Mengatasi Trauma Masa Lalu: Pentingnya Perawatan Mental dan Fisik

Penulis: Mufidatul ‘Ulya, Editor: Muhamad Nurul Fajri

Kesehatan mental dan kesehatan fisik menjadi dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menjaga kedua kondisi ini tetap dalam keadaan optimal, misalnya dengan rutin berolahraga atau mengelola stres dengan baik. Berbagai gangguan kesehatan mental, nyatanya dapat terjadi akibat kondisi stres yang tidak dapat diatasi dengan baik, salah satunya adalah gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merupakan kondisi dimana pengidapnya memiliki pola pikir dan juga perilaku yang tidak sehat serta berbeda dengan kebanyakan orang lain. Gangguan ini termasuk dalam kategori penyakit mental, sehingga menyebabkan pengidapnya akan kesulitan dalam berinteraksi dengan sosial. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kepribadian?

Mulai dari trauma hingga adanya gangguan pada otak. Umumnya, gejala gangguan kepribadian akan sering dialami oleh para remaja hingga orang-orang yang baru saja memasuki usia dewasa. Pengidap gangguan kepribadian biasanya akan mengalami kesulitan untuk membangun hubungan sosial, membuat interaksi dengan banyak orang, sering memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, hingga mengalami gangguan kecemasan.

Lalu, apa yang menyebabkan seseorang alami gangguan kepribadian? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang alami kondisi ini, misalnya adanya riwayat keluarga dengan kondisi gangguan ini, sehingga kamu akan rentan mengalami hal yang serupa. Tidak hanya itu, kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko seseorang alami gangguan kepribadian.

Trauma masa lalu adalah pengalaman emosional, yaitu ketidakmampuan seseorang, untuk melepaskan diri dari memori negatif di masa lalu. Umumnya, trauma masa lalu terjadi karena sejumlah kejadian yang tidak menyenangkan. Contohnya, yaitu masa kecil yang tidak bahagia, kecelakaan, kematian anggota keluarga, hingga mengalami perundungan dari orang lain.

Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental, fisik, dan emosional. Apalagi jika hal-hal tertentu membuat seseorang merasa terpicu akan trauma masa lalunya. Akibatnya, seseorang yang memiliki trauma masa lalu dapat mengalami syok, sedih, panik, sebagai respons dari pikirannya. Kondisi ini memang tidak dapat disepelekan, dan perlu segera mendapatkan penanganan.

Tips yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi trauma masa lalu:
1. Menceritakannya kepada orang terdekat. tips pertama, yaitu menceritakan trauma masa lalu kepada orang terdekat ketika sudah siap.

2. Hadapi perasaanmu, menghindari pemicu atau ingatan tentang peristiwa traumatis di masa lalu dengan tidur sepanjang waktu, mengisolasi diri, memang hal yang wajar. Kendati demikian, hal ini tidak dapat dilakukan secara terus-menerus. Sebab, semakin lama seseorang menghindar, hal ini dapat memperpanjang stres dan membuat seseorang tak kunjung pulih. Karena itu, secara bertahap, hadapilah perasaan yang dimiliki. Selain itu, cobalah untuk kembali ke rutinitas normal secara bertahap, dan meminta dukungan orang terdekat, atau psikolog.

3. Bersabar, tips selanjutnya yang perlu kamu terapkan adalah bersabar. Ingatlah bahwa memiliki reaksi atau respon keras terhadap peristiwa traumatis sangatlah normal. Namun, kamu juga perlu menghadapinya agar hal tersebut tidak membuatmu terpuruk. Lakukan secara perlahan, meskipun memang tidak mudah. Artinya, kamu perlu bersabar dan berdamai dengan diri sendiri, karena seiring waktu keadaanmu akan membaik. Untuk melakukannya, hal pertama adalah mengidentifikasi teman atau anggota keluarga yang dapat kamu percaya, untuk mencari dukungan. Ketika sudah merasa siap untuk menceritakannya, kamu bisa memberitahu pengalaman dan perasaanmu terkait trauma. Selain menceritakan, kamu juga dapat mencari dukungan kepada orang terdekat untuk membantu menyelesaikan kewajiban atau tugas rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stres yang timbul. Trauma juga bisa datang akibat kekerasan dalam rumah tangga dalam usia terlalu dini.

4. Menerapkan perawatan diri, Cara ini membantu mengurangi tingkat stres, sehingga perlu dapat membantu pemulihan dari trauma masa lalu. Nah, perawatan diri dapat diterapkan melalui hal-hal yang terasa baik dan mencintai diri sendiri. Contohnya, yaitu melakukan ‘me time’, mandi lebih lama, hingga melakukan berbagai kegiatan positif yang kamu sukai, seperti membaca buku atau menonton film.

Tradisi Tutupan: Fenomena Sosial dan Keagamaan di Pekalongan Menjelang Ramadhan

Penulis: Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Editor: Nanang

Di Pekalongan, banyak tradisi yang populer menjelang datangnya bulan Ramadhan,  salah satunya adalah Tutupan. Istilah  tutupan sering digunakan oleh masyarakat untuk mengakhiri kegiatan-kegiatan rutin yang terkait dengan tradisi yang berkembang dalam bidang sosial keagamaan. Misalnya dilakukan oleh kelompok tahlilan, majelis taklim, marhabanan, diba’an, duraran, serta berbagai macam arisan yang melibatkan komunitas tertentu.

Sebagai sebuah fenomena yang telah turun temurun, tradisi tutupan biasanya menyangkut kegiatan-kegiatan yang berlaku pada  komunitas yang bersifat seremonial dan komunal.  Rutinitas yang melibatkan berbagai latar belakang anggota masyarakat  tersebut menggunakan acuan tahunan, dan  biasanya dimulai dari bulan Syawal hingga bulan Syakban. Begitu masuk pada bulan Sya’ban, terutama setelah Nisfu Syakban, ajakan para anggota untuk mengadakan tutupan mulai bermunculan. Tradisi tutupan ada yang bersifat spontan dan ada yang bersifat terrencana.

Fenomena tutupan juga dilakukan pada satuan pendidikan non formal keagamaan seperti pendidikan Taman Pendidikan Al-Quran, Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pondok Pesantren Salafiyah dan lainnya. Agak berbeda dengan komunitas umum, bentuk tutupan di lingkungan pendidikan non formal keagamaan  lebih bersifat terencana dengan matang. Meskipun begitu, masih tetap bersifat seremonial seperti wisuda, akhirussanah dan lainnya. Berbagai kegiatan tersebut biasanya dirangkai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa spiritual dan seni.  Nuansa spiritual terlihat dari pembacaan zikir seperti pembacaan rotib, Yasin, Tahlil, Simtuddurar, ziyarah dan lainnya. Nuansa kesenian juga cukup menonjol seperti pagelaran musik rebana, music tradisonal, gambusan, drumb band, karnaval dan lainnya, tergantung kesepakatan yang diambil dengan mempertimbangan kondisi keuangan komunitas satun pendidikan.

Apa saja bentuk tutupan yang bersifat spontan? Biasanya, model ini dilakukan oleh komunitas kecil, atau kelompok tertentu dari berbagai usia dan pertemanan. Bentuknya dapat berupa rekreasi di suatu destiansi wisata dalam kota atau luar kota, kegiatan kumpul bareng  dan sejenisanya. Kebiasaan yang biasa disepakti pada saat tutupan berupa ngobrol, bercengkerama, menikmati makan-makan dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Selain melepas kangen dan mempererat pertemanan, tutupan dalam komunitas ini cenderung untuk semakin memantapkan semangat keakraban bersama relasinya.

Terlepas dengan jenis yang spontan atau terencana, tradisi tutupan bukan berarti menutup semua kegiatan tersebut selamanya, dan tidak akan ada lagi kegiatan tersebut. Tutupan ini bersifat sementara, karena akan fokus menjalani ibadah di bulan ramadlan. Oleh karena itu, tutupan tidak bersifat permanen dan akan dilanjutkan lagi setelah Syawalan selesai, tergantung kesepakatan anggota komunitasnya. Dalam menentukan tutupan, ada proses pengambilan keputusan bersama yang mengikat anggota komunitas secara kekeluargaan.

Berbeda dengan tradisi tutupan yang cenderung ceremonial dan komunal, ada sebagian anggota masyarakat yang memaknai tutupan dengan nuansa religius. Melalui tutupan, masyarakat diharapkan mengakhiri bulan Syakban dengan menutup rapat kebiasaan buruk yang biasa dilakukan. Menjelang bulan Ramadlan, segala bentuk perbuatan negatif ditutup, diganti dengan perbuatan yang bermanfaat. Misalnya menutup dan meninggalkan beragam kemaksiatan maupun kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang lain. Dimensi ini  diartikan sebagai upaya menutup jiwa dan raga dari berbagai godaan setan yang mengarah pada tindakan destruktif, sehingga secara batiniyah sudah siap memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih. Melalui hati yang bersih, masyarakat dapat menyiapkan suasana ibadah Ramadan dengan khusuk.

Dengan demikian, istilah tutupan di Pekalongan merupakan tradisi lokal yang memiliki orientasi beragam, tergantung komunitas yang mengadakannya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak praktek lokal wisdom yang berkembang di Pekalongan dan bisa jadi memiliki arti yang berbeda jika diterapkan di daerah lain.  Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya yang dapat menjadi praktek pendidikan karakter publik, tergantung jenis kegiatan tutupan yang dipilihnya. Sepanjang  pengetahuan saya, fenomena tutupan ini merupakan tradisi yang memiliki dampak positif bagi perkembangan komunitas lokal. Eksistensinya semakin menarik untuk dijadikan bahan kajian pengembangan budaya lokal yang dapat diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. WAllahu a’lam bi sh-shawab.

Antropologi Agama: Dinamika Universalitas Islam dan Budaya Lokal dalam Masyarakat Desa Linggoasri

Penulis: M. Irham Amaluddin, Editor: Lulu Salsabilah, Amarul Hakim

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal. Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian, pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam. Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad secara garis besar berbudaya Arab, sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun. Dalam budaya masyarakat secara turun- temurun dapat dipegang teguh dari generasi ke generasi dan meliputi segala aspek kehidupan yang mengakibatkan seluruh perilaku individu sangat dibatasi oleh budaya itu tersebut.

Adat dipandang sebagai karya leluhur, yang senantiasa dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat sebagai warisan. Sehingga adat istiadat yang berhadapan dengan ajaran agama, akan terjadi saling mempengaruhi satu sama lain. Maka, tidak mengherankan jika keduanya bersentuhan dan saling mencoba mencari pengaruh dan kewenangan. Akibatnya, ada ajaran agama yang dikurangi atau ditambah, selain itu juga dapat dihilangkan sama sekali dari ajaran yang semestinya. Hal ini biasa disebut sebagai  ilmu antropologi dengan istilah akulturasi, secara teoretis akulturasi merupakan proses percampuran dua kebudayaan atau lebih, saling bertemu dan saling mempengaruhi. 

Kebudayaan yang kuat dan menonjol dapat mempengaruhi kebudayaan yang lemah dan belum berkembang, dan akulturasi dapat terjadi apabila terdapat kesetaraan relatif antara kedua kebudayaan tersebut. Namun, akulturasi tidak selalu merupakan dampak dari budaya yang kuat terhadap budaya yang lebih lemah. Hal ini bergantung pada sifat interaksi antara dua budaya, yaitu sejauh mana anggota masyarakat dapat memaksa anggota masyarakat lain untuk berintegrasi secara budaya. Ketika sekelompok orang dari satu budaya dihadapkan pada aspek-aspek budaya asing, mereka secara bertahap menyerap karakteristik tersebut ke dalam budaya mereka sendiri tanpa kehilangan identitas budaya mereka sendiri. Proses ini dikenal dengan istilah akulturasi.

Adat menghormati dan mendukung satu sama lain pada perayaan hari raya seperti hari raya Hindu Nyepi dan Melasti, serta perayaan umat Islam tanggal 10 Muharram merupakan salah satu adat istiadat yang dilaksanakan di Desa Linggoasri. Selain itu, meski berbeda keyakinan agama, masyarakat Desa Linggoasri akan saling mendukung dalam acara pernikahan masyarakat itu sendiri. dan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya lokal adalah nilai-nilai yang dipupuk oleh masyarakat di suatu daerah dan terbentuk  secara alamiah dari waktu ke waktu melalui pembelajaran. Budaya lokal juga dapat berubah seni, adat istiadat, tradisi, dan hukum adat semuanya dapat berkontribusi pada pembentukan budaya suatu masyarakat.

Isra Mi’raj: Bentuk Keistimewaan Turunnya Perintah Shalat

Penulis: Aisyah Nurul Aini ,Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Dewasa ini semakin banyak orang muslim yang mulai meninggalkan kewajiban mereka dalam melakukan ibadah shalat. Padahal ibadah shalat yang diwajibkan sebanyak lima waktu dalam sehari ini merupakan ibadah yang memiliki banyak keistimewaan. Diantara keistimewaan shalat yaitu dapat dilihat dari segi penurunan perintahnya yang berkaitan erat dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil haram sampai ke Masjidil Aqsa, kemudian dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini terjadi pada tahun kesedihan atau yang biasa disebut ‘am al-khusni karena pada tahun itu Rasulullah ditinggal wafat oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam dakwah Islam yaitu Khadijah istri Rasulullah dan Abu Thalib paman Rasulullah.

Shalat menjadi ibadah yang diwajibkan baik dalam Al-Qur’an maupun teks-teks keagamaan Islam lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban shalat lima waktu. Namun dalam pelaksanaannya, masih saja banyak umat muslim yang meninggalkan ibadah shalat. Rasa malas dan jenuh menjadi fenomena umum dikalangan kaum muslimin terlebih mereka yang masih menginjak usia remaja. Di antara penyebab malasnya seseorang melaksanakan ibadah shalat yaitu pertama, terjadinya perkembangan teknologi yang kerap membuat lalai akan ibadah. Kedua, kurangnya pemahaman masyarakat terkait keistimewaan ibadah shalat dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai Isra’ Mi’raj yaitu Q.S. Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Mayoritas Ulama tafsir menyatakan bahwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat istimewa. Hal tersebut ditunjukkan melalui pengunaan lafadz Subhana pada awal ayat yang menerangkan Isra’ Mi’raj. Lafadz Subhana yang berarti “Maha Suci” ini hanya terdapat pada awal Surah Al-Isra dan tidak terdapat pada 113 surah lainnya. Dengan adanya hal tersebut nyata bahwa Isra’ Mi’raj ini merupakan peristiwa dahsyat sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap hamba-Nya yang paling istimewa yaitu Rasulullah SAW.

Puncak dari peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu diperintahkannya shalat lima waktu. Shalat menjadi ibadah yang istimewa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, karena perintahnya datang bersamaan dengan peristiwa agung yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah kehidupan manusia. Shalat menjadi cara spiritual bagi seorang hamba untuk naik derajat spiritual menuju Sang Maha Spiritual. Shalat juga dapat menjadi benteng yang mencegah perbuatan keji terhadap sesama mahluk hidup yang mana hal tersebut hanya bisa dimiliki oleh manusia yang memiliki derajat spiritual.

Dapat disimpulkan bahwa shalat merupakan ibadah yang jelas disebutkan kewajibannya dalam Al-Qur’an dan teks-teks keagamaan Islam lainnya. Namun sayangnya masih banyak orang-orang yang mengaku muslim namun enggan melaksanakan shalat. Salah satu penyebab keengganan mereka dalam melaksanakan shalat adalah karena kurangnya pemahaman mereka terhadap pemaknaan shalat. Mereka kurang memperhatikan bahwa shalat merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW langsung tanpa adanya perantara. Perintah ibadah shalat diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj menjadi cara Allah untuk menghibur Nabi yang ketika itu baru saja ditinggal wafat oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya, juga sebagai cara Allah menunjukkan keagungan kuasanya. Hal itu sebagai bukti anugerah dan kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW juga sebagai bentuk kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya.

Sosok KH. Taufiqul Hakim dalam Modernisasi Pendidikan Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi dalam Pembangunan Karakter dan Kualitas Manusia

Penulis: Salma Mustafidah, Editor: Muhamad Nurul Fajri, Amarul Hakim

Pendidikan adalah sebuah investasi yang paling strategis untuk kemajuan negara di masa mendatang. Negara-negara maju biasanya mengirimkan kader penerus terbaiknya unuk dapat mempelajari ilmu pengetahuan ataupun teknologi di negara lain yang lebih maju agar ketika mereka kembali dengan segala ilmu yang sudah didapatkan dan dapat membangun negaranya menjadi bangsa yang produktif dan kompetitif. Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi tiga: formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal seringkali disebut sebagai pendidikan yang paling unggul. Padahal sudah terbukti dalam sebuah sejarah bahwa pendidikan informal dan nonformal mampu membangun karakter yang kokoh sebagai tempat bersemayamnya ilmu tunas bangsa yang berkualitas tinggi. Pesantren masuk kedalam kategori pendidikan nonformal yang telah mampu melahirkan banyak tokoh dan ulama bangsa yang mempunyai peran besar dalam merebut kemerdekaan dan mengisi pembangunan dari berbagai aspek kehidupan.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan sosial keagamaan. Dalam sejarah lahirnya pesantren, unsur pertamanya adalah seorang kyai karena kyai inilah tokoh utama dalam berdirinya pesantren. Dalam pesantren juga mampu melahirkan tokoh bangsa yang berkualitas tinggi. Harapan terbesar pesantren adalah santrinya menjadi kyai di tengah masyarakat. Ilmu yang telah diajarkan di pesantren lalu diamalkan atau diajarkan kepada masyarakat dengan keteladanan dan ketekunan sehingga dapat memikat daya tarik masyarakat dan menyuruh anaknya untuk belajar kepedanya. Pengakuan masyarakat terhadap keilmuan dan perjuanagan yang dimiliki seseorang tersebutlah yang akan melahirkan label ‘kyai’, karena kyai tidak berlabel dari pesantren tetapi dari masyarakat.

Keunggulan pendidikan pesantren terdapat pada banyak aspek : Pertama, internalisasi pendidikan karakter. Karakter merupakan pondasi mental seseorang, sehingga pembangunan karakter adalah sebuah prioritas agar bangunan diatasnya tidak goyah serta terombang-ambing oleh cobaan kehidupan. Kedua, membangun mental ‘self study’ (belajar secara otodidak). Di pesantren diajarkan ilmu nahwu sharaf supaya santri mampu dapat mengkaji sendiri kitab-kitab yang besar tanpa dibimbing langsung oleh guru. Ketiga, memberikan wawasan social. Pesantren pasti memiliki visi yang dapat membangun masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan lain sebagainya. Keempat, memperkuat aspek transedensi bahwa segala kegiatan yang dilakukan manusia bertujuan dalam rangka menggapai Ridha Allah SWT. Kelima, memberikan kemampuan berkolaborasi dalam kebaikan. Keenam, melatih ‘riyadhoh’ (tirakat). Ketujuh, membangun alaqah bathiniyah (hubungan antara kyai dan santri selam-lamanya, baik ketika guru masih hidup maupun sudah wafat).

Taufiqul Hakim adalah sosok kyai yang hidup di era keterbukaan, sehingga sangat memungknkan menyerap berbagai perubahan modern yang terjadi. Beliau bukanlah sosok pasif yang hanya menunggu datangnya perubahan, justru beliau adalah sosok yang sangat aktif yang menyerap dan mempelopori segala perubahan agar perubahan tersebut dapat sesuai dengan syari’at Islam. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan gagasan modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan diaplikasikan oleh beliau KH. Taufiqul Hakim sehingga dikenal oleh kalangan publik dan menjadi salah satu solusi stagnasi pendidikan dalam bidang pembangunan karakter, kompetensi keilmuan, dan dedikasi sosial. Pemikiran modernisasi pendidikan pesantren oleh KH. Taufiqul Hakim diantaranya dengan : membangun sistem yang kuat, pendidikan karakter secara berkelanjutan, kekuatan fokus, menggunakan metode syiir, gradualisasi dalam pendidikan, akselerasi kualitas serta kaderisasi.

Taufiqul Hakim tidak hanya sekedar berteori. Justru kekuatan utama beliau adalah turun langsung melakukan modernisasi pendidikan pesantren di pesantren yang beliau rintis. Beliau menawarkan kurikulum unggulan yang telah terbukti dapat mencetak kader-kader muda yang berkualitas. Kurikulum ini telah diuji coba dan didemonstrasikan kepada orang lain sehunga dapat terlihat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya ditingkatkan dan kelemahannya dihilangkan. Proses inilah yang membuat ide-ide orisional KH. Taufiqul Hakim terus berjalan seiring berkembangnya zaman. Salah satu dari bukti praktek modernisasi pendidikan pesantren beliau adalah “Amstilati”. Amtsilati adalah buah pemikiran KH. Taufiqul Hakim yang menjadi branding keilmuannya. Amtsilati adalah gerakan pertama modernisasi pendidikan yang menjadikan kualitas dengan waktu yang  sangat efisien. Dari kitab Alfiyah Ibnu Malik yang berjumlah seribu bait dibuat ringkas hingga delapan puluh tiga bait dan dilengkapi dengan contoh-contoh dari Al-Qur’an. Untuk memahami lebih praktis Amtsilati ini, KH. Taufiqul Hakim membuat dua alat bantu. Pertama, rumus dan kaidah yang diberi nama Qaidati. Kedua, praktek penerapan rumus yang diberi nama Tatimmatun.

Modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan dipraktekkan oleh KH. Taufiqul Hakim mampu menarik perhatian publik. Publik menilai terobosan modernisasi pendidikan pesantren KH. Taufiqul Hakim mampu menggabungkan dimensi salaf dan kholaf sekaligus. Amtsilati dan terobosan KH. Taufiqul Hakim yang lain relevan dengan tuntutan era kekinian yang mengedepankan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas dalam mengambil dan mengambangkan ilmu. Terdapat beberapa indicator, diantaranya : embangun karakter, membangun kompetensi, berbasis kualitas, berbasis kreativitas, dan integrasi ilmu, amal dan dakwah. Karena semakin besar dan banyak orang yang merasakan manfaat ilmu dan perjuangannya, maka semakin besar pula nilainya di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. Semua proses tersebut harus dilandasi dengan nilai keikhlasan karena hanya mengharap Ridha Allah SWT sebagai syarat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.  Wallahu a’lam……

Rekonstruksi Paradigma Isra’ Mi’raj Melalui Pendekatan Harmonisasi Sains dan Agama Bagi Anak Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang sarat akan makna spiritual. Masyarakat muslim pada umumnya mengetahui peristiwa Isra’ Mi’raj ialah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atas perintah Allah swt. Dengan didampingi malaikat Jibril, Rasulullah melakukan perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha, dan menerima perintah shalat.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Seperti diantaranya nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang yang dimiliki Rasulullah dan diberikan kepada umatnya dengan negosiasi Rasulullah kepada Allah swt. terkait perintah shalat. Selain itu, melalui peristiwa ini Allah swt. memberikan anugerah bagi umat-Nya yang dicontohkan kepada diri Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Hingga tahun terjadinya peristiwa tersebut dinamakan sebagai ‘Amul Khusni. Atas kejadian tersebut, Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang berduka. Dengan terjadinya peristiwa isra’ mi’raj yang kemudian menjadi tonggak atas turunnya perintah sholat lima waktu, serta menjadikan sholat sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan umat Islam dan akan menjadi sebuah pertanggung jawaban yang ditanyakan di yaumil kiyamah kelak.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut ternyata bukan hanya sebuah kejadian yang memiliki makna spiritual saja. Namun, Isra’ Mi’raj juga bisa dikaji melalui paradigma sains. Kajian inilah yang kemudian dapat menjadi bahan berpikir kritis anak muda kedepannya mengenai peristiwa-peristiwa bernuansa agamis yang tidak hanya dipandang dari segi agamanya saja, namun juga dapat dipandang melalui kacamata sains atau ilmu pengetahuan umum.

Apabila ditinjau dari Firman Allah swt. Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalam) saja? Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbesit dibenak umat islam yang memiliki pemikiran kritis. Oleh karena itu, pendekatan sains merupakan salah satu langkah dalam menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.

Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga seseorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Darisinilah kemudian paradigma harmonisasi sains dan agama diperlukan dalam memahami sebuah peristiwa yang bersifat spiritual yang kemudian dapat membuka pola pikir baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Pandangan sains memberikan perspektif kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadikan agama dan sains, yang sebelumnya dikatakan saling bertentangan beralih menjadi sebuah sudut pandang yang harmonis dan saling melengkapi. Pendekatan harmonisasi sains dan agama juga membantu umat Islam, khususnya generasi muda, untuk merancang pola pikir kritis dan analitis. Dengan demikian anak muda akan menjadi lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama dan memperlancar pemahaman yang lebih luas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.

Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990

Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48

Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.

Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641

Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35

Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa

Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373

Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143

Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.

Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.

Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Rekonstruksi Paradigma Isra’ Mi’raj Melalui Pendekatan Harmonisasi Sains dan Agama Bagi Anak Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang sarat akan makna spiritual. Masyarakat muslim pada umumnya mengetahui peristiwa Isra’ Mi’raj ialah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atas perintah Allah swt. Dengan didampingi malaikat Jibril, Rasulullah melakukan perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha, dan menerima perintah shalat.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Seperti diantaranya nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang yang dimiliki Rasulullah dan diberikan kepada umatnya dengan negosiasi Rasulullah kepada Allah swt. terkait perintah shalat. Selain itu, melalui peristiwa ini Allah swt. memberikan anugerah bagi umat-Nya yang dicontohkan kepada diri Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Hingga tahun terjadinya peristiwa tersebut dinamakan sebagai ‘Amul Khusni. Atas kejadian tersebut, Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang berduka. Dengan terjadinya peristiwa isra’ mi’raj yang kemudian menjadi tonggak atas turunnya perintah sholat lima waktu, serta menjadikan sholat sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan umat Islam dan akan menjadi sebuah pertanggung jawaban yang ditanyakan di yaumil kiyamah kelak.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut ternyata bukan hanya sebuah kejadian yang memiliki makna spiritual saja. Namun, Isra’ Mi’raj juga bisa dikaji melalui paradigma sains. Kajian inilah yang kemudian dapat menjadi bahan berpikir kritis anak muda kedepannya mengenai peristiwa-peristiwa bernuansa agamis yang tidak hanya dipandang dari segi agamanya saja, namun juga dapat dipandang melalui kacamata sains atau ilmu pengetahuan umum.

Apabila ditinjau dari Firman Allah swt. Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalam) saja? Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbesit dibenak umat islam yang memiliki pemikiran kritis. Oleh karena itu, pendekatan sains merupakan salah satu langkah dalam menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.

Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga seseorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Darisinilah kemudian paradigma harmonisasi sains dan agama diperlukan dalam memahami sebuah peristiwa yang bersifat spiritual yang kemudian dapat membuka pola pikir baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Pandangan sains memberikan perspektif kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadikan agama dan sains, yang sebelumnya dikatakan saling bertentangan beralih menjadi sebuah sudut pandang yang harmonis dan saling melengkapi. Pendekatan harmonisasi sains dan agama juga membantu umat Islam, khususnya generasi muda, untuk merancang pola pikir kritis dan analitis. Dengan demikian anak muda akan menjadi lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama dan memperlancar pemahaman yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.

Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990

Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48

Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.

Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641

Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35

Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa

Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373

Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143

Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.

Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.

Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Rekonstruksi Pemahaman Isra’ Mi’raj: Perspektif Interdisipliner Al-Qur’an dan Sains Untuk Generasi Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dewasa ini pemahaman mayoritas muslim, khususnya generasi muda mengenai isra’ mi’raj masih sebatas pemahaman dogmatis bersifat transendental yang pengkajiannya hanya melalui pendekatan agama saja. Padahal sudah banyak teori-teori sains yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut sangat saintifik, tidak hanya transendental.

Peristiwa isra’ mi’raj sendiri merupakan suatu peristiwa penting sepanjang sejarah Islam yang sarat akan makna spiritual dan sudah mendarah daging dalam tradisi keagamaan masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Peristiwa isra’ mi’raj bagi masyarakat umumnya identik dengan peristiwa dimana Nabi Muhammmad saw. yang didampingi malaikat Jibril melakukan suatu perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerussalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Nilai-nilai yang diantaranya bisa dijadikan ibrah mulai dari nilai kejujuran yang selalu melekat dalam diri Rasulullah, nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang. Nilai kasih sayang disini bukan hanya bisa dilihat dari sikap Rasulullah yang mau bolak-balik bernegosiasi dengan Allah untuk meminta keringanan bagi umat beliau.

Namun, nilai kasih sayang itu juga bisa dilihat dari bagaimana Allah memberikan anugerah bagi umat-Nya yang Ia contohkan kepada diri Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah (disebut ‘amul khusni). Sehingga Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang dirundung duka lara. Selain itu, peristiwa isra’ mi’raj ini juga menjadi bukti sekaligus penguat betapa penting dan utamanya ibadah salat 5 waktu ini. Bahkan salat diibaratkan sebagai tiangnya agama, dan salat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab di yaumul qiyamah kelak.

Hanya sebatas itulah peristiwa isra’ mi’raj dipahami oleh sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Padahal jika kita resapi dan pahami lebih dalam, kajian ilmiah terkait peristiwa isra’ mi’raj ini tidak melulu berkutat pada pembahasan mengenai salat dan keutamannya saja. Tetapi bisa lebih luas dari pada itu. Terlebih bagi generasi muda yang saat ini hidup dalam realitas modern dan harus menghadapi tantangan dari pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Maka, dalam konteks saat ini dibutuhkan sebuah pendekatan baru yang lebih relevan untuk menyingkap makna lain dibalik peristiwa isra’ mi’raj yang notabene-nya wajib diimani oleh setiap muslim. Pendekatan sains dengan berbagai metode dan teori dipandang dapat mengungkap realitas bagaimana fenomena alam yang pernah ada bisa terjadi, bahkan fenomena alam yang sulit dicerna akal sekalipun. Hal ini menyebabkan banyak fenomena alam yang pernah terjadi dan sebelumnya hanya dianggap sebagai sebuah mitos belakangan ini menemukan titik terang karena ternyata bisa dijelaskan melalui pendekatan sains.

Peristiwa isra’ mi’raj ini termasuk dalam peristiwa yang secara tidak langsung bersinggungan dengan sains. Bagaimana tidak, apabila kita cermati Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalaman) saja? Mungkin di benak sebagian orang yang berpikiran kritis akan muncul pertanyaan seperti yang telah disebutkan diatas. Nah, pertanyaan-pertanyaan tadi di era pesatnya ilmu pengetahuan seperti sekarang ini bisa dicarikan jawabannya melalui pendekatan sains.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Teori-teori fisika mengenai cahaya menyebut tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.
Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga sesorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Dari penjabaran diatas, bisa kita ketahui bersama bahwa peristiwa isra’ mi’raj mengandung unsur-unsur metaforis yang menjadi simbol kasih sayang dan kebesaran Allah Swt. Mengkaji isra’ mi’raj dengan kaca mata lain menghilangkan paradigma dogmatis kita yang secara serta merta menerima segala hal yang berasal dari agama, dan menganggap mengakaji atau mengkritisi hal tersebut sesuatu yang menyalahi dan dilarang.
Padahal kita sebagai generasi muda harus mampu menyelaraskan antara pemahaman agama yang berasal dari al-Qur’an dengan pemahaman umum, sesuai dengan jargon al-Qur’an yang dianggap shalih li kulli zaman wa makan. Dengan begitu, al-Qur’an bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan problem umat masa kini yang lebih kompleks ketimbang problem yang terjadi pada zaman dahulu.

Melakukan upaya rekonstruksi terhadap pemahaman mengenai isra’ mi’raj melalui perspektif sains dinilai penting untuk dilakukan guna membuka paradigma baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Perspektif sains memberikan pandangan kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental.

Selain itu, bukan hanya memperluas pemahaman dan membuka paradigma baru saja, tetapi upaya pengkaitan interdisipliner tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa agama dan sains bukanlah dikotomi yang saling bertentangan, sebab bisa diintegrasikan. Dengan demikian, keraguan yang mungkin muncul pada saat melakukan upaya untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama bisa dihindari dan ditemukan jawabannya.
Pendekatan interdisipliner yang mengkaitkan antara al-Qur’an dan Sains juga membantu umat Islam, terutama bagi generasi mudanya untuk mengembangkan pola pikir kritis dan analitis mereka. Dengan begitu, mereka akan lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama, yang sebelumnya sukar dinalar.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.
Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990
Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48
Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.
Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641
Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index
Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35
Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa
Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373
Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143
Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.
Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.
Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Moderasi Beragama: Harmoni dalam Kehidupan Desa Linggoasri

Penulis: Dhimas Nur Afif Adji, Editor: Ika Amiliya N, Amarul Hakim

Indonesia, dengan kekayaan budaya dan keberagaman etnis serta agama yang dimilikinya, telah menjadi laboratorium unik bagi praktek moderasi beragama. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan rumah bagi berbagai komunitas agama lainnya seperti Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya. Dalam konteks ini, moderasi beragama bukan hanya menjadi konsep teoretis, tetapi juga realitas sosial yang harus dihadapi dan diterapkan. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat terungkap bagaimana moderasi beragama menjadi kunci penting dalam memastikan keberlanjutan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Desa Linggoasri, salah satu desa di Kabupaten Pekalongan menjadi miniatur Indonesia karena keberagamannya, terutama keberagaman dalam hal agama. Hal tersebut tentu sangat menarik perhatian masyarakat untuk mengetahui keberadaannya. Salah satunya oleh sekelompok mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjalankan studi riset di desa tersebut. Harmoni dan keindahan moderasi beragama menjadi ciri khas kehidupan sehari-hari warganya. Para mahasiswa berinteraksi dengan narasumber yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menanamkan prinsip moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat Linggoasri. Salah satunya adalah Taswono, seorang penganut Hindu, dan Mustajirin, seorang pemeluk agama Islam. Keduanya dengan tulus berbagi pandangan mereka tentang bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan dan tetap terjaga di setiap tradisi keagamaan yang ada di Linggoasri.

Dalam tradisi Hindu, seperti dalam banyak tradisi keagamaan lainnya, moderasi atau kedamaian dalam beragama sering kali diterapkan melalui ajaran moral dan etika yang mendalam. Salah satu konsep yang mendasari moderasi beragama dalam konteks Hindu adalah Catur Pramita, yang berarti “empat kemuliaan sempurna” atau “empat kualitas yang luhur”. Catur Pramita ini mencakup:

  1. Maitri: Maitri diterjemahkan sebagai “kasih sayang” atau “cinta kasih”. Ini adalah perasaan kasih sayang tanpa pamrih yang diperluas kepada semua makhluk tanpa terkecuali. Dengan mengembangkan Maitri seseorang berupaya untuk mengembangkan perasaan kebaikan dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
  2. Karuna: Karuna diterjemahkan sebagai “belas kasih” atau “kasih sayang mendalam”. Ini adalah empati yang mendalam terhadap penderitaan makhluk lain dan keinginan kuat untuk mengurangi atau mengakhiri penderitaan tersebut. Karuna mendorong seseorang untuk bertindak dengan kebaikan dan membantu orang lain dalam kesulitan.
  3. Mudita: Mudita diterjemahkan sebagai “kesenangan atas keberuntungan orang lain” atau “kegembiraan bersama”. Ini adalah perasaan sukacita yang timbul ketika seseorang melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau kebaikan orang lain. Mudita mengajarkan seseorang untuk merasa gembira dan bersyukur atas keberhasilan dan kebahagiaan orang lain, tanpa rasa iri atau dengki.
  4. Upeksha: Upeksha diterjemahkan sebagai “ketenangan pikiran” atau “keseimbangan”. Ini adalah sikap pikiran yang stabil dan tenang dalam menghadapi berbagai keadaan, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Upeksha mengajarkan seseorang untuk tetap netral dan tidak terjebak dalam emosi yang berlebihan, sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak.

Selanjutnya, dari perspektif keagamaan Islam, warga Desa Linggoasri berpegang teguh pada empat prinsip utama Alhu sunnah wal Jamaah, yakni:

  1. Tasamuh (Keterbukaan): Tasamuh merujuk pada sikap terbuka dan menerima keberagaman pendapat serta kepercayaan dalam komunitas. Hal ini menegaskan penghormatan terhadap variasi dalam agama, budaya, dan pandangan dunia.
  2. Tawasuth (Ketengah-tengahan): Tawasuth menandakan pentingnya memelihara ketengahan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti agama, pekerjaan, dan interaksi sosial, tanpa terjerumus ke dalam ekstremisme atau perilaku berlebihan.
  3. Taadul (Keadilan): Taadul berbicara tentang prinsip keadilan yang memastikan bahwa setiap individu diberikan hak yang sama dan semua keputusan diambil berdasarkan prinsip keadilan, tanpa adanya diskriminasi atau ketidakadilan.
  4. Tawazun (Keseimbangan): Tawazun mengajak untuk menjaga harmoni dalam setiap aspek kehidupan. Ini mengingatkan kita untuk memiliki pendekatan yang seimbang terhadap tuntutan agama, tugas, dan interaksi sosial, serta menghindari ekstremisme atau perilaku yang berlebihan.

Di tiap sudut Desa Linggoasri, nuansa damai selalu terasa. Melalui nuansa ini, kita diajak untuk menghargai keberagaman dan mempromosikan semangat persatuan. Bersama-sama, Desa Linggo Asri menjadi simbol di mana moderasi keagamaan bukan hanya konsep, tetapi juga menjadi prinsip hidup yang dijalankan dengan kasih sayang.

Nyadran: Tradisi Penghormatan Leluhur dalam Bingkai Nilai-Nilai Islam di Dusun Silawan Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, Editor: Amarul Hakim

Tradisi Nyadran merupakan sebuah ritual atau tradisi yang khas dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama di daerah pedesaan, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Tujuannya tidak hanya sekadar memberikan penghormatan kepada roh leluhur, tetapi juga untuk mempererat hubungan antara generasi yang masih hidup dengan mereka yang telah tiada. Di Kabupaten Pekalongan, tradisi ini turut dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Silawan Desa Kutorojo Kecamatan Kajen.

Pelaksanaan Tradisi Nyadran berlangsung di makam Ki Gede Kertasari, yang merupakan lokasi bersejarah bagi masyarakat Dusun Silawan. Tradisi ini digelar setiap 70 hari sekali, tepatnya pada hari Rabu Kliwon pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Selain itu terkhusus untuk hari Rabu Kliwon dibulan Suro, masyarakat bergotong royong menyembelih kambing untuk dijadikan lauk sarapan. Ki Gede Kertasari sendiri diakui sebagai tokoh yang membuka lahan pertama di Dusun Silawan, sehingga memiliki makna yang mendalam bagi warga setempat.

Partisipasi dalam Tradisi Nyadran cukup meluas. Mulai dari Kepala Dusun, Ketua RT, tokoh adat masyarakat, hingga ustadz dan seluruh masyarakat Dusun Silawan turut serta dalam pelaksanaannya. Setiap orang yang hadir membawa be makanan yang menjadi santapan bagi masyarakat setempat, seperti nasi, megono, lalapan, gorengan, dan berbagai lauk lainnya.

Rangkaian acara Tradisi Nyadran mencakup beberapa tahapan penting. Mulai dari pembakaran dupa atau kemenyan di makam Ki Gede Kertasari, hingga bersih-bersih makam tersebut yang kemudian dilanjutkan ke makam keluarga masyarakat Dusun Silawan yang telah meninggal. Ada juga sambutan dari Kepala Dusun Silawan, yakni Bapak Kisworo, serta pembacaan doa atau tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Wahid, seorang alumni Pondok Pesantren At-Taufiq Wonopringgo.

Tradisi Nyadran tidak hanya merupakan sebuah ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara masyarakat. Selesai dari serangkaian kegiatan, acara biasanya ditutup dengan sarapan bersama sebagai bentuk silaturahmi dan kebersamaan yang lebih lanjut. Dengan demikian, Tradisi Nyadran tidak hanya menjadi warisan budaya yang berharga, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Praktek kehidupan keberagamaan masyarakat Jawa tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang sudah berurat akar di masyarakat. Tradisi ini syarat dengan nilai-nilai spiritual, etika dan kemanusiaan. Sangat disayangkan, jika tradisi ini punah oleh ajaran yang secara sepihak menganggapnya sebagai “aneh, sesat, kafir”, dst. Ber Islam, bukan berarti menanggalkan budaya, sebagai identitas dan ciri khas masyarakat Indonesia. Indahnya keharmonian…