Penulis: Prof. Dr. H. Moh. Sugeng Solehuddin, M.Ag*
Kondisi alam saat ini semakin mengkhawatirkan. Pemanasan global telah memicu perubahan iklim yang ekstrem. Suhu semakin tidak menentu, intensitas hujan semakin tinggi, menimbulkan bencana ekologis seperti banjir dan longsor di berbagai daerah. Fenomena ini menunjukkan bahwa relasi manusia dengan alam berada pada titik kritis yang membutuhkan respons serius dan berkelanjutan.
Pemanasan global memang disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari emisi karbon akibat pembakaran bahan bakar fosil hingga deforestasi. Namun demikian, persoalan sampah sering kali luput dari perhatian. Padahal, dampaknya terhadap kerusakan ekosistem sangat signifikan. Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik mencemari tanah, sungai, dan laut, serta mengganggu keseimbangan ekosistem alami. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 800 spesies laut terdampak oleh sampah plastik melalui mekanisme tertelan dan terjerat (UNEP 2021). Selain itu, mikroplastik yang berasal dari degradasi plastik telah masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia (Setiawan dan Sudarmaji 2024).
Di sisi lain, pengelolaan sampah yang buruk juga memperparah risiko bencana hidrometeorologis. Sampah yang menumpuk di saluran air menghambat aliran air hujan dan meningkatkan potensi banjir, terutama di kawasan perkotaan dan daerah padat penduduk. Lebih jauh, produksi dan pembakaran sampah plastik turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang mempercepat laju pemanasan global (Zheng et al. 2024).
Berangkat dari kesadaran akan urgensi persoalan tersebut, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berinisiatif mengembangkan program zero waste yang terintegrasi dengan penerapan circular economy berbasis pengelolaan sampah. Program ini tidak semata ditujukan untuk menekan timbulan sampah, tetapi juga untuk mentransformasi limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis. Lebih jauh, inisiatif ini dirancang tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, melainkan diperluas ke desa-desa binaan di sekitarnya. Dengan kampus sebagai poros penggerak dan desa binaan sebagai penyangga ekosistem sosialnya, diharapkan terbangun model pengelolaan sampah yang partisipatif, berkelanjutan, dan kontributif bagi perbaikan lingkungan secara lebih luas.
Inti dari pengelolaan sampah sesungguhnya terletak pada satu praktik mendasar, yakni pemilahan. Tanpa pemilahan sejak dari sumbernya, seluruh konsep pengelolaan berkelanjutan akan berhenti sebatas slogan. Karena itu, pengelolaan sampah bukan hanya soal teknologi, melainkan soal pembiasaan pola hidup. Studi menunjukkan bahwa pemilahan sampah di tingkat rumah tangga atau institusi pendidikan secara signifikan dapat menurunkan volume sampah residu hingga lebih dari 50 persen (Wilson et al. 2015).
Ketika dipilah dengan benar, sampah anorganik—seperti plastik, kertas, dan logam—memiliki nilai jual ekonomi yang relatif tinggi dan stabil dalam rantai daur ulang (Ghisellini, Cialani, and Ulgiati 2016). Di sisi lain, sampah organik justru menyimpan potensi yang sering diremehkan. Sampah organik yang tidak tercampur plastik lebih cepat terurai, tidak berbau, dan aman diolah menjadi kompos atau pakan melalui budidaya magot Black Soldier Fly (BSF). Penelitian menunjukkan bahwa magot BSF mampu mengurai limbah organik secara efisien sekaligus menghasilkan biomassa bernilai tinggi sebagai pakan ternak (Diener et al. 2011).
Kompos, magot, maupun hasil turunannya kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung sektor peternakan. Ternak yang dihasilkan bisa dijual atau dikonsumsi, lalu kembali menghasilkan limbah organik yang dapat diolah ulang. Siklus inilah yang menggambarkan praktik circular economy berbasis pengelolaan sampah, di mana limbah tidak berakhir sebagai masalah, melainkan menjadi bagian dari sistem produksi yang berkelanjutan (Kirchherr, Reike, and Hekkert 2017).
Dalam konteks tersebut, program zero waste dan circular economy di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan idealnya tidak berhenti pada praktik teknis pengelolaan sampah, tetapi berkembang menjadi gerakan akademik yang lintas disiplin. Seluruh sivitas akademika memiliki ruang kontribusi strategis sesuai dengan karakter keilmuan masing-masing. Fakultas pendidikan, misalnya, dapat mengembangkan pendekatan pendidikan kritis berbasis lingkungan yang menanamkan kesadaran ekologis sejak dini, mengingat pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pro-lingkungan yang berkelanjutan (Tilbury 2011).
Sementara itu, fakultas ekonomi dapat menjadikan pengelolaan sampah sebagai laboratorium nyata pengembangan ekonomi sirkular, dengan riset dan pendampingan kewirausahaan hijau berbasis daur ulang dan pengolahan limbah (Geissdoerfer et al. 2017). Fakultas Ushuluddin memiliki peluang besar mengembangkan kajian living Al-Qur’an dan Hadis yang menautkan nilai-nilai keislaman dengan etika lingkungan, mengingat teks-teks keagamaan kaya akan pesan amanah, keseimbangan, dan larangan kerusakan bumi (Khalid, 2019).
Lebih jauh, Fakultas Syari’ah dapat menerjemahkan prinsip-prinsip hukum Islam yang pro-lingkungan ke dalam aksi nyata berbasis pengelolaan sampah, seperti penguatan fiqh al-bi’ah dan praktik hukum Islam yang responsif terhadap krisis ekologis (Izzi Dien 2000). Dengan demikian, program penelitian dan pengabdian masyarakat tidak berjalan parsial, melainkan saling terhubung dalam merealisasikan misi kelembagaan yang distingtif: menjadikan kampus sebagai pusat transformasi pengetahuan sekaligus agen perubahan ekologis yang nyata dan berkelanjutan.
*Ketua LP2M UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Penyunting: Azzam Nabil H.
