Implementasi Moderasi Beragama: Belajar Dari Masyarakat Papua

Implementasi Moderasi Beragama: Belajar Dari Masyarakat Papua

Penulis: Tim Hijratuna

Papua adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Nugini bagian barat, atau biasa disebut sebagai west New Guinea. Papua disebut sebagai Papua  Barat karena nama Papua bisa merujuk pada seluruh wilayah di Pulau Nugini, termasuk pula belahan timur negara tetangga yakni East New Guinea atau Papua Nugini. Papua juga terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan. Pulau Papua memiliki ekosistem yang beragam seta warisan budaya yang khas. Tak hanya itu, Papua juga menjadi rumah bagi banyak suku unik dan asli dengan berbagai bahasa, adat istiadat dan tradisi yang kaya khas masing-masing. Jika membahas tentang Papua, masih banyak orang yang salah kaprah dengan mengira bahwa provinsi ini cukup tertinggal dan tak tersentuh infrastruktur serta masih sangat kental akan kegiatan kesukuannya.

Padahal Papua tak jauh berbeda dari provinsi-provinsi lain yang ada di negara kita Indonesia. Provinsi Papua juga memiliki sarana dan prasarana yang sama seperti di beberapa provinsi di Pulau lainnya, hanya saja memang penduduk setempat masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan budaya yang mereka miliki. Alhasil Papua masih kental akan budayanya yang beragam, meski diterpa banyak pengaruh serta perubahan zaman. Hal itu pula yang menjadi alasan utama adanya toleransi yang kuat dan saling menghargai perbedaan di provinsi tersebut dalam hal apapun, termasuk toleransi antar umat beragama.

Pada tahun 2022 kemarin, tepatnya pada bulan Juli mahasiswa dari UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan mengikuti KKN Nusantara yang bertempat di Provinsi Papua. Pengalaman serta pelajaran yang tak ternilai juga mereka dapatkan, seperti bisa berbaur dengan masyarakat setempat yang memiliki pemikiran kritis terhadap isu-isu yang ada serta belajar bagaimana menghidupkan sebuah desa. Berbagai program kerja dan rangkaian kegiatan tercanangkan dengan baik serta maksimal dengan antusiasme warga setempat. Program kerja bisa lebih efisien pula karena keikutsertaan masyarakat dalam penyusunannya dan pemikiran kritis yang mereka miliki.

Berdasarkan keterangan dari Elok Widiana Sukmawati dan Sofyan mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan angkatan 2019, ada beberapa tantangan yang mereka hadapi selama berada di provinsi Papua. Hal ini lumrah terjadi, seperti halnya sebuah kegiatan di tempat-tempat baru. Mahasiswa dari luar Provinsi Papua tentu memerlukan adaptasi khususnya pada kendala bahasa, penerapan norma budaya yang berbeda dari tempat asal mereka. Serta bagaimana mereka harus berhati-hati dalam memilih dan mencari makanan halal, karena mayoritas penduduk di sana merupakan penganut agama Nasrani.

Selama kegiatan KKN berlangsung ada banyak pelajaran yang didapat, termasuk nilai-nilai moderasi beragama yang diimplementasikan oleh warga setempat dan menjadi sumber inspirasi bagi para mahasiswa. Selain sikap toleransi yang dijunjung tinggi, masyarakat juga masih sangat mencintai tanah air mereka. Ini bukan omong kosong belaka, karena masyarakat Provinsi Papua masih mempertahankan nilai-nilai budaya mereka serta menjalankan peraturan maupun kegiatan adat dengan baik. Semua masyarakat memiliki sikap tersebut, dibuktikan dengan ketaatan mereka terhadap peraturan-peraturan adat setempat oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tak hanya itu, masyarakat Papua juga tidak mempermasalahkan perbedaan, adapun perkelahian atau konflik muncul karena konflik internal masyarakat atau suku. Biasanya ini terjadi karena perebutan wilayah atau miskomunikasi yang terjadi. Oleh karena itu, masyarakat memerlukan pendekatan dengan komunikasi interpersonal secara langsung dan intens serta dilakukan secara berkala. Sejatinya nilai-nilai moderasi beragama dapat dilakukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia yang hidup ditengah berbagai perbedaan haruslah saling menghargai. Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang dimiliki sama seperti masyarakat Papua juga diperlukan. Dengan begitu kita bisa hidup berdampingan dnegan damai dan harmonis tanpa adanya perpecahan, itu lah tujuan utama dari adanya moderasi beragama.

Menyemai Kerukunan Bangsa Melalui KKN

Berbicara mengenai moderasi beragama tanah tojara menjadi center atau miniatur moderasi beragama. Toleransi yang amat kuat dimiliki oleh seluruh masyarakat daerah setempat. Berlokasi di Sulawesi Selatan, dominasi agama di sana mayoritas ialah nasrani baik katolik maupun protrestan. Akan tetapi masyarakat setempat dapat hidup berdampingan dan menerima baik masyarakat yang beragama lain khususnya islam. Secara umum masyarakat dapat hidup rukun dan damai dalam kehidupan sehari hari. Ketika terdapat kegiatan kemasyarakatan yang bersifat umum mereka akan saling bergotong royong mensukseskan acara atau kegiatan tersebut tanpa membeda bedakan. Saat ada kegiatan yang bersifat keagamaan masyarakat secara spontan akan saling mentoleransi dan tolong menolong dalam mensukseskan kegiatan yang akan berlangsung seperti ketika kaum muslim akan mengadakan acara maulid nabi, masyarakat non muslim lainnya akan membantu memeriahkan acara tersebut begitu pula sebaliknya.

Kaum muslim akan membantu dan mentoleransi kegiatan keagamaan kaum nasrani seperti periangatan kenaikan Isa Almasih. Masyarakat akan saling menghargai perbedaan tanpa mencampuradukan aqidah mereka masing masing. Berdasarkan keterangan dari mahasiswa yang mengikuti KKN Nusantara “moderasi beragama” yang ditempatkan di Tanah Toraja mengatakan bahwa pandangan masyarakat setempat mengenai umat muslim dan juga perbedaan, semua orang memiliki kedudukan dan derajat yang sama tidak ada perbedaan baik suku, ras, budaya, kasta, etnik, maupun agama. Sebisa mungkin mereka memperlakukan secara adil dengan prinsip saling memanusiakan manusia.

Mulanya para mahasiswa yang berasal dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan merasa kesulitan tinggal di daerah tersebut lantaran kesulitan mencari bahan makanan yang halal. Selain itu mereka juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi terkait norma kebudayaan setempat terkait tindak tanduk mereka selama KKN berlangsung. Sebanyak empat mahasiswa UIN Gusdur di kirim ke Tanah Toraja untuk mengikuti program kuliah kerja nyata selama 40 hari.

Selama berada di Tanah Toraja ada beberapa kegiatan yang telah direalisasikan seperti lomba kebersihan dan menghias kelas di tingkat sekolah dasar, launching produk dan sosialisasi digital marketing, hingga beberapa sosialisasi lainnya. Dengan adanya beberapa kegiatan tersebut sangat diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat serta peserta KKN itu sendiri. Moderasi beragama tidak hanya berfokuskan pada kegiatan keagamaan melainkan dapat terwujud dalam aspek kehidupan lainnya.

Melalui program KKN, mahasiswa diajak untuk terbiasa bergaul, berkomunikasi serta menjalin kerjasama dengan komunias agama yang berbeda. Kerukunan beragama memang harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Pada tataran asumsi, perbedaan seringkali memicu terjadinya prasangka. Hal ini menyulitkan bagi tersemainya kerukunan anak Bangsa. Setiap anak Bangsa pada dasarnya memiliki jiwa yang sama, mencintai tanah airnya. Program KKN lintas agama membuktikan hal ini dilakukan dengan damai, saling membantu, menghargai, menghormati dana bekerjasama…

Politik Identitas dan Moderasi Beragama : Upaya Mencari Keseimbangan

Perhelatan pesta rakyat berupa pemilihan umum atau biasa disingkat dengan pemilu sebentar lagi akan segera dihelat pada tahun 2024. Hiruk pikuk kontestasi politik antar aktor politik untuk merebut simpati dan suara masyarakat sudah sangat terasa intensitasnya. Wajar kiranya jika tahun-tahun ini lantas disebut sebagai “tahun politik” dengan masifnya kegiatan politik yang dilakukan. Secara sederhana, pemilu seharusnya menjadi sebuah ajang untuk merefleksikan kembali tujuan negara. Refleksi tersebut akan berbuah ide, gagasan tentang apa yang perlu diperbaiki, ditambah, atau dilanjutkan dalam konteks tercapainya tujuan nasional yang tercantum dalam konstitusi kita. Dalam sistem demokrasi perwakilan yang kita anut, ide dan gagasan tersebut dapat kita salurkan melalui wakil rakyat yang kita pilih dalam pemilu tersebut. Namun dalam realita, banyak narasi ekstrim atau gerakan yang menodai proses tersebut salah satunya adalah memainkan isu identitas dalam upayanya memperoleh suara dari masyarakat. Permainan tersebut jamak didengar dalam sebuah konsep bernama politik identitas.

Praktek politik identitas dalam kontestasi pemilu dapat kita lihat beberapa tahun belakangan ini utamanya sangat marak saat perhelatan Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Dalam Pilkada tersebut tampak sekali penggunaan identitas agama untuk menciptakan polarisasi antar pemilih, dimana kita semua tahu bahwa pertarungan final calon Gubernur terjadi antara dua calon yang memiliki perbedaan agama. Keberhasilan praktek politik identitas utamanya karena perbedaan identitas agama pada pilkada tersebut nyatanya berlanjut pada pemilihan presiden 2019 berupa kampanye hitam yang menarasikan polarisasi identitas antar pasangan calon sehingga menimbulkan istilah “cebong” dan “kampret”. Dalam konteks bhineka tunggal ika maupun aktualisasi nilai-nilai pancasila, sangat jelas bahwa narasi politik identitas semacam ini sangatlah berbahaya karena bisa menimbulkan perpecahan bangsa dan lahirnya sentimen komunal. Selain itu, politik identitas juga dapat memicu konflik antar masyarakat yang berbeda identitas sehingga mengancam pluralisme dan demokrasi.

Sejarah politik identitas sebenarnya sudah mulai muncul di Amerika Serikat tahun 1960-an sebagai sebuah gerakan perjuangan hak dari kaum minoritas kulit hitam yang menuntut persamaan hak mereka dengan kaum kulit putih. Ilmuwan sosial sendiri baru tertarik pada isu politik identitas sekitar tahun 1970an ketika mereka dihadapkan pada pada masalah-masalah sosial seperti minoritas, gender, ras, etnisitas dan kelompok sosial lainnya yang merasa terpinggirkan serta merasa teraniaya. Melihat fakta sejarah tersebut, tampak bahwa politik identitas pada awalnya berkembang sebagai sebuah gerakan positif yang berisi ide-ide tentang keadailan. Tuntutan terhadap sebuah kesamaan hak dan keberpihakan pada kaum minoritas sehingga menghilangkan adanya diskriminasi dalam sebuah sistem politik. Hal tersebut senada dengan pernyataan Abdilah dalam bukunya politik identitas etnis, bahwa politik identitas bisa dimaknai sebagai sebuah gaya politik yang berusaha melawan marginalisasi kelompok dengan merangkul kesamaan identitas kolektif (sosial, budaya, dan agama) dari komunitas yang memiliki kesamaan pengalaman tertindas dan tersingkir oleh dominasi arus besar dalam sebuah bangsa atau negara.

Apabila dibandingkan dengan realita politik yang ada sekarang, politik identitas sendiri seperti pisau bermata dua yang bisa berdampak negatif, maupun positif, tergantung siapa yang menggunakan pisau tersebut. Pada satu sisi negatif, politik identitas digunakan oleh sekelompok elit yang menggunakan politik identitas sebagai sebuah instrumen untuk mendapatkan kekuasaan tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang akan ditimbulkannya yaitu perpecahan bangsa karena adanya polarisasi identitas. Sedangkan dari sisi positif, penggunaan politik identitas bisa digunakan secara lebih bijak untuk mengaktifkan energi kebersamaan dan kesetaraan serta menghapus adanya diskriminasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Agnes Heller seorang aktivis politik kebangsaan Hongaria dalam buku yang ditulis oleh Abdillah, dimana politik identitas dapat memunculkan toleransi dan kebebasan. Namun memang di saat yang sama, politik identitas juga akan memunculkan pola kekerasan dan pertentangan etnis.

Kontra narasi politik identitas khususnya berkaitan dengan identitas agama, dapat dilakukan melalui narasi dan gerakan moderasi beragama yang sedang gencar dilakukan secara struktural oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Moderasi beragama adalah sebuah gagasan dimana dalam masyarakat yang beragam secara agama, individu-individu dari latar belakang agama yang berbeda dapat hidup bersama secara damai dan harmonis. Moderasi beragama mendorong dialog, penghargaan terhadap perbedaan, dan penolakan terhadap ekstremisme agama. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang inklusif dan saling menghormati. Jauh sebelum Indonesia merdeka, cara beragama orang Nusantara yang bercorak damai dan anti kerusakan telah dilakukan. Mereka lebih menyukai moderasi daripada ekstremitas.

Oleh karena itu, untuk mengangkat sisi positif politik identitas, yang mengangkat ide berkaitan dengan perjuangan keadilan, kesetaraan, dan kebebasan, gerakan moderasi beragama ini bisa menjadi penyeimbang dari giat politik identitas agama yang tidak mungkin terelakkan dalam kontestasi pemilu. Penanaman nilai-nilai moderasi beragama berupa toleransi, cinta tanah air akan menjadi obat mujarab bagi giat politik identitas yang mengarah pada polarisasi identitas. Dalam konteks kebangsaan cinta tanah air, para elite partai politik perlu diberikan edukasi mengenai moderasi beragama sehingga nantinya dalam kampanye, yang menjadi senjata bukanlah ide politik identitas namun politik berbasis akal sehat dan narasi yang berbasis gagasan. Sedang dalam kontek nilai toleransi, identitas agama, bukan merupakan suatu hal untuk dipertandingkan, tetapi merupakan suatu bentuk perbedaaan yang sudah menjadi fitrah dan melalui sesuatu yang berbeda tersebut kita bisa saling menghargai satu sama lain.

Selain dalam kontek pemilu, melalui pemahaman moderasi beragama dalam praktek politik identitas juga bisa dilakukan untuk menghadapi ketidakadilan. Saat ini dapat kita lihat banyak fenomena ketidakadilan dalam praktik sosial kemasyarakatan. Sebagai contoh, politik identitas sebagai alat untuk mencari keadilan dalam sistem hukum. Kelompok perempuan berjuang menggunakan identitas politik sebagai perempuan untuk menciptakan regulasi hukum yang lebih adil bagi mereka. Di sisi lain, ada kaum buruh berusaha memperjuangkan hak-hak kelompok buruh agar diperlakukan secara adil dari sisi ekonomi. Perjuangan tersebut dapat dilakukan melalui cara-cara yang santun, saling menghargai, mengutamakan dialog sesuai nilai-nilai yang digaungkan gerakan moderasi beragama. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkan politik identitas yang dijiwai oleh moderasi beragama, namun hal tersebut sangat layak diperjuangkan jika Indonesia ingin menjadi bangsa besar yang menghargai perbedaaan, bukan mempermasalahkan perbedaaan.

 

Penulis: Muhammad Nuqlir Bariklana

Dosen FISIP UIN Walisongo Semarang

 

 

PENDIDIKAN TOLERAN SEJAK DINI

 

Pendidikan agama merupakan bagian integral dari perkembangan karakter anak-anak. Keberagaman agama di Indonesia memberikan beberapa warna kehidupan serta menumbuhkan karakater toleransi beragama. Kebijaksanaan dan moderasi dalam bergama adalah kualitas yang sangat dihargai dalam masyarakat modern yang beragama. Bagi orang tua mengajarkan moderasi bergama bagi anak usia dini merupakan tantangan besar, berikut beberapa strategi dalam mengajari moderasi beragama untuk anak usia dini:

 

Memberikan dasar agama yang kuat

Pendidikan agama yang kuat menjadi dasar untuk mengajarkan moderasi. Anak-anak harus diperkenalkan kepada ajaran agama dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti. Seperti menggunakan cerita, nyanyian, dan aktivitas yang sesuai dengan usia mereka.

Model perilaku positif

Anak-anak adalah peniru yang ulung, dia akan menirukan apapun yang dilakuan oleh orang dewasa yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu penting bagi orang tua atau pengasuh untuk menjadi model yang baik dalam hal moderasi beragama. Tunjukkan kepada mereka bagaimana menjalani nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dengan sikap yang seimbang dan toleran.

Perkenalkan topik toleransi dan keragaman

Ajarkan anak-anak tentang keberagaman agama dan budaya. Bicarakan tentang bagaimana orang dapat memiliki keyakinan yang berbeda dan mengapa ini adalah hal yang baik.  Tekankan pentingnya menghormati perbedaan dan berbicara dengan sopan saat berdiskusi tentang agama.

Aktivitas yang relevan dengan usia

Ajarkan anak moderasi beragama sesuai dengan usia mereka. Untuk anak usia dini gunakan gambar, cerita, atau permainan yang sesuai untuk memberikan pemahaman yang sederhana tentang konsep-konsep agama.

Bimbingan dalam pertanyaan dan diskusi

Buka ruang diskusi bagi anak-anak untuk bertanya tentang agama. Jawablah pertanyaan mereka dengan jelas serta berikan contoh yang konkret dan relevan dengan kehidupan mereka. Dorong mereka untuk berbicara tentang pengalaman dan perasaan mereka terkait agama.

Libatkan dalam kegiatan keagamaan

Partisipasi dalam kegiatan keagamaan seperti ibadah, upacara atau festival dapat membantu anak-anak merasakan nilai-nilai agama secara langsung. Pastikan pengalaman ini positif dan memahami tingkat perhatian dan minat anak serta tidak keluar dari jalur agama yang dianutnya.

Ajarkan nilai-nilai universal

Selain ajaran tentang agama, ajarkan juga nilai-nilai universal seperti kasih sayang, kejujuran, kebaikan dan empati. Ini adalah nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam beragam aspek kehidupan dan dapat membantu anak mengembangkan moderasi beragama yang seimbang.

Pantau konten dan pengaruh media

Selalu memantau konten media yang dikonsumsi oleh anak. Pastikan materi yang mereka lihat dan dengar sesuai dengan uainya dan nilai-nilai moderasi bergama yang diajarkan. Diskusikan juga tentang bagaimana media dapat mempengaruhi pandangan mereka tentang agama.

Dorong pertanyaan dan pemikiran kritis

Ajarkan anak-anak untuk berfikir kritis tentang agama dan mempertanyakan apa yang mereka peajari . hal ini akan membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keyakinan agama mereka sendiri dan keyakinan orang lain.

Ciptakan lingkungan yang terbuka dan penuh cinta

Ciptakan lingkungan yang terbuka dengan penuh cinta dan mendukung di rumah. Anak-anak harus merasa nyaman berbicara tentang agama, bertanya dan berbagi pemikiran mereka tanpa takut dihakimi.

 

Mengajarkan moderasi beragama sangat efektif dilakukan sejak dini. Kebiasaan sejak dini akan menjadi kebiasaan dan melekat kuat pada kehidupan setelah dewasa. Indonesia merupakan Bangsa yang besar dan beragam. Pendidikan moderasi beragama, seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini. Inilah investasi dalam pembentukan karakter yang kuat terhadap toleransi. Dengan pendekatan yang cermat dan kasih saying, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang menghormati perbedaan, menjalani nilai-nilai agama dengan penuh kasih dan menjadi bagian positif dari masyarakat yang beragam.

Penulis: Ibdaul Latifah, Dosen UIN Salatiga

 

Urgensi Moderasi Beragama di Era Digital

Di era digital saat ini, konsep agama mempunyai banyak pemikiran, model, sikap, dan sudut pandang yang beragam. Tuntutan global menuntut dunia pendidikan untuk senantiasa beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dengan menyesuaikan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Perguruan tinggi berkembang dari tahun ke tahun seiring berkembangnya era digital. Perkembangan tersebut juga tidak terlepas dari nilai dan peran perguruan tinggi Islam, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia. Peran Universitas Islam Negeri (UIN) dalam menghadapi era digital tentunya tidak lepas dari peran agama Islam. Namun selain agama, beberapa aspek yang berkaitan dengan perguruan tinggi yaitu aspek teknologi, hukum, ekonomi, dan lingkungan juga harus ada.

Pembahasan konsep moderasi beragama telah ramai diperbincangkan di beberapa media sosial. Dalam konteks keagamaan, radikalisme agama dapat dimaknai sebagai sikap fanatik terhadap suatu pendapat tertentu sehingga menolak pendapat orang lain. Memahami agama secara tekstual tanpa melihat atau mempertimbangkan esensi syariat dapat menyebabkan ektrimisme. Radikalisme agama berawal dari cara pandang, sikap, dan perilaku seseorang dalam beragama yang eksklusif. Moderasi beragama merupakan sebuah solusi dalam menghadapi berbagai perbedaan yang berujung pada intoleransi beragama dan menghadapi banyaknya kelompok-kelompok ekstremis dan fundamentalis. Persemaian benih-benih paham radikalisme di lingkungan kampus tumbuh dari kelompok-kelompok studi atau kajian sesama mahasiswa. Bukan dari mata kuliah agama yang diwajibkan di kampus. Para senior di kelompok kajian-kajian itu mendoktrinasi paham keagamaan kepada para mahasiswanya. Sementara itu, peran para dosen pengampu mata kuliah agama umumnya kurang berperan dalam melahirkan warna radikal dalam pemahaman keagamaan mahasiswa khususnya di UIN. Di tambah majunya teknologi informasi dan pencetakan buku-buku yang membawa paham trans nasional menambah subur dan berkembangnya paham keagamaan yang radikal tersebut.

Paham tersebut membawa pada perubahan dalam dunia pendidikan atau perguruan tinggi di Indonesia. Sampai-sampai di Indonesia sendiri dapat menjadi paham keagamaan yang keras dan menyebabkan paham intoleransi pada sebagian mahasiswa, ternyata hal itu terjadi pada semua kelompok mahasiswa dari semua agama di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam pendidikan agama di Indonesia mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga ke pendidikan tinggi. Idealnya pendidikan agama sejak dini mengantarkan mahasiswa pada paham inklusif sedini mungkin. Solusi yang mungkin dilakukan dalam Moderasi beragama pada perguruan tinggi dengan perkembangan teknologi yaitu dengan mengadakan diskusi akademik yang transparan dan mudah diakses dalam teknologi yang kemudian tidak mengandung radikalisme. Nantinya dalam pengembangan teknologi Moderasi beragama tentunya sangat penting dalam penyiapan berbagai aspek yang berkaitan dengan Moderasi beragama.

Menganalisis berbagai kebutuhan dan memahami terhadap potensi yang ditawarkan oleh teknologi yang ada moderasi beragama menjadi sangat penting. Apalagi pemanfaatan teknologi ini harus dibarengi dengan persiapan aspek lain, seperti sumberdaya ekonomi, regulasi dan aspek yang berkaitan yang tentunya menjadi hal yang sangat penting dalam mendukung perkembangan teknologi dan tidak melebih-lebihkan urusan agama. Sebagai contoh ada beberapa video di youtube, instagram, facebook ataupun tiktok terkait ceramah agama. Yang mana ceramah agama tersebut jika tidak difilter dapat menimbulkan doktrinisasi kepada para mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dengan atau tanpa teknologi, dunia pendidikan Indonesia selalu berbenah untuk selalu menjadi lebih baik demi anak bangsa.

Pemerintah menjadikan kampus sebagai pusat pengajaran moderasi beragama. Konsep moderasi beragama menjadi salah satu pembahasan yang penting, karena sikap seseorang dalam beragama sangat menentukan pola praktik keagamaan yang telah dianut dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Idealnya, kehadiran agama menjadi pedoman sekaligus sebagai penyaring terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat, namun justru menjadi salah satu sumber konflik. Hakikatnya, agama harus dijadikan sebagai pedoman yang dapat menyeimbangkan dan mengatur berbagai kemaslahatan umat manusia, dan tidak hanya dalam urusan keluarga, tetapi juga menyangkut etika bernegara. Seperti fenomena yang kerap terjadi, yakni maraknya aksi radikalisme dan terorisme dengan mengatasnamakan Islam, hal ini kerap memosisikan Islam sebagai agama yang jauh dari konsep rahmatan lil alimin.

Ide utama moderasi adalah mencoba mencari menemukan persamaan bukan menonjolkan perbedaan. Jika keduanya dipadukan, maka akan muncul budaya yang harmonis. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta kepada segenap civitas akademika untuk mewaspadai gerakan radikalisme dan ekstrimisme di dalam kampus, karena mahasiswa dapat dijadikan sebagai pintu masuk dari gerakan tersebut. Bahkan yang menjadi kewaspadaan bagi BNPT adalah tentang ideologi keagamaan radikal.

Dengan demikian, konsep moderasi beragama menjadi solusi dalam menumbuhkan harmonisasi dalam keberagamaan agar tidak terjebak sikap intoleransi dan tindakan kekerasan. Sehubungan dengan itu, generasi muda khususnya setiap mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menjaga harmonisasi dan keutuhan bangsa di masa yang akan datang. Kedalaman tingkat pemahaman mahasiswa tentang moderasi beragama akan mempengaruhi pemikiran dan sikap serta tindakan yang akan dilakukan, khususnya dalam wacana menyatukan dan merekatkan persatuan kepada semua komponen bangsa dalam bingkai keberagaman budaya bangsa, sehingga tidak ada lagi pandangan yang menyatakan bahwa agama adalah salah satu sumber konflik.

Membangun sikap moderasi beragama di lingkungan kampus merupakan upaya untuk menghormati keberagaman beragama dan membangun kesadaran kolektif mahasiswa PTKIN. Melalui paradigma Islam Terapan dan strategi penyemaian moderasi beragama tersebut diharapkan dapat membentuk mahasiswa yang berpikir moderat dan menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi. Berawal dari moderasi beragama di kampus, harapannya menyebar ke Masyarakat, sehingga kita menemukan model keberagamaan yang menyejukkan.

 

Penulis           : Alyan Fatwa M.Pd

            Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan