Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Penulis: Velisah Intan Editriya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Persoalan sampah sering kali dipandang semata-mata sebagai persoalan perilaku masyarakat. Ketika sampah menumpuk, pembakaran terbuka terjadi, atau lahan kosong berubah menjadi tempat pembuangan, masyarakat kerap hanya diminta untuk lebih sadar dan lebih peduli terhadap lingkungan. Padahal, kesadaran saja tidak selalu cukup. Masyarakat yang memiliki keinginan untuk hidup bersih tetap membutuhkan sistem, sarana, dan dukungan bersama agar kepedulian tersebut dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 selama melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Dusun 2, Desa Bunikasih. Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat bukan sekadar untuk menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, mendengar, dan memahami persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Melalui observasi, wawancara, diskusi, serta kegiatan rembuk warga, mahasiswa bersama masyarakat berupaya mengidentifikasi kebutuhan yang paling mendesak dalam mendukung kebersihan lingkungan.

Dari proses tersebut, ditemukan bahwa keterbatasan sarana transportasi menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pengumpulan dan pengangkutan sampah. Sebelum program pengadaan sarana dilaksanakan, pengelolaan sampah masih dilakukan secara swadaya dan belum terjadwal secara optimal. Sebagian warga memilih membakar sampah secara terbuka atau membuangnya di lahan kosong karena proses membawa sampah menuju lokasi pembuangan cukup berat dan belum didukung alat angkut yang memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kesadaran masyarakat, tetapi juga dengan ketersediaan sarana yang mendukung pengelolaan sampah.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Berangkat dari persoalan tersebut, KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 bersama masyarakat Dusun 2 Desa Bunikasih berupaya menghadirkan solusi yang sederhana, tetapi sesuai dengan kebutuhan di lapangan, yaitu melalui pengadaan sarana transportasi atau gerobak sampah. Program ini dirancang bukan hanya sebagai bentuk pemberian bantuan, melainkan sebagai upaya membangun fondasi pengelolaan sampah yang dapat terus berjalan setelah kegiatan KKN berakhir.

Di sinilah program KKN memiliki arti yang lebih luas. KKN seharusnya tidak hanya meninggalkan kegiatan seremonial atau program yang selesai bersamaan dengan berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Program yang dilaksanakan perlu memiliki keberlanjutan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka waktu yang lebih panjang. Gerobak sampah yang diadakan melalui program ini diharapkan menjadi salah satu sarana yang tetap dapat digunakan masyarakat untuk mendukung proses pengumpulan dan pengangkutan sampah secara rutin.

Pengadaan sarana tersebut juga didukung oleh gagasan wakaf produktif. Namun, dalam program ini, wakaf bukan satu-satunya fokus utama. Wakaf produktif menjadi salah satu pendekatan yang memperkuat gagasan bahwa sebuah aset sosial seharusnya tidak hanya diberikan untuk sesaat, tetapi harus mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan. Gerobak sampah menjadi wujud nyata dari pemanfaatan aset yang dapat digunakan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Nilai penting dari program ini tidak hanya terletak pada gerobak sebagai benda fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana gerobak tersebut dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah masyarakat. Jika digunakan secara rutin, dirawat bersama, dan didukung oleh jadwal pengangkutan yang jelas, gerobak tersebut dapat membantu mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka dan pembuangan sampah di lahan kosong. Dengan kata lain, keberhasilan program tidak berhenti pada saat gerobak diserahkan, tetapi justru dimulai setelah mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdiannya.

Pengalaman awal pelaksanaan program menunjukkan adanya perubahan positif. Dalam dua minggu pertama, frekuensi pengangkutan sampah meningkat, titik sampah liar dan praktik pembakaran terbuka mulai berkurang, serta muncul keterlibatan relawan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan pengelolaan sampah. Hasil ini memang masih bersifat awal dan belum dapat dijadikan bukti keberhasilan jangka panjang. Namun, perubahan tersebut memberikan harapan bahwa penyediaan sarana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Keberlanjutan program tentu tidak dapat dibebankan kepada mahasiswa KKN. Mahasiswa hanya menjadi penggerak awal dan fasilitator dalam proses perubahan. Setelah program dilaksanakan, masyarakat menjadi pihak utama yang menentukan keberlanjutan gerobak sampah dan sistem pengelolaannya. Karena itu, keterlibatan RT, RW, tokoh masyarakat, karang taruna, relawan, dan warga menjadi sangat penting. Pembagian tanggung jawab, jadwal pengangkutan, mekanisme pemeliharaan, dan kesepakatan bersama perlu terus dijaga agar sarana yang telah tersedia benar-benar memberikan manfaat.

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Tantangan juga tetap ada. Persoalan iuran, pembagian tanggung jawab, hingga potensi kesalahpahaman antarwarga dapat memengaruhi keberlanjutan program. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa membangun program lingkungan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Keberadaan sarana harus diikuti dengan komunikasi, tata kelola, dan rasa memiliki dari masyarakat. Sebuah gerobak sampah yang dikelola bersama akan memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan sarana yang hanya digunakan sesekali tanpa sistem yang jelas.

Pada akhirnya, program pengadaan gerobak sampah yang dilakukan melalui KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 di Dusun 2 Desa Bunikasih membawa pesan sederhana: persoalan lingkungan dapat dimulai penyelesaiannya dari langkah-langkah kecil yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak semua persoalan harus dijawab dengan program besar atau teknologi yang mahal. Terkadang, sebuah sarana sederhana yang tepat sasaran dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Gerobak sampah tersebut bukan sekadar alat untuk mengangkut sampah. Lebih dari itu, gerobak menjadi simbol dari harapan agar program KKN tidak berhenti ketika mahasiswa pulang dari lokasi pengabdian. Keberlanjutan program terletak pada kemampuan masyarakat untuk melanjutkan, merawat, dan mengembangkan apa yang telah dimulai bersama.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan KKN bukan hanya tentang berapa banyak program yang telah dilaksanakan, melainkan tentang seberapa jauh program tersebut tetap hidup dan memberi manfaat setelah mahasiswa selesai menjalankan pengabdiannya. Dari sebuah gerobak sampah, tumbuh harapan sederhana: lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang semakin peduli, dan program KKN yang benar-benar meninggalkan kebermanfaatan secara berkelanjutan.

Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang keluarga, daerah, budaya, cara berpikir, bahkan keyakinan yang berbeda. Di lingkungan kampus misalnya, kita bisa bertemu dengan teman yang memiliki kebiasaan dan pandangan yang tidak selalu sama dengan kita. Begitu juga di lingkungan masyarakat. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain. Salah satu dasar penting mengenai hal ini terdapat dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah S.W.T. adalah orang yang paling bertakwa.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman manusia merupakan bagian dari kehendak Allah S.W.T. Manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. 

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, bagian “agar kamu saling mengenal” ini menarik untuk direnungkan. Sebab, dalam kehidupan sekarang, kita terkadang justru lebih mudah mengenali perbedaan daripada mengenali manusianya. Kita melihat seseorang dari kelompok mana, berasal dari daerah mana, memiliki pandangan seperti apa, atau memiliki keyakinan apa, kemudian buru-buru memberikan penilaian. Padahal, sebelum melihat perbedaannya, kita sedang berhadapan dengan seorang manusia yang juga ingin dihargai, didengarkan, dan diperlakukan dengan baik.

Akhlak Rasulullah saw. memberikan contoh bahwa menghormati manusia tidak harus berarti menyamakan semua keyakinan atau menghilangkan prinsip yang kita miliki. Menghormati orang lain adalah persoalan sikap dan kemanusiaan. Hal tersebut juga dapat dilihat dalam QS Al-Mumtahanah ayat 8. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya. Bahkan, ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Allah S.W.T. mencintai orang-orang yang berlaku adil. Artinya, berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, selama berada dalam hubungan yang damai, Islam mengajarkan sikap berbuat baik dan berlaku adil.

Contoh yang paling sederhana sebenarnya ada di sekitar kita. Ketika memiliki teman yang berbeda pandangan, kita tidak harus selalu setuju dengan pendapatnya. Namun, ketidaksepakatan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Kita bisa mengatakan, “Saya memiliki pandangan yang berbeda,” tanpa harus mengatakan, “Pendapatmu bodoh.” Begitu pula ketika berada di media sosial. Perbedaan pendapat sering kali membuat seseorang lupa bahwa di balik layar terdapat manusia lain yang juga memiliki perasaan. Hanya karena tidak bertemu secara langsung, seseorang merasa bebas menulis komentar kasar, mengejek, bahkan merendahkan orang lain. 

Di sinilah akhlak menjadi penting. Akhlak bukan hanya terlihat ketika kita sedang berada di masjid, mengikuti pengajian, atau berbicara tentang agama. Akhlak justru terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sepemikiran dengan kita.

Rasulullah saw. juga memberikan contoh penghormatan terhadap manusia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdiri ketika sebuah jenazah lewat. Para sahabat kemudian memberitahukan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. Dalam riwayat lain, ketika diberitahu bahwa jenazah itu milik seorang Yahudi, Rasulullah saw. mempertanyakan, “Bukankah ia juga seorang manusia?”  Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana Rasulullah saw. menunjukkan penghormatan terhadap sisi kemanusiaan seseorang. Perbedaan keyakinan tidak membuat beliau kehilangan rasa hormat terhadap manusia.

Dari sini kita bisa belajar bahwa menjadi seorang muslim yang baik bukan berarti harus memusuhi setiap orang yang berbeda. Justru, salah satu bentuk kekuatan akhlak adalah kemampuan untuk tetap bersikap baik tanpa kehilangan prinsip. Pada akhirnya, perbedaan memang akan selalu ada. Kita tidak harus membuat semua orang menjadi sama dengan kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut. Karena bisa jadi, ukuran akhlak seseorang bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sukai, tetapi juga bagaimana ia bersikap kepada orang yang berbeda dengannya. Dan jika Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., maka meneladani sikap beliau terhadap sesama manusia merupakan salah satu bentuk nyata dari kecintaan tersebut.

Refleksi Al-Qur’an dalam Kolaborasi Pendidikan Anak

Penulis: Vina Virginia Hendrawati, Penyunting: Rahmawati Arditia

Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah mengikuti kegiatan yang bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini beriringan dengan program pemerintah yang bernama GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi pengingat penting atas fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara psikologis. Di tengah masyarakat Indonesia, masih terdapat pandangan bahwa tugas ayah adalah bekerja dan mencari nafkah, sedangkan pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tugas ibu. Pembagian peran dalam pengasuhan hingga saat ini masih menjadi pembahasan yang serius. Lantas, siapa yang bertanggung jawab dalam pengasuhan anak: ibu, ayah, atau guru di sekolah? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita renungkan bersama peran masing-masing dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Apakah Ibu Berperan dalam Pengasuhan Anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali berinteraksi secara intensif dengan anak di rumah. Secara psikologis, ibu berperan dalam mengajarkan kasih sayang, kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu sering diidentikkan dengan istilah madrasatul ula (sekolah pertama), terutama dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual. Hal ini dapat direfleksikan melalui Q.S. Ali ‘Imran ayat 35:

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Artinya: “(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”

Ayat tersebut dapat menjadi refleksi bahwa pendidikan anak perlu memiliki visi yang baik sejak dini. Orang tua diharapkan memiliki harapan dan ikhtiar agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berkarakter, serta bermanfaat bagi agama dan lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Apakah Bapak Hanya Bertugas Mencari Nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai teladan, pelindung, pendidik, dan mitra yang setara bagi ibu. Dalam kehidupan berumah tangga, ayah memiliki peran penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam Al-Qur’an, keteladanan pengasuhan juga dapat dilihat melalui nasihat Luqman kepada putranya. Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Q.S. Luqman [31]: 13).

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan anak dapat dimulai melalui dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya menyampaikan nasihat, tetapi juga membangun komunikasi yang penuh kasih sayang. Hal tersebut menjadi teladan bahwa ayah memiliki peran penting dalam membentuk akidah, karakter, dan mental anak.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Seberapa Penting Guru dalam Mendidik Anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan sekadar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua dapat membantu keduanya memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh. Hal ini sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carl Rogers, yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang dan mencapai aktualisasi diri apabila berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan tersebut, guru yang berperan sebagai konselor bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami dirinya dan mengembangkan potensinya.

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah seyogianya tidak dipahami hanya sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum untuk membangun kesadaran bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan, karakter, dan potensi peserta didik. Dengan kolaborasi antara ayah, ibu, dan guru, anak memiliki dukungan yang lebih utuh untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter serta mampu menyikapi kemajuan zaman secara bijaksana.

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam: Berkata Baik atau Diam

Penulis: Marchella Dika Aristawidya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Dalam kehidupan bermasyarakat, ucapan memiliki peran yang penting dalam membangun hubungan dengan sesama. Perkataan yang disampaikan dapat memberikan dampak yang besar terhadap perasaan seseorang. Berbeda dengan luka fisik yang dapat sembuh dalam waktu tertentu, luka yang disebabkan oleh perkataan terkadang dapat membekas dalam ingatan dan perasaan dalam waktu yang lama.

Kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi, mulai dari memilih kata yang tepat, memperhatikan intonasi, hingga menyesuaikan sikap dan gerak tubuh. Selain itu, memahami karakter serta latar belakang orang lain juga penting agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik. Dengan menjaga ucapan, kita dapat menghindari kesalahpahaman maupun perasaan tersinggung sehingga hubungan dengan sesama tetap terjaga dan tercipta kehidupan yang harmonis.

Ucapan dapat diibaratkan dua sisi mata pisau. Di satu sisi, perkataan yang baik dapat memberikan kebahagiaan dan menumbuhkan semangat bagi orang lain. Namun, di sisi lain, perkataan yang tidak tepat juga dapat menimbulkan rasa sakit dan melukai perasaan seseorang. Pentingnya menjaga ucapan juga mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa menjaga lisan dan mempertimbangkan setiap perkataan yang akan disampaikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Hadis tersebut mengajarkan bahwa menjaga ucapan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah Swt. dan Hari Akhir. Rasulullah saw. mengingatkan umatnya untuk selalu berkata dengan baik, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti perasaan orang lain. Apabila tidak ada perkataan yang baik untuk disampaikan, sebaiknya seseorang memilih untuk diam. Sikap diam dalam keadaan tersebut lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan keburukan atau menyakiti orang lain.

Terkadang, ucapan yang bernada menyindir, meremehkan, atau menyinggung kekurangan seseorang dianggap sebagai candaan dan dinormalisasi. Padahal, tidak semua orang dapat menerimanya dengan cara yang sama. Sebelum berbicara, kita perlu mempertimbangkan perasaan orang lain agar perkataan yang disampaikan tetap sopan dan tidak meninggalkan luka di hati.

Baca juga: KKN Nusantara Kelompok 11 Tanamkan Kesadaran Kelola Sampah Sejak Dini dengan Gelar Sosialisasi 5R di SDN 1 Sangkanwangi

Anjuran untuk berkata baik juga dapat diterapkan ketika memberikan kritik dan nasihat. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak merendahkan sehingga orang yang menerimanya dapat memahami maksud yang disampaikan tanpa merasa disakiti. Dengan demikian, nasihat dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri, bukan justru menimbulkan perselisihan.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari perkataan yang menyakitkan, melainkan juga tentang membiasakan diri untuk menyampaikan ucapan yang baik dan bermanfaat. Setiap perkataan yang keluar hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan penyesalan maupun luka di hati orang lain. Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga berusaha menjalankan salah satu ajaran Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: rumaysho.com orami.co.id islam.nu.or.id

Kenduren: Merawat Tradisi, Menumbuhkan Moderasi Beragama

Penulis: Tara Septiarani, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama tidak selalu dipahami melalui ruang-ruang akademik atau seminar. Dalam banyak kesempatan, nilai-nilai tersebut justru hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Pengalaman saya mengikuti tradisi kenduren di Dusun Karangjambu, Desa Tunjungseto, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, memberikan pemahaman bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang tumbuhnya sikap beragama yang moderat sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Tradisi kenduren dilaksanakan setiap bulan Sura pada hari Jumat Kliwon. Sejak pagi, masyarakat bergotong royong membersihkan area makam sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Setelah itu, warga berkumpul sambil membawa tenongan berisi makanan dan hasil bumi dari rumah masing-masing. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin kepala dusun, kemudian seluruh makanan dinikmati bersama tanpa membedakan status sosial, usia, maupun latar belakang ekonomi. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antartetangga sekaligus menumbuhkan rasa syukur kepada Allah Swt.

Bagi masyarakat setempat, kenduren merupakan ikhtiar memohon keselamatan agar kampung terhindar dari berbagai musibah. Namun, di balik makna spiritual tersebut, saya melihat nilai-nilai sosial yang sangat kuat. Semangat ta’awun tampak melalui gotong royong sejak persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, sedangkan nilai musawah tercermin ketika seluruh warga duduk bersama menikmati hidangan tanpa sekat sosial. Pada malam harinya, masyarakat kembali berkumpul menyaksikan pertunjukan wayang. Kehadiran anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia dalam satu ruang budaya menunjukkan bahwa tradisi juga berfungsi sebagai media mempererat hubungan antargenerasi.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Pengalaman tersebut selaras dengan konsep moderasi beragama yang dikembangkan Kementerian Agama Republik Indonesia, yaitu cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan serta menghargai keberagaman. Dalam tradisi kenduren, setidaknya tampak dua indikator moderasi beragama. Pertama, akomodasi terhadap budaya lokal, yakni kemampuan masyarakat memelihara tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai pokok ajaran Islam. Doa bersama menjadi bentuk spiritualitas, sedangkan kenduren dan wayangan menjadi media memperkuat solidaritas sosial. Kedua, komitmen kebangsaan terlihat melalui keterlibatan pemerintah desa dalam mendukung pelestarian tradisi sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Fenomena tersebut sejalan dengan gagasan K.H. Abdurrahman Wahid tentang pribumisasi Islam. Gus Dur menegaskan bahwa Islam tidak harus mencabut masyarakat dari akar budayanya, tetapi hadir memberi makna dan nilai pada tradisi yang hidup di tengah masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Pandangan tersebut juga diperkuat oleh M. Quraish Shihab yang menjelaskan bahwa keberagamaan yang moderat ditandai oleh sikap tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan), sehingga hubungan kepada Allah berjalan selaras dengan hubungan harmonis antarsesama manusia.

Kenduren mengajarkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep, melainkan praktik sosial yang tumbuh dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu berada pada posisi yang saling berhadapan, tetapi dapat berjalan berdampingan dalam membangun persaudaraan, gotong royong, dan harmoni sosial. Dari Dusun Karangjambu, saya belajar bahwa merawat tradisi lokal juga berarti merawat ruang kebersamaan dan memperkuat persatuan dalam keberagaman Indonesia.

Referensi

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi Beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Shihab, M. Q. (2019). Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama. Lentera Hati.

Syiar Kecil dari Griya Maleber: Menanam Rindu pada Nabi Sebelum Magrib

Penulis: Muhammad Robba Masula, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Ketika langit senja perlahan meredup di ufuk barat Karangtengah, Cianjur, warna jingga yang hangat menyelimuti sudut-sudut Perumahan Griya Maleber Indah. Di jam-jam kritis pergantian siang dan malam itu, waktu yang sering kali diidentikkan dengan kelelahan setelah beraktivitas atau hiruk-pikuk gawai di dalam rumah, ada pemandangan yang menyejukkan hati di masjid kompleks setempat. Langkah-langkah kecil anak-anak berpeci dan mukena berjalan beriringan menuju rumah Allah. Sebelum azan Magrib berkumandang, gema selawat membahana dari suara-suara mungil mereka. Jernih, polos, dan penuh kehangatan yang menggetarkan sanubari.

Mereka berkumpul di saf depan, duduk melingkar dengan keceriaan yang khas, lalu melantunkan bait-bait pujian untuk Nabi Muhammad saw. Tak ada paksaan yang tergambar dari wajah-wajah mungil itu. Bagi pandangan kasatmata, riak kegiatan sore ini mungkin nampak sederhana: sekadar rutinitas anak-anak mengisi waktu luang sembari menunggu waktu salat berjamaah tiba. Namun, jika dihayati dengan kacamata keimanan dan pendidikan Islam, apa yang mewujud di Perumahan Griya Maleber Indah adalah sebuah potret pendidikan karakter berbasis rasa cinta (mahabbah) yang sangat mahal harganya dan kian langka di era urban hari ini.

Mengenalkan sosok agung Rasulullah saw. kepada anak-anak generasi hari ini bukanlah perkara yang terbilang mudah. Kita hidup di zaman ketika gempuran gawai, tayangan digital, dan permainan daring menyita hampir seluruh perhatian visual serta emosional anak-anak kita. Waktu senja kerap kali habis di depan layar kaca atau hilang dalam keheningan kamar masing-masing. Di sisi lain, metode pengajaran agama yang terlalu formal atau kaku kerap kali justru membangun jarak antara anak dengan nilai-nilai spiritualnya. Agama seolah-olah dipahami sebatas deretan hukum, hafalan teori, atau tumpukan aturan yang menakutkan.

Baca juga: LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Kembali Gelar Pelatihan Moderasi Beragama untuk Sivitas Akademika dalam Rangka Memperkuat Toleransi

Lewat lantunan selawat sore hari di Griya Maleber Indah, pendekatan itu dibalik secara alamiah. Anak-anak diajak mendekati agamanya bukan lewat ancaman atau indoktrinasi yang berat, melainkan melalui pintu keindahan dan kegembiraan. Di masjid itu, anak-anak tidak sedang diuji hafalan teori yang menegangkan. Mereka diajak meresapi irama, ketukan nada, dan keagungan lirik pujian untuk Sang Nabi secara berulang dan konsisten. Dalam tradisi pedagogi Islam, pembiasaan berulang (takrar) yang dibungkus dengan suasana hati yang bahagia adalah metode paling ampuh untuk menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa anak.

Masjid di Griya Maleber Indah berproses menjadi ruang yang ramah, hangat, dan inklusif bagi anak-anak. Pengurus masjid dan warga dewasa tidak menempatkan anak-anak sebagai pengganggu kekhusyukan, melainkan sebagai penerus syiar yang harus dirangkul. Ketika masjid menjadi tempat yang menyenangkan, asosiasi emosional anak terhadap rumah ibadah akan terbentuk secara positif. Nada-nada selawat yang mereka lantunkan bersama teman-teman sebaya pada setiap sore akan terekam kuat dalam ingatan jangka panjang (long-term memory), yang kelak menjadi benteng memori indah hingga mereka beranjak dewasa.

Langkah sederhana ini memiliki pijakan teologis yang sangat mendasar dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. pernah menegaskan pentingnya menempatkan cinta kepada beliau di atas segala-galanya melalui sabdanya:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

Artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mencintai sosok yang belum pernah ia temui secara fisik? Jawabannya terletak pada frekuensi menyebut namanya. Selawat yang diucapkan oleh bibir-bibir kecil anak-anak Griya Maleber Indah adalah sebuah “jembatan rasa” yang menghubungkan kepolosan jiwa anak dengan keagungan akhlak Nabi.

Dari kebiasaan menyanyikan syair-syair pujian tersebut, akan timbul rasa familier. Dari rasa familier, perlahan tumbuh rasa penasaran di dalam benak mereka: siapakah sosok mulia yang senantiasa mereka puji setiap sore ini? Dari rasa penasaran itulah, kelak akan mekar rasa rindu, dan pada akhirnya bertransformasi menjadi kerinduan mendalam untuk meneladani akhlak, tutur kata, serta sifat-sifat luhur Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan sehari-hari. Langkah sederhana warga dan pengurus perumahan ini secara tidak langsung sedang membangun fondasi benteng moral yang kokoh di tengah arus zaman yang kian tak menentu.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Di samping dimensi pendidikan anak, tradisi sore di Perumahan Griya Maleber Indah Karangtengah, Cianjur, ini juga memberikan dampak sosial yang sangat positif bagi ekosistem permukiman. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perumahan modern di daerah perkotaan maupun penyangga sering kali diidentikkan dengan gaya hidup individualis, di mana antartetangga jarang berinteraksi. Hadirnya anak-anak yang berkumpul dan meramaikan masjid sebelum Magrib menjadi perekat sosial (social glue) yang menghangatkan hubungan antarwarga. Orang tua berinteraksi saat mengantar anak, senyum menyapa di pelataran masjid, dan keberkahan kolektif menyelimuti lingkungan tempat tinggal.

Syiar kecil yang bergaung dari Griya Maleber Indah ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: merawat fitrah keimanan dan mengenalkan Rasulullah saw. kepada generasi penerus tidak selalu membutuhkan konsep yang rumit atau program yang megah. Cukup dengan konsistensi (istikamah), penyediaan ruang yang ramah anak, serta lantunan selawat yang dikumandangkan dengan tulus di setiap senja. Semoga tradisi mulia dari Karangtengah ini terus lestari, merambat ke perumahan-perumahan lain, dan menjadi suluh penerang bagi lahirnya generasi penerus yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

AI dalam Pendidikan : Membantu Guru atau Mengurangi Kreativitas Siswa?

Penulis: Yoga Saputra, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di zaman yang semakin maju, perkembangan teknologi juga semakin pesat, terutama dalam dunia pendidikan. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan adalah Artificial Intelligence (AI). AI hadir sebagai inovasi pendidikan yang mampu memberikan jawaban dan informasi secara cepat terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan pengguna. Saat ini, teknologi AI mulai dimanfaatkan oleh banyak guru dan siswa. Beberapa jenis AI yang sering digunakan antara lain ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI lainnya. Kehadiran AI sendiri mampu membantu mencari materi, membuat tugas, bahkan menyusun bahan pembelajaran dengan lebih mudah dan efisien. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: “Apakah AI benar-benar membantu pendidikan atau justru membuat siswa kurang kreatif?” Penggunaan AI yang terlalu berlebihan dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kemandirian, serta kreativitas siswa dalam belajar. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu disikapi secara bijak dan kritis agar teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir siswa.

Kecanggihan teknologi AI dapat membantu dan mempermudah pekerjaan guru, seperti membuat soal, menyusun materi, membuat media pembelajaran, dan menghemat waktu administrasi. Dengan adanya AI, guru dapat lebih fokus pada proses pembelajaran dan interaksi dengan siswa dibandingkan hanya mengerjakan tugas administrasi.

Dalam proses pembelajaran, teknologi AI juga mampu membantu siswa memahami materi dengan lebih cepat karena memberikan akses informasi yang luas dan penjelasan yang mudah diperoleh. Selain itu, AI dapat mendukung siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Penggunaan AI dalam pembelajaran juga memungkinkan guru menerapkan model pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif, seperti penggunaan mind mapping, kuis digital, video pembelajaran, dan simulasi pembelajaran. Hal tersebut membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan tidak monoton.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Pendapat ini didukung oleh penelitian Karina Rahmah Fitri dkk. dalam Jurnal Pendidikan Tambusai yang menyatakan bahwa penggunaan AI, khususnya ChatGPT, dapat membantu meningkatkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian Dian Sarmita dkk. dalam Jurnal Inovasi Wawasan Akademik menjelaskan bahwa AI membantu guru mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif dan efektif. Menurut saya, teknologi AI dapat menjadi alat bantu pendidikan apabila digunakan secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan. AI seharusnya menjadi pendukung proses belajar, bukan pengganti guru maupun pengganti kemampuan berpikir siswa.

Selain menawarkan berbagai dampak positif, keberadaan AI juga memberikan dampak negatif terhadap kreativitas siswa. Dampak tersebut bisa kita lihat dari berbagai situasi yang mulai sering terjadi dalam proses pembelajaran.

Pertama, siswa menjadi terlalu bergantung pada AI. Ketika mendapatkan tugas, sebagian siswa cenderung langsung menggunakan AI untuk mencari jawaban tanpa melakukan penyaringan atau memahami isi jawaban tersebut terlebih dahulu. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan berpikir mandiri serta menurunkan daya analisis siswa dalam menyelesaikan masalah. Kedua, kreativitas dan imajinasi siswa dapat mengalami penurunan. Dalam mencari ide atau menyelesaikan tugas, siswa lebih memilih cara yang instan melalui AI dibandingkan dengan melakukan proses berpikir dan mengembangkan gagasan sendiri. Jika hal ini terus berlangsung, siswa akan terbiasa menerima jawaban secara cepat tanpa melatih kemampuan berpikir kreatifnya.

Pendapat tersebut didukung oleh penelitian Firdaus Hosea Pasaribu dalam Jurnal Dunia Pendidikan yang menjelaskan bahwa penggunaan AI secara berlebihan berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas pelajar. Selain itu, penelitian Andi Rizky Amaliah dan Nabila Putri dalam MUARA PENDIDIKAN menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat membuat siswa kurang aktif dalam mengeksplorasi ide dan memecahkan masalah secara mandiri. Menurut saya, apabila AI digunakan tanpa kontrol dan pengawasan yang tepat, teknologi tersebut dapat membuat siswa menjadi pasif dan kehilangan proses belajar yang sebenarnya. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu dibatasi dan diarahkan agar tetap mendukung perkembangan kreativitas serta kemampuan berpikir siswa.

Adanya dampak negatif dari penggunaan AI menjadikan peran guru semakin penting dalam proses pendidikan. Pada dasarnya, peran guru tidak dapat fully digantikan oleh AI karena empati, pendidikan karakter, serta interaksi sosial hanya dapat diwujudkan melalui hubungan langsung antara guru dan siswa, bukan melalui teknologi semata.

Di era AI saat ini, guru memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan siswa dalam menggunakan AI secara sehat, bijak, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Guru perlu mengajarkan bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai alat untuk menyalin jawaban secara instan tanpa memahami prosesnya. Selain itu, guru juga dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran yang mampu melatih kreativitas dan kemampuan berpikir siswa, seperti tugas berbasis diskusi, proyek, pemecahan masalah, dan karya orisinal. Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat memanfaatkan teknologi AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitasnya. Menurut saya, kemajuan teknologi AI memang dapat membantu dunia pendidikan, tetapi guru tetap menjadi sosok utama dalam membimbing, mengarahkan, dan membentuk karakter siswa agar teknologi digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.

Baca juga: Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Dengan demikian, AI memiliki manfaat yang besar dalam dunia pendidikan apabila digunakan secara bijak, kritis, dan seimbang. Kehadiran AI mampu membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah, cepat, dan inovatif. Namun, jika digunakan secara berlebihan, AI berakibat mengurangi kreativitas dan kemampuan berpikir siswa apabila tidak disertai pengawasan yang tepat. Oleh karena itu, peran seorang guru semakin penting dalam membimbing dan memberikan arahan kepada siswa dalam penggunaan AI. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan pengawas agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh secanggih apa teknologinya, melainkan oleh bagaimana manusia menggunakannya secara bijak untuk mendukung proses belajar dan perkembangan karakter siswa.

Dari Makam Menggerakkan Resonansi Ekonomi Masyarakat

Penulis: Abdul Basid*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Ziarah ke makam ulama dan aulia acap kali diliputi kekhilafan dalam memaknai aktivitas tersebut, yang sering dikaitkan dengan kesyirikan. Padahal, ziarah ke makam para salihin bertujuan untuk mengenang, mengenal sejarah (manaqib), meneladaninya, mengingatkan pada kematian, serta menyambung batiniah kita kepada orang-orang yang sejatinya tidak meninggal. Kita tidak meminta sesuatu terhadap maqbarah (makam), melainkan meminta kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada orang-orang saleh.

Di Pekalongan, ada makam Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas yang tak pernah sepi diziarahi peziarah, apalagi pada bulan Muharam dan menjelang haul di pertengahan bulan Syakban. Posisi makam yang dekat dengan jalur Pantura memudahkan peziarah Walisongo untuk mampir sejenak beristirahat sambil berbelanja kain batik. Masuk di Batang, terdapat situs Wonobodro yang sangat ramai pada bulan Muharam. Bila di Sapuro banyak dijajakan kain batik, di Wonobodro banyak dijual olahan hasil bumi seperti opak, keripik singkong, emping melinjo, dan dagangan lain yang berasal dari luar daerah.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Kita bisa mengamati makam-makam Walisongo mulai dari Surabaya (Sunan Ampel Raden Rahmat), Tuban (Sunan Bonang), Lamongan (Sunan Drajat Raden Qasim), Gresik (Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri Raden Paku), Demak (Sunan Kalijaga Raden Said), Kudus (Sunan Kudus Ja’far Shadiq), Muria (Sunan Muria Raden Umar Said), hingga Cirebon (Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah) tidak pernah sepi peziarah sepanjang tahun.

Dari keramaian pengunjung makam, kita melihat perputaran miliaran uang di sekitar makam-makam tersebut. Di sana ada warung makan, pedagang oleh-oleh, suvenir, pedagang bunga tabur, pedagang minyak, pakaian, penginapan, layanan WC umum, ojek, peminta-minta, dan jasa lainnya. Andaikata situs tersebut ditutup, ribuan orang yang bergantung pada perputaran roda ekonomi berbasis makam akan terkena PHK. Dampak ekonomi dari situs makam tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di sekitarnya, tetapi juga para pemandu wisata religi, kiai pemimpin ziarah, perusahaan autobus beserta sopir dan kernetnya yang turut memperoleh keberkahan.

Masyarakat yang mengagendakan diri untuk berziarah pun bersemangat berusaha dan menabung agar setiap tahun bisa mendatangi maqbarah para ulama dan aulia. Dengan kata lain, makam Sunan Ampel di Surabaya mampu menggerakkan tali perekonomian masyarakat hingga ke ujung barat Pulau Jawa. Dari situs makam ulama dan aulia, mengalir resonansi perekonomian yang menggetarkan masyarakat sekitar makam hingga ke pelosok daerah.

Fenomena ini bisa menjadi penyebab munculnya makam-makam aulia yang diduga palsu. Dengan mengelola makam palsu secara terpusat, dapat dikumpulkan pundi-pundi kotak amal (sedekah) peziarah, uang parkir dan keamanan, pungutan pedagang, serta jasa-jasa lainnya. Fenomena makam ini bukan lagi menunjukkan menggeliatnya kesadaran spiritualitas masyarakat, melainkan kesadaran tentang keberhasilan makam dalam menggerakkan perekonomian sebagai bentuk karamah dan berkah aulia, yang ditangkap secara negatif sebagai bisnis berbasis makam.

Baca juga: Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Kemurnian berkah dan karamah aulia sahibulmakam dikuantifikasi, kemudian dijadikan sebagai peluang bisnis berbasis makam. Bisnis berbungkus (berbau) syariah juga bisa kita lihat pada transaksi “syariah” di bank syariah, bisnis properti, asuransi, haji dan umrah, serta lain sebagainya sebagai peluang usaha. Semangat untuk beragama dengan baik dan meniru teladan Nabi Muhammad saw. akan ditangkap secara berbeda oleh pebisnis, ulama, dan masyarakat awam.

Nah, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang tersebar di seluruh penjuru tanah air—dengan penamaan lembaga berbasis tokoh, ulama, dan pejuang Islam—bisa menangkap peluang bisnis makam ini dengan pelurusan akidah islamiah. PTKI dapat melakukan riset mengenai ulama, kiai, dan aulia di wilayahnya; membuat peta wisata religi; serta menyiapkan para pemandu wisata santun, berwawasan luas, dan siap menjadi imam ziarah. Pemandu wisata juga bertugas melakukan edukasi agar peziarah bisa mengambil nilai-nilai wisata tanpa terjebak pada kesyirikan.

Bila Sunan Ampel yang berada di Surabaya dapat menggerakkan masyarakat di ujung Pulau Jawa, maka Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatra Barat, Syekh Abdurrauf As-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Wahab Rokan di Riau, dan para masyaikh penyebar Islam di Sumatra juga bisa menggerakkan masyarakat Madura untuk berziarah.

*Analis Kebijakan Ahli muda

Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Penulis: Syafika Afronnyda, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Peristiwa pembubaran kegiatan perkemahan yang diikuti oleh anggota Ahmadiyah kembali memperlihatkan bahwa persoalan kebebasan beragama di Indonesia masih belum benar-benar selesai. Kegiatan yang seharusnya menjadi ruang berkumpul, belajar, dan mempererat hubungan antaranggota justru harus dihentikan karena adanya penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat. Kejadian seperti ini bukan hanya menyangkut Ahmadiyah sebagai kelompok tertentu, tetapi juga menyangkut bagaimana negara menjalankan kewajibannya dalam melindungi hak setiap warga negara. Pernyataan Setara Institute yang menegaskan bahwa negara tidak boleh tunduk pada intoleransi menjadi pengingat bahwa hukum seharusnya berdiri di atas kepentingan semua pihak, bukan mengikuti tekanan dari kelompok yang paling keras bersuara.

Indonesia sejak awal dikenal sebagai negara yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan agama, suku, budaya, dan keyakinan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, keberagaman bukanlah sesuatu yang baru, melainkan kenyataan yang memang harus diterima. Tantangannya justru terletak pada bagaimana masyarakat mampu hidup berdampingan tanpa merasa perlu memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Dalam praktiknya, hal ini ternyata masih sulit diwujudkan. Masih sering ditemukan tindakan penolakan terhadap kelompok tertentu, bahkan ketika mereka sedang melakukan kegiatan yang bersifat internal dan tidak mengganggu masyarakat luas.

Kasus pembubaran perkemahan Ahmadiyah menunjukkan bahwa intoleransi masih memiliki ruang untuk berkembang. Hal yang menjadi perhatian bukan hanya tindakan pembubarannya, tetapi juga kesan bahwa aparat terkadang lebih memilih menghentikan kegiatan demi menghindari konflik daripada memastikan hak warga negara tetap terlindungi. Memang menjaga keamanan adalah tugas penting. Namun, keamanan tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan hak kelompok yang sebenarnya tidak melakukan pelanggaran hukum. Jika pola seperti ini terus terjadi, masyarakat bisa menilai bahwa tekanan massa lebih berpengaruh daripada aturan hukum yang berlaku.

Baca juga: Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Di sisi lain, kita juga perlu melihat persoalan ini secara lebih luas. Intoleransi tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, mulai dari pemahaman agama yang sempit, kurangnya ruang dialog, hingga penyebaran informasi yang tidak benar melalui media sosial. Banyak orang akhirnya membentuk penilaian terhadap kelompok lain tanpa pernah mengenal mereka secara langsung. Akibatnya, prasangka berkembang menjadi penolakan. Kondisi seperti ini semakin mudah terjadi ketika informasi yang beredar lebih banyak berisi provokasi daripada edukasi.

Menurut saya, keberagaman tidak akan pernah menjadi masalah jika setiap orang memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat. Tidak semua keyakinan harus disetujui, tetapi semua warga negara tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan hukum. Menghormati hak orang lain bukan berarti mengakui atau mengikuti keyakinannya. Sikap tersebut justru menunjukkan kedewasaan dalam hidup di negara yang majemuk seperti Indonesia. Sayangnya, pemahaman seperti ini masih belum dimiliki oleh semua kalangan.

Peristiwa ini juga menjadi ujian bagi konsep moderasi beragama yang selama ini terus dikampanyekan di Indonesia. Moderasi beragama bukan sekadar slogan atau program pemerintah yang dibahas dalam seminar. Nilai tersebut seharusnya benar-benar terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Moderasi mengajarkan keseimbangan, saling menghargai, serta menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Jika masih ada kelompok yang tidak dapat menjalankan kegiatan secara damai karena tekanan dari pihak lain, berarti masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Di lingkungan pendidikan, peristiwa seperti ini juga bisa menjadi bahan refleksi. Sekolah dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir generasi muda terhadap keberagaman. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga perlu menanamkan sikap menghargai perbedaan, kemampuan berdialog, dan kesadaran bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama di hadapan hukum. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting agar generasi mendatang tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian.

Lebih jauh lagi, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak contoh kehidupan yang harmonis. Di berbagai daerah, warga dengan latar belakang agama yang berbeda dapat hidup berdampingan, bekerja sama, bahkan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi bukan sesuatu yang mustahil. Justru, hal yang sering mendapat perhatian adalah peristiwa konflik karena lebih mudah menjadi pemberitaan. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman positif mengenai hidup dalam keberagaman juga perlu lebih sering ditampilkan agar menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Pada akhirnya, kasus pembubaran perkemahan Ahmadiyah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai persoalan satu kelompok keagamaan. Peristiwa ini merupakan cermin tentang sejauh mana Indonesia mampu menjaga komitmennya sebagai negara yang menghormati hak asasi manusia dan menjunjung tinggi kebebasan beragama. Negara memang memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban, tetapi tanggung jawab tersebut harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap hak setiap warga negara. Jika negara mudah menyerah pada tekanan kelompok yang tidak menghargai perbedaan, rasa keadilan masyarakat akan semakin berkurang.

Indonesia akan tetap menjadi negara yang kuat apabila keberagamannya dijaga bersama. Perbedaan tidak harus selalu berakhir pada pertentangan. Justru dari keberagaman itulah bangsa ini memiliki kekayaan yang tidak dimiliki banyak negara lain. Oleh karena itu, hal yang perlu diperkuat bukan hanya aturan hukum, tetapi juga kesadaran masyarakat bahwa hidup berdampingan dengan damai adalah tanggung jawab bersama. Toleransi bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan memastikan bahwa setiap orang dapat hidup dengan aman, dihormati, dan memperoleh haknya sebagai warga negara tanpa rasa takut.

Sumber: https://nu.or.id/nasional/perkemahan-ahmadiyah-dibubarkan-setara-institute-negara-tak-boleh-tunduk-pada-intoleransi-pmxOu

Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Penulis: Nalim*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Fajar selalu datang pada waktunya. Matahari terbit dari ufuk timur tanpa pernah terlambat, lalu perlahan bergerak menuju titik tertingginya sebelum tenggelam di barat. Bulan mengitari bumi dalam lintasan yang teratur. Laut mengenal pasangnya, pepohonan mengenal musimnya, dan tubuh manusia bekerja mengikuti irama yang nyaris tak pernah keliru. Alam semesta seolah membaca naskah yang sama setiap hari, tanpa salah satu huruf pun tertukar.

Kita sering menyebut semua itu sebagai hukum alam. Seorang ilmuwan mungkin menjelaskannya melalui hukum-hukum fisika. Seorang matematikawan melihatnya sebagai pola yang dapat dihitung. Seorang mukmin memandangnya sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di seluruh penjuru ciptaan.

Barangkali di situlah matematika menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar kumpulan angka, simbol, dan rumus yang memenuhi halaman buku pelajaran. Matematika merupakan bahasa yang membantu manusia membaca keteraturan alam. Lewat bahasa itu, manusia belajar mengenali pola, mengukur ketepatan, memahami hubungan, lalu menyadari bahwa alam tidak bergerak secara acak.

Alquran berkali-kali mengajak manusia mengarahkan pandangan ke langit dan bumi. Pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan, hujan yang menghidupkan tanah, hingga penciptaan manusia sendiri disebut sebagai ayat-ayat bagi orang yang mau berpikir. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 190 mengingatkan, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Ayat ini tidak mengajarkan rumus matematika, tetapi menumbuhkan cara pandang bahwa alam semesta layak diamati, direnungkan, dan dipelajari.

Baca juga: Pesona Ekosistem Kutorojo: Menjaga Satwa, Merawat Masa Depan

Menariknya, semakin jauh ilmu pengetahuan berkembang, semakin banyak keteraturan yang berhasil disingkap. Gerak planet dapat diprediksi bertahun-tahun sebelumnya. Gerhana dapat dihitung hingga hitungan detik. Aliran air, pertumbuhan populasi, bahkan penyebaran penyakit dapat dimodelkan melalui persamaan matematika. Semuanya menunjukkan bahwa alam bekerja mengikuti hukum-hukum yang konsisten.

Konsistensi semacam itu mengingatkan kita pada satu ayat yang sangat singkat, tetapi sarat makna. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al-Qamar: 49). Kata qadar dalam ayat tersebut mengandung makna ukuran, ketentuan, dan proporsi. Alam semesta tidak diciptakan secara serampangan. Setiap ciptaan memiliki tempat, fungsi, dan keteraturannya masing-masing.

Kesadaran seperti ini pernah menjadi napas peradaban Islam. Mempelajari alam bukan dipandang sebagai aktivitas yang menjauhkan manusia dari agama, melainkan salah satu jalan untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta. Semakin luas pengetahuan seseorang tentang ciptaan-Nya, semakin banyak alasan untuk bertakbir. Keingintahuan ilmiah berjalan beriringan dengan kekhusyukan spiritual.

Cara pandang tersebut terasa berbeda dengan apa yang sering kita jumpai sekarang. Matematika kerap dipersempit menjadi pelajaran yang identik dengan angka-angka rumit, lembar ujian, dan nilai rapor. Banyak siswa belajar agar mampu menjawab soal, bukan agar mampu memahami keteraturan yang mengelilingi hidupnya. Rumus dihafal, prosedur diikuti, lalu semuanya perlahan terlupakan setelah ujian berakhir.

Sayang sekali jika matematika berhenti pada ruang kelas. Padahal, ilmu ini hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Ia mengiringi arsitek ketika merancang bangunan, membantu dokter membaca hasil pemeriksaan pasien, menjadi dasar teknologi yang kita gunakan setiap hari, bahkan bekerja diam-diam di balik aplikasi yang menunjukkan arah perjalanan atau memprediksi cuaca. Dunia modern bergerak di atas fondasi matematika, meskipun tidak semua orang menyadarinya.

Islam sendiri tidak pernah menempatkan akal sebagai lawan dari iman. Alquran justru berulang kali mengundang manusia untuk berpikir. Ungkapan seperti afalā ta’qilūn (tidakkah kalian menggunakan akal), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian berpikir), dan ulul albab (orang-orang yang memiliki kejernihan akal) tersebar di banyak ayat. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa keimanan yang kokoh tidak tumbuh dari sikap menutup mata terhadap realitas, melainkan dari kesediaan mengamati, merenungi, lalu mengambil hikmah.

Di sinilah matematika memiliki tempat yang istimewa. Ilmu ini melatih manusia berpikir runtut, menghargai bukti, dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Setiap jawaban lahir melalui proses yang dapat diuji. Setiap langkah menuntut kejujuran. Satu kekeliruan kecil saja dapat mengubah hasil akhirnya. Bukankah kehidupan juga mengajarkan hal yang sama? Keputusan yang baik lahir dari pertimbangan yang matang, bukan sekadar dugaan atau emosi sesaat.

Baca juga: Pelajaran Al-Qur’an tentang Korupsi dan Kehancuran Negara

Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat matematika sebagai pelajaran berhitung. Padahal, jauh sebelum angka-angka ditulis di atas papan tulis, Allah telah lebih dahulu “menuliskannya” di alam semesta. Orbit planet, bentuk kepingan salju, susunan sarang lebah, gelombang laut, hingga pola tumbuh dedaunan adalah halaman-halaman terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja yang bersedia memperhatikan.

Maka, mempelajari matematika sesungguhnya bukan hanya belajar mencari jawaban yang benar. Ada latihan kesabaran ketika menyelesaikan persoalan yang rumit. Ada kejujuran saat memeriksa kembali setiap langkah. Ada kerendahan hati ketika menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami. Semua itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: angka memang tidak dapat menggantikan iman, tetapi melalui angka kita dapat belajar mengagumi keteraturan yang Allah bentangkan di hadapan manusia sejak alam semesta pertama kali diciptakan.

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Mengapa azan Magrib hari ini lebih lambat daripada kemarin?”

Pertanyaan sederhana itu sering dianggap sepele. Padahal, dari rasa ingin tahu seperti itulah lahir kesadaran bahwa waktu ternyata bukan sesuatu yang diam. Matahari terus bergerak menurut ketentuan Allah. Posisi bumi berubah setiap saat. Durasi siang dan malam bergeser sedikit demi sedikit. Azan yang terdengar dari masjid bukan sekadar penanda waktu salat, melainkan penegasan bahwa alam semesta sedang berjalan mengikuti hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Kita menikmati semua itu hampir tanpa pernah memikirkannya.

Jadwal salat yang tersimpan di telepon genggam muncul tepat setiap hari. Arah kiblat dapat diketahui hanya dengan membuka sebuah aplikasi. Kalender Hijriah tersedia jauh sebelum Ramadan tiba. Semua terasa begitu mudah. Di balik kemudahan itu bekerja ilmu yang panjang sejarahnya: pengamatan langit, astronomi, geometri, trigonometri, dan tentu saja matematika.

Barangkali kita tidak pernah membayangkan bahwa ketika seorang Muslim berdiri menghadap kiblat, sesungguhnya ada perjalanan ilmu selama berabad-abad yang ikut mengantarkannya ke arah yang benar.

Hal yang sama terjadi ketika seseorang menghitung zakat. Angka yang muncul bukan sekadar hasil operasi hitung. Di sana ada amanah yang harus dijaga agar hak orang lain tidak berkurang sedikit pun. Pembagian waris pun demikian. Alquran memberikan ketentuan yang sangat rinci mengenai bagian setiap ahli waris. Ketelitian menjadi syarat mutlak. Kesalahan kecil dalam menghitung dapat menggeser hak seseorang dan mengubah keadilan yang hendak diwujudkan syariat. Rupanya, matematika hadir dalam banyak ruang ibadah, meskipun sering luput dari perhatian.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Jika sejak awal Islam begitu akrab dengan ilmu hitung, mengapa sebagian umat justru merasa matematika adalah sesuatu yang asing? Jawabannya mungkin dapat ditemukan ketika kita menoleh ke belakang, pada masa ketika dunia Islam menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.

Sekitar seribu tahun yang lalu, Baghdad bukan hanya dikenal sebagai kota perdagangan. Di kota itu berdiri pusat-pusat ilmu yang mempertemukan para penerjemah, filsuf, ahli fikih, dokter, astronom, dan matematikawan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, membawa manuskrip dari Yunani, Persia, India, dan berbagai wilayah lain. Karya-karya itu tidak berhenti sebagai terjemahan. Para ilmuwan Muslim mengkritik, menyempurnakan, lalu melahirkan gagasan-gagasan baru yang kemudian mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara nama besar yang lahir pada masa itu adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Namanya mungkin tidak sepopuler para tokoh teknologi masa kini. Akan tetapi, hampir semua perangkat digital yang kita gunakan bekerja dengan prinsip yang berutang pada gagasan yang ia wariskan. Dari nama Al-Khwarizmi lahir istilah algorithm (algoritma), serangkaian langkah logis untuk menyelesaikan persoalan. Dunia modern berdiri di atas fondasi itu. Mesin pencari, media sosial, transaksi digital, kecerdasan buatan, hingga navigasi satelit memanfaatkan algoritma dalam bentuk yang terus berkembang.

Menariknya, Al-Khwarizmi tidak pernah mempelajari matematika demi mengejar ketenaran. Baginya dan banyak ilmuwan Muslim pada zamannya, mencari ilmu merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Alam dipandang sebagai kitab terbuka yang harus dibaca. Semakin banyak rahasia alam tersingkap, semakin tampak kebesaran Sang Pencipta.

Cara pandang seperti itulah yang perlahan memudar. Kita hidup pada zaman ketika ilmu sering dipisahkan ke dalam kotak-kotak yang saling berjauhan. Agama ditempatkan di ruang ibadah. Sains ditempatkan di laboratorium. Matematika berada di ruang kelas. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, seolah tidak pernah saling menyapa.

Padahal, alam tidak pernah mengenal sekat-sekat seperti itu. Matahari tetap terbit dengan hukum yang sama, baik ketika diamati oleh seorang astronom maupun ketika disaksikan oleh seorang yang sedang berzikir selepas Subuh. Bulan tetap bergerak pada orbitnya, baik ketika dihitung oleh ahli falak maupun ketika dipandang oleh seorang anak yang menunggu datangnya Idulfitri. Objeknya sama. Sudut pandangnya saja yang berbeda.

Baca juga: Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Kesadaran inilah yang dahulu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar dalam peradaban Islam. Mereka tidak merasa harus memilih menjadi seorang yang saleh atau menjadi seorang ilmuwan. Meneliti alam justru menjadi salah satu cara untuk mensyukuri nikmat akal yang Allah anugerahkan.

Pandangan itu terasa begitu relevan hari ini. Dunia sedang menghadapi ledakan informasi yang luar biasa. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Kecerdasan buatan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dulu memerlukan waktu berhari-hari. Semua kemajuan itu bertumpu pada matematika. Angka-angka bekerja diam-diam di balik layar, mengatur lalu lintas data, membantu dokter mendiagnosis penyakit, memprediksi cuaca, mengendalikan pesawat, hingga menerjemahkan bahasa dari berbagai penjuru dunia.

Ironisnya, di saat matematika hadir hampir dalam setiap aspek kehidupan, banyak orang masih melihatnya sebatas kumpulan rumus yang harus dihafal.

Barangkali yang hilang bukanlah matematikanya. Yang hilang adalah rasa takjub. Begitu rasa takjub menghilang, angka berubah menjadi beban. Rumus kehilangan cerita. Belajar tinggal mengejar nilai. Padahal setiap konsep matematika sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperoleh jawaban benar. Ketelitian melatih amanah. Konsistensi mendidik istiqamah. Keseimbangan mengingatkan pada keadilan. Kesabaran dalam menyelesaikan persoalan perlahan membentuk kerendahan hati. Semua nilai itu tumbuh tanpa perlu diumumkan sebagai “pelajaran akhlak”. Ia hadir secara alami di sepanjang proses belajar.

Barangkali di situlah keindahan matematika bertemu dengan keindahan Islam. Keduanya sama-sama mengajak manusia mencintai keteraturan, menghargai kebenaran, dan menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh selalu memiliki makna.

Semangat seperti itulah yang agaknya perlu dihidupkan kembali dalam dunia pendidikan kita. Bukan dengan menjadikan setiap pelajaran matematika sebagai ceramah agama, melainkan dengan menghadirkan kesadaran bahwa ilmu selalu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar angka di buku atau nilai di rapor.

Seorang guru matematika tentu tidak harus mengawali setiap pertemuan dengan ayat Alquran. Rumus pun tidak perlu dipaksakan agar selalu memiliki padanan dalil. Upaya seperti itu sering kali justru membuat peserta didik merasa bahwa agama dan sains sedang “dipertemukan” secara artifisial. Padahal keduanya sejak awal memang tidak pernah saling berjauhan.

Yang jauh lebih penting ialah menghadirkan pengalaman belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Ketika seorang siswa bertanya mengapa gerhana dapat diprediksi jauh sebelum terjadi, ketika ia penasaran mengapa sarang lebah berbentuk segi enam, atau ketika ia takjub melihat keteraturan bilangan yang muncul di alam, sesungguhnya saat itulah benih-benih kecintaan terhadap ilmu mulai tumbuh. Dari rasa ingin tahu lahir pencarian. Dari pencarian lahir pengetahuan. Dari pengetahuan yang disertai perenungan lahir rasa syukur.

Rasa syukur inilah yang sering kali luput dari pembelajaran kita. Kita begitu sibuk mengejar jawaban yang benar sehingga lupa menikmati proses menemukannya. Kita bangga ketika mampu menyelesaikan soal yang sulit, tetapi jarang berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa alam semesta dapat dipahami melalui bahasa yang begitu teratur? Mengapa hukum-hukum itu dapat dipelajari? Mengapa akal manusia diberi kemampuan mengenali pola-pola yang tersembunyi di balik berbagai peristiwa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang panjang. Cukup dijadikan ruang untuk merenung. Sebab, dari sanalah ilmu berubah menjadi hikmah.

Barangkali itulah pelajaran yang diwariskan oleh para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Mereka tidak berhenti pada kekaguman terhadap kecanggihan ilmu. Kekaguman itu selalu mengarah kepada Zat yang menciptakan hukum-hukum alam. Semakin luas pengetahuan mereka, semakin dalam pula kerendahan hati mereka. Ilmu tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa masih terbentang lautan pengetahuan Allah yang tidak akan pernah habis dijelajahi manusia.

Sikap seperti ini terasa semakin penting pada zaman sekarang. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik. Informasi mengalir tanpa henti dari layar-layar kecil yang kita genggam. Dunia berubah jauh lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Kemampuan menghitung tentu tetap dibutuhkan, tetapi itu saja tidak cukup. Yang jauh lebih berharga ialah kemampuan menggunakan ilmu dengan arif, memadukan nalar dengan nurani, serta menempatkan pengetahuan sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Di sinilah matematika dan Islam saling menguatkan. Matematika melatih ketelitian, konsistensi, dan keberanian berpikir berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Islam memberi arah agar seluruh kemampuan itu digunakan untuk menebarkan keadilan, kejujuran, dan kemanfaatan bagi sesama. Akal menjadi semakin tajam, sementara hati tetap terjaga.

Alquran memperkenalkan manusia pada dua cara membaca. Cara pertama ialah membaca wahyu yang diturunkan melalui firman-Nya. Cara kedua ialah membaca alam yang dibentangkan di hadapan mata. Keduanya saling melengkapi. Wahyu memberi petunjuk tentang tujuan hidup, sedangkan alam menyajikan tanda-tanda yang menguatkan keyakinan bagi siapa saja yang mau memperhatikannya. Matematika membantu kita membaca sebagian dari tanda-tanda itu.

Setiap orbit yang teratur, setiap pola yang berulang, setiap ukuran yang presisi, dan setiap hukum yang konsisten seakan mengingatkan bahwa alam semesta ini tidak berjalan tanpa arah. Ada kebijaksanaan yang bekerja di balik seluruh keteraturan tersebut. Ada sunatullah yang menjaga langit tetap berada pada porosnya dan bumi tetap menjadi tempat yang layak dihuni.

Mungkin karena itulah Albert Einstein pernah berkata, “Hal yang paling sulit dipahami tentang alam semesta adalah kenyataan bahwa alam semesta dapat dipahami.” Ungkapan itu menarik untuk direnungkan. Mengapa akal manusia mampu membaca hukum-hukum alam? Mengapa keteraturan itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa matematika? Bagi seorang mukmin, pertanyaan itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: Allah bukan hanya menciptakan alam semesta yang teratur, tetapi juga menganugerahkan akal agar manusia mampu mengenali keteraturan tersebut.

Baca juga: Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari ketika membuka buku matematika? Barangkali kita memang sedang belajar menghitung. Barangkali kita sedang berlatih memecahkan persoalan. Namun, jauh di balik semua itu, kita sedang belajar membaca sebagian kecil dari ayat-ayat kauniah yang Allah bentangkan di seluruh penjuru alam.

Setiap rumus yang dipahami mungkin tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih beriman. Akan tetapi, setiap rasa takjub yang lahir ketika menyaksikan keteraturan ciptaan-Nya dapat menjadi jembatan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Bukankah rasa kagum sering menjadi awal dari rasa syukur?

Maka, matematika layak dipandang sebagai lebih dari sekadar ilmu tentang angka. Ia adalah bahasa keteraturan. Bahasa yang mengajarkan manusia berpikir jernih, bersikap jujur, menghargai keseimbangan, dan menyadari bahwa alam semesta tidak pernah kehilangan arah karena seluruhnya berada dalam genggaman Allah Yang Maha Mengatur.

Barangkali itulah makna terdalam belajar matematika dalam perspektif Islam. Bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, melainkan belajar menjadi manusia yang lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Sebab, setiap kali akal berhasil menangkap keteraturan alam, hati seharusnya semakin mudah mengucapkan satu kalimat yang sama: Subhanallah.

*Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan