Membaca Ulang Gaya Mengajar Nabi: Saat Cinta Menjadi Inti Pendidikan

Penulis: Jainul Arifin*, Penyunting: Nafis Mahrusah

Dunia pendidikan kita saat ini sering kali terjebak dalam labirin administratif dan standarisasi mekanis yang dingin. Sekolah dan institusi formal kerap berubah menjadi pabrik yang memproduksi kecerdasan intelektual, namun kering akan sentuhan spiritual. Kita melihat anak-anak yang mahir menghafal rumus dan teori, tetapi kehilangan kepekaan nurani untuk memahami sesama. Di titik inilah, pendidikan seolah kehilangan “ruh” utamanya, yakni hubungan batin yang tulus antara pendidik dan peserta didik.

Di tengah kegersangan metode modern tersebut, narasi tentang gaya mengajar Nabi Muhammad SAW hadir bukan sekedar sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai oase pedagogis. Nabi tidak pernah memosisikan diri sebagai penguasa kelas yang menakutkan, melainkan sebagai sosok ayah spiritual yang penuh welas asih. Beliau membawa misi pendidikan yang melampaui batas-batas kognitif, sebuah metode yang kita sebut sebagai “Kurikulum Cinta”. Sebuah kurikulum yang tidak tertulis di atas kertas, namun terpatri kuat dalam setiap interaksi emosional.

Inti dari pendidikan Nabi adalah keyakinan bahwa ilmu tidak akan bisa meresap ke dalam hati jika pintu hati itu sendiri masih terkunci rapat. Cinta adalah kunci utama untuk membuka gembok tersebut. Rasulullah memahami betul bahwa rasa aman dan dihargai merupakan prasyarat mutlak bagi tumbuhnya kesadaran belajar. Tanpa kasih sayang, transformasi karakter hanyalah sebuah fatamorgana, murid mungkin akan patuh karena takut, namun mereka tidak akan pernah berubah karena cinta.

Membaca ulang gaya mengajar Nabi berarti kita sedang membongkar kembali struktur pendidikan yang selama ini bersifat instruksional menjadi dialogis-humanis. Beliau mengajarkan kita bahwa empati jauh lebih berdaya ledak daripada sanksi, dan keteladanan visual jauh lebih membekas daripada ribuan kata nasihat. Dalam setiap teguran yang lembut dan setiap pujian yang tulus, Nabi sedang menanamkan benih adab yang akan tumbuh menjadi pohon peradaban yang kokoh dan menaungi.

Artikel ini akan menyelami lebih dalam bagaimana “Kurikulum Cinta” tersebut diaktualisasikan dalam keseharian Nabi sebagai guru bagi umat manusia. Kita akan membedah empat pilar utama yang menjadikan kasih sayang sebagai poros pendidikan, mulai dari pergeseran paradigma tentang transfer pengetahuan, personalisasi metode belajar, hingga seni membimbing tanpa menghakimi. Mari kita telusuri kembali jalan sunyi pendidikan yang penuh cinta ini, demi melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga lembut hatinya.

Pedagogi Kasih Sayang: Melampaui Transfer Pengetahuan

Pendidikan dalam kacamata kenabian bukanlah sekedar proses mekanis untuk memindahkan tumpukan informasi dari otak guru ke catatan murid, melainkan sebuah dialektika rasa yang menghidupkan nalar. Pada titik ini, pedagogi kasih sayang berdiri sebagai antitesis terhadap model pendidikan formal yang sering kali hanya mengejar angka-angka mati dan standarisasi kaku. Rasulullah mengajarkan bahwa sebelum ilmu sanggup menerangi akal, ia harus terlebih dahulu memenangkan hati, sebab tanpa ikatan emosional yang tulus, transfer pengetahuan hanya akan menjadi beban kognitif yang melelahkan tanpa pernah bertransformasi menjadi kebijaksanaan hidup.

Dalam kerangka “Kurikulum Cinta”, relasi antara pendidik dan peserta didik tidaklah bersifat transaksional, di mana guru memberi materi dan murid memberi kepatuhan, melainkan sebuah perjumpaan dua jiwa yang saling bertaut. Mengajar, dalam tradisi Nabi, dipahami sebagai aktivitas soul to soul yang menempatkan aspek spiritual sebagai jembatan utama komunikasi. Ketika seorang guru menyentuh jiwa muridnya dengan ketulusan, ilmu yang disampaikan tidak lagi berhenti di daun telinga, melainkan meresap hingga ke kedalaman batin, menciptakan sebuah ikatan batiniah yang mengikat keduanya dalam frekuensi keberkahan yang sama.

Keberkahan ilmu dalam pendidikan Islam sangat bergantung pada pancaran ridho yang mengalir dari hati seorang guru. Ridho ini bukanlah sesuatu yang otomatis muncul karena kewajiban profesional, melainkan buah dari kasih sayang yang mendalam yang dirasakan pendidik terhadap pertumbuhan karakter muridnya. Rasulullah mencontohkan bahwa doa dan harapan baik seorang guru bagi muridnya adalah elemen “kurikulum tersembunyi” yang jauh lebih ampuh daripada ribuan lembar modul ajar. Di sini, transfer pengetahuan menjadi proses yang sakral, di mana kerelaan hati guru menjadi katalisator bagi cahaya ilmu untuk benar-benar menetap dan menerangi kehidupan sang murid.

Lebih jauh lagi, koneksi jiwa ini menjadi pembeda antara informasi yang sekedar diketahui (knowing) dengan ilmu yang mewujud dalam perilaku (being). Saat seorang murid merasa jiwanya dipeluk dengan rasa hormat dan cinta oleh gurunya, ia tidak lagi merasa tertekan oleh beban pelajaran, melainkan merasa terpanggil untuk memuliakan ilmu tersebut sebagai bentuk penghormatan balik. Pedagogi Nabi membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak teori yang dihafal, melainkan dari seberapa besar transformasi jiwa yang terjadi berkat sentuhan kasih sayang yang mengalir tanpa henti dari seorang pendidik yang bervisi langit.

Koneksi jiwa yang telah terbangun kemudian mewujud dalam sebuah atmosfer belajar yang menenangkan, yang dalam pendidikan modern sering disebut sebagai zona aman psikologis. Dalam asuhan “Kurikulum Cinta”, seorang guru berperan sebagai pelindung yang menghalau segala bentuk intimidasi intelektual maupun emosional. Rasulullah memastikan bahwa setiap individu yang duduk di hadapan beliau merasa diterima tanpa syarat, sehingga kecemasan akan kegagalan atau rasa takut akan penghakiman sirna seketika. Ruang aman inilah yang menjadi prakondisi mutlak agar potensi terbaik manusia dapat mekar tanpa tekanan.

Secara fisiologis, hilangnya kecemasan (anxiety) pada murid memiliki dampak langsung terhadap efektivitas kerja otak dalam menyerap informasi. Ketika rasa cinta dan keamanan dihadirkan oleh sang pendidik, sistem limbik dalam otak murid tidak lagi berada dalam mode bertahan hidup (fight or flight), melainkan beralih ke mode eksplorasi yang terbuka. Dengan hilangnya beban emosional yang menekan, korteks prefrontal dapat berfungsi secara optimal untuk melakukan penalaran tingkat tinggi dan pemecahan masalah. Dalam metode Nabi, kelembutan bukan sekedar etika, melainkan strategi kognitif untuk memastikan pintu masuk ilmu di dalam otak terbuka lebar tanpa hambatan rasa takut.

Oleh karena itu, menghadirkan rasa cinta di dalam kelas adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan tembok-tembok mental yang sering kali membuat murid merasa bodoh atau tidak berdaya. Saat seorang guru mampu mengomunikasikan empati melalui tatapan mata yang hangat dan nada suara yang suportif, ia sebenarnya sedang menurunkan tingkat kortisol dalam darah muridnya dan menggantinya dengan hormon oksitosin yang menumbuhkan rasa percaya. Optimalisasi belajar dalam tradisi Nabi terjadi bukan karena murid dipaksa untuk cerdas, melainkan karena mereka merasa dicintai sedemikian rupa sehingga kecerdasan itu muncul secara alamiah dari rasa percaya diri yang utuh.

Penyediaan ruang aman psikologis tersebut pada akhirnya membawa kita pada sebuah refleksi kritis terhadap wajah pendidikan modern yang kian kehilangan jati diri. Saat ini, institusi pendidikan sering kali terjebak dalam pusaran formalisme yang dangkal, di mana kesuksesan seorang murid hanya diukur melalui deretan angka di atas kertas raport atau statistik kelulusan yang kaku. Pendidikan telah bergeser menjadi proses administratif yang mekanis, yang lebih sibuk mengejar standarisasi nilai daripada memastikan apakah nilai-nilai kebaikan telah benar-benar terinternalisasi dalam sanubari peserta didik.

Erosi makna ini menciptakan jurang pemisah antara kecerdasan intelektual dan kematangan karakter. Ketika target utama pendidikan hanyalah pemenuhan skor, maka proses belajar sering kali berubah menjadi beban yang menyesakkan, memicu kecurangan, dan mengikis integritas. Kita sedang menyaksikan lahirnya generasi yang mungkin ahli dalam menjawab soal-soal ujian, namun gagap dalam menghadapi realitas kemanusiaan. Dalam kondisi ini, formalisme pendidikan justru menjadi penghalang bagi tumbuh kembangnya kebijaksanaan, karena fokusnya hanya berada pada permukaan kognitif, bukan pada kedalaman nurani.

Sebagai antitesis, model pendidikan Nabi menawarkan sebuah paradigma yang jauh lebih sublim, yakni pemahaman yang menghujam ke dalam hati (al-fahm al-qalb). Rasulullah tidak pernah melihat murid-muridnya sebagai objek statistik, melainkan sebagai subjek yang sedang meniti jalan menuju pencerahan. Di bawah bimbingan beliau, ilmu tidak dinilai dari seberapa cepat ia dihafal, melainkan seberapa kuat ia mengubah perilaku dan cara pandang seseorang. Kurikulum cinta menekankan bahwa pemahaman sejati baru tercapai ketika sebuah pengetahuan telah melahirkan rasa takut kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama makhluk.

Oleh karena itu, mengadopsi kembali metode pengajaran Nabi berarti melakukan dekonstruksi terhadap pemujaan berlebih pada angka dan ijazah. Kita perlu mengembalikan marwah pendidikan sebagai sarana “memanusiakan manusia”, di mana keberhasilan seorang guru diukur dari binar mata murid yang mulai memahami makna tanggung jawab, bukan sekedar dari tingginya rerata nilai ujian. Dengan mengedepankan pemahaman yang menghujam ke hati, kita sedang membangun peradaban yang berlandaskan kesadaran moral, sebuah fondasi yang jauh lebih kokoh daripada sekedar tumpukan sertifikat yang hampa makna.

Personalisasi dan Empati dalam Interaksi Edukatif

Setelah fondasi kasih sayang tertanam kuat, langkah strategis berikutnya dalam pendidikan Nabi adalah menghargai keunikan setiap individu melalui pendekatan yang personal dan empatik. Dalam “Kurikulum Cinta”, seorang pendidik tidak memandang kelas sebagai massa yang homogen, melainkan sebagai taman yang dipenuhi beragam jenis bunga yang masing-masing membutuhkan dosis air dan cahaya yang berbeda untuk mekar. Rasulullah menunjukkan bahwa efektivitas pengajaran sangat ditentukan oleh kemampuan guru untuk menyelami dunia batin muridnya, merasakan keresahan mereka, dan menyesuaikan frekuensi komunikasi agar selaras dengan kapasitas intelektual serta kematangan emosional setiap personal.

Kemampuan untuk mendiagnosis kebutuhan internal murid merupakan manifestasi tertinggi dari kecerdasan pedagogis yang dipraktikkan oleh Rasulullah. Sebelum sebuah nasihat dilontarkan atau sebuah hukum diajarkan, beliau melakukan observasi mendalam terhadap kondisi mental dan kecenderungan alami yang dimiliki oleh para sahabatnya. Beliau bertindak layaknya seorang tabib ruhani yang tidak memberikan resep obat yang sama untuk penyakit yang berbeda, sebaliknya, beliau memahami bahwa setiap jiwa memiliki “pintu masuk” yang unik agar hidayah dan ilmu dapat diterima dengan lapang tanpa ada rasa terpaksa.

Dalam banyak riwayat, kita melihat bagaimana Nabi Muhammad memberikan jawaban yang kontras atas pertanyaan yang identik, semata-mata karena beliau membaca adanya perbedaan kebutuhan pada sang penanya. Kepada seorang pemuda yang penuh semangat, beliau mungkin menekankan pentingnya bakti kepada orang tua sebagai bentuk jihad, sementara kepada individu lain, beliau mungkin menekankan pada pengendalian amarah atau konsistensi dalam ibadah sunnah. Inilah bentuk diagnosa kebutuhan yang akurat, di mana pendidikan diarahkan untuk menambal kelemahan karakter sekaligus melejitkan potensi unik yang sudah tertanam dalam diri masing-masing individu.

Prinsip diagnosa ini menegaskan bahwa dalam “Kurikulum Cinta”, tidak ada istilah murid yang gagal, yang ada hanyalah metode yang belum tepat sasaran. Dengan mengenali bakat unik, apakah itu bakat kepemimpinan, ketajaman analisis hukum, atau kelembutan dalam berdakwah, Nabi berhasil menempatkan setiap sahabat pada posisi yang paling memungkinkan bagi mereka untuk berkontribusi maksimal. Pendekatan ini mengajarkan para pendidik modern bahwa mengenali profil psikologis murid bukanlah beban administratif, melainkan kunci utama untuk membuka potensi jenius yang sering kali tersembunyi di balik lapisan ketidakpercayaan diri atau hambatan emosional.

Ketajaman diagnosa terhadap kebutuhan murid tersebut kemudian diterjemahkan secara visual dan auditif melalui bahasa kasih yang sangat adaptif. Rasulullah bukanlah orator yang hanya berbicara searah dari mimbar yang tinggi, melainkan seorang komunikator ulung yang mampu menyesuaikan frekuensi bicaranya dengan realitas sosial lawan bicaranya. Beliau memahami bahwa diksi yang digunakan saat berbicara dengan seorang intelektual perkotaan akan sangat berbeda ketika beliau berdialog dengan seorang Badui dari pelosok gurun. Adaptabilitas ini memastikan bahwa pesan-pesan langit tidak terasa asing atau mengintimidasi, melainkan terasa akrab dan menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar.

Nada suara dan gestur tubuh Nabi dalam mengajar menjadi instrumen penting yang memberikan “nyawa” pada setiap kata yang terucap. Beliau tahu kapan harus berbicara dengan nada yang tegas untuk membangun kedisiplinan, dan kapan harus merendahkan suara dalam bisikan yang penuh kelembutan untuk memulihkan hati yang sedang terluka. Gestur tubuh beliau, mulai dari senyum yang tulus hingga cara beliau memalingkan seluruh badan saat berbicara dengan seseorang, menunjukkan penghormatan total terhadap keberadaan sang murid. Komunikasi non-verbal ini menjadi bukti nyata bahwa bagi Nabi, mengajar adalah sebuah bentuk pelayanan yang membutuhkan keselarasan antara pikiran, ucapan, dan bahasa tubuh.

Relevansi bahasa yang adaptif ini menjadi kritik tajam bagi dunia pendidikan kita yang sering kali terjebak dalam jargon-jargon rumit yang menjauhkan ilmu dari realitas kehidupan. Dalam metode Nabi, bahasa kasih yang adaptif berfungsi sebagai jembatan yang meruntuhkan sekat-sekat kelas sosial dan latar belakang pendidikan. Dengan menggunakan metafora yang dekat dengan keseharian murid serta menunjukkan empati melalui kehadiran fisik yang hangat, pesan pendidikan tidak lagi menjadi abstraksi yang sulit digapai. Sebaliknya, ilmu pengetahuan menjadi konsumsi ruhani yang lezat karena disajikan dengan “bahasa hati” yang dapat dimengerti oleh setiap lapisan manusia tanpa terkecuali.

Fleksibilitas dalam berkomunikasi tersebut pada akhirnya bermuara pada satu sikap fundamental, penghargaan yang tulus terhadap setiap jengkal proses pertumbuhan murid. Dalam paradigma “Kurikulum Cinta”, keberhasilan pendidikan tidak lagi dipandang sebagai garis finis yang hanya boleh dinikmati oleh mereka yang mencapai kesempurnaan. Rasulullah mengajarkan bahwa setiap usaha untuk memperbaiki diri, sekecil apa pun langkahnya, merupakan sebuah kemenangan moral yang patut diapresiasi. Pandangan ini menggeser fokus pendidikan dari sekedar pencapaian hasil akhir yang kaku menuju penghormatan terhadap dialektika perjuangan manusia dalam menuntut ilmu.

Nabi Muhammad SAW sering kali memberikan apresiasi yang mendalam terhadap niat baik dan usaha keras, meskipun secara teknis hasilnya belum sempurna. Beliau memahami bahwa bagi seorang pemula, satu langkah menuju kebaikan bisa jadi lebih berat daripada seribu langkah bagi mereka yang sudah berpengalaman. Dengan merayakan kemajuan-kemajuan kecil, Nabi sedang membangun rasa percaya diri di dalam jiwa para sahabatnya. Apresiasi ini menjadi bahan bakar emosional yang memastikan murid tidak merasa putus asa saat menghadapi kegagalan, karena mereka tahu bahwa yang dinilai oleh sang guru bukan hanya ketepatan jawaban, melainkan kesungguhan dalam berproses.

Pendekatan ini menjadi antitesis yang kuat terhadap budaya kompetisi pendidikan modern yang sering kali kejam, di mana hanya mereka yang berada di peringkat atas yang mendapatkan pengakuan. Dalam metode Nabi, tidak ada “anak yang tertinggal” selama ia masih memiliki keinginan untuk belajar. Dengan meniadakan tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik di mata orang lain, “Kurikulum Cinta” justru memerdekakan potensi murid untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri. Hal ini menciptakan lingkungan yang suportif, di mana setiap pencapaian individu dirasakan sebagai kegembiraan kolektif, sehingga motivasi belajar lahir dari dalam jiwa, bukan karena tuntutan eksternal.

Oleh karena itu, menghargai proses adalah tentang menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah perjalanan seumur hidup yang penuh dengan warna. Ketika seorang pendidik merayakan setiap progres kecil muridnya, seperti keberanian untuk bertanya atau kemauan untuk mengakui kesalahan, ia sebenarnya sedang membentuk karakter yang tangguh dan resilien. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya, proses yang dilakukan dengan penuh kecintaan dan integritas jauh lebih berharga daripada hasil besar yang diraih dengan cara-cara yang instan. Inilah esensi sejati dari pendidikan yang memanusiakan, di mana setiap insan diberikan ruang untuk tumbuh sesuai dengan ritme uniknya masing-masing.

Mengganti Hukuman dengan Bimbingan (Gentle Teaching)

Pilar ketiga dalam “Kurikulum Cinta” menyentuh aspek yang paling krusial dalam dinamika pendidikan, yakni transformasi kedisiplinan dari yang bersifat represif menuju bimbingan yang persuasif atau gentle teaching. Dalam metode pengajaran Nabi, otoritas guru tidak ditegakkan melalui gertakan atau ancaman sanksi fisik yang melukai martabat, melainkan melalui wibawa kasih sayang yang mampu menyentuh kesadaran paling dalam. Rasulullah mencontohkan bahwa kesalahan seorang murid bukanlah momentum untuk menghakimi atau mempermalukan, melainkan sebuah “ruang kelas” baru di mana bimbingan lembut dihadirkan untuk menuntun jiwa yang sedang tersesat kembali ke jalur kebenaran tanpa meninggalkan trauma.

Praktik bimbingan lembut ini berakar pada kemampuan luar biasa Rasulullah dalam memisahkan antara kesalahan perilaku dengan kemuliaan jati diri pelakunya. Dalam seni menegur ala Nabi, fokus utama selalu tertuju pada upaya perbaikan tindakan tanpa pernah melakukan pembunuhan karakter terhadap sang murid. Beliau menunjukkan bahwa kritik yang efektif adalah kritik yang mampu membangun kesadaran tanpa harus meruntuhkan harga diri, sebuah teknik yang memastikan bahwa jembatan komunikasi antara pendidik dan peserta didik tetap kokoh meskipun di tengah situasi korektif yang sulit.

Nabi Muhammad sering kali menggunakan pendekatan bahasa yang impersonal namun sarat makna untuk menjaga privasi dan mentalitas muridnya. Alih-alih menunjuk hidung secara langsung di depan publik, beliau kerap menggunakan redaksi kalimat seperti, “Mengapa ada kaum yang melakukan demikian?” Teknik ini memberikan ruang bagi pelaku kesalahan untuk melakukan refleksi mandiri tanpa merasa dipojokkan atau dipermalukan di hadapan rekan-rekannya. Dengan mengarahkan sorotan pada perilaku yang keliru, bukan menyerang atribut pribadi, murid akan merasa lebih objektif dalam menerima evaluasi dan tergerak untuk berubah karena dorongan nurani, bukan karena defensif akibat merasa dihina.

Kelembutan dalam menegur ini pada akhirnya menciptakan sebuah iklim pendidikan yang berbasis pada rasa hormat yang timbal balik. Saat seorang murid menyadari bahwa gurunya sedang berusaha menyelamatkannya dari kesalahan tanpa sedikit pun niat untuk merendahkannya, maka lahirlah loyalitas moral yang luar biasa. Otoritas pendidikan dalam Kurikulum Cinta tidak dibangun di atas rasa takut akan kecaman, melainkan di atas rasa malu untuk mengecewakan sosok guru yang begitu menghargai martabat manusiawi muridnya. Inilah esensi dari kritik yang menghidupkan, sebuah teguran yang tidak meninggalkan luka di hati, melainkan cahaya perubahan di dalam pikiran.

Seni menegur yang halus tersebut sering kali mencapai puncaknya pada sikap pemaafan yang radikal, sebuah instrumen pedagogis yang sanggup memicu transformasi karakter secara revolusioner. Dalam banyak fragmen sejarah, Rasulullah menunjukkan bahwa pengampunan bukanlah tanda kelemahan otoritas, melainkan sebuah strategi tingkat tinggi untuk memenangkan kembali jiwa sang murid. Ketika seseorang melakukan kesalahan fatal dan berekspektasi akan menerima hukuman berat, namun justru disambut dengan pintu maaf yang terbuka luas, terjadilah guncangan emosional yang positif. Pengampunan ini meruntuhkan tembok pertahanan ego murid dan menggantinya dengan rasa syukur yang mendalam.

Sikap pemaaf dalam “Kurikulum Cinta” bekerja dengan cara memberikan kesempatan kedua sebagai panggung untuk penebusan diri. Rasulullah memahami bahwa hukuman yang keras sering kali hanya melahirkan kepatuhan semu yang didorong oleh ketakutan, namun pengampunan yang tulus melahirkan perubahan perilaku yang bersifat sukarela dan menetap. Saat seorang murid merasa dimaafkan, ia akan merasakan beban moral yang positif untuk membuktikan bahwa dirinya layak atas kepercayaan tersebut. Di sinilah letak daya ledak pengampunan, ia tidak hanya menghapus noda masa lalu, tetapi juga memberikan energi baru bagi murid untuk melampaui batas-batas kemampuannya demi menjaga kemuliaan ridho sang pendidik.

Lebih jauh lagi, transformasi melalui pengampunan ini mengajarkan kepada kita bahwa inti dari pendidikan adalah pemulihan, bukan pembalasan. Dengan memaafkan, seorang pendidik sedang menanamkan nilai luhur bahwa manusia jauh lebih berharga daripada kesalahan yang dilakukannya. Pola asuh Nabi ini menciptakan ikatan batin yang tak terpatahkan, di mana murid belajar untuk mencintai kebaikan bukan karena instruksi, melainkan karena mereka telah merasakan langsung indahnya kasih sayang yang membebaskan. Pada akhirnya, pengampunan menjadi katalisator paling kuat yang mengubah seorang pendosa menjadi pengabdi, dan seorang murid yang lalai menjadi pribadi yang penuh dedikasi.

Pilar pengampunan yang diajarkan oleh Rasulullah bukanlah sebuah pembiaran tanpa batas, melainkan sebuah gerbang menuju konstruksi disiplin positif yang jauh lebih kokoh. Dalam perspektif ini, disiplin tidak lagi dimaknai sebagai serangkaian kekangan yang dipaksakan dari luar, melainkan sebuah kesadaran batin untuk hidup secara teratur demi kemuliaan diri. “Kurikulum Cinta” menggeser motivasi ketaatan murid dari yang bersifat ekstrinsik, seperti rasa takut akan hukuman atau sanksi fisik, menjadi motivasi intrinsik yang bersumber dari rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan kecintaan yang mendalam kepada kebenaran.

Nabi Muhammad SAW membangun aturan dalam komunitas pendidikan beliau dengan memberikan landasan filosofis yang jelas mengenai “mengapa” sebuah aturan harus ditaati. Beliau tidak menonjolkan bayang-bayang “cambuk” atau ancaman yang mengintimidasi, melainkan menonjolkan manfaat dari sebuah keteraturan bagi kesalehan sosial dan kedamaian jiwa. Ketika seorang murid menaati sebuah aturan karena ia memahami esensi keadilannya dan mencintai harmoni yang dihasilkannya, maka ketaatan tersebut akan menjadi bagian dari identitas dirinya, bukan sekedar akting sesaat untuk menghindari teguran guru.

Disiplin positif dalam metode Nabi bekerja dengan cara memanusiakan akal budi murid. Alih-alih hanya memberikan instruksi searah, Nabi sering kali menggunakan dialog untuk mengajak muridnya berpikir tentang dampak dari sebuah perilaku. Dengan pendekatan ini, murid diajak untuk menjadi “hakim” bagi dirinya sendiri, di mana mereka merasa malu kepada nurani dan cinta sang pendidik jika melakukan pelanggaran. Ketaatan yang lahir dari rasa cinta dan keseganan ini memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dan berbekas dibandingkan ketaatan yang dipicu oleh rasa takut yang biasanya akan menghilang segera setelah pengawas tidak lagi berada di tempat.

Dengan demikian, membangun kedisiplinan tanpa kekerasan adalah upaya untuk menciptakan integritas yang autentik. Dalam lingkungan yang didasarkan pada disiplin positif, aturan dianggap sebagai pagar pelindung, bukan jeruji penjara. Murid didorong untuk mencintai keteraturan karena mereka merasakan bahwa dengan disiplin, mereka dapat meraih potensi spiritual dan intelektual yang lebih tinggi. Inilah manifestasi sejati dari pendidikan yang membebaskan, di mana keteraturan dan cinta berjalan beriringan untuk membentuk pribadi yang merdeka namun tetap memegang teguh komitmen moral dan etika.

Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan Visual

Puncak dari seluruh bangunan “Kurikulum Cinta” ini tidak lagi terletak pada kefasihan lisan atau kerumitan teori, melainkan pada kehadiran sosok pendidik yang memanifestasikan ilmu ke dalam gerak-gerik yang nyata. Dalam pendidikan karakter ala Nabi, keteladanan visual menjadi instrumen pedagogis yang paling otoritatif, di mana setiap hembusan nafas dan tindakan guru menjadi buku teks yang paling mudah dibaca oleh murid. Rasulullah menegaskan bahwa guru sesungguhnya adalah “kurikulum yang berjalan,” di mana integritas antara kata dan perbuatan menjadi magnet spiritual yang menarik jiwa murid untuk meniru tanpa perlu dipaksa, karena mata mereka telah lebih dulu menyaksikan kebenaran itu hidup dalam diri sang guru.

Efektivitas pengajaran dalam lintasan sejarah kenabian tidaklah bersandar pada retorika yang memukau semata, melainkan pada ketidakterjangkauannya jarak antara ucapan dan tindakan. Rasulullah mempraktikkan sebuah standar moral yang tak tergoyahkan, di mana setiap bait nasihat yang keluar dari lisan beliau telah lebih dahulu mewujud dalam perilaku keseharian. Fenomena “walking the talk” ini menjadikan proses pendidikan terasa begitu jujur dan autentik, sebab murid tidak hanya mendengar tentang konsep kebenaran, tetapi mereka sedang menyaksikan kebenaran itu bernafas dan bergerak melalui sosok gurunya.

Sinkronisasi antara kata dan perbuatan merupakan fondasi utama dari lahirnya kepercayaan intelektual dan emosional. Dalam dunia pendidikan, seorang murid memiliki radar yang sangat tajam untuk mendeteksi kemunafikan, ketika seorang pendidik memerintahkan kesabaran namun ia sendiri cepat berang, maka ilmu yang disampaikan akan kehilangan daya magisnya. Sebaliknya, Nabi Muhammad memberikan teladan bahwa otoritas seorang guru dibangun di atas integritas yang utuh. Ketika beliau mengajarkan tentang kedermawanan, beliau adalah orang yang paling pertama mengulurkan tangan, sehingga ajaran tersebut tidak lagi menjadi beban teori yang berat, melainkan sebuah inspirasi yang mengalir secara alamiah.

Keberhasilan transmisi nilai dalam “Kurikulum Cinta” sangat bergantung pada konsistensi visual ini. Murid tidak dipaksa untuk percaya pada sebuah dogma melalui doktrin yang kaku, melainkan mereka dibuat jatuh cinta pada sebuah karakter yang utuh. Integritas inilah yang membuat pengajaran Nabi bersifat lintas zaman, kekuatan keteladanan beliau melampaui batas kata-kata karena ia tertulis dalam lembaran sejarah melalui tindakan nyata. Pada akhirnya, integritas kata dan perbuatan mengajarkan kepada setiap pendidik bahwa sebelum mereka berusaha mengubah dunia batin sang murid, mereka harus terlebih dahulu memastikan bahwa cahaya ilmu tersebut telah benar-benar menerangi dan mendisiplinkan diri mereka sendiri.

Kekuatan keteladanan visual tersebut kemudian meluas hingga ke wilayah yang melampaui kata-kata, yakni pada daya magis kehadiran atau the power of presence. Dalam metode pengajaran Rasulullah, keberadaan fisik beliau sering kali sudah cukup untuk menciptakan transformasi karakter tanpa perlu diiringi khotbah yang panjang lebar. Ketenangan yang memancar dari jiwa yang penuh cinta dan kedamaian memiliki resonansi spiritual yang sanggup menenangkan badai emosional dalam diri murid. Kehadiran guru yang berwibawa namun hangat ini bertindak sebagai medan energi positif yang secara perlahan menyeragamkan frekuensi hati murid ke arah kebaikan melalui proses osmosis spiritual yang sunyi.

Dalam keseharian Nabi, sering kali kita dapati bagaimana para sahabat merasa terdidik hanya dengan memandang wajah atau menyaksikan cara beliau bersikap dalam menghadapi kesulitan. Ada sebuah otoritas yang lahir dari ketenangan hati yang dalam, di mana seorang pendidik tidak perlu meninggikan suara untuk didengar, atau menunjukkan kemarahan untuk disegani. Kehadiran yang penuh cinta ini memberikan rasa aman yang memungkinkan murid untuk menyerap nilai-nilai luhur hanya melalui pengamatan terhadap gestur, kelembutan tatapan, dan ketulusan sikap. Di sini, pengajaran berlangsung melalui vibrasi karakter yang lebih kuat daya ledaknya daripada instruksi lisan mana pun.

Fenomena ini membuktikan bahwa kualitas diri seorang pendidik adalah kurikulum yang sesungguhnya. Saat seorang guru hadir dengan keutuhan jiwa dan cinta yang meluap, ia sedang melakukan proses pengajaran tanpa suara yang sangat efektif untuk mengubah perilaku murid. Ketenangan yang ditunjukkan Nabi saat menghadapi tantangan mengajarkan kesabaran jauh lebih membekas daripada definisi kesabaran itu sendiri. Pada akhirnya, “daya magis kehadiran” ini mengingatkan kita bahwa tugas guru bukan sekedar berbicara di depan kelas, melainkan hadir sepenuhnya untuk menjadi saksi hidup bagi nilai-nilai yang mereka ajarkan, sehingga transformasi karakter murid terjadi secara organik dan penuh kesadaran.

Kekuatan karakter individu yang memancar dari sosok pendidik pada akhirnya tidak hanya berhenti pada hubungan personal antara guru dan murid, tetapi meluas hingga membentuk sebuah ekosistem cinta yang kolektif. Dalam visi pendidikan Nabi, ruang kelas atau madrasah bukanlah sebuah menara gading yang terisolasi, melainkan sebuah replika kecil dari masyarakat ideal yang diimpikan. Di dalam ekosistem ini, setiap elemen saling berpaut dalam ikatan persaudaraan yang tulus, di mana rasa saling mencintai, menjaga martabat sesama, dan menguatkan dalam kebajikan menjadi nafas kehidupan sehari-hari.

Lingkungan yang berbasis pada “Kurikulum Cinta” ini menciptakan suasana di mana kompetisi yang tidak sehat digantikan oleh semangat ta’awun atau kerja sama yang harmonis. Rasulullah membangun komunitas pendidikan di mana murid yang lebih kuat menopang yang lemah, dan yang lebih berilmu membimbing yang belum paham, tanpa sedikit pun rasa angkuh. Ekosistem ini menjadi laboratorium sosial tempat nilai-nilai kasih sayang dipraktikkan secara nyata, sehingga murid tidak hanya belajar tentang teori keadilan dan empati, tetapi mereka benar-benar hidup di dalamnya dan merasakan kehangatannya.

Membangun ekosistem cinta berarti menyingkirkan segala bentuk perundungan, egoisme, dan kecurigaan yang sering kali meracuni lingkungan pendidikan modern. Ketika cinta menjadi fondasi lingkungan belajar, setiap individu merasa bertanggung jawab atas kebaikan rekan di sebelahnya. Keamanan emosional yang tercipta dari lingkungan yang suportif ini memungkinkan bakat-bakat unik setiap murid untuk tumbuh dengan optimal tanpa takut akan penghakiman. Di sini, sekolah bertransformasi menjadi rumah kedua yang penuh dengan energi positif, di mana setiap interaksi sosial menjadi sarana untuk saling mendaki tangga kemuliaan karakter secara bersama-sama.

Ekosistem cinta ini adalah wujud nyata dari aktualisasi pendidikan Nabi Muhammad yang ingin mencetak generasi penyebar rahmat bagi semesta. Dengan menjadikan lingkungan pendidikan sebagai miniatur masyarakat yang saling mencintai, kita sebenarnya sedang mempersiapkan murid untuk menjadi agen perubahan di dunia luas. Mereka yang terbiasa hidup dalam ekosistem yang penuh empati dan ketulusan akan membawa nilai-nilai tersebut ke mana pun mereka melangkah. Inilah puncak dari keberhasilan Pendidikan, ketika sekolah berhasil melahirkan bukan sekedar individu-individu yang pintar secara akademik, melainkan sebuah komunitas manusia yang hatinya saling bertaut dalam kebaikan dan kasih sayang.

Kesimpulan

Sebagai muara dari seluruh penelusuran ini, “Kurikulum Cinta” yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah sekedar metode pedagogi alternatif, melainkan sebuah orientasi teologis yang mengembalikan martabat manusia ke tempat yang paling mulia. Pendidikan Nabi membuktikan bahwa transformasi peradaban tidak dimulai dari kurikulum yang sarat dengan beban administratif, melainkan dari kedalaman empati, personalisasi kasih sayang, dan keberanian untuk memimpin melalui keteladanan visual. Dengan menempatkan cinta sebagai poros utama, pendidikan tidak lagi menjadi penjara bagi kreativitas atau pabrik bagi kecemasan, melainkan menjadi taman persemaian di mana kecerdasan akal dan kelembutan budi tumbuh beriringan dalam harmoni yang sempurna.

Oleh karenanya, menghidupkan kembali gaya mengajar Nabi di era disrupsi ini adalah sebuah panggilan untuk melakukan rehumanisasi pendidikan yang telah lama kering akan sentuhan spiritual. Kita ditantang untuk melampaui formalisme angka-angka dan mulai membangun ekosistem belajar yang mampu menyentuh jiwa, membasuh luka emosional, dan menginspirasi perubahan karakter yang autentik. Saat seorang pendidik mampu menghadirkan dirinya sebagai cermin kasih sayang Tuhan, maka saat itulah pendidikan sejatinya telah mencapai derajat tertinggi, yakni melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki keahlian teknis untuk menaklukkan dunia, tetapi juga memiliki kepekaan hati untuk menyembuhkan luka-luka kemanusiaan dengan cahaya cinta.

*Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Manifestasi Tasāmuh Dan Kemitraan Berkeadaban: Rekonstruksi Relasi Gender Dalam Lensa Islam Kontekstual-Humanis

Penulis: Namirotun Sa’diah*; Penyunting: Sirly Amri

Dalam diskursus keislaman kontemporer, perdebatan mengenai relasi gender sering kali terjebak dalam ruang gelap ketegangan antara konservatisme yang rigid dan tuntutan modernitas yang dianggap asing. Banyak tafsir keagamaan yang kita warisi hari ini masih membawa residu budaya patriarki masa lalu, yang seolah-olah memosisikan hierarki gender sebagai ketetapan sakral yang tak tergoyahkan. Akibatnya, agama yang sejatinya diturunkan untuk membebaskan manusia, justru kerap digunakan untuk melegitimasi marginalisasi terhadap perempuan. Di sinilah urgensi untuk melakukan pembacaan ulang menjadi mutlak, guna menemukan kembali spirit kesetaraan yang terkubur di bawah tumpukan bias penafsiran sejarah.

Artikel ini hadir untuk menawarkan sebuah perspektif melalui lensa Islam Kontekstual-Humanis, sebuah pendekatan yang menempatkan kemuliaan manusia sebagai pusat dari setiap ijtihad hukum. Kita tidak lagi bisa menutup mata terhadap fakta bahwa wajah peradaban hari ini telah berubah secara radikal, perempuan kini bukan lagi objek yang pasif, melainkan subjek aktif yang menggerakkan roda ekonomi, pendidikan, dan sosial. Oleh karena itu, diperlukan sebuah rekonstruksi relasi yang tidak hanya berbasis pada prosedur hukum formal, tetapi berakar pada nilai Tasāmuh (toleransi aktif) dan Kemitraan Berkeadaban. Prinsip ini mengajak kita untuk melihat laki-laki dan perempuan sebagai rekan seperjalanan dalam memikul mandat suci sebagai pengelola bumi.

Melalui empat poin utama, dimulai dari dekonstruksi struktur patriarki, penguatan prinsip kesalingan (mubādalah), hingga reformasi fikih dan pelembagaan inklusivitas, tulisan ini bertujuan merajut kembali harmoni yang sempat hilang. Kita akan membedah bagaimana manifestasi kesalehan sosial yang sejati justru terletak pada kemampuan sebuah masyarakat dalam memuliakan setiap anggotanya tanpa sekat gender. Rekonstruksi ini bukan sekadar upaya menuntut hak bagi perempuan, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk membangun tatanan peradaban yang lebih sehat, adil, dan bermartabat, di mana kebenaran agama selaras dengan detak jantung kemanusiaan yang universal.

Dekonstruksi Patriarki Melalui Esensi Tasāmuh (Toleransi)

Dalam upaya merekonstruksi relasi gender, langkah teologis pertama yang paling krusial adalah keberanian untuk menarik garis tegas antara wahyu yang absolut dan produk pemikiran manusia yang relatif. Kita sering kali menyampuradukkan antara shari’ah sebagai prinsip ketuhanan yang abadi dengan fiqh yang merupakan hasil ijtihad manusia dalam merespons zamannya. Doktrin Ilahi atau tsawabit bersifat universal dan melampaui waktu, seperti prinsip keadilan, kesetaraan martabat manusia, dan larangan berbuat zalim, sedangkan aturan teknis mengenai peran sosial pria dan wanita sering kali merupakan konstruksi budaya yang lahir dari ruang dan waktu tertentu.

Ketidakmampuan kita dalam membedakan keduanya sering kali membuat “budaya patriarki” dianggap sebagai bagian dari “agama”. Banyak penafsiran klasik yang menempatkan perempuan di bawah bayang-bayang laki-laki sebenarnya merupakan refleksi dari struktur sosial masyarakat agraris atau feodal pada abad pertengahan, di mana perlindungan fisik dan kekuatan otot menjadi mata uang utama. Ketika hasil ijtihad yang terpengaruh oleh bias zaman tersebut dianggap sebagai doktrin suci yang tidak boleh digugat, maka agama akan terasa sesak bagi perempuan modern yang kini memiliki kapasitas intelektual dan peran sosial yang jauh berbeda.

Oleh karena itu, mengidentifikasi ulang ajaran yang bersifat tetap dan yang berubah adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap teks suci. Dengan membebaskan ajaran Islam dari belenggu bias patriarki masa lalu, kita tidak sedang mengubah agama, melainkan sedang membersihkan “kaca jendela” interpretasi agar cahaya keadilan Tuhan dapat bersinar lebih jernih. Melalui proses dekonstruksi ini, kita dapat merumuskan fikih baru yang lebih humanis, di mana perempuan tidak lagi dipandang melalui lensa budaya masa lalu yang restriktif, melainkan sebagai manusia utuh yang berdaulat dalam menentukan masa depan peradaban.

Setelah kita berhasil memisahkan antara doktrin suci dan konstruksi budaya, langkah selanjutnya adalah menghidupkan semangat tersebut melalui radikalisasi makna tasāmuh. Selama ini, toleransi sering kali dipahami secara pasif, sebatas membiarkan keberadaan “yang lain” tanpa ada upaya untuk mengubah struktur yang tidak adil. Namun, dalam konteks relasi gender yang humanis, tasāmuh harus ditarik lebih jauh menjadi sebuah tindakan aktif yang mengakui dan menghormati penuh otoritas perempuan. Ini bukan lagi soal “mengizinkan” perempuan ada, melainkan memberikan ruang yang setara bagi suara, pemikiran, dan kepemimpinan mereka untuk mewarnai jalannya kehidupan.

Di ruang domestik, radikalisasi makna ini berarti meruntuhkan ego maskulinitas yang merasa memiliki hak veto tunggal atas segala keputusan. Tasāmuh yang progresif menuntut penghormatan terhadap otoritas perempuan dalam menentukan arah rumah tangga, mengelola potensi diri, hingga hak atas tubuhnya sendiri. Rumah tidak boleh lagi menjadi benteng patriarki yang membungkam aspirasi, melainkan sebuah laboratorium kemitraan di mana setiap kebijakan diambil melalui dialog yang setara. Di sini, toleransi mewujud dalam bentuk kesediaan untuk berbagi kuasa dan tanggung jawab demi kesejahteraan bersama yang tulus.

Transformasi ini kemudian meluas ke ruang publik, di mana otoritas perempuan sering kali masih dibatasi oleh langit-langit kaca (glass ceiling) yang tak kasatmata. Memperluas makna tasāmuh berarti merayakan kehadiran perempuan dalam posisi-posisi strategis pengambil kebijakan, bukan sekadar sebagai pelengkap kuota. Kita harus sampai pada tahap di mana kepemimpinan perempuan tidak lagi dianggap sebagai anomali atau “pemberian” dari kaum laki-laki, melainkan sebagai manifestasi dari kompetensi dan martabat kemanusiaan yang utuh. Dengan demikian, tasāmuh menjadi fondasi bagi sebuah tatanan sosial yang tidak hanya damai, tetapi juga berkeadilan dan bermartabat bagi semua gender.

Puncak dari radikalisasi makna tasāmuh dan dekonstruksi budaya ini adalah keberanian kolektif untuk melakukan penghapusan stigma dan stereotip gender yang telah lama mengakar. Selama berabad-abad, dominasi satu gender atas gender lainnya sering kali dilegitimasi melalui pelabelan negatif yang tidak berdasar, seperti anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang “kurang akal” atau “terlalu emosional”. Stigma semacam ini bukanlah sekadar penilaian keliru, melainkan alat politik dan sosial yang sengaja dipelihara untuk membatasi ruang gerak perempuan dan menutup akses mereka terhadap posisi-posisi kepemimpinan serta pengambilan keputusan strategis.

Penghapusan stereotip ini menuntut kita untuk melihat setiap individu melalui lensa kapasitas intelektual dan kematangan spiritual yang unik, bukan melalui prasangka biologis. Dalam lensa Islam kontekstual-humanis, kecerdasan dan emosi bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan instrumen kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap hamba Tuhan tanpa memandang jenis kelamin. Menghilangkan pelabelan ini berarti memberikan kesempatan bagi perempuan untuk menunjukkan potensi terbaiknya tanpa harus dibebani oleh ekspektasi budaya yang merendahkan, sekaligus membebaskan laki-laki dari tuntutan maskulinitas toksik yang melarang mereka untuk mengekspresikan empati dan kelembutan.

Pada akhirnya, ketika stigma tersebut runtuh, kita akan menyaksikan lahirnya sebuah relasi yang didasarkan pada kejujuran intelektual dan kemurnian rasa. Dominasi yang dibangun di atas mitos inferioritas gender akan digantikan oleh kerja sama yang bermartabat. Dengan membersihkan ruang publik dan domestik dari kabut stereotip, kita sedang menyiapkan landasan bagi pembangunan peradaban yang benar-benar adil, sebuah dunia di mana setiap orang dihargai karena isi pemikiran dan keluhuran budinya, bukan karena mereka memenuhi atau menentang prasangka gender yang kuno.

Kemitraan Berkeadaban: Melampaui Persaingan menuju Mubā dalah

Peralihan dari paradigma dominasi menuju kesetaraan sejati menuntut kita untuk mendefinisikan ulang hakikat relasi gender melalui konsep Kemitraan Berkeadaban. Dalam kerangka ini, hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak lagi dilihat sebagai panggung persaingan kekuasaan atau pertarungan hak, melainkan sebuah sinergi luhur yang berakar pada prinsip mubādalah (kesalingan). Kemitraan ini melampaui batas-batas transaksional. Ia adalah sebuah komitmen spiritual untuk menempatkan kedua belah pihak sebagai subjek yang setara, di mana martabat satu pihak tidak pernah dibangun di atas perendahan pihak lainnya. Dengan menjadikan mubādalah sebagai ruh dalam setiap interaksi, kita sedang membangun fondasi sosial yang lebih kokoh, di mana kerja sama kolektif menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Penerapan prinsip mubādalah menemukan ujian paling nyata dalam institusi terkecil masyarakat, yakni keluarga. Selama ini, domestikasi perempuan sering kali dianggap sebagai kodrat yang tak terelakkan, sementara laki-laki diposisikan hanya sebagai penyokong finansial yang terlepas dari urusan rumah tangga. Dalam lensa kemitraan berkeadaban, pembagian peran ini harus didekonstruksi menjadi sebuah tanggung jawab kolektif. Rumah tangga bukan lagi sebuah struktur hierarkis di mana satu pihak melayani dan pihak lain dilayani, melainkan sebuah ruang kolaborasi di mana setiap beban dipikul bersama demi kebahagiaan kolektif.

Dalam konteks ini, kegiatan merawat rumah dan mengasuh anak tidak boleh lagi dilihat sebagai “tugas sampingan” bagi laki-laki atau “kewajiban mutlak” bagi perempuan. Sebaliknya, hal tersebut adalah amanah kemanusiaan yang harus dijalankan dengan prinsip kesalingan. Ketika seorang ayah terlibat aktif dalam pengasuhan dan seorang ibu memiliki ruang untuk mengaktualisasikan dirinya, keluarga tersebut sedang mempraktikkan kesalehan domestik. Kesalingan ini memastikan bahwa tidak ada satu pihak pun yang merasa terzalimi atau dieksploitasi secara emosional maupun fisik, karena setiap tindakan didasari oleh kesadaran untuk saling meringankan beban.

Pada akhirnya, rumah tangga yang berpijak pada nilai mubādalah akan menjadi sekolah pertama bagi pertumbuhan nilai-nilai keadilan dan empati. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana orang tuanya saling bekerja sama tanpa sekat stereotip gender akan memiliki cara pandang yang lebih sehat terhadap kemanusiaan. Dengan menjadikan tanggung jawab domestik sebagai tugas bersama, kita tidak hanya sedang menciptakan harmoni di bawah satu atap, tetapi juga sedang meletakkan batu pertama bagi pembangunan peradaban yang menghargai kerja-kerja perawatan (care work) sebagai fondasi keberlangsungan hidup manusia yang bermartabat.

Transformasi nilai kesalingan yang telah tumbuh di ruang domestik secara alami harus merembes keluar menuju sinergi dalam ranah publik. Di dunia profesional dan sosial, kita sering terjebak dalam narasi kompetisi gender yang melelahkan, di mana kehadiran perempuan dianggap sebagai ancaman bagi dominasi laki-laki, atau sebaliknya. Namun, lensa kemitraan berkeadaban menawarkan paradigma baru, sebuah ruang kolaboratif yang inklusif, di mana jenis kelamin tidak lagi menjadi penentu kredibilitas. Di sini, profesionalisme didefinisikan melalui kualitas karya dan integritas, memungkinkan laki-laki dan perempuan berdiri sebagai rekan sejawat yang saling menggenapi demi kemajuan kolektif.

Dunia kerja yang modern dan kompleks membutuhkan spektrum keahlian yang luas, yang hanya bisa dicapai jika kita menanggalkan bias gender. Sinergi ini bukan tentang menyamaratakan segala sesuatu, melainkan tentang mengintegrasikan perspektif yang beragam untuk melahirkan inovasi yang lebih humanis. Ketika laki-laki dan perempuan bekerja sama sebagai mitra setara, mereka membawa kekayaan pengalaman hidup yang berbeda ke meja diskusi, menciptakan solusi yang lebih komprehensif bagi masalah sosial maupun bisnis. Kolaborasi ini meruntuhkan dinding ego sektoral dan menggantinya dengan semangat persaudaraan universal yang berorientasi pada kemaslahatan publik.

Pada akhirnya, mendorong kolaborasi gender di ranah publik adalah investasi jangka panjang bagi kualitas peradaban kita. Kita perlu menciptakan ekosistem sosial yang tidak lagi mempertanyakan “siapa yang lebih unggul”, melainkan “bagaimana kita bisa berkontribusi bersama”. Dengan memandang satu sama lain sebagai rekan setara dalam perjuangan membangun bangsa, kita menghapus gesekan-gesekan yang tidak perlu dan mempercepat akselerasi kesejahteraan. Inilah wujud nyata dari Islam yang kontekstual, sebuah sistem sosial yang memberikan panggung bagi setiap bakat manusia untuk bersinar, memastikan bahwa pembangunan dunia ini adalah kerja raksasa yang dilakukan bersama-sama dengan penuh martabat.

Sinergi dalam ranah publik mustahil mencapai titik optimal tanpa adanya infrastruktur komunikasi yang sehat, yang diwujudkan melalui etika komunikasi emansipatoris. Dalam banyak struktur sosial konvensional, dialog sering kali bersifat monologik dan hierarkis, di mana suara perempuan kerap dianggap sebagai instrumen pelengkap atau bahkan interupsi yang tidak perlu. Etika emansipatoris hadir untuk membongkar kebuntuan ini, memastikan bahwa setiap individu memiliki kedaulatan penuh atas suaranya sendiri. Ini adalah tentang menciptakan ruang bicara yang aman, di mana kebenaran sebuah argumen dinilai dari validitas isinya, bukan dari frekuensi suara yang paling lantang atau dominan.

Membangun pola dialog yang menghargai perspektif lintas gender berarti kita harus melatih kepekaan untuk mendengar secara aktif. Sering kali, keputusan strategis diambil dalam ruangan yang tertutup dari keragaman pengalaman hidup, di sinilah bias muncul dan ketidakadilan terlembaga. Dengan mengadopsi komunikasi yang inklusif, kita memastikan bahwa perspektif unik dari setiap gender, baik itu terkait kebijakan publik, ekonomi, maupun sosial, mendapat tempat yang terhormat di meja perundingan. Proses ini mencegah terjadinya pembungkaman suara secara halus (gaslighting) atau pengabaian ide yang sering dialami oleh pihak yang dianggap sebagai minoritas dalam kekuasaan.

Lebih jauh lagi, etika komunikasi ini berfungsi sebagai alat penyeimbang dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan yang lahir dari dialog emansipatoris cenderung lebih komprehensif dan minim risiko karena telah melalui proses “uji rasa” dan “uji nalar” dari berbagai sudut pandang manusia yang berbeda. Tidak ada lagi pihak yang merasa hanya menjadi objek dari sebuah aturan, setiap orang adalah subjek yang ikut merumuskan masa depannya sendiri. Komunikasi semacam ini bukan sekadar teknik retorika, melainkan manifestasi dari nilai tasāmuh yang paling nyata, di mana kita menghargai martabat manusia melalui penghormatan terhadap hak mereka untuk bicara dan didengar.

Pada akhirnya, kelancaran dialog yang emansipatoris ini akan menjadi penentu keberhasilan rekonstruksi relasi gender yang kita citakan. Ketika pola komunikasi dalam rumah tangga dan institusi publik telah bersih dari prasangka serta dominasi, maka kemitraan berkeadaban bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas yang dihidupi setiap hari. Inilah jembatan yang menghubungkan ide-ide besar kemanusiaan dengan praktik nyata. Sebuah dunia di mana setiap suara dihargai sebagai kontribusi berharga bagi pembangunan peradaban, menciptakan simfoni kehidupan yang harmonis, setara, dan jauh dari penindasan.

Rekonstruksi Fikih Gender dalam Lensa Kontekstual-Humanis

Memasuki jantung rekonstruksi relasi gender, kita dihadapkan pada urgensi untuk melakukan pembacaan ulang terhadap nalar hukum Islam melalui Rekonstruksi Fikih Gender dalam Lensa Kontekstual-Humanis. Upaya ini bukanlah sebuah upaya untuk mereduksi kesucian teks, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk membebaskan pesan-pesan langit dari belenggu interpretasi abad pertengahan yang sering kali bias terhadap pengalaman hidup laki-laki. Fikih, yang secara harfiah bermakna “pemahaman”, harus ditarik kembali ke khittahnya sebagai instrumen yang dinamis dan solutif terhadap problematika kemanusiaan. Dengan mengintegrasikan realitas sosial kekinian dan nilai-nilai kemuliaan manusia, rekonstruksi ini bertujuan melahirkan yurisprudensi yang tidak hanya tekstual, tetapi juga bernapas, peka terhadap ketidakadilan, dan mampu menjamin bahwa keadilan gender bukan sekadar utopia dalam lembaran kitab, melainkan hak yang dirasakan secara nyata oleh setiap individu.

Langkah fundamental dalam pembaruan hukum ini dimulai dengan melakukan reorientasi Maqāsid al-Shari’ah, yakni mengembalikan tujuan dasar hukum Islam pada khitah perlindungan kemanusiaan yang hakiki. Selama ini, konsep perlindungan jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-‘aql), dan kehormatan (hifz al-‘ird) sering kali dipahami secara abstrak atau bias maskulin, sehingga gagal menyentuh kerentanan spesifik yang dihadapi perempuan. Reorientasi ini menuntut kita untuk memastikan bahwa setiap prinsip perlindungan tersebut harus dirasakan secara konkret oleh perempuan dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya sebagai standar moral yang tak bisa ditawar dalam merumuskan kebijakan sosial maupun hukum keluarga.

Dalam kerangka kontekstual-humanis, perlindungan jiwa tidak hanya berarti mencegah pembunuhan, tetapi juga mencakup jaminan keamanan menyeluruh dari segala bentuk kekerasan fisik dan trauma psikologis yang menghantui ruang-ruang privat perempuan. Begitu pula dengan perlindungan akal dan kehormatan. Hal ini harus mewujud dalam bentuk dukungan terhadap kebebasan berpikir, akses pendidikan tinggi, serta pembebasan dari kekerasan simbolik seperti objektivikasi dan perendahan martabat melalui stigma sosial. Fikih harus menjadi perisai hidup yang aktif mengidentifikasi dan memutus rantai penindasan, memastikan bahwa nilai-nilai luhur agama benar-benar berfungsi sebagai tempat bernaung yang aman bagi mereka yang selama ini terabaikan oleh sistem.

Pada akhirnya, menjadikan Maqāsid al-Shari’ah sebagai lensa utama berarti kita menempatkan kemaslahatan manusia di atas prosedur formalitas hukum yang kaku. Hukum Islam tidak lagi dilihat sebagai instrumen penghakiman, melainkan sebagai jalan menuju kesejahteraan holistik. Dengan memberikan penekanan khusus pada pengalaman hidup perempuan, kita sedang menyelaraskan kembali praktik keagamaan dengan kehendak universal Tuhan yang menginginkan kasih sayang dan keadilan. Inilah titik tolak di mana hukum tidak lagi sekadar menjadi teks mati dalam lembaran kitab, melainkan energi yang membebaskan dan memuliakan setiap individu tanpa terkecuali.

Penerapan Maqāsid al-Shari’ah yang peka gender menuntut kita untuk berani melangkah lebih jauh menuju wilayah keadilan distributif dalam hukum keluarga. Kita perlu menyadari bahwa teks-teks keagamaan mengenai waris, persaksian, hingga kepemimpinan domestik sering kali ditafsirkan dalam ruang hampa yang terputus dari realitas sosiologis. Pada masa lalu, pembagian proporsi tertentu didasarkan pada struktur sosial di mana laki-laki memegang kendali ekonomi penuh dan menjadi satu-satunya penjamin keamanan keluarga. Namun, di era kontemporer, transformasi peran sosial-ekonomi telah menempatkan perempuan sebagai tulang punggung keluarga dan penggerak ekonomi yang tangguh, sehingga penafsiran hukum yang bersifat “matematis-tekstual” semata berisiko melahirkan ketidakadilan yang mencederai semangat awal agama.

Meninjau kembali penafsiran teks bukan berarti kita mengabaikan wahyu, melainkan melakukan kontekstualisasi nilai keadilan yang terkandung di dalamnya. Jika hukum waris atau persaksian di masa lalu dimaksudkan untuk melindungi martabat manusia sesuai beban tanggung jawabnya, maka di masa kini, ketika beban dan kontribusi sosial-ekonomi antara laki-laki dan perempuan telah setara, formulasi hukum pun harus mencerminkan keseimbangan tersebut. Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak perempuan yang memikul tanggung jawab finansial dan manajerial secara mandiri. Oleh karena itu, yurisprudensi Islam harus mampu merespons perubahan ini dengan menghadirkan solusi distributif yang lebih adil, yang memastikan tidak ada satu pihak pun yang dirugikan secara ekonomi maupun posisi sosialnya hanya karena faktor gender.

Pada akhirnya, rekonstruksi hukum keluarga ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan domestik melalui rasa keadilan yang dirasakan oleh semua anggota keluarga. Ketika hukum tidak lagi dipandang sebagai instrumen yang mendiskriminasi, maka kepatuhan terhadap nilai agama akan lahir dari kesadaran spiritual yang mendalam, bukan dari paksaan struktur. Dengan mempertimbangkan dinamika peran perempuan modern, kita sedang merajut hukum keluarga yang lebih humanis, sebuah tatanan hukum yang mampu melindungi hak milik, menjamin keabsahan suara, dan menghargai kepemimpinan setiap individu. Inilah wujud nyata dari ijtihad yang hidup, di mana hukum Islam hadir sebagai solusi yang memuliakan manusia dan selaras dengan detak jantung zaman.

Pembaruan dalam hukum keluarga harus diakselerasi menuju pembentukan yurisprudensi perlindungan perempuan yang mampu melampaui wilayah privat dan masuk ke dalam ranah kebijakan publik. Kita memerlukan bangunan argumen fikih yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dalam memayungi hak-hak dasar perempuan di era modern. Hal ini berarti merumuskan dalil-dalil agama yang secara eksplisit mendukung regulasi negara terkait jaminan kesehatan reproduksi, keamanan di lingkungan kerja, hingga akses seluas-luasnya terhadap pendidikan tinggi. Fikih tidak boleh lagi berhenti pada teks-teks abad pertengahan yang restriktif, melainkan harus bertransformasi menjadi landasan moral yang memperjuangkan otonomi dan kesejahteraan perempuan secara sistemik.

Dalam aspek hak reproduksi dan keamanan kerja, yurisprudensi ini berpijak pada nilai mashlahah ammah (kemaslahatan umum) yang menekankan bahwa negara berkewajiban melindungi fungsi biologis dan sosial perempuan tanpa harus mengorbankan karier atau martabatnya. Argumen fikih yang humanis akan menempatkan kebijakan seperti cuti melahirkan yang memadai, perlindungan dari pelecehan seksual di tempat kerja, serta penyediaan fasilitas kesehatan yang inklusif sebagai bagian dari implementasi syariat yang luhur. Dengan kata lain, menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan untuk bekerja dan berkarya adalah sebentuk ibadah sosial yang setara nilainya dengan ritual keagamaan formal.

Selain itu, akses terhadap pendidikan tinggi bagi perempuan harus diposisikan sebagai mandat keagamaan yang bersifat fundamental untuk mengasah akal (hifz al-‘aql). Melalui yurisprudensi perlindungan ini, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai opsi sekunder bagi perempuan, melainkan sebagai prasyarat utama untuk menjalankan fungsi kepemimpinan kolektif di muka bumi. Dukungan fikih terhadap akses intelektual ini akan menjadi tameng bagi perempuan dalam menghadapi hambatan struktural maupun budaya yang selama ini menghalangi mereka untuk meraih posisi-posisi pengambil keputusan di berbagai sektor strategis.

Sebagai penutup bagian ini, penyusunan yurisprudensi yang kokoh adalah langkah nyata dalam menjembatani idealisme agama dengan kebutuhan praktis kehidupan bernegara. Ketika argumen agama selaras dengan kebijakan publik yang memuliakan perempuan, maka keadilan gender tidak lagi menjadi isu pinggiran, melainkan menjadi arus utama dalam pembangunan nasional. Inilah esensi dari Islam kontekstual-humanis, sebuah sistem hukum yang terus bergerak maju, memastikan bahwa setiap regulasi yang lahir mampu memberikan ruang bagi perempuan untuk hidup merdeka, aman, dan berdaya sebagai arsitek peradaban yang setara.

Manifestasi Kesalehan Sosial Dalam Kepemimpinan Kolektif

Sebagai puncak dari seluruh rangkaian rekonstruksi ini, keadilan gender harus menemukan wujud purnanya dalam Manifestasi Kesalehan Sosial melalui Kepemimpinan Kolektif. Kita perlu menyadari bahwa kesalehan sejati tidaklah berhenti pada kesucian individu di dalam mihrab, melainkan harus memancar keluar dalam bentuk keberpihakan pada struktur sosial yang inklusif dan nondiskriminatif. Kepemimpinan dalam perspektif ini tidak lagi dipahami sebagai simbol supremasi maskulinitas, melainkan sebagai sebuah ruang pengabdian bersama di mana laki-laki dan perempuan berkolaborasi untuk mengemban amanah sebagai khalifah. Dengan menggeser fokus dari ego personal menuju kemaslahatan komunal, kepemimpinan kolektif menjadi bukti nyata bahwa transformasi etis dan teologis yang telah kita bahas bukanlah sekadar wacana intelektual, melainkan sebuah gerakan moral untuk menghadirkan wajah peradaban yang benar-benar adil, welas asih, dan beradab bagi setiap insan.

Langkah konkret dalam mewujudkan kepemimpinan kolektif ini adalah dengan melakukan pergeseran paradigma radikal, yakni menempatkan kompetensi dan integritas sebagai satu-satunya tolok ukur kepemimpinan, bukan jenis kelamin. Kita harus berani membongkar mitos usang yang mengeksklusi perempuan dari ruang strategis hanya berdasarkan atribusi biologis. Dalam lensa Islam kontekstual-humanis, kepemimpinan adalah manifestasi dari konsep itqan, profesionalisme dan kesempurnaan dalam bekerja. Siapa pun yang memiliki kedalaman ilmu, ketajaman visi, dan keluhuran budi berhak untuk memandu arah peradaban, karena mandat sebagai pengelola bumi (khalifah) diberikan kepada manusia sebagai spesies, bukan kepada salah satu gender saja.

Sejarah Islam awal sebenarnya telah memberikan preseden yang gemilang mengenai kepemimpinan perempuan yang melampaui zamannya. Kita mengenal sosok Sayyidah Aisyah r.a. yang menjadi rujukan intelektual dan politik utama bagi para sahabat, atau Syifa binti Abdullah yang ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai pengawas pasar (manajer publik) di Madinah. Mereka adalah bukti hidup bahwa integritas dan kapasitas intelektual tidak pernah mengenal batas gender. Dengan menghidupkan kembali teladan ini, kita sedang melakukan “reklamasi sejarah” untuk menunjukkan bahwa pembatasan peran perempuan dalam kepemimpinan hari ini adalah sebuah kemunduran yang tidak memiliki akar kuat dalam semangat spiritualitas Islam yang murni.

Pada akhirnya, mengutamakan kompetensi di atas gender akan melahirkan kualitas kepemimpinan yang lebih sehat dan akuntabel. Ketika posisi-posisi penting diisi oleh individu-individu yang paling cakap secara etis dan teknis, maka kemaslahatan publik akan lebih mudah tercapai. Kita sedang bergerak menuju sebuah tatanan sosial di mana setiap orang didorong untuk mencapai potensi terbaiknya tanpa terhalang oleh prasangka. Paradigma kepemimpinan berbasis kompetensi ini bukan hanya tentang memberikan hak kepada perempuan, tetapi tentang memastikan bahwa peradaban ini dikelola oleh tangan-tangan yang paling kompeten, jujur, dan berdedikasi demi kebaikan bersama.

Penerapan kepemimpinan berbasis kompetensi pada akhirnya akan bermuara pada kesadaran baru bahwa kualitas sebuah peradaban tidak diukur dari kemegahan infrastruktur fisiknya, melainkan dari tingkat partisipasi dan keamanan perempuan di dalamnya. Sebuah bangsa yang beradab adalah bangsa yang mampu menjamin bahwa setiap warganya, tanpa memandang gender, memiliki akses yang setara untuk berkontribusi dalam ruang publik tanpa dibayangi rasa takut. Dalam konteks ini, perlindungan terhadap perempuan bukan lagi sekadar isu hak asasi manusia yang bersifat sekuler, melainkan parameter utama untuk mengukur sejauh mana nilai-nilai kesalehan sosial telah terinternalisasi dalam struktur masyarakat tersebut.

Menjadikan indikator gender sebagai barometer pembangunan berarti kita sepakat bahwa kesalehan sebuah masyarakat bersifat semu jika di dalamnya masih terjadi marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan. Masyarakat yang mengklaim religius namun abai terhadap pemenuhan hak-hak dasar perempuan sebenarnya sedang mengalami krisis spiritualitas yang akut. Sebaliknya, ketika sebuah negara mampu menciptakan ekosistem yang inklusif, di mana perempuan merasa aman untuk menempuh pendidikan, bekerja, dan memimpin, maka bangsa tersebut telah menunjukkan manifestasi tertinggi dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kehadiran perempuan yang berdaya di berbagai lini kehidupan adalah cermin dari keadilan Tuhan yang mewujud dalam harmoni sosial.

Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan nasional harus mulai dihitung melalui indeks kesejahteraan dan keamanan perempuan secara holistik. Parameter ini memaksa para pengambil kebijakan untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi angka-angka, tetapi juga kualitas kemanusiaan yang mendalam. Sebuah masyarakat yang menempatkan pemuliaan terhadap perempuan sebagai pilar utamanya akan tumbuh menjadi bangsa yang lebih stabil, cerdas, dan empatik. Inilah esensi dari kemitraan berkeadaban, sebuah komitmen kolektif di mana keberhasilan laki-laki dan perempuan diukur dari sejauh mana mereka saling menjaga martabat satu sama lain, menciptakan dunia yang lebih ramah dan layak huni bagi generasi mendatang.

Agar parameter keberadaban tersebut tidak hanya berhenti sebagai cita-cita moral, maka langkah penutup yang sangat krusial adalah melembagakan inklusivitas ke dalam struktur negara. Transformasi etis harus berwujud dalam bentuk regulasi yang konkret dan desain institusi yang mampu menjamin keterwakilan perempuan di berbagai posisi strategis. Tanpa adanya payung hukum yang kuat dan institusi yang responsif gender, upaya rekonstruksi relasi ini akan selalu rentan terhadap perubahan orientasi politik atau arus balik konservatisme yang masih berupaya meminggirkan peran perempuan.

Kehadiran perempuan dalam posisi pengambilan keputusan bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan kuota formalitas, melainkan untuk memastikan bahwa kebijakan yang lahir benar-benar akomodatif terhadap realitas seluruh warga negara. Pengalaman hidup yang unik, mulai dari tantangan domestik hingga isu keamanan di ruang publik, hanya dapat dipahami secara mendalam jika perempuan terlibat langsung sebagai perumus kebijakan, bukan sekadar objek kebijakan. Institusi yang inklusif akan mampu melahirkan regulasi yang lebih adil, karena didasarkan pada perspektif yang jamak, sehingga risiko terjadinya bias gender dalam produk hukum dapat diminimalisasi sejak dalam pemikiran.

Lebih jauh lagi, pelembagaan ini berfungsi untuk menciptakan keseimbangan kuasa yang sehat dalam tata kelola organisasi maupun pemerintahan. Dengan menyediakan jalur karir dan sistem promosi yang bebas dari prasangka gender, kita sedang membangun meritokrasi yang sejati. Institusi-institusi ini akan menjadi benteng bagi nilai-nilai kemitraan berkeadaban, di mana dukungan terhadap kepemimpinan perempuan tidak lagi bergantung pada kebaikan hati individu tertentu, melainkan sudah menjadi prosedur standar operasional (SOP) yang mengikat secara hukum dan etika profesional.

Pada akhirnya, melembagakan inklusivitas adalah bukti bahwa kita serius dalam melakukan transformasi sosial yang berkelanjutan. Ketika sistem sosial dan hukum kita telah dirancang untuk merangkul semua potensi manusia tanpa kecuali, maka manifestasi kesalehan sosial telah mencapai kematangannya. Inilah titik di mana peradaban Islam kontekstual-humanis benar-benar mewujud, sebuah tatanan dunia yang tidak hanya berbicara tentang keadilan di atas mimbar, tetapi juga menerapkannya secara presisi dalam setiap struktur, lembaga, dan regulasi yang menaungi kehidupan manusia.

Ikhtisar

Rekonstruksi relasi gender melalui lensa Islam kontekstual-humanis bukanlah sebuah agenda untuk meruntuhkan tatanan agama, melainkan upaya tulus untuk mengembalikan agama pada fungsi aslinya sebagai pembebas kemanusiaan. Dengan menjadikan tasāmuh dan kemitraan berkeadaban sebagai pijakan. Kita sedang menyusun ulang kepingan peradaban yang sempat retak oleh prasangka dan dominasi sepihak. Transformasi ini menuntut keberanian kita untuk membedakan antara kesucian wahyu dan keterbatasan tafsir budaya, serta kesediaan untuk melembagakan keadilan dalam setiap sendi kehidupan, mulai dari kehangatan ruang domestik hingga ketegasan kebijakan publik. Pada akhirnya, ketika laki-laki dan perempuan mampu berdiri sejajar sebagai mitra yang saling memuliakan, kita tidak hanya sedang menciptakan harmoni sosial, tetapi juga sedang merayakan manifestasi paling murni dari keadilan Tuhan di muka bumi, sebuah dunia di mana martabat setiap insan dijunjung tinggi tanpa sekat gender, demi terwujudnya masa depan yang lebih terang, inklusif, dan penuh welas asih.

*Dosen STAIKAP

Membersamai Si Kecil dengan Keteladanan di Era Digital

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Muslimah

Rutinitas orang tua seperti bekerja, mengejar target untuk karir dan ekonomi keluarga, serta menyelesaikan kewajiban, terkadang membuat sebagian orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, tanpa disadari ada sosok-sosok kecil yang setiap hari memperhatikan, meniru, dan memahami perilaku yang terkadang tidak diberitahu apakah itu baik atau buruk. Sedangkan orang tua dalam hal ini memiliki peran besar dalam mengarahkan si Kecil yang kelak akan tumbuh menjadi khalifah di bumi.

Baca juga: Kode Etik vs Kode Program: Menjembatani Prinsip Al-Qur’an dan Dilema Kecerdasan Buatan

Situasi lain yang juga terkadang dijumpai bahwa orang tua hanya terlalu fokus pada pencapaian akademik dan kemampuan teknis, seperti ranking kelas, sertifikat lomba, atau seberapa cepat mereka bisa mengoperasikan gadget. Sedangkan aspek yang terkadang dilupakan adalah bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mendidik anak-anak di sekitarnya untuk cerdas, tetapi juga lembut hati, jujur, dan penuh kasih. Beliau mencontohkan pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sederhana saja, seperti menurunkan badan ketika berbicara dengan anak kecil, memanggil dengan panggilan yang baik sebagai bentuk kasih sayang terhadap anak, bahkan mengajarkan doa-doa yang sederhana namun penuh makna. Sehingga perlu menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pendidikan sejati bukan hanya untuk mencetak “anak pintar”, tetapi “anak beradab”.

Terlebih di era digital, anak-anak lebih mudah menemukan tokoh panutan melalui layar ketimbang dalam kehidupan nyata. Mereka meniru apa yang viral, bukan apa yang benar. Padahal dalam Islam, keteladanan hidup (uswah) lebih kuat dari sekadar nasihat panjang. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh orang tua, karena banyak penelitian membuktikan bahwa wujud teknologi di era digital yang salah satunya adalah gadget, dapat memberikan dampak negatif jika tanpa pengawasan dari orang tua dan apabila hanya dimanfaatkan untuk hiburan semata. Penelitian terbaru di sebuah desa menunjukkan bahwa 41,2% penggunaan gadget dapat mempengaruhi etika anak dalam berkomunikasi dengan orang tua dan teman. Melihat fenomena ini, orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas yang menuntut kesempurnaan, tetapi sebagai pelindung dan penuntun yang hadir secara utuh. Sebab, anak akan belajar tentang kasih sayang dan etika melalui komunikasi yang dibangun oleh orang tua dan lingkungannya. Mereka juga akan belajar tentang amanah melalui kejujuran yang diajarkan oleh orang tuanya, bahkan mereka juga belajar tentang Allah melalui cara orang tuanya dalam beribadah dan bersyukur, bukan hanya melalui perintah lisan.

Langkah-langkah demikian dapat menjadi upaya untuk meninjau ulang lingkungan tumbuh anak-anak yang orang tua bangun di keluarganya. Karena ironi yang seringkali nampak adalah, banyak dari orang tua ingin anaknya saleh dan memiliki adab, tapi terkadang mereka melihat orang tuanya mencaci orang lain di jalan, atau melihat temannya berkata kotor di sekolah. Selain itu, ketika orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, namun anak-anaknya jarang melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sehingga perlu ditegaskan kembali bahwa pengasuhan bukan sekadar instruksi, tetapi ia adalah cermin yang akan membentuk karakter anak-anak. Jika orang tua memahami ini, maka mereka bukan hanya akan membentuk anaknya menjadi versi ideal menurut standar dunia, tetapi pasti akan membersamai anaknya untuk tumbuh menjadi insan yang mengenal Tuhannya dan memiliki akhlak yang mulia. Karena ketika anak-anak dapat tumbuh menjadi khalifah yang cerdas dan beradab, bukan hanya keluarga yang bangga, tetapi bumi pun akan bernafas lebih lega.

 

Ibu: Pejuang Tanpa Pedang, Pahlawan Tanpa Panggung

Penulis: Intan Diana Fitriani; Editor: Azzam Nabil H.

Jika ada pertanyaan tentang siapa makhluk paling kuat di dunia ini, jawabannya bukanlah pahlawan super dalam komik, bukan atlet beladiri, bukan pula mereka yang sanggup bekerja siang malam tanpa lelah. Makhluk paling kuat itu adalah… Ibu.

Terkadang, Allah memberikan bukti nyata akan kekuatan itu, bukti yang membuat kita merinding, merenung, hingga menangis penuh syukur. Salah satunya tecermin dalam kisah perjuangan seorang ibu yang nyawanya benar-benar dipertaruhkan saat melahirkan. Sebuah kondisi langka membuatnya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Ia harus menempuh perjalanan medis yang panjang: operasi besar, peralatan canggih yang menopang tubuh, koma, hingga akhirnya harus merelakan sebagian tubuhnya diamputasi.

Namun, tahukah apa yang membuat situasi pelik itu tetap terasa hangat? Cinta seorang ibu yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuhnya terbaring lemah tak berdaya.

Cinta yang Tak Pernah Takut Terluka

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa bahwa proses melahirkan bukan sekadar momen “bayi lahir lalu semua bahagia”. Di balik tangisan pertama bayi, ada rasa sakit luar biasa yang sering digambarkan setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan. Ada ketegangan yang memuncak, ada doa yang dipanjatkan sembari menahan perih, dan ada keberanian yang mungkin tak sanggup ditanggung oleh lelaki terkuat sekalipun.

Dalam kisah nyata ini, sang ibu memasuki ruang bersalin dengan harapan sederhana: melahirkan anak ketiganya dengan selamat. Namun, takdir berkata lain. Kondisinya mendadak menurun drastis (drop), napas melemah, dan jantung nyaris berhenti berdetak. Dalam hitungan menit, seluruh tim medis harus bergerak cepat demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Alhamdulillah, bayinya selamat. Namun, sang ibu harus berjuang melawan badai komplikasi yang sangat langka. Setelah melewati masa kritis pascaoperasi, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan salah satu kakinya. Ini bukan kesalahan siapa pun, melainkan kerasnya skenario perjuangan hidup yang Allah bentangkan untuknya.

Luka itu menyakitkan, tentu saja. Namun, justru dari luka-luka itulah kekuatan seorang ibu memancar. Ia tetap ingin hidup. Ia tetap ingin bangkit. Ia tetap ingin memeluk anaknya.

Islam dan Kemuliaan Seorang Ibu

Jika kita menelaah Al-Qur’an, Allah seakan tak pernah bosan mengangkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bahkan ketika Allah melukiskan perjuangan ibu, kata yang digunakan bukanlah kata-kata manis, melainkan kata yang jujur, keras, dan mendalam:

“Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqmān: 14)

Bayangkan, Allah menegaskan bahwa ibu adalah pejuang. Bukan sekadar lemah, tetapi “lemah yang bertambah-tambah”. Meski begitu, mereka tetap melangkah. Tetap maju. Tetap menggendong harapan.

Rasulullah SAW pun pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Siapa orang yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.” “Lalu siapa?” “Ibumu.” Baru kemudian, “Ayahmu.”

Tiga kali. Bukan sekali. Seolah Rasulullah ingin memastikan: “Wahai manusia, jangan main-main dengan kemuliaan seorang ibu.”

Melihat kisah nyata ini, kita menjadi makin paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita. Perjuangan mereka bukan sekadar teori. Nyata. Berdarah-darah. Ada air mata, ada taruhan nyawa, dan ada cinta tulus yang tak pernah menuntut balas.

Ketika Pengorbanan Mengubah Cara Kita Memandang Ibu

Hal yang paling menyentuh dari kisah ini adalah bagaimana “lingkaran cinta” Allah bekerja. Mulai dari dokter yang sigap, keluarga yang menangis dalam doa, teman-teman yang setia menjaga, hingga orang-orang yang membantu tanpa diminta. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.

Dan sang ibu sendiri… meski kehilangan satu bagian tubuhnya, ia tidak kehilangan harapan. Ia belajar berdiri lagi. Belajar berjalan lagi. Semangatnya tumbuh bak cahaya kecil yang kian lama kian terang.

Dalam Islam, ada satu janji Allah yang sering kita dengar:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan janji pasti. Ibu dalam kisah ini adalah bukti nyata bagaimana Allah memberikan ujian besar pada bahu yang meski terlihat rapuh, namun sebenarnya sangat kokoh.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kisah ini mengajarkan kita banyak hal penting:

  1. Jangan pernah meremehkan pengorbanan ibu. Terkadang kita sibuk dan abai, merasa “Ah, Ibu kan kuat.” Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu rasa sakit apa yang telah ia lalui demi menghadirkan kita di dunia.

  2. Ujian hidup bukan akhir, melainkan awal babak baru. Kehilangan fisik mungkin memperlambat langkah kaki, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan langkah hati.

  3. Kasih ibu adalah bentuk cinta Allah di bumi. Itulah sebabnya rasanya selalu hangat, selalu sabar, dan selalu memaafkan.

Peluklah Ibu Selagi Bisa

Kita sering lupa bahwa setiap kali ada manusia lahir, ada seorang ibu yang bertarung nyawa demi membuka pintu dunia untuk anaknya. Kita hidup karena ia rela sakit. Kita tumbuh karena ia rela lelah. Maka, jika hari ini ibumu masih ada: Peluk dia. Cium tangannya. Ucapkan terima kasih.

Karena di balik setiap napas yang kita hirup hari ini, ada doa dan perjuangan seorang ibu yang mungkin tak terlihat mata, namun tak pernah berhenti mengalir sepanjang hidup kita.

Ibu: Kasih Sayang Tak Terbatas, Pengorbanan Tanpa Pamrih

Penulis: Bambang Sri Hartono*
Editor: Syam

Ibu adalah sosok luar biasa yang tak tergantikan dalam kehidupan setiap manusia. Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan istimewa—bahkan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Ia adalah perempuan tangguh yang dengan penuh cinta mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya tanpa pernah meminta imbalan apa pun.

Kasih sayang ibu sering digambarkan sebagai cinta yang paling tulus, tanpa syarat dan tanpa batas. Sejak dalam kandungan, ibu telah berbagi segalanya: dari makanan, tenaga, hingga rasa aman. Ia menahan rasa mual, kelelahan, bahkan nyeri yang tak terkira demi menjaga kehidupan yang sedang ia bawa dalam rahimnya.

Setelah anak lahir, ibu menjadi madrasah pertama. Dari lisan ibulah anak belajar kata pertama, dari pelukannya anak memahami rasa aman, dan dari teladannya anak mengenal nilai-nilai kehidupan. Semua ini dijalani dengan penuh keikhlasan, bahkan sering kali pengorbanannya luput dari perhatian.

Tak jarang, ibu rela terjaga malam demi menenangkan tangis bayi, menahan lapar demi anaknya makan lebih dulu, atau menunda keinginan pribadi demi kebutuhan keluarga. Gambaran ini tertuang indah dalam bait lagu klasik:
“Tak pernah kau minta apa-apa, hanya doa yang kau panjatkan…”
Begitu pula dalam syair Iwan Fals:
“Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu…”

Dalam sejarah Islam, kita mengenal kisah mengharukan dari Salamah Al-Farisi yang menggendong ibunya menempuh perjalanan panjang untuk menunaikan ibadah haji. Ia tidak mengeluh, tidak pula merasa terbebani. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, ini adalah bentuk rasa syukur dan bakti kepada ibunya yang telah menjaganya sejak kecil.

Sayangnya, kita sering menyadari betapa berharganya seorang ibu justru setelah kepergiannya. Padahal, membahagiakan ibu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: menyapanya melalui telepon, pulang menemuinya, atau sekadar mendengarkan ceritanya. Jangan tunggu sampai terlambat, karena kesempatan bisa hilang kapan saja.

Ada ungkapan bijak yang patut kita renungkan:
“Sehebat apa pun dirimu, jangan pernah lupa bahwa ada seorang perempuan yang melahirkanmu dengan perjuangan.”

Ibu adalah anugerah terbesar dalam hidup. Kasihnya tak terhingga, doanya selalu menyertai, dan harapannya sederhana: melihat anak-anaknya tumbuh dalam kebaikan. Sebagai anak, meski tak akan pernah sebanding, kita tetap punya tanggung jawab moral dan spiritual untuk berbakti, mendoakan, dan menyayanginya.

Terima kasih, Ibu. Aku tak akan pernah menjadi apa-apa tanpamu. Semoga Allah SWT senantiasa memberikanmu kesehatan, kebahagiaan, dan tempat terbaik di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*Dosen FEBI UIN Gus Dur Pekalongan

Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Anak

Penulis : Musyarofah Khoirunnisa, Editor : Amarul Hakim

Istilah “gadget” mengacu pada perangkat elektronik portabel atau perangkat elektronik kecil dengan fungsi khusus. Gadget biasanya berukuran kecil, portabel, dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk produktivitas, komunikasi, hiburan, dan akses informasi. Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah negara Cina, India, dan Amerika. Penggunaan gadget tidak hanya dinikmati oleh orang dewasa saja, tetapi anak-anak. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2022-2023, pengguna internet mencapai 215,63 juta pengguna, sedangkan jumlah penduduk Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik hingga pertengahan 2023 adalah 278,93 juta jiwa. Hal ini berarti sekitar 77% masyarakat Indonesia telah menggunakan internet. Dengan adanya internet, penyebaran informasi dan pendidikan ilmu pengetahuan lebih mudah dilakukan dan dapat menjangkau sasaran yang lebih luas. Sayangnya, dibalik dampak-dampak baik tersebut, muncul pula dampak buruk internet jika penggunaan tidak dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.

Menurut penelitian, saat ini anak berusia 8-10 tahun rata-rata menghabiskan waktu hampir 8 jam sehari menggunakan gadget. Sementara anak-anak dan remaja lebih besar usianya menghabiskan sekitar 11 jam per hari dengan media. Pengenalan gadget pada anak- anak yang terlalu cepat dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Seorang anak tidak akan peduli pada lingkungannya jika mereka sering menggunakan perangkat elektronik secara berlebihan dan tidak sesuai. Sifat tidak peduli seseorang terhadap keadaan di sekitarnya dapat menyebabkan mereka jauh dari temannya atau bahkan terasing di lingkungan sekitar.

Dilansir dari orangtuahebat.id (25 September 2023), BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2022 secara total ada 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gadget. Dengan pengguna anak berusia 0-4 tahun sebanyak 25,5% dan usia 5-6 tahun sebanyak 52,76%. Sedangkan total anak yang telah mengakses internet adalah 24,96% dengan pengakses usia 0-4 tahun sebanyak 18,79% dan anak usia 5-6 sebanyak 39,97%. Contoh kasus dari dampak negatif penggunaan gadget terhadap perkembangan anak yang dapat disebutkan adalah seorang anak berusia sekitar 6 tahun yang dibawa kerumah sakit karena tidak bisa membuka matanya akibat nonstop bermain gadget (suarabekaci.id, 26 Februari 2022), dalam kasus tersebut anak itu meringis kesakitan diatas tempat tidur IGD dengan mata terpejam, anak tersebut bermain gadget setiap hari secara nonstop tanpa henti bahkan setiap bangun tidur anak tersebut langsung mencari hp. 

Baca juga : Melindungi Anak dari Jerat Kekerasan: Dampak Penganiayaan dan Upaya Pencegahannya

Adapun kasus lainnya yaitu pada bulan Februari 2021, siswa SMP kelas 1 di Subang meninggal dunia karena kecanduan game dan jumlah pasien anak yang kecanduan gadget di RS Jiwa Cisarua Bandung Barat meningkat (detik.com, Minggu, 21 Maret 2021). Raden Tri Sakti (12), siswa SMP kelas 1 asal Desa Alam Jaya, Subang meninggal dunia dengan diagnosa mengalami gangguan syaraf. Pihak keluarga menyebutkan bahwa anak itu kecanduan bermain game online. Raden sempat dirawat selama di RS Siloam. Dokter yang merawatnya mengatakan gangguan saraf yang dideritanya itu karena radiasi telepon seluler. Sementara itu berdasarkan catatan RSJ Cisarua, Jawa Barat. Pada bulan Januari hingga Februari 2021 ada 14 anak mengalami kecanduan gawai yang menjalani rawat jalan. Sementara tahun 2020 dari bulan Januari sampai Desember total ada 98 anak yang menjalani rawat jalan gara-gara kecanduan gawai. Spesialis Psikiater Anak dan remaja RSJ Cisarua Lina Budianti mengatakan anak paling muda yang pernah menjalani perawatan jalan karena kecanduan gawai yakni usia 7 tahun. Dari kedua kasus ini kita bisa melihat bahwa orang tua perlu memberi pengawasan agar anak tidak terkena potensi bahaya dari gadget. Tanpa pengawasan orang tua, gadget dapat memengaruhi perkembangan anak.

Ada pro dan kontra yang tak kunjung selesai mengenai gadget dan anak. Di satu sisi, orang tua tidak ingin ketinggalan dalam hal teknologi. Namun di sisi yang lain, ada banyak dampak negatif secara fisik dan mental untuk perkembangan anak. Oleh karena itu, penggunaan gadget pada anak harus diimbangi dengan aktivitas lainnya seperti bermain diluar ruangan dan juga bersosialisai dengan orang di sekitar. Orang tua juga harus mengatahui bahwa gadget memiliki pengaruh berbeda-beda terhadap anak, sehingga orang tua harus lebih selektif dalam memberikan gadget pada anak mereka. Dengan melakukan hal tersebut, orang tua dapat membantu anak dalam menghindari beberapa efek dari penggunaan gadget yang berlebihan. Dampak positif dari penggunaan gadget :

Baca juga : Pentingnya Memilih Pondok Pesantren: Banyak Orang Tua Takut Memasukan Anak di Pondok Pesantren

  1. Mengasah keterampilan motorik anak

Anak-anak memperoleh keterampilan motorik saat bermain game di tablet atau gadget lainnya, yang melibatkan gerakan jari tangan, pergelangan tangan, lidah, bibir, dan jari kaki. Ini merupakan latihan bermanfaat bagi pertumbuhan mereka tanpa risiko cedera seperti bermain di luar.

2. Instrumen atau kelengkapan sekolah

Guru-guru modern menggunakan teknologi untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan menciptakan pengalaman baru bagi siswa. Hal ini meliputi cara- cara untuk menjangkau siswa, memperluas konsep, dan memotivasi mereka.

3. Peningkatan Keterampilan Kognitif melalui Teknologi

Berbagai permainan dan program edukatif di perangkat elektronik membantu meningkatkan keterampilan kognitif anak-anak, seperti memproses informasi, mengingat, dan memecahkan masalah, melalui teka-teki, gambar, dan program edukatif.

Baca juga : Mengupas Dampak Kasus Bullying pada Kesehatan Mental Anak: Tantangan dan Solusi

4. Pengembangan Kemampuan Pemecahan Masalah

Penggunaan teknologi kadang memunculkan masalah yang mengharuskan anak-anak mencari solusi, membantu mereka belajar membuat keputusan dan memecahkan masalah dengan bijaksana, yang pada gilirannya menghasilkan prestasi yang signifikan.

Dampak negatif dari penggunaan gadget:

  1. Gangguan Konsentrasi akibat Gadget

Penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan bisa memicu gangguan konsentrasi, seperti ADHD, membuat anak sulit fokus dan mudah terganggu. Hal ini dapat mengganggu kinerja di sekolah atau lingkungan sekitar.

2. Masalah Interaksi Sosial

Anak-anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial secara langsung, lebih suka berkomunikasi melalui pesan teks atau media sosial daripada berbicara langsung.

3. Gangguan dalam Proses Belajar

Penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengganggu waktu belajar anak, mengakibatkan kurangnya waktu untuk belajar dan mempengaruhi hasil akademis mereka.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

4. Bullying dan Depresi

Anak-anak rentan terhadap cyberbullying dan risiko depresi akibat penggunaan gadget yang berlebihan dan akses mudah ke media sosial, memerlukan intervensi kesehatan mental yang tepat.

5. Peningkatan Risiko Obesitas

Anak-anak yang banyak bermain gadget cenderung kurang bergerak dan beraktivitas fisik, meningkatkan risiko obesitas pada mereka.

6. Keterlambatan Bicara

Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan keterlambatan bicara pada anak-anak karena kurangnya interaksi sosial dan komunikasi langsung dengan orang tua dan lingkungan sekitar.

Sangat penting untuk mempertimbangkan dengan cermat dampak yang berbeda dari penggunaan gadget pada anak-anak. Alat ini memungkinkan pembelajaran interaktif, pengembangan fungsi adaptif, dan perkembangan motorik dan kognitif, tetapi juga dapat menghambat perkembangan bicara dan bahasa anak. Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam mengawasi penggunaan perangkat oleh anak-anak mereka. Pemahaman bahwa perangkat elektronik adalah alat yang dapat digunakan dengan benar sangat penting di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital. Melakukan pemantauan, mengatur waktu layar, dan mengawasi konten yang sesuai dapat meningkatkan manfaat penggunaan perangkat sambil mengurangi hambatan dan dampak negatifnya.

Tren Crosshijaber di Media Sosial dalam Perspektif Agama Islam

Penulis: Rizqi Lutfiyani, Editor: Ryuu Pangestu

Busana merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang bahannya terbuat dari bahan-bahan tertentu untuk menutupi sekujur tubuh atau segala sesuatu dipakai, dari  bagian atas kepala hingga ujung kaki. Juga memberikan sebuah kenyamanan serta tampilkan keindahan bagi pemakai seperti pakaiann, aksesoris, atapun riasan wajah. Adapun fungsinya diantaranya ada bisa melingdungi dari berbagai macam cuaca, benda berbahaya, menutupi aurat sesuai ajaran gama atau budaya masing-masing, meningkatkan kepercayaan diri agar tampil lebih baik, dan utamanya membedakan identitas gender antara laki-laki maupun perempuan.

Ditambah seiringnya kemajuan pesat teknologi yang tak bisa dikendalikan, salah satunya media sosial. Saat ini apa saja untuk mencari sebuah informasi dan lain sebagainya sangatlah cepat dengan menggunakan ponsel kemudian bisa berselancar di dalamnya seluasa mungkin. Trend sekarang ini tentunya banyak sekali bermuculan mulai dari trend fashion, trend konten dan lainnya. Semua platform memiliki trendnya berbeda-beda bahkan akan muda di ikuti oleh kalangan lain. Pengguna media yang banyak lantas membawa berbagai trend baru yang mulai bermunculan. Namun tak selamanya trend itu berdampak positif ada pula trend yang membawa dampak negatif bagi diri sendiri atau bahkan orang lain.

Diantaranya ada trend yang sedang marak tersebar yaitu crosshijaber, mungkin sebagai kalangan tidak sadar telah mengikuti trend tersebut. Crosshijaber memiliki arti dimana lelaki memakai pakaian perempuan dengan menutupi wajahnya dengan menggunakan cadar agar tidak diketahui identitasnya. Perlu diingat kembali tujuan dari menyerupai hal-hal tersebut. Padahal Crossshijaber yang dilakukan bisa menyebabkan seseorang secara tidak langsung berbuat yang tidak diinginkan, seperti melecehkan perempuan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Menguak Misi Terselubung: Strategi Israel dalam Konflik Palestina

Hal itu berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang sekitar, dengan lelaki menyerupai perempuan bisa menjadi faktor masalah lain. Bisa saja seorang perempuan akan merasa tidak nyaman disekitarnya. Selain itu, dengan Crosshijaber seorang lelaki akan mudah melecehkan perempuan. Oleh karena itu kita harus waspada dan hati-hati kepada penampilan seseorang. Jangan biarkan hal itu menjadi kebiasaan.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan tentang larangan menyerupai lawan jenis:

Surat An-nisa ayat 119

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلْأَنْعَـٰمِ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيْطَـٰنَ وَلِيًّۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًۭا مُّبِينًۭا

Artinya: Dan aku pasti akan menyesatkan mereka, dan pasti akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan pasti akan menyuruh mereka (untuk memotong telinga binatang ternak; dan pasti akan menyuruh mereka (untuk mengubah ciptaan allah).

Dengan adanya peringatan dari surat yang ada di Al-Qur’an tersebut, perlu kita belajar lagi agar bisa memahami kaidah-kaidah penting dalam islam. Mana yang baik dan buruk agar tidak salah dalam bertindak. Boleh-boleh saja jika lelaki memakai gamis (koko gamis), tetapi tidak dengan hijab dan cadar karena itu akan membuat ketidak nyamanan seorang perempuan.

Baca Juga: Semarak Tren Fashion Muslimah di Era Digital: Memadukan Gaya Modern dengan Nilai Syar’i

Selain itu, fenomena crosshijabers ini menuai banyak kritikan dari masyarakat luas. Ada pula orang-orang tak bertanggung jawab memanfaatnya untuk hal-hal negatif atau hanya sekedar memuaskan nafsu akan penasaran sama busana wanita muslim, juga beberapa kasus yang memviralkan jagat maya seperti berita seorang laki-laki menyamar menjadi seorang wanita hanya untuk bisa masuk ke toilet wanita, ikut sholat barisan perempuan hingga parahnya menerobos masuk ke salah satu pondok pesantren. Dengan hal ini, banyak sekali dari mereka menjadi selalu waspada terutama di tempat umum agar tidak terjadi yang tak diinginkan.

Menyoroti Bahaya Bermain Game Online Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Dan Sosial

Penulis: Muhammad Nadhiful Akmal, Editor: Tegar Dwi Pangestu

Seperti yang kita ketahui bermain game sangat menghibur dikala sedang istirahat namun ada satu kasus berada dikalangan anak-anak yang bermain game online hingga mengakibatkan kekerasan. Termasuk salah satunya kejadian yang dialami siswi SMK di bogor berinisial AYNCR biasa dipanggil N. (TribunNewsBogor.com., Senin, 3 Juni 2024 11:27 WIB).

Kasus ini masih menjadi bahan perbincangan warga bogor. Berdasarkan ceritanya, Polisi pernah menjemput salah satu mahasiswa di Malang, Jawa Timur yang diduga ternyata menemukan percakapan N dengan mahasiswa tersebut. Mahasiswa tersebut bahkan sempat menjadi saksi dalam kasus N bogor. Mahasiswa itu diperiksa atas hubungannya dengan korban. Korban yang berusia 18 tahun ini tewas ditusuk di gang kecil arah Jalan Riau. Sampai saat itu polisi sama sekali tak menangkap pelakunya. Padahal menurut ayah korban, polisi telah menyita HP, laptop, hingga buku harian korban. Ayah korban mengatakan polisi telah menemukan percakapan jejak korban di sebuah game onlinenya. Korban melakukan percakapan dengan seseorang yang berasal dari Malang, Jawa Timur.

Polisi menemukan percakapan antara N dan seseorang dari Malang di game tersebut sebelum kematiannya. Orang tersebut ternyata pernah ke Bogor untuk menemui pacarnya di Cibinong, bukan N. Hingga kini, polisi tidak menemukan bukti lain di ponsel korban yang mengarah pada keterlibatan orang itu sebagai pelaku. Kasat Reskrim Polresta Bogor menyatakan bahwa mereka masih mencari bukti tambahan untuk menguatkan penyelidikan dan menetapkan tersangka. Selama lima tahun, polisi telah memeriksa 34 saksi, tetapi belum ada bukti kuat untuk menetapkan tersangka.

Baca Juga: Program Sekolah Ramah Anak (SRA) Dan Kontribusi Pemerintah Dalam Menurunkan Tingkat Kekerasan Terhadap Anak Di Indonesia

Dari kasus diatas ada keterkaitan dengan informasi yang dikutip dari detiknews.com satu bulan yang lalu bahwa pemerintah ancam blokir game yang mengandung kekerasan. Dalam hal ini pemerintah memberikan solusi seperti mengancam akan diblokir game yang mengandung kekerasan dengan mengatakan “bisa saja ada pemblokiran jika tidak sesuai dengan klasifikasi permenkominfo tersebut. Terutama untuk konten-konten yang mengandung kekerasan, perilaku konten yang mengandung kekerasan, perilaku seksual yang menyimpang, bahkan judi online,” ujar Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Nahar dalam keterangan yang diterima, Senin (22/4/2024)

Bermain game online dapat menjadi hiburan yang menyenangkan, tetapi kita juga perlu menyadari bahayanya. Dampaknya terhadap kesehatan mental dan sosial bisa sangat merugikan jika tidak diatur dengan baik. Ketergantungan pada game online dapat mengganggu keseimbangan hidup, memicu isolasi sosial, dan bahkan menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Oleh karena itu, penting untuk membatasi waktu bermain, menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline, serta memastikan bahwa permainan yang dimainkan tidak mengandung konten yang merusak.

Selain itu, bermain game online juga dapat menimbulkan risiko keamanan dan privasi. Banyak game online yang meminta informasi pribadi dari pemain, dan jika tidak diatur dengan hati-hati, informasi tersebut bisa disalahgunakan. Selain itu, ada risiko terlibat dalam perilaku yang tidak etis atau ilegal dalam game online, seperti penipuan atau pelecehan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mempertimbangkan dampak potensial dan mengambil langkah- langkah perlindungan yang tepat saat bermain game online.

Juga bisa mempengaruhi fisik. Terlalu banyak duduk dan kurang aktivitas fisik dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas, nyeri punggung, dan gangguan postur. Dari sisi perkembangan pribadi, waktu yang berlebihan di depan layar dapat menghambat keterampilan hidup penting seperti manajemen waktu, tanggung jawab, dan produktivitas. Pendekatan yang seimbang dan bijaksana dalam bermain game sangat diperlukan, termasuk batasan waktu dan diversifikasi aktivitas harian untuk memastikan kesehatan mental, sosial, dan fisik yang optimal.

Baca Juga: Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Berdasarkan penjelasan di atas dapat di ambil pelajaran bahwa masyarakat dan keluarga harus lebih sadar akan tanda-tanda ketergantungan dan menyediakan dukungan yang diperlukan untuk mendorong interaksi sosial yang sehat dan keterlibatan dalam kegiatan fisik. Program pendidikan dan kampanye kesadaran dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang bahaya potensial dan cara mengelolanya. Pemerintah dan penyedia layanan game juga memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan penggunaan yang sehat melalui regulasi dan fitur yang membatasi penggunaan berlebihan. Dengan demikian, kita dapat menikmati manfaat hiburan dari game online tanpa mengorbankan kesehatan mental dan sosial. Dalam lingkungan sekolah perlu menyediakan guru bk yang berada dalam sekolah tersebut ikut serta mengamati kegiatan yang dilakukan oleh siswa siswinya agar hal ini tidak menimbulkan kejadian itu terulang kembali.

Meniti Cahaya Kesetaraan Perjalanan Anak-Anak dalam Memahami Ajaran Islam

Penulis : Hilda Rara Sari, Editor : Kharisma Shafrani

Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan bagi setiap individu, termasuk anak-anak dan dalam konteks gender. Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan dianggap setara di hadapan Allah dalam hal nilai, hak, dan kewajiban. Meskipun ada perbedaan biologis, Islam menegaskan bahwa perbedaan gender tidak menjadikan seseorang lebih superior atau inferior dari sisi spiritual atau keadilan. Kedua jenis kelamin memiliki hak yang sama dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, dan berbagai aspek kehidupan.

Cerita ini mengisahkan tentang sekelompok anak-anak yang tumbuh di Desa Al-Hikmah, tempat nilai-nilai Islam sangat kental. Di antara mereka ada Amir, seorang anak laki-laki yang penuh semangat, penasaran tentang ajaran agama. Ada juga Aisha, seorang anak perempuan yang cerdas dan bermimpi tinggi. Desa Al-Hikmah terletak di lereng bukit yang hijau, dikelilingi oleh sawah yang subur dan hamparan pegunungan yang indah. Masjid megah dan pesantren adalah pusat kegiatan pendidikan dan keagamaan bagi anak-anak di desa ini. Budaya dan tradisi Islam tercermin dalam setiap sudut kehidupan sehari-hari mereka.

Cerita dimulai saat Amir dan Aisha terinspirasi dari pelajaran agama, mereka mulai mempertanyakan peran gender dalam Islam. Mereka berdiskusi dengan guru-guru mereka, melakukan riset, dan berbicara dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk memahami lebih dalam tentang kesetaraan yang diajarkan oleh agama mereka. Di sepanjang perjalanan ini, mereka menemukan pandangan masyarakat yang terkadang keliru tentang hak-hak gender. Melalui interaksi mereka dengan tokoh-tokoh desa, kedua anak ini mulai memahami bahwa ajaran Islam menekankan kesetaraan hak dan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan. Mereka menyadari bahwa perbedaan gender tidak boleh menjadi alasan untuk ketidakadilan, dan bahwa nilai-nilai agama menekankan pentingnya perlakuan yang adil bagi semua.

Akhir cerita menampilkan Amir dan Aisha berkomitmen untuk menjadikan pemahaman baru mereka sebagai pedoman hidup. Mereka memimpin inisiatif untuk menciptakan lingkungan di desa yang menerapkan nilai-nilai kesetaraan gender yang diajarkan oleh agama mereka. Bersama teman-teman mereka, mereka memulai kampanye pendidikan dan kegiatan sosial yang mempromosikan kesetaraan dan keadilan bagi semua. Naskah ini menggambarkan perjalanan anak-anak dalam memahami ajaran Islam tentang kesetaraan gender. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga bertindak sebagai agen perubahan dalam masyarakat mereka, mempraktikkan nilai-nilai agama mereka dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua.

Mengatasi Trauma Masa Lalu: Pentingnya Perawatan Mental dan Fisik

Penulis: Mufidatul ‘Ulya, Editor: Muhamad Nurul Fajri

Kesehatan mental dan kesehatan fisik menjadi dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menjaga kedua kondisi ini tetap dalam keadaan optimal, misalnya dengan rutin berolahraga atau mengelola stres dengan baik. Berbagai gangguan kesehatan mental, nyatanya dapat terjadi akibat kondisi stres yang tidak dapat diatasi dengan baik, salah satunya adalah gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merupakan kondisi dimana pengidapnya memiliki pola pikir dan juga perilaku yang tidak sehat serta berbeda dengan kebanyakan orang lain. Gangguan ini termasuk dalam kategori penyakit mental, sehingga menyebabkan pengidapnya akan kesulitan dalam berinteraksi dengan sosial. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kepribadian?

Mulai dari trauma hingga adanya gangguan pada otak. Umumnya, gejala gangguan kepribadian akan sering dialami oleh para remaja hingga orang-orang yang baru saja memasuki usia dewasa. Pengidap gangguan kepribadian biasanya akan mengalami kesulitan untuk membangun hubungan sosial, membuat interaksi dengan banyak orang, sering memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, hingga mengalami gangguan kecemasan.

Lalu, apa yang menyebabkan seseorang alami gangguan kepribadian? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang alami kondisi ini, misalnya adanya riwayat keluarga dengan kondisi gangguan ini, sehingga kamu akan rentan mengalami hal yang serupa. Tidak hanya itu, kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko seseorang alami gangguan kepribadian.

Trauma masa lalu adalah pengalaman emosional, yaitu ketidakmampuan seseorang, untuk melepaskan diri dari memori negatif di masa lalu. Umumnya, trauma masa lalu terjadi karena sejumlah kejadian yang tidak menyenangkan. Contohnya, yaitu masa kecil yang tidak bahagia, kecelakaan, kematian anggota keluarga, hingga mengalami perundungan dari orang lain.

Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental, fisik, dan emosional. Apalagi jika hal-hal tertentu membuat seseorang merasa terpicu akan trauma masa lalunya. Akibatnya, seseorang yang memiliki trauma masa lalu dapat mengalami syok, sedih, panik, sebagai respons dari pikirannya. Kondisi ini memang tidak dapat disepelekan, dan perlu segera mendapatkan penanganan.

Tips yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi trauma masa lalu:
1. Menceritakannya kepada orang terdekat. tips pertama, yaitu menceritakan trauma masa lalu kepada orang terdekat ketika sudah siap.

2. Hadapi perasaanmu, menghindari pemicu atau ingatan tentang peristiwa traumatis di masa lalu dengan tidur sepanjang waktu, mengisolasi diri, memang hal yang wajar. Kendati demikian, hal ini tidak dapat dilakukan secara terus-menerus. Sebab, semakin lama seseorang menghindar, hal ini dapat memperpanjang stres dan membuat seseorang tak kunjung pulih. Karena itu, secara bertahap, hadapilah perasaan yang dimiliki. Selain itu, cobalah untuk kembali ke rutinitas normal secara bertahap, dan meminta dukungan orang terdekat, atau psikolog.

3. Bersabar, tips selanjutnya yang perlu kamu terapkan adalah bersabar. Ingatlah bahwa memiliki reaksi atau respon keras terhadap peristiwa traumatis sangatlah normal. Namun, kamu juga perlu menghadapinya agar hal tersebut tidak membuatmu terpuruk. Lakukan secara perlahan, meskipun memang tidak mudah. Artinya, kamu perlu bersabar dan berdamai dengan diri sendiri, karena seiring waktu keadaanmu akan membaik. Untuk melakukannya, hal pertama adalah mengidentifikasi teman atau anggota keluarga yang dapat kamu percaya, untuk mencari dukungan. Ketika sudah merasa siap untuk menceritakannya, kamu bisa memberitahu pengalaman dan perasaanmu terkait trauma. Selain menceritakan, kamu juga dapat mencari dukungan kepada orang terdekat untuk membantu menyelesaikan kewajiban atau tugas rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stres yang timbul. Trauma juga bisa datang akibat kekerasan dalam rumah tangga dalam usia terlalu dini.

4. Menerapkan perawatan diri, Cara ini membantu mengurangi tingkat stres, sehingga perlu dapat membantu pemulihan dari trauma masa lalu. Nah, perawatan diri dapat diterapkan melalui hal-hal yang terasa baik dan mencintai diri sendiri. Contohnya, yaitu melakukan ‘me time’, mandi lebih lama, hingga melakukan berbagai kegiatan positif yang kamu sukai, seperti membaca buku atau menonton film.