Pentingnya Moderasi dalam Islam untuk Mengatasi Kesalahpahaman dan Membangun Harmoni Sosial

Penulis : M Keanu Zimran Edlyn, Editor : Tegar Rifqi

Agama merupakan salah satu aspek kehidupan yang wajib tertanam dan diyakini oleh setiap warga negara Indonesia. Hal itu tertuang jelas dalam pancasila tepatnya pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam sehingga tidak heran lagi jika islam membuat beberapa aspek kehidupan seperti aspek sosial dan budaya ikut terpengaruhi dan menyesuaikan dengan ajaran islam yang ada. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat seringkali salah paham dalam mengartikan suatu ajaran yang ada pada agama islam yang membuat nilai-nilai keislaman sering disalah artikan dan membuat masyarakat beranggapan bahwa islam merupakan agama yang konservatif. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan baik dalam segi praktik bergama ataupun penyebaran nilai-nilai keislaman sehingga dapat diterima oleh masyarakat sekaligus menunjukan bahwa islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Islam moderat menjadi jawaban yang cocok jika melihat situasi saat ini. Sesuai dengan namanya, islam moderat merupakan jalan tengah yang dapat diambil dalam praktik beragama yang mana selain mempelajari nilai-nilai keislaman, islam moderat juga mengedepankan nilai-nilai sosial seperti toleransi, keadilan, dan keseimbangan.

Moderasi dalam Islam adalah langkah bijak untuk menjembatani perbedaan, menghormati keragaman, dan membangun harmoni sosial. Dalam pandangan ini, Islam moderat memandang bahwa keberagaman adalah anugerah yang memperkaya, bukan sumber konflik. Keteladanan tokoh-tokoh Islam moderat mengajarkan bahwa kita dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat dengan mempromosikan dialog, pemahaman, dan persatuan.

Motivasi dari pemikiran ini adalah membangun karakter yang kuat dan berdaya, sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong pengembangan diri. ‘Dalam Islam moderat, kita diberdayakan untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, gigih dalam pengembangan diri, dan berkontribusi untuk kesejahteraan bersama.’ Oleh karena itu, mengamalkan Islam moderat bukan hanya sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai landasan untuk menginspirasi diri sendiri dan orang lain menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Aktualisasi Moderasi Beragama di Desa Linggoasri oleh Mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis : Mujaahidah Izzati Khoirun Nisa, Editor : M. Nurul Fajri
Pekalongan, Hijratunaa.com

Mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan, program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Komunikasi Penyiaran Islam, dan Manejemen Dakwah mengikuti kegiatan aktualisasi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat berbasis Moderasi Beragama di Desa Linggoasri. Kegiatan ini didampingi oleh Dr. Rifa’i Subhi M.Pdi, Adib ‘Aunillah Fasya, M. Si, dan Syamsul Bakhri, M.Sos. Kegiatan ini dihadiri pula oleh dua tokoh dari Desa Linggoasri yang beragama Islam dan Hindu, yaitu Bpk. Mustajirin yang beragama Islam, dan Bpk. Taswono yang beragama Hindu pada tanggal 14 November 2023.

Desa Linggoasri adalah desa yang terkenal dengan kerukunan antar umat beragamanya. Masyarakat desa di sini menganut berbagai agama, antara lain, Islam, Hindu, Budha, dan Kristen. Perbedaan tersebut mencipatakan keharmonisan antar umat beragama dalam bentuk saling toleransi. Islam mengajarkan kita untuk membangun masyarakat dalam bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia sikap dan penghormatan terhadap perbedaan. Saling menghargai, toleransi yang merupakan nilai nilai moderasi beragamama sudah berjalan dari nenek moyang di Linggoasri, bahkan sebelum dikenalkan apa itu Moderasi Beragama di Desa ini (Linggoasri).

Materi yang pertama disampaikan oleh Taswono, yaitu Moderasi Beragama di agama Hindu. Agama Hindu juga mengajarkan konsep moderasi. Taswono menyatakan bahwa moderasi agama dalam sudut pandang agama Hindu bagaikan sebuah rumah yang memiliki pondasi utama, pilar dan atap. Empat pondasi tersebut yaitu: Jnana-Wijnana (pengetahuan-kebijaksanaan), Tattvamasi-Vasudewa Kuntumbhakam (kita semua bersaudara), Ahimsa Parama Dharma (menghindari kekerasan), Yadnya-Bhakti (kesediaan berkorban tanpa pamrih-mengabdi tulus). Pilar Penyangganya: Karuna (cinta kasih), Maitri (pertemanan, persahabatan), Mudita (simpati, empati), dan Upeksa (toleransi).

Hal yang mendasari moderasi beragama, di dalam agama Hindu harus memiliki sifat terbuka untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain, kemudian sifat menghargai perbedaan atau menerima perbedaan. Dalam menerapkan moderasi beragama di Linggoasri sudah memiliki tradisi saling membantu. Contohnya pada pelaksanaan Nyepi, umat Islam yang tinggal di Linggoasri ikut membantu dalam kerja bakti kebersihan, memasak, dan keamanan. Pada 10 Muharam biasanya ada santunan anak yatim, tidak hanya umat Islam yang mendapatkan santunan, masyarakat Hindu disana juga ikut mendapatkan santunan karena mereka semua bersaudara.

Masyarakat Linggoasri menerapkan prinsip wasathiniyah yang artinya tengah-tengah atau moderat, disebut juga  dengan istilah tawasuth. Dengan prinsip tawasuth menjadikan masyarakat Linggoasri tidak ekstrim dalam menanggapi agama lain dan tentunya rasa saling menghargai itu tertanam di jiwa masyarakat Linggoasri. Mustajirin, selaku tokoh agama Islam setempat mengatakan bahwa ada tiga buah ukhwuwah  (persaudraan) dalam Islam. Yang pertama ada Ukhuwah Islamiyah yaitu saudara sesama muslim, yang kedua Ukhuwah Wathoniyah yaitu saudara dalam lingkup satu kenegaraan, dan yang ketiga Ukhuwah Basyariyah atau Uhuwah Insaniyah, yaitu persaudraan sesama umat manusia, tidak memandang apapun agamanya, entah itu Hindu, Kristen, atau lainnya.

Cultural Camp for International Students: Memperkenalkan Moderasi Beragama dan Keberagaman Budaya di Linggoasri

Pewarta : Amarul Hakim, Editor : Sam

Linggoasri, 16 Mei 2024 – UIN Gusdur Pekalongan memperkenalkan kehidupan kerukunan umat beragama di Desa Linggoasri kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan Cultural Camp for International Students. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, dari 13 hingga 16 Mei 2024, ini melibatkan 17 mahasiswa asing, 7 dari UIN Gusdur dan 10 dari ITS Surabaya  yang berasal dari Prancis, Belanda, Aljazair, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Desa Linggoasri dipilih karena merupakan desa Moderasi Beragama binaan UIN Gusdur yang di gagas oleh Syamsul Bakhri dan M. Rifa’Subhi ini telah meraih penghargaan sebagai Kampung Moderasi Beragama terbaik nomor delapan serta rumah ibadahnya sebagai rumah ibadah moderat nomor dua di Indonesia. Dosen pendamping kegiatan ini, Ryan Marina, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan keberagaman Indonesia kepada mahasiswa asing.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa asing dapat mengenal Indonesia tidak hanya dari satu sisi, tetapi juga dari keberagamannya, sehingga keberagaman Indonesia dapat terpromosikan,” ujar Ryan pada Rabu (15/5).

Kegiatan ini mencakup kunjungan ke berbagai tempat di Desa Linggoasri, termasuk Masjid Kayu khusnul khotimah Linggoasri, Pura Kalingga Setya Dharma, SDN 01 Linggoasri, Batu Lingga, rumah warga dengan latar belakang agama berbeda, Kali Paingan, Taman Bunga Linggoasri, Kebun Binatang Mini Linggoasri, Pasramanan, Green House Bibit Cabai Jawa, kebun kapulaga, dan kebun cabai Jawa.

Salah satu momen menarik adalah ketika para peserta mengunjungi SDN 01 Linggoasri, di mana mereka berinteraksi langsung dengan siswa dari kelas 1 hingga 5. Dengan bantuan volunteer sebagai penerjemah, mahasiswa internasional mengajarkan bahasa asing, mengadakan permainan, dan memberikan hadiah kepada siswa.

Ahmad Dalari, salah satu guru di SD tersebut, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para siswa. “Ini membuka wawasan kepada anak-anak bahwa pengetahuan itu luas dan bahasanya beragam, sehingga wawasan mereka bertambah,” ungkap Dalari.

Isriani Hardini, ketua International Office UIN Gusdur, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah yang kedua kalinya. “Sebelumnya, mahasiswa asing dari Korea Selatan, Cina, dan Thailand telah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu. Kegiatan ini terbukti sangat menarik bagi mahasiswa asing. Mereka tidak hanya belajar moderasi beragama, tetapi juga antusias belajar rebana, gamelan, tari, serta pertanian kapulaga dan cabai Jawa,” jelasnya.

Menurut Mustajirin, ketua kelompok tani cabai Jawa di Linggoasri, “Desa Linggoasri sekarang memiliki Green House pembibitan cabai Jawa yang bisa dibeli oleh masyarakat luas.” Fadholi, seorang petani kapulaga yang sukses mengembangkan cabai Jawa, menambahkan bahwa saat ini di Linggoasri sudah ada sekitar 1.000 bibit cabai Jawa yang telah ditanam di berbagai tempat oleh puluhan petani. “Kedepannya, kami akan terus mengembangkan cabai Jawa sebagai pelengkap komoditas rempah-rempah dari Linggoasri. Harapan kami, Linggoasri dikenal tidak hanya karena kapulaga dan kopi saja, tetapi juga karena cabai Jawa,” ungkap Fadholi.

Selain itu, menurut Dwi Ketua Ikatan Remaja Masjid Linggoasri “kegiatan ini sangat positif untuk mengenalkan budaya dan tradisi kita ke mancanegara, kami senang bisa mengajarkan rebana ke teman-teman mahasiswa asing, mereka sangat antusias sampai bisa melantunkan satu lagu”

Menurut Esa dari Peradah Linggoasri, menyambut baik dan senang karena bisa mengenalkan budaya Gamelan dan menari kepada mahasiawa asing. “Mereka sangat antusias dan berhasil memainkan satu bait nada Gamelan dan belajar menari sampai bisa”.

Kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kebudayaan dan kerukunan beragama di Indonesia, sekaligus mempromosikan potensi pertanian lokal seperti penanaman cabai Jawa dan pemanenan kapulaga.

Moderasi Beragama dalam Kehidupan Masyarakat Desa Linggoasri: Studi Kasus oleh Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis : Gymnasti Afif Fakhri, Editor : Lulu Salsabilah

Manajemen dakwah adalah salah satu prodi dari Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang dipilih  menjadi perwakilan  riset secara langsung di Desa Linggoasri. Bekerjasama dengan tim pemberdayaan masyarakat UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengadakan kegiatan aktualisasi pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat berbasis moderasi beragama pada Selasa, 14 November 2023. Kegiatan ini berlangsung di Bumdes Caffela yang di ikuti oleh 200 mahasiswa dan pembicara merupakan tokoh agama di Desa Linggoasri yakni Mustajirin dan Taswono.

Seperti yang disampaikan pemateri bahwa, Desa Linggoasri biasa di kenal sebagai desa moderasi. Disana terdapat empat agama yakni agama islam, kristen, hindu dan budha. Namun, masyarakat disana tetap hidup rukun dan saling gotong royong hal ini dapat dilihat dalam kegiatan santunan anak yatim yang mana ini adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh umat islam, akan tetapi dari agama lain seperti agama kristen, hindu dan budha disana ikut berperan membantu seperti ikut serta menjadi panitia santunan anak yatim serta membantu sukses nya suatu jalannya kegiatan santunan anak yatim dari umat islam disana. Sebaliknya agama agama lainnya juga saling timbal balik membantu umat agama yang satu dengan yang lain seperti membantu memikul ogoh-ogoh yang mana ogoh-ogoh ini kegiatan dari umat Hindu meski begitu dari agama islam, kristen, budha disana ikut berperan membantu memikul ogoh-ogoh dan ikut beriringan dalam merayakan acara karnaval. Kemudian masyarakat disana bahwa jika salah satu agama merayakan suatu hari spesial nya misalkan seperti umat hindu yang sedang merayakan hari Nyepi kemudian untuk menghormati hal itu umat islam disana melaksanakan adzan dengan tidak menggunakan pengeras suara (mikrofon). 

Tentu hal ini mencerminkan sikap moderat masyarakat di Desa Linggoasri, seperti yang dikenalkan oleh salah satu dosen UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pak Rifai dan pak Samsul yang saat itu sedang melakukan riset di linggo. Bahwa warga Linggoasri sendiri belum menyadari bahwa masyarakat di sana telah menerapkan 9 nilai moderasi beragama. Yakni tawassuth artinya tengah – tengah, seperti mengutamakan sifat pertengahan dalam segala hal, tidak ekstrem kanan kiri, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dunia dan akhirat, ibadah, ritual dan sosial doktrin dan ilmu pengetahuan. Tasamuh artinya toleran, seperti menghormati perbedaan suku, agama, dan ras. Al – Syura artinya musyawarah, seperti membahas dan menyelesaikan urusan setara bersama, menghormati dan mematuhi keputusan bersama, mau meyakini pendapat orang lain.

 Qudwah artinya kepeloporan, seperti menjadi pelopor dalam kebaikan. Ishlah artinya perbaikan seperti, berusaha memperbaiki keadaan, melakukan perubahan yang lebih baik, mau mendamaikan perselisihan untuk kebaikan bersama. Muwathanah artinya Cinta tanah air seperti, mempunyai rasa persaudaraan dengan sesama warga negara dan sikap sedia membela negara dari serangan fisik maupun non fisik sesuai ketentuan yang berlaku. Kemudian la’unf artinya anti kekerasan seperti, Cinta damai mengutamakan cara damai dalam menyelesaikan masalah atau mengatasi perselisihan, tidak main hakim sendiri. Dan yang terakhir U’rf artinya menghormati budaya menghormati tradisi yang dijalankan oleh masyarakat setempat serta tak mudah menuduh bid’ah dan sesat. Pak Tukiman sebagai tokoh agama Hindu disana  menyampaikan bahwa moderasi beragama juga di ajarkan oleh agama Hindu, seperti satu bangunan rumah bahwa semua mahluk manusia bersaudara, ada pesan untuk tidak saling menyakiti. Ahisam piramadana artinya tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun, pekerjaan yang dikerjakan secara tulus dan ikhlas. Jenaya artinya pengetahuan atau kebijaksanaan dalam pilarnya ada empat yakni, menumbuhkan kasih sayang, karuna artinya toleran, upaksa maitri dan udita. Sehingga sikap moderasi  penting bagi kita, mengingat negara kita Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman seperti bahasa, agama dan budaya. Moderasi ini menjadi solusi bagi antar umat beragama disisi lain moderasi dapat menjaga kesatuan bangsa.

Peran Organisasi dalam Mempertahankan Kerukunan di Desa Linggoasri

Penulis : Devina Aisyah Vidyadari, Editor : Azzam Nabil Hibrizi

Seperti yang kita ketahui, bahwa Linggoasri sendiri telah dinobatkan menjadi “Desa Moderasi Beragama dan Sadar Kerukunan”. Label tersebut tentu bukan tanpa alasan, karena di dalam desa ini, beragam umat beragama hidup berdampingan dengan rukun dan damai, bahkan saling gotong royong dalam perayaan acara antar-agama. Ini disebabkan oleh kontribusi dari berbagai organisasi yang ada dan berkembang di dalamnya. Di antaranya adalah FKPMM dan PERADAH, yang sangat membantu menjaga keragaman agama dan budaya di Desa Linggoasri.

Forum Komunikasi Pengurus Masjid dan Mushola di Linggoasri (FKPMM) didirikan oleh Pak Mustajirin pada tahun 1998. Sangat menarik bahwa ini terinspirasi dari kehidupan sehari-hari Pak Mustajirin di Jakarta Pusat sebagai anggota FKMM di Sukabumi Selatan. Pak Mustajirin kemudian terinspirasi oleh kegiatan FKMM karena dianggap sebagai organisasi yang dapat menyatukan pengurus masjid. FKPMM memiliki struktur organisasi dan beranggotakan semua warga muslim Linggoasri. Selain itu, sebagai organisasi besar di Desa Linggoasri, FKPMM memiliki kegiatan bulanan, tahunan, bahkan harian.

Selain itu, FKPMM berfungsi sebagai pusat bagi sejumlah organisasi Islam di Desa Linggoasri, yang bertanggung jawab untuk mengatur kegiatan mereka. Organisasi-organisasi ini termasuk IPNU/IPPNU, FATAYAT, Muslimat, Ansor, dan Banser. Banyak kegiatan agama lainnya, seperti malam tirakatan, santunan anak yatim, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. FKPMM juga menyatukan masyarakat untuk membantu kegiatan agama lain. Seperti pada hari raya Nyepi di mana umat Islam tidak memakai pengeras suara ketika mengumandangkan adzan, dan pemuda Islam yang mengarak bahkan membantu dalam pembuatan Ogoh-Ogoh.

Sebaliknya, komunitas Hindu juga memiliki organisasi. Salah satunya adalah PERADAH, singkatan dari Perhimpunan Pemuda Hindu, yang didirikan oleh seorang bapak bernama Waris pada tahun 1992, dan saat ini beroperasi di Desa Linggoasri. PERADAH juga memiliki struktur organisasi seperti FKPMM. Namun, satu hal yang membedakan adalah PERADAH hanya terdiri dari pemuda dan pemudi Hindu.

PERADAH bukan hanya organisasi yang mewadahi pemuda Hindu; itu juga memiliki tujuan bersama, yaitu meningkatkan peran mereka dalam keagamaan, pendidikan, keterampilan, kepemimpinan, dan kesenian. Organisasi ini, yang diketuai oleh Tria Wardana, telah banyak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di Desa Linggoasri, baik internal maupun lintas agama. Kegiatan seperti diskusi pemuda, pembagian takjil, dan bantuan dalam kerja bakti dan pengamanan di sekitar Masjid juga termasuk dalam daftar ini.

Sebenarnya, gotong-royong masyarakat Linggoasri ini bukan sekedar bentuk toleransi antar umat beragama. Lebih jauh, kegiatan gotong-royong ini juga membantu menjaga dan melestarikan keragaman tradisi Indonesia, yang memang kita ketahui sebagai negara multikultural. Karena seperti yang kita lihat, masyarakat di sini tetap terlibat tanpa mengatasnamakan agama, melainkan saling berkontribusi untuk senantiasa membantu dan membawa kebermanfaatan. Dalam Firman Allah disebutkan, “…Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”. Maka dari itu, sudah seharusnya kita melestarikan dan menjaga budaya yang ada serta memiliki rasa bangga dan mencintai budaya tersebut sebagai cara untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT karena Dia telah memberi kita pengetahuan yang luar biasa, terutama dalam hal kreativitas untuk melestarikan budaya tersebut. Menjaga, melestarikan, dan mengembangkan budaya adalah cara untuk menunjukkan rasa syukur dan kagum kepada Yang Maha Kaya. Apalagi, negri kita Indonesia memang dikaruniai dengan suku dan budayanya yang beragam. Tentu kita sebagai masyarakat Indonesia sendiri harus menjaga keutuhan dan persatuan bangsa ini. Wallahu A’lam.

Harmoni Agama dan Kebudayaan: Kisah Inspiratif dari Desa Linggo Asri

Penulis : Shilfa Amelia, Editor : Choerul Bariyah

Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai keberagaman, seperti halnya keberagaman agama dan budaya. Ada 6 agama yang ada di indonesia yaitu islam, kristen, katolik, hindu, buddha, dan konghucu. Dalam hal ini dibutuhkannya sikap toleransi antar umat beragama. Sikap toleransi antar agama adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan agama yang ada disekitar, dengan adanya sikap toleransi maka akan meminimalisir terjadinya konflik antar umat beragama dan kehidupan antar umat beragama pun akan terjalin dengan rukun dan damai. Indonesia sangat menjunjung tinggi sikap toleransi dan memberikan kebebasan kepada warganya untuk menjalankan keyakinannya. Selain agama ada juga budaya yang menjadi keanekaragaman bangsa Indonesia. Banyak sekali kebudayaan yang ada diindonesia,setiap daerah pasti mempunyai kebudayaan tersendiri. Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus harus menjaga dan melestarikannya agar kebudayaan yang ada tidak menjadi hilang dan punah.

Desa Linggo Asri Kabupaten Pekalongan menjadi contoh dari toleransi antar umat beragama dan dijuluki sebagai kampung moderasi beragama. Moderasi Beragama adalah sikap tengah, tidak ekstrem,  dan tidak berlebihan dalam menjalankan agamanya. Moderasi juga berarti “sesuatu yang terbaik“, atau sesuatu yang ada ditengah biasanya berada di antara dua hal yang buruk. Orang yang mempraktekkannya disebut moderat. Sebelum Linggoasri dinamakan sebagai kampung Moderasi Beragama, desa Linggoasri ini lebih dulu menerapkan sikap toleransi dengan agama lain Di Desa Linggoasri terdapat 4 agama yaitu Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen. Semua orang disana hidup secara berdampingan dengan umat agama lain tetapi mereka saling menerima perbedaan satu sama lain dan  tidak ada konflik diantaranya. Sri yanti selaku anggota aktif sanggar seni mengatakan bahwa sikap toleransi antar umat beragama sudah ada sejak beliau masih kecil. Anak kecil di Linggoasri pun sudah mempraktekan sikap saling menghormati perbedaan padahal umur mereka masih sangat dini tetapi mereka sudah saling mengingatkan satu sama lain karena mereka sudah biasa hidup dengan segala perbedaan, dan mereka akan  melakukannya sendiri tanpa harus disuruh. Ia juga mengatakan bahwa sanggar seni tidak hanya untuk umat hindu tetapi semua warga seperti muslim pun juga bisa mengikuti pelatihan seni. Sanggar seni ini dijadikan sebagai pelatihan seni seperti tarian-tarian yang biasanya ditampilkan pada upacara keagamaan dan diacara-acara seperti agustusan, pagelaran dan acara desa lainnya, bahkan sudah mengikuti acara perlombaan lingkup agama disemarang.

Warga desa Linggoasri sudah biasa hidup berdampingan dengan segala perbedaan tetapi mereka tetap hidup rukun dan tidak saling menjelekan umat agama lain, mereka saling hidup tolong menolong bahkan jika umat hindu sedang melakukan kebudayaan mereka, maka umat muslim juga membantunya seperti ikut membantu membawa ogoh-ogoh, dan begitu pun sebaliknya jika umat muslim sedang ada acara seperti maulid nabi maka umat hindu juga ikut mebantu menghadiri pengajian dan para pemuda hindu juga membantu mengatur lalu lintas,dan masih banyak lagi. Selain itu mereka saling menghormati dan memberikan kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing, sehingga tidak ada konflik antar agama di Linggoasri.

Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Penulis : Diah Karomah, Editor : Windi Tia Utami

Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan sebutan Gus Dur, beliau lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 september 1940. Nama kecilnya adalah Abdurrahman Addakhil, beliau dikenal sebagai seorang yang humanis. Gus Dur selalu membela masyarakat yang lemah, tertindas, dan minoritas. Ada berbagai macam hal yang memengaruhinya, mengapa Gus Dur mempunyai perspektif keberpihakannya terhadap orang lemah atau sering dikenal mustad’afin. Gus Dur sebagai orang yang sederhana dan pengaruh buku-buku yang dibaca, akan memengaruhi sikapnya dalam membela orang lemah.

Begitu juga dalam pemikiran lainnya, Gus Dur banyak dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus, misalnya situasi, buku yang ia baca, budaya, orang yang ia temui, pendidikan dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman yang dimilikinya akan membentuk konsep diri Gus Dur yang memiliki pemikiran tentang pribumisasi Islam, beliau yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dan univeraslisme Islam. Gus Dur yang memiliki sebuah gagasan pendidikan Islam yang dituangkan dalam sebuah tulisan “Pendidikan Islam Harus Beragama” dan tulisan-tulisan lainnya tentang wacana keislaman, bisa diketahui, bagaimana proses Gus Dur menghasilkan pemikiran yang terbuka dan progresif.

Setiap orang, termasuk juga Gus Dur telah melakukan proses interpretasi terhadap stimulus yang ia terima. Apabila yang dipersepsi diri sendiri maka akan dikenal adanya persepsi diri atau self-perception. Persepsi diri dapat dimaknai sebagai interpretasi seseorang terhadap diri sendiri. Ketika melakukan persepsi, seseorang melakukan proses kognitif. Proses kognitif akan melibatkan banyak aktivitas. Mulai dari penerimaan stimulus, memproses stimulus kedalam system memori, dan menginterpretasi stimulus berdasarkan informasi yang telah disimpannya.

Proses pembentukan persepsi dimulai dari penerimaan rangsangan atau sensasi dari berbagai sumber yang diterima oleh panca indra. Persepsi diri mencakup tiga pembahasan. Pertama, konsep diri (self-concept), kedua, harga diri (self-esteem), dan ketiga,presentasi diri (self-prentation). Pada bagian ini, dijadikan dasar bagi seseorang untuk mengenali orang lain atau pihak lain. Atas dasar, setiap orang mengenali diri sendiri seperti apa gerangan dan pada akhirnya memengaruhinya dalam membawakan diri di lingkungan sekitar.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi Diri Gus Dur  

Gus Dur memiliki pengalaman tentang objekserta peristiwa yang berbeda dengan orang lain. Pengalaman tersebut mampu membentuk persepsi Gus Dur terhadap informasi yang diterima kemudian diinterpretasikan. Ada banyak faktor yang memengaruhi persepsi seseorang. Toha (2003), mengklarifikasikan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi seseorang ada dua. 

Pertama Faktor Internal, Faktor internal merupakan faktor yang diperoleh dari dalam diri seseorang dalam menciptakan dan menemukan sesuatu yang kemudian bermanfaat bagi orang lain. Dalam konteks faktor inteternal pembentukan persepsi Gus Dura ada 4 hal yaitu, usia, minat, proses belajar, dan pekerjaan. 

Pertama, usia merupakan umur individu yang dihitung semenjak ia dilahirkan sampi pada momentum-momentum tertentu, sampai dia meninggal. Semakin cukup umur, kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Semakin tua umur seseorang semakin konstruktif dalam menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Begitu juga dengan Gus Dur, semakin tua umurnya maka semakin matang juga dalam bersikap dan bertindak. Dalam perjalanan hidupnya beliau mempunyai banyak pengetahuan, pengalaman dan persinggungan dengan banyak orang. Dari pengalama termasuk informasi yang diterimanya, akan memengaruhi sikap dan tindakan Gus Dur.

Kedua, minat Gus Dur sejak kecil sudah terlihat, yaitu membaca buku. Beliau mulai tertari terhadap buku-buku ayahnya dan dorongan dari ibu beliau untuk selalu membaca buku. Selain membaca buku, beliau juga memiliki minat terhadap bermain bola dan menonton film kedua minat beliau itu sangat memengaruhi hidupnya, beliau bahkan sampai pernah tidak naik kelas.

Ketiga, proses belajar, proses belajaran Gus Dur dimulai semenjak usia dini. Pada usia lima tahun, beliau sudah lancara membaca Al-Qur’an dengan kakeknya yaitu KH. Hasyim Asy’ari, Beliau juga banyak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Hingga pada tahun 1953, beliau masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowangan, dengan nyantri di pesantren Krapyak. Walaupun sekolah tersebut adalah sekolah yang dikelolah oleh Gereja Katolik Roma, namun sepepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Kemudia beliau melanjutkan belajarannya di pesantren Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Chudhari. Di sana beliau banyak belajar ritus-ritus sufi dan menanamkan praktik mistik. Selain belajar ilmu agama.

Keempat, pekerjaan. perjalanan karir Gus Dur sangat panjang, beliua menjadi guru, aktivis sosial, menjadi ketua PBNU, hingga menjadi presiden. Di sela-sela itu semua pekerjaan yang jarang ditinggalkan Gus Dur adalah menulis. Beliau menulis di berbagai media, buku pengantar, makalah, dan lain sebagainya.

Kedua Faktor Eksternal, Faktor Eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang dalam menciptakan atau menemukan suatu hal. Faktor eksternal sangat erat kaitannya dengan faktor internal. Faktor eksternal terdiri dari dua hal, yaitu informasi dan pengalaman.

Pertama, informasi. informasi yang diperoleh seseorang sangat berharga melalui panca indra. Informasi pertama yang diperoleh Gus Dur adalah khazanah keilmuan pesantren. Informasi kedua yang diperoleh beliau adalah dari buku. Sedari kecil beliau sudah menjadi kutu buku. 

Kedua, pengalaman. Pengalaman merupakan suatu peristiwa yang pernah dialami seseorang. Mialnya pengalama-pengalam Gus Dur ketika beliau ikut ayahnya ke Jakarta, beliau bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, dari situ lah beliau mendapatkan banyak pengalaman.

Pemikiran Gus Dur Terhadap Pendidikan Islam

Pendidikan Islam bagi Gus Dur harus tetap mengajarkan ajaran-ajaran formal Islam sebagai sebuah keharuasan yang diterima. Ajaran formal yang dimaksud oleh Gus Dur adalah ajaran bagaimana cara melaksanakan ibadah seseuai dengan syariat Islam. Bahkan Gus Dur menyatakaan bahwa ajaran Islam harus diutamakan dalam pendidikan Islam. Pemikiran beliau tentang pendidikan Islam tertuang melalui tulisan beliau yang berjudul “Pendidikan Islam Harus Beragam” yaitu,

“…tentu saja ajaran-ajaran formal Islam harus diutamakan, dan kaum muslimin harus dididik mengenai ajaran-ajaran agama mereka. Yang diubah adalah cara penyampaiannya kepada peserta didik, sehingga mereka akan mampi memahami dan mempertahankan “kebenaran”. Bahkan hal ini memiliki validitas sendiri, dapat dilihat pada kesungguhan anak-anak muda muslimin terpelajar untuk menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran yang benar” tentang Islam.”

Gus Dur juga menyatakan dalam tulisan tersebut, bahwa ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah keharusan yang diterima kaum muslim di berbagai penjuru dunia. Memang suadah semestinya, hal yang wajib disampaiakan dalam pendidikan Islam adalah ajaran-ajaran formal. Hingga peserta didik mampu memahami dan mempertahankan kebenaran. Gus Dur mencontohkan bagaimana anak-anak muda muslim terpelajar dalam menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran benar”. Contoh paling mudah bagi Gus Dur adalah menggunakan tutup kepala di sekolah non-agama, atau yang biasa dikenal dengan nama jilbab.

Setiap daerah memiliki budaya pendidikannya masing-masing sehingga pendidikan Islam tidak harus satu corak antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya. Pada prinsipnya, pendidikan Islam mengajarkan ajaran formal Islam. Dalam tulisannya “Pendidikan Islam Harus Beragam” Gus Dur ingin menyadarkan kita bahwa pendidikan Islam bukan hanya yang ada di tembok sekolah formal. Kenyataan yang ada di masyarakat pendidikan Islam sangat beragam. Sebenarnya

Strategi Penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad: Kebijakan, Taktik Militer, dan Dampak Sosial-Politik

Penulis : Ananda Rizka Oktaviana, Editor : Choerul Bariyah

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasi kebijakan Thariq Bin Ziyad dengan kecakapan militernya dalam penaklukan Andalusiadari 711-714 M dan mendeskripsikan kondisi sosial-politik praperang sehingga akhir dari perang antara Pasukan Islam dan Pasukan Kristen di Andalusia. Hipotesis yang diajukan adalah: 1) Thariq bin Ziyad mampu mengalahkan musuhnya dengan sekali serangan tanpa ada strategi jitu 2) Penyerangan hanya sebatas dari pinggiran pantai Andalusia saja tanpa perlu invansi ke wilayah daratan tengah hingga ke utara. Penelitian merupakan kajian kepustakaan dan observasi langsung ke lokasi penelitian; dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu: heuristik, kritik sumber (verifikasi), sintesis dan penulisan (historiografi). Hasil penelitian ini pembuktian bahwa penyerangan berhasil dilakukan dengan strategi khusus yang dibuat oleh Thaiq Bin Ziyad dalam jangka waktu hampir setahun persiapan sekaligus mengalahkan hingga membunuh pimpinan Kerajaan Visigoth. Akibatnya Thariq dan pasukannya dengan mudah menaklukan seluruh Andalusia dari Selatan hingga ke Utara, ada yang dengan pertempuran dan ada pula yang tanpa pertempuran.

Kata Kunci : Thariq Bin Ziyad, Penaklukan Andalusia

PENDAHULUAN

Penaklukan besar pernah terjadi pada abad ke 8 M, dimana untuk pertama kalinya dunia islam dapat tersebar ke wilayah benua Eropa tepatnya dari Gibraltar hingga ke Semenanjung Ibera (Spanyol klasik). Andalusia dikenal sebagai wilayah yang dihuni mayoritas besar oleh kaum Kristenyang terkenal kuat sistem militernya.

Panglima adalah kiblat dan sandaran pasukan perang. Dengan pemahaman inilah Musa Bin Nushair kemudian mengangkat pemimpin suku Barbar yang pemberani Bernama Thariq bin Ziyad (50-102 H/ 670-720 M), sebagai pemimpin pasukan yang akan bergerak menuju Andalusia. Dialah panglima yang menggabungkanantara rasa takut kepada Allah dan sikap wara’ , serta kemampuan militer, kecintaan pada jihad dan keinginannya untuk mati syahiddijalan Allah. (As-Sirjani, 2013, hal. 38)

Thariq Bin Ziyad menaklukan Andalusia pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid bin Abdul Malik yang berkuasa pada tahun 705-715 M. Tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju Barat Daya, sampai Benua Eropa yaitu pada tahun 711 M. Setelah aljazair dan maroko dapat ditundukan. Dibawah kepemimpinan dinasti Umayyah di Afrika Utara, Musa Bin Nushair mengirim Thariq Bin Ziyad sebagai pemimpin pasukan islam, dengan membawa pasukan yang berjumlah 12.000,kemudian menyebrangi selat yang memisahkan Maroko dan Benua Eropa dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan Jabal Tariq yang terletak di Benua Eropa. Sehingga pasukan Roderick yang menguasai Spanyol yang berjumlah 100.000 dapat dikalahkan oleh Thariq Bin Ziyad dan pasukan kaum Muslimin. (Yatim,2008)

TEORI DAN METODE

Pendekatan yang digunakan yaitu dengan Sejarah dan militer. Pendekatan Sejarah merupakan pandangan berfikir secara kontekstual sesuai dengan ruang dan waktu. Peristiwa ini terjadi tanpa meninggalkan hakikat perubahan yang terjadi dalam proses sosio-kultural, atau proses dimana aspek kemasyarakatan dan kebudayaan menjadi landasannya. (Dien Madjid dan Johan Wahyudi, 2014, hal. !3)

Adapun teori yang digunakan adalah teori strategi penyerangan dari Sun Tzu, yaitu: 1. Mempelajari siasat tempur lawan dengan serangan gertakan; 2. Menghidupkan kembali kebiasaan orang terdahulu untuk kepentinagn sendiri yang berguna dalam pertempuran; 3) Tidak melakukan penyerangan pamungkas terlebih dahulu, akan tetapi giring pasukan musuh untuk meninggalkan pusat kekuasaannya sehingga terhindari dari sumber kekuatannya; 4) Apabila mereka sudah masuk tahap detik-detik kekalahan, biarkan terlebih dahulu mereka kesempatan untuk bebas dan setelah itu menunggu reaksinya; 5) Mempersiapkan jebakan untuk memperdaya musuh dengan umpan berupa ilusi kekayaan, kekuasaan dan seks dan; 6) Tangkap komandan atau panglima pasukan, maka pasukan musuh menjadi terpecah belah.

Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Metode merupakan sebuah cara prosedural untuk berbuat dan mengerjakan sesuatu dalam sebuah sistem yang secara teratur dan terencana. Jadi, terdapat pra-syarat ketat dalam melakukan penelitian yaitu sistematis. (Dien Madjid dan Johan Wahyudi, 2014, hal. 217) Seyogianya penelitian yang dilakukan oleh penulis sendiri lebih kepada melakukan peninjauan pustaka, serta setidaknya ada sedikit banyaknya melakukan peninjauan melalui dunia maya (internet). Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah.

PEMBAHASAN

Riwayat Hidup Thariq bin Ziyad

Nama lengkapnya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walghu bin Warfajum bin Naighas bin Masthas bin Bathusats bin Nafzah. Ia berafiliasi pada kabilah Barbar Nafzah. Meskipun banyak perbedaan pendapat di kalangan ahli nasab terkait asal muasal Thariq bin Ziyad, apakah berasal dari bangsa Arab atau bangsa Amazig. Namun, mayoritas para pakar sejarawan mendukung nasab Thariq bin Ziyad berasal dari salah satu suku Amazig utama di Maghribi yang dikenal pada saat ini yaitu Maroko. (Ali, 2017, hal. 218)

Sebelum masuk Islam ia disebut-sebut sebagai budak asal suku Barbar, kelompok Zafdah di Afrika. Riwayat lain menyebutkan ia seorang Farisiy dari keluarga Hamadhan (Persia Hamdhaniah), atau dari Kabilah Nafsah Barbariyah bermoyang Assodaf (bukan Barbar asli). Thareq al-Laitsy (julukan dari Ibnu Khaldun) lahir pada 50 H/ 670 M, dan wafat pada 102 H/ 720 M. Sejak usia belia diasuh dalam lingkungan keluarga yang saleh oleh ayahnya yang telah muslim di masa pemerintahan Uqbah bin Nafi’. Roh dan api Islam yang menghantarkan beberapa waktu kemudian menjadi prajurit dahsyat dalam sejarah dunia. (Arsyad, 2000, hal. 401)

Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H/ 670 M, kelahirannya bertepatan dengan masa-masa peperangan di Afrika Utara. Thariq bin Ziyad mengalami masa-masa tersebut pada saat masih kecil, remaja, dan dewasa. Semenjak kecil, ia di asuh oleh ayahnya yaitu Muhammad Badr. Thariq bin Ziyad ahli dalam menunggangi kuda, ia juga sangat pemberani. Badannya sangat kuat, secara fisik warna kulitnya sawo matang dan kedua bibirnya tebal. Pada bahu sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat berukuran cukup besar yang ditumbuhi rambut. (Nursi, 2007, hal. 204)

Thariq bin Ziyad merupakan bekas budak yang dimerdekakan oleh Musa bin Nushair dan di tangannya juga Thariq bin Ziyad memeluk agama Islam. (Mahmud, 2017, hal. 181) Jiwa ksatria Thariq bin Ziyad semakin nampak setelah dekat dengan Musa bin Nushair, apalagi setelah memeluk Islam. Thariq bin Ziyad berubah menjadi pribadi yang relegius dan giat mempelajari Islam. Hal itulah yang membuat Musa bin Nushair kagum sehingga begitu percaya kepada Thariq bin Ziyad dan menjadikan ia sebagai pemimpim pasukan. Dengan masuknya Thariq bin Ziyad ke agama Islam menjadikannya seorang panglima, ahli dalam politik, cerdas memimpin pasukan dan dapat menaklukkan berbagai kota serta negeri.

Musa bin Nushair melihat di dalam diri Thariq bin Ziyad terdapat kemuliaan, kejantanan, keberanian, dan kemampuan mengatur berbagai hal dengan bijak. Hal ini menjadikan Thariq bin Ziyad masuk ke dalam jajaran orang-orang dekat Musa, sehingga Musa bin Nushair selalu mengandalkannya di tengah-tengah situasi-situasi sulit. Bukti paling kuat yang menunjukkan kepercayaan Musa terhadap Thariq bin Ziyad adalah ketika berhasil menaklukan kota Tangier. Musa mengangkat Thariq sebagai pemimpin Tangier ibu kota dari Maghribi pada tahun 708 M. Wilayah Tangier (Thanja) adalah sebuah kota di Maroko yang berada di bagian utara, wilayah ini merupakan kawasan yang luas. (Ali, 2017, hal. 417)

Meskipun Thariq bin Ziyad dari kalangan Barbar, Musa bin Nushair lebih mengedepankannya dibandingkan orang-orang Arab. Itu semua disebabkan karena: (As-Sirjani, 2013, hal. 38-39); Kapabilitas. Meskipun Thariq bin Ziyad bukanlah dari kalangan bangsa Arab, namun itu tidak menghalangi Musa bin Nushair untuk mengangkatnya memimpin pasukan. Karena ia mengetahui betul bahwa tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non Arab, juga sebaliknya, kecuali ketakwaannya. Ia menemukan pada diri Thariq bin Ziyad kelebihan dibandingkan yang lain, dalam kemampuannya untuk memahami dan memimpin kaumnya sendiri.

Kemampuan Dalam Memimpin

Selain kapabilitas Thariq bin Ziyad yang membuatnya unggul, keberadaannya sebagai seorang yang berasal dari suku asli Amazig (Barbar) juga sangat memberikan kontribusi dalam menyelesaikan semua faktor-faktor psikologis yang mengganjal di hati orang-orang Barbar yang belum lama masuk Islam. Karena itu, ia berhasil memimpin dan menundukkan mereka untuk mencapai tujuan yang ia inginkan. Disamping itu,sebagai orang Amazigia tentu mampu memahami bahasa kaumnya. Sebab tidak semua orang Barbar menguasai percakapan dengan Bahasa Arab, sementara Thariq bin Ziyad menguasai kedua bahasa tersebut; Arab dan Amazig.

Kondisi Sosial-Politik, Penyebab dan Alur Penaklukan Andalusia

Wilayah Andalusia sebelum masuknya Islam pernah dikuasai bangsa Phoenicia, Charthage, Romawi, Vandals, setelah itu dikuasai Bangsa Visigoth selama lebih dari dua abad. (Alatas, 2007, hal. 53) Andalusia yang pernah berada dibawah kekuasaan Romawi Barat sampai abad kelima Masehi. Selanjutnya Spanyol jatuh ke tangan Bangsa Visigot, salah satu suku Germanium yang berimigrasi dari dataran tinggi India menuju Eropa untuk mencari tempat pengembalaan dan mata pecaharian. Mereka menetap di lembah-lembah Eropa, sebagaimana bangsa Arab menetap di wilayah Syam dan Irak. (Zidan, 2014, hal. 05)

Kerajaan Visigoth menganut sistem pemilihan untuk menentukan raja mereka. Pemilihan ini biasanya dilakukan suatu sidang yang terdiri dari kaum bangsawan dan tokoh-tokoh gereja. Beberapa raja harus berusaha menciptakan sistem monarki yang turun-temurun, tetapi biasanya tidak mampu bertahan lama karena kuatnnya tantangan dari para bangsawan dan pendeta. Dapat dikatakan tidak ada raja yang turun temurun lebih dua atau tiga generasi di Kerajaan Visigoth. Ini menunjukkan kuatnya pengaruh para bangsawan serta pendeta dalam pemerintahan. (Alatas, 2007, hal. 57-58)

Akhirnya pada saat sidang Toledo ke-6 (The 6 th council of Toledo) pada tahun 638 M. Sistem Monarki tidak bisa dipertahankan sehingga sisitem pemilihan Kerajaan Visigoth telah berubah menjadi sistem musyawarah. Dengan sistem musyawarah ini terpilihlah Roderick menjadi Raja Visigot menggantikan Raja Witiza. Terpilihnya Roderick dari hasil musyawarah kaum bangsawan dan tokoh gereja. Setelah Roderick menjadi raja, kasus-kasus pengambil alihan kekuasaan sesekali masih tetap terjadi. Hal ini menggambarkan tidak stabilnya sistem politik Kerajaan Visigoth. Kestabilan hanya terjadi saat pemerintahan dipegang oleh seorang raja yang kuat. (Alatas, 2007, hal. 59)

Roderick adalah seorang panglima militer di Kerajaan Visigoth dibawah kepemimpinan Raja Witiza, dengan demikian Roderick menjadi raja baru di Andalusia pada tahun 710 M. Sejarah memang mencatat kesuksesannya naik ketampuk kekuasaan, tetapi sejarah lebih mengenalnya sebagai penguasa terakhir Kerajaan Visigot. Pada masa kepemimpinannya dua abad lebih pemerintahan bangsa Visigoth di Andalusia mendapati keruntuhannya. Pemerintahannya hanya berkira satu tahun tidak berjalan secara stabil. Perebutan kekuasaan yang ia lakukan berdampak pada kekacauan dalam bidang politik. (Alatas, 2007, hal. 67-68)

Secara politik kondisi Andalusia sebelum masuknya kaum Muslimin memang sedang dalam keadaaan perpecahan, karena munculnya pemberontakan, salah satunya di wilayah Basque (Barcelona). Munculnya beberapa negara-negara kecil yang tidak mau tunduk pada kekuasaan Kerajaan Visigoth, serta terjadinya perselisihan antara Raja Witiza dan Raja Roderick. Bersamaan dengan itu, sikap tidak toleran dan berbagi macam penganiayaan yang dilakukan oleh penguasa Kerajaan Visigoth terhadap pemeluk agama lain di wilayahnya membuat mereka banyak melakukan pengkhianatan dengan berpihak kepada kaum Muslimin. (Hitty, 2006, hal. 642)

Menjelang penaklukan kaum Muslimin masyarakat Andalusia sangat memprihatinkan. Karena masyarakat terbagi dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya, di antaranya yaitu:; Kelas bangsawan, mereka berasal dari keturuna bangsa Gothik, penakluk Sapnyol yang menguasai mayoritas tanah pertanian subur disertai dengan pembebasan mereka dari pajak. Kelas ini menduduki jabatan ketentaraan dan kepemimpinan dalam urusan agama; 2) Kelas tokoh agama, kelas kedua ini memiliki peran penting sehingga menguasai sebagian besar tanah-tanah pertanian subur serta terbebas dari pajak. Kelas kedua ini bersama para bangsawan menguasai pemerintahan, sementara pemerintahan sendiri hanya membahas bagaimana cara merampas harta dan menambah kekayaan para penguasa; 3) kelas budak pedagang, petani, dan tuan-tuan tanah, mereka memikul beban berat untuk membayar pajak dan memuaskan keserakahan para penguasa; 4) Kelas budak tanah, mereka mengolah tanah pertanian milik para tuan tanah besar, dan mereka sendiri bersama keluarganya termasuk bagian dari kekayaan tuan tanah. Mereka tidak memiliki hak apapun sehingga bebas dipindahkan dari satu tuan tanah ketuan tanah lainnya; 5) Kelas tawanan perang, mereka di perjual belikan dan tidak memiliki hak apapun; 6) Kelas Yahudi, mereka peran besar kehidupan negara. Sebagaimana kebiasaanya, mereka mampu menguasai sarana- sarana ekonomi secara umum, dan para penguasa pun merasakan dampak dominasi mereka.karena itu para penguasa melancarkan permusuhan dan memaksa Yahudi untuk meninggalkan agamanya dan masuk Kristen (As-Sirjani, Ensiklopedia Sejarah Islam, 2013, hal. 221).

Latar Belakang dan Proses Penaklukan Andalusia
Pertempuran Barbate (Awal Mula Penaklukan)

Thariq bin Ziyad mulai menyiapkan dirinya untuk menghadapi pertempuran. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari lokasi yang tepat untuk melakukan pertempuran, sehingga ia menemukan sebuah lokasi yang bernama Lembah Barbate. Pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (19 Juli 711 M) di Lembah Barbate terjadi pertempuran yang sangat sengit. Pasukan kaum Muslimin memenangkan pertempurannya melawan pasukan Roderick yang berjumlah 100.000 pasukan, mereka bercerai berai dan Roderick terbunuh dalam pertempuran ini. (As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 52)

Ketika surat pasukan yang lari akibat kekalahan itu sampai di tangan Roderick, kabar itu menjadi hantaman yang sangat keras baginya. Ia menjadi sangat marah. Dengan semua kesombongan dan keangkuhannya, ia mengumpulkan seluruh pasukannya yang berjumlah 100.000 prajurit kavaleri (berkuda). Ia memimpin mereka berangkat dari utara menuju selatan dengan tujuan menghadapi

kaum muslim, sementara Thariq bin Ziyad hanya membawa 7.000 pasukan yang mayoritasnya hanyalah pasukan infantri (pejalan kaki) dengan sejumlah kecil kuda. Maka ketika ia melihat fakta kekuatan Roderick, ia menemukan bahwa akan sangat sulit menghadapi mereka; 7000 berhadapan 100.000 prajurit. Ia akhirnya mengirimkan pesan kepada Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Musa bin Nushair akhirnya mengirimkan Tharif bin Malik dengan 5.000 prajutir infanteri yang dibawa dengan menggunakan kapal-kapal laut. (As- Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 54-55)

Tharif bin Malik pun tiba menemui Thariq bin Ziyad sehingga jumlah pasukan Islam mencapai 12.000 prajurit. Thariq bin Ziyad pun mulai menyiapkan dirinya untuk menghadapi pertempuran. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari lokasi yang tepat untuk melakukan pertempuran, hingga ia menemukan sebuah lokasi yang dikenal dengan lembah Barbate. Sebagian referensi menyebutnya dengan nama Lembah Lakka (Lacca). Pemilihan Thariq bin Ziyad terhadap lokasi ini didasarkan pada pandangan strategis dan militer penting; karena sisi belakang dan kanannya berdiri gunung yang tinggi. Itu tentu saja akan menjadi pelindung bagi belakang dan sisi kanan pasukan Islam, sehingga tidak ada seorang pun yang akan mampu berputar di sekitarnya. Sementara di sisi kirinya juga terdapat sebuah danau, sehingga ini menjadi sisi yang sangat benar-benar aman. Lalu di jalan masuk bagian selatan lembah ini (yaitu di bagian belakangnya), ia memasang kelompok pasukan yang kuat dipimpin oleh Tharif bin Malik, agar tidak ada seorang pun yang menyerang bagian belakang kaum muslimin. Dengan begitu, ia mampu berkonsentrasi menghadapi pasukan Kristen dari arah depan kawasan tersebut, dan tidak ada yang dapat menyerangnya dari belakang. (As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 55).

Kebijakan Thariq bin Ziyad dalam Penaklukan Andalusi

Dalam pembebasan wilayah Spanyol, perjalanan Thariq bin Ziyad menuju wilayah Spanyol yang menempuh jalur Laut sejauh 30 km. Kemudian Thariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat di pantai di sebelah bukit Gibraltar (Jabal Thariq). Begitu mendarat, dimulailah strategi brilian dari Thariq bin Ziyad sebagai berikut: 1) Thariq bin Ziyad membakar seluruh kapal yang mengangkut mereka. Hal ini bertujuan untuk memupuskan harapan kembali pulang di dalam jiwa para pasukan, dan mereka menghadapi musuh dengan penuh semangat tanpa putus asa. (As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 2013, hal. 64); 2) Pidato Thariq bin Ziyad terhadap pasukannya, ketika dua pasukan saling berhadapan di dekat Lembah Rainka, Thariq bin Ziyad menyampaikan pidato di hadapan pasukannya, mendorong mereka untuk bersabar dan berperang, serta membangkitkan semangat ditengah-tengah mereka. Pidato ini seperti ini merupakan kebiasaan sebagian besar para komandan kaum muslimin. (Ali, 2017, hal. 420)

KESIMPULAN

Thariq bin Ziyad dikenal sebagai penduduk asli berkebangsaan Barbar; Bangsa Barbar menghuni wilayah Ifriqiyah; mereka diketahui merupakan suku yang pandai berperang dan selalu ikut serta dalam penaklukan di wilayah Afrika Utara. Thariq bin Ziyad hidup di masa pemerintahan Dinasti Umayyah, tepatnya masa kekuasaan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Walaupun dia berasal dari suku yang biasa- biasa saja, akan tetapi karena Thariq bin Ziyad memiliki kecerdasan dan kemampuan dalam ilmu kemiliiteran dan peperangan di medan pertempuran, akhirnya secara tidak langsung memberikan dampak bagi sukunya sendiri, sehingga terangkatlah derajat sukunya.

Sebelum penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad, Andalusia dihuni oleh mayoritas besar dari kaum Kristen yang dikuasai oleh Kerajaan Saat menuju kehancurannya ditangan pasukan Islam, Andalusia berada dalam keadaan memprihatinkan, karena terjadinya konflik internal perebutan kekuasaan dalam kerajaan, ditambah lagi adanya sistem kelas yang memarjinalkan kaum proletar atau rakyat kecil di Andalusia. Sedangkan mereka dari kalangan elit tetap dalam keadaan berfoya-foya dan sewenang-wenang terhadap masyarakat kecil tersebut. Oleh Sebab itulah, penaklukan pasukan Islam terjadi karena adanya dukungan secara tidak langsung dari masyarakat di sana agar mereka bisa bebas dari kungkungan “kejahatan” yang dibuat oleh Kerajaan Visigoth. Awal penaklukan dilakukan oleh Thariq bin Ziyad melalui Lembah Barbate Bersama pasukannya yang sebelumnya spionase sudah dilakukan oleh Tharif bin Malik.

 

REFERENSI

Alatas, A. (2007). Sang Penakluk Andalusia (Tariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair). Jakarta: Zikrul.

Ali, M. (2017). Abthalul Fathul Islami. (U. Mujtahid, Penerj.) Jakarta: Ummul Qura.

Arsyad, M. N. (2000). Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Dialog Kebudayaan: Hidup Harmonis dengan Budaya Warga Desa Rowolaku

Penulis : Amma Chorida Adila, Editor : Kharisma Shafrani

Keanekaragaman budaya nusantara memberi sebuah identitas kekayaan bangsa Indonesia. Berbicara mengenai budaya, dalam benak masyarakat pasti teringat akan warisan para leluhur. Warisan ini dianggap memiliki nilai kehormatan untuk dijaga serta dilestarikan dari generasi ke generasi berikutnya. Meskipun terkadang dianggap sebagai hal kuno, nilai dan filosofi budaya mampu melindungi masyarakat dari perpecahan sosial. Budaya memiliki peran yang sangat penting di tengah masyarakat heterogen, baik mereka yang pribumi maupun pendatang.

Seorang pakar antropologi, Parsudi Suparlan menuturkan budaya merupakan semua pengetahuan manusia yang dimanfaatkan untuk mengetahui dan memahami pengalaman serta lingkungan yang dialaminya. Pemikiran ini didukung oleh Koentjaraningrat yang mendefinisikan kebudayaan sebagai seluruh gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar. Dialog kebudayaan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya di masyarakat setempat, salah satunya di Desa Rowolaku.

Desa Rowolaku teletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Desa ini mempunyai keunikan budaya yang mengandung akulturasi nilai Islam. Keunikan itulah yang kemudian membuka dialog kebudayaan antara mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disebut UIN Gusdur, dengan beberapa tokoh masyarakat Desa Rowolaku. Dialog yang dilakukan sangatlah sederhana, berupa interaksi yang dilandasi rasa ingin tahu untuk terciptanya aspirasi positif bagi generasi penerus Desa Rowolaku. Secara geografis, kampus UIN Gus Dur masih termasuk lingkungan Desa Rowolaku. Menurut informasi dari ustadz Bukhoiri, salah satu pemuka agama Desa Rowolaku mengatakan bahwa dahulu desa tersebut masih kental dengan kejawen (budaya Jawa), salah satunya budaya tarian sintren. Sewaktu beliau kecil, masyarakat desa ini sering menggelar tarian sintren. Tari sintren yaitu tarian semacam ritual untuk memanggil roh atau dewa. Tarian ini diiringan dengan gamelan, kemudian penarinya dimasukkan ke dalam kurungan dan tiba-tiba menjadi cantik.

Seiring berkembangnya zaman, banyak masyarakat yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren, hal ini menjadikan perubahan di Desa Rowolaku. Tersebar dakwah dan kegiatan majelis baik di masjid maupun mushola. Tarian sintren lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat. Namun sampai saat ini masih ada beberapa warga yang pernah menjadi pemerannya. Tidak menutup kemungkinan warga bisa menikmati pagelaran hiburan Jawa, tarian sintren kemudian teralihkan oleh budaya pewayangan. Biasanya budaya pewayangan dilaksanakan pada bulan legeno atau bulan setelah syawal. Pandangan ustadz Bukhoiri mengenai masyakat Desa Rowolaku, tidak semua orang itu dapat menerima ajaran Islam dengan mudah. Sehingga untuk menyeimbangkan budaya desa, maka terjadi pergantian pagelaran hiburan. Tahun pertama mengadakan pagelaran wayang, tahun kedua mengadakan pengajian umum, begitu seterusnya. Semua acara diagendakan oleh pihak desa dan selalu bertempat di halaman balai desa. Hal ini bertujuan agar seluruh masyarakat dapat merasakan hiburan serta kajian.

Selanjutnya, topik pembahasan dialog kebudayaan mengarah pada budaya Jawa yang masih tetap dipertahankan di Desa Rowolaku. Adapun budaya tersebut yakni tradisi nyadran. Nyadran merupakan tradisi doa bersama di makam leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Pelaksanaan tradisi nyadran yaitu menjelang bulan Ramadhan yang bertempat di pemakaman umum Desa Rowolaku. Nyadran diawali dengan warga membawa jajan kemudian dibagikan dan membawa uang untuk juru kunci makam. Kemudian lambat laun para tokoh agama mengajari warga membaca tahlil dan berdoa, agar memperoleh keberkahan dari Allah. Kurang lebih tiga tahun kebelakang warga sepakat tradisi nyadran selain pembacaan tahlil dikonsep hampir seperti sedekah bumi. Jadi warga secara merata dibagi ada yang membawa jajan, nasi berkat dan tumpeng untuk dibagikan kembali kepada warga, sedangkan warga yang membawa uang di masukan ke dalam kotak amal untuk sedekah perbaikan makam. Dari sini, warga Desa Rowolaku saling bergotong royong mempererat tali persaudaraan.

Saat ini warga Desa Rowolaku sudah menyadari bahwa ajaran Islam itu agama yang Rahmatan lil’alamin. Sehingga banyak budaya bernuansa religi yang diciptakan seperti rutinan rebana, rutinan yasin, tahlil, dan manaqib. Dijelaskan oleh Ismail Dimiyanti, mantan Kepala Desa Rowolaku, bahwa selama bulan Ramadhan ada ngaji posonan atau kajian setelah subuh, dilanjutkan dengan tadarus setiap masjid dan mushola. Tidak ketinggalan juga takbir keliling setiap malam Idul Fitri, semua warga berantusias meramaikan perayaan malam Idul Fitri dengan mengikuti karnaval mengelilingi desa.

Selain bergandengan dengan budaya, warga Desa Rowolaku juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya adalah kegiatan jimpitan. Jimpitan dilakukan dengan warga menaruh uang koin ke dalam kaleng bekas atau gelas plastik yang sudah terpasang di dinding rumah. Setiap sore atau malam hari, uang koin tersebut diambil oleh ketua RT atau perwakilan warga. Hasil dari jimpitan dijadikan sebagai dana sosial desa, seperti digunakan untuk memperbaiki lampu jalan yang rusak atau pemasangan lampu di jalan desa. Selain itu, uang koin juga dimanfaatkan untuk warga yang sedang mengalami kesusahan.

Pada dasarnya budaya- budaya yang dipaparkan di atas merupakan beberapa bagian saja, tentu masih ada budaya lainnya. Keterbatasan waktu menjadi terbatasnya informasi yang diperoleh. Dialog kebudayaan antara mahasiswa KKN UIN Gusdur dengan tokoh masyarakat disimpulkan bahwa warga Desa Rowolaku hidup harmonis dengan budaya mereka, karena indikator keharmonisan menurut tokoh Al-Qaimi meliputi ketenangan, ketentraman, kasih sayang, saling melengkapi, belas-kasih dan pengorbanan, serta bekerja sama. Dalam membina keharmonisan dapat didasari oleh sikap saling menghormati, menerima, menghrgai, mempercayai dan mencintai satu sama lain. Inilah definisi keharmonisan terjalinnya suatu hubungan interaksi dan tindakan yang memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Dies Natalis ke-27, UIN Gusdur Hadirkan Inayah Wahid dan Zastrow Al-Ngatawi pada Seminar Pemikiran Gus Dur

Pewarta : Fajri Muarrikh

Pekalongan – Dalam memperingati Dies Natalis yang ke 27 tahun, Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan adakan Gelar Budaya dan Seminar Pemikiran Gus Dur yang dihadiri oleh Inayah Wahid, Putri bungsu Alm. Gus Dur dan Zastrow Al-Ngatawi, seorang budayawan sekaligus mantan ajudan Gus Dur yang dilaksanakan pada hari Minggu (05/05) yang bertempat di gedung Student Center kampus 2 UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Seminar Pemikiran Gus Dur ini dihadiri oleh pejabat tinggi civitas akademik kampus UIN Gusdur, seperti Prof. Zaenal Mustakim (Rektor UIN Gusdur) beserta tiga wakil rektornya, dosen, mahasiswa, Jaringan Gusdurian Pekalongan, dan masyarakat lainnya.

Prof. Zaenal Mustakim dalam sambutan pembukaannya, beliau mengatakan bahwa, “..nama UIN kita ini tidak sembarangan, nama yang ini berkah, berkah untuk UIN Gusdur, karena kita tanpa mengenalkan, berkoar-koar, semua orang sudah tahu siapa Gus Dur..”

Dengan betapa besarnya Gus Dur, bukan pada sosoknya tapi pemikirannya.Gus Dur. Sehingga ini tidak akan selesai dikaji dalam ruang waktu yang terbatas, ini akan langgeng. Selagi jaman ini masih hidup, jaman/dunia ini masih ada, maka pemikiran Gus Dur ini akan selalu kita kenang, dan akan selalu dikaji tidak akan selesai-selesai. Lanjut Prof. Zainal.

“..oleh sebab itu termasuk hari ini, bapak-ibu sekalian, ini juga sekaligus embrio untuk menyusun paradigma keilmuan kita, yang akan saya kembangkan kaya apa, yang nanti akan disinggung sedikit oleh Kang Zastrow, insyaallah semester depan kita akan mulai memikirkan ini.”

“..kita ingin bahwa UIN Gusdur ini bukan sekedar namanya ditempelkan di UIN-nya, tapi ingin pemikiran-pemikiran Gus Dur ini betul-betul menginspirasi kita semuanya, menjadi pijakan kita untuk beraktifitas menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, penelitian, dan juga pengabdian masyarakat untuk kita semua.” Pungkas Prof. Zainal.

Dalam kesempatan Seminar Pemikiran Gus Dur kali ini, Zastrow menjelaskan tentang pemikiran Gus Dur soal humanisme. Menurutnya, untuk melihat suatu pemikiran dalam teori sosiologi pengetahuan tentang habitus seseorang.

“Habitus Gus Dur pertama adalah tradisi keilmuan pesantren, karena ini yang membentuk pribadi Gus Dur sejak beliau kecil hingga masa remajanya. Yang kedua adalah Gus Dur hidup dalam pemikiran-pemikiran Islam klasik yang ada di lingkungan pesantren. Habitus yang ketiga yang menyentuh Gus Dur adalah pemikiran modernisme barat, karena sejak kecil Gus Dur sudah membaca buku ‘Das Capital’, dan novel-novel yang sangat diilhami pemikiran timur tengah. Ini adalah pondasi dasar yang membentuk karakter pola pikir dan sistem pengetahuan yang ada pada diri seorang Gus Dur. Itu tadi pada fase pertama.” Jelas Zastrow.

Dan pada fase kedua, lanjut Zastrow, ketika Gus Dur berangkat ke Timur Tengah (Mesir), disitulah Gus Dur bertemu dengan pemikiran Hassan Albana, Ikhwanul Muslimin, pemikiran klasik sufistik, sampai sastra klasik Timur Tengah hingga tradisi budaya Eopa pada saat itu.Ini adalah fase eksplorasi.

“Nah, sehingga membentuk kerangkaepistemologinya Gus Dur rasional-modern, yang dipertautkan dengan spiritual-tradisional. Jadi, modernitas adlah srang rasionalitas, tradisionalisme sarang spiritualitas, oleh Gus Dur dibentuk hubungan yang sejajar dan komplementer.” Imbuh Zastrow.

Orang-orang modern mendudukkan modernisme dan tradisionalisme adalah kontradiktif. Sementara Gus Dur, mendamaikan keduanya.

“Makanya kalau kampanye orang-orang sekarang ‘kan orang modern itu (mengatakan) kalau Anda ingin maju, ingin hebat, ignin berkembang, jadilah orang modern, jangan jadi orang tradisional. Ini ‘kan kontradiktif. Sementara Gus Dur enggak, kalau Anda ingin maju, berkembang, tautkan rasionalitas-spiritualitas, tautkan modernitas dengan tradisionalitas secara seimbang, bentuk hubungan yang komplementer. Tutup Zastrow.

Dalam hal ini, Inayah Wahid berkesempatan untuk menjelaskan tentang pluralisme dan globalisasi, kosmopolitanisme yang ada pada diri Gus Dur.

“Saya sangat percaya bahwa pluralisme atau keragaman itu sendiri, itu adalah bagian dari humanisme. Ketika berbicara manusia, maka pasti akan berbicara keragaman. Kalau Anda tidak sepakat, Anda adalah bagian dari keragaman tersebut dan Anda akan mengekalkan pernyataan saya.” Jelas Inayah.

Inayah bercerita, bahwa Gus Dur itu kuliah di Mesir, bapaknya (Wahid Hasyim) itu seorang menteri. Itu memang menjadi sebuah privillage. Dan Inayah mengandaikan, jika dia jadi Gus Dur, dengan masa mudanya berkeliling Timur Tengah, dari Mesir, Baghdad hingga sampai ke Eropa, lalu pulang lagi ke Indonesia, mungkin jika dia yang menjadi Gus Dur, dia bakal berdiam diri di rumah saja, tanpa perlu membela minoritas lain. Dia bakal mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri.

“Saya punya gelar dari luar negeri, saya punya ilmu, saya punya privillage,maka yang saya akan lakukan adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk saya sendiri, terserah mau bagaimana masyarakat. Tapi untungnya, Gus Dur bukan saya.” Sambung Inayah.

Ketika Gus Dur pulang, yang menarik adalah, ketika isi kepalanya sudah diisi globalisasi, akalnya menjadi sangat kuat. Seperti yang dijelaskan oleh Zastrow tadi, sebagai pribumisasi, menjadi kelokalan. Karena globalisasi harus berawal dari mana kita berpijak. Dan itu yang paling kuat dari seorang Gus Dur, pemikirannya, isi kepalanya boleh mendapat asupan dari negara manapun, tapi dia tidak menjadi manfaat kalau dia tidak bisa diletakkan dalam konteks lokal.

“Dan itu yang tadi dijelaskan oleh Pak Zastrow dijelaskan sebagai tradisional, sekuler, modernitas, yang setara, sejalan dengan yang tradisional, tidak mengecilkan, tidak menganggap sesuatu yang 4.0 atau 5.0 adalah sesuatu yang lebih baik, dibandingkan sesuatu yang lokal.” Tutup Inayah.