الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ
أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama marilah kita bersyukur kepada Allah SWT, alhamdulillah masih diberikan Kesehatan, kesempatan sampai pada bulan syakban, dan sebentar lagi bulan romadhon. mudah mudahan kita semua dipertemukan dengan bulan romadhon, amin. Kedua marilah kita persiapkan kedatangan bulan romadhon dengan suka cita, dengan memperbanyak amal ibadah, memperbanyak dzikir, sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bulan syakban Adalah bulan yang sering dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin, karena berada di antara dua bulan yang agung, yaitu Rajab dan Ramadhan. Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bulan Sya’ban. Rosululloh berpuasa dibulan syakban sebagaimana yang dikatakan para sahabat kaana yasuumu syakbana illa qolilaa (beliau berpuasa di bulan syakban kecuali beberapa hari saja yang dia lepas dan beliau Jalani tanpa berpuasa). Hal inilah yang memberanikan diri Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu Adalah salah satu sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW, beliau bertanya kepada rosululloh SAW, ya Rasulullah aku melihat engkau berpuasa di bulan syakban jauh lebih banyak dibanding bulan bulan lain, ada apa ya rosululloh. Apa istimewanya, apa rahasianya bulan syakban ini kata Zaid,
Lalu apa kata nabi Muhammad, beliau mengatakan bulan syakban Adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak manusia karena jatuh antara dua bulan mulia yaitu Rojab dan Romadhon, bulan syakban Adalah bulan Ketika amal-amal ibadah kita dalam satu tahun diangkat kehadapan Allah SWT, maka aku ingin Ketika amal-amalku diangkat kehadapan Allah SWT, aku dalam keadaan berpuasa. Oleh karena itu marilah kita teladani Nabi Muhammad SAW di bulan syakban ini dengan memperbanyak puasa sunnah, Puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh (pertengahan bulan hijriyah), ataupun puasa daud sehari puasa sehari berbuka puasa. Marilah kita hidupkan bulan ini dengan dengan memperbanyak mengingat Allah, memperbanyak Istighfar, dan amalan baik lain sehingga Ketika amal diangkat kita sedang berbuat baik.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Lantas bagaimana dengan pandangan Sebagian orang yang melarang puasa setelah pertengahan sakhban. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidhi dan Abu Daud.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 738 dan Abu Daud no. 2337)
Dalam lafazh lain HR Ibnu Majah
إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ صَوْمَ حَتَّى يَجِىءَ رَمَضَانُ
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tidak ada puasa sampai datang Ramadhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1651)
Dalam lafazh yang lain lagi,
إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنِ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tahanlah diri dari berpuasa hingga datang bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)
Hadist ini hanya melarang berpuasa bagi orang orang yang tidak terbiasa berpuasa, sedangkan bagi orang orang yang sudah terbiasa berpuasa maka ini tidak menyalahi sebagaimana nabi Muhammad terbiasa berpuasa setetah pertengahan syakban.
Hal ini diperkuat pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, Mereka mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban adalah bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa ketika itu. Jadi bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa seperti (1) puasa senin-kamis),. (2) puasa Daud (sehari buka sehari puasa), (3) puasa nadzar, (4) puasa qadha mengganti puasa romadhon yang ditinggalkan karena udhur, dan (5) puasa kafarat, boleh berpuasa.
Oleh karena itu, marilah kita hidupkan, manfaatkan bulan Sya’ban ini untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, dan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketakwaan, Seperti yang telah dicontohkan oleh rosululloh Muhammad SAW.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
*Khattib: Bpk. Muttaqin (Talun, Kab. Pekalongan)
