggoasri

Penulis: Ikmalina Rokhmah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Desa Linggoasri merupakan miniatur nusantara. Bagaimana tidak? Desa ini memiliki berbagai macam agama yang hidup berdampingan. Dalam kesehariannya, mereka jarang sekali menjumpai konflik ataupun pertikaian antar agama. Hal ini menjadi bentuk kerukunan antar agama, dan tentu tidak akan terwujud apabila tidak menerapkan sikap yang moderat. Sehingga dengan demikian, moderasi beragama merupakan sebuah hal yang penting untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Apabila ditinjau dari berbagai macam sudut pandang keagamaan, moderasi beragama memiliki pemaknaan yang berbeda, namun intinya adalah bagaimana sikap moderat tersebut dapat menjadi pondasi dalam mengimplementasikan sikap toleransi dan semacamnya dalam bermasyarakat.

Menurut Bapak Taswono, tokoh agama Hindu, beliau menjelaskan dasar-dasar moderasi beragama dalam Agama Hindu, yang digambarkan seperti sebuah bangunan rumah, dengan pondasi, tiang, dan atap yang harus bersinergi. Beliau menyampaikan, sebagai pondasinya, dalam agama Hindu ada kaidah “Catur Parama Arta”, meliputi: 1. Darma (kewajiban), 2. Jenana (pengetahuan) dan Wijnana (kebijaksanaan), 3. Ahimsa Parama Darma (tidak melakukan kekerasan), 4. Bakti Rukyata (bakti dengan rasa tulus ikhlas didedikasikan untuk Sang Hyang Widi, yakni Tuhan).

Selanjutnya, ada pilar-pilar moderasi beragama yang mana juga digambarkan sebagai tiang suatu rumah: 1. Maitri (sifat untuk menumbuhkan kasih sayang), 2. Karuna (toleransi), 3. Upeksa, dan 4. Udita (sikap simpatik). Sementara atapnya, menurut beliau: 1. Satwam, 2. Siwam sundaram, dan 3. Syastu. Kemudian isinya: 1. Darma (kebajikan), 2. Artha (kebutuhan hidup) 3. Muksa. Menurut Bapak Taswono, tujuan dari konsep moderasi beragama dalam agama Hindu adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Bapak Taswono juga menekankan pentingnya sikap terbuka, menghargai perbedaan, rendah hati, dan saling memaafkan dalam mendasari sikap moderasi.
Kemudian, tokoh agama Islam, Bapak Kiai Mustajirin, juga menyampaikan bahwa moderasi beragama dalam ajaran islam yang diantaranya 1. I’tidal (tegak lurus), 2. Tawazun (Seimbang), 3. Tasamuh (Toleransi) 5. Ukhuwah wathaniyah (persaudaraan), yang berarti menekankan untuk tidak melakukan kekerasan terhadap sesama saudara. Terlebih Allah swt. juga sudah menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berdasarkan ayat tersebut, Islam juga mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah menjadi sebuah rintangan untuk dapat hidup damai berdampingan. Bahkan apabila ingin menyampaikan dakwah mengenai ajaran Islam pun, dilarang untuk memakai kekerasan atau paksaan. Sehingga Islam dalam hal ini juga mengutamakan sikap moderat, yang salah satunya adalah toleransi.

Dari kedua ajaran tersebut saja sudah dapat dilihat bahwa semua ajaran keagamaan tentu sudah seharusnya menjunjung tinggi sikap moderat. Hal ini sangat penting, karena mewujudkan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama, apabila tidak diiringi dengan sikap moderat, maka akan mudah terpecah belah karena perbedaan pendapat, sudut pandang, serta ajaran dari setiap agama yang dapat memicu konflik dan pertikaian atau bahkan perang saudara.

Strategi dan Media Dakwah di Era Digital

Penulis: Wieldan Sigit Diarto, Editor: Windi Tia Utami

Era digital menjadi era dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang cepat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek  kehidupan manusia, termasuk dalam konteks dakwah. Dakwah  yang merupakan kegiatan menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat turut berkembang sesuai kemajuan zaman. Bukti konkret perkembangan di era digital ini adalah dakwah tidak hanya dilakukan secara langsung namun merambah dilakukan melalui media digital. Namun niscaya era digital juga memberikan tantangan dakwah baru menjadi semakin kompleks dan dinamis. Masyarakat mudah terpapar oleh berbagai informasi dan pengaruh yang datang dari berbagai sumber, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, para da’i harus mampu beradaptasi dan memperkaya inovasi untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan Islam secara lebih komprehensif namun tetap sesuai dengan Al-Qur’an dan ajarannya.

Media digital merupakan media yang menggunakan teknologi digital untuk menyimpan, memproses, dan menyebarluaskan informasi. Media digital meliputi media sosial, blog, situs web, podcast, video, dan sebagainya. Media digital memiliki beberapa kelebihan, antara lain: (i) Dapat menjangkau audiens yang luas dan beragam; (ii) Dapat menyampaikan informasi dengan cepat, mudah, dan murah; (iii) Dapat menyajikan informasi dengan berbagai format, seperti teks, gambar, suara, dan video; (iv) Dapat memfasilitasi interaksi dan partisipasi dari audiens, seperti memberi komentar, menyukai, berbagi, dan sebagainya.

Namun, media digital juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: (i) Dapat menimbulkan informasi yang salah, menyesatkan, atau hoax; (ii) Dapat menimbulkan konflik, perpecahan, atau fitnah di antara umat Islam atau antara Islam dan agama lain; (iii) Dapat menimbulkan ketergantungan, kecanduan, atau penyalahgunaan media digital yang berdampak negatif bagi kesehatan, moral, dan spiritual. Oleh karena itu, para da’i harus memiliki strategi yang tepat dalam berdakwah di era digital. Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat digunakan:

Pertama membangun personal branding sebagai seorang da’i di era digital. Personal branding adalah citra atau reputasi yang dibangun oleh seseorang melalui media digital. Seorang da’i harus mampu menunjukkan identitas, kredibilitas, dan kompetensinya sebagai seorang da’i yang profesional, berilmu, dan berakhlak. Seorang da’i juga harus mampu menarik dan kepercayaan dari audiens dengan cara yang halal dan syar’I agar mudah menyebarkan virus kebaikan.

Kedua memilih media digital yang sesuai dengan tujuan, sasaran, dan konten dakwah. Seorang da’i harus mengetahui karakteristik, kelebihan, dan kelemahan dari berbagai media digital yang ada. Seorang da’i harus memilih media digital yang paling efektif dan efisien untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada audiens yang diinginkan. Seorang da’i juga harus menyesuaikan konten dakwah dengan format dan gaya media digital yang dipilih.

Ketiga membuat konten dakwah yang bermanfaat, menarik, dan relevan. Seorang da’i harus memproduksi konten-konten dakwah yang dapat memberikan manfaat bagi audiens, baik dari segi ilmu, hikmah, maupun motivasi. Seorang da’i juga harus membuat konten-konten dakwah yang dapat menarik perhatian dan minat audiens, baik dari segi judul, gambar, suara, maupun video. Seorang da’i juga harus membuat konten-konten dakwah yang relevan dengan situasi, kondisi, dan isu-isu terkini yang sedang berkembang di masyarakat.

Keempat menjaga interaksi dan keterlibatan dengan audiens. Seorang da’i harus mampu berkomunikasi dengan audiens secara dua arah, yaitu tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendengarkan, merespon, dan mengapresiasi audiens. Seorang da’i harus mampu menjawab pertanyaan, klarifikasi, atau kritik yang datang dari audiens dengan cara yang santun, bijak, dan beradab. Seorang da’i juga harus mampu mengajak audiens untuk berpartisipasi dalam aktivitas dakwah, seperti berdonasi, bergabung, atau beraksi.

Kelima mengukur kinerja dan dampak dakwah. Seorang da’i harus mampu mengevaluasi dan mengukur kinerja dan dampak dakwah yang dilakukan melalui media digital. Seorang da’i harus memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia di media digital, seperti jumlah pengunjung, pengikut, tayangan, suka, komentar, berbagi, dan sebagainya. Seorang da’i juga harus mengumpulkan feedback atau umpan balik dari audiens, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seorang da’i juga harus melakukan perbaikan dan peningkatan berdasarkan hasil evaluasi dan pengukuran tersebut.

Pilpres 2024: Pendidikan Sebagai Panglima, Tantangan yang Terabaikan dalam Visi-Misi Pendidikan

Penulis: Nanang Hasan Susanto, Editor: Amarul Hakim

Hiruk pikuk Pilpres 2024 mulai berakhir dengan munculnya hasil Quick Count. Untuk Pemilihan Presiden, hasil Quick Count dari berbagai Lembaga survey menunjukkan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran dalam satu putaran. Meskipun demikian, masih banyak pernak-pernik pemilu yang dapat menjadi bahan renungan dan evaluasi. Diantaranya adalah konten debat Capres terakhir.

Debat Capres terakhir yang berlangsung tanggal 4 Februari 2024 mengusung tema Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Berbagai tema yang diusung ini saling berkaitan antara satu dan lainnya.

Tulisan ini mengelaborasi dari aspek pendidikan. Banyak pihak menyebut, pendidikan merupakan aspek penting yang sangat berpengaruh bagi kehidupan sebuah Bangsa. Akan dibawa kemana arah perjalanan Bangsa, sangat ditentukan oleh sistem pendidikan yang dijalankan.

Contoh yang sering disebutkan untuk menggambarkan pentingnya pendidikan pada sebuah Negara adalah Jepang. Setelah Negaranya hancur akibat serangan bom Atom di Kota penting Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menata ulang pembangunan Negaranya melalui pendidikan.

Kaisar Hirohito menata ulang sekaligus melakukan reformasi besar-besaran di bidang pendidikan. Diantara klausul reformasi itu adalah penghapusan doktrin keagamaan, membebaskan pendidikan dari pengaruh militerisme serta nasionalisme, mendorong pendidikan yang inklusif, serta berorientasi pada kemajuan individu. Hasilnya, meskipun hingga saat ini reformasi kebijakan Hirohito mengundang kontroversi, faktanya, dalam waktu relatif singkat, Jepang mengalami masa yang disebut sebagai “keajaiban ekonomi”, menjadi Negara yang disegani, bersaing dengan Negara yang dulu mengalahkannya pada perang dunia ke-2.

Sayangnya, debat terakhir yang disampaikan Capres, lebih banyak menyinggung aspek pendidikan pada tataran teknis, ketimbang menyelesaikan problem pendidikan yang fundamental. Misalnya saja, pasangan Anis-Muhaimin menjanjikan semua siswa lulusan SD dipastikan harus melanjutkan sekolah hingga SMA, sekaligus menekan angka putus sekolah. Paslon ini juga menjanjikan akan memperluas akses sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, meningkatkan kesejahteraan Guru dan tenaga Pendidikan, serta pengangkatan tenaga kependidikan honorer secara meritokrasi. Terkait Pendidikan agama, paslon ini menjanjikan revitalisasi fasilitas fisik sekolah dan madrasah berbasis agama.

Paslon Prabowo-Gibran berjanji meningkatkan kwalitas guru, merenovasi sekolah, pengembangan fasilitas pendidikan, menyediakan dana abadi pendidikan dan pesantren, serta membangun berbagai sekolah unggul yang terintegrasi di setiap kabupaten. Paslon Ganjar-Mahfud berjanji sekolah dapat gaji, lulus jaminan kerja, kuliah gratis untuk anak TNI dan POLRI, guru Agama digaji, satu keluarga miskin satu sarjana serta mendorong disabilitas untuk mandiri dan berprestasi.

Berbagai visi pendidikan yang disampaikan ketiga Paslon diatas, mayoritas diarahkan pada aspek kesejahteraan, serta pembangunan fisik. Tidak ada yang dapat memungkiri, aspek tersebut memang penting. Namun demikian, aspek tersebut belum menyinggung problem fundamental pendidikan di Indonesia. Ada beberapa problem fundamental yang harus dipikirkan secara serius. Diantaranya adalah:

  1. Independensi Pendidikan

Saat ini, independensi pendidikan ternodai dengan adanya Permenristekdikti No. 19 Tahun 2017 tentang pengangkatan dan pemberhentian pemimin Perguruan Tinggi Negeri. Regulasi tersebut menetapkan, bahwa penentuan pemilihan, sekaligus pemberhentian pimpinan Perguruan Tinggi dilakukan oleh Menteri terkait.

Pimpinan kampus memiliki peran penting dalam pengembangan keilmuan. Mereka memiliki hak kuasa anggaran untuk menentukan berbagai program kampus. Jika pimpinan Kampus dipilih sekaligus bisa diberhentikan oleh Menteri, maka aspek pengembangan keilmuan terancam disandera oleh kepentingan politik. Menteri sendiri merupakan jabatan politik. Maka, bukannya fokus pada pengembangan keilmuan, fokus pimpinan kampus terancam hanya mengikuti “pesanan” dari Menteri.

Kondisi diatas diperparah dengan kebijakan baru mengenai aturan kepangkatan Dosen. Berdasarkan aturan Permenpan RB No. 1 Tahun 2023, kenaikan kepangkatan Dosen ditentukan oleh penilaian atasan. Seharusnya, jika fokus pada pengembangan keilmuan, kepangkatan Dosen ditentukan berdasarkan karya ilmiah yang memastikan berkembangnya keilmuan. Jika berdasarkan penilaian atasan, sangat berpotensi terjebak pada aspek politik atau like and dislike. Terlebih, pimpinan tertinggi kampus dipilih oleh Menteri.

Selain itu, otonomi pendidikan juga perlu dilakukan dengan memberikan aakses seluas-luasnya bagi temuan keilmuan untuk dikembangkan. Alasan kepentingan, termasuk bisnis, berpotensi membonsai pengembangan keilmuan, menjadi hanya sekedar formalitas belaka. Harus ada regulasi yang memastikan temuan keilmuan anak Bangsa dapat dikembangkan oleh pelaku industri, jasa, pertanian, perdagangan dst.  Tentu pengembnagan tersebut setelah melalui pertimbangan para ahli di bidangnya, dengan memperhatikan berbagai aspek.

Jika mau menjadi Bangsa yang besar, pendidikan harus steril dari kepentingan dan politik dalam bentuk apapun. Berbagai temuan dalam pengembangan keilmuan yang dihasilkan dari pendidikan, harus didorong untuk berkembang seluas-luasnya. Jangan sampai karena tersandera oleh birokrasi, berbagai temuan keilmuan hanya disimpan di laci akademik. Pendidikan dan pengembangan keilmuan harus independen. Tugas Negara adalah mendorong serta menfasilitasi, agar pendidikan dan pengembangan keilmuan terus berkembang. Bukannya malah mengintervensi secara politis.

  1. Diskriminasi pendidikan agama

Di Indonesia, pendidikan agama merupakan salah satu pelajaran wajib yang harus ada pada semua lembaga pendidikan formal. Hal ini sesuai regulasi UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, khususnya pasal 37 ayat 2. Masalahnya, tidak semua sekolah menyediakan guru agama, sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa, khususnya dari kalangan minoritas.

Penulis pernah melakukan wawancara kepada beberapa penganut agama lokal seperti Agama Djawa Soenda di Kuningan. Parmalim di Toba dan Sapta Dharma di Jogja. Hasil wawancara menyebutkan, bahwa untuk pendidikan agama di sekolah formal, mereka kerap mengalami diskriminasi. Misalnya harus mengikuti pelajaran agama mayoritas, bahkan terkadang harus mengikuti ritual dan perayaan hari besar mereka.

Indonesia merupakan Negara besar. Agama yang mayoritas pun, bisa jadi pada sebuah daerah tertentu menjadi agama minoritas. Misalnya, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, di Papua, dia menjadi agama minoritas. Jika pendidikan agama warga tertentu mengalami diskriminasi pada sebuah daerah, bisa jadi dia akan membalas ketika berada pada wilayah yang mayoritas. Kondisi saling balas ini bisa jadi akan berlangsung terus-menerus, tanpa ada habisnya.

Indonesia merupakan Negara yang multi agama dan kepercayaan. Maka, dibutuhkan regulasi sekaligus upaya serius untuk menjaga kaum minoritas dari diskriminasi pendidikan agama.

  1. Efektivitas Kurikulum

Filosofi pendidikan sederhananya membekali siswa untuk bisa hidup. Untuk bisa hidup, Pendidikan perlu mengenali potensi peserta didik, sekaligus mendorongnya berkembang. Masalahnya, kurikulum pendidikan saat ini terlalu banyak. Ada tuntutan pemerintah, pesanan pasar, norma agama dst, tanpa memperdulikan potensi, karakteristik dan kecenderungan siswa.

Kurikulum, idealnya bersifat praktis, sekaligus sesuai dengan minat dan bakat siswa. Bukannya terlalu banyak titipan yang yang justru malah membingungkan. Catatan Kompas tanggal 27 Nopember 2023 yang mengangkat tema “Pengangguran Lulusa Perguruan Tinggi Meningkat”, menyebutkan, angka pengangguran terdidik di Indonesia meningkat, meskipun angka pengangguran secara umum turun karena pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya angka pengangguran terdidik ini menunjukkan, kurikulum pendidikan kita belum mampu membekali mahasiswa untuk bisa “hidup”. Jika Pendidikan membekali siswa untuk bisa hidup, maka, idealnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah dia dapat bekerja atau berwiraswasta.

Sayangnya, ketiga problem pendidikan diatas belum tersentuh pada debat terakhir Capres. Padahal, ketiganya merupakan aspek fundamental. Mayoritas visi Pendidikan yang disampaikan Capres hanya berada pada tataran teknis, terkesan cari aman, untuk mendapatkan simpati pemilih secara pragmatis. Padahal, perlu pemikiran yang kritis, mendalam dan komprehensif, untuk mengurai berbagai problem pendidikan di Indonesia.

Pada demokrasi langsung, dimana tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, mengangkat isu sensitif memang sangat beresiko bagi para kandidat. Isu seperti pendidikan agama dan perombakan kurikulum, bisa jadi bukan isu seksi, sehingga dapat mengancam elektabilitas kandidat. Diperlukan pengawalan bersama untuk membentuk sistem pendidikan yang kritis dan komprehensif, menuju Indonesia yang lebih baik.

Harapan Menag dalam Peringatan Pers Nasional : Terus Cerahkan dan Kuatkan Persatuan Umat

Pewarta: Azzam Nabil Hibrizi, Editor: Ragil

Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disapa Gus Men, dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2024 menyampaikan ucapan selamat memperingati hari pers untuk seluruh jurnalis dan berharap Pers di Indonesia terus berkontribusi dalam mencerahkan dan dan menguatkan persatuan umat. Jumat (9/2/2024).

Terimakasih juga Gus Men sampaikan atas kolaborasi yang kuat antara pers dan Kementerian Agama dalam mengawal pembangunan bidang agama di Indonesia.

“tema yang bagus dalam peringatan Hari Pers Nasional 2024 tahun ini yaitu Mengawal Transisi Kepemimpinan Nasional dan Menjaga Keutuhan Bangsa, yang mana sangat berkaitan dengan kondisi kebangsaan saat ini”, ujar Gus Men.

Gus Men berpendapat, bahwa moment HPN tahun ini berdekatan dengan dilaksanakannya pemilu 2024, sehingga Pers perlu mengambil peran dalam mengawal pemilu yang jujur, adil, dan rahasia. Selain itu, juga berperan mengedukasi masyarakat dalam menggunakan hak suaranya agar lebih bertanggung jawab. Sebagaimana yang Gus Men sampaikan, “Sebagai pilar demokrasi kelima, pers memiliki peran strategis dalam mengawal setiap tahapan pembangunan bangsa, termasuk dalam kepemimpinan nasional”

Dengan adanya pesta demokrasi yang kali ini dilaksanakan pada tahun 2024, Gus Men mengajak agar pemilu kali ini jangan sampai merusak persatuan dan kerukunan umat. Segala bentuk segregasi karena perbedaan pilihan harus bisa diminimalisir setelah pemilu.

“Kita harap hiruk pikuk pemilu segera kebali normal setelah masyarakat menggunakan hak suaranya. Semua kembali pada kehidupan masing-masing, bekerja sesuai tugasnya, sembari memantau proses penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pers juga terbukti memiliki peran yang strategis dalam menjaga keutuhan bangsa,” Tegasnya.

GUSDURian Pekalongan Gelar Gardu Jalanan Titik Nol: Masyarakat Sipil Bersatu untuk Pemilu 2024 yang Jujur dan Damai

Pewarta: Fajri Muarrikh, Editor: Amarul Hakim

Hijratunaa.com – Komunitas GUSDURian Pekalongan mengajak masyarakat sipil untuk bersama-sama menciptakan pemilu tahun 2024 yang berkualitas, jujur, adil, damai, dan bermartabat. Upaya ini terwujud dalam kegiatan Gardu Jalanan Titik Nol yang digelar pada hari Minggu pagi (04/02/24) di Car Free Day (CFD) Alun-alun Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Jalanan Titik Nol diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk penampilan musik akustik, orasi demokrasi, dan partisipasi masyarakat untuk menyampaikan harapan mereka pada negara ini. Warga juga diberikan kesempatan untuk menuliskan aspirasi mereka melalui spanduk kosong yang telah disediakan oleh GUSDURian Pekalongan. Selain itu, formulir dengan scan barcode menggunakan ponsel juga disiapkan untuk memudahkan warga dalam mencurahkan pendapat mereka.

Amir Muzaki, Koordinator Komunitas GUSDURian Pekalongan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program GUSDURian untuk mendukung pemilu yang jujur, adil, damai, dan bermartabat. “Kami mengajak masyarakat menjadi pemilih yang berkualitas, turut berperan aktif dalam perubahan nasib bangsa ke arah yang lebih maju dengan bersuara,” ucapnya.

tanggapan pedagang di area CFD Alun-alun Kajen, mereka mengapresiasi suasana politik yang tenang di Pekalongan dan menyatakan kegembiraan terhadap kegiatan seperti Gardu Jalanan Titik Nol yang diadakan oleh GUSDURian Pekalongan. “Di sini lebih anteng, apalagi ada kegiatan seperti Gusdurian Pekalongan ini,” ujar salah satu pedagang.

kegiatan Gardu Jalanan Titik Nol ini dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan pemilu yang transparan dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses demokrasi. GUSDURian Pekalongan terus berkomitmen untuk menjadi bagian dari perubahan positif demi kemajuan bangsa.