Implementasi Moderasi Beragama: Belajar Dari Masyarakat Papua

Implementasi Moderasi Beragama: Belajar Dari Masyarakat Papua

Penulis: Tim Hijratuna

Papua adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Nugini bagian barat, atau biasa disebut sebagai west New Guinea. Papua disebut sebagai Papua  Barat karena nama Papua bisa merujuk pada seluruh wilayah di Pulau Nugini, termasuk pula belahan timur negara tetangga yakni East New Guinea atau Papua Nugini. Papua juga terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan. Pulau Papua memiliki ekosistem yang beragam seta warisan budaya yang khas. Tak hanya itu, Papua juga menjadi rumah bagi banyak suku unik dan asli dengan berbagai bahasa, adat istiadat dan tradisi yang kaya khas masing-masing. Jika membahas tentang Papua, masih banyak orang yang salah kaprah dengan mengira bahwa provinsi ini cukup tertinggal dan tak tersentuh infrastruktur serta masih sangat kental akan kegiatan kesukuannya.

Padahal Papua tak jauh berbeda dari provinsi-provinsi lain yang ada di negara kita Indonesia. Provinsi Papua juga memiliki sarana dan prasarana yang sama seperti di beberapa provinsi di Pulau lainnya, hanya saja memang penduduk setempat masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan budaya yang mereka miliki. Alhasil Papua masih kental akan budayanya yang beragam, meski diterpa banyak pengaruh serta perubahan zaman. Hal itu pula yang menjadi alasan utama adanya toleransi yang kuat dan saling menghargai perbedaan di provinsi tersebut dalam hal apapun, termasuk toleransi antar umat beragama.

Pada tahun 2022 kemarin, tepatnya pada bulan Juli mahasiswa dari UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan mengikuti KKN Nusantara yang bertempat di Provinsi Papua. Pengalaman serta pelajaran yang tak ternilai juga mereka dapatkan, seperti bisa berbaur dengan masyarakat setempat yang memiliki pemikiran kritis terhadap isu-isu yang ada serta belajar bagaimana menghidupkan sebuah desa. Berbagai program kerja dan rangkaian kegiatan tercanangkan dengan baik serta maksimal dengan antusiasme warga setempat. Program kerja bisa lebih efisien pula karena keikutsertaan masyarakat dalam penyusunannya dan pemikiran kritis yang mereka miliki.

Berdasarkan keterangan dari Elok Widiana Sukmawati dan Sofyan mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan angkatan 2019, ada beberapa tantangan yang mereka hadapi selama berada di provinsi Papua. Hal ini lumrah terjadi, seperti halnya sebuah kegiatan di tempat-tempat baru. Mahasiswa dari luar Provinsi Papua tentu memerlukan adaptasi khususnya pada kendala bahasa, penerapan norma budaya yang berbeda dari tempat asal mereka. Serta bagaimana mereka harus berhati-hati dalam memilih dan mencari makanan halal, karena mayoritas penduduk di sana merupakan penganut agama Nasrani.

Selama kegiatan KKN berlangsung ada banyak pelajaran yang didapat, termasuk nilai-nilai moderasi beragama yang diimplementasikan oleh warga setempat dan menjadi sumber inspirasi bagi para mahasiswa. Selain sikap toleransi yang dijunjung tinggi, masyarakat juga masih sangat mencintai tanah air mereka. Ini bukan omong kosong belaka, karena masyarakat Provinsi Papua masih mempertahankan nilai-nilai budaya mereka serta menjalankan peraturan maupun kegiatan adat dengan baik. Semua masyarakat memiliki sikap tersebut, dibuktikan dengan ketaatan mereka terhadap peraturan-peraturan adat setempat oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tak hanya itu, masyarakat Papua juga tidak mempermasalahkan perbedaan, adapun perkelahian atau konflik muncul karena konflik internal masyarakat atau suku. Biasanya ini terjadi karena perebutan wilayah atau miskomunikasi yang terjadi. Oleh karena itu, masyarakat memerlukan pendekatan dengan komunikasi interpersonal secara langsung dan intens serta dilakukan secara berkala. Sejatinya nilai-nilai moderasi beragama dapat dilakukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia yang hidup ditengah berbagai perbedaan haruslah saling menghargai. Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang dimiliki sama seperti masyarakat Papua juga diperlukan. Dengan begitu kita bisa hidup berdampingan dnegan damai dan harmonis tanpa adanya perpecahan, itu lah tujuan utama dari adanya moderasi beragama.

KHUTBAH JUMAT-HIDUP MENCINTAI KERUKUNAN MENGHINDARI KEKERASAN

penulis : tim Hijratunaa

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, dan tak lupa sholawat serta salam kita sanjungkan kepada Rasulullah SAW, semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir.

Hadirin semuanya pertama-tama kita tak lupa untuk selalu mengingat kepada pencipta alam semesta yaitu Allah SWT yang selalu memberikan nikmat dan keberkahan. Tak lupa untuk mematuhi segala perintah dan menjauhi larangannya. Allah SWT begitu luas baiknya anugerah kepada semua makhluk dengan penuh kelembutan, dengan penuh kasih sayang yang tak ada batasnya.

Berkaitan dengan hal ini, Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran [3]: 159).

Oleh karena itu, manusia diajarkan untuk selalu memberikan kebaikan-kebaikan kepada sesamanya. Kebaikan bisa berupa dengan tolong menolong dan menjalin silahturahmi agar selalu rukun. Kadang kala yang namanya manusia tak luput dari salah, entah itu di sengaja atau tidak namun perbuatan itu bisa menimbulkan salah paham antar kita. Sehingga hal itu bisa menjadi boomerang bahkan perpecahan atau kekacauan.

Untuk mencegah masalah-masalah yang berakibat kepada perpecahan, kita sebagai manusia hendaknya bersikap lemah lembut dalam artian tindakan menyelesaikan tidak dengan kekerasan. Banyak dari kita semua kadang lupa jika marah atau tak sengaja di singgung langsung bertindak keras atau kasar. Justru tindakan tersebut salah karena dengan pikiran yang yang penuh emosi atau dendam dan bahkan langsung bertindak kekerasan akan sangat berbahaya.

Dalam surat An-nisa ayat 148 juga dijelaskan bahwa ketika kita mengucapkan sesuatu harus di perhatikan agar terhindar dari hal-hal buruk, karena ucapan adalah doa.

لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الۡجَــهۡرَ بِالسُّوۡٓءِ مِنَ الۡقَوۡلِ اِلَّا مَنۡ ظُلِمَ‌ؕ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيۡعًا عَلِيۡماً

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( An-nisa ayat 148 )

Penjelasan dalam ayat itu menyebutkan apabila kekerasan tidak hanya pada kekerasan fisik tapi bisa juga menyangkut kekerasan verbal atau dari perkataan. Sehingga segala bentuk kekerasan sangat dilarang sebab akan merugikan satu sama lain. Pentingnya kita semua menjaga ucapan dan tindakan agar tidak berdampak pada kekerasan fisik atau verbal. Apalagi era digital ini yang memungkinkan interaksi pada media sosial, perhatikan tulisan atau pesan yang terupload di media. Selain itu media bisa berdampak buruk jika kita tidak memanfaatkan dengan hal-hal yang baik.

Dari sisi moderasi beragama yang memiliki nilai anti kekerasan, sangat membantu dalam mencegah timbulnya akibat dari kekerasan. Moderasi agama menjunjung tinggi terciptanya perdamaian di segala perbedaan agar tidak terjadi perpecahan antar umat, suku bahkan ras. Menjaga kerukunan satu sama lain dan bertindak sesuai aturan yang akan bisa jadi solusi pentingnya menjaga diri dari kekerasan. Apabila ada kata-kata menyinggung atau menyudutkan usahakan pikiran kita dalam keadaan dingin, selesaikan masalahnya baik-baik. Upaya lain yang bisa dilakukan contohnya dengan diam jika berbicara akan menimbulkan kegaduhan.

Mencintai kerukunan sekaligus menghindari kekerasan pada dasarnya tidak hanya ditunjukkan pada orang lain, tapi dampaknya dirasakan bagi diri sendiri. Orang yang selalu hidup rukun, berbaik sangka, tidak pernah menyimpan dendam, prasangka dan kebencian, hidupnya akan selalu damai. Sehingga, hari-hari yang dilalui selalu diwarnai dengan kebahagiaan

Menyemai Kerukunan Bangsa Melalui KKN

Berbicara mengenai moderasi beragama tanah tojara menjadi center atau miniatur moderasi beragama. Toleransi yang amat kuat dimiliki oleh seluruh masyarakat daerah setempat. Berlokasi di Sulawesi Selatan, dominasi agama di sana mayoritas ialah nasrani baik katolik maupun protrestan. Akan tetapi masyarakat setempat dapat hidup berdampingan dan menerima baik masyarakat yang beragama lain khususnya islam. Secara umum masyarakat dapat hidup rukun dan damai dalam kehidupan sehari hari. Ketika terdapat kegiatan kemasyarakatan yang bersifat umum mereka akan saling bergotong royong mensukseskan acara atau kegiatan tersebut tanpa membeda bedakan. Saat ada kegiatan yang bersifat keagamaan masyarakat secara spontan akan saling mentoleransi dan tolong menolong dalam mensukseskan kegiatan yang akan berlangsung seperti ketika kaum muslim akan mengadakan acara maulid nabi, masyarakat non muslim lainnya akan membantu memeriahkan acara tersebut begitu pula sebaliknya.

Kaum muslim akan membantu dan mentoleransi kegiatan keagamaan kaum nasrani seperti periangatan kenaikan Isa Almasih. Masyarakat akan saling menghargai perbedaan tanpa mencampuradukan aqidah mereka masing masing. Berdasarkan keterangan dari mahasiswa yang mengikuti KKN Nusantara “moderasi beragama” yang ditempatkan di Tanah Toraja mengatakan bahwa pandangan masyarakat setempat mengenai umat muslim dan juga perbedaan, semua orang memiliki kedudukan dan derajat yang sama tidak ada perbedaan baik suku, ras, budaya, kasta, etnik, maupun agama. Sebisa mungkin mereka memperlakukan secara adil dengan prinsip saling memanusiakan manusia.

Mulanya para mahasiswa yang berasal dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan merasa kesulitan tinggal di daerah tersebut lantaran kesulitan mencari bahan makanan yang halal. Selain itu mereka juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi terkait norma kebudayaan setempat terkait tindak tanduk mereka selama KKN berlangsung. Sebanyak empat mahasiswa UIN Gusdur di kirim ke Tanah Toraja untuk mengikuti program kuliah kerja nyata selama 40 hari.

Selama berada di Tanah Toraja ada beberapa kegiatan yang telah direalisasikan seperti lomba kebersihan dan menghias kelas di tingkat sekolah dasar, launching produk dan sosialisasi digital marketing, hingga beberapa sosialisasi lainnya. Dengan adanya beberapa kegiatan tersebut sangat diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat serta peserta KKN itu sendiri. Moderasi beragama tidak hanya berfokuskan pada kegiatan keagamaan melainkan dapat terwujud dalam aspek kehidupan lainnya.

Melalui program KKN, mahasiswa diajak untuk terbiasa bergaul, berkomunikasi serta menjalin kerjasama dengan komunias agama yang berbeda. Kerukunan beragama memang harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Pada tataran asumsi, perbedaan seringkali memicu terjadinya prasangka. Hal ini menyulitkan bagi tersemainya kerukunan anak Bangsa. Setiap anak Bangsa pada dasarnya memiliki jiwa yang sama, mencintai tanah airnya. Program KKN lintas agama membuktikan hal ini dilakukan dengan damai, saling membantu, menghargai, menghormati dana bekerjasama…

BERSATU DALAM PERBEDAAN: BELAJAR DARI TIMNAS INDONESIA

Pada gelaran laga kualifikasi piala asia U-23 antara Timnas Indonesia melawan Turkmenistan yang digelar di Stadion Manahan Solo selasa, 12 September 2023 membawa kabar baik bagi Timnas Indonesia yang lolos ke putaran final piala asia U-23 di Qatar usai membobol gawang Turkmenistan 2-0. Dengan akumulasi enam poin dari dua pertandingan, Indonesia dipastikan jadi juara grup K dan berhasil lolos ke putaran final piala Asia U-23.

Kemenangan ini menorehkan sejarah baru dalam dunia sepak bola Indonesia karena untuk pertama kalinya garuda Indonesia bermain ditunamen tersebut. Sejak digulirkan pertama kali pada 2013 silam sudah ada enam edisi piala AFF U-23 namun tak sekalipun Indonesia lolos keputaran final. Pada 2022 lalu Indonesia hanya menjadi runner up grup G setelah gagal menaklukan Australia.

Tidak hanya Indonesia ada beberapa negara ASEAN yang melaju ke babak final yaitu Vietnam dan Thailand yang lolos sebagai juara grup serta Malaysia yang lolos usai menjadi runner up terbaik. Namun sejauh ini AFC belum merilis jadwal lengkap piala asia U-23 tapi secara umum jadwal penyeleggaraan sudah rilis, piala Asia akan digelar pada 15 April hingga 23 Mei 2024. Terdapat fakta menarik dari gelaran ini, ajang piala AFC juga menjadi kualifikasi untuk olimpiade musim panas 2024 di Prancis. Nantinya akan ada tiga wakil Asia yang bermain di olimpiade tersebut. Tiga tim diambil dari dua finalis dan peringkat ketiga piala Asia U-23.

Dalam rangkaian pertandingan semifinal Timnas melawan Thailand tepatnya di bulan Agustus lalu Indonesia berhasil menakluklan lawan mainnya dengan skor 3-1. Pada pertandingan tersebut ada sebuah momen menarik ketika tiga pemain Timnas melakukan selebrasi atas kemenanganya, yaitu Frenky Missa, Kelly Sroyer, dan Arkhan Muhammad. Mereka bertiga melakukan selebrasi sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Sikap yang mereka lakukan tersebut menuai banyak perhatian dan pujian warganet. Hal tersebut menunjukan besarnya rasa toleransi yang mereka miliki, sesuai dengan semboyan Indonesia yakni Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetaPi tetap satu jua).

Sikap dari tiga pemain Timnas tersebut sarat akan nilai nilai moderasi beragama yang menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama dan menghargai perbedaan. Di zaman Rasulullah SAW sikap toleransi telah diperlihatkan secara jelas ketika beliau memperlakukan ahli kitab baik yahudi maupun nasrani dengan menghormati dan memuliakan mereka. Rasulullah juga sering mengunjunginya dan jika diantara mereka ada yang sakit beliau  pun menjenguknya. Meskipun perbedaan amat kentara diantara mereka namun Rasul tidak membatasi interaksi dengan umat yang berbeda agama serta tetap mengayominya seperti beliau memperlakukan umatnya. Berdasarkan teladan Rasulullah dan juga sikap tiga pemain timnas Indonesia u-23 kita bisa mengambil pelajaran yang amat berharga terkait toleransi dan menghargai perbedaan. Tak ada alasan bagi kita untuk membedakan orang lain meskipun terdapat differensasi dalam banyak hal seperti suku, ras, budaya, etnik, bahasa, hingga agama. Perbedaan merupakan sunatullah atau ketetapan-Nya yang tidak bisa ditolak. Karenanya, perbedaan tidak boleh menghalangi kita untuk bersaudara, Bersatu, bersama-sama membangun kehidupan yang sejuk, damai, toleran, saling menghargai antara satu dan lainnya.

Politik Identitas dan Moderasi Beragama : Upaya Mencari Keseimbangan

Perhelatan pesta rakyat berupa pemilihan umum atau biasa disingkat dengan pemilu sebentar lagi akan segera dihelat pada tahun 2024. Hiruk pikuk kontestasi politik antar aktor politik untuk merebut simpati dan suara masyarakat sudah sangat terasa intensitasnya. Wajar kiranya jika tahun-tahun ini lantas disebut sebagai “tahun politik” dengan masifnya kegiatan politik yang dilakukan. Secara sederhana, pemilu seharusnya menjadi sebuah ajang untuk merefleksikan kembali tujuan negara. Refleksi tersebut akan berbuah ide, gagasan tentang apa yang perlu diperbaiki, ditambah, atau dilanjutkan dalam konteks tercapainya tujuan nasional yang tercantum dalam konstitusi kita. Dalam sistem demokrasi perwakilan yang kita anut, ide dan gagasan tersebut dapat kita salurkan melalui wakil rakyat yang kita pilih dalam pemilu tersebut. Namun dalam realita, banyak narasi ekstrim atau gerakan yang menodai proses tersebut salah satunya adalah memainkan isu identitas dalam upayanya memperoleh suara dari masyarakat. Permainan tersebut jamak didengar dalam sebuah konsep bernama politik identitas.

Praktek politik identitas dalam kontestasi pemilu dapat kita lihat beberapa tahun belakangan ini utamanya sangat marak saat perhelatan Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Dalam Pilkada tersebut tampak sekali penggunaan identitas agama untuk menciptakan polarisasi antar pemilih, dimana kita semua tahu bahwa pertarungan final calon Gubernur terjadi antara dua calon yang memiliki perbedaan agama. Keberhasilan praktek politik identitas utamanya karena perbedaan identitas agama pada pilkada tersebut nyatanya berlanjut pada pemilihan presiden 2019 berupa kampanye hitam yang menarasikan polarisasi identitas antar pasangan calon sehingga menimbulkan istilah “cebong” dan “kampret”. Dalam konteks bhineka tunggal ika maupun aktualisasi nilai-nilai pancasila, sangat jelas bahwa narasi politik identitas semacam ini sangatlah berbahaya karena bisa menimbulkan perpecahan bangsa dan lahirnya sentimen komunal. Selain itu, politik identitas juga dapat memicu konflik antar masyarakat yang berbeda identitas sehingga mengancam pluralisme dan demokrasi.

Sejarah politik identitas sebenarnya sudah mulai muncul di Amerika Serikat tahun 1960-an sebagai sebuah gerakan perjuangan hak dari kaum minoritas kulit hitam yang menuntut persamaan hak mereka dengan kaum kulit putih. Ilmuwan sosial sendiri baru tertarik pada isu politik identitas sekitar tahun 1970an ketika mereka dihadapkan pada pada masalah-masalah sosial seperti minoritas, gender, ras, etnisitas dan kelompok sosial lainnya yang merasa terpinggirkan serta merasa teraniaya. Melihat fakta sejarah tersebut, tampak bahwa politik identitas pada awalnya berkembang sebagai sebuah gerakan positif yang berisi ide-ide tentang keadailan. Tuntutan terhadap sebuah kesamaan hak dan keberpihakan pada kaum minoritas sehingga menghilangkan adanya diskriminasi dalam sebuah sistem politik. Hal tersebut senada dengan pernyataan Abdilah dalam bukunya politik identitas etnis, bahwa politik identitas bisa dimaknai sebagai sebuah gaya politik yang berusaha melawan marginalisasi kelompok dengan merangkul kesamaan identitas kolektif (sosial, budaya, dan agama) dari komunitas yang memiliki kesamaan pengalaman tertindas dan tersingkir oleh dominasi arus besar dalam sebuah bangsa atau negara.

Apabila dibandingkan dengan realita politik yang ada sekarang, politik identitas sendiri seperti pisau bermata dua yang bisa berdampak negatif, maupun positif, tergantung siapa yang menggunakan pisau tersebut. Pada satu sisi negatif, politik identitas digunakan oleh sekelompok elit yang menggunakan politik identitas sebagai sebuah instrumen untuk mendapatkan kekuasaan tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang akan ditimbulkannya yaitu perpecahan bangsa karena adanya polarisasi identitas. Sedangkan dari sisi positif, penggunaan politik identitas bisa digunakan secara lebih bijak untuk mengaktifkan energi kebersamaan dan kesetaraan serta menghapus adanya diskriminasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Agnes Heller seorang aktivis politik kebangsaan Hongaria dalam buku yang ditulis oleh Abdillah, dimana politik identitas dapat memunculkan toleransi dan kebebasan. Namun memang di saat yang sama, politik identitas juga akan memunculkan pola kekerasan dan pertentangan etnis.

Kontra narasi politik identitas khususnya berkaitan dengan identitas agama, dapat dilakukan melalui narasi dan gerakan moderasi beragama yang sedang gencar dilakukan secara struktural oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Moderasi beragama adalah sebuah gagasan dimana dalam masyarakat yang beragam secara agama, individu-individu dari latar belakang agama yang berbeda dapat hidup bersama secara damai dan harmonis. Moderasi beragama mendorong dialog, penghargaan terhadap perbedaan, dan penolakan terhadap ekstremisme agama. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang inklusif dan saling menghormati. Jauh sebelum Indonesia merdeka, cara beragama orang Nusantara yang bercorak damai dan anti kerusakan telah dilakukan. Mereka lebih menyukai moderasi daripada ekstremitas.

Oleh karena itu, untuk mengangkat sisi positif politik identitas, yang mengangkat ide berkaitan dengan perjuangan keadilan, kesetaraan, dan kebebasan, gerakan moderasi beragama ini bisa menjadi penyeimbang dari giat politik identitas agama yang tidak mungkin terelakkan dalam kontestasi pemilu. Penanaman nilai-nilai moderasi beragama berupa toleransi, cinta tanah air akan menjadi obat mujarab bagi giat politik identitas yang mengarah pada polarisasi identitas. Dalam konteks kebangsaan cinta tanah air, para elite partai politik perlu diberikan edukasi mengenai moderasi beragama sehingga nantinya dalam kampanye, yang menjadi senjata bukanlah ide politik identitas namun politik berbasis akal sehat dan narasi yang berbasis gagasan. Sedang dalam kontek nilai toleransi, identitas agama, bukan merupakan suatu hal untuk dipertandingkan, tetapi merupakan suatu bentuk perbedaaan yang sudah menjadi fitrah dan melalui sesuatu yang berbeda tersebut kita bisa saling menghargai satu sama lain.

Selain dalam kontek pemilu, melalui pemahaman moderasi beragama dalam praktek politik identitas juga bisa dilakukan untuk menghadapi ketidakadilan. Saat ini dapat kita lihat banyak fenomena ketidakadilan dalam praktik sosial kemasyarakatan. Sebagai contoh, politik identitas sebagai alat untuk mencari keadilan dalam sistem hukum. Kelompok perempuan berjuang menggunakan identitas politik sebagai perempuan untuk menciptakan regulasi hukum yang lebih adil bagi mereka. Di sisi lain, ada kaum buruh berusaha memperjuangkan hak-hak kelompok buruh agar diperlakukan secara adil dari sisi ekonomi. Perjuangan tersebut dapat dilakukan melalui cara-cara yang santun, saling menghargai, mengutamakan dialog sesuai nilai-nilai yang digaungkan gerakan moderasi beragama. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkan politik identitas yang dijiwai oleh moderasi beragama, namun hal tersebut sangat layak diperjuangkan jika Indonesia ingin menjadi bangsa besar yang menghargai perbedaaan, bukan mempermasalahkan perbedaaan.

 

Penulis: Muhammad Nuqlir Bariklana

Dosen FISIP UIN Walisongo Semarang

 

 

Belajar dari Prewedding dan Kebakaran Savana Bromo

Kegiatan Prewedding memakai flare di Bukit Teletubbies sebabkan kebakaran hutan dan lahan di Bromo semakin menggila. Polisi sudah tetapkan seorang tersangka yang menjadi penanggung jawab prewedding tersebut. Sementara lima orang lainnya yang terdiri dari pasangan dan crew wedding organizer telah diperiksa sebagai saksi. Kepala BB TNBTS  Hendro Winarko menyampaikan bahwa ada enam titik api yang sudah dipastikan padam dan menyisakan satu titik api di Gunung Watangan. Dilansir dari detik jatim Hendro menyampaikan pihaknya sedang fokus pada proses pemadaman api dan asap.

Setelah proses tersebut selesai baru akan diadakan identifikasi terkait seberapa luas lahan yang terbakar. Dalam keterangannya juga disampaikan bahwa akan diadakan kajian ulang terkait pembukaan wisatawan ke Gunung Bromo. Kebakaran tersebut mengakibatkan api merambat hingga kawasan Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Malang. Kabag BB TNBTS, Septi Eka Wadhani mengkonfirmasi bahwa kebakaran hutan terjadi sejak Rabu September lalu dan meluas hingga ke kawasan Bromo Hillside. Kebakaran juga membentuk semacama garis api yang memunculkan asap cukup tebal.

Dalam kasus kebakaran Flare prewedding tersebut menjadi tamparan keras untuk kita semua supaya lebih bijak dalam bertindak agar tidak mengakibatkan kerugian orang lain dan alam. Sejatinya manusia hidup di muka bumi sebagai khalifah bertugas menjadi perlindungan bagi umat dan menjaga kelestarian ekosistem serta kemakmuran. Sehingga dalam tindak-tanduk perlu diperhatikan sebab-akibatnya, jangan sampai tindakan yang kita lakukan berdasarkan keinginan dan ego semata.

Dalam moderasi beragama terdapat nilai cinta tanah air yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, berdasarkan kasus kebakaran di Bromo kita dapat melihat dampak yang ditimbulkan bagi alam akibat dari kecerobohan dan pemenuhan ego manusia. Islam juga mengajarkan untuk tidak merusak lingkungan, Nabi muhammad SAW  telah bersabda dalam hadits riwayat An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Ahmad yang artinya “Barang siapa menghidupkan tanah yang mati maka baginya pahala. Apa yang dimakan binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekah.”

Berdasarkan hadits tersebut Rasulullah menegaskan bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak bagi manusia itu sendiri. Pada dasarnya lingkungan tanpa adanya manusia akan tetap hidup, tetapi tidak dengan manusia yang tak mampu hidup tanpa adanya lingkungan. Sebagai manusia yang beriman baiknya kita menebarkan kedamaian dimanapun berada, sehingga sejalan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

Kasus kebakaran Savana Bromo mengingatkan kita untuk bersikap moderat, dan tidak berlebih-lebihan. Sebelum melakukan sesuatu, berbagai dampak yang ditimbulkannya harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Prewedding memang boleh-boleh saja, apalagi hanya dilakukan sekali seumur hidup. Meskipun begitu, jangan hanya atas nama sensasi, kemudian kita mempertaruhkan segalanya. Kelestarian alam untuk kehidupan adalah hal paling utama, dibandingkan sensasi yang sifatnya hanya sesaat.

PENDIDIKAN TOLERAN SEJAK DINI

 

Pendidikan agama merupakan bagian integral dari perkembangan karakter anak-anak. Keberagaman agama di Indonesia memberikan beberapa warna kehidupan serta menumbuhkan karakater toleransi beragama. Kebijaksanaan dan moderasi dalam bergama adalah kualitas yang sangat dihargai dalam masyarakat modern yang beragama. Bagi orang tua mengajarkan moderasi bergama bagi anak usia dini merupakan tantangan besar, berikut beberapa strategi dalam mengajari moderasi beragama untuk anak usia dini:

 

Memberikan dasar agama yang kuat

Pendidikan agama yang kuat menjadi dasar untuk mengajarkan moderasi. Anak-anak harus diperkenalkan kepada ajaran agama dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti. Seperti menggunakan cerita, nyanyian, dan aktivitas yang sesuai dengan usia mereka.

Model perilaku positif

Anak-anak adalah peniru yang ulung, dia akan menirukan apapun yang dilakuan oleh orang dewasa yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu penting bagi orang tua atau pengasuh untuk menjadi model yang baik dalam hal moderasi beragama. Tunjukkan kepada mereka bagaimana menjalani nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dengan sikap yang seimbang dan toleran.

Perkenalkan topik toleransi dan keragaman

Ajarkan anak-anak tentang keberagaman agama dan budaya. Bicarakan tentang bagaimana orang dapat memiliki keyakinan yang berbeda dan mengapa ini adalah hal yang baik.  Tekankan pentingnya menghormati perbedaan dan berbicara dengan sopan saat berdiskusi tentang agama.

Aktivitas yang relevan dengan usia

Ajarkan anak moderasi beragama sesuai dengan usia mereka. Untuk anak usia dini gunakan gambar, cerita, atau permainan yang sesuai untuk memberikan pemahaman yang sederhana tentang konsep-konsep agama.

Bimbingan dalam pertanyaan dan diskusi

Buka ruang diskusi bagi anak-anak untuk bertanya tentang agama. Jawablah pertanyaan mereka dengan jelas serta berikan contoh yang konkret dan relevan dengan kehidupan mereka. Dorong mereka untuk berbicara tentang pengalaman dan perasaan mereka terkait agama.

Libatkan dalam kegiatan keagamaan

Partisipasi dalam kegiatan keagamaan seperti ibadah, upacara atau festival dapat membantu anak-anak merasakan nilai-nilai agama secara langsung. Pastikan pengalaman ini positif dan memahami tingkat perhatian dan minat anak serta tidak keluar dari jalur agama yang dianutnya.

Ajarkan nilai-nilai universal

Selain ajaran tentang agama, ajarkan juga nilai-nilai universal seperti kasih sayang, kejujuran, kebaikan dan empati. Ini adalah nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam beragam aspek kehidupan dan dapat membantu anak mengembangkan moderasi beragama yang seimbang.

Pantau konten dan pengaruh media

Selalu memantau konten media yang dikonsumsi oleh anak. Pastikan materi yang mereka lihat dan dengar sesuai dengan uainya dan nilai-nilai moderasi bergama yang diajarkan. Diskusikan juga tentang bagaimana media dapat mempengaruhi pandangan mereka tentang agama.

Dorong pertanyaan dan pemikiran kritis

Ajarkan anak-anak untuk berfikir kritis tentang agama dan mempertanyakan apa yang mereka peajari . hal ini akan membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keyakinan agama mereka sendiri dan keyakinan orang lain.

Ciptakan lingkungan yang terbuka dan penuh cinta

Ciptakan lingkungan yang terbuka dengan penuh cinta dan mendukung di rumah. Anak-anak harus merasa nyaman berbicara tentang agama, bertanya dan berbagi pemikiran mereka tanpa takut dihakimi.

 

Mengajarkan moderasi beragama sangat efektif dilakukan sejak dini. Kebiasaan sejak dini akan menjadi kebiasaan dan melekat kuat pada kehidupan setelah dewasa. Indonesia merupakan Bangsa yang besar dan beragam. Pendidikan moderasi beragama, seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini. Inilah investasi dalam pembentukan karakter yang kuat terhadap toleransi. Dengan pendekatan yang cermat dan kasih saying, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang menghormati perbedaan, menjalani nilai-nilai agama dengan penuh kasih dan menjadi bagian positif dari masyarakat yang beragam.

Penulis: Ibdaul Latifah, Dosen UIN Salatiga

 

KHUTBAH JUMAT – MENGHEMAT AIR UNTUK KEHIDUPAN DAN KEMANUSIAAN

KHUTBAH JUMAT

penulis : tim Hijratunaa

MENGHEMAT AIR UNTUK KEHIDUPAN DAN KEMANUSIAAN

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, dan tak lupa sholawat serta salam kita sanjungkan kepada Rasulullah SAW, semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir.

Hadirin semuanya pertama-tama kita tak lupa untuk selalu mengingat kepada pencipta alam semesta yaitu Allah SWT yang selalu memberikan nikmat dan keberkahan. Tak lupa untuk mematuhi segala perintah dan menjauhi larangannya. Salah satu nikmat dari Allah SWT yang tak ada batasnya yaitu Air, sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di muka bumi ini. Air menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan karena setiap harinya air digunakan untuk semua hal. Bukan hanya manusia saja yang butuh air namun semua makhluk seperti hewan bahkan tumbuhan sangat butuh air untuk tetap hidup. Namun nikmat yang diberikan Allah SWT dalam bentuk Air tersebut kadang kala di sia-siakan oleh manusia. Banyak yang berfikir jumlah air yang sangat tidak terbatas membuat kita lalai dan menggunakan air berlebihan. Dalam sebuah hadis Rasulullah senantiasa mengingatkan agar kita semua bisa menghemat air.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ، وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud (air) dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud (air)” (HR. Bukhari no. 198 dan Muslim no. 325).

Riwayat hadis tersebut mengingatkan bahwa Rasulullah jika hendak berwudhu saja sangat mempertimbangkan jumlah air yang akan digunakan jadi bisa menghemat air. Rasulullah mengajarkan penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari harus menghemat. Meskipun pandangan kita jumlah air di dunia ini sangatlah banyak tapi tidak boleh berlebihan menggunakannya karena hal tersebut sangat dilarang oleh Allah SWT. Selain itu jika seluruh manusia di dunia berlebihan menggunakan air atau boros air memungkinkan di masa depan nanti bumi bisa kekeringan karena jumlah air semakin sedikit. Pengaruh air yang semakin berkurang pastinya akan berpengaruh pula pada kelangsungan makhluk hidup di bumi. Musibah Kekeringan bisa terjadi dimana-mana menimbulkan masalah besar lainnya seperti dehidrasi masal, kelaparan hingga aktivitas keseharian terhenti total.

Persoalan tentang air juga di terangkan dalam Al-Qur’an surat Al-anbiya ayat 30.

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

Artinya : “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”

Penggalan ayat tersebut memiliki 3 makna penafsiran yaitu yang pertama Allah menjanjikan keberlangsungan hidup seluruh manusia dari air. Kedua Allah menjamin hidup seluruh makhluknya. Ketiga Allah menjadikan Air sebagai sumber kehidupan.

Menghemat air menunjukkan keperdulian kita terhadap kehidupan dan kemanusiaan. Air merupakan sumber kehidupan. Melalui air, pertanian bisa produktif menghasilkan bahan makanan. Berbagai kebutuhan manusia, dari mulai minum, mandi, cuci baju dst selalu berkaitan dengan air. Kita memang membutuhkan air, tapi tidak boleh berlebihan dalam menggunakannya. Itulah sikap hidup yang berimbang (moderat)

Menjalani kehidupan serta sikap keagamaan yang moderat dapat menghasilkan berbagai kemaslahatan di dunia ini. Salah satunya bisa ditunjukkan dengan menghemat penggunaan air. Menghemat air, berarti juga perwujudan dari sikap cinta lingkungan, sekaligus cinta  tanah airSejatinya cinta tanah air merupakan perasaan yang timbul dari lubuk hati warga negara untuk menjaga, melindungi, membela dan mengabdi pada tempat yang mereka huni. Salah satu wujud kecil dari cinta tanah air adalah dengan menjaga lingkungan agar tetap asri dan layak sebagai tempat tinggal.

Tebarkan Kedamaian Majelis Ulama Indonesia Redam Berita Hoax Oklin Fia Jadi Duta MUI

Beberapa waktu lalu netizen Indonesia digemparkan dengan isu pengangkatan Oklin Fia sebagai Duta MUI. Sebelumnya nama Okin Fia mencuat setelah video yang dibuatnya viral lantaran dugaan adanya pelecehan agama. Kontroversi yang dibuatnya semakin memanas setelah PB SEMMI dan Umi Pipik melaporkannya kepihak berwajib.  Namun pada Selasa, 5 September 2023 lalu Oklin meminta maaf secara langsung kepada MUI terkait tindakannya. Budiansyah selaku kuasa hukum Oklin Fia justru mengklaim bahwa yang bersangkutan akan ditunjuk sebagai Duta MUI. Dalam keterangannya MUI menilai Oklin sebagai selebgram yang bisa menginspirasi para pemuda untuk berubah jadi lebih baik. Continue reading “Tebarkan Kedamaian Majelis Ulama Indonesia Redam Berita Hoax Oklin Fia Jadi Duta MUI”

Implementasi Moderasi Beragama: Menparekraf Ajak Delegasi KTT ASEAN Berkunjung Ke Belitung

Konverensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-43 resmi digelar di Indonesia, Jakarta berkesemapatan menjadi tuan rumah. Bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, pada 5-7 Sepetmber 2023. Adapun tujuan utama diselenggarakannya acara ini adalah untuk membahas perkembangan dan penguatan kerja sama anggota ASEAN dengan mitra eksternal. Ini berbeda dengan acara sebelumnya yang berlokasi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur yang membahas mengenai isu-isu internal serta isu penting dalam dan luar kawasan ASEAN. Setiap tahunnya KTT ASEAN digelar sebanyak dua kali oleh negara anggota yang memegang kekuatan pada tahun tersebut, dan tahun ini Indonesia berkempatan untuk menjadi tuan rumah baik KTT ASEAN ke-42 maupun 43.

Pada KTT ASEAN ke-43 ini terdapat beberapa rangkaian acara bersifat persidangan maupun non persidangan. Diawali dengan opening ceremony pada tanggal 5 September, kemudian dilajutkan diskusi oleh masing-masing delegasi negara yang hadir, dan ditutup dengan konferensi pers oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Sebagai ajang pertemuan pemimpin negara-negara di Asia Tenggara dan negara mitra KTT ASEAN ke-43 memiliki tujuan utama yakni menguatkan pencapian dan fondasi visi ASEAN 2045. Adanya KTT ASEAN ke-43 sebagai penguatan kelembagaan ASEAN baik dalam pembuatan keputusan yang efektif dan efisien di masa mendatang.

Dilansir dari laman resmi Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia setidaknya ada beberapa side event KKT ASEAN ke-43 yaitu ASEAN Bussiness Summit, The 30th ASCC Councill Meeting, ASEAN Investment Forum, AEC Councill For 43rd ASEAN Summit, ASEAN Plus Youth Summit, dan yang terakhir ialah kegiatan Post Event Trip di Belitung, Kepualauan Bangka Belitung. Menparekraf (Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Sandiaga Salahudin Uno merekomendasikan tempat tersebut atas beberapa alasan, yakni Belitung memiliki keberagaman geologis berupa lancape alam, bebatuan, mineral, proses geologis, dan tektonik, serta evolusi bumi. Belitung juga menyimpan perpaduan budaya, biologis, dan geografis yang berkaitan. Karena kelebihan potensial tersebut Belitung memperoleh gelar sebagai Globak Geopark.

Secara eksplisit tidakan Menparekraf tersebut merupakan perwujudan dari nilai moderasi beragama yaitu cinta tanah air. Dimana beliau berusaha untuk mengenalkan potensi alam dan budaya Indonesia ke kancah Internasional. Dengan demikian, moderasi beragama tidak sekedar berfokus pada ajaran keagamaan, melainkan dapat diimplementasikan melalui sikap cinta tanah air. Salah satunya dengan mempromosikan berbagai keunikan dan keunggulan tanah air, pada kancah Internasional. Sikap cinta tanah air juga merupakan sunnah Nabi yang utama, dimana beliau menegaskan untuk melindungi dan membangun tanah yang ditempati umatnya sebagai sebuah kewajiban.