Menyelami Makna dan Keunikan di Balik Festival Bubur Suro Krapyak Kota Pekalongan

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Menyambut tahun baru Hijriah menjadi hal yang penuh suka cita bagi setiap umat muslim. Seperti yang dirasakan oleh masyarakat Kota Pekalongan, khususnya wilayah Krapyak dalam menyambut acara tahunan ini.

Setiap memasuki bulan Muharram (Suro) masyarakat Kelurahan Krapyak mengadakan acara tahunan berupa Festival Bubur Suro. Sebuah acara yang kental akan tradisi ini lahir dari kebiasaan dan spiritual masyarakat. Sesuai penamaannya, Festival Bubur Suro diambil dari bulan pertama dalam kalender Jawa yaitu Suro.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Tradisi yang diselenggarakan sejak tahun 2019 ini bukan hanya perayaan, namun menjadi wujud dari rasa syukur, kebersamaan, serta pelestarian budaya yang maknanya sangat mendalam bagi masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaan tradisinya, masyarakat Krapyak membagikan ribuan porsi bubur. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur dan sedekah atas karunia Allah SWT. Ditinjau dari sisi historis, tradisi bubur suro ini merupakan interpretasi dari kisah Nabi Nuh dan pengikutnya, di mana kapal yang ditumpangi selamat dari bencana banjir bandang, kemudian mereka memasak makanan dengan bahan seadanya untuk dinikmati bersama. Seperti wadah yang digunakan untuk bubur tersebut yaitu takir yang berbentuk melengkung menyerupai kapal Nabi Nuh.

Tentunya bubur suro ini menggambarkan keberagaman, sebagaimana yang terdapat di dalam bubur yang terdiri dari macam-macam bahan, rempah, kacang-kacangan, dan diolah dengan tujuh toping lainnya. Dalam proses pembuatannya pun melibatkan banyak orang, tentunya tergambarkan betapa kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Keunikan juga tergambarkan dari rangkaian acara Festival Bubur Suro yang kental akan pelestarian budayanya. Seperti terselenggaranya acara tahun ini yang mengusung tema “Merawat Jejak Luhur” dengan menonjolkan nilai-nilai tradisi, serta kearifan lokal. Ornamen yang digunakan dalam dekorasi acara pun dirancang penuh dengan sentuhan lokal yang menggunakan bambu dan kayu sebagai konsep dekorasi utama. Rangkaian acara pun menjadi simbol betapa masih kuatnya pelestarian budaya yang tersaji dalam acara ini. Seperti Kirab Gunungan Bubur Suro yang memiliki simbol harapan dan doa, pentas budaya seni yang menghadirkan musik keroncong, hingga bazar makanan dari berbagai jenis generasi baik tradisional maupun modern. Kegiatan ini pastinya memberikan banyak peluang bagi masyarakat baik perekonomian serta rasa gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Krapyak.

Tradisi ini mengundang banyak antusiasme masyarakat serta menjadi kebanggaan lokal yang tentunya memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk menjaga tradisi setempat. Festival Bubur Suro ini menjadi cerminan kearifan lokal serta semangat gotong royong masyarakat Krapyak Kota Pekalongan. Di balik pemaknaan sebuah bubur tersimpan rasa syukur, harapan, serta kebersamaan masyarakat yang selalu dirayakan secara turun-temurun.

GUSDURian Makassar dan PMII UIM Gelar Diskusi: Menyoal Ironi Keterlibatan Ormas dalam Konsesi Tambang

Penulis: Afrijal*

Editor: Fajri Muarrikh

MAKASSAR | Komunitas GUSDURian Makassar bekerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Makassar (UIM) Cabang Metro Makassar menggelar Roadshow Pojok GUSDURian Kampus pada Senin (28/07/2025). Diskusi kali ini mengangkat tema “Wahabi Lingkungan dan Konsesi Tambang: Ironi di Tubuh Ormas Keagamaan” yang bertujuan membedah keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dalam industri tambang, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat adat.

 

Kegiatan dibuka oleh Megawati, penggerak Komunitas GUSDURian Makassar. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa GUSDURian berfokus pada tiga isu utama: Demokrasi, Ekologi, dan Pendidikan Berkualitas. “Ekologi menjadi salah satu isu yang paling sering kami suarakan. Persoalan mendasar saat ini adalah kerusakan lingkungan, dan Pojok GUSDURian ini menjadi salah satu cara kami untuk terus menyuarakan keprihatinan itu,” jelasnya.

 

Diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan mendalam mengenai sejarah dan kondisi pertambangan di Indonesia, keterlibatan organisasi keagamaan dalam konsesi sumber daya alam, serta kajian etis dan teologis dari perspektif Islam terhadap eksploitasi lingkungan.

 

Salah satu narasumber, Danial, menyatakan bahwa “Tambang pada hakikatnya pasti mengarah pada ketimpangan struktural.” Ia menekankan bahwa kegiatan ekstraktif bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial.

 

Sementara itu, Fahri Fajar dari Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam regional Makassar, menyoroti bahwa strategi kapitalisme menghancurkan ruang hidup masyarakat agar mereka terpaksa menjadi buruh tambang. “Tambang bukan hanya merusak alam, tetapi juga melumpuhkan komunitas lokal yang bergantung pada keberlanjutan ekologis,” tegasnya.

 

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang kampus dan organisasi. Mereka diharapkan mampu membangun kesadaran kritis dan refleksi kolektif sebagai bentuk advokasi moral berbasis agama terhadap isu eksploitasi lingkungan.

 

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Salah satu peserta, Apri mengungkapkan antusiasmenya, “Saya sangat senang bisa mendapatkan wawasan baru tentang isu lingkungan. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut agar mahasiswa terus mengawal isu-isu hangat di tengah masyarakat dan memberi perspektif baru.”

Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.

Antusias, Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Kelompok Kanoman I bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalibawang menyelenggarakan Edukasi Pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dan Komersialisasi Produk Pertanian di kediaman Tumijo, Kepala Dusun Kanoman I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo pada Kamis, (24/7).

Baca juga: Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Kegiatan ini merupakan implementasi program kerja Kelompok Kanoman I yang mengacu pada pilar Desa Rumah Alam dan Ekoteologi (Rumaket) dan Pembangunan Ekonomi Umat.

Dinna selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kalibawang, menyampaikan definisi, fungsi, kelebihan, serta proses pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dengan jelas.

Lebih lanjut, Dinna menyampaikan bahwa terdapat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan dari produksi IMO, namun perlu dilakukan uji lab untuk bisa mengomersialisasikan produk tersebut.

“Perlu ada uji lab terlebih dahulu di Kabupaten Bantul, di laboratorium pengamat penyakit, baru bisa didistribusikan,” jelasnya.

Bukan hanya penyampaian teori, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan IMO 1 dan IMO 2 yang dilakukan di bawah pohon bambu, di mana terdapat tanah yang masih alami karena belum terkontaminasi bahan kimia apa pun. Dipimpin oleh Suwarto selaku PPL di wilayah Kelurahan Banjararum, warga menyimak dengan seksama.

Di akhir kegiatan, Kelompok I membagikan 2 bibit cabai dan 2 bibit tomat, polybag, serta 1 botol IMO 2 kepada tiap warga untuk segera dipraktikkan di rumah. Warga terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi acara.

Menjejak Sunyi Sejarah di Gereja Boro: Napak Tilas Misi Katolik di Jantung Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kalibawang, Kulon Progo di antara lebatnya pepohonan dan udara sejuk pegunungan Menoreh, berdiri sebuah bangunan tua yang kokoh menantang waktu, yaitu Gereja Santa Theresia Lisieux, Boro. Bagi masyarakat sekitar Kalibawang, nama “Gereja Boro” bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang penyebaran ajaran Katolik dan kehidupan sosial masyarakat sejak masa kolonial.

Langkah kaki kami dari Tim KKN Nusantara V yang sedang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, terasa ringan namun penuh rasa ingin tahu saat menginjakkan kaki di Komplek Misi Boro. Sebuah kawasan yang ternyata menyimpan lebih dari sekadar bangunan gereja, di sinilah sejarah, iman, dan pelayanan berpadu erat dalam satu ruang dan waktu.

Menurut hasil wawancara kami dengan pengelola setempat, Gereja Boro mulai dibangun pada 31 Agustus 1931, ketika wilayah ini masih merupakan bagian dari stasi Kalibawang yang dilayani oleh Paroki Muntilan, Magelang. Kehadiran Romo J. Prenthaler, S.J. menjadi titik balik yang membangkitkan kehidupan rohani di Boro, sekaligus menjadi penggerak utama berdirinya kompleks ini.

Baca Selengkapnya: Tantangan Kehidupan Mahasiswa Muslim di Kota Nanjing, Cina

Namun, gereja hanyalah satu bagian dari mosaik besar bernama Komplek Misi Boro. Kami mendapati bahwa di sekeliling gereja terdapat pastoran, rumah sakit, susteran, bruderan, panti asuhan, hingga sekolah-sekolah Katolik seperti Pangudi Luhur dan Marsudirini. Pembangunan kompleks ini berlangsung dari tahun 1928 hingga 1938, menggambarkan betapa seriusnya misi Katolik dalam mengakar di tanah Kulon Progo, bukan hanya untuk menyebarkan ajaran, tetapi juga melayani umat lewat pendidikan dan kesehatan.

Yang membuat hati terenyuh, bangunan-bangunan tua itu masih tegak berdiri. Dinding-dinding gereja dengan ornamen khas Eropa awal abad ke-20, jendela kaca patri yang menyaring cahaya mentari pagi, hingga aroma kayu tua yang menenangkan, semuanya membawa imajinasi kami menyusuri lorong-lorong waktu. Namun yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana nuansa budaya lokal terasa begitu kuat di dalam gereja ini.

Baca Selengkapnya: Moderasi Beragama: Harmoni Islam dan Budaya Lokal di Desa Linggoasri

Ornamen-ornamen ukiran kayu bermotif batik dan tokoh-tokoh wayang menghiasi bagian dalam gereja. Kehadiran elemen-elemen budaya lokal tersebut seolah menjadi bentuk dialog harmonis antara iman dan tradisi, antara universalitas Katolik dan kearifan lokal. Ukiran yang halus dan penuh makna itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bagaimana kekristenan merangkul budaya setempat, bukan menggantikannya.

“Komplek ini bukan hanya milik umat Katolik. Ini bagian dari sejarah Kulon Progo,” ungkap salah satu pengurus gereja yang kami temui.

Ucapannya seperti menegaskan bahwa di balik nilai religiusnya, Gereja Boro menyimpan warisan lintas budaya yang layak dihormati dan dilestarikan.

Baca selengkapnya: Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Di tengah modernisasi yang semakin cepat, tempat seperti Gereja Boro menjadi pengingat akan akar-akar sejarah yang tak boleh tercerabut. Kunjungan ini bukan hanya menjadi bagian dari agenda observasi KKN kami, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam—mengajarkan bahwa bangunan tua bisa menyampaikan kisah, jika kita tidak hanya diam dan mendengarnya.

Mendak Pindo dan Slawatan Katolik: Harmoni Lintas Iman di Tengah KKN Nusantara di Dukuh Jurang Depok

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra

Editor: Fajri Muarrikh

Kulon Progo –  Dalam suasana hening yang sarat makna spiritual, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Kelompok 22 Tahun 2025 turut ambil bagian dalam tradisi Mendak Pindo, sebuah ritual doa mengenang dua tahun wafatnya seseorang. Kegiatan ini berlangsung di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo pada hari Sabtu (19/07/2025). Rangkaian acara mencakup sembahyang, kenduri, dan yang paling menarik perhatian, yaitu Selawatan Katolik, dikenal juga sebagai Slaka.

Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan keagamaan lintas iman ini tidak hanya menjadi pengalaman budaya, tetapi juga bagian dari implementasi Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. KKN Nusantara tahun ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Asta Protas, terutama pada poin pertama berbunyi “Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan”. Sinergi antara kampus dan masyarakat dukuh seperti inilah yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman.

Slawatan Katolik sebagai Simfoni Doa dan Tradisi Jawa

Slaka menjadi elemen kultural yang paling menonjol dalam acara Mendak Pindo ini. Tradisi ini memadukan unsur musikal Jawa dengan spiritualitas Katolik. Irama yang digunakan dalam Slaka memiliki kemiripan dengan shalawat dalam Islam—merdu, mengalun, penuh khidmat. Namun, lirik-liriknya berisi pujian kepada Allah, Yesus Kristus, dan kisah-kisah tokoh Katolik yang dibawakan dalam bahasa Jawa dengan nada-nada yang khas.

Tradisi ini berkembang di wilayah-wilayah pedesaan seperti Kalibawang dan sekitarnya, mencerminkan akulturasi yang kaya antara iman Katolik dan budaya lokal. Dalam perspektif seni, Slaka adalah ekspresi iman yang dibumikan dalam bentuk tembang.

“Shalawat Katolik ini merepresentasikan iman yang kita hayati, tanpa mempermasalahkan aqidah ataupun perbedaan ritual. Ini adalah cara kami menyembah Tuhan melalui seni,” ujar salah satu tokoh masyarakat, ibu Lumiyati.

Media Pewartaan dan Jembatan Dialog Lintas Agama

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Slaka menjadi media pewartaan dan penguatan nilai-nilai moral. Syair-syairnya berisi ajaran Yesus Kristus, pesan-pesan kasih, penguatan iman, hingga seruan perdamaian antarumat beragama. Slaka di Dukuh Jurang Depok percaya bahwa kesenian ini mampu menyentuh hati lintas generasi, lintas agama.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan ini pun menjadi bentuk pembelajaran sosial yang luar biasa. Mereka menyaksikan bagaimana nilai-nilai iman tidak harus dipertentangkan, melainkan bisa dijadikan jembatan untuk memahami sesama.

“Sebagai mahasiswa dari latar belakang berbeda, kami merasa kegiatan ini memberikan pelajaran penting tentang toleransi dan ekspresi iman yang kreatif,” tutur salah satu peserta KKN Nusantara, Royhan.

Implementasi Asta Protas melalui Kerukunan yang Membumi

Asta Protas mendorong mahasiswa untuk merancang kegiatan KKN yang relevan dengan isu-isu strategis Kementerian Agama, termasuk kerukunan beragama dan cinta kemanusiaan. Keterlibatan dalam Mendak Pindo dan Slaka menjadi bagian dari upaya itu—mendorong interaksi bermakna antara mahasiswa dan komunitas lintas agama.

Tak hanya menjadi penonton, mahasiswa juga membantu dokumentasi kegiatan, mendampingi teknis acara, dan berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini memastikan bahwa program pengabdian yang mereka jalani memberikan dampak berkelanjutan dan memperluas wawasan keberagaman.

Iman yang Mengalun dalam Nada

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh perbedaan, apa yang terjadi di Kalibawang adalah angin segar, suara-suara iman dinyanyikan bukan untuk menghakimi, tapi untuk merangkul. Slaka bukan hanya bentuk seni, melainkan perwujudan iman sejati yang merangkul manusia secara universal.

KKN Nusantara V 2025 telah menunjukkan bahwa membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana: hadir, mendengar, dan menghargai. Lewat nada-nada syahdu dari Slaka, mahasiswa dan masyarakat menemukan harmoni—di mana iman dan seni berjalan berdampingan.

 

 

 

 

 

 

“Nguri-Uri Budaya,” Tradisi Baritan di Kanoman I Kembali Digelar

Penulis dan Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Kulonprogo – Tradisi Baritan kembali digelar di Lapangan Sekaran, Dusun Kanoman I, Banjararum, Kulonprogo pada Minggu, (20/07). Tradisi ini merupakan perayaan tahunan yang dilakukan pada masa panen sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan.

Perwakilan warga Kanoman I Wiji Sutarma menjelaskan sejarah singkat perayaan Baritan, bahwa tidak ada sejarah konkret mengenai tradisi ini, namun yang pasti Baritan merupakan representasi rasa syukur warga atas hasil alam yang melimpah pada masa panen. Menurutnya, Kecamatan Kalibawang merupakan penghasil padi yang melimpah. Bahkan dahulu dikatakannya, salah satu kecamatan di Kabupaten Kulonprogo ini memiliki banyak lumbung padi.

“Mboten enten sejarah sing pesti tentang Baritan niki. Tapi sing jelas Baritan iku mbubarke peri lan setan lan dedongo marang Gusti Allah. Mediane kupat lan pelas, (Tidak ada sejarah pasti mengenai Baritan. Tapi yang jelas Baritan itu mengusir ‘peri’ dan setan dan berdoa kepada Allah. Medianya ketupat dan pelas),” jelas Sutarma.

Baca juga: Memelihara Tradisi dan Kebudayaan dalam Kearifan Lokal Jawa

Baritan dimulai pada pukul 9 pagi dengan kirab ketupat dan hasil alam. Acara kedua diisi dengan penampilan warok oleh bapak-bapak Kanoman I. Acara selanjutnya adalah perebutan gunungan ketupat dan hasil alam oleh masyarakat sekitar. Baritan kemudian dilanjutkan pada pukul 1 siang dengan penampilan kesenian Jathilan Tradisional dan Kreasi Baru oleh Turonggo Aji Pamekar.

Animo masyarakat sangat tinggi terhadap acara ini. Masyarakat dari berbagai kalangan memadati Lapangan Sekaran sejak pukul 10 pagi.

Baca juga: Korelasi Antara Tradisi Nyadran dengan Nilai-Nilai Moderasi Beragama

Turut hadir dalam perayaan Baritan Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho, Lurah Banjararum Warudi, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), serta tokoh-tokoh Kanoman I dan II.

Menanam Nilai Kerukunan Melalui Peringatan Hari Koperasi: Refleksi KKN Nusantara Kelompok 22 di Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Muslimah

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya tentang pengabdian di desa, tetapi juga tentang membumikan nilai-nilai strategis kebangsaan. Salah satu refleksi nyata dari semangat tersebut tampak dalam kegiatan Upacara Peringatan Hari Koperasi Indonesia ke-78 yang diikuti oleh KKN Nusantara Kelompok 22 di Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, pada 17 Juli 2025. Mahasiswa KKN turut serta dalam kegiatan tersebut bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan perangkat kecamatan setempat.

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dalam ruang-ruang sosial yang lebih luas—bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen pembangun harmoni masyarakat. Selaku inspektur upacara, Camat Kalibawang, Bapak Tukidi, menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk mahasiswa, dalam menjaga kerukunan dan mendorong pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari arah pembangunan yang inklusif.

Pesan tersebut sejalan dengan Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 244 Tahun 2025. Dari delapan prioritas tersebut, yang paling relevan dengan konteks kegiatan ini adalah poin pertama, yaitu Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan serta poin keenam berbunyi Pemberdayaan Ekonomi Umat.

Koperasi dan Kerukunan sebagai Dua Pilar Saling Menguatkan

Koperasi tidak hanya diposisikan sebagai entitas ekonomi, melainkan juga sebagai motor penggerak solidaritas sosial. Dalam ruang koperasi, masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu tanpa membedakan agama, etnis, maupun status sosial. Inilah nilai-nilai kerukunan yang sesungguhnya, yang terwujud dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Mahasiswa KKN yang terlibat dalam peringatan Hari Koperasi diajak untuk menyaksikan langsung bagaimana nilai gotong royong dan keadilan sosial dapat dikonkretkan dalam bentuk kelembagaan ekonomi. Ini merupakan pelajaran kontekstual yang tidak bisa didapat di ruang kelas, tetapi sangat krusial dalam pembentukan karakter sosial mahasiswa.

Arahan Camat sebagai Titik Tekan Misi Sosial KKN

Selain mengikuti upacara, Tim KKN Kelompok 22 juga mendapatkan arahan langsung dari Camat Kalibawang. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga kerukunan selama masa pengabdian berlangsung. Mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa program kerja teknis, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Arahan ini menjadi penegas bahwa KKN bukan sekadar agenda tahunan akademik, melainkan bagian dari gerakan sosial berbasis kesadaran multikulturalisme dan inklusi. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mediator dialog dan harmoni sosial dalam lingkup lokal, yang akan berdampak nasional jika dilakukan secara kolektif.

Kerukunan dan Kemandirian sebagai Visi Bersama

Pengalaman KKN Nusantara Kelompok 22 dalam mengikuti peringatan Hari Koperasi menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh bersamaan. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga turut membentuk masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera.

Dengan membumikan Asta Protas dalam praktik nyata, KKN Nusantara tidak hanya menjadi program pengabdian, tetapi juga platform transformasi sosial yang berkelanjutan.

KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Penulis:  Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara tahun 2025 bukan sekadar program pengabdian biasa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam mendorong peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat. Pelaksanaan KKN Nusantara V yang dilaksanakan serentak se-Indonesia menjadi bagian dari narasi besar membangun Indonesia dari pinggiran.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kelompok 22 KKN Nusantara yang diterjunkan di Dukuh Jurang Depok, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini, mahasiswa bergandengan tangan bersama warga dan pemerintah desa membangun jalan desa demi memperlancar akses dan mendorong mobilitas ekonomi.

Jalan Desa Jadi Jembatan Harapan.

Di tengah keterbatasan, pembangunan jalan desa menjadi proyek yang monumental. Jalan penghubung antar-RT yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah berbatu kini mulai dicor dan diratakan. Jalan tersebut bukan hanya jalur transportasi, melainkan simbol kolaborasi antargenerasi.

Pak Sigit, Ketua Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, menyebutkan bahwa keterlibatan warga sejak tahap perencanaan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur desa.

“Kalau masyarakat ikut bangun, mereka akan ikut jaga. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Pembangunan jalan ini tak hanya menguntungkan petani dalam mengangkut hasil panen, tetapi juga memudahkan akses anak-anak menuju sekolah dan mempercepat perputaran ekonomi lokal.

Mahasiswa Belajar Hidup, Warga Menyuarakan Harapan

KKN Nusantara tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran sosial. Erfan, Ketua KKN Kelompok 22, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek jalan ini memperluas wawasan dan kepekaan terhadap realitas kehidupan warga.

“Kami belajar langsung dari masyarakat, mengenali keresahan, kebutuhan, dan harapan mereka. Bukan hanya tentang bangunan fisik, tapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Erfan.

Menurutnya, infrastruktur desa merupakan jantung mobilitas dan distribusi hasil tani. Ketika akses menjadi lancar, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan pun ikut terangkat.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ini adalah semangat gotong royong. Warga dari berbagai usia turut serta: orang tua mengangkat semen, anak muda membantu pengecoran, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Tak ada sekat, semua menyatu dalam gerakan sosial yang harmonis.

Pak Kartowiyono, seorang petani setempat, menuturkan bahwa pembangunan jalan ini telah mengubah keseharian mereka. “Kalau dulu kami kesulitan saat panen, sekarang lebih mudah bawa hasil tani. Anak-anak juga lebih aman kalau hujan,” katanya.

Peran ibu-ibu seperti Bu Kusniati pun tak bisa diabaikan.

“Kami bantu dari dapur. Biar yang kerja tetap semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh pembangunan desa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi strategi pembangunan yang paling relevan dan berkelanjutan.

KKN Nusantara dan Masa Depan Pembangunan Inklusif

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Nusantara dan warga Desa Banjarasri adalah gambaran kecil dari cita-cita besar Indonesia: membangun dari bawah, dari masyarakat sendiri. Ketika program pendidikan tinggi mampu bersinergi dengan semangat lokal, hasilnya bukan hanya jalan yang dicor, tetapi juga mimpi yang dikuatkan.

KKN Nusantara telah membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh langsung jantung persoalan. Bukan sekadar seremonial, tetapi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Harapan ke depan, program seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperkuat. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga inovasi desa berbasis teknologi dan digitalisasi.

Dari Jalan ke Harapan

Membangun jalan mungkin terlihat sederhana. Tapi ketika jalan itu dibangun dengan cinta, semangat, dan kolaborasi, maka ia menjadi jalan harapan-harapan akan masa depan desa yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih mandiri.

KKN Nusantara adalah potret Indonesia yang tidak menyerah oleh keterbatasan, tapi tumbuh karena gotong royong. Dari Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, kita belajar bahwa perubahan itu mungkin — asal dikerjakan bersama.

Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Dalam rangka mematangkan persiapan program kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara yang berlokasi di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan praktik pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Kanoman I pada Selasa (15/07).

Kegiatan ini merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan salah satu program kerja “Desa Rumaket” (Rumah Alam dan Ekoteologi) yang diimplementasikan dengan membuat IMO dan penanaman sayur guna mendukung ketahanan pangan warga Kanoman I.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris KWT Kanoman I, Sri mengajari tim KKN membuat IMO. Mulai dari menggali tanah khusus yang berada di bawah pohon bambu, kemudian menaburinya dengan bekatul, lalu melapisinya dengan daun-daun bambu yang sudah mengering, kemudian menaburinya lagi dengan bekatul, dan terakhir ditutup dengan plastik.

Setelah memastikan campuran tanah, bekatul, dan daun bambu tertutup sempurna dengan plastik, tahap selanjutnya adalah mendiamkannya hingga 14 hari.

“Fungsinya bekatul untuk memakai mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Kemudian ditutup biar nggak diganggu ayam. Tunggu 14 hari. kalau udah, untuk memperbanyak biar irit tanahnya diayak biar kotorannya tersisihkan,” jelas Sri.

Kelompok 1 KKN Nusantara menyimak dengan seksama dan mempraktikkan langsung tahapan-tahapan tersebut.

Bekerja sama dengan KWT, Kelompok 1 KKN Nusantara akan melaksanakan edukasi pembuatan IMO dan penanaman bibit sayur pada 24 Juli mendatang.

Kelompok 1 berharap, warga Kanoman I mampu mempertahankan kebutuhan pangannya dengan bertani mandiri di rumah masing-masing walaupun dengan lahan yang terbatas.