Semarak Kemerdekaan Kampung Moderasi Beragama di Linggoasri

Pekalongan – Dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, Desa Linggoasri, menggelar rangkaian acara meriah pada Minggu, 17 Agustus 2025. Kegiatan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat Linggoasri, mulai dari perangkat desa Linggoasri, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, sekolah TK hingga SD, dan segenap masyarakat Linggoasri.

Acara diawali dengan upacara HUT RI di lapangan Peluang Jaya, Linggoasri, pada pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB. Sebagaimana tema Kemerdekaan RI Ke-80, yakni Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju, Bapak Imam Nuryanto selaku Kepala Desa Linggoasri dalam pidatonya menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman sebagai kekuatan yang dapat mempererat persatuan. “Jangan biarkan perbedaan agama, hingga adat istiadat memecah belah kita, tetapi jadikan keberagaman sebagai kekuatan yang mempersatukan kita,” tuturnya.

Setelah upacara kemerdekaan, acara dilanjutkan dengan karnaval kemerdekaan yang diikuti oleh perwakilan masyarakat dari masing-masing dukuh di Linggoasri. Peserta karnaval menunjukan kreativitasnya dengan tema kemerdekaan, seperti salah satunya dari Dukuh Sadang yang menampilkan motor yang dihias seperti gergaji, dan pesertanya yang menggunakan kostum matapencaharian masyarakat.

Dok. HijrAtunaa Karnaval Kemerdekaan RI Ke-80 (Linggoasri, 17/8)

Kemeriahan Karnaval dengan rute dari lapangan Peluang Jaya menuju Balai Desa Linggoasri yang juga sekaligus acara jalan sehat dimana warga mendapatkan kupon undian berhadiah. Acara dilanjutkan dengan perlombaan yel-yel dari 8 kelompok masyarakat. Adapun juara 1 dari perlombaan ini adalah Yosorejo-Cokrah, juara 2 diraih oleh Rejosari RT 2, dan juara 3 diraih oleh Yosorejo-Tandon. Ditengah-tengah berlangsungnya lomba, adapula pembagian kupon undian doorprize

Selain lomba yel-yel, dilanjutkan lomba karaoke yang meriah dan menarik perhatian. Adapun pengumuman lomba karaoke dilaksanakan pada malam resepsi sekaligus acara pentas seni yang menampilkan seni menyanyi, serta tari kreasi dari anak-anak Sekolah Dasar Negeri 01 Linggoasri, kelas 2 hingga kelas 6, dan seni tari dari warga desa Linggoasri. Setelah pertunjukkan pentas seni berlangsung, kemudian dilanjutkan acara pengumuman undian doorprize jalan sehat, dan acara Karawitan dari Ibu-Ibu WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia). Sebagai penutup, pemenang lomba karaoke menghibur masyarakat Desa Linggoasri di malam kemeriahan HUT RI Ke-80. Serangkaian acara malam resepsi ini berlangsung dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

 

Rangkaian acara ini menjadi bentuk perwujudan sikap moderasi beragama yang dapat memperkuat kerukunan dan kebersamaan antarumat beragama, dimana berbagai umat beragama saling bergotong royong membantu memeriahkan acara perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 di Desa Linggoasri.

Sambut Kemerdekaan, Desa Linggoasri Gelar Doa Bersama Antarumat Beragama

Penulis : Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Pekalongan – Daalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-80, Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, mengadakan acara malam renungan dan doa bersama antarumat beragama, Sabtu 16 Agustus 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Balai Desa Linggoasri yang telah menjadi agenda rutinan tahunan setiap malam menjelang perayaan Dirgahayu Republik Indonesia.

Pelaksanaan kegiatan ini dihadiri oleh segenap perangkat desa, tokoh agama serta tokoh masyarakat Desa Linggoasri. Kepala Desa Linggoasri, Imam Nuryanto pada sambutannya menekankan bahwa acara malam renungan dan doa bersama bukan hanya sebuah seremonial semata, namun juga menjadi sarana instropeksi diri dan selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik demi menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.

Dok.Hijratunaa, Doa bersama antarumat beragama (16/8)
Dok.Hijratunaa, Doa bersama antarumat beragama (16/8)

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama yang diawali doa dari agama Hindu dengan dipimpin oleh Pemangku Agama Hindu, bapak Taswono, kemudian dilanjutkan doa dari agama Islam yang dipandu oleh Bapak Kyai Mustajirin Toyib. Lantunan doa-doa yang dipanjatkan agama Hindu dan Islam merupakan bentuk rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menjaga persatuan dan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun ke-80 hingga tahun-tahun berikutnya.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, makan bersama nasi tumpeng yang merupakan simbol dari rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui rangkaian acara ini, warga desa linggoasri berharap semangat persatuan dan kerukunan warga dan antarumat beragama terus terjaga sebagai wujud nyata dalam menyambut kemerdekaan Rebuplik Indonesia.

KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Penulis:Moh. Alwi Ardiansyah ,Editor: Muslimah

Kulon Progo — Rabu, (13/8) KKN Nusantara V yang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, menggelar kegiatan sosialisasi NAPZA di Posyandu Bina Sehat. Mengusung tema “Remaja Berprestasi Tanpa NAPZA, Masyarakat Kuat Bersatu Melawan Penyalahgunaan”, acara ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, sekaligus mengajak seluruh warga menjadi pionir pencegahan di lingkungannya.

Kegiatan ini menghadirkan Moh. Alwi Andiansyah Saputra, mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Alwi menegaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA tidak hanya merusak fisik dan mental individu, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda dan ketahanan sosial masyarakat. Ia juga memaparkan berbagai tanda-tanda penyalahgunaan NAPZA, faktor penyebab, hingga strategi pencegahan yang bisa dilakukan keluarga dan masyarakat.

Baca juga:  Memerangi Narkoba, Menyelamatkan Bangsa: Belajar dari Fredy Pratama

“Remaja harus memiliki orientasi masa depan yang jelas dan kegiatan positif yang membangun. Jika lingkungan dan keluarga hadir sebagai pendukung, maka peluang terjerumus ke NAPZA akan jauh lebih kecil,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri dari remaja, orang tua, dan tokoh masyarakat setempat.

Acara ini dipandu oleh moderator Natasya Herliani, mahasiswa UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang membawakan sesi tanya jawab secara interaktif. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara mengenali tanda awal kecanduan dan langkah konkret yang bisa dilakukan bersama untuk mencegah peredaran NAPZA di tingkat pedukuhan.

Bu Sutiyem, salah satu tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dan bermanfaat, terutama di tengah maraknya kasus penyalahgunaan narkoba yang menyasar generasi muda. “Pencegahan harus dimulai dari pengetahuan. Sosialisasi ini membuka wawasan kami bahwa melawan NAPZA adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, KKN Nusantara V berharap masyarakat Dukuh Jurang Depok tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktif berperan sebagai agen perubahan. Edukasi, kepedulian, dan sinergi antarwarga diharapkan menjadi benteng kuat yang mampu melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

Eksklusif, Kelompok I KKN Nusantara Resmi Rilis Film Pendek “Pulang Sebelum Gelap”

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Kelompok I KKN Nusantara yang bertempat di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo secara resmi merilis film pendek berjudul “Pulang Sebelum Gelap” di halaman rumah Kepala Dukuh Tumijo pada Senin malam, (11/08).

“Pulang Sebelum Gelap” mengangkat tema bahaya narkoba dan judi online dengan durasi 11 menit. Film ini memakan 16 hari proses pengerjaan, yaitu 2 hari untuk pengambilan gambar, dan 14 hari untuk penyuntingan. Semua tahapan pembuatan film pendek ini melibatkan peran aktif mahasiswa Kelompok I KKN Nusantara dan Karang Taruna Kanoman I.

Produser sekaligus penulis naskah film Pulang Sebelum Gelap, Ika Amiliya Nurhidayah mengungkapkan, bahwa ditinjau dari sisi religius, film ini juga menyimpan makna yang cukup dalam, bahwa pintu taubat itu selalu terbuka untuk siapapun yang bersedia untuk kembali pada jalan-Nya.

Baca juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Delapan puluh warga Kanoman I telah menyaksikan penayangan perdana film pendek ini. Mereka mengaku kagum dengan film yang ditampilkan meskipun berdurasi singkat.

Tidak sekadar penayangan film, forum ini juga diisi dengan edukasi bahaya narkoba dan judi online oleh Aiptu Suharyatno selaku Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kepolisian Sektor (Polsek) Kalibawang.

Beliau mengimbau kepada warga agar tidak takut untuk melaporkan penyalahgunaan narkoba kepada pihak yang berwajib, karena sering kali warga merasa takut untuk menjadi saksi.

Baca juga: Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

“Yang sering jadi masalah itu warga takut melapor, takut menjadi saksi, padahal pak, buk, saksi oleh kami itu dilindungi, jadi tidak perlu takut” ujarnya.

Kelompok I berharap, warga Kanoman I dapat mengambil pelajaran yang berharga dari film ini.

Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Memasuki masa penghujung pengabdian KKN Nusantara 2025 di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Nusantara 2025 di Halaman Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro, Kalibawang, Kulonprogo pada Rabu, (06/07).

Bersama 140 perwakilan mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara ini mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Membangun Negeri” dengan menggandeng beberapa narasumber penting di antaranya Kasubtim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kementrian Agama Republik Indonesia Adimin Diens, kreator konten dan dosen Universitas Gadjah Mada I Made Andi Arsana, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesbangpol DIY) Sih Utami, dan perwakilan Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro Yohanes Adventodi.

Baca juga: Gelar Forum 17-an, GUSDURian Pekalongan Angkat Tema Agama dan Lingkungan

Sebelum membahas ekoteologi, Adimin Diens menyoroti keberagaman di Indonesia, bahwa menurutnya keberagaman menjadi potensi sekaligus tantangan bagi bangsa.

“Keberagaman adalah sebuah potensi sekaligus tantangan bagi kita,” ujarnya.

Selain itu, Sih Utami juga menyoroti keberagaman di Yogyakarta, menurutnya, sebagai daerah dengan kondisi masyarakat yang majemuk, Kesbangpol DIY selalu berusaha merawat keberagaman.

“Kami tentunya berusaha selalu merawat keberagaman, beberapa kegiatan kami lakukan seperti sinau Pancasila dan wawasan kebangsaan, kita keliling di seluruh DIY, ada juga sinau Bhinneka Tunggal Ika, dan program pembauran budaya,” jelasnya.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Andi Arsana, ia menekankan bahwa pengetahuan menjadi dasar dari proses penghormatan terhadap keberagaman.

“Interaksi antaragama adalah keniscayaan. Toleransi, menghormati itu dasarnya pengetahuan dulu, pemahaman kita adalah kunci,” ujarnya.

Berbicara mengenai ekoteologi, Yohannes sebagai perwakilan Gereja Boro mengungkapkan, bahwa merawat bumi adalah kewajiban sekaligus tanggung jawab manusia.

“Kewajiban kita sebagai umat untuk senantiasa merawat bumi sebagai tanggung jawab untuk merawat hati kita, tidak sekedar menyembah Tuhan tapi juga merawat bumi. Dalam ajaran kami, ada porsi besar yang diajarkan untuk senantiasa merawat bumi, dan bagaimana menjaga kerukunan antaragama. Apapun agamanya apapun sukunya bisa menjadi teman kami,” jelasnya.

Turut hadir dalam Dialog Nusantara Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho.

Dari Lingkungan Bersih ke UMKM Naik Kelas: KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tunjukkan Program Berdampak Nyata

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Senin 21 Juli 2025, bertempat di Aula Kelurahan Simbang Kulon, telah dilaksanakan kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto. Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB yang dihadiri oleh masyarakat sekitar. Suasana kegiatan berlangsung dengan khidmat dan tenang. Acara diawali dengan sambutan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kemudian dilanjutkan sambutan dari Sekretaris Kelurahan Simbang Kulon.

Program kerja yang disampaikan mencakup empat fokus utama, yaitu Bank Sampah, Penanganan Stunting, Koperasi Merah Putih, dan Pemberdayaan UMKM. Program ini dirancang berdasarkan hasil observasi awal dan diskusi dengan masyarakat setempat, dengan harapan mampu memberikan kontribusi nyata selama masa pengabdian. Pemaparan program kerja ini bertujuan agar perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, serta masyarakat mengetahui secara rinci rencana kegiatan mahasiswa selama masa pengabdian KKN, serta untuk menerima arahan dan saran dari para tamu undangan yang hadir.

“Kami merancang program berdasarkan kondisi nyata yang kami temui di lapangan, dengan harapan kegiatan ini bisa memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ilham Sholihan, salah satu perwakilan mahasiswa.

Baca Juga:Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Setelah penyampaian program kerja selesai, para tamu undangan diberi kesempatan untuk memberikan kritik, saran, tanggapan, serta masukan yang berkaitan dengan berbagai macam program kerja yang telah disampaikan. Berdasarkan hasil diskusi bersama, seluruh program kerja yang telah disampaikan oleh Mahasiswa KKN Kelompok 37 secara umum mendapat respon positif, dan disetujui oleh seluruh tamu undangan yang hadir, serta dapat segera ditindaklanjuti selama masa pelaksanaan KKN di Kelurahan Simbang Kulon.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan berharap mahasiswa bisa berbaur serta menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat Simbang Kulon,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Sebagai penutup, seluruh peserta kegiatan melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kebersamaan antara mahasiswa, perangkat kelurahan, serta tamu undangan yang hadir.

Dokumentasi ini sekaligus menjadi catatan resmi atas terselenggaranya kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tahun 2025. Besar harapan kami agar program-program yang telah disusun dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat Kelurahan Simbang Kulon.

Sosialisasi dan Pendampingan Labelisasi Halal Produk UMKM: Pemantik Kegiatan KKN di Kelurahan Simbang kulon

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran para pelaku UMKM terhadap pentingnya labelisasi halal, Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto bersama DPL, Bapak Muh. Izza, M.S.I., menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Labelisasi Halal Produk UMKM. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli 2025, di Aula Kelurahan Simbang Kulon dan dihadiri oleh sejumlah pelaku UMKM setempat dari berbagai jenis usaha.

Acara dibuka dengan sambutan dari Bapak Muh. Izza, M.S.I., yang menekankan pentingnya legalitas dan sertifikasi halal sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus strategi peningkatan daya saing produk di pasar.

“Dengan sertifikasi halal, pelaku UMKM tidak hanya memenuhi aspek syariah, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar,” ujar beliau.

Baca Juga :Pihak Mitra Teken Kerjasama Sponsporship Program Labelisasi Halal UIN Gusdur Pekalongan

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lurah Simbang Kulon, Bapak R. Agatha Franky Irawan, S.E., yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN dalam mendampingi UMKM lokal agar lebih siap menghadapi tantangan pasar modern yang menuntut transparansi dan kualitas produk.

Sesi inti diisi oleh narasumber dari PPH (Pendamping Proses Produk Halal) yang memberikan pemaparan komprehensif mengenai proses labelisasi halal.

“Halal itu tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus dibuktikan melalui proses yang sistematis dan terdokumentasi,” jelas narasumber.

Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan urgensi label halal, tahapan pengajuan sertifikasi, persyaratan administrasi dan alur pengajuan sertifikasi. Narasumber juga menekankan pentingnya integritas pelaku usaha dalam memastikan bahwa seluruh bahan baku dan proses produksi sesuai dengan standar kehalalan yang ditetapkan.

Baca Juga: Jangan mudah terlena Makanan dan Minuman Enak Cek dulu Kehalalannya

Peserta sosialisasi tampak antusias dan aktif dalam sesi tanya jawab, yang mencakup berbagai permasalahan teknis dan administratif yang akan dihadapi dalam proses produksi dan pengurusan sertifikasi halal. Salah satu peserta, mengungkapkan,“Selama ini saya ragu mengurus halal karena merasa rumit, tapi setelah dijelaskan ternyata bisa kami lakukan asal tahu tahapannya.”

Peringati Hari Anak Nasional, Mahasiswa KKN Nusantara Dukuh Brajan Ajak Siswa MI Ma’arif Belajar Pancasila

Penulis: Nanda Kartika Putri, Editor: Muslimah

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Rabu (23/7), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara di Dukuh Brajan, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, menggelar kegiatan edukatif bertemakan “Belajar Bersama tentang Pancasila” bersama siswa-siswi MI Ma’arif Brajan pada Kamis (24/7).

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa. Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti menyanyi, bermain kuis interaktif, dan menggambar simbol-simbol Pancasila. Suasana kelas berubah menjadi ruang penuh tawa, semangat, dan kebersamaan.

Dalam hal ini, Novella Citra menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap pendidikan karakter anak sejak dini.

“Kami ingin Hari Anak Nasional ini menjadi momen bermakna bagi adik-adik. Melalui kegiatan sederhana ini, kami berusaha menyalurkan sedikit ilmu yang kami miliki agar mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang mencintai bangsa dan negaranya,” ujarnya.

Selain itu, siswa juga diajak berdiskusi ringan mengenai contoh-contoh sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling tolong-menolong, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga kebersihan.

Tak hanya di dalam kelas, mahasiswa KKN juga mengajak siswa bermain permainan edukatif di halaman sekolah. Salah satu permainan favorit anak-anak adalah “Tebak Sila,” di mana peserta harus menebak sila Pancasila berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh teman-temannya. Aktivitas ini tidak hanya melatih daya ingat dan pemahaman, tetapi juga membangun kerja sama dan kepercayaan diri anak-anak.

Kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi mahasiswa KKN Nusantara. Mereka merasakan langsung betapa pentingnya mendekatkan nilai-nilai dasar kebangsaan kepada generasi muda dengan pendekatan yang sesuai usia dan menyenangkan.

“Kami belajar banyak dari semangat anak-anak hari ini. Ternyata, ketika kita hadir dengan niat tulus dan metode yang tepat, nilai-nilai besar seperti Pancasila bisa ditanamkan dengan sangat efektif,” ujar salah satu mahasiswa.

Pihak sekolah mengapresiasi langkah mahasiswa KKN yang telah ikut serta meramaikan Hari Anak Nasional dengan kegiatan yang bermanfaat. Kepala MI Ma’arif Brajan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Melalui momentum Hari Anak Nasional ini, mahasiswa KKN Nusantara Brajan berharap kontribusi mereka bisa menjadi bagian dari upaya membentuk karakter anak-anak yang cinta tanah air dan berjiwa Pancasila. Mereka pun berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan positif lainnya selama masa pengabdian di Dukuh Brajan, demi mendampingi masyarakat dalam tumbuh dan berkembang bersama.

GUSDURian Makassar dan PMII UIM Gelar Diskusi: Menyoal Ironi Keterlibatan Ormas dalam Konsesi Tambang

Penulis: Afrijal*

Editor: Fajri Muarrikh

MAKASSAR | Komunitas GUSDURian Makassar bekerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Makassar (UIM) Cabang Metro Makassar menggelar Roadshow Pojok GUSDURian Kampus pada Senin (28/07/2025). Diskusi kali ini mengangkat tema “Wahabi Lingkungan dan Konsesi Tambang: Ironi di Tubuh Ormas Keagamaan” yang bertujuan membedah keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dalam industri tambang, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat adat.

 

Kegiatan dibuka oleh Megawati, penggerak Komunitas GUSDURian Makassar. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa GUSDURian berfokus pada tiga isu utama: Demokrasi, Ekologi, dan Pendidikan Berkualitas. “Ekologi menjadi salah satu isu yang paling sering kami suarakan. Persoalan mendasar saat ini adalah kerusakan lingkungan, dan Pojok GUSDURian ini menjadi salah satu cara kami untuk terus menyuarakan keprihatinan itu,” jelasnya.

 

Diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan mendalam mengenai sejarah dan kondisi pertambangan di Indonesia, keterlibatan organisasi keagamaan dalam konsesi sumber daya alam, serta kajian etis dan teologis dari perspektif Islam terhadap eksploitasi lingkungan.

 

Salah satu narasumber, Danial, menyatakan bahwa “Tambang pada hakikatnya pasti mengarah pada ketimpangan struktural.” Ia menekankan bahwa kegiatan ekstraktif bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial.

 

Sementara itu, Fahri Fajar dari Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam regional Makassar, menyoroti bahwa strategi kapitalisme menghancurkan ruang hidup masyarakat agar mereka terpaksa menjadi buruh tambang. “Tambang bukan hanya merusak alam, tetapi juga melumpuhkan komunitas lokal yang bergantung pada keberlanjutan ekologis,” tegasnya.

 

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang kampus dan organisasi. Mereka diharapkan mampu membangun kesadaran kritis dan refleksi kolektif sebagai bentuk advokasi moral berbasis agama terhadap isu eksploitasi lingkungan.

 

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Salah satu peserta, Apri mengungkapkan antusiasmenya, “Saya sangat senang bisa mendapatkan wawasan baru tentang isu lingkungan. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut agar mahasiswa terus mengawal isu-isu hangat di tengah masyarakat dan memberi perspektif baru.”

Antusias, Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Kelompok Kanoman I bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalibawang menyelenggarakan Edukasi Pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dan Komersialisasi Produk Pertanian di kediaman Tumijo, Kepala Dusun Kanoman I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo pada Kamis, (24/7).

Baca juga: Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Kegiatan ini merupakan implementasi program kerja Kelompok Kanoman I yang mengacu pada pilar Desa Rumah Alam dan Ekoteologi (Rumaket) dan Pembangunan Ekonomi Umat.

Dinna selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kalibawang, menyampaikan definisi, fungsi, kelebihan, serta proses pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dengan jelas.

Lebih lanjut, Dinna menyampaikan bahwa terdapat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan dari produksi IMO, namun perlu dilakukan uji lab untuk bisa mengomersialisasikan produk tersebut.

“Perlu ada uji lab terlebih dahulu di Kabupaten Bantul, di laboratorium pengamat penyakit, baru bisa didistribusikan,” jelasnya.

Bukan hanya penyampaian teori, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan IMO 1 dan IMO 2 yang dilakukan di bawah pohon bambu, di mana terdapat tanah yang masih alami karena belum terkontaminasi bahan kimia apa pun. Dipimpin oleh Suwarto selaku PPL di wilayah Kelurahan Banjararum, warga menyimak dengan seksama.

Di akhir kegiatan, Kelompok I membagikan 2 bibit cabai dan 2 bibit tomat, polybag, serta 1 botol IMO 2 kepada tiap warga untuk segera dipraktikkan di rumah. Warga terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi acara.