Kerukunan dalam Perbedaan: Kearifan Desa Linggoasri dalam Praktik Moderasi Beragama

Penulis: Maftukhatur Rizqoh, Editor: Lulu Salsabilah

Linggoasri merupakan desa yang terletak di selatan pusat pemerintahan di Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Menurut salah satu sesepuh desa tersebut, nama Linggo Asri berasal dari nama batu lingga yaitu simbol dewa Syiwa, berbentuk bulat panjang yang menggambarkan bahwa Desa Linggoasri telah berumur tua dan penuh dengan peninggalan sejarah. Penduduk Desa Linggoasri terdiri dari beberapa penganut agama, diantaranya yaitu islam dan hindu. Mereka hidup dalam harmoni perbedaan namun sangat jauh dari pertikaian bahkan selalu bahu-mambahu dalam setiap acara peribadatan walau berbeda keyakinan. Desa Linggoasri merupakan salah satu dari beberapa desa yang mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang sebuah kerukunan melainkan sebuah kekuatan. Budaya yang Sebagaimana telah lama diterapkan oleh masyarakat desa Linggoasri merupakan salah satu hal yang saat ini sedang gencar disebarluaskan, yakni moderasi beragama.

Pada hari selasa, 14 November 2023 mahasiswa dan dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid  Pekalongan melakukan mini riset dengan ditemani beberapa masyarakat dan pemuka agama Desa Linggoasri di sebuah tempat bernama CaffeLA. Dalam acara tersebut, pemuka agama hindu, Pak Taswono, menjelaskan bahwa ribuan keanekaragaman dan perbedaan di Indonesia merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan sekaligus juga hal yang rawan menimbulkan konflik jika tidak ada upaya untuk menjaga kerukunan dan persatuan antar umat beragama. Oleh karenanya dibutuhkan keikutsertaan seluruh masyarakat untuk menjaga kedamaian di Indonesia. Salah satu bentuk keikutsertaan masyarakat Desa Linggoasri dalam menjaga kedamaian yaitu mereka mengamalkan ajaran moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Moderasi beragama atau dalam agama islam disebut wasathiyah merupakan sikap, cara pandang, dan praktek beragama dalam kehidupan beragama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum dan berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa. Masyarakat Desa Linggoasri mengaku belum tahu teori tentang moderasi beragama tersebut. Namun, lebih dari sebuah pengetahuan tentang teori, mereka bahkan sudah menerapkan ajaran moderasi beragama sejak dahulu kala. Setiap ada acara keagamaan atau acara hajatan pribadi, setiap masyarakat senantiasa dengan sukarela saling membantu walaupun berbeda agama. Bahkan dikatakan terdapat keluarga yangmana anggotanya menganut agama yang tidak sama.

Pak Taswono menjelaskan dalam agama hindu ada kaidah ‘catur parama arta’ yaitu : 1.Darma, 2.Jenana (pengetahuan) dan Wijenana (kebijaksanaan), 3.Ahimsa Parama Darma(tidak melakukan kekerasan), 4.Bakti Rukyata (ikhlas tulus karena Tuhan). Selanjutnya ada catur paramita  atau digambarkan sebagai tiang suatu rumah, yaitu : 1.Maitri (kasih sayang universal), 2.Karuna (toleransi), 3.Upeksa, 4.Udita (simpatik). Sedangkan atap suatu rumah yaitu : 1.Satwam, 2.Siwam, 3.Suwasti. Sedangkan isi rumah yaitu : 1. Darma (kebijaksanaan), 2. Arta (kebutuhan hidup), 3. Keinginan, 4. Muksam (ketika mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin). Hal tersebut merupakan ajaran dalam agama hindu yang bertujuan untuk megajak kepada persaudaraan dan kebahagiaan lahir batin atau dunia akhirat. Beberapa sikap yang harus diterapkan yaitu terbuka (mau dan berani menerima pendapat orang lain), bersedia menghargai perbedaan dan menerima kekurangan orang lain, rendah hati, dan pemaaf.

Sedang menurut Pak Mustajirin selaku tokoh agama islam, beliau berpesan agar bisa menanamkan sikap wasathiyah atau kemoderatan, ibarat seperti wasit yang harus berimbang, tidak berat kiri maupun kanan, dan tidak juga seperti wasit yang hanya mencari kesalahan. Menurut beliau prinsip moderasi yaitu : 1.I’tidal (tegak lurus), 2.Tawazun (keseimbangan), dan 3.Tasamuh (toleran). Karena persaudaraan meliputi sesama agama, sesama manusia, dan sesama bangsa.

Masyarakat Desa Linggoasri mengajarkan bahwa hidup dalam perbedaan merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri. Mereka telah membuktikan betapa indahnya mengamalkan makna dan nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui saling tolong-menolong, menghormati perbedaan keyakinan, dan menjaga keharmonisan, itulah kunci terbukanya perdamaian antar umat beragama. Semoga tidak hanya masyarakat Desa Linggoasri yang mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama, namun seluruh masyarakat Indonesia bahkan seluruh manusia.

Meraih Keberkahan Ramadhan Warga Desa Rowolaku: Tradisi dan Kebiasaan Menyucikan Jiwa

Penulis: Amma Chorida, Editor: Amarul Hakim

Bagi umat muslim Ramadhan merupakan bulan penuh kemuliaan. Sehingga kedatangan bulan Ramadhan ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Seperti halnya bergotong-royong membersihkan masjid, ada juga sebagian daerah yang mengadakan tradisi nyekar (mendoakan sanak keluarga dimakam), mengenggan (ziarah ke makam wali), dan ada juga yang menyusun agenda kegiatan di bulan Ramadahan. Ketika sudah ditetapkan awal Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan hati umat muslim bersuka cita.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyampaikan doa Rasulullah menyambut bulan Ramadhan. Rasulullah meminta kepada Allah keberkahan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Menghidupkan malam Ramadhan bagian dari ibadah menyucikan diri. Secara bahasa Ramadhan mempunyai arti panas yang membakar. Jika ditelisik makna tersebut rupanya memberi kiasan membakar dosa-dosa umat muslim. Dikutip dari kajian dari KH Ahmad Misbah, sebagaimana yang terkandung dalam hadis “ Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari Muslim).

Begitu istimewanya, moment-moment tertentu saja yang hanya ada di bulan Ramadhan. Istilah BukBer (buka bersama) selalu melekat dibenak masyarakat. Adanya bukber dari sanak keluarga, saudara, teman hingga tetangga pun mampu menjadi pelekat rasa kebersamaan. Belum lagi sebagian masyarakat yang enggan ke masjid, sholat tarawih menjadi keharusan untuk sholat berjama’ah. Selain itu, ada tong-tonglek yaitu membangunkan orang sahur dengan menabuh ketongan oleh anak-anak. Masih banyak moment-moment yang menjadi tradisi di bulan Ramadhan. Fenomena ini mengajarkan ukhuwwah, mendidik diri sendiri supaya saling mencintai dan peduli.

Keteladan Rasulullah mengugah seluruh umat menjalani Ramadhan dengan ibadah spesial. Termasuk warga Desa Rowolaku mempunyai ciri khas kemaslahatan berbalut nilai agama. Desa Rowolaku berada di Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Semenjak berdirinya UIN K.H Abdurrahman Wahid mengubah peradaban desa Rowolaku. Tersebarnya pondok pesantren yang bermitra dengan pihak UIN memberi label desa Rowolaku sebagai kawasan mahasantri. Pondok pesantren Bustanul Masuriyah menjadi induk pesantren di desa Rowolaku. Dari hal tersebut juga mempengaruhi lingkungan warga, apalagi moment bulan Ramadhan.

Menggemakan Lantunan Al Qur’an

Dalam bulan Ramadhan tadarus dimaknai sebagai ritual membaca dan menyimak al-Qur’an. Umumnya tadaraus tidak harus dilakukan di masjid, karena Ramadhan ternyata menuai kesadaran masyarakat untuk menghidupi masjid. Masjid di desa Rowolaku sebagai tempat utama menggemakan tadarus al-Qur’an dan pengajian rutinan. Warga Desa Rowolaku dari berbagai kalangan menganggap masjid tempat untuk menggalih ilmu agama. Adapaun waktu utama melakukan tadarus menurut An-Nawawi dalam kitab al-Adzkar yaitu malam hari. Disunnahkan membaca Al-Qur’an setelah shalat subuh dan antara waktu maghrib menuju isya. Namun, pada prinsipnya kapan saja diperbolehkan untuk melakukan tadarus. Seperti halnya di kawasan mahasantri desa Rowolaku, hampir setiap waktu santri-santri di pondok pesantren melantunkan Al-Qur’an. Pondok Itihadus Syafi’iyah Rowolaku memulai tadarus setelah waktu sahur menunggu waktu subuh. Kemudian pada malam harinya setelah sholat tarawih baik mushola Assalam, mushola Al-Qodir, mushola Nurul Dholam, masjid Usuludin, dan masjid jami’ Nurul Amal tadarus diisi oleh remaja. Umumnya mereka yang tergabung dalam organisasi IPNU-IPPNU Desa Rowolaku.

Lantunan Al-Qur’an menggema desa Rowolaku mulai menjelang subuh sampai pukul 24.00 WIB. Hal inilah menandakan amaliyah tadarus menjadi sebuah kebiasaan dalam bulan Ramadhan. Sehingga dalam satu bulan hampir semua mushola dan masjid bisa khatam 3-4 kali menyesuaikan jumlah warga yang mengikuti tadarus. Penelitian dr Ahmed Al-Qadhi memberi informasi bahwa lantunan Al-Qur’an menimbulkan frekuensi energi positif. Bagi yang menyimak maupun sekedar mendengarkan saja ternyata latunan tadarus berperan menurunkan rasa kesedihan, memenangkan jiwa, memunculkan kebahagiaan dan menangkal berbagai macam penyakit. Dikutip dari artikel Universitas Islam Indonesia, dr Ahmed Al-Qadhi merupakan Direktur Utama Islamic Medicine Institute for Education and Research. Hasil penelitian menunjukan bahwa 65% lantunan Al-Qur’an berpengaruh merelaksasi ketegangan saraf manusia. Terlepas itu, kemaslahatan warga Desa Rowolaku tergambar memberi makanan riangan beserta minuman yang disebut dengan zaburan untuk para tadarus.

 

Mengalab Barokah Ngaji pasanan

Ramadhan sering dianggap sebagai ladang pahala bagi yang gemar mencari keberkahan Ilahi. Dengan dibekali keimanan dan niat kuat karena Allah ta’ala maka segala bentuk perbuatan akan bernilai ibadah. Tidak terkecuali meskipun sekedar duduk mendengarkan pengajian keagamaan atau ngaji pasanan (pasaran). Masyarakat jawa mengucapkan kata puasa dengan sebutan pasa, lalu pengajian selama bulan puasa Ramadhan dikenal dengan istilah pasanan. Tradisi ngaji pasanan yaitu ngaji kitab kuning bersama kiai atau ustadz melalui metode ceramah. Kitab kuning yang disampaikan merupakan karya ulama-ulama terdahulu terutama kalangan Nahdlatul Ulama. Selain itu, lamanya ngaji pasanan tidak lama sekitar 60-90 menit. Inilah sebagai jembatan warga Rowolaku untuk mendalami ilmu agama baik praktik maupun makna kitab

Pelaksanaan kegiatan ngaji pasanan di desa Rowolaku cukup sederhana yakni di pelataran masjid, pondok pesantren, dan tempat majelis. Pondok pesantren Jombang dan Lirboyo sudah lama mengadakan ngaji pasanan, konsistensai pengadaan dari kedua pondok tersebut membuat semua pondok salaf mengikuti untuk menyelengarakan ngaji pasanan setiap Ramadhan. Sebagaimana  “jadikanlah ilmu sebagai pegangan mengahadapi semua permasalahan. Karena surah al-alaq dan al-qolam bentuk pentih Allah supaya umat muslim membaca dan menulis yang mempunyai makna carilah ilmu” pesan ustadz Arif Chasanul Muna pengasuh ponpes Griya Santri Mahabah ketika pengajian Nuzulul Qur’an.

Semua kalangan baik anak-anak, remaja dan orang dewasa yang bukan santri mukim pondok pesantren bisa mengikuti ngaji pasanan. Pondok pesantren di desa Rowolaku mempersilahkan warga untuk menjadi santri kalong selama ngaji pasanan bulan Ramadhan. Keharmonisan memperoleh ridho Allah, menjadikan hampir seluruh santri kalong desa Rowolaku bisa menulis Arab pegon dan memaknai isi kitab. Selama bulan Ramadhan pondok pesantren membuka tiga waktu ngaji pasanan yakni setelah sholat subuh, sholat ashar dan setelah beberapa jam setelah sholat tarawih.

Selain pondok pesantren, tidak ketinggalan semua mushola dan masjid di desa Rowolaku membuka ngaji pasanan setelah selesai shalat subuh. Berhubung jama’ah ngaji pasanan mayoritas orang tua, para kiai menggunakan bahasa jawa. Perbedaan ngajai pasanan untuk orang tua ini cenderung seperti kultum. Akan tetapi, tetap saja mengunakan landasan kitab yang dimaknai per kata yang diterjemahkan dalam bahasa jawa. Dalam penyampaiannya diawal maupun diakhir ngaji pasanan, kiai juga menuntut para jama’ah untuk bersholawat supaya tidak mengatuk. Pada lingkup yang lebih kecil seperti oraganisasi khusus ibu-ibu fatayat juga mengadakan ngaji pasanan, hanya saja tempatnya bergilir dari rumah ke rumah setiap hari Jum’at pagi hari. Sebelum pengajian diisi sholawat burdah dilanjut  ceramah kitab Syafinatun Najah.

Dari sini keberkahan Ramadhan selalu tercurah bagi siapa saja yang sengan dengan ikhlas mengumpulkan amaliyah. Perkembangan zaman akan terus mengeser tradisi Ramadhan, bisa saja pemicu faktornya banyak mahasiswa dan pendatang di desa Rowolaku. Sehingga konsep ngaji pasanan yang sekarang, para kiai ataupun ustadz menyelingi dengan bahasa Indonesia dan mempadukan permasalahan masa kini. Kemudian adanya tadarus memberi nuansa kenikmatan bulan Ramadhan. Karena sepanjang jalan lantunan Al-Qur’an memberi ketenangan jiwa.  Pembagian takjil gratis dan bersedekah terhadap sesama juga bisa menjadi alternatif berburu keberkahan di bulan Ramadhan. Tetapi menjadi sangat penting ilmu yang melandasi amal ibadah tersebut.

Dialog Interaktif Membentuk Kesepakatan Toleransi Agama dan Kepercayaan: Menuju Kampung Moderasi Beragama di Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman & Karimatul Afiah, Editor: Ibnu Salim.

Pada hari Rabu, tanggal 3 April 2024, sebuah langkah penting dalam memperkuat toleransi agama dan kepercayaan di balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, terwujud melalui sebuah kegiatan dialog interaktif yang diprakarsai oleh Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Gusdur Pekalongan.

Kegiatan ini menjadi panggung harmoni yang melibatkan mahasiswa KKN, pemerintah desa, serta perwakilan tokoh agama dan kepercayaan dari berbagai keyakinan, dengan tujuan mencapai kesepakatan dalam membangun kedamaian dan toleransi di tengah masyarakat.

Partisipasi yang luas dari berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam mencapai hasil yang diharapkan. Mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan hadir dengan semangat untuk berkontribusi dalam membangun kedamaian dan toleransi di tengah masyarakat. Mereka membawa energi segar dan gagasan kreatif untuk menjalin hubungan harmonis antarumat beragama dan kepercayaan di Desa Kutorojo.

Dialog ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi juga merupakan bagian dari persyaratan pengajuan status Kampung Moderasi Beragama Desa Kutorojo kepada Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan. Dialog ini menjadi sarana utama untuk memperoleh dukungan dan kesepakatan bersama dalam mewujudkan visi kampung yang inklusif dan moderat dalam hal keagamaan dan kepercayaan.

Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari sinergi antara mahasiswa KKN, pemerintah desa, dan perwakilan tokoh agama serta kepercayaan. Melalui diskusi yang terbuka dan konstruktif, berbagai perbedaan dan perspektif diperhitungkan untuk mencapai kesepakatan yang adil dan inklusif.

Apresiasi yang tinggi diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. Dukungan dan kolaborasi dari mahasiswa KKN, pemerintah desa, serta tokoh agama dan kepercayaan menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun toleransi dan keberagaman di Desa Kutorojo.

Dengan berakhirnya kegiatan dialog interaktif ini, harapan baru pun muncul untuk Desa Kutorojo. Langkah-langkah konkret dalam memperkuat toleransi dan keberagaman akan terus dilakukan, demi terwujudnya visi sebagai Kampung Moderasi Beragama yang menjadi contoh bagi desa-desa lainnya.

Semangat untuk terus berkolaborasi dan berkomitmen dalam membangun kedamaian serta harmoni antarumat beragama dan kepercayaan harus terus dijaga dan diperkuat, sehingga Desa Kutorojo dapat menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Dalam dialog interaktif ini, terjadi pertukaran gagasan dan pengalaman antara mahasiswa KKN dengan masyarakat Desa Kutorojo. Mahasiswa KKN membawa pengetahuan akademis dan semangat pemuda, sementara masyarakat setempat memberikan wawasan dan kearifan lokal yang sangat berharga.

Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, Riayana, Eva Novitasari. Editor: M. Khairul Anam

Kegiatan monitoring keagamaan dan pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa Kutorojo bersama KKN UIN GusDur Pekalongan telah berlangsung sejak tanggal 28 Maret hingga 3 April 2024. Kegiatan ini menjadi sorotan utama masyarakat Desa Kutorojo karena melibatkan pemerintah desa dan institusi pendidikan tinggi. Pelaksanaan kegiatan ini tersebar di beberapa tempat ibadah, seperti Pura Satya Bakhti Yoga, Masjid Baiturrahman, Musholla Baitul Mu’minin, dan tempat ibadah lainnya di Desa Kutorojo. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman agama dan pendidikan anak usia dini di lingkungan desa.

Rangkaian kegiatan meliputi sholat berjamaah, pembukaan acara dengan sambutan dari berbagai pihak, pemberian uang intensif kepada pendidik keagamaan, serta pemberian kenang-kenangan berupa karpet untuk tempat ibadah. Kegiatan ini bukan hanya untuk mempererat hubungan antarwarga desa, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah desa terhadap pendidikan keagamaan dan pendidikan anak usia dini.

Nilai toleransi antarumat beragama sangat dijunjung tinggi dalam kegiatan ini. Bapak Turijo selaku Kasi Kesra dan Pelayanan dengan tegas menyampaikan pentingnya menjaga toleransi di tengah keberagaman agama dan kepercayaan yang ada di Desa Kutorojo. Contohnya, saat umat Hindu merayakan Nyepi, umat Muslim diharapkan menghormati dan tidak mengganggu kegiatan tersebut. Semoga dengan pemahaman ini, akan tercipta lingkungan yang harmonis dan penuh dengan saling menghormati di Desa Kutorojo.

Kegiatan monitoring keagamaan dan pendidikan anak usia dini ini merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan anak usia dini di desa mereka. Masyarakat Desa Kutorojo memberikan respon positif terhadap program ini, menunjukkan dukungan mereka terhadap upaya pemerintah desa dalam memajukan pendidikan.

Diharapkan kegiatan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga mampu memberikan dampak yang nyata dalam peningkatan pemahaman agama dan pendidikan anak usia dini di Desa Kutorojo. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, institusi pendidikan tinggi, dan masyarakat, diharapkan akan terciptanya generasi yang cerdas dan berakhlak mulia, sehingga siap menghadapi tantangan di masa depan.

Sinergi dan Komitmen Bersama: Rakornas Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju dan Harmoni

Pewarta: Nanang, Editor: Kharisma Shafrani

 

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia (Balitbang Kemenag RI) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Moderasi Beragama pada tanggal 6-8 Maret 2024 yang bertempat di Hotel Mercure Jakarta. Rakornas kali ini mengusung tema “Sinergi Memperkuat Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju dan Harmoni.” Rakornas ini dihadiri oleh peserta yang cukup beragam. Ada perwakilan kampus, baik di bawah naungan Kemenag maupun Kemendikbud Ristek, perwakilan Kanwil, perwakilan Kesbangpol, perwakilan tokoh lintas agama, bahkan perwakilan lintas kementerian.

Pemilihan waktu pelaksanaan rakornas ini cukup tepat, di tengah hiruk pikuk Pemilu 2024, juga pasca munculnya Perpres No. 58 Tahun 2023 tentang penguatan moderasi beragama. Berbagai konflik berkepanjangan antar anak bangsa, yang menghancurkan negara, karena perbedaan agama, bahkan karena perbedaan pandangan dalam internal agama, yang terjadi di banyak negara lain merupakan persoalan serius yang harus segera ditindaklanjuti. Maka dari itu moderasi beragama hadir sebagai salah satu upaya untuk meneguhkan persatuan.

Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disama Gus Men menyampaikan sambutannya bahwa komitmen harus terus kuat untuk menggelorakan isu-isu moderasi beragama bagi keharmonisan Bangsa. Rakornas menjadi ajang strategis untuk menggandeng semua pihak dalam menyukseskan program moderasi beragama.

Alisa Wahid, putri mantan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, juga turut menghadiri rakornas ini. Dirinya menuturkan bahwa moderasi beragama tidak cukup hanya dengan sosialisasi, namun perlu komunikasi intensif, kerja sama dan kerja nyata yang melibatkan pihak lintas agama, untuk menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari. Alisa juga mengusulkan, agar setiap kementerian baik pusat hingga daerah agar memiliki kader moderasi beragama untuk mempermudah sinergitas pada tataran teknik pelaksanaan dalam rangka memperkuat moderasi beragama.

Seluruh peserta rakornas, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, baik budaya, agama, profesi, bahkan politik pilihan, semuanya larut dalam semangat moderasi beragama. Moderasi beragama seolah-olah menjadi “karomah” sebagai gerakan yang secara fitrah menyatukan, meneduhkan, merajut harmoni atas berbagai perbedaan untuk mewujudkan cita-cita keumatan dan kebangsaan.

Tradisi Malam Likuran: Esensi Keharmonisan dan Syukur dalam Kebudayaan Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, M. Syukron Ni’am, M. Fathul Huda dan Rudi Riyanto. Editor: Lulu Salsabilah.

Di tengah kesibukan bulan Ramadhan yang penuh kegiatan. Di Desa Kutorojo, tradisi yang dijalankan bukan hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kesatuan masyarakat. Tiap malam 21 Ramadhan, sebuah tradisi bernama Malam Likuran merayapi setiap sudut perdukuhan, menumbuhkan semangat gotong-royong dan persatuan yang telah mengakar dalam budaya lokal. Tradisi ini, meliputi Dusun Kutorojo, Purwodadi, Gunung Telu, dan Silawan, memiliki makna mendalam yang meleburkan spiritualitas dengan kebersamaan sosial.

Tradisi Likuran merupakan ekspresi kekaguman dan rasa syukur kepada Allah SWT menjelang malam Lailatul Qadar, yang disebut sebagai malam lebih baik dari 1.000 bulan. Dengan diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, seperti kepala Dusun, ketua RW, ketua RT, dan masyarakat masing-masing dukuh, tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan ibadah semata, tetapi juga melibatkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas. Ancak, dibuat oleh setiap rumah dengan nasi dan lauk pauk yang dikemas dalam tempat anyaman bambu dan pelapah pisang, menjadi simbol kesediaan untuk berbagi rezeki dengan sesama.

Rangkaian kegiatan yang mengiringi Tradisi Likuran menjadi momentum bagi masyarakat untuk saling menguatkan dan mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dalam menjalani kehidupan. Suasana pembukaan yang hangat, sambutan yang membangkitkan semangat dari kepala dusun, doa bersama yang mengalirkan harapan, dan penutup yang penuh dengan rasa syukur, semuanya menjadi bukti akan kekuatan komunitas yang memperkuat ikatan batin setiap individu.

Antusiasme masyarakat dalam mengikuti Tradisi Likuran mencerminkan kekuatan spiritual dan sosial yang mengalir dalam setiap darah mereka. Ustadz Syekh, seorang tokoh agama di Desa Kutorojo, dengan keyakinan penuh menyatakan bahwa Tradisi Likuran bukan hanya sebuah kegiatan rutin, tetapi merupakan implementasi nyata dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Malam Lailatul Qadar, dengan segala keutamaannya, tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Dalam cahaya petunjuk agama, Tradisi Likuran tidak hanya menjadi ritual yang hampa makna, tetapi simbol kebesaran nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong yang menjadi landasan kuat sebuah masyarakat yang maju. Dalam setiap hidangan yang disajikan, bukan hanya nasi dan lauk pauk yang tersaji, tetapi juga nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan rasa syukur yang mengalir dalam setiap irama kehidupan.

Desa Kutorojo, melalui setiap warisan tradisinya, tidak hanya menumbuhkan rasa bangga akan warisan budaya. Tetapi juga memperkokoh ikatan kebersamaan yang menjadi dasar utama dalam menjalani kehidupan bersama. Di tengah gejolak modernitas, Tradisi Likuran tetap menjadi cerminan dari kekuatan spiritual dan sosial yang masih relevan dan berharga dalam menjaga kesatuan dan keharmonisan masyarakat Desa Kutorojo.

Menyelami Kebudayaan Desa Kutorojo Melalui Program Kerja Study Tour Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Esa Fitrotul Maulidiyyah dan Akhmad Dalil Rohman, Editor: M. Nurul Fajri

 

Desa Kutorojo, yang terletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, memiliki sebuah kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh desa ini adalah kerajinan anyaman bambu yang dikenal sebagai reyeng. Reyeng bukan hanya sekadar kerajinan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kutorojo. Dengan hampir 98% rumah tangga di desa ini menghasilkan kerajinan reyeng, dapat dikatakan bahwa pembuatan reyeng telah menjadi mata pencaharian utama bagi penduduknya.

Dalam upaya untuk menggali lebih dalam tentang proses pembuatan kerajinan reyeng serta memperkenalkannya kepada masyarakat luas, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Gusdur Pekalongan menginisiasi sebuah program kerja yang bertujuan untuk menelisik lebih jauh tentang pembuatan reyeng khas Desa Kutorojo.

Program ini tidak hanya melibatkan mahasiswa KKN, tetapi juga bekerja sama dengan pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kutorojo. Dengan kolaborasi ini, diharapkan program dapat berjalan dengan lebih efektif dan berkelanjutan. Pada tanggal 16 Maret 2024, program kerja ini dilaksanakan di rumah salah satu pengrajin reyeng terbaik di desa, Ibu Surati.

Ibu Surati bukanlah sosok yang asing dalam dunia kerajinan reyeng. Sejak tahun 90-an, beliau telah mengabdikan dirinya dalam menghasilkan kerajinan anyaman bambu ini. Dengan pengalamannya yang luas, Ibu Surati menjadi mentor bagi para mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan dalam mempelajari proses pembuatan reyeng secara langsung. Para mahasiswa tidak hanya diajari teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan reyeng dengan bimbingan langsung dari Ibu Surati.

Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulajat, turut memberikan apresiasi terhadap program kerja ini. Baginya, inisiatif ini tidak hanya membantu mengenalkan keunikan budaya desa kepada masyarakat luas, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Reyeng khas Desa Kutorojo telah menjadi produk unggulan yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga diekspor hingga ke luar Jawa Tengah.

Melalui program kerja ini, para mahasiswa KKN tidak hanya belajar tentang proses pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga memahami pentingnya melestarikan budaya lokal serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi masyarakat desa. Dengan demikian, program kerja ini bukan hanya sekadar kegiatan belajar-mengajar biasa, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari upaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh sebuah masyarakat.

Selain itu, program ini juga memberikan dampak positif dalam hal pengembangan keterampilan dan pengetahuan bagi mahasiswa KKN. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga belajar tentang kerjasama tim, komunikasi lintas budaya, dan pentingnya memahami konteks sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Ini semua merupakan pembelajaran yang sangat berharga di luar ruang kelas.

Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat desa Kutorojo, tetapi juga bagi para mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Sebagai bagian dari upaya untuk mempererat hubungan antara universitas dan masyarakat, program ini menjadi contoh nyata dari kolaborasi yang berdampak positif bagi semua pihak yang terlibat. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan akan semakin banyak inisiatif lain yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Mengukir Harapan Bersama: Kisah Sukses Program Kerja Kuliah Senja KKN UIN GusDur dengan Santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo

Pewarta: Inul, Susi, & Rudi Riyanto,  Editor: Tegar Dwi Pangestu

Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen yang berarti bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dengan masyarakat. Pada tahun ini, Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan yang bertugas di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan meluncurkan inisiatif program kerja yang menggembirakan dengan melibatkan para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, program kerja ini dikenal dengan nama “Kuliah Senja”. Karena bukan hanya tentang memberikan pengalaman berharga, dan juga belajar menanamkan harapan dan membangun komunitas yang lebih kuat.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada Jumat, 22 Maret sampai Minggu, 24 Maret 2024. Pada hari pertama, suasana penuh semangat terasa di udara ketika mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan dengan antusias menyampaikan materi kepada para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo. Dalam suasana yang hangat itu, cerita-cerita yang dibagikan tidak hanya menjadi pembelajaran, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam hati para santri.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman masing-masing kelompok. Bagi santri Sekolah Dasar, pembahasan tentang kalimat tayyibah disampaikan dengan cara yang menarik dan interaktif, sementara para santri SMP mendengarkan kisah menarik mengenai Ashabul Kahfi secara khusyuk. Hal ini tidak hanya membangun pemahaman, juga menginspirasi para santri untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hari berikutnya, kebersamaan terasa semakin erat. Permainan dan ice breaking berhasil mempererat ikatan antara mahasiswa dan santri. Mereka tertawa, bermain, dan belajar bersama dengan semangat yang tinggi. Review materi memberikan kesempatan bagi para santri untuk mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari, sedangkan quiz berhadiah menjadi momen yang sangat dinantikan oleh semua.

aktifnya partisipasi dari para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo menjadi pemandangan yang menggembirakan bagi semua yang telah hadir. Selain itu, terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk menyerap ilmu serta berinteraksi dengan mahasiswa KKN. Ustadz Syekh, salah satu guru dari MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, turut menyampaikan kegembiraannya atas keberhasilan acara ini. Baginya, kehadiran mahasiswa KKN bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat dan motivasi bagi masa depan para santri.

Lebih, dari sekadar pertukaran pengetahuan. Kegiatan ini membuka pintu untuk membangun hubungan yang lebih dalam antara mahasiswa KKN UIN GusDur dengan masyarakat Desa Kutorojo. Di setiap tawa, pelajaran, dan momen kebersamaan, terciptalah ikatan yang kuat dan bermakna. Harapan dan impian untuk masa depan yang lebih baik ditanamkan dalam masing-masing langkah, menjadi bekal bagi kedua belah pihak untuk terus maju bersama.

Melalui program kerja kuliah senja ini, bukan hanya ilmu yang disebarkan, tetapi juga cahaya harapan yang menerangi setiap sudut hati. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, program ini membuktikan bahwa melalui kolaborasi dan komitmen, kita dapat menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat. Kegiatan ini telah mengukir cerita sukses yang akan dikenang oleh semua yang terlibat, dan menjadi landasan untuk upaya-upaya lebih lanjut dalam memperkuat hubungan antarwarga masyarakat.

Menginspirasi Masa Depan: KKN UIN GusDur Turut Perangi Kenakalan Remaja dan Bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman dan Maulana Ichsan, Editor: Faiza Nadilah

Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk karakter dan perilaku individu, terutama di usia remaja yang rentan terhadap berbagai tantangan sosial. Mengakui pentingnya hal tersebut, Kamis (21/3), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN GusDur Pekalongan Angkatan 58 Desa Kutorojo melaksanakan kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk menanggulangi kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo, dengan peserta siswa-siswi kelas 7, 8, dan 9.

Kegiatan tersebut dimulai dari pembukaan dengan perkenalan para mahasiswa KKN, disusul dengan ice-breaking dan permainan edukasi untuk menciptakan suasana yang nyaman dan interaktif. Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pemutaran film pendek yang menyoroti tema kenakalan remaja dan perilaku bullying. Setelah itu, materi disampaikan secara langsung kepada peserta dengan implementasi bermain peran untuk memperjelas contoh perilaku kenakalan remaja, dampaknya, dan cara penyelesaiannya. Dan ditutup dengan doa penutup, sehingga memberikan kesan spiritual yang mendalam.

Dasar dari kegiatan ini adalah implementasi konsep tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi kepada siswa SMP agar mampu memahami dan menghindari perilaku kenakalan remaja. Respons dan apresiasi yang baik dari pihak guru SMPN 1 Atap Kutorojo menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan institusi pendidikan formal dalam membentuk generasi yang berkualitas.

Menurut Pak Arfi, guru SMPN 1 Atap Kutorojo, kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendukung program Polsek Kajen dalam menanggulangi bahaya perilaku bullying. Kegiatan ini dianggap positif karena memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada siswa-siswi tentang dampak negatif dari perilaku bullying serta pentingnya mengembangkan sikap empati dan menghormati satu sama lain.

Dengan demikian, kegiatan pendidikan tentang kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN Satu Atap Kutorojo merupakan langkah konkret dalam membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik di kalangan generasi muda. Kolaborasi antara mahasiswa KKN, guru, dan pihak kepolisian merupakan contoh sinergi yang efektif dalam membentuk lingkungan pendidikan yang aman dan berdaya. Melalui upaya ini, diharapkan akan tercipta generasi yang lebih berkualitas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Coretan Inspiratif: Langkah Awal Pengenalan Pendidikan Abad 21 Melalui Kegiatan KKN UIN Gusdur di SDN 01 Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman & Muhammad Harits, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Pentingnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan generasi muda sudah tidak diragukan lagi. Namun demikian, perlu ada tahapan untuk memastikan bahwa pendidikan yang diberikan relevan dengan tuntutan zaman. Untuk itu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Angkatan 58 mengambil langkah nyata dengan menggelar kegiatan edukasi di SDN 01 Kutorojo pada hari Rabu tanggal 20 Maret 2024. Lokasi ini dipilih sebagai titik awal untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 kepada siswa-siswi.

Kegiatan ini bukan hanya rutinitas biasa, tetapi juga merupakan implementasi dari salah satu pilar penting perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melibatkan siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6, kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Terlebih dengan ketatnya persaingan untuk mencapai karir, maka anak-anak juga perlu dilatih agar memereka memiliki daya kreativitas tinggi dengan didukung kemampuan tertentu yang harus dikuasai. Oleh karenanya, mahasiswa sebagai pilar penerus bangsa, maka mereka juga diharapkan dapat memberikan contoh nyata dan pengajaran bagi anak-anak, khususnya dalam hal ini pada jenjang sekolah dasar.

Menyadari pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan contoh nyata, para mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai role model bagi para siswa. Mereka memulai kegiatan dengan memperkenalkan diri dan tujuan dari kehadiran mereka di sekolah tersebut. Mereka menggabungkan cerita, contoh kasus, dan gambar untuk membantu siswa memahami konsep-konsep yang disampaikan.

Didukung dengan sesi ice breaking dan permainan edukasi menjadi magnet awal untuk membangun keakraban antara para mahasiswa dan siswa. Metode interaktif yang diterapkan dalam penyampaian materi tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Hal ini sangat penting mengingat keberagaman latar belakang dan tingkat pemahaman siswa yang berbeda.

Highlight dari kegiatan ini adalah praktik keterampilan abad 21, dimana siswa diajak untuk berkreasi dan mengekspresikan ide-ide mereka. Mereka diberi kesempatan untuk membuat gantungan kunci atau gelang menggunakan bahan tali kur, yang tidak hanya melatih keterampilan kreatif mereka tetapi juga belajar untuk bekerja sama dalam sebuah tim. Hasil dari praktik ini tidak hanya menjadi bukti keterampilan siswa, tetapi juga mengidentifikasi bakat dan minat mereka.

Tak hanya itu saja, siswa-siswi juga turut mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pendidikan abad 21. Keberhasilan kegiatan ini juga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Dengan melihat hasil positif yang diperoleh oleh SDN 01 Kutorojo melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan sekolah-sekolah lain juga akan tertarik untuk melakukan hal serupa. Hal ini tentu akan membawa dampak positif yang lebih luas bagi peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut.

Dengan demikian, kegiatan edukasi tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 di SDN 01 Kutorojo telah memberikan dampak positif bagi para siswa dan sekolah itu sendiri. Semoga kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan dengan percaya diri dan kompeten.