Hanya Terjadi Sekali dalam Belasan Tahun! Keajaiban Toleransi di Balik Imlek dan Ramadan 2026

Penulis: Dwi Selma Fitriani, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Menjadi Indonesia berarti merayakan keberagaman sebagai napas sehari-hari. Bulan Februari 2026 adalah bulan yang istimewa. Masyarakat dihadapkan pada kondisi dua budaya besar yang saling memberikan ruang untuk bersinar bersama. Pertemuan momen sakral ini membuktikan toleransi dan moderasi beragama yang tinggi, bagaimana kita sebagai satu bangsa, mampu menyatukan doa dan sukacita dalam satu napas persaudaraan yang tulus.

Di bulan ini, langit Nusantara tidak hanya dihiasi oleh merahnya lampion khas Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, tetapi juga oleh lantunan doa syahdu yang menandai dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Pertemuan dua perayaan besar ini menciptakan suasana unik di mana aroma hidangan khas Tionghoa dan kekhusyukan persiapan sahur hadir hampir bersamaan di ruang publik yang sama.

Fenomena langka ini terjadi karena kedua kalender tersebut sama-sama mengacu pada peredaran bulan (lunar). Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 17 Februari, sementara awal Ramadan menyusul hanya berselang satu hingga dua hari setelahnya. Kedekatan waktu ini mengubah wajah kota-kota di Indonesia menjadi palet warna yang memanjakan mata. Dari merah cerah simbol keberuntungan, putih bersih simbol kesucian, hingga hijau teduh yang identik dengan suasana Ramadan.

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Sumud Flotilla: Antara Ketabahan dan Toleransi

Di kota-kota dengan populasi Tionghoa yang besar seperti Singkawang, Medan, dan Semarang, kedewasaan beragama diuji sekaligus dibuktikan. Festival lampion dan pawai barongsai yang biasanya riuh hingga larut malam kini dijalankan dengan manajemen waktu yang lebih disiplin. Ada kesepakatan tak tertulis yang sangat menyentuh dan patut diapresiasi.

Komunitas Tionghoa secara sukarela mengatur volume suara dan durasi perayaan agar memberikan ruang ketenangan bagi umat muslim yang bersiap untuk sahur dan ibadah Subuh. Sebaliknya, semangat berbagi “angpao” saat Imlek pun bersinggungan indah dengan semangat “sedekah” di awal Ramadan. Di sini, tangan-tangan yang memberi tidak lagi melihat latar belakang etnis atau agama, melainkan murni bergerak atas dasar kemanusiaan.

Dinamika menarik juga terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern. Kita bisa melihat pemandangan unik di mana kurma untuk berbuka puasa dijual berdampingan dengan kue keranjang. Para pelaku usaha pun sangat adaptif, dekorasi bertema naga dan barongsai bersanding manis dengan ornamen bulan bintang. Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, ada pelajaran yang jauh lebih mendalam, yaitu tentang bagaimana kita merawat moderasi beragama di tengah keberagaman yang nyata.

Baca juga: Peran Masjid Al-Hikmah sebagai Simbol Toleransi Umat Beragama di Pulau Dewata

Moderasi beragama dalam momen ini bukanlah mencampuradukkan ritual ibadah, melainkan tentang cara kita mengambil jalan tengah yang penuh empati. Saat warga keturunan Tionghoa merayakan sukacita makan malam keluarga (reunion dinner), umat Islam di saat yang hampir bersamaan sedang merapikan saf untuk salat tarawih pertama. Toleransi diuji secara konkret melalui aksi-aksi kecil tetapi bermakna, seperti memastikan kemeriahan kembang api tidak mengganggu kekhusyukan doa, atau saling berbagi makanan yang disesuaikan dengan aturan agama masing-masing sebagai tanda kasih antar tetangga.

Pada akhirnya, pertemuan Imlek dan Ramadan di tahun 2026 memberikan pesan kuat bagi kita semua. Meskipun cara kita berdoa dan merayakan tradisi berbeda, esensi dari kedua momen ini sebenarnya serupa. Keduanya adalah waktu untuk pembersihan diri, refleksi atas kesalahan masa lalu, dan upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kejadian langka ini seolah menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia bahwa perbedaan bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang membuat tali persaudaraan semakin kuat jika dirawat dengan rasa hormat yang tulus.

Pelestarian Budaya Lokal: Tradisi Haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Wiradesa

Penulis: Fatimatus Zahro, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Tradisi merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat yang berfungsi sebagai perekat sosial dan penanda identitas budaya. Di tengah kemajuan zaman yang serba modern, masyarakat tetap berusaha mempertahankan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap tokoh penyebar agama Islam yang berperan besar dalam perkembangan keagamaan di daerah tersebut.

Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan memiliki kekayaan budaya berupa kawasan makam dan bangunan Masjid Jami Al-Qodim. Salah satu situs yang juga merupakan cagar budaya adalah makam Kanjeng Adipati Djayengrono. Menurut penuturan beberapa tokoh sejarah, sebelum bernama Wiradesa, daerah ini disebut Wiroto. Kanjeng Adipati Djayengrono inilah yang memerintah Wiroto pertama kali di era sekitar akhir 1.600 Masehi.

Baca juga: Harmoni Islam dan Budaya: Refleksi Pemikiran Bung Karno dan Gus Kautsar

Kanjeng Adipati Djayengrono bukan hanya sekedar bupati, tetapi ulama besar yang banyak melahirkan generasi penerus, contohnya para kiai besar. Salah satu keturunannya adalah Kiai Muhammad Idris, ia merupakan ulama yang terkenal di Pekalongan. Ada pula santri yang ia didik bernama Sholeh Darat As-Samarani, Semarang. Nama lain Kanjeng Adipati Djayengrono adalah Sayid Qosim dan meninggal sekitar tahun 1717 dan dimakamkan di belakang Masjid Jami Al-Qodim.

Kanjeng Adipati Djayengrono dikenal sebagai sosok ulama dan tokoh karismatik yang menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya. Dakwah yang dilakukan tidak bersifat memaksa, melainkan menyesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat Jawa. Melalui cara yang bijak dan penuh toleransi, ajaran Islam diterima secara damai oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, setiap tahun masyarakat Wiradesa mengadakan haul sebagai rasa hormat, syukur dan pengingat atas perjuangan beliau dalam menyebarkan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Pelaksanaan haul biasanya diisi dengan berbagai kegiatan seperti pembacaan tahlil, doa bersama, pengajian, serta kenduri atau syukuran. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, perangkat desa, hingga masyarakat umum dari berbagai latar belakang organisasi keislaman. Momen ini menjadi sarana untuk memperkuat tali silaturahmi dan memperkokoh rasa persaudaraan antarwarga. Nilai-nilai seperti gotong royong dan kebersamaan tampak jelas dalam proses persiapan hingga pelaksanaan acara.

Selain sebagai kegiatan keagamaan, haul Kanjeng Adipati Djayengrono juga mengandung nilai pelestarian budaya lokal. Dalam pelaksanaannya, masyarakat masih menggunakan bahasa Jawa dalam doa dan pengumuman acara, serta menyajikan makanan tradisional seperti nasi berkat dan jenang. Acara yang diadakan salah satunya adalah festival seperti karnaval dengan tujuan memperkenalkan berbagai macam budaya di Indonesia, seperti rumah adat dan baju adat dari Bali, baju adat dari Sumatera dan masih banyak lagi budaya di Indonesia.

Mereka membuat kerangka, membuat bahan-bahan untuk karnaval tanpa adanya perbandingan antara aliran-aliran organisasi keislaman. Unsur-unsur budaya ini menunjukkan bahwa Islam di Wiradesa berkembang dengan cara yang damai, tanpa meniadakan tradisi lokal yang positif. Inilah bentuk nyata harmonisasi antara nilai agama dan budaya.

Baca juga: Merawat Tradisi Kuda Renggong dalam Penguatan Budaya Lokal di Sumedang

Nilai moderasi beragama sangat tampak dalam tradisi ini. Warga dari berbagai paham keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, maupun kelompok lain hadir bersama tanpa mempermasalahkan perbedaan cara beribadah. Mereka bersatu dalam niat yang sama, yaitu mendoakan leluhur dan mempererat ukhuah. Sikap saling menghargai ini mencerminkan semangat Islam yang inklusif, moderat, dan menghargai keberagaman. Tradisi haul menjadi media nyata pembelajaran sosial tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan beragama.

Secara keseluruhan, haul Kanjeng Adipati Djayengrono merupakan contoh konkret pelestarian budaya lokal yang berjalan seiring dengan nilai-nilai moderasi beragama. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan, meneladani kebaikan, serta menjaga keseimbangan antara agama dan budaya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, tradisi seperti ini sangat berharga karena memperkuat identitas masyarakat sekaligus menjadi benteng dari sikap intoleransi. Melalui pelestarian tradisi haul, masyarakat Wiradesa telah menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.

Esensi Slogan Pondok Modern Gontor: “Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan”

Penulis: Nadya Yanis Safira, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Pondok Modern Darussalam Gontor dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang berpengaruh di Indonesia. Salah satu nilai fundamental yang membedakan Gontor dari pesantren lain adalah slogannya: “Berdiri di atas dan untuk semua golongan”. Slogan ini bukan sekadar semboyan idealis, tetapi merupakan prinsip hidup dan sistem pendidikan yang menanamkan semangat moderasi beragama di tengah perbedaan mazhab, ormas, dan pandangan keagamaan di dunia Islam.

Prinsip tersebut menjadi relevan dalam konteks Pendidikan modern, di mana toleransi, keseimbangan, dan keterbukaan menjadi kebutuhan mendesak di tengah polarisasi sosial dan keagamaan. Semboyan fenomenal ini lahir dari seorang trimurti Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi. Mereka menyebut bahwa umat Islam Indonesia memiliki latar belakang yang sangat beragam.

Oleh karena itu, pendidikan di pesantren tidak boleh menjadi alat untuk menanamkan fanatisme sempit terhadap satu mazhab atau organisasi tertentu. Sebaliknya, Gontor menempatkan Islam sebagai agama universal yang menjunjung nilai-nilai persaudaraan, keadilan, dan keseimbangan (tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i‘tidal) yang merupakan inti dari konsep moderasi beragama.

Baca juga: Harmoni Islam dan Budaya: Refleksi Pemikiran Bung Karno dan Gus Kautsar

Model pendidikan di Gontor secara nyata mengimplementasikan moderasi beragama dalam kurikulum dan kehidupan santri sehari-hari. Pengajaran di sana tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter dan etika sosial. Bahasa Arab dan Inggris menjadi alat komunikasi utama, menunjukkan keterbukaan terhadap peradaban global.

Dalam kehidupan sehari-hari, santri diajarkan untuk menghargai perbedaan pandangan, baik dalam masalah fikih, politik, maupun budaya, tanpa harus mengunggulkan salah satu keberagaman yang ada dan kehilangan prinsip dasar keislaman. Selain itu, sistem pendidikan Gontor menolak fanatisme. Para pengasuhnya tidak mengidentifikasi diri secara eksklusif dengan organisasi Islam tertentu, seperti NU atau Muhammadiyah, meskipun tetap menghormati keduanya.

Berdasarkan pernyataan di atas, sikap ini menunjukkan implementasi langsung dari makna “Berdiri di atas dan untuk semua golongan”. Dengan demikian, Gontor menjadi ruang netral yang memungkinkan seluruh umat Islam belajar dan berinteraksi tanpa keterbatasan ormas atau yang lainnya. Model pendidikan yang seperti ini yang sangat penting untuk ditiru oleh lembaga pendidikan lain agar dapat menciptakan generasi muslim yang terbuka, toleran, dan bijak dalam menghadapi perbedaan.

Baca juga: Menggagas Nilai Kemanusiaan sebagai Upaya Mencegah Konflik PWI-LS dan FPI di Pemalang

Seperti halnya dalam konteks pendidikan nasional, prinsip moderasi ala Gontor sangat relevan untuk diadaptasi. Di tengah maraknya intoleransi dan radikalisme di kalangan muda, pendekatan yang menyeimbangkan antara idealisme keislaman dan keterbukaan terhadap keberagaman sangat dibutuhkan. Nilai-nilai yang diajarkan di Gontor seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kebersamaan mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang harmonis dan bebas dari sikap ekstrem.

Gontor tidak hanya menjadi lembaga pencetak ulama, tetapi juga lembaga pendidikan yang menanamkan nilai-nilai Islam moderat dalam kehidupan sosial. Slogan “Berdiri di atas dan untuk semua golongan” juga mengandung makna inklusivitas yaitu praktik yang merangkul semua individu tanpa memandang latar belakang agar dapat berpartisipasi secara penuh dan setara.

Dalam konteks bangsa Indonesia yang multikultural di mana berbagai kelompok budaya hidup berdampingan dalam satu masyarakat, semangat ini bisa diartikan sebagai ajakan untuk menjadikan agama sebagai rahmat bagi semua, bukan alat untuk membeda-bedakan. Pendidikan moderasi beragama di Gontor membentuk kesadaran bahwa keberagaman adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan kebijaksanaan, bukan permusuhan. Hal ini sejalan dengan visi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan kedamaian dan persaudaraan universal.

Baca juga: Tradisi Sorogan Kitab Kuning sebagai Pondasi Moderasi Beragama di Pesantren

Seiring berjalannya waktu, implementasi model moderasi beragama Gontor juga menghadapi tantangan, salah satu contohnya yaitu dalam era digital. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membawa ide-ide keagamaan yang ekstrem atau dangkal. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam harus memperkuat fondasi literasi digital dan pemahaman kontekstual terhadap ajaran agama.

Gontor dengan sistem kemandiriannya mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Namun, perlu upaya berkelanjutan untuk memperluas nilai-nilai moderasi tersebut ke ranah publik, baik melalui alumni maupun jejaring pendidikan nasional. Kontekstualisasi model pendidikan moderasi beragama di Gontor menunjukkan bahwa Islam dapat diajarkan dengan pendekatan yang damai dan inklusif terhadap perubahan sosial.

Slogan “Berdiri di atas dan untuk semua golongan” menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan untuk membangun masyarakat yang adil dan beradab. Nilai-nilai yang dikembangkan oleh Gontor membuktikan bahwa moderasi bukan berarti melemahkan prinsip agama, melainkan cara untuk menegakkan Islam secara bijaksana di tengah kemajemukan.

Harmoni Islam dan Budaya: Refleksi Pemikiran Bung Karno dan Gus Kautsar

Penulis: Zinatul Maulida, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Islam masuk di tanah Jawa sekitar abad ke-6 dan baru masuk pada abad ke-10. Salah satu buktinya adalah dengan adanya makam Fatimah binti Maimun di Leran, Kabupaten Gresik. Islam merupakan salah satu agama yang mudah diterima di tanah Jawa karena melalui akulturasi budaya. Seperti yang disampaikan oleh Bung Karno bahwa jika menjadi orang Hindu, maka jangan menjadi orang India, Kristen, Yahudi, dan jika menjadi orang Islam jangan pula menjadi orang Arab. Tetaplah menjadi orang nusantara dengan adat budaya yang kaya raya, membangun etika, budi pekerti, kebudayaan, dan memiliki kepekaan terhadap sesama.

Melalui dialog Bung Karno di atas, memperlihatkan harmoni toleransi dalam pandangan Islam. Agama Islam bukan untuk saling meleburkan keyakinan dan bukan juga untuk saling bertukar keyakinan, tetapi untuk muamalah (interaksi sosial). Toleransi beragama sendiri merupakan toleransi yang mencakup pada keyakinan diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau ketuhanan.

Setiap orang berhak atas pilihanya dalam memluk agama yang diyakininya. Allah Swt. berfirman: “Dan jika tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”.

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Sumud Flotilla: Antara Ketabahan dan Toleransi

Ada juga penjelasan dari ayat yang lain: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Pada acara kajian dakwah Gus Kautsar, ia mengatakan pernyataan Bung Karno mengenai keyakinan, ada beberapa hal yang tidak bisa lepas satu sama lain. Ulama sepakat agama membangun budi pekerti, memiliki kepekaan bagi sesama, dan kebudayaan. “Jika kita berbicara tetapi tidak memiliki etika, maka itu hanya omong kosong. Mengaku memiliki etika tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap sesama, itu jelas jauh dari nilai-nilai keislaman. Dan jika ketiganya tidak dilandasi oleh kebudayaan, maka itu sulit untuk melebur, membaur, dan mengajak (dakwah). Sejatinya ruh Islam itu bisa tegak dengan perjuangan, memiliki perilaku yang simpati, menarik, dan kemudian tertarik dengan Islam”.

Penerapan perkataan Bung Karno, Gus Kautsar sepakat apa yang dibagun dengan sepenuh hati, pembawaan beliau, karakter, bahkan atribut beliau mencerminkan kebudayaan. Gus Kautsar hanya menginginkan nilai-nilai ketauhidan, keimanan, dan ketakwaan dimiliki oleh setiap insan. Rasulullah tidak pernah merubah keyakinan sahabat-sahabatnya yang ada di samping beliau, mengingat mereka juga memiliki latar belakang, wilayah, dan budaya yang berbeda. Maka, apa yang disampaikan oleh Bung Karno tidak jauh berbeda dengan Rosulullah. Karakter Indonesia harus menjadi warna sebagai umat muslim yang lahir dan bertanggung jawab di Indonesia.

Baca juga: Al-Wasathiyah dalam Keseharian Rasulullah

Menurut Gus Kautsar, jika sudah membahas toleransi, semua santri paham dan mengerti bahwa Al-Qur’an tidak pernah membeda-bedakan agama, ras, warna kulit, jenis kelamin, lalu terkait dengan memuliakan seseorang, dan dalilnya sudah jelas ada di Al-Qur’an. Allah Swt. memang memuliakan kita sebagai keturunan Nabi Adam utuk menjadi khalifah di bumi. Kita memang diutus menjadi khalifah dan diciptakan secara istimewa, untuk bertanggung jawab mengelola daratan dan lautan. Allah sudah menyiapkan segala kebutuhan, kita perlu mengembangkan kemampuan dengan segala keterbatasan, dengan begitu kita sudah menjadi makhluk yang istimewa.

Pada perbincangan selanjutnya, Gus Kautsar menyebut salah satu tantangan seorang santri, yaitu ketika menghadapi politik identitas. Politik identitas bisa dimaknai secara positif dengan contoh: “Kami santri, maka setiap langkah, perilaku, ucapan, pikiran, harus tetap menunjukan karakter identitas sebagai seorang santri”. Namun, bisa menjadi negatif karena adanya sifat radikalisme kekanan-kananan, ataupun sebaliknya.

Maka dari itu, seorang santri penting memahami secara utuh betapa lengkap dan solutifnya Al-Qur’an. “Jadi, jika ada seseorang yang tidak mampu untuk benar-benar mengamalkan Islam karena ada Al-Qur’an, hadis, dan kalam ulama, yang salah bukan Al-Qur’an ataupun hadisnya, tetapi karena belum cukup memahami ajaran pondok,” ujar Gus Kautsar.

Baca juga: Nasionalisme Digital: Menjaga Kedaulatan Data Di Tengah Gencarnya Artificial Intelligence

Dengan demikian, santri harus terlibat secara utuh dalam dunia digital karena sangat penting untuk sarana dakwah. Pesan Gus Kautsar untuk para santri dari pesantren mana pun yang ingin memasuki dunia digital harus menyiapkan mental dengan matang, entah untuk sarana hiburan ataupun lainya. Pastikan bahwasanya apa yang kita posting adalah cerminan dari kebaikan diri sendiri.

Setiap langkah seseorang pasti ingin selalu mendapatkan restu serta keberkahan dari Allah. Seperti yang disampaikan oleh salah satu sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib yang kemudian disampaikan oleh Gus Kautsar: “Kita sebagai orang Islam harus memiliki kemampuan untuk terus bergaul dan berbaur dengan semua kalangan. Kita boleh berinteraksi dengan siapa saja, tetapi senantiasa menjaga karakter santri agar tidak pudar”.

Moderasi Beragama dalam Sumud Flotilla: Antara Ketabahan dan Toleransi

Penulis: Safina Tunaja, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Sumud Flotilla adalah armada kapal bantuan yang diambil dari bahasa Arab “sumud” yang artinya ketabahan atau keteguhan. Sumud Flotilla merupakan upaya global yang terdiri lebih dari empat puluh kapal dan hampir lima ratus orang dari berbagai negara, seperti Swedia, Italia, Yunani dan Tunisia.

Pelayaran ini menjadi tantangan yang signifinakan. Sejumlah misi serupa sebelumnya sering ditahan dan dihentikan oleh militer, bahkan dua kapal dalam pelayaran ini mengalami gangguan teknis akibat serangan drone saat berlabuh di pelabuhan Bizerte, Tunisia.  Meskipun begitu, para aktivis memegang teguh komitmen mereka dengan meyakini bahwa risiko yang diambil sebanding dengan tujuan yang diperjuangkan: untuk membawa harapan kepada yang membutuhkan, dan untuk menegaskan ketidakadilan yang terjadi di Gaza.

Baca juga: Menafsirkan Pidato Presiden di PBB pada September 2025 dalam Internalisasi Nilai Moderasi Beragama

“Kami datang bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai saudara dan saudari yang berdiri bersama rakyat Gaza. Kami percaya setiap manusia berhak hidup dalam kebebasan dan martabat”. Begitulah keyakinan para aktivis tersebut.

Ada beberapa hal penting yang perlu diketahui mengenai koalisi kapal tersebut. Sumud Flotilla atau Global Sumud Flotilla (GSF) merupakan bagian dari Freedom Flotilla Coalition. Armada ini bertujuan mengirimkan bantuan medis, makanan, dan obat-obatan ke Gaza, wilayah yang terkepung akibat konflik Israel-Palestina.

Nama “sumud” mencerminkan semangat ketabahan rakyat Palestina yang sering dikaitkan dengan narasi Islam tentang kesabaran (sabr) dan perjuangan (jihad) dalam bentuk non-kekerasan. Ketabahan ini juga terlihat jelas oleh para aktivis yang tetap berlayar di tengah ancaman dari militer Israel.

Baca juga: Menguak Misi Terselubung: Strategi Israel dalam Konflik Palestina

Namun, yang menarik dari peristiwa ini adalah tidak hanya aktivis muslim saja yang berkontribusi, tetapi juga Yahudi, Kristen, dan ateis dari berbagai negara. Hal ini menunjukkan harmoni moderasi beragama di mana agama tidak menjadi alat polarisasi, melainkan perekat solidaritas global. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surah Al-Mumtahanah ayat 8:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ۝٨

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

Ayat tersebut menekankan hubungan baik dengan non-muslim yang tidak memerangi umat Islam, sehingga prinsip tersebut selaras dengan etos Sumud Flotilla. Moderasi beragama dalam peristiwa ini memperlihatkan penolakan terhadap kekerasan. Berbeda dengan narasi ekstrem yang mungkin membenarkan serangan balik, Sumud Flotilla menekankan diplomasi dan hak asasi manusia.

Sumud Flotilla yang melibatkan aktivis dari berbagai latar belakang terutama bangsa dan agama. Toleransi menjadi kunci keberhasilan dan moderasi beragama mengajarkan bahwa perjuangan kemanusiaan bukan milik satu agama saja. Sejarah menunjukkan bagaimana ekstremisme, baik dari pihak mana pun, justru memperburuk konflik.

Baca juga: Peran Masjid Al-Hikmah sebagai Simbol Toleransi Umat Beragama di Pulau Dewata

Seperti serangan terhadap flotilla pada tahun 2010 (Mavi Marmara Incident) yang memicu perpecahan global. Dari sinilah moderasi berperan sebagai pencetus nilai-nilai universal seperti kasih sayang dalam Islam, atau perdamaian dalam Kristen, para aktivis flotilla bisa membangun solidaritas lintas agama. Toleransi bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang menciptakan perdamaian dan persatuan di tengah keberagaman.

Moderasi beragama dalam Sumud Flotilla mengajarkan kita tentang toleransi dan ketabahan, bukan hanya melawan blockade fisik, tetapi membuka mata dunia tentang pentingnya menjaga perdamaian dan kemanusiaan. Ketabahan yang menjadi kekuatan dalam menghadapi ancaman militer Israel dan toleransi di sini bukan hanya tentang menerima keberagaman, tetapi juga tentang kepedulian dan bertindak untuk kemanusiaan.

Peran Masjid Al-Hikmah sebagai Simbol Toleransi Umat Beragama di Pulau Dewata

Penulis: Siti Kamilah Ibtihal Azzahra, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Masjid Al-Hikmah merupakan masjid dengan arsitektur megah yang terletak di Jalan Soka, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, Bali. Masjid Al-Hikmah menjadi simbol indah dari harmoni antaragama di tengah keberagaman budaya Indonesia. Masjid ini dirancang dengan sentuhan seni ukir khas Bali yang biasanya diasosiasikan dengan pura atau tempat ibadah utama bagi umat Hindu, tetapi tetap mempertahankan fungsi utama sebagai tempat ibadah umat Islam. Gerbang Masjid Al-Hikmah memiliki ukiran yang khas dan dapat dilihat dari bentuknya, terutama motif lengkung, flora, dan gapura merupakan contoh seni ukir khas Bali atau seni ukir bernuansa Hindu-Bali.

Bangunan tersebut bukan sekadar arsitektur, tetapi mengandung pesan kuat tentang toleransi yang diharapkan oleh pendirinya yaitu Haji Abdurrahman. Masjid ini awalnya dibangun menggunakan bahan kayu di atas tanah wakaf, kemudian renovasi besar-besaran dengan menambahkan arsitektur khas Bali yang dilakukan pada tahun 1995 oleh Bak Sunarso dan dibantu oleh seniman dari Bali bernama Wayan Kasim. Kombinasi ukiran khas Bali ada pada sebagian sudut berbahan beton dan ukiran khas Jawa pada elemen kayu. Nuansa yang kental dengan akulturasi budaya ini membuat Masjid Al-Hikmah berdiri kokoh sebagai simbol persatuan, toleransi, dan saling menghargai antarumat beragama di Bali.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Peristiwa akulturasi tersebut merupakan contoh nyata bagaimana seorang dermawan dari luar Bali bisa memahami esensi kearifan lokal. Alhasil masjid ini tidak terlihat asing di tengah lanskap Bali, melainkan menyatu, mempromosikan rasa saling menghargai antara umat Islam dan Hindu. Masjid Al-Hikmah bukan hanya untuk salat, tetapi juga sebagai tempat belajar Al-Qur’an bagi anak-anak dan bahkan terdapat taman kanak-kanak.

Lokasi masjid yang berada di Jalan Denpasar Timur membuatnya mudah diakses dan menjadi ikon kota yang menonjol. Berbeda dengan masjid-masjid konvensional yang mungkin terlihat sedehana, Al-Hikmah seperti jembatan budaya yang hidup. Dengan demikian, pemerintah dan masyarakat Bali berkesempatan menjaga identitas lokal tanpa mengorbankan esensi agama. Menjadi model bagi daerah lain di Indonesia yang multikultural, di mana seni dan ibadah saling melengkapi. Keinginan pendiri untuk menjalin kerukunan bukanlah sekadar harapan kosong, hal ini tercermin dalam setiap detail arsitektur.

Baca juga: Fenomena Partisipasi Nonmuslim dalam Tahlilan: Meneguhkan Toleransi Beragama

Masjid Al-Hikmah dapat menginspirasi seseorang untuk merayakan perbedaan. Ini adalah bukti bahwa Bali, sebagai Pulau Dewata, juga bisa menjadi pusat dialog antaragama yang damai. Selain tempat yang kental dengan nuansa religius, masjid ini juga berkontribusi pada pelestarian seni ukir Bali yang semakin langka. Adanya renovasi yang menambahkan elemen-elemen tradisional, Al-Hikmah membantu generasi muda mengenal warisan budaya tanpa batas agama. Masjid Al-Hikmah mengajarkan pelajaran berharga tentang kebersamaan yang dirancang dengan niat tulus.

Mulai dri fondasi kayu sederhana hingga menjadi tempat ibadah umat Islam yang ikonik saat ini, perjalanannya mencerminkan evolusi toleransi di Bali. Masjid ini membuktikan bahwa agama dan budaya lokal dapat bersatu, bukan terpisah. Melalui integrasi seni ukir khas Bali ke dalam arsitekturnya, Masjid Al-Hikmah secara aktif mempraktikkan prinsip akomodasi budaya. Desain inklusif ini adalah contoh nyata dari toleransi dan komitmen para pendirinya untuk memperkuat kerukunan antara umat Islam dan Hindu di Bali.

Tradisi Sorogan Kitab Kuning sebagai Pondasi Moderasi Beragama di Pesantren

Penulis: Chintya Syakira, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Tradisi sorogan kitab kuning merupakan salah satu metode pembelajaran klasik di pesantren yang berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini melibatkan santri untuk membaca kitab secara langsung di hadapan kiai, lalu kiai membimbing, mengoreksi, dan menjelaskan maknanya secara mendalam. Metode tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan spiritualitas. Sorogan mengajarkan ketekunan, kedisiplinan, dan kerendahan hati yang menjadi nilai-nilai dasar dalam membentuk kepribadian santri yang moderat.

Kitab kuning menjadi media utama dalam tradisi sorogan yang berisi ajaran-ajaran Islam klasik yang mencakup aspek akidah, fikih, tasawuf, dan akhlak. Meskipun berasal dari khazanah lama, isi dari kitab kuning sangat relevan dalam konteks modern, terutama dalam membangun sikap keagamaan yang seimbang. Melalui pemahaman mendalam terhadap teks-teks ini, santri diajak untuk berpikir kritis, tidak tergesa-gesa dalam menilai perbedaan, dan mampu memahami perbedaan pendapat dalam Islam secara bijak.

Baca juga: Santri Zillenial sebagai Agen Perubahan dalam Peradaban Digital

Konteks moderasi beragama dalam tradisi sorogan kitab kuning berperan penting sebagai benteng dari sikap ekstrem, baik ekstrem kanan (radikal) maupun ekstrem kiri (liberal). Melalui bimbingan langsung dari kiai, santri tidak hanya belajar isi kitab, tetapi juga menyerap cara berpikir dan bersikap yang penuh hikmah. Kiai menjadi teladan dalam menyeimbangkan antara teks dan konteks, antara syariat dan realitas, sehingga santri terbiasa untuk tidak kaku dalam beragama.

Selain itu, tradisi sorogan mengajarkan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Beragam proses yang dijalani santri tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga menundukkan ego dan menghormati guru. Nilai adab tersebut menjadi fondasi terciptanya generasi muslim yang santun, toleran, dan menghargai perbedaan. Adab inilah yang menjadi kunci utama dalam membangun moderasi beragama, karena seseorang yang beradab tidak akan mudah menyalahkan atau merendahkan keyakinan orang lain.

Sorogan juga membentuk kemampuan santri dalam memahami perbedaan mazhab dan pandangan ulama. Melalui berbagai kitab kuning, mereka diajarkan bahwa perbedaan pendapat merupakan rahmat, bukan sumber perpecahan. Pemahaman ini membuat santri terbiasa dengan keragaman pemikiran dalam Islam dan mampu menempatkan diri secara bijaksana di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan demikian, sorogan melahirkan santri yang tidak mudah terprovokasi oleh ide-ide intoleran. Sorogan mengajarkan pentingnya proses belajar yang mendalam dan hati-hati. Metode ini menumbuhkan kesabaran intelektual dan spiritual di mana dua hal tersebut sangat dibutuhkan agar seseorang tidak mudah terseret oleh informasi keagamaan yang dangkal dan menyesatkan.

Baca juga: Perjalanan Pemimpin dan Pendidik: Kisah K.H. Mas’ud Abdul Qodir dan Pondok Pesantren Darul Amanah

Pesantren yang mempertahankan tradisi sorogan sejatinya sedang menjaga warisan keilmuan Islam yang berakar pada sanad dan otoritas keilmuan yang jelas. Sanad keilmuan inilah yang membedakan pemahaman agama yang otentik dengan yang dangkal. Dengan demikian, sorogan bukan sekadar metode belajar, tetapi juga sistem penjagaan keaslian ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang berpaham ekstrem.

Melalui kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa tradisi sorogan kitab kuning merupakan pondasi penting bagi moderasi beragama di pesantren. Ia menanamkan nilai-nilai intelektual, spiritual, dan moral yang seimbang. Membentuk santri yang berpikir kritis, tetapi tetap santun, serta teguh dalam prinsip, tetapi terbuka terhadap perbedaan. Di tengah arus globalisasi dan ideologi transnasional, sorogan menjadi benteng dan sekaligus petunjuk arah bagi terciptanya kehidupan beragama yang damai, toleran, dan beradab.

Menafsirkan Pidato Presiden di PBB pada September 2025 dalam Internalisasi Nilai Moderasi Beragama

Penulis: Muhammad Syauqi, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sukses menyampaikan orasi menggugah bangkitnya gairah kesadaran bangsa-bangsa lain di hadapan Majelis Umum PBB pada hari Selasa, 23 September 2025 di New York, Amerika Serikat, tentang kemanusiaan, kerja sama, dan posisi Indonesia di kancah internasional.

Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya nilai kebersamaan sosial terlepas dari kemajemukan ras, agama, etnis, budaya dan kebangsaan. Sejarah Indonesia ketika melawan kolonialisme, penderitaan akibat penindasan, dan persatuan yang membuat bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya, digunakan untuk menyusun pesan himbauan di dalam sidang ini. Pesan tersebut diharapkan mampu memberikan bukti manakala warisan bangsa periode lalu dapat menjadi landasan budi pekerti untuk memperjuangkan keamanan skala global.

Baca juga: Menjaga Nadi Ibu Pertiwi: Membumikan Praktik Toleransi Demi Keutuhan Bangsa

Beberapa cara untuk memaknai pesan ajakan tersebut yaitu mewujudkan pendekatan negosiasi moral, yakni mengkritisi kefanatikan, kekerasan, dan diskriminasi. Masing-masing warga berwenang untuk eksistensi dalam keadilan, kebebasan, dan kemartabatan karena semua manusia yang Allah Swt. ciptakan sejatinya adalah sama. Hal ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah pilihan, dan tidak ada negara, termasuk Israel, yang berhak mengklaim sebagai bangsa pilihan. Hal ini sejalur dengan gagasan moderasi beragama yang berupaya menjaga keseimbangan dalam mengakui perbedaan tanpa merendahkan atau meremehkan lainnya.

Dalam pernyataan ini, norma moderasi tidak hanya mencakup hubungan keagamaan tetapi juga interaksi manusia secara umum. Berdasarkan kitab Musnad al-Imam Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih al-Handhali (wafat 181 H) cetakan pertama Maktabah al-Ma’arif, Riyadh tahun 1407 H. Halaman 146, dahulu Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ…إِلَّا بِتَقْوَى اللَّهِ

“Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab di atas non-Arab, tidak pula orang non-Arab di atas orang Arab … kecuali dengan sebab ketakwaan kepada Allah”.

Kesulitan Palestina yang sebagian besar masih diabaikan di forum internasional, juga diangkat dalam pidato ini. Posisi moderat tidak memihak secara sembrono, melainkan menekankan solusi bilateral yang menghormati hak-hak warga Israel dan Palestina. Hal ini tercermin dalam seruan Indonesia di PBB untuk kesetaraan dan legitimasi bagi Palestina. Sudut pandang yang konsisten dengan moderasi teologis, menentang radikalisme dan menekankan perdamaian, rekonsiliasi, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia masing-masing wilayah. Akibatnya, diplomasi Indonesia menggambarkan agama sebagai sesuatu yang baik, alih-alih sebagai sumber konflik.

Baca juga: Moderasi Beragama yang Tidak Egois (Sentrisme Alam)

Dari pernyataan di atas, contoh semangat moderasi yang diwujudkan dalam tindakan nyata adalah partisipasi penduduk Indonesia dalam misi menjaga perdamaian PBB, di mana Indonesia bersedia mengirimkan hingga 20.000 pasukan. Melampaui wacana moral, moderasi beragama menuntut tindakan bersama untuk melestarikan kehidupan manusia. Dalam konteks ini, Indonesia menunjukkan bahwa negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini secara aktif mempromosikan stabilitas internasional, alih-alih hanya sekadar omong kosong. Fenomena ini semakin memperkuat reputasi syariat agama Islam sebagai keyakinan spiritual yang welas asih terhadap semua makhluk hidup.

Ajakan tersebut adakalanya membahas topik-topik yang cukup relevan, khususnya interaksi antarumat beragama terkait ketahanan pangan, perubahan iklim, dan energi terbarukan. Dalam situasi ini, moderasi beragama kerap dipahami sebagai wujud kepedulian atas planet ini, yang merupakan rumah kita bersama. Etika moderasi yang menghargai keadilan antargenerasi ditunjukkan dalam dedikasi Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih, reboisasi jutaan hektar lahan, dan membangun swasembada pangan. Dunia seharusnya sehat untuk generasi esok, bukan untuk dirusak oleh keserakahan manusia.

Imbauan presiden secara ekstensif meliputi penolakan tanggapan bahwa “yang kuat berbuat sesuka hatinya, yang lemah bertahan apa adanya”. Konsep keadilan dan moderasi jelas bertentangan dengan pandangan tidak bermoral tersebut. Ketika Prabowo Subianto mengenang era kolonial yang keras dan pernah dialami tanah air Indonesia. Pribumi Indonesia memahami apa artinya diabaikan oleh kesamarataan hidup di bawah apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan tidak mendapatkan kesempatan yang serupa. Seruan ini menunjukkan upaya Indonesia mengarahkan kebijakan internasional menjauh dari perebutan kekuasaan dan menuju arah yang lebih bermoral.

Imbauan supaya mencegah kekerasan dan ketidakpercayaan serta prasangka merupakan amanat yang krusial. Jika menghadapi perbedaan pendapat, moderasi beragama menanamkan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan pengendalian diri. Adanya ajakan setiap individu untuk memilih jalan keadilan, kemanusiaan, dan kedamaian, pidato ini mengekspresikan cita-cita komprehensif. Ajaran religiositas yang sangat menekankan toleransi, kasih sayang, dan rasa hormat terhadap sesama itu sejalan dengan hal tersebut.

Baca juga: Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Pidato yang dibawakan Prabowo Subianto juga merupakan deklarasi politik sekaligus analisis etis yang berkaitan dengan toleransi beragama yang menerima seluruh keyakinan baik Arab, Yahudi, Islam, Kristen, Hindu, ataupun Buddha. Segala kepercayaan layak tumbuh berdampingan selaku satu keluarga insan yang setara.

Pidato tersebut bertujuan untuk menyuarakan agar rakyat sanggup menciptakan kerangka perangai yang kokoh dengan mengaitkan isu-isu inklusif Indonesia di masa lalu, masa kini, dan masa depan, beserta prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Dalam perspektif ini, moderasi beragama merupakan strategi realistis demi merawat kerukunan mondial yang merupakan kata kunci. Dengan demikian, kontingen Indonesia muncul layaknya suatu cermin antarbangsa yang telah menjadikan nilai-nilai moderasi beragama sebagai pedoman diplomasi global yang memelihara kontribusi signifikan bagi peradaban nusa dan bangsa.

Tradisi Megengan dalam Memperkuat Toleransi dan Kebersamaan Antarumat Beragama

Penulis: Farakh Indina, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya, suku, dan agama yang luar biasa. Di tengah keberagaman ini, tradisi lokal menjadi jembatan penting dalam merawat harmoni sosial. Salah satunya adalah Megengan, sebuah ritual menyambut bulan Ramadan yang kental dengan nilai kebersamaan dan toleransi, khususnya di wilayah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.

Megengan berasal dari kata “megeng” dalam bahasa Jawa yang berarti “menahan”. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa menjelang Ramadan sebagai bentuk simbolis untuk menahan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Sebagai persiapan memasuki bulan suci, rangkaian kegiatan Megengan biasanya meliputi doa bersama, pembacaan tahlil untuk leluhur, serta pembagian makanan kepada tetangga dan masyarakat sekitar. Hidangan khas yang wajib ada dalam tradisi ini adalah kue apem, yang melambangkan permohonan maaf (afuan) dan harapan akan keberkahan.

Baca juga: Tradisi Lomba Dayung Tradisional dalam Memperkokoh Kearifan Lokal serta Persaudaraan Antarnelayan di Klidang Lor, Batang

Walaupun Megengan erat kaitannya dengan umat Islam, pelaksanaannya sering kali melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang keyakinan. Dalam konteks ini, Megengan bertransformasi dari sekadar ritual keagamaan menjadi simbol kebudayaan inklusif. Warga dari berbagai latar belakang agama dapat berbaur dan membangun relasi sosial yang harmonis. Hal ini membuktikan bahwa tradisi lokal memiliki kekuatan untuk merangkul perbedaan, memperkuat rasa saling menghormati, dan mempererat tali persaudaraan antarumat beragama.

Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi yang efektif. Sering kali, tetangga nonmuslim turut diundang untuk makan bersama atau menerima hantaran makanan. Praktik ini menciptakan ruang interaksi sekaligus mengikis sekat-sekat sosial akibat perbedaan keyakinan. Semangat berbagi dalam Megengan menumbuhkan empati sosial; umat Islam diajarkan untuk memberi kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang agama, usia, maupun status sosial.

Baca juga: Tradisi Ruwatan Sebagai Akulturasi dan Moderasi Beragama Dalam Masyarakat Jawa

Lebih jauh lagi, Megengan menunjukkan bahwa nilai-nilai agama yang dibumikan melalui konteks budaya dapat menjadi alat pemersatu yang kuat. Melestarikan tradisi ini bukan sekadar menjaga warisan leluhur, melainkan juga memperkuat fondasi toleransi di tengah masyarakat pluralistik. Upaya menciptakan kerukunan tidak selalu harus melalui kebijakan formal negara, tetapi bisa tumbuh secara organik dari akar budaya masyarakat itu sendiri.

Megengan memberi ruang bagi masyarakat untuk mempraktikkan nilai sosial secara nyata. Ketika warga saling mengunjungi dan bergotong royong, mereka sedang memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi perdamaian. Di tengah dunia yang kerap dilanda konflik identitas, Megengan menjadi pengingat sederhana bahwa kedamaian bisa dibangun melalui aksi nyata: saling menyapa, memberi, dan menghormati.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Sebagai penutup, tradisi Megengan adalah instrumen sosial yang sangat relevan untuk memperkuat solidaritas bangsa. Tradisi ini membuktikan bahwa kebersamaan dan saling menghargai bukanlah sekadar idealisme, melainkan praktik hidup yang membumi dan mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia.

Tradisi Ruwatan Sebagai Akulturasi dan Moderasi Beragama Dalam Masyarakat Jawa

Penulis: Khafshah, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Tradisi merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap daerah memiliki kekhasan budaya yang mencerminkan cara pandang dan nilai-nilai hidup warganya. Di tanah Jawa, salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah ruwatan. Tradisi ruwatan yaitu sebuah ritual yang dipercaya sebagai upaya tolak bala dan penyucian diri dari hal-hal yang dianggap membawa kesialan atau nasib buruk.

Meski sering dikaitkan dengan unsur mistis, ruwatan sejatinya memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar ritual adat, melainkan simbol perpaduan budaya dan spiritualitas yang telah mengakar dalam masyarakat Jawa selama berabad-abad. Melalui ruwatan, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai lokal berpadu harmonis dengan ajaran agama, khususnya Islam, yang masuk ke Jawa sejak abad ke-13.

Dalam prosesi ruwatan, biasanya disertakan doa-doa, sedekah, dan tahlilan yang bernapaskan Islam. Namun, elemen-elemen tradisional seperti wayang, sesaji, dan doa kepada leluhur tetap dipertahankan. Perpaduan dua unsur ini mencerminkan bentuk akulturasi budaya yang tidak saling meniadakan, melainkan saling mengisi. Di sinilah letak keindahan budaya Jawa yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya.

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Tradisi Syawalan Masyarakat Krapyak Pekalongan

Ruwatan juga menjadi cermin moderasi beragama yang telah lama hidup dalam masyarakat Jawa. Moderasi beragama menekankan keseimbangan antara teks dan konteks, antara keyakinan dan kearifan lokal. Masyarakat Jawa mempraktikkan nilai ini dengan cara yang sangat alami. Mereka berpegang pada ajaran agama, tetapi tetap menghormati tradisi nenek moyang sebagai warisan budaya yang penuh makna.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memiliki pandangan keberagamaan yang terbuka dan toleran. Mereka tidak mudah menghakimi perbedaan, melainkan mencari titik temu yang bisa mempererat hubungan sosial. Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia yang majemuk, nilai-nilai ini sangat relevan untuk dipelihara. Ruwatan menjadi contoh bahwa agama dan budaya dapat berjalan seiring tanpa harus saling bertentangan.

Tradisi ruwatan juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Ia menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan semangat gotong royong. Saat ruwatan digelar, masyarakat berkumpul, bergotong royong menyiapkan acara, dan bersama-sama mendoakan keselamatan. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip Islam yang menekankan ukhuwah dan kepedulian sosial.

Baca juga: Tradisi Munggah Molo : Menguatkan Moderasi Beragama  dan Harmoni Sosial

Selain itu, ruwatan juga mengajarkan kesadaran spiritual. Dalam prosesi ini, manusia diingatkan untuk bersyukur atas kehidupan, introspeksi diri, dan memohon perlindungan kepada Tuhan. Meski dibalut dalam simbol-simbol budaya, substansi spiritualnya tetap kuat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi lokal bukan penghalang bagi spiritualitas, melainkan jembatan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sangat disayangkan sekali, sebagian orang modern sering memandang ruwatan sebagai praktik ketinggalan zaman atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama. Padahal, jika dipahami secara bijak, ruwatan tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Justru di dalamnya terdapat pesan moral tentang kesadaran diri, kebersamaan, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Menjaga tradisi ruwatan berarti menjaga warisan kebijaksanaan lokal yang sarat nilai kemanusiaan. Di tengah tantangan globalisasi yang kerap menyingkirkan nilai budaya, pelestarian tradisi seperti ini penting untuk memperkuat jati diri bangsa. Ia menjadi benteng moral sekaligus pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Baca juga: Tradisi Bubur Suro Meningkatkan Persatuan antar-Sesama Muslim

Dengan demikian, tradisi ruwatan tidak hanya penting sebagai peninggalan budaya, tetapi juga sebagai inspirasi moderasi beragama di era modern. Melalui ruwatan, masyarakat Jawa telah menunjukkan cara beragama yang damai, inklusif, dan penuh kearifan. Nilai-nilai seperti ini perlu terus diwariskan kepada generasi muda agar harmoni antara agama dan budaya tetap terjaga di bumi nusantara.