Bupati Kebumen Arif Sugiyanto Memberikan Penghargaan pada Literasi Award 2024

Pewarta: Komper Wardopo, Editor: Sam

Pendopo Kabumian, 31 Januari 2024 – Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menyelenggarakan acara Literasi Award Kebumen 2024 yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kebumen. Acara ini, yang bertempat di Pendopo Kabumian pada Rabu (31/1), menjadi panggung penghargaan bagi sejumlah tokoh penggerak literasi.

Dalam Gebyar Literasi Geopark Kebumen, hadir beberapa tokoh penting, termasuk Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpustakan Nasional (Perpusnas) Agus Sutoyo, yang mewakili Kepala Perpusnas, dan Diah Nugraheni dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng. Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwaningsih, Forkopimda, Sekda Edi Rianto, Bunda Literasi Kabupaten Kebumen Ny Iin Windarti Arif Sugiyanto, serta Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kebumen Sigit Dwi Purnomo juga turut hadir, bersama dengan para pejabat dan camat.

Beberapa tokoh yang mendapatkan Literasi Award dari Bupati Kebumen antara lain: Teguh Hindarto sebagai Pegiat Literasi Sejarah dan Budaya Kebumen; Sigit Asmodiwongso sebagai Pemerhati Geopark Kebumen; Komper Wardopo sebagai Tokoh Publik Penggerak Literasi; Puguh Ismail dari SMPN 1 Puring sebagai Tokoh Penggerak Literasi Bahasa Jawa; Aris Margono sebagai Komunitas Literasi Terbaik; Suyitman (guru) menerima Anugerah Guru Penulis Terbaik; Fandy Said sebagai Penerbit Pemerhati Literasi Kebumen; dan Bunda Literasi Kecamatan Adimulyo juga mendapatkan penghargaan sebagai peraih Anugerah Bunda Literasi Kecamatan Terbaik.

Selain memberikan penghargaan, acara ini juga menjadi momentum peresmian Akademi Literasi Kebumen. Ada juga penyerahan piagam dan tropi lomba menulis cerita rakyat dan lomba penulisan keragaman budaya geopark bagi guru dan siswa dalam rangka Hari Guru Nasional 2023. Serta, penyerahan buku sejarah desa dan sosialisasi Literasi Geopark Kebumen.

Kepala Disarpus Kebumen, Sigit Dwi Purnomo, melaporkan bahwa Kebumen meraih indeks pembangunan literasi masyarakat sebesar 71,80 atau 15,04 persen, yang menempatkannya pada peringkat 5 di Jawa Tengah. Pencapaian tersebut menggambarkan pemerataan layanan perpustakaan, jumlah perpustakaan desa, ketersediaan koleksi buku pustaka, dan kunjungan masyarakat ke perpustakaan.

Bupati Arif Sugiyanto mengapresiasi Gebyar Literasi Geopark Kebumen sebagai upaya untuk meningkatkan literasi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya budaya membaca, yang harus terus diperkuat dengan memanfaatkan setiap waktu luang. Bupati menyadari bahwa manfaat membaca dapat mendorong kemajuan peradaban bangsa.

Dalam konteks Geopark Kebumen, Bupati mengumumkan bahwa saat ini berstatus sebagai Geopark Nasional dan sedang diajukan ke Unesco Global Geopark. Pada bulan Juli 2024, tim Unesco dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke Kebumen, dan Bupati berharap agar sosialisasi tentang arti geopark dapat ditingkatkan, karena masuknya Kebumen ke dalam Unesco Global Geopark diharapkan membawa dampak positif terhadap kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pepenget Taqwa

Penutur: Ambar Hermawan, Editor: Rifa’i

Khutbah I:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، وأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمّا بَعْدُ  فَيَا عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ, فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى , قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

Hei, wong-wong kang podo iman, takwaho siro kabeh marang Gusti Allah, lan podo ngucapo kanti ucapan kang bener (Al-Ahzab: 70)

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ

Wediyo siro kabeh marang Gusti Allah ono ing endi wae siro manggon, lan susulono keawonan kelawan kebecikan, jalaran kebecikan iku iso nglebur keawonan, lan gaweyo pekerti bagus marang manungso. (HR. Tirmidzi)

Para Sederek Muslimin ingkang minulyo

ora aran takwo marang Gusti Allah niku ngelampahi poso lan sholat wengi, ananging takwo niku ninggal perkawis ingkang dipun haromaken Allah lan ngelampahi perintahipun. Sinten kimawon ingkang pinaringan kesempatan ngelampahi kesaenan sak mantune nindaakaen perintah lan ninggal larangan, mongko niku dipun wastani nindaaken kesaenan tumuju marang kesaenan.

Hadirin Ingkang Minulyo

nyusuli keawonan kelawan kesaenan” dipun pertelaaken bilih tindak lampah awon ingkang medal saking kito sedoyo supados inggal dipun susuli kelawan tindak lampah sae. Kados istighfar, sodaqoh, shalat lan tindakan sae lintu. Kanjeng Nabi dawuh:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ وَدَوَاءُ الذُّنُوْبِ الْاِسْتِغْفَارُ

​​​​​​​

Saben penyakit niku wonten obate, lan obate piro-piro duso niku istighfar utowo nyuwun ngapuro marang Gusti Allah (HR. Ad-Dailami).

lan gaweyo pekerti bagus marang manungso” nggih meniko serawungan lan pertepungan amal kaliyan masyarakat kelawan pekerti ingkang sae. Kados dene mboten ngelarani, mboten ngapusi, remen silaturahim, tulung-tinulung, lan sakpitunggalane.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

​​​​Tiyang mukmin ingkang paling sempurno imane yoiku ingkang paling bagus akhlake. (HR. Abu Dawud)

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ, إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ , إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II:

​​​​​​​اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Melacak Jejak Pemikiran Islam: Pribumisasi, Inklusif, dan Transformatif sebagai Jalan Damai dan Toleran

Pemikiran seperti Pribumisasi Islam (Gus Dur), Islam Inklusif (Nurcholish Madjid), atau Islam Transformatif (Moeslim Abdurrahman) merupakan upaya memahami Islam berdasarkan sejarah yang membawa pesan damai, Islam yang ramah, dan toleran.  

Pesan damai agama (Islam), seringkali dinodai oleh tafsir keagamaan sempit yang justru berpotensi mendegradasi pesan agung agama itu sendiri. Padahal, jika membaca dengan utuh, berbagai pesan itu bersifat universal dan dapat berdialog dengan berbagai kondisi masyarakat lokal. Sangat disayangkan, pesan agung agama yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan harus terjerembap pada aspek sektarian yang sempit. Berbagai informasi menunjukkan bahwa ujaran kebencian berbasis agama cukup banyak dan cenderung meningkat khususnya pada media sosial (Yusuf Rahman dkk 2022). Selain itu, tindakan intoleransi dan radikalisme atas nama agama juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun (Wahid Institut 2021).

Untuk memahami pesan agung agama dengan utuh, salah satunya dilakukan dengan menelaah aspek sejarah agama itu sendiri. Semua agama (termasuk Islam), mengalami proses sejarah saat diturunkan. Tidak ada satu pun ajaran agama di dunia ini yang terlepas dari aspek sejarah. Misalnya tiba-tiba agama itu datang dari langit, lengkap, utuh, dan harus ditaati umatnya di mana pun berada, tanpa mengenal ras, suku, budaya, serta bahasa di tempat turunnya ajaran itu.

Sejatinya, dengan memahami keterkaitan agama dengan sejarah dapat disimpulkan bahwa ajaran agama yang turun, mau tidak mau harus berdialog dengan konteks sosial budaya masyarakat pada waktu itu. Misalnya saja, ketika peperangan tak bisa dihindari, ajaran agama yang turun akan banyak berkaitan dengan peperangan. Pun, ketika kondisi perekonomian masyarakat identik dengan jual beli, pertanian, dan peternakan, tentu akan turun ajaran agama terkait kondisi masyarakat tersebut.

Islam, yang turun di negeri yang sekarang menjadi bagian dari negara Arab Saudi, 14 abad yang lalu, ajarannya tentu bersinggungan dengan kondisi masyarakat pada waktu itu. Misalnya saja, dalam Islam, cukup banyak ajaran tentang etika dalam peperangan, jual beli, pertanian dan peternakan.

Pada konteks peperangan, ajaran Islam turun dengan semangat etika peperangan yang sangat modern untuk zamannya. Misalnya berperang hanya jika diserang (Q.S. Al-Hajj: 33; Al-Baqarah: 190), tidak boleh berlebihan dalam berperang, tidak boleh menganiaya, sekaligus tetap menjaga harta (Q.S. Al-Baqarah: 249).

Demikian juga dengan berbagai ajaran Islam lainnya seperti shalat, puasa, zakat, dan haji bukan tiba-tiba turun dari langit. Beberapa sarjana mengungkap, bahwa berbagai ritual itu sejatinya sudah dilakukan masyarakat Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Modifikasi memang dilakukan, tapi bukan berarti berbagai ajaran itu merupakan sesuatu yang baru datang dari langit atau terlepas dari sejarah.

Contoh lainnya, ritual mengunjungi Ka’bah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Arab sebelum kelahiran Nabi Muhamad, kemudian dimodifikasi melalui berbagai ritual (ihram, thowaf, sa’i, dan wuquf ), yang dilakukan umat Islam di dunia hingga saat ini. Berbagai ritual ini dikenal secara umum sebagai ibadah haji.

Begitu pun dengan puasa dan zakat merupakan kebiasaan masyarakat Arab yang bisa jadi terinspirasi dari ajaran yang dibawa oleh Nabi sebelum Muhammad SAW. Zakat, sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Arab, yang bisa jadi terinspirasi dari ajaran Nabi Musa (Maskudi 2011).

Fenomena di atas menunjukkan, bahwa berbagai pesan agama, termasuk ritual utama yang membentuk identitas keislaman, tidak bisa dilepaskan dari aspek sejarah. Perbedaan sejarah yang cukup panjang dari aspek tempat dan waktu, tentu membutuhkan penalaran (ijtihad) dalam menangkap pesan agung agama.

Misalnya saja, pada era Nabi, ketentuan zakat yang disampaikan adalah yang sesuai kondisi sosial umat pada waktu itu. Sehingga ketentuan zakatnya berupa  emas, hasil-hasil dari pertanian, peternakan, dan perdagangan. Saat ini, seiring dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, tumbuh berbagai model bisnis baru seperti bisnis start up atau youtuber. Contoh yang lain, kondisi sosial budaya pada era Nabi belum mempersoalkan perbudakan. Maka, tidak ada satu pun ajaran Islam yang melarang perbudakan.

Perbedaan sejarah yang cukup panjang, menuntut umat Islam untuk melakukan ijtihad, agar pesan agung agama dapat terpelihara dengan baik. Diperlukan ijtihad, agar bisnis modern tetap dikenakan zakat, sesuai dengan prinsip keadilan yang ditekankan Islam. Diperlukan ijtihad untuk melarang praktik perbudakan, sesuai dengan prinsip keselamatan dan kemanusiaan yang ditekankan Islam. Secara prinsip, Islam menjunjung tinggi aspek keselamatan dan kedamaian (al-Islamiyah) kemanusiaan (al-Insaniyah), keadilan (al’adalah), persamaan (al-musawah), dialog (al-musyawaroh), dan menguji kebenaran informasi (tabayyun).

Berbagai prinsip utama yang dipegang umat Islam pada generasi awal (era kenabian) tersebut, terbukti mampu membentuk peradaban agung di Madinah. Nabi Muhammad, melalui aturan bersama yang disepakati yakni Piagam Madinah mampu mendamaikan sekaligus menyatukan antar suku Arab yang dulunya gemar berperang. Masyarakat pada waktu itu kerap digambarkan sebagai masyarakat yang damai, adil, sejahtera, meskipun berbeda, termasuk perbedaan agama (ada kaum Yahudi, Nasrani, Zoroaster).

Upaya untuk mengulang masa kejayaan Islam pada masa lalu mustahil dilakukan, jika menafikan aspek sejarah. Upaya untuk mengaitkan aspek sejarah masa lalu dengan masa kini, kemudian menjadikan prinsip utama ajaran Islam sebagai landasannya, memerlukan pemikiran (ijtihad) yang serius dari umat Islam. Sebaliknya, mengambil mentah-mentah ajaran (tekstual), tidak mau melakukan kajian mendalam, menafikan aspek sejarah justru dapat menghilangkan pesan agung agama tersebut. Sikap ini dapat mengarah pada kebencian terhadap perbedaan, permusuhan, bahkan pada tahap tertentu dapat menyebabkan tindakan ekstrem dan aksi teror.

Dengan demikian, menggunakan perspektif sejarah dalam memahami agama akan menjaga pesan agung dan mulia agama tersebut dan tetap relevan di sepanjang zaman. Menjaga kemurnian (purifikasi) ajaran islam, harus dilakukan dengan menjaga prinsip utama agama Islam itu sendiri. Umat Islam di dunia boleh mengembangkan budayanya sendiri, bahasanya sendiri pakaiannya sendiri, namun tetap harus menjaga, merawat, serta mengembangkan prinsip utama ajaran Islam di atas.

Pandangan inilah yang membuat beberapa sarjana di Indonesia mengajukan istilah pribumisasi Islam (Gus Dur), Islam inklusif (Nurcholish Madjid), atau Islam transformatif (Moeslim Abdurrahman). Memahami Islam dari aspek sejarah akan membawa pesan damai, Islam yang ramah, toleran, karena mampu berdialog dan bersahabat dengan budaya lokal.

Penulis: Nanang Hasan Susanto 

Artikel pertama kali dimuat di arina.id

Menjaga Kerukunan Beragama dan Keanekaragaman di Indonesia: Pesan Moderasi dari Bintang Tamu Nanang Hasan Susanto

Pewarta: Kharisma Shafrani, Editor: Sam

Kementerian Agama Kabupaten Tuban mengundang Nanang Hasan Susanto, seorang dosen dari UIN Gusdur Pekalongan, sebagai bintang tamu dalam program On Mic Studio Kemenag Tuban Episode ke-42 dengan tema “Moderasi Beragama dan Kehidupan Bernegara di Indonesia” pada Jumat, (26/01).

Moderasi beragama adalah gaya hidup yang mempromosikan kerukunan, seni menghargai, menjaga, dan toleransi tanpa menimbulkan konflik. Konsep ini merupakan usaha membentuk karakter moderat dalam menjalani kehidupan beragama.

Dalam episode podcast ke-42 tersebut, Nanang Hasan Susanto, yang bertindak sebagai fasilitator nasional moderasi beragama, menjelaskan bahwa moderasi bukanlah suatu aliran agama baru.

“Moderasi bukanlah madzhab, bukan agama baru, bukan aliran. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap perilaku dalam mengimplementasikan nilai-nilai keberagaman dengan menghormati nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, konstitusi, dan lainnya,” ungkap Nanang yang juga merupakan Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Gusdur.

Indonesia, sebagai negara yang dikenal religius, memandang religiositas sebagai aspek penting dalam bermoderasi beragama. Nanang juga menekankan bahwa moderasi beragama bukanlah usaha untuk memodernisasi agama, melainkan pemahaman terhadap agama tersebut.

“Pemoderasian bukan pada agamanya, melainkan pada pemahamannya, pada tindakannya terhadap keberagaman,” tambahnya.

Beliau juga menyoroti bahwa perdamaian antar agama dalam suatu negara tidak mungkin terjadi tanpa adanya dialog antar agama. Dialog tersebut juga tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada usaha untuk memahami ajaran dasar dari masing-masing agama.

Pada akhir podcast, Nanang mengingatkan masyarakat untuk menjaga keragaman di Indonesia.

“Saya melihat nilai-nilai penghargaan terhadap perbedaan sudah dijaga dan dihormati oleh banyak orang. Ini luar biasa dan harus dijaga karena itu adalah kekayaan kita. Kita harus mencegah Indonesia terpecah belah dan menjaga bumi tempat kita hidup dari kerusakan akibat pemaksaan kebenaran oleh kelompok tertentu. Ini tanggung jawab kita, karena jika bukan kita, lalu siapa lagi? Mari kita hindari konflik seperti yang terjadi di negara lain,” harap Nanang.

Islam dan Kehidupan Antar Umat Beragama di Linggoasri: Toleransi, Keterlekatan, dan Dampak Signifikan pada Kebudayaan

Penulis: Dzurrotun Nafisah Anjali, Editor: Faiza Nadilah

Islam datang ke-Nusantara sebagai agama yang universal, sempurna, lentur, elastis dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, sehingga memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Islam terus merambat ke semua penjuru bumi nusantara mengakibatkan bumi nusantara dianggap sebagai suatu negeri yang sangat kaya dengan budaya. Alasannya, secara ilmiah kehidupan agama dan budaya sedang memberi suatu ekspose tentang seluk beluk yang mendasar. Islam dikenal sebagai salah satu agama yang akomodatif terhadap tradisi lokal dan ikhtilāf ulama dalam memahami ajaran agamanya (Mubarok, 2008).

Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. kepada seluruh manusia dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sosial politik. Beliau membebaskan manusia dari kegelapan peradaban menuju cahaya keimanan. Islam merupakan konsep agama yang humanis, yaitu agama yang mementingkan manusia sebagai tujuan sentral dengan mendasarkan pada konsep “humanisme teosentris” dimana poros Islam adalah tauhidullah yang diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme teosentris nantinya akan ditransformasikan sebagai nilai yang dihayati dan dilaksanakan dalam konteks masyarakat budaya, dan dari sistem inilah muncul simbol-simbol yang terbentuk karena proses dialektika antara nilai agama dengan tata nilai budaya (Kuntowijoyo, 2008).

Konsep normatif agama mengenai budaya tidak hanya mencoba memahami, melukiskannya, dan mengakui keunikan-keunikannya tetapi agama mempunyai konsep tentang amr (perintah), dengan tanggung jawab. Sementara ilmu menjadikan budaya sebagai sasaran pemahaman, agama memandang budaya sebagai sasaran pembinaan. Masalah budaya bukanlah bagaimana kita memahami, tetapi bagaimana kita mengubah Di dalam keberagamaan masyarakat Muslim tidak bisa lepas dari tradisi lokal yang hidup dan berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat, dimana mereka hidup, berkomunikasi, dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang ada. Proses penyebaran agama Islam yang ada di Nusantara tidak pernah terlepas dari proses akulturasi budaya, sehingga ajaran agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan para wali dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Karena dalam ajaran agama Islam tidak ada istilah paksaan dalam beragama. Para penyebar agama Islam tidak pernah menyiarkan agama melalu kekerasan dan permusuhan, akan tetapi melalui kedamaian, adaptasi dengan budaya lokal sehingga lambat laun terbentuk kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan bentuk asli dari kebudayaan tersebut.

Penerapan hal tersebut bisa kita lihat di Desa Linggoasri yang masyarakatnya memiliki keragaman beragama, tidak hanya agama Islam saja yang diyakini sebagai kepercayaan masyarakat tetapi mereka juga menganut agama Hindu, Buddha, dan Katolik. Awal mula masuk beberapa agama di Linggoasri juga sama dengan masuknya agama di Nusantara. Terjadi akulturasi antara agama-agama yang ada di Linggoasri dengan kebudayaannya menjadi sebuah praktik keagamaan yang toleran dan memiliki keterlekatan dengan modal sosial, simbolik, kebudayaan, dan material masyarakatnya.

Agama tidak lain menjadi identik dengan tradisi atau sebuah ekspresi budaya yang meyakinkan seseorang terhadap sesuatu yang suci, dan tentang ungkapan keimanan terhadap yang kuasa. Jika hubungan agama dan tradisi ditempatkan sebagai wujud interpretasi sejarah dan kebudayaan, maka semua domain agama adalah kreatifitas manusia yang sifatnya sangat relatif. Artinya bahwa, kebenaran agama yang diyakini setiap orang sebagai yang “benar”, pada dasarnya hal itu sebatas yang bisa ditafsirkan dan diekspresikan oleh manusia yang relatif atas “kebenaran”, bahwa tuhan absolut. Dengan demikian apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan, memperbaharui atau memurnikan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai fenomena manusia atas sejarahnya, tanpa harus dilihat banwa yang satu berhak menegasikan “kebenaran” yang diklaim oleh orang lain, sambil menyatakan bahwa “kebenaran” yang dimilikinya sebagai yang “paling benar” (Abdurrahman, 2003).

Kehidupan masyarakat di Linggoasri jauh dari kata perselisihan antar umat beragama. Mereka hidup dengan rukun dan damai tanpa mengusik kepercayaan masing-masing. Sikap toleransi yang tinggi menjadi kunci utama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang sejahtera, tentram dan religius. Masyarakat disana menjalankan ibadah ajaran agama sesuai dengan kepercayaan yang dianut tanpa mengganggu kegiatan ibadah agama lain.

Pentingnya Hubungan Agama dan Budaya Lokal

Agama selalu dipandang sakral oleh para pemeluknya. Sebagai panutan hidup, setiap pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin untuk menyesuaikan diri sesuai dengan kadar pengetahuannya masing-masing demi mewujudkan ajaran agama tersebut dan tingkah laku sosialnya sehari-hari. Dalam keadaan seperti ini, maka agama kemudian menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku keagamaan, baik dalam format individu maupun kelompok. Oleh sebab itu, maka secara sosiologis dikenal adanya istilah, seperti: orang-orang yang beragama (penganut), umat beragama (komunitas), dan tokoh umat beragama (pemimpin) (Abdurrahman, 1980).

Semua hasil pemikiran manusia adalah budaya; proses berpikir adalah proses kebudayaan. Kalau keberagamaan seseorang merupakan sebuah keyakinan yang banyak diperankan oleh pikiran, maka sulit untuk disangkal ketika seseorang menentukan agama tertentu untuk di anut tidak dapat terlepas dari aspek kebudayaan. Antara agama dan budaya keduanya sama-sama melekat pada diri seorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal pikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan dan bahkan berintraksi dengan kebudayaan.

Kebudayaan sangat berperan penting dalam pembentukan sebuah peraktik keagamaan bagi seseorang atau masyarakat. Tidak hanya melahirkan bermacam- macam agama, kebudayaan inilah yang juga mempunyai andil besar bagi terbentuknya aneka ragam praktik beragama dalam satu payung agama yang sama. Oleh karena itu kita sebagai pemeluk agama harus akomodatif terhadap budaya yang berlaku di masyarakat.

Menyikapi Tantangan Kesehatan Mental: Perspektif Al-Qur’an dan Realitas Sosial

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Windi Tia Utami

Isu Kesehatan mental tengah menjadi pembicaraan hangat di media pemberitaan. Kesehatan mental seseorang kadang kala menjadi problematika baru yang muncul karena banyaknya problematika kehidupan. Tak hanya menyerang orang dewasa, semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan lansia baik laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama untuk terganggu kesehatan mentalnya.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), peninjau kesehatan mental nasional pertama di Indonesia, mencatat bahwasanya terdapat banyak kejadian gangguan mental pada remaja usia 10 – 17 tahun. I-NAMHS menyatakan ada satu dari tiga remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 1 tahun terakhir. Faktor yang memicu terganggunya Kesehatan mental dapat berupa banyak hal, seperti tekanan keluarga, pendidikan, lingkungan, bahkan ekonomi. Sehingga tak heran, belakangan ini banyak kasus bunuh diri dengan alasan gangguan kesehatan mental yang kian merajalela.

Sejatinya dalam kehidupan, manusia akan selalu mendapatkan sebuah cobaan berupa masalah. Masalah itu Allah Swt. Turunkan sebagai ajang pembelajaran sekaligus pengingat bahwasanya manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan untuk menjalankan kehidupannya. Namun, dewasa ini justru masalah dijadikan sebagai alasan untuk menyerah, banyak manusia yang mengaku terbebani dan akhirnya mengakhiri hidup ketika ditimpa masalah. Padahal Allah Swt. telah jelas berfirman pada surat Asy-Syarh (94): 5-6 yang artinya ’’Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya besertakesulitan itu ada kemudahan’’. Ayat ini memberi semangat agar setiap manusia selalu ikhlas dan percaya bahwa bahwa kesulitan, kesengsaraan, kemalangan, dan kesakitan adalah pintu untuk memasuki jalan kebenaran, kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian. Diharapkan seorang manusia dapat mengetahui dan memahami hakikat dari setiap tantangan dan kesulitan. Sehingga, ia memiliki semangat agar selalu mencari celah supaya dapat memetik hikmah dari tantangan, dan kesulitan yang menimpa.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah dikenal dengan istilah problem solving yang kualitasnya dipegaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah Adversity Quotient. Faktor yang memengaruhi seseorang dalam problem solving  tidak hanya kercerdasan intelektual dan emosional saja. Dengan Adversity Quotient kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena faktor ini merupakan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Psikologi Barat dalam situasi pengendalian diri dikenal dengan istilah selfcontrol atau kontrol diri, sehingga factor terpenting Ketika menghadapi masalah adalah mengontrol diri sendiri agar tidak berbuat diluar kendali dan agar tetap berpikir jernih.

Al Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan penjelasan juga didalamnya banyak ayat-ayat yang bersangkutan dengan kesehatan mental dengan berbagai istilah yang digunakannya sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh setiap manusia

Dalam Q.S. ali-Imran (3): 186, Allah menegaskan bahwa manusia sugguh diuji dengan harta dan diri/jiwa. Dalam ayat ini diperintahkan juga agar bersabar dalam sesuatu yang mereka katakan. Dalam Q.S. Muhammad (47): 31, Allah juga menegaskan tujuan ujian yang diberikan Allah, yaitu bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menguji manusia agar bisa diketahui mana orang-orang yang berjihad dan bersabar. Bahkan Allah mengatakan bahwa apakah manusia mengira masuk surga sebelum diketahui mana manusia yang bersungguh-sungguh dan bersabar al-Qur’ān Tentang Kesehatan Mental Al-Qur’ān sebagai sumber ajaran Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia diturunkan oleh Allah Swt.

Sebagai kitab suci yang berisi petunjuk, Al-Qur’an mengemukakan ada penyakit mental yang disebabkan oleh seseorang jauh dari Al-Qur’ān diantaranya sebagai berikut : (i) Riya’ adalah bertingkah laku karena tujuan ingin dipuji atau dapat perhatian orang lain; (ii) Ḥasad dan dengki atau iri hati; (iii) Rakus (berlebih-lebihan dalam makan); (iv) Waswas merupakan bisikan hati, akan nafsu dan kelezatan; (v) Ingkar janji; (vi) Membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), dan lain sebagainya.

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk tentang permasalahan manusia beserta dengan solusinya sekaligus, tugas manusia adalah tetap menghamba dan berpegang teguh pada jalan Allah Swt. niscaya Ketika manusia dapat mencerna penjelasan Allah Swt. dalam Al-Qur’an tidak akan ada lagi permasalahan tentang Kesehatan mental hanya karena tertimpa musibah.

Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN 2024 Dibuka, Simak Jalurnya

Pewarta: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Ragil

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2024 akan dibuka pada 22 Januari 2024. Keputusan ini dirilis oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam acara Peluncuran PMB PTKIN di Jakarta, pada Jumat, (19/01).

Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kemenag Nizar Ali, Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani, Ketua Forum Rektor PTKIN Masnun Thahir, Ketua Pelaksana PMB PTKIN Nyayu Khodijah, serta Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Agama.

Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani mengungkapkan, PMB PTKIN 2024 mengusung tema Start to be Smart, dengan harapan agar perguruan tinggi mampu bersinergi satu sama lain dalam membentuk calon mahasiswa yang berkualitas.

“Saya minta PTKIN memiliki cara-cara kreatif agar dapat menarik minat para pelajar untuk mendaftar di sini,” ujar Yaqut.

Ketua Pelaksana PMB PTKIN sekaligus Rektor UIN Raden Fatah Palembang Nyayu Khodijah menjelaskan, PMB PTKIN akan dilakukan secara nasional dan dalam bentuk yang lain.

“Proses seleksi secara nasional terdiri dari dua bagian yaitu Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN PTKIN) dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM PTKIN). Pola seleksi bentuk lain ialah pola seleksi mandiri yang dilakukan oleh masing-masing PTKIN,” jelas Nyayu.

SPAN PTKIN merupakan seleksi masuk berdasarkan prestasi akademik secara non tes dengan menggunakan nilai rapor dan prestasi lainnya. Pendaftaran jalur SPAN PTKIN akan dibuka pada 22 Januari 2024 dan hasilnya diumumkan pada 2 April 2024.

“Informasi seputar SPAN PTKIN 2024 dapat diakses melalui https://span.ptkin.ac.id/page,” lanjut Nyayu.

Adapun jalur UM PTKIN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) merupakan pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh 58 PTKIN dan 1 PTN dengan Program Studi keagamaan yang izin operasionalnya diterbitkan oleh Kementerian Agama RI melalui ujian tulis berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE).

Pendaftaran jalur UM PTKIN dibuka pada 6 Mei 2024 dan hasilnya akan diumumkan pada 17 Juli 2024. Informasi lengkap mengenai UM PTKIN 2024 dapat diakses melalui laman https://um.ptkin.ac.id/.

Jalur terakhir yaitu jalur mandiri. Pendaftaran melalui jalur ini dilakukan pada masing-masing Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Informasi lengkap mengenai jalur mandiri dapat diakses pada laman resmi masing-masing perguruan tinggi.***

Rakerwil Gusdurian Jateng-DIY: Dorong Penggerak Komunitas dan Masyarakat Sipil guna Perkuat Kualitas Demokrasi

Pewarta: Muhamad Nurul Fajri

Editor: Ragil

Semarang, Hijatunaa.com. Dalam memperkuat kapasitas penggerak pada setiap komunitas di berbagai daerah, Jaringan Gusdurian Jateng-DIY adakan rapat kerja wilayah 2024 dan Forum Demokrasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan di gedung Pusdiklat BKK Jateng Kota Semarang pada hari Sabtu-Ahad (13-14/1/2024).

Rapat kerja wilayah (rakerwil) Gusdurian ini dihadiri oleh penggerak komunitas se-Jateng-DIY, lembaga, dan individu yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian. Isu yang di usung berlandaskan hasil rapat kerja nasional Jaringan Gusdurian bulan November lalu yaitu tentang isu toleransi, pemilu, pendidikan inkusif, dan perubahan iklim.

Masturido selaku Koordinator Wilayah Jaringan Gusdurian Jateng DIY menuturkan, “Rakerwil ini adalah bagian dari gerakan tururnan amanat Rakernas yaitu Gardu Pemilu. Gardu Pemilu ini bertujuan untuk meneguhkan peran masyarakat dalam mendorong pemilu yang jujur, adil, damai, dan bermartabat”

“Bergerak bersama melakukan edukasi politik dan demokrasi serta ikut mengawal proses pemilu agar dapat berjalan dengan jujur, adil, damai dan bermartabat.” Tambah Masturido.

Gusdurian mengajak KPU dan BAWASLU serta FKUB Provinsi Jawa Tengah untuk bersama-sama menjaga dan menguatkan kualitas demokrasi di Jawa Tengah.

Selaku Koordinator Wilayah Jaringan Gusdurian Jateng DIY, Masturido sangat berharap adanya kolaborasi Komunitas Gusdurian di seluruh Jawa Tengah diantaranya KPU, Bawaslu, FKUB kabupaten/kota, dan masyarakat di seluruh Jawa Tengah-DIY.

Salah satu rangkaian rakerwil Gusdurian Jateng-DIY adalah Forum Demokrasi. Senada dengan Masturido, Faza Luthfia (Koordinator Jaringan Gusdurian Jateng-DIY mengatakan bahwa “Forum Demokrasi Gusdurian dalam kerangka Gardu Pemilu Gusdurian ini hadir sebagai wadah bagi warga yang berkomitmen untuk menghidupkan dan memperkuat nilai-nilai demokrasi sehingga demokrasi Indonesia tidak terjerumus pada demokrasi seolah-olah yang hanya bersifat formal prosedural tanpa memedulikan substansi nilai etis, moral, dan kedaulatan rakyat”.

“Gardu Pemilu sendiri merupakan amanat dari rakernas Jaringan Gusdurian tahun 2023. Tujuan dari gardu untuk mengajak lebih banyak orang untuk turut serta dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, damai, dan bermartabat.” Pungkas Faza Luthfia.

Konferensi Moderasi Beragama: Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KMB-AAA): Mengenang “Spirit Bandung” dan Mengukir Sejarah Mewujudkan Harmoni

Oleh: Zaenal Mustakim

Konferensi Moderasi Beragama: Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KMB-AAA) yang mengangkat tema “Religion and Humanity” diselenggarakan di Bandung pada 20-22 Desember 2023. Konferensi yang merupakan hasil kerja sama antara Balitbang Diklat Kementerian Agama dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini dihadiri 22 duta besar dari berbagai negara, tokoh agama serta para akademisi. Hadir pula utusan khusus Grand Shaikh Al-Azhar. Prof. Dr. Nahlah Soaidy yang sekaligus pembicara pada plenary session.

Pemilihan tempat di Bandung, tepatnya di Gedung Merdeka tentu tidak lepas dari sejarah panjang dari dilaksanakannya Konferensi Asia-Afrika pada 1955 yang menjadi cikal bakal dari “gerakan non-blok”. Sebanyak 29 negara yang saat ini dikenal dengan “global South” berkumpul di kota Bandung yang menghasilkan Bandung Carter. Tentunya, saat ini kita mengenang sejarah tersebut untuk menghidupkan kembali spirit Bandung dalam mewujudkan perdamaian dalam konteks kehidupan kita saat ini dengan berbagai macam tantangannya. Kita mengukir sejarah dalam mewujudkan kehidupan yang harmoni.

KMB AAA merupakan upaya mengenalkan dan mempromosikan moderasi beragama pada dunia, serta membuka ruang perjumpaan lintas agama melalui dialog antaragama dalam mewujudkan kehidupan yang damai. Selain itu, konferensi ini juga merupakan bentuk wujud komitmen bangsa Indonesia dalam membangun perdamaian dunia, di tengah berbagai macam tantangan global termasuk konflik kemanusiaan yang tengah melanda di berbagai belahan negara.

Oleh karenanya, agama harus menjadi solusi, bukan sumber masalah. Nilai-nilai universal dalam agama mengajarkan kita menjunjung tinggi harkat martabat orang lain, tidak menyakiti satu sama lain. Di aspek lain, khususnya di Barat memandang bahwa agama adalah ranah privat.

KMB AAA pula menjadi “counter-narrative” terhadap paradigma di atas, bahwa agama bukan hanya domain privat masing-masing pemeluknya, melainkan harus diimplementasikan di ruang publik, Namun bukan dilandasi dengan semangat “sektarian” melainkan dengan semangat inklusif, merawat dan menghargai perbedaan — karena esensinya Tuhan sendiri menghendaki kita berbeda, itulah sunatullah. Inilah yang menjadi landasan tema yang diangkat dalam KMB AAA adalah Religion dan Humanity.

Momen bersejarah di Gedung Merdeka ini, bukan hanya terkait negara non blok dan politik global dunia, tetapi juga pada hal yang sangat esensial yakni mewujudkan perdamaian dunia yang melibatkan berbagai macam negara melalui kerja sama lintas budaya dan dialog antaragama.

KMB AAA yang diselenggarakan dan dihadiri oleh berbagai macam pihak, menegaskan bahwa agama menjadi katalisator untuk membangun perdamaian – seperti pesan semua agama yakni memberikan keselamatan pada setiap pemeluknya. Agama bukan dimaknai sebaliknya sebagai sumber konflik melainkan sumber perdamaian. Dari spirit Bandung inilah kita belajar untuk memberikan inspirasi melalui langkah-langkah konkret dalam mewujudkan perdamaian dan kemanusiaan.

Moderasi Beragama: Solusi Tantangan Keberagamaan
Saat ini fenomena keberagamaan di Indonesia dihadapkan kepada tiga tantangan. Pertama, berkembangnya cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrem), yang mengesampingkan martabat kemanusiaan.

Kedua, berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak atas tafsir agama serta pengaruh kepentingan ekonomi dan politik berpotensi memicu konflik. Ketiga, berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjaga kehidupan yang harmonis melalui moderasi beragama menjadi sangat penting untuk dilakukan sesuai dengan esensi dari ajaran agama sendiri yakni memerintahkan umatnya untuk berlaku dan berbuat, adil, dan seimbang. Dengan memahami ajaran agama yang dianutnya serta mengenali ajaran agama lain dapat menjadikan kita lebih terbuka sebagai umat beragama.

Kerap kali persoalan agama muncul akibat prasangka buruk kita, dan sikap absolutisme yang kerap merasa dirinya paling benar. Kebenaran agama yang diyakini sebagai kebenaran absolut agama yang paling benar ini merupakan ranah internum. Dalam kehidupan beragama yang terdiri dari berbagai agama tidak lantas keberagamaan yang absolut di ranah internum kemudian digeser dan ditarik ke ranah eskternum.

Dialog antaragama yang diselenggarakan melalui KMB AAA ini membuka ruang untuk kita dapat menghargai keyakinan agama orang lain. Menumbuhkan kesadaran bahwa dalam setiap agama ada nilai-nilai esoterik yang menyatukan antara satu agama dan agama lainnya.

Untuk mencapai hal itu, setidaknya rerdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan. Pertama, memperkuat esensi ajaran agama dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan agama yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan tidak lagi sekadar memberikan pelajaran agama, tetapi juga tentang beragama. Agama tidak hanya sebagai pengetahuan tapi bagaimana praktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajaran agama bukan sekedar pengetahuan mengenai ajaran agama semata, tetapi membiasakan dan mempraktikkan nilai-nilai agama tersebut, sebagaimana istilah Pierre Bourdieu, menjadi “habitus” serta menjunjung kemanusiaan. Seperti yang pernah diutarakan oleh KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur bahwa sejatinya orang beragama adalah memuliakan manusia, humanisme.

Kedua, mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagamaan. Keragaman dan perbedaan merupakan sunatullah. Dalam sejarahnya, perbedaan penafsiran keagamaan dalam Islam sendiri merupakan kekayaan khazanah Islam yang melahirkan berbagai macam mufasir.

Bukan sebaliknya seperti saat ini, justru orang-orang menafsirkan agama secara serampangan yang merusak kehidupan beragama itu sendiri, yang akhirnya menampilkan wajah Islam yang keras. Sebagaimana yang diutarakan oleh Ghulam Farid Malik: Islam is religion of peace and justice, not permit extremism, violence or terrorism in all spheres of life.

Ketiga, merawat Keindonesiaan. Gus Dur adalah salah satu orang yang tercatat sebagai tokoh yang menggelorakan kembali identitas keber-Islam-an kita yang syarat dengan identitas kebangsaan. Syekuna Khalil Bangkalan pernah mengatakan dalam salah satu karyanya bahwa “mencintai negara adalah bukti keimanan kita, menjaga negara kita adalah wujud keimanan kita” Sejalan dengan hal itu Gus Dur mengutarakan “NKRI harga mati, Pancasila final, dan kebinekaan adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri rakyat Indonesia”.

Moderasi Beragama dalam mewujudkan perdamaian dan kemanusiaan, bukan hanya tugas Kementerian Agama, tetapi perlu peran serta seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Seperti juga keanekaragaman bangsa ini dengan segala perbedaannya — bukan menjadi sumber pemecah belah bangsa, melainkan sebagai sumber kekuatan yang dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis sehingga dapat menjadi contoh berbagai negara.

Konferensi Moderasi Beragama Asia, Afrika, dan Amerika Latin merupakan langkah awal dalam mempromosikan moderasi beragama dan mewujudkan keharmonisan hidup beragama dari Indonesia untuk dunia.

===

Zaenal Mustakim, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Peserta Konferensi Moderasi Beragama Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KMB-AAA).

Artikel Pertama kali dimuat di arina.id

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al Mizan berhasil meraih penghargaan Video Pendek Terbaik dalam kompetisi LPM PTKI Challenge 2023

Pewarta: Ibnu Salim

Editor: Huda

Ibnu Salim, salah satu anggota dari UKM LPM Al Mizan, dengan bangga menerima penghargaan di acara yang diadakan di Hotel Royal Kuningan Jakarta pada Kamis, tanggal (14/12/2023)

Alhamdulillah, rasa syukur tak terhingga atas pencapaian baru ini. Saya sangat berterima kasih kepada seluruh teman di Mizan yang telah turut serta dalam perjalanan ini, juga kepada rekan-rekan Navi yang ikut serta dalam pembuatan video pendek ini, serta do’a yang tak henti-hentinya dari orang tua saya. Katanya

Nur Shoib, Kepala Subdirektorat Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Dirjen Pendis, secara langsung menyerahkan penghargaan kepada anggota Al Mizan yang hadir di Jakarta.

Sebelum pengumuman lomba ini, setiap LPM di seluruh PTKI mendaftar sebagai peserta dalam kompetisi LPM PTKI Challenge 2023 yang bertemakan “Penguatan Moderasi Beragama di Ruang Digital” pada 5 Desember lalu.

Syamsul Bakhri, Pembina Al-Mizan menceritakan bahwa iklan layanan masyarakat yang diikutkan dalam lomba ini merupakan realitas sosial di masyarakat yang sering terjadi yaitu merasa superioritas dan menganggap minoritas penganut agama lain, kami ingin mengedukasi masyarakat agar ketika ada pembangunan tempat ibadah agama lain kita sebagai umat muslim tidak boleh merasa memiliki superioritas dan tidak melarang umat agama lain mendirikan tempat ibadah”.

Prof.Dr.Muhlisin, M.Ag ” Wakil Rektor 3 UIN Gusdur mengucapkan “selamat dan sukses untuk Al-Mizan, ini merupakan kolaborasi yg positif dan bagus antara UKM Al-Mizan dan Navi Film, iklan layanan masyarakatnya sangat mengedukasi untuk mengajak masyarakat bersikap moderat”.