Pendampingan SOP PPKS oleh PSGA LP2M, Membangun Pesantren Bebas Kekerasan Seksual

Pewarta : Ahmad Abi Dzar, Editor : Amarul Hakim

Kamis (22/8), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengadakan acara Pendampingan SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan Pesantren, bertempat di Gedung Perkuliahan Terpadu (GPT) Meeting Room lantai 3.

Acara ini diawali dengan sambutan dan juga pembukaan yang dilakukan oleh ketua LP2M UIN Gus Dur yaitu Prof. Imam Khanafi, M.Ag. dan didampingi juga oleh ketua PSGA UIN Gus Dur Ibu Ningsih Fadhilah, M.Pd, tentunya dalam sambutan Prof Imam mewanti-wanti agar kekerasan seksual ini tidak terjadi di lingkungan Pesantren, hal ini karena didalam Islam semua hal kekerasan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.

“Tentunya acara ini menjadi penting bagi kita, untuk bersama-sama menjaga pesantren dari hal hal negatif (kekerasan seksual), hal ini pun sejalan dengan perintah agama yang tidak membenarkan segala bentuk kekerasan” ujarnya.

Baca juga : Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga dengan Nilai Islami: Mencegah Kekerasan dalam Rumah Tangga

Dalam acara ini juga ikut mengundang narasumber untuk pemaparan materi, yaitu oleh Ibu  Dr. Mayadina Rohmi Musfiroh, S.H.I, M.A. Acara ini dilaksanakan selama dua hari dimana pada hari pertama dilakukan FGD terkait dengan kebijakan kekerasan seksual dan di hari kedua melanjutkan FGD yang lebih membahas tentang bagaimana pembuatan draf SOP PPKS bagi setiap pesantren

Adapun acara ini diselenggarakan guna mencegah dan mengantisipasi terjadinya kekerasan seksual di lingkungan pesantren di lingkup kabupaten Pekalongan dan sekitarnya sehingga bisa diimplementasikan dalam setiap kehidupan bermasyarakat di pesantren.

Tentunya hal ini menjadi wujud nyata kita untuk menjunjung tinggi kesetaraan gender dan memerangi kekerasan seksual baik itu di lingkup pesantren ataupun di lingkup masyarakat umum. Dalam hakikatnya ketika kita berbicara terkait dengan moderasi beragama, tentunya didalam moderasi beragama tersebut juga banyak sekali mengandung nilai nilai yang mengajarkan kepada penghormatan terhadap hak-hak individu, kesetaraan, dan juga penolakan terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Baca juga : Sumbangsih Pemikiran Kritis Fatima Mernissi dalam Meretas Isu Klasik Kesetaraan Gender Melalui Perspektif Al-Qur’an

Dengan ini moderasi beragama dapat menjadi peran penting dalam mengurangi dan atau mencegah fenomena kekerasan seksual melalui nilai-nilai yang ada dalam moderasi beragama.

Jika kita melihat penolakan terhadap kekerasan seksual tidak hanya datang dari agama Islam tetapi juga seluruh agama yang ada juga pasti menolak dan tidak membenarkan hal tersebut, hal ini karena sebuah agama yang menjunjung nilai-nilai moderasi beragama cenderung mengajak pengikutnya untuk selalu menghormati tubuh dan juga hal orang lain.

KKN 59 Kelompok 17 UIN Gusdur Adakan Lomba Bertema Keagamaan Untuk Meningkatkan Religiusitas Anak-anak Desa Karangdawa

Pewarta : Satria Putra Mahardika dan Istikomah Dwi Lestari, Editor : Amarul Hakim

Pemalang-KKN 59 Kelompok 17 UIN Gus Dur menggelar lomba-lomba dalam rangka menyambut HUT RI ke-79.

Lomba yang digelar pada hari Minggu, 11 Agustus 2024 ini diikuti oleh pelajar tingkat SD sampai SMP se-Desa Karangdawa. Bertempat di masjid masing-masing dusun, lomba ini digelar di tiga lokasi, yakni Masjid Baitul Makmur Dusun Krajan, Masjid Al-Badar Dusun Sugandu, dan Masjid Baiturrahman Dusun Karanganyar.

Beberapa lomba yang diadakan diantaranya lomba adzan, lomba hafalan surat pendek, dan lomba baca puisi. Lomba berlangsung meriah dengan diikuti oleh 59 Peserta. Selain digelar dalam rangka memperingati HUT RI ke 79, lomba ini juga digelar dalam rangka meningkatkan religiusitas anak-anak terutama pelajar Desa Karangdawa.

Jauhar Ma’nun selaku tokoh Masyarakat setempat ikut mengapresiasi kegiatan lomba kali ini. Menurutnya dengan diadakannya lomba lomba ini bisa menjadi ajang untuk anak anak meningkatkan kemampuan dan kepercayaan mereka terutama dalam kelancaran membaca al quran dan mengumandangkan adzan.

“Lomba ini bagus untuk anak anak karena bermanfaat untuk mengasah kemampuan serta kepercayaan diri mereka dalam membaca dan menghafal al quran sehingga diharapkan dapat meningkatkan sisi religiusitas dari anak anak itu sendiri di era sekarang,” ujar Jauhar Ma’nun.

Hal serupa juga disampaikan oleh Farkhan Syahrul Mubarok selaku Koordinator KKN Kelompok 17 yang menyatakan bahwa lomba ini bertujuan untuk meningkatkan religiusitas pada anak anak Desa Karangdawa.

“Kami dari mahasiswa KKN sengaja memilih lomba-lomba yang sedikit berbeda dari lomba agustusan pada umumnya seperti lomba makan kerupuk, balap karung, dan lomba anak-anak lainnya. Karena kami bertujuan untuk meningkatkan religiusitas anak-anak melalui lomba-lomba, melihat di era sekarang ini anak anak sudah mulai terpengaruh oleh gadget sampai lupa akan nilai nilai religiusitas yang seharusnya tertanam pada diri mereka” jelas Farkhan.

Terakhir ia berharap dengan adanya kegiatan ini dapat menggali potensi anak anak yang ada di desa karangdawa terutama dalam aspek keagamaan.

Kemenag Kabupaten Pekalongan Gelar Dialog Lintas Agama dan Pengembangan Kampung Moderasi Beragama Desa Linggoasri

Pewarta: Alifatul Qaidah dan Faiza Nadilah, Editor: Rifa’i

Senin (12/8), Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pekalongan mengadakan acara dialog lintas agama dan pengembangan kampung moderasi beragama (KMB), yang bertajuk “Pelaksanaan aksi program pengembangan kampung moderasi beragama (KMB)” bertempat di Balai Desa Linggoasri.

Diawali dengan sambutan ketua panitia penyelenggara, M. Yasir, Rudi Sulaiman selaku camat Kajen dan kepala kemenag kabupaten pekalongan, Imam Tobroni, acara ini resmi dibuka.

Dalam sambutannya,  Imam Tobroni mengajak masyarakat luas untuk mengenalkan tentang adanya Desa Linggoasri yang sudah ditetapkan sebagai kampung moderasi beragama.

“Mari kita ajak masyarakat luas untuk mengenalkan bahwa sekarang ada yang namanya kampung moderasi, mungkin ada yang belum tau apa itu kampung moderasi. Disini mengembangkan nilai luhur yaitu saling meghargai, menghormati, menyayangi walaupun berbeda agama. Kampung moderasi menjadi ikon dan akan terkoneksi dengan Linggoasri desa wisata dan menjadikan kampung ini role model kerukunan,” ajak Imam.

Tujuan inti diadakannya acara ini adalah sebagai ajang pengimplementasian peraturan presiden no. 58 tahun 2023 tentang penguatan moderasi Bergama.

Acara ini mengundang 50 orang peserta dari berbagai elemen, termasuk Kapus Moderasi Beragama UIN Gusdur, Kapus Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) UIN Gusdur, Camat Kecamatan Kajen,  Kepala Bakesbangpol Kabupaten Pekalongan, Babinkamtibmas Linggoasri, Babinsa Linggoasri, Kepala KUA Kajen, Kepala Desa Linggoasri, FKUB Kabupaten Pekalongan, tokoh masyarakat, para pemuka agama lintas sektoral, penyuluh agama, dan kasubag TU Kemenag Kabupaten Pekalongan. Dua pemateri juga turut dihadirkan untuk mengisi acara ini, diantaranya adalah Sri Lestari, Sekretaris badan kesatuan bangsa dan politik kabupaten pekalongan, dan Solehudin ketua forum kerukunan umat Bergama Kabupaten Pekalongan.

Baca Juga: Moderasi Beragama sebagai Landasan Kehidupan Multireligi di Desa Linggoasri

Implementasi Pengembangan Kampung Moderasi beragama dilakukan dengan penyerahan dan penanaman cabai jawa secara simbolik oleh kementerian agama Kabupaten Pekalongan  kepada pemerintah Desa Linggoasri di depan  kantor balai desa. Kabismas (Seksi Bimbingan Masyarakat Islam), H. Busaeri mengatakan bahwa pemilihan cabai jawa adalah karena banyaknya manfaat yang terkandung.

“Aksinya penaman cabai jawa, itu karena tanaman cabai jawa baik untuk kesehatan dan banyak sekali kan manfaatnya. Sebelum acara ini ada rapat koordinasi Pokja (Kelompok Kerja) di Kalipaingan membahas apa saja kebutuhan di Linggo. Bibit 200 ini nantinya dibagikan kepada masyarakat  desa Linggoasri,” ujarnya.

Terlaksananya acara ini menyimpan harapan besar dari berbagai pihak, termasuk Nanang Hasan Susanto Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Nanang berharap, acara ini bukan sekedar berhenti pada formalitas saja, tetapi dilanjutkan dengan tindakan-tindakan nyata seperti kebiasaan untuk bekerja sama. Dalam artian, harus ada program-program nyata untuk mendorong mereka untuk saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Piagam Semarang: Komitmen Komunitas Antar Umat Beragama dalam Mewujudkan Kemanusiaan dan Keadilan

Sebelumnya, Tim PkM Moderasi Beragama UIN Gusdur telah melaksanakan program-program Pemberdayaan sejak tahun 2022 di desa Linggoasri. Pada tahun 2023, program pemberdayaan difokuskan pada pelatihan pembibitan cabai jawa sehingga masyarakat desa Linggoasri melalui Pengurus Desa Sadar Kerukunan dan Kampung Moderasi Beragama, telah memiliki green house cabai jawa dan berhasil menanam 1000 bibit cabai jawa. Ke depan, secara partisipatoris akan dilanjutkan dengan mengembangkan desa Linggoasri sebagai Kampung Wisata Moderasi Beragama.

Menapak Jejak Nabi SAW dalam Berwirausaha: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Beri Sosialisasi Pembuatan Kerupuk dari Telur Asin di Desa Sarwodadi

Penulis: Farah Maulida, Editor: Sirli Amry

Dalam dunia perdagangan, Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang sempurna. Sunnah beliau dalam berdagang mencakup prinsip-prinsip kejujuran, integritas, dan pengelolaan sumber daya yang bijak. Meneladani beliau, Mahasiswa KKN UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan berupaya untuk memberdayakan masyarakat Desa Sarwodadi dengan mengadakan sosialisasi pembuatan kerupuk dari telur asin, sebuah inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian warga desa.

Desa Sarwodadi merupakan desa yang kaya akan sumber daya alam, salah satunya adalah peternakan bebek yang menghasilkan banyak telur. Mahasiswa KKN UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan memanfaatkan potensi ini dengan mengadakan sosialisasi tentang inovasi pengolahan telur asin menjadi kerupuk. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 4 Agustus 2024 di Rumah Ibu Tri, anggota fatayat Dusun Bengkelung, Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Peserta sosialisasi ini mayoritas adalah ibu-ibu fatayat Bengkelung.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan rutinan fatayat berupa pembacaan tahlil, asmaul husna, dan khataman Al-Qur’an. Kemudian, Adinda Ummul Fadzila, salah satu mahasiswa KKN, menyampaikan materi mengenai tata cara pembuatan kerupuk telur asin, mencakup alat, bahan, serta cara pengolahannya. Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang memungkinkan peserta untuk mendalami materi yang telah disampaikan.

Baca Juga: Beragama dan Berkepercayaan: Hak atau Kewajiban?

Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa KKN berhasil mendorong masyarakat untuk mengolah sumber daya alam secara kreatif dan produktif. Selain itu, masyarakat perlu memberdayakan sumber daya alam yang ada karena sumber daya alam yang berlimpah itu Allah ciptakan untuk manusia. Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam surat An-Nahl, Ayat 14:

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

Artinya: “Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl [16]: 14)

Dalam Surah An-Nahl ayat 14 diatas memberikan beberapa pelajaran penting yang relevan dengan konteks pemberdayaan masyarakat yakni adanya pemanfaatan sumber daya alam. Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah telah menundukkan lautan agar manusia bisa memanfaatkannya. Hal ini bisa diinterpretasikan sebagai dorongan untuk memanfaatkan semua jenis sumber daya alam, termasuk daratan dan laut, dengan cara yang baik dan bermanfaat.

Ayat ini juga mengajarkan kepada kita tentang rasa syukur. Pemanfaatan sumber daya alam harus disertai dengan rasa syukur kepada Allah. Syukur ini dapat diwujudkan dalam bentuk kreativitas dan inovasi dalam mengolah kekayaan alam menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti pembuatan kerupuk dari telur asin.

Baca Juga: Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Dengan mengajarkan masyarakat cara inovatif mengolah telur asin menjadi kerupuk, mahasiswa KKN membantu masyarakat desa meningkatkan taraf ekonomi mereka. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat identitas lokal Desa Sarwodadi tetapi juga menciptakan produk unggulan yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk terus berinovasi dan memaksimalkan potensi yang ada sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Melalui pemahaman dan penerapan ajaran Islam yang baik, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan inovatif. Hal ini tidak hanya meningkatkan perekonomian warga tetapi juga memperkuat identitas desa dengan menciptakan produk unggulan yang menjadi ciri khas lokal. Dengan begitu, warga dapat lebih mandiri secara ekonomi dan terus mengembangkan kreativitas dalam memanfaatkan kekayaan alam yang Allah SWT telah berikan, sebagaimana yang diamanahkan dalam ajaran Islam untuk selalu bersyukur dan memaksimalkan potensi karunia-Nya.

Kuatkan Toleransi dan Kerukunan, FKUB Kabupaten Pekalongan Gelar Dialog Lintas Agama

Pewarta : Moh. Irkham, Editor : Ika Amiliya Nurhidayah

Kajen-hijratunaa.com Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pekalongan mengadakan kegiatan Dialog Lintas Agama yang bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan pada hari Rabu, (07/08).

Acara ini dihadiri oleh semua pengurus FKUB Kabupaten Pekalongan, para penyuluh agama (IPARI), serta tokoh dan umat lintas agama. Para narasumber yang hadir dalam dialog ini meliputi Kasat Binmas Polres Pekalongan AKP Quratul Aini, Sekretaris Badan Kesbangpol Kabupaten Pekalongan Sri Lestari, dan Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan M. Sholehudin.

Ketua panitia penyelenggara dari FKUB Kabupaten Pekalongan, Moh. Irkham, menjelaskan bahwa dialog lintas agama ini adalah bagian dari program kerja FKUB Kabupaten Pekalongan tahun 2024.

Baca juga : Toleransi dalam Keberagaman: Kontroversi Salam Lintas Agama

“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk merawat kerukunan dan toleransi yang sudah baik di Kabupaten Pekalongan. Namun, kami juga menyadari adanya tantangan dari informasi di media sosial yang dapat mengoyak kerukunan tersebut,” jelas Irkham.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Gunawan yang hadir mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan.

Dalam sambutannya, Gunawan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada FKUB atas inisiatifnya menggelar dialog lintas agama.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk merawat kerukunan umat beragama yang sudah berjalan dengan baik di Kabupaten Pekalongan,” ungkap Gunawan.

Ia menegaskan bahwa semua pihak, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, penyuluh agama, FKUB, dan pemerintah memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat kerukunan tersebut agar tetap harmonis dan tidak terkoyak.

Baca juga : Harmoni Ramadhan dalam Talkshow Lintas Agama Memperkuat Persaudaraan Antar Umat Beragama

Gunawan juga mengungkapkan bahwa di Kabupaten Pekalongan, terdapat tiga desa yang telah ditetapkan sebagai kampung moderasi beragama, yaitu Desa Linggoasri, Desa Jolotigo, dan Desa Kutorojo. Bahkan, di Desa Linggoasri telah tersedia tempat singgah bagi musafir di Pura Kalingga Satya Dharma dan Masjid At-Taqwa, yang dapat digunakan secara gratis.

Lebih lanjut Gunawan menyampaikan harapannya agar semua desa di Kabupaten Pekalongan dapat berperan aktif dalam usaha menjaga dan merawat kerukunan umat beragama yang sudah terjalin baik.

Pelestarian Budaya dan Lingkungan di Tengah Modernisasi saat KKN

Penulis: Mustamin Giling (Kapus Terapan Masyarakat Islam dan Moderasi Beragama LPPM IAIN Ternate Malut), Editor: Lulu Salsabillah

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi dan Moderasi Beragama 2024 akan diselenggarakan dengan tema “Harmoni Keragaman: Penguatan Kehidupan Sosial, Budaya, dan Ekonomi.” Kegiatan KKN Kolaborasi Nusantara dan Moderasi Beragama ini merupakan hasil kerja sama antara Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia. Pada tahun 2024, peserta KKN berjumlah 513 orang, yang terdiri dari mahasiswa UINSA Surabaya, UIN Satu Tulungagung, UIN Malang Surabaya (19 orang), UIN Alauddin Makassar, dan IAIN Kediri, serta didampingi oleh 12 orang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Lokasi pelaksanaan KKN ini tersebar di Halmahera Timur (yang secara langsung diminta oleh Bupati dan mendapatkan dukungan penuh di lapangan), Halmahera Utara, dan Kota Ternate dengan total 49 titik lokasi.

Mahasiswa KKN berasal dari berbagai Perguruan Tinggi yang terletak di Jawa, Sulawesi, dan Ternate, menciptakan perpaduan yang harmonis antara tiga zona dan kawasan daerah, yaitu Indonesia Bagian Barat, Tengah, dan Timur. Keanekaragaman mahasiswa dari ketiga wilayah tersebut jelas terlihat dari letak geografis, budaya, karakter bahasa, dan kearifan lokal masing-masing daerah asal. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijaksanaan, kematangan berpikir, serta tindakan yang bijak, tepat, dan cepat dalam menghadapi dan merespon realitas sosial di daerah tujuan KKN nantinya, guna membawa perubahan yang positif.

Baca juga : Menghargai dan Memperbarui: Kontribusi Islam dalam Pelestarian Budaya Lokal

Mahasiswa  harus menyesuaikan diri dengan kondisi riil di lapangan, bukan membawa identitas dan ego masing-masing daerah. Peribahasa “Di Mana Bumi Dipijak di Situ Langit Dijunjung” mengandung makna filosofis bahwa keberadaan seseorang seharusnya menyesuaikan diri dengan daerah yang dituju. Daerah Maluku Utara yang dijuluki  “Moloku Kie Raha”, istilah untuk  menyebut empat penguasa  daerah di Maluku yang disebut Kolano Ternate: Ternate, Tidore, Bacan , dan Jailolo. Serta yang bersifat akomodatif dan heterogen dari segi kultur, bahasa, budaya, dan agama, mengharapkan peserta KKN untuk menghargai dan berbaur dengan masyarakat setempat. Meskipun berat, terutama bagi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini, niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat dan bangsa harus menjadi prioritas utama. Agenda lain yang mungkin ada bisa dianggap sebagai tambahan, asalkan membawa kebaikan.

Sejuta harapan menanti di tengah-tengah masyarakat Maluku Utara, khususnya di lokasi penempatan KKN seperti Kota Ternate, Kecamatan Hiri Kepulauan, Halmahera Timur, serta daerah Galela dan Tobelo. Mereka menunggu kontribusi nyata dalam bentuk pikiran, tindakan, dan keterampilan dari para mahasiswa. Inilah saatnya mahasiswa benar-benar diuji dan dinilai oleh masyarakat. Jika di kampus mereka telah menyelesaikan beberapa SKS sebagai syarat KKN dan dinilai oleh dosen, sekarang adalah saatnya kuliah sesungguhnya di mana masyarakat yang akan menilai apakah mereka lulus atau tidak, layak atau tidak, dan berakhlak atau tidak.

Baca juga : Dialog Kebudayaan: Hidup Harmonis dengan Budaya Warga Desa Rowolaku

Tidak ada pilihan lain selain menciptakan suasana yang harmonis, sejuk, santun, bijaksana, dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. Setelah itu, barulah berserah diri kepada Allah SWT. Inilah pilihan dan jalan terbaik selama kegiatan di Maluku Utara selama beberapa hari.

Membiasakan diri untuk beradaptasi, melihat dan mendengar langgang dan varisi terutama dialek bahasa khas Ternate, misalnya kalau tidak ada: “trada” atau so trada, menuju ke arah laut dengan menyebut: “ke lau” istilah “nyong” itu berarti kaum muda dsb.  Awal saya datang di Ternate, 1998 ketika itu, teman Pegawai mengajak saya: “pak Mus, tong bronda ke Lapangan Salero Keraton, karena waktu itu ada acara Legu Gam (Semacam memperingati  HUT Kesultanan Ternate), saya bingun, ada bahasa baronda, kalau di Sulawesi Selatan, ”baronda”, artinya  yaa jaga malam di Post-Post Ronda bersama dengan beberapa orang  habis magrib sampai subuh, “nyong” artinya kucing, tetapi di sinilah kita akan mendapatkln banyak khazanah, pengalaman serta kearifan lokal yang mungkin tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia, Nusantara: itulah keragaman  dan kolaborasi yang akan kita rajuk bersama dalam kehidupan sosial, budaya dan untuk memberdayakan ekonomi Masyarakat. Tentu saja agenda-agenda di lapangan nanti akan di damping oleh bapak Dosen Pembimbing masing-masing Lokasi bersama tokoh Masyarakat, tokoh Pemuda, tokoh Adat, tokoh Agama, pak Desa dengan jajarannya/pak Lurah dan pak Camat.setelah peserta melakukan survey Lokasi, apa saja skala prioritas yang akan dilaksanakan, semua dicatat dan dikerjakan yang telah direncanakan.

Baca juga : Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Harapan kami semua adalah agar kalian menjaga diri dengan baik dan tetap menjaga kesehatan dan stamina, meskipun pasca Covid-19, agar tetap bugar dalam melaksanakan program kerja. Utamakan akhlakul karimah, karena ini adalah cerminan dari perguruan tinggi asal kalian dan marwah IAIN Ternate. Jagalah nama baik lembaga secara keseluruhan, karena ini adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar. Selamat melaksanakan KKN, masyarakat menanti karya nyata kalian.

 

 

 

Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Penulis: Muhammad Afin Mursida, Editor: Rifa’i dan Kharisma Shafrani

Masa remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan identitas dan karakter seorang individu. Pada tahap ini, remaja mengalami perubahan fisik, emosional, dan sosial secara signifikan, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan remaja di masa depan. Oleh sebab itu, edukasi perkembangan remaja sangat dibutuhkan untuk membantu remaja dalam memahami dan mengelola perubahan ini dengan cara yang sehat, serta membekali remaja dengan keterampilan hidup. Selain itu, edukasi perkembangan remaja juga memiliki peranan dalam mencegah perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan narkoba dan seks bebas, dengan memberikan informasi yang akurat dan mendukung pembentukan nilai-nilai positif.

Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN turut andil dalam memberikan edukasi kepada remaja di Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah dengan mengadakan sosialiasi perkembangan remaja dengan judul “Aku adalah Remaja.” Acara ini diadakan pada Rabu, 23 Juli 2024 bertempat di SMP N 04 Bumijawa. Sosialisasi dihadiri oleh peserta didik baru yang sedang melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sosialisasi yang dibawakan oleh mahasiswa KKN Kelompok 108 Sokatengah bertujuan untuk memberikan pengenalan tumbuh kembang remaja agar dapat mengetahui tugas perkembangannya.

Baca Juga: Upaya Lestarikan Budaya Lokal KKN 57 UIN Gusdur Ciptakan Wayang Animasi

Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, Rizqi Faisal Muzaqi dan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai perkembangan remaja oleh Muhammad Afin Mursida. Materi yang disampaikan mencakup definisi remaja, karakteristik, tugas perkembangan, permasalahan dan cara mengarahkan diri seorang remaja untuk mengisi kegiatannya yang positif. Di sela-sela waktu sosialisasi, diisi dengan sesi ice breaking yang dipandu oleh Rifal Faruq dan Eliza Zuhrul. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi diri dari peserta didik dengan menuliskan biodata dan cita-cita. Kertas yang berisi tulisan tersebut dibuat pesawat dan diterbangkan bersama-sama. Hal ini menjadi simbol agar seseorang dapat menerbangkan diri lebih tinggi untuk menggapai impiannya. Acara sosialiasi ditutup dengan sesi Fun Games yang dipandu oleh Fajar Ismail dan Atik dengan tujuan membangun kebersamaan dan kerja sama antar peserta didik.

Sosialisasi ini menjadi bukti kepedulian mengenai perkembangan remaja bahwa mereka harus senantiasa dibimbing dan dibina agar menjadi generasi penerus yang gemilang. Harapannya, acara ini dapat menambah pengetahuan terhadap perkembangan bagi remaja agar dapat mempersiapkan diri dan menghadapi masa remaja dengan baik.

Peringatan Tahun Baru Islam di Linggo Asri: Santunan Anak Yatim dan Pelantikan IPNU-IPPNU dalam Semangat Moderasi Beragama

Pewarta : Wildan, Nastain, Danny, Editor : Syam

Dukuh Yosorejo, Desa Linggo Asri, merayakan Tahun Baru Islam 1446 H dengan mengadakan acara santunan anak yatim/piatu ke-26 dan pelantikan pengurus IPNU-IPPNU Ranting Linggo Asri pada Senin, 15 Juli 2024.

Acara ini telah menjadi tradisi selama hampir 26 tahun, pelaksanaan kali ini santunan diberikan kepada 21 anak yatim/piatu. Selama empat tahun terakhir, kegiatan ini tidak hanya menyantuni anak yatim muslim tetapi juga non-muslim. Desa Linggo Asri, yang dikenal sebagai desa moderasi beragama, dan telah meraih juara kedua tingkat nasional dalam kategori rumah moderasi beragama. Desa ini kembali memberikan contoh bagaimana moderasi beragama di praktikan.

baca juga : Refleksi Tahun Baru Islam dengan Pendidikan Kita Bangun Kemajuan Peradaban Islam

Rangkaian acara dimulai dengan tahlil, dilanjutkan dengan sambutan dari kepala desa, panitia, serta pengurus masjid dan mushola. Acara ini juga mencakup pelantikan pengurus IPNU dan IPPNU. Kegiatan santunan ini mengalami peningkatan setiap tahunnya, dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Mustajirin, salah satu tokoh masyarakat, menyatakan, “Acara ini harus terus diadakan karena merupakan adat yang baik dan sesuai dengan kaidah Ushul Fiqh, yaitu kita menjaga adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.”

baca juga : Desa Kutorojo Resmi Menjadi Kampung Moderasi Beragama Ke 3 di Pekalongan

Nur, ketua pelaksana, menambahkan, “Kegiatan santunan ini sudah diadakan kurang lebih 26 kali. Pada awalnya, tidak sebanyak ini, tetapi sekarang kita menyantuni anak dari semua agama. Alhamdulillah, donatur juga luar biasa. Pada tahun 2016, kami bahkan membeli kambing untuk 17 anak. Semoga generasi selanjutnya dapat melanjutkan kegiatan ini dan terus berkembang.”

Desa Kutorojo Resmi Menjadi Kampung Moderasi Beragama Ke 3 di Pekalongan

Pewarta : Rista dan Hilma, Editor : Nanang dan Syam

Menindaklanjuti terbitnya Surat Keputusan (SK) Kemenag Kabupaten Pekalongan No. 96 Tahun 2024 tentang penetapan Desa Kutorojo sebagai Kampung Moderasi Beragama, peluncuran Kampung Moderasi Beragama Desa Kutorojo dilaksanakan pada 17 Juli 2024. Sebelumnya UIN Gusdur bersama Kemenag Kabupaten Pekalongan juga telah membina dan melaunching Kampung Moderasi Beragama Linggoasri dan Jolotigo. Acara ini berlangsung di Candi Kutomoyo Desa Kutorojo bersamaan dengan ritual adat Nyadran.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten 1 Pemerintah Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan Wiryo Santoso, Kepala Desa Kutorojo Dulajat, Wakil Rektor 3 UIN Pekalongan Muslih, P.hD.,Ketua LP2M Prof. Dr. Imam Kanafi, Kemenag Kabupaten Pekalongan, Ketua FKUB, Kesbangpol Kabupaten Pekalongan, Camat Kajen, Kapolsek Kajen, dan Danramil Kajen Kabupaten Pekalongan.

Pada kesempatan itu, Dulajat selaku Kepala Desa Kutorojo memaparkan sejarah Desa Kutorojo dan filosofi ritual adat Nyadran di situs Candi Kutomoyo. Ia berharap pengurus Moderasi Beragama yang dikukuhkan pada acara tersebut dapat terus merawat kerukunan dan memiliki kreativitas untuk membangun kemandirian ekonomi.

Nanang, Syamsul, Rifa’i, dan Hanif dari tim pemberdayaan masyarakat Kutorojo UIN Pekalongan menyampaikan bahwa moto membangun kemandirian ekonomi pada pengurus Moderasi Beragama sangat tepat. Ini merupakan respons terhadap Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Semangat peraturan ini memberikan amanah bahwa penguatan moderasi beragama adalah tanggung jawab semua kementerian dan pemerintahan di semua tingkatan, sehingga isu kemandirian ekonomi dapat terhubung dengan berbagai instansi tersebut. Meskipun memiliki semboyan kemandirian ekonomi, pengurusnya tetap lintas agama dan organisasi masyarakat. Berbagai program dan kerja sama yang dilakukan dalam membangun kemandirian ekonomi dapat mempererat persaudaraan meskipun berbeda agama.

Imam Kanafi, Ketua LP2M, menjelaskan bahwa berbagai program telah dilakukan oleh LP2M untuk mendampingi Desa Kutorojo hingga ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama. Program-program tersebut meliputi dialog antaragama, komunikasi untuk membangun kontrak sosial kerukunan antaragama, dan dialog kerja sama dalam membangun kemandirian ekonomi lintas agama. Berdasarkan berbagai kegiatan ini, LP2M mengajukan Desa Kutorojo kepada Kemenag Kabupaten Pekalongan untuk ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama.

Muslih, Wakil Rektor 2 UIN Pekalongan, menambahkan bahwa tokoh Gus Dur sebagai ikon kampus memberikan inspirasi untuk terus melakukan kerja-kerja kemanusiaan. Sementara itu, Kemenag Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa Desa Kutorojo memiliki keunikan berupa keragaman agama masyarakat. Bahkan, dalam satu agama (Islam) pun terdapat beragam organisasi masyarakat. Maka, sangat layak jika Desa ini ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama.

Wiryo Santoso, Asisten 1 Bupati Pekalongan, mengapresiasi Desa Kutorojo. Menurutnya, desa ini telah menunjukkan bahwa kerukunan dan toleransi dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Ia mengajak semua pihak untuk terus mengedepankan dialog dan kerja sama antarumat beragama.

Kegiatan ditutup dengan doa lintas agama serta deklarasi dan komitmen bersama untuk terus memelihara kerukunan antarumat beragama. Para peserta berharap bahwa dengan adanya Kampung Moderasi Beragama ini, Desa Kutorojo dapat semakin dikenal sebagai simbol kerukunan dan toleransi di Kabupaten Pekalongan.

Membentuk Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas: Tiga Universitas Islam Adakan Seminar dan Tanda Tangani MoU

Pewarta: Azzam Nabil Hibrizi, Editor: Syam

Jumat, 12 Juli 2024 – Universitas Wahid Hasyim, Semarang mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Islam Nusantara dan Regenerasi Kepemimpinan Nasional Menyongsong Indonesia Emas” yang berlangsung dari pukul 08:00 hingga 11:20. Kegiatan ini dihadiri rektor dari tiga universitas sebagai pembicara kunci, yakni Rektor Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., Rektor Universitas Hasyim Asy’ari, Prof. Dr. H. Haris Supratno., Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Dr. H. Mudzakkir Ali, M.A.

Kehadiran para rektor tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, acara seminar ini sekaligus menjadi momentum awal berlangsungnya kerjasama antara Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang; Universitas Wahid Hasyim, Semarang; dan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan. Kerjasama ini diawali dengan penandatanganan MoU dan MoA antar fakultas dari masing-masing Universitas.

Disamping itu, para rektor dari ketiga universitas tersebut juga sepakat bahwa penandatanganan ini bukanlah akhir, namun menjadi awal sebuah perjalanan untuk menjalin hubungan kerjasama yang kedepannya dapat diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti penelitian kolaboratif, hingga pertukaran mahasiswa atau dosen. Hal ini tentunya dapat menjadi langkah dalam membentuk generasi yang unggul dan mampu memimpin Indonesia untuk mewujudkan Indoensia Emas di tahun 2045.

Berlangsungnya kegiatan ini menjadi pertama kali dalam sejarah, yaitu berkumpulnya keluarga besar Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, dalam artian penamaan dari ketiga universitas tersebut. Sehingga, hal ini dapat menjadi penyemangat dalam melaksanakan kerjasama dan kolaborasi antar universitas dengan berbagai bentuk dukungan antar kampus. Selain itu, melalui kerjasama keluarga besar Syaikh Hasyim Asy’ari ini juga sebagai implementasi dalam meneruskan perjuangan beliau sebagai pahlawan nasional dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama’, sekaligus dalam rangka mengembangkan generasi Jamiyah Nahdlatul Ulama menjadi generasi yang unggul dengan menerapkan sikap beragama yang moderat.

Sebagai langkah awal mewujudkan harapan-harapan tersebut, setelah penandatanganan dan penyampaian dari para rektor selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi yang relevan melalui seminar yang berisikan tiga judul besar. Materi pertama mengangkat judul, “Menyiapkan Regenerasi Kepemimpinan Publik Melalui Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi” yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yaitu Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag.

Beliau menjelaskan bahwa perguruan tinggi merupakan faktor penting dalam menciptakan generasi yang unggul serta memiliki jiwa kepemimpinan yang kompeten dan mampu membawa Indonesia menuju Indonesia emas 2045. Sebab, tren kepemimpinan masa depan harus di imbangi dengan digitalisasi yang rawan akan pergeseran nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sehingga melalui strategi peningkatan akses pendidikan tinggi, baik dari segi fasilitas, beasiswa, kerjasama dan program-program lain, nantinya diharapkan dapat membentuk calon pemimpin sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki keterampilan kompeten di bidangnya, dapat menjaga nilai dan etika budaya bangsa, memiliki pemahaman yang mendalam terhadap isu-isu yang kompleks serta mempunyai kemampuan berpikir kritis dan analitis.

Kemudian, karena trend kepemimpinan masa depan yang perlu diimbangi teknologi, maka generasi penerus bangsa harus memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi yang terus berkembang, seperti yang sudah ada saat ini yakni artificial intellegence. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Helmy Purwanto, ST. MT., IPM. selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Teknologi, Inovasi, dan Kerjasama dari Universitas Ahmad Dahlan. Materi yang beliau sampaikan adalah “Peran Inovasi dan Teknologi dalam Regenerasi Kepemimpinan Nasional Menuju Indonesia Emas.” Dalam pemaparannya beliau juga menyampaikan tentang prediksi perkembangan teknologi dalam bidang sumber daya. Melihat kondisi saat ini dimana sumber daya alam seperti batu bara dan minyak bumi tentunya akan habis apabila diambil terus menerus. Sehingga perlu ada teknologi energi terbarukan. Hal ini menjadi salah satu trend teknologi yang terus berkembang dalam menuju Indonesia Emas 2045. Trend teknologi lainnya yang juga terus mengalami pertumbuhan yang cepat adalah teknologi digital, teknologi yang dapat mengurangi keterbatasan fisik dan jarak, serta teknologi di bidang kesehatan.

Setelah memahami teknologi, generasi penerus bangsa yang unggul dan layak menjadi pemimpin juga perlu meneladani para tokoh nasional pendiri bangsa, seperti Syekh Hasyim Asyari. Dengan meneladani beliau, maka calon pemimpin ini nantinya akan memiliki jiwa spiritualitas yang tinggi selalu menjaga integritas, serta menjunjung tinggi kedaulatan. Seperti strategi kepemimpinan Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan kedaulatan Bangsa Indonesia. Materi terkait hal ini disampaikan oleh Dr. Fathur Rahman, M.PdI selaku Wakil Dekan Fakultas Agama Universitas Hasyim Asy’ari. Ada tiga strategi kepemimpinan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, yakni membangun generasi melalui pondok pesantren dan lembaga pendidikan, kemudian memperjuangkan kemerdekaan dengan mendirikan sebuah organisasi Nahdlatul Ulama, menjadi ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) serta menjadi ketua kantor jawatan agama shunubu yang kemudian diserahkan kepada anaknya, Wahid Hasyim. Hal ini menjadi strategi yang tentunya bertujuan untuk dapat memudahkan mobilisasi dan membantu menuju kemerdekaan. Sedangkan strategi terakhir yang cukup sulit adalah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa pasca kemerdekaan Indonesia, masih ada tentara sekutu yang kembali menyerang Indonesia. Melihat hal ini, Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Selain itu, beliau juga menjadi ketua Majelis Pertimbangan Masyumi.

Dengan demikian, maka materi mendasar terakhir yang dapat diambil kegiatan seminar ini adalah pemaknaan terhadap kata “Islam Nusantara” itu sendiri. Sebagaimana tema yang diangkat dalam seminar ini, perlu diluruskan bahwa Islam Nusantara tidaklah sama dengan “mengislamkan Nusantara”, akan tetapi Islam Nusantara merupakan bentuk implementasi nilai-nilai keislaman di Nusantara dengan segala budaya dan adat istiadatnya. Seperti halnya Nahdlatul Ulama yang terus melaksanakan budaya nusantara tanpa merusak nilai-nilai agama Islam itu sendiri. Sehingga lengkap sudah penyampaian materi seminar nasional dengan tema “Islam Nusantara dan Regenerasi Kepemimpinan Nasional Menyongsong Indonesia Emas.” Melalui materi ini, diharapkan generasi penerus bangsa mampu memiliki sifat religius dengan tetap mempertahankan budaya dan kearifan lokal, serta mampu menjadi pemimpin Indonesia yang kompeten, khususnya dalam mendorong terwujudnya Indonesia Emas di tahun 2045 nanti.