Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis: Nayla Su’ada, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Se-Jawa Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada tanggal 9 hingga 13 September 2026 akhirnya resmi ditutup. Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut bukan hanya sekadar panggung bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk beradu bakat, tetapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemeriahan PORSI JAWARA II hingga detik-detik penutupan juga menyuguhkan sebuah refleksi penting mengenai esensi moderasi beragama di Indonesia.

Suasana hangat, meriah, sekaligus haru begitu terasa di lokasi closing ceremony yang dihadiri oleh para kontingen dari berbagai PTKIN di Indonesia. Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menciptakan kebersamaan yang luar biasa. Rangkaian acara closing ceremony sendiri juga dikemas secara apik dan sistematis, dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga pengumuman juara umum, penyerahan piala, dan sambutan sekaligus penutupan resmi oleh Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Di sela-sela susunan acara tersebut, kemeriahan semakin memuncak ketika panitia menghadirkan sesi pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta. Tawa dan sorak kegembiraan dari berbagai sudut arena sukses meleburkan rasa lelah selama berhari-hari berjuang, serta mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antarkontingen PTKIN.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Dari semaraknya suasana dan rangkaian acara penutupan tersebut, tampak jelas bagaimana sekat-sekat perbedaan suku, daerah, tradisi, maupun pandangan keagamaan seolah runtuh. Nilai dasar moderasi beragama tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan) tercipta secara alami ketika para kontingen saling menghargai dan menerima hasil kompetisi dengan lapang dada. Keberhasilan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sebagai tuan rumah juga membuktikan PTKIN sebagai laboratorium moderasi beragama yang hidup. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang memadati arena penutupan, menunjukkan bahwa PTKIN mampu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang inklusif, terbuka, serta menolak segala bentuk ekstremisme, baik dalam beragama maupun kehidupan sosial.

Closing ceremony PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menciptakan kebersamaan yang mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Selain itu, acara ini juga menjadi jejak inspiratif yang membuktikan bahwa moderasi beragama tidak hanya diwariskan lewat ceramah, melainkan dihidupkan melalui keringat di arena olahraga, keindahan di panggung seni, dan ketulusan dalam menjalin persaudaraan. Semoga semangat harmoni dari Pekalongan ini terus dibawa pulang oleh para mahasiswa ke kampus masing-masing yang menjadi energi positif untuk terus merawat Indonesia yang damai, majemuk, dan bertoleransi.