Ibu: Pejuang Tanpa Pedang, Pahlawan Tanpa Panggung

Penulis: Intan Diana Fitriani; Editor: Azzam Nabil H.

Jika ada pertanyaan tentang siapa makhluk paling kuat di dunia ini, jawabannya bukanlah pahlawan super dalam komik, bukan atlet beladiri, bukan pula mereka yang sanggup bekerja siang malam tanpa lelah. Makhluk paling kuat itu adalah… Ibu.

Terkadang, Allah memberikan bukti nyata akan kekuatan itu, bukti yang membuat kita merinding, merenung, hingga menangis penuh syukur. Salah satunya tecermin dalam kisah perjuangan seorang ibu yang nyawanya benar-benar dipertaruhkan saat melahirkan. Sebuah kondisi langka membuatnya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Ia harus menempuh perjalanan medis yang panjang: operasi besar, peralatan canggih yang menopang tubuh, koma, hingga akhirnya harus merelakan sebagian tubuhnya diamputasi.

Namun, tahukah apa yang membuat situasi pelik itu tetap terasa hangat? Cinta seorang ibu yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuhnya terbaring lemah tak berdaya.

Cinta yang Tak Pernah Takut Terluka

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa bahwa proses melahirkan bukan sekadar momen “bayi lahir lalu semua bahagia”. Di balik tangisan pertama bayi, ada rasa sakit luar biasa yang sering digambarkan setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan. Ada ketegangan yang memuncak, ada doa yang dipanjatkan sembari menahan perih, dan ada keberanian yang mungkin tak sanggup ditanggung oleh lelaki terkuat sekalipun.

Dalam kisah nyata ini, sang ibu memasuki ruang bersalin dengan harapan sederhana: melahirkan anak ketiganya dengan selamat. Namun, takdir berkata lain. Kondisinya mendadak menurun drastis (drop), napas melemah, dan jantung nyaris berhenti berdetak. Dalam hitungan menit, seluruh tim medis harus bergerak cepat demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Alhamdulillah, bayinya selamat. Namun, sang ibu harus berjuang melawan badai komplikasi yang sangat langka. Setelah melewati masa kritis pascaoperasi, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan salah satu kakinya. Ini bukan kesalahan siapa pun, melainkan kerasnya skenario perjuangan hidup yang Allah bentangkan untuknya.

Luka itu menyakitkan, tentu saja. Namun, justru dari luka-luka itulah kekuatan seorang ibu memancar. Ia tetap ingin hidup. Ia tetap ingin bangkit. Ia tetap ingin memeluk anaknya.

Islam dan Kemuliaan Seorang Ibu

Jika kita menelaah Al-Qur’an, Allah seakan tak pernah bosan mengangkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bahkan ketika Allah melukiskan perjuangan ibu, kata yang digunakan bukanlah kata-kata manis, melainkan kata yang jujur, keras, dan mendalam:

“Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqmān: 14)

Bayangkan, Allah menegaskan bahwa ibu adalah pejuang. Bukan sekadar lemah, tetapi “lemah yang bertambah-tambah”. Meski begitu, mereka tetap melangkah. Tetap maju. Tetap menggendong harapan.

Rasulullah SAW pun pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Siapa orang yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.” “Lalu siapa?” “Ibumu.” Baru kemudian, “Ayahmu.”

Tiga kali. Bukan sekali. Seolah Rasulullah ingin memastikan: “Wahai manusia, jangan main-main dengan kemuliaan seorang ibu.”

Melihat kisah nyata ini, kita menjadi makin paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita. Perjuangan mereka bukan sekadar teori. Nyata. Berdarah-darah. Ada air mata, ada taruhan nyawa, dan ada cinta tulus yang tak pernah menuntut balas.

Ketika Pengorbanan Mengubah Cara Kita Memandang Ibu

Hal yang paling menyentuh dari kisah ini adalah bagaimana “lingkaran cinta” Allah bekerja. Mulai dari dokter yang sigap, keluarga yang menangis dalam doa, teman-teman yang setia menjaga, hingga orang-orang yang membantu tanpa diminta. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.

Dan sang ibu sendiri… meski kehilangan satu bagian tubuhnya, ia tidak kehilangan harapan. Ia belajar berdiri lagi. Belajar berjalan lagi. Semangatnya tumbuh bak cahaya kecil yang kian lama kian terang.

Dalam Islam, ada satu janji Allah yang sering kita dengar:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan janji pasti. Ibu dalam kisah ini adalah bukti nyata bagaimana Allah memberikan ujian besar pada bahu yang meski terlihat rapuh, namun sebenarnya sangat kokoh.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kisah ini mengajarkan kita banyak hal penting:

  1. Jangan pernah meremehkan pengorbanan ibu. Terkadang kita sibuk dan abai, merasa “Ah, Ibu kan kuat.” Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu rasa sakit apa yang telah ia lalui demi menghadirkan kita di dunia.

  2. Ujian hidup bukan akhir, melainkan awal babak baru. Kehilangan fisik mungkin memperlambat langkah kaki, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan langkah hati.

  3. Kasih ibu adalah bentuk cinta Allah di bumi. Itulah sebabnya rasanya selalu hangat, selalu sabar, dan selalu memaafkan.

Peluklah Ibu Selagi Bisa

Kita sering lupa bahwa setiap kali ada manusia lahir, ada seorang ibu yang bertarung nyawa demi membuka pintu dunia untuk anaknya. Kita hidup karena ia rela sakit. Kita tumbuh karena ia rela lelah. Maka, jika hari ini ibumu masih ada: Peluk dia. Cium tangannya. Ucapkan terima kasih.

Karena di balik setiap napas yang kita hirup hari ini, ada doa dan perjuangan seorang ibu yang mungkin tak terlihat mata, namun tak pernah berhenti mengalir sepanjang hidup kita.

Ngaji Kitab Kuning dan Edukasi Seksual di Pesantren: Saatnya Santri Melek Ilmu Reproduksi

Penulis : Intan Diana Fitriyani, Editor : Amarul Hakim

Ketika berbicara soal pesantren, masyarakat sering membayangkan tempat yang hanya fokus pada kajian kitab kuning, fikih, tafsir, dan tasawuf. Padahal, sejak era kolonial hingga kini, pesantren memegang peran penting sebagai pusat transformasi sosial dan penjaga moral umat. Sejak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga agen pembaharu masyarakat.

Di era digital dan globalisasi, tantangan baru muncul—salah satunya terkait pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di lingkungan pesantren. Tema ini sering dianggap tabu, padahal realitas sosial menunjukkan bahwa santri sangat membutuhkan pemahaman yang benar, ilmiah, dan berbasis nilai Islam. Apalagi, kitab kuning sendiri sejatinya telah membahas isu-isu seputar tubuh, akil baligh, haid, pernikahan, dan relasi suami-istri sebagai bagian dari syariat.

Tabu yang Masih Mengakar di Pesantren

Di banyak pesantren, pembahasan mengenai seksualitas masih dianggap tidak pantas. Dampaknya, pengetahuan santri mengenai kesehatan reproduksi sangat terbatas. Banyak santri mengetahui hukum-hukum fikih seputar mandi wajib, haid, atau ihtilam, tetapi belum memahami aspek kesehatannya secara holistik—baik secara biologis, psikologis, maupun sosial.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Padahal, WHO (2023) mendefinisikan kesehatan reproduksi bukan hanya sehat secara biologis, tetapi juga sejahtera mental, sosial, dan spiritual. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang menjunjung maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) dan ḥifẓ al-nasl (menjaga keturunan).

Sayangnya, minimnya ruang aman untuk berdiskusi menyebabkan santri lebih banyak mencari informasi dari internet tanpa pendampingan guru. Survei Komnas Perempuan (2022) menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan meningkat 15% per tahun, termasuk di lembaga berbasis keagamaan. Selain itu, studi BKKBN (2023) mencatat bahwa 1 dari 5 remaja Indonesia memiliki pemahaman keliru tentang menstruasi, mimpi basah, dan kesehatan reproduksi dasar.

Jika pesantren tidak hadir memberikan literasi yang benar, maka santri akan belajar dari sumber yang salah.

Kitab Kuning: Sumber Ilmu yang Harus Dikonstekstualisasi

Bicara tentang seksualitas bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan Islam. Justru, kitab kuning memberikan landasan penting bagi penyusunan modul edukasi seksual berbasis pesantren.

Baca juga : Kulturnya Dianggap Kolot, Hormatnya Disebut Feodal: Segampang itukah Media Menghakimi Pesantren?

Beberapa rujukan kitab kuning yang menyinggung persoalan reproduksi, di antaranya:
  • Kitab Topik Reproduksi & Seksualitas
  • Uqūd al-Lujjayn Etika relasi suami-istri
  • Hāsyiyah al-Bājūrī & al-Bujayramī Pubertas, haid, ihtilam, mandi wajib
  • Kifāyatul Akhyār Nikah, hak dan kewajiban seksual
  • Ihyā’ Ulūmiddīn Adab menjaga kesucian diri dan nafsu

Namun, konteks sosial saat kitab ini ditulis berbeda dengan tantangan santri hari ini. Karena itu, perlu pendekatan hermeneutika pesantren—yakni membaca teks klasik secara kontekstual agar tetap relevan dengan realitas kesehatan modern.

Dalam Pesantren Studies, Ahmad Baso menyebut bahwa pesantren memiliki tradisi turats yang dinamis—yakni mentransformasikan teks klasik menjadi solusi kontekstual. Artinya, bicara kesehatan reproduksi bukan westernisasi, tapi bagian dari ngaji dan ‘amal.

Mengapa Santri Harus Melek Edukasi Seksual?
Ada tiga alasan mendasar:
  • Perlindungan Diri dan Pencegahan Kekerasan Seksual. Santri perlu tahu batas aurat, consent, dan adab pergaulan sesuai Islam. Edukasi seksual justru memperkuat akhlak dan kehormatan (ḥifẓ al-‘irdl).

  • Mempersiapkan Generasi Keluarga Sakinah. Suatu saat santri akan menjadi orang tua, pendidik, atau tokoh masyarakat. Pemahaman sejak dini akan mencegah kekerasan dalam rumah tangga, toxic marriage, dan ketidakharmonisan yang bersumber dari ketidaktahuan.

  • Perintah Agama untuk Menuntut Ilmu. Nabi SAW bersabda: “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim wa muslimah.” Termasuk ilmu menjaga kesehatan dan kehormatan diri.

Integrasi Ilmu Medis, Fikih, dan Sosial: Model Pendidikan Seksual Pesantren

Baca juga : Pendampingan SOP PPKS oleh PSGA LP2M, Membangun Pesantren Bebas Kekerasan Seksual

Jika pesantren ingin maju, pendekatan integratif harus dilakukan. Ada tiga pilar:

  • Medis – Dokter memberikan edukasi ilmiah tentang pubertas, organ reproduksi, menstruasi sehat, dan pencegahan penyakit.

  • Fikih – Kiai atau ustaz memberikan dasar hukum syariah agar edukasi tidak lepas dari adab dan aqidah.

  • Sosial – Pendekatan psikologi remaja, gender, dan perlindungan anak untuk membangun kesadaran etis.

Model integrasi ini sejalan dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, sehingga tidak bertentangan dengan agama—justru memperkuatnya.

Langkah-Langkah Strategis untuk Pesantren
Beberapa strategi yang bisa dilakukan pesantren antara lain:
  • Membuat kurikulum fiqih kesehatan reproduksi berbasis kitab kuning
  • Membentuk tim pendampingan tarbiyah jinsiyah yang aman dan beretika
  • Mengadakan kelas diskusi terpisah berdasarkan usia dan gender
  • Memanfaatkan media digital seperti video, podcast, dan Q&A anonim
  • Melibatkan dokter, psikolog, dan alumni kompeten sebagai pemateri

Cara ini telah diterapkan oleh beberapa pesantren modern di Jawa dan Madura dengan hasil signifikan: peningkatan literasi reproduksi mencapai 72% (Studi Rumah Kitab & Rutgers Indonesia, 2021).

Pesantren sejak dulu menjadi benteng akhlak, maka sangat pantas jika menjadi pelopor edukasi seksual yang bermartabat. Mengajarkan kesehatan reproduksi bukanlah membuka aib atau mendahulukan syahwat—melainkan bagian dari menjaga martabat manusia, sebagaimana Islam ajarkan.

Santri yang paham agama sekaligus melek kesehatan reproduksi akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh: berilmu, berakhlaq, dan siap menjadi pemimpin umat di masa depan.

Penulis : Intan Diana Fitriyani, M.Ag sebagai Dewan pengasuh pp. Al Masyhad Manbaul falah walisampang pekalongan

Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Penulis : Nadhifatuz Zulfa, Editor : Amarul Hakim

Tayangan Expose Uncensored di Trans 7 pada Senin, 13 Oktober 2025 lalu, memicu perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama komunitas pesantren. Dalam tayangan itu, beberapa tradisi pesantren seperti cara bersalaman santri dengan kiai, pemberian amplop, dan kegiatan kerja bakti (roan) ditampilkan dengan narasi yang menimbulkan kesan negatif.

Sayangnya, framing yang diambil tidak mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan spiritual di balik tradisi tersebut. Padahal, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan tempat pembentukan karakter, adab, dan kebersamaan yang menjadi fondasi penting bagi kehidupan bangsa.

Salaman Ala Pesantren: Tanda Cinta dan Penghormatan, Bukan Eksploitasi

Adegan santri yang menunduk ketika bersalaman dengan kiai menjadi salah satu sorotan utama. Tayangan itu memaknainya sebagai bentuk ketundukan berlebihan, seolah santri kehilangan martabat. Padahal, bagi masyarakat pesantren, menundukkan badan bukan bentuk perendahan diri, melainkan simbol cinta, penghormatan, dan pengakuan atas keilmuan seorang guru.

Baca juga : Parodi Gus dan Habib di Media Sosial: Antara Kritik Sosial dan Etika Keagamaan

Tradisi ini berakar dari budaya Jawa yang menjunjung tinggi unggah-ungguh (tatakrama). Dalam pandangan Islam, menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri. Maka gerakan menunduk bisa dipahami sebagai bentuk pelatihan perilaku sopan santun — behavioral shaping — yang menumbuhkan sikap rendah hati.

Setiap pesantren memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa hormat terhadap guru. Ada yang menunduk, ada yang hanya mencium tangan. Semuanya lahir dari tradisi yang berbeda-beda, dipengaruhi adat istiadat dan budaya daerah setempat, namun memiliki semangat yang sama: membangun hubungan spiritual antara murid dan guru. Karena itu, tidak sepatutnya seseorang mencela tradisi tertentu hanya karena berbeda dengan kebiasaan di tempat lain.

Budaya Amplop: Ekspresi Kasih Sayang, Bukan Upaya Memperkaya Kiai

Tayangan tersebut juga menyoroti budaya memberi amplop kepada kiai saat bersalaman, dengan insinuasi bahwa praktik itu memperkaya kiai. Pandangan ini jelas menyederhanakan realitas pesantren yang sangat kompleks dan penuh nilai keikhlasan.

Dalam tradisi pesantren, pemberian amplop bukan transaksi ekonomi, melainkan ekspresi kasih sayang dan bentuk penghormatan santri kepada gurunya. Kiai tidak pernah meminta, dan santri tidak diwajibkan memberi amplop yang berisi uang. Amplop diberikan dengan kerelaan hati, sering kali sebagai bentuk tabarruk — mencari keberkahan dari guru yang mengajarkan ilmu dengan Ikhlas, dan ungkapan kasih sayang dan rasa terimakasih dari santri kepada sang murobbi-nya.

Baca juga : Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Perlu dipahami pula bahwa banyak pesantren menetapkan biaya yang sangat terjangkau, bahkan gratis untuk santri yatim dan dhuafa. Kiai hidup sederhana, mengajar tanpa bayaran, dan sering mengembalikan pemberian santri untuk kebutuhan pondok. Banyak pula kiai yang memiliki usaha pribadi untuk membiayai operasional pesantren.

Jika ada kiai yang hidup berkecukupan atau memiliki mobil bagus, jangan terburu menilai. Bisa jadi itu hadiah dari alumni yang telah sukses, atau hasil jerih payah usaha pribadi, bukan dari “amplopan santri” sebagaimana sering diasumsikan secara keliru.

Roan (Kerja Bakti): Pendidikan Nilai Gotong Royong, Bukan Eksploitasi Tenaga Santri

Bagian lain yang disorot negatif adalah kegiatan roan atau kerja bakti di pesantren. Dalam tayangan, aktivitas ini digambarkan seolah santri dieksploitasi untuk bekerja tanpa imbalan. Pandangan semacam ini sangat jauh dari realitas nilai yang hidup di pesantren.

Roan merupakan tradisi gotong royong yang menjadi bagian penting dari pendidikan karakter di pesantren. Santri dengan sukarela membersihkan kamar, halaman, dapur, dan masjid pondok sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Tidak ada paksaan, karena setiap santri memahami bahwa kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman.

Baca juga : Citra Vs Realitas: Gen Z Berdarah-Darah Bangun Citra di Media Sosial?

Lebih dari sekadar kegiatan rutin, roan mengajarkan santri arti kebersamaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial. Aktivitas ini menjadi latihan sosial yang membentuk solidaritas dan keikhlasan — nilai yang kini semakin jarang ditemukan di tengah budaya individualistik modern.

Media dan Etika Kultural: Belajar Memahami Sebelum Menilai

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Karena itu, pemberitaan tentang pesantren seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian dan pemahaman yang mendalam. Tradisi pesantren tidak bisa dipahami hanya dari permukaan; ia lahir dari perpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal yang telah hidup berabad-abad lamanya.

Pesantren adalah benteng moral bangsa. Di tempat inilah ribuan anak muda belajar kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan cinta ilmu. Menilai pesantren dengan kacamata modernitas sempit tanpa memahami konteks sosial dan spiritualnya sama saja dengan menilai samudra hanya dari buih di permukaan.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai ruang pembentukan karakter, moralitas, dan keikhlasan. Alih-alih dicurigai, pesantren semestinya dihargai sebagai warisan luhur yang terus menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan adab.

 

Tentang Penulis:

Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., C.C.P. adalah dosen Bimbingan dan Konseling di UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Aktif meneliti isu-isu psikososial, konseling, pendidikan Islam, dan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.

 

Kulturnya Dianggap Kolot, Hormatnya Disebut Feodal: Segampang itukah Media Menghakimi Pesantren?

Penulis : Rikzan Maulana. Editor : Amarul Hakim

Tagar #BoikotTrans7 langsung ramai membanjiri media sosial hanya dalam hitungan jam setelah muncul tayangan “Xpose Uncensored” pada 13 Oktober 2025 yang menyorot kehidupan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Masalah yang muncul bukan terletak pada topik tayangan, melainkan pada cara media tersebut membingkai tradisi pesantren seolah-olah sebuah tontonan lucu atau eksotik. Judul provokatif seperti “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” memperkuat kesan bahwa pesantren diposisikan sebagai objek olok-olok, bukan ruang budaya yang patut dihargai dan dipahami secara kontekstual.

Sebagai seorang santri yang masih hidup dalam kultur pesantren tradisional, saya sering menyaksikan bagaimana tradisi dan nilai yang dijalankan sehari-hari kadang disalahpahami oleh masyarakat luar. Duduk rendah di hadapan pengasuh pesantren, berjalan jongkok saat keluar dari Ndalem, atau memberikan amplop sebagai bentuk penghormatan bukanlah praktik yang memalukan, melainkan simbol kerendahan hati dan penghormatan terhadap ilmu.

Namun bagi banyak kalangan di luar dunia pesantren, tindakan ini sering terlihat aneh dan kadang diplesetkan sebagai ritual yang eksentrik. Media yang menarasikan visual tradisi ini tanpa memberikan konteks, berisiko memperkuat stereotip negatif yang semakin lama seperti semakin melekat pada pondok pesantren. Narasi yang mengejek, walau tanpa maksud jahat, dapat menimbulkan persepsi yang salah dan merugikan reputasi institusi pendidikan yang telah lama berdiri ini.

Dalam tayangan itu, kehidupan santri dan sosok pengasuh pesantren disajikan secara tidak proporsional. Voice over yang menyertai visual cenderung menekankan hal-hal yang memancing tawa atau rasa heran, sementara nilai dan makna dari tradisi yang ditampilkan tidak dijelaskan sama sekali. Dampak dari penyajian dangkal ini bisa dibilang sangat signifikan; alumni dan kalangan pesantren menilai tayangan tersebut mencemarkan nama baik pondok pesantren di Indonesia yang telah dibangun susah payah oleh para pendiri. Aduan pun dilayangkan ke MUI dan KPI, yang kemudian meminta Trans7 untuk menyampaikan permohonan maaf resmi dan menghentikan program tersebut. Respon cepat ini menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar soal tayangan televisi, tetapi soal martabat sebuah tradisi yang seharusnya dihormati.

Baca juga : Media Sosial Sebagai Ruang Dialog untuk Meningkatkan Nilai Moderasi Beragama

Faktanya, praktik duduk rendah, berjalan jongkok, atau memberi sumbangan bukan bentuk perbudakan atau sistem feodal. Tradisi ini lahir dari kesadaran dan penghormatan terhadap ilmu. Banyak pesantren berdiri atas semangat gotong royong, dengan biaya pendidikan yang terjangkau bagi santri dari keluarga sederhana. Budaya memberi dan berbagi di lingkungan pesantren memungkinkan lembaga pendidikan ini bertahan sekaligus membuka akses bagi ribuan anak yang mungkin tidak mampu membayar biaya sekolah lain yang lebih mahal. Salah kaprah memahami tradisi ini bisa dibilang sebagai sesuatu yang memalukan dan menunjukkan kesenjangan pemahaman budaya antara masyarakat umum dan dunia pesantren.

Beberapa kalangan mungkin mempertanyakan keabsahan tradisi ini. Memang, tidak semua pesantren bebas dari masalah; ada praktik relasi kuasa yang perlu diawasi dan pengelolaan lembaga yang barangkali tidak selalu transparan. Kritik yang konstruktif sangat diperlukan agar pendidikan pesantren tetap sehat dan kredibel. Namun kritik yang efektif harus didasarkan pada riset, konteks budaya, dan empati. Menyajikan fakta tanpa konteks sambil menarasikannya dengan nada mengejek bukanlah kritik; itu sensasionalisme yang merugikan kedua belah pihak. Sebagai perbandingan, bayangkan seseorang menilai budaya Jepang yang membungkuk dengan narasi “Ih, aneh banget ya, harus nundukin kepala segala.” Orang Jepang tentu akan tersinggung, padahal membungkuk adalah simbol penghormatan. Demikian pula tradisi di pesantren: duduk rendah, jalan jongkok, atau memberi amplop kepada pengasuh bukan bentuk subordinasi, melainkan pendidikan moral yang menekankan kerendahan hati dan rasa hormat terhadap ilmu.

Kontroversi tayangan ini juga menimbulkan efek yang lebih luas bagi persepsi masyarakat terhadap pesantren secara umum. Kalangan pesantren menilai bahwa liputan yang menampilkan satu lembaga secara negatif dapat memperkuat stigma terhadap seluruh pesantren di Indonesia. Banyak pihak menilai bahwa tayangan ini tidak hanya merugikan Pondok Pesantren Lirboyo, tetapi juga menyudutkan identitas ribuan santri yang hidup dengan nilai yang sama. Persepsi publik yang keliru bisa memicu stereotip negatif, seolah-olah santri identik dengan praktik kuno atau kaku, padahal banyak yang telah beradaptasi dengan dinamika sosial dan teknologi modern.

Baca juga : Perkuat Kolaborasi, Arina Jejaring Himpun Pengelola Media Keislaman se-Indonesia agar Dakwah Digital Maksimal

Media bisa belajar banyak dari peristiwa ini. Kebebasan pers bukan berarti bebas merendahkan atau menyederhanakan budaya orang lain demi rating. Jurnalisme yang baik menuntut riset, memahami konteks, dan kehati-hatian dalam memilih narasi. Sensasionalisme mungkin menarik perhatian sesaat, tapi bisa merusak kredibilitas dalam jangka panjang. Mengajak ahli seperti tokoh pesantren sebelum menarasikan tradisi yang kompleks bisa menjadi solusi agar tak terulang lagi kejadian salah tafsir seperti saat ini.

Bagi masyarakat, kontroversi ini mengingatkan agar tidak buru-buru menilai praktik yang berbeda dari kebiasaan umum. Apa yang terlihat aneh bagi sebagian orang terkadang justru menyimpan nilai moral dan sosial yang dalam. Maka, memahami konteks adalah bagian dari pluralisme budaya, bukan sekadar toleransi pasif belaka. Dengan begitu, praktik pesantren bisa dinilai secara adil, bukan hanya lewat tayangan dangkal media massa.

Sementara bagi pesantren, peristiwa ini bisa menjadi momentum untuk lebih terbuka dalam komunikasi publik. Menjelaskan nilai dan tradisi dengan jelas dapat membantu masyarakat lebih memahami budaya pesantren. Aktivitas sederhana seperti memberi konteks bisa mengurangi salah tafsir sekaligus membangun dialog sehat antara pesantren dan masyarakat.

Yang dibutuhkan saat ini bukanlah boikot permanen atau perang narasi tanpa akhir. Apa yang lebih penting adalah percakapan yang jujur, empati yang tulus, dan komitmen bersama untuk membangun masyarakat yang lebih melek budaya. Permintaan maaf Trans7 merupakan langkah awal yang sudah sangat baik, tetapi pencegahan agar kesalahan serupa tidak terulang bisa jadi jauh lebih penting. Pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas Bangsa Indonesia. Menghormatinya bukan berarti menutup akses untuk memberikan kritik, melainkan mengakui bahwa setiap tradisi pantas dibaca dengan hati dan akal yang jernih.

Di Pesantren, Santri juga Belajar Kitab Humor

Penulis: Muhammad Jauhari Sofi*, editor: Ika Amiliya Nurhidayah.

“Somewhere beyond muthola‘ah and gojekan, there is a garden. I will meet you there.” [Bukan Rumi]

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang umumnya tumbuh dari prakarsa masyarakat dan berbasis komunitas, meski banyak juga yang dikelola oleh keluarga. Ia membentuk karakter manusia melalui kedisiplinan, keikhlasan, dan kemandirian.

Kehidupan di pesantren berlangsung normal sebagaimana aktivitas keseharian yang sangat manusiawi. Aktivitas belajar santri berpadu dengan urusan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan kamar, berkebun, dan sejenisnya. Semua ruang menjadi bagian dari proses pendidikan yang menanamkan kesabaran, kesetaraan, dan tanggung jawab moral.

Pesantren utamanya mengajarkan teks-teks klasik keagamaan, yang dikenal dengan kitab kuning. Dari teks-teks inilah para santri belajar memahami ajaran Islam secara mendalam dan kontekstual. Namun sebetulnya, kehidupan pesantren tidak hanya berkutat di seputar kajian dan hafalan. Di sela-selanya, tumbuh budaya santai, canda, dan tawa. Di bilik-biliknya, pesantren membentuk nalar, kepribadian, dan yang jarang disadari, selera humor.

Baca juga: Pesantren dan Tantangan Kecerdasan Buatan

Humor dalam pesantren memiliki fungsi sosial yang mendalam. Ia menjadi perekat hubungan antarsantri sekaligus penyeimbang rutinitas yang padat. Di saat hafalan belum lancar atau pekerjaan menumpuk, lelucon lisan kerap menjaga suasana tetap ringan, menumbuhkan tawa, dan meneguhkan persaudaraan dalam keakraban.

Dari sekian tokoh humor yang dikenal di pesantren, Abu Nawas menempati posisi istimewa. Ia hidup di batas antara teks dan imajinasi. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai seorang penyair cerdas dan jenaka dari abad kedelapan. Namun dalam tradisi pesantren, ia bisa menjelma simbol kecerdikan dan perlawanan atau kritik yang halus.

Kisah Abu Nawas dirawat dalam ingatan dan berpindah dari mulut ke mulut di kalangan santri. Ia diceritakan di dapur, kamar, ruang kelas, serambi masjid, dan tempat ro’an (kerja bakti). Cerita-cerita itu menjadi ritus kebersamaan, ruang perjumpaan antara pengetahuan, humor, dan kehangatan sosial. Berikut ini salah satunya:

Alkisah, Abu Nawas meninggal di usia muda. Di akhirat, ia berdiri dalam barisan panjang bersama jutaan manusia lain yang menunggu giliran untuk dihitung amal perbuatannya.

Di depan sana, duduk seorang malaikat yang bertugas menimbang amal. Namun, kali ini ada yang sedikit berbeda. Si malaikat itu tidak bisa melihat. Karena itu, ia menggunakan cara lain untuk mengenali orang-orang yang datang kepadanya, yaitu dengan meraba wajah mereka.

Jika seseorang berjenggot, malaikat itu akan langsung memutuskan bahwa ia orang saleh, dan mengirimnya ke surga tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Sebaliknya, jika tidak berjenggot, ia akan disuruh ke pos berikutnya untuk ditimbang amalnya satu per satu.

Satu per satu nama dipanggil.

“Mukidi, maju ke depan,” kata malaikat sambil meraba wajahnya.

“Oh, kamu berjenggot. Silakan langsung ke surga.”

Lalu berikutnya.

“Mulyono, maju ke depan.”

“Hmmmn, kamu tidak berjenggot. Silakan menuju ke timbangan amal.”

Begitu terus, hingga tibalah giliran Abu Nawas. Namanya dipanggil.

“Abu Nawas, maju ke depan!”

Abu Nawas mulai gugup. Ia mati muda dan jenggotnya belum sempat tumbuh. Ia juga tidak yakin timbangan amal akan bisa mengantarnya ke surga. Semasa hidup, ia merasa belum banyak berbuat baik.

Sambil berjalan menuju si malaikat, ia berpikir keras mencari akal. Beberapa langkah sebelum tiba di depan malaikat, ia mendapat ide dan langsung menerapkannya.

Abu Nawas mulai diperiksa, dan segera si malaikat berkata, “Oh, silakan langsung ke surga.”

Abu Nawas menghela napas lega. Ia sangat bahagia. Tampaknya rencananya berhasil. Si malaikat benar-benar mengira ia telah meraba jenggotnya.

Namun, baru saja ia berdiri tegak setelah kelelahan berjalan salto (tangan di bawah, kaki di atas), terdengar suara si malaikat menegur, “Abu Nawas… di surga tidak boleh bawa rokok!”

Baca juga: Menjaga Bumi Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Di pesantren, kisah semacam ini tidak hanya memantik tawa, tetapi juga menyimpan refleksi. Ia menyiratkan kritik sosial terhadap kecenderungan menilai kesalehan dari tanda lahiriah, dari tampilan wajah dan balut busana. Dalam tawa itu, ada pesan moral bahwa kebaikan tidak selalu tampak di permukaan.

Dalam konteks pendidikan, humor seperti ini dapat berfungsi sebagai metode pengajaran yang efektif. Ia melatih santri berpikir analogis, membaca makna tersirat, dan memahami konteks sosial dengan jernih. Humor dapat menjadi jembatan antara teks dan realitas, antara nalar dan rasa secara seimbang.

Selain itu, humor menjadi ruang aman bagi ekspresi diri santri. Lewat cerita jenaka, mereka menyalurkan kegelisahan, mempertanyakan otoritas, atau menyentil hal-hal tabu. Semua dilakukan dengan bahasa jenaka dan pikiran yang merdeka. Di pesantren, kebebasan berpikir tidak dihapus, melainkan disublimasi melalui kelucuan. Santri tetap memiliki ruang untuk bersikap kritis, hanya saja ekspresinya disampaikan dengan cara yang tidak frontal dan tidak menantang otoritas.

Kisah-kisah Abu Nawas kiranya tetap relevan bagi dunia pesantren hingga sekarang ini. Kisah-kisah itu mengingatkan bahwa kecerdikan dan keberanian berpikir tidak harus selalu mewujud dalam bentuk perlawanan keras. Terkadang, sindiran melalui humor bisa lebih tajam daripada kritik keras.

Sosok santri yang terkenal humoris adalah KH. Abdurrahman Wahid, atau Gusdur. Dalam humor Gusdur, bahkan Tuhan pun dikisahkan sampai menangis tersedu saat ditanya perihal kapan Indonesia akan makmur. Dalam tradisi pesantren, humor sejenis itu dipahami sebagai manifestasi keakraban antara seorang hamba dengan Tuhannya, bukan penistaan agama. Humor Gusdur juga tercermin dalam kepemimpinan nasionalnya. “Gusdur mengucapkan politik secara humor dan mendengarkan humor secara politik,” demikian hadits yang diriwayatkan oleh Rocky Gerung.

Pada akhirnya, pesantren bukan sekadar lembaga transmisi ilmu agama. Ia adalah juga ruang pembentukan karakter manusia secara utuh: rasional, spiritual, dan kultural. Di pesantren, kitab kuning hidup berdampingan dengan kitab humor yang diwariskan turun-temurun. Di sana, tertawa adalah cara mengistirahatkan jiwa dari keseriusan hidup.

Selamat Hari Santri Nasional (HSN) 2025!

*Dosen di TBIG FTIK UIN KH. Abdurrahman Wahid; alumnus Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Demak

Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Penulis : Putik Alifamarza, Editor : Amarul Hakim

Di zaman ini, di mana sekali sentuhan jari bisa menggoyahkan ruang publik, kebenaran terasa semakin sulit ditemukan. Kini, yang diukur bukan lagi keakuratan, melainkan seberapa cepat sebuah berita tersebar. Media sosial bisa membuat pendapat lebih didengar daripada fakta, sementara algoritma bekerja diam-diam, menata dunia digital sesuai kebiasaan kita. Di tengah kegaduhan semacam ini, ajaran Islam tentang tabayyun (meneliti dulu sebelum mempercayai) kembali terasa relevan.

Sekarang, informasi datang begitu cepat, bahkan sebelum kita sempat benar-benar memikirkannya. Cukup dengan satu sentuhan layar, sebuah berita bisa menjangkau ratusan orang dalam hitungan detik. Di balik layar, algoritma media sosial terus mempelajari kebiasaan kita, apa yang kita klik, apa yang kita sukai, bahkan apa yang membuat kita marah. Lalu, ia menciptakan dunia yang nyaman, penuh dengan hal-hal yang kita setujui dan perlahan menyingkirkan pandangan yang berbeda. Di balik rasa nyaman itu, kebenaran sering kali terlewat.

Di sinilah makna tabayyun terasa sangat relevan, di mana Allah Swt sudah mengiatkan melalui firman dalam QS. Al-Hujurat [49]:6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Baca juga : Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Ayat ini bukan sekadar peringatan untuk berhati-hati, tetapi juga panggilan agar kita tidak terburu-buru menilai. Dulu, mungkin konteksnya adalah kabar yang disampaikan secara lisan. Kini, bentuknya bisa berupa unggahan, potongan video, atau tangkapan layar. Namun maknanya tetap sama, jangan mudah percaya, apalagi menyebarkan, sebelum yakin pada kebenarannya.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, sepanjang tahun 2023 terdapat lebih dari 1.600 isu hoaks yang berhasil ditangani. Sebagian besar berkaitan dengan politik, sosial, dan agama, tiga hal tersebut paling cepat dalam membakar emosi publik. Sejak 2016, total konten negatif yang telah diblokir mencapai lebih dari sembilan juta. Angka itu bukan hanya statistik, melainkan cermin betapa rapuhnya kesadaran kita di tengah banyaknya informasi.

Namun akar masalahnya tidak selalu pada teknologi. Algoritma hanyalah cermin dari perilaku kita. Ia tidak mengenal kebenaran atau kejujuran, ia hanya mengenali pola. Saat kita terus tertarik pada hal-hal yang sensasional, algoritma akan menampilkannya lagi dan lagi. Lama-lama, ruang digital pun bisa dipenuhi oleh kebencian yang saling menggema.

Sebagai umat Islam, kita dihadapkan pada tantangan baru, bagaimana menjaga akal dan adab di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti. Tabayyun hari ini bukan hanya soal memeriksa berita, tetapi juga kemampuan menahan diri. Ketika melihat unggahan yang memancing emosi, langkah terbaik sering kali adalah berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya, Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat jika aku sebarkan? satu detik jeda itu mungkin tampak kecil, tapi bisa menjadi perbedaan antara kebaikan dan kekeliruan.

Moderasi beragama dalam dunia digital berarti berani membuka diri terhadap perbedaan, tanpa kehilangan prinsip. Tidak semua yang berbeda harus dianggap salah. Islam selalu mengajarkan keseimbangan wasathiyah (sebuah jalan tengah yang tidak lemah, tetapi bijak). Di ruang digital, sikap ini bisa berarti sederhana yaitu mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, memeriksa sebelum menilai, dan menghormati meski tak selalu setuju.

Baca juga : Media Sosial dan Moderasi Beragama: Antara Dakwah Digital dan Polarisasi

Literasi digital hari ini adalah bentuk jihad baru. Ia bukan tentang perang melawan orang lain, tetapi tentang disiplin diri di tengah derasnya arus data. Pemerintah dan lembaga dakwah tentu punya peran penting, namun perubahan sejati selalu dimulai dari keputusan pribadi, keputusan untuk tidak ikut menyebarkan kabar bohong, untuk menulis komentar dengan niat menenangkan, bukan menyulut.

Kita hidup di masa ketika algoritma bisa mengatur apa yang kita lihat, tetapi tidak bisa mengatur bagaimana kita berpikir. Ruang itu masih sepenuhnya milik kita. Maka, di tengah derasnya arus informasi, tugas kita bukan hanya menjadi pengguna media, tapi penjaga nurani. Dengan tabayyun sebagai pedoman, kita bisa menyalakan kembali semangat moderasi, menjadi umat yang berhati-hati, berpikir jernih, dan membawa ketenangan, bukan kebisingan. Pada akhirnya, setiap berita yang kita bagikan adalah cermin dari siapa diri kita. Pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah?

Dakwah Humanis tanpa Ceramah: Menebarkan Nilai-nilai Islam melalui Karya Sastra

Penulis: Wirayudha Pramana Bhakti, editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Selama ini banyak khalayak yang mengganggap bahwa dakwah identik dengan ceramah yang dilakukan di masjid maupun di majelis taklim pengajian. Anggapan tersebut sebenarnya tidak salah namun sangat sempit jika dakwah selalu identik dengan kegiatan ceramah di mimbar. Islam memberi banyak pilihan untuk umatnya dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan berbagai cara, bukan hanya melalui lisan (bil lisan) saja tetapi juga dengan perbuatan (bil hal) bahkan malalui tulisan (bil qalam). Dalam konteks dakwah bil qalam atau melalui tulisan, karya sastra baik yang berbentuk prosa maupun puisi hadir sebagai media dakwah yang mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan ke ruang yang lebih luas bahkan melintasi batas ruang dan waktu.

Dakwah bil lisan atau melalui ceramah di mimbar pengajian atau majelis taklim biasanya hanya mampu didengar oleh khalayak yang hadir di tempat tersebut. Setelah kegiatan ceramah selesai, apa yang disampaikan oleh da’i terkadang menguap bersama dengan ingatan khalayak yang memudar. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, sebenarnya dakwah dengan ceramah dapat diabadikan melalui beberapa platform media sosial. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai otoritas maupun kompetensi untuk menjadi penceramah yang baik dan diakui oleh khalayak umum. Berbeda dengan karya sastra di media cetak atau di media digital yang bisa ditulis dan dibaca oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Pesan dan nilai kebaikan yang tertulis memiliki daya jangkauan dan daya tahan yang lebih panjang dibandingkan dengan pesan dan nilai yang diucapkan.

Karya sastra yang berbentuk prosa, misalnya cerpen dan novel dapat berfungsi sebagai media dakwah yang bil hikmah (dengan kebijaksanaan) serta mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik). Pesan dan nilai kebaikan yang disampaikan dapat dikemas melalui alur cerita yang menarik, tokoh yang mampu menjadi teladan, serta penyelesaian konflik yang menyentuh hati pembaca. Karya sastra tersebut mampu memberi ruang empati maupun refleksi sehingga para pembaca sebagai mad’u dapat merasa terlibat secara emosional dalam alur cerita, bukan hanya sekedar menerima nasihat langsung secara pasif.

Baca juga: Strategi Dakwah dalam Menghadapi Tantangan Modernisasi

Hal tersebut sejalan dengan potongan ayat QS An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Selain itu, kekuatan tulisan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan maupun kebenaran juga diisyaratkan dalam QS Al-Qalam ayat 1:

نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.”

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pena dan tulisan dianggap sebagai media komunikasi yang baik dalam menyampaikan dan merekam nilai-nilai kebenaran. Dalam konteks dakwah bil qalam, karya sastra dianggap mampu menjadi media yang menggabungkan antara nilai estetika, kekuatan bahasa, sekaligus nilai kebaikan dan kebenaran. Nilai dan pesan dalam ajaran Islam mampu dikemas melalui keindahan diksi, sentuhan imajinasi, serta kedalaman makna sehingga lebih mudah meresap di hati dan pikiran pembaca. Karya sastra dapat bekerja melalui sugesti yang disampaikan sehingga pembaca dapat melakukan perenungan. Hal tersebut berbeda dengan ceramah yang biasanya bersifat intruksi secara langsung.

Karya sastra sebagai media dakwah merupakan salah satu wujud kreatif dari ajaran Islam. Melalui alur cerita dalam sastra, pembaca sebagai mad’u diajak untuk mengalami dan mengikuti perjalanan batin para tokoh, merasakan kegelisahan serta konflik, sampai pada pencerahan akhir yang didapatkan. Dengan demikian, tidak ada paksaan dialami pembaca dalam merenung dan mengambil hikmah. Hal tersebut merupakan salah satu kekuatan dakwah tanpa ceramah, yaitu melalui karya sastra. Nilai dan pesan kebaikan disampaikan dengan cara bijak, hikmah, serta lembut namun dampaknya dapat memberi kesan lebih lama.

Karya sastra bekerja bukan hanya menggunakan bahasa logika tetapi juga bahasa rasa. Pembaca tidak hanya diajak untuk memahami tetapi juga merasakan sehingga pembaca tidak merasa sedang diajari atau diceramahi, melainkan diajak untuk mengalami apa yang ada pada alur cerita. Dalam proses tersebut, semua pesan dan nilai ajaran Islam baik yang berupa aqidah, syariah, maupun akhlak mampu hadir secara alami. Pendekatan dakwah tersebut sesuai dengan konsep dakwah humanis atau dakwah yang memanusiakan manusia, yaitu dakwah yang mengutamakan empati dan perasaan dengan cara memahami latar belakang mad’u. Sehingga ajaran yang disampaikan tidak menimbulkan konflik maupun penolakan. Karya sastra mampu hadir untuk menjadi media yang ideal dalam menerapkan konsep tersebut.

Baca juga: Dakwah No Ribet: Antara Pahala Views dan Moderasi Beragama di TikTok 

Dakwah melalui ceramah di mimbar sebenarnya tetap sesuai dan relavan, namun penyampaikan pesan dan nilai ajaran Islam melalui karya sastra mampu membuka pintu dialog yang lebih luas dalam bidang dakwah. Media dakwah yang beragam dan fleksibel menjadi hal yang penting di tengah masyarakat yang memiliki pola pikir, latar belakang, serta kondisi yang juga semakin beragam. Mungkin ada beberapa mad’u yang enggan untuk mendengarkan ceramah tetapi justru mampu tersentuh oleh nilai dan pesan ajaran Islam yang tersirat di balik kisah cerita yang menarik serta inspiratif. Selain itu, tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kenyamanan untuk berdakwah melalui ceramah di mimbar. Ada sebagian yang mungkin merasakan minder bahkan insecure jika harus ceramah di depan khalayak.

Di sisi lain, ada khalayak dari kalangan non muslim yang mungkin belum bersedia menerima ajaran Islam secara langsung. Maka karya sastra memberi kesempatan bagi semua khalayak untuk mengakses nilai kebaikan dan kebenaran dalam ajaran Islam tanpa sekat apapun. Novel, cerpen, maupun puisi dapat dibaca kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja melampaui batas waktu, geografis, sosial, budaya maupun agama. Dengan demikian, karya sastra sebagai media dakwah tidak hanya menjangkau lebih banyak khalayak, tetapi juga mampu menjangkau hati yang mungkin belum mampu tersentuh melalu dakwah ceramah secara konvensional.

Ajaran Islam atau nilai dakwah yang bersumber dari Al Quran maupun Hadits mencakup tiga pokok utama, yaitu aqidah, syariah, serta akhlak. Ketiga pokok utama ajaran tersebut dapat diimplementasikan secara kreatif melalui unsur intrinsik karya sastra. Kemampuan untuk membungkus ajaran Islam dalam alur cerita yang menarik, memikat, dan inspiratif merupakan kekuatan utama karya sastra sebagai media dakwah. Pada dasarnya manusia senang dengan cerita, bahkan dalam Al Quran sendiri banyak memuat kisah untuk menyampaikan ajaran Islam. Misalnya kisah para nabi dan rosul, kisah umat terdahulu, serta kisah peristiwa penting. Ajaran Islam dalam kisah tersebut bukan hanya disampaikan melalui perintah langsung, tetapi juga melalui rangkaian alur cerita yang menarik dan menyentuh hati. Oleh sebab itu, penulis muslim sebagai da’i dapat menggunakan cara yang sama yaitu menggunakan alur cerita untuk mengimpementasikan nilai dakwah tersebut.

Akan tetapi, manjadikan karya sastra sebagai media dakwah bukan suatu hal yang mudah. Ada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kualitas cerita dengan nilai dakwah yang ingin disampaikan agar karya sastra menjadi media dakwah yang estetis sekaligus efektif. Jika penulis terlalu fokus pada pesan dakwah secara eksplisit maka karya terasa kaku dan kehilangan daya tarik serta kehilangan estetika. Sebaliknya, jika penulis hanya mengutamakan daya tarik dan estetika maka pesan dakwah menjadi tidak jelas. Maka dibutuhkan keterampilan untuk menulis sastra sebagai media dakwah. Penulis muslim sebagai da’i harus memiliki pengetahuan tentang ajaran Islam agar pesan yang disampaikan tidak keliru. Di saat yang bersamaan, penulis juga harus menguasai keterampilan menulis kreatif sastra agar memiliki teknik untuk mengembangkan alur yang menarik, membangun penokohan, serta dialog yang terkesan hidup.

Kertas dan layar komputer atau gadget merupakan mimbar dakwah yang mampu menjangkau lebih banyak khalayak daripada mimbar fisik secara langsung. Melalui sastra, penulis sebagai da’i dapat menghadirkan wajah Islam yang ramah, santun, serta penuh kasih sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Dakwah melalui karya sastra tidak akan menyakiti, tidak terkesan menggurui, dan tidak menghakimi. Dakwah yang humanis menjadi suatu kebutuhan di tengah derasnya arus informasi maupun fenomena polarisasi dan perpecahan sosial. Dalam menyerukan kebaikan dan kebenaran tidak selalu membutuhkan suara yang lantang tetapi juga bisikan yang lembut menyentuh hati. Maka karya sastra hadir menjadi bisikan yang membawa ajaran sekaligus wajah Islam yang damai dan memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, dakwah humanis tanpa ceramah yang salah satunya melalui karya sastra bukan hanya mungkin tetapi juga semakin relevan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta

Penulis: Prof. Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag*), Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Di tengah perubahan iklim dan krisis lingkungan global kian mengkhawatirkan, dunia pendidikan dituntut untuk menghadirkan solusi yang bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh akar spiritual dan etis manusia. Tokoh teolog Leonardo Boff, dalam bukunya Cry of the Earth, Cry of the Poor, menyatakan bahwa “krisis ekologis sejatinya adalah krisis spiritual dan etika.” Menurut Boff, manusia telah memutus relasi suci dengan alam karena sistem pendidikan dan ekonomi yang terlalu antroposentris, memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.

Kerap kali trilogi dalam ajaran Islam yang ditekankan adalah rukun Iman dan Rukun Islam. Kedua aspek ini memang menjadi fondasi utama keislaman seorang Muslim. Namun, kita sering melupakan dimensi yang ketiga, yakni Ihsan. Padahal, Ihsan adalah puncak dari spiritualitas Islam, sebagaimana sabda Nabi: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ihsan menuntut kehadiran rasa cinta, kedalaman rohani, dan kesadaran etis dalam setiap tindakan manusia. Tanpa Ihsan, iman dan Islam berpotensi berhenti pada formalitas, sekadar keyakinan dan ritual, tanpa menyentuh makna terdalamnya. Ihsan inilah yang memberi ruh, menumbuhkan kepedulian, dan menjadikan agama hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Baca juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Dalam konteks pelestarian lingkungan, Ihsan dapat dimaknai sebagai sikap menghadirkan Allah dalam relasi kita dengan alam. Menjaga kebersihan, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, hingga merawat bumi adalah bagian dari ibadah ihsaniyyah. Dengan demikian, tindakan merusak lingkungan bukan sekadar persoalan sosial yang tidak terpuji, melainkan juga cermin dari hilangnya kesadaran rohani dalam menjaga amanah Allah terhadap bumi.

Hal ini selaras dengan pesan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam pembukaan MTQ 2025. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an melalui ayat-ayatnya memberikan perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan. “Sebagai umat Islam, kita harus membuktikan bahwa Al-Qur’an menekankan pentingnya pelestarian lingkungan sebagai sebuah keharusan,” ujarnya. Lebih lanjut Menag Nasaruddin mengungkapkan bahwa , Al-Qur’an sejak awal telah menjelaskan jika segala sesuatu yang ada di alam bertasbih dan memuji Allah. Dengan begitu tidak ada benda mati di alam ini.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Di sinilah letak relevansinya dengan Kurikulum Cinta. Kurikulum ini tidak sekadar menekankan aspek kecerdasan intelektual, melainkan juga menumbuhkan rasa, empati, dan kesadaran ekologis yang berlandaskan pada nilai-nilai Ihsan. Menurut Haidar Bagir Ihsan menuntun manusia untuk melihat kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya, sehingga hubungan dengan alam bukan lagi sebatas interaksi fungsional, melainkan wujud ibadah yang penuh kesadaran.

Cinta, dalam tradisi Islam, bukan hanya urusan rasa antar manusia, tetapi juga melibatkan dauq Rohani pengalaman batin yang menumbuhkan kesadaran holistik tentang keberadaan. Cinta adalah rasa, bukan semata pengetahuan. Karena itu, mengajarkan cinta tidak cukup melalui teori, melainkan harus melalui pengalaman langsung (dauq cinta) yang menumbuhkan kepekaan, empati, dan kepedulian.

Mengajarkan cinta dalam pendidikan berarti menuntun peserta didik untuk tidak hanya memahami teori ekologi di ruang kelas, tetapi juga mengalami langsung keindahan, kerapuhan, dan keterhubungan alam. Misalnya melalui kegiatan menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, merawat taman, atau melakukan riset kecil tentang keberlanjutan lingkungan. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses dauq cinta belajar dengan rasa, bukan sekadar dengan nalar.

Jika ilmu diibaratkan sebagai cahaya, maka cinta adalah panas yang menghangatkannya. Ilmu tanpa cinta berisiko menjadi kering, reduktif, bahkan eksploitatif. Sementara ilmu yang disertai cinta akan melahirkan kesadaran etis. Inilah yang dalam perspektif ilmu ushul Fiqh menjadi fondasi maqāṣid al-sharī‘ah menjaga kehidupan, akal, keturunan, harta, agama, dan pada akhirnya menjaga alam semesta sebagai amanah Allah. Ia adalah ekspresi dari dauq rohani yang menjadikan manusia bagian dari ekosistem kasih sayang Tuhan.

Dengan cara ini, cinta terhadap alam tidak berhenti pada slogan, melainkan menjadi kesadaran iman yang terinternalisasi. Cinta terhadap lingkungan harus ditanamkan lewat pengalaman merasakan keindahan alam, praktik peduli lingkungan, dan pembiasaan etika ekologis. Cinta berfungsi sebagai energi rohani yang menumbuhkan kesadaran peserta didik belajar bahwa mencintai dan melestarikan lingkungan adalah bagian dari mencintai Sang Pencipta. Kurikulum Cinta, dengan demikian, hadir sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, pengalaman spiritual, dan tanggung jawab ekologis, sehingga pendidikan benar-benar melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berihsan dalam menjaga bumi.

Maka, pendidikan berbasis cinta bukan hanya melahirkan manusia yang berempati pada sesama, tetapi juga manusia yang peduli pada kelestarian bumi. Sebab, tanpa cinta, lingkungan akan terus dieksploitasi. Namun dengan cinta, manusia melihat alam sebagai bagian dari dirinya, sehingga pelestarian lingkungan bukan kewajiban eksternal, melainkan kebutuhan ruhaniyah.

*) Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Menyelami Makna dan Keunikan di Balik Festival Bubur Suro Krapyak Kota Pekalongan

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Menyambut tahun baru Hijriah menjadi hal yang penuh suka cita bagi setiap umat muslim. Seperti yang dirasakan oleh masyarakat Kota Pekalongan, khususnya wilayah Krapyak dalam menyambut acara tahunan ini.

Setiap memasuki bulan Muharram (Suro) masyarakat Kelurahan Krapyak mengadakan acara tahunan berupa Festival Bubur Suro. Sebuah acara yang kental akan tradisi ini lahir dari kebiasaan dan spiritual masyarakat. Sesuai penamaannya, Festival Bubur Suro diambil dari bulan pertama dalam kalender Jawa yaitu Suro.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Tradisi yang diselenggarakan sejak tahun 2019 ini bukan hanya perayaan, namun menjadi wujud dari rasa syukur, kebersamaan, serta pelestarian budaya yang maknanya sangat mendalam bagi masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaan tradisinya, masyarakat Krapyak membagikan ribuan porsi bubur. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur dan sedekah atas karunia Allah SWT. Ditinjau dari sisi historis, tradisi bubur suro ini merupakan interpretasi dari kisah Nabi Nuh dan pengikutnya, di mana kapal yang ditumpangi selamat dari bencana banjir bandang, kemudian mereka memasak makanan dengan bahan seadanya untuk dinikmati bersama. Seperti wadah yang digunakan untuk bubur tersebut yaitu takir yang berbentuk melengkung menyerupai kapal Nabi Nuh.

Tentunya bubur suro ini menggambarkan keberagaman, sebagaimana yang terdapat di dalam bubur yang terdiri dari macam-macam bahan, rempah, kacang-kacangan, dan diolah dengan tujuh toping lainnya. Dalam proses pembuatannya pun melibatkan banyak orang, tentunya tergambarkan betapa kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Keunikan juga tergambarkan dari rangkaian acara Festival Bubur Suro yang kental akan pelestarian budayanya. Seperti terselenggaranya acara tahun ini yang mengusung tema “Merawat Jejak Luhur” dengan menonjolkan nilai-nilai tradisi, serta kearifan lokal. Ornamen yang digunakan dalam dekorasi acara pun dirancang penuh dengan sentuhan lokal yang menggunakan bambu dan kayu sebagai konsep dekorasi utama. Rangkaian acara pun menjadi simbol betapa masih kuatnya pelestarian budaya yang tersaji dalam acara ini. Seperti Kirab Gunungan Bubur Suro yang memiliki simbol harapan dan doa, pentas budaya seni yang menghadirkan musik keroncong, hingga bazar makanan dari berbagai jenis generasi baik tradisional maupun modern. Kegiatan ini pastinya memberikan banyak peluang bagi masyarakat baik perekonomian serta rasa gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Krapyak.

Tradisi ini mengundang banyak antusiasme masyarakat serta menjadi kebanggaan lokal yang tentunya memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk menjaga tradisi setempat. Festival Bubur Suro ini menjadi cerminan kearifan lokal serta semangat gotong royong masyarakat Krapyak Kota Pekalongan. Di balik pemaknaan sebuah bubur tersimpan rasa syukur, harapan, serta kebersamaan masyarakat yang selalu dirayakan secara turun-temurun.

Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.