Tradisi Tutupan: Fenomena Sosial dan Keagamaan di Pekalongan Menjelang Ramadhan

Penulis: Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Editor: Nanang

Di Pekalongan, banyak tradisi yang populer menjelang datangnya bulan Ramadhan,  salah satunya adalah Tutupan. Istilah  tutupan sering digunakan oleh masyarakat untuk mengakhiri kegiatan-kegiatan rutin yang terkait dengan tradisi yang berkembang dalam bidang sosial keagamaan. Misalnya dilakukan oleh kelompok tahlilan, majelis taklim, marhabanan, diba’an, duraran, serta berbagai macam arisan yang melibatkan komunitas tertentu.

Sebagai sebuah fenomena yang telah turun temurun, tradisi tutupan biasanya menyangkut kegiatan-kegiatan yang berlaku pada  komunitas yang bersifat seremonial dan komunal.  Rutinitas yang melibatkan berbagai latar belakang anggota masyarakat  tersebut menggunakan acuan tahunan, dan  biasanya dimulai dari bulan Syawal hingga bulan Syakban. Begitu masuk pada bulan Sya’ban, terutama setelah Nisfu Syakban, ajakan para anggota untuk mengadakan tutupan mulai bermunculan. Tradisi tutupan ada yang bersifat spontan dan ada yang bersifat terrencana.

Fenomena tutupan juga dilakukan pada satuan pendidikan non formal keagamaan seperti pendidikan Taman Pendidikan Al-Quran, Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pondok Pesantren Salafiyah dan lainnya. Agak berbeda dengan komunitas umum, bentuk tutupan di lingkungan pendidikan non formal keagamaan  lebih bersifat terencana dengan matang. Meskipun begitu, masih tetap bersifat seremonial seperti wisuda, akhirussanah dan lainnya. Berbagai kegiatan tersebut biasanya dirangkai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa spiritual dan seni.  Nuansa spiritual terlihat dari pembacaan zikir seperti pembacaan rotib, Yasin, Tahlil, Simtuddurar, ziyarah dan lainnya. Nuansa kesenian juga cukup menonjol seperti pagelaran musik rebana, music tradisonal, gambusan, drumb band, karnaval dan lainnya, tergantung kesepakatan yang diambil dengan mempertimbangan kondisi keuangan komunitas satun pendidikan.

Apa saja bentuk tutupan yang bersifat spontan? Biasanya, model ini dilakukan oleh komunitas kecil, atau kelompok tertentu dari berbagai usia dan pertemanan. Bentuknya dapat berupa rekreasi di suatu destiansi wisata dalam kota atau luar kota, kegiatan kumpul bareng  dan sejenisanya. Kebiasaan yang biasa disepakti pada saat tutupan berupa ngobrol, bercengkerama, menikmati makan-makan dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Selain melepas kangen dan mempererat pertemanan, tutupan dalam komunitas ini cenderung untuk semakin memantapkan semangat keakraban bersama relasinya.

Terlepas dengan jenis yang spontan atau terencana, tradisi tutupan bukan berarti menutup semua kegiatan tersebut selamanya, dan tidak akan ada lagi kegiatan tersebut. Tutupan ini bersifat sementara, karena akan fokus menjalani ibadah di bulan ramadlan. Oleh karena itu, tutupan tidak bersifat permanen dan akan dilanjutkan lagi setelah Syawalan selesai, tergantung kesepakatan anggota komunitasnya. Dalam menentukan tutupan, ada proses pengambilan keputusan bersama yang mengikat anggota komunitas secara kekeluargaan.

Berbeda dengan tradisi tutupan yang cenderung ceremonial dan komunal, ada sebagian anggota masyarakat yang memaknai tutupan dengan nuansa religius. Melalui tutupan, masyarakat diharapkan mengakhiri bulan Syakban dengan menutup rapat kebiasaan buruk yang biasa dilakukan. Menjelang bulan Ramadlan, segala bentuk perbuatan negatif ditutup, diganti dengan perbuatan yang bermanfaat. Misalnya menutup dan meninggalkan beragam kemaksiatan maupun kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang lain. Dimensi ini  diartikan sebagai upaya menutup jiwa dan raga dari berbagai godaan setan yang mengarah pada tindakan destruktif, sehingga secara batiniyah sudah siap memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih. Melalui hati yang bersih, masyarakat dapat menyiapkan suasana ibadah Ramadan dengan khusuk.

Dengan demikian, istilah tutupan di Pekalongan merupakan tradisi lokal yang memiliki orientasi beragam, tergantung komunitas yang mengadakannya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak praktek lokal wisdom yang berkembang di Pekalongan dan bisa jadi memiliki arti yang berbeda jika diterapkan di daerah lain.  Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya yang dapat menjadi praktek pendidikan karakter publik, tergantung jenis kegiatan tutupan yang dipilihnya. Sepanjang  pengetahuan saya, fenomena tutupan ini merupakan tradisi yang memiliki dampak positif bagi perkembangan komunitas lokal. Eksistensinya semakin menarik untuk dijadikan bahan kajian pengembangan budaya lokal yang dapat diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. WAllahu a’lam bi sh-shawab.

Antropologi Agama: Dinamika Universalitas Islam dan Budaya Lokal dalam Masyarakat Desa Linggoasri

Penulis: M. Irham Amaluddin, Editor: Lulu Salsabilah, Amarul Hakim

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal. Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian, pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam. Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad secara garis besar berbudaya Arab, sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun. Dalam budaya masyarakat secara turun- temurun dapat dipegang teguh dari generasi ke generasi dan meliputi segala aspek kehidupan yang mengakibatkan seluruh perilaku individu sangat dibatasi oleh budaya itu tersebut.

Adat dipandang sebagai karya leluhur, yang senantiasa dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat sebagai warisan. Sehingga adat istiadat yang berhadapan dengan ajaran agama, akan terjadi saling mempengaruhi satu sama lain. Maka, tidak mengherankan jika keduanya bersentuhan dan saling mencoba mencari pengaruh dan kewenangan. Akibatnya, ada ajaran agama yang dikurangi atau ditambah, selain itu juga dapat dihilangkan sama sekali dari ajaran yang semestinya. Hal ini biasa disebut sebagai  ilmu antropologi dengan istilah akulturasi, secara teoretis akulturasi merupakan proses percampuran dua kebudayaan atau lebih, saling bertemu dan saling mempengaruhi. 

Kebudayaan yang kuat dan menonjol dapat mempengaruhi kebudayaan yang lemah dan belum berkembang, dan akulturasi dapat terjadi apabila terdapat kesetaraan relatif antara kedua kebudayaan tersebut. Namun, akulturasi tidak selalu merupakan dampak dari budaya yang kuat terhadap budaya yang lebih lemah. Hal ini bergantung pada sifat interaksi antara dua budaya, yaitu sejauh mana anggota masyarakat dapat memaksa anggota masyarakat lain untuk berintegrasi secara budaya. Ketika sekelompok orang dari satu budaya dihadapkan pada aspek-aspek budaya asing, mereka secara bertahap menyerap karakteristik tersebut ke dalam budaya mereka sendiri tanpa kehilangan identitas budaya mereka sendiri. Proses ini dikenal dengan istilah akulturasi.

Adat menghormati dan mendukung satu sama lain pada perayaan hari raya seperti hari raya Hindu Nyepi dan Melasti, serta perayaan umat Islam tanggal 10 Muharram merupakan salah satu adat istiadat yang dilaksanakan di Desa Linggoasri. Selain itu, meski berbeda keyakinan agama, masyarakat Desa Linggoasri akan saling mendukung dalam acara pernikahan masyarakat itu sendiri. dan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya lokal adalah nilai-nilai yang dipupuk oleh masyarakat di suatu daerah dan terbentuk  secara alamiah dari waktu ke waktu melalui pembelajaran. Budaya lokal juga dapat berubah seni, adat istiadat, tradisi, dan hukum adat semuanya dapat berkontribusi pada pembentukan budaya suatu masyarakat.

Strategi dan Media Dakwah di Era Digital

Penulis: Wieldan Sigit Diarto, Editor: Windi Tia Utami

Era digital menjadi era dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang cepat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek  kehidupan manusia, termasuk dalam konteks dakwah. Dakwah  yang merupakan kegiatan menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat turut berkembang sesuai kemajuan zaman. Bukti konkret perkembangan di era digital ini adalah dakwah tidak hanya dilakukan secara langsung namun merambah dilakukan melalui media digital. Namun niscaya era digital juga memberikan tantangan dakwah baru menjadi semakin kompleks dan dinamis. Masyarakat mudah terpapar oleh berbagai informasi dan pengaruh yang datang dari berbagai sumber, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, para da’i harus mampu beradaptasi dan memperkaya inovasi untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan Islam secara lebih komprehensif namun tetap sesuai dengan Al-Qur’an dan ajarannya.

Media digital merupakan media yang menggunakan teknologi digital untuk menyimpan, memproses, dan menyebarluaskan informasi. Media digital meliputi media sosial, blog, situs web, podcast, video, dan sebagainya. Media digital memiliki beberapa kelebihan, antara lain: (i) Dapat menjangkau audiens yang luas dan beragam; (ii) Dapat menyampaikan informasi dengan cepat, mudah, dan murah; (iii) Dapat menyajikan informasi dengan berbagai format, seperti teks, gambar, suara, dan video; (iv) Dapat memfasilitasi interaksi dan partisipasi dari audiens, seperti memberi komentar, menyukai, berbagi, dan sebagainya.

Namun, media digital juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: (i) Dapat menimbulkan informasi yang salah, menyesatkan, atau hoax; (ii) Dapat menimbulkan konflik, perpecahan, atau fitnah di antara umat Islam atau antara Islam dan agama lain; (iii) Dapat menimbulkan ketergantungan, kecanduan, atau penyalahgunaan media digital yang berdampak negatif bagi kesehatan, moral, dan spiritual. Oleh karena itu, para da’i harus memiliki strategi yang tepat dalam berdakwah di era digital. Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat digunakan:

Pertama membangun personal branding sebagai seorang da’i di era digital. Personal branding adalah citra atau reputasi yang dibangun oleh seseorang melalui media digital. Seorang da’i harus mampu menunjukkan identitas, kredibilitas, dan kompetensinya sebagai seorang da’i yang profesional, berilmu, dan berakhlak. Seorang da’i juga harus mampu menarik dan kepercayaan dari audiens dengan cara yang halal dan syar’I agar mudah menyebarkan virus kebaikan.

Kedua memilih media digital yang sesuai dengan tujuan, sasaran, dan konten dakwah. Seorang da’i harus mengetahui karakteristik, kelebihan, dan kelemahan dari berbagai media digital yang ada. Seorang da’i harus memilih media digital yang paling efektif dan efisien untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada audiens yang diinginkan. Seorang da’i juga harus menyesuaikan konten dakwah dengan format dan gaya media digital yang dipilih.

Ketiga membuat konten dakwah yang bermanfaat, menarik, dan relevan. Seorang da’i harus memproduksi konten-konten dakwah yang dapat memberikan manfaat bagi audiens, baik dari segi ilmu, hikmah, maupun motivasi. Seorang da’i juga harus membuat konten-konten dakwah yang dapat menarik perhatian dan minat audiens, baik dari segi judul, gambar, suara, maupun video. Seorang da’i juga harus membuat konten-konten dakwah yang relevan dengan situasi, kondisi, dan isu-isu terkini yang sedang berkembang di masyarakat.

Keempat menjaga interaksi dan keterlibatan dengan audiens. Seorang da’i harus mampu berkomunikasi dengan audiens secara dua arah, yaitu tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendengarkan, merespon, dan mengapresiasi audiens. Seorang da’i harus mampu menjawab pertanyaan, klarifikasi, atau kritik yang datang dari audiens dengan cara yang santun, bijak, dan beradab. Seorang da’i juga harus mampu mengajak audiens untuk berpartisipasi dalam aktivitas dakwah, seperti berdonasi, bergabung, atau beraksi.

Kelima mengukur kinerja dan dampak dakwah. Seorang da’i harus mampu mengevaluasi dan mengukur kinerja dan dampak dakwah yang dilakukan melalui media digital. Seorang da’i harus memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia di media digital, seperti jumlah pengunjung, pengikut, tayangan, suka, komentar, berbagi, dan sebagainya. Seorang da’i juga harus mengumpulkan feedback atau umpan balik dari audiens, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seorang da’i juga harus melakukan perbaikan dan peningkatan berdasarkan hasil evaluasi dan pengukuran tersebut.

Pendidikan Inklusif: Membuka Peluang Kesetaraan Gender Sejak Dini

Penulis: Zahwa Ananda Rizti, editor: Faiza Nadilah

Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Dalam kamus Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.” Women’s Studies menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep budaya yang berupaya membuat perbedaan dalam peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat. Kesetaraan gender sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak sejak dini, karena hal ini membentuk pola pikir dan perilaku mereka di masa depan.

Jika lingkungan anak-anak dipenuhi dengan stereotip gender, maka mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda dalam masyarakat. Sebagai contoh, stereotip yang menyatakan bahwa perempuan lemah dan laki-laki harus kuat dapat menghambat anak perempuan untuk mengekspresikan diri. Gender lebih menekankan aspek sosial, budaya, psikologis, dan non-biologis. Oleh karena itu, perbedaan gender pada dasarnya merupakan konstruksi yang dibentuk, disosialisasikan, dan diperkuat oleh aspek-aspek tersebut, hingga melahirkan ketidakseimbangan perlakuan jenis kelamin.

Nilai-nilai kesetaraan dalam Islam juga mencakup konsep keseimbangan, keadilan, menolak ketidakadilan, keselarasan, dan keutuhan bagi manusia. Saat ini, masalah gender menjadi isu yang sering dibahas dalam semua aspek kehidupan. Meskipun istilah gender tidak hanya berkaitan dengan perempuan, pembahasan faktual lebih sering menyoroti hak-hak perempuan.

Setiap anak memiliki keunikan dan dinamika tersendiri, terutama pada usia dini. Oleh karena itu, pendidikan gender harus mencakup upaya pemberian kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki. Pembongkaran stereotip terhadap perempuan yang diidentifikasi dengan kelemahan atau kedisiplinan harus menjadi langkah awal dalam proses pendidikan. Misalnya, guru dalam pendidikan nonformal juga perlu menghindari perilaku memilih-milih antara siswa laki-laki dan perempuan.

Orang tua juga memiliki peran penting dalam membentuk pandangan anak terkait gender. Mereka sering memberikan stimulasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin, seperti pengawasan ekstra ketat untuk anak perempuan dan mainan yang bersifat feminin. Untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara, perlu mengubah pola pikir masyarakat terhadap perspektif gender. Taman Pendidikan Al-Qur’an dapat berperan dengan memberikan kesempatan yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan untuk belajar dan berkembang.

Beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi melibatkan anak-anak dalam kegiatan pengembangan keterampilan tanpa memandang jenis kelamin, memberikan penghargaan yang sama terhadap prestasi dan perilaku anak laki-laki dan perempuan, melibatkan anak-anak dalam kegiatan tanpa batasan gender, menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender, dan menentang diskriminasi gender di tempat pendidikan.

Islam juga mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah
SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa“.

Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari asal yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Allah SWT juga menciptakan mereka sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar saling mengenal dan menghormati. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT.

Islam dan Kehidupan Antar Umat Beragama di Linggoasri: Toleransi, Keterlekatan, dan Dampak Signifikan pada Kebudayaan

Penulis: Dzurrotun Nafisah Anjali, Editor: Faiza Nadilah

Islam datang ke-Nusantara sebagai agama yang universal, sempurna, lentur, elastis dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, sehingga memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Islam terus merambat ke semua penjuru bumi nusantara mengakibatkan bumi nusantara dianggap sebagai suatu negeri yang sangat kaya dengan budaya. Alasannya, secara ilmiah kehidupan agama dan budaya sedang memberi suatu ekspose tentang seluk beluk yang mendasar. Islam dikenal sebagai salah satu agama yang akomodatif terhadap tradisi lokal dan ikhtilāf ulama dalam memahami ajaran agamanya (Mubarok, 2008).

Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. kepada seluruh manusia dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sosial politik. Beliau membebaskan manusia dari kegelapan peradaban menuju cahaya keimanan. Islam merupakan konsep agama yang humanis, yaitu agama yang mementingkan manusia sebagai tujuan sentral dengan mendasarkan pada konsep “humanisme teosentris” dimana poros Islam adalah tauhidullah yang diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme teosentris nantinya akan ditransformasikan sebagai nilai yang dihayati dan dilaksanakan dalam konteks masyarakat budaya, dan dari sistem inilah muncul simbol-simbol yang terbentuk karena proses dialektika antara nilai agama dengan tata nilai budaya (Kuntowijoyo, 2008).

Konsep normatif agama mengenai budaya tidak hanya mencoba memahami, melukiskannya, dan mengakui keunikan-keunikannya tetapi agama mempunyai konsep tentang amr (perintah), dengan tanggung jawab. Sementara ilmu menjadikan budaya sebagai sasaran pemahaman, agama memandang budaya sebagai sasaran pembinaan. Masalah budaya bukanlah bagaimana kita memahami, tetapi bagaimana kita mengubah Di dalam keberagamaan masyarakat Muslim tidak bisa lepas dari tradisi lokal yang hidup dan berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat, dimana mereka hidup, berkomunikasi, dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang ada. Proses penyebaran agama Islam yang ada di Nusantara tidak pernah terlepas dari proses akulturasi budaya, sehingga ajaran agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan para wali dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Karena dalam ajaran agama Islam tidak ada istilah paksaan dalam beragama. Para penyebar agama Islam tidak pernah menyiarkan agama melalu kekerasan dan permusuhan, akan tetapi melalui kedamaian, adaptasi dengan budaya lokal sehingga lambat laun terbentuk kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan bentuk asli dari kebudayaan tersebut.

Penerapan hal tersebut bisa kita lihat di Desa Linggoasri yang masyarakatnya memiliki keragaman beragama, tidak hanya agama Islam saja yang diyakini sebagai kepercayaan masyarakat tetapi mereka juga menganut agama Hindu, Buddha, dan Katolik. Awal mula masuk beberapa agama di Linggoasri juga sama dengan masuknya agama di Nusantara. Terjadi akulturasi antara agama-agama yang ada di Linggoasri dengan kebudayaannya menjadi sebuah praktik keagamaan yang toleran dan memiliki keterlekatan dengan modal sosial, simbolik, kebudayaan, dan material masyarakatnya.

Agama tidak lain menjadi identik dengan tradisi atau sebuah ekspresi budaya yang meyakinkan seseorang terhadap sesuatu yang suci, dan tentang ungkapan keimanan terhadap yang kuasa. Jika hubungan agama dan tradisi ditempatkan sebagai wujud interpretasi sejarah dan kebudayaan, maka semua domain agama adalah kreatifitas manusia yang sifatnya sangat relatif. Artinya bahwa, kebenaran agama yang diyakini setiap orang sebagai yang “benar”, pada dasarnya hal itu sebatas yang bisa ditafsirkan dan diekspresikan oleh manusia yang relatif atas “kebenaran”, bahwa tuhan absolut. Dengan demikian apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan, memperbaharui atau memurnikan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai fenomena manusia atas sejarahnya, tanpa harus dilihat banwa yang satu berhak menegasikan “kebenaran” yang diklaim oleh orang lain, sambil menyatakan bahwa “kebenaran” yang dimilikinya sebagai yang “paling benar” (Abdurrahman, 2003).

Kehidupan masyarakat di Linggoasri jauh dari kata perselisihan antar umat beragama. Mereka hidup dengan rukun dan damai tanpa mengusik kepercayaan masing-masing. Sikap toleransi yang tinggi menjadi kunci utama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang sejahtera, tentram dan religius. Masyarakat disana menjalankan ibadah ajaran agama sesuai dengan kepercayaan yang dianut tanpa mengganggu kegiatan ibadah agama lain.

Pentingnya Hubungan Agama dan Budaya Lokal

Agama selalu dipandang sakral oleh para pemeluknya. Sebagai panutan hidup, setiap pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin untuk menyesuaikan diri sesuai dengan kadar pengetahuannya masing-masing demi mewujudkan ajaran agama tersebut dan tingkah laku sosialnya sehari-hari. Dalam keadaan seperti ini, maka agama kemudian menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku keagamaan, baik dalam format individu maupun kelompok. Oleh sebab itu, maka secara sosiologis dikenal adanya istilah, seperti: orang-orang yang beragama (penganut), umat beragama (komunitas), dan tokoh umat beragama (pemimpin) (Abdurrahman, 1980).

Semua hasil pemikiran manusia adalah budaya; proses berpikir adalah proses kebudayaan. Kalau keberagamaan seseorang merupakan sebuah keyakinan yang banyak diperankan oleh pikiran, maka sulit untuk disangkal ketika seseorang menentukan agama tertentu untuk di anut tidak dapat terlepas dari aspek kebudayaan. Antara agama dan budaya keduanya sama-sama melekat pada diri seorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal pikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan dan bahkan berintraksi dengan kebudayaan.

Kebudayaan sangat berperan penting dalam pembentukan sebuah peraktik keagamaan bagi seseorang atau masyarakat. Tidak hanya melahirkan bermacam- macam agama, kebudayaan inilah yang juga mempunyai andil besar bagi terbentuknya aneka ragam praktik beragama dalam satu payung agama yang sama. Oleh karena itu kita sebagai pemeluk agama harus akomodatif terhadap budaya yang berlaku di masyarakat.

Menyikapi Tantangan Kesehatan Mental: Perspektif Al-Qur’an dan Realitas Sosial

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Windi Tia Utami

Isu Kesehatan mental tengah menjadi pembicaraan hangat di media pemberitaan. Kesehatan mental seseorang kadang kala menjadi problematika baru yang muncul karena banyaknya problematika kehidupan. Tak hanya menyerang orang dewasa, semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan lansia baik laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama untuk terganggu kesehatan mentalnya.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), peninjau kesehatan mental nasional pertama di Indonesia, mencatat bahwasanya terdapat banyak kejadian gangguan mental pada remaja usia 10 – 17 tahun. I-NAMHS menyatakan ada satu dari tiga remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 1 tahun terakhir. Faktor yang memicu terganggunya Kesehatan mental dapat berupa banyak hal, seperti tekanan keluarga, pendidikan, lingkungan, bahkan ekonomi. Sehingga tak heran, belakangan ini banyak kasus bunuh diri dengan alasan gangguan kesehatan mental yang kian merajalela.

Sejatinya dalam kehidupan, manusia akan selalu mendapatkan sebuah cobaan berupa masalah. Masalah itu Allah Swt. Turunkan sebagai ajang pembelajaran sekaligus pengingat bahwasanya manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan untuk menjalankan kehidupannya. Namun, dewasa ini justru masalah dijadikan sebagai alasan untuk menyerah, banyak manusia yang mengaku terbebani dan akhirnya mengakhiri hidup ketika ditimpa masalah. Padahal Allah Swt. telah jelas berfirman pada surat Asy-Syarh (94): 5-6 yang artinya ’’Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya besertakesulitan itu ada kemudahan’’. Ayat ini memberi semangat agar setiap manusia selalu ikhlas dan percaya bahwa bahwa kesulitan, kesengsaraan, kemalangan, dan kesakitan adalah pintu untuk memasuki jalan kebenaran, kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian. Diharapkan seorang manusia dapat mengetahui dan memahami hakikat dari setiap tantangan dan kesulitan. Sehingga, ia memiliki semangat agar selalu mencari celah supaya dapat memetik hikmah dari tantangan, dan kesulitan yang menimpa.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah dikenal dengan istilah problem solving yang kualitasnya dipegaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah Adversity Quotient. Faktor yang memengaruhi seseorang dalam problem solving  tidak hanya kercerdasan intelektual dan emosional saja. Dengan Adversity Quotient kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena faktor ini merupakan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Psikologi Barat dalam situasi pengendalian diri dikenal dengan istilah selfcontrol atau kontrol diri, sehingga factor terpenting Ketika menghadapi masalah adalah mengontrol diri sendiri agar tidak berbuat diluar kendali dan agar tetap berpikir jernih.

Al Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan penjelasan juga didalamnya banyak ayat-ayat yang bersangkutan dengan kesehatan mental dengan berbagai istilah yang digunakannya sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh setiap manusia

Dalam Q.S. ali-Imran (3): 186, Allah menegaskan bahwa manusia sugguh diuji dengan harta dan diri/jiwa. Dalam ayat ini diperintahkan juga agar bersabar dalam sesuatu yang mereka katakan. Dalam Q.S. Muhammad (47): 31, Allah juga menegaskan tujuan ujian yang diberikan Allah, yaitu bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menguji manusia agar bisa diketahui mana orang-orang yang berjihad dan bersabar. Bahkan Allah mengatakan bahwa apakah manusia mengira masuk surga sebelum diketahui mana manusia yang bersungguh-sungguh dan bersabar al-Qur’ān Tentang Kesehatan Mental Al-Qur’ān sebagai sumber ajaran Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia diturunkan oleh Allah Swt.

Sebagai kitab suci yang berisi petunjuk, Al-Qur’an mengemukakan ada penyakit mental yang disebabkan oleh seseorang jauh dari Al-Qur’ān diantaranya sebagai berikut : (i) Riya’ adalah bertingkah laku karena tujuan ingin dipuji atau dapat perhatian orang lain; (ii) asad dan dengki atau iri hati; (iii) Rakus (berlebih-lebihan dalam makan); (iv) Waswas merupakan bisikan hati, akan nafsu dan kelezatan; (v) Ingkar janji; (vi) Membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), dan lain sebagainya.

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk tentang permasalahan manusia beserta dengan solusinya sekaligus, tugas manusia adalah tetap menghamba dan berpegang teguh pada jalan Allah Swt. niscaya Ketika manusia dapat mencerna penjelasan Allah Swt. dalam Al-Qur’an tidak akan ada lagi permasalahan tentang Kesehatan mental hanya karena tertimpa musibah.

Tips & trik Bermedia (Tangkal Berita Hoax)

Seiring berkembangnya zaman dan kemudahan akses informasi yang menyertainya banyak pula berita-berita bohong atau hoax yang bertebaran di berbagai media. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) pada tahun 2019 berita hoax berbentuk tulisan sebanyak 79,7%, foto editan sebanyak 57,8%, foto dengan caption atau keterangan palsu sebanyak 66,3%, video editan sebanyak 45,70%, video dengan narasi palsu sebanyak 53,2% dan berita/foto/video lama di-posting kembali sebanyak 69,20 %.

Jumlah yang ditunjukkan cukup banyak dan tentunya memberikan dampak buruk bagi masyarakat yang terpapar banyak berita hoax. Oleh karena itu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media menjadi menurun, dan membuat resah terhadap maraknya pemberitaan hoax tersebut. Sadar akan hal itu, sebagai generasi muda kita harus bisa cermat dalam bermedia sekaligus membantu menghentikan penyebaran berita atau informasi palsu. Berikut tim Hijratunaa merangkumnya dalam lima langkah cerdas bermedia dalam menangkal berita hoax:

  1. Perhatikan Judul Informasi

Beberapa oknum kerap kali sengaja memakai judul yang sensasional atau menjebak agar banyak masyarakat yang tertarik membacanya. Berita bohong kerap kali menggunakan judul yang mengejutkan atau memancing pembaca, tak jarang isi berita dengan judulnya berbeda. Bahkan tak segan-segan oknum penyebar berita hoax menggunakan judul yang provokatif.

  1. Lihat Sumber Informasi

Hal yang paling utama dan penting untuk kita perhatikan adalah dengan mengecek dari mana sumber informasi berasal. Kita harus bisa memilih dan memilah mana media yang kompeten dan terpercaya. Apabila mendapat informasi dari situs-situs atau media yang belum terpecaya, maka perlu mengecek kebenarannya di media atau situs resmi.

  1. Periksa Foto dan Video

Seringkali berita hoax menggunakan foto atau video dengan tingkat editing di luar batas, demi meyakinkan masyarakat akan berita yang disampaikan. Namun kita tidak perlu khawatir untuk mencari fakta dari foto atau video tersebut, kini kita bisa mengecek keasliannya melalui teknologi fitur dari google images salah satunya. Kita bisa mengeceknya melalui tautan images.google.com.

  1. Waspada forward Massage/ Pesan Diteruskan

Hal yang paling sering ditemukan dari berita hoax adalah adanya pesan yang diteruskan berkali-kali atau forward Massage. Oknum penyebar berita hoax akan menyebarkan ke banyak orang melalui cara ini dengan meminta orang-orang menyebarkan ulang informasi tersebut. Dalihnya, meminta agar informasi tersebut disebarkan secara segera bahkan tak segan memberikan ancaman atau iming-iming hadiah. Jika kalian mendapatkan pesan seperti itu, segera hapus dan abaikan.

  1. Laporkan ke KOMINFO jika menemukan Berita Hoax

Langkah terakhir, apabila menemukan berita hoax hendaknya segera melaporkan konten tersebut ke Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) agar berita hoax bisa segera ditindak tegas. Kita bisa melaporkannya dengan cara screen capture disertai dengan url link tautan berita tersebut lalu mengirim filnya ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Tak usah khawatir Anda terancam, karena kerahasiaan pelapor akan dijamin

Budaya Patriarki vs Kesetaraan Gender Dalam Islam

Oleh : Khanifah Auliana

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia masih menjadi perbincangan yang sering diperdebatkan. Kemajuan teknologi dan modernisasi menjadi hal yang berpengaruh pada perubahan lingkungan hidup. Pola pikir masyarakat juga ikut berdampak dari adanya globalisasi tersebut. Budaya dan tradisi masyarakat yang dulu masih melekat tampaknya kembali di ulas untuk menyesuaikan ketimpangan yang ada. Salah satu budaya yang masih saja melekat di masyarakat yang perlu diubah yaitu patriarki. Budaya Patriarki dulunya kental dengan sistem kerajaan dimana pemimpin kerajaan harus di dominasi oleh laki-laki. Bahkan dulu banyak raja yang akhirnya memiliki banyak anak hanya karena supaya kerajaan yang dipimpin ada pewaris laki-lakinya.

Budaya Patriarki sangat condong menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan padahal di era sekarang justru laki-laki dan perempuan harus memiliki keseimbangan karena saling melengkapi. Oleh karena itu, banyak dari kaum perempuan tak setuju dengan ada budaya Patriarki di era sekarang ini karena secara tidak langsung merendahkan posisi perempuan. Sebenarnya seorang pemimpin tidak hanya ditujukan untuk laki-laki saja namun bisa perempuan. Selain itu adanya patriarki menjadikan seorang laki-laki meremehkan segala yang ada di perempuan. Banyak dari mereka hanya memandang perempuan sebelah mata hanya karena dianggap lemah. Sejatinya Allah telah menciptakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna dan melengkapi satu sama lain. Bahkan dalam Al-Qur’an terlah disebutkan peranan manusia yang berbeda-beda namun tetap sama.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”

Oleh karena itu, kita harusnya saling menjunjung tinggi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Menghormati dan melaksanakan peran dari masing-masing tanpa memandang perbedaan. Peran perempuan dan laki-laki sangatlah penting untuk kemajuan suatu bangsa dan kemaslahatan umat. Tidak ada yang mendominasi karena sejatinya baik perempuan maupun laki-laki harus saling kerjasama.

 

Empat Penemuan yang Merubah Peradaban

Oleh: Intan Anggreaeni Safitri

Tepat pada 9 November nanti kita akan memperingati hari penemuan sedunia, peringatan ini dibuat guna menghormati jasa jasa para ilmuan atas pemenuannya yang mengubah wajah dunia. Sebelum secanggih dan sepintar sekarang dulunya dunia hanya lah tempat kehidupan manusia biasa tanya adanya sentuhan tekonologi. Lewat kepintarannya para ilmuan di dunia menciptakan berbagai macam trobosan baru sehingga membuat peradaban menjadi lebih mudah seperti sekarang ini. Ada beberapa penemuan yang dapat dikatakan sangat berpengaruh antara lain:

Pertama penemuan internet, internet pertama kali ditemukan usai Advance Research Project Agency (APRA) yang membuat rangkaian pusat pada tahun 1969. Ide tersebut tercetus ketika peneliti merasa tidak resah karena tidak dapat bekerja di lokasi yang sama. Kemudia mereka membuat sebuah rangkaian yang diberikan nama ARPANET yang berbentuk seperti kabel telepon melalui jaringan tersebut peneliti dapat berkomunikasi datu sama lain. Jaringan tersebut tiap tahunnya mengalami perkembangan hingga pada tahun 1989 ARPANET sudah memiliki 100.000 server dan semenjak saat itu mulailah dikembangan HTTP agar internet dapat digunakan oleh banyak orang.

Kedua penemuan Komputer, penemu komputer adalah seorang matematikawan yang bernama Charles Baggage ditahun 1822. Mesin tersebut diberikan nama “different engeine 0” meskipun pada awalnya Charles hendak membuat mesin uap untuk menghitung angka namun mesin tersebut termasuk kedalam jenis komputer lantaran memiliki prinsip kerja yang sama dengan komputer modern yang mampu melakukan perhitungan angka. Dan kemudian dikembangkan lagi oleh Alan Turing yang berusaha menambahkan sekumpulan perintah di dalamnya. Namun orang yang berhasil mengembangkan komputer hingga seperti saat ini adalah Jhon Mauchly dengan karyanya yang diberi nama Electronic Numerical Integrator and Calculator.

Ketiga penemuan pesawat, setelah penemuan glider oleh Otto Lilienthal yang dapat membuat manusia terbang sesaat diudara kemudian wright bersaudara sukses menemukan pesawat terbang. Mereka melakukan eksperimen dengan menggunakan layang layang dan design glider. Pesawat buatan mereka sukses terbang dengan jangka waktu selama 12 detik dengan ketinggian 36,5 meter diatas permukaan.

Keempat penemuan vaksinasi, tepatnya pada abad ke-18 ada wabah cacar sapi yang telah menjadi bencana global. Namun ada suatu desa yang mana para memerah sapi tersebut kebal akan wabah ini, sehingga hal tersebut menarik perhatian dari seorang peneliti yakni Edward  Jenner. Kemudian setelahnya ia melakukan eksperimen sederhana dengan cara mengambil lesi cacar pada seorang pemerah sapi dan kemudian menyuntikannya pada seorang anak. Percobaannya pun berhasil dan sang anak tersebut perlahan lahan kondisinya mulai membaik.

Pengaruh Fatherless bagi Pertumbuhan Anak di Lingkungan Keluarga

Oleh : Khanifah Auliana

Kelurga menjadi tempat yang paling dibutuhkan ketika semua anggotanya berupa Ayah, Ibu dan anak saling melengkapi satu sama lain. Anggota keluarga juga berperan penting untuk selalu bekerjasama dalam hal apapun entah itu di rumah atau hal-hal kedepan yang sudah di rencanakan. Semua anggota keluarga punya peran yang penting dari sisi masing-masing, terutama peran dari pemimpin keluarga atau kepala keluarga yaitu ayah. Bukan hanya sosok ibu yang memiliki pengaruh besar di keluarga namun sosok Ayah sama halnya seperti ibu.

 Keduanya penting untuk membina rumah tangga bersama anak-anak yang bertumbuh kembang seiring berjalannya waktu. Namun kadangkala tak semua anak memiliki kesempatan untuk memiliki keluarga yang lengkap. Ada keluarga yang hanya memiliki ibu dan anak saja yang tinggal bersama atau sebaliknya. Anak-anak yang belum memiliki kesempatan memiliki keluarga lengkap biasanya memiliki dampak pada kehidupannya.

Salah satu fenomena yang jarang kita dengar saat ini terkait anak-anak yang tumbuh besar tanpa peran ayah yaitu Fatherless. Kata Fatherless mungkin masih asing di telinga sebagian orang dan belum tahu mengenai fenomena tersebut. Namun jika ditelisik dari kata Father jika diterjemahkan adalah ayah sedangkan less bisa diartikan ketidakhadiran atau kurang. Fatherless bisa dimaknai sebagai ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan seorang anak bisa dari ia baru lahir bahkan sampai ia sudah beranjak dewasa. Ketiadaan atau ketidakhadiran soso ayah memiliki pengaruh yang bisa membuat seorang anak akan berfikir beda terhadap lingkungan sekitarnya.

Pengaruh Fatherless bisa membuat anak akan berjuang dan belajar memahami kehidupan mandiri sejak dini. Namun ada sisi lain yang tidak terisi, jika anak-anak lain akan di dukung dan kasih sayang penuh oleh ayahnya. Seorang anak Fatherless tidak bisa merasakan itu sehingga mungkin hal tersebut akan berpengaruh dari cara pandangnya tapi bisa juga tidak tergantung jika anak tersebut memang dalam ruang lingkup keluarga yang saling menyayangi meski tanpa sosok ayah. Oleh karena itu, Fatherless sebenarnya bisa berpengaruh baik dan tidak, disini peran keluarga harus saling melengkapi entah itu ibu, saudara dan anggota lainnya.

Lingkungan positif juga bisa jadi point’ penting bagi anak-anak yang kehilangan sosok ayah, peran lingkungan yang mendukung dan tanpa memojokkan. Jangan anggap remeh hal ini, sebab tidak semua anak menginginkan kondisi Fatherless. Meski tumbuh tanpa peran ayah, anak-anak tersebut masih punya hak untuk meraih mimpi mereka. Dukung dan berikan semangat, kalau Fatherless tidak memberikan pengaruh yang buruk atau penghalang untuk meraih masa depan kelak.