Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Penulis : Diah Karomah, Editor : Windi Tia Utami

Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan sebutan Gus Dur, beliau lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 september 1940. Nama kecilnya adalah Abdurrahman Addakhil, beliau dikenal sebagai seorang yang humanis. Gus Dur selalu membela masyarakat yang lemah, tertindas, dan minoritas. Ada berbagai macam hal yang memengaruhinya, mengapa Gus Dur mempunyai perspektif keberpihakannya terhadap orang lemah atau sering dikenal mustad’afin. Gus Dur sebagai orang yang sederhana dan pengaruh buku-buku yang dibaca, akan memengaruhi sikapnya dalam membela orang lemah.

Begitu juga dalam pemikiran lainnya, Gus Dur banyak dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus, misalnya situasi, buku yang ia baca, budaya, orang yang ia temui, pendidikan dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman yang dimilikinya akan membentuk konsep diri Gus Dur yang memiliki pemikiran tentang pribumisasi Islam, beliau yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dan univeraslisme Islam. Gus Dur yang memiliki sebuah gagasan pendidikan Islam yang dituangkan dalam sebuah tulisan “Pendidikan Islam Harus Beragama” dan tulisan-tulisan lainnya tentang wacana keislaman, bisa diketahui, bagaimana proses Gus Dur menghasilkan pemikiran yang terbuka dan progresif.

Setiap orang, termasuk juga Gus Dur telah melakukan proses interpretasi terhadap stimulus yang ia terima. Apabila yang dipersepsi diri sendiri maka akan dikenal adanya persepsi diri atau self-perception. Persepsi diri dapat dimaknai sebagai interpretasi seseorang terhadap diri sendiri. Ketika melakukan persepsi, seseorang melakukan proses kognitif. Proses kognitif akan melibatkan banyak aktivitas. Mulai dari penerimaan stimulus, memproses stimulus kedalam system memori, dan menginterpretasi stimulus berdasarkan informasi yang telah disimpannya.

Proses pembentukan persepsi dimulai dari penerimaan rangsangan atau sensasi dari berbagai sumber yang diterima oleh panca indra. Persepsi diri mencakup tiga pembahasan. Pertama, konsep diri (self-concept), kedua, harga diri (self-esteem), dan ketiga,presentasi diri (self-prentation). Pada bagian ini, dijadikan dasar bagi seseorang untuk mengenali orang lain atau pihak lain. Atas dasar, setiap orang mengenali diri sendiri seperti apa gerangan dan pada akhirnya memengaruhinya dalam membawakan diri di lingkungan sekitar.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi Diri Gus Dur  

Gus Dur memiliki pengalaman tentang objekserta peristiwa yang berbeda dengan orang lain. Pengalaman tersebut mampu membentuk persepsi Gus Dur terhadap informasi yang diterima kemudian diinterpretasikan. Ada banyak faktor yang memengaruhi persepsi seseorang. Toha (2003), mengklarifikasikan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi seseorang ada dua. 

Pertama Faktor Internal, Faktor internal merupakan faktor yang diperoleh dari dalam diri seseorang dalam menciptakan dan menemukan sesuatu yang kemudian bermanfaat bagi orang lain. Dalam konteks faktor inteternal pembentukan persepsi Gus Dura ada 4 hal yaitu, usia, minat, proses belajar, dan pekerjaan. 

Pertama, usia merupakan umur individu yang dihitung semenjak ia dilahirkan sampi pada momentum-momentum tertentu, sampai dia meninggal. Semakin cukup umur, kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Semakin tua umur seseorang semakin konstruktif dalam menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Begitu juga dengan Gus Dur, semakin tua umurnya maka semakin matang juga dalam bersikap dan bertindak. Dalam perjalanan hidupnya beliau mempunyai banyak pengetahuan, pengalaman dan persinggungan dengan banyak orang. Dari pengalama termasuk informasi yang diterimanya, akan memengaruhi sikap dan tindakan Gus Dur.

Kedua, minat Gus Dur sejak kecil sudah terlihat, yaitu membaca buku. Beliau mulai tertari terhadap buku-buku ayahnya dan dorongan dari ibu beliau untuk selalu membaca buku. Selain membaca buku, beliau juga memiliki minat terhadap bermain bola dan menonton film kedua minat beliau itu sangat memengaruhi hidupnya, beliau bahkan sampai pernah tidak naik kelas.

Ketiga, proses belajar, proses belajaran Gus Dur dimulai semenjak usia dini. Pada usia lima tahun, beliau sudah lancara membaca Al-Qur’an dengan kakeknya yaitu KH. Hasyim Asy’ari, Beliau juga banyak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Hingga pada tahun 1953, beliau masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowangan, dengan nyantri di pesantren Krapyak. Walaupun sekolah tersebut adalah sekolah yang dikelolah oleh Gereja Katolik Roma, namun sepepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Kemudia beliau melanjutkan belajarannya di pesantren Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Chudhari. Di sana beliau banyak belajar ritus-ritus sufi dan menanamkan praktik mistik. Selain belajar ilmu agama.

Keempat, pekerjaan. perjalanan karir Gus Dur sangat panjang, beliua menjadi guru, aktivis sosial, menjadi ketua PBNU, hingga menjadi presiden. Di sela-sela itu semua pekerjaan yang jarang ditinggalkan Gus Dur adalah menulis. Beliau menulis di berbagai media, buku pengantar, makalah, dan lain sebagainya.

Kedua Faktor Eksternal, Faktor Eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang dalam menciptakan atau menemukan suatu hal. Faktor eksternal sangat erat kaitannya dengan faktor internal. Faktor eksternal terdiri dari dua hal, yaitu informasi dan pengalaman.

Pertama, informasi. informasi yang diperoleh seseorang sangat berharga melalui panca indra. Informasi pertama yang diperoleh Gus Dur adalah khazanah keilmuan pesantren. Informasi kedua yang diperoleh beliau adalah dari buku. Sedari kecil beliau sudah menjadi kutu buku. 

Kedua, pengalaman. Pengalaman merupakan suatu peristiwa yang pernah dialami seseorang. Mialnya pengalama-pengalam Gus Dur ketika beliau ikut ayahnya ke Jakarta, beliau bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, dari situ lah beliau mendapatkan banyak pengalaman.

Pemikiran Gus Dur Terhadap Pendidikan Islam

Pendidikan Islam bagi Gus Dur harus tetap mengajarkan ajaran-ajaran formal Islam sebagai sebuah keharuasan yang diterima. Ajaran formal yang dimaksud oleh Gus Dur adalah ajaran bagaimana cara melaksanakan ibadah seseuai dengan syariat Islam. Bahkan Gus Dur menyatakaan bahwa ajaran Islam harus diutamakan dalam pendidikan Islam. Pemikiran beliau tentang pendidikan Islam tertuang melalui tulisan beliau yang berjudul “Pendidikan Islam Harus Beragam” yaitu,

“…tentu saja ajaran-ajaran formal Islam harus diutamakan, dan kaum muslimin harus dididik mengenai ajaran-ajaran agama mereka. Yang diubah adalah cara penyampaiannya kepada peserta didik, sehingga mereka akan mampi memahami dan mempertahankan “kebenaran”. Bahkan hal ini memiliki validitas sendiri, dapat dilihat pada kesungguhan anak-anak muda muslimin terpelajar untuk menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran yang benar” tentang Islam.”

Gus Dur juga menyatakan dalam tulisan tersebut, bahwa ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah keharusan yang diterima kaum muslim di berbagai penjuru dunia. Memang suadah semestinya, hal yang wajib disampaiakan dalam pendidikan Islam adalah ajaran-ajaran formal. Hingga peserta didik mampu memahami dan mempertahankan kebenaran. Gus Dur mencontohkan bagaimana anak-anak muda muslim terpelajar dalam menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran benar”. Contoh paling mudah bagi Gus Dur adalah menggunakan tutup kepala di sekolah non-agama, atau yang biasa dikenal dengan nama jilbab.

Setiap daerah memiliki budaya pendidikannya masing-masing sehingga pendidikan Islam tidak harus satu corak antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya. Pada prinsipnya, pendidikan Islam mengajarkan ajaran formal Islam. Dalam tulisannya “Pendidikan Islam Harus Beragam” Gus Dur ingin menyadarkan kita bahwa pendidikan Islam bukan hanya yang ada di tembok sekolah formal. Kenyataan yang ada di masyarakat pendidikan Islam sangat beragam. Sebenarnya

Strategi Penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad: Kebijakan, Taktik Militer, dan Dampak Sosial-Politik

Penulis : Ananda Rizka Oktaviana, Editor : Choerul Bariyah

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasi kebijakan Thariq Bin Ziyad dengan kecakapan militernya dalam penaklukan Andalusiadari 711-714 M dan mendeskripsikan kondisi sosial-politik praperang sehingga akhir dari perang antara Pasukan Islam dan Pasukan Kristen di Andalusia. Hipotesis yang diajukan adalah: 1) Thariq bin Ziyad mampu mengalahkan musuhnya dengan sekali serangan tanpa ada strategi jitu 2) Penyerangan hanya sebatas dari pinggiran pantai Andalusia saja tanpa perlu invansi ke wilayah daratan tengah hingga ke utara. Penelitian merupakan kajian kepustakaan dan observasi langsung ke lokasi penelitian; dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu: heuristik, kritik sumber (verifikasi), sintesis dan penulisan (historiografi). Hasil penelitian ini pembuktian bahwa penyerangan berhasil dilakukan dengan strategi khusus yang dibuat oleh Thaiq Bin Ziyad dalam jangka waktu hampir setahun persiapan sekaligus mengalahkan hingga membunuh pimpinan Kerajaan Visigoth. Akibatnya Thariq dan pasukannya dengan mudah menaklukan seluruh Andalusia dari Selatan hingga ke Utara, ada yang dengan pertempuran dan ada pula yang tanpa pertempuran.

Kata Kunci : Thariq Bin Ziyad, Penaklukan Andalusia

PENDAHULUAN

Penaklukan besar pernah terjadi pada abad ke 8 M, dimana untuk pertama kalinya dunia islam dapat tersebar ke wilayah benua Eropa tepatnya dari Gibraltar hingga ke Semenanjung Ibera (Spanyol klasik). Andalusia dikenal sebagai wilayah yang dihuni mayoritas besar oleh kaum Kristenyang terkenal kuat sistem militernya.

Panglima adalah kiblat dan sandaran pasukan perang. Dengan pemahaman inilah Musa Bin Nushair kemudian mengangkat pemimpin suku Barbar yang pemberani Bernama Thariq bin Ziyad (50-102 H/ 670-720 M), sebagai pemimpin pasukan yang akan bergerak menuju Andalusia. Dialah panglima yang menggabungkanantara rasa takut kepada Allah dan sikap wara’ , serta kemampuan militer, kecintaan pada jihad dan keinginannya untuk mati syahiddijalan Allah. (As-Sirjani, 2013, hal. 38)

Thariq Bin Ziyad menaklukan Andalusia pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid bin Abdul Malik yang berkuasa pada tahun 705-715 M. Tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju Barat Daya, sampai Benua Eropa yaitu pada tahun 711 M. Setelah aljazair dan maroko dapat ditundukan. Dibawah kepemimpinan dinasti Umayyah di Afrika Utara, Musa Bin Nushair mengirim Thariq Bin Ziyad sebagai pemimpin pasukan islam, dengan membawa pasukan yang berjumlah 12.000,kemudian menyebrangi selat yang memisahkan Maroko dan Benua Eropa dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan Jabal Tariq yang terletak di Benua Eropa. Sehingga pasukan Roderick yang menguasai Spanyol yang berjumlah 100.000 dapat dikalahkan oleh Thariq Bin Ziyad dan pasukan kaum Muslimin. (Yatim,2008)

TEORI DAN METODE

Pendekatan yang digunakan yaitu dengan Sejarah dan militer. Pendekatan Sejarah merupakan pandangan berfikir secara kontekstual sesuai dengan ruang dan waktu. Peristiwa ini terjadi tanpa meninggalkan hakikat perubahan yang terjadi dalam proses sosio-kultural, atau proses dimana aspek kemasyarakatan dan kebudayaan menjadi landasannya. (Dien Madjid dan Johan Wahyudi, 2014, hal. !3)

Adapun teori yang digunakan adalah teori strategi penyerangan dari Sun Tzu, yaitu: 1. Mempelajari siasat tempur lawan dengan serangan gertakan; 2. Menghidupkan kembali kebiasaan orang terdahulu untuk kepentinagn sendiri yang berguna dalam pertempuran; 3) Tidak melakukan penyerangan pamungkas terlebih dahulu, akan tetapi giring pasukan musuh untuk meninggalkan pusat kekuasaannya sehingga terhindari dari sumber kekuatannya; 4) Apabila mereka sudah masuk tahap detik-detik kekalahan, biarkan terlebih dahulu mereka kesempatan untuk bebas dan setelah itu menunggu reaksinya; 5) Mempersiapkan jebakan untuk memperdaya musuh dengan umpan berupa ilusi kekayaan, kekuasaan dan seks dan; 6) Tangkap komandan atau panglima pasukan, maka pasukan musuh menjadi terpecah belah.

Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Metode merupakan sebuah cara prosedural untuk berbuat dan mengerjakan sesuatu dalam sebuah sistem yang secara teratur dan terencana. Jadi, terdapat pra-syarat ketat dalam melakukan penelitian yaitu sistematis. (Dien Madjid dan Johan Wahyudi, 2014, hal. 217) Seyogianya penelitian yang dilakukan oleh penulis sendiri lebih kepada melakukan peninjauan pustaka, serta setidaknya ada sedikit banyaknya melakukan peninjauan melalui dunia maya (internet). Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah.

PEMBAHASAN

Riwayat Hidup Thariq bin Ziyad

Nama lengkapnya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walghu bin Warfajum bin Naighas bin Masthas bin Bathusats bin Nafzah. Ia berafiliasi pada kabilah Barbar Nafzah. Meskipun banyak perbedaan pendapat di kalangan ahli nasab terkait asal muasal Thariq bin Ziyad, apakah berasal dari bangsa Arab atau bangsa Amazig. Namun, mayoritas para pakar sejarawan mendukung nasab Thariq bin Ziyad berasal dari salah satu suku Amazig utama di Maghribi yang dikenal pada saat ini yaitu Maroko. (Ali, 2017, hal. 218)

Sebelum masuk Islam ia disebut-sebut sebagai budak asal suku Barbar, kelompok Zafdah di Afrika. Riwayat lain menyebutkan ia seorang Farisiy dari keluarga Hamadhan (Persia Hamdhaniah), atau dari Kabilah Nafsah Barbariyah bermoyang Assodaf (bukan Barbar asli). Thareq al-Laitsy (julukan dari Ibnu Khaldun) lahir pada 50 H/ 670 M, dan wafat pada 102 H/ 720 M. Sejak usia belia diasuh dalam lingkungan keluarga yang saleh oleh ayahnya yang telah muslim di masa pemerintahan Uqbah bin Nafi’. Roh dan api Islam yang menghantarkan beberapa waktu kemudian menjadi prajurit dahsyat dalam sejarah dunia. (Arsyad, 2000, hal. 401)

Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H/ 670 M, kelahirannya bertepatan dengan masa-masa peperangan di Afrika Utara. Thariq bin Ziyad mengalami masa-masa tersebut pada saat masih kecil, remaja, dan dewasa. Semenjak kecil, ia di asuh oleh ayahnya yaitu Muhammad Badr. Thariq bin Ziyad ahli dalam menunggangi kuda, ia juga sangat pemberani. Badannya sangat kuat, secara fisik warna kulitnya sawo matang dan kedua bibirnya tebal. Pada bahu sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat berukuran cukup besar yang ditumbuhi rambut. (Nursi, 2007, hal. 204)

Thariq bin Ziyad merupakan bekas budak yang dimerdekakan oleh Musa bin Nushair dan di tangannya juga Thariq bin Ziyad memeluk agama Islam. (Mahmud, 2017, hal. 181) Jiwa ksatria Thariq bin Ziyad semakin nampak setelah dekat dengan Musa bin Nushair, apalagi setelah memeluk Islam. Thariq bin Ziyad berubah menjadi pribadi yang relegius dan giat mempelajari Islam. Hal itulah yang membuat Musa bin Nushair kagum sehingga begitu percaya kepada Thariq bin Ziyad dan menjadikan ia sebagai pemimpim pasukan. Dengan masuknya Thariq bin Ziyad ke agama Islam menjadikannya seorang panglima, ahli dalam politik, cerdas memimpin pasukan dan dapat menaklukkan berbagai kota serta negeri.

Musa bin Nushair melihat di dalam diri Thariq bin Ziyad terdapat kemuliaan, kejantanan, keberanian, dan kemampuan mengatur berbagai hal dengan bijak. Hal ini menjadikan Thariq bin Ziyad masuk ke dalam jajaran orang-orang dekat Musa, sehingga Musa bin Nushair selalu mengandalkannya di tengah-tengah situasi-situasi sulit. Bukti paling kuat yang menunjukkan kepercayaan Musa terhadap Thariq bin Ziyad adalah ketika berhasil menaklukan kota Tangier. Musa mengangkat Thariq sebagai pemimpin Tangier ibu kota dari Maghribi pada tahun 708 M. Wilayah Tangier (Thanja) adalah sebuah kota di Maroko yang berada di bagian utara, wilayah ini merupakan kawasan yang luas. (Ali, 2017, hal. 417)

Meskipun Thariq bin Ziyad dari kalangan Barbar, Musa bin Nushair lebih mengedepankannya dibandingkan orang-orang Arab. Itu semua disebabkan karena: (As-Sirjani, 2013, hal. 38-39); Kapabilitas. Meskipun Thariq bin Ziyad bukanlah dari kalangan bangsa Arab, namun itu tidak menghalangi Musa bin Nushair untuk mengangkatnya memimpin pasukan. Karena ia mengetahui betul bahwa tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non Arab, juga sebaliknya, kecuali ketakwaannya. Ia menemukan pada diri Thariq bin Ziyad kelebihan dibandingkan yang lain, dalam kemampuannya untuk memahami dan memimpin kaumnya sendiri.

Kemampuan Dalam Memimpin

Selain kapabilitas Thariq bin Ziyad yang membuatnya unggul, keberadaannya sebagai seorang yang berasal dari suku asli Amazig (Barbar) juga sangat memberikan kontribusi dalam menyelesaikan semua faktor-faktor psikologis yang mengganjal di hati orang-orang Barbar yang belum lama masuk Islam. Karena itu, ia berhasil memimpin dan menundukkan mereka untuk mencapai tujuan yang ia inginkan. Disamping itu,sebagai orang Amazigia tentu mampu memahami bahasa kaumnya. Sebab tidak semua orang Barbar menguasai percakapan dengan Bahasa Arab, sementara Thariq bin Ziyad menguasai kedua bahasa tersebut; Arab dan Amazig.

Kondisi Sosial-Politik, Penyebab dan Alur Penaklukan Andalusia

Wilayah Andalusia sebelum masuknya Islam pernah dikuasai bangsa Phoenicia, Charthage, Romawi, Vandals, setelah itu dikuasai Bangsa Visigoth selama lebih dari dua abad. (Alatas, 2007, hal. 53) Andalusia yang pernah berada dibawah kekuasaan Romawi Barat sampai abad kelima Masehi. Selanjutnya Spanyol jatuh ke tangan Bangsa Visigot, salah satu suku Germanium yang berimigrasi dari dataran tinggi India menuju Eropa untuk mencari tempat pengembalaan dan mata pecaharian. Mereka menetap di lembah-lembah Eropa, sebagaimana bangsa Arab menetap di wilayah Syam dan Irak. (Zidan, 2014, hal. 05)

Kerajaan Visigoth menganut sistem pemilihan untuk menentukan raja mereka. Pemilihan ini biasanya dilakukan suatu sidang yang terdiri dari kaum bangsawan dan tokoh-tokoh gereja. Beberapa raja harus berusaha menciptakan sistem monarki yang turun-temurun, tetapi biasanya tidak mampu bertahan lama karena kuatnnya tantangan dari para bangsawan dan pendeta. Dapat dikatakan tidak ada raja yang turun temurun lebih dua atau tiga generasi di Kerajaan Visigoth. Ini menunjukkan kuatnya pengaruh para bangsawan serta pendeta dalam pemerintahan. (Alatas, 2007, hal. 57-58)

Akhirnya pada saat sidang Toledo ke-6 (The 6 th council of Toledo) pada tahun 638 M. Sistem Monarki tidak bisa dipertahankan sehingga sisitem pemilihan Kerajaan Visigoth telah berubah menjadi sistem musyawarah. Dengan sistem musyawarah ini terpilihlah Roderick menjadi Raja Visigot menggantikan Raja Witiza. Terpilihnya Roderick dari hasil musyawarah kaum bangsawan dan tokoh gereja. Setelah Roderick menjadi raja, kasus-kasus pengambil alihan kekuasaan sesekali masih tetap terjadi. Hal ini menggambarkan tidak stabilnya sistem politik Kerajaan Visigoth. Kestabilan hanya terjadi saat pemerintahan dipegang oleh seorang raja yang kuat. (Alatas, 2007, hal. 59)

Roderick adalah seorang panglima militer di Kerajaan Visigoth dibawah kepemimpinan Raja Witiza, dengan demikian Roderick menjadi raja baru di Andalusia pada tahun 710 M. Sejarah memang mencatat kesuksesannya naik ketampuk kekuasaan, tetapi sejarah lebih mengenalnya sebagai penguasa terakhir Kerajaan Visigot. Pada masa kepemimpinannya dua abad lebih pemerintahan bangsa Visigoth di Andalusia mendapati keruntuhannya. Pemerintahannya hanya berkira satu tahun tidak berjalan secara stabil. Perebutan kekuasaan yang ia lakukan berdampak pada kekacauan dalam bidang politik. (Alatas, 2007, hal. 67-68)

Secara politik kondisi Andalusia sebelum masuknya kaum Muslimin memang sedang dalam keadaaan perpecahan, karena munculnya pemberontakan, salah satunya di wilayah Basque (Barcelona). Munculnya beberapa negara-negara kecil yang tidak mau tunduk pada kekuasaan Kerajaan Visigoth, serta terjadinya perselisihan antara Raja Witiza dan Raja Roderick. Bersamaan dengan itu, sikap tidak toleran dan berbagi macam penganiayaan yang dilakukan oleh penguasa Kerajaan Visigoth terhadap pemeluk agama lain di wilayahnya membuat mereka banyak melakukan pengkhianatan dengan berpihak kepada kaum Muslimin. (Hitty, 2006, hal. 642)

Menjelang penaklukan kaum Muslimin masyarakat Andalusia sangat memprihatinkan. Karena masyarakat terbagi dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya, di antaranya yaitu:; Kelas bangsawan, mereka berasal dari keturuna bangsa Gothik, penakluk Sapnyol yang menguasai mayoritas tanah pertanian subur disertai dengan pembebasan mereka dari pajak. Kelas ini menduduki jabatan ketentaraan dan kepemimpinan dalam urusan agama; 2) Kelas tokoh agama, kelas kedua ini memiliki peran penting sehingga menguasai sebagian besar tanah-tanah pertanian subur serta terbebas dari pajak. Kelas kedua ini bersama para bangsawan menguasai pemerintahan, sementara pemerintahan sendiri hanya membahas bagaimana cara merampas harta dan menambah kekayaan para penguasa; 3) kelas budak pedagang, petani, dan tuan-tuan tanah, mereka memikul beban berat untuk membayar pajak dan memuaskan keserakahan para penguasa; 4) Kelas budak tanah, mereka mengolah tanah pertanian milik para tuan tanah besar, dan mereka sendiri bersama keluarganya termasuk bagian dari kekayaan tuan tanah. Mereka tidak memiliki hak apapun sehingga bebas dipindahkan dari satu tuan tanah ketuan tanah lainnya; 5) Kelas tawanan perang, mereka di perjual belikan dan tidak memiliki hak apapun; 6) Kelas Yahudi, mereka peran besar kehidupan negara. Sebagaimana kebiasaanya, mereka mampu menguasai sarana- sarana ekonomi secara umum, dan para penguasa pun merasakan dampak dominasi mereka.karena itu para penguasa melancarkan permusuhan dan memaksa Yahudi untuk meninggalkan agamanya dan masuk Kristen (As-Sirjani, Ensiklopedia Sejarah Islam, 2013, hal. 221).

Latar Belakang dan Proses Penaklukan Andalusia
Pertempuran Barbate (Awal Mula Penaklukan)

Thariq bin Ziyad mulai menyiapkan dirinya untuk menghadapi pertempuran. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari lokasi yang tepat untuk melakukan pertempuran, sehingga ia menemukan sebuah lokasi yang bernama Lembah Barbate. Pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (19 Juli 711 M) di Lembah Barbate terjadi pertempuran yang sangat sengit. Pasukan kaum Muslimin memenangkan pertempurannya melawan pasukan Roderick yang berjumlah 100.000 pasukan, mereka bercerai berai dan Roderick terbunuh dalam pertempuran ini. (As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 52)

Ketika surat pasukan yang lari akibat kekalahan itu sampai di tangan Roderick, kabar itu menjadi hantaman yang sangat keras baginya. Ia menjadi sangat marah. Dengan semua kesombongan dan keangkuhannya, ia mengumpulkan seluruh pasukannya yang berjumlah 100.000 prajurit kavaleri (berkuda). Ia memimpin mereka berangkat dari utara menuju selatan dengan tujuan menghadapi

kaum muslim, sementara Thariq bin Ziyad hanya membawa 7.000 pasukan yang mayoritasnya hanyalah pasukan infantri (pejalan kaki) dengan sejumlah kecil kuda. Maka ketika ia melihat fakta kekuatan Roderick, ia menemukan bahwa akan sangat sulit menghadapi mereka; 7000 berhadapan 100.000 prajurit. Ia akhirnya mengirimkan pesan kepada Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Musa bin Nushair akhirnya mengirimkan Tharif bin Malik dengan 5.000 prajutir infanteri yang dibawa dengan menggunakan kapal-kapal laut. (As- Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 54-55)

Tharif bin Malik pun tiba menemui Thariq bin Ziyad sehingga jumlah pasukan Islam mencapai 12.000 prajurit. Thariq bin Ziyad pun mulai menyiapkan dirinya untuk menghadapi pertempuran. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari lokasi yang tepat untuk melakukan pertempuran, hingga ia menemukan sebuah lokasi yang dikenal dengan lembah Barbate. Sebagian referensi menyebutnya dengan nama Lembah Lakka (Lacca). Pemilihan Thariq bin Ziyad terhadap lokasi ini didasarkan pada pandangan strategis dan militer penting; karena sisi belakang dan kanannya berdiri gunung yang tinggi. Itu tentu saja akan menjadi pelindung bagi belakang dan sisi kanan pasukan Islam, sehingga tidak ada seorang pun yang akan mampu berputar di sekitarnya. Sementara di sisi kirinya juga terdapat sebuah danau, sehingga ini menjadi sisi yang sangat benar-benar aman. Lalu di jalan masuk bagian selatan lembah ini (yaitu di bagian belakangnya), ia memasang kelompok pasukan yang kuat dipimpin oleh Tharif bin Malik, agar tidak ada seorang pun yang menyerang bagian belakang kaum muslimin. Dengan begitu, ia mampu berkonsentrasi menghadapi pasukan Kristen dari arah depan kawasan tersebut, dan tidak ada yang dapat menyerangnya dari belakang. (As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 55).

Kebijakan Thariq bin Ziyad dalam Penaklukan Andalusi

Dalam pembebasan wilayah Spanyol, perjalanan Thariq bin Ziyad menuju wilayah Spanyol yang menempuh jalur Laut sejauh 30 km. Kemudian Thariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat di pantai di sebelah bukit Gibraltar (Jabal Thariq). Begitu mendarat, dimulailah strategi brilian dari Thariq bin Ziyad sebagai berikut: 1) Thariq bin Ziyad membakar seluruh kapal yang mengangkut mereka. Hal ini bertujuan untuk memupuskan harapan kembali pulang di dalam jiwa para pasukan, dan mereka menghadapi musuh dengan penuh semangat tanpa putus asa. (As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 64); 2) Pidato Thariq bin Ziyad terhadap pasukannya, ketika dua pasukan saling berhadapan di dekat Lembah Rainka, Thariq bin Ziyad menyampaikan pidato di hadapan pasukannya, mendorong mereka untuk bersabar dan berperang, serta membangkitkan semangat ditengah-tengah mereka. Pidato ini seperti ini merupakan kebiasaan sebagian besar para komandan kaum muslimin. (Ali, 2017, hal. 420)

KESIMPULAN

Thariq bin Ziyad dikenal sebagai penduduk asli berkebangsaan Barbar; Bangsa Barbar menghuni wilayah Ifriqiyah; mereka diketahui merupakan suku yang pandai berperang dan selalu ikut serta dalam penaklukan di wilayah Afrika Utara. Thariq bin Ziyad hidup di masa pemerintahan Dinasti Umayyah, tepatnya masa kekuasaan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Walaupun dia berasal dari suku yang biasa- biasa saja, akan tetapi karena Thariq bin Ziyad memiliki kecerdasan dan kemampuan dalam ilmu kemiliiteran dan peperangan di medan pertempuran, akhirnya secara tidak langsung memberikan dampak bagi sukunya sendiri, sehingga terangkatlah derajat sukunya.

Sebelum penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad, Andalusia dihuni oleh mayoritas besar dari kaum Kristen yang dikuasai oleh Kerajaan Saat menuju kehancurannya ditangan pasukan Islam, Andalusia berada dalam keadaan memprihatinkan, karena terjadinya konflik internal perebutan kekuasaan dalam kerajaan, ditambah lagi adanya sistem kelas yang memarjinalkan kaum proletar atau rakyat kecil di Andalusia. Sedangkan mereka dari kalangan elit tetap dalam keadaan berfoya-foya dan sewenang-wenang terhadap masyarakat kecil tersebut. Oleh Sebab itulah, penaklukan pasukan Islam terjadi karena adanya dukungan secara tidak langsung dari masyarakat di sana agar mereka bisa bebas dari kungkungan “kejahatan” yang dibuat oleh Kerajaan Visigoth. Awal penaklukan dilakukan oleh Thariq bin Ziyad melalui Lembah Barbate Bersama pasukannya yang sebelumnya spionase sudah dilakukan oleh Tharif bin Malik.

 

REFERENSI

Alatas, A. (2007). Sang Penakluk Andalusia (Tariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair). Jakarta: Zikrul.

Ali, M. (2017). Abthalul Fathul Islami. (U. Mujtahid, Penerj.) Jakarta: Ummul Qura.

Arsyad, M. N. (2000). Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Dialog Kebudayaan: Hidup Harmonis dengan Budaya Warga Desa Rowolaku

Penulis : Amma Chorida Adila, Editor : Kharisma Shafrani

Keanekaragaman budaya nusantara memberi sebuah identitas kekayaan bangsa Indonesia. Berbicara mengenai budaya, dalam benak masyarakat pasti teringat akan warisan para leluhur. Warisan ini dianggap memiliki nilai kehormatan untuk dijaga serta dilestarikan dari generasi ke generasi berikutnya. Meskipun terkadang dianggap sebagai hal kuno, nilai dan filosofi budaya mampu melindungi masyarakat dari perpecahan sosial. Budaya memiliki peran yang sangat penting di tengah masyarakat heterogen, baik mereka yang pribumi maupun pendatang.

Seorang pakar antropologi, Parsudi Suparlan menuturkan budaya merupakan semua pengetahuan manusia yang dimanfaatkan untuk mengetahui dan memahami pengalaman serta lingkungan yang dialaminya. Pemikiran ini didukung oleh Koentjaraningrat yang mendefinisikan kebudayaan sebagai seluruh gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar. Dialog kebudayaan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya di masyarakat setempat, salah satunya di Desa Rowolaku.

Desa Rowolaku teletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Desa ini mempunyai keunikan budaya yang mengandung akulturasi nilai Islam. Keunikan itulah yang kemudian membuka dialog kebudayaan antara mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disebut UIN Gusdur, dengan beberapa tokoh masyarakat Desa Rowolaku. Dialog yang dilakukan sangatlah sederhana, berupa interaksi yang dilandasi rasa ingin tahu untuk terciptanya aspirasi positif bagi generasi penerus Desa Rowolaku. Secara geografis, kampus UIN Gus Dur masih termasuk lingkungan Desa Rowolaku. Menurut informasi dari ustadz Bukhoiri, salah satu pemuka agama Desa Rowolaku mengatakan bahwa dahulu desa tersebut masih kental dengan kejawen (budaya Jawa), salah satunya budaya tarian sintren. Sewaktu beliau kecil, masyarakat desa ini sering menggelar tarian sintren. Tari sintren yaitu tarian semacam ritual untuk memanggil roh atau dewa. Tarian ini diiringan dengan gamelan, kemudian penarinya dimasukkan ke dalam kurungan dan tiba-tiba menjadi cantik.

Seiring berkembangnya zaman, banyak masyarakat yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren, hal ini menjadikan perubahan di Desa Rowolaku. Tersebar dakwah dan kegiatan majelis baik di masjid maupun mushola. Tarian sintren lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat. Namun sampai saat ini masih ada beberapa warga yang pernah menjadi pemerannya. Tidak menutup kemungkinan warga bisa menikmati pagelaran hiburan Jawa, tarian sintren kemudian teralihkan oleh budaya pewayangan. Biasanya budaya pewayangan dilaksanakan pada bulan legeno atau bulan setelah syawal. Pandangan ustadz Bukhoiri mengenai masyakat Desa Rowolaku, tidak semua orang itu dapat menerima ajaran Islam dengan mudah. Sehingga untuk menyeimbangkan budaya desa, maka terjadi pergantian pagelaran hiburan. Tahun pertama mengadakan pagelaran wayang, tahun kedua mengadakan pengajian umum, begitu seterusnya. Semua acara diagendakan oleh pihak desa dan selalu bertempat di halaman balai desa. Hal ini bertujuan agar seluruh masyarakat dapat merasakan hiburan serta kajian.

Selanjutnya, topik pembahasan dialog kebudayaan mengarah pada budaya Jawa yang masih tetap dipertahankan di Desa Rowolaku. Adapun budaya tersebut yakni tradisi nyadran. Nyadran merupakan tradisi doa bersama di makam leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Pelaksanaan tradisi nyadran yaitu menjelang bulan Ramadhan yang bertempat di pemakaman umum Desa Rowolaku. Nyadran diawali dengan warga membawa jajan kemudian dibagikan dan membawa uang untuk juru kunci makam. Kemudian lambat laun para tokoh agama mengajari warga membaca tahlil dan berdoa, agar memperoleh keberkahan dari Allah. Kurang lebih tiga tahun kebelakang warga sepakat tradisi nyadran selain pembacaan tahlil dikonsep hampir seperti sedekah bumi. Jadi warga secara merata dibagi ada yang membawa jajan, nasi berkat dan tumpeng untuk dibagikan kembali kepada warga, sedangkan warga yang membawa uang di masukan ke dalam kotak amal untuk sedekah perbaikan makam. Dari sini, warga Desa Rowolaku saling bergotong royong mempererat tali persaudaraan.

Saat ini warga Desa Rowolaku sudah menyadari bahwa ajaran Islam itu agama yang Rahmatan lil’alamin. Sehingga banyak budaya bernuansa religi yang diciptakan seperti rutinan rebana, rutinan yasin, tahlil, dan manaqib. Dijelaskan oleh Ismail Dimiyanti, mantan Kepala Desa Rowolaku, bahwa selama bulan Ramadhan ada ngaji posonan atau kajian setelah subuh, dilanjutkan dengan tadarus setiap masjid dan mushola. Tidak ketinggalan juga takbir keliling setiap malam Idul Fitri, semua warga berantusias meramaikan perayaan malam Idul Fitri dengan mengikuti karnaval mengelilingi desa.

Selain bergandengan dengan budaya, warga Desa Rowolaku juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya adalah kegiatan jimpitan. Jimpitan dilakukan dengan warga menaruh uang koin ke dalam kaleng bekas atau gelas plastik yang sudah terpasang di dinding rumah. Setiap sore atau malam hari, uang koin tersebut diambil oleh ketua RT atau perwakilan warga. Hasil dari jimpitan dijadikan sebagai dana sosial desa, seperti digunakan untuk memperbaiki lampu jalan yang rusak atau pemasangan lampu di jalan desa. Selain itu, uang koin juga dimanfaatkan untuk warga yang sedang mengalami kesusahan.

Pada dasarnya budaya- budaya yang dipaparkan di atas merupakan beberapa bagian saja, tentu masih ada budaya lainnya. Keterbatasan waktu menjadi terbatasnya informasi yang diperoleh. Dialog kebudayaan antara mahasiswa KKN UIN Gusdur dengan tokoh masyarakat disimpulkan bahwa warga Desa Rowolaku hidup harmonis dengan budaya mereka, karena indikator keharmonisan menurut tokoh Al-Qaimi meliputi ketenangan, ketentraman, kasih sayang, saling melengkapi, belas-kasih dan pengorbanan, serta bekerja sama. Dalam membina keharmonisan dapat didasari oleh sikap saling menghormati, menerima, menghrgai, mempercayai dan mencintai satu sama lain. Inilah definisi keharmonisan terjalinnya suatu hubungan interaksi dan tindakan yang memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Dies Natalis ke-27, UIN Gusdur Hadirkan Inayah Wahid dan Zastrow Al-Ngatawi pada Seminar Pemikiran Gus Dur

Pewarta : Fajri Muarrikh

Pekalongan – Dalam memperingati Dies Natalis yang ke 27 tahun, Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan adakan Gelar Budaya dan Seminar Pemikiran Gus Dur yang dihadiri oleh Inayah Wahid, Putri bungsu Alm. Gus Dur dan Zastrow Al-Ngatawi, seorang budayawan sekaligus mantan ajudan Gus Dur yang dilaksanakan pada hari Minggu (05/05) yang bertempat di gedung Student Center kampus 2 UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Seminar Pemikiran Gus Dur ini dihadiri oleh pejabat tinggi civitas akademik kampus UIN Gusdur, seperti Prof. Zaenal Mustakim (Rektor UIN Gusdur) beserta tiga wakil rektornya, dosen, mahasiswa, Jaringan Gusdurian Pekalongan, dan masyarakat lainnya.

Prof. Zaenal Mustakim dalam sambutan pembukaannya, beliau mengatakan bahwa, “..nama UIN kita ini tidak sembarangan, nama yang ini berkah, berkah untuk UIN Gusdur, karena kita tanpa mengenalkan, berkoar-koar, semua orang sudah tahu siapa Gus Dur..”

Dengan betapa besarnya Gus Dur, bukan pada sosoknya tapi pemikirannya.Gus Dur. Sehingga ini tidak akan selesai dikaji dalam ruang waktu yang terbatas, ini akan langgeng. Selagi jaman ini masih hidup, jaman/dunia ini masih ada, maka pemikiran Gus Dur ini akan selalu kita kenang, dan akan selalu dikaji tidak akan selesai-selesai. Lanjut Prof. Zainal.

“..oleh sebab itu termasuk hari ini, bapak-ibu sekalian, ini juga sekaligus embrio untuk menyusun paradigma keilmuan kita, yang akan saya kembangkan kaya apa, yang nanti akan disinggung sedikit oleh Kang Zastrow, insyaallah semester depan kita akan mulai memikirkan ini.”

“..kita ingin bahwa UIN Gusdur ini bukan sekedar namanya ditempelkan di UIN-nya, tapi ingin pemikiran-pemikiran Gus Dur ini betul-betul menginspirasi kita semuanya, menjadi pijakan kita untuk beraktifitas menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, penelitian, dan juga pengabdian masyarakat untuk kita semua.” Pungkas Prof. Zainal.

Dalam kesempatan Seminar Pemikiran Gus Dur kali ini, Zastrow menjelaskan tentang pemikiran Gus Dur soal humanisme. Menurutnya, untuk melihat suatu pemikiran dalam teori sosiologi pengetahuan tentang habitus seseorang.

“Habitus Gus Dur pertama adalah tradisi keilmuan pesantren, karena ini yang membentuk pribadi Gus Dur sejak beliau kecil hingga masa remajanya. Yang kedua adalah Gus Dur hidup dalam pemikiran-pemikiran Islam klasik yang ada di lingkungan pesantren. Habitus yang ketiga yang menyentuh Gus Dur adalah pemikiran modernisme barat, karena sejak kecil Gus Dur sudah membaca buku ‘Das Capital’, dan novel-novel yang sangat diilhami pemikiran timur tengah. Ini adalah pondasi dasar yang membentuk karakter pola pikir dan sistem pengetahuan yang ada pada diri seorang Gus Dur. Itu tadi pada fase pertama.” Jelas Zastrow.

Dan pada fase kedua, lanjut Zastrow, ketika Gus Dur berangkat ke Timur Tengah (Mesir), disitulah Gus Dur bertemu dengan pemikiran Hassan Albana, Ikhwanul Muslimin, pemikiran klasik sufistik, sampai sastra klasik Timur Tengah hingga tradisi budaya Eopa pada saat itu.Ini adalah fase eksplorasi.

“Nah, sehingga membentuk kerangkaepistemologinya Gus Dur rasional-modern, yang dipertautkan dengan spiritual-tradisional. Jadi, modernitas adlah srang rasionalitas, tradisionalisme sarang spiritualitas, oleh Gus Dur dibentuk hubungan yang sejajar dan komplementer.” Imbuh Zastrow.

Orang-orang modern mendudukkan modernisme dan tradisionalisme adalah kontradiktif. Sementara Gus Dur, mendamaikan keduanya.

“Makanya kalau kampanye orang-orang sekarang ‘kan orang modern itu (mengatakan) kalau Anda ingin maju, ingin hebat, ignin berkembang, jadilah orang modern, jangan jadi orang tradisional. Ini ‘kan kontradiktif. Sementara Gus Dur enggak, kalau Anda ingin maju, berkembang, tautkan rasionalitas-spiritualitas, tautkan modernitas dengan tradisionalitas secara seimbang, bentuk hubungan yang komplementer. Tutup Zastrow.

Dalam hal ini, Inayah Wahid berkesempatan untuk menjelaskan tentang pluralisme dan globalisasi, kosmopolitanisme yang ada pada diri Gus Dur.

“Saya sangat percaya bahwa pluralisme atau keragaman itu sendiri, itu adalah bagian dari humanisme. Ketika berbicara manusia, maka pasti akan berbicara keragaman. Kalau Anda tidak sepakat, Anda adalah bagian dari keragaman tersebut dan Anda akan mengekalkan pernyataan saya.” Jelas Inayah.

Inayah bercerita, bahwa Gus Dur itu kuliah di Mesir, bapaknya (Wahid Hasyim) itu seorang menteri. Itu memang menjadi sebuah privillage. Dan Inayah mengandaikan, jika dia jadi Gus Dur, dengan masa mudanya berkeliling Timur Tengah, dari Mesir, Baghdad hingga sampai ke Eropa, lalu pulang lagi ke Indonesia, mungkin jika dia yang menjadi Gus Dur, dia bakal berdiam diri di rumah saja, tanpa perlu membela minoritas lain. Dia bakal mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri.

“Saya punya gelar dari luar negeri, saya punya ilmu, saya punya privillage,maka yang saya akan lakukan adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk saya sendiri, terserah mau bagaimana masyarakat. Tapi untungnya, Gus Dur bukan saya.” Sambung Inayah.

Ketika Gus Dur pulang, yang menarik adalah, ketika isi kepalanya sudah diisi globalisasi, akalnya menjadi sangat kuat. Seperti yang dijelaskan oleh Zastrow tadi, sebagai pribumisasi, menjadi kelokalan. Karena globalisasi harus berawal dari mana kita berpijak. Dan itu yang paling kuat dari seorang Gus Dur, pemikirannya, isi kepalanya boleh mendapat asupan dari negara manapun, tapi dia tidak menjadi manfaat kalau dia tidak bisa diletakkan dalam konteks lokal.

“Dan itu yang tadi dijelaskan oleh Pak Zastrow dijelaskan sebagai tradisional, sekuler, modernitas, yang setara, sejalan dengan yang tradisional, tidak mengecilkan, tidak menganggap sesuatu yang 4.0 atau 5.0 adalah sesuatu yang lebih baik, dibandingkan sesuatu yang lokal.” Tutup Inayah.

Harmoni Agama: Kisah Sukses Desa Linggo Asri dalam Mempraktikkan Moderasi Beragama

Penulis : Arjuna Ridhoka, Editor : Faiza Nadilah

Desa Linggo Asri di Kabupaten Pekalongan terkenal dengan praktik moderasi beragamanya. Desa ini memiliki keberagaman agama yang tinggi, dimana terdapat tiga agama yang dianut masyarakatnya yaitu: Islam, Hindu, Katolik, dan Budha. Massyarakat Linggo Asri telah berhasil menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan inklusif melalui dialog antaragama, layanan sosial, bantuan kemanusiaan, dan proyek lingkungan. Desa ini juga memiliki “Rumah Ibadah Moderasi”, yang meliputi masjid dan pura, melambangkan penghormatan terhadap keyakinan agama yang berbeda. Para pemuka agama di Linggoasri berperan penting dalam mendorong moderasi beragama dengan aktif menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi. Keberhasilan desa dalam mendorong moderasi beragama menjadikannya teladan bagi masyarakat lain, menekankan pentingnya toleransi dan saling pengertian antarkelompok agama yang berbeda.

Moderasi beragama di Desa Linggo Asri, Kabupaten Pekalongan, Jawa Timur, diadopsi pada tahun 2023. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang terkait dengan naskah moderasi beragama di daerah ini:

Laboratorium moderasi beragama: Desa Linggo Asri menjadi pusat laboratorium moderasi beragama bagi mahasiswa dan dosen UIN Gus Dur. Tujuan utama dari laboratorium ini adalah untuk memperluas pemahaman agama tentang praktik toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesepakatan bersama: Masyarakat Desa Linggo Asri, bersama dengan tim pemberdayaan masyarakat UIN Gus Dur, menghasilkan kesepakatan bersama dalam membentuk Desa Moderasi Beragama.

Indikator moderasi beragama: Empat indikator moderasi beragama yang diperkenalkan di Desa Linggo Asri, yaitu toleransi, anti kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan. 

Kampung Moderasi Beragama: Desa Linggo Asri telah diakui sebagai Kampung Moderasi Beragama oleh Kementerian Agama. Kampung ini menunjukkan adanya semangat kebersamaan, kerjasama, dan harmonisasi kehidupan keaagamaan.

Sosialisasi Moderasi Beragama: Sosialisasi moderasi beragama dan kesepakatan bersama di Desa Linggo Asri dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti Mapping Religious and Culture, Workshop dan Focus Group Discussion, pembuatan Buku Sejarah, Tradisi, dan Budaya Linggoasri, Religious Moderation Camp, dan proyek pembuatan video documenter.

Dalam naskah moderasi beragama di Desa Linggo Asri, masyarakat umum dan pemangku kepentingan agama menghargai keberagaman agama di Indonesia dan berusaha untuk membangun komunikasi dan kerjasama yang baik antara umat beragama.

Harmoni Ajaran dan Tradisi: Fondasi Masyarakat Moderat di Desa Linggo Asri

Penulis : Marsya Nirmala Dewi, Editor : Azzam Nabil Hibrizi

Hidup di dunia merupakan kehidupan yang dilakukan manusia yang bersifat sementara dan hanya berkesempatan satu kali seumur hidup. Manusia hidup di dunia untuk beribadah dan taat kepada Allah, beruntunglah manusia yang telah memanfaatkan hidupnya untuk beriman kepada Allah. Tidak hanya memikirkan akhirat, manusia juga harus menyeimbangi kehidupan di dunia, supaya manusia bisa menjalani kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Manusia dilahirkan ke dunia tidak bisa memilih orang tua, keluarga, dan nasabnya dari mana dan siapa. Melainkan sudah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi manusia yang bersyukur atas dilahirkannya di keluarga mana pun. Manusia juga tidak bisa memilih agama yang akan dianutnya, baik Islam, Kristen, Katolik, Buddha ataupun yang lain, dan manusia yang terlahir akan mengikuti agama dari orang tuanya. Saat saya belajar di Linggo asri, saya mendapat ilmu dari narasumber tentang Masyarakat Linggo asri sangat menjunjung tinggi rasa toleransi terhadap umat yang berbeda agama di desa tersebut, dan juga tetap menunjukkan rasa toleransi mereka dengan hidup saling berdampingan, rukun dan damai. Bahkan ada di antara mereka yang hidup dalam satu keluarga satu rumah, dengan berbeda agama. Hal ini menandakan seolah-olah perbedaan agama tidak ada dalam kehidupan mereka.

Dari perbedaan di atas, kita sebagai manusia harus bersyukur yang terlahir dari agama Islam, dan kita harus bisa menerapkan prinsip-prinsip moderasi beragama agar kehidupan di masyarakat bisa lebih baik lagi. Beberapa budaya dan lokal di Linggo asri dilaksanakan dengan kerja sama, gotong royong, dan saling menghargai. Contoh nyatanya, Ketika umat muslim mengadakan santunan anak yatim yang dilaksanakan pada sepuluh Muharram atau sepuluh Syuro, santunan tersebut adalah anak belum baligh yang ditinggalkan oleh ayahnya atau disebut anak yatim, akan mendapat sejumlah uang dan sembako dari masyarakat yang sudah ikhlas memberinya. Namun tidak hanya anak muslim yang mendapat santunan tersebut melainkan anak non muslim juga mendapatkannya. Dari hal tersebut bisa dilihat bahwa masyarakat Linggo asri sangat toleransi kepada masyarakat sekitar. 

Tradisi nyadran juga dilaksanakan di Linggo asri. Tradisi ini dilaksanakan sepekan sebelum puasa Ramadhan. Dalam tradisi ini biasanya masyarakat kerja bakti untuk membersihkan tempat kuburan dan membersihkan selokan-selokan rumah. Nyadran adalah tradisi yang setiap setahun sekali dirayakan dalam bentuk untuk saling berbagi, gotong royong dan menjaga komunikasi dengan yang lain. Keharmonisan dalam tradisi ini sangat terasa saat acara sudah dimulai, karena semua orang berkumpul dalam satu tempat dengan tidak membeda-bedakan kaya dan miskin, tua dan muda, putih dan hitam. Karena nyadran mengingatkan kepada kita semua untuk mempersiapkan kematian, bahwa semua orang akan mengalami hal tersebut, tidak perlu sombong menjadi manusia. Dalam pandangan Tuhan, manusia adalah sama tidak berbeda, yang membedakan nya adalah ketakwaannya. 

Tradisi syawalan merupakan tradisi yang dilaksanakan pada hari ketujuh di bulan Syawal. Syawalan di Linggo asri biasanya membuat gunungan megono, kemudian gunungan tersebut diarak oleh masyarakat setempat. Megono sendiri merupakan makanan khas dari pekalongan dan tradisi ini merupakan bentuk bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah diterimanya, dan bentuk keikhlasan dari rezeki yang dibagikan . Tradisi ini juga menumbuhkan sikap gotong royong, kerja bakti, saling menghargai dan saling berbagi kepada sesama manusia. Tradisi syawalan sangat menjunjung nilai persatuan, kebersamaan dan saling bekerja sama baik dalam pembuatan gunungan dan arak-arakan . 

Desa Linggo asri sangat menjunjung sikap harmonisasi dalam buda dan lokal. Pada saat orang muslim merayakan hari raya Idul fitri dan Idul adha, tidak sedikit orang non muslim yang membantu untuk gotong royong, memasak, dan menjaga keamanan. Masyarakat non muslim sangat menghargai hari raya muslim dengan tidak mengganggu ibadah  nya dan saling menjaga keharmonisan. Begitu pun sebaliknya, jika hari raya nyepi berlangsung, umat muslim saling membantu dalam kerja sama, memasang penjir, menjaga keamanan dan masak bersama. Ini semua terjadi karena adanya keharmonisan dalam masyarakat yang diterapkan di kehidupan yang banyak perbedaan. Sehingga masyarakat Linggo asri sudah terkenal dengan sikap moderat dan kerukunan dalam kehidupannya. 

Dari kearifan lokal dan ajaran Islam tersebut, masyarakat Linggo asri bisa mewujudkan kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat hingga bisa menjadi masyarakat yang moderat. Sebab itu, tradisi harus kita jaga dan lestarikan selama tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Tradisi sebagai upaya untuk mempersatukan masyarakat dan mempererat tali persaudaraan antar manusia,  antar manusia, dan bisa menjadi antisipasi jika terjadi konflik dan perpecahan antar masyarakat, sehingga bisa menjadi masyarakat yang damai, harmoni, dan sejahtera. Kunci dari kerukunan adalah menjaga tradisi dari warisan nenek moyang dahulu, agar tetap lestari dan populer ke mancanegara. 

Keharmonisan dalam tradisi nyadran, syawalan, dan santunan anak yatim di Desa Linggo Asri mencerminkan sikap gotong royong, saling menghargai, dan persatuan dalam masyarakat. Tradisi nyadran, yang melibatkan kerja bakti membersihkan tempat kuburan dan selokan rumah, mengajarkan nilai-nilai saling berbagi dan persiapan menghadapi kematian. Sementara itu, tradisi syawalan dengan pembuatan gunungan megono dan arak-arakan menunjukkan sikap bersyukur, gotong royong, dan kebersamaan dalam masyarakat. Selain itu, santunan anak yatim yang dilakukan oleh umat muslim juga melibatkan anak non-muslim, menunjukkan toleransi dan kepedulian terhadap sesama masyarakat.

Oleh sebab itu, dengan adanya keharmonisan antara ajaran Islam dan budaya lokal setempat dapat membentuk fondasi yang kuat bagi masyarakat yang hidup dalam kedamaian dan keselarasan. Dengan menekankan nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan saling menghargai, masyarakat Linggo Asri mampu menciptakan lingkungan yang inklusif dan harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam dan budaya lokal dapat saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain, menciptakan masyarakat yang moderat dan damai. Dengan demikian, Desa Linggo Asri menjadi contoh nyata bagaimana ajaran agama dan budaya lokal dapat bersatu demi menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Meniti Cahaya Kesetaraan Perjalanan Anak-Anak dalam Memahami Ajaran Islam

Penulis : Hilda Rara Sari, Editor : Kharisma Shafrani

Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan bagi setiap individu, termasuk anak-anak dan dalam konteks gender. Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan dianggap setara di hadapan Allah dalam hal nilai, hak, dan kewajiban. Meskipun ada perbedaan biologis, Islam menegaskan bahwa perbedaan gender tidak menjadikan seseorang lebih superior atau inferior dari sisi spiritual atau keadilan. Kedua jenis kelamin memiliki hak yang sama dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, dan berbagai aspek kehidupan.

Cerita ini mengisahkan tentang sekelompok anak-anak yang tumbuh di Desa Al-Hikmah, tempat nilai-nilai Islam sangat kental. Di antara mereka ada Amir, seorang anak laki-laki yang penuh semangat, penasaran tentang ajaran agama. Ada juga Aisha, seorang anak perempuan yang cerdas dan bermimpi tinggi. Desa Al-Hikmah terletak di lereng bukit yang hijau, dikelilingi oleh sawah yang subur dan hamparan pegunungan yang indah. Masjid megah dan pesantren adalah pusat kegiatan pendidikan dan keagamaan bagi anak-anak di desa ini. Budaya dan tradisi Islam tercermin dalam setiap sudut kehidupan sehari-hari mereka.

Cerita dimulai saat Amir dan Aisha terinspirasi dari pelajaran agama, mereka mulai mempertanyakan peran gender dalam Islam. Mereka berdiskusi dengan guru-guru mereka, melakukan riset, dan berbicara dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk memahami lebih dalam tentang kesetaraan yang diajarkan oleh agama mereka. Di sepanjang perjalanan ini, mereka menemukan pandangan masyarakat yang terkadang keliru tentang hak-hak gender. Melalui interaksi mereka dengan tokoh-tokoh desa, kedua anak ini mulai memahami bahwa ajaran Islam menekankan kesetaraan hak dan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan. Mereka menyadari bahwa perbedaan gender tidak boleh menjadi alasan untuk ketidakadilan, dan bahwa nilai-nilai agama menekankan pentingnya perlakuan yang adil bagi semua.

Akhir cerita menampilkan Amir dan Aisha berkomitmen untuk menjadikan pemahaman baru mereka sebagai pedoman hidup. Mereka memimpin inisiatif untuk menciptakan lingkungan di desa yang menerapkan nilai-nilai kesetaraan gender yang diajarkan oleh agama mereka. Bersama teman-teman mereka, mereka memulai kampanye pendidikan dan kegiatan sosial yang mempromosikan kesetaraan dan keadilan bagi semua. Naskah ini menggambarkan perjalanan anak-anak dalam memahami ajaran Islam tentang kesetaraan gender. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga bertindak sebagai agen perubahan dalam masyarakat mereka, mempraktikkan nilai-nilai agama mereka dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua.

Menyingkap Kehidupan dan Ajaran Gus Baha: Antara Fikih, Tasawuf, dan Muhasabah Diri

Penulis : Slamet Widodo, Editor : Windi Tia Utami

K. H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau dikenal sebagai Gus Baha adalah seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Gus Baha dikenal sebagai ahli tafsir dan pakar Al-Quran.  Gus Baha lahir pada 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang.  Beliau merupakan putra dari seorang ulama pakar Al-Qur’an dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA K. H.  Nursalim al-Hafizh. Gus Baha menikah dengan seorang putri pesantren bernama Ning Winda dari Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Gus Baha merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair. Beliau mengungkapkan sejalur dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah karena dinilai sebagai ajaran yang mudah dan tidak mempersulit umat. Salah satu nasehat kondang beliau adalah mengajarkan pentingnya untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa.

Pertanyaan yang sering muncul dibenak masyarakat umum, khususnya umat Islam yang mulai berusaha mempelajari Islam adalah terkait mana kedudukan yang lebih tinggi antara Fikih dan Tasawuf.  K. H. Ahmad Baha’uddin Nursalim alias Gus Baha menjawab pertanyaan tersebut dengan penjelasan berikut: “Keyakinan saya sampai saya bertemu tuhan adalah tidak ada ilmu se-barakah ilmu fikih. Saya ulangi lagi, tidak ada ilmu se-barakah ilmu fikih. Meskipun tasawuf ya barakah, tapi tetap jauh. Jadi, orang sekarang itu ngawur sekali kalau mengatakan tasawuf itu diatas fikih. Itu keliru sekali.”

“Kita bisa mengikhlaskan amal itu setelah lolos uji fikih. Jadi misalnya saya shalat, saya ikhlaskan untuk Allah. Status shalat itu harus benar dulu: ada Fatihahnya, ada ruku’-nya, ada sujudnya. Orang status shalatnya saja tidak benar kok bilang diikhlaskan, diikhlaskan mbahe! Itu kan seperti sedekah, sedekah itu pakai harta. Hartanya halal, baru disedekahkan, baru diikhlaskan. Kalau hartanya saja sudah tidak halal, atau gak ada sama sekali ‘yang penting ikhlas’, ya diikhlaskan mbahmu!?. Yang penting mengajar itu ikhlas, orang mengajar saja tidak laku kok ikhlas”, jelas Gus Baha.

Tasawuf adalah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Konsep-konsep dalam tasawuf mengarahkan manusia atau sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Hampir semua konsep dalam tasawuf berasal dari Al-Qur’an. Konsep-konsep maqamat seperti taubat, sabar, ridho, tawakkal, khalwat, dan dzikir, semuanya diambil dari Al-Qur’an. Sufi sendiri menurut Gus Baha adalah orang yang membangun diri untuk menjauhi kehidupan duniawi dan memperbanyak baca istighfar ketika menyelesaikan segala masalah.

Dewasa ini, tasawuf banyak mengalami degradasi dan sering digunakan pada praktik-pratik yang sesat dan di pakai oleh para dukun berkedok agama. Berbeda dengan tasawuf yang di gagas oleh gus baha yang lebih mengena di hati para remaja karena di dalam tasawufnya tertadapat muahasabah diri dengan tidak menunggu orang lain mensifati kita disisi lain tasawufnya tidak mengajarkan amal-amalan yang menyesatkan seperti tubuh kekal,bisa menghilang,dll.

Tradisi dan Transformasi: Pendidikan Pesantren dalam Era Modern

Penulis : Ahmad Syahrir, Editor : M. Nurul Fajri

Dengan berkembangnya zaman yang sangat maju, maka diperlukan model pendidikan yang mengedepankan kecerdasan spiritual keagamaan, salah satunya adalah pendidikan di pesantren, di mana pendidikan pesantren biasanya menggunakan metode – metode klasik yang masih di pertahankan secara turun temurun.

Dalam Pendidikan pesantren digunakan 3 metode pembelajaran, yaitu Sorogan, Bondongan,dan Musyawarah.

Metode Sorogan adalah metode yang di mana setiap santri menghadap secara bergiliran kepada kiai untuk membaca, menjelaskan atau menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya,kitab- kitab yang digunakan merupakan kitab klasik seperti Alfiyah Ibnu Malik, kitab Fat’ul Mu’in, Tafsir Jalalain dan lainnya.

Sistem Bandongan adalah sistem trasfer keilmuan di mana kiai atau ustādh membacakan kitab, menerjemahkan dan menerangkan sedangkan santri atau murid mendengarkan,menyimak dan mencatat apa yang disampaikan.

Metode Musyawirin disebut juga dengan metode musyawarah kitab; merupakan kegiatan membaca, menelaah dan mendalami secara mendalam isi dari sebuah kitab. Metode ini adalah salah satu tradisi pembelajaran yang ada di pondok pesantren. Dalam pelaksanaannya, musyawirin ini sepenuhnya mengadaptasi dari pelakasanaan yang ada di pondok pesantren. Para santri, khususnya mutakhorrijin (santri yang sudah lulus) pondok pesantren mempunyai tugas khusus yang harus dilaksanakan yaitu mengamalkan ilmunya di tengah masayarakat. Melalui kegiatan musyawirin ini mereka bisa mengamalkan dan memperdalam keilmuan mereka.

Metode – metode yang ada dalam pendidikan pesantren sangat efektif dalam menjalankan sistem pembelajaran, dimana metode-metode tersebut memiliki banyak sekali keunggulan, walaupun perkembangan zaman makin melesat, eksistensi pendidikan pesantren masih banyak, dimana banyak orang tua yang memilih untuk menempatkan putra-putrinya di pesantren ketimbang di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Banyak juga orang tua yang menyekolahkan putra-putrinya dan sekaligus menempatkannya di pesantren, walapun sistem pendidikan nasional berubah-ubah dengan perkembangan zaman, sistem pendidikan pesantren tetap konsisten dengan sistem pendidikan tradisional.

Merangkai Tradisi: Keberagaman dan Kekuatan Identitas dalam Nyadran Gunung Silurah

Penulis : Khoirul Umam, Editor : Windi Tia Utami

Membahas budaya lokal yang ada di indonesia seakan tidak ada habisnya. Keberagaman budaya menjadi unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, namun, ditengah keberagaman yang ada, Indonesia mampu merangkul semuanya, menjadikan keberagaman sebagai faktor pemersatu bukan faktor yang justru dapat memecah belah, sehingga akhirnya keberagaman dianggap sebagai identitas nasional. Keberagaman di Indonesia sendiri terdiri dari banyak hal, baik tarian, rumah adat, lagu daerah, pakaian adat, upacara adat, dan sebagainya.

Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda dengan daerah lain. Contohnya di desa Silurah, ecamatan Wonotunggal, kabupaten Batang terkenal dengan adat Nyadran atau Nyadran Gunung. Upacara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang diberikan oleh Tuhan, dan sebagai bentuk tawakal kepada-Nya dalam menjalani kehidupan ini masih Lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari desa Silurah.

Sejarah Nyadran Gunung Silurah berawal dari kisah 500 tahun lalu dimana terdapat musibah yang melanda desa Silurah, kekacauan terjadi dimana-mana. Sampai akhirnya pemimpin adat mendapat petunjuk dalam mimpi untuk melakukan serangkai ritual agar penyakit dan malapetaka yang melanda segera sirna yakni dengan tradisi Nyadran Gunung Silurah yang digelar mengikuti kalender hijriyah, tepatnya pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal.

“Alhamdulillah pada pagi hari ini menjadi bagian nikmat bagi kami semua, bisa menyelenggarakan kegiatan adat Nyadran atau sedekah bumi, dengan harapan selalu melestarikan budaya dan alam,” ungkap kepala desa Silurah, Suroto saat ditemui usai acara kirab budaya di desa Silurah, Kamis (24/11/2022).

Rangkaian Nyadran Gunung Silurah berisi kegiatan yang juga menyatu dengan alam, mengajarkan kepada manusia untuk tidak lupa menjaga kelestarian alam, dimulai dari kirab hasil bumi, pelepasan burung, penanaman pohon, penyebaran benih ikan, ider-ider desa, potong kambing kendit, slametan dan pentas ronggeng, serta pementasan wayang kulit. Nyadran Silurah terdiri dari rangkaian upacara seperti:

1.Tasyakuran Malam Jumat

Pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal, seluruh warga desa berkumpul dengan menggunakan pakaian adat setempat. Mereka melakukan ider-ider desa atau mengelilingi desa sambil memanjatkan doa. “Untuk hari ini tadi sudah kirab budaya warga berbondong-bondong membawa hasil panen sebagai simbol puji syukur kepada Allah yang akan disajikan besok” jelas Suroto, Jumat (25/11/2022).

  1. Pemotongan Kambing Kendit

Keesokan harinya, tokoh adat Desa Silurah melaksanakan penyembelihan kambing kendit. Kambing  kendit merupakan kambing yang memiliki ciri khas berupa bulu hitam dengan beberapa bagian tubuh yang berwarna putih. Penyembelihan ini biasanya dilakukan di lereng Gunung Rogo Kusumo. Dalam tradisi ini, penyembelihan kambing kendit dilakukan setiap tahun dan setiap tujuh tahun sekali dilakukan pemotongan kebo bule. “Memilih kambing kendit sendiri memang tradisi turun-temurun yang diyakini sebagai alat ritual yang dianggap punya “kekuatan” akan mau menolong dari hal gaib,” terang Suroto.

Tradisi ini diyakini warga setempat dapat menjauhkan mara bahaya dan kejahatan. Keyakinan ini telah menjadi keyakinan mutlak di desa Silurah, bahkan menurut pengakuan Suroto, pernah sekali tidak melaksanakan penyembelihan kambing kendit, lalu terjadi pagebluk atau wabah penyakit di desa Silurah.

  1. Sesaji dan Doa

Daging kambing yang telah dipotong sebelumnya kemudian dijadikan sesaji yang diletakkan di lima titik, termasuk di Watu Larangan (batu larangan). Sedangkan daging yang lain dimasak dan dimakan bersama dengan tujuan mengeratkan silaturahmi dan rasa kekeluargaan antar warga desa. Selama prosesi ini, terdapat ritual khusus berupa pemanjatan doa bersam dan menggunakan sesaji, seperti air enam rupa, panggang emas, degan hijau, kembang tujuh rupa, dan tumpeng serba hitam. “Tujuannya selain sebagai wujud syukur kepada alam, doa bersama juga agar dijauhkan bala, sebelumnya sekitar tahun 90an pernah tidak digelar dan ternyata terjadi musibah pagebluk, ya kita meminta doa yang terbaik serta untuk melestarikan budaya,” ujar Suroto.

  1. Ritual di Gunung

Setelah menyembelih kambing, sesepuh adat naik ke Gunung Rogo Kusumo diiringi dengan gending Jawa untuk mendoakan leluhur dan memohon keselamatan. Ada tempat-tempat tertentu di gunung ini yang disinggahi untuk berdoa.

  1. Kegiatan Kesenian

Selama perayaan Nyadran Gunung Silurah, terdapat beberapa pertunjukan kesenian yang ditampilkan, seperti ronggeng dan wayang kulit. Kegiatan ini bertujuan untuk menghibur dan melestarikan budaya setempat.

Itulah penjelasan mengenai tradisi Nyadran Gunung Silurah yang dilaksanakan oleh warga Desa Silurah. Warga desa percaya apabila upacara adat ini tidak dilakukan maka akan terjadi musibah pada desa mereka.

Melalui tradisi nyadran gunung  kita juga dapat belajar mengenai beberapa nilai kehidupan seperti nilai ketuhanan, sosial, hingga moral. Nilai ketuhanan tertuang pada ungkapan rasa syukut kita kepada Tuhan atas nikmat dan rezeki yang diberikan kepada kita. Nilai sosial yaitu kita dapat belajar untuk merangkai kerukunan dengan masyarakat lewat upacara nyadran gunung ini. Dan nilai moral yaitu dapat kita implementasikan pada sikap kita yang berusaha untuk melestrikan budaya ini agar tetap terjaga. Setiap kegiatan akan selalu ada pesan yang termaktub di dalamnya sehingga upayakan agar kita selalu memberikan yang terbaik pada setiap kegiatan yang kita jalani.