Penulis: Muhammad Robba Masula, Editor: Ika
PEKALONGAN (22/2/2026) Di saat sebagian besar orang masih terlelap, suasana di Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan justru menghangat oleh nyala api persaudaraan. Kehadiran Ibu Negara ke-4 RI, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, membawa kesejukan bagi ratusan jiwa yang berkumpul dalam sahur bersama bertajuk “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi.”
Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Gus Dur beserta segenap sivitas akademika, tokoh lintas agama, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pekalongan, mulai dari Ketua DPRD, Asisten Bupati, Kapolres, perwakilan PC NU Kabupaten Pekalongan, PC NU Kota Pekalongan, PD Muhammadiyah Pekalongan, serta masyarakat desa di sekitar wilayah kampus.
Kehadiran Dr. (H.C) Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam rangkaian Safari Sahur Ramadan 2026 menjadi momentum refleksi bersama atas berbagai persoalan kebangsaan. Dikenal konsisten selama lebih dari dua dekade menggelar sahur kebangsaan lintas daerah, tahun ini UIN Gus Dur Pekalongan menjadi titik ketiga dari rangkaian kegiatan tersebut.
Baca juga: Menggugat “Serakahnomic”: Banjir Sumatera Aceh dan Urgensi Taubat Ekologis Bangsa
Dalam orasinya yang lembut namun sarat makna, beliau mengingatkan bahwa puasa adalah madrasah akhlak.
“Puasa itu jalan menjadi pribadi takwa yang berkelanjutan,” tutur beliau. “Bukan hanya menahan lapar, tapi membasuh hati dengan kejujuran, kesabaran, dan saling menolong. Inilah fondasi yang bisa menyelamatkan demokrasi kita yang tengah goyah.”
Pesan paling menyentuh dari Nyai Sinta adalah tentang bagaimana kita memandang perbedaan. Beliau menekankan bahwa menghormati manusia adalah bentuk tertinggi dari menghormati Sang Pencipta.
Rektor UIN Gus Dur Pekalongan mengungkapkan kekagumannya atas keteguhan Nyai Sinta yang selama 20 tahun istiqamah merawat nilai-nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kampus ini memikul beban moral untuk menjadi representasi gagasan Gus Dur: Kesetaraan (Equalitas).
“Kita memiliki hak yang sama dan kesempatan berkembang yang sama. Equalitas, kesamaan, tidak boleh dibeda-bedakan sebagaimana yang digagas Gus Dur,” tegas Rektor.
Memilih waktu sahur sebagai momen refleksi adalah simbol harapan. Di waktu yang mustajab ini, doa bersama dipanjatkan agar Indonesia tetap kokoh di tengah badai zaman.
Menutup dialog kebangsaan, beliau mengajak hadirin mengenang Gus Dur melalui lantunan syiir Munajat Abu Nawas, sebagaimana kebiasaan almarhum Gus Dur saat menutup pidatonya. Suasana pun kian khidmat dan reflektif.
