Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Penulis: Naura Fatkhiana, Editor: Dwi Selma Fitriani

Ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang digelar pada 9–12 September 2026 sukses menjadi wadah pemersatu mahasiswa se-Jawa dan Madura. Cabang perlombaan yang dihadirkan sangat variatif. Dari bidang olahraga terdapat futsal, bola voli, dan panjat tebing; dari bidang seni ada kaligrafi dan film pendek; hingga bidang ilmiah semacam debat konstitusi dan rencana bisnis (business plan). Masing-masing cabang tentu menuntut tantangan dan kecakapan yang spesifik dari para pesertanya.

Di antara semaraknya kompetisi tersebut, perhatian saya tertuju pada lomba bercerita kreatif. Ajang ini mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang kedaerahan yang heterogen. Setiap peserta tampil memukau dengan membawa kekayaan cerita dan ciri khas budaya dari daerah masing-masing. Mereka menyuguhkan gaya bertutur, elemen kebudayaan, hingga karakter panggung yang unik dan otentik. Justru, perbedaan-perbedaan inilah yang membuat panggung pertunjukan terasa begitu kaya dan berwarna.

Dari panggung tersebut, saya menyadari bahwa sebuah perlombaan bisa menjelma menjadi ruang edukasi tentang kebinekaan. Selama ini, kita mungkin hanya sering mendengar narasi bahwa Indonesia kaya akan budaya dan tradisi. Namun, berinteraksi langsung dengan para representasi budaya tersebut tentu memberikan pengalaman batin yang berbeda. Sesuatu yang sebelumnya terasa asing, ternyata menyimpan makna dan filosofi mendalam bagi masyarakat daerah lain. Memahami perbedaan dalam ajang ini bukan berarti menuntut keseragaman. Kita memegang hak penuh atas keyakinan, budaya, dan kebiasaan masing-masing, asalkan perbedaan itu tidak memicu sikap merasa paling benar atau merendahkan martabat orang lain.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Lomba bercerita kreatif memberikan kebebasan bagi peserta untuk membawakan karya orisinal mereka. Ada yang menonjolkan unsur adat lengkap dengan dialek khas daerahnya, ada pula yang menititikberatkan pada kekuatan imajinasi dan kreativitas penyampaian. Pemandangan ini menyadarkan saya bahwa kemampuan menghargai perbedaan adalah bekal krusial dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di lingkungan kampus yang plural. Di kampus, kita bersinggungan dengan individu-individu yang memiliki pola pikir, kebiasaan, dan latar belakang yang tidak seragam. Jika setiap perbedaan dipandang sebagai ancaman atau masalah, niscaya lingkungan yang harmonis tak akan pernah terwujud. Sebaliknya, kemauan untuk saling mengenal dan menghargai justru akan memperluas relasi sosial kita.

Lebih dari sekadar unjuk bakat, lomba ini juga mengajarkan etika berkompetisi. Keinginan untuk meraih posisi puncak adalah hal yang lumrah. Akan tetapi, persaingan tidak sepatutnya mencederai sportivitas atau dijadikan alasan untuk menjatuhkan lawan. Gelar juara tidak lantas membuat seseorang lebih tinggi derajatnya dibandingkan peserta lain. Sebaliknya, kekalahan pun tidak berarti performa kita nirnilai. Ada proses panjang, keberanian, dan pengalaman berharga yang telah terukir di sana.

Baca juga: Menghargai Keberagaman Bakat Tanpa Menghakimi

Menurut saya, sikap proporsional semacam inilah yang sangat relevan dengan nilai-nilai moderasi. Kita diajarkan untuk tidak bersikap berlebihan dalam merespons sesuatu. Kemenangan tidak pantas dirayakan dengan kesombongan, dan kekalahan tidak sepatutnya disikapi dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

Pada akhirnya, esensi dari sebuah perlombaan melampaui sekadar gemerlap piala maupun siapa yang berdiri sebagai juara. Ada perjumpaan, pengalaman, dan pembelajaran hidup yang bisa dibawa pulang. Melalui lomba bercerita kreatif ini, kita bisa menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai budaya yang berbeda dapat hadir, bersatu, dan bersaudara di atas panggung yang sama.

Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis: Nayla Su’ada, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Se-Jawa Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada tanggal 9 hingga 13 September 2026 akhirnya resmi ditutup. Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut bukan hanya sekadar panggung bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk beradu bakat, tetapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemeriahan PORSI JAWARA II hingga detik-detik penutupan juga menyuguhkan sebuah refleksi penting mengenai esensi moderasi beragama di Indonesia.

Suasana hangat, meriah, sekaligus haru begitu terasa di lokasi closing ceremony yang dihadiri oleh para kontingen dari berbagai PTKIN di Indonesia. Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menciptakan kebersamaan yang luar biasa. Rangkaian acara closing ceremony sendiri juga dikemas secara apik dan sistematis, dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga pengumuman juara umum, penyerahan piala, dan sambutan sekaligus penutupan resmi oleh Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Di sela-sela susunan acara tersebut, kemeriahan semakin memuncak ketika panitia menghadirkan sesi pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta. Tawa dan sorak kegembiraan dari berbagai sudut arena sukses meleburkan rasa lelah selama berhari-hari berjuang, serta mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antarkontingen PTKIN.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Dari semaraknya suasana dan rangkaian acara penutupan tersebut, tampak jelas bagaimana sekat-sekat perbedaan suku, daerah, tradisi, maupun pandangan keagamaan seolah runtuh. Nilai dasar moderasi beragama tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan) tercipta secara alami ketika para kontingen saling menghargai dan menerima hasil kompetisi dengan lapang dada. Keberhasilan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sebagai tuan rumah juga membuktikan PTKIN sebagai laboratorium moderasi beragama yang hidup. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang memadati arena penutupan, menunjukkan bahwa PTKIN mampu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang inklusif, terbuka, serta menolak segala bentuk ekstremisme, baik dalam beragama maupun kehidupan sosial.

Closing ceremony PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menciptakan kebersamaan yang mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Selain itu, acara ini juga menjadi jejak inspiratif yang membuktikan bahwa moderasi beragama tidak hanya diwariskan lewat ceramah, melainkan dihidupkan melalui keringat di arena olahraga, keindahan di panggung seni, dan ketulusan dalam menjalin persaudaraan. Semoga semangat harmoni dari Pekalongan ini terus dibawa pulang oleh para mahasiswa ke kampus masing-masing yang menjadi energi positif untuk terus merawat Indonesia yang damai, majemuk, dan bertoleransi.

Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Penulis: Dwi Selma Fitriani, Editor: Muslimah

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 resmi dibuka dengan penuh gegap gempita di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan. Ribuan pasang mata menjadi saksi kemeriahan upacara pembukaan yang berlangsung dengan sangat megah dan tertata pada Rabu malam, 9 September 2026, di Gedung Student Centre UIN Gusdur Pekalongan. Momen bersejarah ini diawali dengan prosesi kedatangan rombongan delegasi dari berbagai kampus yang memasuki area upacara dengan penuh kebanggaan. Terdapat 1.495 mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Pulau Jawa dan Madura yang berkumpul membawa semangat juang serta kebanggaan almamater masing-masing.

Suasana kental akan kekayaan budaya Nusantara langsung terasa ketika para tamu undangan dan peserta disambut dengan persembahan tari tradisional yang memukau. Keindahan gerak tari tersebut bukan sekadar hiburan semata, melainkan simbol keramahan tuan rumah dalam menerima keberagaman yang hadir. Setelah itu, nilai-nilai spiritualitas yang menjadi muruah institusi keagamaan diteguhkan melalui lantunan syahdu pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Ayat-ayat suci tersebut menyiratkan pesan mendalam bahwa segala ikhtiar, kekuatan, dan kecerdasan yang diadu dalam kompetisi ini senantiasa bertaut pada rida Ilahi. Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap institusi kian bergelora saat ribuan peserta berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian disusul oleh Nyanyian Mars UIN Gus Dur yang menggema di seluruh penjuru Gedung Student Centre.

Di balik keriuhan dan sorak-sorai kompetisi yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini, terdapat sebuah nilai fundamental yang melampaui sekadar perebutan medali emas, perak, maupun perunggu. Acara berskala masif ini sejatinya merupakan manifestasi nyata dari praktik moderasi beragama di kalangan sivitas akademika. Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah perhelatan akbar ini tentu memiliki makna filosofis yang mendalam. Sebagaimana yang masyarakat ketahui, sosok Gus Dur merupakan bapak bangsa sekaligus ikon toleransi di Indonesia. Mempertemukan ribuan mahasiswa Islam dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan tradisi di kampus yang menyandang nama besar beliau adalah sebuah langkah yang sangat strategis. Perjumpaan lintas budaya ini mengajak generasi muda untuk merayakan perbedaan secara elegan di dalam arena.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

PORSI JAWARA II mempertandingkan 27 cabang perlombaan yang mencakup bidang olahraga, seni, dan ilmiah. Mulai dari cabang yang mengandalkan ketangkasan fisik seperti futsal, bola voli, dan panjat tebing; cabang seni yang membutuhkan kehalusan budi seperti kaligrafi dan film pendek, hingga cabang ilmiah yang memeras daya nalar seperti debat konstitusi dan Business Plan. Apabila ditelisik lebih jauh, esensi dari setiap perlombaan tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip moderasi beragama. Moderasi beragama atau wasathiyah mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengambil jalan tengah, bersikap adil, seimbang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Di dalam arena kompetisi, prinsip keadilan dan keseimbangan tersebut diimplementasikan melalui sikap sportivitas para peserta. Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag.,  dalam berbagai kesempatan telah berpesan agar seluruh pihak senantiasa menjaga integritas. Ketika seorang mahasiswa bertanding, ia dituntut untuk tunduk pada peraturan yang berlaku dan menghormati keputusan wasit. Menerima kekalahan dengan dada yang lapang dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan merupakan wujud paling konkret dari akhlak mulia dan sikap moderat. Kompetisi ini mengajarkan kepada peserta didik bahwa lawan di lapangan pada hakikatnya adalah kawan dalam berproses.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Lebih lanjut, pada cabang seni dan ilmiah, moderasi beragama tecermin secara gamblang melalui keterbukaan pikiran dan keluwesan dalam berinteraksi. Dalam perlombaan debat konstitusi, misalnya, para delegasi mahasiswa dilatih untuk beradu gagasan secara rasional tanpa harus bermusuhan secara personal. Mereka diajarkan untuk menghargai kelogisan argumen pihak lain. Begitu pula dalam cabang seni, mahasiswa diberi panggung untuk mengekspresikan nilai-nilai keislaman yang indah, damai, merangkul, dan sarat akan pesan humanisme. Pendekatan budaya dan keilmuan ini menjadi antitesis yang sangat kuat terhadap paham-paham radikal yang cenderung kaku dalam menyikapi sebuah perbedaan.

Pada akhirnya, gegap gempita pembukaan PORSI JAWARA II 2026 bukanlah sekadar ajang unjuk kekuatan belaka. Perhelatan ini adalah panggung pembuktian yang sesungguhnya bagi mahasiswa PTKIN untuk membumikan konsep moderasi beragama. Melalui olahraga, seni, dan karya ilmiah, ribuan mahasiswa ini tengah merajut tali persaudaraan kebangsaan yang lebih erat. Harapannya, ketika kompetisi ini usai, piala dan medali bukanlah satu-satunya hal yang dibawa pulang, melainkan juga karakter yang inklusif, pikiran yang terbuka, dan semangat persatuan yang terus menyala.