Gus Mus: Sang Kyai yang Memeluk Bumi Dan Nurani

Penulis: Faliqul Isbah*, Penyunting: Muslimah

Di tengah deru modernitas yang sering kali menempatkan alam sebagai komoditas dan manusia sebagai angka, hadir sebuah suara yang tak berteriak, namun getarannya menembus hingga ke palung nurani. Ialah KH. Mustofa Bisri, atau yang lebih akrab kita sapa Gus Mus, sosok kyai yang tidak hanya fasih melafalkan teks suci di atas podium, tetapi juga mahir membaca denyut nadi bumi melalui kanvas dan bait-bait puisi. Kehadirannya seolah menjadi oase di tengah padang pasir kebencian, menawarkan kesejukan di saat agama sering kali diseret ke dalam panggung konflik kekuasaan yang gersang.

Bagi Gus Mus, kesalehan spiritual tidak pernah berdiri sendiri di dalam ruang hampa atau terisolasi di balik dinding pesantren yang tebal. Baginya, setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah sajadah panjang yang menuntut penghormatan dan penjagaan. Melalui pandangan dunia yang integratif, beliau mengajak kita untuk melihat bahwa merusak alam adalah bentuk pengingkaran terhadap Sang Pencipta, dan menyakiti sesama manusia adalah luka bagi kemanusiaan itu sendiri. Inilah esensi dari keberagamaan yang tidak hanya mengejar langit, tapi juga memeluk bumi dengan penuh kasih.

Pendekatan beliau yang “lembut” bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi diplomasi hati yang luar biasa kuat. Di saat banyak orang memilih pedang untuk membela Tuhan, Gus Mus justru memilih kuas lukis dan pena sastra untuk membela hamba-hamba-Nya. Estetika yang beliau tawarkan mampu meluruhkan sekat-sekat ego yang kaku, mengubah kemarahan menjadi perenungan, dan mengganti penghakiman dengan dialog yang memanusiakan. Sastra dan seni di tangan beliau menjadi jembatan yang menghubungkan realitas ketuhanan dengan realitas sosial yang sering kali retak.

Artikel ini mencoba menelusuri lebih dalam bagaimana konsep “Memeluk Bumi dan Nurani” bukan sekedar metafora indah, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Islam yang kontekstual dan humanis. Kita akan melihat bagaimana Gus Mus mengonstruksi pemahaman bahwa menjaga ekologi dan menegakkan hak asasi manusia adalah dua sisi dari keping mata uang yang sama. Di tangan sang Kyai, agama kembali pada fitrahnya sebagai rahmat, bukan sebagai sekat, sebagai penyembuh luka semesta, bukan sebagai penabur garam di atas duka lara dunia.

Melalui empat pilar pembahasan utama, kita akan menyelami kedalaman pemikiran beliau, mulai dari semangat ekosufisme yang menjaga kelestarian hayati, hingga pembelaan konsistennya terhadap kaum yang terpinggirkan. Membedah pemikiran Gus Mus berarti belajar kembali cara menjadi manusia yang utuh, yang mampu bersujud dengan khusyuk di hadapan Tuhan, sembari tangan tetap merangkul alam dan mendekap sesama dengan kehangatan nurani yang tak kunjung padam.

Ekosufisme: Spiritualitas yang Membumi

Dalam lanskap pemikiran Gus Mus, agama tidak dipahami sebagai dogma yang melangit dan asing dari realitas material, melainkan sebuah energi spiritual yang membumi dalam rupa Ekosufisme. Konsep ini menegaskan bahwa denyut nadi keberagamaan seseorang seharusnya bergetar selaras dengan nafas alam semesta, sebuah kesadaran bahwa merawat bumi bukanlah sekedar aktivisme lingkungan semata, melainkan manifestasi dari sujud yang paling dalam kepada Sang Pencipta. Melalui kacamata ini, Gus Mus mengajak kita untuk menanggalkan ego antroposentris yang rakus dan menggantinya dengan empati ekologis, di mana setiap jengkal tanah, tetesan air, dan hembusan angin dipandang sebagai ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis namun wajib dijaga kesuciannya dari tangan-tangan destruktif.

Bagi Gus Mus, alam semesta bukanlah sekedar panggung bisu tempat manusia memuaskan hasrat konsumsinya, melainkan sebuah “Sajadah Hijau” yang terbentang luas tanpa batas. Dalam perspektif ini, setiap rimbun pepohonan, aliran sungai yang jernih, hingga hamparan tanah yang subur, memiliki derajat kesakralan yang setara dengan ruang-ruang ibadah formal. Beliau memposisikan lingkungan sebagai manifestasi nyata dari keagungan Ilahiyah, di mana merusak ekosistem sama hinanya dengan menodai kesucian rumah Tuhan, karena keduanya merupakan tempat manusia bersimpuh dan mengenali hakikat penciptaan.

Relasi antara manusia dan bumi dalam pandangan beliau bukanlah hubungan antara subjek dan objek, melainkan sebuah persaudaraan eksistensial yang diikat oleh ruh yang sama. Ketika Gus Mus berbicara tentang menjaga keasrian lingkungan, beliau sebenarnya sedang mengajak kita untuk melakukan “shalat ekologis”, sebuah bentuk pengabdian yang tidak hanya berhenti pada gerakan ruku dan sujud di dalam masjid, tetapi berlanjut pada tindakan nyata melindungi setiap makhluk hidup. Kesadaran akan “Sajadah Hijau” ini menuntut integritas moral yang tinggi, bahwa iman yang kokoh harus tercermin dari tangan yang menanam, bukan tangan yang merambah hutan demi keuntungan sesaat.

Dengan menjadikan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus berhasil meruntuhkan tembok pemisah antara yang profan dan yang suci. Beliau mengingatkan bahwa bumi adalah titipan yang harus dijaga kehormatannya layaknya menjaga sebuah amanah besar. Penjagaan terhadap alam bukan lagi sekedar urusan birokrasi atau kebijakan aktivis lingkungan, melainkan sebuah panggilan iman yang mendalam. Di bawah bimbingan nurani yang jernih, kita diajak untuk melihat bahwa dalam setiap tarikan nafas dan keindahan cakrawala, terdapat jejak-jejak Tuhan yang hanya bisa kita rasakan jika kita memperlakukan bumi dengan penuh khidmat dan rasa cinta yang tulus.

Berangkat dari kesadaran akan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus membawa visi ekologis tersebut ke dalam lokus pendidikan yang paling intim, yakni pesantren. Di bawah atap-atap teduh bangunan pesantren, nilai-nilai abstrak tentang penjagaan semesta tidak hanya berhenti menjadi hafalan teks, melainkan diartikulasikan menjadi Fikih Lingkungan yang praktis dan hidup. Di sini, etika ekologi diterjemahkan ke dalam laku keseharian para santri, di mana ketaatan kepada Tuhan diuji melalui cara mereka memperlakukan air yang mereka gunakan untuk bersuci dan tanah yang mereka pijak untuk mengabdi.

Kedisiplinan dalam “Fikih Hijau” ini tampak nyata pada hal-hal yang sering dianggap sepele namun memiliki dampak sistemik, seperti budaya hemat air. Gus Mus sering menekankan bahwa penggunaan air yang berlebihan, bahkan untuk keperluan wudhu sekalipun, adalah bentuk pemborosan yang dibenci agama. Dalam bilik-bilik wudhu, para santri diajarkan untuk memandang setiap tetes air sebagai rezeki yang terbatas, sebuah latihan spiritual untuk mengikis sifat rakus manusia. Pengajaran ini membentuk karakter manusia yang sadar akan keterbatasan sumber daya alam, menanamkan prinsip bahwa kesalehan sejati harus berjalan beriringan dengan efisiensi ekologis.

Lebih jauh lagi, penghormatan terhadap tanaman dan ekosistem di lingkungan pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum cinta yang diajarkan beliau. Santri dididik untuk melihat pohon dan tumbuhan bukan sebagai benda mati, melainkan sesama makhluk yang terus bertasbih kepada Sang Pencipta. Menyakiti dahan pohon tanpa alasan yang benar dipandang sebagai tindakan yang mencederai harmoni alam. Melalui pendekatan yang humanis dan penuh kasih ini, Gus Mus berhasil menjadikan pesantren sebagai laboratorium kehidupan, di mana setiap individu yang keluar darinya membawa bekal kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari rukun iman yang diaplikasikan dalam setiap tarikan nafas.

Puncak dari bangunan spiritualitas ekologi Gus Mus adalah keberanian untuk membenturkan nafsu eksploitatif manusia dengan prinsip Qana’ah. Beliau menganalisis bahwa krisis lingkungan yang melanda bumi saat ini bukanlah sekedar masalah kegagalan teknologi atau kebijakan pemerintah, melainkan gejala dari penyakit batin yang kronis, hilangnya rasa syukur. Dalam pandangan beliau, kerusakan hutan, polusi sungai, dan eksploitasi lahan yang brutal berakar dari syahwat kepemilikan yang tak pernah kenyang, di mana manusia merasa menjadi pemilik mutlak semesta, bukan sekedar penjaga atau khalifah yang diberi amanah.

Gus Mus secara tajam mengkritik gaya hidup modern yang menuhankan akumulasi materi tanpa batas. Bagi beliau, beragama yang benar seharusnya melahirkan pengendalian diri (self-control) yang kuat, bukan justru menjadi legitimasi untuk menguasai sumber daya alam secara sepihak. Konsep Qana’ah atau merasa cukup yang beliau tawarkan bukanlah sebuah sikap pasif atau kemalasan, melainkan sebuah bentuk perlawanan radikal terhadap konsumerisme. Merasa cukup adalah sebuah kemenangan spiritual atas keserakahan, sebuah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak kita mengambil dari alam, tetapi pada seberapa bijak kita mengelolanya.

Kritik beliau juga menyasar pada hilangnya dimensi asketis dalam praktik beragama kontemporer. Beliau menyayangkan jika simbol-simbol kesalehan hanya tampil di permukaan, sementara perilaku ekonominya tetap destruktif terhadap lingkungan. Gus Mus mengajak kita untuk kembali merenungkan makna syukur yang substantif, bahwa bersyukur atas nikmat oksigen berarti menanam pohon, dan bersyukur atas nikmat air berarti tidak mencemarinya. Tanpa kendali diri yang berakar pada nurani, agama hanya akan menjadi instrumen pemuas ego yang justru mempercepat laju kerusakan bumi yang kita huni.

Pemikiran Gus Mus tentang Qana’ah menjadi antitesis bagi kerakusan korporasi maupun individu yang abai terhadap keberlanjutan masa depan. Beliau menawarkan sebuah “etika kecukupan” sebagai jalan keluar dari kiamat ekologis. Dengan meneladani sikap hidup beliau yang sederhana namun kaya makna, kita diajak untuk menyadari bahwa bumi memiliki cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan satu orang saja. Di titik inilah, spiritualitas yang membumi menemukan bentuknya yang paling nyata, sebuah keberanian untuk berkata “cukup” demi lestarinya semesta dan kemanusiaan.

Diplomasi Puisi dan Lukisan: Menyentuh Nurani Tanpa Menghakimi

Beranjak dari komitmen teologis terhadap alam, Gus Mus memperluas spektrum dakwahnya melalui medium yang jauh lebih cair dan universal, yakni Diplomasi Puisi dan Lukisan. Di tangan beliau, kesenian tidak hanya tampil sebagai dekorasi estetik, melainkan bertransformasi menjadi bahasa kalbu yang mampu menembus tembok-tembok dogmatis yang sering kali memisahkan manusia. Melalui goresan kuas yang penuh makna dan bait-bait puisi yang sarat akan kejujuran, Gus Mus melakukan navigasi spiritual untuk menyentuh relung nurani yang paling dalam tanpa sedikit pun kesan menghakimi. Ini adalah sebuah bentuk komunikasi profetik yang memilih untuk “mengetuk pintu” daripada “mendobrak meja”, membuktikan bahwa keindahan sering kali memiliki kekuatan persuasif yang jauh lebih dahsyat daripada sekedar deretan argumen yang kaku dan penuh amarah.

Dalam kanvas-kanvas Gus Mus, Garis dan Warna yang Meluruhkan Sekat bukan sekedar ungkapan artistik, melainkan sebuah jembatan visual yang melintasi jurang perbedaan identitas. Saat bahasa verbal sering kali terjebak dalam sekat-sekat sektarian dan terminologi yang memicu perdebatan, bahasa rupa beliau justru hadir dengan kejujuran yang telanjang. Lukisan-lukisannya menjadi ruang pertemuan yang inklusif, di mana mereka yang berbeda iman, ideologi, maupun latar belakang sosial dapat duduk bersama dan menemukan titik temu dalam apresiasi keindahan yang bersifat universal.

Kekuatan diplomasi rupa ini terletak pada kemampuannya untuk mengomunikasikan pesan-pesan kemanusiaan yang sering kali terlalu berat jika disampaikan lewat khotbah formal. Gus Mus menggunakan sapuan warna yang intuitif untuk menggambarkan realitas sosial, mulai dari potret rakyat kecil yang tulus hingga kritik terhadap keangkuhan kekuasaan, dengan cara yang lembut namun menggugah. Di titik inilah, lukisan beliau melampaui batasan linguistik, ia tidak memerlukan terjemahan bahasa untuk dipahami, karena nurani manusia memiliki frekuensi yang sama saat berhadapan dengan keindahan dan kebenaran yang tulus.

Melalui medium ini, Gus Mus membuktikan bahwa seni adalah “bahasa ibu” kemanusiaan yang mampu meruntuhkan tembok prasangka. Ketika seseorang menatap karya beliau, yang mereka lihat bukanlah identitas seorang kyai dari kalangan tertentu, melainkan cerminan dari jiwa yang mencintai perdamaian. Goresan kuasnya tidak mendikte, melainkan mengajak penikmatnya untuk berdialog dengan diri sendiri, meluruhkan ego kelompok, dan akhirnya menyadari bahwa di balik segala atribut lahiriah, kita semua menghuni rumah batin yang sama.

Jika lukisan adalah jembatan visual, maka puisi-puisi Gus Mus adalah “Cermin Retak” masyarakat yang sengaja diletakkan di hadapan kita untuk menyingkap keganjilan-keganjilan sosial. Dalam bait-bait sastranya, beliau tidak menggunakan kata-kata sebagai martil untuk memukul kepala lawan bicara, melainkan sebagai pisau bedah yang sangat halus untuk menyayat lapisan kemunafikan yang kerap menyelimuti perilaku kolektif kita. Sastra di tangan Gus Mus menjadi alat autokritik yang memaksa setiap pembaca untuk berhenti menunjuk telunjuknya ke arah orang lain dan mulai berani menatap pantulan wajah batinnya sendiri yang mungkin penuh debu.

Narasi sastra yang beliau bangun selalu memiliki daya magis untuk membungkus kritik tajam dalam balutan diksi yang jenaka namun getir. Beliau sering kali menyindir fenomena keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol-simbol lahiriah, sementara esensi kemanusiaan terabaikan. Melalui metafora yang akrab dengan keseharian, puisi beliau mengajak kita merenung, apakah kita sedang membela Tuhan, atau sebenarnya hanya sedang memuja ego kita sendiri yang dibungkus dengan jubah agama? Kekuatan “Cermin Retak” ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasa tersindir tanpa merasa dihina, sebuah metode persuasif yang melahirkan kesadaran emosional daripada pembangkangan intelektual.

Puisi-puisi tersebut berfungsi sebagai terapi sosial untuk menyembuhkan penyakit “merasa paling benar” yang kian mewabah. Gus Mus mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki keberanian untuk mengakui kerapuhannya sendiri. Dengan membaca karya sastranya, kita tidak sedang didikte untuk menjadi orang lain, melainkan diajak untuk “pulang” ke dalam kejujuran nurani. Inilah bentuk diplomasi sastra yang paripurna, sebuah kritik yang tidak menyisakan luka kemarahan, melainkan menyemai benih kerendahan hati untuk memperbaiki retakan-retakan dalam cermin kehidupan bersama.

Puncak dari diplomasi seni Gus Mus bermuara pada sebuah paradigma yang kita sebut sebagai Estetika Dakwah: Mengajak tanpa Mengejek. Dalam ruang publik yang sering kali bising dengan orasi yang penuh penghakiman, beliau memilih jalur sunyi yang indah, menyampaikan kebenaran melalui pintu estetika. Bagi Gus Mus, dakwah bukanlah sebuah ajang untuk menunjukkan supremasi moral atau memamerkan keshalehan pribadi, melainkan sebuah ikhtiar untuk menaburkan benih kebaikan dengan cara yang paling terhormat, sehingga nurani penerimanya terbuka secara sukarela tanpa merasa terancam atau direndahkan.

Metode ini berakar pada keyakinan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecintaan alami terhadap keindahan. Ketika sebuah pesan moral dibungkus dengan bahasa sastra yang memukau atau goresan lukisan yang menyentuh, ego defensif manusia cenderung meluruh. Gus Mus memahami bahwa kritik yang disampaikan dengan amarah sering kali hanya akan melahirkan pembangkangan, namun ajakan yang disampaikan dengan kelembutan estetis akan meresap seperti air yang membasahi tanah kering. Di sinilah letak kecerdasan emosional beliau, mengganti diksi yang memukul dengan diksi yang merangkul, serta mengubah narasi yang memisahkan menjadi narasi yang menghubungkan.

Lebih jauh lagi, estetika dakwah ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap martabat kemanusiaan. Beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai guru yang berdiri di atas mimbar tinggi sementara audiensnya dianggap sebagai pendosa di bawah. Sebaliknya, beliau sering kali menggunakan metafora “kita”, sebuah kata ganti yang meruntuhkan hierarki dan menempatkan beliau dalam gerbong yang sama dengan pembaca atau pendengarnya. Dengan cara ini, pesan-pesan beliau tidak terasa seperti “serangan” dari luar, melainkan seperti “bisikan” dari dalam nurani sendiri, yang mengajak untuk kembali pada jalur kearifan tanpa harus menyisakan luka rasa malu.

Gaya dakwah Gus Mus membuktikan bahwa keindahan adalah instrumen perubahan sosial yang paling tangguh. Beliau telah berhasil mengembalikan wajah agama yang ramah, yang tidak perlu berteriak untuk didengar, dan tidak perlu mencaci untuk dihormati. Estetika dakwah ini adalah sebuah antitesis terhadap radikalisme verbal yang kian marak, sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari setiap pesan ketuhanan adalah untuk memanusiakan manusia. Di tangan beliau, agama kembali menjadi oase yang menyejukkan, di mana setiap jiwa merasa diterima, dihargai, dan perlahan dibimbing menuju cahaya tanpa harus merasa dikecilkan.

Kemanusiaan di Atas Segalanya: Membela yang Terpinggirkan

Memasuki dimensi pengabdian yang lebih konkret, spektrum pemikiran Gus Mus mencapai puncaknya pada sebuah prinsip yang menempatkan Kemanusiaan di Atas Segalanya. Bagi beliau, nilai seorang hamba tidak hanya diuji melalui kekhusyukan ritual di balik jeruji menara, melainkan melalui keberanian untuk berdiri tegak di samping mereka yang terpinggirkan oleh roda kekuasaan dan prasangka sosial. Di tengah dunia yang sering kali memilah kasih sayang berdasarkan sekat-sekat primordial, Gus Mus menghadirkan narasi pembelaan yang inklusif, sebuah seruan bahwa memuliakan manusia adalah cara paling otentik untuk memuliakan Sang Pencipta. Beliau membuktikan bahwa agama yang sejati tidak akan pernah membiarkan penderitanya berjalan sendirian, menjadikan keberpihakan kepada kaum mustad’afin sebagai manifestasi iman yang paling hidup dan berdenyut di tengah realitas sosial yang kerap kali gersang.

Dalam kerangka berpikir Gus Mus, Ukhuwah Basyariyah atau persaudaraan sesama manusia bukanlah sekedar jargon teologis yang manis di bibir, melainkan sebuah komitmen etis yang melampaui batas-batas formalitas ritual. Beliau menegaskan bahwa esensi dari keberagamaan yang dewasa adalah kemampuan untuk melihat wajah Tuhan dalam setiap rona kesedihan manusia, tanpa harus terlebih dahulu memeriksa identitas formal atau keyakinan yang dianutnya. Bagi beliau, membela mereka yang teraniaya bukanlah tindakan yang mengancam akidah, melainkan bentuk pembelaan yang paling nyata terhadap marwah agama itu sendiri, sebab agama diturunkan untuk menjadi payung perlindungan bagi kehidupan, bukan sebagai legitimasi untuk abai terhadap penderitaan sesama.

Gus Mus sering kali mengingatkan bahwa saat seseorang mengalami ketidakadilan, rasa sakit yang mereka rasakan tidak mengenal dialek bahasa atau simbol agama tertentu. Oleh karena itu, empati yang kita tawarkan pun harus bersifat universal. Beliau mendobrak sekat-sekat eksklusivitas yang sering kali membuat orang enggan menolong hanya karena perbedaan mazhab atau kepercayaan. Di tangan beliau, kemanusiaan menjadi “titik temu” yang suci, di mana membela hak-hak hidup seorang manusia, siapa pun dia, adalah ibadah sosial yang derajatnya bisa melampaui kemegahan ritual yang dilakukan secara individual namun sunyi dari kepedulian sosial.

Narasi persaudaraan yang melampaui ritual ini menciptakan sebuah model keberagamaan yang inklusif dan progresif. Gus Mus mengajak kita untuk tidak terjebak dalam “narsisme spiritual”, di mana kita merasa paling suci namun menutup mata terhadap diskriminasi di sekitar kita. Dengan meletakkan kemanusiaan sebagai fondasi, beliau membuktikan bahwa menjadi seorang Muslim yang taat justru berarti menjadi manusia yang paling depan dalam membasuh luka sesama. Inilah diplomasi nurani yang beliau tawarkan, sebuah keyakinan bahwa selama kita masih sanggup memuliakan manusia, maka selama itu pula kita sedang menjaga kesucian cahaya ketuhanan di muka bumi.

Keberpihakan Gus Mus terhadap kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling konkret melalui perannya sebagai Suara bagi Mereka yang Sunyi. Di tengah riuh rendah panggung politik yang sering kali hanya menjadi ajang perebutan kuasa, beliau memilih untuk menaruh telinganya pada detak jantung kaum mustad’afin, mereka yang suaranya diredam oleh tebalnya dinding birokrasi dan kekakuan struktur kekuasaan. Bagi Gus Mus, membersamai kaum kecil bukanlah sekedar aksi karitatif yang bersifat temporer, melainkan sebuah komitmen teologis untuk mengembalikan martabat manusia yang dirampas oleh ketidakadilan sistemik.

Beliau secara konsisten membuka ruang dialog bagi jiwa-jiwa yang selama ini dianggap “tak terlihat” dalam narasi besar pembangunan. Kehadiran Gus Mus di tengah para petani yang tanahnya terancam, buruh yang haknya terabaikan, hingga kelompok minoritas yang terpinggirkan, memberikan pesan kuat bahwa agama harus hadir sebagai pelindung, bukan alat penindas. Beliau menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tak memiliki akses ke podium kekuasaan, menggunakan otoritas moralnya untuk mengingatkan para pemangku kebijakan bahwa kesejahteraan bangsa tidak diukur dari kemegahan infrastruktur, melainkan dari seberapa aman rakyat kecil dalam menjemput keadilannya.

Dengan keberanian yang dibalut kelembutan, Gus Mus menunjukkan bahwa pembelaan terhadap kaum lemah adalah bagian inti dari nubuwah (kenabian). Beliau tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi lebih penting lagi, beliau memberikan “ruang eksistensial” di mana mereka yang terpinggirkan merasa dihargai dan didengarkan sebagai sesama warga negara. Inilah bentuk kepemimpinan spiritual yang sesungguhnya, sebuah keteguhan untuk tidak tergiur oleh gemerlap istana, melainkan lebih memilih untuk tetap setia menjadi teman bagi kesunyian kaum marginal, sembari terus menenun harapan di tengah keputusasaan yang sering kali melanda nurani rakyat kecil.

Upaya Gus Mus dalam membela kaum yang terpinggirkan berakar pada sebuah fondasi yang kokoh, yakni Etika Keberagaman yang Inklusif. Beliau memandang bahwa keragaman identitas, baik agama, suku, maupun pemikiran, bukanlah sebuah kutukan sejarah atau sumber potensi konflik yang harus ditakuti. Sebaliknya, dalam kacamata Gus Mus, perbedaan adalah bentang “permadani Tuhan” yang ditenun dengan benang-benang warna-warni untuk menciptakan keindahan yang utuh. Beliau mengajarkan bahwa beragama dengan dewasa berarti mampu mensyukuri eksistensi “yang lain” sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan semesta, bukan sebagai ancaman yang harus diseragamkan.

Gus Mus membawa narasi moderasi yang melampaui sekedar retorika toleransi pasif. Beliau mempraktikkan cara beragama yang penuh empati, di mana setiap pemeluk iman diajak untuk keluar dari tempurung egoisme kebenaran tunggal. Bagi beliau, sikap moderat bukan berarti ragu dalam berkeyakinan, melainkan keberanian untuk tetap bersikap ramah dan santun di tengah perbedaan yang paling tajam sekalipun. Kelembutan tutur katanya menjadi bukti bahwa keteguhan iman tidak harus ditunjukkan dengan wajah yang sangar atau kepalan tangan, melainkan dengan keluasan hati yang mampu menampung berbagai aliran pemikiran dalam satu semangat persaudaraan.

Lebih jauh lagi, etika keberagaman ini menekankan bahwa perbedaan adalah instrumen untuk saling mengenal dan melengkapi. Gus Mus sering kali menggunakan analogi kehidupan yang sangat manusiawi untuk mengingatkan kita bahwa perpecahan hanya akan terjadi jika manusia kehilangan rasa cintanya pada kemanusiaan itu sendiri. Dengan memposisikan keberagaman sebagai rahmat, beliau mengubah paradigma konflik menjadi paradigma kolaborasi. Di bawah bimbingan beliau, perbedaan pendapat tidak lagi menjadi alasan untuk saling mengkafirkan, tetapi menjadi ruang diskusi yang penuh dengan nuansa kearifan dan rasa hormat yang mendalam.

Prinsip inklusivitas yang diusung Gus Mus menjadi obat penawar di tengah maraknya sentimen sektarian yang sering mengoyak kohesi sosial. Beliau memberikan teladan bahwa wajah agama yang paling sejati adalah wajah yang teduh dan menyejukkan. Keberagaman yang inklusif ini adalah bentuk nyata dari pengabdian kepada Tuhan yang mencintai keindahan dan harmoni. Dengan menjadikan perbedaan sebagai modal sosial, Gus Mus mengajak kita semua untuk terus merawat persatuan dengan benang-benang cinta, memastikan bahwa rumah besar bernama Indonesia tetap berdiri kokoh di atas pondasi kemanusiaan yang tegak dan nurani yang bersih.

Menjadi “Oase” di Tengah Kegaduhan Zaman

Sebagai muara dari seluruh perjalanan spiritual dan sosialnya, sosok KH. Mustofa Bisri hadir dan mentransformasi diri sebagai “Oase” di Tengah Kegaduhan Zaman. Di tengah dunia yang kian bising oleh hiruk-pikuk polarisasi, disrupsi digital, dan hilangnya pegangan moral, Gus Mus menawarkan keteduhan yang bukan sekedar jeda, melainkan sebuah ruang pemulihan bagi jiwa-jiwa yang lelah. Beliau berdiri tegak di persimpangan peradaban yang sedang mengalami krisis identitas, menyuguhkan kejernihan pandangan di saat kemarahan sering kali dianggap sebagai bentuk ketegasan. Kehadirannya menjadi pengingat yang lembut namun berwibawa, bahwa di tengah badai perubahan yang paling liar sekalipun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tetap setia pada kejernihan nurani dan kesederhanaan hidup yang menyejukkan.

Dalam lanskap virtual yang sering kali terjebak dalam pusaran hoaks dan caci maki, Gus Mus hadir membawa frekuensi yang berbeda sebagai penawar racun kebencian di ruang digital. Beliau tidak memandang media sosial sebagai medan tempur untuk memenangkan opini, melainkan sebagai ladang dakwah baru yang memerlukan sentuhan kelembutan. Di saat banyak figur menggunakan jempol mereka untuk menyulut api kemarahan, Gus Mus justru menggunakan untaian kata yang puitis dan reflektif untuk mendinginkan suasana, membuktikan bahwa otoritas moral seorang kyai tetap relevan di tengah disrupsi algoritma yang cenderung memihak pada konten-konten provokatif.

Keunikan peran beliau terletak pada kemampuannya meredam konflik melalui instrumen humor yang cerdas dan kearifan yang tak menggurui. Ketika berhadapan dengan komentar yang penuh kebencian atau pertanyaan yang menjebak, beliau sering kali membalasnya dengan jawaban yang “renyah” namun sarat makna, yang seketika meluruhkan ketegangan. Pendekatan ini adalah bentuk literasi digital yang sangat luhur, beliau mengajarkan bahwa cara terbaik untuk melawan kegelapan bukanlah dengan menambah kegelapan baru, melainkan dengan menyalakan pelita kesantunan. Dengan begitu, beliau berhasil mengubah ruang komentar yang tadinya beracun menjadi ruang pembelajaran bersama yang penuh rasa hormat.

Melalui konsistensinya di dunia maya, Gus Mus telah menciptakan standar baru dalam berkomunikasi di era modern. Beliau menunjukkan bahwa integritas seorang ulama tidak diukur dari seberapa keras ia berteriak di media sosial, melainkan dari seberapa besar ketenangan yang ia sebarkan kepada para pengikutnya. Kehadirannya di layar gawai kita menjadi pengingat harian bahwa di balik akun-akun anonim dan debat kusir yang melelahkan, ada nurani manusia yang merindukan kedamaian. Dengan memadukan nilai pesantren yang klasik dengan medium digital yang kontemporer, beliau telah menjadi “penjaga gerbang” kewarasan publik di tengah keriuhan zaman yang sering kali kehilangan arah.

Karakteristik “Oase” dalam diri Gus Mus semakin mengental melalui manifestasi kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Di tengah panggung nasional yang sering kali mempertontonkan perebutan kursi dan ambisi kekuasaan, beliau justru memilih jalan sunyi dengan menjauhi gemerlap politik praktis. Keengganan beliau untuk terjebak dalam pusaran politik kekuasaan bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan sebuah strategi moral untuk menjaga kesucian peran ulama sebagai pengayom umat. Dengan tetap berada di luar struktur formal pemerintahan, Gus Mus justru memperoleh otoritas moral yang lebih luas dan tak tersekat oleh kepentingan golongan atau partai politik mana pun.

Kerendahhatian beliau menjadi antitesis bagi model kepemimpinan modern yang sering kali haus akan panggung dan pengakuan. Gus Mus mempraktikkan filosofi “memimpin dengan mendengar”, di mana kediaman beliau di Leteh selalu terbuka bagi siapa saja, mulai dari rakyat jelata hingga para petinggi negara yang merindukan nasihat jernih. Beliau tidak menempatkan diri sebagai menara gading yang sulit dijangkau, melainkan sebagai pelayan nurani yang siap membasuh dahaga spiritual setiap tamu yang hadir. Inilah esensi kepemimpinan yang sesungguhnya, sebuah pengaruh yang lahir bukan dari jabatan atau instruksi, melainkan dari pancaran ketulusan dan konsistensi antara kata dan perbuatan.

Posisi Gus Mus sebagai rujukan moral utama bagi bangsa Indonesia membuktikan bahwa kekuasaan yang paling abadi adalah kekuasaan yang bertahta di hati manusia. Beliau menjadi navigasi bagi bangsa ini saat kehilangan arah moral, menawarkan perspektif yang menyejukkan tanpa sedikit pun nuansa koersif. Kepemimpinan yang melayani ini memberikan teladan bahwa untuk memberikan dampak besar bagi masyarakat, seseorang tidak harus memiliki tongkat komando. Cukup dengan kejernihan nurani, kesederhanaan hidup, dan kasih sayang yang tulus, seorang pemimpin mampu menjadi jangkar kewarasan yang menjaga stabilitas batin bangsa di tengah badai kegaduhan zaman.

Gus Mus membawa kita pada satu titik berangkat yang fundamental, yakni pulang ke fitrah. Beliau menyadari bahwa carut-marut krisis ekologi dan degradasi kemanusiaan yang kita saksikan hari ini hanyalah manifestasi luar dari krisis batin yang lebih dalam. Ajakan untuk kembali ke fitrah bukanlah sebuah upaya mundur secara intelektual, melainkan sebuah gerakan dekonstruksi diri untuk menemukan kembali kejernihan nurani yang sering kali tertimbun oleh debu-debu ambisi, kebencian, dan keserakahan yang menyaru sebagai kemajuan.

Dalam pandangan Gus Mus, setiap solusi atas kerusakan alam dan konflik sosial harus dimulai dari meja makan batin masing-masing individu. Beliau menekankan bahwa kedamaian dunia mustahil terwujud tanpa adanya kedamaian di dalam diri sendiri. Dengan pulang ke fitrah, manusia diajak untuk mengenali kembali rancang bangun aslinya sebagai makhluk yang diciptakan dengan kecenderungan pada kasih sayang, bukan pada perusakan. Kejernihan nurani inilah yang akan menjadi kompas bagi kita dalam memperlakukan semesta, sebuah kesadaran bahwa saat kita berdamai dengan diri sendiri, kita secara otomatis akan berhenti berperang melawan alam dan sesama.

Lebih jauh lagi, kepulangan ke fitrah ini adalah antitesis terhadap gaya hidup modern yang terus mendikte manusia untuk mencari kebahagiaan di luar dirinya. Gus Mus mengingatkan bahwa oase kedamaian yang kita cari di tengah kegaduhan zaman sebenarnya tidak terletak di kejauhan, melainkan berdenyut di dalam dada kita yang paling dalam. Dengan kembali pada kesederhanaan dan kejujuran nurani, kita akan mampu melihat dunia dengan perspektif yang lebih benderang. Krisis lingkungan tidak lagi hanya dipandang sebagai masalah kebijakan, tetapi sebagai masalah hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta yang terputus, yang hanya bisa disambung kembali melalui jalan kerendahan hati.

Ajakan Gus Mus untuk menemukan kedamaian di dalam diri adalah sebuah seruan profetik yang melampaui batas waktu. Beliau telah menunjukkan bahwa dengan “memeluk bumi dan nurani”, kita tidak hanya sedang menyelamatkan planet ini dari kehancuran hayati, tetapi juga sedang menyelamatkan kemanusiaan kita dari kehancuran maknawi. Menjadi manusia yang kembali ke fitrah berarti menjadi pribadi yang teduh bagi semesta, sosok yang kehadirannya senantiasa menenangkan, kata-katanya menyembuhkan, dan laku hidupnya menjadi saksi bahwa kedamaian sejati adalah buah dari kesalehan yang membumi dan nurani yang tak pernah berhenti mencintai.

Kesimpulan

Sebagai muara dari seluruh refleksi ini, sosok Gus Mus telah membuktikan bahwa agama yang paling otentik adalah agama yang mampu menyatukan sujud kepada Tuhan dengan pelukan hangat bagi alam dan kemanusiaan. Melalui sinkronisasi antara kelembutan seni, ketajaman kritik sosial, dan kedalaman spiritualitas ekologis, beliau menawarkan sebuah paradigma kehidupan yang tidak hanya mengejar keselamatan individu di langit, tetapi juga memperjuangkan keberlanjutan martabat di bumi. Beliau bukan sekedar seorang ulama yang berbicara tentang teks suci, melainkan seorang saksi hidup yang menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada dominasi atau kekuasaan, melainkan pada kemampuan untuk menjadi “oase” yang menyejukkan di tengah padang pasir kegaduhan zaman yang kian gersang.

Pada akhirnya, warisan pemikiran Gus Mus adalah sebuah ajakan bagi kita semua untuk kembali pulang ke rumah nurani yang jernih sebagai solusi atas segala krisis peradaban. Dengan memadukan etika kecukupan (qana’ah) dan empati yang inklusif, kita diajak untuk melihat bahwa merawat bumi dan membela mereka yang terpinggirkan adalah satu nafas ibadah yang tak terpisahkan. Melalui teladan beliau, kita belajar bahwa di balik segala riuh rendah perbedaan dan kecanggihan teknologi, perdamaian dunia yang abadi hanya bisa tumbuh dari hati yang telah selesai dengan egonya sendiri. Meneladani Gus Mus berarti berani untuk terus menenun cinta di atas retakan-retakan perbedaan, demi lestarinya semesta dan tegaknya nurani kemanusiaan yang abadi.

*Dosen UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan

Kiai Nur Khalik dan Produktivitas Menulis

Penulis : M Fatih Qosdana, Editor : Amarul Hakim

Sore itu sekitar pukul setengah lima kami sampai di rumah Kiai Nur Khalik Ridwan, Kiai yang enggan di sapa Kiai, “Kalau saya K-nya itu Kang bukan Kiai, sebab lebih muda dari Kiai Jadul Maula yang lebih senior dari saya, sudah haji pula,” kelekarnya. “Berarti kita doakan sama-sama semoga sebentar lagi naik haji.” Tandas Kiai Jadul Maula yang diamini seketika oleh santri-santri dan audiens pada saat itu (29/04/25) dalam perjumpaan bedah buku, “Waringin Sungsang Jawa” yang diadakan oleh Ngaji Dewaruci dibawah naungan Ponpes Budaya Kaliopak Yogyakarta, di asuh KH. Jadul Maula sekaligus ketua LESBUMI NU setelah KH. Agus Sunyoto.

Kiai Nur Khalik, Kiai yang menganut paham Malamatiyah, tarekat yang mengedepankan kebersahajaan ditengah-tengah masyarakat disertai dengan sikap andap ashor, tawadhu, dan mengikis terus-menerus kesombongan yang ada dalam diri. Setiba kami dirumah beliau, tampak dari depan rumah Kiai Nur Khalik berdindingkan joglo yang dihiasi ornamen ukiran kriya seni jawa, dipedesaan asri yang masih terdengar cuitan burung dikala senja bergantikan malam. Tepat sesaat setelah kami parkirkan motor dihalaman rumah, beliau hengkang berdiri dari tempat duduk didepan laptop yang bersikan kalimat demi kalimat yang tersusun rapi memberikan manfaat, adalah ilmu. Ilmu yang Allah ajarkan pada Nabi Adam melalui nama-nama-Nya yang pusatnya adalah Nur Muhammad.

Hampir dan bahkan semua orang yang berkunjung dan bersilaturahmi kepada beliau, dijumpainya Kiai Nur Khalik sedang mengetik, menulis buku, dan menghasilkan karya. Inilah rutinitas yang dilakukan beliau setiap hari sejak pagi, siang, sore, hingga malam hari. Kecintaannya terhadap ilmu tidak hanya dibuktikan dengan perpustakaan pribadi yang berisikan berbagai koleksi buku-buku akan tetapi karya-karya beliau yang hampir dan bahkan lebih dari lima puluh buku diusianya yang sudah tidak muda lagi.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Kiai Nur Khalik menyambut kami dan mempersilahkan duduk diruang tamunya, dengan segala ubo rampen dan makanan ringan, “silahkan dibuka, jangan sungkan-sungkan, dipaceti (dimakan, dicicipi) tak tinggal sek, delot,” kata beliau, masuk kedalam rumahnya. Tak lama kemudian dua gelas kopi hitam dibawakannya kepada kami; panas, hitam membaur menjadi satu dalam gelas berukir. Kopi hitam, laksana sufi yang ditempatkan, berbaur dimanapun akan menyesuaikan tempatnya, tanpa menghilangkan esensinya, terus menerus bersama Tuhannya.

Tepat berada didepan kami, diatap dinding rumah yang yang berukir, bertempelkan tuliskan, “NDiko Publishing-Joglo Kesengsem”. Dengan logo, awak telu ndas siji – awak telu sirah sanunggal berbentuk ikan. Sebagaimana lambang kacirebonan dan ilustrasi daripada ajaran Tarekat Syattariyah yang bermakna, ora pecah (kebersatuan), baik antara adam (manusia), Muhammad (syariat), dan Allah. Antara jasad, ruh, dan Allah maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat, dan af’al. Atau bisa diartikan dengan wihdatul wujud sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Babon Petarekatan.

“Baru selesai kuliah?” kata beliau kepada kami, “mboten yai habis selesai ngopi ini, diwarkop.” Jawab kami pada beliau. “Temanmu, den?” “nggeh, yai, alumni Ma’had Aly piyambake,” “Nggeh, yai; alumni Pondok Pesantren Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin asuhan KH. Luqman Hakim.” Jawabku pada beliau. “Saya dulu pernah bertemu Kiai Luqman Hakim sewaktu di UII sewaktu memanggil beliau sebagai pembicara, jurusannya apa disana?” tanya Kiai Nur Khalik kepadaku, “tasawuf, yai,” kataku. “sudah ngajuin judul tesis?” “sampun, yai; kemarin pakai konsep tajrid dan asbab Ibn Athaillah ditinjau menggunakan pemikiran Ibn Ajibah tapi dereng ditampi.”

“Sekarang lagi pakai syatahat sufi ditinjau dari dekonstruksi Derrida,” sambungku. “Seharusnya pakai hermeneutika, bukan dekonstruksi Derrida karena syatahat itu memang bukan kehendak sufi itu sendiri, itu kehendak Allah dan sang sufi tidak kuat untuk mengendalikannya sehingga keluarlah kalimat-kalimat yang seakan menyalahi aturan syariat, sehingga terjadilah perbedaan satu sama lain; karenanya paling pasnya itu saya kira pakai hermeneutika, tapi dicoba saja pakai Derrida barangkali bisa.” Imbuhnya meyakinkanku. “atau bisa juga syatahat sebagai etika publik, sebab telah menggoncangkan tatanan dunia, iya kan?, bagaimana ada sesuatu yang telah disepakati kemudian digoncangkan oleh sesuatu yang lain.”

“Syatahat itukan manifestasi asma-asma Allah yang terimplementasikan dalam ucapan seorang sufi tersebut, sehingga keluarlah nama Allah assubbuh, alquddus, alhannan, dan yang lainnya; sesuai yang ada dalam diri sufi cocoknya apa, dalam diri ini ya keluar ini; seperti subhaani-nya Abu Yazid al-Bustami.” “Abu Yazid itukan tokoh agung yang kemudian dari keturunannya (nasab bil’ilmi) turunlah Syekh Allaudaulah al-Simnani dari Tarekat Kubrawi, konon disebutkan dalam al-Risalah al-Ghautsiyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, suatu ketika Allaudaulah al-Simnani juga layaknya Abu Yazid al-Bustami hanya saja dengan kalimat dan tampilan syatahat yang berbeda.”

Atau bisa juga kemudian menggunakan Malamatiyah sebagai etika publik, sebab malamatiyah itukan memendam dirinya (self-criticism dan self-blance) guna kedekatan kepada Tuhannya, seperti kata Ibn Athaillah, “idfin wujudaka fi ardzilhumuul famanabata mimma lamyudfan layatimmu nitaajuhu” pendamlah reputasi dan ambisimu pada tanah kerendahan, sebab segala yang tumbuh dan bermekaran tanpa ditanam takkan sempurna hasilnya. Sedangkan banyak sekarang orang-orang mencari popularitas akan tetapi kehilangan eksistensinya. Lalu beliau Kiai Nur Khalik bertanya, “asalmu mana, mas?” “pekalongan, yai,” “saya itu dulu pernah dipanggil ke pekalongan, ke UIN,” tandasnya.

“Aku itu tipikal orang yang gak mau berpindah pembahasan sebelum yang ini (sedang ditulis) selesai, barat itu tatanan perjalanannya lumayan runyam dari hindu, sehingga seperti sekarang ini, karenanya dibutuhkan kerja ekstra untuk menelitinya.” Jawaban Kiai Nur Khalik, saat kami tanya kiat agar senang menulis. Begitu juga amaliyah, ketika kalian masih dalam fase belajar tugas kalian adalah belajar, mendalami dengan benar ilmu-ilmu tersebut. Barangkali seperti inilah rasa para pecinta ilmu yang menghidupkan hari-harinya, dicurahkan untuk ilmu. Bagaimana tidak, setelah kemarin menerbitkan buku, “Waringin Sungsang Jawa” kini berkutit dan berfokus pada pemikiran tantanan barat. “Wallahu a’lam.”  

Cahaya Cinta dan Teladan dari Emha (Cak Nun)

Penulis: Said Kosim, Editor: Fajri Muarrikh

Muhammad Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, adalah tokoh yang tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di dunia internasional sebagai seorang budayawan, penyair, penulis, pemikir Islam, dan tokoh masyarakat.

Kehidupannya mencerminkan perjalanan panjang seorang intelektual yang senantiasa berpihak pada keadilan, kesetaraan, dan kedamaian.

Lahir pada 27 Mei 1953 di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Cak Nun tumbuh di lingkungan pesantren dan keluarga santri. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, Mohammad Abdul Latief, adalah seorang guru agama yang dikenal taat. Tradisi Islam yang kuat di keluarganya menjadi pondasi bagi pemikiran Cak Nun di kemudian hari.

Silsilah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) berkaitan dengan garis keturunan keluarga yang berasal dari lingkungan religius di Jawa Timur, khususnya daerah Jombang, yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pesantren dan tokoh-tokoh ulama besar. Cak Nun berasal dari keluarga yang sederhana namun religius dan penuh nilai-nilai luhur. Ayahnya, seorang guru agama, menjadi sosok sentral dalam membentuk karakter Cak Nun. Dari lingkungan pesantren dan tradisi keislaman di Jombang inilah, Cak Nun tumbuh menjadi seorang tokoh yang membawa pesan perdamaian, cinta, dan harmoni melalui karya, pemikiran, dan dakwah budaya.

Baca juga: KH. Abdul Hamid Pasuruan Sosok Ulama Sufi dan Tokoh-Panutan/

Pada usia remaja, Cak Nun mengalami pergolakan batin dan mencari makna kehidupan. Ia meninggalkan pesantren Gontor untuk mengembara ke Yogyakarta, kota yang kemudian membentuk sebagian besar kepribadiannya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan para seniman, intelektual, dan aktivis yang membentuk wawasannya.

Meskipun ia sempat kuliah di Universitas Gadjah Mada, ia memilih jalur pendidikan otodidak dan berguru kepada banyak tokoh besar, seperti Umar Kayam, Umbu Landu Paranggi, dan WS Rendra. Persentuhannya dengan komunitas sastra dan seni Yogya menjadikannya seorang pemikir yang tidak hanya religius, tetapi juga artistik.

Pada masa ini, ia mulai menulis puisi, esai, dan cerpen yang dimuat di media nasional seperti Kompas dan Tempo. Tulisannya sering kali sarat kritik sosial dan bernada spiritual, mencerminkan keresahannya terhadap ketimpangan sosial dan dekadensi moral masyarakat.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin Pembawa Obor Toleransi Ala Gus Dur Muda

Cak Nun menonjol sebagai seorang sastrawan yang menghasilkan banyak karya monumental, seperti:
99 Untuk Tuhanku: Kumpulan puisi yang menjadi refleksi spiritual dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Indonesia Bagian dari Desa Saya: Esai kritis tentang kondisi sosial-politik Indonesia.
Markesot Bertutur: Kisah filsuf desa yang memberikan pandangan mendalam namun sederhana tentang kehidupan.
Arus Bawah: Kumpulan tulisan yang membahas dinamika sosial masyarakat kecil di Indonesia.
Cak Nun menggunakan sastra sebagai media untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, mengkritik kekuasaan yang tidak adil, serta menyampaikan pesan spiritual secara humanis.

Cak Nun menjadi lebih dikenal luas melalui Maiyah, sebuah komunitas diskusi yang ia dirikan. Maiyah bukan hanya sekadar forum intelektual, tetapi juga sebuah ruang spiritual, budaya, dan sosial yang terbuka untuk semua kalangan.

Melalui Maiyah, ia menyampaikan pesan-pesan yang inklusif terhadap berbagai keyakinan dan pandangan; enekankan pentingnya cinta kasih, keadilan, dan keberpihakan kepada kaum marginal; menggugah umat untuk tidak sekadar beragama secara ritual, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Maiyah sering kali dikemas dengan pengajian budaya dan musik yang melibatkan Kiai Kanjeng, kelompok musik yang ia bentuk. Musik mereka menggabungkan elemen tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang unik dan menyentuh hati berbagai kalangan.

Pemikiran Cak Nun tidak hanya tentang agama, tetapi juga kritik terhadap politik, ekonomi, dan sosial. Ia sering menyerukan: kejujuran dan keadilan dalam kepemimpinan; kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa diskriminasi; pentingnya merawat kebudayaan sebagai identitas bangsa.

Ia sering hadir di tengah konflik untuk menjadi mediator, seperti dalam kasus konflik sosial di Ambon, Poso, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Perannya sebagai penyejuk di tengah ketegangan menjadikannya tokoh yang dihormati oleh berbagai golongan, baik Islam maupun non-Islam.

Cak Nun memiliki peran yang sangat penting dan unik dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama melalui pendekatan budaya, seni, dan dialog kemanusiaan. Berbeda dengan pendekatan formal yang sering bersifat doktrinal, Cak Nun menyampaikan nilai-nilai Islam secara inklusif, damai, dan membumi, menjadikannya mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Cak Nun menggunakan seni dan budaya sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam yang penuh cinta, kedamaian, dan toleransi. Salah satu contoh konkret adalah melalui KiaiKanjeng, kelompok musik yang ia bentuk.

KiaiKanjeng menggabungkan unsur musik tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang merefleksikan ajaran Islam sebagai agama yang merangkul keberagaman. Musik mereka sering dijadikan sebagai pengantar refleksi ajaran Islam dalam suasana yang lebih santai namun mendalam. Contohnya, dalam pengajian budaya, Cak Nun menyelipkan nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan pentingnya kebersamaan sambil diiringi oleh lantunan musik dari KiaiKanjeng.

Hal ini membuat dakwahnya lebih “menghidupkan” dibandingkan ceramah formal.
Cak Nun mendirikan Maiyah, yaitu forum pengajian budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Maiyah bukan hanya tempat pengajian, tetapi juga ruang terbuka untuk diskusi spiritual, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Forum ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam, tetapi juga oleh orang dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan kelas sosial.

Cak Nun mendorong dialog dua arah, sehingga masyarakat merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya. Cak Nun juga mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang merangkul semua, bukan memecah belah. Pesan-pesan tentang keadilan, kemanusiaan, dan kasih sayang sering kali menjadi inti dari diskusinya.

Dengan pendekatan ini, Cak Nun berhasil menyebarkan pemahaman Islam yang ramah, terbuka, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Cak Nun selalu menekankan bahwa Islam harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dihafalkan atau dimaknai secara simbolis.

Beberapa poin penting dalam penyebaran nilai Islam menurut Cak Nun adalah: menjunjung tinggi keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan menjauhi sifat-sifat merusak; Cak Nun mengkritik cara beragama yang hanya menekankan ritual tanpa memahami esensi dan nilai spiritual di baliknya. Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Cak Nun sering menyampaikan hal ini dalam konteks ekonomi, politik, dan sosial.

Di tengah situasi global dan nasional yang sering kali dipenuhi konflik atas nama agama, Cak Nun tampil sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Cak Nun sering hadir di tengah masyarakat yang berkonflik, seperti saat kerusuhan Ambon atau Poso, untuk menjadi penengah dan menyampaikan pesan kedamaian dari perspektif Islam.

Melalui pendekatan bahasa yang sederhana, lugas, dan penuh hikmah, Cak Nun berhasil menjangkau generasi muda dalam memahami Islam. Ia mengemas dakwah dengan bahasa modern dan relevan dengan kehidupan anak muda. Pesan-pesan spiritualnya menyentuh sisi emosional, sosial, dan rasional, sehingga mudah dicerna dan diaplikasikan. Generasi muda tidak hanya melihat Islam sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai cara hidup yang menyejukkan dan memberi makna.

Cak Nun juga sering mengkritik ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik sebagai bagian dari dakwahnya. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk mengingatkan bahwa Islam mengajarkan keadilan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Misalnya: Mengingatkan pemimpin agar amanah dalam mengemban tugas. Menyerukan kepedulian terhadap kaum miskin dan tertindas sebagai bagian dari kewajiban umat Islam.

Peran Cak Nun dalam penyebaran agama Islam tidak hanya terbatas pada dakwah konvensional, tetapi melalui pendekatan yang lebih inklusif, dan humanis. Beliau berhasil menggabungkan seni dan budaya sebagai media dakwah, mendirikan forum Maiyah sebagai ruang dialog terbuka, menanamkan Islam sebagai ajaran yang praktis dan hidup dalam keseharian, menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Pendekatan Cak Nun menjadikan Islam lebih dekat dengan hati masyarakat, lintas generasi, dan lintas golongan, sehingga nilai-nilainya mampu menginspirasi kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

Ngaji Filsafat: Menyebarkan Kesejukan dan Kebijaksanaan Bersama Fahrudin Faiz

Penulis: M. Fatih Qosdana, Editor: Sirli Amry

Fahrudin Faiz, nama yang tidak asing dikalangan pemuda, orangtua, dan bagi mereka penggemar gadget di era globalisasi sekarang ini. Pasalnya tak satupun orang yang tidak mengenal beliau meski di pelosok desa sekalipun. Akses internet yang menjangkau terhadap semua lapisan masyarakat menjadikan beliau banyak dikenal melalui kajiannya yang unik. Berbagai kajiannya menuai banyak tanggapan positif dari masyarakat. Salah satunya adalah kajian youtube ”Ngaji Filsafat”.

Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., adalah seorang filsuf Muslim kelahiran Mojokerto, 16 Agustus 1975. Dengan keahlian dan dedikasi yang luar biasa dalam bidang filsafat, beliau menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin mendalami filsafat, terutama filsafat Islam. Perjalanan pendidikannya dimulai di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat beliau meraih gelar Sarjana (S1) di jurusan Aqidah dan Filsafat pada tahun 1998. Tidak berhenti di situ, beliau melanjutkan pendidikannya di program Magister (S2) pada bidang Agama dan Filsafat di universitas yang sama dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2001. Kecintaannya pada ilmu membawanya meraih gelar Doktor (S3) dalam Studi Islam pada tahun 2014.

Baca Juga:  Refleksi Pemikiran Politik Menurut Imam Al Ghazali dalam Konteks Nilai-Nilai Islam dan Relevansinya pada Era Modern

Dedikasi dan keilmuan yang mendalam dari Dr. Fahruddin Faiz tidak hanya tercermin di ruang akademik, tetapi juga melalui program Ngaji Filsafat yang kini telah memasuki 457 sesi.  Kajian yang beliau usung bersama tim ini pertama kali digelar pada malam Senin sejak tahun 2013, sebelum akhirnya bergeser ke malam Kamis. Salah satu keunikan Ngaji Filsafat ini adalah menghadirkan berbagai macam pemikiran (filosof) barat, timur, asia, nusantara dan lainnya. Dilaksanakan setiap satu minggu sekali menjadikan kajian ini terasa dikangeni dan digandrungi banyak orang. Tema kajian filsafat (banner, pamflet YouTube, instagram, facebook, dan media lainnya) biasanya di share beberapa hari sebelum kajian berlangsung.

”Saya sering mendapat tanggapan dari teman-teman dari media-media mengatakan ada juga yang berharap semoga suatu saat bisa bertemu Pak Faiz. Kemudian ada juga yang mengatakan barangkali Pak Faiz terima aku jadi muridmu dan seterusnya-seterusnya. Sebenarnya yang dapat keuntungan, manfaat daripada itu semua itu adalah saya. Sebab, sebelum kalian tahu tentang pemikiran sebuah tokoh ataupun tema-tema yang akan dikaji maka saya harus lebih tahu dulu daripada kalian, sehingga saya harus mencari referensi terlebih dahulu ini, itu, dan sebagainya. Sehingga seringkali saya tekankan, mari belajar bersama-sama; saya belajar kepada kalian, kalian belajar kepada saya. Sebab hakikatnya seorang guru itu yang mau belajar sebagaimana murid yang mau mengajarkan. Sehingga terus-menerus adanya korelasi yang berkesinambungan.” ungkap beliau Pak Faiz dengan nada rendah yang menenangkan dalam kajiannya.

Pak Faiz, dalam kajiannya seringkali menyelipkan jokes-jokes atau candaan ringan. Hal ini dimaksudkan agar ngaji filsafat terasa menyenangkan dan tidak terkesan berat. Meskipun sejatinya filsafat itu susah, namun ditangan beliau, ngaji filsafat menjadi mudah untuk dipahami baik bagi pendengar secara langsung (mereka yang hadir di MJS pada malam rabu) maupun tidak langsung (mendengarnya dari channel MJS). Tamu yang datang kepada beliau pun tak terhitung jumlah dan asalanya. Mereka tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari berbagai mancanegara. Bahkan karena cara mengkaji filsafat oleh beliau itu tergolong unik dan mudah dipahami, seorang suami istri dari luar negeri rela datang mengaji dan kuliah di jurusan filsafat.

Baca Juga:   Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Salah satu kutipan pernyataan beliau yang pernah beliau sampaikan yakni ”Ketika orientasimu menolong orang lain dikarenakan kasihan terhadap orang tersebut, maka sejatinya engkau sedang melangkahi Allah. Karenanya, sadarilah bahwa kemampuan kita dalam menolong orang lain itu sebab Allah memampukan diri kita untuk menolong orang lain. Sehingga jadilah kita menolong terhadap orang lain. Meskipun hal ini kadang tidak masuk akal akan tetapi memang seperti itulah sejatinya, adanya Allah dibalik seluruh aktivitas kita”.

Dalam kajian ngaji filsafat seri awal memasuki tahun baru 2025 tepatnya hari rabu tanggal 1 januari, kanal ini menghadirkan tema tentang bagaimana menetapkan resolusi yang bermakna. Dengan harapan, resolusi yang dirancang dapat menjadi pijakan untuk memperbaiki diri dan membawa perubahan positif dalam kehidupan. Semoga channel ngaji filsafat yang dibawa oleh Pak Faiz beserta crew bisa membawakan kesejukan-kesejukan untuk Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Mengenal Syekh Nujumudin : Ulama Sufi Pembabad dan Penyebar Islam di Watusalam

Penulis: Muhammad Irfan, Editor: Fajri Muarrikh

Desa Watusalam terletak di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dan berbatasan dengan Desa Warungasem Kabupaten Batang disebelah timur, dan berbatasan dengan Kota Pekalongan di sebelah utara.

Di desa Watusalam terdapat seorang punden atau leluhur yang membabad tanah Watusalam, bernama Syekh Nujumuddin dari Cirebon, lahir pada tahun 1690 M, dan wafat pada tahun 1771 M, pada bulan safar. Beliau adalah seorang murid dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Jawa Barat. Setelah membuka perguruan atau pesantren di Gua Safarwadi, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan banyak kedatangan murid-murid, salah satunya Syekh Nujumuddin. Kurang lebih tujuh tahun beliau menimba ilmu dan mengambil sanad tarekat Syattariyah, setelah itu Syekh Abdul Muhyi memerintahkan kepada Syekh Nujumuddin untuk menyebarkan Agama Islam dan berdakwah dari Cirebon menuju ke pesisir utara Jawa.

Dalam menuju ke pesisir utara laut jawa, beliau bersama dengan rombongan Syekh Faqih Ibrahim, putra dari Syekh Abdul Muhyi untuk menuju ke Mataram, akan tetapi Syekh Nujumuddin memisahkan diri karena dalam perjalanan beliau teringat pesan gurunya bahwa ada murid tua dari gurunya bernama Syekh Tholabuddin di Batang, yang saat itu sudah menjabat menjadi penghulu di Batang. Akhirnya, Syekh Nujumuddin berpisah dari rombongan dan menuju ke murid tertua Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Dalam perjalanannya, beliau beberapa kali bertemu dengan orang untuk menanyakan tempat tinggal Syekh Tholabuddin, akhirnya setelah mengetahui keberadaan Syekh Tholabuddin, Syekh Nujumuddin mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Syekh Tholabuddin, dikarenakan Syekh Tholabuddin sudah menjadi penghulu. Beliau singgah di suatu daerah untuk meminta petunjuk sebelum menemui Syekh Tholabuddin, daerah itu dipenuhi pohon salam dan bambu, kemudian beliau memilih dibawah pepohonan bambu dan mendirikan gubuk untuk tempat tinggal tepatnya di pinggir kali kupang. Orang yang mengetahui ada gubuk di pinggir kali kupang dan mengetahui beliau seorang ulama, akhirnya banyak yang mendatangi untuk berguru kepadanya. Pada tahun 1740 M, beliau mendirikan gubuk atau pesantren untuk menampung murid-murid yang belajar dengan beliau.

Baca Juga : Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Perjalanan Sejarah Menuju Kepresidenan RI

Setelah mendapat petunjuk dan sudah lama mengajar murid-muridnya, beliau menemui Syekh Tholabuddin di Masin. Serampung menemuinya, Syekh Nujumuddin kembali ke tempat padepokannya yang di pinggiran kali kupang, yang nantinya tempat itu dinamakan Watujoyo. Disana syekh Nujumuddin mendirikan perkampung yang bernama Watujoyo, sehingga beliau dikenal Buyut Watujoyo. Beliau lah yang pertama kali membabad tanah yang tadinya alas menjadi perkampungan. Di era Belanda desa Watujoyo nantinya di pecah menjadi dua, pertama menjadi desa Kertoharjo dan kedua bernama Watusalam. Makam Syekh Nujumuddin berada dikompek pemakaman seklayu desa Watusalam. Dalam catatan naskah Cirebon berkode KBG 628 PNRI, dari bagus ihram, ditulis pada kertas Eropa. Terdapat dua jenis bahasa yaitu bahasa Arab dan pegon. Bahasa Arab berjumlah 120 halaman dan 30 halaman menggunakan pegon, tertulis silislah sanad keilmuan Syekh Nujumuddin. Untuk silsislahnya, secara berurutan sebagia berikut.

Rasulullah saw.

Ali kang putra Abi Thalib

Husein al-Syahid

Zainal Abidin

Muhammad Baqir

Ja‟far al-Sidiq

Sultan Arifin Abi Yazid al-Bistami

Muhammad Magrib

Arabi Yazid al-Isyqi

Abu Mugafir Maulana Ihram Tusi

Abi Hasani Harqani

Hadaqili Madri al-Nahrini

Muhammad Asyiq

Muhammad Arif

Hidayat Allah Sarmusun

Hasur

Muhammad Gaus kang putra Hatib al-Din

Wajih al-Din

Sibgat Allah kang putra Sayyid Ruh Allah

Sayyidina Abi Muwahid Abd Allah Ahmad kang putra Abbas

Syaikh Ahmad kang putra Muhammad ing Madina, Syaikh Ahmad Qasyasi

Syaikh Abd al-Rauf kang putra Ali kang bangsa Syaikh Hamzah Fansuri

Syaikh Abd al-Muhyi Safarwadi

Syaikh Nujum al-Din

Kanjeng Kyai Haji Muhammad Yunus Saferwedi

Kyai Bagus Muhammad Taraju Cisarua

Bagus Ihram Carebon Babakan

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Sosok Habib Ja’far atau yang Lebih Dikenal Habib Milenial 

Demikianlah biografi dari Syekh Nujumudin yang bisa penulis ceritakan. Syekh Nujumuddin meninggalkan warisan yang tak hanya berupa perkampungan dan pesantren, tetapi juga jejak spiritual yang terus hidup melalui para murid dan silsilah keilmuannya. Hingga kini, Desa Watusalam tetap mengenang beliau sebagai tokoh sentral dalam perkembangan agama Islam di wilayah tersebut, dengan makamnya menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati.  Jika ada kekeliruan, bisa dikoreksi bersama.

Wallahu a’lam..

Mengenal Lebih Dekat Sam’ani Sya’roni: Sang Pembawa Petuah Sejak Muda

Pewarta: Hilma, Rista, Danny, Editor: Azzam Nabil H.

Prof. Dr. K.H. Sam’ani Sya’roni, M.Ag, adalah pria kelahiran 5 mei 1973 yang lahir di desa Ketas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, anak ke 9 dari pasangan K.H Nur Sya’roni dan ibu Hj. Istiqomah. Prof. K.H Sam’ani tinggal bersama istri tercinta Izza Kamila, S.Pd dan anak tersayang Aisya Maila Shofya di desa Wangandowo Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan.

Prof. K.H Sam’ani mengawali pendidikannya di MI Wonopringgo III sembari mengaji di madrasah diniyah yang berada di kampung halamannya. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di MTs YMI Wonopringgo sambil memperdalam ilmu agamanya di Pondok Pesantren Miftakhul Huda yang bertempatkan di daerah Pesantunan, Kedungwuni. Pondok pesantren ini berada di bawah asuhan K.H. Fakhrurozi.

Selepas tamat dari MTS, Prof. K.H. Sam’ani melanjutkan memperdalam ilmu agamanya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, dan menempuh pendidikan formal di MAN Tambak Beras. Namun pada saat naik ke kelas 2 Aliyah, Prof. K.H Sam’ani pindah belajar ke MAS Simbang Kulon, Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, dan juga meneruskan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Nurul Huda, Simbang Kulon, yang di Asuh oleh K.H. Chudhori Tabri.

Baca Juga: Menyingkap Kehidupan dan Ajaran Gus Baha: Antara Fikih, Tasawuf, dan Muhasabah Diri

Setelah tamat dari MAS Simbang Kulon, Prof. K.H Sam’ani kemudian menempuh pendidikan tinggi dengan berkuliah di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Pekalongan yang menjadi cikal bakal Kampus UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan. Selama menempuh kuliah S1 ini, Prof. K.H Sam’ani nyantri di ponpes Al Aribiyah yang di asuh oleh Pondok Pesantren Al Arifiyah yang diasuh oleh K.H. Zaenal Arifin.

Prof. K.H Sam’ani mendapatkan gelar S1 Fakultas Syariah IAIN Pekalongan jurusan Qadla’ / Peradilan Agama pada tahun 1996. Kemudian pria yang sejak kecil gemar berpidato ini memutuskan hijrah ke Jakarta untuk mencari pengalaman baru di ibu kota. Dengan modal do’a dari kedua orang tua dan rasa percaya diri Prof. K.H sam’ani mengikuti Pendidikan kader ulama MUI DKI angkatan ke 3. Setelah menyelesaikan Pendidikan kader ulama, Prof K.H Sam’ani mengikuti kuliah lagi di Pendidikan bahasa Arab, Qism Diblum LIPIA, Jakarta.

Kemudian di tahun 1999, Prof. K.H Sam’ani diangkat sebagai dosen STAIN Pekalongan. Dua tahun setelahnya, Prof. K.H Sam’ani mendapatkan tugas dari STAIN mengikuti pendidikan Short Course Daurah Tadribiyyah fi al – Lughah al – ‘Arabiyyah di Jami’ah Qanat Swiss Ismailiyyah, Mesir. Adapun dalam menempuh pendidikan S2 dan S3, beliau mendalami studinya dengan mengambil konsentrasi bidang hukum-hukum Islam di UIN Walisongo Semarang, hingga akhirnya mendapatkan gelar megister dan doctor studi islam pada tahun 2017.

Dengan penuh semangat dalam menuntut ilmu dan giat melakukan penelitian di bidang studi terkait, kini anak yang berasal dari desa Ketas, kecamatan Wonopringgo, kabupaten Pekalongan ini telah mencapai gelar akademik tertinggi yakni sebagai guru besar atau professor dalam bidang ilmu hukum islam di UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan. Selama perjalanan karirnya sebagai seorang dosen, Prof. K.H Sam’ani pernah di amanati beberapa tugas tambahan, yaitu menjadi kepala program studi Ahwal Syakhshiyyah Jurusan Syariah STAIN Pekalongan, menjadi Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan kelembagaan Fakultas Syariah IAIN Pekalongan, dan saat ini beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Disisi lain, karena keuletan dan etos kerja yang tinggi, Prof. K.H. Sam’ani juga diberikan amanah sebagai mediator non-hakim di pengadilan agama Kajen, Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), Ketua dewan pengawas syariah KSPPS BMT Bahtera Pekalongan dan pengasuh beberapa majlis ta’lim yang terdiri dari pengajian rutin tafsir Al quran di masjid agung  kabupaten Batang, majlis ta’lim masjid Asy sya’roni Limbangan, kecamatan Karanganyar, majlis ta’lim Attawab, Karang asem Batang, majlis ta’lim musholla Anshori Simbang wetan Buaran, Pekalongan, kajian rutin KSPPS Bahtera, serta pengasuh ngaji Al quran untuk anak2 kecil di rumahnya.

Dalam bidang akademik, Prof. K.H Sam’ani Sya’roni, M.Ag juga telah menghasilkan berbagai macam karya-karya ilmiah seperti jurnal, prosiding, buku, haki, makalah seminar nasional dan internasional. Salah satu karyanya berbentuk buku yang berjudul “Tafkirah Ulum Al -Qur’an, Pekalongan: Al-Ghotasi Putra, 2013”

Disamping itu, dalam mengajarkan ilmunya atau ketika berdakwah, beliau juga terjun langsung di lingkungan masyarakat mulai dari pelosok desa, ibu kota, bahkan internasional. Tak heran, karena usahanya yang gigih dalam berdakwah, Prof K.H Sam’ani juga sering diundang dalam acara- acara penting, dan bahkan sering melintang di staisun televisi seperti BATIK TV, TVRI, dan bahkan di acara siraman qolbu bersama ustad danu yang tayang pada stasiun televisi MNCTV. Namun setelah menjadi dosen di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Peklongan, akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti tampil di stasiun televisi dan fokus pada karirnya menjadi dosen serta memberikan kontribusi penuh kepada kampus.

 

Mengenal Lebih Dekat Sosok Habib Ja’far atau yang Lebih Dikenal Habib Milenial

Penulis : Adinda Suci Fadilah, Editor : Ryuu Pangestu

Nama asli Habib Ja’far adalah Husein Ja’far Al-Hadar, lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada tanggal 21 Juni 1988, dan merupakan keturunan sah Nabi Muhammad SAW. Ia mendapat gelar Habib dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah. Dia mendapat kalimat ini dari ayahnya. Habib Husein Ja’far lahir dan besar di keluarga Arab.

Berawal dari kakeknya yang datang ke Indonesia untuk berdagang, Habib Husein terlahir dalam sebuah keluarga. Terlahir dari keluarga Habib yang sangat religius, ia harus menjaga harkat dan martabat keluarganya serta menjaga Islam itu sendiri sebagai agama. Sejak kecil, Habib Husein harus membiasakan diri dengan aturan, norma, dan nilai yang dianggap membatasi oleh sebagian orang. Mengutip wawancara di channel YouTube Tretan Universe, ia mengatakan jika ia terlambat menunaikan salat Asri di SMA, ia akan diolok-olok oleh teman-temannya.

Baca juga : Panggung FEBIFEST UIN Gus Dur Pekalongan Dimeriahkan oleh Habib Husein ja’far Al-Hadar Usung Tema “Milenial Merawat Peradaban”

Di bangku SMA, Habib Husein belajar tentang kitab-kitab filsafat dan tokoh-tokohnya. Habib Ja’far cukup terkenal di kalangan pemuda sebagai pencerah pemuda yang tersesat. Habib Ja’far mempunyai narasi yang lancar dan mudah dipahami. Hal ini akan selalu membuat pesan dakwahnya bergema di kalangan generasi muda. Selain itu, Habib Ja’far juga mengutarakan keresahan generasi muda sehari-hari, sehingga pesan khotbahnya relevan dengan situasi generasi muda saat ini.

Habib Ja’far selalu update berita terkini. Ia juga selalu memahami apa yang diinginkan pasar media saat ini, yakni budaya pop. Habib Ja’far selalu aktif membuat konten di Instagram dan YouTube. Konten terpopuler adalah Lost Youth, konten yang dibuat atas kerja sama Coki Pardede dan Tretan Muslim. Konten ini menimbulkan beberapa pertanyaan aneh, namun Habib menjawabnya dengan keseriusan individu.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Hal ini menimbulkan minat generasi muda untuk mendengarkan khotbah santai Habib Ja’far. “Selama dia baik dan mendorong kebaikan. Orang tidak bertanya tentang agama.” Gus Dur mengucapkan kata-kata itu. Bacaan Habib Ja’far ini sejalan dengan pernyataan Gus Dur. Padahal, perilaku Habib Ja’far merupakan bentuk toleransi sejati sesuai kaidah Rasulullah.

Habib menjadi sahabat baik dan akrab dengan tokoh agama non-Muslim. Perlu diketahui bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang damai dan sederhana. Habib Ja’far juga memadukan humor dan dakwah. Humor Habib Ja’far mampu menyampaikan warna dakwah Islam yang tidak kaku, toleran, kontestasi, kontemplatif dan menghibur.

Dari sini terlihat bahwa suatu persoalan yang serius dan seringkali disampaikan secara kaku juga dapat disampaikan dengan santai dan bersahabat. Di masyarakat tertentu, dakwah jenis ini lebih populer dibandingkan ceramah di kelas. Dari Habib Ja’far kita dapat belajar bahwa Islam adalah agama yang terbuka terhadap inovasi dan perkembangan seiring berjalannya waktu.

Maka tidak salah jika ada ungkapan Islam shalih likulli masa wa makan (menyesuaikan diri dengan segala waktu dan tempat). Tentu saja, penebusan ini kembali kepada kita melalui cara penafsirannya, cara pemahamannya, dan cara penerapannya. . Apa yang dilakukan Habib Ja’far merupakan bagian dari wajah Islam yang progresif, terbuka dan inovatif.

Baca juga : Sosok KH. Taufiqul Hakim dalam Modernisasi Pendidikan Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi dalam Pembangunan Karakter dan Kualitas Manusia

Habib Ja`far juga mendorong semua kalangan untuk menggunakan platform digital sebagai sarana dakwah. Sebab, media sosial kini telah menjadi domain dakwah Islam mainstream. Ia mencontohkan penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Sosial (PPIM), UIN Jakarta, yang menemukan lebih dari 63 persen pengguna internet belajar agama melalui internet. Dengan demikian, dakwah menjadi penting di dunia digital dengan segala tantangannya.

Dakwah digital dinilai jauh lebih efektif, murah, dan mudah. Alat ini mudah dibuat dan dapat dibuat bahkan di rumah, murah karena tidak memerlukan transportasi dan efektif di tangan serta dapat dimainkan berkali-kali. Habib Ja`far yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW pun menanggapi sinisme pembelajaran di media sosial yang dinilai jauh secara ilmiah dari pesantren. Bagi Habib Ja`far, media digital dan pertemuan taklim hanyalah alat, seperti pesantren dan sekolah.

Dakwah sendiri, ditegaskan Habib Jafar, tidak hanya mengajak umat beribadah kepada magdhoh (kepala), tapi juga kebaikan dan dakwah. Termasuk transmisi nilai-nilai kebangsaan, kebaikan spiritual, seni, dan lain-lain. Pesan Dakwah Habib Ja`far di Instagram meningkatkan pemahaman agama. Dengan isi yang sesuai dan bahasa yang mudah dipahami, Habib Jafar membantu masyarakat lebih memahami ajaran agama.

Postingannya di Instagram dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi para pengikutnya. Meningkatnya penyebaran dakwah di jejaring sosial Instagram memungkinkan Habib Jafar menjangkau calon pengikutnya di berbagai daerah. Hal ini akan membantu memperluas jangkauan dakwah dan menjangkau lebih banyak orang. Ciptakan Komunikasi Positif Dengan menanggapi komentar dan pesan, Habib Ja`far menciptakan suasana komunikasi positif antara dirinya dan pengikutnya.

Hal ini memperkuat ikatan antara jemaah dan khatibnya dalam membangun komunitas yang saling mendukung. Habib Ja`far juga menggunakan kutipan religi dalam tulisannya yang dibagikannya di Instagram. Ini menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan teks yang diselingi dengan kutipan keagamaan yang relevan. Ini membantu menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.

Habib Jafar menggunakan ekspresi wajah yang ekspresif untuk menunjukkan emosi dan menekankan pesan yang disampaikan. Frasa yang tegas, penuh kasih sayang, atau serius dapat membantu menyampaikan pesan dengan lebih efektif. Gestur tubuh Habib Jafar merupakan gestur yang tepat untuk menekankan poin-poin penting dalam ceramahnya.

Baca juga : K.H. Abdul Hamid Pasuruan: Sosok Ulama Sufi dan Tokoh Panutan

Ia tahu bagaimana menggunakan gerakan tangan atau tubuh yang mendukung penyampaian pesan yang disampaikan. menawarkan visualisasi yang lebih jelas kepada para pengikutnya. Habib Jafar juga menggunakan gambar dan grafik yang relevan untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Ia juga menggunakan ilustrasi, infografis atau gambar dengan font yang indah untuk menyampaikan pesan secara visual.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://idr.uin-antasari.ac.id/19938/6/BAB%20IV.pdf

https://kumparan.com/tengku-passa/kita-harus-belajar-dari-habib-jafar-20C6FGd9SLs/full

https://plus.kapanlagi.com/sempat-nakal-saat-kecil-cerita-motivasi-habib-jafar-curi-rel-kereta-api-83a031.html?page=7

https://jurnal.umj.ac.id/index.php/JKII/article/viewFile/17675/9048

Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Penulis: Dely Lutfia Ananda, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Ketika mendengar mengenai tokoh moderasi beragama, pikiran kita pasti akan langsung tertuju pada Gus Dur, sosok pejuang toleransi di Indonesia yang menanamkan nilai-nilai keislaman yang moderat dan inklusif. Namun, yang perlu diketahui, banyak sekali tokoh-tokoh moderasi beragama di samping Gus Dur, misalnya saja Lukman Hakim Saifuddin, yang memopulerkan istilah “Moderasi Beragama” sehingga beliau dijuluki sebagai “Bapak Moderasi Umat Beragama.” Mantan Menteri Agama Indonesia yang menjabat di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus Presiden Joko Widodo tersebut menghidupkan kembali nyala toleransi di Indonesia sebagai penerus Gus Dur dalam menyerukan pentingnya keharmonisan dalam keberagaman agama di Indonesia.

Biografi Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin

Lukman Hakim Saifuddin (akrab disapa LHS) lahir di Jakarta pada 25 November 1962 merupakan putra bungsu dari Menteri Agama Indonesia ke-9, Saefuddin Zuhri, dan Nyai Siti Solichah, Ketua PW Muslimat NU Jateng 1950-1955. Riwayat pendidikannya dimulai dari SDN Jakarta dan Madrasah Ibtidaiyah Manaratul Ulum, lalu melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri XI Jakarta kemudian meneruskannya ke Pondok Modern Gontor, Jawa Timur, pada 1983. Lalu, pada 1990, beliau memasuki pendidikan sarjana di Fakultas Dakwah, Universitas Islam As-Syafiiyah, Jakarta.

Dibesarkan di keluarga yang kental dengan budaya Nahdlatul Ulama, membuat Lukman menjadi pribadi yang agamis, berpikiran terbuka, serta berpendirian teguh. Karirnya di organisasi kepengurusan NU dimulai ketika beliau dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU) perangkat teknis PBNU yang bergerak dalam bidang pemberdayaan Masyarakat pada 1985-1988.

Setelahnya, pada tahun 1988-1999, Lukman bergelut di Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU sebagai Wakil Sekretaris, Kepala Bidang Administrasi Umum, Koordinator Program Kajian dan Penelitian, Koordinator Program Pendidikan dan Pelatihan, hingga menjadi Ketua Badan Pengurus.

Sementara itu, beliau memulai karir politiknya di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan kemudian menjadi anggota DPR RI periode 1997-2009. Setelahnya, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua MPR-RI periode 2009-2014 kemudian barulah pada tahun 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin  menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dua kali, yakni di Kabinet Indonesia Bersatu II pada 9 Juni 2014 lalu kembali menjadi menteri di Kabinet Kerja sejak 27 Oktober 2014.

Lukman Hakim Saifuddin dalam perjalanannya menerima anugerah gelar Dr. (H.C.) Bidang Pengkajian Islam Peminatan Moderasi Beragama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beliau juga menerbitkan buku berjudul “Moderasi Beragama” yang di dalamnya menjawab berbagai macam kekeliruan dan kesalahpahaman mengenai moderasi beragama.

Gagasan Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin

Indonesia tidak hanya memiliki etnis, budaya, dan bahasa daerah yang beragam, tetapi juga memiliki agama yang bermacam-macam. Keberagaman yang telah ditakdirkan ada oleh Allah bukan hanya dijadikan simpanan kekayaan semata, melainkan merupakan sarana pemerkuat serta penghubung antara rantai ciri khas yang satu dengan yang lain agar menciptakan keselarasan dalam kebaikan. Dalam kehidupan bersosial, mau tidak mau, aspek kehidupan personal akan turut bergesekan dengan problem publik, seperti misalnya mengenai kepercayaan agama. Seringkali timbul gejolak masalah yang berakar dari ketidakmampuan seseorang dalam mengambil jalan tengah dalam suatu keputusan, sikap intoleran pada khususnya.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin dalam Journal of Social Science Research Volume 3 Nomor 6 Tahun 2003, beliau ingin menyampaikan secara singkat poin dalam moderasi beragama itu adalah dengan bagaimana agar orang yang beragama tidak mengingkari inti pokok dari ajaran agama yang dianutnya. Dalam setiap ajaran agama, terdapat pesan-pesan Tuhan yang dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni inti pokok yang universal dan inti pokok partikular. Inti pokok universal membawa pesan kedamaian yang mutlak yang menjadi kesepakatan bersama. Setiap insan pasti akan mengatakan bahwa melakukan kebaikan, menegakkan keadilan, memanusiakan manusia, serta menjaga kemasalahatan merupakan hal yang benar. Tidak mungkin ada agama yang membenarkan pembunuhan dan yang mengajarkan keburukan.

Sementara itu, inti pokok partikular adalah sesuatu yang lebih spesifik, mengatur hal-hal dan tata cara beribadah suatu agama. Ini bukan sesuatu yang dapat disepakati bersama antar umat beragama, justru dalam satu agama tertentu dapat memiliki pendapat yang berbeda-beda, bahkan seringkali menimbulkan perdebatan mana yang lebih baik dan mana yang tidak. Misalnya saja, penggunaan qunut di sholat subuh. Sebagian aliran tidak mempersoalkan penggunaan qunut, tetapi sebagian yang lain berpendapat bahwa qunut cukup penting untuk digunakan. Hal-hal seperti ini yang sering dipermasalahkan, dibandingkan berpikir bahwa yang lebih penting adalah mereka yang mendirikan sholat subuh, terlepas dari menggunakan qunut atau tidak. Hal seperti inilah yang ingin ditekankan oleh Lukman Hakim Saifuddin, bahwa yang perlu diwaspadai adalah sikap ekstremisme dalam beragama. Moderasi beragama adalah proses yang tidak berakhir, agar cara beragama tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas. Lalu, kapan seseorang dianggap telah bertindak berlebihan? Tolak ukurnya dikembalikan ke inti ajaran agama yang dianut oleh orang tersebut, apakah tindakan itu dapat membawa kemaslahatan umat sekaligus tidak mengingkari nilai-nilai kemanusiaan.

Lukman Hakim Saifuddin juga memfokuskan aspek penting dalam konsep moderasi beragama, yakni perihal sekat antara hal-hal internal dan eksternal dalam beragama. Wilayah internal yang dimaksud berkenaan dengan keimanan, berhubungan langsung dengan Tuhan dan perlu bersikap fanatik agar pondasi keyakinan tidak goyah. Di daerah internal ini, seseorang tidak diperbolehkan untuk mengintervensi kepercayaan seseorang terhadap Tuhannya dan haknya pula untuk berpegang teguh pada pesan-pesan Tuhan yang dia sembah.

Lain halnya dengan hal internal, hal eksternal berhubungan secara langsung dengan sesama makhluk Tuhan dan alam semesta. Lukman Hakim berpendapat bahwa di sinilah tempat dimana kemoderasian beragama dapat bergerak. Sikap toleransi betul-betul dibutuhkan untuk menghindari adanya permasalahan yang muncul akibat perbedaan cara pandang, sikap seseorang dalam beragama. Tidak ada yang perlu ditoleransi dalam agama, akan tetapi dalam hal cara beragamanyalah yang perlu untuk dimoderasikan karena pesan Tuhan sudah benar mutlaknya dan output manusia yang beragam terlalu mustahil untuk dapat dikendalikan menjadi satu. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh ada pada sikap menghormati dan menghargai keragaman yang ada.

Lukman Hakim Saifuddin menyebut bahwa moderasi beragama adalah proses dan ikhtiar yang tak berkesudahan dan tak berakhiran. Ia akan terus dinamis di tengah-tengah masyarakat yang agamis. Moderasi beragama haruslah dihayati dan diimplementasi sebagai gerakan bersama, bukan dimaknai sebatas program maupun proyek semata.

Refleksi Pemikiran Politik Menurut Imam Al Ghazali dalam Konteks Nilai-Nilai Islam dan Relevansinya pada Era Modern

Penulis: Ahya Adi Septiansyah, Editor: Choerul Bariyah

Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad bin Ahmad Al – Ghazali Avh-Thusi Asy-Syafi’i atau lebih di kenal dengan sebutan Al-Ghazali merupakan ulama yang ahli di bidang fiqih, filsafat, teolog, sufi dan ulama islam sunni terkemuka yang lahir di Thus, Khurasan Iran pada tahun 450 H/1058 M.

Sebagai figur yang berpengaruh dalam memberikan kontribusi yang sangat signifikat terhadap politik islam, konsep-konsep pemikiran Imam Al-Ghazali tentang kepemimpinan kenegaraan dan masyarakat yang adil dan makmur masih sangat relevan hingga saat ini.

Istilah politik tidak pernah luput dari algoritma platfrom-platfrom media sosial menjelang musim pemilu, hal ini terlihat setelah di adakannya deklarasi capres-cawapres ataupun caleg. Politik merupakan suatu proses atau kegiatan yang berkaitan dengan pengambilan sebuah keputusan khususnya dalam pemerintahan suatu negara  demokrasi yang sifatnya mengikat terkait dengan kebaikan masyarakat dan akan menjadi perubahan dalam suatu negara selanjutnya.

Imam Al-Ghazali merupakan intelektual muslim yang telah di akui keilmuannya oleh imam-imam lain ataupun ulama pada zamannya, sehingga Imam Al Ghazali di juluki sebagai “Hujjatul islam” argumentator islam. Beliau di kenal sebagai tokoh tasawuf dan filosof sehingga tak heran kalau beliau memiliki banyak gagasan di berbagai bidang termasuk dalam bidang politik.

Pemikiran-pemikiran Imam Al Ghozali memiliki corak bahwa konsepsi etika politik Al Ghazali adalah suatu teori sistem pemerintahan yang berisikan masyarakat dan peraturan negara yang memiliki moral yang baik dengan di topang oleh agama sebagai dasar negara. Hal yang menarik dan patut menjadi referensi politik muslim adalah, Al Ghazali mementingkan ilmu dan adab yang benar dalam berpolitik. Dengan ilmu dan adab yang benar, akan melahirkan pemerintahan yang baik, termasuk unsur unsur yang sangan penting seperti keadilan, transperasi dan integrasi.  konsep politik menut Imam Al Ghazali di tulis didalam kitab karya beliau yaitu “Ihya Ulumuddin”. Dalam kitab tersebut Imam Al Ghazali membangun sebuah argumentasi dari hal hal yang sangat fundamental.  Tujuan politik menurutnya adalah untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera bagi semua masyarakat, baik di kehidupan dunia maupun kelak di akhirat nanti. Hal tersebut dapat di capai dengan menegakkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraaan, dan kesalihan. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Imam AL Ghazali menekankan pentingnya memilih pemimpin yang memiliki kualitas moral dan intelektual yang tinggi. seorang pemimpin harus bijaksana, bertakwa, adil dan memiliki pemahaman yang sangat luas tentang agama dan politik. Serta harus memimpin dengan penuh hikmah, ikhlas, bijaksana dan lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya dibanding kepentingan dirinya sendiri.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya ulumuddin juga membahas politik dengan istilah “siyasah”. Siyasah merupakan aspek utama yang tidak dapat di pisahkan dalam politik sebuah negara. Karena dengan adanya siyasah akan tercipta sebuah sistem ketatanegaraan yang mengatur kehidupan sosial warganya. Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa siyasah mempunyai posisi yang sangat akurat dalam sebuah negara  karena untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baik, diperlukannya “siyasah”.

وَالسِّيَاسَةُوَهِيَ لِلتَّأْلِيْفِ وَاْلِاجْتِمَاعِ وَالتَّعَاوُنِ عَلَى أَسْبَابِ الْمَعِيْشَةِ وَضَبْطِهَا

Artinya: “Politik adalah tentang membentuk, mempertemukan, dan bekerja sama dalam sarana penghidupan dan pengendaliannya”

Dengan “siyasah” yang baik akan menunjang terealisasikannya urusan urusan keagamaan, oleh karna itu Imam Al Ghazali menegaskan

وَالسِّيَاسَةُ فِي اسْتِصْلَاحِ الْخَلْقِ وَإِرْشَادِهِمْ إِلَى الطَّرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ الْمُنْجِي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ

Artinya: “Politik merupakan usaha untuk mencapai kemaslahatan dan mengarahkan masyarakat kepada jalan yang benar. Yaitu selamat di dunia dan akhirat.”

Imam Al Ghazali berpendapat bahwa dunia merupakan “mazratul ahiroh” yaitu ladang menuju ahirat, artinya kehidupan di dunia harus dilandasikan untuk mencari bekal sebanyak banyaknya kelak menuju akhirat nanti, dengan cara melakukan segala kebaikan sesuai dengan perintah agama. Dalam Al Quran surat  Al Baqoroh ayat 148:

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ۝١٤٨

Artinya; “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Menurut Imam Al Ghazali hubungan antara agama, dunia dan politik tidak dapat di pisahkan, agama harus menjadi landasan moral spiritual dan hukum dalam menjalankan pemerintahan, politik juga harus sejalan dengan nilai nilai agama. Sebuah negara juga harus berlandaskan pada agama untuk menetapkan hukum hukum yang ada, hal tersebut sudah ada pada pancasila sila ke satu “ketuhanan yang maha esa”.

Seorang pemimpin dan pejabatnya juga harus membina hubungan baik dengan ulamanya, dalam Ihya ulumuddin jus II di jelaskan “Sesungguhnya kerusakan kerusakan rakyat di sebabkan oleh kerusakan pemimpin, dan kerusakan pemimpinnya disebabkan oleh kerusakan para ulamanya, dan kerusakan ulamanya disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan atau tahta, dan barang siapa di kuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurusi rakyat kecil apalagi penguasanya. Allah lah tempat meminta segala persoalan” (Ihya II hal 381).

Oleh karna itu imam Al Ghazali menegaskan bahwasannya seorang pemimpin tidak boleh di pisahkan dari ulamanya. Karena ulama merupakan penerus para anbiya’ (warosatul anbiya’), seorang ulama harus memberikan kontribusi dengan nasihat dan perintah terutama pada nasihat nasihat aqidah dan adab. Dua hal ini menurut Imam Al Ghazali merupakan faktor utama untuk menjadi hamba yang sejati, dengan istilah lain basicfaith yang ingin di kokohkan kepada para pejabat negara adalah pandangan dasar tentang imam. Karena asal bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas aktifitas ilmiah dan teknologi. Sedangkan adab menjadi penting karena manusia yang beradab (insan adabi) adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab kepada tuhan yang maha esa, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sediri dan orang lain dalam masyarakatnya, yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan manusia.

Imam Al Ghazali memiliki pendapat bahwa seorang pemimpin harus memiliki syarat; di antaranya mampu berbuat adil di antara masyarakatnya (tidak nepotis), melindungi rakyatnya dari kerusakan dan keriminalitas, tidak dzalim, harus memiliki integritas,penguasaan dalam bidang ilmu kenegaraan dan agama, agar dalam menentukan kebijaksanaan ia bisa berijtihad dengan benar, sehat panca indranya (mata, pendengaran, lisan tidak terganggu dalam menjalankan tugas), mempunyai anggota badan yang normal, pemberani, memiliki keahlian siasat perang, dan kemampuan intelektual untuk mengatur kemaslahatan rakyat.

Dalam kitab Al Tibr Al Masbuk fi nasehati Al Mulk, kitab tersebut berisi tentang nasihat-nasihat Imam Al Ghazali kepada sultan Muhammad Ibn Malik, yang pertama Imam Al Ghazali memprioritaskan pada kekuatan aqidah tauhid. Sedangkan isi yang kedua yakni berupa nasihat-nasihat moral, keadilan, keutamaan ilmu dan ulama. Dalam kitab tersebut, Imam Al Ghazali tidak lupa mengingatkan kepada sultan Al Mulk agar tetap loyal pada keimanan yang benar, ia  juga mengingatkan bahwa kekuasaan di dunia adalah titipan dari Allah swt, sedangkan kekuasaan tertinggi di dunia dan akhirat ini hanyalah kekuasaan Al Khalik yaitu Allah.

Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Penulis : Diah Karomah, Editor : Windi Tia Utami

Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan sebutan Gus Dur, beliau lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 september 1940. Nama kecilnya adalah Abdurrahman Addakhil, beliau dikenal sebagai seorang yang humanis. Gus Dur selalu membela masyarakat yang lemah, tertindas, dan minoritas. Ada berbagai macam hal yang memengaruhinya, mengapa Gus Dur mempunyai perspektif keberpihakannya terhadap orang lemah atau sering dikenal mustad’afin. Gus Dur sebagai orang yang sederhana dan pengaruh buku-buku yang dibaca, akan memengaruhi sikapnya dalam membela orang lemah.

Begitu juga dalam pemikiran lainnya, Gus Dur banyak dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus, misalnya situasi, buku yang ia baca, budaya, orang yang ia temui, pendidikan dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman yang dimilikinya akan membentuk konsep diri Gus Dur yang memiliki pemikiran tentang pribumisasi Islam, beliau yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dan univeraslisme Islam. Gus Dur yang memiliki sebuah gagasan pendidikan Islam yang dituangkan dalam sebuah tulisan “Pendidikan Islam Harus Beragama” dan tulisan-tulisan lainnya tentang wacana keislaman, bisa diketahui, bagaimana proses Gus Dur menghasilkan pemikiran yang terbuka dan progresif.

Setiap orang, termasuk juga Gus Dur telah melakukan proses interpretasi terhadap stimulus yang ia terima. Apabila yang dipersepsi diri sendiri maka akan dikenal adanya persepsi diri atau self-perception. Persepsi diri dapat dimaknai sebagai interpretasi seseorang terhadap diri sendiri. Ketika melakukan persepsi, seseorang melakukan proses kognitif. Proses kognitif akan melibatkan banyak aktivitas. Mulai dari penerimaan stimulus, memproses stimulus kedalam system memori, dan menginterpretasi stimulus berdasarkan informasi yang telah disimpannya.

Proses pembentukan persepsi dimulai dari penerimaan rangsangan atau sensasi dari berbagai sumber yang diterima oleh panca indra. Persepsi diri mencakup tiga pembahasan. Pertama, konsep diri (self-concept), kedua, harga diri (self-esteem), dan ketiga,presentasi diri (self-prentation). Pada bagian ini, dijadikan dasar bagi seseorang untuk mengenali orang lain atau pihak lain. Atas dasar, setiap orang mengenali diri sendiri seperti apa gerangan dan pada akhirnya memengaruhinya dalam membawakan diri di lingkungan sekitar.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi Diri Gus Dur  

Gus Dur memiliki pengalaman tentang objekserta peristiwa yang berbeda dengan orang lain. Pengalaman tersebut mampu membentuk persepsi Gus Dur terhadap informasi yang diterima kemudian diinterpretasikan. Ada banyak faktor yang memengaruhi persepsi seseorang. Toha (2003), mengklarifikasikan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi seseorang ada dua. 

Pertama Faktor Internal, Faktor internal merupakan faktor yang diperoleh dari dalam diri seseorang dalam menciptakan dan menemukan sesuatu yang kemudian bermanfaat bagi orang lain. Dalam konteks faktor inteternal pembentukan persepsi Gus Dura ada 4 hal yaitu, usia, minat, proses belajar, dan pekerjaan. 

Pertama, usia merupakan umur individu yang dihitung semenjak ia dilahirkan sampi pada momentum-momentum tertentu, sampai dia meninggal. Semakin cukup umur, kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Semakin tua umur seseorang semakin konstruktif dalam menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Begitu juga dengan Gus Dur, semakin tua umurnya maka semakin matang juga dalam bersikap dan bertindak. Dalam perjalanan hidupnya beliau mempunyai banyak pengetahuan, pengalaman dan persinggungan dengan banyak orang. Dari pengalama termasuk informasi yang diterimanya, akan memengaruhi sikap dan tindakan Gus Dur.

Kedua, minat Gus Dur sejak kecil sudah terlihat, yaitu membaca buku. Beliau mulai tertari terhadap buku-buku ayahnya dan dorongan dari ibu beliau untuk selalu membaca buku. Selain membaca buku, beliau juga memiliki minat terhadap bermain bola dan menonton film kedua minat beliau itu sangat memengaruhi hidupnya, beliau bahkan sampai pernah tidak naik kelas.

Ketiga, proses belajar, proses belajaran Gus Dur dimulai semenjak usia dini. Pada usia lima tahun, beliau sudah lancara membaca Al-Qur’an dengan kakeknya yaitu KH. Hasyim Asy’ari, Beliau juga banyak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Hingga pada tahun 1953, beliau masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowangan, dengan nyantri di pesantren Krapyak. Walaupun sekolah tersebut adalah sekolah yang dikelolah oleh Gereja Katolik Roma, namun sepepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Kemudia beliau melanjutkan belajarannya di pesantren Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Chudhari. Di sana beliau banyak belajar ritus-ritus sufi dan menanamkan praktik mistik. Selain belajar ilmu agama.

Keempat, pekerjaan. perjalanan karir Gus Dur sangat panjang, beliua menjadi guru, aktivis sosial, menjadi ketua PBNU, hingga menjadi presiden. Di sela-sela itu semua pekerjaan yang jarang ditinggalkan Gus Dur adalah menulis. Beliau menulis di berbagai media, buku pengantar, makalah, dan lain sebagainya.

Kedua Faktor Eksternal, Faktor Eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang dalam menciptakan atau menemukan suatu hal. Faktor eksternal sangat erat kaitannya dengan faktor internal. Faktor eksternal terdiri dari dua hal, yaitu informasi dan pengalaman.

Pertama, informasi. informasi yang diperoleh seseorang sangat berharga melalui panca indra. Informasi pertama yang diperoleh Gus Dur adalah khazanah keilmuan pesantren. Informasi kedua yang diperoleh beliau adalah dari buku. Sedari kecil beliau sudah menjadi kutu buku. 

Kedua, pengalaman. Pengalaman merupakan suatu peristiwa yang pernah dialami seseorang. Mialnya pengalama-pengalam Gus Dur ketika beliau ikut ayahnya ke Jakarta, beliau bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, dari situ lah beliau mendapatkan banyak pengalaman.

Pemikiran Gus Dur Terhadap Pendidikan Islam

Pendidikan Islam bagi Gus Dur harus tetap mengajarkan ajaran-ajaran formal Islam sebagai sebuah keharuasan yang diterima. Ajaran formal yang dimaksud oleh Gus Dur adalah ajaran bagaimana cara melaksanakan ibadah seseuai dengan syariat Islam. Bahkan Gus Dur menyatakaan bahwa ajaran Islam harus diutamakan dalam pendidikan Islam. Pemikiran beliau tentang pendidikan Islam tertuang melalui tulisan beliau yang berjudul “Pendidikan Islam Harus Beragam” yaitu,

“…tentu saja ajaran-ajaran formal Islam harus diutamakan, dan kaum muslimin harus dididik mengenai ajaran-ajaran agama mereka. Yang diubah adalah cara penyampaiannya kepada peserta didik, sehingga mereka akan mampi memahami dan mempertahankan “kebenaran”. Bahkan hal ini memiliki validitas sendiri, dapat dilihat pada kesungguhan anak-anak muda muslimin terpelajar untuk menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran yang benar” tentang Islam.”

Gus Dur juga menyatakan dalam tulisan tersebut, bahwa ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah keharusan yang diterima kaum muslim di berbagai penjuru dunia. Memang suadah semestinya, hal yang wajib disampaiakan dalam pendidikan Islam adalah ajaran-ajaran formal. Hingga peserta didik mampu memahami dan mempertahankan kebenaran. Gus Dur mencontohkan bagaimana anak-anak muda muslim terpelajar dalam menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran benar”. Contoh paling mudah bagi Gus Dur adalah menggunakan tutup kepala di sekolah non-agama, atau yang biasa dikenal dengan nama jilbab.

Setiap daerah memiliki budaya pendidikannya masing-masing sehingga pendidikan Islam tidak harus satu corak antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya. Pada prinsipnya, pendidikan Islam mengajarkan ajaran formal Islam. Dalam tulisannya “Pendidikan Islam Harus Beragam” Gus Dur ingin menyadarkan kita bahwa pendidikan Islam bukan hanya yang ada di tembok sekolah formal. Kenyataan yang ada di masyarakat pendidikan Islam sangat beragam. Sebenarnya