Olahraga sebagai Panggung Moderasi Beragama

Penulis: Dafa Hermafahriza, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) PTKIN se-Jawa dan Madura yang diselenggarakan pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukan sekadar ajang olahraga biasa, melainkan ajang tahunan untuk mengukur siapa yang tercepat, terkuat, atau paling kreatif. Di balik semua ajang perlombaan PORSI JAWARA II dengan tema “Energi Juara, Harmoni Nusantara”, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam bahwa kampus-kampus Islam negeri di Jawa dan Madura sedang belajar bersama merawat kebinekaan melalui bahasa yang paling universal, yaitu olahraga dan seni.

Moderasi beragama, dalam kerangka yang selama ini digaungkan oleh Kementerian Agama, tidak cukup diajarkan lewat mimbar dan ruang kelas semata. Oleh karena itu, butuh ruang perjumpaan nyata, tempat mahasiswa dari berbagai UIN dengan latar belakang daerah, mazhab pemikiran, dan tradisi keislaman yang beragam, dapat bertemu, berkompetisi, lalu berjabat tangan setelahnya. PORSI JAWARA II menghadirkan ruang itu. Ketika mahasiswa UIN Gus Dur bertanding melawan mahasiswa dari UIN se-Jawa dan Madura lainnya, yang terjadi bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan juga simulasi kecil dari kehidupan berbangsa: berbeda, tetapi tetap satu barisan; bersaing, tetapi tetap menjunjung sportivitas. Dalam konteks ini, nilai tawasuth dan tasamuh merupakan dua dari sekian prinsip inti moderasi beragama yang justru paling mudah dipahami lewat pengalaman konkret semacam ini. Ada seorang atlet yang menerima kekalahan di ajang perlombaan dengan lapang dada karena sedang mempraktikkan tawazun (keseimbangan), tidak larut dalam euforia kemenangan maupun dendam kekalahan.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

“Harmoni Nusantara” yang menjadi subtema acara ini, sejatinya adalah cita-cita besar bagi moderasi beragama itu sendiri: keberagaman yang tidak dipertentangkan, melainkan dirayakan. UIN-UIN se-Jawa dan Madura membawa warna lokal dan ciri khasnya masing-masing, mulai dari Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Surabaya, hingga Madura, disatukan dalam satu gelanggang yang sama. Hal ini merupakan miniatur Indonesia; walaupun berbeda pulau dan berbeda dialek, tetap memiliki satu semangat ukhuwah, baik ukhuwah islamiah, wathaniah, maupun basyariah. Kehadiran unsur ilmiah dalam PORSI JAWARA II ini juga patut untuk diapresiasi. Moderasi beragama bukan hanya soal sikap, melainkan juga soal cara berpikir yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Dengan memasukkan kompetisi ilmiah berdampingan dengan olahraga dan seni, PTKIN menegaskan bahwa Islam merangkul akal sehat, bukan anti-intelektualisme.

Kehadiran para pemimpin PTKIN dalam pembukaan PORSI JAWARA II se-Jawa dan Madura, lengkap dengan seragam olahraga dan semangat yang sama seperti para atlet yang mereka dampingi, juga membawa pesan tersendiri. Ketika rektor dan pejabat kampus turun langsung mengangkat tinju sebagai tanda semangat bersama mahasiswanya, itu bukan sekadar seremoni protokoler, melainkan bentuk keteladanan bahwa moderasi beragama harus dimulai dari pucuk pimpinan, bukan hanya dituntut dari mahasiswa. Pemimpin yang mau berbaur dan tidak berjarak dengan yang dipimpinnya, sesungguhnya sedang mempraktikkan salah satu nilai penting dalam Islam, yaitu rahmatan lil ‘alamin (kepemimpinan yang penuh kasih dan tidak eksklusif). Dukungan dari Kementerian Agama melalui program Kemenag Berdampak, serta sinergi dengan mitra perbankan syariah dan konvensional sebagai sponsor, juga menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan proyek yang berdiri sendiri. Moderasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor pemerintah, kampus, dan dunia usaha untuk benar benar terwujud dalam praktik, bukan sekadar wacana normatif di dalam ruang seminar.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Mahasiswa PTKIN yang berlaga di PORSI JAWARA II adalah representasi generasi muda muslim Indonesia yang kelak akan menjadi dai, guru agama, birokrat, hingga tokoh masyarakat di berbagai penjuru negeri. Dalam konteks ilmiah, ajang seperti ini memiliki nilai strategis yang melampaui sekadar prestasi olahraga. Bangsa Indonesia tengah menikmati apa yang disebut bonus demografi, dan sebagian besar dari bonus itu berasal dari kampus-kampus keagamaan seperti UIN, IAIN, dan STAIN se-Jawa dan Madura. Jika generasi ini dibekali bukan hanya ilmu agama yang mendalam, melainkan juga pengalaman langsung merawat kebinekaan melalui kompetisi yang sehat, kita sedang menyiapkan calon pemimpin umat yang tidak gagap menghadapi keberagaman.

Semangat ini tidak boleh berhenti di panggung penutupan. Nilai-nilai yang dipraktikkan selama lima hari kompetisi sportivitas, penghormatan pada perbedaan, dan kerja sama lintas kampus harus dibawa pulang oleh setiap mahasiswa ke almamaternya masing-masing, lalu ditularkan ke lingkungan yang lebih luas. Di sinilah letak ujian sesungguhnya, apakah “Energi Juara, Harmoni Nusantara” hanya menjadi jargon di atas spanduk, atau benar-benar menjelma menjadi karakter mahasiswa PTKIN yang moderat, toleran, dan cinta ilmu. PORSI JAWARA II di UIN Gus Dur Pekalongan, dengan segala hiruk-pikuknya, telah menunjukkan satu hal penting: moderasi beragama paling efektif diajarkan lewat pengalaman hidup bersama, termasuk di lapangan olahraga.

Belajar Moderasi dan Adab dari PORSI JAWARA II UIN Gus Dur

Penulis: Desy Farecha, Editor: Dwi Selma Fitriani

Kamis, 10 September 2026, Gedung Student Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan menjadi saksi dibukanya PORSI JAWARA II, ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura yang mempertemukan mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Ribuan atlet, ofisial, wasit, dan juri berkumpul dalam satu wadah pertandingan, membawa identitas kampus masing-masing sekaligus harapan untuk berprestasi. Namun, di balik hiruk-pikuk pertandingan itu, ada suasana yang tetap terjaga tanpa gesekan, tanpa provokasi, dan tanpa kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun verbal.

Belasan kontingen dari berbagai daerah berkumpul dalam satu gedung, masing-masing membawa kebanggaan almamater. Dalam banyak kasus, situasi semacam ini rawan memicu gesekan, entah karena rasa kompetitif yang berlebihan atau sekadar euforia yang tidak terkendali. Akan tetapi, hal yang terjadi justru sebaliknya. Suasana pertandingan berlangsung tertib, hangat, dan penuh rasa saling menghormati antarkontingen. Tidak ada ejekan yang dilontarkan untuk merendahkan kampus lain, apalagi gesekan fisik yang mewarnai euforia pembukaan.

Momen ini, bagi saya, bukan sekadar seremoni belaka, melainkan cerminan nyata dari salah satu pilar penting dalam moderasi beragama, yakni sikap antikekerasan. Dalam kerangka moderasi beragama, antikekerasan tidak hanya berarti tidak melakukan tindakan fisik yang merugikan orang lain, tetapi juga mencakup penolakan terhadap kekerasan verbal, seperti ujaran kebencian, ejekan, atau sikap merendahkan pihak lain atas nama identitas kelompok maupun kampus.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Sebagai mahasiswa dari lingkungan PTKIN yang notabene bergelut dengan nilai-nilai keislaman setiap hari, sikap yang ditunjukkan di Gedung Student Center pada hari pertama itu semestinya bukan kebetulan. Hal tersebut lahir dari pemahaman keagamaan yang telah tertanam dalam keseharian mahasiswa PTKIN, bahwa Islam senantiasa mengedepankan cara-cara damai dalam menghadapi perbedaan, termasuk perbedaan dalam konteks kompetisi. Terlebih lagi, sebagai ajang yang digelar di kampus yang menyandang nama Gus Dur, nilai-nilai kedamaian dan keteladanan beliau seolah menemukan ruang praktiknya secara nyata. Semangat untuk menang tidak semestinya mengorbankan adab, dan kebanggaan terhadap almamater tidak semestinya diwujudkan dengan merendahkan pihak lain.

Hal yang menarik, suasana tertib ini terjadi bukan tanpa alasan. Adanya arahan dari pihak penyelenggara maupun tuan rumah yang menekankan pentingnya kejujuran dan sportivitas dalam setiap pertandingan tampaknya turut membentuk suasana kondusif sejak hari pertama. Ketika nilai-nilai semacam itu ditanamkan sejak momen pembukaan, wajar apabila suasana kompetitif yang muncul kemudian tetap berada dalam koridor yang sehat dan saling menghargai.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Momen di Gedung Student Center pada Kamis pagi itu mungkin hanya bagian kecil dari rangkaian panjang PORSI JAWARA II. Namun, dari momen singkat tersebut, tergambar jelas bagaimana ribuan mahasiswa PTKIN mampu menahan diri dari kecenderungan untuk saling menjatuhkan dan memilih jalan yang lebih beradab dalam mengekspresikan kebanggaan serta semangat berkompetisi. Hal ini adalah bukti kecil, tetapi konkret, bahwa nilai moderasi beragama bukan sekadar wacana yang diajarkan di ruang kelas, melainkan sesuatu yang dapat dan telah dipraktikkan secara nyata, bahkan di tengah keramaian sebuah pertandingan.

Semoga suasana yang terjaga sejak hari pertama ini menjadi fondasi bagi keberlangsungan PORSI JAWARA II secara keseluruhan, dan menjadi pengingat bahwa kompetisi sejatinya bukan ruang untuk saling menjatuhkan, melainkan ruang untuk saling menghargai perbedaan sambil tetap menjunjung tinggi prestasi.

MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Penulis: Rifki Farhani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi salah satu momentum penting dalam mempertemukan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Pulau Jawa dan Madura. Dengan 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam bidang olahraga, seni, dan ilmiah, kegiatan ini berlangsung pada 10–12 September 2026. Namun, di balik semarak kompetisi tersebut, PORSI JAWARA II menyimpan makna yang lebih luas daripada sekadar perebutan prestasi.

Pertemuan mahasiswa dari berbagai kampus tidak hanya menghadirkan persaingan, tetapi juga membuka ruang silaturahmi dan perjumpaan lintas daerah. Setiap peserta datang dengan latar belakang budaya, pengalaman pendidikan, serta kebiasaan yang beragam. Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan yang dapat memperluas wawasan dan mempererat hubungan antarmahasiswa. Dalam konteks ini, PORSI JAWARA II dapat dipandang sebagai ruang nyata untuk mempraktikkan moderasi beragama melalui interaksi yang terbuka, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang persaudaraan.

Salah satu cabang yang memiliki kedekatan kuat dengan nilai-nilai tersebut adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Sebagai cabang perlombaan yang berlandaskan kecintaan terhadap Al-Qur’an, MTQ tidak semestinya dimaknai hanya sebagai ajang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing peserta. Lebih dari itu, MTQ menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa yang memiliki minat dan semangat yang sama dalam mempelajari serta mengembangkan kemampuan tilawah.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Di tengah pelaksanaan lomba, peserta dari berbagai kampus memiliki kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh dari daerah maupun lembaga masing-masing. Pengalaman seorang peserta tentu tidak selalu sama dengan peserta lainnya. Ada yang memiliki pengalaman pembinaan lebih lama, ada pula yang baru memperoleh kesempatan untuk tampil dalam ajang tingkat regional. Perbedaan pengalaman tersebut tidak seharusnya menjadi jarak, melainkan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar dan menguatkan.

Pada titik inilah nilai tasamuh atau toleransi dalam moderasi beragama menemukan bentuknya secara nyata. Toleransi tidak selalu harus diwujudkan dalam persoalan besar, tetapi juga dapat hadir melalui kesediaan menghargai perbedaan kemampuan, kebiasaan, dan cara belajar orang lain. Dalam lingkungan MTQ, peserta dapat belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Sikap saling menghormati dan tidak merasa paling unggul menjadi bagian penting dari pembentukan karakter beragama yang moderat.

Selain tasamuh, MTQ juga menghadirkan nilai ukhuwah, yakni persaudaraan yang tumbuh melalui pertemuan dan pengalaman bersama. Para peserta yang sebelumnya mungkin tidak saling mengenal dapat membangun hubungan baru melalui percakapan, latihan, maupun berbagi pengalaman seputar tilawah. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak harus selalu menciptakan jarak. Sebaliknya, perlombaan dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara mahasiswa PTKIN.

PORSI JAWARA II juga mengajarkan pentingnya tawazun, yaitu keseimbangan antara semangat berprestasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Keinginan untuk menjadi yang terbaik merupakan hal yang wajar dalam sebuah perlombaan. Akan tetapi, semangat tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa peserta lain bukan sekadar pesaing, melainkan sesama pembelajar yang sedang menempuh proses yang sama. Dengan demikian, prestasi tidak kehilangan makna sosial dan spiritualnya.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

MTQ pada akhirnya bukan hanya tentang lantunan ayat suci yang terdengar indah dari atas panggung. Di dalamnya terdapat proses perjumpaan, pembelajaran, dan pembentukan sikap yang dapat dibawa pulang oleh setiap peserta. Ketika peserta mampu saling berbagi pengalaman tanpa merendahkan, menerima perbedaan tanpa memperdebatkannya secara berlebihan, serta membangun hubungan baik di tengah kompetisi, nilai moderasi beragama telah hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi bermakna.

Oleh karena itu, PORSI JAWARA II 2026 perlu dipandang lebih dari sekadar agenda perlombaan antarkampus. Khususnya melalui cabang MTQ, kegiatan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dipelajari melalui bacaan dan hafalan, tetapi juga melalui sikap yang lahir dari interaksi antarsesama. Lantunan Al-Qur’an menjadi semakin bermakna ketika mampu mengantarkan para peserta untuk merawat toleransi, mempererat persaudaraan, dan membangun cara beragama yang terbuka serta menghargai keberagaman.

Satu Panggung, Beragam Logat: Wajah Moderasi Beragama di PORSI JAWARA II

Penulis: Nia Himatul Ulfa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada 9-13 September akhirnya resmi ditutup. Lebih dari 1.495 mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura berkumpul untuk berkompetisi di berbagai cabang olahraga, seni, dan karya ilmiah. Di balik hitungan medali emas, perak, dan perunggu yang diperebutkan, kegiatan ini menghadirkan sesuatu yang jauh lebih substansial, yaitu perjumpaan lintas kampus, daerah, bahkan negara, yang sarat dengan nilai moderasi beragama.

Selama empat hari penyelenggaraan, lingkungan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjadi tuan rumah berubah menjadi ruang perjumpaan lintas kampus PTKIN se-Jawa dan Madura. Ribuan peserta yang hadir membawa logat bicara yang beragam: ada yang kental dengan dialek Jawa Tengah, ada yang membawa logat khas Madura, ada pula logat Sunda dari kontingen asal Bandung, hingga gaya bicara khas Jakarta Selatan yang bercampur istilah-istilah kekinian. Di antara keragaman tersebut, sesekali dijumpai pula peserta dari luar negeri yang kebetulan sedang menempuh studi di salah satu PTKIN peserta dan turut hadir bersama kontingen kampusnya, sehingga menambah warna dari perjumpaan lintas budaya ini.

Interaksi lintas logat dan bahasa semacam ini tidak selalu berjalan mulus. Terdapat momen ketika sebuah kalimat perlu diulang beberapa kali agar dapat dipahami lawan bicara. Sebaliknya, terdapat pula momen ketika seseorang harus menafsirkan maksud dari logat yang asing di telinganya. Kondisi ini menegaskan bahwa PORSI JAWARA tidak sekadar mempertemukan mahasiswa PTKIN se-Jawa dan Madura dalam pengertian administratif, tetapi juga menghadirkan keragaman bahasa dan budaya yang jauh lebih kaya dari yang semula dibayangkan.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Menariknya, di balik keragaman logat dan bahasa tersebut, terdapat satu benang merah yang menyatukan seluruh peserta, yaitu identitas bersama sebagai mahasiswa PTKIN. Identitas ini membawa nilai-nilai keislaman yang moderat sebagai muruah bersama. Dengan demikian, meskipun logat dan cara berbicara berbeda-beda, terdapat kerangka nilai yang relatif sama dalam memandang bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama. Kesamaan nilai inilah yang pada akhirnya mempermudah proses saling mengenal di antara peserta yang datang dari latar belakang kedaerahan yang berbeda-beda.

Dalam suasana kompetisi, perbedaan semacam itu berpotensi menimbulkan jarak apabila tidak disikapi dengan baik. Sejumlah momen menunjukkan bahwa semangat bertanding yang berlebihan dapat memunculkan sindiran atau ejekan antarkontingen. Hal tersebut dapat dipahami sebagai bagian yang wajar dari dinamika kompetisi. Namun, apabila dibiarkan, kecenderungan tersebut berisiko mengaburkan esensi pertemuan yang sesungguhnya jauh lebih bernilai daripada sekadar hasil kalah-menang. Di sisi lain, terdapat fenomena yang berlawanan. Setelah pertandingan usai, pihak-pihak yang sebelumnya berhadapan sebagai lawan tanding tampak berbaur dan berbincang. Peserta dari kontingen yang berbeda-beda itu tampak akrab satu sama lain karena adanya rasa ingin tahu yang sama-sama muncul di antara mereka mengenai asal daerah, kebiasaan, hingga cara masing-masing menjalankan ibadah di tengah kesibukan kompetisi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan semata konsep normatif yang berhenti pada tataran wacana. Sikap menghargai pihak lain yang berbeda logat, bahasa, maupun kebiasaan; tidak berlebihan ketika meraih kemenangan; tidak merendahkan pihak yang kalah; serta tetap menjalin komunikasi meski baru saling mengenal dalam waktu singkat—semua itu tampak nyata dalam interaksi sehari-hari selama kegiatan berlangsung, bukan semata dalam forum seminar atau kajian keagamaan. Keragaman logat dan bahasa yang muncul dalam kegiatan yang secara administratif berlingkup “se-Jawa dan Madura” ini turut menegaskan bahwa perbedaan dapat hadir bahkan di antara daerah-daerah yang secara geografis relatif berdekatan. Selama terdapat kemauan untuk saling mengenal, jarak yang semula terasa jauh dapat dipersempit, dan hal yang semula asing dapat menjadi akrab.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah PORSI JAWARA II turut memberikan konteks yang relevan bagi keseluruhan gambaran ini. Nama besar yang disandang kampus tersebut, yang diambil dari sosok yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh toleransi di Indonesia, secara tidak langsung menjadi pengingat mengenai semangat apa yang seharusnya melandasi pertemuan lintas kampus semacam ini. Kompetisi yang berlangsung dengan sportif, tanpa menghilangkan sikap saling menghormati, sejatinya merupakan wujud paling sederhana dari nilai-nilai yang selama ini identik dengan nama tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan PORSI JAWARA II di kampus ini bukan sekadar kebetulan administratif, melainkan dapat dibaca sebagai penegasan arah nilai yang ingin dihidupkan dalam kegiatan tersebut.

Keberhasilan PORSI JAWARA II sepatutnya tidak diukur semata dari jumlah medali yang diperoleh setiap kontingen, melainkan juga dari sejauh mana pihak-pihak yang bertemu dalam kegiatan tersebut tetap dapat menjalin komunikasi yang baik setelah kegiatan berakhir. Apabila perbedaan logat, bahasa, kampus, daerah, bahkan negara asal dapat dilalui tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjauh, kegiatan ini telah menjalankan fungsinya yang sesungguhnya, yaitu menumbuhkan generasi PTKIN yang memahami moderasi beragama bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sikap yang hidup dalam setiap pertemuan dengan mereka yang berbeda.

Kebersamaan Membawa Kejuaraan dengan Berlandaskan Moderasi Beragama

Penulis: Sabrina Maharani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Sering kali, menjadi pemenang dipahami sebagai hasil dari bakat, usaha, dan strategi. Namun, satu hal yang sangat penting dan sering diabaikan adalah kebersamaan. Sebuah keberhasilan tidak selalu berasal dari individu yang paling unggul, melainkan dari mereka yang mampu menyatukan perbedaan dan bergerak ke arah tujuan yang sama. Semangat ini tidak hanya berlaku dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kaya akan keberagaman. Dalam hal ini, kebersamaan memiliki hubungan yang erat dengan sikap moderat dalam beragama.

Indonesia dikenal dengan berbagai agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Keberagaman ini adalah sebuah kekayaan yang patut disyukuri. Namun, pada saat yang sama, hal ini juga dapat menjadi tantangan. Ketidakharmonisan manusia dalam menghadapi perbedaan dapat menyebabkan prasangka negatif, konflik, bahkan perpecahan. Oleh karena itu, sikap moderasi dalam beragama menjadi sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang baik. Moderasi dalam beragama mengajarkan kita semua untuk menjalankan keyakinan dengan baik dan tidak lupa menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

Nilai-nilai tersebut sebenarnya bisa kita temukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berkompetisi. Salah satunya dalam pertandingan olahraga tim, setiap atlet memiliki keahlian dan perannya masing-masing. Ada yang andal dalam menyerang, bertahan, merancang strategi, atau memberikan dukungan kepada rekannya. Perbedaan inilah yang seharusnya tidak menghalangi tim untuk meraih kemenangan. Oleh karena itu, ketika setiap anggota saling menghargai dan melengkapi, sebuah tim akan menjadi lebih kokoh.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Hal tersebut berkaitan erat dengan moderasi beragama. Kejuaraan yang sesungguhnya bukan hanya tentang mendapatkan medali atau piala. Kejuaraan dapat dimaknai sebagai keberhasilan dalam membangun persatuan dan menciptakan lingkungan yang damai serta harmonis. Ketika seseorang mampu bekerja sama dengan orang lain, ataupun dalam tim, mereka telah menunjukkan sikap moderat dalam kehidupan nyata.

Kebersamaan juga mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam sebuah kelompok, perbedaan kemampuan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi. Begitu pula dalam kehidupan beragama. Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan toleransi, sikap saling menghargai, dan komunikasi yang baik. Kebersamaan juga dapat dimulai dari lingkungan kampus, misalnya pada perlombaan olahraga, seni, dan ilmiah yang diselenggarakan oleh PORSI JAWARA II pada tahun 2026. Mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga Madura, hadir dengan latar belakang dan pengalaman hebat yang berbeda-beda. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk membentuk kelompok yang saling menjauh. Sebaliknya, mahasiswa dapat bekerja sama dalam kegiatan ini tanpa menjadikan perbandingan atau persaingan yang mencolok dalam pertandingan.

Moderasi beragama juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus selalu diselesaikan dengan perdebatan. Ada kalanya perbedaan perlu disikapi dengan mendengarkan, tidak harus selalu memenangkan pendapat sendiri. Terkadang, kemenangan yang lebih besar justru terjadi ketika kita mampu mengesampingkan ego demi kepentingan bersama. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berbicara, tetapi juga kemauan untuk mendengarkan dan memahami. Moderasi beragama menjadi jembatan untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan moderasi, seseorang dapat tetap teguh terhadap keyakinannya sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya. Dengan bersatu, kita belajar menerima keberadaan orang lain; dengan kerja sama, kita mengubah perbedaan menjadi kekuatan; dan dengan kebersamaan, tujuan yang sebelumnya sulit untuk dicapai dapat diwujudkan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Oleh karena itu, ungkapan “kebersamaan membawa kejuaraan dengan berlandaskan moderasi beragama” seharusnya tidak hanya menjadi sebuah kalimat di suatu perlombaan, tetapi dapat dijadikan prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi. Moderasi beragama menjadi jembatan yang menyatukan berbagai perbedaan untuk tetap berada dalam semangat persatuan. Pada akhirnya, komunitas yang tangguh bukanlah komunitas yang bebas dari perbedaan, melainkan komunitas yang terbiasa saling berkolaborasi, menyelesaikan perbedaan dengan jalan musyawarah, serta saling menghormati. Kita tidak hanya memiliki kesempatan untuk meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, tetapi juga memiliki kesempatan besar untuk meraih tujuan yang lebih luas: menciptakan kehidupan yang damai dan selaras. Sebab, juara sejati adalah mereka yang tidak hanya berhasil mengalahkan lawan, tetapi juga mampu menang tanpa mengorbankan rasa persatuan.

Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Penulis: Annissa Meilasari, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menyaksikan lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, saya melihat sesuatu yang sangat menarik. Para peserta tidak datang dengan pendapat yang sama. Mereka justru berada di posisi yang berbeda dan harus mempertahankan argumen masing-masing. Salah satu mosi yang dibahas adalah “This House, as a Syrian transitional government, would do long-term security with Israel”. Menurut saya, perdebatan bukan hanya tentang siapa yang memiliki argumen paling bagus dan kuat, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menyampaikan pendapat ketika berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda.

Dalam sebuah debat, perbedaan pendapat menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Setiap tim memiliki alasan, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda. Ada yang mendukung sebuah gagasan, sementara yang lain berusaha menyanggah dan menunjukkan kelemahan dari gagasan tersebut. Perbedaan seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita. Kita sering menemukan orang yang tidak sepemikiran dengan kita, baik dalam lingkungan perkuliahan, organisasi, maupun masyarakat.

Menurut saya, beberapa hal tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan moderasi beragama. Moderasi beragama tidak berarti membuat semua orang memiliki pendapat yang sama. Justru, salah satu hal yang paling penting dalam bermoderasi adalah kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijak. Kita boleh tidak setuju dengan suatu pendapat, tetapi ketidaksetujuan tersebut tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Melalui lomba debat, saya melihat bahwa peserta dituntut untuk menyampaikan pendapat mereka berdasarkan argumen, bukan sekadar emosi. Ketika berada dalam posisi yang berbeda, seseorang perlu mendengarkan apa yang disampaikan lawan sebelum memberikan tanggapannya. Dari sini, debat sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: berbeda pendapat tidak harus saling merendahkan satu sama lain.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Hal ini menjadi sangat menarik ketika topik yang dibahas berkaitan dengan persoalan politik dan hubungan antarnegara yang cukup sensitif. Ketika membicarakan konflik dan hubungan antarnegara, tentu banyak sekali sudut pandang yang dapat muncul. Jika perbedaan pandangan tidak disikapi dengan baik, pembicaraan mengenai isu tersebut dapat dengan mudah berubah menjadi saling menyalahkan. Namun, dalam ruang debat, perbedaan tersebut justru diarahkan menjadi sebuah diskusi yang memiliki aturan.

Dari situlah, nilai moderasi dapat terlihat. Moderasi tidak harus ditunjukkan dengan kegiatan keagamaan secara langsung. Sikap moderat juga dapat muncul dari cara seseorang berbicara, mendengarkan, ataupun menghargai orang lain. Ketika seseorang mampu menyampaikan pendapatnya dengan tegas tanpa menghina pihak lain, ia sedang belajar untuk menempatkan perbedaan secara proporsional.

Saya juga melihat bahwa debat mengajarkan pentingnya berpikir kritis. Peserta tidak cukup hanya mengatakan bahwa pendapatnya benar. Mereka harus memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjawab argumen dari pihak lain. Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut tentu sangat penting karena kehidupan akademik juga tidak terlepas dari perbedaan pemikiran.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Namun, kemampuan berpikir kritis juga harus berjalan bersama dengan sikap menghargai. Seseorang boleh kritis terhadap suatu gagasan, tetapi tetap perlu menghormati orang lain yang menyampaikan gagasan tersebut. Inilah yang terkadang sulit untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering kali terlalu cepat menganggap orang yang berbeda pendapat sebagai orang yang salah, bahkan sebelum mencoba memahami alasan di balik pendapatnya.

PORSI JAWARA II menjadi ruang yang sangat menarik karena kegiatan perlombaan dapat mempertemukan orang dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda-beda. Para peserta memang datang untuk menjadi juara, tetapi proses untuk menuju kemenangan seharusnya dilakukan dengan cara yang sehat. Dalam lomba debat, kemenangan tidak seharusnya diperoleh dengan menjatuhkan lawan, melainkan dengan menunjukkan kualitas argumen yang baik.

Menurut saya, semangat berkompetisi dan moderasi sebenarnya dapat berjalan beriringan. Kita tetap boleh memiliki ambisi untuk menang, tetapi ambisi tersebut tidak boleh membuat kita kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Kita boleh mempertahankan pendapat, tetapi tetap harus membuka ruang untuk mendengarkan. Kita juga boleh merasa yakin dengan argumen sendiri, tetapi tetap menyadari bahwa sudut pandang orang lain memiliki maksud dan alasan tersendiri.

Hal tersebut menjadi pelajaran yang cukup penting bagi saya sebagai mahasiswa. Kampus bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengetahuan, melainkan juga tempat untuk belajar hidup bersama dengan berbagai pendapat dan pemikiran. Akan ada perbedaan pendapat dalam berdiskusi, berorganisasi, maupun kehidupan sosial. Jika setiap perbedaan selalu dianggap sebagai ancaman, akan sulit membangun lingkungan yang nyaman dan saling menghargai.

Saya merasa bahwa lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II menunjukkan bahwa kegiatan perlombaan dapat menjadi lebih dari sekadar ajang mencari pemenang. Di dalamnya terdapat proses belajar untuk berbicara, mendengarkan, berpikir kritis, menerima perbedaan, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat dekat dengan semangat moderasi beragama.

Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

Penulis: Vika Aulia Safitri, Editor: Dwi Selma Fitriani

Kompetisi sering kali dipandang sebagai kegiatan yang penuh dengan ambisi, persaingan yang ketat, dan perebutan hak untuk menjadi yang terbaik. Namun, di luar semua itu, selalu ada tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan dirajut. Hal inilah yang tergambar pada Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura II atau yang kerap disebut PORSI JAWARA, sebuah kegiatan yang diselenggarakan untuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Peserta kegiatan ini terdiri atas kontingen dari berbagai daerah yang memiliki kultur tersendiri.

Sebagai tuan rumah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan membawa tanggung jawab moral yang tidak kecil. Nama besar “Gus Dur” yang melekat pada kampus secara otomatis mengusung amanah nilai-nilai moderasi beragama. Pada momentum PORSI JAWARA II, hal tersebut harus dibuktikan agar nilai moderasi tidak hanya berhenti sebagai jargon semata.

Dalam kegiatan ini, banyak cabang perlombaan yang diselenggarakan. Salah satunya adalah cabang olahraga bola voli. Perlombaan bola voli dapat menjadi wadah untuk membangun solidaritas mahasiswa antarkampus UIN. Saat pertandingan bola voli, terdapat dua tim antarkampus yang saling memperebutkan kemenangan. Keterlibatan panitia UIN Gus Dur juga menjadi bukti bahwa semua pihak dengan latar belakang berbeda berperan penting dalam mendukung kelancaran acara.

Baca juga: Mengenal Makna Tawazzun (Keseimbangan) dari Lapangan Bulu Tangkis PORSI JAWARA II

Sebagai bentuk perwujudan nilai moderasi, dalam pertandingan bola voli terdapat beberapa nilai yang tampak nyata, seperti keadilan (i’tidal) dan keseimbangan (tawazun). Permainan bola voli membutuhkan enam anggota untuk bermain sehingga perlu adanya kerja sama tim yang menuntut pembagian peran agar adil dan seimbang. Semua anggota dalam tim memiliki peranan penting, mulai dari setter, libero, spiker, hingga blocker. Tidak ada peran anggota yang lebih dominan, semua memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga harmoni dan kemaslahatan.

Selanjutnya, permainan bola voli juga memiliki nilai toleransi (tasamuh). Lapangan voli menjadi wadah antarpemain maupun antartim untuk saling menghargai. Sikap saling menghargai antartim mulai tampak ketika bersalaman pada awal maupun akhir pertandingan sebagai simbol kebersamaan. Selain itu, tidak berbuat curang dan menjaga sportivitas juga merupakan tindakan yang mencerminkan toleransi. Kedua tindakan tersebut adalah bentuk nyata dalam menghargai hak, keberadaan, dan perbedaan orang lain di dalam sebuah kompetisi.

Selain itu, nilai antiekstrem atau kontrol diri juga menjadi bagian dari nilai yang tercermin dalam perlombaan. Selama perlombaan berlangsung, tidak pernah terjadi kerusuhan yang merugikan pihak mana pun. Dalam sebuah pertandingan, tidak jarang perkelahian terjadi hanya karena klub atau tim yang didukung kalah bertanding, entah itu disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan wasit dalam mengambil keputusan. Persaingan mungkin dapat memanas, tetapi rasa kemanusiaan harus lebih besar. Itulah pesan penting dari moderasi.

Beberapa nilai moderasi tersebut tampak nyata bagi peserta. Berdasarkan pengamatan suasana, penanaman nilai moderasi cukup terasa. Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan yang memungkinkan terjadi ketika pertandingan sedang berlangsung, salah satunya adalah sikap kompetitif yang berlebihan. Di sisi lain, tantangan ini menjadi bagian dari ujian dalam berperilaku moderat.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Ajang PORSI JAWARA II membuktikan bahwa cabang perlombaan olahraga dapat menjadi media yang efektif untuk merealisasikan nilai moderasi. Hal ini terlihat mulai dari sambutan yang menguatkan persatuan, keterlibatan panitia, hingga perjumpaan hangat antarperwakilan kampus. Oleh karena itu, sangat memungkinkan solidaritas antarkampus UIN se-Jawa dan Madura dapat terbangun dengan baik.

Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Penulis: Giyanti Rika Dwi Pratiwi, Editor: Dwi Selma Fitriani

Mendengar lantunan ayat Al-Qur’an di tengah suasana perlombaan mungkin terlihat seperti hal yang biasa dalam sebuah kegiatan keislaman. Namun, bagi saya, lomba Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dalam PORSI JAWARA II 2026 memiliki makna yang lebih dari sekadar ajang untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Di balik penampilan peserta, terdapat pesan tentang bagaimana ajaran Al-Qur’an dapat disampaikan dengan cara yang santun, bijak, dan dapat diterima oleh masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

MSQ bukan hanya tentang kemampuan membaca atau menghafalkan ayat Al-Qur’an. Dalam perlombaan ini, peserta menyampaikan kandungan ayat melalui penjelasan yang dikemas secara terstruktur. Artinya, peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memahami materi keislaman, tetapi juga harus mampu menyampaikannya kepada orang lain dengan bahasa dan sikap yang tepat. Menurut saya, hal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan moderasi beragama.

Salah satu nilai moderasi beragama yang dapat dilihat dari MSQ adalah tawassuth, yaitu mengambil jalan tengah dan tidak berlebihan dalam memahami maupun menjalankan ajaran agama. Ketika menyampaikan pesan keagamaan, seseorang perlu menghindari cara penyampaian yang mudah menyalahkan atau merendahkan pihak lain. Pesan agama seharusnya disampaikan dengan bijaksana sehingga dapat menjadi jalan untuk memberikan pemahaman, bukan justru menimbulkan pertentangan.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Hal tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Perbedaan pemahaman, budaya, dan kebiasaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan nilai-nilai agama dengan bahasa yang santun menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang harmonis. Dari panggung MSQ, kita dapat belajar bahwa menyampaikan kebenaran tidak harus dilakukan dengan cara yang keras.

Selain cara menyampaikan pesan, lomba MSQ juga mengajarkan tentang kerja sama. Penampilan MSQ dilakukan secara berkelompok sehingga setiap anggota mempunyai peran masing-masing. Mereka harus mampu menyatukan suara, memahami materi, mengatur penampilan, dan saling mendukung agar penampilan dapat berjalan dengan baik. Perbedaan kemampuan di antara anggota kelompok tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Menurut saya, kerja sama tersebut juga merupakan bentuk kecil dari penerapan moderasi beragama. Dalam kehidupan sosial, kita tidak mungkin selalu bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan, pemikiran, atau kebiasaan yang sama. Kita perlu belajar menyesuaikan diri dan menghargai peran orang lain. Seperti halnya dalam MSQ, keberhasilan sebuah kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi pada kemampuan semua anggota untuk saling melengkapi.

Hal menarik lainnya adalah adanya persaingan dalam suasana yang tetap membawa nilai-nilai keagamaan. Setiap peserta tentu ingin memberikan penampilan terbaik dan memperoleh hasil yang maksimal. Namun, semangat untuk menjadi juara seharusnya tidak membuat peserta kehilangan sikap saling menghargai. Peserta dapat berkompetisi dengan serius, tetapi tetap memberikan apresiasi kepada peserta lain.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Bagi saya, inilah salah satu hal yang membuat lomba MSQ dalam PORSI JAWARA II berbeda dari perlombaan biasa. Hal yang dipertandingkan memang kemampuan setiap peserta, tetapi nilai yang dibawa jauh lebih luas. Peserta belajar bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersikap kepada sesamanya.

MSQ juga mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menyebarkan pemahaman agama yang damai. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat dapat menjadi contoh bagaimana nilai keagamaan diterapkan tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap orang lain. Terlebih pada era media sosial seperti sekarang, sebuah pesan dapat tersebar dengan sangat cepat. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan pesan agama secara bijak menjadi semakin diperlukan.

Pada akhirnya, bagi saya, pengalaman menyaksikan lomba MSQ dalam PORSI JAWARA II bukan hanya tentang melihat peserta tampil di atas panggung. Ada pelajaran yang dapat dibawa setelah perlombaan selesai: bahwa memahami agama juga harus diikuti dengan kemampuan menghargai manusia. Pesan Al-Qur’an akan menjadi lebih bermakna ketika disampaikan dengan sikap yang santun, tidak berlebihan, dan mampu merangkul perbedaan. Dari sebuah panggung perlombaan MSQ, kita dapat belajar bahwa menjadi moderat bukan berarti mengurangi nilai agama, melainkan justru menghadirkan nilai agama dalam kehidupan dengan cara yang bijaksana dan penuh penghormatan.

Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Penulis: Daffa Afrizal Maulana, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Sebagai mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang tahun ini berkesempatan menjadi tuan rumah PORSI JAWARA II, saya melihat bahwa acara ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, PORSI JAWARA II merupakan ruang pertemuan seluruh mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai latar belakang, minat, dan kemampuan. Melalui kegiatan seremonial, perlombaan, serta interaksi antarpeserta, acara ini mengajarkan bahwa kehidupan kampus tidak hanya dibangun melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui kebersamaan dan sikap saling menghargai antarsesama.

Bagi saya, salah satu hal menarik dari PORSI JAWARA II ini adalah suasana kompetisi yang tetap mempertemukan mahasiswa dalam semangat persaudaraan. Misalnya, sebelum dan sesudah melakukan pertandingan, peserta lomba pasti akan berjabat tangan dengan lawan mainnya. Hal tersebut menunjukkan sikap saling menghormati dan menjaga hubungan sosial. Pertemuan tersebut menjadikan PORSI JAWARA II bukan hanya sebagai kegiatan olahraga dan seni, melainkan juga sebagai ruang untuk membangun relasi, memperluas pengalaman, dan belajar menghargai keberagaman. Setiap peserta tentu ingin memberikan kemampuan terbaiknya. Namun, keinginan untuk menang seharusnya tidak menghilangkan sikap menghormati lawan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Di sinilah nilai moderasi beragama menjadi penting. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk bersikap adil, menghargai perbedaan, berada di tengah-tengah, dan tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Nilai tersebut menurut saya dapat terlihat secara langsung dalam pelaksanaan PORSI JAWARA II. Setiap peserta tentu memiliki keinginan untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, semangat untuk menjadi juara tetap harus diimbangi dengan sikap menghormati peserta lain. Hal sederhana seperti berjabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan menunjukkan bahwa persaingan tidak harus menghilangkan rasa saling menghargai.

Misalnya, dalam perlombaan, perbedaan kemampuan merupakan hal yang sangat wajar. Ada mahasiswa yang unggul dalam bidang olahraga, seni, keagamaan, maupun bidang lainnya. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan peserta lain. Sebaliknya, keberagaman kemampuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar satu sama lain. Mahasiswa yang mendapatkan juara dapat menunjukkan sikap rendah hati, sedangkan peserta yang belum mendapatkan kesempatan untuk meraih juara dapat menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.

Nilai moderasi beragama juga dapat terlihat dalam kegiatan seremonial. Acara pembukaan, pengarahan, hingga penutupan bukan hanya menjadi pelengkap kegiatan, melainkan juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa seluruh peserta merupakan bagian dari satu komunitas akademik. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, mahasiswa tetap dapat berkumpul dalam suasana yang tertib, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Dalam konteks PORSI JAWARA II, moderasi beragama dapat terlihat melalui sikap saling menghormati di tengah perbedaan. Para peserta berasal dari berbagai PTKIN dengan karakter dan pengalaman yang tidak sama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan, cara berkomunikasi, maupun lingkungan sosial yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk bertemu dan berinteraksi. Justru melalui pertemuan tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal orang-orang dari lingkungan yang berbeda dan belajar bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan.

Sebagai tuan rumah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah bukan hanya tentang menyediakan tempat perlombaan. Tuan rumah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang nyaman, tertib, dan ramah bagi seluruh peserta. Sikap terbuka terhadap tamu dari berbagai daerah menjadi salah satu bentuk nyata dari penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, PORSI JAWARA II dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa perbedaan daerah dan latar belakang bukan penghalang untuk membangun kebersamaan.

Menurut saya, acara PORSI JAWARA II ini memiliki hubungan dengan kemampuan berkomunikasi. Dalam setiap kegiatan, komunikasi yang baik sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman, misalnya dengan tidak mengejek lawan, menyampaikan kritik dengan santun, dan memberikan dukungan tanpa merendahkan peserta lain. Ketika menyampaikan pendapat, memberikan dukungan, atau menanggapi hasil perlombaan, mahasiswa perlu menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyinggung pihak lain. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui sikap, tetapi juga melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Menurut saya, keberhasilan PORSI JAWARA II tidak cukup diukur dari banyaknya medali atau piala yang diperoleh. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika kegiatan ini mampu meninggalkan pengalaman positif bagi seluruh peserta. Mahasiswa dapat belajar tentang kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA II mengingatkan kita bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, melainkan juga tentang menjadi pribadi yang mampu menghargai dan menghormati orang lain. Prestasi memang penting, tetapi prestasi yang disertai sikap rendah hati dan toleransi akan memiliki makna yang lebih besar. Oleh karena itu, PORSI JAWARA II seharusnya terus menjadi ruang untuk merayakan prestasi sekaligus merawat moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi.

Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Sebanyak 1.495 atlet dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berkumpul di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (Porsi Jawara) II. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini mempertemukan mahasiswa dalam berbagai bidang kompetisi, mulai dari olahraga, seni, hingga ilmiah.

Pembukaan Porsi Jawara II digelar di Gedung Student Center UIN Gus Dur dan dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, M.Ag., serta Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Rabu (9/9). Dalam kesempatan tersebut, Amien mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa perkuliahan sebagai ruang mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.

“Mumpung masih kuliah, masa di mana kalian mengukir prestasi,” ujar Amien.

Porsi Jawara II diikuti 1.495 atlet, 626 official, serta 147 wasit dan juri. Sebanyak 27 cabang dipertandingkan, terdiri atas 10 cabang olahraga, 8 cabang seni, dan 9 cabang ilmiah. Beragamnya cabang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan sesuai bidang yang mereka tekuni.

Sebagai tuan rumah, UIN Gus Dur Pekalongan mengirimkan 120 atlet untuk mengikuti seluruh rangkaian kompetisi. Ketua Kontingen UIN Gus Dur, Lutfi Maulana, mengatakan persiapan telah dilakukan secara intensif sejak Agustus, termasuk melalui training center (TC) dan latihan rutin menjelang pertandingan.

“Secara persiapan kita selalu intens melakukan TC, baik dari bulan Agustus sampai bulan ini dan ketika H-10 hari kita juga tetap tiap hari latihan. Artinya ini bagian dari modal besar kita,” kata Lutfi.

UIN Gus Dur menargetkan masuk lima besar dalam klasemen akhir. Meski demikian, Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., menegaskan bahwa status sebagai tuan rumah tidak menjadi alasan bagi kampus untuk mengejar gelar juara umum.

“UIN Pekalongan walaupun menjadi tuan rumah, tidak menargetkan untuk juara umum,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan Porsi Jawara II lebih penting dijaga melalui kejujuran, semangat, dan sportivitas. Untuk mendukung hal tersebut, sebanyak 147 wasit dan juri telah melalui proses pengujian, termasuk sejumlah juri yang didatangkan dari luar Jawa Tengah.

Nilai-nilai tersebut membuat kompetisi dalam Porsi Jawara II tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah bertemu dalam ruang yang sama, berkompetisi secara sehat, sekaligus belajar menghargai perbedaan dan menjaga sportivitas.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam, sikap tersebut sejalan dengan semangat moderasi beragama yaitu mampu berkompetisi tanpa kehilangan rasa hormat, menerima perbedaan, serta menjunjung keadilan dalam prosesnya. Dengan demikian, prestasi yang dikejar tidak hanya soal menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang bagaimana kompetisi dijalankan secara jujur dan bermartabat.