PORSI JAWARA II dalam Semangat Al-Muwathanah di Kalangan Mahasiswa

Penulis: Fatma Fauziyah, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II se-Jawa dan Madura 2026 telah sukses diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Tentu saja, acara ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan biasa. Di balik riuhnya berbagai pertandingan, tercipta sebuah ruang yang menyatukan mahasiswa dari pelbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam balutan semangat persaudaraan dan kebangsaan. Kegiatan yang berlangsung pada 9–13 September 2026 ini seyogianya tidak hanya dipandang sebagai kompetisi antarmahasiswa, tetapi juga sebagai momentum berharga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai moderasi beragama.

Mengusung tema “Energi Juara Harmoni Nusantara”, PORSI JAWARA II mempertemukan delegasi dari 18 PTKIN se-Jawa dan Madura. Terdapat 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam tiga bidang utama: olahraga, seni, dan keilmuan. Cabang-cabang ini sangat variatif, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, futsal, dan e-sport, hingga Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), kaligrafi, film pendek, debat bahasa, karya tulis ilmiah, rencana bisnis (business plan), dan peradilan semu. Keberagaman cabang lomba ini membuktikan bahwa prestasi mahasiswa tidak melulu diukur dari kekuatan fisik, melainkan juga lewat kehalusan seni, kedalaman spiritualitas, kreativitas, dan kerja sama tim. Pada dasarnya, sebuah kompetisi memang dirancang untuk mempertemukan banyak pihak demi mencari pemenang. Namun, persaingan tidak seharusnya melahirkan permusuhan. Sebaliknya, kompetisi justru menjadi sarana krusial untuk belajar menghargai perbedaan, berlapang dada menerima kekalahan, dan terus merawat persaudaraan setelah pertandingan usai.

Semangat tersebut beresonansi kuat dengan nilai-nilai dalam moderasi beragama. Kementerian Agama merumuskan bahwa moderasi beragama mencakup sejumlah pilar esensial, salah satunya adalah al-muwathanah (komitmen kebangsaan). Nilai ini menyadarkan kita bahwa praktik beragama tidak hanya berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap tanggung jawab horizontal sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dalam konteks PORSI JAWARA II, rasa cinta tanah air tidak selalu harus diekspresikan melalui simbol-simbol formal, melainkan hadir lewat tindakan-tindakan nyata di lapangan. Atlet yang menjunjung tinggi kejujuran, mahasiswa yang menaruh hormat pada lawannya, juri yang memberikan penilaian secara objektif, panitia yang melayani peserta dengan baik, hingga suporter yang tertib tanpa provokasi, adalah potret konkret perwujudan cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Ketika Puisi Menjadi Jembatan Perbedaan di PORSI JAWARA II

Mengapa hal-hal yang tampak sepele tersebut dapat dikategorikan sebagai wujud cinta tanah air? Sebab, sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia tidak hanya dibangun oleh kaum pemenang atau pemegang kekuasaan, tetapi oleh masyarakat yang mampu hidup berdampingan di tengah perbedaan. Bangsa ini dianugerahi kekayaan suku, bahasa, dan budaya yang luar biasa. Berbagai perbedaan itu tidak pantas dijadikan pembenaran untuk saling menjauh. Sebaliknya, ketika dikelola dengan rasa dan sikap saling menghargai, perbedaan justru bermetamorfosis menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa ini.

Nilai al-muwathanah juga tecermin dari determinasi para peserta dalam membawa nama baik perguruan tinggi masing-masing. Setiap delegasi tentu berambisi memberikan prestasi terbaik bagi kampusnya. Upaya mengharumkan nama almamater ini senapas dengan komitmen menjaga nama baik bangsa dan menjunjung tinggi sportivitas. Terlebih lagi, beberapa cabang lomba secara langsung memfasilitasi mahasiswa untuk mengasah ketajaman intelektual dan kreativitas mereka. Oleh karena itu, makna kata “juara” perlu diperluas. Juara sejati bukanlah eksklusif milik mereka yang berhasil membawa pulang medali atau berdiri di peringkat pertama, melainkan juga milik mereka yang mampu bertanding secara sportif, menghargai rivalnya, menjaga tutur kata, ikhlas menerima hasil pertandingan, dan tak lelah merajut persaudaraan.

Baca juga: MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Pada akhirnya, pemilihan tema “Energi Juara Harmoni Nusantara” jelas bukan sekadar slogan pemanis acara. Tema ini membawa pesan fundamental bahwa meraih gelar juara dan menjaga harmoni sosial bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kesadaran untuk saling menghargai tersebut benar-benar dihidupkan sepanjang pergelaran PORSI JAWARA II. Harapannya, ajang ini tidak sekadar mencetak para jawara di bidang olahraga, seni, dan ilmiah, tetapi juga melahirkan generasi muda PTKIN yang sadar penuh akan makna mencintai tanah airnya.

Sebab, pada akhirnya, Indonesia tidak hanya merindukan generasi yang lihai memenangkan pertandingan, tetapi juga generasi yang mampu menjadi pemenang tanpa merendahkan, yang berani tampil berbeda tanpa memelihara permusuhan, dan yang teguh beragama tanpa sedikit pun kehilangan rasa kebangsaannya.

Ketika Puisi Menjadi Jembatan Perbedaan di PORSI JAWARA II

Penulis:  M. Fauzan Amanulloh, Editor: Dwi Selma Fitriani

Apa yang terjadi ketika seseorang yang tidak tumbuh dengan bahasa Indonesia justru memilih bahasa ini untuk menciptakan dan membacakan sebuah puisi? Bagi saya, jawabannya melampaui sekadar kemampuan linguistik. Terdapat hal yang jauh lebih menarik di baliknya, yakni bagaimana bahasa dan sastra mampu mempertemukan individu-individu dari latar belakang yang berlainan.

Fenomena tersebut saya temukan dalam salah satu cabang perlombaan Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, yaitu Lomba Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing. Meskipun tidak menyaksikan perlombaan tersebut secara langsung, saya berkesempatan melihat cuplikan penampilan salah satu peserta yang berhasil meraih juara kedua. Dari rekaman tersebut, ada satu hal yang memikat perhatian saya: keberanian dan kemampuan seorang mahasiswa asing dalam membawakan puisi berbahasa Indonesia.

Pembawaan puisinya sangat memukau. Nada dan intonasinya tertata dengan baik, sehingga puisi yang dilantunkan tidak terdengar kaku seperti sekadar membaca teks. Meskipun aksen asingnya masih kentara, justru di situlah letak daya tariknya. Perbedaan aksen ternyata tidak menjadi penghalang dalam menyampaikan nyawa dari karya tersebut, serta tetap mampu membuat pendengarnya meresapi pesan yang ingin diutarakan.

Baca juga: Belajar Moderasi dan Adab dari PORSI JAWARA II UIN Gus Dur

Dari peristiwa sederhana ini, saya menyadari bahwa sastra sejatinya adalah ruang perjumpaan. Kita tidak harus berasal dari negara yang sama, memiliki akar budaya yang serupa, atau menggunakan bahasa ibu yang identik untuk dapat menikmati sebuah karya. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan gagasan dan perasaannya, sementara pihak lain belajar untuk mendengarkan dan memahami. Sastra tidak meniadakan perbedaan, tetapi justru memberikan kita kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Jika dikorelasikan dengan moderasi beragama, fenomena ini memiliki keterikatan yang erat dengan nilai toleransi. Moderasi beragama bukan berarti menyeragamkan semua orang atau menghapus keragaman yang ada. Sebaliknya, moderasi mengajarkan kita cara untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan seraya tetap saling menghargai. Dalam konteks PORSI JAWARA, kebinekaan tersebut tecermin dari para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang, termasuk mahasiswa asing yang percaya diri mengikuti perlombaan menggunakan bahasa Indonesia.

Menurut pandangan saya, hal ini menjadi sangat esensial karena perbedaan tidak diposisikan sebagai suatu ancaman atau masalah. Perbedaan bahasa, budaya, maupun penampilan fisik tidak lantas menjadi alasan untuk mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Kita mungkin tidak memiliki pengalaman hidup yang sama dengan peserta dari mancanegara. Kita juga mungkin tidak sepenuhnya memahami latar belakang kultural mereka. Akan tetapi, kita tetap dapat memberikan ruang, waktu, dan apresiasi untuk mendengarkan karya yang mereka ciptakan.

Di sisi lain, penampilan mahasiswa asing tersebut juga menjadi autokritik bagi saya sebagai warga negara Indonesia, khususnya sebagai mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Timbul sebersit rasa malu ketika melihat individu yang bahasa pertamanya bukan bahasa Indonesia justru berani mencipta dan mendeklamasikan puisi menggunakan bahasa kebanggaan kita. Mereka harus mengerahkan upaya ekstra untuk mempelajari bahasa asing, lalu menggunakannya untuk menelurkan karya sastra. Sementara itu, kita yang telah menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil tak jarang masih dihinggapi keraguan untuk sekadar menulis atau membacakan puisi.

Baca juga: MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Fakta ini bukan berarti mahasiswa asing tersebut lebih superior dibandingkan mahasiswa Indonesia. Bagi saya, hal ini lebih kepada sebuah pengingat bahwa hal-hal yang sudah terlampau dekat dengan kita terkadang justru kurang mendapat apresiasi. Lantaran bahasa Indonesia telah menjadi bagian lekat dari rutinitas sehari-hari, kita sering kali menganggapnya biasa saja. Padahal, bagi orang lain, bahasa kita merupakan subjek yang dipelajari dengan sungguh-sungguh hingga mampu dialihwujudkan menjadi karya yang mengagumkan.

Dari titik ini, saya mulai merenungi bahwa wacana mengenai moderasi beragama tidak selalu harus digaungkan dalam forum-forum keagamaan yang kaku. Nilai-nilai moderasi juga dapat bersemi melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita bersedia mendengarkan orang yang berbeda, menghargai gaya tutur mereka, dan memberikan apresiasi tulus terhadap karya mereka tanpa memandang asal-usulnya, sesungguhnya kita sedang mempraktikkan cara hidup di tengah keberagaman secara nyata.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA bukan semata soal siapa yang berhak mengangkat trofi kemenangan. Di balik euforia perlombaan, terdapat perjumpaan antarmanusia dengan latar belakang yang majemuk. Dalam Lomba Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing, perjumpaan itu terasa makin bermakna karena bahasa Indonesia hadir sebagai jembatannya. Bahasa yang mungkin bagi kita terasa lumrah, justru bertransformasi menjadi medium bagi mahasiswa asing untuk mengenal, menggunakan, dan mengekspresikan jati dirinya melalui sastra.

Barangkali, inilah salah satu manifestasi moderasi beragama yang kerap luput dari pandangan kita. Moderasi dapat mewujud dalam gestur yang sederhana, termasuk ketika kita bersedia menajamkan telinga untuk mendengarkan suara yang berbeda dari suara kita sendiri. Sebuah pembacaan puisi mungkin hanya berlangsung selama beberapa menit, tetapi dari momen singkat tersebut, kita belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus diberi jarak. Perbedaan justru dapat menjadi alasan kuat bagi kita untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling memahami.

Sebab pada hakikatnya, tunas moderasi tidak hanya tumbuh dari mimbar-mimbar keagamaan, tetapi juga dapat mekar dengan indah melalui bait-bait sastra.

Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Penulis: Naura Fatkhiana, Editor: Dwi Selma Fitriani

Ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang digelar pada 9–12 September 2026 sukses menjadi wadah pemersatu mahasiswa se-Jawa dan Madura. Cabang perlombaan yang dihadirkan sangat variatif. Dari bidang olahraga terdapat futsal, bola voli, dan panjat tebing; dari bidang seni ada kaligrafi dan film pendek; hingga bidang ilmiah semacam debat konstitusi dan rencana bisnis (business plan). Masing-masing cabang tentu menuntut tantangan dan kecakapan yang spesifik dari para pesertanya.

Di antara semaraknya kompetisi tersebut, perhatian saya tertuju pada lomba bercerita kreatif. Ajang ini mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang kedaerahan yang heterogen. Setiap peserta tampil memukau dengan membawa kekayaan cerita dan ciri khas budaya dari daerah masing-masing. Mereka menyuguhkan gaya bertutur, elemen kebudayaan, hingga karakter panggung yang unik dan otentik. Justru, perbedaan-perbedaan inilah yang membuat panggung pertunjukan terasa begitu kaya dan berwarna.

Dari panggung tersebut, saya menyadari bahwa sebuah perlombaan bisa menjelma menjadi ruang edukasi tentang kebinekaan. Selama ini, kita mungkin hanya sering mendengar narasi bahwa Indonesia kaya akan budaya dan tradisi. Namun, berinteraksi langsung dengan para representasi budaya tersebut tentu memberikan pengalaman batin yang berbeda. Sesuatu yang sebelumnya terasa asing, ternyata menyimpan makna dan filosofi mendalam bagi masyarakat daerah lain. Memahami perbedaan dalam ajang ini bukan berarti menuntut keseragaman. Kita memegang hak penuh atas keyakinan, budaya, dan kebiasaan masing-masing, asalkan perbedaan itu tidak memicu sikap merasa paling benar atau merendahkan martabat orang lain.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Lomba bercerita kreatif memberikan kebebasan bagi peserta untuk membawakan karya orisinal mereka. Ada yang menonjolkan unsur adat lengkap dengan dialek khas daerahnya, ada pula yang menititikberatkan pada kekuatan imajinasi dan kreativitas penyampaian. Pemandangan ini menyadarkan saya bahwa kemampuan menghargai perbedaan adalah bekal krusial dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di lingkungan kampus yang plural. Di kampus, kita bersinggungan dengan individu-individu yang memiliki pola pikir, kebiasaan, dan latar belakang yang tidak seragam. Jika setiap perbedaan dipandang sebagai ancaman atau masalah, niscaya lingkungan yang harmonis tak akan pernah terwujud. Sebaliknya, kemauan untuk saling mengenal dan menghargai justru akan memperluas relasi sosial kita.

Lebih dari sekadar unjuk bakat, lomba ini juga mengajarkan etika berkompetisi. Keinginan untuk meraih posisi puncak adalah hal yang lumrah. Akan tetapi, persaingan tidak sepatutnya mencederai sportivitas atau dijadikan alasan untuk menjatuhkan lawan. Gelar juara tidak lantas membuat seseorang lebih tinggi derajatnya dibandingkan peserta lain. Sebaliknya, kekalahan pun tidak berarti performa kita nirnilai. Ada proses panjang, keberanian, dan pengalaman berharga yang telah terukir di sana.

Baca juga: Menghargai Keberagaman Bakat Tanpa Menghakimi

Menurut saya, sikap proporsional semacam inilah yang sangat relevan dengan nilai-nilai moderasi. Kita diajarkan untuk tidak bersikap berlebihan dalam merespons sesuatu. Kemenangan tidak pantas dirayakan dengan kesombongan, dan kekalahan tidak sepatutnya disikapi dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

Pada akhirnya, esensi dari sebuah perlombaan melampaui sekadar gemerlap piala maupun siapa yang berdiri sebagai juara. Ada perjumpaan, pengalaman, dan pembelajaran hidup yang bisa dibawa pulang. Melalui lomba bercerita kreatif ini, kita bisa menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai budaya yang berbeda dapat hadir, bersatu, dan bersaudara di atas panggung yang sama.

Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis: Nayla Su’ada, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Se-Jawa Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada tanggal 9 hingga 13 September 2026 akhirnya resmi ditutup. Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut bukan hanya sekadar panggung bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk beradu bakat, tetapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemeriahan PORSI JAWARA II hingga detik-detik penutupan juga menyuguhkan sebuah refleksi penting mengenai esensi moderasi beragama di Indonesia.

Suasana hangat, meriah, sekaligus haru begitu terasa di lokasi closing ceremony yang dihadiri oleh para kontingen dari berbagai PTKIN di Indonesia. Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menciptakan kebersamaan yang luar biasa. Rangkaian acara closing ceremony sendiri juga dikemas secara apik dan sistematis, dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga pengumuman juara umum, penyerahan piala, dan sambutan sekaligus penutupan resmi oleh Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Di sela-sela susunan acara tersebut, kemeriahan semakin memuncak ketika panitia menghadirkan sesi pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta. Tawa dan sorak kegembiraan dari berbagai sudut arena sukses meleburkan rasa lelah selama berhari-hari berjuang, serta mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antarkontingen PTKIN.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Dari semaraknya suasana dan rangkaian acara penutupan tersebut, tampak jelas bagaimana sekat-sekat perbedaan suku, daerah, tradisi, maupun pandangan keagamaan seolah runtuh. Nilai dasar moderasi beragama tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan) tercipta secara alami ketika para kontingen saling menghargai dan menerima hasil kompetisi dengan lapang dada. Keberhasilan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sebagai tuan rumah juga membuktikan PTKIN sebagai laboratorium moderasi beragama yang hidup. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang memadati arena penutupan, menunjukkan bahwa PTKIN mampu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang inklusif, terbuka, serta menolak segala bentuk ekstremisme, baik dalam beragama maupun kehidupan sosial.

Closing ceremony PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menciptakan kebersamaan yang mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Selain itu, acara ini juga menjadi jejak inspiratif yang membuktikan bahwa moderasi beragama tidak hanya diwariskan lewat ceramah, melainkan dihidupkan melalui keringat di arena olahraga, keindahan di panggung seni, dan ketulusan dalam menjalin persaudaraan. Semoga semangat harmoni dari Pekalongan ini terus dibawa pulang oleh para mahasiswa ke kampus masing-masing yang menjadi energi positif untuk terus merawat Indonesia yang damai, majemuk, dan bertoleransi.

Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Penulis: Dwi Selma Fitriani, Editor: Muslimah

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 resmi dibuka dengan penuh gegap gempita di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan. Ribuan pasang mata menjadi saksi kemeriahan upacara pembukaan yang berlangsung dengan sangat megah dan tertata pada Rabu malam, 9 September 2026, di Gedung Student Centre UIN Gusdur Pekalongan. Momen bersejarah ini diawali dengan prosesi kedatangan rombongan delegasi dari berbagai kampus yang memasuki area upacara dengan penuh kebanggaan. Terdapat 1.495 mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Pulau Jawa dan Madura yang berkumpul membawa semangat juang serta kebanggaan almamater masing-masing.

Suasana kental akan kekayaan budaya Nusantara langsung terasa ketika para tamu undangan dan peserta disambut dengan persembahan tari tradisional yang memukau. Keindahan gerak tari tersebut bukan sekadar hiburan semata, melainkan simbol keramahan tuan rumah dalam menerima keberagaman yang hadir. Setelah itu, nilai-nilai spiritualitas yang menjadi muruah institusi keagamaan diteguhkan melalui lantunan syahdu pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Ayat-ayat suci tersebut menyiratkan pesan mendalam bahwa segala ikhtiar, kekuatan, dan kecerdasan yang diadu dalam kompetisi ini senantiasa bertaut pada rida Ilahi. Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap institusi kian bergelora saat ribuan peserta berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian disusul oleh Nyanyian Mars UIN Gus Dur yang menggema di seluruh penjuru Gedung Student Centre.

Di balik keriuhan dan sorak-sorai kompetisi yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini, terdapat sebuah nilai fundamental yang melampaui sekadar perebutan medali emas, perak, maupun perunggu. Acara berskala masif ini sejatinya merupakan manifestasi nyata dari praktik moderasi beragama di kalangan sivitas akademika. Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah perhelatan akbar ini tentu memiliki makna filosofis yang mendalam. Sebagaimana yang masyarakat ketahui, sosok Gus Dur merupakan bapak bangsa sekaligus ikon toleransi di Indonesia. Mempertemukan ribuan mahasiswa Islam dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan tradisi di kampus yang menyandang nama besar beliau adalah sebuah langkah yang sangat strategis. Perjumpaan lintas budaya ini mengajak generasi muda untuk merayakan perbedaan secara elegan di dalam arena.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

PORSI JAWARA II mempertandingkan 27 cabang perlombaan yang mencakup bidang olahraga, seni, dan ilmiah. Mulai dari cabang yang mengandalkan ketangkasan fisik seperti futsal, bola voli, dan panjat tebing; cabang seni yang membutuhkan kehalusan budi seperti kaligrafi dan film pendek, hingga cabang ilmiah yang memeras daya nalar seperti debat konstitusi dan Business Plan. Apabila ditelisik lebih jauh, esensi dari setiap perlombaan tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip moderasi beragama. Moderasi beragama atau wasathiyah mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengambil jalan tengah, bersikap adil, seimbang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Di dalam arena kompetisi, prinsip keadilan dan keseimbangan tersebut diimplementasikan melalui sikap sportivitas para peserta. Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag.,  dalam berbagai kesempatan telah berpesan agar seluruh pihak senantiasa menjaga integritas. Ketika seorang mahasiswa bertanding, ia dituntut untuk tunduk pada peraturan yang berlaku dan menghormati keputusan wasit. Menerima kekalahan dengan dada yang lapang dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan merupakan wujud paling konkret dari akhlak mulia dan sikap moderat. Kompetisi ini mengajarkan kepada peserta didik bahwa lawan di lapangan pada hakikatnya adalah kawan dalam berproses.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Lebih lanjut, pada cabang seni dan ilmiah, moderasi beragama tecermin secara gamblang melalui keterbukaan pikiran dan keluwesan dalam berinteraksi. Dalam perlombaan debat konstitusi, misalnya, para delegasi mahasiswa dilatih untuk beradu gagasan secara rasional tanpa harus bermusuhan secara personal. Mereka diajarkan untuk menghargai kelogisan argumen pihak lain. Begitu pula dalam cabang seni, mahasiswa diberi panggung untuk mengekspresikan nilai-nilai keislaman yang indah, damai, merangkul, dan sarat akan pesan humanisme. Pendekatan budaya dan keilmuan ini menjadi antitesis yang sangat kuat terhadap paham-paham radikal yang cenderung kaku dalam menyikapi sebuah perbedaan.

Pada akhirnya, gegap gempita pembukaan PORSI JAWARA II 2026 bukanlah sekadar ajang unjuk kekuatan belaka. Perhelatan ini adalah panggung pembuktian yang sesungguhnya bagi mahasiswa PTKIN untuk membumikan konsep moderasi beragama. Melalui olahraga, seni, dan karya ilmiah, ribuan mahasiswa ini tengah merajut tali persaudaraan kebangsaan yang lebih erat. Harapannya, ketika kompetisi ini usai, piala dan medali bukanlah satu-satunya hal yang dibawa pulang, melainkan juga karakter yang inklusif, pikiran yang terbuka, dan semangat persatuan yang terus menyala.