Vihara Bodhi Dharma Maknai Waisak dengan Ketenangan Jiwa dan Perdamaian Semua Makhluk

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Muslimah

Pekalongan – Minggu (31/5), Vihara Bodhi Darma gelar Hari Raya Tri Suci Waisak 2570/2026 dengan penuh suka cita. Perayaan yang berlangsung dengan khidmat ini, menjadi pemantik bagi umat Buddha dalam menjaga kedamaian batin di tengah hiruk pikuk dan tantangan dunia.

Ibadah berpusat di Dhammasala Vihara, umat Buddha diajak untuk bermeditasi dengan merenungkan diri sebagai penggambaran empat ajaran Buddha—cinta kasih, keseimbangan, kegembiraan, dan welas asih—yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan perdamaian semua makhluk.

Vihara Bodhi Dharma sendiri termasuk dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia. Dalam prosesi ibadah di hari—H Waisak yang dihadiri sekitar 70 jemaat ini, menjadi ibadah utama dari detik-detik Waisak sampai pembacaan Paritta, meditasi, serta ceramah dari Bhikkhu, dan diakhiri dengan doa bersama sembari pemercikan air paritta oleh Bhikkhu. Prosesi terakhir yaitu para umat melakukan tali asih kepada Bhikkhu dengan tertib dan khidmat.

Baca juga: Potret Keharmonisan Agama di Indonesia : Surabaya Suguhkan 6 Tempat Ibadah yang Berdampingan

Dalam ajaran Buddha khususnya Theravada sendiri di Vihara Bodhi Dharma, para umat ditekankan mengenai hati yang bersih, ucapan yang benar, dan perbuatan yang baik. Dalam Buddha hal tersebut menjadi kunci utama dalam kehidupan. Seperti yang disampaikan oleh Bambang, selaku pengurus vihara setempat.

“Dari agama Buddha sendiri, yang ditekankan adalah pikiran yang bersih, ucapan yang benar, dan perbuatan yang baik. Yang bisa menyelamatkan kita hanya itu, sebab orang yang masih terkungkung hanya tentang duniawi, berarti mereka masih dalam taraf belajar,” Jelasnya.

Dalam melihat keadaan zaman sekarang, penekanan ajaran para Buddha sangat ditekankan di Vihara Bodhi Dharma. Seperti fokus peribadatan yaitu pada penyucian diri dari segala yang kotor dalam diri tiap umat.

“Buddha selalu mengajarkan untuk tidak melihat ke luar, tapi melihat ke dalam. Melihat ke diri sendiri. Hal yang tidak baik perlu dikikis, agar terhindar dari karma buruk,” Ujar Daisy, selaku panitia altar vihara.

Hal tersebut juga sejalan dengan ajaran Buddha yang selalu mengajarkan akan pentingnya menyebar kebaikan. Seperti acara sebelumnya, di pagi hari yaitu Fangseng—melepaskan hewan seperti ikan sebagai lambang pembebasan makhluk hidup dari ancaman.

Dalam prosesi ibadah Waisak, ketenangan menjadi kunci utama dalam khidmat berlangsungnya acara. Dalam sesi wawancara Daisy menjelaskan keramaian anak-anak menjadi kendala saat ini dalam kegiatan. Hal tersebut dikarenakan jemaat dewasa serta anak-anak tidak dipisah menjadi faktor sulitnya untuk membangun ketenangan. Daisy juga menambahkan, harapannya Waisak tiap tahunnya mampu memberikan kebaikan, kesejahteraan, serta kedamaian bagi semua makhluk. Serta mampu menambah antusiasme para umat untuk merayakan Waisak.

Menjaga Bumi sebagai Amanah: Mulyorejo Festival 2026 Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Pesisir

Penulis : Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui slogan dan kampanye. Kesadaran tersebut yang sedang dibangun melalui Mulyorejo Festival 2026 di Desa Mulyorejo, Jumat (29/05). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelajar, dan komunitas lingkungan untuk merespons berbagai persoalan ekologis yang dihadapi kawasan pesisir.

Baca juga: Suluk Ekologi: Menemukan Jejak Tuhan Dalam Kelestarian Alam

Muhammad Abdul Razak, selaku Marketing dan Admin Media Sosial Mangrove Mulyoasri, menjelaskan bahwa festival ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan yang berkembang di sekitar desa. Menurutnya, pemerintah desa ingin mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan penghijauan di wilayah tempat tinggal mereka.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, baik menjaga kebersihan maupun melakukan penghijauan di sekitar rumah masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan dimulai pada pagi hari, dengan kerja bakti yang melibatkan warga Desa Mulyorejo. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang hidup yang mereka tempati. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir dan malam hari seremonial dengan menyuguhkan live music dan sharing session.

Penanaman mangrove diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas lingkungan, pelajar, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Pekalongan seperti UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Universitas Pekalongan, dan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Tercatat sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan melalui pendaftaran resmi, ditambah sekitar 37 peserta dari kalangan pelajar madrasah tsanawiyah. Adapun materi edukasi lingkungan disampaikan oleh Ki Suryo Joko Carito, SP. dari Pemalang.

Di balik kegiatan tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar yang sedang dihadapi masyarakat pesisir, yakni abrasi dan penurunan muka tanah yang terus mengancam kawasan pantai utara. Razak menilai bahwa penanaman mangrove menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.

“Di daerah pesisir, peningkatan abrasi sangat luar biasa. Dengan adanya penghijauan dan menjaga lingkungan, diharapkan dapat meminimalisir penurunan tanah serta memperlambat laju abrasi di kawasan pesisir utara,” katanya.

Semangat yang dibawa dalam Mulyorejo Festival juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah atau penjaga bumi. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut sering kali merupakan akibat dari tindakan manusia sendiri. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Meski, keberhasilan festival ini tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau bibit mangrove yang ditanam. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kesadaran tersebut terus hidup setelah acara berakhir. Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah apakah kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi budaya sehari-hari masyarakat, atau justru berhenti sebagai agenda tahunan semata. Dengan demikian, Mulyorejo Festival tidak hanya menjadi perayaan lingkungan, tetapi juga momentum refleksi tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga alam untuk generasi yang akan datang.

Solusi Kurban bagi yang Tidak Mampu: Penjelasan Fikih dan Teladan Sahabat Ibnu Abbas

Penulis: Muhammad Robba Masula, Penyunting: Dwi Selma F

Tahun ini, pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) jatuh pada tanggal 27 Mei 2026. Momen ini menjadi kebahagiaan yang dinantikan oleh umat Islam. Pada hari istimewa ini, kaum muslim dianjurkan untuk menyisihkan rezekinya guna melaksanakan ibadah kurban. Secara syariat, ibadah kurban atau udhiyah memiliki aturan yang mengikat, terutama terkait jenis dan usia hewan sembelihan.

Namun, bagaimana jika seorang muslim belum memiliki rezeki yang cukup untuk melaksanakan ibadah kurban secara ideal?

Banyak masyarakat yang masih keliru memahami anjuran ibadah kurban saat momentum Idul Adha, sehingga berujung pada kebiasaan yang kurang baik secara fikih. Penjelasan mendalam terkait hal ini disampaikan dalam sebuah potongan video dari Gus Baha yang membedah solusi bagi umat Islam yang belum mampu menyembelih ternak secara ideal.

Baca juga: Kritik Kebijakan Gerbong Khusus Perempuan dalam Perspektif Kitab Assulam

Sebagaimana diketahui, syarat untuk melaksanakan kurban atau udhiyah memang sangat ketat, mencakup kriteria usia dan jenis hewan ternaknya. Namun, ketidakmampuan memenuhi syarat tersebut bukan berarti seseorang harus pasrah tanpa usaha di hari raya.

“Saya fatwakan di sini, sing jenenge udhiyah iku kudu wedus kibas umure setahun, nak sapi rong tahun ditandai tanggal gigine. Itu benar, itu udhiyah,” terang Gus Baha dalam video tersebut.

Meski membenarkan standar ideal tersebut, ia menekankan bahwa tanggal 10 Zulhijah pada prinsipnya adalah hari raya untuk makan dan minum (yaumul-akl wasy-syurb). Oleh karenanya, terdapat sunah untuk tetap menyembelih hewan yang halal bagi yang tidak mampu membeli kambing atau sapi.

Lebih lanjut, dalam videonya, dikisahkan pula teladan dari salah satu sahabat Nabi, yakni Ibnu Abbas, yang mengambil jalan tengah agar tetap bisa menghidupkan sunah pada hari raya tanpa memaksakan diri. Hal ini merupakan bentuk menjaga kehormatan diri dari sifat tamak.

Baca juga: Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

“Tapi sebetulnya kalau tanggal 10 itu kesunatan nyembelih apa saja asal halal, asal gak tikus. Sehingga Ibnu Abbas itu tiap tanggal 10 nggih nyembelih pitik, nggih pitik tenan, supaya menghilangkan tomak (sifat serakah/mengharap pemberian orang lain). Mergo iku yaumu aqlin wa syurbin, hari makan-makan,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti fenomena dan kebiasaan yang sering terjadi di tengah masyarakat Jawa. Banyak warga yang akhirnya berdiam diri dan menggantungkan harapan pada pembagian daging dari panitia karena merasa belum mampu berkurban.

“Lah wong Jowo itu salah kaprah, berhubung gak kelar (mampu) wedus, gak nyembelih blas. Akhirnya tomak (menunggu) ngungkit-ungit panitia, itu keliru. Atau tuku daging minimal keluarga itu ndak tomak,” tegasnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa dalam pandangan fikih, tidak mampunya seseorang mencapai sesuatu yang ideal tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau kebaikan tersebut sama sekali (blas-blasan).

“Coro fekihe, nak gak iso ideal ojo blas-blasan. Larangane Islam, nek gak iso kurban wedus, minimal tuku daging sekilo,” pungkasnya.

Wujudkan Pesantren Produktif dan Berkelanjutan Pondok Pesantren Nurul Ummah Gelar Seminar Kenalkan Sistem Hidroponik

Penulis: Annisatul Fadilah, Editor: Muslimah

Pondok Pesantren Nurul Ummah Pekalongan menggelar kegiatan Seminar Ekologi bertajuk “Green Pesantren Initiative: Capacity Building Hidroponik untuk Pesantren Produktif dan Berkelanjutan, Kamis (14/5). Kegiatan ini menghadirkan pemateri Putri Rahadian D.K., M.Pd. dan diikuti oleh para santri serta pengurus pesantren dengan antusias.

Seminar ini menjadi salah satu upaya membangun kesadaran ekologis di lingkungan pesantren melalui pengembangan keterampilan hidroponik. Tidak hanya membahas teori, para santri juga diajak memahami pentingnya merawat lingkungan melalui langkah sederhana yang dapat dimulai dari pesantren.

Baca juga:Hijau Iman, Hijau Pendidikan, Ikhtiar Kolektif Menjaga Alam Indonesia

Dalam penyampaian materinya, Putri Rahadian menekankan bahwa tanaman bukan sekadar media budidaya, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh perhatian. “Jaga dan rawat tanaman dengan hati,” pesan beliau kepada para santri. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam juga bagian dari bentuk kepedulian dan rasa syukur atas nikmat ciptaan Allah SWT.

Kegiatan ini turut difasilitasi oleh Khodimul Ma’had yaitu Abi Dr. Ahmad Taufiq, M.Pd.I. & Ummi Rizka Roikhana, M.Pd.I, sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan pemahaman dan keterampilan santri di bidang ekologi dan pertanian berkelanjutan. Melalui seminar ini, para santri diharapkan tidak hanya memiliki wawasan tentang hidroponik, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai langkah menuju pesantren yang produktif, mandiri, dan ramah lingkungan.

Pada sesi praktik, para santri langsung dikenalkan dan mempraktikkan salah satu sistem hidroponik sederhana yaitu Wick System (Sistem Sumbu). Wick System merupakan metode hidroponik yang menggunakan sumbu (wick) untuk menyalurkan nutrisi dari tandon ke akar tanaman melalui prinsip kapilaritas. Dalam praktiknya, santri menggunakan media tanam seperti rockwool atau cocopeat, kemudian memasang sumbu yang menghubungkan media tanam dengan larutan nutrisi di dalam wadah. Sistem ini dipilih karena sederhana, tidak membutuhkan listrik maupun pompa, serta mudah diterapkan untuk pemula di lingkungan pesantren.

Antusiasme santri terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi hangat, praktik, dan berbagai pertanyaan mengenai teknik penanaman hingga perawatan tanaman menjadi bukti semangat belajar para peserta. Seminar ini diharapkan menjadi awal tumbuhnya budaya cinta lingkungan di kalangan santri serta mendorong lahirnya generasi pesantren yang lebih peduli terhadap keberlanjutan alam.

Kritik Kebijakan Gerbong Khusus Perempuan dalam Perspektif Kitab Assulam

Penulis: Muhammad Robba Masula, Editor: Muslimah

Sebuah insiden memilukan terjadi di lintasan (Kereta Rel Listrik) KRL yang memakan korban jiwa, di mana seluruh korbannya adalah perempuan. Merespons tragedi ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melontarkan usulan agar PT KAI menyediakan tempat khusus perempuan di tengah gerbong demi keamanan. Namun, alih-alih disambut sebagai angin segar, usulan ini justru memantik kontroversi: Apakah ini solusi nyata, atau justru bentuk pengalihan tanggung jawab terhadap keselamatan publik?

Baca juga: Bencana Aceh-Sumatera 2025: Data Bicara, Amanah Khalifah Terabaikan, Refleksi Iman dan Ilmu di Era Analitik

Jika kita merujuk pada kitab As sulam karya Syekh Abdul Hamid Hakim, terdapat kaidah yang sangat masyhur: الأمور بقاصدها  (Segala perkara bergantung pada niat/tujuannya).

Secara administratif, niat Menteri PPPA mungkin adalah perlindungan. Namun, secara substansi, kebijakan ini bisa terjebak dalam logika yang keliru. Jika masalahnya adalah kecelakaan teknis atau sistem keamanan yang bobrok, maka memindahkan posisi penumpang perempuan ke tengah gerbong tidak menghapus risiko, ia hanya “menggeser” siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Dalam konteks ini, negara seolah-olah hanya melakukan lokalisasi risiko, bukan eliminasi bahaya.

Syekh Izzuddin bin Abdissalam menekankan bahwa inti agama adalah darul mafasid wa jalbul masholih (menghilangkan kerusakan dan mengambil kemaslahatan).

ورجع سلطان العلماء عز الدين بن عبد السلام الفقه إلى الكلمتين:

دَرْهُ الْمَقَاسِمِ، وَجَلْبُ الْمَصَالِحِ

Dalam kasus kecelakaan KRL, mafasid (kerusakan) utamanya adalah sistem transportasi yang tidak aman. Kaidah fiqih lainnya,

الضرر يزال

(bahaya itu harus dihilangkan), menuntut bahwa yang harus “dibuang” adalah sumber bahayanya seperti kelayakan gerbong, sistem pengereman, atau manajemen kepadatan bukan justru mengatur posisi korbannya.

Mengusulkan gerbong khusus sebagai jawaban atas kecelakaan fatal justru berisiko mengaburkan akar masalah. Seolah-olah, jika perempuan berada di gerbong khusus dan tetap terjadi kecelakaan, maka tugas negara sudah selesai. Ini adalah logika yang berbahaya karena seakan-akan memaklumi adanya “bahaya” selama subjek yang rentan sudah dipisahkan.

Kaidah المشقة تجلب التيسير

(kesulitan mendatangkan kemudahan) seharusnya diterjemahkan oleh negara dengan memberikan fasilitas keamanan yang menyeluruh (comprehensive security). Keamanan harus bersifat universal, tidak memandang gender dan tidak bergantung pada di mana seseorang duduk.

Memisahkan perempuan dalam satu gerbong demi menghindari pelecehan mungkin masuk akal secara sosial. Namun, menjadikannya solusi atas tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa adalah sebuah lompatan logika yang timpang. Kita tidak ingin kebijakan publik hanya bersifat kosmetik seolah-olah bekerja, padahal hanya memindahkan masalah dari satu sudut ke sudut lain.

Kita tentu menghargai perhatian Menteri PPPA terhadap kaum perempuan. Namun, keselamatan nyawa manusia adalah amanah konstitusi dan mandat agama yang paling tinggi (hifzhun nafs). Rakyat tidak butuh sekadar “pengalihan” lokasi di dalam kereta; rakyat butuh jaminan bahwa kereta yang mereka tumpangi tidak akan berubah menjadi peti mati, di gerbong mana pun mereka berada.

Jangan sampai kebijakan gerbong khusus ini justru menjadi “pemakluman” atas ketidakmampuan kita memperbaiki sistem transportasi secara fundamental. Karena dalam fiqih, kemaslahatan yang sejati adalah kemaslahatan yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar memoles permukaan.

 

Menjaga Harmoni Akulturasi dalam Kesenian Kuda Lumping

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Akulturasi antara Islam dan budaya lokal merupakan bagian penting dalam kehidupan Masyarakat Indonesia. Islam tidak datang dengan menghapus tradisi yang sudah ada, tetapi berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Dari proses ini, lahir bentuk-bentuk budaya baru yang mencerminkan perpaduan antara nilai agama dan kearifan lokal. Kesenian Kuda Lumping menjadi salah satu contoh nyata dari proses tersebut.

Pertunjukan Kuda Lumping di Desa Limbangan menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam menyatu dalam praktik budaya. Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin secara Islami, menandakan adanya kesadaran religius dalam menjalankan tradisi. Selain itu, iringan gamelan juga dipadukan dengan lantunan dzikir Hasbunallah wanikmal wakil (حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ) dari Surah Ali ‘Imran ayat 173, yang bermakna tawakal kepada Allah sebagai penolong terbaik. Perpaduan ini memperlihatkan bahwa nilai Islam hadir secara damai dan menyatu dengan budaya lokal.

Namun demikian, dalam pertunjukan tersebut masih terdapat unsur-unsur lama, seperti penggunaan dupa dan fenomena kesurupan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan budaya tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui proses yang bertahap. Tradisi lama tetap bertahan, tetapi mulai beradaptasi dengan nilai-nilai baru yang masuk.

Unsur-unsur tersebut tidak lepas dari asal-usul Kuda Lumping. Menurut Edi Sedyawati (1981), kesenian ini berasal dari kepercayaan lama masyarakat Jawa, seperti animisme dan dinamisme, sehingga unsur kesurupan dipahami sebagai bagian dari hubungan manusia dengan kekuatan gaib. Seiring berjalannya waktu, sebagaimana dijelaskan oleh Saputra (2011), Kuda Lumping berkembang tidak hanya sebagai ritual, tetapi juga menjadi pertunjukan budaya yang sarat makna dan simbol tentang kehidupan serta hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami perbedaan antara akulturasi dan sinkretisme. Akulturasi adalah proses penyesuaian budaya dengan nilai Islam tanpa meninggalkan prinsip dasar tauhid. Sementara itu, sinkretisme berpotensi mencampurkan keyakinan secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijak dalam menjaga tradisi agar tetap selaras dengan nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian, Kuda Lumping tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara agama dan budaya. Jika tidak disertai pemahaman yang tepat, akulturasi berpotensi bergeser menjadi sinkretisme. Namun, jika dikelola secara bijak, ia justru dapat memperkuat nilai spiritual tanpa menghilangkan identitas budaya.

Kunjungan dan Dialog Aspiratif Desa Kutorojo

Penulis: Muhammad Wafiq Farhan, Editor: Nahla Asyfiyah

Pada Kamis, 23 April 2026, telah dilaksanakan kunjungan silaturahmi dan dialog aspiratif yang bertempat di Wisata Gua Macan, Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen. Pertemuan ini dihadiri oleh Dr. Nur Khafid, S.Th.I., M.Sc., selaku perwakilan dari Kementerian Agama, beberapa dosen UIN Gus Dur, yaitu: Dr. Nanang Hasan Susanto, M.Pd.I., Syamsul Bahri, M.Sos, dan Muhammad Alghiffary, M.Hum. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulhajat, beserta jajaran kepala dusun setempat. Pemilihan lokasi di Gua Macan menjadi latar belakang penting dalam mendiskusikan kembali sejarah serta identitas desa yang dahulu bernama Desa Kutomulyo.

Sejarah Desa Kutomulyo ini berkaitan erat dengan kisah Mbah Mulyo dan putrinya yang melarikan diri ke wilayah ini untuk menghindari paksaan orang Belanda. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Desa Kutorojo yang mengandung filosofi dan harapan agar desa ini tumbuh menjadi sebuah kota kecil (kota mini) yang mandiri serta makmur. Secara geografis, Desa Kutorojo terletak pada ketinggian 450–500 meter di atas permukaan laut (mdpl), posisi yang sangat mendukung potensi pertanian, terutama pada komoditas kopi yang melimpah.

Baca juga: Menanam Harapan, Menumbuhkan Ekoteologi, LP2M UIN Gus Dur Bersama Desa Linggoasri Tanam 1.000 Bibit Kopi di Tanah Wakaf

Selain potensi kopi, kekuatan ekonomi Desa Kutorojo bertumpu pada sektor kehutanan seperti pinus, persawahan, serta industri kreatif berupa kerajinan bambu atau reyeng. Kerajinan ini merupakan mata pencaharian mayoritas warga yang pemasarannya telah menembus pasar ibu kota Jakarta. Desa ini juga memiliki kekayaan alam unik berupa mata air yang mengalir dari batu berlubang di atas bukit sebagai sumber kehidupan warga. Keberadaan sumber daya ini terus didorong pengembangannya guna mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi desa yang ada.

Dalam dialog yang berlangsung di Gua Macan tersebut, dipaparkan mengenai keragaman tata cara peribadatan dari berbagai agama dan kepercayaan yang ada di desa. Mulai dari Islam, Hindu, hingga Kapitayan. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Ketua Agama Hindu setempat yang memperkuat potret nyata kerukunan antarumat beragama di Desa Kutorojo. Kehidupan sosial di desa ini memang menjadi teladan moderasi, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang dan organisasi kemasyarakatan dapat hidup berdampingan dengan rukun.

Melalui pertemuan di lokasi wisata ini, muncul harapan besar agar Desa Kutorojo dapat dikenal luas sebagai “Desa Moderasi”, menyamai reputasi desa-desa moderasi lainnya yang sudah terkenal di Indonesia. Harmoni sosial yang ditunjukkan oleh warga dalam keseharian mereka menjadi pondasi utama bagi pembangunan desa ke depannya. Dengan demikian, perpaduan kekayaan alam serta kuatnya nilai toleransi, Desa Kutorojo optimis dapat bertransformasi menjadi desa yang maju dan mandiri.

Lebih lanjut, potensi pertanian kopi di ketinggian 450–500 mdpl diproyeksikan dapat diintegrasikan dengan pengembangan wisata untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Dialog ini menekankan pentingnya penguatan sektor ekonomi lokal agar selaras dengan identitas budaya dan nilai-nilai religius masyarakat setempat. Optimalisasi pasar lokal menjadi salah satu rekomendasi strategis untuk memasarkan potensi-potensi unik tersebut secara lebih luas.

Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan untuk terus menjaga warisan sejarah dan harmoni lintas agama yang telah mengakar sejak zaman Desa Kutomulyo. Sinergi antara tokoh masyarakat dan pemerintah desa menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Desa Kutorojo sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Pekalongan. Melalui semangat kebersamaan, Desa Kutorojo siap melangkah menjadi destinasi yang unggul baik dari segi agrikultur maupun kemasyarakatan.

Tingkatkan Kapasitas Pengelolaan Website: Hijratunaa Berikan Pelatihan Intens Selama 2 Hari

Penulis: Muslimah, Editor: Atika Puspita Rini, Foto: Luthfi

Kamis (23/4), Hijratunaa sebagai sindikasi media berikan pelatihan intens selama 2 hari, Kamis-Jumat 23-24 April 2026 untuk tim pengelola, dengan tujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan webbsite. Pelatihan ini bertempat di meeting room lantai 3 Gedung Perkuliahan Terpadu (GPT) Kampus 2 UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola webbsite, mulai dari pengenalan dasar hingga optimalisasi distribusi tulisan. Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi terkait manajemen konten & redaksi digital, praktik langsung pembuatan opini esai, hingga berkenalan dengan budaya lokal di ranah digital.

Baca juga:Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Dengan menghadirkan narasumber Dr. Nur Khafid, S.Th.I, M.Sc. (Islam Santun), Bambang Suryantoro S, S.H., M.Si. (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang), dan Zaimuddin Ahya, M.Ag. Nur Khafid sendiri menjelaskan bahwa daya tarik sebuah webbsite merupakan hal yang penting dalam pengelolaan media,
“Nah, yang berikutnya adalah daya tarik. Nah, kalian daya tarik ini daya tarik website-nya, daya tarik gaya tulisannya, maupun daya tarik dirimu. Jangan sampai kalian itu mau membranding Hijratunaa tetapi kalian aja enggak membuat orang tertarik.”

Pimpinan Redaksi Hijratunaa Alghiffary, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat pengelola dalam mengembangkan webbsite Hijratunaa,
“IslamSantun.org pengelolaannya dihadirkan di sini karena beliau memiliki banyak sekali pengalaman dari pahitnya mengelola web hingga sampai sekarang beliau menjadi orang besar. Nah, itu bisa menjadi pemantik semangat teman-teman pengelola Hijratunaa seperti itu.” Jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi yang diberikan oleh narasumber. Diharapkan melalui pelatihan ini, peserta mampu mengelola webbsite secara mandiri dan memanfaatkannya sebagai media informasi yang efektif.

Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

Penulis: Rinda Asytuti dan Ahmad Fawwaz Rizka

Editor: Atika Puspita Rini

Islamic Ecosytem adalah sistem terintegrasi yang mencakup seluruh elemen halal—keuangan, industri, haji/umrah, dan sosial—yang dikelola berdasarkan prinsip Syariah. Maka pertumbuhan market share Syariah baik dilembaga keuangan perbankan maupun non perbankan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekosistem Syariah di Indonesia. Peran perbankan Syariah sebagai unsur pembentuk ekosistem Syariah adalah menyediakan jasa layanan perbankan secara paripurna dan Syariah legitimate dalam mendukung pertumbuhan industri halal, masyarakat ,dan institusi sosial kemasyarakatan secara aman, aksesable dan berkelanjutan dengan menjalankan prinsip Syariah secara paripurna.

Baca juga:RMB Sejati Bersamai Kelas Berkah Keuangan Muslimat NU guna Perkuat Resiliensi Keluarga Maslahah

Pertumbuhan Lembaga Keuangan Syariah saat ini belum memenuhi target yang telah ditentukan sebesar 10%. Hingga sampai september 2025 tercatat hanya sebesar 7,7%, hal ini terjadi karena beberapa hal; Pertama, belum masifnya sosialisasi Lembaga Keuangan Syariah di Masyarakat; Kedua, masih terbatasnya jumlah kantor dan variasi produk yang dimiliki oleh Lembaga Keuangan Syariah; Ketiga, belum masifnya dukungan negara atas percepatan pertumbuhan Lembaga Keuangan Syariah; Keempat, masih terbatasnya teknologi yang dimiliki oleh Lembaga Keuangan Syariah; dan Kelima, belum terciptanya ekosistem Syariah yang terintegrasi antar institusi baik institusi bisnis maupun institusi sosial.

Market share Lembaga Keuangan Syariah perbankan memang masih terlalu kecil dibandingkan seluruh market share bank Indonesia. Akan tetapi kinerja ini berbeda dengan market share di pasar modal Syariah. Pasar modal syariah Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan, dengan pangsa pasar (market share) mencapai 40,7% hingga 45,9% dari total pasar modal nasional pada akhir 2025 atau awal 2026.

Dominasi ini didukung oleh peningkatan jumlah investor saham syariah yang mencapai lebih dari 207 ribu per Oktober 2025 serta total aset mencapai triliunan rupiah Islamic ecosystem dijalankan didasarkan pada prinsip maqoshid Syariah. Dimana Maqāṣid al-Sharīʿah memberikan dasar normatif untuk mengevaluasi arsitektur dan orientasi yurisprudensi Islam. Dimana Maqāṣid, sebagaimana diartikulasikan oleh al-Shatibi dan Ibn  Ashur, menggarisbawahi perlunya menjaga lima nilai dasar: agama (ḥifal-dīn), jiwa (ḥifal-nafs), intelek (ḥifal-ʿaql), garis keturunan (ḥifal-nasl), dan properti (ḥifal-māl). Dalam kerangka ini, hukum keluarga Islam memainkan peran penting dalam memastikan alokasi aset yang adil (warisan), kesejahteraan anak-anak dan perempuan  (mata pencaharian dan hak milik), dan keberlanjutan ekonomi.

Keuangan sosial Islam atau biasa disebut dengan filantropi islam meliputi infak, shodaqoh, zakat, dan wakaf merupakan bagian terintegrasi dalam pembentukan ekosistem islam. Di mana variabel sosial ini  adalah cara Islam dapat menyeimbangkan distribusi pendapatan dalam Masyarakat sehingga, tercapai kehidupan yang berkeadilan dalam bingkai muamalah yang berkelanjutan.

Keberadaan institusi sosial seperti Lembaga Filantropi Islam, LazisMU, LazisNU, Badan amil zakat nasional, Badan Wakaf Indonesia, Dhompet Dhuafa dan Lembaga amil Zakat swasta lainnya menjadi sangat penting guna meningkatkan kontribusi dana sosial bagi peningkatan ekonomi umat Islam secara umum. Untuk itu diperlukan roadmap pengembangan kinerja Lembaga Keuangan Islam secara baik dan komprehensif. Hal ini menjadi tugas kerja Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk menjadikan dana sosial ini menjadi turbinase penggerak perekonomian dengan didasarkan pada profesionalitas, transparansi, dan kegiatan kerja berkelanjutan.

Peningkatan kinerja keuangan Islam dalam ekosistem Islam dapat memberikan manfaat; Pertama, meningkatkan jaringan pengaman sosial melalui pemberdayaan ekonomi dhuafa dan miskin, melalui program pemberdayaan ziswaf produktif. Kedua, dapat memberikan lack of gap dalam distribusi kekayaan di masyarakat dengan memberikan kesempatan berusaha yang terintegrasi dengan institusi bisnis Islam dalam program Qordul Hasan. Ketiga, dapat  mendukung pembangunan negara dengan dana berbasis sosial seperti penerbitan Cash Wakaf Link Sukuk (CWLS), Cash Wakaf Link Deposito (CWLD), dan instrument wakaf lain yang dikaitkan dengan produk-produk keuangan lainnya. Keempat, membuat integrasi digital antar lembaga yang terkait dalam ekosistem islam seperti teknologi digital, produk fintech dan pendidikan, bahkan tempat ibadah masjid dan sektor bisnis lainnya.

Dalam penguatan lembaga sosial islam perlu melalui; Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan meningkatkan jumlah pengelola ziswaf yang memiliki sertifikat kompetensi sebagai benchmark kompetensi. Kedua, peningkatan keterlibatan pemerintah sebagai regulator dan pengawasan lembaga sosial yang ada di Indonesia melalui lembaga tertentu di bawah kementrian agama. Dilakukan pengawasan onside dan offside secara berkala.  Ketiga, penguatan teknologi digital dalam menunjang peningkatan keterlibatan masyarakat untuk pengumpulan dan distribusi penggunaan data e-kTP, dan data sosial kependudukan sebagai basis data terintegrasi. Keempat, intergrasi bisnis antara institusi, stakeholder dan Lembaga Pendidikan, pesantren, dan masjid sebagai bagian integral dalam ekosistem islam.

Foto: Freepik.

 

Nasionalisme Akar Rumput: Membedah DNA Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Penulis: Muhammad Khaqim*, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Dunia mengenal Raden Mas Suwardi Suryaningrat sebagai putra aristokrat yang tumbuh di balik kokohnya tembok Keraton Yogyakarta. Namun, sejarah mencatatnya sebagai pria yang paling berani menanggalkan jubah keningratannya demi sebuah peci rakyat. Keputusannya berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara di usia 40 tahun bukanlah sekadar urusan administrasi, melainkan sebuah proklamasi spiritual untuk meleburkan jarak antara “sang guru” dan “si jelata”. Ia memilih jalan sunyi yang berbahaya, melawan kolonialisme bukan dengan bedil, melainkan dengan membedah DNA kebudayaan bangsa dan menyuntikkannya ke dalam urat nadi pendidikan yang paling mendasar.

Pendidikan bagi Ki Hadjar bukanlah menara gading yang menjauhkan anak-anak dari bau tanah kelahirannya, melainkan sebuah “akar rumput” yang harus tetap berpijak pada bumi pertiwi meski pucuknya menjulang menantang zaman. Melalui sistem Among dan penguatan bahasa ibu, ia mengingatkan kita bahwa kecerdasan tanpa karakter nasional hanyalah bentuk alienasi diri, sebuah kondisi tidak wajar yang membuat seseorang menjadi asing di rumah sendiri. Membedah DNA pendidikan Ki Hadjar ini berarti menelusuri kembali jejak-jejak ketulusan batin yang kini seringkali tergerus oleh mekanisasi kurikulum yang kehilangan jiwa kebangsaannya.

Baca juga: Membaca Ulang Gaya Mengajar Nabi: Saat Cinta Menjadi Inti Pendidikan

Berlian dari Yogyakarta: Intelektualitas yang Membumi

Penyematan istilah “berlian dengan banyak faset” oleh Prof. Dr. Sardjito bukanlah sekadar sanjungan puitis, melainkan sebuah pengakuan atas rigiditas sekaligus kejernihan intelektual Ki Hadjar Dewantara. Layaknya berlian yang terbentuk dari tekanan ekstrem di kedalaman bumi, integritas Ki Hadjar ditempa melalui jeruji penjara dan getirnya pengasingan di Belanda. Setiap sisi (faset) kehidupannya sebagai jurnalis tajam, politisi progresif, hingga pendidik humanis, memantulkan cahaya perlawanan yang berbeda, tetapi bersumber dari satu inti yang sama, yaitu kedaulatan martabat bangsa pribumi yang selama berabad-abad terkubur di bawah tumit kolonial.

Keistimewaan utama dari “berlian” Yogyakarta ini adalah sifatnya yang tidak silau oleh kemegahan keningratan. Meski lahir dengan privilese darah biru di lingkungan Pura Pakualaman, Ki Hadjar memilih untuk melakukan dekonstruksi terhadap kelas sosialnya sendiri. Ia adalah intelektual yang sadar bahwa ilmu pengetahuan akan menjadi hampa jika hanya dipenjara dalam menara gading atau etiket keraton yang kaku. Baginya, kecerdasan sejati harus memiliki daya sentuh, ia harus bisa dirasakan oleh anak-anak rakyat jelata yang seringkali ia ajak melintasi batas-batas sakral tembok istana untuk sekadar mengenal keindahan budayanya sendiri.

Intelektualitas yang “membumi” ini tercermin dari keberaniannya dalam melakukan aksi harian yang organik. Nasionalisme Ki Hadjar tidak lahir dari diskusi teoretis di kafe-kafe Eropa, melainkan dari debu jalanan dan perkelahian fisik demi membela kehormatan teman-temannya dari penghinaan anak-anak Belanda (sinyo). Ia adalah tipologi pemikir yang meyakini bahwa tangan yang menuliskan kritik tajam terhadap pemerintah kolonial adalah tangan yang sama yang harus merangkul rakyat kecil. Dialektika antara pikiran yang melangit dan kaki yang membumi inilah yang membuat gagasannya tentang pendidikan nasional begitu kokoh dan sulit diruntuhkan oleh zaman.

Baca juga: Peran Pendidikan dalam Memperkuat Moderasi dan Multikulturalisme di Kalangan Siswa

Lebih jauh lagi, pemikiran Ki Hadjar menunjukkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus menjadi “kebarat-baratan”. Ia mengolah nilai-nilai universal tentang kemerdekaan manusia dengan kearifan lokal yang sangat kental, menciptakan sebuah sintesis pendidikan yang berakar pada DNA kebudayaan sendiri. Berlian ini bersinar karena ia jernih dalam melihat jati diri bangsanya, ia menolak menjadi sekadar replika intelektual Eropa. Bagi Ki Hadjar, seorang terpelajar yang tercerahkan adalah mereka yang mampu menerjemahkan kompleksitas dunia luar ke dalam bahasa rasa yang dimengerti oleh rakyat di akar rumput.

Dalam hal ini, Ki Hadjar membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang keteladanan yang sunyi, tetapi berdampak masif. Ia bukan hanya mengajarkan teori kebangsaan, ia menghidupinya dengan menanggalkan identitas kebangsawanan demi sebuah pelayanan total. Inilah hakikat “berlian yang membumi”, sebuah kekayaan batin yang tak ternilai harganya, yang kilauannya tidak bersumber dari emas atau tahta, melainkan dari api semangat yang membakar habis kebodohan dan ketertinggalan bangsa Indonesia hingga hari ini.

Taman Siswa: Laboratorium Kemerdekaan

Taman Siswa didirikan bukan sekadar untuk menjawab kegelapan buta aksara yang sengaja dipelihara oleh kolonial, melainkan sebagai sebuah proklamasi kebudayaan. Di tangan Ki Hadjar Dewantara, institusi ini menjelma menjadi laboratorium kemerdekaan, sebuah ruang di mana rantai-rantai mentalitas inlander diputuskan melalui pendidikan yang memanusiakan. Jika sekolah-sekolah Belanda mencetak sekrup-sekrup birokrasi demi kepentingan pasar, maka Taman Siswa mencetak pribadi-pribadi yang memiliki kedaulatan atas pikirannya sendiri. Di sinilah kurikulum disusun bukan dari ambisi asing, melainkan dari denyut nadi kebutuhan bangsa yang haus akan harkat dan martabat.

Baca juga: Membumikan Langit: Menghidupkan Spirit Fikih Untuk Kedamaian Umat

Aspek paling revolusioner dari laboratorium ini adalah penolakan mutlak terhadap segala bentuk diskriminasi. Taman Siswa meruntuhkan tembok pemisah antara anak bangsawan dan anak rakyat jelata, antara si kaya dan si miskin, di atas satu landasan yang sama, asas kebangsaan. Di ruang kelas yang bersahaja itu, ras dan golongan menjadi tidak relevan di hadapan cita-cita kemerdekaan. Ki Hadjar memahami bahwa kemerdekaan politik mustahil dicapai tanpa kemerdekaan mental, dan kemerdekaan mental hanya bisa dirajut jika setiap anak bangsa merasa memiliki kedudukan yang setara di tanah airnya sendiri.

Pilihan Ki Hadjar untuk mengutamakan bahasa ibu pada tingkat dasar merupakan sebuah strategi psikologis yang sangat jenius. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah bagi jiwa dan jati diri. Dengan memeluk bahasa sendiri, anak-anak didik di Taman Siswa tidak kehilangan “tali pusar” batin dengan orang tua dan akar budayanya. Inilah benteng pertahanan pertama melawan kondisi yang tidak wajar, suatu keterasingan batin di mana seseorang secara biologis adalah pribumi, tetapi secara perasaan dan gaya hidup sepenuhnya menjadi bayang-bayang semu bangsa asing.

Di dalam laboratorium ini, guru tidak diposisikan sebagai penguasa kelas yang menakutkan, melainkan sebagai pamong yang menuntun kodrat anak dengan penuh kasih sayang. Para pengajar di Taman Siswa adalah mereka yang telah mewakafkan hidupnya bagi kepentingan rakyat tanpa pamrih material yang berlebihan. Mereka bekerja dengan semangat kemandirian (self-help), membuktikan bahwa pendidikan nasional dapat tegak berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus mengemis pada subsidi pemerintah kolonial yang selalu disertai dengan syarat-syarat yang membelenggu kreativitas.

Baca juga: Hijau Iman, Hijau Pendidikan, Ikhtiar Kolektif Menjaga Alam Indonesia

Taman Siswa juga memperkenalkan konsep harmoni antara kecerdasan kognitif dan kehalusan budi pekerti. Pendidikan di sini tidak hanya tentang menghafal angka atau rumus, tetapi tentang mengasah rasa melalui kesenian dan budaya. Ki Hadjar meyakini bahwa karakter yang kuat harus selaras dengan jiwa zaman, tetapi tetap setia pada akar tradisi. Inilah yang membuat alumni Taman Siswa memiliki ketahanan mental yang luar biasa, mereka cerdas secara intelektual, tetapi tetap lembut dalam rasa dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip kenasionalan yang telah tertanam sejak dini.

Pada akhirnya, Taman Siswa adalah bukti nyata bahwa pendidikan adalah senjata yang paling mematikan bagi penjajahan. Ia bukan hanya mengajarkan cara membaca dan menulis, tetapi mengajarkan cara menjadi “manusia merdeka” yang mampu memerintah dirinya sendiri. Warisan laboratorium kemerdekaan ini mengingatkan kita bahwa sejatinya tujuan akhir dari pendidikan adalah terciptanya ketertiban dan kedamaian lahir batin, di mana setiap individu mampu berkontribusi bagi kemuliaan bangsanya dan kemanusiaan universal tanpa harus kehilangan jati diri aslinya.

*Dosen UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan