Penulis: Desy Farecha, Editor: Dwi Selma Fitriani
Kamis, 10 September 2026, Gedung Student Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan menjadi saksi dibukanya PORSI JAWARA II, ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura yang mempertemukan mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Ribuan atlet, ofisial, wasit, dan juri berkumpul dalam satu wadah pertandingan, membawa identitas kampus masing-masing sekaligus harapan untuk berprestasi. Namun, di balik hiruk-pikuk pertandingan itu, ada suasana yang tetap terjaga tanpa gesekan, tanpa provokasi, dan tanpa kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun verbal.
Belasan kontingen dari berbagai daerah berkumpul dalam satu gedung, masing-masing membawa kebanggaan almamater. Dalam banyak kasus, situasi semacam ini rawan memicu gesekan, entah karena rasa kompetitif yang berlebihan atau sekadar euforia yang tidak terkendali. Akan tetapi, hal yang terjadi justru sebaliknya. Suasana pertandingan berlangsung tertib, hangat, dan penuh rasa saling menghormati antarkontingen. Tidak ada ejekan yang dilontarkan untuk merendahkan kampus lain, apalagi gesekan fisik yang mewarnai euforia pembukaan.
Momen ini, bagi saya, bukan sekadar seremoni belaka, melainkan cerminan nyata dari salah satu pilar penting dalam moderasi beragama, yakni sikap antikekerasan. Dalam kerangka moderasi beragama, antikekerasan tidak hanya berarti tidak melakukan tindakan fisik yang merugikan orang lain, tetapi juga mencakup penolakan terhadap kekerasan verbal, seperti ujaran kebencian, ejekan, atau sikap merendahkan pihak lain atas nama identitas kelompok maupun kampus.
Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II
Sebagai mahasiswa dari lingkungan PTKIN yang notabene bergelut dengan nilai-nilai keislaman setiap hari, sikap yang ditunjukkan di Gedung Student Center pada hari pertama itu semestinya bukan kebetulan. Hal tersebut lahir dari pemahaman keagamaan yang telah tertanam dalam keseharian mahasiswa PTKIN, bahwa Islam senantiasa mengedepankan cara-cara damai dalam menghadapi perbedaan, termasuk perbedaan dalam konteks kompetisi. Terlebih lagi, sebagai ajang yang digelar di kampus yang menyandang nama Gus Dur, nilai-nilai kedamaian dan keteladanan beliau seolah menemukan ruang praktiknya secara nyata. Semangat untuk menang tidak semestinya mengorbankan adab, dan kebanggaan terhadap almamater tidak semestinya diwujudkan dengan merendahkan pihak lain.
Hal yang menarik, suasana tertib ini terjadi bukan tanpa alasan. Adanya arahan dari pihak penyelenggara maupun tuan rumah yang menekankan pentingnya kejujuran dan sportivitas dalam setiap pertandingan tampaknya turut membentuk suasana kondusif sejak hari pertama. Ketika nilai-nilai semacam itu ditanamkan sejak momen pembukaan, wajar apabila suasana kompetitif yang muncul kemudian tetap berada dalam koridor yang sehat dan saling menghargai.
Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II
Momen di Gedung Student Center pada Kamis pagi itu mungkin hanya bagian kecil dari rangkaian panjang PORSI JAWARA II. Namun, dari momen singkat tersebut, tergambar jelas bagaimana ribuan mahasiswa PTKIN mampu menahan diri dari kecenderungan untuk saling menjatuhkan dan memilih jalan yang lebih beradab dalam mengekspresikan kebanggaan serta semangat berkompetisi. Hal ini adalah bukti kecil, tetapi konkret, bahwa nilai moderasi beragama bukan sekadar wacana yang diajarkan di ruang kelas, melainkan sesuatu yang dapat dan telah dipraktikkan secara nyata, bahkan di tengah keramaian sebuah pertandingan.
Semoga suasana yang terjaga sejak hari pertama ini menjadi fondasi bagi keberlangsungan PORSI JAWARA II secara keseluruhan, dan menjadi pengingat bahwa kompetisi sejatinya bukan ruang untuk saling menjatuhkan, melainkan ruang untuk saling menghargai perbedaan sambil tetap menjunjung tinggi prestasi.
