Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Penulis: Annissa Meilasari, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menyaksikan lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, saya melihat sesuatu yang sangat menarik. Para peserta tidak datang dengan pendapat yang sama. Mereka justru berada di posisi yang berbeda dan harus mempertahankan argumen masing-masing. Salah satu mosi yang dibahas adalah “This House, as a Syrian transitional government, would do long-term security with Israel”. Menurut saya, perdebatan bukan hanya tentang siapa yang memiliki argumen paling bagus dan kuat, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menyampaikan pendapat ketika berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda.

Dalam sebuah debat, perbedaan pendapat menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Setiap tim memiliki alasan, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda. Ada yang mendukung sebuah gagasan, sementara yang lain berusaha menyanggah dan menunjukkan kelemahan dari gagasan tersebut. Perbedaan seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita. Kita sering menemukan orang yang tidak sepemikiran dengan kita, baik dalam lingkungan perkuliahan, organisasi, maupun masyarakat.

Menurut saya, beberapa hal tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan moderasi beragama. Moderasi beragama tidak berarti membuat semua orang memiliki pendapat yang sama. Justru, salah satu hal yang paling penting dalam bermoderasi adalah kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijak. Kita boleh tidak setuju dengan suatu pendapat, tetapi ketidaksetujuan tersebut tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Melalui lomba debat, saya melihat bahwa peserta dituntut untuk menyampaikan pendapat mereka berdasarkan argumen, bukan sekadar emosi. Ketika berada dalam posisi yang berbeda, seseorang perlu mendengarkan apa yang disampaikan lawan sebelum memberikan tanggapannya. Dari sini, debat sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: berbeda pendapat tidak harus saling merendahkan satu sama lain.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Hal ini menjadi sangat menarik ketika topik yang dibahas berkaitan dengan persoalan politik dan hubungan antarnegara yang cukup sensitif. Ketika membicarakan konflik dan hubungan antarnegara, tentu banyak sekali sudut pandang yang dapat muncul. Jika perbedaan pandangan tidak disikapi dengan baik, pembicaraan mengenai isu tersebut dapat dengan mudah berubah menjadi saling menyalahkan. Namun, dalam ruang debat, perbedaan tersebut justru diarahkan menjadi sebuah diskusi yang memiliki aturan.

Dari situlah, nilai moderasi dapat terlihat. Moderasi tidak harus ditunjukkan dengan kegiatan keagamaan secara langsung. Sikap moderat juga dapat muncul dari cara seseorang berbicara, mendengarkan, ataupun menghargai orang lain. Ketika seseorang mampu menyampaikan pendapatnya dengan tegas tanpa menghina pihak lain, ia sedang belajar untuk menempatkan perbedaan secara proporsional.

Saya juga melihat bahwa debat mengajarkan pentingnya berpikir kritis. Peserta tidak cukup hanya mengatakan bahwa pendapatnya benar. Mereka harus memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjawab argumen dari pihak lain. Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut tentu sangat penting karena kehidupan akademik juga tidak terlepas dari perbedaan pemikiran.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Namun, kemampuan berpikir kritis juga harus berjalan bersama dengan sikap menghargai. Seseorang boleh kritis terhadap suatu gagasan, tetapi tetap perlu menghormati orang lain yang menyampaikan gagasan tersebut. Inilah yang terkadang sulit untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering kali terlalu cepat menganggap orang yang berbeda pendapat sebagai orang yang salah, bahkan sebelum mencoba memahami alasan di balik pendapatnya.

PORSI JAWARA II menjadi ruang yang sangat menarik karena kegiatan perlombaan dapat mempertemukan orang dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda-beda. Para peserta memang datang untuk menjadi juara, tetapi proses untuk menuju kemenangan seharusnya dilakukan dengan cara yang sehat. Dalam lomba debat, kemenangan tidak seharusnya diperoleh dengan menjatuhkan lawan, melainkan dengan menunjukkan kualitas argumen yang baik.

Menurut saya, semangat berkompetisi dan moderasi sebenarnya dapat berjalan beriringan. Kita tetap boleh memiliki ambisi untuk menang, tetapi ambisi tersebut tidak boleh membuat kita kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Kita boleh mempertahankan pendapat, tetapi tetap harus membuka ruang untuk mendengarkan. Kita juga boleh merasa yakin dengan argumen sendiri, tetapi tetap menyadari bahwa sudut pandang orang lain memiliki maksud dan alasan tersendiri.

Hal tersebut menjadi pelajaran yang cukup penting bagi saya sebagai mahasiswa. Kampus bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengetahuan, melainkan juga tempat untuk belajar hidup bersama dengan berbagai pendapat dan pemikiran. Akan ada perbedaan pendapat dalam berdiskusi, berorganisasi, maupun kehidupan sosial. Jika setiap perbedaan selalu dianggap sebagai ancaman, akan sulit membangun lingkungan yang nyaman dan saling menghargai.

Saya merasa bahwa lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II menunjukkan bahwa kegiatan perlombaan dapat menjadi lebih dari sekadar ajang mencari pemenang. Di dalamnya terdapat proses belajar untuk berbicara, mendengarkan, berpikir kritis, menerima perbedaan, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat dekat dengan semangat moderasi beragama.

AI dalam Pendidikan : Membantu Guru atau Mengurangi Kreativitas Siswa?

Penulis: Yoga Saputra, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di zaman yang semakin maju, perkembangan teknologi juga semakin pesat, terutama dalam dunia pendidikan. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan adalah Artificial Intelligence (AI). AI hadir sebagai inovasi pendidikan yang mampu memberikan jawaban dan informasi secara cepat terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan pengguna. Saat ini, teknologi AI mulai dimanfaatkan oleh banyak guru dan siswa. Beberapa jenis AI yang sering digunakan antara lain ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI lainnya. Kehadiran AI sendiri mampu membantu mencari materi, membuat tugas, bahkan menyusun bahan pembelajaran dengan lebih mudah dan efisien. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: “Apakah AI benar-benar membantu pendidikan atau justru membuat siswa kurang kreatif?” Penggunaan AI yang terlalu berlebihan dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kemandirian, serta kreativitas siswa dalam belajar. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu disikapi secara bijak dan kritis agar teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir siswa.

Kecanggihan teknologi AI dapat membantu dan mempermudah pekerjaan guru, seperti membuat soal, menyusun materi, membuat media pembelajaran, dan menghemat waktu administrasi. Dengan adanya AI, guru dapat lebih fokus pada proses pembelajaran dan interaksi dengan siswa dibandingkan hanya mengerjakan tugas administrasi.

Dalam proses pembelajaran, teknologi AI juga mampu membantu siswa memahami materi dengan lebih cepat karena memberikan akses informasi yang luas dan penjelasan yang mudah diperoleh. Selain itu, AI dapat mendukung siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Penggunaan AI dalam pembelajaran juga memungkinkan guru menerapkan model pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif, seperti penggunaan mind mapping, kuis digital, video pembelajaran, dan simulasi pembelajaran. Hal tersebut membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan tidak monoton.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Pendapat ini didukung oleh penelitian Karina Rahmah Fitri dkk. dalam Jurnal Pendidikan Tambusai yang menyatakan bahwa penggunaan AI, khususnya ChatGPT, dapat membantu meningkatkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian Dian Sarmita dkk. dalam Jurnal Inovasi Wawasan Akademik menjelaskan bahwa AI membantu guru mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif dan efektif. Menurut saya, teknologi AI dapat menjadi alat bantu pendidikan apabila digunakan secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan. AI seharusnya menjadi pendukung proses belajar, bukan pengganti guru maupun pengganti kemampuan berpikir siswa.

Selain menawarkan berbagai dampak positif, keberadaan AI juga memberikan dampak negatif terhadap kreativitas siswa. Dampak tersebut bisa kita lihat dari berbagai situasi yang mulai sering terjadi dalam proses pembelajaran.

Pertama, siswa menjadi terlalu bergantung pada AI. Ketika mendapatkan tugas, sebagian siswa cenderung langsung menggunakan AI untuk mencari jawaban tanpa melakukan penyaringan atau memahami isi jawaban tersebut terlebih dahulu. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan berpikir mandiri serta menurunkan daya analisis siswa dalam menyelesaikan masalah. Kedua, kreativitas dan imajinasi siswa dapat mengalami penurunan. Dalam mencari ide atau menyelesaikan tugas, siswa lebih memilih cara yang instan melalui AI dibandingkan dengan melakukan proses berpikir dan mengembangkan gagasan sendiri. Jika hal ini terus berlangsung, siswa akan terbiasa menerima jawaban secara cepat tanpa melatih kemampuan berpikir kreatifnya.

Pendapat tersebut didukung oleh penelitian Firdaus Hosea Pasaribu dalam Jurnal Dunia Pendidikan yang menjelaskan bahwa penggunaan AI secara berlebihan berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas pelajar. Selain itu, penelitian Andi Rizky Amaliah dan Nabila Putri dalam MUARA PENDIDIKAN menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat membuat siswa kurang aktif dalam mengeksplorasi ide dan memecahkan masalah secara mandiri. Menurut saya, apabila AI digunakan tanpa kontrol dan pengawasan yang tepat, teknologi tersebut dapat membuat siswa menjadi pasif dan kehilangan proses belajar yang sebenarnya. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu dibatasi dan diarahkan agar tetap mendukung perkembangan kreativitas serta kemampuan berpikir siswa.

Adanya dampak negatif dari penggunaan AI menjadikan peran guru semakin penting dalam proses pendidikan. Pada dasarnya, peran guru tidak dapat fully digantikan oleh AI karena empati, pendidikan karakter, serta interaksi sosial hanya dapat diwujudkan melalui hubungan langsung antara guru dan siswa, bukan melalui teknologi semata.

Di era AI saat ini, guru memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan siswa dalam menggunakan AI secara sehat, bijak, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Guru perlu mengajarkan bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai alat untuk menyalin jawaban secara instan tanpa memahami prosesnya. Selain itu, guru juga dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran yang mampu melatih kreativitas dan kemampuan berpikir siswa, seperti tugas berbasis diskusi, proyek, pemecahan masalah, dan karya orisinal. Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat memanfaatkan teknologi AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitasnya. Menurut saya, kemajuan teknologi AI memang dapat membantu dunia pendidikan, tetapi guru tetap menjadi sosok utama dalam membimbing, mengarahkan, dan membentuk karakter siswa agar teknologi digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.

Baca juga: Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Dengan demikian, AI memiliki manfaat yang besar dalam dunia pendidikan apabila digunakan secara bijak, kritis, dan seimbang. Kehadiran AI mampu membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah, cepat, dan inovatif. Namun, jika digunakan secara berlebihan, AI berakibat mengurangi kreativitas dan kemampuan berpikir siswa apabila tidak disertai pengawasan yang tepat. Oleh karena itu, peran seorang guru semakin penting dalam membimbing dan memberikan arahan kepada siswa dalam penggunaan AI. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan pengawas agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh secanggih apa teknologinya, melainkan oleh bagaimana manusia menggunakannya secara bijak untuk mendukung proses belajar dan perkembangan karakter siswa.

Moderasi Beragama dalam Nalar Kritis Pemikiran Gus Baha

Penulis:  Rofiuddin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama seringkali dipandang tak lebih dari sekadar kisah perdamaian atau toleransi beragama. Namun, gagasan ini memiliki landasan intelektual yang lebih kuat dan kritis berkat KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, yang juga dikenal sebagai Gus Baha. Gus Baha menggunakan kajian mendalamnya terhadap teks-teks Islam utama (al-mutūn al-aṣliyyah) sebagai landasan pemikiran kritis yang ia gunakan untuk membongkar interpretasi agama yang dogmatis dan rekayasa. Kontribusi utama Gus Baha terhadap moderasi beragama adalah kemampuannya untuk mengembalikan praktik keagamaan kepada kontekstualisasi, kesederhanaan, dan prinsip-prinsip dasar syariah yang menekankan kemudahan (taysir), sehingga menolak radikalisme secara mutlak.

Berpikir kritis berbasis pemikiran kritis Gus Baha adalah penalaran tekstual yang fiqhiyah (berdasarkan hukum Islam), bukan penalaran filosofis yang abstrak. Untuk menunjukkan bahwa banyak gagasan teologis yang rumit atau ekstrem seringkali tidak memiliki landasan tekstual yang kuat, ia sering merujuk pada Al-Qur’an, Hadis, dan karya-karya besar para ulama terdahulu. Ia menganalisis lapisan-lapisan pemikiran yang sarat dengan emosi berlebihan atau tujuan sosial-politik dengan menggunakan otoritas intelektualnya yang tak terbantahkan. Moderasi beragama, menurut Gus Baha harus didasarkan pada penafsiran yang tepat tentang hukum Tuhan, bukan sekadar konsesi sosial tanpa landasan teologis.

Baca juga: Moderasi Beragama yang Tidak Egois (Sentrisme Alam)

Prinsip dasar hukum Islam, yakni taysir (kemudahan), merupakan landasan moderasi beragama Gus Baha. Beliau berulang kali menekankan bahwa sesuai dengan Al-Qur’an, Allah SWT tidak membebani umat-Nya di luar batas kemampuan mereka (Q.S. Al-Baqarah: 286). Gerakan-gerakan ekstremis yang sungguh-sungguh mempersulit dan membebani praktik keagamaan para penganutnya diserang secara langsung oleh strategi ini. Gus Baha menghadirkan Islam yang ramah, praktis, dan kontekstual dengan menekankan taysir, yang memungkinkan seluruh umat islam beribadah dengan sukacita dan kesadaran penuh tanpa rasa bersalah akibat interpretasi yang terlalu kaku.

Pembongkaran fikih yang dimotivasi oleh ideologi transnasional atau fanatisme kelompok (ta’assub madzhabi) merupakan salah satu contoh penggunaan penalaran kritis yang moderat oleh Gus Baha’. Ia menunjukkan bagaimana sepanjang sejarah Islam, perbedaan pendapat (khilafiyah) justru menjadi kekuatan, alih-alih sumber konflik. Ia mengajarkan umat untuk menanggapi perselisihan secara dewasa dengan menjelaskan beragam sudut pandang yang dipegang oleh para ulama klasik. Keberaniannya dalam mengungkapkan variasi-variasi ini dalam fikih yang diterima bertindak sebagai perlindungan intelektual terhadap upaya gerakan-gerakan intoleran untuk menstandardisasi interpretasi.

Baca juga: Toleransi Bukan Sekadar Seremoni: Menggeser Narasi Simbolis Ke Aksi Substansial

Relevansi dengan masyarakat dan politik (anti-polarisasi) gagasan Gus Baha berhasil meredam polarisasi agama di ranah sosial-politik. Beliau menekankan bahwa isu ubudiyah (ritual) dan muamalah (sosial) harus dipisahkan dari tujuan-tujuan duniawi yang terbatas karena agama seringkali terseret ke dalam konflik politik identitas. Beliau dipandang positif oleh banyak lapisan masyarakat karena posisinya yang ilmiah namun netral secara politik. Hal ini langsung menghilangkan kemungkinan radikalisasi, yang seringkali diakibatkan oleh perpaduan antara kekecewaan masyarakat dan politisasi doktrin agama.

Menghidupkan tradisi keilmuan pesantren nalar kritis Gus Baha dalam moderasi beragama adalah cerminan otentik dari tradisi keilmuan pesantren yang menekankan sanad (transmisi ilmu yang bersambung) dan otoritas. Dengan membawa tradisi tersebut ke ruang publik modern, beliau memberikan alternatif yang berwibawa terhadap narasi keagamaan yang instan dan tanpa guru. Ini merupakan bentuk moderasi kultural, di mana kearifan lokal nusantara (yang inklusif) disandingkan dengan akuntabilitas keilmuan Islam klasik. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya dipahami sebagai adopsi nilai luar, melainkan penemuan kembali nilai-nilai otentik dalam tradisi keilmuan Islam Indonesia.

Baca juga: Wajah Sejuk Islam: Menemukan Spirit Moderasi Dalam Jejak Sunnah

Pada akhirnya, penalaran kritis Gus Baha tentang moderasi beragama menawarkan kontribusi intelektual yang komprehensif. Selain menganjurkan toleransi, beliau juga menawarkan argumen teologis yang kuat melawan ekstremisme, dengan menyatakan bahwa hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum Islam. Dengan kembali kepada teks yang mengutamakan kemudahan, dan menerima keragaman fikih sebagai berkah, Gus Baha telah memberikan landasan bagi umat Islam untuk berkembang menjadi komunitas ummatan wasathan (perantara) yang sejati. Gagasannya relevan karena membangkitkan kesadaran akan fakta bahwa kesederhanaan dan keseimbangan merupakan komponen kunci kebenaran agama.