Menyelami Kebudayaan Desa Kutorojo Melalui Program Kerja Study Tour Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Esa Fitrotul Maulidiyyah dan Akhmad Dalil Rohman, Editor: M. Nurul Fajri

 

Desa Kutorojo, yang terletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, memiliki sebuah kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh desa ini adalah kerajinan anyaman bambu yang dikenal sebagai reyeng. Reyeng bukan hanya sekadar kerajinan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kutorojo. Dengan hampir 98% rumah tangga di desa ini menghasilkan kerajinan reyeng, dapat dikatakan bahwa pembuatan reyeng telah menjadi mata pencaharian utama bagi penduduknya.

Dalam upaya untuk menggali lebih dalam tentang proses pembuatan kerajinan reyeng serta memperkenalkannya kepada masyarakat luas, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Gusdur Pekalongan menginisiasi sebuah program kerja yang bertujuan untuk menelisik lebih jauh tentang pembuatan reyeng khas Desa Kutorojo.

Program ini tidak hanya melibatkan mahasiswa KKN, tetapi juga bekerja sama dengan pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kutorojo. Dengan kolaborasi ini, diharapkan program dapat berjalan dengan lebih efektif dan berkelanjutan. Pada tanggal 16 Maret 2024, program kerja ini dilaksanakan di rumah salah satu pengrajin reyeng terbaik di desa, Ibu Surati.

Ibu Surati bukanlah sosok yang asing dalam dunia kerajinan reyeng. Sejak tahun 90-an, beliau telah mengabdikan dirinya dalam menghasilkan kerajinan anyaman bambu ini. Dengan pengalamannya yang luas, Ibu Surati menjadi mentor bagi para mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan dalam mempelajari proses pembuatan reyeng secara langsung. Para mahasiswa tidak hanya diajari teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan reyeng dengan bimbingan langsung dari Ibu Surati.

Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulajat, turut memberikan apresiasi terhadap program kerja ini. Baginya, inisiatif ini tidak hanya membantu mengenalkan keunikan budaya desa kepada masyarakat luas, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Reyeng khas Desa Kutorojo telah menjadi produk unggulan yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga diekspor hingga ke luar Jawa Tengah.

Melalui program kerja ini, para mahasiswa KKN tidak hanya belajar tentang proses pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga memahami pentingnya melestarikan budaya lokal serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi masyarakat desa. Dengan demikian, program kerja ini bukan hanya sekadar kegiatan belajar-mengajar biasa, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari upaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh sebuah masyarakat.

Selain itu, program ini juga memberikan dampak positif dalam hal pengembangan keterampilan dan pengetahuan bagi mahasiswa KKN. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga belajar tentang kerjasama tim, komunikasi lintas budaya, dan pentingnya memahami konteks sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Ini semua merupakan pembelajaran yang sangat berharga di luar ruang kelas.

Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat desa Kutorojo, tetapi juga bagi para mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Sebagai bagian dari upaya untuk mempererat hubungan antara universitas dan masyarakat, program ini menjadi contoh nyata dari kolaborasi yang berdampak positif bagi semua pihak yang terlibat. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan akan semakin banyak inisiatif lain yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Mengukir Harapan Bersama: Kisah Sukses Program Kerja Kuliah Senja KKN UIN GusDur dengan Santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo

Pewarta: Inul, Susi, & Rudi Riyanto,  Editor: Tegar Dwi Pangestu

Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen yang berarti bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dengan masyarakat. Pada tahun ini, Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan yang bertugas di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan meluncurkan inisiatif program kerja yang menggembirakan dengan melibatkan para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, program kerja ini dikenal dengan nama “Kuliah Senja”. Karena bukan hanya tentang memberikan pengalaman berharga, dan juga belajar menanamkan harapan dan membangun komunitas yang lebih kuat.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada Jumat, 22 Maret sampai Minggu, 24 Maret 2024. Pada hari pertama, suasana penuh semangat terasa di udara ketika mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan dengan antusias menyampaikan materi kepada para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo. Dalam suasana yang hangat itu, cerita-cerita yang dibagikan tidak hanya menjadi pembelajaran, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam hati para santri.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman masing-masing kelompok. Bagi santri Sekolah Dasar, pembahasan tentang kalimat tayyibah disampaikan dengan cara yang menarik dan interaktif, sementara para santri SMP mendengarkan kisah menarik mengenai Ashabul Kahfi secara khusyuk. Hal ini tidak hanya membangun pemahaman, juga menginspirasi para santri untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hari berikutnya, kebersamaan terasa semakin erat. Permainan dan ice breaking berhasil mempererat ikatan antara mahasiswa dan santri. Mereka tertawa, bermain, dan belajar bersama dengan semangat yang tinggi. Review materi memberikan kesempatan bagi para santri untuk mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari, sedangkan quiz berhadiah menjadi momen yang sangat dinantikan oleh semua.

aktifnya partisipasi dari para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo menjadi pemandangan yang menggembirakan bagi semua yang telah hadir. Selain itu, terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk menyerap ilmu serta berinteraksi dengan mahasiswa KKN. Ustadz Syekh, salah satu guru dari MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, turut menyampaikan kegembiraannya atas keberhasilan acara ini. Baginya, kehadiran mahasiswa KKN bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat dan motivasi bagi masa depan para santri.

Lebih, dari sekadar pertukaran pengetahuan. Kegiatan ini membuka pintu untuk membangun hubungan yang lebih dalam antara mahasiswa KKN UIN GusDur dengan masyarakat Desa Kutorojo. Di setiap tawa, pelajaran, dan momen kebersamaan, terciptalah ikatan yang kuat dan bermakna. Harapan dan impian untuk masa depan yang lebih baik ditanamkan dalam masing-masing langkah, menjadi bekal bagi kedua belah pihak untuk terus maju bersama.

Melalui program kerja kuliah senja ini, bukan hanya ilmu yang disebarkan, tetapi juga cahaya harapan yang menerangi setiap sudut hati. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, program ini membuktikan bahwa melalui kolaborasi dan komitmen, kita dapat menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat. Kegiatan ini telah mengukir cerita sukses yang akan dikenang oleh semua yang terlibat, dan menjadi landasan untuk upaya-upaya lebih lanjut dalam memperkuat hubungan antarwarga masyarakat.

Menginspirasi Masa Depan: KKN UIN GusDur Turut Perangi Kenakalan Remaja dan Bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman dan Maulana Ichsan, Editor: Faiza Nadilah

Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk karakter dan perilaku individu, terutama di usia remaja yang rentan terhadap berbagai tantangan sosial. Mengakui pentingnya hal tersebut, Kamis (21/3), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN GusDur Pekalongan Angkatan 58 Desa Kutorojo melaksanakan kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk menanggulangi kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo, dengan peserta siswa-siswi kelas 7, 8, dan 9.

Kegiatan tersebut dimulai dari pembukaan dengan perkenalan para mahasiswa KKN, disusul dengan ice-breaking dan permainan edukasi untuk menciptakan suasana yang nyaman dan interaktif. Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pemutaran film pendek yang menyoroti tema kenakalan remaja dan perilaku bullying. Setelah itu, materi disampaikan secara langsung kepada peserta dengan implementasi bermain peran untuk memperjelas contoh perilaku kenakalan remaja, dampaknya, dan cara penyelesaiannya. Dan ditutup dengan doa penutup, sehingga memberikan kesan spiritual yang mendalam.

Dasar dari kegiatan ini adalah implementasi konsep tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi kepada siswa SMP agar mampu memahami dan menghindari perilaku kenakalan remaja. Respons dan apresiasi yang baik dari pihak guru SMPN 1 Atap Kutorojo menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan institusi pendidikan formal dalam membentuk generasi yang berkualitas.

Menurut Pak Arfi, guru SMPN 1 Atap Kutorojo, kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendukung program Polsek Kajen dalam menanggulangi bahaya perilaku bullying. Kegiatan ini dianggap positif karena memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada siswa-siswi tentang dampak negatif dari perilaku bullying serta pentingnya mengembangkan sikap empati dan menghormati satu sama lain.

Dengan demikian, kegiatan pendidikan tentang kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN Satu Atap Kutorojo merupakan langkah konkret dalam membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik di kalangan generasi muda. Kolaborasi antara mahasiswa KKN, guru, dan pihak kepolisian merupakan contoh sinergi yang efektif dalam membentuk lingkungan pendidikan yang aman dan berdaya. Melalui upaya ini, diharapkan akan tercipta generasi yang lebih berkualitas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Coretan Inspiratif: Langkah Awal Pengenalan Pendidikan Abad 21 Melalui Kegiatan KKN UIN Gusdur di SDN 01 Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman & Muhammad Harits, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Pentingnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan generasi muda sudah tidak diragukan lagi. Namun demikian, perlu ada tahapan untuk memastikan bahwa pendidikan yang diberikan relevan dengan tuntutan zaman. Untuk itu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Angkatan 58 mengambil langkah nyata dengan menggelar kegiatan edukasi di SDN 01 Kutorojo pada hari Rabu tanggal 20 Maret 2024. Lokasi ini dipilih sebagai titik awal untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 kepada siswa-siswi.

Kegiatan ini bukan hanya rutinitas biasa, tetapi juga merupakan implementasi dari salah satu pilar penting perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melibatkan siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6, kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Terlebih dengan ketatnya persaingan untuk mencapai karir, maka anak-anak juga perlu dilatih agar memereka memiliki daya kreativitas tinggi dengan didukung kemampuan tertentu yang harus dikuasai. Oleh karenanya, mahasiswa sebagai pilar penerus bangsa, maka mereka juga diharapkan dapat memberikan contoh nyata dan pengajaran bagi anak-anak, khususnya dalam hal ini pada jenjang sekolah dasar.

Menyadari pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan contoh nyata, para mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai role model bagi para siswa. Mereka memulai kegiatan dengan memperkenalkan diri dan tujuan dari kehadiran mereka di sekolah tersebut. Mereka menggabungkan cerita, contoh kasus, dan gambar untuk membantu siswa memahami konsep-konsep yang disampaikan.

Didukung dengan sesi ice breaking dan permainan edukasi menjadi magnet awal untuk membangun keakraban antara para mahasiswa dan siswa. Metode interaktif yang diterapkan dalam penyampaian materi tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Hal ini sangat penting mengingat keberagaman latar belakang dan tingkat pemahaman siswa yang berbeda.

Highlight dari kegiatan ini adalah praktik keterampilan abad 21, dimana siswa diajak untuk berkreasi dan mengekspresikan ide-ide mereka. Mereka diberi kesempatan untuk membuat gantungan kunci atau gelang menggunakan bahan tali kur, yang tidak hanya melatih keterampilan kreatif mereka tetapi juga belajar untuk bekerja sama dalam sebuah tim. Hasil dari praktik ini tidak hanya menjadi bukti keterampilan siswa, tetapi juga mengidentifikasi bakat dan minat mereka.

Tak hanya itu saja, siswa-siswi juga turut mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pendidikan abad 21. Keberhasilan kegiatan ini juga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Dengan melihat hasil positif yang diperoleh oleh SDN 01 Kutorojo melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan sekolah-sekolah lain juga akan tertarik untuk melakukan hal serupa. Hal ini tentu akan membawa dampak positif yang lebih luas bagi peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut.

Dengan demikian, kegiatan edukasi tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 di SDN 01 Kutorojo telah memberikan dampak positif bagi para siswa dan sekolah itu sendiri. Semoga kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan dengan percaya diri dan kompeten.

Harmoni Menuju Kemajuan: Inisiatif Koperasi Moderasi Beragama di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Pewarta: M. Syukron Ni’am dan Eva Novitasari, Editor: Ika Amiliya N.

Pada Kamis, tanggal 7 Maret 2024, sebuah kegiatan penyuluhan pendirian koperasi moderasi beragama diadakan di Balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bekerjasama dengan Pusat Moderasi Beragama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian dan menyatukan keberagaman agama serta kepercayaan masyarakat di Desa Kutorojo.

Pada kesempatan tersebut, Bani Prayogi, S.Psi. dari Dinas Koperasi Kabupaten Pekalongan, hadir sebagai pemateri. Peserta yang hadir adalah masyarakat Desa Kutorojo yang beragam dari segi agama dan kepercayaan. Latar belakang diadakannya penyuluhan ini antara lain adalah belum adanya koperasi di Desa Kutorojo, serta kebutuhan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal.

Penyuluhan ini bertujuan untuk menyatukan elemen masyarakat Desa Kutorojo, memenuhi kebutuhan mereka, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam penyuluhan tersebut, Bani Prayogi menjelaskan secara rinci tentang pembentukan koperasi, termasuk dasar hukum, definisi, jenis-jenis koperasi, prinsip-prinsipnya, struktur kepengurusannya, dan mekanisme pembentukannya.

Dengan informasi yang disampaikan oleh Bani Prayogi, diharapkan masyarakat Desa Kutorojo dapat lebih memahami pentingnya mendirikan koperasi dan bagaimana cara melakukannya. Melalui koperasi, diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kutorojo dapat ditingkatkan secara signifikan. Pengurus koperasi nantinya terdiri dari masyarakat lintas agama dan organisasi masyarakat (Ormas).

Kegiatan penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesejahteraan bersama di Desa Kutorojo. Dengan kerja sama antara Mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan Desa Kutorojo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan koperasi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, sambil tetap memperhatikan dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan.

Harmoni Menuju Kemajuan: Inisiatif Koperasi Moderasi Beragama di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Pewarta: M. Syukron Ni’am dan Eva Novitasari, Editor: Ika Amiliya N.

Pada Kamis, tanggal 7 Maret 2024, sebuah kegiatan penyuluhan pendirian koperasi moderasi beragama diadakan di Balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bekerjasama dengan Pusat Moderasi Beragama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian dan menyatukan keberagaman agama serta kepercayaan masyarakat di Desa Kutorojo.

Pada kesempatan tersebut, Bani Prayogi, S.Psi. dari Dinas Koperasi Kabupaten Pekalongan, hadir sebagai pemateri. Peserta yang hadir adalah masyarakat Desa Kutorojo yang beragam dari segi agama dan kepercayaan. Latar belakang diadakannya penyuluhan ini antara lain adalah belum adanya koperasi di Desa Kutorojo, serta kebutuhan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal.

Penyuluhan ini bertujuan untuk menyatukan elemen masyarakat Desa Kutorojo, memenuhi kebutuhan mereka, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam penyuluhan tersebut, Bani Prayogi menjelaskan secara rinci tentang pembentukan koperasi, termasuk dasar hukum, definisi, jenis-jenis koperasi, prinsip-prinsipnya, struktur kepengurusannya, dan mekanisme pembentukannya.

Dengan informasi yang disampaikan oleh Bani Prayogi, diharapkan masyarakat Desa Kutorojo dapat lebih memahami pentingnya mendirikan koperasi dan bagaimana cara melakukannya. Melalui koperasi, diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kutorojo dapat ditingkatkan secara signifikan. Pengurus koperasi nantinya terdiri dari masyarakat lintas agama dan organisasi masyarakat (Ormas).

Kegiatan penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesejahteraan bersama di Desa Kutorojo. Dengan kerja sama antara Mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan Desa Kutorojo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan koperasi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, sambil tetap memperhatikan dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan.

Sanggar Seni Lingga Laras: Teladan Toleransi Agama dan Persaudaraan di Desa Linggoasri

Penulis: Shifa Ismaya, Editor: Faiza Nadilah

Sebagai negara multikultural, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, suku, bahasa, bahkan agama. Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan suatu kekayaan dan keindahan bagi bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Dengan enam agama yang diakui, menambah keanekaeragaman yang dimiliki bangsa Indonesia yang bukan hanya mampu menjadi pengikat ataupun perekat masyarakat, namun dengan adanya keberagaman juga dapat menyebabkan terjadinya benturan antar keragaman bahkan konflik perpecahan yang dapat merugikan banyak pihak. Adanya keragaman di Indonesia mengharuskan kita sebagai anak bangsa menghindari sikap ekstrimisme dan intoleransi, terutama dalam beragama. Oleh karena itu, moderasi beragama perlu diterapkan guna menjaga keharmonisan suatu bangsa.

Moderasi beragama adalah jalan tengah yang berprinsip pada keadilan dan keberimbangan yang menjadikan seseorang tidak ekstrim dalam melaksanakan kehidupan beragama, dimana sebagai warga negara Indonesia kita dituntut untuk bersikap moderat dalam menghadapi keberagaman. Moderat dalam beragama berarti berperilaku, bersikap, dan memiliki cara pandang yang adil dan tidak ekstrim dalam beragama. Contohnya dengan tidak bersikap fanatik yaitu selalu menganggap ajaran agama yang dianut paling benar dan menganggap salah ajaran agama lain. Seseorang dapat dikatakan moderat apabila mampu memenuhi empat  indikator, yaitu: komitmen terhadap kebangsaan, anti kekerasan, akomodatif terhadap budaya lokal, serta toleransi. 

Setiap warga negara memiliki kebebasan dalam menentukan agama yang dianut, sehingga menjadikan Indonesia memiliki keberagaman agama. Toleransi merupakan sikap yang penting dalam kehidupan beragama. Toleransi atau tasamuh merupakan suatu kemampuan dalam menerima suatu perbedaan. Toleransi dalam agama memiliki arti suatu sikap memberikan kebebasan kepada orang lain dalam beribadah sesuai keyakinan yang diyakininya, serta tidak beranggapan bahwa apapun yang melekat pada diri sendiri lebih unggul dan tidak mengarah pada niat yang ditujukan untuk melakukan kekerasan fisik atau psikologis terhadap orang lain yang memiliki perbedaan dengan kita. Setiap agama mengajarkan bukan hanya toleransi melainkan banyak hal seperti saling memahami, saling menyayangi, saling menghargai dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Adanya sikap toleransi dapat menghilangkan kesenjangan dalam kehidupan bermasyarakat, mencegah terjadinya konflik perpecahan, serta persatuan dan kesatuan bangsa dapat terlestarikan. Sehingga dalam hal ini sikap toleransi perlu ditumbuhkan sejak dini.

Contoh nyata dari sikap toleransi agama sejak dini dapat dilihat pada sikap anak-anak Sanggar Seni Lingga Laras yang berada di Desa Linggoasri, kabupaten Pekalongan yang merupakan desa sadar kerukunan dan kampung moderasi beragama karena terdapat berbagai macam agama yang mampu hidup berdampingan. Sanggar Seni Lingga Laras merupakan suatu wadah dalam melestarikan kesenian seperti seni drama, karawitan, dan seni tari. Sanggar ini berdiri sejak tahun 2016 dan masih eksis sampai saat ini. Sanggar Seni Lingga Laras menjadi ruang kesenian sebagai alat pemersatu antar umat beragama yang ada di Desa Linggaasri karena siapapun dapat melakukan seni tanpa memandang kepercayaan yang dianut. Peserta Sanggar Seni Lingga Laras awalnya mayoritas pemeluk agama Hindu namun seiring berjalannya waktu peserta sanggar tersebut terdiri dari berbagai latar belakang agama namun mampu berdampingan dan hidup rukun. Adanya sanggar Seni Lingga laras tentu saja dapat memperkuat persaudaraan dan mampu menciptakan rasa saling memahami antar individu. Menurut penuturan Ibu Sri, selaku anggota aktif dari Sanggar Seni Lingga Laras mengatakan bahwa sikap toleransi agama pada anak-anak sudah muncul dengan sendirinya tanpa perlu arahan dari orang tua ataupun pendidik di Sanggar, contoh kecilnya tidak membeda-bedakan dalam berteman dan mereka saling mengingatkan untuk berdoa sebelum makan sesuai dengan agama masing-masing. Contoh kecil tersebut merupakan dampak dari lingkungan hidup, dimana mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan yang tinggi akan toleransi beragama, sehingga mereka tanpa sadar sudah menerapkan sikap toleransi agama sejak kecil. Pentingnya menerapkan toleransi agama dalam kehidupan bermasyarakat merupakan perwujudan rasa tanggung jawab dan kesadaran kita sebagai warga negara dalam menjaga perdamaian, kerukunan, persatuan dan kesatuan. Seperti halnya semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang menekankan persatuan di tengah perbedaan.

Harmoni Budaya: Adaptasi Masyarakat Non-Hindu dalam Pertunjukan Ogoh-Ogoh

Penulis: Maulana Akhmad Nurfauzi, Editor: Kharisma Shafrani, Amarul Hakim

Seni adalah produk dari tingkah laku manusia yang dilakukan secara sadar, yang didasari oleh pikir serta olah rasa. Seni pertunjukan adalah aspek-aspek yang divisualisasikan dan diperdengarkan mampu mendasari suatu perwujudan yang disebut sebagai seni pertunjukan. Pertunjukan memiliki tiga unsur pokok yaitu pertunjukan adalah peristiwa yang secara ketat atau longgar bersifat terancang, sebagai sebuah interaksi sosial dengan ditandai kehadiran fisik para pelaku dan peristiwa pertunjukan terarah pada ketrampilan dan kemampuan olah diri jasmanai serta rohaniatau kedua-duanya.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian butha kala. Dalam ajaran Hindhu Dharma, butha kala mempresentasikan kekuatan alam semesta (Butha) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Perwujudan patung ogoh ogoh yang dimaksud adalah sosok butha kala yang sering digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya diwujudkan dalam bentuk raksasa. Selain wujud raksasa, ogoh-ogoh biasanya digambarkan dengan makhluk-makhluk atau hewan yakni seperti gajah, naga, kera, babi, dan sebagainya.

Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung yang beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia. Boneka tersebut dahulu terbuat dari kerangka bambu yang dilapisi kertas. Seiring waktu, kebanyakan ogoh-ogoh saat ini dibuat dengan bahan dasar sterofoam karena menghasilkan bentuk tiga dimensi yang lebih halus. Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi. Waktu pembuatan ogoh-ogoh dapat bervariasi bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut. Fungsi utama ogoh-ogoh yakni digunakan sebagai representasi butha kala yang dibuat menjelang hari Nyepi. Setelah ogoh ogoh dibuat, kemudian diarak beramai-ramai keliling desa pada satu hari sebelum hari Nyepi.

Pertunjukan ogoh-ogoh dilaksanakan sesuai kondisi alam dan sumber daya manusia yang ada di Desa Linggoasri. Bentuk boneka ogoh-ogoh yang dibuat di Desa Linggoasri memiliki tinggi sekitar 2,5 m dan lebar sekitar 1,5 m. Ogoh-ogoh pada pertunjukan tahun ini terdiri dari 2 boneka. Boneka yang pertama merupakan perwujudan manusia raksasa yang memiliki dua mata besar, mulut lebar dan bergigi taring, berwarna hijau, berkuku panjang, dan berambut panjang tebal. Manusia yang tergambar pada boneka tersebut merupakan sifat manusia yang serakah, mudah marah, dengki, dan jahat. Pada kaki manusia tersebut ditumpangi kepala hewan kera. Kera dipilih karena kera sendiri dipandang memiliki sifat yang licik. Boneka kedua digambarkan menyerupai tubuh manusia yang berkepala babi. Pemilihan hewan babi sebagai bentuk boneka ogoh-ogoh ini dikarenakan sifat babi yang ganas, serakah dan dianggap tidak baik. Tubuh patung kedua tidak jauh berbeda dengan boneka yang pertama, hanya saja ukuran boneka yang kedua ini lebih sedikit kecil.

Ogoh-ogoh juga dimaknai sebagai simbol wujud keangkaramurkaan. Ogoh-ogoh yang diarak bertujuan sebagai simbol penyerapan segala sifat buruk atau segala sesuatu yang tidak baik masuk ke dalam boneka ogoh-ogoh tersebut, kemudian ogoh-ogoh dimusnahkan dengan harapan bahwa segala sifat buruk yang ada pada diri manusia. Pertunjukan ogoh-ogoh masuk dalam rangkaian tawur kesanga dalam upacara Nyepi yang diawali dengan ngidung yakni menyanyikan lagu-lagu jawa oleh semua umat di dalam pura.

 

Strategi Adaptasi Masyarakat NonHindu Pada Pertunjukn Ogoh-Ogoh

Adaptasi merupakan sebuah sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya. Spradley menyatakan bahwa proses adaptasi dipengaruhi oleh persepsi dan interpretasi seseorang terhadap suatu objek yang selanjutnya menuju pada sistem kategorisasi dalam bentuk respon atas kompleksitas suatu lingkungan. Jadi strategi adaptasi merupakan cara seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan atau keadaannya melalui proses persepsi dan interpretasi yang kemudian akan menghasilkan suatu kategorisasi yakni sikap yang dipilih dalam mengatasi peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Tokoh masyarakat yakni para pemuda Desa Linggo Asri yang terkumpul dalam organisasi karang taruna mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh merupakan warisan budaya yang berwujud kesenian, yang ditampilkan dalam bentuk seni pertunjukan secara turun temurun yang bersifat keagamaan. Pertunjukan ogoh-ogoh dianggap mampu memberikan nilai sikap peduli terhadap budaya yang dimiliki di tanah air khusunya di Desa Linggo Asri. Selain itu, pertunjukan ogoh-ogoh dianggap sebagai pertunjukan yang menghibur dan tidak mengandung unsur sara sehingga bisa dinikmati semua umur. Perbedaan agama menyebabkan perbedaan kepercayaan juga keyakinan, serta berbeda ajaran dalam menyembah Tuhan Sang Pencipta. Meskipun dengan keyakinan yang sama bahwa manusia menyembah Tuhan Yang Esa, namun jelas terdapat perbedaan dalam tata cara beribadah antar umat yang berbeda agama. Hal ini sangat dirasakan oleh tokoh-tokoh agama di Desa Linggo Asri. Pertunjukan ogoh-ogoh merupakah salah satu wujud perayaan pelengkap ibadah bagi umat Hindu, namun tidak bagi umat Islam. Meskipun perbedaan sangat dirasakan, tetapi tokoh agama Desa Linggo Asri menanggapinya secara positif. Tokoh- tokoh agama Islam di Desa Linggo Asri mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh dijadikan sebagai sarana pelengkap ibadah yang umat Hindu jalankan, dan sebagai pemenuhan emosi akan kebutuhan seni setiap individu. Pertunjukan ogoh-ogoh yang dijadikan pelengkap yang memiliki makna simbolis dalam perayaan Nyepi umat Hindu yakni sebagai pengusir roh-roh jahat dan hal-hal buruk yang ada pada diri manusia itu sendiri dan lingkungannya, dianggap oleh para tokoh agama Islam Desa Linggo Asri merupakan suatu hal baik karena membuang segala hal buruk adalah suatu tindakan yang baik, dan pertunjukan tersebut tidak sampai merugikan umat lainnya yang berbeda kepercayaan, justru adanya pertunjukan mampu menyalurkan perasaan seni tiap-tiap masyarakat yang menyaksikan pertunjukan khusunya masyarakat Desa Linggo Asri. Tokoh pemerintahan di Desa Linggo Asri terdiri dari beberapa masyarakat Islam dan masyarakat Hindu. Tokoh pemerintahan nonHindu mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh merupakan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial. Dengan adanya pertunjukan ogoh-ogoh, masyarakat Desa Linggo Asri bisa berkumpul bersama dalam rangka persiapan maupun ketika pertunjukan berlangsung. Hal ini menjadikan seluruh masyarakat Desa Linggo Asri berbaur menjadi satu sebagai wujud kerukunan antar umat yang berbeda agama. Selain merekatkan ikatan kerukunan antar warga, pertunjukan ogoh-ogoh dianggap sebagai kesenian yang menghibur. Setiap warga tanpa ada batasan jenis kelamin, agama ataupun usia bisa menyaksikan pertunjukan.

Perjalanan Pemimpin dan Pendidik: Kisah K.H. Mas’ud Abdul Qodir dan Pondok Pesantren Darul Amanah

Penulis: Annisa Nuruz Zahra, Editor: Choerul Bariyah

K.H.Mas’ud Abdul Qodir beliau adalah pendiri dan pimpinan pondok pesantren Darul Amanah(Islamic Boarding School).Pondok Pesantren ini berada di Jawa Tengah tepatnya berada di Sukorejo-Kendal.Beliau juga salah satu ulama’ di Jawa Tengah yang mewakafkan diri,tidak hanya untuk kemajuan Agama Islam saja.Tetapi,juga untuk Masyarakat.Bangsa,dan Negara.Beliau mempunyai strategi pengembangan ponpes,yaitu menerapkan Panca Jiwa dan Panca Jangka Pesantren.Panca Jiwa yang diterapkan di pondok pesantren Darul Amanah,yaitu:

  • Jiwa Keikhlasan
  • Jiwa Kesederhanan
  • Jiwa Berdikari
  • Jiwa Ukhuwah Islamiyah
  • Jiwa Kebebasan

 

K.H.Mas’ud Abdul Qodir lahir pada hari senin wage tanggal 20 Juni 1949 yang bertepatan dengan Sya’ban (Ruwah)1368.Beliau belatar belakang dari keluarga yang sangat sederhana.Ayah dan ibunya adalah seorang pedagang desa yang berjualan dengan hasil perkebunan.Beliau tinggal di Dukuh Gondoriyo Desa Gondoharum Pageruyung Kendal.Sejak Kecil,Abah Mas’ud memang sudah disiplin dalam beribadah.Ketika memasuki usia SLTP,Beliau selalu berjamaah subuh setiap hari,kadang yang Adzan,kadang juga yang memukul kentongan.K.H Mas’ud Abdul Qodir sebagai anak pertama dari lima bersaudara yaitu:

  • H.Nasroh
  • H.Saib,B.A.
  • Hj.Masiti
  • H.Abdul Haris Qodir,S.Mn.

 

PENDIDIKAN K.H MAS’UD ABDUL QODIR

Pada masa itu,banyak orang yang belum memikirkan pendidikandan yang minat sekolah juga masih jarang,akan tetapi ia mempunyai kemauan tersendiri untuk bersekolah,dan juga dari keluarga yang memang memikir kan pendidikan dan juga agamanya.Beliau mempunyai kemauan yang kuat dalam menuntut ilmu(bersekolah)dibandingkan dengan teman sebayanya ,beliau juga orang yang sangat disiplin.Sepuluh tahun pasca Indonesia merdeka,masih banyak masalah yang harus dibenahi negara,yaitu keamanan,ekonomi,dan pendidikan.Di masa itu,di kecamatan Pageruyung hanya untuk wilayah selatan hanya ada satu Sekolah Rakyat(SR),dan itupun untuk beberapa desa;Gondoharum,Getas Blawong,dan Parakan Sebaran.Hikmah dari sekolah didesa lain,tentu memperluas wawasan dan pergaulan.Di Kota Kewedanan Sukorejo waktu itu belum ada SMP Negeri atau SMP Islam,yang ada hanya SMPK Argokiloso.Sekolah yang didirikan pada tahun 1953 itu menerapkan disiplin sebagaimana sekolah Belanda pada umumnya.Beliau melanjutkan pendidikan SMP Kanisius Sukorejo tahun 1961-1962,dan hanya satu tahun di SMPK Sukorejo.Dan melanjutkan pendidikannya di Pesantren Luhur,Wonosari Ngaliyan Mangkang,Semarang.Saat itu disebutnya pesantren Dondong,karena berlokasi di Kampung Dondong.

Di Mangkang,beliau hanya empat tahun ,karena mendapat informasi tentang Pondok Modern Darussalam Gontor.Awalnya dia kagum kepada salah satu ustadz pengajar Bahasa Arab saat menjadi santri di Pondok Pesantren Dondomg Mangkang yang bernama Ustadz Nurul Anwar.Ustad Anwar mahir dalam Bahasa Arab,ilmu Aljabar,dan Bahasa Inggris,karena lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor yang kemudian melanjutkan studi ke Madinah.

K.H Mas’ud Abdul Qodir dididik oleh generasi pertama Trimurti,yaitu tiga serangkai yang mendirikan pondok pesantren,yang terdiri dari K.H.Ahmad Sahal sebagai pendiri pertama Pondok Gontor 1926,K.H.Zainudin Fannani yang tinggal di Jakarta dan membantu dari jauh,,sertta K.H.Imam Zarkasyi yang memberikan warna baru metode Gontor sejak 1936.

Pondok Modern Gontor mempunyai Motto yang menekankan pada pembentukan pribadi Muslim yang Berbudi luhur,Bebadan sehat,Berpengetahuan luas,dan Berpikiran bebas.

Saat menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor,Abah Mas’ud hanya dijenguk sekali selama 9 tahun selama menjadi santri dan guru di Gontor.Karena beliau memahami Ayahnya yang sedang berjuang kerja keras untuk biaya pendidikannya hingga tidak punya cukup waktu untuk menjenguk putranya.

Sebelum menyelesaikan pendidikanya di Gontor beliau di nikahkan dengan perempuan dari anak adik ipar Kiai Muhsin yaitu Haji Nur Said,Kiai Muhsin adalah kakak beradik dengan Abdul Qodir(ayah K.H.Mas’ud).Perempuan tersebut bernama Nur Halimah yang saat itu baru tamat SD.

Pada tahun 1971-1972 Mas’ud Abdul Qodir mendapat amanah menjadi ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern(OPPM).saat menjabat menjadi ketua OPPM,beliau mendapat sentuhan dan arahan langsung dari pendiri dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,K.H.Ahmad Sahal dan K.H.Imam Zarkasyi selaku Pembina pengurus OPPM.”Kami dididik dengan baik dan kami juga melihat sosok kiai imam zarkasyi seperti orang tua sendiri,”kenangnya.”SIAP MEMIMPIN DAN MAU DIPIMPIN”.

Selama menjadi guru di Pondok Modern Darussalam Gontor,beliau melanjutkan Pendidikannya di Institut Pendidikan Darussalm (IPD) memgambil fakultas Ushuludin.memulai pendidikannya di IPD pada tanggal 25 Januari 1974-1 Februari 1974.

Setamat dari Gontor ,Mas’ud Abdul Qodir fokus untuk memulai membina rumah tangga.Cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Al Azhar Kairo sementara dilupakan dulu.Doanya, mudah-mudahan di kemudian hari ada anak-cucu yang merealisasikan cita-cita itu.Dan diwujudkan oleh putra pertama beliau bernama  H.Muhammad Adib,Lc,M.A sebagai wakil Pimpinan Pesantren Darul Amanah..Abah Mas’ud mempunyai dua putra dan putra kedua bernama H.Muhammad Fatwa,M.Pd.sebagai Direktur TMI Pondok Pesantren Darul Amanah.

Pada tanggal 1976,sebelum mendirikan Pondok Pesantren Darul Amanah,Kiai Mas’ud Abdul Qodir pernah mengadakan Kelas Bahasa Arab dirumah mertuanya H. Nur Said di Dusun Kemloko Ds.Mojojagung Kec.Plantungan Kab,Kendal.jumlah siswa kelas Bahasa Arab pada waktu itu sekitar 30 santri putra dan 30 santri putri.

Pondok Pesantren Darul Amanah,Berdiri pada tanggal 23 Mei 1990.Yayasan Darul Amanah yang bergerak di bidang pendidikan dan social keagamaan mendirikan Pondok Pesantran Darul Amanah yang dipelopori oleh:

  • K.H. Jamhari Abdul Jalal,Lc. (Cipining Bogor)
  • K.H. Mas’ud Abdul Qodir (Kabunan Ngadiwarno Sukorejo Kendal).
  • Bpk Slamet Parwiro (Parakan Sebaran Pageruyung)
  • Ust. Junaedi Abdul Jalal (Parakan Sebaran Pageruyung)

 

Keempat peloporpendirian Pondok Pesantren Darul Amanah bersepakat bahwa K.H. Mas’ud Abdul Qodir yang menjadi Pimpinan Pesantren Darul Amanah.Beliau merupakan alumni Gontor tahun 1972 .Dan pondok ini disebut pondok Alumni Gontor.dan Pondok Pesantren Darul Amanah kini memiliki Dua Ribu lebih santri dan Dua Ratus tenaga pengajar.memiliki empat tingkatan yaitu;MTS,MA,SMK,dan KMI.

K.H. Mas’ud Abdul Qodir menerapkan konsep kepemimpinan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang meliputi :Ing ngarso sung tuldha,Ing madya mangun karsa ,Tut Wuri Handayani.

“JANGAN BERHENTI BERDOA KARENA TAKDIR BISA DIUBAH DENGAN DOA”.K.H. Mas’ud Abdul Qodir.

Pemikiran dan Kepemimpinan KH. Ahmad Rifa’I BIN Raden Muhammad Marhum Chilmy Munazil

Penulis : Chilmy Munazil, Editor : Tegar Dwi Pangestu

Ahmad Rifa’i beliau adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama pendiri, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan. Beliau lahir pada tanggal 9 Muharram 1200 H, bertepatan dengan tahun 1786 di Desa Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dan wafat pada umur 84 tahun di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1895 dan di makamkan di pekuburan Jawa Tondano di kelurahan Kampung Jawa, di kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara Indonesia.

Sedari kecil beliau sudah dididik oleh ayahnya yang Bernama KH. Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja pula beliau sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, beliau menunaikan ibadah haji kemudian memperdalam ilmu agama di Makkah dan Madinah kurang lebih selama 8 tahun. Selain itu juga beliau menimba ilmu di Mesir.

Ahmad Rifa’i adalah seorang juru dakwah yang pandai, beliau mengemas ajarannya dalam kitab-kitab yang berbahasa Jawa menggunakan huruf Arab ( Arab Pegon ) dan berbentuk syair yang menarik bagi orang Jawa, sehingga pada masa itu Masyarakat Jawa mudah memahami dan menghafal ajaran Islam. Dalam berdakwah beliau juga mengobarkan semangat anti kafir, anti penjajah dan gagasannya bisa dikategorikan tajdid ( pembeharuan ) atau pemurnian.

Pemikiran beliau juga dapat dikatakan sebagai pemikiran yang moderat, pemikirannya telah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam kepada Masyarakat Indonesia.

Pemikiran dan kepemimpinan beliau yang telah meninggalkan jejak dalam sejarah keislaman diantaranya ada :

  • Pemikiran Keagamaan yang Mendalam

KH Ahmad Rifai dikenal sebagai pemikir keagamaan yang mendalam. Pemikirannya mencakup berbagai aspek kehidupan, dari hubungan manusia dengan Tuhan hingga tata cara ibadah. Beliau mengajarkan nilai-nilai keimanan dan keislaman yang bersifat inklusif, mendorong umat untuk memahami esensi ajaran agama secara komprehensif.

  • Toleransi dan Kemanusiaan

Salah satu poin penting dalam pemikiran KH Ahmad Rifai adalah nilai toleransi antar umat beragama. Beliau mengajarkan agar umat Islam menjalin hubungan yang baik dengan penganut agama lain, menciptakan harmoni dan perdamaian dalam Masyarakat. Pemikirannya mencerminkan semangat kemanusiaan yang mengedepankan persatuan di atas perbedaan.

  • Kepemimpinan yang Adil dan Bijaksana

Sebagai seorang pemimpin spiritual, KH Ahmad Rifai menunjukkan kepemimpinan yang adil dan bijaksana. Beliau memimpin dengan teladan, memberikan orientasi moral, dan menjaga keadilan dalam segala tindakan. Kepemimpinannya tidak hanya terfokus pada kepentingan kelompoknya sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan umat dan masyarakat secara luas.

  • Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat

KH Ahmad Rifai juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pemikirannya merangkul konsep pendidikan holistik yang tidak hanya menekankan aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Beliau melihat bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas dan beradab.

Meskipun beliau mungkin telah tiada, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Pengaruhnya meluas dari aspek agama hingga tatanan sosial. Warisan ini terus menerus diteruskan oleh para pengikutnya, menciptakan pondasi yang kuat bagi pengembangan masyarakat dan kehidupan beragama yang harmonis.

Dengan demikian, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi tolok ukur bagi mereka yang ingin menggali nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kepemimpinan yang berlandaskan pada keadilan dan kebenaran.

  • Ahmad Rifa’i mempunyai beberapa karya salah satunya kitab agama yang ditulis beliau yaitu dalam bentuk : syair, puisi tembang jawa, bentuk nastrah sebanyak 65 judul.

Sementara yang berbentuk tanbi ( semacam risalah singkat yang membahas satu topik ) ada 500 karya dan terdapat 700 berupa nadzom doa. Jumlah kitab tersebut yang ditulis sebelum KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon Maluku, yaitu saat masih bermukim di desa Kalisalak.

Secara umuum kitab- kitab diatas mengupas tentang 3 bidang ilmu syari’at islam yang meliputi Fiqih, Usuluddin, dan tasawuf.

Beberapa kitab karya KH Ahmad Rifa’I yang masih disimpan di universitas Leiden Belanda antara lain :

  • No.1139 Riayatal Himmah, tahun 1849 M
  • No. 6617 Nadzom Kaifiyah, tahun 1845 M
  • No. 7520 Tanbih Bahasa Jawa
  • No 7521 Husnul Mitholab, tahun 1842 M
  • No. 7524, Nadzam Irfaq, tahun 1845 M
  • No. 8489, Munawirul Himmah, tahun 1856 M
  • No. 5865, Athlab, tahun 1842 M
  • No. 8566, Nadzam Tazkiyah, tahun 1852 M
  • No. 8567, Tasyrihatal Muhtaj, tahun 1849 M
  • No. 8568, Syarihul Iman, tahun 1839 M
  • No. 8569, Tasfiyah, tahun1849 M
  • No. 11001, Bayan, tahun1839 M
  • No. 11001, Imdad, tahun 1845 M
  • No. 11004, Thariqat, tahun 1840
  • No. 7523 Abyanal Khawaij, tahun 1849 M