Harmoni Menuju Kemajuan: Inisiatif Koperasi Moderasi Beragama di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Pewarta: M. Syukron Ni’am dan Eva Novitasari, Editor: Ika Amiliya N.

Pada Kamis, tanggal 7 Maret 2024, sebuah kegiatan penyuluhan pendirian koperasi moderasi beragama diadakan di Balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bekerjasama dengan Pusat Moderasi Beragama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian dan menyatukan keberagaman agama serta kepercayaan masyarakat di Desa Kutorojo.

Pada kesempatan tersebut, Bani Prayogi, S.Psi. dari Dinas Koperasi Kabupaten Pekalongan, hadir sebagai pemateri. Peserta yang hadir adalah masyarakat Desa Kutorojo yang beragam dari segi agama dan kepercayaan. Latar belakang diadakannya penyuluhan ini antara lain adalah belum adanya koperasi di Desa Kutorojo, serta kebutuhan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal.

Penyuluhan ini bertujuan untuk menyatukan elemen masyarakat Desa Kutorojo, memenuhi kebutuhan mereka, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam penyuluhan tersebut, Bani Prayogi menjelaskan secara rinci tentang pembentukan koperasi, termasuk dasar hukum, definisi, jenis-jenis koperasi, prinsip-prinsipnya, struktur kepengurusannya, dan mekanisme pembentukannya.

Dengan informasi yang disampaikan oleh Bani Prayogi, diharapkan masyarakat Desa Kutorojo dapat lebih memahami pentingnya mendirikan koperasi dan bagaimana cara melakukannya. Melalui koperasi, diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kutorojo dapat ditingkatkan secara signifikan. Pengurus koperasi nantinya terdiri dari masyarakat lintas agama dan organisasi masyarakat (Ormas).

Kegiatan penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesejahteraan bersama di Desa Kutorojo. Dengan kerja sama antara Mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan Desa Kutorojo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan koperasi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, sambil tetap memperhatikan dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan.

Harmoni Menuju Kemajuan: Inisiatif Koperasi Moderasi Beragama di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Pewarta: M. Syukron Ni’am dan Eva Novitasari, Editor: Ika Amiliya N.

Pada Kamis, tanggal 7 Maret 2024, sebuah kegiatan penyuluhan pendirian koperasi moderasi beragama diadakan di Balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bekerjasama dengan Pusat Moderasi Beragama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian dan menyatukan keberagaman agama serta kepercayaan masyarakat di Desa Kutorojo.

Pada kesempatan tersebut, Bani Prayogi, S.Psi. dari Dinas Koperasi Kabupaten Pekalongan, hadir sebagai pemateri. Peserta yang hadir adalah masyarakat Desa Kutorojo yang beragam dari segi agama dan kepercayaan. Latar belakang diadakannya penyuluhan ini antara lain adalah belum adanya koperasi di Desa Kutorojo, serta kebutuhan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal.

Penyuluhan ini bertujuan untuk menyatukan elemen masyarakat Desa Kutorojo, memenuhi kebutuhan mereka, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam penyuluhan tersebut, Bani Prayogi menjelaskan secara rinci tentang pembentukan koperasi, termasuk dasar hukum, definisi, jenis-jenis koperasi, prinsip-prinsipnya, struktur kepengurusannya, dan mekanisme pembentukannya.

Dengan informasi yang disampaikan oleh Bani Prayogi, diharapkan masyarakat Desa Kutorojo dapat lebih memahami pentingnya mendirikan koperasi dan bagaimana cara melakukannya. Melalui koperasi, diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kutorojo dapat ditingkatkan secara signifikan. Pengurus koperasi nantinya terdiri dari masyarakat lintas agama dan organisasi masyarakat (Ormas).

Kegiatan penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesejahteraan bersama di Desa Kutorojo. Dengan kerja sama antara Mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan Desa Kutorojo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan koperasi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, sambil tetap memperhatikan dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan.

Sanggar Seni Lingga Laras: Teladan Toleransi Agama dan Persaudaraan di Desa Linggoasri

Penulis: Shifa Ismaya, Editor: Faiza Nadilah

Sebagai negara multikultural, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, suku, bahasa, bahkan agama. Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan suatu kekayaan dan keindahan bagi bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Dengan enam agama yang diakui, menambah keanekaeragaman yang dimiliki bangsa Indonesia yang bukan hanya mampu menjadi pengikat ataupun perekat masyarakat, namun dengan adanya keberagaman juga dapat menyebabkan terjadinya benturan antar keragaman bahkan konflik perpecahan yang dapat merugikan banyak pihak. Adanya keragaman di Indonesia mengharuskan kita sebagai anak bangsa menghindari sikap ekstrimisme dan intoleransi, terutama dalam beragama. Oleh karena itu, moderasi beragama perlu diterapkan guna menjaga keharmonisan suatu bangsa.

Moderasi beragama adalah jalan tengah yang berprinsip pada keadilan dan keberimbangan yang menjadikan seseorang tidak ekstrim dalam melaksanakan kehidupan beragama, dimana sebagai warga negara Indonesia kita dituntut untuk bersikap moderat dalam menghadapi keberagaman. Moderat dalam beragama berarti berperilaku, bersikap, dan memiliki cara pandang yang adil dan tidak ekstrim dalam beragama. Contohnya dengan tidak bersikap fanatik yaitu selalu menganggap ajaran agama yang dianut paling benar dan menganggap salah ajaran agama lain. Seseorang dapat dikatakan moderat apabila mampu memenuhi empat  indikator, yaitu: komitmen terhadap kebangsaan, anti kekerasan, akomodatif terhadap budaya lokal, serta toleransi. 

Setiap warga negara memiliki kebebasan dalam menentukan agama yang dianut, sehingga menjadikan Indonesia memiliki keberagaman agama. Toleransi merupakan sikap yang penting dalam kehidupan beragama. Toleransi atau tasamuh merupakan suatu kemampuan dalam menerima suatu perbedaan. Toleransi dalam agama memiliki arti suatu sikap memberikan kebebasan kepada orang lain dalam beribadah sesuai keyakinan yang diyakininya, serta tidak beranggapan bahwa apapun yang melekat pada diri sendiri lebih unggul dan tidak mengarah pada niat yang ditujukan untuk melakukan kekerasan fisik atau psikologis terhadap orang lain yang memiliki perbedaan dengan kita. Setiap agama mengajarkan bukan hanya toleransi melainkan banyak hal seperti saling memahami, saling menyayangi, saling menghargai dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Adanya sikap toleransi dapat menghilangkan kesenjangan dalam kehidupan bermasyarakat, mencegah terjadinya konflik perpecahan, serta persatuan dan kesatuan bangsa dapat terlestarikan. Sehingga dalam hal ini sikap toleransi perlu ditumbuhkan sejak dini.

Contoh nyata dari sikap toleransi agama sejak dini dapat dilihat pada sikap anak-anak Sanggar Seni Lingga Laras yang berada di Desa Linggoasri, kabupaten Pekalongan yang merupakan desa sadar kerukunan dan kampung moderasi beragama karena terdapat berbagai macam agama yang mampu hidup berdampingan. Sanggar Seni Lingga Laras merupakan suatu wadah dalam melestarikan kesenian seperti seni drama, karawitan, dan seni tari. Sanggar ini berdiri sejak tahun 2016 dan masih eksis sampai saat ini. Sanggar Seni Lingga Laras menjadi ruang kesenian sebagai alat pemersatu antar umat beragama yang ada di Desa Linggaasri karena siapapun dapat melakukan seni tanpa memandang kepercayaan yang dianut. Peserta Sanggar Seni Lingga Laras awalnya mayoritas pemeluk agama Hindu namun seiring berjalannya waktu peserta sanggar tersebut terdiri dari berbagai latar belakang agama namun mampu berdampingan dan hidup rukun. Adanya sanggar Seni Lingga laras tentu saja dapat memperkuat persaudaraan dan mampu menciptakan rasa saling memahami antar individu. Menurut penuturan Ibu Sri, selaku anggota aktif dari Sanggar Seni Lingga Laras mengatakan bahwa sikap toleransi agama pada anak-anak sudah muncul dengan sendirinya tanpa perlu arahan dari orang tua ataupun pendidik di Sanggar, contoh kecilnya tidak membeda-bedakan dalam berteman dan mereka saling mengingatkan untuk berdoa sebelum makan sesuai dengan agama masing-masing. Contoh kecil tersebut merupakan dampak dari lingkungan hidup, dimana mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan yang tinggi akan toleransi beragama, sehingga mereka tanpa sadar sudah menerapkan sikap toleransi agama sejak kecil. Pentingnya menerapkan toleransi agama dalam kehidupan bermasyarakat merupakan perwujudan rasa tanggung jawab dan kesadaran kita sebagai warga negara dalam menjaga perdamaian, kerukunan, persatuan dan kesatuan. Seperti halnya semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang menekankan persatuan di tengah perbedaan.

Harmoni Budaya: Adaptasi Masyarakat Non-Hindu dalam Pertunjukan Ogoh-Ogoh

Penulis: Maulana Akhmad Nurfauzi, Editor: Kharisma Shafrani, Amarul Hakim

Seni adalah produk dari tingkah laku manusia yang dilakukan secara sadar, yang didasari oleh pikir serta olah rasa. Seni pertunjukan adalah aspek-aspek yang divisualisasikan dan diperdengarkan mampu mendasari suatu perwujudan yang disebut sebagai seni pertunjukan. Pertunjukan memiliki tiga unsur pokok yaitu pertunjukan adalah peristiwa yang secara ketat atau longgar bersifat terancang, sebagai sebuah interaksi sosial dengan ditandai kehadiran fisik para pelaku dan peristiwa pertunjukan terarah pada ketrampilan dan kemampuan olah diri jasmanai serta rohaniatau kedua-duanya.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian butha kala. Dalam ajaran Hindhu Dharma, butha kala mempresentasikan kekuatan alam semesta (Butha) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Perwujudan patung ogoh ogoh yang dimaksud adalah sosok butha kala yang sering digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya diwujudkan dalam bentuk raksasa. Selain wujud raksasa, ogoh-ogoh biasanya digambarkan dengan makhluk-makhluk atau hewan yakni seperti gajah, naga, kera, babi, dan sebagainya.

Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung yang beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia. Boneka tersebut dahulu terbuat dari kerangka bambu yang dilapisi kertas. Seiring waktu, kebanyakan ogoh-ogoh saat ini dibuat dengan bahan dasar sterofoam karena menghasilkan bentuk tiga dimensi yang lebih halus. Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi. Waktu pembuatan ogoh-ogoh dapat bervariasi bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut. Fungsi utama ogoh-ogoh yakni digunakan sebagai representasi butha kala yang dibuat menjelang hari Nyepi. Setelah ogoh ogoh dibuat, kemudian diarak beramai-ramai keliling desa pada satu hari sebelum hari Nyepi.

Pertunjukan ogoh-ogoh dilaksanakan sesuai kondisi alam dan sumber daya manusia yang ada di Desa Linggoasri. Bentuk boneka ogoh-ogoh yang dibuat di Desa Linggoasri memiliki tinggi sekitar 2,5 m dan lebar sekitar 1,5 m. Ogoh-ogoh pada pertunjukan tahun ini terdiri dari 2 boneka. Boneka yang pertama merupakan perwujudan manusia raksasa yang memiliki dua mata besar, mulut lebar dan bergigi taring, berwarna hijau, berkuku panjang, dan berambut panjang tebal. Manusia yang tergambar pada boneka tersebut merupakan sifat manusia yang serakah, mudah marah, dengki, dan jahat. Pada kaki manusia tersebut ditumpangi kepala hewan kera. Kera dipilih karena kera sendiri dipandang memiliki sifat yang licik. Boneka kedua digambarkan menyerupai tubuh manusia yang berkepala babi. Pemilihan hewan babi sebagai bentuk boneka ogoh-ogoh ini dikarenakan sifat babi yang ganas, serakah dan dianggap tidak baik. Tubuh patung kedua tidak jauh berbeda dengan boneka yang pertama, hanya saja ukuran boneka yang kedua ini lebih sedikit kecil.

Ogoh-ogoh juga dimaknai sebagai simbol wujud keangkaramurkaan. Ogoh-ogoh yang diarak bertujuan sebagai simbol penyerapan segala sifat buruk atau segala sesuatu yang tidak baik masuk ke dalam boneka ogoh-ogoh tersebut, kemudian ogoh-ogoh dimusnahkan dengan harapan bahwa segala sifat buruk yang ada pada diri manusia. Pertunjukan ogoh-ogoh masuk dalam rangkaian tawur kesanga dalam upacara Nyepi yang diawali dengan ngidung yakni menyanyikan lagu-lagu jawa oleh semua umat di dalam pura.

 

Strategi Adaptasi Masyarakat NonHindu Pada Pertunjukn Ogoh-Ogoh

Adaptasi merupakan sebuah sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya. Spradley menyatakan bahwa proses adaptasi dipengaruhi oleh persepsi dan interpretasi seseorang terhadap suatu objek yang selanjutnya menuju pada sistem kategorisasi dalam bentuk respon atas kompleksitas suatu lingkungan. Jadi strategi adaptasi merupakan cara seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan atau keadaannya melalui proses persepsi dan interpretasi yang kemudian akan menghasilkan suatu kategorisasi yakni sikap yang dipilih dalam mengatasi peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Tokoh masyarakat yakni para pemuda Desa Linggo Asri yang terkumpul dalam organisasi karang taruna mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh merupakan warisan budaya yang berwujud kesenian, yang ditampilkan dalam bentuk seni pertunjukan secara turun temurun yang bersifat keagamaan. Pertunjukan ogoh-ogoh dianggap mampu memberikan nilai sikap peduli terhadap budaya yang dimiliki di tanah air khusunya di Desa Linggo Asri. Selain itu, pertunjukan ogoh-ogoh dianggap sebagai pertunjukan yang menghibur dan tidak mengandung unsur sara sehingga bisa dinikmati semua umur. Perbedaan agama menyebabkan perbedaan kepercayaan juga keyakinan, serta berbeda ajaran dalam menyembah Tuhan Sang Pencipta. Meskipun dengan keyakinan yang sama bahwa manusia menyembah Tuhan Yang Esa, namun jelas terdapat perbedaan dalam tata cara beribadah antar umat yang berbeda agama. Hal ini sangat dirasakan oleh tokoh-tokoh agama di Desa Linggo Asri. Pertunjukan ogoh-ogoh merupakah salah satu wujud perayaan pelengkap ibadah bagi umat Hindu, namun tidak bagi umat Islam. Meskipun perbedaan sangat dirasakan, tetapi tokoh agama Desa Linggo Asri menanggapinya secara positif. Tokoh- tokoh agama Islam di Desa Linggo Asri mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh dijadikan sebagai sarana pelengkap ibadah yang umat Hindu jalankan, dan sebagai pemenuhan emosi akan kebutuhan seni setiap individu. Pertunjukan ogoh-ogoh yang dijadikan pelengkap yang memiliki makna simbolis dalam perayaan Nyepi umat Hindu yakni sebagai pengusir roh-roh jahat dan hal-hal buruk yang ada pada diri manusia itu sendiri dan lingkungannya, dianggap oleh para tokoh agama Islam Desa Linggo Asri merupakan suatu hal baik karena membuang segala hal buruk adalah suatu tindakan yang baik, dan pertunjukan tersebut tidak sampai merugikan umat lainnya yang berbeda kepercayaan, justru adanya pertunjukan mampu menyalurkan perasaan seni tiap-tiap masyarakat yang menyaksikan pertunjukan khusunya masyarakat Desa Linggo Asri. Tokoh pemerintahan di Desa Linggo Asri terdiri dari beberapa masyarakat Islam dan masyarakat Hindu. Tokoh pemerintahan nonHindu mempersepsikan bahwa pertunjukan ogoh-ogoh merupakan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial. Dengan adanya pertunjukan ogoh-ogoh, masyarakat Desa Linggo Asri bisa berkumpul bersama dalam rangka persiapan maupun ketika pertunjukan berlangsung. Hal ini menjadikan seluruh masyarakat Desa Linggo Asri berbaur menjadi satu sebagai wujud kerukunan antar umat yang berbeda agama. Selain merekatkan ikatan kerukunan antar warga, pertunjukan ogoh-ogoh dianggap sebagai kesenian yang menghibur. Setiap warga tanpa ada batasan jenis kelamin, agama ataupun usia bisa menyaksikan pertunjukan.

Perjalanan Pemimpin dan Pendidik: Kisah K.H. Mas’ud Abdul Qodir dan Pondok Pesantren Darul Amanah

Penulis: Annisa Nuruz Zahra, Editor: Choerul Bariyah

K.H.Mas’ud Abdul Qodir beliau adalah pendiri dan pimpinan pondok pesantren Darul Amanah(Islamic Boarding School).Pondok Pesantren ini berada di Jawa Tengah tepatnya berada di Sukorejo-Kendal.Beliau juga salah satu ulama’ di Jawa Tengah yang mewakafkan diri,tidak hanya untuk kemajuan Agama Islam saja.Tetapi,juga untuk Masyarakat.Bangsa,dan Negara.Beliau mempunyai strategi pengembangan ponpes,yaitu menerapkan Panca Jiwa dan Panca Jangka Pesantren.Panca Jiwa yang diterapkan di pondok pesantren Darul Amanah,yaitu:

  • Jiwa Keikhlasan
  • Jiwa Kesederhanan
  • Jiwa Berdikari
  • Jiwa Ukhuwah Islamiyah
  • Jiwa Kebebasan

 

K.H.Mas’ud Abdul Qodir lahir pada hari senin wage tanggal 20 Juni 1949 yang bertepatan dengan Sya’ban (Ruwah)1368.Beliau belatar belakang dari keluarga yang sangat sederhana.Ayah dan ibunya adalah seorang pedagang desa yang berjualan dengan hasil perkebunan.Beliau tinggal di Dukuh Gondoriyo Desa Gondoharum Pageruyung Kendal.Sejak Kecil,Abah Mas’ud memang sudah disiplin dalam beribadah.Ketika memasuki usia SLTP,Beliau selalu berjamaah subuh setiap hari,kadang yang Adzan,kadang juga yang memukul kentongan.K.H Mas’ud Abdul Qodir sebagai anak pertama dari lima bersaudara yaitu:

  • H.Nasroh
  • H.Saib,B.A.
  • Hj.Masiti
  • H.Abdul Haris Qodir,S.Mn.

 

PENDIDIKAN K.H MAS’UD ABDUL QODIR

Pada masa itu,banyak orang yang belum memikirkan pendidikandan yang minat sekolah juga masih jarang,akan tetapi ia mempunyai kemauan tersendiri untuk bersekolah,dan juga dari keluarga yang memang memikir kan pendidikan dan juga agamanya.Beliau mempunyai kemauan yang kuat dalam menuntut ilmu(bersekolah)dibandingkan dengan teman sebayanya ,beliau juga orang yang sangat disiplin.Sepuluh tahun pasca Indonesia merdeka,masih banyak masalah yang harus dibenahi negara,yaitu keamanan,ekonomi,dan pendidikan.Di masa itu,di kecamatan Pageruyung hanya untuk wilayah selatan hanya ada satu Sekolah Rakyat(SR),dan itupun untuk beberapa desa;Gondoharum,Getas Blawong,dan Parakan Sebaran.Hikmah dari sekolah didesa lain,tentu memperluas wawasan dan pergaulan.Di Kota Kewedanan Sukorejo waktu itu belum ada SMP Negeri atau SMP Islam,yang ada hanya SMPK Argokiloso.Sekolah yang didirikan pada tahun 1953 itu menerapkan disiplin sebagaimana sekolah Belanda pada umumnya.Beliau melanjutkan pendidikan SMP Kanisius Sukorejo tahun 1961-1962,dan hanya satu tahun di SMPK Sukorejo.Dan melanjutkan pendidikannya di Pesantren Luhur,Wonosari Ngaliyan Mangkang,Semarang.Saat itu disebutnya pesantren Dondong,karena berlokasi di Kampung Dondong.

Di Mangkang,beliau hanya empat tahun ,karena mendapat informasi tentang Pondok Modern Darussalam Gontor.Awalnya dia kagum kepada salah satu ustadz pengajar Bahasa Arab saat menjadi santri di Pondok Pesantren Dondomg Mangkang yang bernama Ustadz Nurul Anwar.Ustad Anwar mahir dalam Bahasa Arab,ilmu Aljabar,dan Bahasa Inggris,karena lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor yang kemudian melanjutkan studi ke Madinah.

K.H Mas’ud Abdul Qodir dididik oleh generasi pertama Trimurti,yaitu tiga serangkai yang mendirikan pondok pesantren,yang terdiri dari K.H.Ahmad Sahal sebagai pendiri pertama Pondok Gontor 1926,K.H.Zainudin Fannani yang tinggal di Jakarta dan membantu dari jauh,,sertta K.H.Imam Zarkasyi yang memberikan warna baru metode Gontor sejak 1936.

Pondok Modern Gontor mempunyai Motto yang menekankan pada pembentukan pribadi Muslim yang Berbudi luhur,Bebadan sehat,Berpengetahuan luas,dan Berpikiran bebas.

Saat menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor,Abah Mas’ud hanya dijenguk sekali selama 9 tahun selama menjadi santri dan guru di Gontor.Karena beliau memahami Ayahnya yang sedang berjuang kerja keras untuk biaya pendidikannya hingga tidak punya cukup waktu untuk menjenguk putranya.

Sebelum menyelesaikan pendidikanya di Gontor beliau di nikahkan dengan perempuan dari anak adik ipar Kiai Muhsin yaitu Haji Nur Said,Kiai Muhsin adalah kakak beradik dengan Abdul Qodir(ayah K.H.Mas’ud).Perempuan tersebut bernama Nur Halimah yang saat itu baru tamat SD.

Pada tahun 1971-1972 Mas’ud Abdul Qodir mendapat amanah menjadi ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern(OPPM).saat menjabat menjadi ketua OPPM,beliau mendapat sentuhan dan arahan langsung dari pendiri dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,K.H.Ahmad Sahal dan K.H.Imam Zarkasyi selaku Pembina pengurus OPPM.”Kami dididik dengan baik dan kami juga melihat sosok kiai imam zarkasyi seperti orang tua sendiri,”kenangnya.”SIAP MEMIMPIN DAN MAU DIPIMPIN”.

Selama menjadi guru di Pondok Modern Darussalam Gontor,beliau melanjutkan Pendidikannya di Institut Pendidikan Darussalm (IPD) memgambil fakultas Ushuludin.memulai pendidikannya di IPD pada tanggal 25 Januari 1974-1 Februari 1974.

Setamat dari Gontor ,Mas’ud Abdul Qodir fokus untuk memulai membina rumah tangga.Cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Al Azhar Kairo sementara dilupakan dulu.Doanya, mudah-mudahan di kemudian hari ada anak-cucu yang merealisasikan cita-cita itu.Dan diwujudkan oleh putra pertama beliau bernama  H.Muhammad Adib,Lc,M.A sebagai wakil Pimpinan Pesantren Darul Amanah..Abah Mas’ud mempunyai dua putra dan putra kedua bernama H.Muhammad Fatwa,M.Pd.sebagai Direktur TMI Pondok Pesantren Darul Amanah.

Pada tanggal 1976,sebelum mendirikan Pondok Pesantren Darul Amanah,Kiai Mas’ud Abdul Qodir pernah mengadakan Kelas Bahasa Arab dirumah mertuanya H. Nur Said di Dusun Kemloko Ds.Mojojagung Kec.Plantungan Kab,Kendal.jumlah siswa kelas Bahasa Arab pada waktu itu sekitar 30 santri putra dan 30 santri putri.

Pondok Pesantren Darul Amanah,Berdiri pada tanggal 23 Mei 1990.Yayasan Darul Amanah yang bergerak di bidang pendidikan dan social keagamaan mendirikan Pondok Pesantran Darul Amanah yang dipelopori oleh:

  • K.H. Jamhari Abdul Jalal,Lc. (Cipining Bogor)
  • K.H. Mas’ud Abdul Qodir (Kabunan Ngadiwarno Sukorejo Kendal).
  • Bpk Slamet Parwiro (Parakan Sebaran Pageruyung)
  • Ust. Junaedi Abdul Jalal (Parakan Sebaran Pageruyung)

 

Keempat peloporpendirian Pondok Pesantren Darul Amanah bersepakat bahwa K.H. Mas’ud Abdul Qodir yang menjadi Pimpinan Pesantren Darul Amanah.Beliau merupakan alumni Gontor tahun 1972 .Dan pondok ini disebut pondok Alumni Gontor.dan Pondok Pesantren Darul Amanah kini memiliki Dua Ribu lebih santri dan Dua Ratus tenaga pengajar.memiliki empat tingkatan yaitu;MTS,MA,SMK,dan KMI.

K.H. Mas’ud Abdul Qodir menerapkan konsep kepemimpinan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang meliputi :Ing ngarso sung tuldha,Ing madya mangun karsa ,Tut Wuri Handayani.

“JANGAN BERHENTI BERDOA KARENA TAKDIR BISA DIUBAH DENGAN DOA”.K.H. Mas’ud Abdul Qodir.

Pemikiran dan Kepemimpinan KH. Ahmad Rifa’I BIN Raden Muhammad Marhum Chilmy Munazil

Penulis : Chilmy Munazil, Editor : Tegar Dwi Pangestu

Ahmad Rifa’i beliau adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama pendiri, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan. Beliau lahir pada tanggal 9 Muharram 1200 H, bertepatan dengan tahun 1786 di Desa Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dan wafat pada umur 84 tahun di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1895 dan di makamkan di pekuburan Jawa Tondano di kelurahan Kampung Jawa, di kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara Indonesia.

Sedari kecil beliau sudah dididik oleh ayahnya yang Bernama KH. Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja pula beliau sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, beliau menunaikan ibadah haji kemudian memperdalam ilmu agama di Makkah dan Madinah kurang lebih selama 8 tahun. Selain itu juga beliau menimba ilmu di Mesir.

Ahmad Rifa’i adalah seorang juru dakwah yang pandai, beliau mengemas ajarannya dalam kitab-kitab yang berbahasa Jawa menggunakan huruf Arab ( Arab Pegon ) dan berbentuk syair yang menarik bagi orang Jawa, sehingga pada masa itu Masyarakat Jawa mudah memahami dan menghafal ajaran Islam. Dalam berdakwah beliau juga mengobarkan semangat anti kafir, anti penjajah dan gagasannya bisa dikategorikan tajdid ( pembeharuan ) atau pemurnian.

Pemikiran beliau juga dapat dikatakan sebagai pemikiran yang moderat, pemikirannya telah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam kepada Masyarakat Indonesia.

Pemikiran dan kepemimpinan beliau yang telah meninggalkan jejak dalam sejarah keislaman diantaranya ada :

  • Pemikiran Keagamaan yang Mendalam

KH Ahmad Rifai dikenal sebagai pemikir keagamaan yang mendalam. Pemikirannya mencakup berbagai aspek kehidupan, dari hubungan manusia dengan Tuhan hingga tata cara ibadah. Beliau mengajarkan nilai-nilai keimanan dan keislaman yang bersifat inklusif, mendorong umat untuk memahami esensi ajaran agama secara komprehensif.

  • Toleransi dan Kemanusiaan

Salah satu poin penting dalam pemikiran KH Ahmad Rifai adalah nilai toleransi antar umat beragama. Beliau mengajarkan agar umat Islam menjalin hubungan yang baik dengan penganut agama lain, menciptakan harmoni dan perdamaian dalam Masyarakat. Pemikirannya mencerminkan semangat kemanusiaan yang mengedepankan persatuan di atas perbedaan.

  • Kepemimpinan yang Adil dan Bijaksana

Sebagai seorang pemimpin spiritual, KH Ahmad Rifai menunjukkan kepemimpinan yang adil dan bijaksana. Beliau memimpin dengan teladan, memberikan orientasi moral, dan menjaga keadilan dalam segala tindakan. Kepemimpinannya tidak hanya terfokus pada kepentingan kelompoknya sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan umat dan masyarakat secara luas.

  • Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat

KH Ahmad Rifai juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pemikirannya merangkul konsep pendidikan holistik yang tidak hanya menekankan aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Beliau melihat bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas dan beradab.

Meskipun beliau mungkin telah tiada, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Pengaruhnya meluas dari aspek agama hingga tatanan sosial. Warisan ini terus menerus diteruskan oleh para pengikutnya, menciptakan pondasi yang kuat bagi pengembangan masyarakat dan kehidupan beragama yang harmonis.

Dengan demikian, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi tolok ukur bagi mereka yang ingin menggali nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kepemimpinan yang berlandaskan pada keadilan dan kebenaran.

  • Ahmad Rifa’i mempunyai beberapa karya salah satunya kitab agama yang ditulis beliau yaitu dalam bentuk : syair, puisi tembang jawa, bentuk nastrah sebanyak 65 judul.

Sementara yang berbentuk tanbi ( semacam risalah singkat yang membahas satu topik ) ada 500 karya dan terdapat 700 berupa nadzom doa. Jumlah kitab tersebut yang ditulis sebelum KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon Maluku, yaitu saat masih bermukim di desa Kalisalak.

Secara umuum kitab- kitab diatas mengupas tentang 3 bidang ilmu syari’at islam yang meliputi Fiqih, Usuluddin, dan tasawuf.

Beberapa kitab karya KH Ahmad Rifa’I yang masih disimpan di universitas Leiden Belanda antara lain :

  • No.1139 Riayatal Himmah, tahun 1849 M
  • No. 6617 Nadzom Kaifiyah, tahun 1845 M
  • No. 7520 Tanbih Bahasa Jawa
  • No 7521 Husnul Mitholab, tahun 1842 M
  • No. 7524, Nadzam Irfaq, tahun 1845 M
  • No. 8489, Munawirul Himmah, tahun 1856 M
  • No. 5865, Athlab, tahun 1842 M
  • No. 8566, Nadzam Tazkiyah, tahun 1852 M
  • No. 8567, Tasyrihatal Muhtaj, tahun 1849 M
  • No. 8568, Syarihul Iman, tahun 1839 M
  • No. 8569, Tasfiyah, tahun1849 M
  • No. 11001, Bayan, tahun1839 M
  • No. 11001, Imdad, tahun 1845 M
  • No. 11004, Thariqat, tahun 1840
  • No. 7523 Abyanal Khawaij, tahun 1849 M

 

Suronan: Memelihara Tradisi dan Kebudayaan dalam Kearifan Lokal Jawa

Penulis : Nisfatul Lailiyah, Editor : Windi Tia Utami

Indonesia sebagai surga adat menyimpan banyak adat istiadat yang menarik untuk dibahas, salah satunya adalah Suronan. Suronan menjadi tradisi turun temurun yang sering ditemukan di pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Suronan merupakan tradisi untuk merayakan 10 Muharram menurut penanggalan Jawa. Setiap tahunnya masyarakat Jawa selalu melaksanakan tradisi 1 suro dengan harapan agar tradisi ini tidak punah dan terus bisa dinikmati anak cucu.

Suronan sudah menjadi adat istiadat yang ditidak bisa ditinggalkan. Istilah suro berasal dari kata Asyura yang berarti kesepuluh, maksudnya tanggal 10 bulan Muharram. Masyarakat Pekalongan bagian pesisir memiliki kepercayaan untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan suro. Biasanya masyarakat pesisir akan melakukan mandi taubat dilaut atau dipantai sebagai salah satu bentuk untuk menyucikan diri.

  Selain mandi taubat, masyarakat biasanya membuat selametan atau syukuran berupa bubur abang putih (merah putih) yang kemudian bubur ini dibagikan pada orang sekitar. Adanya tradisi membagikan bubur ini berasal dari kisah para nabi terdahulu yang banyak diselamatkan pada bulan muharram atau suro. Salah satu nabi yang diselamatkan yaitu nabi Nuh as. Setelah diselamatkan pada saat itu, nabi Nuh membuat syukuran berupa makanan yang terbuat dari campuran biji-bijan. Tradisi ini menjadi kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur.

Tradisi lain yang ramai dilakukan saat suronan adalan santunan kepada anak yatim. Sehingga, Suronan juga banyak dikenal dengan sebutan lebaran anak yatim. Semua orang berbondong-bondong melakukan santunan kepada anak yatim baik secara individu maupun berkelompok. Mereka akan menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki untuk diberikan kepada anak yatim.

Selain itu, Ketika Suronan juga terdapat adat atau kebiasaan untuk tidak keluar rumah saat rabu pungkasan. Rabu pungkasan adalah hari rabu terakhir dibulan suro. Saat rabu pungkasan masyarakat tidak dianjurkan untuk keluar rumah dari setelah ashar pada selasa sampai hari rabu setelah ashar. Dalam Islam juga diyakini bahwa saat rabu pungkasan akan diturunkan ribuan balak (musibah), sehingga kita tidak dianjurkan keluar dari rumah jika tidak ada keperluan yang penting sebagai salah satu usaha untuk menolak balak. 

Banyak sekali warisan tradisi saat suronan yang masih terus diperingati oleh masyarakat daerah jawa khususnya. Dengan segala mitos dan kepercayaan didaerah masing-masing tradisi suronan masih bisa kita temui setiap tahunnya. 

Islam Rahmatan Lil Alamin: Mengembangkan Kesetaraan dan Toleransi dalam Agama

Penulis:Karimul Wafa, Editor: Kharisma Shafrani

لْحَمْدُ للهِ، اَلَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدىْ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ

كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Sidang Jumat yang dirohmati dan dimulyakan allah SWT.

Pertama tama marilah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.

Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin amin ya robbal alamin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selalu dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya Amin yarobbal alamin..

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian dan kasih sayang, menjunjung tinggi sifat tolong-menolong, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derajat), tenggang rasa, kebersamaan, demokratis, keadilan, toleransi, dan seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Sebaliknya tentu Islam melarang segala bentuk kekerasan dan sikap yang berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إيَّاكُمْ وَالْغُلُوّ فى الدِّيْنِ فَاِنَّما أهْلَكَ مَنْ كانَ قَبْلَكُمْ باالْغُلُوِّ فى الدِّيْنِ

“Hindarilah oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw) dalam beragama sebab sungguh ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Di antara bentuk sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan segala bentuknya yang menyelisihi syariat. Padahal sangat banyak dapat kita temukan dalam Al-Qur’an, yang di dalamnya mengajarkan konsep perdamaian. Seperti Firman Allah SWT:

وَما اَرْسَلْنَاكَ إلاّ رَحْمَةً للْعَالَمِيْنَ

‘’Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.’’ (QS Al-Anbiya’: 107)

lslam merupakan agama yang universal, ajarannya mengedepankan kasih sayang, kebaikan kepada seluruh alam semesta. Nabi telah bersabda:

الرَّاحِمونَ يَرْحَمُهُمُ الرحْمَان ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمكُمْ مَنْ فِي السَّماء

“Orang-orang yang berbuat kasih sayang akan disayang oleh ‘Ar-Rahman’ (Yang Maha Penyayang), maka sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi ini niscaya engkau akan disayang oleh yang ada di atas langit.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dengan demikian, konsep islam itu mengandung inti dari moderasi beragama, dengan kata lain agama islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi dan sifat qonaah sehingga islam dapat selalu menerima perbedaan-perbedaan yang ada didalamnya, karna agama islam adalah agama rahmatan lilalamin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Contoh dimana suatu desa yang menerapkan konsep moderasi beragama dipekalongan salah satunya adalah Linggo Asri, desa yang memiliki 4 agama didalamnya, antara lain: Islam, Kristen, Budha, Hindu. warga Linggo Asri juga memaknai moderasi beragama sebagai keyakinan yang menerima perbedaannya masing-masing, karna itu warga linggo asri selalu hidup aman, tentram, rukun, nyaman, dan gotong royong dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas desanya. Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan semoga dapat diambil point-point pentingnya, amin amin ya robbal alaminalamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ، أَشْهدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ، وأَشْهَدُ أَنَّ  سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنَا محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَا اتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ

أَمَّا بَعْدُ: فيَآ أَيُّهاالنّاسُ، اتَّقُوا اللهَ  حق تقاته ولاتموتن اِلا وانتم مسلمون. اَللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرُ

Harmoni Ramadhan dalam Talkshow Lintas Agama Memperkuat Persaudaraan Antar Umat Beragama

Pewarta: Sirli Amry, Editor: Amarul Hakim

Pekalongan, 18 Maret 2024 – Dewan Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Gus Dur Pekalongan adakan Talkshow Lintas Agama untuk perkuat wawasan moderasi beragama serta persaudaraan antar umat beragama. Talkshow yang mengangkat tema “Mainstreaming Moderasi Beragama dalam Dinamika Kebangsaan” bertempat di Gedung FUAD Lt. 2, Minggu (17/03).

Talkshow Lintas Agama ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang keagamaan yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Narasumber tersebut diantaranya, Syamsul Bakhri, S. Pd., M. Sos (Ketua Umum Braindilog Sosilogi Indonesia), Dwi Argo M., M. Si (Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan), Kusnaeni, S. Pd., S. Sos (Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kab. Pekalongan).

Dalam talkshow tersebut, Kusnaeni menuturkan bahwa moderasi adalah sikap tidak ekstrem ke kanan dan tidak pula ekstrem kekiri yang artinya adalah tidak berlebihan dalam beragama karena sikap terlalu ekstrem dapat memicu perpecahan. Menurutnya, moderasi beragama adalah tentang praktek bagaimana cara kita menghargai perbedaan agama seperti yang ada di Linggoasri, dimana di daerah tersebut terdiri dari berbagai agama yang berbeda namun tetap rukun.

Sejalan dengan Kusnaeni, Dwi Argo juga menyatakan bahwasannya sikap moderasi beragama atau moderat ini tidak hanya perlu kita terapkan antar umat beragama tapi juga relasi antar manusia yang sesama agama. Dirinya menekankan pada pentingnya memilki kepekaan serta mampu untuk menempatkan diri untuk tidak ekstrem ke kanan ataupu  ke kiri. Menurutnya, sikap moderat adalah sikap yang paling pas diterapkan dalam konteks kebangsaan.

Dalam dialog yang harmonis ini, Syamsul Bakhri, Ketua Umum Brandilog Sosilogi Indonesia menyampaikan pesan kepada para peserta supaya ikut berperan aktif menjadi pelopor semangat moderasi beragama. Mulai dari diri sendiri terlebih dahulu, tanamkan sikap moderat dalam beragama. Kemudian langkah yang bisa kita lakukan sebagai pemuda di era digital ini adalah dengan menyebarluaskan prinsip moderasi beragama dengan cara One day one konten, membuat konten moderasi beragama yang menarik. Selain itu, kita juga harus memahami apa itu agama dengan berguru kepada seorang ahlinya, ulama, bukan hanya dengan melihat cuplikan di konten media sosial.

Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan juga menyampaikan bahwa peran mahasiswa salah satunya adalah dengan memperdalam literasi baik itu membaca buku maupun literasi digital. Kusnaeni menambahkan peran yang bisa dilakukan seorang mahasiswa untuk menggalakkan sikap moderasi beragama adalah dengan mengasihi sesama terlepas dari segala bentuk perbedaan.

Farah Maulida, selaku ketua pelaksana menyampaikan bahwa saat ini, isu terkait moderasi beragama marak dibicarakan didunia nyata maupun dunia maya. Apalagi di Indonesia yang memang terkenal dengan keberagaman agamanya. Maka, dengan dihadirkannya talkshow lintas agama ini, harapannya peserta bisa memahami sekaligus mempraktekkan prinsip daripada moderasi beragama dalam bingkai kebangsaan. Hal ini dia sampaikan dalam wawancara setelah talkshow berlangsung,

”Moderasi beragama ini marak dibicarakan si Mba, baik itu di medsos ataupun di dunia nyata. Dengan adanya talkshow ini harapannya mahasiswa itu bisa mempraktekkan sikap toleransi dan moderat dalam dinamika kebangsaan. Selain itu, para peserta akan kita minta untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) berupa pembuatan video ataupun essay terkait moderasi beragama.” ujarnya.

Dengan kehadiran ketiga narasumber dengan latar agama yang berbeda, diharapkan mampu mencontohkan betapa indahnya keberagaman dan pentingnya memilki sikap moderat terlebih dalam hal moderasi beragama.

Ramadhan di Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Waktu Refleksi dan Integrasi

Penulis: Agus Arwani, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Ramadhan merupakan bulan suci umat Islam yang membawa suasana spiritual yang mendalam dan berkesan, khususnya dalam lingkungan kampus. Kehadiran kampus dan peranannya dalam bulan Ramadhan dapat dimanfaatkan menjadi ruang bagi pertumbuhan personal dan pemahaman lintas budaya. Sehingga, selain menjadi tempat pembelajaran akademis, kedatangan bulan Ramadhan dalam keseharian civitas akademika kampus turut berperan dalam mempromosikan keberagaman dan kesadaran spiritual. Hal ini nampaknya telah diterapkan di kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menuntut pemahaman tentang bagaimana institusi tersebut menyatukan nilai-nilai Islam (Islamic values) dengan pendidikan modern. Sebagai Universitas Islam Negeri, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tidak hanya menyediakan pendidikan akademik yang berkualitas (quality education), tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan (religious values) dan kebudayaan Islam dalam kegiatan sehari-hari, termasuk selama bulan Ramadhan.

Nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui tiga hal. Pertama, sebagai kampus dengan mahasiswa yang mayoritas Muslim, mereka mendapatkan kesempatan unik untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana pendidikan spiritual dan sosial. Di bulan suci ini, aktivitas akademik dan keagamaan berjalan beriringan, menciptakan keseimbangan antara pencarian ilmu duniawi dan ukhrawi. Beberapa perwujudannya ialah melalui pengajaran dan praktik ibadah seperti sholat tarawih bersama, tadarus Al-Quran, dan pengajian ramadhan guna meningkatkan suasana keberkahan dan kebersamaan di kampus.

Kedua, Ramadhan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berfungsi sebagai platform untuk memperkuat jaringan sosial (social networking) dan dukungan antar mahasiswa. Kegiatan berbuka puasa bersama, baik yang diselenggarakan oleh universitas atau inisiatif mahasiswa, membantu membentuk komunitas yang erat. Melalui kegiatan-kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan dukungan emosional.

Ketiga, selain kegiatan-kegiatan sosial tersebut, di bulan Ramadhan ini pihak kampus membuka kesempatan untuk diadakannya sebuah dialog dan pemahaman lintas budaya. Kegiatan dialog atau diskusi tersebut didasarkan atas adanya keberagaman dalam hal praktik keagamaan, latar belakang etnis, serta perspektif keislaman dari setiap mahasiswa. Hal tersebut tentu dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pemahaman keislaman serta rasa toleransi antar mahasiswa. Melalui kegiatan seperti seminar dan diskusi tentang Islam dan praktik Ramadhan bisa menjadi sumber informasi bagi mahasiswa non-Muslim dan sarana pertukaran budaya bagi semua.

Ramadhan memberi kesempatan bagi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan untuk mengekspresikan komitmennya pada keberlanjutan (development) dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti pengumpulan dan distribusi zakat fitrah dan kegiatan amal lainnya tidak hanya mendukung mereka yang membutuhkan di dalam dan di luar kampus, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial (social values) dan kepedulian dalam diri mahasiswa.

Namun demikian, untuk dapat memanfaatkan kesempatan ini bukanlah suatu hal yang mudah. Ada beberapa tantangan yang muncul, seperti menyesuaikan jadwal kuliah dengan waktu ibadah dan berbuka puasa. Ini membutuhkan fleksibilitas dan pengertian dari pihak universitas serta upaya proaktif untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung bagi mahasiswa yang menjalankan ibadah puasa. Dan kegiatan-kegiatan lainya yang juga harus menyesuaikan jadwal perkuliahan.

Sehingga di bulan Ramadhan ini, kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dapat menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi Islam dapat menyelaraskan nilai keagamaan dengan kebutuhan pendidikan modern. Hal ini menunjukkan bagaimana institusi dapat menggunakan waktu khusus ini untuk mengajarkan nilai-nilai penting seperti solidaritas, empati, dan toleransi, serta mendukung pengembangan pribadi dan spiritual mahasiswa. Sebab, bukan hanya tentang tradisi atau ritual keagamaan saja, tetapi membangun karakter, masyarakat, dan persiapan untuk kehidupan di dunia yang serba cepat dan multikultural juga merupakan suatu hal yang penting untuk di wujudkan. Dengan demikian, bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi sebuah kesempatan yang tak ternilai bagi civitas akademika (dosen dan mahasiswa)  dan pegawai kampus untuk terlibat dalam dialog, memahami perbedaan, dan membangun lingkungan yang inklusif dan harmonis.