Penulis: Rifki Farhani, Editor: Dwi Selma Fitriani
Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi salah satu momentum penting dalam mempertemukan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Pulau Jawa dan Madura. Dengan 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam bidang olahraga, seni, dan ilmiah, kegiatan ini berlangsung pada 10–12 September 2026. Namun, di balik semarak kompetisi tersebut, PORSI JAWARA II menyimpan makna yang lebih luas daripada sekadar perebutan prestasi.
Pertemuan mahasiswa dari berbagai kampus tidak hanya menghadirkan persaingan, tetapi juga membuka ruang silaturahmi dan perjumpaan lintas daerah. Setiap peserta datang dengan latar belakang budaya, pengalaman pendidikan, serta kebiasaan yang beragam. Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan yang dapat memperluas wawasan dan mempererat hubungan antarmahasiswa. Dalam konteks ini, PORSI JAWARA II dapat dipandang sebagai ruang nyata untuk mempraktikkan moderasi beragama melalui interaksi yang terbuka, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang persaudaraan.
Salah satu cabang yang memiliki kedekatan kuat dengan nilai-nilai tersebut adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Sebagai cabang perlombaan yang berlandaskan kecintaan terhadap Al-Qur’an, MTQ tidak semestinya dimaknai hanya sebagai ajang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing peserta. Lebih dari itu, MTQ menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa yang memiliki minat dan semangat yang sama dalam mempelajari serta mengembangkan kemampuan tilawah.
Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II
Di tengah pelaksanaan lomba, peserta dari berbagai kampus memiliki kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh dari daerah maupun lembaga masing-masing. Pengalaman seorang peserta tentu tidak selalu sama dengan peserta lainnya. Ada yang memiliki pengalaman pembinaan lebih lama, ada pula yang baru memperoleh kesempatan untuk tampil dalam ajang tingkat regional. Perbedaan pengalaman tersebut tidak seharusnya menjadi jarak, melainkan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar dan menguatkan.
Pada titik inilah nilai tasamuh atau toleransi dalam moderasi beragama menemukan bentuknya secara nyata. Toleransi tidak selalu harus diwujudkan dalam persoalan besar, tetapi juga dapat hadir melalui kesediaan menghargai perbedaan kemampuan, kebiasaan, dan cara belajar orang lain. Dalam lingkungan MTQ, peserta dapat belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Sikap saling menghormati dan tidak merasa paling unggul menjadi bagian penting dari pembentukan karakter beragama yang moderat.
Selain tasamuh, MTQ juga menghadirkan nilai ukhuwah, yakni persaudaraan yang tumbuh melalui pertemuan dan pengalaman bersama. Para peserta yang sebelumnya mungkin tidak saling mengenal dapat membangun hubungan baru melalui percakapan, latihan, maupun berbagi pengalaman seputar tilawah. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak harus selalu menciptakan jarak. Sebaliknya, perlombaan dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara mahasiswa PTKIN.
PORSI JAWARA II juga mengajarkan pentingnya tawazun, yaitu keseimbangan antara semangat berprestasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Keinginan untuk menjadi yang terbaik merupakan hal yang wajar dalam sebuah perlombaan. Akan tetapi, semangat tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa peserta lain bukan sekadar pesaing, melainkan sesama pembelajar yang sedang menempuh proses yang sama. Dengan demikian, prestasi tidak kehilangan makna sosial dan spiritualnya.
Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli
MTQ pada akhirnya bukan hanya tentang lantunan ayat suci yang terdengar indah dari atas panggung. Di dalamnya terdapat proses perjumpaan, pembelajaran, dan pembentukan sikap yang dapat dibawa pulang oleh setiap peserta. Ketika peserta mampu saling berbagi pengalaman tanpa merendahkan, menerima perbedaan tanpa memperdebatkannya secara berlebihan, serta membangun hubungan baik di tengah kompetisi, nilai moderasi beragama telah hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi bermakna.
Oleh karena itu, PORSI JAWARA II 2026 perlu dipandang lebih dari sekadar agenda perlombaan antarkampus. Khususnya melalui cabang MTQ, kegiatan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dipelajari melalui bacaan dan hafalan, tetapi juga melalui sikap yang lahir dari interaksi antarsesama. Lantunan Al-Qur’an menjadi semakin bermakna ketika mampu mengantarkan para peserta untuk merawat toleransi, mempererat persaudaraan, dan membangun cara beragama yang terbuka serta menghargai keberagaman.
