Penulis: Fatma Fauziyah, Editor: Dwi Selma Fitriani
Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II se-Jawa dan Madura 2026 telah sukses diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Tentu saja, acara ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan biasa. Di balik riuhnya berbagai pertandingan, tercipta sebuah ruang yang menyatukan mahasiswa dari pelbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam balutan semangat persaudaraan dan kebangsaan. Kegiatan yang berlangsung pada 9–13 September 2026 ini seyogianya tidak hanya dipandang sebagai kompetisi antarmahasiswa, tetapi juga sebagai momentum berharga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai moderasi beragama.
Mengusung tema “Energi Juara Harmoni Nusantara”, PORSI JAWARA II mempertemukan delegasi dari 18 PTKIN se-Jawa dan Madura. Terdapat 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam tiga bidang utama: olahraga, seni, dan keilmuan. Cabang-cabang ini sangat variatif, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, futsal, dan e-sport, hingga Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), kaligrafi, film pendek, debat bahasa, karya tulis ilmiah, rencana bisnis (business plan), dan peradilan semu. Keberagaman cabang lomba ini membuktikan bahwa prestasi mahasiswa tidak melulu diukur dari kekuatan fisik, melainkan juga lewat kehalusan seni, kedalaman spiritualitas, kreativitas, dan kerja sama tim. Pada dasarnya, sebuah kompetisi memang dirancang untuk mempertemukan banyak pihak demi mencari pemenang. Namun, persaingan tidak seharusnya melahirkan permusuhan. Sebaliknya, kompetisi justru menjadi sarana krusial untuk belajar menghargai perbedaan, berlapang dada menerima kekalahan, dan terus merawat persaudaraan setelah pertandingan usai.
Semangat tersebut beresonansi kuat dengan nilai-nilai dalam moderasi beragama. Kementerian Agama merumuskan bahwa moderasi beragama mencakup sejumlah pilar esensial, salah satunya adalah al-muwathanah (komitmen kebangsaan). Nilai ini menyadarkan kita bahwa praktik beragama tidak hanya berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap tanggung jawab horizontal sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dalam konteks PORSI JAWARA II, rasa cinta tanah air tidak selalu harus diekspresikan melalui simbol-simbol formal, melainkan hadir lewat tindakan-tindakan nyata di lapangan. Atlet yang menjunjung tinggi kejujuran, mahasiswa yang menaruh hormat pada lawannya, juri yang memberikan penilaian secara objektif, panitia yang melayani peserta dengan baik, hingga suporter yang tertib tanpa provokasi, adalah potret konkret perwujudan cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Ketika Puisi Menjadi Jembatan Perbedaan di PORSI JAWARA II
Mengapa hal-hal yang tampak sepele tersebut dapat dikategorikan sebagai wujud cinta tanah air? Sebab, sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia tidak hanya dibangun oleh kaum pemenang atau pemegang kekuasaan, tetapi oleh masyarakat yang mampu hidup berdampingan di tengah perbedaan. Bangsa ini dianugerahi kekayaan suku, bahasa, dan budaya yang luar biasa. Berbagai perbedaan itu tidak pantas dijadikan pembenaran untuk saling menjauh. Sebaliknya, ketika dikelola dengan rasa dan sikap saling menghargai, perbedaan justru bermetamorfosis menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa ini.
Nilai al-muwathanah juga tecermin dari determinasi para peserta dalam membawa nama baik perguruan tinggi masing-masing. Setiap delegasi tentu berambisi memberikan prestasi terbaik bagi kampusnya. Upaya mengharumkan nama almamater ini senapas dengan komitmen menjaga nama baik bangsa dan menjunjung tinggi sportivitas. Terlebih lagi, beberapa cabang lomba secara langsung memfasilitasi mahasiswa untuk mengasah ketajaman intelektual dan kreativitas mereka. Oleh karena itu, makna kata “juara” perlu diperluas. Juara sejati bukanlah eksklusif milik mereka yang berhasil membawa pulang medali atau berdiri di peringkat pertama, melainkan juga milik mereka yang mampu bertanding secara sportif, menghargai rivalnya, menjaga tutur kata, ikhlas menerima hasil pertandingan, dan tak lelah merajut persaudaraan.
Baca juga: MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan
Pada akhirnya, pemilihan tema “Energi Juara Harmoni Nusantara” jelas bukan sekadar slogan pemanis acara. Tema ini membawa pesan fundamental bahwa meraih gelar juara dan menjaga harmoni sosial bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kesadaran untuk saling menghargai tersebut benar-benar dihidupkan sepanjang pergelaran PORSI JAWARA II. Harapannya, ajang ini tidak sekadar mencetak para jawara di bidang olahraga, seni, dan ilmiah, tetapi juga melahirkan generasi muda PTKIN yang sadar penuh akan makna mencintai tanah airnya.
Sebab, pada akhirnya, Indonesia tidak hanya merindukan generasi yang lihai memenangkan pertandingan, tetapi juga generasi yang mampu menjadi pemenang tanpa merendahkan, yang berani tampil berbeda tanpa memelihara permusuhan, dan yang teguh beragama tanpa sedikit pun kehilangan rasa kebangsaannya.
