Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

Penulis: Vika Aulia Safitri, Editor: Dwi Selma Fitriani

Kompetisi sering kali dipandang sebagai kegiatan yang penuh dengan ambisi, persaingan yang ketat, dan perebutan hak untuk menjadi yang terbaik. Namun, di luar semua itu, selalu ada tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan dirajut. Hal inilah yang tergambar pada Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura II atau yang kerap disebut PORSI JAWARA, sebuah kegiatan yang diselenggarakan untuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Peserta kegiatan ini terdiri atas kontingen dari berbagai daerah yang memiliki kultur tersendiri.

Sebagai tuan rumah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan membawa tanggung jawab moral yang tidak kecil. Nama besar “Gus Dur” yang melekat pada kampus secara otomatis mengusung amanah nilai-nilai moderasi beragama. Pada momentum PORSI JAWARA II, hal tersebut harus dibuktikan agar nilai moderasi tidak hanya berhenti sebagai jargon semata.

Dalam kegiatan ini, banyak cabang perlombaan yang diselenggarakan. Salah satunya adalah cabang olahraga bola voli. Perlombaan bola voli dapat menjadi wadah untuk membangun solidaritas mahasiswa antarkampus UIN. Saat pertandingan bola voli, terdapat dua tim antarkampus yang saling memperebutkan kemenangan. Keterlibatan panitia UIN Gus Dur juga menjadi bukti bahwa semua pihak dengan latar belakang berbeda berperan penting dalam mendukung kelancaran acara.

Baca juga: Mengenal Makna Tawazzun (Keseimbangan) dari Lapangan Bulu Tangkis PORSI JAWARA II

Sebagai bentuk perwujudan nilai moderasi, dalam pertandingan bola voli terdapat beberapa nilai yang tampak nyata, seperti keadilan (i’tidal) dan keseimbangan (tawazun). Permainan bola voli membutuhkan enam anggota untuk bermain sehingga perlu adanya kerja sama tim yang menuntut pembagian peran agar adil dan seimbang. Semua anggota dalam tim memiliki peranan penting, mulai dari setter, libero, spiker, hingga blocker. Tidak ada peran anggota yang lebih dominan, semua memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga harmoni dan kemaslahatan.

Selanjutnya, permainan bola voli juga memiliki nilai toleransi (tasamuh). Lapangan voli menjadi wadah antarpemain maupun antartim untuk saling menghargai. Sikap saling menghargai antartim mulai tampak ketika bersalaman pada awal maupun akhir pertandingan sebagai simbol kebersamaan. Selain itu, tidak berbuat curang dan menjaga sportivitas juga merupakan tindakan yang mencerminkan toleransi. Kedua tindakan tersebut adalah bentuk nyata dalam menghargai hak, keberadaan, dan perbedaan orang lain di dalam sebuah kompetisi.

Selain itu, nilai antiekstrem atau kontrol diri juga menjadi bagian dari nilai yang tercermin dalam perlombaan. Selama perlombaan berlangsung, tidak pernah terjadi kerusuhan yang merugikan pihak mana pun. Dalam sebuah pertandingan, tidak jarang perkelahian terjadi hanya karena klub atau tim yang didukung kalah bertanding, entah itu disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan wasit dalam mengambil keputusan. Persaingan mungkin dapat memanas, tetapi rasa kemanusiaan harus lebih besar. Itulah pesan penting dari moderasi.

Beberapa nilai moderasi tersebut tampak nyata bagi peserta. Berdasarkan pengamatan suasana, penanaman nilai moderasi cukup terasa. Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan yang memungkinkan terjadi ketika pertandingan sedang berlangsung, salah satunya adalah sikap kompetitif yang berlebihan. Di sisi lain, tantangan ini menjadi bagian dari ujian dalam berperilaku moderat.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Ajang PORSI JAWARA II membuktikan bahwa cabang perlombaan olahraga dapat menjadi media yang efektif untuk merealisasikan nilai moderasi. Hal ini terlihat mulai dari sambutan yang menguatkan persatuan, keterlibatan panitia, hingga perjumpaan hangat antarperwakilan kampus. Oleh karena itu, sangat memungkinkan solidaritas antarkampus UIN se-Jawa dan Madura dapat terbangun dengan baik.