Penulis: Dwi Selma Fitriani, Editor: Muslimah
Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 resmi dibuka dengan penuh gegap gempita di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan. Ribuan pasang mata menjadi saksi kemeriahan upacara pembukaan yang berlangsung dengan sangat megah dan tertata pada Rabu malam, 9 September 2026, di Gedung Student Centre UIN Gusdur Pekalongan. Momen bersejarah ini diawali dengan prosesi kedatangan rombongan delegasi dari berbagai kampus yang memasuki area upacara dengan penuh kebanggaan. Terdapat 1.495 mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Pulau Jawa dan Madura yang berkumpul membawa semangat juang serta kebanggaan almamater masing-masing.
Suasana kental akan kekayaan budaya Nusantara langsung terasa ketika para tamu undangan dan peserta disambut dengan persembahan tari tradisional yang memukau. Keindahan gerak tari tersebut bukan sekadar hiburan semata, melainkan simbol keramahan tuan rumah dalam menerima keberagaman yang hadir. Setelah itu, nilai-nilai spiritualitas yang menjadi muruah institusi keagamaan diteguhkan melalui lantunan syahdu pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Ayat-ayat suci tersebut menyiratkan pesan mendalam bahwa segala ikhtiar, kekuatan, dan kecerdasan yang diadu dalam kompetisi ini senantiasa bertaut pada rida Ilahi. Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap institusi kian bergelora saat ribuan peserta berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian disusul oleh Nyanyian Mars UIN Gus Dur yang menggema di seluruh penjuru Gedung Student Centre.
Di balik keriuhan dan sorak-sorai kompetisi yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini, terdapat sebuah nilai fundamental yang melampaui sekadar perebutan medali emas, perak, maupun perunggu. Acara berskala masif ini sejatinya merupakan manifestasi nyata dari praktik moderasi beragama di kalangan sivitas akademika. Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah perhelatan akbar ini tentu memiliki makna filosofis yang mendalam. Sebagaimana yang masyarakat ketahui, sosok Gus Dur merupakan bapak bangsa sekaligus ikon toleransi di Indonesia. Mempertemukan ribuan mahasiswa Islam dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan tradisi di kampus yang menyandang nama besar beliau adalah sebuah langkah yang sangat strategis. Perjumpaan lintas budaya ini mengajak generasi muda untuk merayakan perbedaan secara elegan di dalam arena.
Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi
PORSI JAWARA II mempertandingkan 27 cabang perlombaan yang mencakup bidang olahraga, seni, dan ilmiah. Mulai dari cabang yang mengandalkan ketangkasan fisik seperti futsal, bola voli, dan panjat tebing; cabang seni yang membutuhkan kehalusan budi seperti kaligrafi dan film pendek, hingga cabang ilmiah yang memeras daya nalar seperti debat konstitusi dan Business Plan. Apabila ditelisik lebih jauh, esensi dari setiap perlombaan tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip moderasi beragama. Moderasi beragama atau wasathiyah mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengambil jalan tengah, bersikap adil, seimbang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
Di dalam arena kompetisi, prinsip keadilan dan keseimbangan tersebut diimplementasikan melalui sikap sportivitas para peserta. Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., dalam berbagai kesempatan telah berpesan agar seluruh pihak senantiasa menjaga integritas. Ketika seorang mahasiswa bertanding, ia dituntut untuk tunduk pada peraturan yang berlaku dan menghormati keputusan wasit. Menerima kekalahan dengan dada yang lapang dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan merupakan wujud paling konkret dari akhlak mulia dan sikap moderat. Kompetisi ini mengajarkan kepada peserta didik bahwa lawan di lapangan pada hakikatnya adalah kawan dalam berproses.
Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika
Lebih lanjut, pada cabang seni dan ilmiah, moderasi beragama tecermin secara gamblang melalui keterbukaan pikiran dan keluwesan dalam berinteraksi. Dalam perlombaan debat konstitusi, misalnya, para delegasi mahasiswa dilatih untuk beradu gagasan secara rasional tanpa harus bermusuhan secara personal. Mereka diajarkan untuk menghargai kelogisan argumen pihak lain. Begitu pula dalam cabang seni, mahasiswa diberi panggung untuk mengekspresikan nilai-nilai keislaman yang indah, damai, merangkul, dan sarat akan pesan humanisme. Pendekatan budaya dan keilmuan ini menjadi antitesis yang sangat kuat terhadap paham-paham radikal yang cenderung kaku dalam menyikapi sebuah perbedaan.
Pada akhirnya, gegap gempita pembukaan PORSI JAWARA II 2026 bukanlah sekadar ajang unjuk kekuatan belaka. Perhelatan ini adalah panggung pembuktian yang sesungguhnya bagi mahasiswa PTKIN untuk membumikan konsep moderasi beragama. Melalui olahraga, seni, dan karya ilmiah, ribuan mahasiswa ini tengah merajut tali persaudaraan kebangsaan yang lebih erat. Harapannya, ketika kompetisi ini usai, piala dan medali bukanlah satu-satunya hal yang dibawa pulang, melainkan juga karakter yang inklusif, pikiran yang terbuka, dan semangat persatuan yang terus menyala.
