Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Penulis: Daffa Afrizal Maulana, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Sebagai mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang tahun ini berkesempatan menjadi tuan rumah PORSI JAWARA II, saya melihat bahwa acara ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, PORSI JAWARA II merupakan ruang pertemuan seluruh mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai latar belakang, minat, dan kemampuan. Melalui kegiatan seremonial, perlombaan, serta interaksi antarpeserta, acara ini mengajarkan bahwa kehidupan kampus tidak hanya dibangun melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui kebersamaan dan sikap saling menghargai antarsesama.

Bagi saya, salah satu hal menarik dari PORSI JAWARA II ini adalah suasana kompetisi yang tetap mempertemukan mahasiswa dalam semangat persaudaraan. Misalnya, sebelum dan sesudah melakukan pertandingan, peserta lomba pasti akan berjabat tangan dengan lawan mainnya. Hal tersebut menunjukkan sikap saling menghormati dan menjaga hubungan sosial. Pertemuan tersebut menjadikan PORSI JAWARA II bukan hanya sebagai kegiatan olahraga dan seni, melainkan juga sebagai ruang untuk membangun relasi, memperluas pengalaman, dan belajar menghargai keberagaman. Setiap peserta tentu ingin memberikan kemampuan terbaiknya. Namun, keinginan untuk menang seharusnya tidak menghilangkan sikap menghormati lawan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Di sinilah nilai moderasi beragama menjadi penting. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk bersikap adil, menghargai perbedaan, berada di tengah-tengah, dan tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Nilai tersebut menurut saya dapat terlihat secara langsung dalam pelaksanaan PORSI JAWARA II. Setiap peserta tentu memiliki keinginan untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, semangat untuk menjadi juara tetap harus diimbangi dengan sikap menghormati peserta lain. Hal sederhana seperti berjabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan menunjukkan bahwa persaingan tidak harus menghilangkan rasa saling menghargai.

Misalnya, dalam perlombaan, perbedaan kemampuan merupakan hal yang sangat wajar. Ada mahasiswa yang unggul dalam bidang olahraga, seni, keagamaan, maupun bidang lainnya. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan peserta lain. Sebaliknya, keberagaman kemampuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar satu sama lain. Mahasiswa yang mendapatkan juara dapat menunjukkan sikap rendah hati, sedangkan peserta yang belum mendapatkan kesempatan untuk meraih juara dapat menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.

Nilai moderasi beragama juga dapat terlihat dalam kegiatan seremonial. Acara pembukaan, pengarahan, hingga penutupan bukan hanya menjadi pelengkap kegiatan, melainkan juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa seluruh peserta merupakan bagian dari satu komunitas akademik. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, mahasiswa tetap dapat berkumpul dalam suasana yang tertib, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Dalam konteks PORSI JAWARA II, moderasi beragama dapat terlihat melalui sikap saling menghormati di tengah perbedaan. Para peserta berasal dari berbagai PTKIN dengan karakter dan pengalaman yang tidak sama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan, cara berkomunikasi, maupun lingkungan sosial yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk bertemu dan berinteraksi. Justru melalui pertemuan tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal orang-orang dari lingkungan yang berbeda dan belajar bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan.

Sebagai tuan rumah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah bukan hanya tentang menyediakan tempat perlombaan. Tuan rumah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang nyaman, tertib, dan ramah bagi seluruh peserta. Sikap terbuka terhadap tamu dari berbagai daerah menjadi salah satu bentuk nyata dari penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, PORSI JAWARA II dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa perbedaan daerah dan latar belakang bukan penghalang untuk membangun kebersamaan.

Menurut saya, acara PORSI JAWARA II ini memiliki hubungan dengan kemampuan berkomunikasi. Dalam setiap kegiatan, komunikasi yang baik sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman, misalnya dengan tidak mengejek lawan, menyampaikan kritik dengan santun, dan memberikan dukungan tanpa merendahkan peserta lain. Ketika menyampaikan pendapat, memberikan dukungan, atau menanggapi hasil perlombaan, mahasiswa perlu menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyinggung pihak lain. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui sikap, tetapi juga melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Menurut saya, keberhasilan PORSI JAWARA II tidak cukup diukur dari banyaknya medali atau piala yang diperoleh. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika kegiatan ini mampu meninggalkan pengalaman positif bagi seluruh peserta. Mahasiswa dapat belajar tentang kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA II mengingatkan kita bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, melainkan juga tentang menjadi pribadi yang mampu menghargai dan menghormati orang lain. Prestasi memang penting, tetapi prestasi yang disertai sikap rendah hati dan toleransi akan memiliki makna yang lebih besar. Oleh karena itu, PORSI JAWARA II seharusnya terus menjadi ruang untuk merayakan prestasi sekaligus merawat moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi.