Refleksi Pemikiran Politik Menurut Imam Al Ghazali dalam Konteks Nilai-Nilai Islam dan Relevansinya pada Era Modern

Penulis: Ahya Adi Septiansyah, Editor: Choerul Bariyah

Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad bin Ahmad Al – Ghazali Avh-Thusi Asy-Syafi’i atau lebih di kenal dengan sebutan Al-Ghazali merupakan ulama yang ahli di bidang fiqih, filsafat, teolog, sufi dan ulama islam sunni terkemuka yang lahir di Thus, Khurasan Iran pada tahun 450 H/1058 M.

Sebagai figur yang berpengaruh dalam memberikan kontribusi yang sangat signifikat terhadap politik islam, konsep-konsep pemikiran Imam Al-Ghazali tentang kepemimpinan kenegaraan dan masyarakat yang adil dan makmur masih sangat relevan hingga saat ini.

Istilah politik tidak pernah luput dari algoritma platfrom-platfrom media sosial menjelang musim pemilu, hal ini terlihat setelah di adakannya deklarasi capres-cawapres ataupun caleg. Politik merupakan suatu proses atau kegiatan yang berkaitan dengan pengambilan sebuah keputusan khususnya dalam pemerintahan suatu negara  demokrasi yang sifatnya mengikat terkait dengan kebaikan masyarakat dan akan menjadi perubahan dalam suatu negara selanjutnya.

Imam Al-Ghazali merupakan intelektual muslim yang telah di akui keilmuannya oleh imam-imam lain ataupun ulama pada zamannya, sehingga Imam Al Ghazali di juluki sebagai “Hujjatul islam” argumentator islam. Beliau di kenal sebagai tokoh tasawuf dan filosof sehingga tak heran kalau beliau memiliki banyak gagasan di berbagai bidang termasuk dalam bidang politik.

Pemikiran-pemikiran Imam Al Ghozali memiliki corak bahwa konsepsi etika politik Al Ghazali adalah suatu teori sistem pemerintahan yang berisikan masyarakat dan peraturan negara yang memiliki moral yang baik dengan di topang oleh agama sebagai dasar negara. Hal yang menarik dan patut menjadi referensi politik muslim adalah, Al Ghazali mementingkan ilmu dan adab yang benar dalam berpolitik. Dengan ilmu dan adab yang benar, akan melahirkan pemerintahan yang baik, termasuk unsur unsur yang sangan penting seperti keadilan, transperasi dan integrasi.  konsep politik menut Imam Al Ghazali di tulis didalam kitab karya beliau yaitu “Ihya Ulumuddin”. Dalam kitab tersebut Imam Al Ghazali membangun sebuah argumentasi dari hal hal yang sangat fundamental.  Tujuan politik menurutnya adalah untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera bagi semua masyarakat, baik di kehidupan dunia maupun kelak di akhirat nanti. Hal tersebut dapat di capai dengan menegakkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraaan, dan kesalihan. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Imam AL Ghazali menekankan pentingnya memilih pemimpin yang memiliki kualitas moral dan intelektual yang tinggi. seorang pemimpin harus bijaksana, bertakwa, adil dan memiliki pemahaman yang sangat luas tentang agama dan politik. Serta harus memimpin dengan penuh hikmah, ikhlas, bijaksana dan lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya dibanding kepentingan dirinya sendiri.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya ulumuddin juga membahas politik dengan istilah “siyasah”. Siyasah merupakan aspek utama yang tidak dapat di pisahkan dalam politik sebuah negara. Karena dengan adanya siyasah akan tercipta sebuah sistem ketatanegaraan yang mengatur kehidupan sosial warganya. Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa siyasah mempunyai posisi yang sangat akurat dalam sebuah negara  karena untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baik, diperlukannya “siyasah”.

وَالسِّيَاسَةُوَهِيَ لِلتَّأْلِيْفِ وَاْلِاجْتِمَاعِ وَالتَّعَاوُنِ عَلَى أَسْبَابِ الْمَعِيْشَةِ وَضَبْطِهَا

Artinya: “Politik adalah tentang membentuk, mempertemukan, dan bekerja sama dalam sarana penghidupan dan pengendaliannya”

Dengan “siyasah” yang baik akan menunjang terealisasikannya urusan urusan keagamaan, oleh karna itu Imam Al Ghazali menegaskan

وَالسِّيَاسَةُ فِي اسْتِصْلَاحِ الْخَلْقِ وَإِرْشَادِهِمْ إِلَى الطَّرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ الْمُنْجِي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ

Artinya: “Politik merupakan usaha untuk mencapai kemaslahatan dan mengarahkan masyarakat kepada jalan yang benar. Yaitu selamat di dunia dan akhirat.”

Imam Al Ghazali berpendapat bahwa dunia merupakan “mazratul ahiroh” yaitu ladang menuju ahirat, artinya kehidupan di dunia harus dilandasikan untuk mencari bekal sebanyak banyaknya kelak menuju akhirat nanti, dengan cara melakukan segala kebaikan sesuai dengan perintah agama. Dalam Al Quran surat  Al Baqoroh ayat 148:

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ۝١٤٨

Artinya; “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Menurut Imam Al Ghazali hubungan antara agama, dunia dan politik tidak dapat di pisahkan, agama harus menjadi landasan moral spiritual dan hukum dalam menjalankan pemerintahan, politik juga harus sejalan dengan nilai nilai agama. Sebuah negara juga harus berlandaskan pada agama untuk menetapkan hukum hukum yang ada, hal tersebut sudah ada pada pancasila sila ke satu “ketuhanan yang maha esa”.

Seorang pemimpin dan pejabatnya juga harus membina hubungan baik dengan ulamanya, dalam Ihya ulumuddin jus II di jelaskan “Sesungguhnya kerusakan kerusakan rakyat di sebabkan oleh kerusakan pemimpin, dan kerusakan pemimpinnya disebabkan oleh kerusakan para ulamanya, dan kerusakan ulamanya disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan atau tahta, dan barang siapa di kuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurusi rakyat kecil apalagi penguasanya. Allah lah tempat meminta segala persoalan” (Ihya II hal 381).

Oleh karna itu imam Al Ghazali menegaskan bahwasannya seorang pemimpin tidak boleh di pisahkan dari ulamanya. Karena ulama merupakan penerus para anbiya’ (warosatul anbiya’), seorang ulama harus memberikan kontribusi dengan nasihat dan perintah terutama pada nasihat nasihat aqidah dan adab. Dua hal ini menurut Imam Al Ghazali merupakan faktor utama untuk menjadi hamba yang sejati, dengan istilah lain basicfaith yang ingin di kokohkan kepada para pejabat negara adalah pandangan dasar tentang imam. Karena asal bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas aktifitas ilmiah dan teknologi. Sedangkan adab menjadi penting karena manusia yang beradab (insan adabi) adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab kepada tuhan yang maha esa, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sediri dan orang lain dalam masyarakatnya, yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan manusia.

Imam Al Ghazali memiliki pendapat bahwa seorang pemimpin harus memiliki syarat; di antaranya mampu berbuat adil di antara masyarakatnya (tidak nepotis), melindungi rakyatnya dari kerusakan dan keriminalitas, tidak dzalim, harus memiliki integritas,penguasaan dalam bidang ilmu kenegaraan dan agama, agar dalam menentukan kebijaksanaan ia bisa berijtihad dengan benar, sehat panca indranya (mata, pendengaran, lisan tidak terganggu dalam menjalankan tugas), mempunyai anggota badan yang normal, pemberani, memiliki keahlian siasat perang, dan kemampuan intelektual untuk mengatur kemaslahatan rakyat.

Dalam kitab Al Tibr Al Masbuk fi nasehati Al Mulk, kitab tersebut berisi tentang nasihat-nasihat Imam Al Ghazali kepada sultan Muhammad Ibn Malik, yang pertama Imam Al Ghazali memprioritaskan pada kekuatan aqidah tauhid. Sedangkan isi yang kedua yakni berupa nasihat-nasihat moral, keadilan, keutamaan ilmu dan ulama. Dalam kitab tersebut, Imam Al Ghazali tidak lupa mengingatkan kepada sultan Al Mulk agar tetap loyal pada keimanan yang benar, ia  juga mengingatkan bahwa kekuasaan di dunia adalah titipan dari Allah swt, sedangkan kekuasaan tertinggi di dunia dan akhirat ini hanyalah kekuasaan Al Khalik yaitu Allah.

Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Penulis : Diah Karomah, Editor : Windi Tia Utami

Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan sebutan Gus Dur, beliau lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 september 1940. Nama kecilnya adalah Abdurrahman Addakhil, beliau dikenal sebagai seorang yang humanis. Gus Dur selalu membela masyarakat yang lemah, tertindas, dan minoritas. Ada berbagai macam hal yang memengaruhinya, mengapa Gus Dur mempunyai perspektif keberpihakannya terhadap orang lemah atau sering dikenal mustad’afin. Gus Dur sebagai orang yang sederhana dan pengaruh buku-buku yang dibaca, akan memengaruhi sikapnya dalam membela orang lemah.

Begitu juga dalam pemikiran lainnya, Gus Dur banyak dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus, misalnya situasi, buku yang ia baca, budaya, orang yang ia temui, pendidikan dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman yang dimilikinya akan membentuk konsep diri Gus Dur yang memiliki pemikiran tentang pribumisasi Islam, beliau yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dan univeraslisme Islam. Gus Dur yang memiliki sebuah gagasan pendidikan Islam yang dituangkan dalam sebuah tulisan “Pendidikan Islam Harus Beragama” dan tulisan-tulisan lainnya tentang wacana keislaman, bisa diketahui, bagaimana proses Gus Dur menghasilkan pemikiran yang terbuka dan progresif.

Setiap orang, termasuk juga Gus Dur telah melakukan proses interpretasi terhadap stimulus yang ia terima. Apabila yang dipersepsi diri sendiri maka akan dikenal adanya persepsi diri atau self-perception. Persepsi diri dapat dimaknai sebagai interpretasi seseorang terhadap diri sendiri. Ketika melakukan persepsi, seseorang melakukan proses kognitif. Proses kognitif akan melibatkan banyak aktivitas. Mulai dari penerimaan stimulus, memproses stimulus kedalam system memori, dan menginterpretasi stimulus berdasarkan informasi yang telah disimpannya.

Proses pembentukan persepsi dimulai dari penerimaan rangsangan atau sensasi dari berbagai sumber yang diterima oleh panca indra. Persepsi diri mencakup tiga pembahasan. Pertama, konsep diri (self-concept), kedua, harga diri (self-esteem), dan ketiga,presentasi diri (self-prentation). Pada bagian ini, dijadikan dasar bagi seseorang untuk mengenali orang lain atau pihak lain. Atas dasar, setiap orang mengenali diri sendiri seperti apa gerangan dan pada akhirnya memengaruhinya dalam membawakan diri di lingkungan sekitar.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi Diri Gus Dur  

Gus Dur memiliki pengalaman tentang objekserta peristiwa yang berbeda dengan orang lain. Pengalaman tersebut mampu membentuk persepsi Gus Dur terhadap informasi yang diterima kemudian diinterpretasikan. Ada banyak faktor yang memengaruhi persepsi seseorang. Toha (2003), mengklarifikasikan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi seseorang ada dua. 

Pertama Faktor Internal, Faktor internal merupakan faktor yang diperoleh dari dalam diri seseorang dalam menciptakan dan menemukan sesuatu yang kemudian bermanfaat bagi orang lain. Dalam konteks faktor inteternal pembentukan persepsi Gus Dura ada 4 hal yaitu, usia, minat, proses belajar, dan pekerjaan. 

Pertama, usia merupakan umur individu yang dihitung semenjak ia dilahirkan sampi pada momentum-momentum tertentu, sampai dia meninggal. Semakin cukup umur, kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Semakin tua umur seseorang semakin konstruktif dalam menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Begitu juga dengan Gus Dur, semakin tua umurnya maka semakin matang juga dalam bersikap dan bertindak. Dalam perjalanan hidupnya beliau mempunyai banyak pengetahuan, pengalaman dan persinggungan dengan banyak orang. Dari pengalama termasuk informasi yang diterimanya, akan memengaruhi sikap dan tindakan Gus Dur.

Kedua, minat Gus Dur sejak kecil sudah terlihat, yaitu membaca buku. Beliau mulai tertari terhadap buku-buku ayahnya dan dorongan dari ibu beliau untuk selalu membaca buku. Selain membaca buku, beliau juga memiliki minat terhadap bermain bola dan menonton film kedua minat beliau itu sangat memengaruhi hidupnya, beliau bahkan sampai pernah tidak naik kelas.

Ketiga, proses belajar, proses belajaran Gus Dur dimulai semenjak usia dini. Pada usia lima tahun, beliau sudah lancara membaca Al-Qur’an dengan kakeknya yaitu KH. Hasyim Asy’ari, Beliau juga banyak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Hingga pada tahun 1953, beliau masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowangan, dengan nyantri di pesantren Krapyak. Walaupun sekolah tersebut adalah sekolah yang dikelolah oleh Gereja Katolik Roma, namun sepepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Kemudia beliau melanjutkan belajarannya di pesantren Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Chudhari. Di sana beliau banyak belajar ritus-ritus sufi dan menanamkan praktik mistik. Selain belajar ilmu agama.

Keempat, pekerjaan. perjalanan karir Gus Dur sangat panjang, beliua menjadi guru, aktivis sosial, menjadi ketua PBNU, hingga menjadi presiden. Di sela-sela itu semua pekerjaan yang jarang ditinggalkan Gus Dur adalah menulis. Beliau menulis di berbagai media, buku pengantar, makalah, dan lain sebagainya.

Kedua Faktor Eksternal, Faktor Eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang dalam menciptakan atau menemukan suatu hal. Faktor eksternal sangat erat kaitannya dengan faktor internal. Faktor eksternal terdiri dari dua hal, yaitu informasi dan pengalaman.

Pertama, informasi. informasi yang diperoleh seseorang sangat berharga melalui panca indra. Informasi pertama yang diperoleh Gus Dur adalah khazanah keilmuan pesantren. Informasi kedua yang diperoleh beliau adalah dari buku. Sedari kecil beliau sudah menjadi kutu buku. 

Kedua, pengalaman. Pengalaman merupakan suatu peristiwa yang pernah dialami seseorang. Mialnya pengalama-pengalam Gus Dur ketika beliau ikut ayahnya ke Jakarta, beliau bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, dari situ lah beliau mendapatkan banyak pengalaman.

Pemikiran Gus Dur Terhadap Pendidikan Islam

Pendidikan Islam bagi Gus Dur harus tetap mengajarkan ajaran-ajaran formal Islam sebagai sebuah keharuasan yang diterima. Ajaran formal yang dimaksud oleh Gus Dur adalah ajaran bagaimana cara melaksanakan ibadah seseuai dengan syariat Islam. Bahkan Gus Dur menyatakaan bahwa ajaran Islam harus diutamakan dalam pendidikan Islam. Pemikiran beliau tentang pendidikan Islam tertuang melalui tulisan beliau yang berjudul “Pendidikan Islam Harus Beragam” yaitu,

“…tentu saja ajaran-ajaran formal Islam harus diutamakan, dan kaum muslimin harus dididik mengenai ajaran-ajaran agama mereka. Yang diubah adalah cara penyampaiannya kepada peserta didik, sehingga mereka akan mampi memahami dan mempertahankan “kebenaran”. Bahkan hal ini memiliki validitas sendiri, dapat dilihat pada kesungguhan anak-anak muda muslimin terpelajar untuk menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran yang benar” tentang Islam.”

Gus Dur juga menyatakan dalam tulisan tersebut, bahwa ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah keharusan yang diterima kaum muslim di berbagai penjuru dunia. Memang suadah semestinya, hal yang wajib disampaiakan dalam pendidikan Islam adalah ajaran-ajaran formal. Hingga peserta didik mampu memahami dan mempertahankan kebenaran. Gus Dur mencontohkan bagaimana anak-anak muda muslim terpelajar dalam menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran benar”. Contoh paling mudah bagi Gus Dur adalah menggunakan tutup kepala di sekolah non-agama, atau yang biasa dikenal dengan nama jilbab.

Setiap daerah memiliki budaya pendidikannya masing-masing sehingga pendidikan Islam tidak harus satu corak antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya. Pada prinsipnya, pendidikan Islam mengajarkan ajaran formal Islam. Dalam tulisannya “Pendidikan Islam Harus Beragam” Gus Dur ingin menyadarkan kita bahwa pendidikan Islam bukan hanya yang ada di tembok sekolah formal. Kenyataan yang ada di masyarakat pendidikan Islam sangat beragam. Sebenarnya

Menyingkap Kehidupan dan Ajaran Gus Baha: Antara Fikih, Tasawuf, dan Muhasabah Diri

Penulis : Slamet Widodo, Editor : Windi Tia Utami

K. H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau dikenal sebagai Gus Baha adalah seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Gus Baha dikenal sebagai ahli tafsir dan pakar Al-Quran.  Gus Baha lahir pada 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang.  Beliau merupakan putra dari seorang ulama pakar Al-Qur’an dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA K. H.  Nursalim al-Hafizh. Gus Baha menikah dengan seorang putri pesantren bernama Ning Winda dari Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Gus Baha merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair. Beliau mengungkapkan sejalur dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah karena dinilai sebagai ajaran yang mudah dan tidak mempersulit umat. Salah satu nasehat kondang beliau adalah mengajarkan pentingnya untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa.

Pertanyaan yang sering muncul dibenak masyarakat umum, khususnya umat Islam yang mulai berusaha mempelajari Islam adalah terkait mana kedudukan yang lebih tinggi antara Fikih dan Tasawuf.  K. H. Ahmad Baha’uddin Nursalim alias Gus Baha menjawab pertanyaan tersebut dengan penjelasan berikut: “Keyakinan saya sampai saya bertemu tuhan adalah tidak ada ilmu se-barakah ilmu fikih. Saya ulangi lagi, tidak ada ilmu se-barakah ilmu fikih. Meskipun tasawuf ya barakah, tapi tetap jauh. Jadi, orang sekarang itu ngawur sekali kalau mengatakan tasawuf itu diatas fikih. Itu keliru sekali.”

“Kita bisa mengikhlaskan amal itu setelah lolos uji fikih. Jadi misalnya saya shalat, saya ikhlaskan untuk Allah. Status shalat itu harus benar dulu: ada Fatihahnya, ada ruku’-nya, ada sujudnya. Orang status shalatnya saja tidak benar kok bilang diikhlaskan, diikhlaskan mbahe! Itu kan seperti sedekah, sedekah itu pakai harta. Hartanya halal, baru disedekahkan, baru diikhlaskan. Kalau hartanya saja sudah tidak halal, atau gak ada sama sekali ‘yang penting ikhlas’, ya diikhlaskan mbahmu!?. Yang penting mengajar itu ikhlas, orang mengajar saja tidak laku kok ikhlas”, jelas Gus Baha.

Tasawuf adalah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Konsep-konsep dalam tasawuf mengarahkan manusia atau sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Hampir semua konsep dalam tasawuf berasal dari Al-Qur’an. Konsep-konsep maqamat seperti taubat, sabar, ridho, tawakkal, khalwat, dan dzikir, semuanya diambil dari Al-Qur’an. Sufi sendiri menurut Gus Baha adalah orang yang membangun diri untuk menjauhi kehidupan duniawi dan memperbanyak baca istighfar ketika menyelesaikan segala masalah.

Dewasa ini, tasawuf banyak mengalami degradasi dan sering digunakan pada praktik-pratik yang sesat dan di pakai oleh para dukun berkedok agama. Berbeda dengan tasawuf yang di gagas oleh gus baha yang lebih mengena di hati para remaja karena di dalam tasawufnya tertadapat muahasabah diri dengan tidak menunggu orang lain mensifati kita disisi lain tasawufnya tidak mengajarkan amal-amalan yang menyesatkan seperti tubuh kekal,bisa menghilang,dll.

K.H. Abdul Hamid Pasuruan: Sosok Ulama Sufi dan Tokoh Panutan

Penulis : Rizal Kurniawan, Editor : Windi Tia Utami

K.H. Abdul Hamid atau lebih dikenal Mbah Hamid lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang Jawa Tengah. Ayahnya bernama Abdullah bin Umar seorang tokoh Islam yang rajin dan taat pada agama. Sedangkan ibunya bernama Raihannah, putri dari Kyai Shiddiq. Anak keempat dari 12 bersaudara yang dilahirkan dari rahim Ibu Nyai Raihannah. Mu’thi kecil bukanlah anak manis yang sehari-harinya diam di rumah, melainkan tumbuh sebagai anak yang lincah, mudah bergaul dan nakal. Meskipun begitu, Mu’thi rajin membantu orang tuanya.

Dalam usianya yang masih kecil, ia dididik oleh ibunya dan membiasakan shalat lima waktu berjamaah. Bahkan, saat Mu’thi ketinggalan shalat berjamaah, ia menangis sehingga sang ibu mengulangi shalatnya dan berjamaah bersamanya. Mu’thi juga sering disuruh ibunya membawakan oleh-oleh untuk disampaikan kepada gurunya dan ia merasa senang sekalipun oleh-olehnya sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa masa kecil Mu’thi bersih dari sifat sombong.

Masa Pendidikan Dan Karomahnya (1926-1927)

Pada usia tujuh tahun, Mu’thi dididik dan dibimbing sendiri oleh ayahnya dalam belajar Al-Qur’an dan dasar hukum Islam. Pada usia tujuh tahun itu pula ia sudah hafal nadham balaghah Jawahir Al-Maknum. Kemudian dalam usia sembilan tahun ia sudah mulai menghafalkan kitab gramatika bahasa dan sastra Arab Alfiyah Ibnu Malik yang juga dengan bimbingan langsung dari ayahnya. Sebagai orang yang taat beragama, ayah maupun ibunya memang mengharapkan agar anaknya bisa menjadi orang yang berbudi luhur di kemudian hari. Pada usia 12 atau sekitar tahun 1926-1927, ia dipondokkan ke Pesantren Kasingan Rembang. Pesantren ini diasuh oleh KH Kholil bin Harun, mertua KH Bisri Musthofa. Di Pesantren Kasingan ia mendalami ilmu gramatika bahasa dan sastra Arab seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Balaghah dan Arudh selama kurang lebih 1,5 tahun. Pada usia 13, ia diperintah ayahnya dan mengabdi kepada kakeknya Kyai Muhammad Shidiq (Mbah Siddiq) di Jember, Jawa Timur.

Mula-mula pada saat di Pondok Tremas Kyai Hamid hidup prihatin karena kiriman ayahnya hanya cukup untuk makan nasi tiwul. Celakanya, lokasi warung langganan Hamid jauh dari pondok. Apa boleh buat kaki melangkah setiap hari dengan memakai celana panjang dan bersepatu persis halnya orang berangkat ke kantor. Sepatunya disemir dengan mengkilap. Lima tahun di sana, beliau ditunjuk sebagai lurah pondok. Kala itu ia sekurun waktu dengan Kyai Abdul Ghofur Pasuruan, Kyai Harun Banyuwangi, dan Kyai Masduki Lasem. Selain sebagai lurah pondok, Kyai Hamid muda juga mengajar Ilmu Fiqih, Hadits, Tafsir dan sebagainya. Sehingga ia pun mulai mendapatkan bisyarah dan tidak memerlukan lagi kiriman dari orang tuanya. Perubahan nama Abdul Mu’thi menjadi Abdul Hamid ketika beliau sedang mondok ke Kasingan Rembang sekitar usia 12-13 tahun.

Kyai Hamid Menikah (1940)

Di usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri yakni Nyai H Nafisah bin KH Ahmad Qusyairi bin KH Muhammad Shiddiq. Pernikahan mereka berlangsung pada hari Kamis 12 September 1940 M. Disebutkan dalam undangan akad nikah dilangsungkan di Masjid Jami Pasuruan pukul 13.00 WIB, kemudian dilanjutkan walimah pada pukul 14.00 WIB.   Namun, hal ini tidak sesuai rencana karena mempelai pria terlambat datangnya. Terpaksa acara walimah dimulai saja meski tanpa kehadiran mempelai pria. Baru pada pukul 17.00 WIB, rombongan yang ditunggu datang juga. Akibatnya, para tamu sudah pulang dan akad nikah disaksikan oleh beberapa keluarga saja. Keterlambatan itu karena ajakan Mbah Ma’shum untuk ziarah terlebihdahulu ke makam Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat.

Dari perkawinan ini mereka dikaruniai lima orang anak, yakni Muhammad Nu’man, Muhammad Nasih, Muhammad Idris, Anas, dan Zainab. Dua yang disebut terakhir meninggal sewaktu mereka masih kecil. Kyai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan keluarganya dengan tidak mudah. Selama beberapa tahun beliau harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Sedangkan untuk menghidupi keluarganya, tiap hari beliau mengayuh sepeda sejauh 30 kilometer pulang pergi, sebagai blantik sepeda. Sebab, kata Kyai ldris, pasar sepeda waktu itu ada di Desa Porong, Pasuruan, 30 kilometer ke arah barat Kota Pasuruan. Kendati demikian tidak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan beliau sedemikian rupa dapat menutupinya sehingga, tak ada orang lain yang mengetahui. “Orang tua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, dia tidak lekas naik derajatnya”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.

Kyai Hamid memang sosok yang rajin belajar. Beliau sering membeli kitab untuk dipelajari sendiri. Bahkan, setelah berkeluarga di Pasuruan, beliau masih mengaji kepada Habib Ja’far bin Syichan Asegaf, seorang tokoh ulama yang sudah terkenal waliyullah. Sewaktu berada di Pasuruan Kyai Hamid mempunyai rutinan yakni setiap sore menghadiri pertemuan pengajian dengan metode mudzakaroh yang diselenggarakan oleh Habib Ja’far bin Syichan pukul 16.30-19.30 WIB. Kyai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri tertentu yang dipilih sendiri. Selain itu, khususnya di masa akhir kehidupannya, hanya mengajar sepekan sekali untuk umum.

Tirakat dan Sifat Zuhud

Kyai Hamid merupakan sosok ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya ‘Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak kesufiannya bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Konon, memang selalu menolak diberi mobil Mercedez, tapi mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan mewah. Kyai Hamid gemar mengenakan baju dan bersorban serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. “Berpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,” katanya suatu kali kepada seorang santrinya.

Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kyai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran (yang dipahami secara sederhana) mengenai kepedulian sosial Islam terhadap kaum dluafa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Kiai Hamid memang bukan ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu, dapat memperkirakan, sikap sosial beliau bukan sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang egoistis, dalam arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Hal itu menunjukkan betapa ajaran sosial Islam sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya. Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepada keluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya. Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kyai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu, juga memberikan bantuan secara rutin, terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anak.

Meninggal Dunia (1982)

Mbah Hamid wafat pada hari Sabtu 25 Desember 1982 M tepat pada pukul 03.00 WIB atau dini hari. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 70 tahun dalam hitungan Hijriah. Seorang tokoh besar, tokoh panutan meninggalkan umatnya. Inalilahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kabar pun segera menyebar Kala itu umat datang berbondong-bondong untuk melayat ke rumah duka sejak pagi. Mereka berasal dari berbagai penjuru. Umumnya seperti tidak percaya Kyai Hamid wafat. Melihat bayaknya pelayat keluarga tidak mau mengambil risiko, khawatir keranda rusak karena bakal jadi rebutan, pelayat. Menjelang ashar keranda di bawa ke masjid. Keranda itu berjalan dari satu tangan ke tangan yang lainnya karena saking padatnya pelayat, sehingga tidak bisa berjalan. Terjadilah tarik menarik keranda yang hendak keluar lewat gerbang barat atau timur, dari rumah ke masjid dibutuhkan waktu hingga dua jam. Jamaah yang menyalati melebar tidak hanya sampai masjid dan alun-alun, tetapi terus ke perempatan PLN sekitar 100 meter dan memenuhi jalan niaga hingga ke ujung utara dan ruas-ruas jalan Nusantara sepanjang 1 kilometer. KH Ali Ma’shum bertindak sebagai imam shalat. Setelah shalat Asar Kyai Hamid disemayamkan di kompleks makam sebelah barat Masjid Jami Al-Anwar Pasuruan. Posisi makamnya di antara makam Habib Ja’far bin Syichan Assegaf (guru) KH Achmad Qusyairi (mertua) dan KH Ahmad Sahal (ipar).

Keberadaan makam Kyai Hamid membawa berkah terhadap kemakmuran masjid dan pedagang di sekitar makam. Setiap hari makam Kyai Hamid tidak pernah sepi dari peziarah lokal atau luar kota. Pada umumnya para peziarah Walisongo Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat tidak pernah melewatkan kesempatan untuk ziarah ke makam KH Abdul Hamid.   Tidak cuma itu, semenjak ada makam KH Abdul Hamid setiap malam Jumat Legi kawasan sekitar masjid dan alun-alun Kota Pasuruan menjadi ramai.

Perjalanan Pemimpin dan Pendidik: Kisah K.H. Mas’ud Abdul Qodir dan Pondok Pesantren Darul Amanah

Penulis: Annisa Nuruz Zahra, Editor: Choerul Bariyah

K.H.Mas’ud Abdul Qodir beliau adalah pendiri dan pimpinan pondok pesantren Darul Amanah(Islamic Boarding School).Pondok Pesantren ini berada di Jawa Tengah tepatnya berada di Sukorejo-Kendal.Beliau juga salah satu ulama’ di Jawa Tengah yang mewakafkan diri,tidak hanya untuk kemajuan Agama Islam saja.Tetapi,juga untuk Masyarakat.Bangsa,dan Negara.Beliau mempunyai strategi pengembangan ponpes,yaitu menerapkan Panca Jiwa dan Panca Jangka Pesantren.Panca Jiwa yang diterapkan di pondok pesantren Darul Amanah,yaitu:

  • Jiwa Keikhlasan
  • Jiwa Kesederhanan
  • Jiwa Berdikari
  • Jiwa Ukhuwah Islamiyah
  • Jiwa Kebebasan

 

K.H.Mas’ud Abdul Qodir lahir pada hari senin wage tanggal 20 Juni 1949 yang bertepatan dengan Sya’ban (Ruwah)1368.Beliau belatar belakang dari keluarga yang sangat sederhana.Ayah dan ibunya adalah seorang pedagang desa yang berjualan dengan hasil perkebunan.Beliau tinggal di Dukuh Gondoriyo Desa Gondoharum Pageruyung Kendal.Sejak Kecil,Abah Mas’ud memang sudah disiplin dalam beribadah.Ketika memasuki usia SLTP,Beliau selalu berjamaah subuh setiap hari,kadang yang Adzan,kadang juga yang memukul kentongan.K.H Mas’ud Abdul Qodir sebagai anak pertama dari lima bersaudara yaitu:

  • H.Nasroh
  • H.Saib,B.A.
  • Hj.Masiti
  • H.Abdul Haris Qodir,S.Mn.

 

PENDIDIKAN K.H MAS’UD ABDUL QODIR

Pada masa itu,banyak orang yang belum memikirkan pendidikandan yang minat sekolah juga masih jarang,akan tetapi ia mempunyai kemauan tersendiri untuk bersekolah,dan juga dari keluarga yang memang memikir kan pendidikan dan juga agamanya.Beliau mempunyai kemauan yang kuat dalam menuntut ilmu(bersekolah)dibandingkan dengan teman sebayanya ,beliau juga orang yang sangat disiplin.Sepuluh tahun pasca Indonesia merdeka,masih banyak masalah yang harus dibenahi negara,yaitu keamanan,ekonomi,dan pendidikan.Di masa itu,di kecamatan Pageruyung hanya untuk wilayah selatan hanya ada satu Sekolah Rakyat(SR),dan itupun untuk beberapa desa;Gondoharum,Getas Blawong,dan Parakan Sebaran.Hikmah dari sekolah didesa lain,tentu memperluas wawasan dan pergaulan.Di Kota Kewedanan Sukorejo waktu itu belum ada SMP Negeri atau SMP Islam,yang ada hanya SMPK Argokiloso.Sekolah yang didirikan pada tahun 1953 itu menerapkan disiplin sebagaimana sekolah Belanda pada umumnya.Beliau melanjutkan pendidikan SMP Kanisius Sukorejo tahun 1961-1962,dan hanya satu tahun di SMPK Sukorejo.Dan melanjutkan pendidikannya di Pesantren Luhur,Wonosari Ngaliyan Mangkang,Semarang.Saat itu disebutnya pesantren Dondong,karena berlokasi di Kampung Dondong.

Di Mangkang,beliau hanya empat tahun ,karena mendapat informasi tentang Pondok Modern Darussalam Gontor.Awalnya dia kagum kepada salah satu ustadz pengajar Bahasa Arab saat menjadi santri di Pondok Pesantren Dondomg Mangkang yang bernama Ustadz Nurul Anwar.Ustad Anwar mahir dalam Bahasa Arab,ilmu Aljabar,dan Bahasa Inggris,karena lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor yang kemudian melanjutkan studi ke Madinah.

K.H Mas’ud Abdul Qodir dididik oleh generasi pertama Trimurti,yaitu tiga serangkai yang mendirikan pondok pesantren,yang terdiri dari K.H.Ahmad Sahal sebagai pendiri pertama Pondok Gontor 1926,K.H.Zainudin Fannani yang tinggal di Jakarta dan membantu dari jauh,,sertta K.H.Imam Zarkasyi yang memberikan warna baru metode Gontor sejak 1936.

Pondok Modern Gontor mempunyai Motto yang menekankan pada pembentukan pribadi Muslim yang Berbudi luhur,Bebadan sehat,Berpengetahuan luas,dan Berpikiran bebas.

Saat menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor,Abah Mas’ud hanya dijenguk sekali selama 9 tahun selama menjadi santri dan guru di Gontor.Karena beliau memahami Ayahnya yang sedang berjuang kerja keras untuk biaya pendidikannya hingga tidak punya cukup waktu untuk menjenguk putranya.

Sebelum menyelesaikan pendidikanya di Gontor beliau di nikahkan dengan perempuan dari anak adik ipar Kiai Muhsin yaitu Haji Nur Said,Kiai Muhsin adalah kakak beradik dengan Abdul Qodir(ayah K.H.Mas’ud).Perempuan tersebut bernama Nur Halimah yang saat itu baru tamat SD.

Pada tahun 1971-1972 Mas’ud Abdul Qodir mendapat amanah menjadi ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern(OPPM).saat menjabat menjadi ketua OPPM,beliau mendapat sentuhan dan arahan langsung dari pendiri dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,K.H.Ahmad Sahal dan K.H.Imam Zarkasyi selaku Pembina pengurus OPPM.”Kami dididik dengan baik dan kami juga melihat sosok kiai imam zarkasyi seperti orang tua sendiri,”kenangnya.”SIAP MEMIMPIN DAN MAU DIPIMPIN”.

Selama menjadi guru di Pondok Modern Darussalam Gontor,beliau melanjutkan Pendidikannya di Institut Pendidikan Darussalm (IPD) memgambil fakultas Ushuludin.memulai pendidikannya di IPD pada tanggal 25 Januari 1974-1 Februari 1974.

Setamat dari Gontor ,Mas’ud Abdul Qodir fokus untuk memulai membina rumah tangga.Cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Al Azhar Kairo sementara dilupakan dulu.Doanya, mudah-mudahan di kemudian hari ada anak-cucu yang merealisasikan cita-cita itu.Dan diwujudkan oleh putra pertama beliau bernama  H.Muhammad Adib,Lc,M.A sebagai wakil Pimpinan Pesantren Darul Amanah..Abah Mas’ud mempunyai dua putra dan putra kedua bernama H.Muhammad Fatwa,M.Pd.sebagai Direktur TMI Pondok Pesantren Darul Amanah.

Pada tanggal 1976,sebelum mendirikan Pondok Pesantren Darul Amanah,Kiai Mas’ud Abdul Qodir pernah mengadakan Kelas Bahasa Arab dirumah mertuanya H. Nur Said di Dusun Kemloko Ds.Mojojagung Kec.Plantungan Kab,Kendal.jumlah siswa kelas Bahasa Arab pada waktu itu sekitar 30 santri putra dan 30 santri putri.

Pondok Pesantren Darul Amanah,Berdiri pada tanggal 23 Mei 1990.Yayasan Darul Amanah yang bergerak di bidang pendidikan dan social keagamaan mendirikan Pondok Pesantran Darul Amanah yang dipelopori oleh:

  • K.H. Jamhari Abdul Jalal,Lc. (Cipining Bogor)
  • K.H. Mas’ud Abdul Qodir (Kabunan Ngadiwarno Sukorejo Kendal).
  • Bpk Slamet Parwiro (Parakan Sebaran Pageruyung)
  • Ust. Junaedi Abdul Jalal (Parakan Sebaran Pageruyung)

 

Keempat peloporpendirian Pondok Pesantren Darul Amanah bersepakat bahwa K.H. Mas’ud Abdul Qodir yang menjadi Pimpinan Pesantren Darul Amanah.Beliau merupakan alumni Gontor tahun 1972 .Dan pondok ini disebut pondok Alumni Gontor.dan Pondok Pesantren Darul Amanah kini memiliki Dua Ribu lebih santri dan Dua Ratus tenaga pengajar.memiliki empat tingkatan yaitu;MTS,MA,SMK,dan KMI.

K.H. Mas’ud Abdul Qodir menerapkan konsep kepemimpinan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang meliputi :Ing ngarso sung tuldha,Ing madya mangun karsa ,Tut Wuri Handayani.

“JANGAN BERHENTI BERDOA KARENA TAKDIR BISA DIUBAH DENGAN DOA”.K.H. Mas’ud Abdul Qodir.

Pemikiran dan Kepemimpinan KH. Ahmad Rifa’I BIN Raden Muhammad Marhum Chilmy Munazil

Penulis : Chilmy Munazil, Editor : Tegar Dwi Pangestu

Ahmad Rifa’i beliau adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama pendiri, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan. Beliau lahir pada tanggal 9 Muharram 1200 H, bertepatan dengan tahun 1786 di Desa Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dan wafat pada umur 84 tahun di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1895 dan di makamkan di pekuburan Jawa Tondano di kelurahan Kampung Jawa, di kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara Indonesia.

Sedari kecil beliau sudah dididik oleh ayahnya yang Bernama KH. Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja pula beliau sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, beliau menunaikan ibadah haji kemudian memperdalam ilmu agama di Makkah dan Madinah kurang lebih selama 8 tahun. Selain itu juga beliau menimba ilmu di Mesir.

Ahmad Rifa’i adalah seorang juru dakwah yang pandai, beliau mengemas ajarannya dalam kitab-kitab yang berbahasa Jawa menggunakan huruf Arab ( Arab Pegon ) dan berbentuk syair yang menarik bagi orang Jawa, sehingga pada masa itu Masyarakat Jawa mudah memahami dan menghafal ajaran Islam. Dalam berdakwah beliau juga mengobarkan semangat anti kafir, anti penjajah dan gagasannya bisa dikategorikan tajdid ( pembeharuan ) atau pemurnian.

Pemikiran beliau juga dapat dikatakan sebagai pemikiran yang moderat, pemikirannya telah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam kepada Masyarakat Indonesia.

Pemikiran dan kepemimpinan beliau yang telah meninggalkan jejak dalam sejarah keislaman diantaranya ada :

  • Pemikiran Keagamaan yang Mendalam

KH Ahmad Rifai dikenal sebagai pemikir keagamaan yang mendalam. Pemikirannya mencakup berbagai aspek kehidupan, dari hubungan manusia dengan Tuhan hingga tata cara ibadah. Beliau mengajarkan nilai-nilai keimanan dan keislaman yang bersifat inklusif, mendorong umat untuk memahami esensi ajaran agama secara komprehensif.

  • Toleransi dan Kemanusiaan

Salah satu poin penting dalam pemikiran KH Ahmad Rifai adalah nilai toleransi antar umat beragama. Beliau mengajarkan agar umat Islam menjalin hubungan yang baik dengan penganut agama lain, menciptakan harmoni dan perdamaian dalam Masyarakat. Pemikirannya mencerminkan semangat kemanusiaan yang mengedepankan persatuan di atas perbedaan.

  • Kepemimpinan yang Adil dan Bijaksana

Sebagai seorang pemimpin spiritual, KH Ahmad Rifai menunjukkan kepemimpinan yang adil dan bijaksana. Beliau memimpin dengan teladan, memberikan orientasi moral, dan menjaga keadilan dalam segala tindakan. Kepemimpinannya tidak hanya terfokus pada kepentingan kelompoknya sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan umat dan masyarakat secara luas.

  • Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat

KH Ahmad Rifai juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pemikirannya merangkul konsep pendidikan holistik yang tidak hanya menekankan aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Beliau melihat bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas dan beradab.

Meskipun beliau mungkin telah tiada, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Pengaruhnya meluas dari aspek agama hingga tatanan sosial. Warisan ini terus menerus diteruskan oleh para pengikutnya, menciptakan pondasi yang kuat bagi pengembangan masyarakat dan kehidupan beragama yang harmonis.

Dengan demikian, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi tolok ukur bagi mereka yang ingin menggali nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kepemimpinan yang berlandaskan pada keadilan dan kebenaran.

  • Ahmad Rifa’i mempunyai beberapa karya salah satunya kitab agama yang ditulis beliau yaitu dalam bentuk : syair, puisi tembang jawa, bentuk nastrah sebanyak 65 judul.

Sementara yang berbentuk tanbi ( semacam risalah singkat yang membahas satu topik ) ada 500 karya dan terdapat 700 berupa nadzom doa. Jumlah kitab tersebut yang ditulis sebelum KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon Maluku, yaitu saat masih bermukim di desa Kalisalak.

Secara umuum kitab- kitab diatas mengupas tentang 3 bidang ilmu syari’at islam yang meliputi Fiqih, Usuluddin, dan tasawuf.

Beberapa kitab karya KH Ahmad Rifa’I yang masih disimpan di universitas Leiden Belanda antara lain :

  • No.1139 Riayatal Himmah, tahun 1849 M
  • No. 6617 Nadzom Kaifiyah, tahun 1845 M
  • No. 7520 Tanbih Bahasa Jawa
  • No 7521 Husnul Mitholab, tahun 1842 M
  • No. 7524, Nadzam Irfaq, tahun 1845 M
  • No. 8489, Munawirul Himmah, tahun 1856 M
  • No. 5865, Athlab, tahun 1842 M
  • No. 8566, Nadzam Tazkiyah, tahun 1852 M
  • No. 8567, Tasyrihatal Muhtaj, tahun 1849 M
  • No. 8568, Syarihul Iman, tahun 1839 M
  • No. 8569, Tasfiyah, tahun1849 M
  • No. 11001, Bayan, tahun1839 M
  • No. 11001, Imdad, tahun 1845 M
  • No. 11004, Thariqat, tahun 1840
  • No. 7523 Abyanal Khawaij, tahun 1849 M

 

Sosok KH. Taufiqul Hakim dalam Modernisasi Pendidikan Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi dalam Pembangunan Karakter dan Kualitas Manusia

Penulis: Salma Mustafidah, Editor: Muhamad Nurul Fajri, Amarul Hakim

Pendidikan adalah sebuah investasi yang paling strategis untuk kemajuan negara di masa mendatang. Negara-negara maju biasanya mengirimkan kader penerus terbaiknya unuk dapat mempelajari ilmu pengetahuan ataupun teknologi di negara lain yang lebih maju agar ketika mereka kembali dengan segala ilmu yang sudah didapatkan dan dapat membangun negaranya menjadi bangsa yang produktif dan kompetitif. Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi tiga: formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal seringkali disebut sebagai pendidikan yang paling unggul. Padahal sudah terbukti dalam sebuah sejarah bahwa pendidikan informal dan nonformal mampu membangun karakter yang kokoh sebagai tempat bersemayamnya ilmu tunas bangsa yang berkualitas tinggi. Pesantren masuk kedalam kategori pendidikan nonformal yang telah mampu melahirkan banyak tokoh dan ulama bangsa yang mempunyai peran besar dalam merebut kemerdekaan dan mengisi pembangunan dari berbagai aspek kehidupan.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan sosial keagamaan. Dalam sejarah lahirnya pesantren, unsur pertamanya adalah seorang kyai karena kyai inilah tokoh utama dalam berdirinya pesantren. Dalam pesantren juga mampu melahirkan tokoh bangsa yang berkualitas tinggi. Harapan terbesar pesantren adalah santrinya menjadi kyai di tengah masyarakat. Ilmu yang telah diajarkan di pesantren lalu diamalkan atau diajarkan kepada masyarakat dengan keteladanan dan ketekunan sehingga dapat memikat daya tarik masyarakat dan menyuruh anaknya untuk belajar kepedanya. Pengakuan masyarakat terhadap keilmuan dan perjuanagan yang dimiliki seseorang tersebutlah yang akan melahirkan label ‘kyai’, karena kyai tidak berlabel dari pesantren tetapi dari masyarakat.

Keunggulan pendidikan pesantren terdapat pada banyak aspek : Pertama, internalisasi pendidikan karakter. Karakter merupakan pondasi mental seseorang, sehingga pembangunan karakter adalah sebuah prioritas agar bangunan diatasnya tidak goyah serta terombang-ambing oleh cobaan kehidupan. Kedua, membangun mental ‘self study’ (belajar secara otodidak). Di pesantren diajarkan ilmu nahwu sharaf supaya santri mampu dapat mengkaji sendiri kitab-kitab yang besar tanpa dibimbing langsung oleh guru. Ketiga, memberikan wawasan social. Pesantren pasti memiliki visi yang dapat membangun masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan lain sebagainya. Keempat, memperkuat aspek transedensi bahwa segala kegiatan yang dilakukan manusia bertujuan dalam rangka menggapai Ridha Allah SWT. Kelima, memberikan kemampuan berkolaborasi dalam kebaikan. Keenam, melatih ‘riyadhoh’ (tirakat). Ketujuh, membangun alaqah bathiniyah (hubungan antara kyai dan santri selam-lamanya, baik ketika guru masih hidup maupun sudah wafat).

Taufiqul Hakim adalah sosok kyai yang hidup di era keterbukaan, sehingga sangat memungknkan menyerap berbagai perubahan modern yang terjadi. Beliau bukanlah sosok pasif yang hanya menunggu datangnya perubahan, justru beliau adalah sosok yang sangat aktif yang menyerap dan mempelopori segala perubahan agar perubahan tersebut dapat sesuai dengan syari’at Islam. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan gagasan modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan diaplikasikan oleh beliau KH. Taufiqul Hakim sehingga dikenal oleh kalangan publik dan menjadi salah satu solusi stagnasi pendidikan dalam bidang pembangunan karakter, kompetensi keilmuan, dan dedikasi sosial. Pemikiran modernisasi pendidikan pesantren oleh KH. Taufiqul Hakim diantaranya dengan : membangun sistem yang kuat, pendidikan karakter secara berkelanjutan, kekuatan fokus, menggunakan metode syiir, gradualisasi dalam pendidikan, akselerasi kualitas serta kaderisasi.

Taufiqul Hakim tidak hanya sekedar berteori. Justru kekuatan utama beliau adalah turun langsung melakukan modernisasi pendidikan pesantren di pesantren yang beliau rintis. Beliau menawarkan kurikulum unggulan yang telah terbukti dapat mencetak kader-kader muda yang berkualitas. Kurikulum ini telah diuji coba dan didemonstrasikan kepada orang lain sehunga dapat terlihat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya ditingkatkan dan kelemahannya dihilangkan. Proses inilah yang membuat ide-ide orisional KH. Taufiqul Hakim terus berjalan seiring berkembangnya zaman. Salah satu dari bukti praktek modernisasi pendidikan pesantren beliau adalah “Amstilati”. Amtsilati adalah buah pemikiran KH. Taufiqul Hakim yang menjadi branding keilmuannya. Amtsilati adalah gerakan pertama modernisasi pendidikan yang menjadikan kualitas dengan waktu yang  sangat efisien. Dari kitab Alfiyah Ibnu Malik yang berjumlah seribu bait dibuat ringkas hingga delapan puluh tiga bait dan dilengkapi dengan contoh-contoh dari Al-Qur’an. Untuk memahami lebih praktis Amtsilati ini, KH. Taufiqul Hakim membuat dua alat bantu. Pertama, rumus dan kaidah yang diberi nama Qaidati. Kedua, praktek penerapan rumus yang diberi nama Tatimmatun.

Modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan dipraktekkan oleh KH. Taufiqul Hakim mampu menarik perhatian publik. Publik menilai terobosan modernisasi pendidikan pesantren KH. Taufiqul Hakim mampu menggabungkan dimensi salaf dan kholaf sekaligus. Amtsilati dan terobosan KH. Taufiqul Hakim yang lain relevan dengan tuntutan era kekinian yang mengedepankan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas dalam mengambil dan mengambangkan ilmu. Terdapat beberapa indicator, diantaranya : embangun karakter, membangun kompetensi, berbasis kualitas, berbasis kreativitas, dan integrasi ilmu, amal dan dakwah. Karena semakin besar dan banyak orang yang merasakan manfaat ilmu dan perjuangannya, maka semakin besar pula nilainya di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. Semua proses tersebut harus dilandasi dengan nilai keikhlasan karena hanya mengharap Ridha Allah SWT sebagai syarat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.  Wallahu a’lam……

Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Penulis: Aiyida Indana Sohiha, Editor: Faiza Nadilah

Biografi K. H. Abdurrahman Wahid

K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memiliki nama kecil Abdurrahman Ad-dakhil yang berarti “Sang Penakluk”. Dilahirkan pada tanggal 4 Sya’ban atau 7 September 1940, di Denanyar Jombang, Jawa Timur. Gus Dur berasal dari keluarga yang memiliki keterlibatan penting dalam gerakan nasionalis dan pendidikan Islam.

Ayah Gus Dur yaitu Wahid Hasyim, seorang menteri terkenal di pemerintahan Jakarta. Meskipun ayahnya menginginkan Gus Dur bersekolah tinggi, Gus Dur lebih suka sekolah normal dan mulai pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar KRIS di Jakarta. Walaupun mulanya pendidikan yang ditempuh bersifat sekular, Gus Dur kemudian secara sistematis mempelajari bahasa Arab dan Al-Qur’an. Setelah beberapa kali pindah sekolah, Beliau menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Munawir Yogyakarta.

Gus Dur melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan dan pesantren, belajar di bawah bimbingan ulama seperti KH. Ali Mashum dan Kiai Khudori. Setelah menyelesaikan studi formalnya di Yogyakarta, ia pergi ke Kairo (Mesir) dengan beasiswa Departemen Agama. Meskipun awalnya senang, Gus Dur kecewa dengan sistem pendidikan di Al-Azhar dan lebih suka menjelajah dan membaca buku. Pada tahun 1966, ia melanjutkan studinya ke Irak dan kemudian pindah ke Eropa, namun kekecewaan menghampirinya.

Setelah berusaha mencari kesempatan lain Gus Dur mendapatkan peluang untuk belajar di Universitas McGill (Kanada), dan setelah pulang dari luar negeri ia menjadi guru di Jombang. Pada tahun 1971, Beliau bergabung dengan Fakultas Ushuluddin di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Gus Dur menjadi Presiden keempat Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999.

Pemikiran K. H. Abdurrahman Wahid

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang memahami dan menerima pluralitas sosial Indonesia. Meskipun dianggap nyeleneh dan eksentrik, Beliau menunjukkan kebijaksanaan dalam berbagai masalah dan menggabungkan elemen sufistik dalam komunikasinya. Tidak hanya sebagai pribadi spiritual, dia juga mendukung pluralisme sosial dan budaya yang menjadikannya seorang demokrat liberal. Meskipun memiliki latar belakang tradisional Islam, kontribusinya mencerminkan pemahaman mendalam tentang teori sosial modern dan toleransi. walaupun terkadang dianggap aneh, pemikiran dan tindakan Gus Dur memainkan peran signifikan dalam kehidupan publik dan religius Indonesia.

Gus Dur mendasarkan pemikirannya pada komitmen kemanusiaan dalam ajaran Islam, mengedepankan toleransi, dan kepedulian terhadap keharmonisan sosial. Beliau menolak formalitas Islam dalam negara dan mengadvokasi civil society sebagai paradigma baru untuk umat Islam. Pemikirannya juga mencakup neo-tradisional Islam yang menggabungkan modernisme dengan pijakan transendental kepada Tuhan. Gus Dur memandang Islam sebagai agama toleransi dan berusaha menciptakan kehidupan keagamaan yang inklusif. Konsep toleransinya didasarkan pada sikap hati dan perilaku, menghindari eksklusivisme agama. Beliau menekankan pentingnya saling menyantuni dan keadilan tanpa pandang agama.

Inklusivisme, sebagai sikap terbuka dan menghargai perbedaan, merupakan prasyarat utama bagi dialog antar agama dan peradaban. Dalam konteks Islam, inklusifitas teologis bertentangan dengan eksklusif. Mencerminkan paradigma neo-modernisme dan keinginan untuk menghindari monopoli kebenaran oleh suatu agama. Gus Dur menafsirkan kata “Al-Islam” sebagai sikap menyerah kepada Tuhan, mendukung pentingnya inklusivitas dalam membangun keharmonisan sosial.

Dalam menghadapi persoalan terorisme di Indonesia, Gus Dur mengidentifikasi akar permasalahan pada pemikiran radikal dan pendangkalan agama. Beliau menekankan perlunya deradikalisasi pemahaman Islam, menyebarkan pemahaman moderat, dan menghilangkan kesalahpahaman yang menjadi akar terorisme. Toleransi dianggap sebagai kunci untuk mengatasi ekstremisme.

Terkait dengan keputusan MUI tentang pengucapan salam Natal, Gus Dur mengecam keputusan tersebut. Dan menyatakan bahwa hal itu menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kebebasan beragama dan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan. Beliau menekankan pentingnya menghormati setiap keyakinan dan memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memicu intoleransi dan merugikan keutuhan NKRI.

Dengan tingginya toleransi selama hidupnya, Gus Dur diakui sebagai bapak pluralisme Indonesia. Julukan tersebut pantas, mengingat pandangan inklusifnya. Salah satu kata bijaknya yang mencolok adalah, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai, dan ekstremis memutarbalikkannya. Kita butuh Islam ramah, bukan marah”.

Meneladani Sikap Patriotisme Pahlawan Nasional: Pangeran Diponegoro.

Oleh Shofi Nur Hidayah

Tidak hanya berasal dari kalangan prajurit dan tokoh politik saja, pahlawan nasional Indonesia banyak yang berasal dari lulusan pondok pesantren. Karena pondok pesantren sendiri memiliki sejarah yang panjang dalam proses kemerdekaan Indonesia. Salah satu pahlawan yang merupakan santri lulusan pondok pesantren adalah Pangeran Diponegoro. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No 8/TK/1973, gelar tersebut diberikan untuk menghormati dan mengapresiasi perjuangan Pangeran Diponegoro semasa Perang Jawa atau Perang Diponegoro sebagai bentuk usaha mempertahankan tanah air dari kolonial Belanda. Pangeran Diponegoro juga dikenal dengan sebutan kesatria Piningit atau kesatria tersembunyi.

Pangeran Diponegoro sendiri lahir di Yogyakarta tepatnya pada hari Jum’at, 11 November 1785 dari seorang ibu yang merupakan selir bernama R.A Mangkarawati dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Surojo, yang kemudian naik tahta dan bergelar Hamengkubuwono III. Saat lahir Pangeran Diponegoro diberi nama Raden Mas Mustahar yang akhirnya diberi gelar pangeran dengan nama Pangeran Diponegoro pada 1812 ketika sang ayah naik tahta. Masa kecil Pangeran Diponegoro diasuh oleh nenek buyutnya, yakni GKR Ageng Tegalreja yang merupakan putri dari salah satu ulama terkenal yakni Ki Ageng Deproyudo.

Menurut sejarawan Peter Carey dalam bukunya yang berjudul Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 menyebutkan bahwa Pangeran Diponegoro pernah belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinanar, Ponorogo dan diasuh langsung oleh Kiai Hasan Besari. Sepanjang hidupnya, Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang cerdas, gemar membaca, dan ahli dalam bidang hukum Islam. Beliau juga lebib tertarik pada masalah-masalah keagamaan ketimbang masalah politik keraton, dan lebih senang membaur langsung dnegan rakyat.

Beliau bukanlah seseorang yang gila jabatan, hal ini dibuktikan dengan penolakannya ketika hendak diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya dikarenakan menyadari bahwa dia lahir bukan dari seorang ibu permaisuri. Dari sejarah panjang kehidupannya, ada sikap-sikap yang patut untuk diteladani generasi muda dari sang pangeran. Sikap tersebut adalah patriotisme, yakni sifat rela dan berani berkorban atas segala yang dimiliki termasuk nyawa demi tanah airnya. Dalam konteks ini, Pangeran Diponegoro semasa hidupnya berani dan tegas berjuang membebaskan rakyat dari kesewenang-wenangan Belanda. Kedua ada sifat cinta tanah air, dimana pernah suatu ketika Pangeran Diponegoro marah besar terhadap Belanda karena tidak menghargai adat istiadat setempat. Setidaknya dari sekian banyak sifat dan sikap positif beliau, kita mampu mencontoh dua sifat tersebut agar menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Ibrah Perjalanan Panjang Pendidikan Mbah Moen Dalam Memecut Semangat Generasi Muda

Oleh Shofi Nur Hidayah

Kiai Haji Maimun Zubair, atau yang kerap dipanggil dengan sebutan Mbah Moen adalah seorang ulama sekaligus politikus Indonesia. Mbah Moen merupakan pengasuh tertinggi di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga akhir hayatnya. Beliau lahir di Karangmangu, pada 28 Oktober 1928 dan wafat pada 16 Agustus 2019 di Makkah, Arab Saudi. Mbah Moen merupakan putra sulung dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Dari jalur kakek, nasab Mbah Moen sampai kepada Sunan Giri.

Sejak kecil Mbah Moen sudah dibimbing langsung oleh orang tuanya dalam hal pendidikan. Beliau dibekali ilmu agama yang kuat, mulai dari menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan macam-macam ilmu Syara’ lainnnya. Di usia muda beliau sudah menghafal beberapa kitab diantaranya Al-jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotul Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah Fil Faroidl. Beliau juga menghafal kitab fiqih madzhab Syafi’i , seperti Fathul Qorib, fatul muin, Fathul Wahhab dan sebagainya.

Pada tahun 1945 Mbah Moen memulia pendidikan lainnya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dibawah bimbingan K.H Abdul Karim atau yang akrab disapa Mbah Manaf. Selain pada Mbah Manaf beliau juga menimba ilmu dari K.H Mahrus Ali dan K.J Marzuqi. Setelahnya kemudian kembali ke kampung halamannya mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Lalu ditahun 1950, beliau berangkat ke Makkah bersama sang Kakek, K.H Ahmad bin Syu’aib untuk melanjutkan pendidikannya menimba ilmu dari ulama di Makkah.

Guru-guru Mbah Moen di tanah Jawa antara lain Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abui Fadhil Senori (Tuban), dan beberapa Kiai lainnya. Dari kisah perjalanan kehidupan Mbah Moen, kita dapat mengambil hikmah untuk semangat dan senantiasa bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menimba ilmu. Mbah Moen juga senantiasa bertawadhu  kepada para guru-gurunya, beliau tetap rendah hati dan menghormati orang yang pernah mengajarkannya suatu keilmuan. Hal itu lah yang perlu di tiru oleh generasi muda zaman sekarang agar tetap menghormati seorang guru dan tetap semangat menimba ilmu dimana pun dan kapanpun. Sebab tidak ada batasan dalam mencari ilmu, selain itu ada hal penting yang perlu diingat. Dalam mencari ilmu, bukan dilihat dimana kita menimba ilmu tapi bagaimana kita menerapkan keilmuan yang telah didapatkan.