Mengenal Syekh Nujumudin : Ulama Sufi Pembabad dan Penyebar Islam di Watusalam

Penulis: Muhammad Irfan, Editor: Fajri Muarrikh

Desa Watusalam terletak di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dan berbatasan dengan Desa Warungasem Kabupaten Batang disebelah timur, dan berbatasan dengan Kota Pekalongan di sebelah utara.

Di desa Watusalam terdapat seorang punden atau leluhur yang membabad tanah Watusalam, bernama Syekh Nujumuddin dari Cirebon, lahir pada tahun 1690 M, dan wafat pada tahun 1771 M, pada bulan safar. Beliau adalah seorang murid dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Jawa Barat. Setelah membuka perguruan atau pesantren di Gua Safarwadi, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan banyak kedatangan murid-murid, salah satunya Syekh Nujumuddin. Kurang lebih tujuh tahun beliau menimba ilmu dan mengambil sanad tarekat Syattariyah, setelah itu Syekh Abdul Muhyi memerintahkan kepada Syekh Nujumuddin untuk menyebarkan Agama Islam dan berdakwah dari Cirebon menuju ke pesisir utara Jawa.

Dalam menuju ke pesisir utara laut jawa, beliau bersama dengan rombongan Syekh Faqih Ibrahim, putra dari Syekh Abdul Muhyi untuk menuju ke Mataram, akan tetapi Syekh Nujumuddin memisahkan diri karena dalam perjalanan beliau teringat pesan gurunya bahwa ada murid tua dari gurunya bernama Syekh Tholabuddin di Batang, yang saat itu sudah menjabat menjadi penghulu di Batang. Akhirnya, Syekh Nujumuddin berpisah dari rombongan dan menuju ke murid tertua Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Dalam perjalanannya, beliau beberapa kali bertemu dengan orang untuk menanyakan tempat tinggal Syekh Tholabuddin, akhirnya setelah mengetahui keberadaan Syekh Tholabuddin, Syekh Nujumuddin mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Syekh Tholabuddin, dikarenakan Syekh Tholabuddin sudah menjadi penghulu. Beliau singgah di suatu daerah untuk meminta petunjuk sebelum menemui Syekh Tholabuddin, daerah itu dipenuhi pohon salam dan bambu, kemudian beliau memilih dibawah pepohonan bambu dan mendirikan gubuk untuk tempat tinggal tepatnya di pinggir kali kupang. Orang yang mengetahui ada gubuk di pinggir kali kupang dan mengetahui beliau seorang ulama, akhirnya banyak yang mendatangi untuk berguru kepadanya. Pada tahun 1740 M, beliau mendirikan gubuk atau pesantren untuk menampung murid-murid yang belajar dengan beliau.

Baca Juga : Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Perjalanan Sejarah Menuju Kepresidenan RI

Setelah mendapat petunjuk dan sudah lama mengajar murid-muridnya, beliau menemui Syekh Tholabuddin di Masin. Serampung menemuinya, Syekh Nujumuddin kembali ke tempat padepokannya yang di pinggiran kali kupang, yang nantinya tempat itu dinamakan Watujoyo. Disana syekh Nujumuddin mendirikan perkampung yang bernama Watujoyo, sehingga beliau dikenal Buyut Watujoyo. Beliau lah yang pertama kali membabad tanah yang tadinya alas menjadi perkampungan. Di era Belanda desa Watujoyo nantinya di pecah menjadi dua, pertama menjadi desa Kertoharjo dan kedua bernama Watusalam. Makam Syekh Nujumuddin berada dikompek pemakaman seklayu desa Watusalam. Dalam catatan naskah Cirebon berkode KBG 628 PNRI, dari bagus ihram, ditulis pada kertas Eropa. Terdapat dua jenis bahasa yaitu bahasa Arab dan pegon. Bahasa Arab berjumlah 120 halaman dan 30 halaman menggunakan pegon, tertulis silislah sanad keilmuan Syekh Nujumuddin. Untuk silsislahnya, secara berurutan sebagia berikut.

Rasulullah saw.

Ali kang putra Abi Thalib

Husein al-Syahid

Zainal Abidin

Muhammad Baqir

Ja‟far al-Sidiq

Sultan Arifin Abi Yazid al-Bistami

Muhammad Magrib

Arabi Yazid al-Isyqi

Abu Mugafir Maulana Ihram Tusi

Abi Hasani Harqani

Hadaqili Madri al-Nahrini

Muhammad Asyiq

Muhammad Arif

Hidayat Allah Sarmusun

Hasur

Muhammad Gaus kang putra Hatib al-Din

Wajih al-Din

Sibgat Allah kang putra Sayyid Ruh Allah

Sayyidina Abi Muwahid Abd Allah Ahmad kang putra Abbas

Syaikh Ahmad kang putra Muhammad ing Madina, Syaikh Ahmad Qasyasi

Syaikh Abd al-Rauf kang putra Ali kang bangsa Syaikh Hamzah Fansuri

Syaikh Abd al-Muhyi Safarwadi

Syaikh Nujum al-Din

Kanjeng Kyai Haji Muhammad Yunus Saferwedi

Kyai Bagus Muhammad Taraju Cisarua

Bagus Ihram Carebon Babakan

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Sosok Habib Ja’far atau yang Lebih Dikenal Habib Milenial 

Demikianlah biografi dari Syekh Nujumudin yang bisa penulis ceritakan. Syekh Nujumuddin meninggalkan warisan yang tak hanya berupa perkampungan dan pesantren, tetapi juga jejak spiritual yang terus hidup melalui para murid dan silsilah keilmuannya. Hingga kini, Desa Watusalam tetap mengenang beliau sebagai tokoh sentral dalam perkembangan agama Islam di wilayah tersebut, dengan makamnya menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati.  Jika ada kekeliruan, bisa dikoreksi bersama.

Wallahu a’lam..

Sedekah Dalam Perayaan Kelulusan Menghindari Konvoi yang Merugikan

Penulis: Saeful Anwar; Editor : Azzam Nabil Hibrizi

Kelulusan merupakan momen penting dalam kehidupan setiap siswa. Selain itu, momen ini juga menjadi sebuah tonggak yang menandai berakhirnya masa belajar dan awal dari babak baru dalam kehidupan. Konvoi kelulusan di zaman sekarang sering kali menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Di satu sisi, konvoi ini merupakan ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur para siswa yang telah menyelesaikan masa studi mereka. Dengan konvoi, mereka merayakan pencapaian penting bersama teman-teman seangkatan, mempererat ikatan emosional, dan menciptakan kenangan yang tak terlupakan.

Namun, tradisi konvoi kelulusan yang sering kita lihat di jalanan saat ini menghadirkan berbagai risiko dan dampak negatif yang seharusnya bisa kita hindari. Konvoi kelulusan sering kali menimbulkan masalah, seperti kemacetan lalu lintas, kebisingan, dan perilaku tidak tertib dari peserta konvoi dapat mengganggu kenyamanan umum dan membahayakan keselamatan. Tidak jarang juga terjadi insiden kecelakaan karena konvoi dilakukan tanpa pengawasan yang memadai. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa konvoi tersebut dapat menginspirasi perilaku yang kurang bertanggung jawab, seperti balapan liar atau vandalisme.

Baca Juga: Menjaga Lidah, Prinsip Moral yang Universal

Dampak-dampak negatif dari konvoi tersebut yang kemudian dalam hal ini disebut sebagai sebuah mudharat, atau keburukan. Sehingga sebagaimana kaidah fiqh menyebutkan bahwasannya kemudharatan haruslah dihilangkan. Oleh karena itu, sebagai pengganti dari kegiatan konvoi, alangkah lebih baik apabila momen kelulusan ini di isi dengan hal-hal positif dalam upaya mengimplementasikan rasa syukur kepada Allah Swt. atas rahmat dan karunia-Nya seseorang diberikan rezeki berupa kelulusan setelah menempuh pendidikan.

Baca Juga: Memprediksi Masa Depan Pendidikan: Tren Digital dalam Mempersiapkan Perubahan

Hal-hal positif yang dapat dilakukan salah satunya adalah bersedekah. Sebab, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 261, yang artinya “Apabila harta yang disedekahkan halal dan diniatkan semata-mata karena Allah, bersedekah sebagai bukti rasa syukur kepada-Nya, bersedekah di waktu lapang maupun sempit, serta selalu memohon ampunan dari Allah, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, dan senantiasa berbuat kebaikan.”

Dari ayat tersebut dapat dimaknai dan dikaitkan dengan momen kelulusan ini, yakni sebagai ungkapan syukur maka sedekah dapat menjadi jalan terbaik daripada melakukan konvoi. Kegiatan sedekah ini dapat dilakukan bersama-sama, ataupun mandiri. Sedekah bersama-sama ini dapat berupa membagikan jajan/makanan gratis dijalanan, mengumpulkan dana untuk anak-anak panti asuhan, dan lain sebagainya. Sedangkan sedekah mandiri dapat dilakukan menyesuaikan situasi dan kondisi seseorang.

والله أعلم بالصواب

Menjaga Lidah, Prinsip Moral yang Universal

Penulis: Serena Salsabila; Editor: Sirli Amry

Ghibah atau berbicara buruk tentang orang lain adalah perilaku yang sangat dihindari oleh banyak agama dan budaya. Ghibah dapat menimbulkan dampak yang negatif yang beragam. Salah satunya adalah rusaknya hubungan sosial, baik dalam pertemanan, kekeluargaan, maupun hubungan sosial lainnya. Selain merusak hubungan sosial, ghibah juga dapat merusak kesehatan mental dan emosional, serta menciptakan lingkungan yang tidak sehat.

Menjaga lidah bukan hanya tentang menahan diri untuk tidak berbicara buruk tentang orang lain, tetapi juga membangun sikap yang penuh dengan kebaikan dan kejujuran. Sikap seperti ini merupakan bentuk penghormatan terhadap hak-hak orang lain. Selain itu, juga merupakan upaya untuk menciptakan hubungan yang lebih baik dalam masyarakat.

Salah satu alasan utama untuk menjaga lidah adalah untuk mencegah ghibah. Ghibah tidak hanya merusak hubungan antar individu, tetapi juga dapat menciptakan ketegangan dan konflik dalam masyarakat. Ketika kita berbicara buruk tentang orang lain, kita tidak hanya merugikan orang yang kita bicarakan, tetapi juga diri kita sendiri.

Baca juga: Menyoroti Bahaya Bermain Game Online Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Dan Sosial

Selain itu, menjaga lidah juga dapat meningkatkan kualitas hidup bersama. Dengan bertutur kata yang baik dan jujur, kita dapat menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung. Sikap positif dan komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan penuh kasih dalam masyarakat.

Bertutur kata yang baik memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk hubungan antar  manusia. Firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah (2:262) menyatakan, “Kata-kata yang baik dan pengampunan lebih baik daripada sedekah yang diiringi celaan.” Kata-kata yang baik mampu menyentuh hati orang lain dan membawa kebaikan dalam hubungan sosial. Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, “Seseorang berkata dengan suatu kata yang tidak memperhatikan kadar beratnya, sehingga akibatnya ia terjerumus ke dalam neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat.” Hal ini menegaskan tanggung jawab besar yang kita miliki atas setiap kata yang keluar dari mulut kita.

Di akhirat nanti, setiap kata yang kita ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Qaf (50:18), “Tidaklah ia berbicara dengan suatu ucapan melainkan di sisinya ada penjaga yang siap.” Menjaga lidah bukan hanya tentang kehidupan dunia, tetapi juga persiapan untuk kehidupan akhirat.

Baca juga: Penanaman Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Mengapa kita harus menjaga lidah? Karena dengan menjaga lidah, kita tidak hanya menghormati orang lain, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk diri kita sendiri dan orang lain. Dengan menjaga lidah, kita dapat mencegah ghibah dan meningkatkan kualitas hidup bersama. Sebab, ghibah itu sendiri sudah dijelaskan pula larangannya dalam QS. Al-Hujurat ayat (12), yang artinya “”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Pentingnya menjaga lidah bukanlah sekadar ajaran agama, tetapi juga prinsip moral yang universal.  Maknanya, prinsip menjaga lidah ini berkaitan dengan berbagai hal dalam kehidupan manusia, karena kata-kata memiliki kekuatan untuk membentuk hal yang baik maupun buruk. Bahkan melalui kata-kata, orang dapat dengan mudah menjatuhkan orang lain. Oleh karena itu, kita harus bertanggung jawab atas setiap ucapan yang keluar dari mulut kita. Sehingga kita dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dengan sesama manusia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat yang lebih baik pula.

Moderasi Beragama sebagai Upaya Mencegah Ekstremisme dan Radikalisme di Indonesia

Penulis : Jihan Nabila Safinnatunnaja, Editor : Dina Fitriana

Semua orang di dunia ini cenderung sepakat bahwa masyarakat lebih menyukai kedamaian dan kerjasama daripada konflik dan perselisihan. Akan tetapi pada kenyataannya seringkali kita jumpai konflik dan perselisihan di sekeliling kita. Islam mengalami proses penyesuaian dan adaptasi dengan budaya lokal ketika tiba di Indonesia pada abad ke-13. Namun, pada periode berikutnya, terutama pada masa penjajahan Belanda, muncul gerakan-gerakan keagamaan yang radikal. Hal itu mengarah pada pemahaman islam yang  lebih literal dan tidak toleran terhadap perbedaan.

Pada masa kemerdekaan, kebebasan ekspresi dan penyebaran agama yang diperbolehkan oleh negara menciptakan ruang bagi pemahaman islam yang lebih luas, baik yang moderat maupun ekstremis. Faktor-faktor sejarah seperti ini membentuk latar belakang  yang komplek untuk perkembangan ekstrimisme Islam di Indonesia. Ekstremis adalah seseorang yang menganut pandangan ekstrim. Individu seperti ini melampaui apa yang dianggap normal dan diharapkan. Sebaliknya, kelompok moderat mempunyai pandangan yang lebih lembut. Mereka tidak ekstrim dalam keyakinan dan tindakannya.

Baca Juga : Candi Wat Arun Bangkok: Kolaborasi Sempurna Estetika, Harmoni dan Spiritualitas

Pada beberapa dekade terakhir, nama Islam sering kali dikaitkan dengan aksi-aksi gerakan ekstrimis dan teroris yang terjadi di berbagai penjuru. Penggunaan simbol-simbol ajaran agama tersebut tidak hanya berdampak pada pelaku dan korbannya, melainkan terhadap  pihak-pihak yang justru tidak terlibat maupun tahu menahu akar persoalannya. Ekstrimisme memberikan gambaran bahwasannya agama memiliki  keterpurukan akan keyakinan  dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  Mereka  memiliki keyakinan berlebihan yang ekstrim sehingga seseorang ataupun kelompok tertentu bisa saja mengalami collective punishment, dimana seseorang atau kelompoknya dihukum  secara kolektif bukan karena kesalahan sendiri, melainkan karena kesalahan orang lain.

Sebagian besar korban collective punishment ini adalah kaum perempuan dan anak-anak, mereka sasaran empuk berbagai bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis, hal ini yang cenderung lemah, dan tidak berdaya dalam melakukan perlawanan terhadap serangan yang datang, apalagi jika dilakukan secara kolektif. Sehingga di tempat-tempat publik seperti lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, bahkan di sekolah, perempuan dan anak-anak rentan mengalami collective punishment mulai dalam bentuk kekerasan verbal, kekerasan fisik, hingga pada aksi pembunuhan. Seperti yang diketahui, ekstremisme telah berkembang dengan laju yang meningkat secara signifikan dalam modus, kuantitas, dan kualitas.

Baca Juga : Meneladani Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari

Dengan meningkatnya ekstrimisme di indonesia, terdapat salah satu upaya pemerintah di Indonesia yakni Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah DIY untuk memerangi ekstremisme. Organisasi pemuda dan tokoh masyarakat dari Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, merupakan mayoritas peserta yang hadir.  Acara ini diselenggarakan di Tabebuya Cafe, dalam Kegiatan ketiga dari dua belas kegiatan di Kabupaten Kulon Progo, yaitu Sosialisasi Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, dilaksanakan pada tahun 2023. Pernyataan tersebut mengungkapkan  bahwa “Tujuan dari proses sosialisasi ini adalah untuk mencegah radikalisme menyebar dan berkembang menjadi aksi terorisme dan ekstrimisme.”

Dengan ini, tujuan di balik fungsi moderasi beragama dalam budaya Indonesia adalah untuk menggagalkan munculnya karakter ekstremis.

Pertama, untuk menjaga keamanan dan perdamaian beragama, moderasi beragama dapat membantu kita memahami, menjaga perdamaian dan keamanan. Kedua, untuk menjaga pengembangan kemampuan literasi wawasan kebangsaan Indonesia, mulai dari sejarah bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa, serta kesadaran akan sikap toleransi beragama, dapat membantu tercapainya moderasi beragama. Yang ketiga adalah mencegah radikalisme pada setiap orang dengan menciptakan lingkungan pertemanan, komunitas, dan pendidikan yang dapat mengubah persepsi kita tentang toleransi beragama, maka dapat mengubah persepsi kita tentang toleransi beragama. Keempat, memupuk budaya-budaya daerah yang terdapat di seluruh kota, pedesaan, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Dengan demikian, melalui pendekatan moderasi beragama secara perlahan, seseorang dapat meningkatkan rasa hormat terhadap ras, etnis, dan budaya di Indonesia, sehingga dapat mewujudkan pemahaman masyarakat. Lalu seseorang pun bisa menjadi lebih terbuka dalam mengadopsi perspektif yang seimbang terhadap agama. Hal ini pun dapat mengembangkan cara berpikir dan bertindak atas klaim kebenaran agama.

Potret Keharmonisan Agama di Indonesia : Surabaya Suguhkan 6 Tempat Ibadah yang Berdampingan

Penulis : Difa Eka Livia, Editor : Dina Fitriana

Keanekaragaman suku, budaya, dan agama menjadi kekayaan intelektual yang dimiliki bangsa Indonesia, tetapi tidak sedikit timbul masalah yang mengakibatkan terpecah belah. Seperti kerukunan umat beragama di Royal Residence Wiyung, Surabaya yang bisa menjadi contoh toleransi antar umat beragama. Toleransi itu diwujudkan dengan 6 tempat ibadah berbeda yang berdiri saling berdampingan. Dalam kesehariannya, kota ini menjadi rumah bagi berbagai tempat ibadah yang berdiri berdampingan dengan damai, menciptakan lanskap yang menunjukkan toleransi antara umat beragama.

Enam tempat ibadah ini hanya berjarak sekitar 2 meter tanpa pagar atau pembatas. Menurut warga sekitar, saat masuk tempat ibadah yang berbeda, warga setempat saling sapa dan menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ke-6 tempat ibadah tersebut sesuai dengan agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Enam rumah ibadah tersebut adalah Masjid Muhajirin, Vihara Buddhayana, Kapel Santo Yustinus untuk umat Katolik, dan Klenteng Ba De Miao. Kemudian Pura Sakti Raden Wijaya, serta GKI Wiyung Royal Residence untuk umat Kristen.

Berikut adalah enam tempat ibadah yang menjadi contoh nyata harmoni antarumat beragama di Kota Surabaya:

Masjid Muhajirin

Masjid Muhajirin, yang terletak di Jalan Muhajirin, adalah salah satu masjid terkemuka di Kota Surabaya. Sebagai tempat ibadah bagi umat Islam, masjid ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan tetapi juga menjadi simbol kerukunan antar umat beragama di kota ini. Terletak berdekatan dengan tempat-tempat ibadah lainnya, Masjid Muhajirin menjadi bagian integral dari keragaman keagamaan Surabaya.

Vihara Buddhayana

Vihara Buddhayana, yang berlokasi di Jalan Kayoon, adalah tempat ibadah utama bagi umat Buddha di Surabaya. Dikelilingi oleh lingkungan yang heterogen, vihara ini menjadi tempat untuk beribadah dan meditasi bagi umat Buddha, sambil mempromosikan dialog antarumat beragama dan toleransi di kota ini.

Kapel Santo Yustinus

Kapel Santo Yustinus, yang terletak di kompleks Sekolah Katolik Santa Ursula di Jalan Kayoon, adalah tempat ibadah Katolik yang terkenal di Surabaya. Meskipun berada di sekitar area yang ramai, kapel ini memberikan ruang bagi umat Katolik untuk merayakan kepercayaan mereka dengan damai dan aman.

Klenteng Ba De Miao

Klenteng Ba De Miao, yang terletak di Jalan Sunan Ampel, adalah klenteng yang menjadi tempat ibadah bagi umat Konghucu di Surabaya. Sebagai salah satu tempat ibadah tertua di kota ini, klenteng ini mencerminkan kerukunan antar umat beragama dan menjadi pusat aktivitas keagamaan bagi umat Konghucu.

Pura Sakti Raden Wijaya

Pura Sakti Raden Wijaya, yang terletak di Jalan Kalirungkut, adalah tempat ibadah Hindu yang penting bagi komunitas Hindu di Surabaya. Dengan arsitektur yang megah dan budaya yang kaya, pura ini menjadi tempat untuk merayakan ritual keagamaan dengan memupuk toleransi dan pengertian antar umat beragama.

GKI Wiyung Royal Residence

Gereja Kristen Indonesia (GKI) Wiyung Royal Residence, yang terletak di Jalan Wiyung Indah, adalah gereja yang memainkan peran penting dalam kehidupan keagamaan umat Kristen di Surabaya. Dengan menawarkan ruang untuk beribadah dan kegiatan keagamaan lainnya, gereja ini mendorong kerukunan antar umat beragama dan integrasi sosial di lingkungan sekitarnya.

Potret toleransinya begitu tinggi. Ada pengaturan jadwal jam ibadah sehingga tidak semua umat beragama datang di hari yang sama. Salah satu anggota kesekretariatan Vihara Buddhayana Royal, Adi mengatakan pengaturan jadwal diatur karena lahan parkir memang terbatas. Warga yang hendak beribadah boleh parkir di depan tempat ibadah manapun asal tidak mengganggu.

“Tidak hanya parkir, mereka juga bebas memakai toilet tempat ibadah manapun. Semua agama sama, ajarannya kebaikan. Yang berbeda hanya ritualnya saja,” tuturnya.

Dengan keberadaan tempat-tempat ibadah yang berdampingan di Kota Surabaya, tidak hanya mencerminkan toleransi agama tetapi juga memperkuat hubungan antar umat beragama. Dengan memelihara keragaman keagamaan dan menghargai perbedaan, Surabaya terus membangun pondasi yang kuat untuk perdamaian dan harmoni di tengah masyarakat yang beragam.

Candi Wat Arun Bangkok: Kolaborasi Sempurna Estetika, Harmoni dan Spiritualitas

Penulis: Prof. Dr. Muhlisin, M. Ag., Editor : Sirli Amry

Seri Rihlah moderasi beragama

Pada tanggal 11 September 2024, penulis mendapatkan kesempatan presentasi pada konferensi internasional di Krirk University Bangkok. Setelah kegiatan selesai, penulis berkesempatan mengunjungi Candi Wat Arun. Perjalanan pertama kali penulis dan rombongan dari UIN Gus Dur Pekalongan menginjakkan kaki di Candi Wat Arun, Bangkok, Thailand, memberikan kesan mendalam, baik dari segi estetika, arsitektur, maupun suasana spiritual. Menyusuri jalanan menuju candi, lingkungannya sangat hidup dan menarik, dengan perpaduan antara suasana spiritual dan kegiatan masyarakat lokal yang dinamis. Sebagai salah satu destinasi wisata yang populer, jalan menuju candi dipenuhi dengan turis, baik dari lokal maupun manca negara. Sepanjang jalan terdapat pedagang kaki lima yang menjual makanan lokal, minuman, serta souvenir khas Thailand, seperti kain tradisional dan miniatur candi.  Selama perjalanan menuju lokasi candi, penulis menyaksikan beberapa bangunan dengan arsitektur tradisional, termasuk kuil-kuil kecil lain di sekitarnya.

Dikenal sebagai Temple of Dawn atau Candi Fajar, Wat Arun berdiri megah di tepi Sungai Chao Phraya, menjadi salah satu ikon paling terkenal di Bangkok. Candi ini bukan hanya menawarkan keindahan visual yang penuh dengan pesona seni, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang moderasi beragama yang tercermin dalam sejarah dan fungsinya sebagai tempat ibadah. Wat Arun memiliki arsitektur yang sangat unik, berbeda dengan banyak candi lain di Thailand. Dikenal karena prang (menara) pusatnya yang tinggi, candi ini dihiasi dengan detail mozaik yang terbuat dari porselen dan keramik warna-warni, memberikan kilau memikat ketika sinar matahari memantul di permukaannya. Setiap detail ornamen menunjukkan keahlian seni tradisional Thailand, sekaligus melambangkan harmonisasi antara alam dan spiritualitas. Pengunjung disuguhkan pemandangan indah dari puncak menara, di mana seluruh panorama Kota Bangkok terlihat, lengkap dengan sungai dan bangunan-bangunan modern yang mengelilingi kota ini.

Baca Juga : Harmoni Budaya dan Agama serta Tradisi Rumah Karang Memadu di Desa Panglipuran Bali

Di balik estetika ini, Wat Arun juga memancarkan rasa kedamaian dan harmoni, yang tidak hanya untuk umat Buddha, tetapi juga menarik wisatawan dari berbagai latar belakang agama. Pengunjung bukan hanya dari benua Asia, namun juga dari Amerika, Eropa, Australia dan Afrika. Hal ini mengingatkan penulis akan pentingnya keindahan visual dalam menciptakan rasa hormat dan keterbukaan antar agama. Setiap elemen dekoratif di candi ini seolah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan dunia spiritual tanpa memandang latar belakang kepercayaan mereka.

Suasana Moderasi Beragama di Wat Arun.

Salah satu hal yang menarik dari pengalaman di Wat Arun adalah bagaimana tempat ini mengedepankan moderasi beragama. Meskipun Wat Arun adalah candi Buddha yang didedikasikan untuk Dewa Hindu, Dewa Arun (Dewa Fajar), candi ini juga menjadi simbol penghormatan lintas agama di Bangkok. Kehadiran wisatawan dari berbagai belahan dunia, dengan keyakinan yang berbeda, menciptakan suasana toleransi yang mendalam. Penulis dan rombongan menyaksikan bagaimana orang-orang dari berbagai latar belakang beribadah, mengambil foto, atau sekadar menikmati keindahan candi tanpa ada rasa keterasingan maupun kecurigaan. Moderasi beragama terlihat jelas dalam bagaimana Wat Arun, sebagai simbol keagamaan, tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin merasakan ketenangan di dalamnya. Keberadaan candi di tengah kota yang modern ini seolah menyampaikan pesan bahwa agama dan spiritualitas bisa hidup berdampingan dengan kemajuan zaman. Wat Arun mengajarkan bahwa moderasi tidak hanya soal sikap menghargai agama lain, tetapi juga kemampuan untuk hidup dalam keseimbangan antara dunia spiritual dan dunia modern.

Pengalaman pertama penulis dan rombongan di Wat Arun tidak hanya membuka mata tentang kekayaan budaya Thailand, tetapi juga memberikan pelajaran penting tentang estetika dan moderasi beragama. Dalam konteks yang lebih luas, Wat Arun menggambarkan bahwa keindahan dan spiritualitas dapat bersatu untuk menciptakan suasana yang inklusif dan harmonis. Candi ini menunjukkan bagaimana Bangkok sebagai kota besar tidak kehilangan esensi spiritualnya, bahkan dalam lingkungan yang semakin multikultural.

Sebelum mengakhiri rihlah, penulis sempat bertemu dengan seorang mahasiswi dari Saudi Arabi, Naora yang mengunjungi Candi Wat Arun. Mahasiswi tersebut sedang mengikuti kegiatan pertukaran mahasiswa di Krirk University Bangkok. Dalam perbincangan singkat, Naora berseloroh “Sebagai mahasiswa yang datang dari budaya yang sangat berbeda, mengunjungi Wat Arun di Bangkok merupakan pengalaman yang sangat menarik. Arsitektur candi ini sangat indah dan unik, terutama stupa utamanya yang dihiasi dengan porselen warna-warni. Dari kejauhan, candi ini tampak megah, terutama saat matahari terbenam, ketika cahayanya memantul di permukaan Sungai Chao Phraya. Saya juga sangat terkesan dengan kedamaian dan ketenangan di sekitar candi, meskipun Bangkok adalah kota yang sangat sibuk. Rasanya seperti bisa menyaksikan harmoni antara kehidupan modern dan warisan budaya yang masih hidup sampai sekarang.” Pendapat ini mencerminkan kekaguman terhadap keunikan budaya Thailand serta pengalaman yang berbeda dari perspektif seorang mahasiswi Saudi yang tidak terbiasa dengan suasana dan arsitektur khas Asia Tenggara.

Baca Juga : Puncak Harmoni Agama Dalam Seni Dan Arsitektur Goa Sunyaragi Cirebon

Di akhir kunjungan, penulis merenungkan betapa pentingnya menjaga moderasi beragama, terutama di era globalisasi saat ini. Wat Arun merupakan salah satu contoh nyata bahwa melalui keterbukaan dan toleransi, kita dapat menemukan keindahan dan kedamaian di tengah perbedaan. Wat Arun bukan sekadar candi biasa, ia adalah simbol dari kesatuan dalam keragaman, baik dari segi budaya, agama, maupun sejarah. Kunjungan perdana ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara estetika dan spiritualitas, sekaligus menghargai nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.

 

Makna Hati yang Bersih: Lebih dari Sekadar Kosong, Tetapi Bebas dari Noda Batin

Penulis : Taufiqur Rohman, Editor : Sirli Amry

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hati yang bersih?

Apakah itu berarti hati yang kosong, tak berisi apa-apa, seperti sebuah ruang hampa? Jika demikian, maka hati bisa dianggap sebagai sebuah wadah atau tempat yang harus dijaga kebersihannya.

Namun, apakah hanya itu makna dari hati yang bersih?

Bayangkan sebuah gelas. Ketika dikatakan gelas itu bersih, yang dimaksud bukan hanya gelas kosong, tetapi gelas yang bebas dari kotoran.

Begitu pula dengan hati; kebersihannya bukan berarti kosong dari perasaan atau pikiran, tetapi bebas dari noda-noda batin seperti hati yang berpenyakit (Fi Qulubihim maradlun) ada kebencian, iri hati, atau kesombongan, lupa mengingat Allah, sehingga setan mengendalikannya.

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

[Surat Al-Mujadilah: 19]

”Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itu golongan yang rugi.”

Di sisi lain, jika hati dipahami sebagai alat—seperti prosesor dalam komputer—kebersihan hati berarti fungsinya berjalan dengan baik. Hati yang bersih akan mengolah segala sesuatu yang melewatinya dengan baik dan mengeluarkan hasil yang positif. Untuk mencapai kondisi ini, hati perlu dijaga agar tetap sehat, bersih, bercahaya, sampai terjaga senantiasa ingat Allah dalam kondisi apapun baik berdiri, duduk, berbaring:

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

[Surat Ali ‘Imran: 191]

”(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Kebersihan hati bukan sekadar kondisi fisik, tetapi lebih kepada bagaimana ia menjalankan fungsinya dengan sempurna. Hati yang terawat, sehat, dan bersih akan memancarkan kebaikan.

يَوۡمَ تَرَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَسۡعَىٰ نُورُهُم بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۖ بُشۡرَىٰكُمُ ٱلۡيَوۡمَ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

[Surat Al-Hadid: 12]

Pada hari engkau akan melihat orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung.”

Sehingga Ilham fasiq akan secara otomatis hilang, tergantikan Ilham taqwa

فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا

[Surat Asy-Syams: 8]

”Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, …”

Namun, hati juga bisa memiliki dua fungsi: sebagai alat sekaligus wadah, seperti sebuah truk pengangkut. Hati dapat menerima dan mengolah perasaan, pikiran, dan niat, lalu menghasilkan tindakan atau keputusan. Agar yang dihasilkan baik, hati perlu dijaga kebersihannya, baik sebagai alat yang memproses maupun sebagai wadah yang menampung.

Dengan demikian, hati yang bersih bukanlah hati yang kosong, melainkan hati yang dipenuhi dengan mengingat Allah (dzikrullah).

Kebersihan hati adalah tentang merawatnya, memastikan ia bekerja optimal, sehingga menghasilkan tindakan, keputusan, dan perasaan yang baik dan benar sehingga mudah menerima petunjuk dari Allah SWT

والله اعلم بالصواب

Harmoni Budaya dan Agama serta Tradisi Rumah Karang Memadu di Desa Panglipuran Bali

Penulis : Abilah Mei Sinta, Editor : Amarul Hakim

Bali adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki pesona keindahan alam yang luar biasa, bukan hanya di daratannya saja tetapi juga lautnya. Di Bali juga memiliki budaya dan adat istiadat  yang unik, yaitu seni dan upacara adatnya.

Selain itu, masyarakat Bali terkenal dengan tingkat toleransi yang tinggi, baik terhadap penduduk lokal maupun turis yang berkunjung. Mereka juga memiliki kepedulian yang besar terhadap alam, terutama lingkungan sekitar. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa desa di Bali dinobatkan sebagai desa terbersih kedua di dunia.

Desa terbersih kedua di dunia ini, bernama Desa Penglipuran yang terletak di kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. Nah sebagai salah satu desa di Bali yang disorot dunia, Penglipuran memiliki sebuah peraturan adat istiadat yang unik, peraturan tersebut di beri nama Rumah Karang Memadu. Rumah Karang Memadu ini adalah rumah yang dipergunakan untuk orang yang melakukan poligami.

Baca juga : Perspektif Islam terhadap Kebaya: Antara Tradisi Budaya dan Tuntutan Keagamaan

Rumah Karang Memadu ini merupakan salah satu adat tradisi yang masih dipertahanan di Desa Panglipuran. karena hal ini dianggap sebagai undang-undang yang diterapkan, dimana masyarakat melarang warganya untuk berpoligami. Sehingga warga di desa Panglipuran hanya memiliki satu istri tidak lebih. Pekarangan Rumah Karang Memadu ini sampai sekarang masih kosong, dikarenakan belum ada masyarakat disana yang melakukan poligami sampai sekarang.

Hal tersebut yang mendukung program masyarakat di Panglipuran untuk menjaga dan melestarikannya sampai sekarang. Karena di dalam aweg-aweg (Undang-Undang) tersebut mencakup peraturan setiap kehidupan yang ada di Desa Panglipuran. Setiap orang diatur dalam aweg-aweg termasuk peraturan tidak membuang sampah sembarangan. Setiap peraturan yang ada disana sanksinya berupa sanksi moral. Salah satunya seperti membuat sesajen, meminta maaf kepada Tuhan Yang Maha ESA dan meminta maaf kepada seluruh warga Panglipuran.

Bagi mereka yang melakukan poligami, mereka akan tinggal di karang memadu dan tidak diperkenankan untuk melewati area batas suci yang ada di Desa Penglipuran, termasuk catus pata, tidak boleh menginjakkan kaki di tempat-tempat ibadah, dan tidak boleh bersosialisasi dengan warga lain (dikucilkan secara kasepekang) oleh masyarakat, serta tidak diperkenankan untuk ikut upacara adat di Desa Panglipuran. Dengan sanksi yang begitu keras warga Desa panglipuran tak ada yang berani untuk berpoligami dan tetap menjaga kesetiaannya.

Baca juga : Dialog Lintas Agama dan Kepercayaan antar Tokoh Lembaga Adat Desa Kutorojo

Dari keunikan adat istiadat dan budaya di sana, Bali sering dijadikan rekomendasi oleh para turis dari mancanegara dan mahasiswa hingga siswa dalam negeri sebagai objek penelitian dan kunjungan wisata, seperti kunjungan Mahasiswa KKL dari UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Karena disana memiliki adat istiadat dan budaya yang mengispirasi, serta orang-orang yang patuh terhadap peraturan sehingga bisa menjadi refleksi dan evaluasi bagi kita agar bisa meningkatkan rasa solidaritas, rasa peduli terhadap alam dan rasa menghargai antara sesama serta rasa toleransi yang tinggi. Sehingga kita dapat menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi karena terinspirasi dari Bali.

Menyelami Makna Kata Maulid dan Maulud Mana yang Lebih Tepat?

Penulis: Azzam Nabil H, Editor : Syam

Maulid Nabi Muhammad saw. merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad yang telah menjadi tradisi di berbagai daerah. Sehingga dalam momentum ini, seringkali dijumpai penyebutan yang berbeda di kalangan masyarakat. Di beberapa daerah ada yang menyebutkan maulud nabi atau di bahasa jawa adalah “Muludan.”

Jika dijabarkan lebih rinci, secara bahasa kata Maulid dan Maulud memiliki makna yang berbeda. Maulud dalam amtsilatut tashrif diposisikan sebagai isim maf’ul yang memiliki arti “yang dilahirkan.” Sedangkan Maulid memiliki tiga posisi, yakni sebagai isim masdar mim yang memiliki arti “kelahiran”. Kedua, sebagai isim zaman yang memiliki arti “waktu lahir”. Ketiga, sebagai isim makan yang memiliki arti “tempat lahir”.

Dari penjelasan tersebut, maka tidak tepat jika kita menyebut “Maulud” karena sudah bergeser dari maknanya. Sehingga yang lebih tepat yakni “Maulid” karena masih dalam konteks memperingati dan menghormati kelahiran, waktu kelahiran, dan tempat lahir, Nabi Muhammad saw.

Dengan memahami makna kata tersebut, peringatan maulid nabi akan menjadi lebih indah dan bukan hanya sekedar menjadi perayaan atau memorial belaka, namun dapat meningkatkan sikap kita dalam meneladani sikap Nabi Muhammad saw.

Seperti yang kita semua tahu bahwa ada 4 sifat yang ada pada diri Nabi. Sifat itu di antaranya: sidiq, amanah, fathonah, dan tablig. Sidiq artinya orang yang jujur, amanah adalah dapat dipercaya, fathonah berarti orang yang pandai atau cerdas, dan tablig artinya orang yang menyampaikan. Dengan adanya peringatan maulid nabi, tentu keempat sifat ini seharusnya sudah menyatu di dalam tubuh umat Muslim sebagai bentuk cintanya kepada Nabi Agung Muhammad saw.

Tren Crosshijaber di Media Sosial dalam Perspektif Agama Islam

Penulis: Rizqi Lutfiyani, Editor: Ryuu Pangestu

Busana merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang bahannya terbuat dari bahan-bahan tertentu untuk menutupi sekujur tubuh atau segala sesuatu dipakai, dari  bagian atas kepala hingga ujung kaki. Juga memberikan sebuah kenyamanan serta tampilkan keindahan bagi pemakai seperti pakaiann, aksesoris, atapun riasan wajah. Adapun fungsinya diantaranya ada bisa melingdungi dari berbagai macam cuaca, benda berbahaya, menutupi aurat sesuai ajaran gama atau budaya masing-masing, meningkatkan kepercayaan diri agar tampil lebih baik, dan utamanya membedakan identitas gender antara laki-laki maupun perempuan.

Ditambah seiringnya kemajuan pesat teknologi yang tak bisa dikendalikan, salah satunya media sosial. Saat ini apa saja untuk mencari sebuah informasi dan lain sebagainya sangatlah cepat dengan menggunakan ponsel kemudian bisa berselancar di dalamnya seluasa mungkin. Trend sekarang ini tentunya banyak sekali bermuculan mulai dari trend fashion, trend konten dan lainnya. Semua platform memiliki trendnya berbeda-beda bahkan akan muda di ikuti oleh kalangan lain. Pengguna media yang banyak lantas membawa berbagai trend baru yang mulai bermunculan. Namun tak selamanya trend itu berdampak positif ada pula trend yang membawa dampak negatif bagi diri sendiri atau bahkan orang lain.

Diantaranya ada trend yang sedang marak tersebar yaitu crosshijaber, mungkin sebagai kalangan tidak sadar telah mengikuti trend tersebut. Crosshijaber memiliki arti dimana lelaki memakai pakaian perempuan dengan menutupi wajahnya dengan menggunakan cadar agar tidak diketahui identitasnya. Perlu diingat kembali tujuan dari menyerupai hal-hal tersebut. Padahal Crossshijaber yang dilakukan bisa menyebabkan seseorang secara tidak langsung berbuat yang tidak diinginkan, seperti melecehkan perempuan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Menguak Misi Terselubung: Strategi Israel dalam Konflik Palestina

Hal itu berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang sekitar, dengan lelaki menyerupai perempuan bisa menjadi faktor masalah lain. Bisa saja seorang perempuan akan merasa tidak nyaman disekitarnya. Selain itu, dengan Crosshijaber seorang lelaki akan mudah melecehkan perempuan. Oleh karena itu kita harus waspada dan hati-hati kepada penampilan seseorang. Jangan biarkan hal itu menjadi kebiasaan.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan tentang larangan menyerupai lawan jenis:

Surat An-nisa ayat 119

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلْأَنْعَـٰمِ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيْطَـٰنَ وَلِيًّۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًۭا مُّبِينًۭا

Artinya: Dan aku pasti akan menyesatkan mereka, dan pasti akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan pasti akan menyuruh mereka (untuk memotong telinga binatang ternak; dan pasti akan menyuruh mereka (untuk mengubah ciptaan allah).

Dengan adanya peringatan dari surat yang ada di Al-Qur’an tersebut, perlu kita belajar lagi agar bisa memahami kaidah-kaidah penting dalam islam. Mana yang baik dan buruk agar tidak salah dalam bertindak. Boleh-boleh saja jika lelaki memakai gamis (koko gamis), tetapi tidak dengan hijab dan cadar karena itu akan membuat ketidak nyamanan seorang perempuan.

Baca Juga: Semarak Tren Fashion Muslimah di Era Digital: Memadukan Gaya Modern dengan Nilai Syar’i

Selain itu, fenomena crosshijabers ini menuai banyak kritikan dari masyarakat luas. Ada pula orang-orang tak bertanggung jawab memanfaatnya untuk hal-hal negatif atau hanya sekedar memuaskan nafsu akan penasaran sama busana wanita muslim, juga beberapa kasus yang memviralkan jagat maya seperti berita seorang laki-laki menyamar menjadi seorang wanita hanya untuk bisa masuk ke toilet wanita, ikut sholat barisan perempuan hingga parahnya menerobos masuk ke salah satu pondok pesantren. Dengan hal ini, banyak sekali dari mereka menjadi selalu waspada terutama di tempat umum agar tidak terjadi yang tak diinginkan.