Olahraga sebagai Panggung Moderasi Beragama

Penulis: Dafa Hermafahriza, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) PTKIN se-Jawa dan Madura yang diselenggarakan pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukan sekadar ajang olahraga biasa, melainkan ajang tahunan untuk mengukur siapa yang tercepat, terkuat, atau paling kreatif. Di balik semua ajang perlombaan PORSI JAWARA II dengan tema “Energi Juara, Harmoni Nusantara”, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam bahwa kampus-kampus Islam negeri di Jawa dan Madura sedang belajar bersama merawat kebinekaan melalui bahasa yang paling universal, yaitu olahraga dan seni.

Moderasi beragama, dalam kerangka yang selama ini digaungkan oleh Kementerian Agama, tidak cukup diajarkan lewat mimbar dan ruang kelas semata. Oleh karena itu, butuh ruang perjumpaan nyata, tempat mahasiswa dari berbagai UIN dengan latar belakang daerah, mazhab pemikiran, dan tradisi keislaman yang beragam, dapat bertemu, berkompetisi, lalu berjabat tangan setelahnya. PORSI JAWARA II menghadirkan ruang itu. Ketika mahasiswa UIN Gus Dur bertanding melawan mahasiswa dari UIN se-Jawa dan Madura lainnya, yang terjadi bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan juga simulasi kecil dari kehidupan berbangsa: berbeda, tetapi tetap satu barisan; bersaing, tetapi tetap menjunjung sportivitas. Dalam konteks ini, nilai tawasuth dan tasamuh merupakan dua dari sekian prinsip inti moderasi beragama yang justru paling mudah dipahami lewat pengalaman konkret semacam ini. Ada seorang atlet yang menerima kekalahan di ajang perlombaan dengan lapang dada karena sedang mempraktikkan tawazun (keseimbangan), tidak larut dalam euforia kemenangan maupun dendam kekalahan.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

“Harmoni Nusantara” yang menjadi subtema acara ini, sejatinya adalah cita-cita besar bagi moderasi beragama itu sendiri: keberagaman yang tidak dipertentangkan, melainkan dirayakan. UIN-UIN se-Jawa dan Madura membawa warna lokal dan ciri khasnya masing-masing, mulai dari Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Surabaya, hingga Madura, disatukan dalam satu gelanggang yang sama. Hal ini merupakan miniatur Indonesia; walaupun berbeda pulau dan berbeda dialek, tetap memiliki satu semangat ukhuwah, baik ukhuwah islamiah, wathaniah, maupun basyariah. Kehadiran unsur ilmiah dalam PORSI JAWARA II ini juga patut untuk diapresiasi. Moderasi beragama bukan hanya soal sikap, melainkan juga soal cara berpikir yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Dengan memasukkan kompetisi ilmiah berdampingan dengan olahraga dan seni, PTKIN menegaskan bahwa Islam merangkul akal sehat, bukan anti-intelektualisme.

Kehadiran para pemimpin PTKIN dalam pembukaan PORSI JAWARA II se-Jawa dan Madura, lengkap dengan seragam olahraga dan semangat yang sama seperti para atlet yang mereka dampingi, juga membawa pesan tersendiri. Ketika rektor dan pejabat kampus turun langsung mengangkat tinju sebagai tanda semangat bersama mahasiswanya, itu bukan sekadar seremoni protokoler, melainkan bentuk keteladanan bahwa moderasi beragama harus dimulai dari pucuk pimpinan, bukan hanya dituntut dari mahasiswa. Pemimpin yang mau berbaur dan tidak berjarak dengan yang dipimpinnya, sesungguhnya sedang mempraktikkan salah satu nilai penting dalam Islam, yaitu rahmatan lil ‘alamin (kepemimpinan yang penuh kasih dan tidak eksklusif). Dukungan dari Kementerian Agama melalui program Kemenag Berdampak, serta sinergi dengan mitra perbankan syariah dan konvensional sebagai sponsor, juga menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan proyek yang berdiri sendiri. Moderasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor pemerintah, kampus, dan dunia usaha untuk benar benar terwujud dalam praktik, bukan sekadar wacana normatif di dalam ruang seminar.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Mahasiswa PTKIN yang berlaga di PORSI JAWARA II adalah representasi generasi muda muslim Indonesia yang kelak akan menjadi dai, guru agama, birokrat, hingga tokoh masyarakat di berbagai penjuru negeri. Dalam konteks ilmiah, ajang seperti ini memiliki nilai strategis yang melampaui sekadar prestasi olahraga. Bangsa Indonesia tengah menikmati apa yang disebut bonus demografi, dan sebagian besar dari bonus itu berasal dari kampus-kampus keagamaan seperti UIN, IAIN, dan STAIN se-Jawa dan Madura. Jika generasi ini dibekali bukan hanya ilmu agama yang mendalam, melainkan juga pengalaman langsung merawat kebinekaan melalui kompetisi yang sehat, kita sedang menyiapkan calon pemimpin umat yang tidak gagap menghadapi keberagaman.

Semangat ini tidak boleh berhenti di panggung penutupan. Nilai-nilai yang dipraktikkan selama lima hari kompetisi sportivitas, penghormatan pada perbedaan, dan kerja sama lintas kampus harus dibawa pulang oleh setiap mahasiswa ke almamaternya masing-masing, lalu ditularkan ke lingkungan yang lebih luas. Di sinilah letak ujian sesungguhnya, apakah “Energi Juara, Harmoni Nusantara” hanya menjadi jargon di atas spanduk, atau benar-benar menjelma menjadi karakter mahasiswa PTKIN yang moderat, toleran, dan cinta ilmu. PORSI JAWARA II di UIN Gus Dur Pekalongan, dengan segala hiruk-pikuknya, telah menunjukkan satu hal penting: moderasi beragama paling efektif diajarkan lewat pengalaman hidup bersama, termasuk di lapangan olahraga.

Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Penulis: Daffa Afrizal Maulana, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Sebagai mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang tahun ini berkesempatan menjadi tuan rumah PORSI JAWARA II, saya melihat bahwa acara ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, PORSI JAWARA II merupakan ruang pertemuan seluruh mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai latar belakang, minat, dan kemampuan. Melalui kegiatan seremonial, perlombaan, serta interaksi antarpeserta, acara ini mengajarkan bahwa kehidupan kampus tidak hanya dibangun melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui kebersamaan dan sikap saling menghargai antarsesama.

Bagi saya, salah satu hal menarik dari PORSI JAWARA II ini adalah suasana kompetisi yang tetap mempertemukan mahasiswa dalam semangat persaudaraan. Misalnya, sebelum dan sesudah melakukan pertandingan, peserta lomba pasti akan berjabat tangan dengan lawan mainnya. Hal tersebut menunjukkan sikap saling menghormati dan menjaga hubungan sosial. Pertemuan tersebut menjadikan PORSI JAWARA II bukan hanya sebagai kegiatan olahraga dan seni, melainkan juga sebagai ruang untuk membangun relasi, memperluas pengalaman, dan belajar menghargai keberagaman. Setiap peserta tentu ingin memberikan kemampuan terbaiknya. Namun, keinginan untuk menang seharusnya tidak menghilangkan sikap menghormati lawan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Di sinilah nilai moderasi beragama menjadi penting. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk bersikap adil, menghargai perbedaan, berada di tengah-tengah, dan tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Nilai tersebut menurut saya dapat terlihat secara langsung dalam pelaksanaan PORSI JAWARA II. Setiap peserta tentu memiliki keinginan untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, semangat untuk menjadi juara tetap harus diimbangi dengan sikap menghormati peserta lain. Hal sederhana seperti berjabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan menunjukkan bahwa persaingan tidak harus menghilangkan rasa saling menghargai.

Misalnya, dalam perlombaan, perbedaan kemampuan merupakan hal yang sangat wajar. Ada mahasiswa yang unggul dalam bidang olahraga, seni, keagamaan, maupun bidang lainnya. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan peserta lain. Sebaliknya, keberagaman kemampuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar satu sama lain. Mahasiswa yang mendapatkan juara dapat menunjukkan sikap rendah hati, sedangkan peserta yang belum mendapatkan kesempatan untuk meraih juara dapat menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.

Nilai moderasi beragama juga dapat terlihat dalam kegiatan seremonial. Acara pembukaan, pengarahan, hingga penutupan bukan hanya menjadi pelengkap kegiatan, melainkan juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa seluruh peserta merupakan bagian dari satu komunitas akademik. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, mahasiswa tetap dapat berkumpul dalam suasana yang tertib, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Dalam konteks PORSI JAWARA II, moderasi beragama dapat terlihat melalui sikap saling menghormati di tengah perbedaan. Para peserta berasal dari berbagai PTKIN dengan karakter dan pengalaman yang tidak sama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan, cara berkomunikasi, maupun lingkungan sosial yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk bertemu dan berinteraksi. Justru melalui pertemuan tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal orang-orang dari lingkungan yang berbeda dan belajar bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan.

Sebagai tuan rumah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah bukan hanya tentang menyediakan tempat perlombaan. Tuan rumah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang nyaman, tertib, dan ramah bagi seluruh peserta. Sikap terbuka terhadap tamu dari berbagai daerah menjadi salah satu bentuk nyata dari penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, PORSI JAWARA II dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa perbedaan daerah dan latar belakang bukan penghalang untuk membangun kebersamaan.

Menurut saya, acara PORSI JAWARA II ini memiliki hubungan dengan kemampuan berkomunikasi. Dalam setiap kegiatan, komunikasi yang baik sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman, misalnya dengan tidak mengejek lawan, menyampaikan kritik dengan santun, dan memberikan dukungan tanpa merendahkan peserta lain. Ketika menyampaikan pendapat, memberikan dukungan, atau menanggapi hasil perlombaan, mahasiswa perlu menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyinggung pihak lain. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui sikap, tetapi juga melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Menurut saya, keberhasilan PORSI JAWARA II tidak cukup diukur dari banyaknya medali atau piala yang diperoleh. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika kegiatan ini mampu meninggalkan pengalaman positif bagi seluruh peserta. Mahasiswa dapat belajar tentang kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA II mengingatkan kita bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, melainkan juga tentang menjadi pribadi yang mampu menghargai dan menghormati orang lain. Prestasi memang penting, tetapi prestasi yang disertai sikap rendah hati dan toleransi akan memiliki makna yang lebih besar. Oleh karena itu, PORSI JAWARA II seharusnya terus menjadi ruang untuk merayakan prestasi sekaligus merawat moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi.