Panggung FEBIFEST UIN Gus Dur Pekalongan Dimeriahkan oleh Habib Husein ja’far Al-Hadar Usung Tema “Milenial Merawat Peradaban”

Pewarta : Tegar Rifqi, Editor : Ima

Pekalongan – DEMA  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Gusdur Pekalongan menggelar FEBI FESTIVAL atau FEBIFEST, Sabtu (18/05) dilaksanakan di gedung Student Centre kampus 2 UIN Gusdur Pekalongan. Salah satu rangkaian dari kegiatan ini adalah pelaksanaan dialog kebangsaan yang diisi oleh Habib Husein Ja’far Al Hadad sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Milenial Merawat Peradaban”.

Acara ini sekaligus menjadi launching dari pembukaan FEBIFEST ke-7 yang diselenggarakan oleh DEMA FEBI. Harapannya acara ini dapat sekaligus mengenalkan dan menarik antusias dari para peserta terhadap acara FEBIFEST yang akan digelar dalam waktu dekat. Jumlah peserta yang hadir sekitar 1200 yang diantaranya dihadiri oleh sebagian besar sivitas akademika UIN Gusdur Pekalongan, mulai dari para mahasiswa, dosen, pejabat tinggi kampus seperti dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Gusdur Prof. Shinta Dewi Rismawati, Prof. Muhlisin selaku wakil rektor bagian kemahasiswaan dan kerjasama, hingga Prof. Zaenal Mustakim selaku rektor UIN Gusdur Pekalongan. Selain dari kedatangan para sivitas akademika UIN Gusdur Pekalongan, acara ini juga terbuka untuk umum sehingga baik mahasiswa kampus lain atau masyarakat juga hadir pada acara ini.

“Dalam acara ini alasan kami menghadirkan habib ja’far sebagai narasumber adalah seperti yang bisa kita lihat melalui media sosial bahwa beliau ini menjadi tokoh sentral yang konten dakwah-nya sangat disukai oleh anak muda saat ini karena cara penyampaiannya yang dianggap menarik sehingga mudah dipahami dan memiliki ciri khas tersendiri,” Ujar Imam selaku ketua pelaksana. Selain itu, Imam juga menyampaikan alasan DEMA FEBI mengundang Habib Ja’far sebagai narasumber juga tidak lain adalah karena kesesuaian tema yang diambil yaitu tentang merawat perdaban dimana anak muda memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat peradaban yang salah satunya dengan cara menanamkan moderasi beragama yang juga sangat tercermin dari sosok Habib Ja’far.

Salah satu hal menarik dalam acara tersebut adalah kedatangan dari para tokoh lintas agama dan budaya yang ada di Kabupaten Pekalongan sebagai tamu undangan. Diantaranya ada Muatajirin tokoh Agama Islam di Linggoasri, Romo Teguh Santoso selaku tokoh Agama Kristen, kemudian Kusnaeni yang merupakan tokoh Agama Hindu, hingga Wisnu Murti Tri Budiarto merupakan tokoh Agama Konghucu.

Acara dimulai dengan lantunan bacaan al-qur’an oleh salah satu mahasiswa UIN Gusdur, kemudian dilanjut dengan menyanyikan lagu kebangsaan indonesia raya dan sambutan oleh Prof. Zaenal Mustakim selaku rektor sekaligus membuka acara.

Dalam sambutannya, Prof. Zaenal Mustakim menuturkan, “salah satu cara merawat peradaban yakni dengan adanya moderasi beragama. “Salah satu faktor moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan, kita harus tahu bahwa meskipun kita berbeda beda agamanya, sukunya, kebudayaannya, tapi kita masih satu bangsa, yaitu bangsa indonesia.” Prof. Zaenal Mustakim juga menjelaskan bahwa toleransi juga tak kalah penting dalam menjaga kerukunan dalam perbedaan di indonesia dan itu yang sudah dilakukan oleh Gus Dur.

Setelah sambutan dari rektor, selanjutnya sambutan dari masing-masing tokoh agama secara bergantian. Dimulai dari Romo Teguh selaku Paroki ST. Yohanes Rasul Karanganyar, menyampaikan rasa penasarannya terkait peradaban seperti apa yang harus dijaga, bagaimana caranya, dan apa yang harus dimiliki milenial agar dapat menjaga beradaban itu. Kemudian dilanjutkan oleh Mustajirin menyampaikan bahwa setiapa agama itu baik dan sebagai seorang yang beragama sudah semestinya kita menjunjung toleransi. Selanjutnya ketiga adalah sambutan dari Kusnaeni yang menyampaikan bahwa setiap manusia membutuhkan kasih sayang dari sesama serta mencintai perbedaan artinya juga sama dengan merawat peradaban itu sendiri. Yang terakhir sambutan dari Wisnu selaku perwakilan dari Klenteng Po An Thian Jetayu Kota Pekalongan.

Habib Ja’far memulai penjelasannya dengan menegaskan bahwa toleransi menjadi aspek utama dalam kita menjaga kerukunan bukan hanya antar umat beragama saja, melainkan juga dalam setiap perbedaan yang ada. Habib Ja’far juga menjelaskan bahwa peran anak muda sangat penting dalam menentukan arah perkembangan peradaban Indonesia di masa depan. Maka dari itu diperlukan bekal iman agar nantinya kita dalam menjalani hidup selalu memiliki arah dan tujuan yang jelas.

“Agama itu lahir untuk peradaban, agama itu ada untuk melawan kebiadaban. Oleh karena itu, meskipun setiap agama berbeda dalam kebenaran tapi pasti akan selalu bersama dalam kebaikan meskipun dengan cara yang berbeda,” tegas Habib Husein Ja’far Al Hadad dalam penyampaian materinya.

Habib Jafar juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial dalam menjaga nilai-nilai toleransi di tengah arus informasi yang sering kali memecah belah. Habib Jafar mendorong mahasiswa untuk aktif mencari pengetahuan dan berdialog secara terbuka untuk mengurangi prasangka dan stereotip yang tidak berdasar. “Ada dua isu yang masih harus kita selesaikan dari media sosial, yang pertama adalah sikap intoleransi dan yang kedua adalah pembulian,” tambahnya.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan, isu toleransi dan pembulian masih menjadi masalah yang nampak jelas bagi masyarakat di media sosial. Oleh karena itu, habib jafar berpesan untuk para anak muda yang melek dan sadar akan teknologi untuk menggunakannya dengan sebaik mungkin, terlebih jika bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena sedari awal memang teknologi disiapkan dan dikembangkan untuk keberlangsungan generasi selanjutnya.

“Pastikan kita punya persepsi, visi, dan idealisme yang tepat dalam melihat sesuatu, karena pada dasarnya teknologi adalah alat yang kita gunakan tergantung pada apa yang kita inginkan, bisa menuju kearah kebaikan, bisa juga berakhir pada keburukan tergantung jalan apa yang anda pilih,” tutup-nya.

Cultural Camp for International Students: Memperkenalkan Moderasi Beragama dan Keberagaman Budaya di Linggoasri

Pewarta : Amarul Hakim, Editor : Sam

Linggoasri, 16 Mei 2024 – UIN Gusdur Pekalongan memperkenalkan kehidupan kerukunan umat beragama di Desa Linggoasri kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan Cultural Camp for International Students. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, dari 13 hingga 16 Mei 2024, ini melibatkan 17 mahasiswa asing, 7 dari UIN Gusdur dan 10 dari ITS Surabaya  yang berasal dari Prancis, Belanda, Aljazair, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Desa Linggoasri dipilih karena merupakan desa Moderasi Beragama binaan UIN Gusdur yang di gagas oleh Syamsul Bakhri dan M. Rifa’Subhi ini telah meraih penghargaan sebagai Kampung Moderasi Beragama terbaik nomor delapan serta rumah ibadahnya sebagai rumah ibadah moderat nomor dua di Indonesia. Dosen pendamping kegiatan ini, Ryan Marina, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan keberagaman Indonesia kepada mahasiswa asing.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa asing dapat mengenal Indonesia tidak hanya dari satu sisi, tetapi juga dari keberagamannya, sehingga keberagaman Indonesia dapat terpromosikan,” ujar Ryan pada Rabu (15/5).

Kegiatan ini mencakup kunjungan ke berbagai tempat di Desa Linggoasri, termasuk Masjid Kayu khusnul khotimah Linggoasri, Pura Kalingga Setya Dharma, SDN 01 Linggoasri, Batu Lingga, rumah warga dengan latar belakang agama berbeda, Kali Paingan, Taman Bunga Linggoasri, Kebun Binatang Mini Linggoasri, Pasramanan, Green House Bibit Cabai Jawa, kebun kapulaga, dan kebun cabai Jawa.

Salah satu momen menarik adalah ketika para peserta mengunjungi SDN 01 Linggoasri, di mana mereka berinteraksi langsung dengan siswa dari kelas 1 hingga 5. Dengan bantuan volunteer sebagai penerjemah, mahasiswa internasional mengajarkan bahasa asing, mengadakan permainan, dan memberikan hadiah kepada siswa.

Ahmad Dalari, salah satu guru di SD tersebut, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para siswa. “Ini membuka wawasan kepada anak-anak bahwa pengetahuan itu luas dan bahasanya beragam, sehingga wawasan mereka bertambah,” ungkap Dalari.

Isriani Hardini, ketua International Office UIN Gusdur, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah yang kedua kalinya. “Sebelumnya, mahasiswa asing dari Korea Selatan, Cina, dan Thailand telah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu. Kegiatan ini terbukti sangat menarik bagi mahasiswa asing. Mereka tidak hanya belajar moderasi beragama, tetapi juga antusias belajar rebana, gamelan, tari, serta pertanian kapulaga dan cabai Jawa,” jelasnya.

Menurut Mustajirin, ketua kelompok tani cabai Jawa di Linggoasri, “Desa Linggoasri sekarang memiliki Green House pembibitan cabai Jawa yang bisa dibeli oleh masyarakat luas.” Fadholi, seorang petani kapulaga yang sukses mengembangkan cabai Jawa, menambahkan bahwa saat ini di Linggoasri sudah ada sekitar 1.000 bibit cabai Jawa yang telah ditanam di berbagai tempat oleh puluhan petani. “Kedepannya, kami akan terus mengembangkan cabai Jawa sebagai pelengkap komoditas rempah-rempah dari Linggoasri. Harapan kami, Linggoasri dikenal tidak hanya karena kapulaga dan kopi saja, tetapi juga karena cabai Jawa,” ungkap Fadholi.

Selain itu, menurut Dwi Ketua Ikatan Remaja Masjid Linggoasri “kegiatan ini sangat positif untuk mengenalkan budaya dan tradisi kita ke mancanegara, kami senang bisa mengajarkan rebana ke teman-teman mahasiswa asing, mereka sangat antusias sampai bisa melantunkan satu lagu”

Menurut Esa dari Peradah Linggoasri, menyambut baik dan senang karena bisa mengenalkan budaya Gamelan dan menari kepada mahasiawa asing. “Mereka sangat antusias dan berhasil memainkan satu bait nada Gamelan dan belajar menari sampai bisa”.

Kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kebudayaan dan kerukunan beragama di Indonesia, sekaligus mempromosikan potensi pertanian lokal seperti penanaman cabai Jawa dan pemanenan kapulaga.

Dies Natalis ke-27, UIN Gusdur Hadirkan Inayah Wahid dan Zastrow Al-Ngatawi pada Seminar Pemikiran Gus Dur

Pewarta : Fajri Muarrikh

Pekalongan – Dalam memperingati Dies Natalis yang ke 27 tahun, Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan adakan Gelar Budaya dan Seminar Pemikiran Gus Dur yang dihadiri oleh Inayah Wahid, Putri bungsu Alm. Gus Dur dan Zastrow Al-Ngatawi, seorang budayawan sekaligus mantan ajudan Gus Dur yang dilaksanakan pada hari Minggu (05/05) yang bertempat di gedung Student Center kampus 2 UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Seminar Pemikiran Gus Dur ini dihadiri oleh pejabat tinggi civitas akademik kampus UIN Gusdur, seperti Prof. Zaenal Mustakim (Rektor UIN Gusdur) beserta tiga wakil rektornya, dosen, mahasiswa, Jaringan Gusdurian Pekalongan, dan masyarakat lainnya.

Prof. Zaenal Mustakim dalam sambutan pembukaannya, beliau mengatakan bahwa, “..nama UIN kita ini tidak sembarangan, nama yang ini berkah, berkah untuk UIN Gusdur, karena kita tanpa mengenalkan, berkoar-koar, semua orang sudah tahu siapa Gus Dur..”

Dengan betapa besarnya Gus Dur, bukan pada sosoknya tapi pemikirannya.Gus Dur. Sehingga ini tidak akan selesai dikaji dalam ruang waktu yang terbatas, ini akan langgeng. Selagi jaman ini masih hidup, jaman/dunia ini masih ada, maka pemikiran Gus Dur ini akan selalu kita kenang, dan akan selalu dikaji tidak akan selesai-selesai. Lanjut Prof. Zainal.

“..oleh sebab itu termasuk hari ini, bapak-ibu sekalian, ini juga sekaligus embrio untuk menyusun paradigma keilmuan kita, yang akan saya kembangkan kaya apa, yang nanti akan disinggung sedikit oleh Kang Zastrow, insyaallah semester depan kita akan mulai memikirkan ini.”

“..kita ingin bahwa UIN Gusdur ini bukan sekedar namanya ditempelkan di UIN-nya, tapi ingin pemikiran-pemikiran Gus Dur ini betul-betul menginspirasi kita semuanya, menjadi pijakan kita untuk beraktifitas menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, penelitian, dan juga pengabdian masyarakat untuk kita semua.” Pungkas Prof. Zainal.

Dalam kesempatan Seminar Pemikiran Gus Dur kali ini, Zastrow menjelaskan tentang pemikiran Gus Dur soal humanisme. Menurutnya, untuk melihat suatu pemikiran dalam teori sosiologi pengetahuan tentang habitus seseorang.

“Habitus Gus Dur pertama adalah tradisi keilmuan pesantren, karena ini yang membentuk pribadi Gus Dur sejak beliau kecil hingga masa remajanya. Yang kedua adalah Gus Dur hidup dalam pemikiran-pemikiran Islam klasik yang ada di lingkungan pesantren. Habitus yang ketiga yang menyentuh Gus Dur adalah pemikiran modernisme barat, karena sejak kecil Gus Dur sudah membaca buku ‘Das Capital’, dan novel-novel yang sangat diilhami pemikiran timur tengah. Ini adalah pondasi dasar yang membentuk karakter pola pikir dan sistem pengetahuan yang ada pada diri seorang Gus Dur. Itu tadi pada fase pertama.” Jelas Zastrow.

Dan pada fase kedua, lanjut Zastrow, ketika Gus Dur berangkat ke Timur Tengah (Mesir), disitulah Gus Dur bertemu dengan pemikiran Hassan Albana, Ikhwanul Muslimin, pemikiran klasik sufistik, sampai sastra klasik Timur Tengah hingga tradisi budaya Eopa pada saat itu.Ini adalah fase eksplorasi.

“Nah, sehingga membentuk kerangkaepistemologinya Gus Dur rasional-modern, yang dipertautkan dengan spiritual-tradisional. Jadi, modernitas adlah srang rasionalitas, tradisionalisme sarang spiritualitas, oleh Gus Dur dibentuk hubungan yang sejajar dan komplementer.” Imbuh Zastrow.

Orang-orang modern mendudukkan modernisme dan tradisionalisme adalah kontradiktif. Sementara Gus Dur, mendamaikan keduanya.

“Makanya kalau kampanye orang-orang sekarang ‘kan orang modern itu (mengatakan) kalau Anda ingin maju, ingin hebat, ignin berkembang, jadilah orang modern, jangan jadi orang tradisional. Ini ‘kan kontradiktif. Sementara Gus Dur enggak, kalau Anda ingin maju, berkembang, tautkan rasionalitas-spiritualitas, tautkan modernitas dengan tradisionalitas secara seimbang, bentuk hubungan yang komplementer. Tutup Zastrow.

Dalam hal ini, Inayah Wahid berkesempatan untuk menjelaskan tentang pluralisme dan globalisasi, kosmopolitanisme yang ada pada diri Gus Dur.

“Saya sangat percaya bahwa pluralisme atau keragaman itu sendiri, itu adalah bagian dari humanisme. Ketika berbicara manusia, maka pasti akan berbicara keragaman. Kalau Anda tidak sepakat, Anda adalah bagian dari keragaman tersebut dan Anda akan mengekalkan pernyataan saya.” Jelas Inayah.

Inayah bercerita, bahwa Gus Dur itu kuliah di Mesir, bapaknya (Wahid Hasyim) itu seorang menteri. Itu memang menjadi sebuah privillage. Dan Inayah mengandaikan, jika dia jadi Gus Dur, dengan masa mudanya berkeliling Timur Tengah, dari Mesir, Baghdad hingga sampai ke Eropa, lalu pulang lagi ke Indonesia, mungkin jika dia yang menjadi Gus Dur, dia bakal berdiam diri di rumah saja, tanpa perlu membela minoritas lain. Dia bakal mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri.

“Saya punya gelar dari luar negeri, saya punya ilmu, saya punya privillage,maka yang saya akan lakukan adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk saya sendiri, terserah mau bagaimana masyarakat. Tapi untungnya, Gus Dur bukan saya.” Sambung Inayah.

Ketika Gus Dur pulang, yang menarik adalah, ketika isi kepalanya sudah diisi globalisasi, akalnya menjadi sangat kuat. Seperti yang dijelaskan oleh Zastrow tadi, sebagai pribumisasi, menjadi kelokalan. Karena globalisasi harus berawal dari mana kita berpijak. Dan itu yang paling kuat dari seorang Gus Dur, pemikirannya, isi kepalanya boleh mendapat asupan dari negara manapun, tapi dia tidak menjadi manfaat kalau dia tidak bisa diletakkan dalam konteks lokal.

“Dan itu yang tadi dijelaskan oleh Pak Zastrow dijelaskan sebagai tradisional, sekuler, modernitas, yang setara, sejalan dengan yang tradisional, tidak mengecilkan, tidak menganggap sesuatu yang 4.0 atau 5.0 adalah sesuatu yang lebih baik, dibandingkan sesuatu yang lokal.” Tutup Inayah.

Dialog Interaktif Membentuk Kesepakatan Toleransi Agama dan Kepercayaan: Menuju Kampung Moderasi Beragama di Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman & Karimatul Afiah, Editor: Ibnu Salim.

Pada hari Rabu, tanggal 3 April 2024, sebuah langkah penting dalam memperkuat toleransi agama dan kepercayaan di balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, terwujud melalui sebuah kegiatan dialog interaktif yang diprakarsai oleh Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Gusdur Pekalongan.

Kegiatan ini menjadi panggung harmoni yang melibatkan mahasiswa KKN, pemerintah desa, serta perwakilan tokoh agama dan kepercayaan dari berbagai keyakinan, dengan tujuan mencapai kesepakatan dalam membangun kedamaian dan toleransi di tengah masyarakat.

Partisipasi yang luas dari berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam mencapai hasil yang diharapkan. Mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan hadir dengan semangat untuk berkontribusi dalam membangun kedamaian dan toleransi di tengah masyarakat. Mereka membawa energi segar dan gagasan kreatif untuk menjalin hubungan harmonis antarumat beragama dan kepercayaan di Desa Kutorojo.

Dialog ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi juga merupakan bagian dari persyaratan pengajuan status Kampung Moderasi Beragama Desa Kutorojo kepada Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan. Dialog ini menjadi sarana utama untuk memperoleh dukungan dan kesepakatan bersama dalam mewujudkan visi kampung yang inklusif dan moderat dalam hal keagamaan dan kepercayaan.

Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari sinergi antara mahasiswa KKN, pemerintah desa, dan perwakilan tokoh agama serta kepercayaan. Melalui diskusi yang terbuka dan konstruktif, berbagai perbedaan dan perspektif diperhitungkan untuk mencapai kesepakatan yang adil dan inklusif.

Apresiasi yang tinggi diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. Dukungan dan kolaborasi dari mahasiswa KKN, pemerintah desa, serta tokoh agama dan kepercayaan menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun toleransi dan keberagaman di Desa Kutorojo.

Dengan berakhirnya kegiatan dialog interaktif ini, harapan baru pun muncul untuk Desa Kutorojo. Langkah-langkah konkret dalam memperkuat toleransi dan keberagaman akan terus dilakukan, demi terwujudnya visi sebagai Kampung Moderasi Beragama yang menjadi contoh bagi desa-desa lainnya.

Semangat untuk terus berkolaborasi dan berkomitmen dalam membangun kedamaian serta harmoni antarumat beragama dan kepercayaan harus terus dijaga dan diperkuat, sehingga Desa Kutorojo dapat menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Dalam dialog interaktif ini, terjadi pertukaran gagasan dan pengalaman antara mahasiswa KKN dengan masyarakat Desa Kutorojo. Mahasiswa KKN membawa pengetahuan akademis dan semangat pemuda, sementara masyarakat setempat memberikan wawasan dan kearifan lokal yang sangat berharga.

Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, Riayana, Eva Novitasari. Editor: M. Khairul Anam

Kegiatan monitoring keagamaan dan pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa Kutorojo bersama KKN UIN GusDur Pekalongan telah berlangsung sejak tanggal 28 Maret hingga 3 April 2024. Kegiatan ini menjadi sorotan utama masyarakat Desa Kutorojo karena melibatkan pemerintah desa dan institusi pendidikan tinggi. Pelaksanaan kegiatan ini tersebar di beberapa tempat ibadah, seperti Pura Satya Bakhti Yoga, Masjid Baiturrahman, Musholla Baitul Mu’minin, dan tempat ibadah lainnya di Desa Kutorojo. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman agama dan pendidikan anak usia dini di lingkungan desa.

Rangkaian kegiatan meliputi sholat berjamaah, pembukaan acara dengan sambutan dari berbagai pihak, pemberian uang intensif kepada pendidik keagamaan, serta pemberian kenang-kenangan berupa karpet untuk tempat ibadah. Kegiatan ini bukan hanya untuk mempererat hubungan antarwarga desa, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah desa terhadap pendidikan keagamaan dan pendidikan anak usia dini.

Nilai toleransi antarumat beragama sangat dijunjung tinggi dalam kegiatan ini. Bapak Turijo selaku Kasi Kesra dan Pelayanan dengan tegas menyampaikan pentingnya menjaga toleransi di tengah keberagaman agama dan kepercayaan yang ada di Desa Kutorojo. Contohnya, saat umat Hindu merayakan Nyepi, umat Muslim diharapkan menghormati dan tidak mengganggu kegiatan tersebut. Semoga dengan pemahaman ini, akan tercipta lingkungan yang harmonis dan penuh dengan saling menghormati di Desa Kutorojo.

Kegiatan monitoring keagamaan dan pendidikan anak usia dini ini merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan anak usia dini di desa mereka. Masyarakat Desa Kutorojo memberikan respon positif terhadap program ini, menunjukkan dukungan mereka terhadap upaya pemerintah desa dalam memajukan pendidikan.

Diharapkan kegiatan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga mampu memberikan dampak yang nyata dalam peningkatan pemahaman agama dan pendidikan anak usia dini di Desa Kutorojo. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, institusi pendidikan tinggi, dan masyarakat, diharapkan akan terciptanya generasi yang cerdas dan berakhlak mulia, sehingga siap menghadapi tantangan di masa depan.

Sinergi dan Komitmen Bersama: Rakornas Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju dan Harmoni

Pewarta: Nanang, Editor: Kharisma Shafrani

 

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia (Balitbang Kemenag RI) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Moderasi Beragama pada tanggal 6-8 Maret 2024 yang bertempat di Hotel Mercure Jakarta. Rakornas kali ini mengusung tema “Sinergi Memperkuat Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju dan Harmoni.” Rakornas ini dihadiri oleh peserta yang cukup beragam. Ada perwakilan kampus, baik di bawah naungan Kemenag maupun Kemendikbud Ristek, perwakilan Kanwil, perwakilan Kesbangpol, perwakilan tokoh lintas agama, bahkan perwakilan lintas kementerian.

Pemilihan waktu pelaksanaan rakornas ini cukup tepat, di tengah hiruk pikuk Pemilu 2024, juga pasca munculnya Perpres No. 58 Tahun 2023 tentang penguatan moderasi beragama. Berbagai konflik berkepanjangan antar anak bangsa, yang menghancurkan negara, karena perbedaan agama, bahkan karena perbedaan pandangan dalam internal agama, yang terjadi di banyak negara lain merupakan persoalan serius yang harus segera ditindaklanjuti. Maka dari itu moderasi beragama hadir sebagai salah satu upaya untuk meneguhkan persatuan.

Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disama Gus Men menyampaikan sambutannya bahwa komitmen harus terus kuat untuk menggelorakan isu-isu moderasi beragama bagi keharmonisan Bangsa. Rakornas menjadi ajang strategis untuk menggandeng semua pihak dalam menyukseskan program moderasi beragama.

Alisa Wahid, putri mantan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, juga turut menghadiri rakornas ini. Dirinya menuturkan bahwa moderasi beragama tidak cukup hanya dengan sosialisasi, namun perlu komunikasi intensif, kerja sama dan kerja nyata yang melibatkan pihak lintas agama, untuk menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari. Alisa juga mengusulkan, agar setiap kementerian baik pusat hingga daerah agar memiliki kader moderasi beragama untuk mempermudah sinergitas pada tataran teknik pelaksanaan dalam rangka memperkuat moderasi beragama.

Seluruh peserta rakornas, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, baik budaya, agama, profesi, bahkan politik pilihan, semuanya larut dalam semangat moderasi beragama. Moderasi beragama seolah-olah menjadi “karomah” sebagai gerakan yang secara fitrah menyatukan, meneduhkan, merajut harmoni atas berbagai perbedaan untuk mewujudkan cita-cita keumatan dan kebangsaan.

Tradisi Malam Likuran: Esensi Keharmonisan dan Syukur dalam Kebudayaan Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, M. Syukron Ni’am, M. Fathul Huda dan Rudi Riyanto. Editor: Lulu Salsabilah.

Di tengah kesibukan bulan Ramadhan yang penuh kegiatan. Di Desa Kutorojo, tradisi yang dijalankan bukan hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kesatuan masyarakat. Tiap malam 21 Ramadhan, sebuah tradisi bernama Malam Likuran merayapi setiap sudut perdukuhan, menumbuhkan semangat gotong-royong dan persatuan yang telah mengakar dalam budaya lokal. Tradisi ini, meliputi Dusun Kutorojo, Purwodadi, Gunung Telu, dan Silawan, memiliki makna mendalam yang meleburkan spiritualitas dengan kebersamaan sosial.

Tradisi Likuran merupakan ekspresi kekaguman dan rasa syukur kepada Allah SWT menjelang malam Lailatul Qadar, yang disebut sebagai malam lebih baik dari 1.000 bulan. Dengan diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, seperti kepala Dusun, ketua RW, ketua RT, dan masyarakat masing-masing dukuh, tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan ibadah semata, tetapi juga melibatkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas. Ancak, dibuat oleh setiap rumah dengan nasi dan lauk pauk yang dikemas dalam tempat anyaman bambu dan pelapah pisang, menjadi simbol kesediaan untuk berbagi rezeki dengan sesama.

Rangkaian kegiatan yang mengiringi Tradisi Likuran menjadi momentum bagi masyarakat untuk saling menguatkan dan mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dalam menjalani kehidupan. Suasana pembukaan yang hangat, sambutan yang membangkitkan semangat dari kepala dusun, doa bersama yang mengalirkan harapan, dan penutup yang penuh dengan rasa syukur, semuanya menjadi bukti akan kekuatan komunitas yang memperkuat ikatan batin setiap individu.

Antusiasme masyarakat dalam mengikuti Tradisi Likuran mencerminkan kekuatan spiritual dan sosial yang mengalir dalam setiap darah mereka. Ustadz Syekh, seorang tokoh agama di Desa Kutorojo, dengan keyakinan penuh menyatakan bahwa Tradisi Likuran bukan hanya sebuah kegiatan rutin, tetapi merupakan implementasi nyata dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Malam Lailatul Qadar, dengan segala keutamaannya, tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Dalam cahaya petunjuk agama, Tradisi Likuran tidak hanya menjadi ritual yang hampa makna, tetapi simbol kebesaran nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong yang menjadi landasan kuat sebuah masyarakat yang maju. Dalam setiap hidangan yang disajikan, bukan hanya nasi dan lauk pauk yang tersaji, tetapi juga nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan rasa syukur yang mengalir dalam setiap irama kehidupan.

Desa Kutorojo, melalui setiap warisan tradisinya, tidak hanya menumbuhkan rasa bangga akan warisan budaya. Tetapi juga memperkokoh ikatan kebersamaan yang menjadi dasar utama dalam menjalani kehidupan bersama. Di tengah gejolak modernitas, Tradisi Likuran tetap menjadi cerminan dari kekuatan spiritual dan sosial yang masih relevan dan berharga dalam menjaga kesatuan dan keharmonisan masyarakat Desa Kutorojo.

Menyelami Kebudayaan Desa Kutorojo Melalui Program Kerja Study Tour Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Esa Fitrotul Maulidiyyah dan Akhmad Dalil Rohman, Editor: M. Nurul Fajri

 

Desa Kutorojo, yang terletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, memiliki sebuah kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh desa ini adalah kerajinan anyaman bambu yang dikenal sebagai reyeng. Reyeng bukan hanya sekadar kerajinan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kutorojo. Dengan hampir 98% rumah tangga di desa ini menghasilkan kerajinan reyeng, dapat dikatakan bahwa pembuatan reyeng telah menjadi mata pencaharian utama bagi penduduknya.

Dalam upaya untuk menggali lebih dalam tentang proses pembuatan kerajinan reyeng serta memperkenalkannya kepada masyarakat luas, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Gusdur Pekalongan menginisiasi sebuah program kerja yang bertujuan untuk menelisik lebih jauh tentang pembuatan reyeng khas Desa Kutorojo.

Program ini tidak hanya melibatkan mahasiswa KKN, tetapi juga bekerja sama dengan pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kutorojo. Dengan kolaborasi ini, diharapkan program dapat berjalan dengan lebih efektif dan berkelanjutan. Pada tanggal 16 Maret 2024, program kerja ini dilaksanakan di rumah salah satu pengrajin reyeng terbaik di desa, Ibu Surati.

Ibu Surati bukanlah sosok yang asing dalam dunia kerajinan reyeng. Sejak tahun 90-an, beliau telah mengabdikan dirinya dalam menghasilkan kerajinan anyaman bambu ini. Dengan pengalamannya yang luas, Ibu Surati menjadi mentor bagi para mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan dalam mempelajari proses pembuatan reyeng secara langsung. Para mahasiswa tidak hanya diajari teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan reyeng dengan bimbingan langsung dari Ibu Surati.

Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulajat, turut memberikan apresiasi terhadap program kerja ini. Baginya, inisiatif ini tidak hanya membantu mengenalkan keunikan budaya desa kepada masyarakat luas, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Reyeng khas Desa Kutorojo telah menjadi produk unggulan yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga diekspor hingga ke luar Jawa Tengah.

Melalui program kerja ini, para mahasiswa KKN tidak hanya belajar tentang proses pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga memahami pentingnya melestarikan budaya lokal serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi masyarakat desa. Dengan demikian, program kerja ini bukan hanya sekadar kegiatan belajar-mengajar biasa, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari upaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh sebuah masyarakat.

Selain itu, program ini juga memberikan dampak positif dalam hal pengembangan keterampilan dan pengetahuan bagi mahasiswa KKN. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga belajar tentang kerjasama tim, komunikasi lintas budaya, dan pentingnya memahami konteks sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Ini semua merupakan pembelajaran yang sangat berharga di luar ruang kelas.

Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat desa Kutorojo, tetapi juga bagi para mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Sebagai bagian dari upaya untuk mempererat hubungan antara universitas dan masyarakat, program ini menjadi contoh nyata dari kolaborasi yang berdampak positif bagi semua pihak yang terlibat. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan akan semakin banyak inisiatif lain yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Mengukir Harapan Bersama: Kisah Sukses Program Kerja Kuliah Senja KKN UIN GusDur dengan Santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo

Pewarta: Inul, Susi, & Rudi Riyanto,  Editor: Tegar Dwi Pangestu

Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen yang berarti bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dengan masyarakat. Pada tahun ini, Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan yang bertugas di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan meluncurkan inisiatif program kerja yang menggembirakan dengan melibatkan para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, program kerja ini dikenal dengan nama “Kuliah Senja”. Karena bukan hanya tentang memberikan pengalaman berharga, dan juga belajar menanamkan harapan dan membangun komunitas yang lebih kuat.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada Jumat, 22 Maret sampai Minggu, 24 Maret 2024. Pada hari pertama, suasana penuh semangat terasa di udara ketika mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan dengan antusias menyampaikan materi kepada para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo. Dalam suasana yang hangat itu, cerita-cerita yang dibagikan tidak hanya menjadi pembelajaran, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam hati para santri.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman masing-masing kelompok. Bagi santri Sekolah Dasar, pembahasan tentang kalimat tayyibah disampaikan dengan cara yang menarik dan interaktif, sementara para santri SMP mendengarkan kisah menarik mengenai Ashabul Kahfi secara khusyuk. Hal ini tidak hanya membangun pemahaman, juga menginspirasi para santri untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hari berikutnya, kebersamaan terasa semakin erat. Permainan dan ice breaking berhasil mempererat ikatan antara mahasiswa dan santri. Mereka tertawa, bermain, dan belajar bersama dengan semangat yang tinggi. Review materi memberikan kesempatan bagi para santri untuk mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari, sedangkan quiz berhadiah menjadi momen yang sangat dinantikan oleh semua.

aktifnya partisipasi dari para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo menjadi pemandangan yang menggembirakan bagi semua yang telah hadir. Selain itu, terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk menyerap ilmu serta berinteraksi dengan mahasiswa KKN. Ustadz Syekh, salah satu guru dari MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, turut menyampaikan kegembiraannya atas keberhasilan acara ini. Baginya, kehadiran mahasiswa KKN bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat dan motivasi bagi masa depan para santri.

Lebih, dari sekadar pertukaran pengetahuan. Kegiatan ini membuka pintu untuk membangun hubungan yang lebih dalam antara mahasiswa KKN UIN GusDur dengan masyarakat Desa Kutorojo. Di setiap tawa, pelajaran, dan momen kebersamaan, terciptalah ikatan yang kuat dan bermakna. Harapan dan impian untuk masa depan yang lebih baik ditanamkan dalam masing-masing langkah, menjadi bekal bagi kedua belah pihak untuk terus maju bersama.

Melalui program kerja kuliah senja ini, bukan hanya ilmu yang disebarkan, tetapi juga cahaya harapan yang menerangi setiap sudut hati. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, program ini membuktikan bahwa melalui kolaborasi dan komitmen, kita dapat menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat. Kegiatan ini telah mengukir cerita sukses yang akan dikenang oleh semua yang terlibat, dan menjadi landasan untuk upaya-upaya lebih lanjut dalam memperkuat hubungan antarwarga masyarakat.

Menginspirasi Masa Depan: KKN UIN GusDur Turut Perangi Kenakalan Remaja dan Bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman dan Maulana Ichsan, Editor: Faiza Nadilah

Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk karakter dan perilaku individu, terutama di usia remaja yang rentan terhadap berbagai tantangan sosial. Mengakui pentingnya hal tersebut, Kamis (21/3), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN GusDur Pekalongan Angkatan 58 Desa Kutorojo melaksanakan kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk menanggulangi kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo, dengan peserta siswa-siswi kelas 7, 8, dan 9.

Kegiatan tersebut dimulai dari pembukaan dengan perkenalan para mahasiswa KKN, disusul dengan ice-breaking dan permainan edukasi untuk menciptakan suasana yang nyaman dan interaktif. Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pemutaran film pendek yang menyoroti tema kenakalan remaja dan perilaku bullying. Setelah itu, materi disampaikan secara langsung kepada peserta dengan implementasi bermain peran untuk memperjelas contoh perilaku kenakalan remaja, dampaknya, dan cara penyelesaiannya. Dan ditutup dengan doa penutup, sehingga memberikan kesan spiritual yang mendalam.

Dasar dari kegiatan ini adalah implementasi konsep tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi kepada siswa SMP agar mampu memahami dan menghindari perilaku kenakalan remaja. Respons dan apresiasi yang baik dari pihak guru SMPN 1 Atap Kutorojo menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan institusi pendidikan formal dalam membentuk generasi yang berkualitas.

Menurut Pak Arfi, guru SMPN 1 Atap Kutorojo, kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendukung program Polsek Kajen dalam menanggulangi bahaya perilaku bullying. Kegiatan ini dianggap positif karena memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada siswa-siswi tentang dampak negatif dari perilaku bullying serta pentingnya mengembangkan sikap empati dan menghormati satu sama lain.

Dengan demikian, kegiatan pendidikan tentang kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN Satu Atap Kutorojo merupakan langkah konkret dalam membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik di kalangan generasi muda. Kolaborasi antara mahasiswa KKN, guru, dan pihak kepolisian merupakan contoh sinergi yang efektif dalam membentuk lingkungan pendidikan yang aman dan berdaya. Melalui upaya ini, diharapkan akan tercipta generasi yang lebih berkualitas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menjaga keharmonisan masyarakat.