Balai Kota Surakarta Sebagai Wadah Harmonisasi Keberagaman Umat di Indonesia

Penulis : Rachmatika Salma Yulianto, Editor : Sirli Amry

Surakarta atau yang kerap dikenal dengan sebutan Solo, tidak hanya terkenal dengan keindahan budaya dan kekayaan tradisinya, tetapi juga kerukunan umat beragamanya. Sama halnya dengan berbagai kota di Indonesia, Kota Surakarta juga mengupayakan kerukunan dengan memahami perbedaan dan keberagaman. Dengan menjadikanya salah satu pilar penting dalam pembangunan pemerintahan kota Surakarta.

Pentingnya toleransi antar umat beragama dalam membangun harmoni sosial di Surakarta tidak dapat diragukan lagi. Dalam masyarakat yang beragam seperti Surakarta, keselarasan antara umat beragama menjadi pondasi utama dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian. Melalui toleransi, masyarakat Surakarta mampu menjalin hubungan yang harmonis, menghormati perbedaan, dan saling mendukung dalam membangun kota yang lebih baik.

Dalam berberapa tahun terakhir, kota ini telah menunjukan komitmen yang kuat untuk memupuk dan mempromosikan toleransi antar umat beragama. Upaya untuk menciptakan harmoni dalam keberagaman menjadi prioritas utama bagi pemerintah Kota Surakarta. Hal ini jelas terlihat pada saat Kota Surakarta memperoleh skor 5,883 dan berada di posisi keempat dari 10 kota-kota yang paling toleran. Dalam Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2022 yang dilakukan oleh SETARA Institute menunjukan bahwa Surakarta menjadi salah satu kota yang memiliki tingkat toleransi yang baik.

Baca Juga: Sedekah Bumi: Tradisi Syukur, Kepedulian Sosial, dan Pelestarian Alam untuk Generasi Mendatang

Dalam suatu kota pasti mempunyai bangunan ikonik yang memiliki fungsi sebagai maskot serta ciri khas suatu wilayah. Kota Surakarta sendiri memiliki balai kota yang berfungsi bukan hanya sekedar bangunan ikonik di tengah kota. Balai Kota Surakarta lebih dari sekedar menjadi bangunan ikonik ditengah kota, melainkan menjadi pusat kegiatan administratif dan operasional yakni sebagai ”rumah” bagi pemerintah Kota Surakarta. Dalam konteks toleransi, Balai Kota Surakarta berperan sebagai ruang netral atau tempat bagi orang-orang dari berbagai latar belakang untuk menjalin kerukunan dan memupuk rasa toleransi melalui berbagai pertemuan yang diselenggarakan. Balai kota ini mencerminkan semangat inklusivitas dan penghargaan terhadap perbedaan. Selain itu, balai kota ini juga memberikan kontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih toleran dan harmonis.

Salah satu upaya yang dilakukan Kota Surakarta adalah menjadikan Balai Kota Surakarta wadah aktivitas terbuka untuk perayaan keagamaan. Diawali pada awal tahun 2023 dalam perayaan imlek bagi masyarakat etnis tionghoa. Dengan memberikan berbagai hiasan imlek berupa lampion-lampion serta ornamen pernak-pernik imlek lainnya yang terpasang di kawasan balai kota, termasuk Jalan Jendral Soedirman hingga kawasan Pasar Gede. Perayan ini sudah dilaksanakan Pemerintah Kota Surakarta sejak tahun 2011 secara rutin hingga sekarang. Perayaan imlek juga dibarengi dengan Event Grebeg Suudiro yang merupakan perayaan kebudayaan dari masyarakat jawa.

Tak lama setelah perayaan Imlek 2023, Perayaan Nyepi 2023 bagi umat Hindu juga diselenggarakan pertama kalinya dengan dukungan Pemerintah Kota Surakarta. Acara ini juga diiringi berbagai rangkaian perayaan Nyepi berupa festival Ogoh-ogoh yang digelar di Plaza Balai Kota. Panjor janur kuning juga menghiasi sepanjang Jalan Jendral Sudirman. Masyarakat dari berbagai lintas agama dan budaya pun turut menyaksikan dan memeriahkan acara tersebut. 

Memasuki bulan Ramadhan 1444 H/ 2023, ornamen khas Ramadhan bergantian menghiasi Plaza Balai Kota. Kampung Ramadhan juga digelar sepanjang Bulan Ramadhan yang berlokasi di sisi utara balai kota dengan menjual berbagai jajanan dan takjil oleh puluhan UMKM. Seluruh warga masyarakat Kota Surakarta turut menikmati kehadiran Kampung Ramadhan tersebut baik dari beragam etnis dan kepercayaan.

Baca Juga : Sedekah Bumi: Tradisi Syukur, Kepedulian Sosial, dan Pelestarian Alam untuk Generasi Mendatang

Selanjutnya, disusul Perayaan Natal 2023, umat kristiani diberikan kesempatan yang sama dalam menggelar perayaan Natal di Plaza Balai Kota, dengan memutar dan menyanyikan lagu-lagu Rohani. Ornamen Natal juga menghiasi sepanjang Jalan Jendral Sudirman dan kawasan balai kota, seperti replika pohon natal serta ornamen lainya.

Dalam perjalanan menjelajahi Kota Solo, kita tidak hanya disuguhi dengan pemandangan arsitektur yang memukau dann kekayaan budayanya. Melainkan harmoni toleransi antar umat beragama juga dapat kita rasakan saat menjelajahi kota tersebut. Kota ini adalah bukti nyata bahwa keberagaman kepercayaan dapat bersatu dalam kerukunan dan menciptakan lingkungan yang saling menghormati dan menghargai.

Balai Kota Surakarta hanyalah wadah bagi kerukunan umat beragama melalui perayaan yang diselenggarakan oleh berbagai umat beragama. Kesadaran masyarakat juga berperan penting dalam menjaga kerukunan yang sudah terjalin. Dengan demikian, mari bersama-sama merayakan kerukunan umat beragama di Kota Solo dan menjadikannya sebagai teladan bagi kota-kota lain di Indonesia. 

Melindungi Anak dari Jerat Kekerasan: Dampak Penganiayaan dan Upaya Pencegahannya

Penulis : Silfiya Karima, Editor : Ika Amiliya Nurhidayah

Perlu kita ketahui bahwa penganiayaan adalah tindakan atau perilaku yang menyebabkan penderitaan, cedera atau kerugian fisik, emosional serta mental pada seseorang. Bentuknya dapat berupa kekerasan fisik, verbal, psikologis, seksual atau penelantaran. Penganiayaan sering kali melanggar hak seseorang dan memiliki dampak jangka panjang yang serius terhadap kesejahteraan dan kesehatan korban.

Dalam upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari segala tindak kekerasan, pemerintah Indonesia telah menyusun beberapa regulasi diantaranya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sebagai tindak lanjutnya telah direspon oleh berbagai pihak hampir seluruh daerah provinsi dan kabupaten/kota, melalui Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur, dan Peraturan Bupati/Wali Kota dengan membentuk unit layanan penanganan kekerasan dengan beragam nama, seperti Women Crissis Center (WCC), Pusat Pelayanan Terpadu (PPT), Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang didalamnya terdiri dari unsur SKPD terkait, rumah sakit atau layanan medis, Aparat Penegak Hukum (APH), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak (LPA), dan Organisasi Keagamaan.  

Baca Juga: Kekerasan Terhadap Anak-anak: Pentingnya Seks Edukasi dan Parenting untuk Para Remaja

Seiring dengan terbentuknya lembaga layanan terpadu tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia telah mengembangkan sistem aplikasi pencatatan dan pelaporan kekerasan perempuan dan anak yaitu SIMFONI PPA (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) yang dapat diakses oleh semua unit layanan penanganan korban kekerasan perempuan dan anak di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota secara up to date, real time, dan akurat. Menurut data yang diperoleh dari SIMFONI PPA ditemukan bahwa tingkat korban kekerasan terhadap anak di Indonesia mencapai rate ke 2 yaitu sekitar 400 anak.  

Dampak penganiayaan bagi anak di bawah umur dapat sangat serius dan beragam. Beberapa dampak yang mungkin terjadi termasuk cedera fisik dan luka-luka yang bisa menyebabkan rasa sakit dan masalah kesehatan jangka panjang, trauma psikologis dan emosional, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), gangguan perkembangan sosial, kognitif, dan emosional, menurunnya performa akademis dan masalah perilaku di sekolah, serta mungkin sulit untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Penganiayaan pada anak di bawah umur dapat memiliki dampak jangka panjang yang serius, oleh karena itu penting untuk mendeteksi dan mencegahnya sejak dini serta memberikan dukungan dan perlindungan kepada anak yang terkena dampak. 

Ancaman penganiayaan bagi kesehatan mental anak dapat berdampak jangka panjang dan serius. Beberapa ancaman itu seperti trauma emosional yang berkelanjutan, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), mungkin mengalami kesulitan dalam membangun identitas yang sehat dan positif serta memiliki persepsi diri yang rendah, dapat membuat anak sulit untuk mempercayai orang lain dan membangun hubungan yang sehat. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk ikatan interpersonal yang positif, dapat meningkatkan risiko anak mengalami gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan makan, dan gangguan kepribadian, dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik anak, baik karena cedera fisik langsung maupun karena dampak stres kronis pada tubuh mereka.

Penting bagi kita sebagai orang tua untuk mendeteksi dan mengatasi penganiayaan anak secepat mungkin untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan fisik mereka. Mendukung anak dan memberikan akses kepada mereka untuk bantuan profesional dan dukungan emosional juga krusial dalam proses penyembuhan mereka. Mengatasi anak yang mengalami penganiayaan memerlukan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk keluarga, pihak berwenang, profesional kesehatan, dan masyarakat secara luas. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, anak-anak yang mengalami penganiayaan memiliki peluang yang lebih baik untuk pulih dan berkembang secara positif. 

Baca Juga: Program Sekolah Ramah Anak (SRA) Dan Kontribusi Pemerintah Dalam Menurunkan Tingkat Kekerasan Terhadap Anak Di Indonesia

Sedekah Bumi: Tradisi Syukur, Kepedulian Sosial, dan Pelestarian Alam untuk Generasi Mendatang

Penulis :  Elsa Juni Setyowati, Editor : Amarul Hakim

Sedekah bumi, sebuah tradisi yang kaya makna dan nilai, telah menjadi bagian integral dari budaya dan spiritualitas banyak masyarakat di seluruh dunia. Tradisi ini bukan sekadar tentang memberikan sebagian dari hasil bumi kepada yang membutuhkan, tetapi juga mengajarkan tentang rasa syukur, kepedulian terhadap sesama, dan kesadaran akan pentingnya berbagi rezeki. 

Di berbagai belahan dunia, sedekah bumi diperingati dengan cara yang berbeda-beda, tetapi intinya tetap sama: mengakui karunia-karunia yang diberikan oleh alam dan berbagi dengan orang lain, terutama yang kurang beruntung. Dalam konteks agraris, seperti di banyak masyarakat agraris di Asia Tenggara, sedekah bumi merupakan ungkapan terima kasih kepada alam atas hasil panen yang melimpah.

Sedekah bumi bukan hanya tentang memberi dari hasil pertanian. Dalam era modern ini, konsep sedekah bumi telah berkembang untuk mencakup segala bentuk rezeki yang diterima, termasuk rezeki dari pekerjaan, bisnis, atau usaha lainnya. Ini mengajarkan kita untuk tidak hanya berterima kasih atas hasil bumi secara harfiah, tetapi juga atas segala bentuk nikmat yang kita terima dalam hidup.

Baca juga : Dialog Kebudayaan: Hidup Harmonis dengan Budaya Warga Desa Rowolaku

Sedekah bumi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Melalui tradisi ini, kita diajarkan untuk memperhatikan kebutuhan orang lain di sekitar kita dan untuk berbagi dengan mereka. Ini menciptakan rasa solidaritas dan kebersamaan dalam masyarakat, mengurangi kesenjangan sosial, dan memperkuat hubungan antar individu.

Dalam  proses pelaksanaannya, sedekah bumi membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat mulai dari menyiapkan bahan, menentukan hari yang baik, menyusun baik sumberdaya yang akan disedekahkan dan rangkaian acaranya. Langkah-langkah ini jelas membutuhkan kreatifitas kaum muda, hasil tani para orang tua dan juga pelaksanaan filosofis dari tetua adat sehingga dibutuhkan gotong royong dan saling menghargai antar generasi.

Selain itu, sedekah bumi juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Dengan menghargai hasil bumi yang diberikan kepada kita, kita juga diingatkan untuk bertanggung jawab terhadap alam ini. Ini mencakup praktik-praktik berkelanjutan dalam pertanian dan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, untuk memastikan bahwa kita dapat terus menikmati karunia-karunia alam ini dalam jangka panjang.

Baca juga : Merangkai Tradisi: Keberagaman dan Kekuatan Identitas dalam Nyadran Gunung Silurah

Namun, meskipun nilai-nilai sedekah bumi begitu penting, tradisi ini tidak selalu mudah dijalankan dalam dunia modern yang serba cepat ini. Terkadang, kesibukan, keserakahan, atau ketidakpedulian membuat kita lupa akan pentingnya berbagi dan bersyukur. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengingat dan merayakan tradisi ini, tidak hanya sebagai sebuah ritual, tetapi sebagai sebuah gaya hidup.

Sedekah bumi mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya didapatkan melalui akumulasi kekayaan atau keberhasilan pribadi, tetapi juga melalui kemampuan kita untuk berbagi dan peduli terhadap orang lain. Itulah sebabnya, dalam setiap langkah hidup kita, mari kita selalu mengingat dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan oleh tradisi sedekah bumi: rasa syukur, kepedulian, dan keberlanjutan.

Pentingnya Memilih Pondok Pesantren: Banyak Orang Tua Takut Memasukan Anak di Pondok Pesantren

Penulis : Shovil Muna, Editor :  Ika Amiliya Nurhidayah

Dilansir dari Liputan6.com, terkuaknya kasus pencabulan 12 Santriwati oleh bapak-anak pengasuh pondok pesantren di Trenggalek, berawal dari curhatan sejumlah orang tua korban saat petugas sosial setempat melakukan sosialisasi. Dua oknum pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur yang diduga telah mencabuli belasan santrinya kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka tersebut sebelumnya diungkap Kapolres Trenggalek Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Gathut Bowo Supriyono, pada Jumat, 15 Maret. “Keduanya sudah ditahan pada Kamis (14/3) malam,” jelas Kapolres.

Selain itu dilansir dari dari BBC News Indonesia, kasus `Sini Jemput Bintang (seorang santri)…Aku Takut’ seorang santri bernama Bintang Balqis Maulana (14 tahun) meninggal diduga akibat penganiayaan di Pondok Pesantren Tartilul Quran (PPTQ) Al Hanifiyyah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan terhadap pesantren yang tidak berizin, kata pengamat. 

Kepolisian pun telah menetapkan empat pelaku sebagai tersangka, di mana salah satunya disebut masih kerabat korban. Akibatnya, kasus-kasus kekerasan di pesantren terutama yang tidak berizin berpotensi terus terjadi di masa yang akan datang. Untuk itulah, Kementerian Agama dituntut segera melakukan perbaikan dalam tata kelola pesantren. Salah satu caranya, menurut Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Sarmidi Husna adalah dengan mewajibkan setiap pesantren memiliki izin operasional dari Kementerian Agama (Kemenag).  

Baca juga : Kesenjangan Digital Di Daerah Pelosok Sebagai Tantangan Peningkatan Mutu Pendidikan

Pondok pesantren pada dasarnya merupakan pendidikan yang melaksanakan beragam kegiatan pembelajaran agama Islam bagi santri, di bawah bimbingan atau asuhan kyai yang juga tinggal atau bermukim dalam satu lokasi yang sama. Sehingga pesantren menjadi lembaga pendidikan paling tua di Indonesia yang telah memberikan kontribusi penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sisi lain, secara historis pesantren juga berkontribusi dalam membina dan mengembangkan masyakat di lingkungan sosialnya. Di Indonesia sendiri, ada banyak pondok pesantren, baik pesantren yang tradisional/klasik (salaf), modern, maupun yang semi tradisional-modern.  

Adapun tujuan pondok pesantren secara umun adalah membina warga negara agar memiliki kepribadian muslim yang taat terhadap ajaran-ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut dalam segala aspek kehidupannya, serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara. Sedangkan tujuan khusus pendidikan pesantren diantaranya yaitu: 

  1. Memberikan pendidikan kepada para santri sebagai anggota masyarakat agar mereka menjadi orang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki akhlak mulia, memiliki kecerdasan, ketrampilan dan sehat lahir dan batin sebagai seorang warga negara yang berpancasila.

2. Memberikan pendidikan kepada para santri agar mereka menjadi manusia muslim yang dapat berperan sebagai kader-kader ulama dan mubaligh dengan berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengembangkan syariat-syariat Islam secara utuh dan dinamin.

Baca juga : Akankah AI dapat Menggantikan Peran Seorang Guru dalam Pendidikan?

3. Memberikan pendidikan kepada para santri agar mereka mendapatkan kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan sehingga bisa menumbuhkan manusia-manusia pembangunan bangsa dan negara.

4. Memberikan pendidikan kepada penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/ masyarakat lingkungannya).

5. Memberikan pendidikan kepada para santri agar mereka menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, terutama dalam pembangunan mental spiritual.

6. Memberikan pendidikan kepada para santri agar mereka mampu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dalam rangka usaha pembangunan bangsanya.

Baca juga : Memprediksi Masa Depan Pendidikan: Tren Digital dalam Mempersiapkan Perubahan

Dari banyaknya kasus pondok pesantren, problem di atas terjadi karena banyak pesantren yang tidak memiliki izin dari Kemenag. Kondisi itu menyebabkan pengawasan menjadi lemah. Karena kalau tidak berizin, maka biasanya, kontrol, standarisasi itu tidak bisa dieksekusi, dan tidak terdata di sistem data Kemenag. Namun, untuk mendorong agar pesantren mau mengurus izin juga menjadi masalah yang lain.

Banyak pimpinan pesantren yang tidak mendaftarkan lembaganya karena dianggap sebagai milik pribadi. Perlu adanya semacam pencerahan kepada para pengurus, pengasuh bahwa jika  sudah didaftarkan kemudian jadi milik pemerintah, tidak. Justru dengan kita mendaftarkan, kita ada mitra kolaborasi, bekerja sama dengan eksternal untuk bisa membangun pesantren lebih baik dan lebih bermartabat yang bisa menjadi pilihan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi agar setiap pesantren mengurus izin operasional dari Kemenag. 

Untuk itu orang tua harus selektif dalam memilih pesantren bagi anak mereka yaitu seperti diantaranya nyaman, aman, legal atau terdaftar sehingga bisa mencegah hal yang tidak diinginkan. Terkadang banyak orang tua yang masih tergiur dengan biaya pesantren yang gratis tanpa mengetahui karakteristik pesantren, bagaimana sistem pesantren dan  mengenal pengasuh seperti apa, apakah dapat dipercaya semisal dengan mempunyai sanad yang sudah jelas. Karena zaman sekarang banyak pesantren berdiri tanpa diketahui asal usul sanad pesantren tersebut. Dengan mengetahui sanad tersebut kitab bisa mengetahui ilmu yang akan diajarkan seperti apa, sebab kita harus selektif memilih pesantren untuk anak kita agar ajaran-ajaran yang diterima tidak melenceng atau ajaran yang tidak jelas bahkan jangan sampai dengan aliran yang menyesatkan tidak sesuai dengan ajaran Al-qur’an dan Hadist.  

Baca juga : Refleksi Tahun Baru Islam dengan Pendidikan Kita Bangun Kemajuan Peradaban Islam

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang berorientasi pada kajian keagamaan yang bersumber pada Al-Quran dan hadits. Sampai saat ini, pesantren semakin menarik perhatian masyarakat karena menanamkan ketersambungan rantai atau sanad keilmuan untuk menjaga orisinalitas dan kevalidan keilmuan antara guru dan murid.

Dalam tradisi pesantren, ilmu menjadi bagian dari agama karena bersumber dari wahyu. Belajar, mengaji, mengkaji ilmu bagian dari ibadah, sehingga sumber ilmu betul-betul jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, pesantren sanad keilmuan bagian dari agama. Dengan demikian sanad dan ijazah sangat penting untuk mempertahankan autentisitas dan orisinilitas ilmu, khusunya tentang agama Islam yang terus dipegang kuat dalam tradisi pesantren.  

Penjelasan di atas menegaskan bahwa setiap orang tua/santri harus memiliki guru yang mempunyai kemampuan dan sanad keilmuan yang jelas, karena sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas seseorang dalam berilmu. Semakin disebut sumber ilmu itu, maka Rahmat Allah akan turun setiap kali menyebut nama-nama orang saleh.

Penanaman Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Penulis : M. Shokhib Anwar, Editor : Ibnu Salim

SMPN 1 Wiradesa, salah satu sekolah negeri di Kabupaten Pekalongan, merupakan contoh teladan dalam penerapan moderasi beragama di lingkungan pendidikan. Meskipun mayoritas siswa beragama Islam, sekolah ini juga memiliki sejumlah siswa beragama Kristen. Perbedaan keyakinan ini tidak menghalangi terciptanya keharmonisan dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Siswa-siswi di SMPN 1 Wiradesa saling menghormati dan menunjukkan kepedulian tinggi terhadap sesama.

Toleransi beragama antara umat Islam dan Kristen di sekolah ini menjadi fondasi dalam membentuk masyarakat yang inklusif dan damai. Moderasi beragama diperlukan untuk memastikan bahwa semua siswa, terlepas dari keyakinan mereka, merasa dihargai dan didukung dalam mengembangkan identitas agama mereka tanpa rasa takut akan diskriminasi atau penindasan.

Di SMPN 1 Wiradesa, pendekatan terhadap toleransi beragama dilakukan secara proaktif melalui program-program pendidikan yang mendorong pemahaman tentang masing-masing keyakinan, dialog antaragama yang terbuka, dan kerjasama dalam berbagai kegiatan bersama. Setiap pagi, siswa yang beragama muslim diwajibkan membaca Al-Qur’an dan Asmaul Husna, sementara siswa beragama Kristen mengikuti kajian rohani yang dipimpin oleh guru yang beragama Kristen. Praktik ini memastikan bahwa siswa non-Muslim tidak merasa terdiskriminasi karena perbedaan agama mereka. 

Baca Juga:Kemerdekaan Sebagai Paradigma Moderasi Beragama

Memahami persamaan dalam ajaran kedua agama, seperti cinta, kasih sayang, keadilan, dan perdamaian, adalah kunci untuk mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat hubungan antarumat beragama di sekolah. Guru dan staf sekolah harus menjadi teladan dalam mempraktikkan toleransi dan menghormati keberagaman agama.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kebutuhan individu dan memastikan bahwa setiap siswa merasa aman dan dihormati dalam lingkungan sekolah. Upaya ini meliputi pencegahan dan penanganan pelecehan atau diskriminasi berbasis agama serta penyediaan sumber daya dan dukungan bagi siswa yang membutuhkannya.

Secara keseluruhan, pendekatan yang mengedepankan toleransi beragama antara umat Islam dan Kristen di sekolah akan membantu membentuk generasi yang lebih terbuka, saling menghormati, dan memahami keberagaman agama dalam masyarakat. Moderasi agama di sekolah dengan siswa dari berbagai latar belakang keagamaan adalah bagian penting dari pendidikan yang inklusif dan maju. Hal ini bukan hanya tentang menghormati perbedaan, tetapi juga tentang membentuk generasi yang mampu hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat yang memiliki keragaman budaya dan agama.

Baca Juga : Peran Moderasi Beragama dalam Memerangi Fenomena Bullying di Lingkungan Masyarakat Heterogen

Di sekolah-sekolah seperti SMPN 1 Wiradesa, moderasi agama bukanlah sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kegiatan sehari-hari. Guru dan staf sekolah bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang mengedepankan pemahaman, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan agama. Mereka juga harus siap mengawasi dan memperhatikan siswa untuk mencegah terjadinya perpecahan atau pelecehan berbasis agama.

Sebagai pendidik, siswa diajarkan untuk melihat perbedaan agama sebagai kekayaan, bukan hambatan. Mereka belajar untuk bertanya, mendengarkan, dan memahami pandangan berbeda tanpa menghakimi atau memaksakan keyakinan mereka. Guru dan staf harus siap menghadapi perbedaan agama di antara siswa agar hubungan tetap harmonis tanpa membeda-bedakannya dan diskriminasi.

SMPN 1 Wiradesa secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai universal yang dianut oleh hampir semua agama, seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Dengan memfokuskan pada kesamaan ini, mereka dapat membangun titik-titik persamaan yang kuat untuk saling terhubung dengan lebih baik. Sekolah ini harus menjadi contoh dalam menerapkan moderasi agama. Semua yang terlibat dari sekolah ini harus mempraktikkan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menciptakan masa depan yang memahami pentingnya kerjasama lintas agama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan menerima keberagaman.

Gus Dur, Tokoh yang Memiliki Dua Tanggal Lahir

Penulis: Fajri Muarrikh, Editor: Sirli Amry

Siapa yang tidak tahu sosok KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa dengan nama Gus Dur, adalah cendekiawan muslim yang pernah menjadi Presiden ke empat Republik Indonesia serta menahkodai organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, selama tiga periode lamanya.

Gus Dur adalah putra sulung dari seorang Menteri Agama RI pertama, KH. Wahid Hasyim—cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ini dilahirkan di Denanyar, Jombang; lebih tepatnya di rumah pesantren milik KH. Bisri Syansuri, kakek dari jalur ibunya.

Dalam buku “The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid”, karya Greg Barton pada bagian I dijelaskan bahwa ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, teman-teman dan keluarga Gus Dur merayakan hari ulang tahunnya, namun tampaknya orang yang hadir di Istana Bogor pada hari Jum’at 4 Agustus 2000 itu tak menyadari bahwa sebenarnya bukan itu tanggal lahirnya.

Tepat hari ini, 7 September, adalah hari lahir Gus Dur yang sebenarnya. Seperti yang sering diceritakan oleh puteri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, kepada teman-teman penggerak Komunitas GUSDURian, bahwa Gus Dur mempunyai dua tanggal lahir, yang pertama adalah 4 Agustus, adalah hari lahir yang legal, yang tercatat dalam administrasi kependudukan negara. Dan 7 September adalah hari lahir Gus Dur yang secara sah.

Baca Juga: Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Alissa Wahid bercerita yang bersumber dari ibunya, bahwa Nyai Solichah, ibunda Gus Dur, tak terpikir ketika masa mudanya (dalam tahun-tahun pertama perkawinannya bisa membaca huruf Arab, tetapi tidak bisa membaca huruf latin), bahwa pejabat catatan sipil di pedesaan adalah seorang muslim yang saleh akan mencatat hari lahir anak sulungnya itu tanggal 4 Agustus. Memanglah benar, putra sulungnya itu dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Akan tetapi perlu kita ketahui bersama bahwa tanggal itu adalah menurut penaggalan kalender Islam, yakni tanggal 4 Sya’ban 1940, atau dalam kalender masehi pada saat itu bertepatan tanggal 7 September.

Kendati demikian, Gus Dur dan para puteri tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka tetap membiarkannya dan menjadikan hal tersebut sebagai salah satu keunikan dari sosok seorang Gus Dur.

Maka dari itu, Jaringan GUSDURian, sebuah komunitas yang digawangi oleh Alissa Wahid itu merayakan hari lahir Gus Dur dari 4 Agustus hingga 7 September sebagai puncaknya di setiap tahunnya.

Baca Juga: Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Perjalanan Sejarah Menuju Kepresidenan RI

Jaringan GUSDURian memperingati hari lahir Gus Dur diisi sebagai momentum refleksi, ruang belajar, dan arena sinergi bagi penggerak komunitas GUSDURian, serta merawat Nilai, Pemikiran dan Keteladanan (NPK) Gus Dur. Dari hal itulah sampai pada akhirnya Jaringan GUSDURian menyuarakan tagline yang berbunyi “Gus Dur Sudah Meneladankan, Saatnya Kita Melanjutkan”.

Puncak Harmoni Agama Dalam Seni Dan Arsitektur Goa Sunyaragi Cirebon

Penulis: Risky Ardian, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Goa Sunyaragi, dengan segala keindahan dan kompleksitasnya, melambangkan bukan hanya sebuah situs bersejarah, tetapi juga karya seni dan arsitektur yang mencerminkan moderasi beragama. Di antara lorong-lorong dan ruang-ruangnya yang gelap, terdapat jejak-jejak yang menghubungkan tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda. Dari relief-relief yang menceritakan kisah-kisah epik Hindu, hingga detil-detil seni Buddha yang mempesona, serta kata-kata bijak Islam yang tertulis indah di dinding-dindingnya, goa ini menjadi simbol harmoni antar-umat beragama.

Goa Sunyaragi merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya akan sejarah dan nilai-nilai kulturalnya. Melihat corak goa tersebut dalam konteks moderasi beragama, dapat dilihat bahwa ada beberapa elemen yang bisa ditarik sebagai representasi dari moderasi dalam praktik keagamaan.

Baca Juga: Tradisi Pesta Giling Tebu: Mengenal lebih dalam Warisan Budaya Kota Pekalongan

Pertama, goa tersebut merupakan simbol harmoni antara agama-agama yang berbeda. Dalam goa tersebut terdapat beragam simbol keagamaan dari tradisi Hindu, Buddha, dan Islam. Kehadiran simbol-simbol tersebut mencerminkan toleransi dan kerukunan antar-umat beragama. Hal ini penting dalam konteks moderasi beragama karena menunjukkan bahwa meskipun perbedaan kepercayaan ada, namun ada ruang bagi semua keyakinan untuk hidup berdampingan secara damai.

Kedua, arsitektur dan seni relief yang terdapat di dalam goa tersebut mungkin menggambarkan pesan-pesan universal tentang perdamaian, cinta, dan harmoni. Pesan-pesan ini dapat diinterpretasikan secara inklusif oleh semua penganut agama, tanpa memandang perbedaan kepercayaan. Dalam konteks moderasi beragama, hal ini menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai universal yang dapat menyatukan umat beragama dalam semangat persaudaraan.

Ketiga, Goa Sunyaragi juga dapat menjadi tempat untuk refleksi dan meditasi bagi pemeluk berbagai agama. Keberadaan tempat suci yang bersahaja seperti goa tersebut dapat menjadi tempat bagi individu untuk menggali makna spiritual dalam kehidupan mereka, tanpa harus terjebak dalam pertentangan dogma keagamaan yang keras. Dalam hal ini, Goa Sunyaragi dapat menjadi simbol praktik spiritual yang moderat dan inklusif.

Baca Juga: Batik Warisan Budaya Yang Mendunia

Sebagai warisan budaya Indonesia yang berharga, Goa Sunyaragi mengajarkan kita bahwa harmoni agama bukanlah sekadar impian, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan melalui penghargaan terhadap perbedaan dan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai. Dalam keragaman kita, terdapat kekuatan untuk menciptakan dunia yang lebih baik, di mana setiap individu dihargai atas keunikan dan kepercayaannya.

Menyoroti Bahaya Bermain Game Online Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Dan Sosial

Penulis: Muhammad Nadhiful Akmal, Editor: Tegar Dwi Pangestu

Seperti yang kita ketahui bermain game sangat menghibur dikala sedang istirahat namun ada satu kasus berada dikalangan anak-anak yang bermain game online hingga mengakibatkan kekerasan. Termasuk salah satunya kejadian yang dialami siswi SMK di bogor berinisial AYNCR biasa dipanggil N. (TribunNewsBogor.com., Senin, 3 Juni 2024 11:27 WIB).

Kasus ini masih menjadi bahan perbincangan warga bogor. Berdasarkan ceritanya, Polisi pernah menjemput salah satu mahasiswa di Malang, Jawa Timur yang diduga ternyata menemukan percakapan N dengan mahasiswa tersebut. Mahasiswa tersebut bahkan sempat menjadi saksi dalam kasus N bogor. Mahasiswa itu diperiksa atas hubungannya dengan korban. Korban yang berusia 18 tahun ini tewas ditusuk di gang kecil arah Jalan Riau. Sampai saat itu polisi sama sekali tak menangkap pelakunya. Padahal menurut ayah korban, polisi telah menyita HP, laptop, hingga buku harian korban. Ayah korban mengatakan polisi telah menemukan percakapan jejak korban di sebuah game onlinenya. Korban melakukan percakapan dengan seseorang yang berasal dari Malang, Jawa Timur.

Polisi menemukan percakapan antara N dan seseorang dari Malang di game tersebut sebelum kematiannya. Orang tersebut ternyata pernah ke Bogor untuk menemui pacarnya di Cibinong, bukan N. Hingga kini, polisi tidak menemukan bukti lain di ponsel korban yang mengarah pada keterlibatan orang itu sebagai pelaku. Kasat Reskrim Polresta Bogor menyatakan bahwa mereka masih mencari bukti tambahan untuk menguatkan penyelidikan dan menetapkan tersangka. Selama lima tahun, polisi telah memeriksa 34 saksi, tetapi belum ada bukti kuat untuk menetapkan tersangka.

Baca Juga: Program Sekolah Ramah Anak (SRA) Dan Kontribusi Pemerintah Dalam Menurunkan Tingkat Kekerasan Terhadap Anak Di Indonesia

Dari kasus diatas ada keterkaitan dengan informasi yang dikutip dari detiknews.com satu bulan yang lalu bahwa pemerintah ancam blokir game yang mengandung kekerasan. Dalam hal ini pemerintah memberikan solusi seperti mengancam akan diblokir game yang mengandung kekerasan dengan mengatakan “bisa saja ada pemblokiran jika tidak sesuai dengan klasifikasi permenkominfo tersebut. Terutama untuk konten-konten yang mengandung kekerasan, perilaku konten yang mengandung kekerasan, perilaku seksual yang menyimpang, bahkan judi online,” ujar Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Nahar dalam keterangan yang diterima, Senin (22/4/2024)

Bermain game online dapat menjadi hiburan yang menyenangkan, tetapi kita juga perlu menyadari bahayanya. Dampaknya terhadap kesehatan mental dan sosial bisa sangat merugikan jika tidak diatur dengan baik. Ketergantungan pada game online dapat mengganggu keseimbangan hidup, memicu isolasi sosial, dan bahkan menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Oleh karena itu, penting untuk membatasi waktu bermain, menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline, serta memastikan bahwa permainan yang dimainkan tidak mengandung konten yang merusak.

Selain itu, bermain game online juga dapat menimbulkan risiko keamanan dan privasi. Banyak game online yang meminta informasi pribadi dari pemain, dan jika tidak diatur dengan hati-hati, informasi tersebut bisa disalahgunakan. Selain itu, ada risiko terlibat dalam perilaku yang tidak etis atau ilegal dalam game online, seperti penipuan atau pelecehan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mempertimbangkan dampak potensial dan mengambil langkah- langkah perlindungan yang tepat saat bermain game online.

Juga bisa mempengaruhi fisik. Terlalu banyak duduk dan kurang aktivitas fisik dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas, nyeri punggung, dan gangguan postur. Dari sisi perkembangan pribadi, waktu yang berlebihan di depan layar dapat menghambat keterampilan hidup penting seperti manajemen waktu, tanggung jawab, dan produktivitas. Pendekatan yang seimbang dan bijaksana dalam bermain game sangat diperlukan, termasuk batasan waktu dan diversifikasi aktivitas harian untuk memastikan kesehatan mental, sosial, dan fisik yang optimal.

Baca Juga: Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Berdasarkan penjelasan di atas dapat di ambil pelajaran bahwa masyarakat dan keluarga harus lebih sadar akan tanda-tanda ketergantungan dan menyediakan dukungan yang diperlukan untuk mendorong interaksi sosial yang sehat dan keterlibatan dalam kegiatan fisik. Program pendidikan dan kampanye kesadaran dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang bahaya potensial dan cara mengelolanya. Pemerintah dan penyedia layanan game juga memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan penggunaan yang sehat melalui regulasi dan fitur yang membatasi penggunaan berlebihan. Dengan demikian, kita dapat menikmati manfaat hiburan dari game online tanpa mengorbankan kesehatan mental dan sosial. Dalam lingkungan sekolah perlu menyediakan guru bk yang berada dalam sekolah tersebut ikut serta mengamati kegiatan yang dilakukan oleh siswa siswinya agar hal ini tidak menimbulkan kejadian itu terulang kembali.

Menilik Perspektif Boikot Produk Israel terhadap Ekonomi Lokal dan Nilai-Nilai Moderasi Beragama

Penulis: Nabilah Trinatasya, Editor: Sirli Amry

Dahulu, gerakan boikot telah terbukti berhasil dalam menjatuhkan rezim apartheid di Afrika Selatan. Dalam konteks ini, menekankan terkait penggencaran boikot terhadap produk-produk yang berafiliasi dengan Israel secara proporsional agar tidak merugikan ekonomi lokal. Seruan boikot dari konsumen dalam negeri terhadap produk atau merek yang terafiliasi dengan negara Israel semakin meningkat seiring eskalasi konflik antara Hamas dan Israel di wilayah Gaza. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina, yang mengimbau masyarakat Muslim untuk menghindari transaksi dan penggunaan produk pendukung Israel.

Gerakan sosial global bernama Boycott, Divestment, and Sanction (BDS) juga mendukung aksi boikot terhadap Israel dengan tujuan menekan negara tersebut dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Meskipun gerakan boikot memiliki dampak efektif terutama jika dilakukan terhadap produk impor langsung dari Israel, perlu ditekankan bahwa aksi boikot harus dilakukan secara bijak agar tidak merugikan perekonomian lokal.

Dari perspektif ekonomi, aksi boikot dapat membuka peluang usaha bisnis bagi para pengusaha lokal untuk melakukan substitusi terhadap produk-produk yang terkena boikot. Walaupun begitu, sektor UMKM di Indonesia masih membutuhkan waktu agar kualitas produk mereka dapat menyubtitusi produk-produk impor yang terkena boikot.

Baca Juga: Menguak Misi Terselubung: Strategi Israel dalam Konflik Palestina

Menilik kesempatan yang ada, aksi boikot juga dapat menjadi momentum dan peluang bagi UMKM untuk mengambil ceruk pasar yang sebelumnya diisi oleh produk impor. Meskipun demikian, keputusan konsumen berpartisipasi dalam aksi boikot banyak ditentukan oleh biaya yang akan mereka tanggung akibat boikot, serta akses mereka terhadap produk substitusi.

Dapat kita lihat bersama bahwa aliran dana yang jauh lebih besar didapat oleh Israel dari pinjaman luar negeri, penjualan migas, hingga transaksi perangkat lunak untuk gawai, sementara perusahaan yang terkena boikot memiliki lisensi domestik dan menyerap tenaga kerja lokal. Oleh karena itu, aksi boikot perlu disikapi secara bijak agar sasaran tujuan dari aksi bisa tercapai tanpa merugikan perekonomian lokal.

Menyikapi hal tersebut, banyak pula perspektif yang bermunculan sebagai reaksi dari adanya boikot tersebut. Dalam perspektif politik sendiri terlihat beberapa orang mendukung boikot produk Israel sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah Israel terkait konflik Palestina. Mereka berpendapat bahwa melalui boikot, tekanan dapat diberikan pada pemerintah Israel untuk mengubah kebijakan mereka terkait pendudukan dan perlakuan terhadap rakyat Palestina.

Hampir sama dalam pandangan politik, perspektif ekonomi memandang bahwa boikot sebagai cara untuk mengurangi dukungan finansial terhadap entitas yang mereka percayai melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Mereka berharap bahwa dengan mengurangi permintaan terhadap produk Israel, akan ada pengurangan pendapatan bagi perusahaan-perusahaan Israel yang terlibat dalam kegiatan yang dipandang kontroversial.

Baca Juga: Mengulik Makna di Balik Fenomena Maraknya Emoji Semangka dan Palestina

Namun, ada juga kritik terhadap boikot produk Israel. Beberapa orang berpendapat bahwa ini bisa merugikan orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut, tanpa memberikan jaminan bahwa itu akan mengubah kebijakan pemerintah Israel. Selain itu, ada yang menyatakan bahwa hal itu dapat menghambat dialog dan upaya perdamaian antara kedua belah pihak.

Selain itu, diskusi tentang boikot produk Israel juga terlihat mencerminkan kompleksitas hubungan internasional dan geopolitik. Negara-negara dan entitas lainnya mungkin memiliki kepentingan politik dan ekonomi tertentu dalam memilih apakah akan mendukung atau menentang boikot tersebut. Hal ini termasuk bagian dari kepentingan dan implikasi global.

Dalam ranah moderasi beragama sendiri memandang bahwa konflik boikot produk Israel dengan melibatkan pendekatan yang bijaksana dan berwawasan luas terhadap isu tersebut. Penekanan pada dialog dan pemahaman dapat menjadi salah satu langkah yang bisa dilakukan dalam menghadapi konflik dari berbagai pihak yang terlibat. Hal ini termasuk mendengarkan perspektif yang berbeda-beda, memahami akar masalah, dan mencari solusi secara bersama-sama. Sikap terbuka terhadap suatu masalah dan terlibat dalam diskusi juga termasuk sikap menghargai kepada setiap manusia. Seseorang harus bisa menghormati kehidupan setiap individu, tanpa memandang agam, etnis, atau latar belakang lainnya.

Penggunaan boikot sebagai alat perdamaian. Boikot produk Israel atau dari negara lain merupakan hak individu atau kelompok, namun harus dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya secara luas. Moderasi agama akan menekankan bahwa boikot harus dilakukan secara damai dan bertujuan untuk mendorong perubahan positif, bukan untuk meningkatkan ketegangan atau membenci pihak lain.

Pengembangan solusi yang berkelanjutan. Moderasi agama memandang pentingnya mencari solusi jangka panjang yang berkelanjutan untuk konflik, termasuk yang terkait dengan boikot produk. Hal ini mungkin melibatkan upaya diplomasi, negosiasi, dan pembangunan kepercayaan antara kedua belah pihak.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip moderasi agama ini, diharapkan dapat tercipta pendekatan yang lebih terbuka, inklusif, dan damai dalam menangani konflik boikot produk Israel atau konflik-konflik serupa di masa depan.

Kekerasan Terhadap Anak-anak: Pentingnya Seks Edukasi dan Parenting untuk Para Remaja

Penulis : Anis Muzkiyah, Editor : Ryuu Pangestu

Saat ini jagad media sosial kembali digegerkan oleh kasus kekerasan pada anak kecil hingga anak tersebut meninggal. Kasus kali ini terjadi di Cleveland, Ohio daerah Amerika Serikat yang dilakukan oleh seorang ibu berusia 32 tahun. Ibu ini meninggalkan bayinya yang beusia 16 bulan didalam rumah sendirian selama 10 hari. Diketahui ibu bayi tersebut pergi berlibur bersama temannya ke sebuah destinasi yang berjarak beratus kilo meter dari rumahnya.

Mirisnya, ibu ini meninggalkan anak tersebut dalam keadaan rumah terkunci tanpa seorangpun yang menjaga anaknya serta meninggalkan sebotol susu di dalam kotak permainan. Hal tersebut membuat publik merasa heran dan geram atas perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pelaku karena menyebabkan korban meninggal dunia.

Ikatan batin seorang ibu dan anak harusnya sangat kuat. Hampir tidak ada seorangpun ibu yang tega meninggalkan anaknya sendirian apalagi anak yang masih kecil dibawah umur 2 tahun. Namun pada kenyataannya hal yang dilakukan oleh seorang ibu di Cleveland, Ohio daerah Amerika Serikat ini malah sebaliknya. Padahal jika dilihat dari umurnya, pelaku bukan lagi seorang remaja atau ibu muda yang baru saja memiliki seorang anak. Kurangnya pendampingan dari orang tua pelaku serta kurangnya edukasi mengenai parenting pada pelaku membuat terjadinya perilaku menyimpang yang menyebabkan nyawa menghilng tersebut terjadi.

Baca juga : Pendampingan SOP PPKS oleh PSGA LP2M, Membangun Pesantren Bebas Kekerasan Seksual

Di Indonesia sendiri, sebenarnya tidak sedikit kasus kekerasan pada anak kecil diakibatkan oleh kurang matangnya mental psikis seorang ibu karena usia yang terlalu muda. Selain itu, budaya tindak kekerasan pada anak dengan tujuan mendidik atau mendisiplinkan anak sudah sejak lama terjadi diberbagai daerah di Indonesia. Misalnya banyak orang tua yang suka menghukum anak dengan dipukuli, dikurung maupun kekerasan lainnya yang menyebabkan anak menjadi trauma dan mengalami gangguan baik secara fisik maupun psikis.

Melalui tindak kekerasan yang telah dialami seorang anak pada masa kecilnya membuat mereka besar dengan rasa takut dan cemas sehingga dapat memicu kembali tindak kekerasan yang sama pada anak-anak mereka. Hal ini membuat sebuah lingkaran setan yang tidak ada ujungnya, sehingga adanya pendidikan seksual dan parenting bagi remaja di masa kini sangat penting.

Pada zaman dahulu, sebagian masyarakat beranggapan bahwa pendidikan harus berlangsung didalam ruang kelas, padahal pembentukan karakter seseorang dimulai sejak lahir hingga dewasa melalui peran orang tua. Selain pendidikan seksual, para remaja juga baiknya diberikan pendidikan mengenai parenting yang baik untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak terulang kembali.

Baca juga : Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga dengan Nilai Islami: Mencegah Kekerasan dalam Rumah Tangga

Pada saat ini, banyak bertebaran di media sosial mengenai cara menjadi orang tua yang baik dan benar serta cara menghadapi anak yang susah diatur. Banyak influencer di berbagai platform media sosial yang memberikan gambaran secara langsung bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak yang baik agar di masa depan mereka memiliki sikap yang positif dalam menghadapi segala permasalahan pada kehidupannya. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan parenting penting untuk para remaja agar mereka mendapat gambaran mengenai kehidupan setelah menikah yaitu mengasuh dan mendidik seorang anak.

Dengan pendidikan parenting ini, orang tua maupun calon orang tua dapat memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan anak pada setiap tahap perkembangan usianya. Orang tua memiliki peran utnuk membentuk karakter seorang anak melalui sikap dan tindakannya dalam mengasuh dan mendidik anak. Melalui pendidikan parenting ini, diharapkan anak-anak penerus bangsa mendapatkan pendidikan karakter yang sesuai dan baik dari orang tua maupun calon orang tua di masa mendatang.

Pendidikan parenting ini juga dapat mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak kecil seperti kasus yang menimpa seorang ibu Cleveland, Ohio daerah Amerika Serikat di atas. Pemahaman seseorang mengenai pola mengasuh yang baik dan sesuai dapat mengurangi kasus tindak kekerasan terhadap anak dan mengurangi timbulnya masalah yang lebih serius di masa mendatang.

Baca juga : Mengupas Dampak Kasus Bullying pada Kesehatan Mental Anak: Tantangan dan Solusi

Pendidikan seksual tidak hanya sebatas mengenai bagaimana cara seseorang melakukan hubungan dengan lawan jenis, namun terdapat banyak hal yang perlu diketahui oleh para remaja mengenai pendidikan seksual ini. Para remaja harus memahami bahwa terdapat batasan atau capaian umur yang ideal untuk melaksakan pernikahan, memiliki seorang anak maupun mengasuh dan mendidik anaknya. Usia yang matang membuat seseorang menjadi lebih paham

mengenai bagaimana cara menyelesaikan masalah serta mengasuh seorang anak. Selain pengalaman hidup, pengetahuan mengenai cara bertahan hidup juga biasanya didapatkan saat usia seseorang sudah di atas 20 tahun atau paling mudanya usia 18 tahun. Oleh sebab itulah, pemerintah Indonesia menetapkan batas usia minimal untuk menikah yaitu 19 tahun. Batas minimal usia tersebut tertuang dalam pasal 7 ayat (1) UU Nomor 16 tahun 2019 yang menyatakan bahwa pernikahan yang dizinkan oleh negara apabila seorang pria maupun wanita telah berusia 19 (sembilan belas) tahun. Pendidikan mengenai seksual ini baiknya sudah diberikan kepada anak mulai dari usia 6-8 tahun dengan cara yang menarik dan tidak terlalu berbau vulgar.

Pada saat anak mulai menginjak usia remaja, maka sebaiknya sebagai orang tua atau pendidik memberikan pengetahuan mengenai buruknya seks bebas dan penyakit-penyakit berbahaya yang dapat menimpa seseorang. Hal ini diperlukan agar anak mengerti bahwa pada usia remaja mereka belum siap secara fisik dan mental untuk melakukan hubungan dengan lawan jenis. Jika anak sudah dewasa dan sudah memasuki masa siap untuk menikah, maka baiknya pendidikan mengenai seksual sudah membahas tentang melakukan hubungan sehat dan cara menjaga kesehatan daerah intim.