Ketika Puisi Menjadi Jembatan Perbedaan di PORSI JAWARA II

Penulis:  M. Fauzan Amanulloh, Editor: Dwi Selma Fitriani

Apa yang terjadi ketika seseorang yang tidak tumbuh dengan bahasa Indonesia justru memilih bahasa ini untuk menciptakan dan membacakan sebuah puisi? Bagi saya, jawabannya melampaui sekadar kemampuan linguistik. Terdapat hal yang jauh lebih menarik di baliknya, yakni bagaimana bahasa dan sastra mampu mempertemukan individu-individu dari latar belakang yang berlainan.

Fenomena tersebut saya temukan dalam salah satu cabang perlombaan Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, yaitu Lomba Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing. Meskipun tidak menyaksikan perlombaan tersebut secara langsung, saya berkesempatan melihat cuplikan penampilan salah satu peserta yang berhasil meraih juara kedua. Dari rekaman tersebut, ada satu hal yang memikat perhatian saya: keberanian dan kemampuan seorang mahasiswa asing dalam membawakan puisi berbahasa Indonesia.

Pembawaan puisinya sangat memukau. Nada dan intonasinya tertata dengan baik, sehingga puisi yang dilantunkan tidak terdengar kaku seperti sekadar membaca teks. Meskipun aksen asingnya masih kentara, justru di situlah letak daya tariknya. Perbedaan aksen ternyata tidak menjadi penghalang dalam menyampaikan nyawa dari karya tersebut, serta tetap mampu membuat pendengarnya meresapi pesan yang ingin diutarakan.

Baca juga: Belajar Moderasi dan Adab dari PORSI JAWARA II UIN Gus Dur

Dari peristiwa sederhana ini, saya menyadari bahwa sastra sejatinya adalah ruang perjumpaan. Kita tidak harus berasal dari negara yang sama, memiliki akar budaya yang serupa, atau menggunakan bahasa ibu yang identik untuk dapat menikmati sebuah karya. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan gagasan dan perasaannya, sementara pihak lain belajar untuk mendengarkan dan memahami. Sastra tidak meniadakan perbedaan, tetapi justru memberikan kita kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Jika dikorelasikan dengan moderasi beragama, fenomena ini memiliki keterikatan yang erat dengan nilai toleransi. Moderasi beragama bukan berarti menyeragamkan semua orang atau menghapus keragaman yang ada. Sebaliknya, moderasi mengajarkan kita cara untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan seraya tetap saling menghargai. Dalam konteks PORSI JAWARA, kebinekaan tersebut tecermin dari para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang, termasuk mahasiswa asing yang percaya diri mengikuti perlombaan menggunakan bahasa Indonesia.

Menurut pandangan saya, hal ini menjadi sangat esensial karena perbedaan tidak diposisikan sebagai suatu ancaman atau masalah. Perbedaan bahasa, budaya, maupun penampilan fisik tidak lantas menjadi alasan untuk mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Kita mungkin tidak memiliki pengalaman hidup yang sama dengan peserta dari mancanegara. Kita juga mungkin tidak sepenuhnya memahami latar belakang kultural mereka. Akan tetapi, kita tetap dapat memberikan ruang, waktu, dan apresiasi untuk mendengarkan karya yang mereka ciptakan.

Di sisi lain, penampilan mahasiswa asing tersebut juga menjadi autokritik bagi saya sebagai warga negara Indonesia, khususnya sebagai mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Timbul sebersit rasa malu ketika melihat individu yang bahasa pertamanya bukan bahasa Indonesia justru berani mencipta dan mendeklamasikan puisi menggunakan bahasa kebanggaan kita. Mereka harus mengerahkan upaya ekstra untuk mempelajari bahasa asing, lalu menggunakannya untuk menelurkan karya sastra. Sementara itu, kita yang telah menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil tak jarang masih dihinggapi keraguan untuk sekadar menulis atau membacakan puisi.

Baca juga: MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Fakta ini bukan berarti mahasiswa asing tersebut lebih superior dibandingkan mahasiswa Indonesia. Bagi saya, hal ini lebih kepada sebuah pengingat bahwa hal-hal yang sudah terlampau dekat dengan kita terkadang justru kurang mendapat apresiasi. Lantaran bahasa Indonesia telah menjadi bagian lekat dari rutinitas sehari-hari, kita sering kali menganggapnya biasa saja. Padahal, bagi orang lain, bahasa kita merupakan subjek yang dipelajari dengan sungguh-sungguh hingga mampu dialihwujudkan menjadi karya yang mengagumkan.

Dari titik ini, saya mulai merenungi bahwa wacana mengenai moderasi beragama tidak selalu harus digaungkan dalam forum-forum keagamaan yang kaku. Nilai-nilai moderasi juga dapat bersemi melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita bersedia mendengarkan orang yang berbeda, menghargai gaya tutur mereka, dan memberikan apresiasi tulus terhadap karya mereka tanpa memandang asal-usulnya, sesungguhnya kita sedang mempraktikkan cara hidup di tengah keberagaman secara nyata.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA bukan semata soal siapa yang berhak mengangkat trofi kemenangan. Di balik euforia perlombaan, terdapat perjumpaan antarmanusia dengan latar belakang yang majemuk. Dalam Lomba Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing, perjumpaan itu terasa makin bermakna karena bahasa Indonesia hadir sebagai jembatannya. Bahasa yang mungkin bagi kita terasa lumrah, justru bertransformasi menjadi medium bagi mahasiswa asing untuk mengenal, menggunakan, dan mengekspresikan jati dirinya melalui sastra.

Barangkali, inilah salah satu manifestasi moderasi beragama yang kerap luput dari pandangan kita. Moderasi dapat mewujud dalam gestur yang sederhana, termasuk ketika kita bersedia menajamkan telinga untuk mendengarkan suara yang berbeda dari suara kita sendiri. Sebuah pembacaan puisi mungkin hanya berlangsung selama beberapa menit, tetapi dari momen singkat tersebut, kita belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus diberi jarak. Perbedaan justru dapat menjadi alasan kuat bagi kita untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling memahami.

Sebab pada hakikatnya, tunas moderasi tidak hanya tumbuh dari mimbar-mimbar keagamaan, tetapi juga dapat mekar dengan indah melalui bait-bait sastra.