Belajar Qanaah: Menemukan Ketenangan dalam Rasa Syukur

Nama: Marchella Dika Aristawidya, Editor: Muslimah

Pernahkah kita membuka media sosial, lalu melihat teman sedang liburan, membeli barang baru, nongkrong di tempat yang sedang viral, atau mengikuti tren terbaru? Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tetapi tanpa sadar muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama. Padahal, sebelumnya kita tidak terlalu membutuhkan hal tersebut. Perasaan takut tertinggal dari orang lain inilah yang sering disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

FOMO menjadi salah satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. Media sosial membuat kita dapat melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. Kita melihat pencapaian, gaya hidup, perjalanan, hingga kebahagiaan orang lain melalui layar. Akibatnya, terkadang kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang ditampilkan orang lain.

Baca juga: Ketika Spiritualitas Tak Perlu Dipamerkan: Belajar Esensi Waisak dari Aliran Theravada

Misalnya, ketika melihat teman membeli pakaian baru, kita ikut ingin membeli. Ketika ada tempat makan yang sedang viral, kita merasa harus mencobanya. Bahkan, ketika melihat teman-teman berkumpul tanpa kita, muncul perasaan takut ketinggalan momen. Padahal, belum tentu semua hal yang dilakukan orang lain memang kita butuh kan.

Di sinilah konsep qanaah dalam Islam menjadi menarik untuk direnungkan. Qanaah dapat dipahami sebagai sikap merasa cukup terhadap apa yang telah diberikan Allah Swt., disertai dengan rasa syukur dan tetap berusaha. Qanaah bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki keinginan atau bercita-cita. Sebaliknya, kita tetap boleh berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tetapi tidak menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai ukuran kebahagiaan kita. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa rasa syukur memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang muslim. Ketika kita terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain, kita bisa lupa memperhatikan nikmat yang sebenarnya sudah kita miliki.

Menurut saya, FOMO tidak selalu buruk. Keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika FOMO membuat kita kehilangan kendali. Kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. Kita pergi ke suatu tempat bukan karena ingin menikmati pengalaman, tetapi hanya karena ingin mengunggahnya ke media sosial. Bahkan, terkadang kita memaksakan diri hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi cara kita memandang kebahagiaan. Kita mulai menganggap bahwa bahagia berarti memiliki barang terbaru, pergi ke tempat tertentu, atau mendapatkan banyak perhatian. Padahal, kebahagiaan tidak selalu harus terlihat di media sosial.

Qanaah mengajarkan kita untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Bukan berarti kita harus berhenti memiliki impian, tetapi kita belajar menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik. Kita boleh ingin memiliki ponsel baru, tetapi tidak perlu merasa rendah diri hanya karena ponsel kita berbeda dengan milik teman. Kita boleh ingin berlibur, tetapi tidak perlu merasa kehidupan kita gagal hanya karena belum bisa mengunjungi tempat yang sedang viral.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial juga belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan. Kita hanya melihat bagian yang ingin ditampilkan, bukan seluruh cerita di baliknya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri sebelum mengikuti sesuatu, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya takut ketinggalan?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Menjadi qanaah di tengah budaya FOMO memang tidak mudah. Kita hidup di zaman ketika tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa belajar untuk merasa cukup. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri, menggunakan media sosial dengan bijak, dan memperbanyak rasa syukur dapat menjadi langkah sederhana untuk melatih qanaah.

Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk merasa bahagia. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua hal yang viral harus dimiliki. Sebab, terkadang kebahagiaan bukan tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang belajar menghargai apa yang sudah ada.

Jadi, ketika FOMO mulai muncul, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mengingat kembali qanaah. Bukan karena kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi karena kita tidak ingin kehilangan rasa syukur hanya demi mengejar apa yang dimiliki orang lain.

 

Hijrah di Era Digital: Antara Tren dan Kesadaran

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di era digital seperti sekarang, istilah hijrah semakin sering kita dengar, terutama di kalangan anak muda. Kata hijrah tidak hanya muncul dalam kajian atau ceramah, tetapi juga banyak ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Berbagai konten tentang hijrah, mulai dari cara berpakaian, memperbaiki ibadah, hingga meninggalkan kebiasaan buruk, semakin mudah ditemukan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan, apakah hijrah yang dilakukan benar-benar berasal dari kesadaran diri atau hanya mengikuti tren?

Pada dasarnya, hijrah memiliki makna yang luas. Hijrah bukan sekadar mengubah penampilan, tetapi juga tentang usaha seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Swt. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki salat, menjaga perkataan, menghormati orang tua, meninggalkan kebiasaan buruk, serta berusaha menjaga hubungan dengan sesama.

Baca juga:

Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang baik untuk membantu seseorang dalam proses hijrah. Saat ini banyak ustaz, pendakwah, dan kreator konten Islam yang membagikan ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi muda. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat mendengarkan kajian, membaca ayat Al-Qur’an, maupun mendapatkan pengingat tentang ibadah.

Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain. Tren hijrah di media sosial terkadang membuat seseorang lebih fokus pada penampilan daripada perubahan sikap. Misalnya, seseorang terlihat lebih religius dari luar, tetapi masih mudah marah, suka merendahkan orang lain, atau tidak menjaga perkataannya. Padahal, perubahan dalam hijrah seharusnya tidak hanya terlihat dari luar, tetapi juga tercermin melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan usaha dari dalam diri. Hijrah seharusnya dilakukan karena kesadaran untuk memperbaiki diri, bukan hanya karena ingin mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan tren hijrah selama tren tersebut membawa seseorang kepada kebaikan. Yang perlu diperhatikan adalah niat dan prosesnya. Jangan sampai hijrah hanya menjadi identitas di media sosial, tetapi tidak memberikan perubahan dalam kehidupan nyata.

Generasi muda juga tidak perlu merasa bahwa hijrah harus dilakukan secara langsung dan sempurna. Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang mulai dengan memperbaiki salat, ada yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, dan ada pula yang mulai belajar agama secara perlahan. Yang terpenting adalah terus berusaha dan tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, hijrah bukan tentang siapa yang terlihat paling religius, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Di tengah perkembangan teknologi dan kuatnya pengaruh media sosial, generasi muda perlu menjadikan media digital sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu dan menyebarkan kebaikan.

Hijrah seharusnya bukan sekadar tren yang muncul dan hilang, tetapi sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah Swt. Karena perubahan yang paling penting bukan hanya yang terlihat oleh manusia, melainkan perubahan yang tumbuh dari hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Media Sosial dan Mindset: Renungan dalam Perspektif Islam

Penulis: Dely Lutfia Ananda, Editor: Azzam Nabil H.

Pertumbuhan teknologi di era globalisasi semakin pesat. Banyak platform yang bermunculan dan mempercepat penyebaran informasi di era saat ini yang salah satunya adalah platform media sosial. Melalui media sosial, seseorang dapat membagikan tanggapan, pengalaman, bahkan aktivitasnya secara langsung (live) hanya dengan satu kali klik. Kemudahan dalam mengakses dan membagikan segala informasi inilah yang kemudian dapat menjadi sebuah tren.

Namun demikian, di balik fleksibilitas dan aksesibilitas platform media sosial saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah menjadi layaknya “teman hidup” bagi kita. Melalui media sosial, seseorang dapat berbagi budaya, ilmu pengetahuan, atau bahkan dapat menjadi ladang monetisasi bagi mereka yang dapat mengarah pada perbaikan kualitas hidup. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa tren yang berkembang di media sosial memengaruhi perubahan budaya di masyarakat, entah dari segi positif maupun negatif. Seringkali konten-konten sederhana yang disisipi quotes dan lagu catchy sudah mampu menyentil jempol kita untuk menekan “like”. Tentu bukan sebuah masalah, tetapi esensinya terletak pada kecenderungan masyarakat sekarang yang sering menjadikan opini sebagai fakta, tren viral sebagai standar, dan mengabaikan analisis kritis. Demi konten fyp yang mendapat banyak perhatian, banyak content creator rela melakukan apa saja tanpa memedulikan etika dan aturan bermedia sosial.

Oleh sebab itu, content creator dan pengguna media sosial perlu mengontrol waktu penggunaan media sosial serta mengurangi hal yang berlebih-lebihan dalam bermedia sosial, atau yang dalam Islam disebut sebagai Israf.

Baca juga: Citra Vs Realitas: Gen Z Berdarah-Darah Bangun Citra di Media Sosial?

Islam sebagai agama yang memiliki prinsip Rahmatan lil ‘Alamin menghendaki umatnya untuk menebarkan kasih sayang dan kedamaian di alam semesta. Ini tidak hanya mencakup perbuatan yang berhubungan langsung dengan manusia, tetapi juga perilaku tidak langsung seperti aktivitas bermedia sosial. Dalam Al-quran pada Surat Al-A’raf ayat 31 terdapat istilah israf yang merujuk pada arti berlebih-lebihan atau melampaui batas yang menimbulkan kemudharatan. Dalam bermedia sosial, pengguna seringkali lupa waktu saking asyiknya berselancar di internet; menghabiskan waktu berjam-jam tanpa mengerjakan sesuatu yang ada artinya. Israf tidak disukai dan dicela Allah karena merugikan diri sendiri.

Dikutip dari website NU Online, Imam Nawawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memberikan peringatan tentang betapa pentingnya waktu dalam Surat Al-‘Ashr. Waktu adalah salah satu karunia terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia, menjadi peluang berharga yang harus dimanfaatkan dengan baik dan tidak disia-siakan.

Disamping itu, sebagai bentuk penyebaran informasi yang menerapkan nilai moral yang diajarkan dalam Islam, maka kejujuran, menghindari ghibah, dan senantiasa mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat sudah seharusnya diterapkan oleh para pengguna media sosial. Sebab, media sosial seringkali dijadikan tempat penyebaran hoaks dan ghibah. Laman Kementrian Kominfo menyebut, setidaknya ada 1.615 konten hoaks yang beredar di website dan platform digital selama tahun 2023 yang telah ditangani oleh Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika dan Kementrian Kominfo. Isu hoaks yang beredar paling banyak berkaitan dengan isu kesehatan, kebijakan pemerintah, politik, dan penipuan. Fakta ini memprihatinkan, mengingat hampir dari setengah populasi di Indonesia adalah pengguna media sosial, termasuk banyak anak-anak di bawah umur yang rentan terpapar informasi tanpa kemampuan filterisasi yang memadai (datareportal.com).

Baca juga: Strategi dan Media Dakwah di Era Digital

Hoaks yang merupakan informasi palsu disebarkan untuk memanipulasi dan menipu orang, sepadan dengan istilah kadzab dalam Bahasa Arab yang artinya dusta dan ‘ifk yang bermakna keterbalikan (Sirajuddin, 2018: 29). Hoaks bukanlah sesuatu yang sepele di mata Allah dan para penyebar hoaks atau berita bohong akan mendapatkan dosa dan balasan pedih di akhirat, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat An-Nur ayat 15 dan 19 yang berarti: (Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar (QS. An-Nur[24]:15).

Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nur[24]:19).

Allah memerintahkan umat Islam untuk ber-tabayyun, yakni meneliti kebenaran dari informasi yang didapat agar tidak mencelakakan suatu kaum (Surat Al-Hujurat ayat 6). Sebelum menyebarkan suatu informasi kepada orang lain, tidak peduli betapa terlihat meyakinkannya kabar tersebut, perlu untuk memverifikasi dari sumber yang tepercaya dan faktual.

Baca juga: Transformasi Sosial dan Revolusi Digital: Dampaknya Pada Pendidikan dan Tenaga Kerja di Masa Depan

Hoaks dan ghibah saling berhubungan karena keduanya melibatkan kebohongan yang dapat merugikan pihak lain. Ghibah mengacu pada tindakan membicarakan hal-hal yang tidak disukai seseorang di belakangnya, sementara hoaks sering kali memuat kebohongan yang berpotensi menjadi bagian dari perilaku tersebut. Menggunjing di media sosial tidak jauh buruknya dengan menggunjing di dunia nyata, apalagi dunia maya merekam jejak digital penggunanya serta menimbulkan kerusakan yang besar. Bahkan, pelaku ghibah diibaratkan oleh Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, seperti memakan bangkai saudaranya sendiri dan Allah melarang perbuatan tersebut dengan larangan yang keras.

Lebih jauh, menurut Hadist At-Tabrani, dilansir dari laman NU Online memaparkan bahwa dosa ghibah dapat lebih berat dari dosa berzina.

عَنْ جَابِرِبْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، وَاَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  اِيَّاكُمْ وَالْغَيْبَةَ، فَاِ نَّ الْغَيْبَةَ اَشَدُّ مِنَ الزِّنَا, قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، كَيْفَ الْغَيْبَةُ اَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: الرَّجُلُ يَزْنِي فَيَتُوْبُ، فَيَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِ، وَاِنَّ صَا حِبَ الغَيْبَةِ لاَ يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ. رواه الطبران فى الاوسط وفيه عباد بن كثير الثقفى وهو متروك

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dan Abi Sa’id Al-khudri, keduanya berkata: Rasulullah bersabda: Takutlah kalian semua terhadap ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dosanya daripada berzina. Lalu Rasulullah ditanya: Bagaimana bisa ghibah lebih berat dosanya daripada zina? Beliau menjawab: Sesungguhnya seorang laki-laki terkadang berzina kemudian ia bertaubat, maka Allah langsung menerima taubatnya, sedangkan orang yang menggunjing itu tidak akan diampuni dosanya sampai orang yang digunjing sudi mengampuninya (HR. At-Tabrani dalam Al-Ausath dan dalam sanadnya terdapat ‘Ubad bin Ktsir As-tsaqofi dan dia ini matruk, Sumber: Kitab Majma’ Zawaid: 8/92).

Baca juga: Menjaga Lidah, Prinsip Moral yang Universal

Selain menghindari hoaks dan ghibah, sebagai Muslim, perlu juga untuk memahami konsep qaul sadid. Qaul sadid dapat diartikan sebagai perkataan yang benar dan tepat, tepat baik waktu pengguunaanya maupun tempat dimana itu digunakan (Sulkifli & Muhtar, 2021:75). Komentar dan opini di media sosial, harus memiliki dasar kebenaran, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan fitnah atau kesalahpahaman. Itu juga berarti tidak menggiring opini publik terhadap informasi yang tidak jelas tingkat kerelevannya.

Media sosial adalah alat yang dapat membawa manfaat atau mudarat, tergantung bagaimana penggunanya. Islam memberikan panduan agar umatnya dapat bermedia sosial dengan bijak, menghindari keburukan seperti ghibah, hoaks, dan israf serta menjadikannya sebagai sarana kebaikan. Dengan memahami nilai-nilai ini, seorang muslim dapat tetap berpegang teguh pada ajaran Islam dalam dunia digital dan menjadikan aktivitas bermedia sosial sebagai sesuatu yang bernilai.

Tren Crosshijaber di Media Sosial dalam Perspektif Agama Islam

Penulis: Rizqi Lutfiyani, Editor: Ryuu Pangestu

Busana merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang bahannya terbuat dari bahan-bahan tertentu untuk menutupi sekujur tubuh atau segala sesuatu dipakai, dari  bagian atas kepala hingga ujung kaki. Juga memberikan sebuah kenyamanan serta tampilkan keindahan bagi pemakai seperti pakaiann, aksesoris, atapun riasan wajah. Adapun fungsinya diantaranya ada bisa melingdungi dari berbagai macam cuaca, benda berbahaya, menutupi aurat sesuai ajaran gama atau budaya masing-masing, meningkatkan kepercayaan diri agar tampil lebih baik, dan utamanya membedakan identitas gender antara laki-laki maupun perempuan.

Ditambah seiringnya kemajuan pesat teknologi yang tak bisa dikendalikan, salah satunya media sosial. Saat ini apa saja untuk mencari sebuah informasi dan lain sebagainya sangatlah cepat dengan menggunakan ponsel kemudian bisa berselancar di dalamnya seluasa mungkin. Trend sekarang ini tentunya banyak sekali bermuculan mulai dari trend fashion, trend konten dan lainnya. Semua platform memiliki trendnya berbeda-beda bahkan akan muda di ikuti oleh kalangan lain. Pengguna media yang banyak lantas membawa berbagai trend baru yang mulai bermunculan. Namun tak selamanya trend itu berdampak positif ada pula trend yang membawa dampak negatif bagi diri sendiri atau bahkan orang lain.

Diantaranya ada trend yang sedang marak tersebar yaitu crosshijaber, mungkin sebagai kalangan tidak sadar telah mengikuti trend tersebut. Crosshijaber memiliki arti dimana lelaki memakai pakaian perempuan dengan menutupi wajahnya dengan menggunakan cadar agar tidak diketahui identitasnya. Perlu diingat kembali tujuan dari menyerupai hal-hal tersebut. Padahal Crossshijaber yang dilakukan bisa menyebabkan seseorang secara tidak langsung berbuat yang tidak diinginkan, seperti melecehkan perempuan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Menguak Misi Terselubung: Strategi Israel dalam Konflik Palestina

Hal itu berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang sekitar, dengan lelaki menyerupai perempuan bisa menjadi faktor masalah lain. Bisa saja seorang perempuan akan merasa tidak nyaman disekitarnya. Selain itu, dengan Crosshijaber seorang lelaki akan mudah melecehkan perempuan. Oleh karena itu kita harus waspada dan hati-hati kepada penampilan seseorang. Jangan biarkan hal itu menjadi kebiasaan.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan tentang larangan menyerupai lawan jenis:

Surat An-nisa ayat 119

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلْأَنْعَـٰمِ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيْطَـٰنَ وَلِيًّۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًۭا مُّبِينًۭا

Artinya: Dan aku pasti akan menyesatkan mereka, dan pasti akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan pasti akan menyuruh mereka (untuk memotong telinga binatang ternak; dan pasti akan menyuruh mereka (untuk mengubah ciptaan allah).

Dengan adanya peringatan dari surat yang ada di Al-Qur’an tersebut, perlu kita belajar lagi agar bisa memahami kaidah-kaidah penting dalam islam. Mana yang baik dan buruk agar tidak salah dalam bertindak. Boleh-boleh saja jika lelaki memakai gamis (koko gamis), tetapi tidak dengan hijab dan cadar karena itu akan membuat ketidak nyamanan seorang perempuan.

Baca Juga: Semarak Tren Fashion Muslimah di Era Digital: Memadukan Gaya Modern dengan Nilai Syar’i

Selain itu, fenomena crosshijabers ini menuai banyak kritikan dari masyarakat luas. Ada pula orang-orang tak bertanggung jawab memanfaatnya untuk hal-hal negatif atau hanya sekedar memuaskan nafsu akan penasaran sama busana wanita muslim, juga beberapa kasus yang memviralkan jagat maya seperti berita seorang laki-laki menyamar menjadi seorang wanita hanya untuk bisa masuk ke toilet wanita, ikut sholat barisan perempuan hingga parahnya menerobos masuk ke salah satu pondok pesantren. Dengan hal ini, banyak sekali dari mereka menjadi selalu waspada terutama di tempat umum agar tidak terjadi yang tak diinginkan.