Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN 2024 Dibuka, Simak Jalurnya

Pewarta: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Ragil

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2024 akan dibuka pada 22 Januari 2024. Keputusan ini dirilis oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam acara Peluncuran PMB PTKIN di Jakarta, pada Jumat, (19/01).

Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kemenag Nizar Ali, Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani, Ketua Forum Rektor PTKIN Masnun Thahir, Ketua Pelaksana PMB PTKIN Nyayu Khodijah, serta Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Agama.

Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani mengungkapkan, PMB PTKIN 2024 mengusung tema Start to be Smart, dengan harapan agar perguruan tinggi mampu bersinergi satu sama lain dalam membentuk calon mahasiswa yang berkualitas.

“Saya minta PTKIN memiliki cara-cara kreatif agar dapat menarik minat para pelajar untuk mendaftar di sini,” ujar Yaqut.

Ketua Pelaksana PMB PTKIN sekaligus Rektor UIN Raden Fatah Palembang Nyayu Khodijah menjelaskan, PMB PTKIN akan dilakukan secara nasional dan dalam bentuk yang lain.

“Proses seleksi secara nasional terdiri dari dua bagian yaitu Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN PTKIN) dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM PTKIN). Pola seleksi bentuk lain ialah pola seleksi mandiri yang dilakukan oleh masing-masing PTKIN,” jelas Nyayu.

SPAN PTKIN merupakan seleksi masuk berdasarkan prestasi akademik secara non tes dengan menggunakan nilai rapor dan prestasi lainnya. Pendaftaran jalur SPAN PTKIN akan dibuka pada 22 Januari 2024 dan hasilnya diumumkan pada 2 April 2024.

“Informasi seputar SPAN PTKIN 2024 dapat diakses melalui https://span.ptkin.ac.id/page,” lanjut Nyayu.

Adapun jalur UM PTKIN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) merupakan pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh 58 PTKIN dan 1 PTN dengan Program Studi keagamaan yang izin operasionalnya diterbitkan oleh Kementerian Agama RI melalui ujian tulis berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE).

Pendaftaran jalur UM PTKIN dibuka pada 6 Mei 2024 dan hasilnya akan diumumkan pada 17 Juli 2024. Informasi lengkap mengenai UM PTKIN 2024 dapat diakses melalui laman https://um.ptkin.ac.id/.

Jalur terakhir yaitu jalur mandiri. Pendaftaran melalui jalur ini dilakukan pada masing-masing Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Informasi lengkap mengenai jalur mandiri dapat diakses pada laman resmi masing-masing perguruan tinggi.***

Rakerwil Gusdurian Jateng-DIY: Dorong Penggerak Komunitas dan Masyarakat Sipil guna Perkuat Kualitas Demokrasi

Pewarta: Muhamad Nurul Fajri

Editor: Ragil

Semarang, Hijatunaa.com. Dalam memperkuat kapasitas penggerak pada setiap komunitas di berbagai daerah, Jaringan Gusdurian Jateng-DIY adakan rapat kerja wilayah 2024 dan Forum Demokrasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan di gedung Pusdiklat BKK Jateng Kota Semarang pada hari Sabtu-Ahad (13-14/1/2024).

Rapat kerja wilayah (rakerwil) Gusdurian ini dihadiri oleh penggerak komunitas se-Jateng-DIY, lembaga, dan individu yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian. Isu yang di usung berlandaskan hasil rapat kerja nasional Jaringan Gusdurian bulan November lalu yaitu tentang isu toleransi, pemilu, pendidikan inkusif, dan perubahan iklim.

Masturido selaku Koordinator Wilayah Jaringan Gusdurian Jateng DIY menuturkan, “Rakerwil ini adalah bagian dari gerakan tururnan amanat Rakernas yaitu Gardu Pemilu. Gardu Pemilu ini bertujuan untuk meneguhkan peran masyarakat dalam mendorong pemilu yang jujur, adil, damai, dan bermartabat

Bergerak bersama melakukan edukasi politik dan demokrasi serta ikut mengawal proses pemilu agar dapat berjalan dengan jujur, adil, damai dan bermartabat.” Tambah Masturido.

Gusdurian mengajak KPU dan BAWASLU serta FKUB Provinsi Jawa Tengah untuk bersama-sama menjaga dan menguatkan kualitas demokrasi di Jawa Tengah.

Selaku Koordinator Wilayah Jaringan Gusdurian Jateng DIY, Masturido sangat berharap adanya kolaborasi Komunitas Gusdurian di seluruh Jawa Tengah diantaranya KPU, Bawaslu, FKUB kabupaten/kota, dan masyarakat di seluruh Jawa Tengah-DIY.

Salah satu rangkaian rakerwil Gusdurian Jateng-DIY adalah Forum Demokrasi. Senada dengan Masturido, Faza Luthfia (Koordinator Jaringan Gusdurian Jateng-DIY mengatakan bahwa “Forum Demokrasi Gusdurian dalam kerangka Gardu Pemilu Gusdurian ini hadir sebagai wadah bagi warga yang berkomitmen untuk menghidupkan dan memperkuat nilai-nilai demokrasi sehingga demokrasi Indonesia tidak terjerumus pada demokrasi seolah-olah yang hanya bersifat formal prosedural tanpa memedulikan substansi nilai etis, moral, dan kedaulatan rakyat”.

“Gardu Pemilu sendiri merupakan amanat dari rakernas Jaringan Gusdurian tahun 2023. Tujuan dari gardu untuk mengajak lebih banyak orang untuk turut serta dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, damai, dan bermartabat.” Pungkas Faza Luthfia.

Konferensi Moderasi Beragama: Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KMB-AAA): Mengenang “Spirit Bandung” dan Mengukir Sejarah Mewujudkan Harmoni

Oleh: Zaenal Mustakim

Konferensi Moderasi Beragama: Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KMB-AAA) yang mengangkat tema “Religion and Humanity” diselenggarakan di Bandung pada 20-22 Desember 2023. Konferensi yang merupakan hasil kerja sama antara Balitbang Diklat Kementerian Agama dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini dihadiri 22 duta besar dari berbagai negara, tokoh agama serta para akademisi. Hadir pula utusan khusus Grand Shaikh Al-Azhar. Prof. Dr. Nahlah Soaidy yang sekaligus pembicara pada plenary session.

Pemilihan tempat di Bandung, tepatnya di Gedung Merdeka tentu tidak lepas dari sejarah panjang dari dilaksanakannya Konferensi Asia-Afrika pada 1955 yang menjadi cikal bakal dari “gerakan non-blok”. Sebanyak 29 negara yang saat ini dikenal dengan “global South” berkumpul di kota Bandung yang menghasilkan Bandung Carter. Tentunya, saat ini kita mengenang sejarah tersebut untuk menghidupkan kembali spirit Bandung dalam mewujudkan perdamaian dalam konteks kehidupan kita saat ini dengan berbagai macam tantangannya. Kita mengukir sejarah dalam mewujudkan kehidupan yang harmoni.

KMB AAA merupakan upaya mengenalkan dan mempromosikan moderasi beragama pada dunia, serta membuka ruang perjumpaan lintas agama melalui dialog antaragama dalam mewujudkan kehidupan yang damai. Selain itu, konferensi ini juga merupakan bentuk wujud komitmen bangsa Indonesia dalam membangun perdamaian dunia, di tengah berbagai macam tantangan global termasuk konflik kemanusiaan yang tengah melanda di berbagai belahan negara.

Oleh karenanya, agama harus menjadi solusi, bukan sumber masalah. Nilai-nilai universal dalam agama mengajarkan kita menjunjung tinggi harkat martabat orang lain, tidak menyakiti satu sama lain. Di aspek lain, khususnya di Barat memandang bahwa agama adalah ranah privat.

KMB AAA pula menjadi “counter-narrative” terhadap paradigma di atas, bahwa agama bukan hanya domain privat masing-masing pemeluknya, melainkan harus diimplementasikan di ruang publik, Namun bukan dilandasi dengan semangat “sektarian” melainkan dengan semangat inklusif, merawat dan menghargai perbedaan — karena esensinya Tuhan sendiri menghendaki kita berbeda, itulah sunatullah. Inilah yang menjadi landasan tema yang diangkat dalam KMB AAA adalah Religion dan Humanity.

Momen bersejarah di Gedung Merdeka ini, bukan hanya terkait negara non blok dan politik global dunia, tetapi juga pada hal yang sangat esensial yakni mewujudkan perdamaian dunia yang melibatkan berbagai macam negara melalui kerja sama lintas budaya dan dialog antaragama.

KMB AAA yang diselenggarakan dan dihadiri oleh berbagai macam pihak, menegaskan bahwa agama menjadi katalisator untuk membangun perdamaian – seperti pesan semua agama yakni memberikan keselamatan pada setiap pemeluknya. Agama bukan dimaknai sebaliknya sebagai sumber konflik melainkan sumber perdamaian. Dari spirit Bandung inilah kita belajar untuk memberikan inspirasi melalui langkah-langkah konkret dalam mewujudkan perdamaian dan kemanusiaan.

Moderasi Beragama: Solusi Tantangan Keberagamaan
Saat ini fenomena keberagamaan di Indonesia dihadapkan kepada tiga tantangan. Pertama, berkembangnya cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrem), yang mengesampingkan martabat kemanusiaan.

Kedua, berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak atas tafsir agama serta pengaruh kepentingan ekonomi dan politik berpotensi memicu konflik. Ketiga, berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjaga kehidupan yang harmonis melalui moderasi beragama menjadi sangat penting untuk dilakukan sesuai dengan esensi dari ajaran agama sendiri yakni memerintahkan umatnya untuk berlaku dan berbuat, adil, dan seimbang. Dengan memahami ajaran agama yang dianutnya serta mengenali ajaran agama lain dapat menjadikan kita lebih terbuka sebagai umat beragama.

Kerap kali persoalan agama muncul akibat prasangka buruk kita, dan sikap absolutisme yang kerap merasa dirinya paling benar. Kebenaran agama yang diyakini sebagai kebenaran absolut agama yang paling benar ini merupakan ranah internum. Dalam kehidupan beragama yang terdiri dari berbagai agama tidak lantas keberagamaan yang absolut di ranah internum kemudian digeser dan ditarik ke ranah eskternum.

Dialog antaragama yang diselenggarakan melalui KMB AAA ini membuka ruang untuk kita dapat menghargai keyakinan agama orang lain. Menumbuhkan kesadaran bahwa dalam setiap agama ada nilai-nilai esoterik yang menyatukan antara satu agama dan agama lainnya.

Untuk mencapai hal itu, setidaknya rerdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan. Pertama, memperkuat esensi ajaran agama dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan agama yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan tidak lagi sekadar memberikan pelajaran agama, tetapi juga tentang beragama. Agama tidak hanya sebagai pengetahuan tapi bagaimana praktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajaran agama bukan sekedar pengetahuan mengenai ajaran agama semata, tetapi membiasakan dan mempraktikkan nilai-nilai agama tersebut, sebagaimana istilah Pierre Bourdieu, menjadi “habitus” serta menjunjung kemanusiaan. Seperti yang pernah diutarakan oleh KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur bahwa sejatinya orang beragama adalah memuliakan manusia, humanisme.

Kedua, mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagamaan. Keragaman dan perbedaan merupakan sunatullah. Dalam sejarahnya, perbedaan penafsiran keagamaan dalam Islam sendiri merupakan kekayaan khazanah Islam yang melahirkan berbagai macam mufasir.

Bukan sebaliknya seperti saat ini, justru orang-orang menafsirkan agama secara serampangan yang merusak kehidupan beragama itu sendiri, yang akhirnya menampilkan wajah Islam yang keras. Sebagaimana yang diutarakan oleh Ghulam Farid Malik: Islam is religion of peace and justice, not permit extremism, violence or terrorism in all spheres of life.

Ketiga, merawat Keindonesiaan. Gus Dur adalah salah satu orang yang tercatat sebagai tokoh yang menggelorakan kembali identitas keber-Islam-an kita yang syarat dengan identitas kebangsaan. Syekuna Khalil Bangkalan pernah mengatakan dalam salah satu karyanya bahwa “mencintai negara adalah bukti keimanan kita, menjaga negara kita adalah wujud keimanan kita” Sejalan dengan hal itu Gus Dur mengutarakan “NKRI harga mati, Pancasila final, dan kebinekaan adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri rakyat Indonesia”.

Moderasi Beragama dalam mewujudkan perdamaian dan kemanusiaan, bukan hanya tugas Kementerian Agama, tetapi perlu peran serta seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Seperti juga keanekaragaman bangsa ini dengan segala perbedaannya — bukan menjadi sumber pemecah belah bangsa, melainkan sebagai sumber kekuatan yang dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis sehingga dapat menjadi contoh berbagai negara.

Konferensi Moderasi Beragama Asia, Afrika, dan Amerika Latin merupakan langkah awal dalam mempromosikan moderasi beragama dan mewujudkan keharmonisan hidup beragama dari Indonesia untuk dunia.

===

Zaenal Mustakim, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Peserta Konferensi Moderasi Beragama Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KMB-AAA).

Artikel Pertama kali dimuat di arina.id

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al Mizan berhasil meraih penghargaan Video Pendek Terbaik dalam kompetisi LPM PTKI Challenge 2023

Pewarta: Ibnu Salim

Editor: Huda

Ibnu Salim, salah satu anggota dari UKM LPM Al Mizan, dengan bangga menerima penghargaan di acara yang diadakan di Hotel Royal Kuningan Jakarta pada Kamis, tanggal (14/12/2023)

Alhamdulillah, rasa syukur tak terhingga atas pencapaian baru ini. Saya sangat berterima kasih kepada seluruh teman di Mizan yang telah turut serta dalam perjalanan ini, juga kepada rekan-rekan Navi yang ikut serta dalam pembuatan video pendek ini, serta do’a yang tak henti-hentinya dari orang tua saya. Katanya

Nur Shoib, Kepala Subdirektorat Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Dirjen Pendis, secara langsung menyerahkan penghargaan kepada anggota Al Mizan yang hadir di Jakarta.

Sebelum pengumuman lomba ini, setiap LPM di seluruh PTKI mendaftar sebagai peserta dalam kompetisi LPM PTKI Challenge 2023 yang bertemakan “Penguatan Moderasi Beragama di Ruang Digital” pada 5 Desember lalu.

Syamsul Bakhri, Pembina Al-Mizan menceritakan bahwa iklan layanan masyarakat yang diikutkan dalam lomba ini merupakan realitas sosial di masyarakat yang sering terjadi yaitu merasa superioritas dan menganggap minoritas penganut agama lain, kami ingin mengedukasi masyarakat agar ketika ada pembangunan tempat ibadah agama lain kita sebagai umat muslim tidak boleh merasa memiliki superioritas dan tidak melarang umat agama lain mendirikan tempat ibadah”.

Prof.Dr.Muhlisin, M.Ag ” Wakil Rektor 3 UIN Gusdur mengucapkan “selamat dan sukses untuk Al-Mizan, ini merupakan kolaborasi yg positif dan bagus antara UKM Al-Mizan dan Navi Film, iklan layanan masyarakatnya sangat mengedukasi untuk mengajak masyarakat bersikap moderat”.

Dialog Lintas Agama dan Kepercayaan antar Tokoh Lembaga Adat Desa Kutorojo

Editor: Dimas

Pekalongan (13/12) – Tim Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama UIN K.H. Abdurrrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Moderasi Beragama dan Dialog Lintas Agama Lembaga Adat Desa Kutorojo” pada Senin, 11 Desember 2023 di Balai Desa Kutorojo Kajen Kabupaten Pekalongan.

Peserta kegiatan ini adalah para pengurus Lembaga Adat Kutorojo. Lembaga adat sendiri dibentuk oleh Pemerintah Desa atas inisiatif warga, untuk memastikan terpeliharanya berbagai kegiatan adat masyarakat setempat. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Kutorojo Dulajat, Sekretaris Desa, Perangkat Desa, 20 Tokoh Agama Kutorojo (Tokoh NU, Tokoh Muhammadiyah, Tokoh LDII, Tokoh Agama Hindu, dan Tokoh Kepercayaan Kepribaden).

Adapun Tim Pemberdayaan Moderasi Beragama UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang turut hadir pada kegiatan ini yakni Dr. Nanang Hasan Susanto, Dr. Muhamad Rifa’i Subhi, dan Syamsul Bakhri, M.Sos). Hadis sebagai pembicara Penguatan Moderasi Beragama yaitu dari Agama Islam Wakil MWC NU Kec. Kajen Mustajirin Toyib dan pembicara dari Agama Hindu Kusnaeni, S,Pd.,S.Sos.

Prof. Dr. Imam Kanafi selaku Ketua LP2M UIN Gus Dur dalam sambungan WhatsApp menyampaikan, bahwa LP2M UIN Gus Dur akan terus berupaya mendorong pengarusutamaan moderasi beragama. Salah satu caranya adalah dengan membentuk mapung moderasi beragama dengan salah satu kampung yang terpilih adalah Desa Kutorojo.

Moderator acara, ini Syamsul Bakhri membuka acara dengan menjelaskan tujuan dialog dan penguatan moderasi beragama karena ada amanat Perpres 58 tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi beragama jadi tanggung jawab bersama baik pemerintah, lembaga pendidikan dan tokoh masyarakat. Sehingga, kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan agar upaya dalam merawat kerukunan dan meningkatkan moderasi beragama bisa terwujud.

Kepala Desa Kutorojo dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kutorojo dapat disebut sebagai miniatur Indonesia dalam aspek keyakinan (agama). Warga Kutorojo memeluk Islam, Hindu, dan penganut kepercayaan. Bahkan, dalam Islam pun pun beragam ormas, ada NU, Muhammadiyah dan LDII. Meskipun beragam, tapi kehidupan warganya masih kondusif serta aman. Meskipun begitu, perlu kerja sama dalam mewujudkan moderasi beragama, misalnya dengan UIN Gus Dur Pekalongan.

Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Gus Dur Dr. Nanang Hasan Susanto menyampaikan program moderasi beragama sedang menjadi program prioritas pemerintah, sebagaimana yang tertuang pada Perpres 2023. Indonesia yang banyak agama dan kepercayaan perlu dirawat agar tidak terjadi konflik. Karena konflik yang terjadi selama ini sering terjadi karena perbedaan agama dan keyakinan. Nanang memaparkan, kedatangan Tim Pengabdian ke Desa Kutoroji untuk belajar bagaimana masyarakat Kutorojo mampu hidup bersama, rukun, dan toleran.

Menurut Nanang dialog lintas agama perlu dilakukan, karena berbagai konflik agama yang terjadi, seringkali disebabkan karena munculnya berbagai prasangka. Dialog yang dilakukan, dapat meminimalisir prasangka tersebut. Acara Dialog Antar Umat Beragama dan Kepercayaan yang dipimpin oleh Nanang, menggali bagaimana kehidupan beragama di Kutorojo dan harapan ke depannya. Berbagai perwakilan dari keyakinan menyampaikan pendapatnya, bahwa mereka menyambut baik dialog lintas agama yang diselenggarakan UIN Gus Dur Pekalongan bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Kutorojo. Melalui dialog, mereka menjadi lebih mengenal antara satu dan lainnya.

Materi yang pertama adalah Moderasi Beragama perspektif Hindu yang disampaikan oleh Kusnaeni,S.Pd., yang menyatakan bahwa moderasi agama dalam sudut pandang agama Hindu dianalogikan sebagai sebuah rumah yang memiliki pondasi utama, pilar dan atap. Empat pondasi tersebut diantaranya, Landasan Fundamental: Jnana-Wijnana (pengetahuan-kebijaksanaan), Tattvamasi-Vasudewa Kuntumbhakam (Kita Semua Bersaudara), Ahimsa Parama Dharma (Menghindari Kekerasan), Yadnya-Bhakti (Kesediaan berkorban tanpa pamrih-mengabdi tulus). Pilar Penyangganya: Karuna (Cinta Kasih), Maitri (Pertemanan, Persahabatan), Mudita (Simpati, empati), dan Upeksa (Toleransi).

Mustajirin menegaskan moderasi beragama dalam Islam memiliki delapan karakteristik yaitu; Tawassuth (moderat-red), Tawazun (berkeseimbangan-red), I’tidal (lurus dan tegas-red), Tasamuh (toleran-red), Musawah (egaliter dan non diskriminasi-red), Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas-red), Tahaddhur (berkeadaban-red), serta Tathawwur wa Ibtikar (dinamis, kreatif, dan inovatif).

Ketua Pusat Studi Moderasi Beragama Dr. Nanang Hasan Susanto menambahkan ke depan Desa Kutorojo akan diajukan menjadi kampung moderasi beragama dan akan terus mendapatkan pendampingan dari UIN Gus Dur.

Harmoni Pendidikan dan Peradaban: Peran Guru dalam Membentuk Masyarakat yang Berbudaya dan Moderat

Oleh: Dr. Abdul Mujib, M.Pd.I., IAIN Metro

Membentuk Masyarakat yang Berbudaya dan Moderat, diperlukan peran sentral guru yang berbudaya dan moderat. Dalam pandangan masyarakat guru dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang membentuk pondasi peradaban bangsa. Mereka bukan hanya pembawa ilmu pengetahuan, tetapi juga arsitek pembentukan karakter, etika, dan moralitas dalam setiap individu yang melewati pintu ruang kelas mereka.

Seorang guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga pemandu dalam perjalanan panjang menuju pengetahuan. Dengan penuh dedikasi, mereka membimbing generasi muda melalui labirin konsep dan ide, membantu mereka menemukan arti sejati dari kehidupan dan masyarakat. Guru adalah pelita yang menerangi jalan ke depan, memastikan bahwa tiap langkah yang diambil oleh siswa membawa mereka menuju cahaya pengetahuan yang lebih terang dan sikap yang moderat.

Peradaban sebuah bangsa tercermin dalam setiap tindakan dan nilai yang diajarkan oleh guru. Mereka tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga penjaga warisan budaya, bahasa, dan sejarah. Melalui guru, generasi muda dapat menggali akar-akar budaya mereka, memahami keunikan tradisi, dan merayakan keberagaman yang memperkaya identitas bangsa.

Pentingnya guru dalam pembentukan peradaban tidak hanya terbatas pada ranah pendidikan formal. Mereka menjadi agen perubahan yang membawa inovasi dan pembangunan ke dalam masyarakat dan membangun sikap yang moderat. Dengan menginspirasi kreativitas dan pemikiran kritis, guru menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan manusia sebagai individu yang berdaya saing dan memiliki kontribusi positif bagi kemajuan peradaban.

Seiring waktu, guru dan peradaban saling memengaruhi. Guru yang diberdayakan dan diberi kesempatan untuk berkembang akan menghasilkan individu yang mampu membentuk peradaban yang dinamis dan berkelanjutan. Sebaliknya, peradaban yang maju memberikan dukungan dan penghargaan yang setara kepada guru, memastikan bahwa setiap generasi memiliki pendidik yang mampu membimbing mereka melewati tantangan dan memanfaatkan peluang masa depan.

Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, guru dan peradaban saling melengkapi, menciptakan fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan, pembelajaran, kemajuan bersama, pemikiran, dan sikap yang moderat.

Tips & trik Bermedia (Tangkal Berita Hoax)

Seiring berkembangnya zaman dan kemudahan akses informasi yang menyertainya banyak pula berita-berita bohong atau hoax yang bertebaran di berbagai media. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) pada tahun 2019 berita hoax berbentuk tulisan sebanyak 79,7%, foto editan sebanyak 57,8%, foto dengan caption atau keterangan palsu sebanyak 66,3%, video editan sebanyak 45,70%, video dengan narasi palsu sebanyak 53,2% dan berita/foto/video lama di-posting kembali sebanyak 69,20 %.

Jumlah yang ditunjukkan cukup banyak dan tentunya memberikan dampak buruk bagi masyarakat yang terpapar banyak berita hoax. Oleh karena itu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media menjadi menurun, dan membuat resah terhadap maraknya pemberitaan hoax tersebut. Sadar akan hal itu, sebagai generasi muda kita harus bisa cermat dalam bermedia sekaligus membantu menghentikan penyebaran berita atau informasi palsu. Berikut tim Hijratunaa merangkumnya dalam lima langkah cerdas bermedia dalam menangkal berita hoax:

  1. Perhatikan Judul Informasi

Beberapa oknum kerap kali sengaja memakai judul yang sensasional atau menjebak agar banyak masyarakat yang tertarik membacanya. Berita bohong kerap kali menggunakan judul yang mengejutkan atau memancing pembaca, tak jarang isi berita dengan judulnya berbeda. Bahkan tak segan-segan oknum penyebar berita hoax menggunakan judul yang provokatif.

  1. Lihat Sumber Informasi

Hal yang paling utama dan penting untuk kita perhatikan adalah dengan mengecek dari mana sumber informasi berasal. Kita harus bisa memilih dan memilah mana media yang kompeten dan terpercaya. Apabila mendapat informasi dari situs-situs atau media yang belum terpecaya, maka perlu mengecek kebenarannya di media atau situs resmi.

  1. Periksa Foto dan Video

Seringkali berita hoax menggunakan foto atau video dengan tingkat editing di luar batas, demi meyakinkan masyarakat akan berita yang disampaikan. Namun kita tidak perlu khawatir untuk mencari fakta dari foto atau video tersebut, kini kita bisa mengecek keasliannya melalui teknologi fitur dari google images salah satunya. Kita bisa mengeceknya melalui tautan images.google.com.

  1. Waspada forward Massage/ Pesan Diteruskan

Hal yang paling sering ditemukan dari berita hoax adalah adanya pesan yang diteruskan berkali-kali atau forward Massage. Oknum penyebar berita hoax akan menyebarkan ke banyak orang melalui cara ini dengan meminta orang-orang menyebarkan ulang informasi tersebut. Dalihnya, meminta agar informasi tersebut disebarkan secara segera bahkan tak segan memberikan ancaman atau iming-iming hadiah. Jika kalian mendapatkan pesan seperti itu, segera hapus dan abaikan.

  1. Laporkan ke KOMINFO jika menemukan Berita Hoax

Langkah terakhir, apabila menemukan berita hoax hendaknya segera melaporkan konten tersebut ke Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) agar berita hoax bisa segera ditindak tegas. Kita bisa melaporkannya dengan cara screen capture disertai dengan url link tautan berita tersebut lalu mengirim filnya ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Tak usah khawatir Anda terancam, karena kerahasiaan pelapor akan dijamin

Budaya Patriarki vs Kesetaraan Gender Dalam Islam

Oleh : Khanifah Auliana

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia masih menjadi perbincangan yang sering diperdebatkan. Kemajuan teknologi dan modernisasi menjadi hal yang berpengaruh pada perubahan lingkungan hidup. Pola pikir masyarakat juga ikut berdampak dari adanya globalisasi tersebut. Budaya dan tradisi masyarakat yang dulu masih melekat tampaknya kembali di ulas untuk menyesuaikan ketimpangan yang ada. Salah satu budaya yang masih saja melekat di masyarakat yang perlu diubah yaitu patriarki. Budaya Patriarki dulunya kental dengan sistem kerajaan dimana pemimpin kerajaan harus di dominasi oleh laki-laki. Bahkan dulu banyak raja yang akhirnya memiliki banyak anak hanya karena supaya kerajaan yang dipimpin ada pewaris laki-lakinya.

Budaya Patriarki sangat condong menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan padahal di era sekarang justru laki-laki dan perempuan harus memiliki keseimbangan karena saling melengkapi. Oleh karena itu, banyak dari kaum perempuan tak setuju dengan ada budaya Patriarki di era sekarang ini karena secara tidak langsung merendahkan posisi perempuan. Sebenarnya seorang pemimpin tidak hanya ditujukan untuk laki-laki saja namun bisa perempuan. Selain itu adanya patriarki menjadikan seorang laki-laki meremehkan segala yang ada di perempuan. Banyak dari mereka hanya memandang perempuan sebelah mata hanya karena dianggap lemah. Sejatinya Allah telah menciptakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna dan melengkapi satu sama lain. Bahkan dalam Al-Qur’an terlah disebutkan peranan manusia yang berbeda-beda namun tetap sama.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”

Oleh karena itu, kita harusnya saling menjunjung tinggi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Menghormati dan melaksanakan peran dari masing-masing tanpa memandang perbedaan. Peran perempuan dan laki-laki sangatlah penting untuk kemajuan suatu bangsa dan kemaslahatan umat. Tidak ada yang mendominasi karena sejatinya baik perempuan maupun laki-laki harus saling kerjasama.

 

Pergantian Siang dan Malam: Tanda Kebesaran Allah Ciptakan Alam Semesta

Oleh: Intan Anggreaeni Safitri

Pergantian siang dan malam adalah salah satu fenomena alam yang mengagumkan dan bisa dianggap sebagai bukti kebesaran Allah dalam Islam dan berbagai agama lainnya. Ini adalah contoh nyata dari harmoni dan desain alam semesta yang menunjukkan kekuasaan dan kebijaksanaan pencipta. Dalam banyak keyakinan agama dan pandangan dunia, konsep pergantian siang dan malam dianggap sebagai bagian dari rancangan alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan atau Allah. Pergantian siang dan malam memiliki peran penting dalam kehidupan dan ekosistem di Bumi.

Dalam Islam, fenomena pergantian siang dan malam disebutkan dalam Al-Quran sebagai tanda-tanda Allah:

Surah Al-Baqarah (2:164): “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa barang yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan padanya segala jenis hewan, dan pengaturan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Pergantian siang dan malam memainkan peran penting dalam menjaga kehidupan di Bumi, seperti menjaga suhu yang sesuai, memberikan waktu bagi tumbuhan untuk fotosintesis, dan memberikan kesempatan kepada makhluk hidup untuk beristirahat dan bekerja. Fenomena ini adalah salah satu dari banyak bukti alam semesta yang rumit dan seimbang yang menunjukkan rencana dan kebijaksanaan Allah dalam penciptaan-Nya.

Dengan memahami dan menghargai pergantian siang dan malam, kita dapat merenungkan kebesaran Allah dan mengingat bahwa semuanya tunduk pada-Nya. Hal ini juga dapat meningkatkan rasa syukur dan ketaatan kita kepada Sang Pencipta.

Beberapa alasan mengapa Allah atau Tuhan dapat menciptakan pergantian siang dan malam yaitu agar kita mengerti bahwa begitu besarnya kuasa Allah sehingga dapat menciptakan keindahan alam yang luar biasa ini. Bukan hanya itu diciptakannya malam dan siang juga merupakan penanda waktu baik untuk beraktivitas seperti biasanya maupun penanda waktu untuk beribadah kepada Allah. Adanya siang dan malam juga salah satu cara Allah untuk melindungi kita. Tidak pernah terbayangkan jika di dunia ini perputaran waktunya hanya siang saja kesehatan dan imun manusia jelas akan sangat lemah karena suhu udaranya yang tidak pernah stabil.

Pergantian siang dan malam adalah bagian alam semesta yang kompleks dan penting. Pandangan mengenai mengapa Allah atau Tuhan menciptakan pergantian siang dan malam dapat bervariasi antara agama dan kepercayaan. Dalam banyak kasus, pergantian ini dilihat sebagai bagian dari kebijaksanaan dan rencana ilahi Tuhan dalam menciptakan alam semesta dan kehidupan di Bumi.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Perjalanan Sejarah Menuju Kepresidenan RI

Oleh Shofi Nur Hidayah

Gus Dur, yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid, adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah politik Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang cendekiawan, ulama, dan politisi yang memegang jabatan Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999 hingga 2001. Perjalanan hidupnya yang penuh warna dimulai sejak masa pendidikan hingga mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan Indonesia. Gus Dur merupakan seorang ulama, cendikiawan, dan Presiden RI ke-4 yang terkenal sebagai sosok yang humanis dan humoris. Banyak pula yang menyebutnya sebagai Bapak Pluralisme Indonesia karena kebijakan-kebijakan yang beliau buat semasa menjabat sebagai presiden banyak yang membela hak-hak kaum minoritas. Berikut adalah sejarah lengkap perjalanan Gus Dur:

Masa Pendidikan dan Pembentukan Karakter (1940-1960)

  1. Kelahiran dan Keluarga: Gus Dur lahir pada tanggal 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga bangsawan dengan latar belakang intelektual dan agama yang kuat. Tepatnya Gus Dur lahir dari ayah bernama Abdul Wahid Hasyim dan ibu bernama Solichah. Sang ayah sendiri merupakan mantan Menteri Sekretaris Negara dan Mentri Agama. Garis keturunan Gus Dur juga sampai pada K.H Hasyim Asy’ari yang merupakan ulama pendiri Nahdlatul ulama. Selain itu, Gus Dur juga berada dalam satu garis keturunan dengan KH Bisyri Syansuri yang merupakan ulama pendiri Pondok Pesantren Denanyar, anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), anggota konstituante, dan Ketua Majelis Syuro partai Persatuan Pembangunan, serta Rais Aam NU.
  2. Pendidikan Awal: Ia menempuh pendidikan di pesantren, tempat ia mulai memahami Islam dan tradisi-tradisi keagamaan. Pesantren yang ia ikuti, seperti Tebuireng, memberinya dasar agama yang kuat.
  3. Studi di Mesir: Gus Dur melanjutkan studinya ke luar negeri, khususnya Mesir, untuk mendalami agama dan filsafat Islam. Ia belajar di Al-Azhar University, tempat ia terpapar kepada berbagai pemikiran Islam kontemporer.

Aktivisme Sosial dan Politik (1960-1999)

  1. Kegiatan Keagamaan: Setelah kembali dari Mesir, Gus Dur aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Beliau mulai berkecimpung di dunia politik sejak tahun 1980 dan pada tahun 1984 Gus Dur terpilih sebagai ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), organisasi Islam terbesar di Indonesia. Pada Muktamar NU yang diselenggarakan di Situbondo. Sejak saat itulah Gus Dur menjadi semakin aktiv di dunia politik.
  2. Aktivisme Politik: Gus Dur juga aktif dalam politik Indonesia. Ia menjadi anggota parlemen pada era Orde Baru dan seringkali bersuara kritis terhadap pemerintahan Soeharto.
  3. Kontribusi untuk Reformasi: Ketika gerakan reformasi melanda Indonesia pada akhir 1990-an, Gus Dur memainkan peran penting dalam memimpin perubahan politik. Ia adalah salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan kemudian terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999.

Masa Kepresidenan (1999-2001)

  1. Kepresidenan Gus Dur: Selama masa kepemimpinan Gus Dur sebagai Presiden, ia berjuang untuk mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. Namun, ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah ekonomi dan konflik di beberapa daerah.
  2. Pemakzulan dan Pengunduran Diri: Gus Dur menghadapi tekanan politik dan akhirnya mengundurkan diri sebagai Presiden pada tahun 2001 setelah proses pemakzulan. Posisinya digantikan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Masa Pasca-Kepresidenan dan Meninggal (2001-2009)

Meskipun tidak lagi menjadi Presiden, Gus Dur tetap aktif dalam kehidupan politik dan sosial Indonesia. Ia juga terus memperjuangkan dialog antaragama dan perdamaian. Gus Dur meninggal dunia pada tahun 2009, meninggalkan warisan perjuangan untuk demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia di Indonesia.

Gus Dur adalah sosok yang penuh kontroversi namun juga menginspirasi banyak orang. Ia adalah contoh nyata bagaimana seorang ulama dapat memainkan peran penting dalam dunia politik dan sosial, serta memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan toleransi di Indonesia.