Musyawarah dan Gotong Royong, Aspek Penguat Moderasi Beragama

Penulis: Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal, Editor: Azzam Nabil H.

Di Indonesia, musyawarah dan gotong royong telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Sejak dahulu, kedua nilai ini telah melekat dalam budaya masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal yang mendukung kebersamaan dan kerja sama. Dengan akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat, musyawarah dan gotong royong menjadi modal sosial kultural yang berharga dalam memperkuat moderasi beragama. Sehingga perlunya memahami makna musyawarah dan gotong royong agar moderasi beragama dapat benar-benar memperkuat keberagaman dan menjaga persatuan di Indonesia.

Makna Musyawarah

Musyawarah merupakan proses diskusi dan perundingan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mencapai kesepakatan bersama. Musyawarah mengutamakan prinsip kebersamaan, saling menghargai, dan mencari keputusan terbaik yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam Islam, prinsip ini dikenal dengan istilah syura, yang berarti konsultasi atau perundingan dalam mengambil keputusan. Sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara hingga saat ini, musyawarah telah menjadi cara masyarakat menyelesaikan perbedaan dan menemukan solusi bersama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal keagamaan. Dalam konteks moderasi beragama, musyawarah memiliki peran yang sangat penting. 

Baca juga: Tantangan Dakwah Moderasi Beragama di Era Digital

Pertama, musyawarah membantu menghindari konflik dengan menciptakan ruang dialog yang memungkinkan setiap individu menyampaikan pendapatnya dengan tetap menghormati keberagaman pandangan. Ketika masyarakat terbiasa bermusyawarah, mereka akan lebih terbuka dalam menerima perbedaan dan mencari solusi yang adil dan seimbang. Kedua, musyawarah membangun kesepahaman di antara kelompok-kelompok yang memiliki keyakinan berbeda. Melalui diskusi yang sehat dan terbuka, masyarakat dapat mencapai mufakat yang mencerminkan nilai-nilai keadilan dan keberagaman. Ketiga, musyawarah menanamkan nilai kebersamaan, di mana setiap individu didorong untuk saling mendengarkan, menghargai, dan mencari titik temu demi kepentingan bersama. Dengan demikian, musyawarah bukan hanya sebagai alat pengambilan keputusan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat harmoni sosial dan moderasi beragama.

Makna Gotong Royong

Gotong royong merupakan budaya kerja sama yang dilakukan secara sukarela untuk mencapai tujuan bersama. Dalam masyarakat Indonesia, gotong royong tidak hanya mencerminkan kerja sama dalam aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga menjadi wujud solidaritas dalam berbagai situasi, termasuk dalam menjaga toleransi antarumat beragama. Nilai gotong royong menekankan semangat saling membantu tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau latar belakang sosial. 

Gotong royong berperan besar dalam memperkuat moderasi beragama. Pertama, nilai ini meningkatkan solidaritas sosial dengan mendorong masyarakat untuk bekerja sama dalam berbagai kegiatan, seperti membantu korban bencana, membangun tempat ibadah, atau mendukung program sosial bersama. Kedua, gotong royong menjembatani perbedaan dengan menciptakan ruang interaksi yang lebih erat antarumat beragama. Saat masyarakat bekerja bersama dalam kegiatan sosial, mereka akan lebih memahami satu sama lain dan mengurangi prasangka yang dapat memicu perpecahan. Ketiga, gotong royong menumbuhkan sikap toleransi karena setiap individu belajar untuk saling menghormati dan menghargai keberagaman yang ada di sekitarnya.

Baca juga: Moderasi Beragama: Bukan Hanya untuk Konservatif, Tetapi Juga untuk Liberal

Musyawarah dan gotong royong bukan hanya sekadar tradisi, tetapi merupakan modal sosial kultural yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kedua nilai ini menjadi alat yang efektif dalam memperkuat moderasi beragama karena menumbuhkan sikap toleran, inklusif, dan menghargai perbedaan. 

Dengan menjaga dan memperkuat nilai musyawarah dan gotong royong, masyarakat Indonesia memiliki pondasi yang kokoh dalam membangun kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian. Oleh karena itu, pelestarian dan penguatan kedua nilai ini harus terus dilakukan agar moderasi beragama dapat berkembang secara berkelanjutan di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

Metode Imam al-Ghazali dalam Memprediksi Malam Lailatul Qadar

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Amarul Hakim

Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Muslim. Salah satu keistimewaan bulan ini adalah, selain menjadi bulan dimana didalamnya terdapat peristiwa diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, di bulan Ramadan pula ada satu malam yang begitu istimewa yang banyak orang berburu keistimewaan malam yang spesial ini. Tidak lain dan tidak bukan, malam Lailatul Qadar adalah malam yang spesial di Bulan Ramadan.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam Surah Al Qadr ayat 1-5:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya: Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Q.S. al-Qadr/97: 1-5)

Begitu banyaknya nikmat dan hidayah yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar, yang bahkan sampai disebutkan malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Meski dalam hal ini terdapat makna tersirat dari “seribu bulan” tersebut, namun pada dasarnya makna tersebut sebagai bentuk begitu besarnya keberkahan dan keistimewaan yang diturunkan oleh Allah swt. di malam tersebut. Oleh karena itu, tentu dengan adanya malam Lailatul Qadar harus menjadi penyemangat umat Islam agar meningkatkan amal ibadah mereka dengan memburu malam Lailatul Qadar. Sebagaimana dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Yang artinya, “Carilah malam Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan (H.R. Bukhari).

Adapula hadits yang Rasulullah saw. bersabda bahwa malam Lailatul Qadar jatuh di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan (H.R. Bukhari).

Baca juga: Analisis Nilai Lailatul Qadar dalam Perspektif Akuntansi Syariah: Konsep Keberkahan dan Laba Spiritual

Dari beberapa hadits tersebut, seorang ulama terkemuka, Imam Al-Ghazali melalui metodenya yang tercantumn dalam I’anatuth Thalibin, juz 2, halaman 257, beliau memberikan kaidah agar dapat mengetahui kapan Lailatul Qadar jatuh berdasarkan hari pertama dari bulan Ramadan.

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Penjelasannya adalah:

  1. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29;
  2. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21;
  3. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-27;
  4. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25;
  5. Jika awal bulan Ramadan jatuh pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.

Berdasarkan perhitungan ini, maka tahun 2025 M / 1446 H, sebagaimana Keputusan sidang Isbat melalui Kementerian Agama dan juga melalui Lembaga Falakiyah PBNU, awal Ramadan 1446 H jatuh di hari Sabtu, 1 Maret 2025. Sehingga dapat diprediksi dengan landasan kaidah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, malam Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 23 Maret 2025 M.

Baca juga: Malam Lailatul Qadar (Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan)

Namun demikian, tetap prediksi ini tidak bisa dijadikan sebuah acuan utama, karena Allah swt. yang berhak menentukan dengan pasti kapan malam Lailatul Qadr itu, dan manusia hanya sebatas memprediksi.

Disisi lain, selagi malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan diisi dengan amal-amal ibadah seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan shalawat, serta melaksanakan salat malam (tahajud), maka Insyaallah dapat memperoleh keistimewaan malam Lailatul Qadar tersebut. Adapun anjuran doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar ini adalah,

اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.

Artinya: Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku. (H.R. Tirmidzi)

Dengan demikian, melalui amal ibadah yang terus ditingkatkan di malam malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, semoga dapat menjadi sebuah keberkahan dan dapat membuat kita menjumpai malam Lailatul Qadar, serta yang terpenting adalah amal ibadah kita semoga dapat diterima oleh Allah swt., dengan terus istiqomah melaksanakan amal ibadah di bulan-bulan selanjutnya hingga bertemu dengan bulan Ramadan kembali di tahun depan.

Wallahu’alam bishawab.

Ramadan Bulan Kebangkitan Ummat

Penulis: Prof. Imam Kanafi, Editor: Azzam Nabil H.

Bulan suci Ramadan sejatinya memiliki misi besar bagi kebangkitan ummat Islam untuk peradaban. Sejarah telah membuktikan bahwa saat bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H atau 13 Maret 624 M, ummat Islam yang berjumlah 313 berjuang melawan kafir Quraisy saat itu yang berjumlah 10.000 pasukan, dan kemanangan dipihak kaum Muslimin. Padahal saat itu kaum Muslimin dalam keadaan sedang menunaikan ibadah puasa Ramadan.

Di bulan Ramadan pula, Rasulullah saw. mendapatkan pencerahan spiritual tingkat tinggi sehingga diturunkannya wahyu al Qur’an kepada Beliau untuk kepentingan ummat Islam, bahkan al Qur’an yang diturunkan tersebut untuk petunjuk hidup seleuruh makhluk di alam semesta raya ini. Dengan pusaka al Qur’an lah kabangkitan Islam dimulai dan selanjutnya dikembangkan secara serius sehingga melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang menopang kemajuan peradaban Islam yang berlangusng berabad-abad lamanya.

Karenanya bulan Ramadan ini harus dijadikan momentum strategis bagi ummat Islam untuk merancang kebangkitan paradaban ummat. Semua ritual dan amalan kabaikan yang dianjurkan selama bulan Ramadhan mulai puasa, sholat-sholat sunnah, baca al Qur’an, sedekah dan sebagainya sejatinya dalam rangkan membangkitkan jiwa raga ummat untuk membangun peradaban yang lebik.

Baca juga: Tradisi Menyambut Ramadan: Nyekar, Padusan, dan Nyadran

Ada 3 hal yang harus ditargetkan untuk diaktifasi dalam rangka membangun peradaban Islam di bulan Ramadan ini. Pertama, membangun kesadaran kolektif akan jati diri (ma’rifatun nafs/self understanding). Ritual puasa yang benar, dengan kondisi pelemahan fisik-biologis karena tidak makan, sejatinya bertujuan untuk menghidupkan aspek ruhani insani dengan melahirkan kesadaran diri sebagai hamba Tuhan dan sekaligus sebagai khalifah fil ardl (pembangun peradaban). Kesadaran vertikal dan horizontal ini yang harus didapatkan dengan amalan-amalan Ramdhan. Salat tarawih dan munajat lainnya akan disebut berhasil manakala melahirkan kesadaran dan pencerahan spiritual diri dengan mantapnya posisi diri sebagai hamba dan khalifah sekaligus yang harus diemban dalam 11 bulan berikutnya.

Kedua, kapasitas membaca situasi lingkungan dan tantangan masa depan, sebagaimana diwahyukan al Qur’an yang ayat pertamanya memerintahkan iqra’, menunjukkan secara tegas ummat Islam dengan tradisi tadarusan itu mengandung mmaksud agar selain membaca ayat qauliyah yang juga mensinergikanya dengan ayat-ayat kauaniyah untuk menetapkan strategi masa depan. Membaca ayat kauniyah dimulai dari pembacaan situasi ekonomi, politk, budaya dan sebagainya pada skala mikro sampai makro didukung oleh analisis multidisipliner  akan menghasilkan langkah-langkah yang inovatif dalam pembangunan ummat secara berkesinambungan.

Ketiga, integritas sumber daya manusia yang berakhlaq al karimah, yang memang jadi tonggak peradaban. Tanpa penegakan akhlaq yang mulia peradaban tidak akan tegak dan sebaliknya negara akan hancur bila moralitas tidak diindahkan oleh ummat. Maka Bulan Ramadan adalah bulan pembentukan akhlaq karimah sebagai prasarat berdirinya peradaban ummat.

Baca juga: Malam Lailatul Qadar (Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan)

Bila ketiga hal tersebut dapat diwujudkan selama bulan Ramadan, maka masa depan peradaban ummat dan bangsa dapat diharapkan. Oleh karenanya peribadatan tidak hanya dikerjakan secara normatif formalitik sahaja, namun juga dilakukan dengan memaknai pesan moral dan pesan perennialnya; terbangunnya kesadaran kolektif sebagai hamba dan khalifah, meningkatkan kemampuan membaca situasi dan tegaknya akhlaq yang mulia.