Menghargai dan Memperbarui: Kontribusi Islam dalam Pelestarian Budaya Lokal

Penulis : Chikal Sasmita Sari, Editor : Choerul Bariyah

Islam dan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana islam berkembang karena menghargai budaya lokal, begitu pula budaya lokal tetap eksis karena mengalami perbaruan dengan ajaran islam. Hubungan islam dalam budaya Islam dan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana Islam berkembang karena menghargai budaya lokal, begitu pula budaya lokal tetap eksis karena mengalami perbauran dengan ajaran Islam.

Kegiatan adab istiadat di desa lingo asri memiliki tradisi seperti saling membantu dalam perayaan hari raya nyepi, Melasti, dan bagi umat yang muslim melakukan hari raya 10 muharram, dan ketika ada yang hajatan atau nikahan warga masyarakat lingo asri ikut membantu nya. Apa kaitannya islam dengan budaya? Agama Islam turun bersentuhan dengan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama.

Budaya lokal sendiri memiliki arti  nilai-nilai lokal hasil budidaya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Budaya lokal dapat berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat. Contoh Budaya-budaya yang ada di Indonesia;

  1. Upacara Adat.
  2. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Debus.
  3. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Karapan Sapi.
  4. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Merarik.
  5. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Makepung.
  6. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Melasti

contoh kebudayaan Islam Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu kalian ketahui;

  1. Tradisi Halal Bihalal.
  2. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
  3. Tradisi Grebeg di Jawa.
  4. Tradisi Grebeg Besar di Demak.
  5. Sesaji Rewanda di Semarang.
  6. Njimbungan di Klaten.
  7. Grebeg Syawal Yogyakarta

Harmoni Islam dalam Kehidupan Sebelum Islam masuk di Nusantara, sudah terdapat kepercayaan atau agama masyarakat setempat. Agama yang dianut masyarakat Nusantara sebelum Islam adalah Hindu-Budha. Selain itu ada juga, Animisme dan Dinamisme. Berbaurnya kepercayaan Budha dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, karena watak dan karakter kepercayaan tersebut mempunyai banyak kesamaan. Salah satu contoh sederhana adalah tentang mitos. Adanya kepercayaan tentang roh, baik roh baik maupun roh jahat. Lalu ada kepercayaan pada banyak dewa yang mempunyai kekuasaan dan tugas masing-masing.

Selain itu, juga sudah ada budaya lokal masyarakat yang sudah terkondisikan dengan baik seiring perkembangan zaman. Budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat sudah tertanam dengan kuat dalam kehidupan sehari- hari. Toleransi antar umat beragama dapat kita maknai sebagai salah satu sikap kita untuk saling dapat bersama-sama dalam masyarakat yang menganut agama lain, untuk bisa saling menghargai, menghormati serta memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) tanpa adanya paksaan. Sikap toleransi antar umat beragama bisa kita mulai dari hidup bertetangga baik tetangga yang seiman dengan kita atau pun yang tidak seiman dengan kita. Sikap toleransi tersebut tentunya dengan cara menghargai, menolong, serta menghormati.

Bisa kita lihat contoh sikap toleransi, menghargai, dan menghormati perayaan hari besar keagamaan umat agama lain. Sebagai umat beragama kita harus menghormati perayaan hari besar agama lain secara proporsional dan tetap tidak boleh. Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu diketahui:

  1. Tradisi Halal Bihalal.
  2. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)
  3. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
  4. Tradisi Grebeg di Jawa.
  5. Tradisi Grebeg Besar di Demak.
  6. Sesaji Rewanda di Semarang.
  7. Njimbungan di Klaten.
  8. Grebeg Syawal Yogyakarta

Harmoni Islam dalam Kehidupan  ini dapat di lihat dari Sebelum Islam masuk di Nusantara, sudah terdapat kepercayaan atau agama masyarakat setempat. Agama yang dianut masyarakat Nusantara sebelum Islam adalah Hindu-Budha. Selain itu ada juga, Animisme dan Dinamisme. Berbaurnya kepercayaan Budha dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, karena watak dan karakter kepercayaan tersebut mempunyai banyak kesamaan.

Khutbah Idul Fitri: Momen Introspeksi dan Pembangkitan Semangat

Penulis : Atha Auza’i Ajda’, Editor : Faiza Nadilah

Khutbah Idul Fitri merupakan momen penting bagi umat Islam, tak ubahnya seutas benang emas yang menjahit lembaran hikmah dan kemenangan dari ibadah puasa Ramadhan. Di dalamnya, terkandung pesan-pesan penting yang bukan sekadar hiasan, melainkan pedoman bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karenanya, khutbah Idul Fitri tidak hanya sekedar seremonial, melainkan momen introspeksi dan pembangkitan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang terus menerus mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berkontribusi bagi masyarakat. Semoga khutbah-khutbah Idul Fitri yang kita dengarkan senantiasa menjadi penyejuk kalbu, pengingat untuk selalu berbenah diri, dan penggerak untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

SYUKUR ATAS BERKAH RAMADAN.

Khutbah dimulai dengan ungkapan syukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan dalam menjalani bulan Ramadan. Mengenang betapa berharganya bulan penuh ampunan dan rahmat ini, umat Islam diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Khutbah merupakan serangkaian pidato atau ceramah yang biasanya disampaikan oleh seorang pemimpin agama, seperti imam, selama salat Jumat atau acara keagamaan tertentu, seperti pada bulan Ramadan. Khutbah pada bulan Ramadan memiliki nuansa khusus yang dipenuhi dengan rasa syukur atas berkah dan keistimewaan bulan suci ini. Berikut adalah beberapa poin yang dapat menjelaskan rasa syukur atas berkah Ramadan dalam konteks khutbah:

Bulan Ramadan sebagai Bulan Penuh Berkah. Khutbah Ramadan seringkali dimulai dengan menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk menyambut bulan Ramadan, yang dianggap sebagai bulan penuh berkah dan rahmat. Pada bulan ini, umat Muslim meyakini bahwa pintu surga terbuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Rasa Syukur atas Kesempatan Beribadah. Khutbah menggaris bawahi betapa berharganya waktu Ramadan sebagai kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah. Umat Islam disarankan untuk memanfaatkan setiap detik dalam beribadah, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan melakukan amal kebajikan.

Kesyukuran atas Puasa. Puasa Ramadan adalah salah satu pilar utama Islam, dan khutbah dapat menyoroti rasa syukur atas kemampuan untuk melaksanakan puasa. Puasa dianggap sebagai bentuk pengendalian diri, kesabaran, dan solidaritas dengan mereka yang kurang beruntung.

Rasa Syukur atas Kesempatan Memperbaiki Diri. Ramadan memberikan peluang bagi umat Islam untuk merefleksikan diri, memperbaiki karakter, dan meningkatkan kualitas hidup rohaniah. Khutbah dapat menekankan rasa syukur atas kesempatan untuk melakukan perubahan positif dan meningkatkan kualitas spiritual.

Pentingnya Berbagi dan Kepedulian. Khutbah juga dapat menyentuh pentingnya berbagi, kedermawanan, dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Ramadan mengajarkan nilai-nilai solidaritas sosial dan memberikan rasa syukur atas kemampuan untuk berkontribusi pada kesejahteraan bersama.

Syukur atas Malam Lailatul Qadr. Khutbah Ramadan juga sering mencakup rasa syukur atas malam Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Umat Islam diingatkan untuk memperbanyak amal ibadah dan doa pada malam ini.

Kesimpulan dengan Doa Syukur. Khutbah umumnya diakhiri dengan doa syukur kepada Allah SWT atas segala berkah Ramadan, kesempatan beribadah, dan harapan agar amal ibadah diterima.

Melalui khutbah Ramadan, umat Islam diingatkan untuk merasakan rasa syukur atas kesempatan unik ini dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah serta meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka.

PEMELIHARAAN KESUCIAN HATI

Pemeliharaan kesucian hati adalah konsep yang penting dalam ajaran agama Islam. Dalam khutbah hari raya, pemeliharaan kesucian hati seringkali menjadi salah satu tema utama yang disampaikan oleh khatib. Khatib mungkin menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat-sifat negatif seperti kebencian, iri hati, dan keserakahan. Menjaga hati yang suci berarti menghilangkan segala bentuk sifat yang dapat merusak hubungan baik dengan sesama. Hari raya seringkali menjadi momen untuk memaafkan dan berdamai dengan sesama. Khatib mungkin menyarankan umat Islam untuk aktif mencari maaf dan memberikan maaf, memperbaiki hubungan yang mungkin retak karena perbedaan atau konflik.

Pemeliharaan kesucian hati juga melibatkan sikap adil dan setara terhadap semua orang. Khatib dapat menekankan pentingnya memperlakukan semua orang dengan adil, tanpa memandang suku, warna kulit, atau status sosial. Khatib mungkin mendorong umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, mengkaji tindakan dan perilaku mereka sendiri. Ini bisa menjadi waktu yang baik untuk merenung dan mengevaluasi perjalanan spiritual serta memperbaiki aspek-aspek yang perlu diperbaiki. Melalui khutbah ini, diharapkan umat Islam dapat lebih memahami betapa pentingnya menjaga kesucian hati sebagai bagian integral dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

BERSYUKUR DAN MEMPERBAIKI DIRI

Bersyukur adalah sikap hati yang penuh penghargaan dan rasa terima kasih terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam khutbah hari raya, sangat penting untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan oleh Allah. Mengingat betapa beruntungnya kita sebagai umat Islam yang diberikan petunjuk-Nya dalam bentuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Mensyukuri kesehatan dan rezeki yang diberikan oleh Allah, serta menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang kurang beruntung, mensyukuri kehadiran keluarga, sahabat, dan hubungan sosial positif dalam kehidupan sehari-hari.

Bersyukur bukan hanya ungkapan lisan, tetapi juga harus tercermin dalam tindakan nyata seperti memberikan sedekah, berbagi dengan yang membutuhkan, dan berbuat baik kepada sesama adalah cara nyata untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah.

Hari raya juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk merenungkan diri dan berusaha memperbaiki kehidupan mereka. Memperbaiki diri adalah suatu upaya untuk terus meningkatkan kualitas spiritual dan moral. Merenungkan perbuatan dan perilaku kita selama setahun terakhir, mengidentifikasi kekurangan, dan bertekad untuk memperbaikinya. Menetapkan niat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui peningkatan ibadah, shalat, dan taqwa. Memperbaiki diri memerlukan kesadaran dan tekad yang kuat. Selama khutbah hari raya, imam dapat mengajak jamaah untuk menetapkan tujuan konkret dalam meningkatkan diri mereka dan berusaha mencapainya dalam setahun mendatang. Dengan menggabungkan rasa syukur dan tekad untuk memperbaiki diri, umat Islam dapat merayakan hari raya dengan penuh makna dan memperkuat ikatan spiritual mereka dengan Allah SWT.

Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Penulis : Ahmad Izzadin, Editor : Windi Tia Utami

Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab. Islam dilahirkan dalam keadaan asing dimana pada saat itu masyarakat arab pada umumnya menganut ajaran paganisme yang menyembah kepada patung-patung (berhala). Pada awal kemunculannya, agama Islam melahirkan sebuah perbedaan pandangan pada masyarakat arab pada masa itu, karena ajaran dari agama Islam yang melarang melakukan penyembahan kepada berhala, melainkan mengajarkan untuk menyembah kepada Allah SWT. Begitupun pada awal kemunculannya di Jawa, masyarakat yang pada mulanya mayoritas beragama hindu-buddha yang melakukan ritual peribadatannya melalui patung-patung, lalu mereka diajarkan untuk menyembah Allah SWT yang secara kasat mata tidak terlihat dan wujud-Nya pun tidak diketahui.

Lambat laun ketika Islam sudah mulai menyebar luas di Jawa, dari situ terlihat sebuah keunikan dari Islam di Jawa. Walaupun sudah banyak penduduk yang menjadi muslim, namun mayoritas mereka masih terpaku pada tradisi-tradisi yang sudah ada turun temurun sejak ketika mereka sebelum menjadi seorang muslim. Biarpun begitu namun yang menjadikan unik adalah mampu berpadunya antara tradisi-tradisi tersebut dengan konsep-konsep ajaran agama Islam itu sendiri. 

Seperti yang diketahui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, ras, suku, bahasa, dan kebudayaan yang beraneka ragam. Di setiap keanekaragaman budaya tersebut terdapat ciri khasnya masing-masing. Banyak sekali aspek-aspek keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia, baik itu dari alat musik, nyanyian, ataupun tarian daerah. Selain itu, juga terdapat berbagai tata cara atau upacara-upacara yang beragam coraknya dari masing-masing daerah. Diantaranya ada Jamasan yaitu mencuci pusaka-pusaka seperti keris yang ada di Keraton Yogyakarta, ada juga Kirab Kebo Bule di Keraton Kasunanan Surakarta yang rutenya dimulai dari Keraton Solo, menuju Jalan Pakubuwono-Bundaran Gladag seterusnya dan berakhir dengan kembali lagi ke keraton. Semua contoh upacara-upacara kebudayaan tadi merupakan bentuk dari peringatan dalam semarak syiar bulan Muharram atau Suro dalam istilah jawanya.

Bulan Suro diambil dari bahasa arab Asyura’ yang berarti sepuluh, yang kemudian lebih familiar dengan sebutan Suro. Masing-masing daerah beragam caranya dalam memperingati datangnya bulan Suro, selain Jamasan dan juga Kirab Kebo Bule, masih banyak yang sering dijumpai di masyarakat. Selain itu juga pada pelaksanaannya juga beragam, ada yang melakukan peringatan pada tanggal 1 Suro yaitu memperingati Tahun Baru Islam, ada juga yang memperingati pada tanggal 10 Suro dalam rangka mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad yaitu Sayyidina Husain. Dalam tata caranya ada yang melakukan dengan syukuran seperti pada umumnya yaitu dengan pembacaan manakib, tahlilan, atau ritual yang lainnya. Selain itu, ada juga yang melaksanakan santunan kepada anak yatim, dan ada juga yang menyemarakkan tahun baru Islam dengan mengadakan pawai obor keliling desa.

Berkaitan dengan pelaksanaan acara beserta dengan dasar dan tujuan diadakan acara pawai oboor dan Muharram tersebut pada daerah Kuripan Kidul dilaksanakan pada malam tanggal 1 Muharram yang didasari dalam rangka untuk memperingati semarak tahun baru Islam. Dan acara tersebut diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Kuripan Kidul juga dibantu partisipasi dari seluruh elemen masyarakat baik dari support dan antusias masyarakat, sumber pendanaan, dan juga partisipasi acara yaitu mengikuti rangkaian pawai. Selain itu, acara tersebut juga didukung dan dibantu oleh pihak pemerintahan seperti Kelurahan Kuripan Kertoharjo dan Kecamatan Pekalongan Selatan. Selain itu juga, untuk mengamankan jalannya acara, dari pihak Kapolsek Pekalongan Selatan dan Koramil Pekalongan Selatan, ikut serta membantu dan mendukung agar acara dapat berjalan lancar.

Semarak peringatan tahun baru Islam dari warga Kuripan Kidul pada setiap tahunnya selalu ditandai dengan peringatan pawai obor yang dimulai setelah dilaksanakan sholat Isya’. Peserta pawai tersebut adalah anggota dari Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Kuripan Kidul yang menjadi pemegang banner acara pawai dan juga bendera yang dibantu oleh beberapa anggota dari Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Kertoharjo. Lalu dilanjut dengan beberapa anggota dari Pimpinan Ranting Fatayat Kuripan Kidul, murid-murid dari TPQ dan Madin Darul Ulum Kuripan Kidul sebagai pemegang obor dan murid-murid dari MIS Kuripan Kidul, SD Negeri 01 Kuripan Kidul, SD Muhammadiyah Kuripan Kidul yang juga menjadi pemegang obor. Tak berhenti sampai disitu, juga terdapat partisipasi dari warga yaitu sebagian besar dari masyarkat Kuripan Kidul dari gang 01 sampai gang 26. Selain itu, rangkaian ini dimeriahkan juga oleh grup Marching Band Nusantara dari Batang.

Untuk acaranya sendiri dimulai dari depan area Masjid Darul Hikmah Kuripan Kidul setelah diberikan sepatah-duapatah kata oleh Ustadz Zen Faza selaku Ketua Tanfidziyah Pimpinan Ranting Kuripan Kidul sekaligus Ketua Ta’mir Masjid Darul Hikmah, beliau memberikan apresiasi pada acara tersebut, menurut beliau; “Acara ini baik karena dapat menjadi ajang berkumpulnya masyarakat Kuripan Kidul dalam kebersamaan dan kerukunan serta dalam rangka ikut memeriahkan peringatan tahun baru Islam. Harapannya semoga acara seperti ini dapat berjalan konsisten dan tetap kondusif serta dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat Kuripan Kidul”. Setelah itu, para peserta memulai rangkaian perjalanan yang diawali dengan berjalan ke utara ke perbatasan antara daerah Kuripan Kidul dengan daerah Kuripan Lor setelah berbalik arah dan berjalan ke selatan ke perbatasan Kuripan Kidul dan Desa Gapuro, lalu berjalan kembali ke area Masjid Darul Hikmah. Ketika seluruh peserta pawai yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat dan banom NU Kuripan Kidul sampai di area finish maka rangkaian acara tersebut ditutup dengan penampilan dari salah satu grup Marching Band yang ikut dalam semarak peringatan Muharram tersebut. Penampilan tersebut dilakukan di halaman Masjid Darul Hikmah, Kuripan Kidul.

Pada daerah Kertoharjo pelaksanaan pawai obor dilaksanakan pada malamm tanggal 10 Muharrom, yaitu untuk memperingati hari duka wafatnya cucu Nabi Muhammad yaitu Sayyidina Husain yang ditandai dengan diadakannya santunan anak yatim di Masjid Al-Mujahidin setelah rangkaian perjalanan pawai obor selesai dilaksanakan. Acara tersebut diprakarsai oleh Pengurus Masjid Al-Mujahidin yang berkolaborasi dengan pengurus banom (Badan Otonom) NU Kertoharjo. Rangkaian acara tersebut juga diawali sesudah waktu Sholat Isya’ dengan berjalannya para peserta pawai obor mengelilingi daerah Kertoharjo yang juga start dari area masjid dan finish di area Masjid Al-Mujahidin pula. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara hiburan untuk para anak yatim yang mendapatkan santunan dan diakhiri dengan pelaksanaan santunan anak yatim di Masjid Al-Mujahidin dan juga do’a penutup.  

Implementasi dari perpaduan antara Islam dan budaya lokal dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, diantaranya di Keraton Yogyakarta dan juga Keraton Kasunanan Surakarta dengan pelaksanaan menurut tradisi dari masing-masing leluhur keraton tersebut. Dimana kesemua pelaksanaan tersebut dilakukan pada bulan Muharram yang merupakan bulan mulia dalam Islam. Selain di lingkup keraton, terdapat pawai obor yang merupakan bentuk tradisi yang sudah sejak lama berjalan di berbagai daerah termasuk juga di Kelurahan Kuripan Kertoharjo yang juga dilaksanakan dalam memperingati datangnya bulan Muharram yang notabene adalah bulan suci dalam kalender Islam. Walaupun terdapat perbedaan waktu pelaksanaan dalam satu kelurahan tersebut, namun tujuannya sama yaitu dalam rangka memperingati semarak bulan Muharram. Di daerah Kuripan Kidul pawai obor dilaksanakan pada malam tanggal 1 Muharram dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Islam, sedangkan di daerah Kertoharjo dilaksanakan pada malam tanggal 10 Muharram dalam rangka memperingati hari duka wafatnya Sayyidina Husain yang ditandai dengan dilaksanakan santuna anak yatim setelah selesai pelaksanaan pawai obor.

Panggung FEBIFEST UIN Gus Dur Pekalongan Dimeriahkan oleh Habib Husein ja’far Al-Hadar Usung Tema “Milenial Merawat Peradaban”

Pewarta : Tegar Rifqi, Editor : Ima

Pekalongan – DEMA  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Gusdur Pekalongan menggelar FEBI FESTIVAL atau FEBIFEST, Sabtu (18/05) dilaksanakan di gedung Student Centre kampus 2 UIN Gusdur Pekalongan. Salah satu rangkaian dari kegiatan ini adalah pelaksanaan dialog kebangsaan yang diisi oleh Habib Husein Ja’far Al Hadad sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Milenial Merawat Peradaban”.

Acara ini sekaligus menjadi launching dari pembukaan FEBIFEST ke-7 yang diselenggarakan oleh DEMA FEBI. Harapannya acara ini dapat sekaligus mengenalkan dan menarik antusias dari para peserta terhadap acara FEBIFEST yang akan digelar dalam waktu dekat. Jumlah peserta yang hadir sekitar 1200 yang diantaranya dihadiri oleh sebagian besar sivitas akademika UIN Gusdur Pekalongan, mulai dari para mahasiswa, dosen, pejabat tinggi kampus seperti dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Gusdur Prof. Shinta Dewi Rismawati, Prof. Muhlisin selaku wakil rektor bagian kemahasiswaan dan kerjasama, hingga Prof. Zaenal Mustakim selaku rektor UIN Gusdur Pekalongan. Selain dari kedatangan para sivitas akademika UIN Gusdur Pekalongan, acara ini juga terbuka untuk umum sehingga baik mahasiswa kampus lain atau masyarakat juga hadir pada acara ini.

“Dalam acara ini alasan kami menghadirkan habib ja’far sebagai narasumber adalah seperti yang bisa kita lihat melalui media sosial bahwa beliau ini menjadi tokoh sentral yang konten dakwah-nya sangat disukai oleh anak muda saat ini karena cara penyampaiannya yang dianggap menarik sehingga mudah dipahami dan memiliki ciri khas tersendiri,” Ujar Imam selaku ketua pelaksana. Selain itu, Imam juga menyampaikan alasan DEMA FEBI mengundang Habib Ja’far sebagai narasumber juga tidak lain adalah karena kesesuaian tema yang diambil yaitu tentang merawat perdaban dimana anak muda memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat peradaban yang salah satunya dengan cara menanamkan moderasi beragama yang juga sangat tercermin dari sosok Habib Ja’far.

Salah satu hal menarik dalam acara tersebut adalah kedatangan dari para tokoh lintas agama dan budaya yang ada di Kabupaten Pekalongan sebagai tamu undangan. Diantaranya ada Muatajirin tokoh Agama Islam di Linggoasri, Romo Teguh Santoso selaku tokoh Agama Kristen, kemudian Kusnaeni yang merupakan tokoh Agama Hindu, hingga Wisnu Murti Tri Budiarto merupakan tokoh Agama Konghucu.

Acara dimulai dengan lantunan bacaan al-qur’an oleh salah satu mahasiswa UIN Gusdur, kemudian dilanjut dengan menyanyikan lagu kebangsaan indonesia raya dan sambutan oleh Prof. Zaenal Mustakim selaku rektor sekaligus membuka acara.

Dalam sambutannya, Prof. Zaenal Mustakim menuturkan, “salah satu cara merawat peradaban yakni dengan adanya moderasi beragama. “Salah satu faktor moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan, kita harus tahu bahwa meskipun kita berbeda beda agamanya, sukunya, kebudayaannya, tapi kita masih satu bangsa, yaitu bangsa indonesia.” Prof. Zaenal Mustakim juga menjelaskan bahwa toleransi juga tak kalah penting dalam menjaga kerukunan dalam perbedaan di indonesia dan itu yang sudah dilakukan oleh Gus Dur.

Setelah sambutan dari rektor, selanjutnya sambutan dari masing-masing tokoh agama secara bergantian. Dimulai dari Romo Teguh selaku Paroki ST. Yohanes Rasul Karanganyar, menyampaikan rasa penasarannya terkait peradaban seperti apa yang harus dijaga, bagaimana caranya, dan apa yang harus dimiliki milenial agar dapat menjaga beradaban itu. Kemudian dilanjutkan oleh Mustajirin menyampaikan bahwa setiapa agama itu baik dan sebagai seorang yang beragama sudah semestinya kita menjunjung toleransi. Selanjutnya ketiga adalah sambutan dari Kusnaeni yang menyampaikan bahwa setiap manusia membutuhkan kasih sayang dari sesama serta mencintai perbedaan artinya juga sama dengan merawat peradaban itu sendiri. Yang terakhir sambutan dari Wisnu selaku perwakilan dari Klenteng Po An Thian Jetayu Kota Pekalongan.

Habib Ja’far memulai penjelasannya dengan menegaskan bahwa toleransi menjadi aspek utama dalam kita menjaga kerukunan bukan hanya antar umat beragama saja, melainkan juga dalam setiap perbedaan yang ada. Habib Ja’far juga menjelaskan bahwa peran anak muda sangat penting dalam menentukan arah perkembangan peradaban Indonesia di masa depan. Maka dari itu diperlukan bekal iman agar nantinya kita dalam menjalani hidup selalu memiliki arah dan tujuan yang jelas.

“Agama itu lahir untuk peradaban, agama itu ada untuk melawan kebiadaban. Oleh karena itu, meskipun setiap agama berbeda dalam kebenaran tapi pasti akan selalu bersama dalam kebaikan meskipun dengan cara yang berbeda,” tegas Habib Husein Ja’far Al Hadad dalam penyampaian materinya.

Habib Jafar juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial dalam menjaga nilai-nilai toleransi di tengah arus informasi yang sering kali memecah belah. Habib Jafar mendorong mahasiswa untuk aktif mencari pengetahuan dan berdialog secara terbuka untuk mengurangi prasangka dan stereotip yang tidak berdasar. “Ada dua isu yang masih harus kita selesaikan dari media sosial, yang pertama adalah sikap intoleransi dan yang kedua adalah pembulian,” tambahnya.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan, isu toleransi dan pembulian masih menjadi masalah yang nampak jelas bagi masyarakat di media sosial. Oleh karena itu, habib jafar berpesan untuk para anak muda yang melek dan sadar akan teknologi untuk menggunakannya dengan sebaik mungkin, terlebih jika bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena sedari awal memang teknologi disiapkan dan dikembangkan untuk keberlangsungan generasi selanjutnya.

“Pastikan kita punya persepsi, visi, dan idealisme yang tepat dalam melihat sesuatu, karena pada dasarnya teknologi adalah alat yang kita gunakan tergantung pada apa yang kita inginkan, bisa menuju kearah kebaikan, bisa juga berakhir pada keburukan tergantung jalan apa yang anda pilih,” tutup-nya.

Pentingnya Moderasi dalam Islam untuk Mengatasi Kesalahpahaman dan Membangun Harmoni Sosial

Penulis : M Keanu Zimran Edlyn, Editor : Tegar Rifqi

Agama merupakan salah satu aspek kehidupan yang wajib tertanam dan diyakini oleh setiap warga negara Indonesia. Hal itu tertuang jelas dalam pancasila tepatnya pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam sehingga tidak heran lagi jika islam membuat beberapa aspek kehidupan seperti aspek sosial dan budaya ikut terpengaruhi dan menyesuaikan dengan ajaran islam yang ada. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat seringkali salah paham dalam mengartikan suatu ajaran yang ada pada agama islam yang membuat nilai-nilai keislaman sering disalah artikan dan membuat masyarakat beranggapan bahwa islam merupakan agama yang konservatif. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan baik dalam segi praktik bergama ataupun penyebaran nilai-nilai keislaman sehingga dapat diterima oleh masyarakat sekaligus menunjukan bahwa islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Islam moderat menjadi jawaban yang cocok jika melihat situasi saat ini. Sesuai dengan namanya, islam moderat merupakan jalan tengah yang dapat diambil dalam praktik beragama yang mana selain mempelajari nilai-nilai keislaman, islam moderat juga mengedepankan nilai-nilai sosial seperti toleransi, keadilan, dan keseimbangan.

Moderasi dalam Islam adalah langkah bijak untuk menjembatani perbedaan, menghormati keragaman, dan membangun harmoni sosial. Dalam pandangan ini, Islam moderat memandang bahwa keberagaman adalah anugerah yang memperkaya, bukan sumber konflik. Keteladanan tokoh-tokoh Islam moderat mengajarkan bahwa kita dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat dengan mempromosikan dialog, pemahaman, dan persatuan.

Motivasi dari pemikiran ini adalah membangun karakter yang kuat dan berdaya, sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong pengembangan diri. ‘Dalam Islam moderat, kita diberdayakan untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, gigih dalam pengembangan diri, dan berkontribusi untuk kesejahteraan bersama.’ Oleh karena itu, mengamalkan Islam moderat bukan hanya sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai landasan untuk menginspirasi diri sendiri dan orang lain menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Aktualisasi Moderasi Beragama di Desa Linggoasri oleh Mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis : Mujaahidah Izzati Khoirun Nisa, Editor : M. Nurul Fajri
Pekalongan, Hijratunaa.com

Mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan, program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Komunikasi Penyiaran Islam, dan Manejemen Dakwah mengikuti kegiatan aktualisasi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat berbasis Moderasi Beragama di Desa Linggoasri. Kegiatan ini didampingi oleh Dr. Rifa’i Subhi M.Pdi, Adib ‘Aunillah Fasya, M. Si, dan Syamsul Bakhri, M.Sos. Kegiatan ini dihadiri pula oleh dua tokoh dari Desa Linggoasri yang beragama Islam dan Hindu, yaitu Bpk. Mustajirin yang beragama Islam, dan Bpk. Taswono yang beragama Hindu pada tanggal 14 November 2023.

Desa Linggoasri adalah desa yang terkenal dengan kerukunan antar umat beragamanya. Masyarakat desa di sini menganut berbagai agama, antara lain, Islam, Hindu, Budha, dan Kristen. Perbedaan tersebut mencipatakan keharmonisan antar umat beragama dalam bentuk saling toleransi. Islam mengajarkan kita untuk membangun masyarakat dalam bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia sikap dan penghormatan terhadap perbedaan. Saling menghargai, toleransi yang merupakan nilai nilai moderasi beragamama sudah berjalan dari nenek moyang di Linggoasri, bahkan sebelum dikenalkan apa itu Moderasi Beragama di Desa ini (Linggoasri).

Materi yang pertama disampaikan oleh Taswono, yaitu Moderasi Beragama di agama Hindu. Agama Hindu juga mengajarkan konsep moderasi. Taswono menyatakan bahwa moderasi agama dalam sudut pandang agama Hindu bagaikan sebuah rumah yang memiliki pondasi utama, pilar dan atap. Empat pondasi tersebut yaitu: Jnana-Wijnana (pengetahuan-kebijaksanaan), Tattvamasi-Vasudewa Kuntumbhakam (kita semua bersaudara), Ahimsa Parama Dharma (menghindari kekerasan), Yadnya-Bhakti (kesediaan berkorban tanpa pamrih-mengabdi tulus). Pilar Penyangganya: Karuna (cinta kasih), Maitri (pertemanan, persahabatan), Mudita (simpati, empati), dan Upeksa (toleransi).

Hal yang mendasari moderasi beragama, di dalam agama Hindu harus memiliki sifat terbuka untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain, kemudian sifat menghargai perbedaan atau menerima perbedaan. Dalam menerapkan moderasi beragama di Linggoasri sudah memiliki tradisi saling membantu. Contohnya pada pelaksanaan Nyepi, umat Islam yang tinggal di Linggoasri ikut membantu dalam kerja bakti kebersihan, memasak, dan keamanan. Pada 10 Muharam biasanya ada santunan anak yatim, tidak hanya umat Islam yang mendapatkan santunan, masyarakat Hindu disana juga ikut mendapatkan santunan karena mereka semua bersaudara.

Masyarakat Linggoasri menerapkan prinsip wasathiniyah yang artinya tengah-tengah atau moderat, disebut juga  dengan istilah tawasuth. Dengan prinsip tawasuth menjadikan masyarakat Linggoasri tidak ekstrim dalam menanggapi agama lain dan tentunya rasa saling menghargai itu tertanam di jiwa masyarakat Linggoasri. Mustajirin, selaku tokoh agama Islam setempat mengatakan bahwa ada tiga buah ukhwuwah  (persaudraan) dalam Islam. Yang pertama ada Ukhuwah Islamiyah yaitu saudara sesama muslim, yang kedua Ukhuwah Wathoniyah yaitu saudara dalam lingkup satu kenegaraan, dan yang ketiga Ukhuwah Basyariyah atau Uhuwah Insaniyah, yaitu persaudraan sesama umat manusia, tidak memandang apapun agamanya, entah itu Hindu, Kristen, atau lainnya.

Cultural Camp for International Students: Memperkenalkan Moderasi Beragama dan Keberagaman Budaya di Linggoasri

Pewarta : Amarul Hakim, Editor : Sam

Linggoasri, 16 Mei 2024 – UIN Gusdur Pekalongan memperkenalkan kehidupan kerukunan umat beragama di Desa Linggoasri kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan Cultural Camp for International Students. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, dari 13 hingga 16 Mei 2024, ini melibatkan 17 mahasiswa asing, 7 dari UIN Gusdur dan 10 dari ITS Surabaya  yang berasal dari Prancis, Belanda, Aljazair, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Desa Linggoasri dipilih karena merupakan desa Moderasi Beragama binaan UIN Gusdur yang di gagas oleh Syamsul Bakhri dan M. Rifa’Subhi ini telah meraih penghargaan sebagai Kampung Moderasi Beragama terbaik nomor delapan serta rumah ibadahnya sebagai rumah ibadah moderat nomor dua di Indonesia. Dosen pendamping kegiatan ini, Ryan Marina, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan keberagaman Indonesia kepada mahasiswa asing.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa asing dapat mengenal Indonesia tidak hanya dari satu sisi, tetapi juga dari keberagamannya, sehingga keberagaman Indonesia dapat terpromosikan,” ujar Ryan pada Rabu (15/5).

Kegiatan ini mencakup kunjungan ke berbagai tempat di Desa Linggoasri, termasuk Masjid Kayu khusnul khotimah Linggoasri, Pura Kalingga Setya Dharma, SDN 01 Linggoasri, Batu Lingga, rumah warga dengan latar belakang agama berbeda, Kali Paingan, Taman Bunga Linggoasri, Kebun Binatang Mini Linggoasri, Pasramanan, Green House Bibit Cabai Jawa, kebun kapulaga, dan kebun cabai Jawa.

Salah satu momen menarik adalah ketika para peserta mengunjungi SDN 01 Linggoasri, di mana mereka berinteraksi langsung dengan siswa dari kelas 1 hingga 5. Dengan bantuan volunteer sebagai penerjemah, mahasiswa internasional mengajarkan bahasa asing, mengadakan permainan, dan memberikan hadiah kepada siswa.

Ahmad Dalari, salah satu guru di SD tersebut, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para siswa. “Ini membuka wawasan kepada anak-anak bahwa pengetahuan itu luas dan bahasanya beragam, sehingga wawasan mereka bertambah,” ungkap Dalari.

Isriani Hardini, ketua International Office UIN Gusdur, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah yang kedua kalinya. “Sebelumnya, mahasiswa asing dari Korea Selatan, Cina, dan Thailand telah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu. Kegiatan ini terbukti sangat menarik bagi mahasiswa asing. Mereka tidak hanya belajar moderasi beragama, tetapi juga antusias belajar rebana, gamelan, tari, serta pertanian kapulaga dan cabai Jawa,” jelasnya.

Menurut Mustajirin, ketua kelompok tani cabai Jawa di Linggoasri, “Desa Linggoasri sekarang memiliki Green House pembibitan cabai Jawa yang bisa dibeli oleh masyarakat luas.” Fadholi, seorang petani kapulaga yang sukses mengembangkan cabai Jawa, menambahkan bahwa saat ini di Linggoasri sudah ada sekitar 1.000 bibit cabai Jawa yang telah ditanam di berbagai tempat oleh puluhan petani. “Kedepannya, kami akan terus mengembangkan cabai Jawa sebagai pelengkap komoditas rempah-rempah dari Linggoasri. Harapan kami, Linggoasri dikenal tidak hanya karena kapulaga dan kopi saja, tetapi juga karena cabai Jawa,” ungkap Fadholi.

Selain itu, menurut Dwi Ketua Ikatan Remaja Masjid Linggoasri “kegiatan ini sangat positif untuk mengenalkan budaya dan tradisi kita ke mancanegara, kami senang bisa mengajarkan rebana ke teman-teman mahasiswa asing, mereka sangat antusias sampai bisa melantunkan satu lagu”

Menurut Esa dari Peradah Linggoasri, menyambut baik dan senang karena bisa mengenalkan budaya Gamelan dan menari kepada mahasiawa asing. “Mereka sangat antusias dan berhasil memainkan satu bait nada Gamelan dan belajar menari sampai bisa”.

Kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kebudayaan dan kerukunan beragama di Indonesia, sekaligus mempromosikan potensi pertanian lokal seperti penanaman cabai Jawa dan pemanenan kapulaga.

Moderasi Beragama dalam Kehidupan Masyarakat Desa Linggoasri: Studi Kasus oleh Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis : Gymnasti Afif Fakhri, Editor : Lulu Salsabilah

Manajemen dakwah adalah salah satu prodi dari Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang dipilih  menjadi perwakilan  riset secara langsung di Desa Linggoasri. Bekerjasama dengan tim pemberdayaan masyarakat UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengadakan kegiatan aktualisasi pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat berbasis moderasi beragama pada Selasa, 14 November 2023. Kegiatan ini berlangsung di Bumdes Caffela yang di ikuti oleh 200 mahasiswa dan pembicara merupakan tokoh agama di Desa Linggoasri yakni Mustajirin dan Taswono.

Seperti yang disampaikan pemateri bahwa, Desa Linggoasri biasa di kenal sebagai desa moderasi. Disana terdapat empat agama yakni agama islam, kristen, hindu dan budha. Namun, masyarakat disana tetap hidup rukun dan saling gotong royong hal ini dapat dilihat dalam kegiatan santunan anak yatim yang mana ini adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh umat islam, akan tetapi dari agama lain seperti agama kristen, hindu dan budha disana ikut berperan membantu seperti ikut serta menjadi panitia santunan anak yatim serta membantu sukses nya suatu jalannya kegiatan santunan anak yatim dari umat islam disana. Sebaliknya agama agama lainnya juga saling timbal balik membantu umat agama yang satu dengan yang lain seperti membantu memikul ogoh-ogoh yang mana ogoh-ogoh ini kegiatan dari umat Hindu meski begitu dari agama islam, kristen, budha disana ikut berperan membantu memikul ogoh-ogoh dan ikut beriringan dalam merayakan acara karnaval. Kemudian masyarakat disana bahwa jika salah satu agama merayakan suatu hari spesial nya misalkan seperti umat hindu yang sedang merayakan hari Nyepi kemudian untuk menghormati hal itu umat islam disana melaksanakan adzan dengan tidak menggunakan pengeras suara (mikrofon). 

Tentu hal ini mencerminkan sikap moderat masyarakat di Desa Linggoasri, seperti yang dikenalkan oleh salah satu dosen UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pak Rifai dan pak Samsul yang saat itu sedang melakukan riset di linggo. Bahwa warga Linggoasri sendiri belum menyadari bahwa masyarakat di sana telah menerapkan 9 nilai moderasi beragama. Yakni tawassuth artinya tengah – tengah, seperti mengutamakan sifat pertengahan dalam segala hal, tidak ekstrem kanan kiri, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dunia dan akhirat, ibadah, ritual dan sosial doktrin dan ilmu pengetahuan. Tasamuh artinya toleran, seperti menghormati perbedaan suku, agama, dan ras. Al – Syura artinya musyawarah, seperti membahas dan menyelesaikan urusan setara bersama, menghormati dan mematuhi keputusan bersama, mau meyakini pendapat orang lain.

 Qudwah artinya kepeloporan, seperti menjadi pelopor dalam kebaikan. Ishlah artinya perbaikan seperti, berusaha memperbaiki keadaan, melakukan perubahan yang lebih baik, mau mendamaikan perselisihan untuk kebaikan bersama. Muwathanah artinya Cinta tanah air seperti, mempunyai rasa persaudaraan dengan sesama warga negara dan sikap sedia membela negara dari serangan fisik maupun non fisik sesuai ketentuan yang berlaku. Kemudian la’unf artinya anti kekerasan seperti, Cinta damai mengutamakan cara damai dalam menyelesaikan masalah atau mengatasi perselisihan, tidak main hakim sendiri. Dan yang terakhir U’rf artinya menghormati budaya menghormati tradisi yang dijalankan oleh masyarakat setempat serta tak mudah menuduh bid’ah dan sesat. Pak Tukiman sebagai tokoh agama Hindu disana  menyampaikan bahwa moderasi beragama juga di ajarkan oleh agama Hindu, seperti satu bangunan rumah bahwa semua mahluk manusia bersaudara, ada pesan untuk tidak saling menyakiti. Ahisam piramadana artinya tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun, pekerjaan yang dikerjakan secara tulus dan ikhlas. Jenaya artinya pengetahuan atau kebijaksanaan dalam pilarnya ada empat yakni, menumbuhkan kasih sayang, karuna artinya toleran, upaksa maitri dan udita. Sehingga sikap moderasi  penting bagi kita, mengingat negara kita Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman seperti bahasa, agama dan budaya. Moderasi ini menjadi solusi bagi antar umat beragama disisi lain moderasi dapat menjaga kesatuan bangsa.

Peran Organisasi dalam Mempertahankan Kerukunan di Desa Linggoasri

Penulis : Devina Aisyah Vidyadari, Editor : Azzam Nabil Hibrizi

Seperti yang kita ketahui, bahwa Linggoasri sendiri telah dinobatkan menjadi “Desa Moderasi Beragama dan Sadar Kerukunan”. Label tersebut tentu bukan tanpa alasan, karena di dalam desa ini, beragam umat beragama hidup berdampingan dengan rukun dan damai, bahkan saling gotong royong dalam perayaan acara antar-agama. Ini disebabkan oleh kontribusi dari berbagai organisasi yang ada dan berkembang di dalamnya. Di antaranya adalah FKPMM dan PERADAH, yang sangat membantu menjaga keragaman agama dan budaya di Desa Linggoasri.

Forum Komunikasi Pengurus Masjid dan Mushola di Linggoasri (FKPMM) didirikan oleh Pak Mustajirin pada tahun 1998. Sangat menarik bahwa ini terinspirasi dari kehidupan sehari-hari Pak Mustajirin di Jakarta Pusat sebagai anggota FKMM di Sukabumi Selatan. Pak Mustajirin kemudian terinspirasi oleh kegiatan FKMM karena dianggap sebagai organisasi yang dapat menyatukan pengurus masjid. FKPMM memiliki struktur organisasi dan beranggotakan semua warga muslim Linggoasri. Selain itu, sebagai organisasi besar di Desa Linggoasri, FKPMM memiliki kegiatan bulanan, tahunan, bahkan harian.

Selain itu, FKPMM berfungsi sebagai pusat bagi sejumlah organisasi Islam di Desa Linggoasri, yang bertanggung jawab untuk mengatur kegiatan mereka. Organisasi-organisasi ini termasuk IPNU/IPPNU, FATAYAT, Muslimat, Ansor, dan Banser. Banyak kegiatan agama lainnya, seperti malam tirakatan, santunan anak yatim, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. FKPMM juga menyatukan masyarakat untuk membantu kegiatan agama lain. Seperti pada hari raya Nyepi di mana umat Islam tidak memakai pengeras suara ketika mengumandangkan adzan, dan pemuda Islam yang mengarak bahkan membantu dalam pembuatan Ogoh-Ogoh.

Sebaliknya, komunitas Hindu juga memiliki organisasi. Salah satunya adalah PERADAH, singkatan dari Perhimpunan Pemuda Hindu, yang didirikan oleh seorang bapak bernama Waris pada tahun 1992, dan saat ini beroperasi di Desa Linggoasri. PERADAH juga memiliki struktur organisasi seperti FKPMM. Namun, satu hal yang membedakan adalah PERADAH hanya terdiri dari pemuda dan pemudi Hindu.

PERADAH bukan hanya organisasi yang mewadahi pemuda Hindu; itu juga memiliki tujuan bersama, yaitu meningkatkan peran mereka dalam keagamaan, pendidikan, keterampilan, kepemimpinan, dan kesenian. Organisasi ini, yang diketuai oleh Tria Wardana, telah banyak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di Desa Linggoasri, baik internal maupun lintas agama. Kegiatan seperti diskusi pemuda, pembagian takjil, dan bantuan dalam kerja bakti dan pengamanan di sekitar Masjid juga termasuk dalam daftar ini.

Sebenarnya, gotong-royong masyarakat Linggoasri ini bukan sekedar bentuk toleransi antar umat beragama. Lebih jauh, kegiatan gotong-royong ini juga membantu menjaga dan melestarikan keragaman tradisi Indonesia, yang memang kita ketahui sebagai negara multikultural. Karena seperti yang kita lihat, masyarakat di sini tetap terlibat tanpa mengatasnamakan agama, melainkan saling berkontribusi untuk senantiasa membantu dan membawa kebermanfaatan. Dalam Firman Allah disebutkan, “…Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”. Maka dari itu, sudah seharusnya kita melestarikan dan menjaga budaya yang ada serta memiliki rasa bangga dan mencintai budaya tersebut sebagai cara untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT karena Dia telah memberi kita pengetahuan yang luar biasa, terutama dalam hal kreativitas untuk melestarikan budaya tersebut. Menjaga, melestarikan, dan mengembangkan budaya adalah cara untuk menunjukkan rasa syukur dan kagum kepada Yang Maha Kaya. Apalagi, negri kita Indonesia memang dikaruniai dengan suku dan budayanya yang beragam. Tentu kita sebagai masyarakat Indonesia sendiri harus menjaga keutuhan dan persatuan bangsa ini. Wallahu A’lam.

Harmoni Agama dan Kebudayaan: Kisah Inspiratif dari Desa Linggo Asri

Penulis : Shilfa Amelia, Editor : Choerul Bariyah

Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai keberagaman, seperti halnya keberagaman agama dan budaya. Ada 6 agama yang ada di indonesia yaitu islam, kristen, katolik, hindu, buddha, dan konghucu. Dalam hal ini dibutuhkannya sikap toleransi antar umat beragama. Sikap toleransi antar agama adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan agama yang ada disekitar, dengan adanya sikap toleransi maka akan meminimalisir terjadinya konflik antar umat beragama dan kehidupan antar umat beragama pun akan terjalin dengan rukun dan damai. Indonesia sangat menjunjung tinggi sikap toleransi dan memberikan kebebasan kepada warganya untuk menjalankan keyakinannya. Selain agama ada juga budaya yang menjadi keanekaragaman bangsa Indonesia. Banyak sekali kebudayaan yang ada diindonesia,setiap daerah pasti mempunyai kebudayaan tersendiri. Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus harus menjaga dan melestarikannya agar kebudayaan yang ada tidak menjadi hilang dan punah.

Desa Linggo Asri Kabupaten Pekalongan menjadi contoh dari toleransi antar umat beragama dan dijuluki sebagai kampung moderasi beragama. Moderasi Beragama adalah sikap tengah, tidak ekstrem,  dan tidak berlebihan dalam menjalankan agamanya. Moderasi juga berarti “sesuatu yang terbaik“, atau sesuatu yang ada ditengah biasanya berada di antara dua hal yang buruk. Orang yang mempraktekkannya disebut moderat. Sebelum Linggoasri dinamakan sebagai kampung Moderasi Beragama, desa Linggoasri ini lebih dulu menerapkan sikap toleransi dengan agama lain Di Desa Linggoasri terdapat 4 agama yaitu Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen. Semua orang disana hidup secara berdampingan dengan umat agama lain tetapi mereka saling menerima perbedaan satu sama lain dan  tidak ada konflik diantaranya. Sri yanti selaku anggota aktif sanggar seni mengatakan bahwa sikap toleransi antar umat beragama sudah ada sejak beliau masih kecil. Anak kecil di Linggoasri pun sudah mempraktekan sikap saling menghormati perbedaan padahal umur mereka masih sangat dini tetapi mereka sudah saling mengingatkan satu sama lain karena mereka sudah biasa hidup dengan segala perbedaan, dan mereka akan  melakukannya sendiri tanpa harus disuruh. Ia juga mengatakan bahwa sanggar seni tidak hanya untuk umat hindu tetapi semua warga seperti muslim pun juga bisa mengikuti pelatihan seni. Sanggar seni ini dijadikan sebagai pelatihan seni seperti tarian-tarian yang biasanya ditampilkan pada upacara keagamaan dan diacara-acara seperti agustusan, pagelaran dan acara desa lainnya, bahkan sudah mengikuti acara perlombaan lingkup agama disemarang.

Warga desa Linggoasri sudah biasa hidup berdampingan dengan segala perbedaan tetapi mereka tetap hidup rukun dan tidak saling menjelekan umat agama lain, mereka saling hidup tolong menolong bahkan jika umat hindu sedang melakukan kebudayaan mereka, maka umat muslim juga membantunya seperti ikut membantu membawa ogoh-ogoh, dan begitu pun sebaliknya jika umat muslim sedang ada acara seperti maulid nabi maka umat hindu juga ikut mebantu menghadiri pengajian dan para pemuda hindu juga membantu mengatur lalu lintas,dan masih banyak lagi. Selain itu mereka saling menghormati dan memberikan kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing, sehingga tidak ada konflik antar agama di Linggoasri.